Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 8

 




iagam Karang Tengah sama dengan 

rakai Garung pada piagam Kedu. 

sebab  nama Samaragrawira terbukti tidak dapat disamakan 

dengan Samaratungga, maka harus dicari pemecahannya; harus di­ 

identifikasikan dengan tokoh lain. Menurut prasasti Kedu, raja yang 

memerintah sebelum dan sesudah sri maharaja rakai Garung ialah 

sri maharaja rakai Warak dan rakai Pikatan. Identifikasi antara rakai 

Pikatan dan Samaragrawira tidak dimungkinkan, sebab  dari peneli­ 

tian prasasti Sri Kahulunan dan nama-nama yang terpahat pada 

candi-candi Plaosan, rakai Pikatan yaitu  suami Sri Kahulunan alias 

Pramodawardhani, sedangkan Pramodawardhani yaitu  putri Sama­ 

ratungga. J adi, penyamaan antara rakai Pikatan dan Samaragrawira 

tidak mungkin. 

Satu-satunya jalan ialah penyamaan dengan sri maharaja yang 

memerintah sebelum Samaratungga alias rakai Garing, dengan sri 

maharaja rakai Warak atau sri maharaja rakai Panunggalan. Identifikasi 

dengan rakai Panunggalan tidak dimungkinkan, sebab  seperti kita 

ketahui, rakai Panunggalan telah kita identifikasikan dengan 

Dharanindra, ayah Samaragrawira yang, menurut piagam Nalanda, 

disebut Yawabhmip~lah. 

Baik Dharanindra maupun Yawabh~mip~lah mempunyai epite­ 

ton 'pembunuh musuh-musuh perwira. Dharanindra memerintah 

sesudah rakai Panangkaran. Sri maharaja rakai Panunggalan juga 

998 Sriwijaya 

memerintah sesudah rakai Panangkaran. Tinggalah satu-satunya 

kemungkinan, ialah identifikasi antara rakai Warak dan Samaragrawira. 

sebab  Samaragrawira menurut piagam N alanda kawin dengan putri 

Tara, dengan sendirinya putri Tara yaitu  permaisuri (istri) sri ma­ 

haraja rakai Warak. Dari perkawinan itu lahir Balaputra. Demikianlah, 

Balaputra yaitu  putra rakai Warak. 

Menurut artinya, nama Balaputra yaitu  putra bungsu, sebab  

bala artinya: ekor. Demikianlah, rakai Warak hams mempunyai putra­ 

putra lainnya yang lebih tua daripada Balaputra. Dengan sendirinya 

Balaputra sebagai putra bungsu tidak langsung mempunyai hak 

untuk menggantikan ayahnya sebagai raja. Putra sulung, atau putra 

yang lebih tua, mempunyai lebih banyak hak atas takhta kerajaan 

daripada putra bungsu. Salah seorang di antara saudara-saudara tua 

Balaputra ialah sri maharaja rakai Garung menurut prasasti Kedu, 

atau Samaratungga menurut prasasti Karang Tengah. Demikianlah, 

hubungan antara Samaratungga dan Balaputra yaitu  hubungan 

saudara, atau kakak-beradik. Balaputra berkakak terhadap Samara­ 

tungga. Dengan sendirinya Pramodawardhani yaitu  putri keme­ 

nakan Balaputradewa. 

Mengapa Balaputra melarikan diri ke Suwarnadwipa, dan ke­ 

mudian minta kepada raj a Dewapaladewa untuk membangun wihara 

Nalanda, dengan pengakuan bahwa beliau yaitu  keturunan raja 

Sailendra di Jawa? Pertanyaan itu segera dijawab dalam pembahasan 

prasasti Balaputra-Jatiningrat atau A Metrical Old Javanese Inscrip­ 

tion Dated 856 A.D. 

Prasasti Balaputra-J atiningrat 

N ama Balaputra disebut pada prasasti N alanda sebagai nama 

raja Suwarnadwipa. Pengakuannya sebagai keturunan raja Sailendra 

dari Jawa telah cukup dibahas di atas. Nama Balaputra juga disebut 

satu kali pada prasasti Balaputra-J atiningrat yang bertarikh tahun 

856. Prasasti itu telah diterbitkan oleh Dr. J .G. de Casparis dalam 

Prasasti negara kita  II pada tahun 1957 di bawah judulA Metrical Old 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 999 

Javanese Inscription Dated 856 A.D. dari hlm. 280-330. Prasasti ini 

memberikan sekadar penjelasan, mengapa Balaputra melarikan diri 

ke Suwarnadwipa dan menjadi raja di Sriwijaya. Ringkasan isinya 

seperti berikut. 

Pada 1--9: seorang raja yang bernama Jatiningrat, pemeluk 

agama Siwa, kawin dengan seorang permaisuri yang memeluk agama 

lain. (Dalam bagian ini terdapat nama Walaputra pada pada 7.) 

Balauputra menimbun ratusan batu untuk dijadikan benteng 

pertahanan dan tempat bersembunyi dalam perang melawan Jati­ 

ningrat. Raja itu mengambil nama Brahmana "Jatiningrat" dan 

mendirikan keraton di Medang di daerah Mamrati. Sesudah itu, 

beliau mengundurkan diri sebagai raja dan menyerahkan kekua­ 

saannya kepada dyah Lokapala. Rakyatnya terbagi atas empat asrama, 

masing-masing dikepalai oleh seorang Brahmana. 

Pada 10--13: sang raja bersiap-siap untuk mengadakan upacara 

kematian. Rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil. Beliau merasa 

malu bahwa dusun Iwung pernah dijadikan gelanggang pertempuran. 

Setelah beliau mencapai kekuasaannya dan kekayaan, beliau men­ 

dirikan candi makam, menghimpun pengetahuan dharma dan 

adharma. Tidak ada orang yang berani melawan beliau. Sang raja 

mendirikan halu, yakni lingga. Semua orang turut menyumbang 

untuk pembangunan lingga yang sangat indah itu. 

Pada 14--17: bagian ini menguraikan lingga yang didirikan. Di 

gapura, ada area penjaga yang gagah berani untuk menjaga keamanan 

dan keselamatan bangunan. Di pintu masuk, didirikan dua bangunan 

yang berbeda bentuknya. Halaman lingga ditanami pohon tanjung, 

dan di situ didirikan rumah-rumah kecil untuk para pertapa. 

Pokoknya, bangunan itu indah sekali. 

Pada 18--23: ruang bangunan yang terindah diperuntukkan 

bagi yang diperdewa. Para pengunjung dan penyembah berdiri dalam 

deretan dengan hormat dan tenang. Semua orang diminta datang 

bersembah. 

930 Sriwijaya 

Pada 24 29: peresmiannya dilangsungkan pada tahun Saka 778 

hari kesebelas bulan terang. Selasa Wage. Sesudah bangunan itu selesai 

seluruhnya, kali dipindahkan, tanahnya dijadikan wilayah candi. 

Itulah tanah merdeka pameget Wantil. Lalu menyusul nama para 

pejabat dan jabatannya. Tanah merdeka itu menjadi milik candi. 

Semua orang yang diberi tugas untuk menjaga dan melakukan 

persembahan, diharap tekun lagi tabah, dan juga tidak mengalami 

lahir-mati yang tidak ada hentinya. 

Pada 7 dalam prasasti di atas menyebut nama Walaputra. Kata 

itu didahului dengan kata-kata "timbunan batu untuk pengungsian". 

Kata-kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa Balaputra sedang berpe­ 

rang dengan sang raj a yang mengambil nama Brahmana "Jatiningrat 

dan menimbun batu untuk digunakan sebagai tempat pengungsi­ 

annya. Pada 9 menguraikan bahwa rakai Mamrati menyerahkan tanah 

Wantil untuk bangunan lingga, dan merasa malu bahwa desa Iwung 

pernah menjadi gelanggang pertempuran. Kiranya, di desa Iwung 

itulah terjadi pertempuran antara Balaputra dan sang raja alias rakai 

Mamrati atau J atiningrat. Balaputra menderita kekalahan. 

Prasasti Balaputra-Jatiningrat dipahat pada tahun Saka 778 atau 

tahun Masehi 856. Tarikh tahun itu dinyatakan pada 23 atau baris 

39 dengan candrasangkala wualung gunung san wiku yang mewakili 

angka 8,7,7 atau tahun Saka 778. Namun, tarikh tahun itu bukan 

tarikh tahun kemenangan J atiningrat terhadap Balaputra, melainkan 

tarikh tahun pembangunan lingga di tanah Pameget di daerah 

Mamrati. Pembangunan lingga itu dilakukan setelah Jatiningrat 

mengundurkan diri dari pemerintahan dan menyerahkan kekuasa­ 

annya kepada dyah Lokapala. Demikianlah, penerangan antara 

Jatiningrat dengan Balaputra berlangsung sebelum tahun 856. Jadi, 

pengungsian Balaputra ke Suwarnadwipa juga terjadi sebelum tahun 

856. Tarikh tahun kemenangan itu akan kita selidiki lebih lanjut. 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 931 

Identifikasi Jatiningrat 

Nama Jatiningrat yaitu  nama Brahmana yang sengaja diambil 

oleh sang raja yang mengeluarkan prasasti di atas. Sebagai raja, sudah 

pasti beliau mempunyai nama abhiseka dan nama pribadi. Pada 

prasasti itu beliau menyebut dirinya kecuali Jatiningrat, juga rakai 

Mamrati. Pada 8 baris terakhir menguraikan bahwa Jatiningrat men­ 

dirikan keraton di daerah Mamrati. Setelah itu lalu mengundurkan 

diri sebagai raj a. Itulah sebabnya J atiningrat menyebut dirinya rakai 

Mamrati. 

De Casparis menyamakan Jatiningrat dengan rakai Pikatan pada 

prasasti Kedu. Alasan yang dikemukakannya ialah sebab  prasasti ini 

menyebutkan bahwa J atiningrat menyerahkan kekuasaannya kepada 

dyah Lokapala. Prof. LC. Damais dalam Epigrafische aanteekeningen. 

Lokapdla- Kayuwangi (TB.G. LXXXIII afl. 1 hlm. 1-6 tahun 1949), 

telah membuktikan kesamaan antara dyah Lokapala dan Kayuwangi. 

Rakai Kayuwangi mengeluarkan piagam Argapura pada tahun 863; 

jadi, tujuh tahun kemudian daripada prasasti Balaputra-Jatiningrat. 

Prasasti Argapura termuat dalam O.J.O. no. VIII, namun tran­ 

skripsinya berhenti di tengah jalan. Tarikh tahunnya Saka 786; setelah 

dikoreksi oleh Prof. LC. Damais ternyata tarikh tahunnya Saka 785 

atau tahun Masehi 863. Duplikat prasasti tersebut tersimpan juga. 

