Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 1

 




DAFTAR SINGKATAN 

B.E.EE.O. : Bulletin de I'Ecole Francaise d'Ext~eme Orient. 

B.K.I. : Bijdragen tot de Taal, Land- en Volkenkunde van 

Nederlandsch Indi~, uitgegeven door het Koninklijk 

Institut voor Taal-, Land- end Volkenkunde. 

M.B.R.A.S. : Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (Journal) 

KO. : Kawi-Oorkonden in facsimile met inleiding en 

transcriptie van Dr. A.B. Cohen Stuart. 

0.J.0. : Oud-Javaansche Oorkonden, nagelaten transcripties 

van wijlen Dr. J .L.A. Brandes, uitgegeven door Dr. N .J. 

Krom. 



Sriwijaya diketahui luas merupakan kerajaan maritim terbesar 

di negara kita  yang pernah berjaya di masa lampau. Di dalam peta 

sejarah Asia Tenggara lama, nama Sriwijaya nyaris menjadi mitos 

dari sebuah kebesaran dan keagungan. Selain dikenal dengan potensi 

lautnya yang besar, nama Sriwijaya juga terdengar harum sebab  

keterbukaannya kepada dunia luar. Reputasi Sriwijaya sebagai 

kerajaan yang berbudaya juga dikenal luas, sebab  di Sriwijaya-lah 

untuk pertama kalinya agama Budha berkembang pesat. 

Sayang sekali, meski sangat masyhur pada zaman lampau, belum 

banyak penggalian sejarah yang dilakukan terhadap Sriwijaya. 

Minimnya riset sejarah terhadap keberadaan Sriwijaya dapat di­ 

maklumi, mengingat dokumentasi sejarah pada masa lampau yang 

masih langka dan mengandalkan bahan-bahan yang terbatas. Kendati 

demikian, para sejarawan dan arkeolog terus mencoba melakukan 

rekonstruksi sejarah secara lebih baik. Upaya ini antara lain dirintis 

oleh Prof. Dr. Slamet Muljana lewat buku ini. Slamet Muljana 

melanjutkan kerja keras Prof. George Coed~s, yang menghangatkan 

kembali perbincangan mengenai Sriwijaya melalui temuannya yang 

fenomenal pada tahun 1918. 

Seperti dua karyanya yang kami terbitkan, Runtuhnya Kerajaan 

Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (2005) 

vi Sriwijaya 

clan Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit) (2005), 

Slamet Muljana juga melakukan pendekatan filologis dalam karya 

ini. Berbekal teori-teori yang sudah dikembangkan oleh para peneliti 

sebelumnya, Muljana meneliti akurasi berita-berita sejarah tentang 

Sriwijaya. Terutama, berita-berita Tionghoa clan prasasti asli dari 

zaman Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya, Sanskerta, clan 

Tamil. 

Di tengah langkanya kajian tentang Sriwijaya, buku ini 

menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan metode filologi yang 

sudah sangat dikuasainya, Slamet Muljana menguji akurasi pene­ 

muan-penemuan sebelumnya yang masih berupa hipotesis clan 

belum cukup meyakinkan. Untuk mencari situs Sriwijaya, misalnya, 

para sejarawan masih berselisih pendapat. Sebagian sejarawan clan 

arkeolog menyebut Sriwijaya terletak di kota Palembang. Tapi 

sebagian lainnya menolak, clan malah memosisikan Sriwijaya tepat 

di Jambi. Manakah yang benar? Buku ini memberikan jawabannya. 

Rasa terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan kepada ahli 

waris penulis atas izin clan partisipasinya. Khususnya, kepada Ibu 

Dani yang waktunya rela diganggu untuk sekadar kontak clan 

konfirmasi. Selebihnya kami ucapkan selamat membaca ... 

KATA PENGANTAR 

Kesadaran nasional bangkit kembali akibat timbulnya kemer­ 

dekaan di pelbagai negara Asia. Dengan sendirinya, pengetahuan 

sejarah nasional mendapat perhatian para penduduk negara-negara 

yang bersangkutan lebih banyak daripada waktu yang sudah silam. 

Sejarah kerajaan Sriwijaya yaitu  sejarah salah satu negara Asia 

Tenggara yang menguasai Selat Malaka pada zaman yang sudah lama 

lampau. Selat Malaka, sebagai satu-satunya jalan lalu-lintas pelayaran 

dari India ke Tiongkok dan kebalikannya, memegang peranan penting 

dalam sejarah Asia Tenggara. Oleh sebab  itu, sejarah kerajaan Sriwijaya 

pada hakikatnya yaitu  bagian penting dari sejarah lama Asia 

Tenggara. Sejarah Sriwijaya menyangkut hubungan antara bangsa­ 

bangsa Asia, terutama yang menggunakan Selat Malaka sebagai jalan 

lalu-lintas. Peranan Sriwijaya tidak dapat diabaikan dalam penge­ 

tahuan sejarah Asia Tenggara lama. 

Kerajaan Sriwijaya lama terpendam dalam abu sejarah tanpa 

diketahui oleh seorang pun. Baru semenjak tahun 1918, kerajaan 

Sriwijaya timbul lagi dalam sejarah berkat penemuan Prof. George 

Coed~s. Sejak itu, nama Sriwijaya menjadi sangat masyhur. Pe­ 

nyelidikan lebih lanjut masih terus-menerus dilakukan untuk mencari 

penjelasan mengenai hal-hal yang masih kabur. Penemuan kerajaan 

Sriwijaya ini mendapat sambutan yang hangat sekali dari para sarjana 

dalam bidang pengetahuan sejarah. 

viii Sriwijaya 

Sudah selayaknya bangsa Asia Tenggara umumnya, bangsa 

Malaya dan negara kita  khususnya, tidak lagi puas dengan hanya 

mendengar namanya saja. Mereka ingin tahu bagaimana seluk-beluk 

yang sebenarnya. Itulah sebabnya maka hasil penyelidikan para sarjana 

dalam bidang sejarah Sriwijaya itu juga dihimpun dan disiarkan 

dalam bahasa Melayu/negara kita  dalam bentuk seperti berikut. 

Di samping menghimpun dan mengutip pendapat para sarjana 

yang telah memberikan sumbangan dalam rekonstruksi sejarah 

Sriwijaya, penyusun tidak lupa mengemukakan pelbagai persoalan 

yang masih menghendaki pemecahan. Justru, persoalan-persoalan 

itulah yang terutama mendapat perhatiannya. Usul pemecahannya 

ada kalanya sama dengan pendapat lama yang sudah pernah 

dikemukakan, ada kalanya berbeda dan merupakan buah pikiran 

baru. 

Sumber sejarah yang digunakan sama saja dengan sumber sejarah 

yang telah ditelaah sebelumnya dalam penelitian sejarah Sriwijaya. 

Hasil penelitian yang penting-penting pun secara singkat diuraikan 

dalam pasal ikhtisar penulisan sejarah Sriwijaya, yang menyebut 

pelbagai karya para sarjana dalam bidang sejarah Sriwijaya. Tanpa 

mengurangi jasa para sarjana yang telah menyumbangkan pendapat 

dalam penyusunan kembali sejarah Sriwijaya, uraian ini tidak di­ 

perberat dengan banyak kutipan dan catatan. Dengan jalan demikian, 

uraian mudah dibaca, dan pikiran dapat dipusatkan pada persoalan 

yang ditelaah. 

Dalam penulisan sejarah Sriwijaya, kita harus berusaha untuk 

hidup dan berpikir dalam alam abad ke-7 sampai abad ke-13, dan 

berusaha memahami makna peristiwa sejarah dalam rangka zamannya. 

Suasana zaman Sriwijaya yang telah lampau berabad-abad hanya dapat 

kita bayangkan saja dan kadang-kadang pembayangan suasana itu 

masih bersifat raba-raba. Peristiwa sejarah yang ingin kita pahami 

sangat kabur, sebab  sumber sejarah memberitakannya tidak jelas. 

Sebagian besar dari peristiwa-peristiwa sejarah Sriwijaya yang kita 

jumpai diberitakan oleh sumber sejarah asing, terutama sumber berita 

Kata Pengantar ix 

Tionghoa dan prasasti-prasasti asli dari zaman Sriwijaya yang ditulis 

dalam bahasa Sriwijaya, Sanskerta, clan Tamil. 

Berita Tionghoa tentang Sriwijaya kadang-kadang terlalu singkat 

clan terlalu kabur. Berita-berita itu kadang-kadang disangsikan 

kebenarannya, sebab  kebanyakan di antara berita-berita itu tidak 

berasal dari tangan pertama. Nama-nama tempat clan tokoh sejarah 

yang diberitakan ditulis dalam bahasa Tionghoa menurut pen­ 

dengaran penulisnya. Ucapan kata-kata Tionghoa yang digunakan 

untuk mencatat nama-nama itu berbeda-beda sehingga susah untuk 

ditafsirkan. Bahasa Tionghoa pada abad ke-7 berbeda dengan bahasa 

Tionghoa zaman sekarang. Bahasa Tionghoa Kanton berbeda dengan 

bahasa Tionghoa Mandarin. Untuk memberikan tafsir terhadap 

berita-berita Tionghoa itu, diperlukan bantuan ahli bahasa Tionghoa 

klasik, yang mempunyai perhatian kepada persoalan sejarah. 

Nama-nama tempat yang ditranskripsikan dengan huruf-huruf 

Tionghoa perlu ditafsirkan. Penafsiran nama-nama itu tidaklah 

mudah, sebab  nama-nama itu biasanya ditulis dalam satu rangkaian 

yang bunyinya berbeda sekali dengan nama-nama desa atau kota di 

Malaya clan Sumatra. Sering kali tempat yang namanya tercatat dalam 

kronik Tionghoa itu sudah berubah namanya, menyesuaikan diri 

dengan perkembangan bahasa setempat. Keterangan geografi tentang 

tempat-tempat yang disebut kadang-kadang bersifat umum sekali, 

diukur dengan jarak pelayaran clan jarak dari pulau atau tempat yang 

letaknya sangat jauh. 

Pemberitaan tentang batas-batas tempat itu dinyatakan dengan 

penyebutan laut clan pulau atau negara yang sangat jauh letaknya. 

Betapapun kaburnya berita geografi itu, berita geografi itu harus 

dijadikan pegangan untuk melokalisasikan tempat-tempat yang di­ 

maksud. Pengetahuan geografi dalam penulisan sejarah kuno, seperti 

sejarah Sriwijaya, sangat diperlukan untuk menghindarkan salah tafsir 

tentang peristiwa sejarah. Kadang-kadang, untuk melokalisasikan 

nama-nama yang disebut, diperlukan pengetahuan tentang keadaan 

daerah di pelbagai pulau clan kemungkinan perkembangannya dalam 

masa sejarah. 

X Sriwijaya 

Bagaimanapun, pengetahuan geografi kuno ini merupakan 

bagian penting dalam sejarah Sriwijaya untuk dapat memahami 

peristiwa sejarah dalam suasana zamannya. Pengetahuan geografi itu 

tidak dapat diabaikan begitu saja. Oleh sebab  itu, 

Times in Malaya, yang khusus merintis pengetahuan geografi sejarah 

kuno negara kita  bagian barat dan Semenanjung, harus dipandang 

sebagai sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu 

sejarah Sriwijaya. 

Ini tidak berarti bahwa semua kesimpulan yang diambilnya 

boleh kita terima begitu saja. Mereka membuka jalan baru untuk 

mendekati kenyataan sejarah yang sudah berulang kali disoroti dari 

segi filologi, dan terbukti tidak menjadi lebih jelas. Saya yakin bahwa 

lokalisasi pelbagai nama tempat yang disebut oleh pendeta I-ts'ing 

dalam karyanya, Memoire dan Record, serta oleh kronik Tionghoa, 

yang telah dilakukan oleh pelbagai sarjana berhubung dengan 

perkembangan penelitian geografi sesudah perang dunia kedua, perlu 

dikoreksi. 

Baik geografi maupun filologi serta arkeologi, dalam hal ini, 

mengabdi penulisan sejarah. Fungsinya tidak lain daripada mem­ 

berikan bantuan untuk memahami makna peristiwa sejarah dalam 

rangka zamannya dan susunan masyarakatnya. Hanya dalam beberapa 

hal di mana diperlukan bantuannya, filologi, arkeologi, dan geografi 

dibeberkan demi penjelasan peristiwa sejarah. Penulisan sejarah tetap 

menjadi tujuan utama. 

Tentang Sriwijaya, ditemukan juga pelbagai prasasti dalam 

bahasa Sriwijaya, Sanskerta, dan Tamil. Sebagian besar dari prasasti­ 

prasasti itu telah ditranskripkan dengan huruf Latin, diterjemahkan, 

dan diterbitkan dalam pelbagai majalah ilmiah oleh pelbagai sarjana. 

Namun, tafsir sejarahnya tetap masih gelap. Prasasti-prasasti itu hanya 

Kata Pengantar xi 

sebagian kecil dari kehidupan kenegaraan Sriwijaya. Namun 

meskipun demikian, prasasti-prasasti itu harus dijadikan pegangan 

untuk mengetahui perkembangan kerajaan Sriwijaya. Terjemahan 

prasasti-prasasti itu sering kali sangat kusut sebab  memang tidak 

mudah untuk memahaminya. 

Untunglah, di samping terjemahan itu, disiarkan juga tran­ 

skripsi dan kadang-kadang fotokopi prasasti-prasasti yang ber­ 

sangkutan sehingga barang siapa menaruh perhatian dapat ikut 

membacanya sendiri. Pembacaan fotokopi dan penafsiran transkripsi 

prasasti-prasasti itu ada kalanya memberikan gagasan baru untuk 

memecahkan persoalan sejarah Sriwijaya yang masih gelap. 

Meskipun sejarah Sriwijaya tidak mempunyai sangkut paut 

secara langsung dengan zaman negara kita  modern, namun sejarah 

Sriwijaya itu masih tetap mempunyai tempat dalam kerangka sejarah 

nasional. Mungkin pengetahuan sejarah kuno itu dapat memberikan 

dorongan ke arah pengagungan negara dan bangsa. Jika tidak, paling 

sedikit, sejarah Sriwijaya itu mengingatkan bangsa negara kita  kepada 

zaman gemilang yang sudah silam. 



Maksud penulisan sejarah pada umumnya ialah untuk menafsir­ 

kan peristiwa-peristiwa sejarah dalam rangka kehidupan kenegaraan 

suatu negara. Tafsir sejarah itu bertujuan untuk memaparkan 

pandangan individual seorang ahli sejarah, sebagai hasil usahanya 

untuk memahami sepenuhnya peristiwa sejarah yang diperolehnya 

dari sumber sejarah. 

Orang lain yang membacanya boleh menyetujui atau menentang 

pandangannya. Tentangan atau perbedaan pandangan ahli sejarah 

lain boleh memberikan dorongan untuk mengkaji suatu pandangan 

sejarah lebih lanjut, sekali-kali tidak bertujuan untuk semata-mata 

menggugurkan anggapan sarjana lainnya, tetapi dimaksud sebagai 

usaha untuk memperoleh penjelasan yang lebih memuaskan. 

Demikianlah, pertentangan tafsir sejarah oleh para sarjana itu 

harus diartikan sebagai usaha untuk mendekati kenyataan sejarah. 

Pikiran bahwa hanya anggapannya saja yang benar dan boleh 

dipercayai, akan menghentikan penyelidikan sejarah. Tiap pandangan 

baru, apalagi jika pandangan itu didasarkan atas bahan-bahan baru 

yang belum diketahui atau belum dapat dipecahkan sebelumnya, 

merupakan sumbangan yang berharga dan perlu dipertimbangkan. 

Lagi pula, pengetahuan sejarah bukanlah monopoli seorang ahli 

semata-mata. 

9 Sriwijaya 

Sejarah Sriwijaya sudah mengalami pengolahan pelbagai sarjana 

sejarah, baik mengenai keseluruhannya maupun mengenai bagian­ 

bagiannya. Pandangan para sarjana itu tidak semuanya sehaluan. 

Apalagi jika mereka menghadapi suatu soal sejarah yang menghendaki 

suatu pemecahan. Tafsiran mereka kadang-kadang bukan saja tidak 

sehaluan, melainkan sering kali bertentangan, sehingga seolah-olah 

menimbulkan polemik ilmu sejarah. Masing-masing pihak berusaha 

mempertahankan anggapannya dan mengemukakan bukti-bukti 

untuk memperkuatnya. Bukti-bukti itu diambilnya dari pelbagai 

sumber sejarah. Usaha mengumpulkan bukti-bukti ini melampaui 

penapisan sumber sejarah yang tertulis dalam pelbagai bahasa, 

terdapat di pelbagai tempat, berserak dalam pelbagai buku, dan 

tertulis dalam pelbagai masa. Pembuktian-pembuktian itu merupakan 

pengkajian pandangan terhadap soal sejarah. 