Pada prasasti Argapura (oleh Damais disebut prasasti Wanua Tengah) 

terbaca nama rakai Pikatan pu Manuk dan rakaray~n Kayuwangi pu 

Likap~la. Nyata di sini adanya kesamaan antara rakai Kayuwangi 

dan pu Lokapala. 

Dalam silsilah raja-raja di Poh Pitu pada prasasti Kedu, sri ma­ 

haraja rakai Pikatan disebut lebih dahulu daripada sri maharaja 

Kayuwangi. Pada prasasti Balaputra-Jatiningrat, dinyatakan bahwa 

J atiningrat menyerahkan kekuasaannya kepada dyah Lokapala. 

Demikianlah, J atiningrat itu sama dengan rakai Pikatan. 

Pada prasasti Argapura itu nyata pula bahwa nama rakai Pikatan 

ialah pu Manuku, sedangkan pada prasasti Balaputra-Jatiningrat 

939 Sriwijaya 

beliau mengaku mengambil nama Brahmana "Jatiningrat. Juga, pada 

prasasti yang terakhir ini beliau menyebut dirinya rakai Mamrati. 

Dikatakan bahwa rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil, 

sedangkan rakai Mamrati tidak dikenal pada prasasti Kedu. sebab  

Jatiningrat/Manuku yaitu  rakai Pikatan, maka mungkin sekali tern­ 

pat Mamrati itu terletak di daerah Pikatan. Kita hanya mengetahui 

J atiningrat membangun istana di Mamrati setelah beroleh kekuasaan 

dan kekayaan. Letak desa Pikatan telah dapat kita ketahui, yakni 

dekat Temanggung di Karesidenan Kedu. Mamrati hams juga terletak 

di sekitar daerah Temanggung. 

Kecuali pada prasasti Balaputra-Jatiningrat, namadesaMamrati 

juga dikenal pada prasasti Alas Lintakan (K.O. no. I). Rakai Layang 

dyah Tulodong sri maharaja. Sanjaya Sannatanuraga Tunggadewa 

membuat tanah perdikan di Alas Lintakan. Desa Kasugihan dibeli 

oleh sri maharaja, ikut dijadikan tanah perdikan Caitya Niyaya. Di 

sebelah selatan berbatasan dengan desa Mamrati. 

Ada dua nama desa yang perlu diperhatikan, yakni desa Pikatan 

dan desa Kasugihan. Kedua desa itu tersebut juga pada prasasti di 

atas Desa Pikatan dekat Temanggung, desa Kasugihan di sebelah 

timur laut Mantyasih. sebab  desa Mamrati tidak disebut pada 

prasasti Kedu, maka letaknya harus di luar lingkaran bangunan di 

Mantyasih, di sebelah selatan desa Kasugihan. Nama desa Kasugihan 

disebut pada prasasti Kedu, dan merupakan desa lapis ketiga di 

sebelah timur laut Mantyasih. Bagaimanapun, keraton Mamrati yang 

didirikan oleh rakai Pikatan hams terletak di sekitar Temanggung. 

Sejak pemerintahan rakai Pikatan, Mamrati menjadi pusat 

kerajaan atau ibu kota kerajaan. Pada tahun 842, kiranya rakai Pikatan 

sudah berkuasa, sebab  pada tahun itu Pramodawardhani telah 

bergelar Sri Kahulunan: permaisuri. Seperti kita ketahui, pada tahun 

842 dikeluarkan prasasti Sri Kahulunan bertalian dengan tanah 

perdikan Sri Kahulunan yang menjadi milik bangunan suci Kam~lan 

Bh~mis~mbhara alias Barabudur. 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 933 

Prasasti Sri Kahulunan, yang berupa batu besar, diduga oleh 

Krom berasal dari daerah Temanggung (Krom. HJG. hlm. 182). 

Prasasti Gandasuli yang bertarikh tahun 832 telah menyebut adanya 

tanah Sri Kahuluan (Sri Kahulunan) yang diurus oleh Busu 

Pandarangan. Jika demikian, maka rakai Pikatan pada tahun 832 

telah memegang kekuasaan. Penetapan letak desa Mamrati itu 

bertalian dengan pemberitaan tentang adanya tiga keraton, yakni: 

I. medang i Bh~mi Mataram (pada Minto-steen tahun Saka 846 

O.JO. XXXI) 

2. medang i mamrati (pada prasasti Balaputra-J atiningrat tahun Saka 

778) 

3. medang ri Poh Pitu (pada prasasti Kedu, tahun Saka 829). 

Demikianlah, sebelum rakai Pikatan berkuasa, pusat kerajaan 

itu terletak di Mataram. Hingga sekarang, kita tidak mengetahui 

dengan pasti di mana letak desa Mataram itu secara tepat. Yang kita 

ketahui ialah bahwa menurut prasasti Kedu, Sanjaya disebut rakai 

Mataram. Hingga sekarang, daerah istimewa Yogyakarta masih 

disebut daerah Mataram. Orang masih membedakan Mataram clan 

Kedu. Jelas bahwa pada pemerintahan rakai Pikatan, ibu kota itu 

dipindahkan dari Mataram ke Kedu. Tepatnya di sekitar Temanggung. 

Jika kita memerhatikan aktivitas rajakula Sanjaya, maka nyata 

bahwa aktivitas terbatas di sekitar daerah istimewa Yogyakarta 

sekarang. Lingga yang didirikan oleh raja Sanjaya di atas gunung 

Wukir, letaknya tidak jauh dari Yogyakarta. Prasasti Gata clan Taji 

Gunung tentang pembangunan dharmma kawikuan di Timbangan 

Wungkal terdapat di Prambanan. Candi Kalasan yang dibangun oleh 

rakai Panangkaran pada tahun 778 terdapat di daerah Yogyakarta. 

Masih banyak lagi prasasti-prasasti yang dikeluarkan sebelum 

pemerintahan rakai Pikatan yang ditemukan di tempat-tempat yang 

tidak terlalu jauh dari daerah Yogya. Misalnya, prasasti Ratu Baka 

yang memuat nama Dharmatungga. Namun, dari prasasti-prasasti 

itu kita tidak dapat menetapkan letak pusat kerajaan. Di daerah 

934 Sriwijaya 

makmur sebelah utara kota Yogya, memang ada sekelompok desa 

yang memakai nama Sanskerta. Nama-nama itu kiranya bukan nama 

baru. Dan di situ juga ada candinya, yang sudah sangat rusak. Desa 

tempat candi itu sekarang disebut desa Candi. Di sebelah tenggara 

Candi, terletak desa Rejadani (R~jadhani): tempat raja. Di sebelah 

barat Rejadani yaitu  Poton (Pattana): kota. Di sebelah barat desa 

Poton yaitu  desa Saragan (S~ragana): tentara. Di sebelah selatan 

Rejadani yaitu  desa Kamdan~n yaitu  desa Nandan (Nandana): 

taman kesenangan. Di sebelah timur Rejadani yaitu  desa Dayakan 

(Dyaka): sanak-saudara (raja). Di sebelah timurnya yaitu  desa 

Gentan (Gata): tentara. Sebelah utara Rejadani yaitu  desa Bantarja 

(Batarar@ja): arwah para leluhur alias makam. Di sebelah utaranya 

yaitu  desa Danalajan (D~nalaya): tempat berkorban. Sungai yang 

melalui desa Rejadani juga disebut dengan nama Sanskerta, yakni 

kali Trasi (traci): menakutkan, berbahaya. 

Itulah sekelompok desa di daerah sebelah utara Yogyakarta, yang 

nama-namanya mempunyai hubungan dengan kemungkinan adanya 

pusat kerajaan clan hingga sekarang masih ada serta mengandung 

unsur-unsur India. sebab  tidak ada bahan lain yang dapat diguna­ 

kan, toponimi itu hanya memberikan petunjuk saja, tidak mem­ 

berikan kemungkinan untuk menarik kesimpulan. 

Terbukti pada tahun 907 pusat kerajaan itu telah berpindah ke 

Poh Pitu. Di mana letaknya juga tidak kita ketahui. Yang pasti ialah 

di daerah Kedu. Nama Poh Pitu sendiri tidak kita kenal baik zaman 

sekarang maupun pada prasasti, kecuali pada prasasti Kedu. Desa 

Poh Pitu tidak disebut di antara 24 desa pada prasasti. Desa Kedu 

hingga sekarang masih ada. Mungkin sebab  Poh Pitu itu menjadi 

pusat kerajaan, nama itu tidak disebut. 

Desa Poh atau wanua Poh kita kenal beberapa kali pada prasasti. 

Di antaranya pada prasasti Bara Tengah dari tahun 907, tentang 

pembuatan tanah perdikan Kayu Ara Hiwang di daerah Waru Tihang 

oleh rake wanua Poh dyah Mala. Di situ disebutkan juga pelbagai 

nama desa; di antaranya desa Mantyasih. Desa Mantyasih terletak 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 935 

di sebelah utara desa Kedu dan merupakan pusat. Desanya disebut 

Mantyasih, tetapi sebagai pusat kerajaan disebut Poh Pitu. lkhtisar 

mengenai kelompok desa di sekitar Mantyasih telah diberikan secara 

jelas oleh De Casparis dalam Prasasti negara kita  I hlm. 159. 

sebab  pada piagam Balaputrap-Jatiningrat dengan jelas 

dinyatakan bahwa J atiningrat memeluk agama Siwa, berbeda dengan 

sang permaisuri, maka dapat diambil kesimpulan bahwa beliau kawin 

dengan putri dari rajakula Sailendra, yang memeluk agama Budha. 

Putri itu ialah rani yang mengeluarkan prasasti Sri Kahulunan pada 

tahun 842. Nama Sri Kahulunan ternyata terpahat bersama dengan 

sri maharaja rakai Pikatan pada kelompok candi Plaosan Lor. Sri 

Kahulunan yaitu  putri Samaratungga, yang pada piagam Karang 

Tengah bernama Pramodawardhani. 

Bahwa rakai Pikatan mempunyai banyak nama terbukti dari 

pelbagai prasasti. Bagi kita, yang penting ialah mengetahui bahwa 

penyingkiran Balaputradewa dari J awa akibat kekalahan perang 

dengan rakai Pikatan, menantu Samaratungga. Nama Samaratungga 

ini sangat menarik perhatian, sebab  nama itu oleh De Casparis dan 

Bosch disamakan dengan nama Samaragrawira pada piagam Nalanda. 