Pengetahuan sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad 

ke-20. Nama Sriwijaya baru mulai dikenal pada tahun 1918, sejak 

George Coed~s menulis karangannya, Le royaume de (rivijayd 

(B.E.F.E. 0. 18). Pada tahun 1913, waktu Prof. Kern menerbitkan 

piagam Kota Kapur, salah satu piagam Sriwijaya dari tahun 686, ia 

masih menganggap bahwa nama Sriwijaya yang tercantum pada 

piagam tersebut yaitu  nama seorang raja, sebab  rri biasanya 

digunakan sebagai sebutan atau gelar raja, diikuti nama raja yang 

bersangkutan. 

Sarjana Jepang Takakusu, yang menerjemahkan karya I-ts'ing, 

Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch'uan, ke dalam bahasa Inggris (A Record of 

the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago) 

pada tahun 1896, belum mengenal nama Sriwijaya. I-ts'ing, baik 

dalam bukunya, Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch'uan, maupun dalam 

bukunya, Ta-tang-si-yu-ku-fa-kao-seng-ch'uan, yang telah 

diterjemahkan lebih dahulu oleh Prof. Chavannes pada tahun 1894 

ke dalam bahasa Prancis (Memoire compos~ ~ l'~poque de la grande 

dynastie T'ang sur les religieux ~minents qui all~rent chercher la loi dans 

les pays d'Occident), menyebut Sriwijaya yang pernah dikunjunginya 

Shih-li-fo-shih (atau dengan ejaan Prancis: Che-li-fo-che). Nama itu 

 3 

dikira transkripsi Tionghoa dari nama asli Sribhoja. Dalam kedua 

buku itu, nama Shih-li-fo-shih, yang sering kali disingkat Fo-shih 

saja, digunakan untuk menyebut negara, ibu kota pusat kerajaan, 

dan sungai yang muaranya digunakan sebagai pelabuhan. 

Terjemahan piagam Kota Kapur oleh Kern, di mana terdapat 

nama Sriwijaya, dan terjemahan karya I-ts'ing, di mana terdapat 

transkripsi Tionghoa Shih-li-fo-shih, memungkinkan Coed~s untuk 

menetapkan bahwa Sriwijaya yaitu  nama negara di Sumatra Selatan, 

yang ditranskripkan ke dalam tulisan Tionghoa Shih-li-fo-shih. Tetapi 

Coed~s tidak berhenti pada penemuan itu saja. Ia berusaha pula 

menetapkan letak ibu kotanya di Palembang berdasar  anggapan 

Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and 

Malacca, Compiled from Chinese Sources, dari tahun 1876 yang 

menyatakan bahwa San-fo-ts'i yaitu  Palembang. 

Beal pada tahun 1886 telah mengemukakan pendapatnya, 

bahwa negara Shih-li-fo-shih terletak di tepi sungai Musi dekat kota 

Palembang. Namun, pada pertengahan kedua abad ke-19 itu, nama 

Sriwijaya belum dikenal. Kerajaan itu masih disebut dengan nama 

Tionghoa yang tidak diketahui nama aslinya. Meskipun anggapan 

itu boleh dipandang sebagai penemuan ilmiah yang asli, namun 

sebab  kepincangan tersebut masih kabur sekali. 

Bagaimanapun, harus diakui bahwa ilmu sejarah Sriwijaya 

yaitu  penemuan Coed~s dan lahir dari kecerdasannya dalam 

menggunakan hasil penyelidikan sarjana-sarjana lainnya. Penemuan 

Coed~s ini mendapat sambutan yang hebat dalam ilmu pengetahuan 

sejarah, terutama dalam sejarah Asia Tenggara. sebab  letaknya yang 

sangat ideal untuk lalu-lintas pelayaran Jawa, India, Arab, dan 

Tiongkok, maka sejarah Sriwijaya menyangkut hubungan inter­ 

nasional. Dengan sendirinya sejarah Sriwijaya itu berhubungan 

dengan sejarah negara-negara lain yang menggunakan Selat Malaka 

sebagai jalan lalu-lintas, dan namanya teringat pula dalam sejarah 

asing. Apalagi, sebab  terbukti bahwa Sriwijaya merupakan salah satu 

negeri besar di antara negeri-negeri di laut Selatan. Penemuan negeri 

4 Sriwijaya 

Sriwijaya oleh Coed~s ini mengalihkan minat para sarjana sejarah, 

terutama para sarjana Belanda, yang pada waktu itu terlalu banyak 

memusatkan perhatiannya kepada sejarah Jawa. Justru, sebab  kerajaan 

Sriwijaya lebih tua daripada kerajaan Mataram lama, sejarah Sriwijaya 

itu sangat menarik perhatian. sebab nya, perkembangan ilmu sejarah 

Sriwijaya sangat pesat. 

Pada tahun 1919, jadi setahun sesudah terbitnya karangan 

Coed~s Le royaume de (rivijaya yang sangat masyhur itu, Krom 

mengucapkan pidato pelantikannya sebagai guru besar pada Univer­ 

sitas Leiden yang berjudul De Sumatraansche periode der ]avaansche 

Geschiedenis. Krom menyarankan bahwa di dalam sejarah J awa, 

menyusup masa pemerintahan raja-raja Sumatra, yakni raja-raja 

Sriwijaya. Bukti yang dikemukakannya ialah pemakaian banyak kata 

Melayu pada piagam Gandasuli dari tahun 832 yang ditemukan di 

J awa Tengah. 

Sepuluh tahun kemudian, saran ini mendapat serangan dari 

sarjana W.F. Stutterheim, yang mengemukakan teori kebalikannya. 

Stutterheim menulis pada tahun 1929 4 Javanese Period in Sumatran 

History. Kecuali Krom, Gabriel Ferrand pada tahun 1919 juga me­ 

nyambut tulisan Coed~s tersebut di atas, dan pada tahun 1922 ia 

menerbitkan bukunya L'Empire Sumatranais de (rivijaya. 

Ferrand mengakui jasa Kern dalam usahanya menerjemahkan 

piagam Kota Kapur pada tahun 1913, meskipun sarjana ini tidak 

mengenal bahasa Melayu Kuno. J .Ph. Vogel tidak ketinggalan. Ia 

membahas karangan Coed~s dalam karangannya yang berjudul Het 

koninkrijk (rivijaya. Karangan itu ditulis dalam B.KI. 75, tahun 

1919. Demikian pula sarjana Inggris, ahli bahasa, clan sejarah Melayu 

C.O Blagden. Sarjana ini pada tahun 1920 menulis karangannya, 

The Empire of the Maharadja, King of the Mountains and Lord of the 

Isles. 

Pada tahun 1926, Krom menerbitkan bukunya, Hindoe Javaan­ 

sche Geschiedenis. Dalam buku itu, ia juga mengemukakan kerajaan 

Sriwijaya. Buku ini dicetak lagi pada tahun 1913. Dalam cetakan 

 5 

yang kedua itu, Krom tidak lupa membahas pendapat Dr. 

Stutterheim, yang telah dibicarakan oleh Dr. F.D.K. Bosch pada tahun 

1929. Baik Krom maupun Bosch menolak pendapatnya. Karangan 

Krom ini merupakan buku sejarah negara kita  lama yang paling 

lengkap dan menjadi buku pegangan sejarah negara kita  bagi para 

sarjana lain-lainnya. Segala literatur yang mempunyai sangkut paut 

dengan sejarah negara kita  sampai waktu itu dibahas dan disebut. 

Susunan buku Krom ini dipandang dari segi sejarah tidak luput 

dari kritik. Bertalian dengan perkembangan penelitian sejarah Indo­ 

nesia kuno, banyak bagian yang perlu dikoreksi. Pada hakikatnya, 

tulisan itu lebih banyak menyerupai pandangan arkeologi daripada 

pandangan sejarah dalam arti khusus. 

Sifat yang demikian mudah dipahami jika kita menempatkan 

tulisannya pada zaman dan suasana perkembangan ilmu sejarah di 

negara kita . Kita tidak dapat menulis sejarah negara kita  lama seperti 

yang dilakukan oleh para sarjana Eropa tentang salah satu bagian 

benua Eropa, sebab  terlalu banyak hal-hal yang masih sangat 

meragukan. Tanpa pengetahuan arkeologi, yang pada waktu penulisan 

buku itu boleh dikatakan baru mulai berkembang, tidak mungkin 

orang menulis tentang sejarah lama. Dengan sendirinya, Krom sebagai 

ahli arkeologi terlalu banyak mengutamakan soal-soal arkeologi dalam 

penulisan sejarah. Ia beranggapan bahwa dengan menempuh jalan 

ini, ia berharap dapat memberikan penjelasan tentang hubungan 

peristiwa yang masih gelap atau, paling sedikit, masih samar-samar. 

Oleh sebab  itu, alih-alih memberikan tafsir peristiwa sejarah yang 

mempunyai hubungan dengan pandangan hidup dan cara berpikir, 

ia dalam banyak hal memberikan tafsir purbakala. Akibatnya, 

tulisannya mengandung sifat sejarah yang bercampur aduk dengan 

arkeologi. 

Buku Krom berhenti pada uraian tentang kerajaan Majapahit 

saja. Suatu hal yang agak aneh jika dipandang dari segi penulisan 

sejarah. Pembatasan itu membayangkan wataknya sebagai seorang 

ahli arkeologi. Kejadian sesudah runtuhnya kerajaan Majapahit tidak 

6 Sriwijaya 

mendapat perhatian sama sekali, sebab  zaman itu sudah dianggap 

zaman Islam dan termasuk pangsa waktu baru. Penyelidikan arkeologi 

mengenai zaman ini tidak dilakukan. 

Sesudah terbitan Hindoe--Javaansche Geschiedeni s karangan Krom 

ini, menyusul pada tahun 1930 Les incriptions Malai ses de (rivijaya, 

yang dikumpulkan, diperiksa, dan dibicarakan oleh Coedes. Terbitan 

itu memuat piagam-piagam Sriwijaya yang tertulis dalam bahasa 

Melayu dan dikenal sampai tahun tersebut. Piagam-piagam itu ialah 

piagam Kedukan Bukit dari tahun 683, piagam Talang Tuwo dari 

tahun 684, piagam Kota Kapur dan piagam Karang Brahi dari tahun 

686. 

Terbitan Coed~s menyebut segala literatur yang bersangkutan 

dengan piagam-piagam tersebut dan karangan-karangan yang 

mempunyai sangkut paut dengan sejarah Sriwijaya. Yang sangat 

penting ialah bahwa piagam-piagam itu dikumpulkan dalam satu 

terbitan, sehingga setiap sarjana yang ingin menyumbangkan 

pikirannya mengenai sejarah Sriwijaya dapat berkenalan secara 

langsung dengan piagam-piagam asli tersebut. Terjemahannya pun 

dilampirkan pula. Orang bebas menerima atau menolak terjemahan 

itu. Namun, yang pasti ialah bahwa sajian yang demikian dapat 

dijadikan pegangan untuk bekerja lebih lanjut, tanpa terpengaruh 

oleh konsepsi Coed~s sendiri. Kumpulan piagam asli Sriwijaya itu 

menjadi lengkap sebab  terbitan piagam Telaga Batu dan beberapa 

pecahan piagam lainnya oleh Dr. De Casparis dalam bukunya, Pra­ 

sasti negara kita  II, dari tahun 1956. 

Pada tahun 1932, vor H. N. Ivans menulis tentang sebuah 

cincin yang ditemuinya di Tanjung Rawa, Selinsing, Perak, dalam 

majalah Federated Malay States Museums Vol. XV part 3 seperti berikut: 

"his a small seal of red carnelian of good colour and somewhat transluctant, 

chamfered at the edges on the face and there engraved with an inscription 

running the length of the seal in the middle. The dimensions of the piece 

are 1.45cms x 1cm x 4cm. The back is a flat." Huruf tulisan pada 

cincin tersebut ialah huruf Palawa, dan tulisannya terbaca <;ri Visnu­ 

varmasya. 

 7 

Dr. C.O. Blagden clan Dr. L.D. Barnett menduga bahwa cincin 

itu berasal dari tahun 400, tetapi Dr. Van Stein Callenfels menduga 

dari tahun 600. Van Stein Callenfels berpendapat bahwa nama <;ri 

Visnuvarmasya (Sri Wisnuwarman) itu yaitu  nama seorang raja atau 

seorang pangeran, sebab  nama itu menggunakan gelar Gri. 

Dalam A Note on an Inscribed Seal from Perk, Prof. Nilakanta 

Sastri meragukan pendapat itu. Justru sebab  pada nama tersebut 

terdapat suatu kesalahan, yakni Visnuvarmasya alih-alih Visnu­ 

varmanah, maka ia cenderung untuk mengatakan bahwa pemilik 

cincin tersebut ialah orang biasa atau seorang saudagar. Gelar cri itu 

saja belum merupakan jaminan bahwa pemiliknya yaitu  seorang 

raja, sebab  gelar gri itu sudah umum dipakai sebagai gelar peng­ 

hormatan pada nama-nama orang biasa. Dalam hubungan itu, ia 

mengemukakan nama <;ri Vati-Kuddasya yang berasal dari Ujjain, 

dan tertulis dengan huruf-huruf yang serupa benar dengan huruf­ 

huruf pada cincin dari Perak itu. Oleh sebab  itu, ia menduga bahwa 

nama Wisnuwarman pada cincin yang bersangkutan itu yaitu  nama 

seorang pedagang dari India Tengah, atau seorang pendatang dari 

India di Kuala Selinsing. Ternyata bahwa cincin dari Selinsing ini 

sangat menarik perhatian. 

Dr. Ch. Chhabra yang menulis karangannya, Expansion of Indo­ 

Aryan Culture during Pallava Rule, as Evidenced by Inscriptions, dalam 

J.A.S. Bengal Letters I 1935, kecuali membicarakan piagam Ligor A 

clan B, juga menyinggung nama Sri Wisnuwarman pada cincin dari 

perak ini. Ia sampai pada kesimpulan bahwa berdasar  bentuk 

aksaranya yang persegi, cincin itu harus berasal dari abad ke-8 dan 

nama Wisnuwarman pada cincin tersebut sama dengan nama Wisnu 

pada piagam Ligor B. 

Justru sebab  tempat penemuan cincin itu letaknya tidak jauh 

dari Ligor. Dr. Ch. Chhabra beranggapan bahwa piagam Ligor A 

clan Bitu pada hakikatnya hanya suatu piagam yang terputus sesudah 

baris ketujuh. Manggalacarananya svasti terdapat pada permulaan 

piagam B, sedangkan piagam Ligor A yang bertarikh tahun 775 tidak 

mulai dengan manggalacarana. 

8 Sriwijaya 

Pada tahun 1933, clalam tulisannya, Les rois <;ailendra de 

Suvarnadvipa (B.E.FE. 0. XXXIII), R.C. Majumdar telah 

mengemukakan pendapat bahwa piagam Ligor A clan B hams 

clipanclang sebagai dua piagam yang ditulis oleh clua orang raja. 

Piagam B ditulis kemudian claripacla piagam A. 

Persoalan piagam A clan B ini masih tetap hangat. Pada tahun 

1941, sebagai karangan yang terakhir tentang Sriwijaya sebelum 

pecah Perang Dunia II, terbit tulisan Dr. F.D.K. Bosch dalam T. B. G. 

jilid LXXXI yang berjuclul De inscriptie van Ligor. 

Dalam tulisan itu Bosch mengulangi pendapat Chhabra, clan 

akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pada tahun 775, seorang 

raja Sailenclra yang bernama Wisnu memerintah Sriwijaya. Raja 

Wisnu yang tercatat pada piagam Ligor B itu tidak lain claripacla 

rakai Panunggalan yang tercatat pada piagam Keclu yang clikeluarkan 

oleh raja Balitung pacla tahun 907. Rakai Panunggalan ini sama 

clengan Samarottungga pada piagam Karang Tengah, clan 

Samarottungga aclalah Samaragrawira pada piagam N alancla. Ini 

yaitu  putra rakai Pancapana Panangkaran yang tersebut pada piagam 

Kalasan dari tahun 778. Pada piagam Kelurak, raja Sailendra 

Panangkaran itu menyebut clirinya pembunuh musuh perwira 

vairivara-viravimarclana, dan pada piagam Nalanda disebut 

viravairimathana. Artikel Bosch ini akan clisambut oleh Coed~s pada 

tahun 1950 dalam karangannya, Le (ailendra tueur des h~ros ennemis, 

dalam Bingkisan Budi, kumpulan karangan para sarjana untuk 

menghormat Prof. Ph. S. van Ronkel. 