Piagam Nalanda yang dikeluarkan oleh raja Dewapaladewa 

menguraikan pembangunan wihara Nalanda atas permintaan 

Balaputra dari Suwarnadwipa. Balaputra mengaku keturunan raja 

Sailendra dari Jawa. Maharaja yang disebut Yawabhmip~lah cri 

wirawairimanthananugratabhidanah mempunyai seorang putra, yang 

kemasyhurannya dalam peperangan sama dengan Yudistira, Parasara, 

Bimasena, Karna, dan Arjuna, bernama Samaragrawira. Rajaputra 

Samaragrawira kawin dengan Tara, putri Sri Dharmasetu; dari 

perkawinan itu lahir seorang putra bernama Balaputradewa. 

Seperti telah dijelaskan kemiripan nama antara Samaratungga 

dan Samaragrawita itu, maka pelbagai sarjana mengira bahwa Samara­ 

tungga yaitu  sama dengan Samaragrawira. 

936 Sriwijaya 

Bosch dalam karangannya, De Inscriptie van Ligordalam majalah 

T.B. G. LXXXI tahun 1941, menyamakan Samaratungga pada pia­ 

gam Karang Tengah dengan rakai Panunggalan pada piagam Kedu, 

dan kemudian dengan Samaragrawira pada piagam Nalanda, yakni 

ayah Balaputra. Penyamaan itu masih lebih lanjut lagi. la menya­ 

makannya dengan Wisnu pada piagam Ligor B. Dalam karangannya, 

riwijaya, de (ailendra - en de Safijayawamca (B.KI. 108 hlm. 113­ 

123), masih tetap ia menyamakan Samaratungga dengan Samarag­ 

rawira. Rakai Garung sama dengan rakai Patapan pada piagam Karang 

Tengah dan piagam Gandasuli. Untuk mendapatkan gambaran yang 

jelas tentang teori Bosch mengenai hubungan antara rajakula 

Sailendra, Sriwijaya, Sanjaya, dan Sailaraja di Fu-nan, yang pada 

hakikatnya himpunan dari hasil penelitian Coed~s, van Naerssen, 

De Casparis, dan penelitiannya sendiri, maka silsilah yang telah 

disusunnya itu disalin seperti di bawah. 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 

Cailendra-wangsa menurut teori ED.K. Bosch 

937 

{ Dinasti Fu-nan 

Somawangsa 

Sailendrawangsa (?) 

Putri 

Sanjaya (C) 

WisnuL 

= rakai Pangangkaran (Kd) 

= rakai Panangkaran (K) 

Dharmasetu (N) 

= raja Sriwijaya (L) Sri Maharaja 

Syailendrawangsa 

Sarwwarimadawi (ma)thana (L) 

= Sailendraraja (K) 

= D haranindra 

rakai Warak (Kd) 

{ rakai Garung (Kd) 

= rakai Patapan (Kt) 

= rakai Panunggalan (Kd) 

wairiwarawiramardana (Kl 

= Yawabhumipalah 

Gailendrawamcatilaka 

wirawairimathana (N) 

Tara (N) _ -{ Samaratungga (Kt) r - Samaragrawira (N) 

Balaputradewa { Pramodawardhani (Kt) 

Suwarnadwipadhipa (N) 

= Sri Kahulunan (Mg) 

Cudamaniwarman 

Raja Kataha dan Sriwijaya (Gr. Ch) 

Marawijayatunggawarman 

Raja Kataha dan Sriwijaya 

Sailendrawangsa (Gr. Ch) 

rakai Pikatan (Kd) 

(Pl) 

rakai Kayuwangi (Kd) 

rakai Humalang (Kd) 

rakai W atukura (Kd) 

Piagam-piagam: 

Keterangan singkatan: K = Kalasan; Kd = Kedu; Kl = Kelurak; 

Kt= KarangTengah; L = Ligor; Mg= Magelang; N = Nalanda; Pl 

= Plaosan Lor; C = Canggal, Gr. Ch; = Great Charter of Leyden. 

938 Sriwijaya 

Dari ikhtisar hubungan antara raja-raja Sriwijaya, rajakula 

Sailendra di J awa, clan rajakula Sanjaya di atas, nyata bahwa Bosch 

masih tetap menyamakan Samaratungga dengan Samaragrawira. 

Sudah pasti bahwa kedua nama itu mirip sekali, sebab  kedua-duanya 

mulai dengan Samara; yang berbeda hanya bagian belakangnya. 

Boleh dipastikan bahwa Balaputra mengenal nama Samaratungga 

pada piagam Karang Tengah clan Samaragrawira sebagai ayah 

Balaputra, sebab  Balaputra baru pada pertengahan abad ke-9 me­ 

ninggalkan Jawa Tengah. 

Andaikata Samaratungga itu benar sama saja dengan 

Samaragrawira, timbul pertanyaan: Mengapa pada piagam Nalanda 

Balaputra tidak menyebut ayahnya Samaratungga saja? Penyebutan 

itu lebih menguntungkan sebab  dengan jalan demikian, ia sebagai 

putra laki-laki mempunyai hak atas takhta yang lebih besar daripada 

Pramodawardhani. 

sebab  kedua nama itu berbeda, kiranya memang nama dua 

tokoh yang berlain-lainan. Samaragrawira yaitu  nama rakai Warak, 

Samaratungga yaitu  nama rakai Garung. Dengan kata lain, 

Samaratungga yaitu  putra Samaragrawira clan kakak Balaputra. 

Samaratungga yaitu  putra sulung yang mempunyai hak untuk 

mewaris takhta; Balaputra yaitu  putra bungsu, sebab  namanya 

memang berarti demikian; ( wala = ekor; putra= anak). 

Terbukti bahwa Samaratungga tidak mempunyai putra. Beliau 

hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawardhani, permaisuri 

rakai Pikatan. Balaputra, sebagai putra laki-laki Samaragrawira, 

mengira berhak pula menggantikan Samaratungga yang tidak 

berputra laki-laki. Timbullah sebab nya sengketa antara Balaputra­ 

dewa clan J atiningrat yang membela hak permaisurinya. Ini lebih 

logis daripada anggapan bahwa Balaputradewa yaitu  adik Pramo­ 

dawardhani. berdasar  anggapan yang terakhir ini, maka Balaputra 

mempunyai hak atas takhta yang lebih besar daripada Pramoda­ 

wardhani. Pernyataan Balaputra di Nalanda harus ditafsirkan sebagai 

pernyataan persahabatan antara Balaputra clan Dewapaladewa untuk 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 939 

sekadar minta bantuan dalam merebut kembali hak menjadi raja di 

Mataram. 

Tafsiran yang demikian dapat dipahami. Sengketa antara Bala­ 

putradewa dan J atiningrat kiranya terutama mengenai perebutan 

kekuasaan antara Balaputra dan Pramodawardhani, sepeninggal rakai 

Garung. Dalam hal ini, sebenarnya Jatiningrat sebagai menantu ada 

di luar sengketa, namun sebab  membela kepentingan istri, turut 

terlibat. 

Pada piagam Balaputra-Jatiningrat, dengan jelas dinyatakan 

bahwa setelah J atiningrat beroleh kekuasaan dan kekayaan, beliau 

lalu mendirikan candi makam, menghimpun ilmu dharma dan 

adharma. Tidak ada orang yang berani melawan. Sesudah berkuasa 

sebagai raja, lalu mendirikan keraton di Medang di daerah Mamrati. 

Sesudah itu lalu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya 

kepada putranya, Lokapala. Lokapala memang berhak sepenuhnya 

atas takhta kerajaan sebagai putra Pramodawardhani. J atiningrat lalu 

hidup sebagai pertapa. Dengan jelas pula dinyatakan bahwa beliau 

menyesal, bahwa desa Iwung pernah jadi medan pertempuran. 

Kiranya, kalimat yang terakhir ini juga sekadar membayangkan penye­ 

salannya atas peperangan yang dilakukannya melawan Balaputradewa. 

Pada tahun 842, dikeluarkan sebuah piagam oleh seorang rani 

yang bergelar Sri Kahulunan. Menurut dugaan, Sri Kahulunan yaitu  

Pramodawardhani. De Casparis berpendapat bahwa gelar sri 

kahulunan yaitu  gelar permaisuri, bukan gelar rajaputri. Pendapat 

itu didasarkan atas piagam candi Plaosan. Samaratungga masih 

mempunyai seorang putra bernama Balaputra, yang berarti: anak 

bungsu. Prof. Mr. Moh. Yamin sependapat dengan De Casparis. 

Katanya: 

Pramodawardhani tak ikut bersama Balaputra berpindah ke 

Sumatra, melainkan menetap di Jawa Tengah dan berkawin dengan 

rakai Pikatan. Pertulisan Ratu Baka berisi pertentangan antara rakai 

Pikatan dengan Balaputra yang, agaknya sebab  menderita kekalahan, 

lalu berpindah ke Sumatra. Sementara itu, putri Pramodawardhani 

dikawini rakai Pikatan, dan keraton Ratu Baka menjadi keraton Siwa. 

940 Sriwijaya 

Padahal, sebelum tahun 856, ialah keraton Sailendra untuk kepen­ 

tingan agama Budha Mahayana. 

Persoalan Sri Dharmasetu 

Pada piagam tercantum bahwa Tara, ibu Balaputra, yaitu  putri 

Sri Dharmasetu dan permaisuri Samaragrawira. Namun, pada piagam 

itu tidak dinyatakan di mana kerajaan Sri Dharmasetu. Timbullah 

sebab nya anggapan bahwa Sri Dharmasetu yaitu  raja Sriwijaya. 

Anggapan itu telah dikemukakan oleh Krom pada tahun 1938 dalam 

Stapel's Geschiedenis I hlm. 162. Dalam bukunya, Prasasti negara kita  

I hlm. 110-111, De Casparis menulis: 

Setelah Balaputra meninggalkan Jawa, di Jawa tidak ada lagi 

rajaputra yang mewaris takhta kerajaan. Putri Samaratungga telah 

dikawinkan dengan rakai Pikatan. Dengan jalan demikian, rakai 

Pikatan memperoleh kekuasaan untuk memerintah sebagian dari Jawa 

Tengah. Kemungkinan lain ialah bahwa Balaputra belum dewasa ketika 

ayahnya meninggal, sehingga ia belum diizinkan memerintah. Ber­ 

hubung dengan timbulnya perubahan suasana yang sebab-sebabnya 

tidak dapat diketahui dengan pasti, Balaputra kemudian menjadi raja 

di Sriwijaya. 