Sementara itu, pada tahun 1937 teori Coed~s tentang kerajaan 

Sriwijaya yang ditulis pada tahun 1918 itu dihantam oleh Ir. L. 

Moens dalam terbitannya, (rivijaya, Yava en Katha (T.B.G. 

LXXVII). 

Salinannya ke dalam bahasa Inggris clisiarkan pacla tahun 1940 

dalam Journal of the Malayan Branch XVII. Ia merombak teori yang 

telah disusun oleh Coed~s. Meons mengemukakan teori baru yang 

berclasarkan pengetahuan geografi dari berita Tionghoa clan Arab. 

 

Menurut pendapatnya, Sriwijaya tidak pernah berpusat di 

Palembang. Pada mulanya, pusat kerajaan itu terletak di pantai timur 

Malaya, kemudian berpindah ke Sumatra Tengah dekat Muara Takus. 

Sangat menarik perhatian, bagaimana Moens menggunakan berita­ 

berita geografi untuk menegakkan teorinya. 

Dari sejarah Sung, tercatat bahwa empat hari perjalanan dari 

Cho-p'o orang sampai di laut; jika berlayar ke arah barat laut sesudah 

lima belas hari, orang sampai di P'o-ni, dan lima belas hari lagi sampai 

di San-fo-ts'i. Juga diberitakan bahwa San-fo-ts'i terletak di antara 

dan Cho-p'o. berdasar  dua berita geografi itu, Moens mengambil 

kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di Semenanjung Melayu. 

Berita Arab yang berasal dari Abu Zaid mengatakan bahwa ibu 

kota Yawaga berhadap-hadapan dengan Tiongkok. Menurut 

pendapatnya, Zabag (Yawaga) sama dengan San-fo-ts'i. Oleh sebab  

itu, diambilnya kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di pantai timur 

Semenanjung. Moens menyamakan San-fo-ts'i dengan Kadaram; oleh 

sebab  itu, terpaksa melokalisasikan Kadaram di pantai timur 

Semenanjung. Ia juga beranggapan bahwa San-fo-ts'i bersaingan 

dengan Palembang. Setelah mengalahkan pusat kerajaan Palembang 

dan mengusir keluarga raja, [San-fo-ts'i] lalu mendirikan pusat 

kerajaan ham di wilayah Melayu, yakni dekat Muara Takus. 

Penunjukan Muara Takus sebagai pusat kerajaan Sriwijaya 

didasarkan: 

(1)atas berita I-ts' ing mengenai bayang-wayang diwelacakra yang 

tidak menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan 

delapan. Pada tengah hari, orang yang berdiri di matahari tidak 

berbayang-bayang sama sekali. Muara Takus terletak pada garis 

ekuator 0. 20' N. Jadi, cocok dengan berita I-ts'ing. 

(2)atas berita ahli peta Tionghoa Chia Tan, yang menyatakan bahwa 

di sebelah utara Ch-Cih (Selat Malaka) terletak kerajaan Lo-yueh, 

dan di sebelah selatan terletak kerajaan Shih-li-fo-shih. Berita itu 

pun cocok dengan penempatan pusat kerajaan di Muara Takus. 

10 Sriwijaya 

(3)atas beritaArab yang berasal dari Ibn Said clan Abdul Fida, bahwa 

ibu kota Sribusa terletak di muara sungai. Menurut Moens, muara 

sungai itu muara sungai Kampar. 1.200 tahun yang lalu muara 

sungai itu lebih jauh ke barat daripada sekarang. Muara Kampar 

sebagai pelabuhan hingga sekarang masih ramai hubungannya 

dengan Singapura. Kemunduran pelabuhan Muara Kampar 

disebabkan timbulnya pelabuhan teluk Bayur di pantai barat. 

Moens menguraikan adanya nama raja Bicau yang dianggapnya 

sebagai ubahan dari nama raja (Sri)wijaya clan dongeng tentang 

adanya datu Sriwijaya yang menetap di Kotabaru. berdasar  itu 

semua, ia mengambil kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya 

terletak di Muara Takus. Peninggalan-peninggalan pusat kerajaan itu 

masih tampak di Muara Takus, dekat tempuran Kampar Kanan 

dengan Batang Mahat di Sumatra Tengah. 

Beberapa tahun sebelumnya, teori Coed~s ini telah diragukan, 

di antaranya oleh Prof. R.C. Majumdar. Ia mengutarakan bahwa 

kerajaan Sriwijaya di Sumatra sampai abad ke-8 memperluas keku­ 

asaannya sampai di Ligor. Tetapi kemudian kerajaan itu dihancurkan 

oleh kerajaan Jawaka, yang disebut San-fo-ts'i dalam berita Tionghoa 

pada masa pemerintahan dinasti Sung. Pusat kerajaan San-fo-ts'i ialah 

Ligor. Kerajaan itu dikuasai oleh rajakula Sailendra dari India. 

Pendapat Majumdar ini dibantah oleh Prof. K.A. Nilakanta 

Sastri dalam T.B.G. 75, tahun 1935. Kemudian, Dr. H.G. Quaritch 

Wales menerbitkan karangannya dalam majalah Indian Art and Let­ 

ters vol. IX no. 1. Ia pun pada dasarnya meragukan lokalisasi pusat 

kerajaan Sriwijaya di Palembang seperti yang dikemukakan oleh 

Coed~s. Dr. Quaritch Wales melokalisasikan pusat kerajaan itu di 

Ch' aiya. Pertimbangan yang dikemukakannya untuk memperkuat 

pendapat itu: 

1). Penemuan-penemuan purbakala di daerah Cha'iya yang terbukti 

lebih banyak daripada di wilayah Palembang, 

 11 

2). Kemiripan bunyi antara Sriwijaya dan Sivic'ai sebagai nama bukit 

di sebelah selatan kota Ch' aiya. Mengenai kemiripan bunyi itu, 

ia menulis: "A difference in the native pronunciation of the word 

Srivijava in the region from its pronunciation in Sumatra might well 

account for the Chinese form San-fo-ts'i being applied to the empire 

from the 10th century onwards, while in the 7th and 8th centuries the 

Sumatra State of Srivijaya had been referred to by the Chinese as Po­ 

che - Che-li-fo-che." 

Usul lokalisasi dari Dr. Quaritch Wales mendapat jawaban 

Coed~s dalam jurnal M.B.R.A.S. Vol. XIV part III. Pada dasarnya, 

Coed~s menolak pendapat Wales. Untuk membantah lokalisasi San­ 

fo-ts'i di Ch' aiya, Coed~s mengutip berita Tionghoa dari zaman Sung 

yang dengan jelas menguraikan bahwa San-fo-ts'i terletak di 

Palembang. Chao Ju Kua mengatakan bahwa negara San-fo-ts' i terletak 

di tepi laut besar clan menguasai lalu-lintas pelayaran dari barang ke 

Tiongkok clan kebalikannya. Mengenai penemuan-penemuan barang 

purbakala, ia mengemukakan piagam Kedukan Bukit, piagam Talang 

Tuwo, Karang Brahi, clan Kota Kapur. Isi kedua piagam yang terakhir 

ini memberikan kesan bahwa Sriwijaya itu menguasai wilayah tempat 

piagam persumpahan itu ditemukan. Lagi pula, piagam Ligor di Vat 

Serna Muong dari tahun 775 jelas menyebut nama Sriwijaya. Nama 

M~rawijayottunggawarman, putra Cudamaniwarman, keturunan raja 

Sailendra, yang disebut pada piagam Leiden sebagai raja Kataha clan 

Sriwijaya, disebut dalam berita Tionghoa raja San-fo-ts'i. Jika Sriwijaya 

sama dengan San-fo-ts'i, maka Sriwijaya itu tidak mungkin dilokali­ 

sasikan di Ch' aiya. 

Pada tahun 1935 itu pula, Dr. Stutterheim dalam Verslag over 

de gevonden inscripties (Oudheidkundige Vondsten in Palembang door 

F.M. Schnitgen) melokalisasikan Sriwijaya di muara sungai Indragiri, 

tidak di muara sungai Musi di Palembang. Moens beranggapan bahwa 

nama Yava, Yavadvipa (Iabadiou), clan Ch'o-po mula-mula dipakai 

untuk menyebut Semenanjung Melayu. Nenek moyang rakai Sanjaya 

berpindah dari Kunjarakunjadesa di India Selatan ke Kedah. Pada 

tahun 724/8, Sanjaya terdesak oleh Sriwijaya; lari ke Jawa Tengah. 

19 Sriwijaya 

Di Pulau Jawa, Sanjaya mendirikan kerajaan ham. Pada tahun 732, 

mendirikan lingga di atas Gunung Wukir, yang piagamnya hingga 

sekarang terkenal dengan nama piagam Canggal. 

Pada piagam itu, terse hut akan adanya candi Siwa yang didirikan 

di tempat yang hernama Kunjarakunjadesa. Menumt Moens, nama 

Java (]avakya) pada piagam Canggal yaitu  nama pindahan dari 

Yavadwipa sehagai nama Semenanjung Melayu, negara nenek 

moyangnya. 

Orang boleh menerima atau menolak pandangannya. N amun, 

tidak dapat disangkal hahwa pandangannya yaitu  pandangan ham 

yang didasarkan atas berita-berita geografi dan piagam-piagam yang 

ditemukan hingga waktu itu. Prof. Nilakanta Sastri dalam hukunya, 

History of Griwijaya (1949), menolak pandangan itu dan lebih 

cenderung untuk mengikuti pendapat Coed~s. 

Dato' Sir Roland Braddell menerbitkan seri karangan dalam 

jurnal MB.R.A.S. sejak tahun 1935 di hawah judul An Introduction 

to the Study of Ancient Times in the Malay Peninsula and the Straits of 

Malacca. Karangannya termuat dalam volume XIII part 2, vol. XIV 

part 3, vol. XV part 4, vol. XVII part 5, vol. XIX, part l. Karangan 

Roland Braddell ini penting sekali untuk pengetahuan sejarah kuno 

Malaya dalam huhungannya dengan negara-negara tetangganya. 

Penyelidikan itu terutama mengenai Campa dan Kamhoja atau Funan, 

dihagi menjadi Pre-Funan dan Funan. Dalam karangannya yang 

termuat dalam vol. XIX part 1, Roland Braddel menguraikan betapa 

pentingnya penyelidikan Funan dalam huhungannya dengan 

persoalan negara Sriwijaya dan asal usul rajakula Sailendra. Katanya: 

" The whole question of the last days of Funan and its passing into the 

beginning of the Cambodian Empire is worthy of close argument and a 

matter of importance as we shall see when we come to discuss Srivijaya 

and the origin of the Sailendras." 

Karangan-karangannya yang langsung herhuhungan dengan 

sejarah Sriwijaya mulai dengan terhitannya tahun 1941 tersebut di 

atas pada hlm. 28; dilanjutkan sesudah perang mulai tahun 1947 

 13 

sampai 1951, ditutup dengan pembahasan tentang Che-li-fo-che, Mo­ 

lo-yu, and Holing. Ia memusatkan perhatiannya kepada lokalisasi 

nama-nama tempat yang disebut oleh berita-berita Tionghoa dan 

Arab, yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Sriwijaya. 

Lokalisasi itu terutama didasarkan atas pandangan geografi, yang 

diambilnya dari sumber-sumber berita Tionghoa dan Arab; tidak 

semata-mata didasarkan atas kemiripan bunyi seperti yang banyak 

dilakukan oleh para sarjana sejarah hingga sekarang. Ini yaitu  

revolusi berpikir dalam lapangan penyelidikan sejarah, yang 

dipelopori oleh Moens. Ia mengaku jasa-jasa Moens dan menyetujui 

pandangannya. Katanya: "We agree with Mr. Moens that it is wrong to 

disregard in favour of phonetic reasoning the evidence wich are given. We 

agree with him that having ascertained the evidence we must accept it an 

reason from it. Indeed, we would insist most urgently that unless the an­ 

cient geography of Malaysia is determined by a scientific application of 

the fundamental rules of reasoning it will get nowhere." 

Lokalisasi yang berdasar  pandangan geografi ini dengan 

sendirinya menghendaki penelitian segala bahan sejarah yang banyak 

sekali jumlahnya. Justru sebab  itu pandangan itu berharga sekali. 

Karangan-karangan Roland Braddell dalam lapangan ini terbit 

di bawah judul Notes on Ancient Times in Malaya. Dalam vol. XIX 

part 1, ia menyelidiki Yavadvipa, labadiou, Tou-po, Tchou-po, Ye-po­ 

ti. Ia sampai kepada kesimpulan bahwa tempat yang disebut dengan 

pelbagai nama itu ialah pantai barat Kalimantan, yakni Sabah. Nama 

Sabah sekarang hanya dipakai untuk menyebut bagian utara 

Kalimantan. 

Karangannya yang termuat dalam vol XX part 1 menguraikan 

prasejarah zaman kebudayaan batu besar (megalith), batu baru 

(neolith), dan zaman kebudayaan perunggu. Part 2 menguraikan 

zaman besi yang disebutnya The Ancient Beadtrade, kemudian disusul 

dengan Ancient History of South Arabia. Vol. XXII part 1 

membicarakan Tako/a and Kataha dan llangasoka and Kadaram. Vol. 

XXII part 4 tentang P'o-li di bawah judul A Note on Sambas and 

14 Sriwijaya 

Borneo. P'o-li ditempatkan di pantai barat Kalimantan. Identifikasi 

Po-lo dengan Borneo masih memerlukan penyelidikan yang lebih 

mendalam. Vol. XXIII part I tentang Langkasuka and Kedah. Nama 

Langkasuka dalam berita-berita Tionghoa berbunyi: Lang-ya-hsiu 

(Liang Shu: Chiu Tang Shu), Leng-chiau-shu (Hsii Kao Seng 

Chuan), Lang-ya-shu (Sui Shu), Lang-chia-shu (I-ts'ing), Kia-mo­ 

lang-chia (Hstan Chuang), Ling-ya-ssi-kia (Chu Fan Chi), Lang­ 

shi-chia (Wupei-shih). Lokalisasinya di pantai timur Malaya. 

Pusatnya di Patani. Kedah disebut Chieh-ch'a (I-ts'ing), Kia-tcha 

(Ma-tuan-lin), Ko-lo (Chia-Tan), Ki-t'o (Chu Fan Chi), Chi-ta (Wu­ 

pei-shih). 

Ho-lo-tan dilokalisasikan di Patani. Vol. XXIII part 3 

menguraikan Tan-ma-ling and Fo-lo-an. Tan-ma-ling disamakan 

dengan Tambralingga (piagam Candrabhanu), Madalinggam (piagam 

Tanyore), Damalinggam (piagam Tamil), Tan-mei-lieou atau Tan­ 

mi-liu atau Tan-mei-liu (Sung-shih), Tan-ma-ling (Chu Fan Chi). 

Lokalisasi Tembeling di pantai timur Malaya di daerah sungai 

Kuantan. Fo-lo-an terletak di muara sungai Dungun. Pong-fong. 

Tong-ya-nong, dan Ki-Ian-tan tidak banyak menimbulkan kesulitan, 

sebab  nama-nama itu masih digunakan hingga sekarang, yakni 

Pahang, Trengganu, dan Kelantan. Tempat-tempat itu berturut-turut 

terletak di muara sungai Pahang, sungai Trengganu, dan sungai 

Kelantan. Vol. XXIV part I membicarakan Che-li-fo-che, Mo-lo-yu 

dan Ho-ling. Lokalisasi Che-li-fo-che di Palembang, Mo-lo-yu di 

Jambi, dan Ho-ling di pantai barat Kalimantan. 

Meskipun lokalisasi tempat-tempat tidak merupakan pokok 

persoalan peristiwa sejarah, namun lokalisasi itu memberikan 

gambaran tentang wilayah negara yang bersangkutan. Justru sebab  

nama-nama tempat itu kebanyakan terdapat dalam sumber sejarah 

asing, maka ucapan nama-nama itu berbeda dengan nama aslinya. 

Sering kali tempat-tempat itu sudah berubah namanya. Nama yang 

tidak dihubungkan dengan tempat tidak memberikan gambaran yang 

jelas. Apalagi jika lokalisasinya salah, hal itu akan mengakibatkan 

penafsiran yang keliru. Justru sebab  sejarah kuno tentang Sriwijaya 

 15 

sebagian besar disusun berdasar  berita-berita asing, yang terutama 

hanya merupakan catatan pengiriman utusan clan penyebutan nama­ 

nama, maka lokalisasi nama-nama tempat itu perlu sekali. 