Dalam terbitannya, Prasasti negara kita  II hlm. 296 note 66, De 

Casparis menyarankan bahwa Balaputra kawin dengan putri sulung 

raj a Sriwijaya setelah menyingkir dari J awa. berdasar  perkawinan 

itu, beliau berhak menjadi raja Sriwijaya. Pengangkatan menjadi raja 

tidak semata-mata didasarkan atas keunggulannya sebagai calon, 

tetapi sebab  Balaputra mempunyai hak atas takhta kerajaan J awa 

Tengah. Jika tuntutannya berhasil, berarti perluasan wilayah 

Sriwijaya sampai di Jawa. ltulah sebabnya, Balaputra menyerukan 

asal usulnya sebagai keturunan raj a Sailendra di J awa dan cucu Sri 

Dharmasetu, raja Sriwijaya, di Nalanda. Dengan kata lain, ia 

mengadukan kepada raja Dewapaladewa bahwa haknya menjadi raja 

di J awa dirampas oleh orang lain, yakni oleh rakai Pikatan. 

Ten tang anggapan bahwa perkawinan Pramodawardhani dengan 

rakai Pikatan berlangsung sesudah Balaputra meninggalkan J awa, 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 941 

ada keberatannya. Pada tahun 856, Dyah Lokapala, yang lahir dari 

perkawinan antara J atiningrat dan Pramodawardhani, sudah diserahi 

pemerintah. Pada waktu itu, beliau sudah dewasa. Padahal, peng­ 

usiran Balaputra dari Mataram terjadi baru beberapa tahun sebe­ 

lumnya, yakni antara tahun 842 sebagai batas pemerintahan Sama­ 

ratungga dan tahun 856 masa penyerahan kekuasaan kepada Dyah 

Lokapala dan pembangunan halu dan tiga lingga di dataran tinggi 

Ratu Baka. Oleh sebab  itu, menurut pendapat saya, perkawinan 

antara J atiningrat dan Pramodawardhani berlangsung pada masa 

pemerintahan Samaratungga alias rakai Garung. Selama Samaratungga 

masih berkuasa, tidak ada perselisihan antara Balaputra dan 

Jatiningrat. Tetapi sepeninggal beliau, timbul perselisihan mengenai 

hak atas takhta kerajaan. Sebagai suami, J atiningrat membela 

permaisuri Pramodawardhani. Setelah berhasil mengalahkan 

Balaputradewa, sang suami J atiningrat memegang tampuk peme­ 

rintahan, bukan Pramodawardhani. 

sebab  De Casparis menerima anggapan bahwa Sri Dharmasetu 

yaitu  raja Sriwijaya, maka perkawinan Balaputra dengan putri raja 

Sriwijaya, yang pada hakikatnya masih berupa teori yang sangat kabur, 

yaitu  perkawinan antara dua saudara sepupu. Penyingkirannya ke 

Sumatra didasarkan pertimbangan akan adanya hubungan ke­ 

keluargaan dengan raja Sriwijaya, seperti dinyatakan pada piagam 

Ligor B. Saran ini logis sekali dan mudah dipahami. Seperti telah 

disinggung di muka, Coed~s telah mengemukakan pendapat bahwa 

piagam Ligor B dikeluarkan oleh putra (riwijayegwarabhupati dari 

piagam Ligor A, yang menjadi raja Sailendra I, setelah kawin dengan 

putri Fu-nan. Teori Coed~s telah diambil alih oleh Prof. FD.K. Bosch 

dalam karangannya, (riwijaya, de Gailendra - en de Sanjayawamcad 

seperti kelihatan jelas pada silsilah yang disusunnya. 

Mr. Moh. Yamin dalam Laporan Konggres M.I.PI. dan Nilakanta 

Sastri dalam History of <;riwijaya juga menerima saran bahwa Sri 

Dharmasetu yaitu  raja Sriwijaya. Tetapi hingga sekarang, tidak ada 

pembuktiannya. Keberatan terhadap pendapat Coed~s telah saya 

kemukakan. Meskipun saran De Casparis sangat termakan akal, 

949 Sriwijaya 

namun ada banyak keberatannya. Pertama, perkawinan antara putri 

raja Sriwijaya dan Balaputradewa. Hal tersebut merupakan anggapan 

saja, sebab  tidak ada pemberitaan tentang perkawinan itu. Kedua, 

tentang anggapan bahwa Sri Dharmasetu yaitu  raja Sriwijaya. Hal 

tersebut juga masih merupakan anggapan, sebab  pemberitaannya 

tidak tercantum pada piagam mana pun. Ketiga, perkawinan antara 

putri Fu-nan dengan raja Wisnu, yang mengakibatkan timbulnya 

dua cabang rajakula Sailendra. Juga mengenai hal ini tidak diperoleh 

bukti-buktinya. 

N ama Sri D harmasetu jelas kedapatan pada dua piagam: pada 

piagam Kelurakdan pada piagam Nalanda. Kiranya, Sri Dharmasetu 

yang kedapatan pada piagam Kelurak itu sama saja dengan Sri 

Dharmasetu yang kedapatan pada piagam Nalanda. Pada piagam 

Nalanda, tercantum bahwa Sri Dharmsetu termasuk Somakula. Jadi, 

beliau bukan keturunan Sailendra. Demikianlah, Samaragrawira itu 

mengambil putri dari Somakula. Pada upacara peresmian area 

Manjuri di Kelurak dinyatakan: mah pratipal~niyah cri dharmmasetur 

ayam, artinya: Sri Dharmasetu yang diserahi untuk menjaga ... 

sebab  bangunan itu terdapat di Jawa Tengah, kiranya Sri 

Dharmasetu yang diserahi untuk menjaganya juga berkedudukan di 

Jawa Tengah. Samaragrawira yaitu  rakai Warak dan putra Dha­ 

ranindra (rakai Panunggalan). Demikianlah, Dharanindra itu 

berbesan dengan Sri Dharmasetu. 

Balaputradewa yaitu  cucu dari Sri Dharmasetu menurut 

keturunan ibunya, dan cucu Dharanindra menurut keturunan 

ayahnya. Kedua-duanya berkedudukan di Jawa Tengah. Namun, 

menurut analisis di atas, rakai Panunggalan berhasil menguasai 

kerajaan Sriwijaya. sebab  Balaputra menderita kekalahan dalam 

peperangan melawan J atiningrat dan kemudian terpaksa menyingkir 

ke Sumatera, maka negeri yang hams diwarisnya dari nenek 

Dharmasetu dan dari ayahnya Samaragrawira terampas semuanya 

oleh rakai Pikatan, yang menurut adat tidak berhak untuk 

menguasainya. Demikianlah, penyebutan Dharmasetu sebagai 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 943 

neneknya melalui urutan ibunya dan penyebutan Jawabhumip~lah 

melalui urutan ayahnya, dihubungkan dengan negara yang hams 

diwarisnya melalui urutan ayahnya sebagai keturunan rajakula 

Sailendra. Seman hak itu ditujukan kepada raja Dewapaladewa 

terhadap rakai Pikatan dan keturunannya. Jika sekarang tidak berhasil 

merebut kembali hak itu, harap perjuangan merebut kembali hak 

atas takhta itu dilanjutkan kemudian. 

Penobatan Balaputra sebagai raja Sriwijaya tidak didasarkan atas 

keturunan Sri Dharmasetu. Satu-satunya jalan ialah menerima 

anggapan bahwa maharaja Wisnu yang tercantum pada piagam Ligor 

sama dengan Dharanindra pada piagam Kelurak; sama dengan rakai 

Panunggalan pada piagam Kedu. 

Demikianlah, yang dimaksud dengan Yawabhumip~lah pada 

piagam Nalanda ialah Dharanindra pada piagam Kelurak, atau rakai 

Panunggalan pada piagam Kedu. Dengan jalan demikian, epipeton 

criwirawairamathana pada piagam Nalanda itu memang sama dengan 

epiteton wairiwaraw~ramardana pada piagam Kelurak. Epiteton itu 

kedua-duanya epiteton Dharanindra atau rakai Panunggalan. 

Epiteton raja Wisnu pada piagam Ligor hampir serupa, yakni 

sarwwarimadawi (ma)thana. Semua mengandung arti: pembunuh 

musuh perwira. sebab  nama Dharanindra (Dharanindhara) sama 

dengan nama Wisnu, maka epiteton sarww~rimadavi(ma)thana pada 

piagam ligor itu juga epiteton Dharanindra alias rakai Panunggalan. 

Daftar nama raja-raja Jawa Tengah itu lalu seperti berikut: 

Nama Pribadi Rakai Abhiseka Tarikh Prasasti 

Sanjaya Mataram 732 Canggal 

Daksottamabah ubaj ra 771 Gata 

pratipaksasaja sri 

Tunggadewi 772 Taji Gunung 

Pancapana Panangkaran Dharmatungga? 778 Kalasan 

Dharanindra Panunggalan Sanggramadhananjaya 782 Kelurak 

+ 787 Ligor B 

944 Sriwijaya 

+ 860 Nalanda 

Samaragrawi ra Warak + 860 Nalanda 

Samaratungga Garung 819 Pengging 

824 Karang Tengah 

Jatiningrat Pikatan 856 Balaputra- 

Jatiningrat 

850 Tulang Air 

863 Argapura 

Lokapala Kayuwangi Sajanotsawatungga 856 Balaputra- 

Jatiningrat 

880 Wuatan Tija 

863 Wanua Tengah 

(Gurun Wangi) 887 Munggu Antan 

Dyah Dewendra Limus 890 (Poh Dulur) 

Watuhumalang 896 Kawikuan 

Panunggalan 

886 

Balitung Watukura Sri lswarakesawotawa- 

tungga 907 Matyasih (Kedu) 

Tulodong Layang Sajanasanatanuraga- 

tunggadewa 919 (Lintakan) 

Bab 8 

KERAJAAN SAN-FO-TS'I 

Berita Tionghoa 

Pada masa pemerintahan rajakula Tang (618-907), kerajaan 

Sriwijaya disebut Shih-li-fo-shih (Che-li-fo-che). Nama Shih-li-fo­ 

shih, baik yang tercatat dalam sejarah T'ang maupun yang tercatat 

dalam karya-karya I-ts'ing, yaitu  transkripsi Tionghoa dari nama 

Sriwijaya. Transkripsi yang demikian mudah dipahami. Hsin-tang­ 

shu mencatat bahwa kerajaan Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke 

Tiongkok dalam pangsa waktu 670-673 dan 713-741. Sejak itu, 

utusan Shih-li-fo-shih tidak lagi kedengaran. 