Tulisan Moens clan Roland Braddell ini betul-betul penelitian 

kembali sejarah Sriwijaya dari sudut geografi. Lain dari itu, tulisan 

itu banyak diketahui sebelumnya. Oleh sebab  itu, tulisan Moens 

clan Braddell tersebut di atas penting bagi pengetahuan sejarah kuno 

Malaya. 

Hampir bersamaan waktu dengan karangan Moens di atas, telah 

terbit pula dua jilid buku Suvarnadvipa karangan Prof. R.C. 

Majumdar pada tahun 1937 dan 1938. Prof. George Coed~s me­ 

nerbitkan Histoire ancienne des Etats Hindoui s~s dExtreme Orient pada 

tahun 1944. Terbitan itu diperbaharui pada tahun 1948 di bawah 

judul Les Etats Hindouis~ s d'Indo Chine et d'Indon~ sie. 

Prof. K.A. Nilakanta Sastri membukukan kuliahnya, History of 

Grivijaya, yang dilengkapi dengan piagam-piagam yang mempunyai 

hubungan dengan sejarah Sriwijaya, dari piagam Kedukan Bukit 

sampai piagam Candrabhanu pada tahun 1949. Mungkin, piagam­ 

piagam itu disertai terjemahannya dalam bahasa lnggris yang disalin 

dari pelbagai terbitan, sehingga orang yang tidak mengenal bahasa 

piagam-piagam yang bersangkutan dapat sekadar mengikuti 

pembicaraannya. Sebagian dari piagam-piagam itu kami lampirkan 

pula pada terbitan ini, terutama yang tertulis dalam bahasa Tamil, 

Khmer, clan Sanskerta. 

Meskipun terbitan-terbitan itu penting sekali artinya, namun 

tidak ada yang dapat memecahkan persoalan pokok sejarah Sriwijaya 

yang banyak diperdebatkan sebelum pecah Perang Dunia II secara 

memuaskan. Persoalan yang dimaksud ialah persoalan piagam 

Kedukan Bukit, hubungan antara piagam Ligor A clan piagam Ligor 

B, clan hubungan antara rajakula Sailendra dan raja-raja Sriwijaya. 

Mengenai persoalan siddhiy~tra yang masih dipegang teguh oleh 

Prof. Coed~s dalam terbitannya, Les inscriptions Malaises de (rivijayad. 

16 Sriwijaya 

Prof. Nilakanta Sastri sudah mulai meragukan pendapat Coed~s dan 

lebih cenderung untuk mengikuti pendapat Prof. Krom. Bagaimana­ 

pun, yang terbaca ialah jayasiddhay~tra, bukan siddhiy~tra; dan ini 

yaitu  kemenangan terhadap kerajaan Melayu. N amun, ia tidak dapat 

keluar dari persoalan Minanga Tamwa, dan tidak dapat menjelaskan 

dari mana diambilnya kata Malayu yang didasarkan atas bacaan Krom 

yang terang salah. Hubungan antara rajakula Sailendra dan raja-raja 

Sriwijaya masih tetap merupakan persoalan, meskipun berulang kali 

disebutnya nama Balaputradewa pada piagam Nalanda. sebab , 

persoalan bagaimana Balaputra dapat menjadi raja di Sriwijaya tidak 

ada penjelasannya kecuali keterangan yang sudah usang, yakni akibat 

keturunan raja Dharmasetu yang dianggap raja Sriwijaya oleh para 

sarjana sejarah. Apalagi mengenai hubungan antara piagam Ligor A 

dan piagam Ligor B. 

** 

Pada tahun 1947, Dr. F.H.N. van Naerssen menerbitkan sebuah 

karangan dalam India Antiqua berjudul "The Cailendra Interreg­ 

num''. Ringkasan pandangannya demikian. Piagam Kalasan memuat 

dua wangsa, yakni: 1). wangsa Sailendra, 2). wangsa Sanjaya. Dalam 

wangsa Sanjaya termasuk maharaja dyah Pancapana Pangkaran. Ma­ 

haraj a Panangkaran ada di bawah kekuasaan wangsa Sailendra. Dalam 

wangsa Sailendra termasuk Rajasinga dan para guru Sailendra. 

Pandangan van Naerssen ini kemudian menjadi pola pembahasan 

piagam Ligor B oleh Coed~s. Pada piagam Ligor B, Coed~s juga 

melihat dua raj a, yakni raj a Wisnu dan seorang raj a lagi yang bergelar 

maharaja. Menurut anggapannya, raja yang terakhir ini raj a Sailendra 

yang pertama. Rakai Panangkaran dianggap sebagai raja setempat 

yang hanya menerima perintah dari raja Sailendra. Demikianlah, 

pandangan kedua sarjana itu boleh dikatakan sejajar, meskipun piagam 

yang dibahasnya berbeda-beda. 

Sebelum kita membicarakan anggapan van Naerssen, kita teliti 

dahulu piagam Kalasan yang dibahas. Yang dibahas di sini hanya 

pokok-pokoknya saja. Isinya seperti berikut: 

 17 

Pada' 2-3: para guru raja Sailendra mohon kepada ma­ 

haraja dyah Pancapana Panangkaran agar beliau membangun 

candi Tara. Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah 

area Dewi Tara, candinya dan beberapa rumah untuk para 

pendeta yang fasih akan pengetahuan Mahayana Winaya. 

Pada 4-6: para pangkur, tawan, dan tirip menerima 

perintah untuk membuat candi Tara dan perumahan para 

pendeta. Candi Tara didirikan di daerah makmur sang raja 

yang menjadi hiasan rajakula Sailendra untuk kepentingan para 

guru raja Sailendra. Pada tahun Saka 700, maharaja Panangk­ 

aran selesai membangun candi Tara, tempat para guru me­ 

lakukan persembahan. 

Pada 7-10: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur, 

tawan, dan tirip, adyaksa desa, dan para pembesar menjadi 

saksi. Tanah yang dihadiahkan oleh sang raja hams dijaga baik­ 

baik oleh para raja keturunan wangsa Sailendra, oleh para 

pangkur, para tawan, para tirip, dan para pembesar yang bijak 

turun-temurun. Selanjutnya, sang raja berulang kali minta 

kepada semua raj a yang akan memerintah kemudian agar candi 

itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagiaan semua orang. 

Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu diharapkan 

semoga semua orang memperoleh pengetahuan tentang 

kelahiran, memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran 

Jina. Yang mulia kariyana (rakyan) Panangkaran mengulangi 

lagi permintaan beliau kepada semua raja yang akan menyusul 

untuk membina wihara itu dalam keadaan yang sempurna­ 

sempurnanya. 

Demikian itulah terjemahan piagam Kalasan menurut paham 

saya. Kata cailendraraja yang kedapatan dua kali pada piagam tersebut 

1 Catatan editor: Pada, menurut Kamus Besar Bahasa negara kita , yaitu  satuan pola 

tekanan dalam mengukur struktur persajakan. Penggunaan kata pada di sini mengacu 

pada pengertian tersebut. 

18 Sriwijaya 

terang sama dengan maharaja Panangkaran, dan Gailendrar~jaguru 

yaitu  para guru maharaja Panangkaran. Mereka minta kepada sang 

prabu agar beliau mendirikan candi Tara untuk keperluan mereka, 

sebab  mereka pemeluk agama Budha. Permintaan yang demikian 

termakan akal. Apalagi, jika kita mengingat bahwa sebelum rakai 

Panangkaran memegang kekuasaan, yang berkuasa di J awa tengah 

ialah rakai Sanjaya. 

Rakai Sanjaya memeluk agama Siwa. Beliau mendirikan lingga 

di atas gunung Wukir pada tahun 732. Jika kita memerhatikan 

piagam yang terdapat di Gata dekat Prambanan dan Taji Gunung 

dekat Prambanan juga, kedua piagam itu menggunakan perhitungan 

tahun Sanjaya (Sanjayawarsa); masing-masing bertarikh tahun 693 

dan 694 Saka, atau tahun Masehi 771 dan 772 (Oud Javaanse 

Oorkonde XXXV dan XXXVI). Pada piagam Gata, kedapatan nama 

maharaja Daksottamab~hubajra. sebab  kedua piagam tersebut 

menggunakan safijayawarsa, boleh dipastikan bahwa piagam tersebut 

dikeluarkan oleh keturunan raja Sanjaya. Demikianlah, keturunan 

raja Sanjaya memerintah sampai tahun Masehi 772. 

Pembangunan candi Kalasan selesai pada tahun 778. Pemba­ 

ngunan itu makan waktu beberapa tahun, dan dilakukan atas 

perintah raja Panangkaran, keturunan Sailendra dan beragama Budha. 

Dari perbandingan piagam-piagam tersebut dapat disimpulkan 

bahwa Daksottamab~hubajra, keturunan raja Sanjaya, ditundukkan 

oleh Dyah Pancapana Panangkaran, keturunan raja Sailendra, antara 

tahun Masehi 772 dan 778. Pada waktu itu, Sanjayawangsa diganti 

oleh agama Budha Mahayana yang dianut oleh Sailendrawangsa. 

Jelaslah sekarang bahwa Dyah Pancapana Panangkaran bukan 

keturunan Sanjaya. Beliau yaitu  raj a Sailendra yang pertama di J awa 

Tengah yang menggantikan Sanjayawangsa. Andaikata beliau 

keturunan raja Sanjaya, pasti beliau akan juga menggunakan per­ 

hitungan tahun Sanjaya seperti nyata pada piagam O.J 0. XXXV 

dan XXXVI tersebut di atas. 

 19 

Dengan bukti di atas, teori van N aersen yang memasukkan 

maharaja Panangkaran dalam Sanjayawangsa tidak dapat diper­ 

tahankan. Kerajaan Siwa yang dikendalikan oleh raja Sanna, kemudian 

dilanjutkan oleh raja Sanjaya, berakhir pada tahun-tahun antara 772 

dan 778 dengan timbulnya kerajaan Budha yang dikendalikan oleh 

wangsa Sailendra maharaja Pancapana Panangkaran. Kerajaan Siwa 

itu akan timbul kembali dan dilanjutkan pada masa pemerintahan 

maharaja Pikatan alias Jatiningrat. Tidaklah aneh bila pembangunan 

candi Tara dimaksud pula sebagai lambang kemenangan wangsa 

Sailendra terhadap wangsa Sanjaya. 

Pendapat van Naersen yang mengemukakan adanya dua wangsa 

pada piagam Kalasan dan memasukkan rakai Panangkaran dalam 

wangsa Sanjaya disambut baik oleh Prof. Vogel sebagai pembuka 

pintu ke arah penyelesaian persoalan Sriwijaya-Sailendra. Pendapat 

itu kiranya timbul akibat salah tafsir mengenai isi piagam Kalasan. 

Piagam Canggal Sanjaya menyebut nama tempat Kunjarakunja. 

Penyebutan itu menunjukkan adanya hubungan antara wangsa 

Sanjaya dan India Selatan dalam soal agama, atau mungkin sekali 

juga dalam asal usul nenek moyangnya. Pada masa pemerintahan 

rajakula Sailendra, termasuk rakai Panangkaran yang menyebut 

dirinya hiasan rajakula Sailendra, hubungan agama itu tidak dengan 

India Selatan tetapi dengan Benggala. 

Pada piagam Kelurak dari tahun 782, terbukti bahwa upacara 

pembukaann area Manjusri dipimpin oleh Sailendrarajagur Kuma­ 

ragosha dari Gaudadwipa. Hubungan agama di Jawa dan Sumatra 

pada masa pemerintahan rajakula Sailendra terutama dengan Beng­ 

gala sebagai pusat agama Budha Mahayana. Kumaragosha yaitu  

seorang pendeta Budha dari Benggala. Raja Dewapala yang 

mengeluarkan piagam Nalanda atas permintaan Balaputradewa dari 

Sriwijaya juga raja Benggala, yang pusat kerajaannya terletak di Pata­ 

liputra. Beliau memerintah antara tahun 794 dan 839. Pada per­ 

kembangan kerajaan Sailendra, tingkat mula hubungan agama di­ 

lakukan oleh rakai Panangkaran dengan raja Dharmapala yang 

memerintah antara tahun 758 dan 794. 

90 Sriwijaya 

Kumaragosha hid up pada masa pemerintahan raj a D harmapala 

ini. N ama Sri Dharmasetu yang tercatat pada piagam Kelurak kiranya 

sama dengan Sri Dharmasetu, yang menjadi nenek Balaputra pada 

piagam Nalanda. Telah terbukti pula bahwa Balaputradewa semasa 

kecil hidup di Jawa Tengah. Dharmasetu harus juga berasal dari Jawa 

Tengah pada akhir abad ke-8 dan mempunyai sekadar hubungan 

dengan raja Sailendra, yang menyebut dirinya Dharanindra. 

Pada tahun 1950, Prof. Coed~s menerbitkan karangannya, Le 

Gailendra 'tueur des h~ros ennemis'', yakni Sailendra pembunuh 

pahlawan-pahlawan lawannya. Karangan itu termuat dalam Bingki san 

Budi, kumpulan karangan-karangan para sarjana bekas murid dan 

kawan untuk menghormati Prof. van Ronkel yang mencapai usia 80 

tahun. 

Karangan Coed~s tersebut yaitu  usaha baru untuk memecahkan 

persoalan hubungan piagam Ligor Adan B, terdorong oleh karangan 

Bosch dari tahun 1941, dalam T.B. G. deel LXXXI hlm. 26 dst. 

Dalam karangan itu, Dr. F.D.K. Bosch menyamakan Samaratungga 

pada piagam Karang Tengah dengan rakai Panunggalan pada piagam 

Kedu, dan kemudian dengan Samaragrawira pada piagam Nalanda, 

yakni ayah Balaputra. Penyamaan itu masih lebih lanjut lagi. Ia 

menyamakannya dengan Wisnu pada piagam Ligor B. 

Teori Bosch ini terang tidak dapat dipertahankan lagi setelah 

terbitnya karangan De Casparis tentang piagam Balaputra-Jati­ 

ningrat, A Metrical Old Javanese Inscription Dated 856 A.D. Namun, 

penyamaan Samaratungga dan Samaragrawira ini hingga sekarang 

masih tetap dipertahankan. Sudah barang tentu, kedua itu mirip 

sekali, sebab  kedua-duanya mulai dengan Samara. Yang berbeda 

hanya akhirannya. Boleh dipastikan bahwa Balaputradewa mengenal 

nama Samaratungga pada piagam Karang Tengah dan Smaragrawira 

sebagai nama ayah beliau, sebab  Balaputra baru pada pertengahan 

abad ke-9 meninggalkan Jawa Tengah. 

Andaikata Samaratungga itu memang benar sama dengan Sama­ 

ragrawira, timbul pertanyaan: Mengapa piagam N alanda Balaputra 

 91 

tidak menyebut Samaratungga saja? sebab  kedua nama itu berbeda, 

kiranya memang nama dua orang yang berlain-lainan pula. Sama­ 

ragrawira yaitu  nama rakai Warak; Samaratungga yaitu  nama rakai 

Garung. Dengan kata lain, Samaratungga yaitu  putra Samaragrawira 

dan kakak Balaputra. Samaratungga yaitu  putra sulung yang mem­ 

punyai hak mewaris takhta kerajaan. Balaputra yaitu  putra bungsu 

sebab  namanya memang berarti demikian. (vala: ekor; putera: anak) 

Samaratungga terbukti tidak mempunyai putra laki-laki. Beliau 

hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawardani, permaisuri 

rakai Pikatan. Balaputra, sebagai putra laki-laki Samaragrawira, 

mengira berhak pula menggantikan Samaratungga yang tidak 

berputra laki-laki. Timbullah sebab nya sengketa antara Balaputra 

dan Jatiningrat yang membela hak permaisurinya. Hal ini lebih 

termakan akal daripada anggapan bahwa Balaputra yaitu  adik 

Pramodawardani. 

berdasar  anggapan yang terakhir ini, Balaputra mempunyai 

hak lebih besar atas takhta kerajaan daripada Pramodawardani. Per­ 

nyataan Balaputra, seperti yang tertera pada piagam Nalanda, me­ 

rupakan pernyataan persahabatan dengan raja Dewapaladewa untuk 

sekadar minta bantuan dalam merebut kembali hak menjadi raja di 

Mataram. Tafsiran yang demikian dapat dipahami sepenuhnya. 

Sengketa antara Balaputra dan J atiningrat kiranya terutama mengenai 

perebutan kekuasaan antara Balaputra dan Pramodawardhani, sepe­ 

ninggal rakai Garung alias Samaratungga. Dalam hal ini, J atiningrat 

sesungguhnya sebagai menantu ada di luar sengketa, namun sebab  

membela kepentingan istri, turut terlibat. Tentang hal ini akan kita 

bahas lebih lanjut dalam bab "Piagam Nalanda. 