Pada masa pemerintahan rajakula Sung (960-1279), negeri di 

laut Selatan yang namanya San-fo-ts'i mengirim utusan ke Tiongkok 

berkali-kali. Sung Shih mencatat kedatangan utusan itu ke Tiongkok 

pada tahun 960, 962, 971, 972, 974, 975, 980, 983, 985, dan 

988. Utusan yang terakhir ini tinggal di Kanton sampai tahun 990, 

sebab  mendengar bahwa negerinya San-fo-ts'i sedang diserang oleh 

tentara dari Cho-p'o. 

Pada musim semi tahun 992, utusan itu berangkat lagi menuju 

San-fo-ts'i, namun pelayarannya hanya sampai di Campa sebab  

belum ada kepastian tentang negerinya. Oleh sebab  itu, ia belajar 

kembali. la mendesak kaisar untuk mengeluarkan pengumuman 

bahwa San-fo-ts'i ada di bawah perlindungan Tiongkok. Pada tahun 

946 Sriwijaya 

992 itu juga, datang utusan dari Cho-p'o di Tiongkok, menyatakan 

bahwa negerinya sering berperang dengan San-fo-ts'i. Utusan dari 

Cho-p'o ini yaitu  utusan dari raj a Dharmawangsa, yang naik takhta 

pada tahun 991. Baru pada tahun 1003 datang lagi utusan dari 

San-fo-ts'i. Kemudian pada tahun 1008. Sepuluh tahun lamanya 

tidak ada utusan dari San-fo-ts'i yang datang. Sung Shih mencatat 

bahwa utusan dari San-fo-ts'i datang lagi pada tahun 1017, 1028, 

1067, 1080, 1082, 1083, pangsa waktu 1094-1097, 1156, dan 

yang penghabisan kali pada tahun 1178. Pada tahun 1178, kaisar 

mengeluarkan pengumuman agar San-fo-ts'i tidak lagi mengirim 

utusan ke istana, tetapi mendirikan suatu perusahaan dagang di 

Chuan-chow di Fu-kien. 

Di dalam sejarah Sung (bah 489), kerajaan San-fo-ts'i itu 

diuraikan seperti berikut: 

Kerajaan San-fo-ts'i yaitu  kerajaan bangsa liar di laut Selatan. 

Letaknya antara Chen-la dan She-po, memerintahkan 15 macam 

negeri. Negeri itu menghasilkan rotan, kina merah, kayu cendana, 

pinang, dan nyiur. Penduduknya tidak menggunakan uang tembaga; 

kebiasaan mereka ialah berdagang emas dan perak. Hawanya panas. 

Di musim dingin tidak ada es atau salju. Rakyatnya mengusap 

badannya dengan minyak semegrak. 

Negeri ini tidak menghasilkan gandum, tetapi menghasilkan 

banyak padi, kapri kuning dan hijau. Mereka membuat anggur dari 

bunga, dari nyiur, pinang, dan madu. Mereka menggunakan huruf 

Sanskerta (Dewanagari); rajanya menggunakan cincin sebagai cap. 

Mereka juga mengenal huruf Tionghoa. Jika mengirim utusan ke 

Tiongkok, mereka menulis dengan huruf yang terakhir ini. Bila angin 

baik, jarak antara Kwang-tung dan negara tersebut dapat ditempuh 

dalam waktu 20 hari. 

Nama-nama keluarga banyak yang mulai dengan P'u. Pada tahun 

960, raja Shih-li-hu-ta-hia-li-tan mengirim utusan ke Tiongkok. Pada 

tahun 992, negeri itu ditundukkan oleh Jawa. Pada tahun 1003, dua 

utusan dari San-fo-ts'i memberitahukan bahwa di negeri itu telah 

didirikan candi Budha dengan tujuan sebagai tempat berdoa untuk 

memohonkan panjang usia bagi kaisar Tiongkok. Kaisar kemudian 

memberi nama untuk candi itu dan menghadiahkan lonceng khusus 

tercetak untuk candi tersebut. 

Kerajaan San-f0-ts'i 

Pada tahun 1017, utusan dari San-fo-ts'i membawa bingkisan­ 

bingkisan buku Sanskerta yang dilipat dalam sampul papan. Pada 

tahun 1082, tiga utusan datang menghadap kaisar. Mereka 

mempersembahkan bunga teratai mas yang berisi mutiara, kapur 

barus, dan satin. 

947 

Chu-fan-chi, yang disusun oleh Chao-ju-kua pada masa 

pemerintahan rajakula Sung (960-1279), menguraikan bahwa San­ 

fo-ts'i terletak tepat di sebelah selatan Ch'uan-hou (berhadapan 

dengan Formosa utara); rakyatnya bersarung kain kapas dan ber­ 

payung sutera. Mereka pandai berperang, baik di laut maupun di 

darat. Organisasi ktentaraannya sangat rapi. Bila rajanya wafat, 

rakyatnya bercukur gundul sebagai tanda belasungkawa. Mereka yang 

berbela menceburkan diri dalam minyak mendidih. Adat itu disebut 

"Tung-sheng-ssu', artinya "sehidup semati". Ada area Budha yang 

disebut gunung emas dan perak. Rajanya biasa disebut "hakikat ular. 

Mahkotanya emas, berat sekali. Hanya baginda saja yang kuat meng­ 

angkatnya. Barang siapa kuat mengangkatnya, jadi penggantinya. 

Negeri itu terletak di tepi laut dan merupakan bandar penting, meng­ 

awasi masuk-keluar kapal negeri-negeri lainnya. Dahulu meng­ 

gunakan rantai besi sebagai batas bandar. 

Dalam sejarah Ming (1368-1643) buku 324 tercatat demikian: 

"Pada tahun 1937, San-fo-ts'i untuk penghabisan kalinya dikalahkan 

oleh Jawa. Kemudian namanya diganti Chiu-chiang, artinya: 

pelabuhan lama, sungai lama." 

Dalam Ying-yai-sheng-lan (1416), tercatat bahwa Chiu-chiang 

sama saja dengan negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga 

disebut Po-lin-pang, ada di bawah kekuasaan Jawa. Kapal-kapal yang 

datang dari mana pun masuk selat Peng-chia (Bangka) yang berair 

tawar. Di dekatnya banyak pagoda yang dibuat dari bata. Kemudian 

para pedagang mudik ke hulu, jalannya makin lama makin sempit, 

menuju ibu kota. 

berdasar  berita-berita geografi di atas, dapat ditarik 

kesimpulan bahwa kerajaan San-fo-ts'i terletak di Palembang. 

948 Sriwijaya 

Kesimpulan itu sudah merupakan pendapat umum. Dan memang 

tidak ada keberatan untuk menerima pendapat itu. 

Seperti telah disinggung di atas, yang menimbukan persoalan 

ialah: Adakah Shih-li-fo-shih itu sama dengan San-fo-ts'i? Hingga 

sekarang, para ahli sejarah menganggapnya sama. Takakusu, yang 

belum mengenal nama Sriwijaya, menyamakan Shih-li-fo-shih 

dengan Sribhoya, Fo-shih dengan Bhoya. Ia juga beranggapan bahwa 

Shih-li-fo-shih dalam pemberitaan I-ts' ing sama dengan San-fo-ts'i 

dalam berita-berita Chu-fan-chi. 

Penyamaan Shih-li-fo-shih dengan Sriwijaya yaitu  jasa Coed~s. 

Penyamaan itu memang cocok. Tarikh piagam Kedukan Bukit ialah 

683; tarikh piagam TalangTuwo ialah 684; dan tarikh piagam Kota 

Kapur ialah 686. Pada tahun 672, I-ts'ing ada di Sriwijaya. Bukunya, 

Memoire dan Record, semuanya ditulis di kerajaan Sriwijaya sesudah 

ia kembali dari Nalanda. Tetapi penyamaan Shih-li-fo-shih dan San­ 

fo-ts'i masih hams dibuktikan. Kesulitannya segera tampak jika kita 

memerhatikan perbedaan waktu antara timbulnya dua nama tersebut. 

Nama Shih-li-fo-shih dikenal pada masa pemerintahan rajakula T'ang 

(618-907), dan nama San-fo-ts'i dikenal pada masa pemerintahan 

rajakula Sung (960-1279) dan seterusnya. Perbedaan bunyi antara 

dua nama itu terutama berupa perbedaan antara bunyi Shih-Ii dan 

San. Bahwa Shih-Ii atau Che-Ii yaitu  transkripsi Tionghoa dari Sri 

mudah dipahami. Mengapa maka pada pemerintahan rajakula Sung 

sekonyong-konyong timbul bunyi San? Adakah nama Sriwijaya 

berubah menjadi Sang Wijaya? 

Meskipun soal linguistik ini soal kecil, namun kiranya perlu 

juga diperhatikan. Saya yakin bahwa yang dimaksud dengan San-fo­ 

ts'i dalam sumber berita Tionghoa itu kerajaan Sriwijaya, namun 

kiranya San-fo-ts'i bukanlah transkripsi nama Sriwijaya. Untuk 

menunjukkan identifikasi kerajaan San-fo-ts'i dengan kerajaan 

Sriwijaya, kita perlu membandingkan berita Tionghoa pada masa 

pemerintahan rajakula Sung dengan piagam Leiden yang berbahasa 

Sanskerta. Di situ kita melihat raj a yang sama diberitakan oleh kedua 

belah pihak, baik oleh berita Tionghoa maupun oleh berita India. 

Kerajaan San-f0-ts'i 949 

Berita Tionghoa menguraikan bahwa pada tahun 1003, seorang 

raja dari San-fo-ts'i yang bernama Cudamaniwarmadewa mengirim 

dua orang utusan ke Tiongkok. Dua orang utusan itu menyatakan 

kepada kaisar, bahwa di negerinya sedang dibangun sebuah candi 

Budha. Mereka mohon kepada kaisar agar beliau suka memberi nama 

untuk bangunan tersebut. Candi itu lalu diberi nama Cheng-tien­ 

wan-show. Pada tahun 1008, datang lagi utusan dari San-fo-ts'i. 

Terbukti bahwa raja yang mengirim utusan itu bukan lagi 

Cudamaniwarman, tetapi putranya, yakni Marawijayatunggawarman. 

Dua nama itu memang tercatat pada piagam Leiden yang berbahasa 

Sanskerta. Menurut berita Tionghoa itu, raja Cudamaniwarmadewa 

disebut Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa, sedangkan Marawijaya­ 

tunggawarman disebut Se'-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yakni Sari 

Marawijaya). 

Beritalndia 

Hubungan antara Sriwijaya dan India pada permulaan abad 

ke-11 tercatat pada piagam yang sekarang disebut Larger Leyden Plates, 

ditulis dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Tamil. Isinya peringatan 

pembangunan wihara Cudamaniwarman oleh raj a Marawijayatung­ 

gawarman dan persembahan dusun Anaimanggalam sebagai jaminan 

kepada para pendeta yang hidup dalam wihara tersebut. Bagian yang 

tertulis dalam bahasa Sanskerta itu telah diterjemahkan oleh Prof. 