Dalam usaha menyamakan Samaratungga dengan Samarag­ 

rawira, dengan sendirinya tidak dilupakan penyamaan epipeton yang 

terdapat pada piagam Keluran vairivarav~ravimardana dan yang 

terdapat pada piagam N alanda v~ravairimanthana. 

Prof. Coed~s tidak lupa menyebut karangan F.H.N. van Naersen 

dalam India Antiqua yang telah disinggung di atas. Juga, Coed~s 

99 Sriwijaya 

melihat adanya dua raja pada piagam Ligor B seperti van Naerssen 

melihatnya pada piagam Kalasan. Coed~s sekali lagi meneliti piagam 

Ligor B. Pembetulan vapusmn dan dvitiyas oleh Coed~s telah 

dilakukan lebih dahulu oleh Glihabra dan Nilakanta Sastri; 

prabha(va) diganti dengan prabhu sesuai dengan pendapat Paul Mus. 

Yang penting dalam penelitian kembali ini ialah perbedaan 

tafsiran Coed~s dengan sarjana-sarjana lainnya. Coed~s berpendapat 

bahwa pada piagam Ligor B, tersebut dua nama raja. Yang pertama 

ialah raja Wisnu, yang disamakannya dengan Wisnuwarman pada 

cincin Perak. Yang kedua ialah raja yang mempunyai epiteton sarvvad­ 

rimadavi(ma)thana, yakni pembunuh musuh perwira. Aksara tha 

terdapat antara vi dan nar;. Tambahan ma disebabkan sebab  untuk 

keperluan metrik yang kurang satu suku pendek. Paralelisme penye­ 

butan dua raja itu, menurut Coed~s, ditunjukkan dengan pemakaian 

kata ganti penunjuk 2 x, yakni yosau dan asau yah, dan lebih-lebih 

oleh perlawanan ekas dan dvitiyas. Terjemahan Coed~s itu lalu kita 

bandingkan dengan terjemahan Chhabra. 

Coed~s: Ce premier, roi des rois, qui par son ~clat personnel est 

comparable au soleil dissipant la nuit constitu~ par la troupe de tousses 

ennemis, qui ressemble par sa beaut~ charmante a la lune d'automne 

sans tache, qui a l'aspect de Kama incarn~, a pour nom Visnu; - et ce 

second qui par son ~nergie personnelle d~truit sans exception tous 

ses arrogants ennemis, en consequence de la mention de son origine, 

le (ailendravam~a, a pour nom (ri Mahar~ja. 

Chhabra: He, who is the supreme king of kings, who through his 

energy alone comparable to the sun for dispelling the darkness in the 

shape of the hosts of all his foes, who in charming beauty is the very, 

spotless autumnal moon, and is like Cupid in person, who is called 

Visnu who entirely (annihilates) the pride of all his opponents, and 

who with regard to his prowess is without a second, that self-name is 

known by the appellation of (ailendravam~aprabhu and bears the 

title of (ri Mahar~ja. 

Terhadap paralelisme penyebutan dua raja yang dikemukakan 

oleh G. Coed~s, saya menaruh keberatan gramatikal seperti nyata 

dalam pembahasan di belakang. Dengan sendirinya lalu timbul 

 93 

perbedaan tafsiran. Coed~s mempertentangkan kata ekas dan dvitiyas. 

Menurut anggapan saya, hal itu tidak mungkin dipertentangkan, 

sebab  yang tertera di situ yaitu  ekas, bukan prathama. Mengenai 

pemakaian kata penunjuk (ganti diri) yo'asau dan asau yah dalam 

bahasa Sanskerta yaitu  soal biasa; tidak mengandung pretensi untuk 

menyatakan perbedaan apa-apa. 

Coed~s sampai kepada kesimpulan, bahwa raja Wisnu yang 

dikatakan raja yang pertama pada piagam Ligor B sama dengan raja 

yang menyebut dirinya (rivijayendarja, Crivijayesvarabhupati, dan 

(rivijayanr~pati pada piagam Ligor A. Jadi, beliau memerintah pada 

tahun 775. Raja yang kedua yang bergelar Sri Maharaja yaitu  putra 

raja Wisnu. Setelah kawin dengan putri dari Funan, dari keluarga 

Somawangsa, [ia] menjadi raja Sailendra yang pertama dan 

menurunkan raja-raja Sailendra di Mataram. Tetapi Coed~s sendiri 

mengakui bahwa anggapan itu tidak berdiri di atas bukti-bukti yang 

kuat. Katanya: 

J'ai formul~ plus haut, avec les plus expresses r~serves, une 

hypoth~se sur l'origine de ce (ailendra, le premier que nous fasse 

cona~tre l'epigraphie. Sil venait ~ ~tre prouv~ qu'il etait fils du roi 

Visnu, et que ce dernier est identique au roi de <,;rivijaya de la fase A 

de la st~le de Ligor (deux hypotheses aux quelles manque pour le 

moment une base solide), ii faudrait admettre, soit que ce (ailendra 

r~gnait aussi ~ Sumatra, ce qui n'accorde pas avec le temoignage de 

la chartre de Nalanda, soit que le tr~ne de (rivijaya appartenait ~ son 

p~re Visnu encore vivant, ou un fr~re. Ce ne serait que son petit fils 

Balaputra qui aurait definitivement assis a Sumatra la puissance des 

(ailendra. 

Coed~s beranggapan bahwa raja Sailendra yang pertama itu sama 

dengan Dharanindra pada piagam Kelurak, memerintah Jawa Tengah 

dan menyuruh raja setempat Pancapana Panangkaran membangun 

kembali candi Kelurak. Panangkaran pada piagam Kalasan diang­ 

gapnya sebagai pengganti rakai Sanjaya. 

Kesimpulan selanjutnya tidak cocok, baik dengan teori Krom 

tentang "pemerintahan Sriwijaya terselundup dalam sejarah Jawa'' 

94 Sriwijaya 

maupun dengan teori Stutterheim ten tang "pemerintahan Jawa dalam 

sejarah Sumatra. Yang ada ialah masa pemerintahan rajakula Sailen­ 

dra keturunan raja Semenanjung dan putri Funan pada penghabisan 

abad ke-8 dan permulaan abad ke-9. 

Coed~s menganggap maharaja Panangkaran sebagai pengganti 

raja Sanjaya, dan sebagai raj a setempat yang menerima perintah dari 

Dharanindra, yakni raja Sailendra yang pertama di negara kita . Yang 

terang ialah bahwa maharaja Panangkaran, menurut piagam Kalasan, 

telah memegang pemerintahan pada tahun 778 dan bergelar maha­ 

raja, menjadi hiasan rajakula Sailendra. lnilah pernyataan tentang 

adanya raja Sailendra yang pertama kali dan yang terang mempunyai 

tarikh tahun. Jika Wisnu, menurut Coed~s, yaitu  ayah raja Sailendra 

yang pertama dan sama dengan (rivijayanr~pati pada piagam Ligor 

A, maka piagam Ligor B harus dikeluarkan sesudah tahun 775. 

Bolehlah diduga bahwa pada tahun 775, seperti telah saya kemukakan 

di atas, maharaja Panangkaran telah memegang kekuasaan di Jawa 

Tengah. Penobatannya menjadi raja berlangsung lebih dahulu 

daripada peresmian pembangunan candi Kalasan pada tahun 778. 

Demikianlah anggapan Coedes terbentur kepada kronologi. 

Teori Coed~s itu pada pokoknya diterima baik oleh Prof. Dr. 

F.D.K. Bosch dalam terbitannya, (rivijaya, de (ailendra en de 

Sanjayawam~a, termuat dalam B.KI. 108 tahun 1952. Ini berarti 

bahwa Bosch telah melepaskan anggapannya pada tahun 1941. Jika 

pandangan Coed~s itu diteliti benar-benar, ternyata bahwa pan­ 

dangannya sangat goyah, terbentur pada pelbagai kesulitan. Namun, 

harus diakui bahwa usahanya sangat berharga untuk perkembangan 

pengetahuan sejarah Sriwijaya. 

Pada tahun 1952 itu juga, terbit karangan Prof. Dr. Poerba­ 

tjaraka, Riwayat negara kita , jilid I. Yang kedua tidak pernah menyusul. 

Pro£ Poerbatjaraka dalam bukunya tersebut banyak membicarakan 

piagam-piagam Sriwijaya. Pendapatnya yang baru ialah: 1. Lokalisasi 

K~njara-kuiijade~a pada piagam Canggal, yang disamakannya dengan 

desa Sleman di daerah Yogyakarta; 2. Lokalisasi Mo-ho-sin pada I­ 

ts'ing, yang ditempatkannya di Jawa Barat. 

 95 

Lokalisasi Mo-ho-sin oleh Prof. Poerbatjaraka semata-mata di­ 

dasarkan atas kesamaan bunyi dengan nama-nama yang serupa yang 

terdapat pada piagam-piagam tanpa memperhitungkan faktor geografi 

pelayaran pendeta 1-ts'ing. Pendeta I-ts'ing tidak pernah belajar sam­ 

pai pulau Jawa. Uraiannya mengenai Sriwjaya lebih lanjut termuat 

dalam Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I pada tahun 

1958. 

Piagam Sriwijaya dibagi menjadi dua, yakni piagam dengan 

sebutan punta (yakni dapunta hyang) dan sebutan maharaja. Yang 

penting dalam rangkaian ini ialah golongan piagam yang terakhir. 

Katanya: 

Batu tulis yang belum memuat sebutan maharaja itu dari zaman 

sebelum Sriwijaya menyerang pulau Jawa. Kemudian, tanah Jawa 

diserang dan dapat dikalahkan; kerajaan diserahkan kepada Sriwijaya. 

Sanjaya lari ke daerah pegunungan. Di situ Sanjaya menyiapkan diri 

untuk membalas. Sanjaya berhasil mengalahkan Sriwijaya di bawah 

anak Melayu tulen. Setelah seorang keturunan Sanjaya dinobatkan di 

Sriwijaya, batu tulis Sriwijaya memuat sebutan maharaja dari keturunan 

Sailendra. 

Adapun maharaja keturunan Sailendra yang tersebut dalam 

prasasti Kalasan, menurut keyakinan saya, ialah rakai Panangkaran. 

Kalau dikatakan bahwa rakai Panangkaran itu cuma diperintah saja 

oleh raja yang tidak disebut namanya, hal itu tidak tepat ... 

Setelah Sriwijaya ada di bawah kekuasaan keluarga Sailendra, 

rajanya tinggal di tanah Jawa. Rakai Panangkaran disuruh pindah ke 

Sriwijaya. sebab  rakyatnya beragama Budha, [ia] diminta oleh 

ayahnya, raja Sanjaya, untuk memeluk agama Budha. Kemudian [ia] 

didesak oleh pendeta-pendeta dari Koja untuk menyerang tanah Jawa, 

di mana bertakhta seorang kaumnya sendiri. Peperangan ini tercantum 

dalam cerita Aji Saka. Seterusnya, rakai Panangkaran menjadi raja 

Sriwijaya, berkedudukan di Jawa, dan saudaranya melarikan diri ke 

Dinaya (Malang), yaitu raja Dewashimha. 

Uraian Prof. Poerbatjaraka di atas menarik perhatian, namun 

hubungan peristiwa belum ada pembuktiannya. Misalnya, adakah 

rakai Panangkaran itu memeluk agama Budha sebab  disuruh Sanjaya 

untuk memerintah Sriwijaya, sebab  rakyat Sriwijaya beragama 

96 Sriwijaya 

Budha? Adakah sudah pasti bahwa rakai Panangkaran itu menjadi 

raja Sriwijaya? Adakah hubungan antara ratu Sanjaya dan rakai 

Panangkaran betul sebagai ayah dan putra? Semuanya masih me­ 

rupakan tanda tanya, merupakan persoalan yang pemecahannya 

menghendaki bukti-bukti. 

Terbitan sesudah Perang Dunia II yang benar-benar sekadar 

memberikan pemecahan salah satu soal sejarah Sriwijaya ialah terbitan 

Dr. J. G. De Casparis Prasasti negara kita  I, II. Dalam hubungan ini, 

bagian yang terpenting ialah pasal XI tentang piagam Jatiningrat­ 

Balaputra yang terbit di bawah judul "A Metrical Old Javanese Inscrip­ 

tion Dated 856 A.D. Penyelidikannya tentang piagam Jatiningrat­ 

Balaputra ini penting sekali artinya untuk pemecahan soal hubungan 

antara rajakula Sailendra dan Sriwijaya pada pertengahan abad ke-9. 

Piagam terse but mempunyai tarikh tahun Saka wualung gunung sang 

wiku (tahun Saka 778) atau tahun Masehi 856, tertulis dalam bentuk 

kawya (kakawin) dalam bahasa J awa kuno. Hingga sekarang, kakawin 

tersebut yaitu  kakawin J awa kuno yang tertulis. Isinya seperti berikut: 

Pada 1--9: seorang raja bernama Jatiningrat memeluk agama 

Siwa, berbeda dengan sang permaisuri. Justru dalam bagian itu 

tersebut nama Balaputra dalam pada7. Balaputra menimbun ratusan 

batu untuk dijadikan benteng pertahanan dan tempat bersembunyi 

dalam peperangan dengan J atiningrat. Beliau mengambil nama 

Brahmana (yakni Jatiningrat) dan memberikan keraton di medang 

di daerah Mamrati. Sesudah itu beliau mengundurkan diri sebagai 

raja dan menyerahkan pemerintahan kepada Dyah Lokapala. 

Rakyatnya terbagi atas empat asrama, masing-masing dikepalai oleh 

seorang brahmana. 

Pada 10-13: sang raj a bersiap-siap untuk mengadakan upacara 

kematian. Rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil. Beliau merasa 

malu bahwa dusun Iwung pernah menjadi medan pertempuran. 

Setelah beliau beroleh kekuasaan dan kekayaan, lalu mendirikan candi 

makam. Beliau menghimpun pengetahuan dharma dan adharma. 

Tidak ada orang yang berani melawan. Sang raja mendirikan halu, 

 97 

yakni lingga. Semua orang turut menyumbang untuk pembangunan 

lingga yang sangat indah itu. 

Pada 14-17: tentang keadaan lingga yang didirikan. Di pintu 

ada area penjaga yang gagah berani untuk menjaga keamanan dan 

keselamatan bangunan. Di pintu masuk didirikan dua bangunan 

yang berbeda-beda bentuknya. Di dalam daerah lingga itu, ditanam 

pohon tanjung dan didirikan rumah-rumah kecil untuk para pertapa. 

Pokoknya, bangunan itu indah sekali. 

Pada 18-23: ruang bangunan yang terindah dipakai untuk yang 

diperdewa. Para pengunjung dan penyembah berderet-deret dengan 

hormat dan tenang. Semua orang diminta datang bersembah. Pada 

hari peresmiannya, rakyat datang menyaksikannya. 

Pada 24-29: peresmiannya dilakukan pada tahun Saka 778 hari 

11 dari bulan terang, Selasa Wage. Sesudahnya ban


Sriwijaya 2

 




gunan itu selesai 

seluruhnya, kali dipindahkan, tanahnya dijadikan wilayah candi. 

ltulah tanah merdeka Pameget Wantil. Berikut nama pejabat dan 

jabatannya. Tanah merdeka itu menjadi milik candi. Semua orang 

yang diberi tugas untuk menjaga dan melakukan persembahan 

diharap tekun lagi tabah, dan juga tidak akan mengalami lahir-mati 

yang tidak ada hentinya. 

Dengan terbitan itu persoalan asal usul Balaputra menjadi jelas. 

Balaputra terbukti berasal dari Jawa Tengah. Penyingkirannya ke 

Sriwijaya disebabkan sebab  kekalahan perng dengan J atiningrat pada 

pertengahan abad ke-9. N ama Balaputra mulai dikenal sejak tahun 

1924 berkat penerbitan piagam Nalanda oleh sarjana Hirananda Sastri 

di bawah judul "The Nalanda Copperplate of Dewapaladewa" dalam 

Epigraphia Indica 17, hlm. 310-327. 

F.D.K. Bosch, berdasar  terbitan itu, menulis karangannya, 

een Oorkonde van het Groote Klooster te Nalanda, dalam T. B. G. 6 5 

tahun 1925 hlm. 509--527. R.C. Majumdar juga tertarik kepada 

terbitan piagam Nalanda tersebut dan menulis karangannya dalam 

monografi Varendra Research Society I pada tahun 1926. Dalam 

98 Sriwijaya 

terbitannya tentang piagam Kelurak pada tahun 1929 dalam T.B. G. 