Nilakanta Sastri seperti berikut: 

He, this Rajakesawariwarman Rajaraja, who had seen the other 

shore of the ocean of the collection of all sciences, who foot-stool was 

made yellow by the cluster of rays (eminating) from many a gem set on 

the borders of the beautiful gold diadems worn by the entire cycle of 

kings, gave in the twenty-first year of his universal sovereignty, to the 

Budha residing in the surpassing by beautiful culamaniwarmawihara, 

of (such) high loftiness (as had) belittled the kanakagiri (i.e. Meru), 

which had been built in the name of his father, by the glorious 

Marawijayatunggawarman, who by the greatness of his wisdom, had 

conquered the teacher of the gods, who was the sun to the lotusforest 

(viz.) the learned man, who was the Kalpa-tree to supplicants, who 

950 Sriwijaya 

was born in the (ailendra family, who was the lord of the (riwisaya 

(country), who was conducting the rule of Kataha, who had the makara­ 

crest (and) who was the son of Culamaniwarman that had matered all 

state-craft, at Nagapittana, delightful (on account of) many a temple, 

rest-house, watershed, and pleasure garden and brilliant with arrays 

of various kinds mansions (situated) in the division called Pattanakura 

(included) in the big group of districts named Ksatriya~ikkamani­ 

walanadu, which was the forehead mark of the whole earth, the vil­ 

lage named Anaimangalam (wich had its) four bounderies defined by 

circumabulation of the female elephant and (which was situated) in 

the division called Pattanakura (included) in the same group of dis­ 

tricts (as has been named above). 

When that powerful (Rajaraja) had obtained divinity, his wise 

son, king Madhurantaka, who ascended on his throne, caused an 

enduring edict (to be made) for this village, which had thus been 

granted by his father, the king-emperor, and ordered thus: ­ 

As long as <;esa, the lord of all serpents, hold the entire earth, so 

long may this wihaa last in (this) world with its endowment. 

This lord of Kataha of great valour, the abode of virtues, thus 

prays to all futurre kings:­ 

Protect (ye) for ever this my charity. 

Selanjutnya, Nilakanta Sastri memberikan keterangan bahwa 

dalam piagam Tamil, disebut bahwa pembangunan wihara dan candi 

itu dilakukan oleh raja Kidara Cudamaniwarman pada tahun ke-21 

masa pemerintahan Rajakesariwarman, yakni pada tahun 1006. 

Piagam penguatnya dikeluarkan oleh raja Madhurantaka, yakni 

Rajendra, putra raja Kesariwarman. Namun, pada piagam Sanskerta 

disebut bahwa pembangunan wihara dan candi itu dilakukan oleh 

Marawijayatunggawarman. Ini dapat ditafsirkan bahwa pemba­ 

ngunan wihara dan candi itu dimulai oleh Cudamaniwarman pada 

tahun 1006. Namun sebelum bangunan itu selesai, beliau mangkat, 

kemudian pembangunan diselesaikan oleh Marawijayatunggawarman. 

Piagam Tamil ditulis pada masa pemerintahan Rajakesariwarman 

Rajaraja, sedangkan piagam Sanskerta ditulis pada masa pemerintahan 

Rajendra. Beliau mengetahui bahwa pembangunan itu dilakukan 

atas nama raj a Marawijayatunggawarman. N ama Cudamaniwarman 

dan Marawijayatunggawarman dikenal dalam berita Tionghoa. 

Kerajaan San-f0-ts'i 951 

Tarikh berita Tionghoa itu cocok dengan tarikh piagam Larger 

Leyden Plates, tentang masa pemerintahan Cudamaniwarman dan 

Marawijayatunggawarman. Menurut J.c. Powell-Price dalam 

bukunya, A History of India hlm. 87, masa pemerintahan Rajaraja 

mulai tahun 985 sampai tahun 1012. Jadi, tahun ke 21 masa peme­ 

rintahan Rajaraja ialah tahun 1006. 

Menurut berita Tionghoa, yang mengirim utusan ke Tiongkok 

pada tahun 1008 ialah Marawijayatunggawarman. Pada piagam yang 

ditulis dalam bahasa Tamil, dinyatakan bahwa pada tahun ke 22 

masa pemeirntahan beliau, yakni pada tahun 1007, wihara di 

Nagapattana itu sedang dibangun oleh raj a Kidara Cudamaniwarman. 

Demikianlah, dapat dipastikan bahwa Cudamaniwarman wafat antara 

tahun 1006 dan 1008. Baik piagam Larger Leyden Plates maupun 

berita Tionghoa itu membuktikan bahwa raja Sriwijaya Cudamani­ 

warman dan Marawijayatunggawarman mengadakan hubungan 

dengan India dan Tiongkok untuk memperkuat kedudukan Sriwijaya. 

Berita Tionghoa menyebut negaranya San-fo-ts'i, sedangkan Larger 

Leyden Plates menyebut <;riwisaya. Demikianlah, San-fo-ts'i itu sama 

dengan Sriwijaya. 

Menurut berita Tionghoa Yin-yai-sheng-lan yang telah dikutip 

di atas, Chiu-chiang sama saja dengan negara yang sebelumnya 

disebut San-fo-ts'i, juga disebut Po-lin-pang. sebab  San-fo-ts'i seperti 

dibuktikan di atas sama saja dengan Sriwijaya, maka Sriwijaya terletak 

di Palembang. San-fo-ts'i tidak mungkin diidentifikasikan dengan 

Muara Tembesi di daerah Jambi seperti disarankan oleh Drs. Sukmono. 

Lokalisasi San-fo-ts'i 

Tidak dapat lagi disangkal bahwa San-fo-ts'i terletak di 

Palembang. Kita ingin mengetahui mengapa kiranya kerajaan 

Sriwijaya, yang ditranskripsikan dalam tulisan Tionghoa pada masa 

pemerintahan rajakula Tang Shih-li-fo-shih, sekonyong-konyong 

dalam masa pemerintahan rajakula Sung ditranskripsikan San-fo-ts'i. 

959 Sriwijaya 

Takakusu, dalam menerjemahkan karya pendeta I-ts'ing, Nan­ 

hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan yang diberi judul A Record of the Bhuddhist 

Religion as Practised in India and the Malay Archipelago, disingkat 

Record, juga menyinggung nama San-fo-ts'i. Nama itu ditran­ 

skripsikan kembali Sam-bo-tzai. Nama Sam-bo-tzai terang tidak ada 

di Sumatra. Van Ronkel menyamakannya dengan Sam-bho-ja. Coed~s 

beranggapan bahwa san pada San-fo-ts'i yaitu  akibat salah tulis. 

Pendapat yang demikian tidak dapat dipertahankan, sebab  nama 

San-fo-ts'i digunakan dalam sejarah Sung dan Ming berkali-kali. 

Ferrand cenderung untuk menyamakan San-fot-ts'i dengan Shamboja, 

dan beranggapan bahwa nama Sriwijaya kemudian berubah menjadi 

Shamboja (Samboja). 

G. Ferrand mengikuti pendapat van Ronkel. Tetapi segera 

tertumbuk kepada kesulitan, bahwa baik dalam kesusastraan maupun 

epigrafi pada permulaan abad ke-10 dan selanjutnya, nama Sambhoja 

tidak pernah dijumpai. Bahkan pada tahun 1006, raj a Cudamani­ 

warman dan Marawijayatunggawarman masih disebut raja (riwisaya 

dan kadaram (menurut Larger Leyden Plates). Majumdar membantah 

penyamaan San-fo-t'si dengan Palembang. Ia berpendapat bahwa San­ 

fo-ts'i dan Palembang yaitu  dua tempat yang berbeda. Menurut 

pendapatnya, satu-satunya kemungkinan untuk menetapkan di mana 

letak San-fo-ts'i ialah menerima pendapat bahwa San-fo-ts'i itu sama 

dengan Zabaj atau Zabag, seperti yang diberitakan oleh penulis­ 

penulis Arab. San-fo-ts'i harus terletak di Semenanjung Melayu. 

Dalam sejarah Ming, dinyatakan bahwa San-fo-ts'i semula 

disebut Kan-to-li. Negeri ini mengirim utusan yang pertama kali 

pada masa pemerintahan kaisar Wu (454-464). Selama pemerintahan 

kaisar Wa (502-549) dari rajakula Liang, negeri San-fo-ts'i berulang 

kali mengirim utusan ke Tiongkok. Selama masa pemerintahan rajakula 

Sung yang kedua (960-1279), tidak ada putusnya mengirim utusan. 

Tentang georafi Kant-to-Ii, dikatakan bahwa negeri tersebut terletak 

di laut Selatan. Adat istiadat penduduknya sama dengan penduduk 

Fu-nan dan Lin-i. Gerini mendapatkan Kan-to-li ini di pantai timur 

Semenanjung. 

Kerajaan San-f0-ts'i 953 

berdasar  penyelidikan Gerini ini, Majumdar menetapkan 

San-fo-ts'i juga di pantai timur Semenanjung. Ditegaskannya bahwa 

Kan-to-li meliputi wilayah Kadara atau Kidara. Kidara atau Kadara 

yaitu  nama Kedah dalam bahasa Tamil. Menurut pendapatnya, San­ 

fo-ts'i yaitu  nama Tionghoa-nya. Nama Kan-to-li sesuai dengan 

nama Kidara, sedangkan San-fo-ts'i sesuai dengan Zabaj atau Zabag. 

Perbedaannya hanya tambahan fonem selundup n pada Kan­ 

to-li clan San-fo-ts'i. Dalam bahasa Tamil, bentuk lain dari Kadara 

ialah Kidara. Dalam bahasa Tionghoa pun, ada dua bentuknya, yakni 

Kan-to-li dan Kin-to-li. Groenveldt menyamakannya dengan 

Palembang, berdasar  berita Tionghoa pada masa pemerintahan 

rajakula Ming. Mengenai nama Kan-to-li, Prof. Kern mengira bahwa 

nama tersebut yaitu  transkripsi Tionghoa dari nama Kandari; 

Kandari disamakannya dengan Kondor. Dari berita Arab tulisan Ibn 

Madjid dari abad ke-15, G. Ferrand memperoleh keterangan bahwa 

pelabuhan Singkel di Sumatra disebut oleh berita Arab "Sinkil 

Kandari". Kesimpulan yang diambilnya ialah bahwa nama Kandari 

kemudian menjadi nama seluruh Sumatra. Krom sependapat dengan 

Ferrand, bahwa Kandari harus dicari di Sumatra. 

Moens lebih banyak meletakkan tekanannya pada soal geografi 

daripada soal linguistik. Oleh sebab  itu, ia mendasarkan pendapatnya 

terutama pada berita-beritaTionghoa, yang mempunyai sangkut paut 

dengan geografi kerajaan San-fo-ts'i. Dari sejarah Sung, diperoleh 

berita bahwa dari Cho-po, dalam empat hari perjalanan orang 

mencapai laut. Sesudah 15 hari berlayar ke arah barat laut, orang 

sampai di Po-ni; 15 hari lagi orang sampai di San-fo-ts'i. Dari berita 

Tionghoa, didapat lagi keterangan bahwa San-fo-ts'i terletak antara 

Chen-la clan Cho-po, atau antara Kamboja clan J awa. berdasar  

berita itu, Moens mengambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak 

di bagian selatan Semenanjung. 

Moens lalu mengutip berita Arab Abu Zayd, yang mengatakan 

bahwa ibu kota Jawaka berhadapan dengan Tiongkok dan dapat 

dicapai dari Tiongkok selama 30 hari pelayaran dengan angin baik. 

954 Sriwijaya 

Menurut Moens, berita itu menunjukkan bahwa J awaka terletak di 

pantai timur Semenanjung, sebab  bagian ini berhadapan dengan 

Tiongkok. Ia menyamakan Zabaj dan San-fo-ts'i dengan Kadaram. 

sebab  San-fo-ts'i terletak di pantai timur Semenanjung, dan 

Sriwijaya terletak di Palembang, dan menurut berita Tionghoa San­ 

fo-ts'i kemudian menggantikan Sriwijaya, maka Moens berpendapat 

bahwa San-fo-ts'i pernah menundukkan Sriwijaya. 

Pendapat Moens ini diperkuat oleh berita Arab, berasal dari 

Sulaiman (851), yang mengatakan bahwa Kalah-bar dan Zabaj ada 

di bawah kekuasaan satu raja. Berita Zayd Hassan juga mengatakan 

bahwa Sribuza yaitu  salah satu negara yang termasuk wilayah 

kekuasaan raja Zabaj. Jadi, menurut Moens, Kadaram mengalahkan 

Sriwijaya, bukan kebalikannya. 

Pendapat Moens ini bertentangan dengan pendapat para sarjana 

yang berlaku hingga pada waktu itu. Penempatan San-fo-ts'i di pantai 

timur Semenanjung oleh Moens dan Majumdar bertentangan dengan 

berita Yin-yai-sheng-lan, yang menyatakan bahwa Chiu-chiang sama 

saja dengan negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga disebut 

Po-lin-pang. Uraian tentang letak ibu kota kerajaan San-fo-ts'i oleh 

Yin-yai-sheng-lan jelas sekali. Bagaimanapun, yang dimaksud dengan 

San-fo-ts'i oleh Yin-yai-sheng-lan ialah kerajaan di Sumatra yang ibu 

kotanya terletak di Palembang. 

Hingga sekarang, orang berpendapat bahwa ibu kota kerajaan 

Sriwijaya ialah Palembang, meskipun bukti-bukti yang dikemukakan 

belum memberi keyakinan. Andaikata benar bahwa ibu kota kerajaan 

Sriwijaya itu terletak di Palembang, timbul pertanyaan: Apa sebabnya 

nama Shih-li-fo-shih itu berubah menjadi San-fo-ts'i? Kedua-duanya 

yaitu  transkripsi Tionghoa dari nama kerajaan di Palembang. Yang 

satu terang transkripsi dari Sriwijaya. Yang lain belum diketahui, 

sebab  usaha para sarjana hingga sekarang belum memberikan hasil 

yang memuaskan. 

Nilakanta Sastri mengemukakan pendapat bahwa timbulnya 

nama San-fo-ts'i di berita-berita Tionghoa terang sesudah Sriwijaya 

Kerajaan San-fO-ts'i 955 

diperintah oleh rajakula Sailendra dari J awa yang bernama 

Balaputradewa, seperti tercantum pada piagam Nalanda. Timbullah 

pertanyaan: Apakah perubahan rajakula itu menyebabkan perubahan 

nama kerajaan? Apa yang menjadi dasar perubahan nama kerajaan 

itu? Dalam hal ini, Nilakanta Sastri tidak mengemukakan 

pendapatnya. Dengan kata lain, basil usahanya untuk memecahkan 

persoalan San-fo-ts'i masih negati£ 

Suatu kenyataan ialah bahwa perubahan dinasti yang me­ 

merintah itu menimbulkan perubahan gelar atau sebutan raja. Pada 

piagam-piagam yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya, raja yang 

memerintah bergelar dapunta hang. Pada piagam-piagam yang ditulis 

dalam bahasa Sanskerta dan dikeluarkan oleh raja dari rajakula 

Sailendra, gelar raja ialah maharaja. Pada piagam Nalanda, Balaputra 

bergelar maharaja dan menyebut dirinya Suwarnadwipadhipa 

mah~rja: maharaja Suwarnadwipa. Pada piagam Ligor B, rajanya 

bergelar cri mah~rja: Sri maharaja. Gelar maharaja tidak dikenal 

pada piagam-piagam Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya. 

Pada piagam Nalanda, negara Sriwijaya disebut Suwarnadwipa. Nama 

Suwarnadwipa pada piagam Nalanda terang sama dengan nama 

Sriwijaya pada piagam-piagam yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya. 

Nama Suwarnadwipa tidak mungkin ditranskripsikan San-fo-ts'i 

dalam tulisan Tionghoa. 

Sung-shih mencatat bahwa pada tahun 980 dan 983, raja San­ 

fo-ts'i menggunakan sebutan hia-tche. Sebutan hia-tch'e yaitu  

transkripsi dari kata Melayu haji atau Jawa kuno haji: raja. Di antara 

piagam-piagam Sriwijaya, hanya piagam Telaga Batu yang menyebut 

raja Sriwijaya haji dalam hubungan marsi haji: dubi raja, bini haji: 

istri raj a; dan hulun haji: abdi raja. Pada tahun 1017, tercatat sebutan 

hiatch'e Sou-wou-tch'a: haji Sumatra (haji Suwarnadwipa). Nama 

Suwarnadwipa telah banyak dikenal dalam berita Tionghoa. Dalam 

karya-karyanya, I-ts'ing menyebutnya Chin-chou: pulau emas. Ia tidak 

mentranskripsikan dengan huruf Tionghoa, tetapi menerjemah­ 

kannya. Pada tahun 1156, digunakan lagi maharaja dalam bentuk 

956 Sriwijaya 

si-li-ma-chia-lo-cho. Gelar maharaja itu jelas gelar raja Sriwijaya dari 

rajakula Sailendra. 

Tidak ada nama atau sebutan yang kiranya mirip dengan nama 

San-fo-ts'i. Yang agak menarik perhatian ialah usaha untuk menya­ 

makan nama San-fo-ts'i dari berita Tionghoa dengan Zabaj atau Zabag 

dari berita Arab. 

Baik Coed~s maupun Nilakanta Sastri menyetujui bahwa Zabag 

dari berita Arab clan Jawaka dari berita Tamil yaitu  bentuk ubahan 

nama asli yang digunakan untuk Malaysia. Yang menjadi persoalan 

ialah: Bentuk nama asli yang mana? Yang mungkin ditranskripsikan 

Zabaj dalam bahasa Arab ialah nama Yawadwipa. Yawadwipa telah 

dikenal oleh Ptolomeus clan ditranskripsikan menjadi labadiou. 

Tambahan diou sesuai dngan kata Prakrit diwu, yang berasal dari 

kata Sanskerta dwipa. 

Bentuk Zabag clan Zabaj dalam berita Arab berbeda asalnya. 

Zabag mengikuti transkripsi Tamil Jawaka; Zabaj mengikuti labadiou 

atau memang langsung dari Yawadwipa. Pada abad ke-14, fonem y 

pada Yawa sudah berubah menjadi j seperti dikenal dalam 

Nagarakretagama. Nama Yawadwipa tidak semata-mata digunakan 

untuk menyebut pulau Jawa; Sumatra disebut juga Yawadwipa. 

Nama Yawadwipa ditranskripsikan dengan hurufTionghoa menjadi 

Ye-po-ti. Ye-po-ti tidak mungkin sama dengan San-fo-ts'i. 

Saya beranggapan bahwa San-fo-ts'i yaitu  transkripsi dari nama 

tempat yang sudah ada pada zaman Sriwijaya. Tempat itu harus 

terletak di daerah Palembang, sebab  menurut Yin-yai-sheng-lan, 

kerajaan San-fo-ts'i juga disebut kerajaan Po-lin-pang. Nama tempat 

itu harus sudah ada pada zaman Sriwijaya, sebab  pada tahun 960 

ketika kerajaan Sriwijaya masih berdiri, seperti terbukti dari piagam 

Tanyore (tahun 1030), nama San-fo-ts'i telah muncul dalam sejarah 

Tionghoa. Menurut Chu-fan-chi, Palembang termasuk salah satu 

negeri bawahan San-fo-ts'i. Nama yang ditranskripsikan San-fo-ts'i, 

bunyinya paling sedikit menyerupainya. J adi, harus memuat bunyi 

San: b(w), g(y), clan fonem yang terakhir ini harus disertai bunyi i. 

Kerajaan San-fO-ts'i 957 

Mungkin bunyi i ini perubahan dari suku ya dari kata Sanskerta 

jaya, yang menjadi yay, mungkin memang i pada dasarnya. 

N ama tempat yang kiranya memenuhi syarat-syarat tersebut 

ialah Sabukingking di bagian timur kota Palembang zaman sekarang, 

terletak di tepi sungai Musi. Tempat ini terbukti tempat penting 

dalam sejarah, sebab  di situ ditemukan pecahan piagam yang tertulis 

dalam bahasa Sanskerta. berdasar  bentuk tulisannya, piagam itu 

berasal dari abad ke ke-7, sama dengan pecahan piagam Bukit 

Siguntang. 