69, Bosch dengan sendirinya membandingkan epiteton v~ravaira­ 

manthana pada piagam Nalanda dengan vairivarav~ramardana pada 

piagam Kelurak. Perbandingan itu sekarang sudah menjadi klasik, 

sebab  setiap sarjana yang menulis tentang sejarah Sriwijaya tentu 

mengulanginya, tetapi siapa di antara raja Medang yang mempunyai 

epiteton tersebut hingga sekarang belum dapat dipastikan. Pendapat 

tentang hal itu masih bersimpang siur. 

Dalam karangannya, Le <;ailendra, tueur edes h~ros ennemis 

(1950), yang telah disebut di atas, Coed~s juga menuju ke arah 

pemecahan persoalan itu dan merekonstruksi gesasarvv~rimada­ 

vithanag dengan tambahan ma dan bacaan tha diantara vi dan nag. 

Mengenai lempengan tembaga Nalanda ini, Krom menulis bahwa 

piagam tersebut membuktikan: 1). arti Nalanda bagi pemeluk agama 

Budha di Sumatra; 2). hubungan erat antara raja-raja Sailendra di 

Jawa dan Sumatra. Katanya: "Hubungan itu tidak didasarkan atas 

kesamaan nama semata-mata, tetapi sebab  kedua raja itu benar­ 

benar berasal dari satu keturunan'' (Hindoe ]avaansche Geschiedenis, 

hlm. 143). 

Persoalan Balaputra yang sebelumnya selalu menemui jalan 

bun tu, sebab  terbitan A Metrical Old Javanese Inscription Dated 856 

A.D. ini menjadi agak jelas. Namun, artikel itu juga belum dapat 

memecahkan persoalan Balaputra, sebab  bagaimana Balaputra dapat 

naik takhta kerajaan Sriwijaya masih tetap merupakan teka-teki. Juga, 

De Casparis masih beranggapan bahwa Dharmasetu, nenek Balaputra, 

yaitu  raja Sriwijaya, tetapi tidak ada buktinya. Oleh sebab  itu, 

persoalan tersebut perlu ditinjau sekali lagi. 

Kecuali terbitan piagam Jatiningrat-Balaputra yang disertai 

pembahasan panjang lebar dan mendalam, De Casparis masih 

mengemukakan piagam baru yang langsung mempunyai hubungan 

dengan sejarah Sriwijaya, yakni piagam Telaga Batu. Piagam Telaga 

Batu yaitu  piagam persumpahan, senapas dengan piagam Kota 

Kapur dan Karang Brahi, namun redaksinya berbeda. Mulai baris 3 

 99 

sampai 5, piagam itu menyebut jabatan para pembesar pemerintahan 

Sriwijaya mulai dengan rajaputra sampai hulun haji. Penyebutan yang 

demikian tidak dilakukan pada piagam Kota Kapur dan Karang Brahi. 

Perbedaan redaksi ini memberi kesempatan pentafsiran baru 

mengenai pusat kerajaan Sriwijaya. Lain dari itu, Prasasti negara kita  

II masih memuat pecahan-pecahan piagam Sriwijaya yang belum 

dikenal sebelumnya. Ini semuanya yaitu  bahan baru sebagai 

penambah bahan yang telah ada untuk penyusunan sejarah Sriwijaya. 

Pada tahun 1958, Drs. Sukmono mengemukakan teori baru 

tentang lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya berdasar  penyelidikan 

geomorfologi. Karangannya termuat dalam Laporan Kongres Ilmu 

Pengetahuan Nasional I, hlm. 245-258. Hasil penyelidikannya 

menyangkal lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang. Ia 

melokalisasikannya di Jambi, menyamakan San-fo-ts'i dari berita 

Tionghoa dengan Tembesi dan Sabadeibai dari Ptolomeus dengan 

pulau Sabak. 

Penyelidikan itu dilakukan atas paham bahwa pusat kerajaan 

Sriwijaya hams terletak di tempat strategis yang dapat menguasai 

pelayaran di Selat Malaka sebagai jalan lalu-lintas pelayaran India­ 

Tiongkok dan kebalikannya, tanpa memperhitungkan faktor-faktor 

lainnya. Karangan ini dikutip di belakang untuk dibicarakan. Kita 

akan melihat sampai di mana kebenaran teori lokalisasi pusat 

Sriwijaya berdasar  geomorfologi, setelah dikaji dengan bahan­ 

bahan sejarah lainnya. 

Pada waktu dan tempat yang bersamaan, Prof. Mr. Moh. Yamin 

menerbitkan karangannya, Penyelidikan Sejarah tentang Negara 

Sriwijaya dan Rajakula Sailendra dalam Kerangka Kesatuan 

Ketatanegaraan negara kita  (idem, hlm. 133-223). Karangan itu dibagi 

menjadi bagian: 1). Pidato pembimbing; 2). Perkembangan 

penyelidikan sejarah; 3). Susunan tata negara Sriwijaya di bawah 

kekuasaan rajakula Sailendra; 4). Negara Sriwijaya dan rajakula 

Sailendra dalam kerangka kesatuan ketatanegaraan negara kita ; 5). 

Sejarah zaman Sriwijaya dalam em pat dewasa (392--1406). Kemudian 

menyusul lampiran beberapa piagam. 

30 Sriwijaya 

Ditegaskannya bahwa penyelidikan itu dilakukan terdorong oleh 

semangat seminar sejarah di Yogyakarta pada tahun 1957 yang 

menghendaki "tersusunnya sejarah negara kita  sebagai sejarah nasional 

negara kita . Peninjauan kembali penulisan sejarah nasional. Ia 

menghendaki agar faktor kemerdekaan nasional diperhitungkan 

dengan saksama dalam penilaian kembali hasil-hasil penyelidikan 

kebudayaan pada zaman yang lampau." Pada penutup Perkembangan 

Penyelidikan tertulis, "dan kongres M.I.P.I. di kota Malang mema­ 

sukkan sejarah Sriwijaya ke pintu gerbang pembacaan dan 

penyusunan kembali. Demikian Yamin. 

Yang terbaca pada prasaran itu ialah uraian tentang hasil 

penyelidikan sejarah Sriwijaya sampai tahun 1956. Tidak ada 

pandangan baru atau usul baru untuk memecahkan persoalan-per­ 

soalan yang hingga pada waktu itu masih menjadi bahan perdebatan. 

Pembacaan kembali bahan-bahan sejarah Sriwijaya mau tidak 

mau menghadapkan kita kepada persoalan-persoalan tersebut. 

Timbulnya persoalan-persoalan itu disebabkan sebab  para sarjana 

sejarah yang bersangkutan berpikir kritis, tidak dapat menerima 

begitu saja saran-saran yang dianjurkan sebelumnya. Demikianlah, 

menurut paham saya perdebatan ilmiah itu bertujuan untuk mencari 

penjelasan mengenai kejadian yang dinyatakan pada atau dalam 

bentuk piagam dan uraian lainnya. Para sarjana mencari hubungan 

antara peristiwa-peristiwa sejarah yang tampaknya masing-masing 

berdiri sendiri. 

Sebelum hubungan antara fakta-fakta sejarah itu dapat 

dijelaskan, rekonstruksi sejarah Sriwijaya belum dapat dilakukan 

dengan sempurna. Rekonstruksi yang dipaksakan dalam suatu 

kerangka, tanpa pengetahuan yang benar mengenai fakta-fakta yang 

bersangkutan, lebih menyerupai lamunan daripada rekonstruksi, 

sebab  penjelasan fakta-fakta sejarah yang kedapatan di sana-sini 

masih merupakan persoalan. Sebagai misal, penyusunan sejarah 

Sriwijaya menurut konsep Tyonbee dikemukakan lahirnya kerajaan 

Sriwijaya berdasar  piagam Kedukan Bukit: "Dewasa timbul dari 

 31 

tahun 392 sampai 683, yaitu tarikh proklamasi pembentukan 

kedatuan Sriwijaya menurut dua pertulisan yang sama, yaitu 

pertulisan Kedukan Bukit bertarikh 605 Saka." 

Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa tarikh tahun 

proklamasi itu 683 atau menyebut piagam Kedukan Bukit itu piagam 

proklamasi, kalau hingga sekarang persoalan piagam Kedukan Bukit 

belum dapat dipecahkan. Yang pasti ialah bahwa piagam Kedukan 

Bukit itu bukan piagam proklamasi, seperti dugaan Prof. Krom 

(H.J.G. him. 121) yang diikuti oleh Moh. Yamin, atau piagam 

siddhiy~tra seperti yang dikemukakan oleh Coed~s, melainkan piagam 

perjalanan jaya atau piagam jayasiddhay~tra. Lagi pula pada tahun 

671, pendeta I-t'sing dan Wu-hing telah mengunjungi kerajaan 

Sriwijaya dan diterima oleh sang raja. 

Persoalan bagaimana Balaputra dapat menjadi raja di Sriwijaya 

sesudah menyingkir dari Mataram, belum mendapat jawaban yang 

memuaskan. Kebanyakan para sarjana menduga bahwa nenek Bala­ 

putra Sri Dharmasetu yaitu  raja Sriwijaya, tetapi dugaan ini tidak 

berdasar  bukti. Urutan raja yang memerintah kerajaan Sriwijaya, 

seperti yang dipaparkan oleh Moh. Yamin, masih harus diikuti tanda 

tanya yang besar. Ini hanya beberapa contoh saja mengenai persoalan 

sejarah Sriwijaya. Semangat nasional dalam penulisan sejarah 

memang sangat diperlukan, dan semangat itu menjiwai Prof. Yamin. 

Namun, semangat nasional di dalam karya ilmiah tidak dapat 

mengubah anggapan menjadi fakta sejarah tanpa didahului oleh 

pembuktian, atau menganggap sepi persoalan-persoalan yang ada. 

Oleh sebab  itu, menurut pendapat saya, salah satu jalan yang hams 

ditempuh sebelum menyusun kembali sejarah Sriwijaya dalam rangka 

nasional ialah berusaha meneliti lagi bahan-bahan sejarah Sriwijaya, 

dan berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang masih gelap. 

Usaha penyusunan kembali sejarah Sriwijaya, seperti yang dicita­ 

citakan oleh Prof. Mr. Moh. Yamin, terang mempunyai segi-segi 

yang baik. Sedikit demi sedikit kelemahannya akan dapat diatasi. 

39 Sriwijaya 

Pada tahun 1961, Tan Yeok Seong mengumumkan salinan 

piagam Kanton yang ditemukan pada tahun 1959. Piagam itu 

mengenai pembangunan kembali candi Tien ching yang 

diselenggarakan oleh Ti-hua-ka-lo dari San-fo-ts'i pada tahun 1079. 

Penemuan piagam ini penting artinya untuk mengetahui keadaan 

negara Sriwijaya pada abad ke-11 sesudah serangan raj a Chola, seperti 

dinyatakan pada piagam Tanyore yang bertarikh tahun 1030. Jika 

transkripsi Ti-hua-ka-lo itu memang benar dan dapat diidentifikasikan 

dengan Dewa Kulottungga (Dewa Chola), ada kepastian bahwa 

Sriwijaya pada waktu itu ada di bawah kekuasaan raja-raja Khola. 

Prof. Brian Harrison dalam bukunya, South East Asia (1957), 

membicarakan kerajaan Sriwijaya pada pasal III di bawah judul Early 

Indianized States: Funan and Sriwijaya. Brian Harrison menguraikan, 

pembentukan kerajaan Funan oleh Kaundinya berasal dari P'an-pa an 

(Prampuri diTeluk Siam) di sekitar tahun 400 dan runtuhnya dalam 

abad ke-6 oleh bangsa Khmer. Dengan runtuhnya kerajaan Funan 

itu, Kamboja memasuki zaman pra-Angkor yang berakhir pada tahun 

802, yakni timbulnya pemerintahan Jayawarman II setelah mem­ 

bebaskan diri dari kekuasaan J awa. 

berdasar  pendapat Coed~s, ia menghubungkan wangsa 

Sailaraja di Kamboja dengan wangsa Sailendra di Jawa Tengah dan 

Sriwijaya. Menurut pendapatnya, penyebutan wangsa Sailendra oleh 

raj a-raj a di Jawa Tengah itu menunjukkan bahwa mereka yaitu  ahli 

waris dari raja-raja di Funan. Namun, pendapat Coed~s itu hingga 

sekarang masih tetap merupakan anggapan yang masih memerlukan 

pembuktian. Secara populer sekali, Brian Harrison menguraikan 

sejarah Sriwijaya dengan sekadar menyinggung pelbagai peristiwa 

sejarah yang masih diragukan dan menghendaki pemecahan. Tetapi, 

sebab  tulisan itu dimaksud sebagai tafsir peristiwa sejarah yang 

populer dalam rangka sejarah Asia Tenggara secara singkat pula, 

dengan sendirinya ia tidak berusaha untuk memecahkan persoalan­ 

persoalan itu. 

Mengenai hubungan antara wangsa Sailendra di Jawa Tengah 

dan di Sriwijaya, dikatakannya bahwa kedatangan wangsa Sailendra 

 335 

di Sriwijaya dalam abad ke-9 disebabkan sebab  perkawinan. Bukti 

usang yang dikemukakannya ialah pernyataan Balaputradewa pada 

piagam Nalanda. Soal perkawinan politik memang mempunyai 

peranan penting dalam perluasan wilayah, namun kedatangan 

Balaputradewa dari Jawa Tengah ke Sriwijaya kiranya tidak didasarkan 

atas perkawinan dengan putri Sriwijaya. Lagi pula, Dharmasetu yang 

hingga sekarang dianggap raja Sriwijaya dan menjadi nenek 

Balaputradewa, kiranya raja Jawa Tengah. Yang pasti ialah bahwa 

nama Sri D harmasetu kedapatan pada piagam Kelurak dengan tarikh 

tahun 782. Balaputra sendiri berasal dari Jawa Tengah pula. Ayahnya, 

Samaragrawira, juga menjadi raja di Jawa Tengah. Penyingkiran 

Balaputradewa ke Sriwijaya tidak didasarkan atas perkawinan dengan 

putri Sriwijaya, tetapi kalah perang dengan rakai Pikatan. Mengenai 

hal ini akan didapat uraian yang lebih mendalam dalam pasal yang 

bersangkutan. 

Pada tahun 1961, terbit cetak ulang buku Prof. D.G.E. Hall, A 

History ofSouth East Asia, yang telah terbit pada tahun 1955. Tulisan 

Hall tidak semata-mata menguraikan sejarah kuno seperti yang 

dilakukan oleh Prof. Dr. N.J. Krom dan Prof. George Coed~s, tetapi 

juga membicarakan sejarah baru tentang perkembangan negara-negara 

di Asia Tenggara. Uraiannya tentang sejarah lama yang bersangkut 

paut dengan negara kita  dikerjakannya dengan teliti berdasar  hasil 

penyelidikan dan pandangan para sarjana Prancis, India, dan Belanda, 

baik yang telah lama lampau maupun yang masih sangat baru. 

Sejarah negara kita  kuno mendapat tempat yang wajar. Juga 

sejarah Sriwijaya dengan sendirinya mendapat penuh perhatian. 

Uraiannya mengenai sejarah Sriwijaya didasarkan atas karangan 

Coed~s, Majumdar, Nilakanta Sastri, Krom, dan terutama De 

Casparis. Boleh dikatakan, pandangan de Casparis hampir seluruhnya 

diterima, diringkas. Nama-nama raja Sriwijaya yang masih merupakan 

teka-teki dan yang pernah dikemukakan oleh De Casparis sebagai 

anggapan ikut juga terkutip. Di samping itu, ia menolak pendapat 

Coed~s tentang asal usul rajakula Sailendra, dengan mengatakan 

bahwa pendapat Coed~s masih merupakan teori belaka, yang masih 

34 Sriwijaya 

memerlukan bukti-bukti. Ia gembira dengan penemuan nama 

narawarad yang tercantum pada baris penghabisan piagam Kelurak, 

yang mengingatkannya kepada nama ibu kota kerajaan Funan lama. 

Kata narawara, artinya "orang pilihan" atau "orang perwira, tidak 

ada hubungannya dengan nama kota. Pandangan Hall, sebagai 

pandangan sejarah yang didasarkan atas segala hasil penyelidikan 

para sarjana yang bersangkutan, merupakan himpunan sari 

penyelidikan sejarah Sriwijaya, dan berguna sekali untuk diketahui 

namun tidak memberikan fakta baru. 

Itulah karangan-karangan yang penting tentang sejarah Sriwijaya 

hingga tahun 1961. Karangan-karangan lainnya yang khusus 

mengenai Sriwijaya akan disinggung dalam pembahasan, jika 

dianggap perlu. Masih ada beberapa karangan ahli sejarah yang juga 

menyinggung sejarah Sriwijaya, tetapi pembahasannya hanya 

dilakukan sambil lalu, sehingga rasanya tidak perlu ditanggapi secara 

khusus. 