Zaman sekarang, tempat itu dijadikan tempat keramat, tempat 

orang mencari restu; dianggap sebagai tempat dimakamkan orang 

penting zaman dahulu kala. Sesuai dengan kepercayaan masyarakat 

zaman sekarang, yang kebanyakan anggotanya beragama Islam, sudah 

semestinya timbul anggapan bahwa tempat itu menjadi tempat 

dimakamkan raja Palembang yang beragama Islam. Demikianlah, 

Sabukingking mengalami proses peng-Islam-an. Kiranya nama itu 

bentuk ubahan dari nama lama yang disesuaikan dengan sifat clan 

ucapan bahasa Palembang sekarang. Nama itu kiranya semula kata 

Sanskerta, seperti halnya dengan nama Palembang yang berasal dari 

palimbang(a: tepi. Kalau kita salah duga, namanya dahulu ialah 

Sambhogin, artinya: tempat yang pen uh dengan kesenangan. N ama 

Sambhogin memang tidak jauh dari transkripsi Tionghoa San-fo-ts'i. 

Sebagai percobaan, dua orang Tionghoa saya suruh menulis 

Sambogin dengan huruf Tionghoa. Kedua-duanya menjawab: sulit 

sekali. N amun, mereka berusaha juga untuk menulisnya. Hasilnya, 

mereka menulis huruf-huruf yang sama. Mereka lalu membacanya 

menurut ucapan Mandarin clan Kanton: San-fo-ts'i. Tulisan itu saya 

bandingkan dengan tulisan Tionghoa yang biasa diucapkan San-fo­ 

ts'i, terdapat pada Record terbitan Takakusu. 

berdasar  percobaan itu saya yakin bahwa San-fo-ts'i dalam 

sejarah Sung itu yaitu  transkripsi Tionghoa dari nama tempat 

Sambhogin yang sekarang menjadi Sabukingking, terletak di bagian 

timur Palembang, di tepi sungai Musi. Perubahan nama yang 

958 Sriwijaya 

demikian yaitu  peristiwa biasa dalam sejarah toponimi. Perubahan 

bunyi nama yang bersangkutan disesuaikan dengan kebiasaan 

masyarakat yang menyebutnya. N ama Carpentier di kota Solo dijadikan 

Sekar pace: kampung Sekar Pace. Bouwploeg dijadikan Boplo: pasar 

Boplo di Jakarta. N ama Marlborough dijadikan Malioboro: jalan raya 

di kota Yogyakarta. 

Letak Sambhogin di tepi sungai Musi sesuai dengan pemberitaan 

Yin-yai-sheng-lan seperti telah dikutip di atas. Menurut berita Yin­ 

yai-sheng-lan, San-fo-ts'i yaitu  nama ibu kota kerajaan San-fo-ts'i. 

Demikianlah, Sambhogin (Sabukingking) yaitu  ibu kota Sriwijaya 

dalam abad ke-10 ke atas. Orang-orang Tionghoa menyebut nama 

kerajaan yang pada waktu itu masih jelas bernama Sriwijaya dengan 

nama pusat kerajaannya. 

Peristiwa yang demikian juga merupakan gejala biasa dalam 

sejarah. Sebagai analogi, kita mengambil contoh kata Jakarta zaman 

sekarang. Biasa orang berkata: "Apa kata Jakarta?". Maksudnya, apa 

yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin Republik negara kita  yang 

ada di Jakarta? N ama ibu kota Jakarta mewakili Republik negara kita . 

zaman 300 tahun yang lalu, Daerah lstimewa Yogyakarta bernama 

kerajaan Mataram. Setelah ibu kota Ayodhyakarta didirikan, orang 

menyebutnya Yogyakarta. Nama Mataram terdesak oleh nama 

Yogyakarta. 

Masih banyak contoh-contoh lainnya. Perpindahan ibu kota 

sebagai pusat kerajaan banyak terjadi. Tidaklah aneh bahwa ibu kota 

kerajaan Sriwijaya dalam abad ke-10 ke atas mengalami perpindahan 

juga, meskipun perpindahan itu hanya terjadi di lingkungan kota 

Palembang saja. Pusat aktivitas pembesar-pembesar Sriwijaya 

berpindah ke Sabukingking. Tempat itulah yang dikenal baik oleh 

para pedagang clan pembesar Tionghoa. Dalam berita-berita 

Tionghoa, nama itu lebih dikenal daripada nama resmi kerajaannya. 

Kerajaan San-fO-ts'i 959 

Negara-Negara Bawahan San-fo-ts'i 

Chu-fan-chi yang disusun pada tahun 1225 memberitakan 15 

negeri bawahan kerajaan San-fo-ts I, termasuk di antaranya Palembang, 

yakni: 1). Pong-fong, 2). Tong-ya-nong, 3). Ling-ya-si-kia, ). 

Kilantan, 5). Fo-lo-an, 6). Ji-lo-ting, 7). Tsien-mai, 8). Pa-r'a, 9). 

Tan-ma-ling, 10). Kia-lo-hi, 11). Pa-lin-fong, 12). Sin-to, 13). Kien­ 

pi, 14). Lan-mu-li, 15). Siam. 

Pong-fang disamakan dengan Pahang; Tong-ya nong dengan 

Trengganu; Ling-ya-si-kia dengan Langkasuka; Ki-lan-tan dengan 

Kelantan; Ji-lo-ting dengan Jelotong di ujung tenggara Semenanjung; 

Tan-ma-ling dengan Tamralingga; Kia-lo-hi dengan Grahi; Pal-lin­ 

fong dengan Palembang; Sin-to dengan Sunda; Ken-pi dengan Kampe 

di teluk Aru; Lan-wu-li dengan Lamuri (Aceh); Si-lan dengan Cyelon 

atau Sailan atau Sri Lanka. 

Rouffaer menyamakan Kien-pi dengan Kampe di teluk Aru. 

Dalam Sung-hui-yao, dinyatakan bahwa pada tahun 1082, kerajaan 

Jambi masih berdiri sendiri sebagai bagian kerajaan San-fo-ts'i. 

Kerajaan Jambi itu disebut Chan-pei. Jika nama Kien-pi pada Chu­ 

fan-chi ini sama dengan Chan-pei pada Sung-hu-yao, maka yang 

dimaksud ialah J ambi, yang sudah terang ada di bawah kekuasaan 

San-fo-ts'i atau muara Kompeh. 

Rouffaer mencari Fo-lo-an di Selangor Selatan, Pa-t'a disamakan 

dengan Batak, Ts'ien-mai disamakan dengan Semang atau Semawe. 

Roland Braddell yang meneliti toponimi tentang nama-nama itu, 

sekali lagi, tidak mendasarkan pendapatnya pada kemiripan bunyi 

semata-mata tanpa mengingat geografi. la menyatakan bahwa Fa-lo­ 

an yaitu  daerah sungai Dungun, dan Pa-t'a yaitu  daerah sunga 

Paka. Kedua-duanya terdapat di pantai timur Semenanjung. Ji-lo­ 

ting yaitu  sungai Cerating, yang mengalir di daerah perbatasan 

Trengganu dan Pahang. Tentang nama Ts'ien-mai, Braddell tidak 

dapat menemukan tempat yang mirip namanya dan menurut geografi 

dapat dipertanggungjawabkan. Penyelidikannya memberi sumbangan 

yang berharga bagi pengetahuan geografi dalam sejarah lama. 

960 Sriwijaya 

Tan-ma-ling oleh Takakusu dikira Tana-Melayu; oleh Coed~s 

disamakan dengan Tamralingga di daerah Ligor. Pendapat Coed~s 

ini diterima oleh umum hingga sekarang. Nama Tamralingga 

kedapatan pada piagam yang ditemukan di Chai-ya, yakni di daerah 

Ligor, bertarikh tahun 1230. Pada piagam itu tersebut nama 

Tjandrabhanu (Candrabhanu) yang bergelar Sri Dharmaraja, 

pembesar Tamralingga. sebab  piagam tersebut ditemukan di Ch'ai­ 

ya, dikira bahwa Chai-ya termasuk wilayah Tamralingga. Tetapi tidak 

diketahui di mana letaknya. Coed~s menempatkannya antara Beluk 

Bandon clan Ligor, seperti juga Nilakanta Sastri, sebab  menumt 

anggapannya Sri Dharmaraja yaitu  khusus sebutan raja-raja Ligor. 

Sejak daerah itu termasuk wilayah Siam, nama ibu kotanya disebut 

Negara Sridharmaraja, yakni Nakon Sri Tammarat zaman sekarang. 

Pada piagam Nidessa yang tertulis dalam bahasa Tamil, terdapat 

nama Tambralingam. Baik oleh Coed~s maupun oleh Nilakanta Sastri, 

nama itu disamakan dengan nama Tramalingga pada piagam Ch'ai­ 

ya. Menurut pendapatnya, Tan-ma-ling yaitu  transkripsi Tionghoa 

dari Tamralingga. Ma-Damalingam pada prasasti Nidessa yaitu  

Damalingam atau Tamalingam agung. Demikianlah, Tan-ma-ling 

(Tionghoa) = Tamalingam (Tami) = Tamralingga (Chai-ya). la 

menambahkan bahwa tambra yaitu  bentuk Prakrit dari tamra dan 

berarti: tembaga. Tetapi sebab  Ch'ai-ya tidak menghasilkan tembaga, 

maka nama itu harus diartikan "lingga tembaga. Demikian ringkasan 

pendapat Coed~s. 

sebab  Tan-ma-ling yaitu  transkripsi Tionghoa dari suatu 

tempat, yang disebut di antara negara-negara di pantai timur Malaya 

dalam rangkaian negara-negara bawahan San-fo-ts'i, maka nama itu 

hams dicari di pantai timur Semenanjung Melayu. Mungkin di antara 

nama-nama tempat yang sekarang masih ada; ada yang 

menyerupainya. Kecuali dari itu, kita hams mencari penjelasan 

mengenai berita-berita lain atau dalam Chu-fan-chi, yang sekadar 

memberikan uraian tentang Tan-ma-ling sebelum mengambil 

kesimpulan. Demikian Roland Braddell. 

Kerajaan San-fO-ts'i 961 

Di dalam bahasa Amoy Hokkien, Tan-ma-ling itu diucapkan 

tan-b~-ling, menurut Schlegel. Nama tempat yang mirip sekali 

dengan Tan-b~-ling ialah Tembeling di Pahang. Chao-ju-kua dalam 

Chu-fan-chi mencatat bahwa Tan-ma-ling yaitu  suatu kerajaan di 

bawah pemerintahan Siang-kung. sebab  Tan-ma-ling daerah jajahan 

San-fo-ts'i, maka pembesar yang disebut siang-kung itu bukan raja. 

Dalam susunan kerajaan Sriwijaya, seorang pembesar yang diserahi 

pemerintahan di daerah tertentu oleh raja Sriwijaya disebut datu. 

Mungkin Siang-kung ini sama dengan datu. Oleh San-tsai-t'u-hui 

(1607) diberitakan dengan jelas, bahwa Tan-ma-ling diperintah oleh 

seorang pembesar yang bukan raj