Bernard H.M. Vlekke menerbitkan Vusantara: A History of In­ 

donesia pada tahun 1959 sebagai cetak ulang dari karangannya pada 

tahun 1943. Dari judulnya itu, orang mengharapkan pembahasan 

sejarah Sriwijaya secara mendalam atau Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya 

dibicarakan pada pasal II: The Kingdom of Java and Sumatra. Dalam 

pasal itu, kerajaan Sriwijaya hanya disinggung saja dengan beberapa 

kalimat. Yang lebih banyak mendapat perhatian ialah sejarah Mataram 

dan Majapahit. Uraiannya boleh dikatakan singkatan pendapat Krom. 

Juga H.J. de Graaf dalam bukunya, Geschiedenis van Indonesie (1948), 

hanya menyinggung secara sepintas lalu sejarah Sriwijaya. 

Bab 9 

PENDIDIKAN PENDETA I-TS'ING 

Pendidikan 

Fa-chien yaitu  pendeta Tionghoa yang pertama kali melakukan 

ziarah ke tanah suci India sebagai sumber agama Budha. Lama ziarah 

itu lebih kurang 15 tahun, yakni dari tahun 399 sampai 414. Ziarah 

itu diuraikan dalam bukunya, Fo-hue-ki. 

Seratus tahun kemudian, yakni pada tahun 518, Sun-yun dan 

Hwui-ning berziarah dari Tiongkok ke India juga, namun uraiannya 

terlalu singkat jika dibandingkan dengan uraian pendeta-pendeta 

lainnya. Pendeta Hiuen Thsang mengembara selama 17 tahun di 

tanah suci India dari tahun 629 sampai 645. Segala pengalamannya 

diuraikannya dengan teliti dalam bukunya, Si-yu-ki. Dengan 

sendirinya uraian itu berharga sekali untuk pengetahuan sejarah dan 

geografi India pada abad ke-7. Uraian yang bernilai tinggi itu ternyata 

menarik perhatian para pemeluk agama Budha dan menjadi 

pendorong untuk juga melakukan ziarah ke India. Demikianlah, 

setelah Hiuen Thsang meninggal, pendeta I-t'sing berangkat ke 

Nalanda pada tahun 671. 

Secara teliti ia menguraikan ziarahnya dalam bukunya yang 

berjudul, Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan dan Ta-tang-si-yu-ku-fa-kao­ 

s~ng-ch'uan. Buku yang pertama diterjemahkan oleh Takakusu pada 

tahun 1896 di bawah judulA Record of the Buddhist Religion as Prac- 

36 Sriwijaya 

tised in India and the Malay Archipelago. Untuk gampangnya, buku 

itu disebut Record saja. 

Buku I-ts'ing yang kedua diterjemahkan oleh Prof. Chavannes 

pada tahun 1894 di bawah judul Memoire ~ l'~poque de la grande 

dynastie Tang sur les religieux ~minents qui allerent chercher la Loi dans 

les pays d'Occident. Atas alasan yang sama, buku yang kedua ini disebut 

Memoire saja. Kedua karya itu penting sekali untuk mengetahui 

sejarah kerajaan Sriwijaya khususnya dan negeri-negeri di lautan 

Teduh umumnya, yang dilalui I-ts'ing dalam perjalanannya dari 

Tiongkok ke India dan kebalikannya. I-ts' ing menyaksikan keadaan 

negara Sriwijaya dan negara-negara lainnya dengan mata kepala 

sendiri. Uraiannya yaitu  sumber berita dari tangan pertama; oleh 

sebab  itu, mendapat perhatian sepenuhnya. 

Pendeta I-ts'ing lahir pada tahun 635 di Fan-yang dekat Pe­ 

king, dalam masa pemerintahan Fai-tsung. Sejak berumur 7 tahun, 

ia belajar sastra Tionghoa um um. Ia merasa berbahagia sekali bertemu 

dengan dua orang guru, yakni San-y~ sebagai upadhyaya dan Hui­ 

hsi sebagai karmacarya. Mereka tinggal di asrama Shi-en-t' ung yang 

didirikan oleh ahli renung Seng-lang sejak tahun 396, seorang pertapa 

dari Chin-ii di Tai Shan. Mereka masing-masing dilahirkan di Teh 

dan Pei. Mereka berdua sependapat bahwa kehidupan bertapa banyak 

manfaatnya untuk kepentingan dirinya pribadi, namun sedikit 

faedahnya untuk kebahagiaan orang lain. 

Sekadar untuk memenuhi peraturan agama yang dipeluknya, 

San-y~ dan Hui-hsi pernah melakukan tapa di gua (Tu-ku) sambil 

memandang air jernih yang mengalir. Hidup bertapa demikian itu 

tidak dilanjutkan. Mereka lebih suka bekerja, mengumpulkan bahan 

makanan untuk persediaan bagi para murid yang suka mengangsu 

ilmu pada mereka di asrama, dan untuk persajian kepada area Budha. 

San-y~ dan Hui-shi mendidik I-ts'ing sejak berumur 7 tahun sampai 

berumur 37 tahun, waktu ia berangkat ke India melalui kerajaan 

Sriwijaya di Sumatra. 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 37 

I-ts'ing hanya mendapat kesempatan lima tahun lamanya untuk 

belajar kepada San-y~, sebab  pada tahun 646 San-y~ meninggal. 

Tetapi waktu lima tahun itu sudah cukup baginya untuk mengenal 

jiwa San-yil. Gengsi San-y~ sangat berkesan pada I-ts'ing. 

I-ts'ing menyebut gurunya dalam Record, yang ditulisnya lebih 

kurang 45 tahun kemudian sepeninggal San-y~, dengan kiasan gajah 

besar. Pemakaian metafora yang demikian oleh sarjana besar I-ts'ing 

hanya dapat ditafsirkan sebagai pernyataan kekagumannya terhadap 

keagungan sifat-sifat sang guru San-y~ sebagai guru, sebagai pendeta, 

sebagai sarjana, dan sebagai manusia biasa. Dalam bukunya tersebut, 

I-ts'ing menguraikan enam sifat yang dimiliki oleh San-y~, yakni 

keluasan pengetahuan sebagai guru, keanekaragaman pengetahu­ 

annya, kecerdasan berpikir, kejujuran, kemurahan hati, dan ketekunan 

kerja. 

I-ts'ing melanjutkan riwayatnya dan berkata bahwa pada waktu 

itu ia sedang menginjak usia 12 tahun. Sepeninggal San-y~, dalam 

pelajaran ia dipimpin oleh Hui-hsi, yang menurut uraiannya ternyata 

sarjana besar pula. Pada umur 14 tahun, ia dilantik dalam pravadya 

dan sejak menginjak umur 18 tahun, timbullah angan-angan untuk 

melakukan ziarah ke tanah suci India. Tetapi keinginannya itu lama 

tidak terkabul sampai ia berumur 37 tahun. Selama itu ia selalu ada 

di bawah pimpinan Hui-hsi dan mempelajari kanon suci agama 

Budha. Ketika ia berumur 20 tahun, ia dilantik dalam upasampadad. 

Menurut I-ts'ing, Hui-hsi yaitu  seorang ahli dalam winaya. 

Pikirannya terang-tenang, tidak pernah melalaikan latihan, enam kali 

selama satu hari satu malam. Tidak pernah merasa lelah mengajar 

empat macam kelas, yakni golongan biksu, biksuni, upasaka, dan 

upasika. Boleh dikatakan bahwa ia tidak pernah gusar dalam meng­ 

hadapi kesibukan yang bagaimanapun. Sikapnya tetap tenang dan 

sabar. Hui-hsi terlalu jujur, tidak suka memihak. Baik pendeta 

maupun awam bila benar dibenarkan; bila salah disalahkan. 

Saddharmapundarika yaitu  buku kegemarannya. Selama 60 

tahun ia membacanya setiap hari; jadi ia sudah membacanya 20.000 

38 Sriwijaya 

kali. Meskipun hidupnya dalam zaman yang serba sulit pada masa 

pemerintahan dinasti Sui (509-617), dan berpindah-pindah dari 

tempat yang satu ke tempat yang lain menurutkan nasibnya, ia tidak 

melalaikan kesanggupannya untuk membaca Saddharmapundarika 

setiap hari. 

Hui-hsi memiliki sadindera dan empat macam zat yang 

diperlukan untuk kesehatan badannya. Oleh sebab  itu, selama 60 

tahun ia tidak pernah jatuh sakit. Pada waktu senja senyap, biasanya 

Hui-hsi mencari I-ts'ing. Dengan ramah mereka bercakap-cakap. Ada 

kalanya percakapan itu hanya mengenai daun-daun yang sedang 

menguning, tetapi sebab  percakapan itu ia dapat menghindarkan 

I-ts'ing dari rasa rindu kepada ibunya. Ada kalanya ia menceritakan 

adat anak lembu yang disusui dan dibesarkan oleh induknya. Dengan 

contoh itu ia mengajar I-ts'ing secara tidak langsung, agar ia selalu 

membalas cinta kasih yang pernah dilimpahkan orang kepadanya. 

Hui-hsi yaitu  pujangga besar. I-ts'ing mengagumi bakat 

kepujanggaannya. Puji sanjung I-ts'ing kepada Hui-hsi terlalu muluk. 

Pada hlm. 213, I-tsing menyatakan ketakutannya kalau-kalau 

sementara orang menyangsikan ucapannya, menduga bahwa 

pujiannya kepada Hui-hsi tidak beralasan. Oleh sebab  itu, ia 

memberikan bukti tentang kebesaran Hui-hsi. 

Pada tanggal 12 bulan kedua, yakni pada hari Budha-nirwana, 

orang ramai, baik pendeta maupun awam, berkumpul di bukit selatan 

tern pat Seng-lang dimakamkan. Mereka datang untuk memperingati 

Seng-lang sebagai pemuka agama Budha. Pada waktu itu, semua 

pujangga di kerajaan Chi hadir. Masing-masing yaitu  pujangga 

terkenal yang telah mempunyai bukti kerja berupa karya sastra. 

Sebelum hari yang mulia itu tiba, raja telah membuat seruan kepada 

para pujangga untuk menulis sebuah kakawin yang akan ditulis pada 

kaki arca Seng-lang pada hari Budha-nirwana. Hui-hsi menyambut 

seruan itu tanpa ragu-ragu. 

Hui-hsi menulis kakawinnya pada tembok tanpa kekeliruan 

sedikit pun. Kakawin itu termuat pada hlm. 214. Waktu hadirin 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 39 

membaca kakawin tersebut, semuanya kagum. Ada di antara pujangga 

yang segera meletakkan pensilnya, ada yang menusukkannya pada 

batang pohon sambil berkata: "Si Shih (nama seorang wanita yang 

terpuja kecantikannya) telah memperlihatkan diri. Bagaimana Mu 

Mo (nama wanita buta) akan menandinginya?" Banyak kaum cen­ 

dekiawan yang hadir pada waktu itu, namun tak ada seorang pun 

yang sanggup menandingi Hui-hsi. Karya Hui-hsi yang bertebaran 

telah dikumpulkan dalam himpunan karangan. 

I-ts'ing dibesarkan dalam lingkungan kesarjanaan. sebab  ia pun 

memiliki bakat dan jiwa besar, maka bakat dan jiwanya mendapat 

pupuk yang akan menyuburkan tumbuhnya. Di dalam uraiannya, 

ia menyebut tiga orang guru yang paham akan winaya dan sangat 

dihormatinya, yakni San-y~, Hui-his, dan Ming-teh. Itulah latar 

belakang pendidikan pendeta I-ts'ing sebelum berangkat ke India. 

Hui-hsi sering berkata kepadanya bahwa Budha telah lama mening­ 

gal. Ajarannya sudah mulai disalahtafsirkan. Mereka yang harus 

membina aturan-aturan keagamaan malah melanggarnya. 

Ajaran Hui-hsi inilah yang menjadi pendorong dan menim­ 

bulkan angan-angan padanya untuk melakukan ziarah ke India, un­ 

tuk mempelajari agama Budha lebih dalam lagi. I-ts'ing menganggap 

San-y~ sebagai bapaknya, Hui-hsi sebagai ibunya. Dalam hubungan 

mesra antara guru dan murid seperti yang diuraikan dan dialami 

oleh I-tsing itu sendiri, jiwa yang memang berbakat akan dapat 

berkembang. 

Salah satu pendorong I-ts' ing untuk melakukan ziarah ke India 

ialah kekagumannya kepada pendeta Fa-hien dan bhadanta Hiuen 

Thsang yang telah lebih dahulu mengunjungi India. sebab  

kunjungan itu, mereka mendapat pengetahuan yang lebih luas dan 

lebih dalam serta semangat yang menyala-nyala untuk menyiarkan 

agama Budha di Tiongkok. Dalam Record hlm. 183-184, I-ts'ing 

berkata: "Kasiapa-matanga dan Dharmaraksha menyampaikan berita­ 

berita suci di ibu kota provinsi timur Lo (Honan-fu); kemasyhuran 

Paramartha sampai di laut Sela tan (Nan Ying), dan yang sedang mulai 

40 Sriwijaya 

ialah Kumarajiwa. Ia memberikan kehidupan segar kepada negeri 

asing (Tiongkok). Kemudian bhadanta Hiuen Thsang memberikan 

kuliah di negerinya sendiri. Dengan jalan demikian, baik pada zaman 

yang telah silam maupun pada zaman sekarang, para guru menye­ 

barkan ajaran Budha sangat luas dan jauh." 

Pada hlm. 207, I-ts'ing menguraikan jasa-jasa Seng-lang sebagai 

pendeta terkemuka yang mendirikan candi dan asrama di T' ai Shan. 

Meskipun Seng-lang telah lama meninggal, namun pengaruhnya 

masih tetap terlampau besar dan kemasyhurannya masih terus 

berkumandang. Sepeninggal Seng-lang, San-y~ dan Hui-hsi tampil 

ke muka sebagai penggantinya, ditambah seorang lagi Ming-teh: 

ketiga-tiganya ahli dalam winaya dan paham akan segala sutera. 

Salah satu ajaran yang mereka pertahankan ialah larangan mem­ 

bakar jenasah. Sejak para pendeta dari asrama Kuda Putih di Lo­ 

yang yakni Kasiapa-matanga dan Dharmaraksha-bergerak, 

memancarkan sinar kebijaksanaan, seolah-olah mereka menjadi 

matahari dan bulan di negara dewata (Tiongkok), gajah hi tam Kang 

seng-hui dan Fa-hien siap berpelana, sebab  tepa teladan yang sangat 

utama menjadi pertahanan dan jembatan untuk mengantarkan 

kekayaan spiritual India ke Tiongkok. Tao-an dan Hui-yen bergerak 

sebagai harimau di sebelah selatan sungai Yang-tse dan Han. Hui­ 

hsi dan Fa-li beterbangan sebagai burung hantu di sebelah utara 

sungai Hwang dan Chi. 

I-ts'ing berangan-angan menjadi pendeta yang berguna untuk 

penyiaran agamanya seperti para pendeta yang dikaguminya itu. la 

berpikir bahwa rantai kedatangan penyiar agama tidak boleh terputus. 

Oleh sebab  itu, ia ingin bersiap-siap untuk menjadi pendeta besar 

di negerinya, yang kiranya kemudian sanggup mengganti gurunya, 

Hui-hsi. Oleh sebab  itu, ia pun mencurahkan segenap tenaga dan 

perhatiannya kepada ajaran sang guru dan kepada segala macam 

sutera. Ketika terasa oleh Hui-hsi bahwa ia sudah masak dalam ilmu, 

ia mendapat perintah untuk pergi mencari ilmu yang lebih dalam. 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 41 

Demikianlah, I-ts'ing minta diri kepada Hui-hsi, berangkat ke 

Wei di sebelah selatan. Di sana ia mempelajari Abhidarmasangiti dan 

Samparigrahasastra, kemudian berpindah ke ibu kota provinsi barat 

Si-an-fu untuk mempelajari Koca dan Vidyamatrasiddhi. Di sini, I­ 

ts'ing menetap sampai tahun 670, beberapa bulan sebelum ia 

berangkat ke India. 

Setelah persiapan untuk melakukan ziarah ke India dipandang 

telah cukup, ia meninggalkan ibu kota Si-an-fu menuju Fan-yang, 

tern pat kelahirannya. Sesudah itu barulah ia kembali ke asrama T' ai 

Shan untuk minta nasihat kepada Hui-hsi. Katanya: "Sang guru, 

saya bermaksud untuk mengadakan perjalanan jauh. Saya yak.in bahwa 

di sini saya belum sampai pada ilmu yang saya tuntut. Di tempat 

tujuan itu, saya akan memperoleh kemajuan yang pesat. Engkau 

sudah lanjut dalam usia. Oleh sebab  itu, saya tidak akan berbuat 

sesuatu tanpa minta nasihatmu lebih dahulu." 

Jawab Hui-hsi: "Ini yaitu  kesempatan yang sangat baik 

bagimu. Kesempatan itu tidak akan berulang lagi. Alm gembira 

mendengar maksudmu. Tak ada gunanya aku melahirkan perasaan 

kesedihanku. Bila ada umur panjang, aku akan melihatmu kembali 

dan akan menyaksikan usahamu memperluas ajaran Budha. Berang­ 

katlah tan pa ragu-ragu.J angan melihat segala apa yang kau tinggalkan. 

Alm setuju benar dengan maksudmu untuk melakukan ziarah ke 

tanah suci. Apalagi mengingat bahwa ziarah itu yaitu  penunaian 

tugas suci untuk kebahagiaan agama. Tidak usah ragu-ragu." 

Perjalanan ke India 

Sebelum I-ts'ing berangkat, ia masih sempat mengunjungi 

kubur San-y~ untuk memberi hormat, minta diri dan restu. Pada 

waktu itu daun-daun pohon di sekitarnya terlalu rimbun melingkupi 

nisannya, dan rumput-rumput tumbuh sangat rapat pada kaki nisan. 

Meskipun San-y~ sudah tidak ada lagi, namun hormat I-ts'ing 

besar bukan kepalang, seolah-olah San-y~ masih hidup. I-ts'ing 

49 Sriwijaya 

merenungkan segala kebaikan sang guru yang pernah dilimpahkan 

kepadanya. Kemudian ia berangkat meninggalkan Kwang-chou 

(Kanton) pada bulan 11 tahun kedua pada masa pemerintahan Hsien 

Heng, atau pada tahun Masehi 671, menuju lautan Selatan dengan 

hati tenteram, sebab  maksudnya disetujui oleh sang guru, bahkan 

mendapat perintah berangkat, yang bagaimanapun tidak akan dapat 

diabaikannya. 

Demikianlah, ia berlayar dari negeri yang satu ke negeri yang 

lain, menuju India untuk berziarah. Pada hari kedelapan bulan dua 

tahun keempat masa pemerintahan Hsien Heng (tahun Masehi 673), 

I-ts'ing sampai di Tamralipti, sebuah pelabuhan di pantai India Timur. 

Pada bulan kelima ia mengadakan perjalanan ke barat, bertemu 

dengan kawan di sana-sini. Kemudian ke asrama Nalanda dan ke 

takhta manikam; akhirnya mengunjungi semua tempat suci. Setelah 

itu kembali ke Shi-li-fo-shih. 

Uraian perjalanan I-ts'ing dalam Record terlalu singkat. Uraian 

itu hanya sekadar diselipkan saja dalam pasal yang istimewa mem­ 

perbincangkan para gurunya. Uraiannya yang lebih panjang termuat 

dalam Memo ire yang telah diterjemahkan oleh Prof. Chavannes. 

Semula ada beberapa orang teman yang akan turut berangkat. 

Sampai tahun pertama masa pemerintahan Hsien Heng atau tahun 

Masehi 670, I-ts'ing tinggal di ibu kota provinsi Chang-an. Pada 

waktu itu, Chui (pengajar hukum, anak kelahiran Ping-pu), Hui-gi 

(pengajar sastra, berasal dari Lai-chou), dan dua-tiga bhadanta lainnya 

telah setuju untuk bersama-sama dengan I-ts'ing mengunjungi 

Gridakuta dan melihat Bhodidruma di India. Ch'ui tidak jadi ikut 

sebab  cintanya kepada tempat kelahirannya dan ingat kepada ibunya 

yang sudah tua. Hui-gi berubah pikirannya, berbelok ke Sukawati 

waktu bertemu dengan Hiuen-chan di Kianning. Hiuen-kei hanya 

sampai Kwang-tung. Akhirnya I-tsing berangkat dengan seorang 

teman saja, seorang pendeta muda, muridnya yang bernama Tsin­ 

chou. Pendeta muda ini dalam perjalanannya berhenti di Sumatra, 

lalu kembali ke Kwang-tung sebab  jatuh sakit. Demikianlah, I-ts'ing 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 43 

berziarah ke India hanya seorang diri. Pada musim rontok tahun 

671, ia bertemu dengan Feng-hsiao-ch'uan dari Kong-chou. 

Atas pertolongan Feng-hsiao-ch'uan, ia dapat berhubungan 

dengan pemilik kapal Persi yang akan ditumpanginya. I-ts' ing merasa 

banyak berhutang budi kepadanya, sebab  Feng-hsiao beserta saudara­ 

saudaranya menyiapkan segala perlengkapan untuk keberangkat­ 

annya. Mereka menjaga benar-benar agar I-ts'ing jangan sampai 

menderita kekurangan, mengalami kesulitan di tengah jalan. Mereka 

tidak ada ubahnya dengan orang tuanya sendiri. Pada pasal ini 

nyatalah bahwa ibu-bapak I-ts'ing pada waktu itu telah meninggal, 

sebab  ia berkata bahwa segala apa yang diminta oleh si yatim piatu 

kepada keluarga Feng diberinya. 

Demikianlah, waktu I-ts'ing pada tahun 670 dari ibu kota pro­ 

vinsi barat berangkat ke Fan-yang, tempat kelahirannya, ia mengun­ 

jungi makam orang tuanya untuk minta diri dan restu dalam perjalan­ 

an ke India. Secara jujur ia mengaku bahwa ziarahnya ke India dapat 

dilakukan terutama berkat kemurahan hati dan bantuan keluarga 

Feng. Tidak enggan-enggan ia menyebut Feng sebagai tempat 

bernaung. Para pendeta dan awam yang menaruh perhatian turut 

mengantarkannya sampai pelabuhan. Para cerdik-cendekia dari 

provinsi utara hadir, terharu pada waktu berpisah. Mereka mengira 

tidak akan saling bertemu lagi. 

Demikianlah, pada bulan 11 tahun 617, I-ts'ing berangkat me­ 

nurutkan bintang Yi dan Chen, meninggalkan Kwang-tung, me­ 

nyusur pantai ke arah selatan. Dalam pikirannya telah terbayang 

taman Mregadawa di Benares dan gunung Kukkutapadagiri dekat 

Gaya. Kapal berlayar menuju arah selatan yang kemerah-merahan; 

tali-temali yang panjangnya seratus kubit, mengelewer dua-dua dari 

atas. Waktu berpisah dengan bintang Yi, dua layar yang masing­ 

masing panjangnya lima helai kain kampas melambai, meninggalkan 

sisi utara yang kegelap-gelapan. Kapal laju ke selatan menumpang 

aliran ombak; gelombang seperti awan putih melemparkan diri ke 

angkasa. 

44 Sriwijaya 

Sesudah hampir 20 hari berlayar, kapal sampai di Fo-shih 

(Sriwijaya). Di sini ia mendarat dan menetap selama enam bulan 

untuk belajar Sabdavidya, yakni tata bahasa Sanskerta. Atas bantuan 

sri baginda raja, kemudian ia berangkat ke tanah Melayu; sekarang 

menjadi bagian Shih-li-fo-shih (Sriwijaya). Di sini ia singgah dua 

bulan lamanya. Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Ka-cha 

(Kedah). Dari sini ia berlayar lagi dengan kapal raja menuju India. 

Dari Ka-cha terus ke utara. 

Sesudah berlayar sepuluh hari lamanya, sampailah pada pulau­ 

pulau Lo-j~ng-kuo; penduduknya masih telanjang bulat. Di sebelah 

timur tampak pantai antara jarak satu-dua batu Cina. Yang tampak 

hanyalah pohon nyiur dan pohon pinang gembira melambai-lambai. 

Ketika tampak kapal datang, para penduduk, kira-kira seratus orang 

banyaknya, segera melompat ke dalam sampan-sampan kecil; 

semuanya membawa buah nyiur, pisang, barang-barang dari rotan 

dan bambu, dengan maksud untuk ditukarkan. Yang mereka 

harapkan ialah besi; lempengan besi selebar dua jari ditukarnya 

dengan lima atau sepuluh buah nyiur. Yang laki-laki telanjang bulat; 

yang perempuan sekadar bertutup daun. Jika ada di antara penum­ 

pang yang secara senda-gurau menawarkan pakaiannya, mereka 

melambaikan tangannya sebagai isyarat menolak. 

Konon negara ini ada di bawah pengawasan Shu-ch'uan barat 

daya. Pulau ini sama sekali tidak menghasilkan besi; emas dan perak 

jarang sekali. Penduduknya semata-mata hidup dari buah nyiur, tidak 

banyak padinya. Oleh sebab  itu, yang mereka anggap paling 

bermutu dan paling berharga ialah loha. Itulah nama untuk besi di 

tempat itu. Kulitnya tidak hitam, tingginya sedang. Mereka cakap 

sekali menganyam bakul-bakul dari rotan; tidak ada tempat lain yang 

sanggup menandinginya. Kalau ada yang berani menolak tukar­ 

menukar, mereka segera melepaskan anak panah yang beripuh. 

Peluncuran sekali saja sudah cukup untuk membunuh orang. 

Kira-kira sebulan berlayar dari situ ke arah barat laut sampai 

Tan-mo-lo-ti, yang merupakan tapal batas India Timur, terletak lebih 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 45 

kurang 60 yojana dari Mahabodhi clan Nalanda. Menurut berita 

Record, I-ts'ing sampai di Tan-mo-lo-ti pada hari kedelapan bulan 

kedua tahun keempat pada masa pemerintahan Hsien Heng (tahun 

Masehi 673). Tan-mo-lo-ti yaitu  pelabuhan di pantai Timur. Nama 

yang sebenarnya ialah Tamralipti. 

Di Tan-mo-li-ti, I-ts'ing bertemu dengan pendeta Tan-ch'eng­ 

teng. la lalu tinggal bersama-sama dengan Teng beberapa bulan. 

Selama itu ia mempelajari bahasa Sanskerta clan mempraktikkan 

pengetahuannya tentang tata bahasa. Kemudian bersama-sama 

dengan Teng berangkat ke provinsi barat clan menggabungkan diri 

dengan sekelompok pedagang yang menuju India Tengah. 

Kira-kira sejauh sepuluh hari perjalanan dari wihara Mahabodhi, 

jalannya amat sulit lagi berbahaya. Pada waktu itu, ia jatuh sakit dan 

tertinggal oleh kawan-kawannya sejalan. Teng bersama 20 pendeta 

Nalanda lainnya telah jauh ke muka. Terhuyung-huyung dengan 

jatuh bangun ia berusaha menyusulnya, namun tidak berhasil. la 

berjalan seorang diri sampai Nalanda. Dalam hatinya telah tumbuh 

pikiran bahwa ziarahnya akan gagal di tengah jalan. Lain dari itu, 

pada waktu itu di provinsi barat sedang berkobar pergolakan. Tiap 

orang yang berkulit putih dibunuh. sebab  ketakutan, I-ts'ing masuk 

dalam lumpur. Seluruh badannya disaput dengan lumpur hitam. 

Jalan membelok ke utara menuju ke sebuah desa. ltulah Nalanda 

yang dimimpikannya. 

I-ts'ing lalu masuk candi Mulagandhakuti, kemudian mendaki 

gunung Gridhakuta. Sesudah itu mengunjungi wihara Mahabodhi, 

menyembah kepada area Budha. la menyampaikan pakaian yang 

dibawanya dari Shan-tung, pemberian para pendeta clan awam, 

kepada area Budha. Segala titipan ahli winaya Hiuen dari daerah Pu 

disampaikannya. Demikian pula pesan An-tao dari daerah Ts' ao 

untuk menyampaikan hormatnya kepada area Budha telah dilakukan. 

I-ts'ing segera melemparkan dirinya di atas lantai, dengan pikiran 

bulat memberikan sembah. la memohonkan kebahagiaan untuk 

Tiongkok, kemurahan Budha kepada raja, ibu-bapak serta para 

46 Sriwijaya 

budiman berlimpah-limpah di wilayah Dharmadatu; harapannya 

ialah bertemu dengan Budha Maitreja di bawah pohon Naga, beroleh 

ajaran sejati dan akhirnya memiliki pengetahuan yang tidak tunduk 

kepada hukum kelahiran. Di India, I-ts'ing berziarah berkeliling ke 

tempat-tempat suci: wihara Waic_;:ali, Kusinagara, taman Mrigadawa 

di Benares, dan gunung Kukkutapadagiri dekat Gaya. Ia tinggal di 

wihara N alanda sepuluh tahun lamanya. 

Setelah mengumpulkan naskah-naskah sebanyak 500.000 sloka, 

ia bersiap-siap akan pulang. Pada tahun pertama masa pemerintahan 

Chui-kung (tahun Masehi 685), I-ts'ing minta diri kepada Wu­ 

hing di tempat sejauh 60 yojana di sebelah timur N alanda. Demi­ 

kianlah, 1-ts'ing menetap di Nalanda antara tahun 675 sampai tahun 

685. Dari situ ia berangkat ke Tan-mo-lo-ti untuk menumpang kapal 

menuju Ka-cha. Dari sini kapal berlayar dua bulan ke arah tenggara 

untuk sampai di Ka-cha. Pada waktu itu kapal dari Fo-shih akan 

berlabuh di Ka-cha. Kedatangan kapal dari Fo-shih umumnya pada 

bulan pertama atau bulan kedua. Mereka akan berangkat ke Singala 

(Sri Lanka) berlayar ke arah barat daya. Kata orang, pelayaran itu 

sejauh 700 yojana. 

I-ts'ing singgah di Ka-cha sampai musim dingin, lalu berlayar 

lagi ke arah selatan sebulan lamanya menuju tanah Mo-lo-yeu, yang 

pada waktu itu sudah menjadi Fo-shih. Banyak negeri-negeri yang 

menjadi bawahannya. Pada umumnya kedatangan perahu di sana 

pada bulan pertama atau bulan kedua. Tinggal di sana sampai per­ 

tengahan musim panas, lalu berangkat lagi ke utara; kira-kira sebulan 

berlayar sampai di Kwang-fu (Kwang-tung). 

Pernyataan I-ts'ing 

Sekembalinya dari Nalanda, I-ts'ing menetap di Fo-shih lebih 

kurang em pat tahun lamanya. Pada tanggal 20 bulan 7 tahun pertama 

masa pemerintahan Yung-ch ang (689), ia sampai di Kwang-tung 

kembali. Pelayaran kembali ini tidak direncanakan lebih dahulu. 

Semula ia datang di sungai Fo-shih dengan maksud menitipkan surat 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 47 

rahasia ke Kwang-tung untuk minta kiriman kue-kue, kertas, dan 

tinta, guna menurun naskah-naskah Sanskerta dan sebagai upah kerja 

menurun. Namun, pada waktu itu tiba angin baik. Oleh sebab  itu, 

layar-layar segera dipasang. I-tsing ikut terbawa. Ia tidak bermaksud 

akan pulang. 

Sekembalinya di Kwang-tung, I-ts ing bertemu dengan kawan­ 

kawannya seagama, baik pendeta maupun awam. Dalam sidang di 

candi Chih-chih, I-ts'ing mengemukakan usul pendapatnya: ia 

membawa 500.000 sloka Tripitaka dari India. Sloka-sloka tersebut 

masih ketinggalan di Fo-shih. Bagaimanapun, ia harus kembali ke 

Fo-shih. Tetapi ia sudah merasa tua, sudah berumur 50 tahun lebih. 

Oleh sebab  itu, ia minta bantuan tenaga, yang kiranya dapat diserahi 

pekerjaannya. 

Usul itu mendapat sambutan baik dari sidang. Pendeta bernama 

Cheng-ku, seorang ahli winaya, yang tempat tinggalnya tidak jauh 

dari Kwang-tung, diusulkan oleh sidang sebagai pembantu utama I­ 

ts'ing. Cheng-ku, yang tinggal sebagai pertapa di Shih-men sebelah 

barat laut Kwang-tung, setelah membaca surat I-ts'ing segera sanggup 

untuk menyertainya. Demikianlah, pada hari pertama bulan sebelas 

tahun 689, I-ts'ing dengan pembantunya menumpang kapal dagang 

melalui Lin-i menuju Fo-shih. Kecuali Cheng-ku, ada tiga pembantu 

lagi yang menyertainya, yakni pendeta Tao-hung dan dua orang 

pendeta yang tidak disebut namanya. 

Menurut Sung-kao-seng-ch'uan, pengembaraan I-ts'ing di luar 

Tiongkok selama 25 tahun. Ia kembali ke Kwang-tung pada perte­ 

ngahan musim panas tahun pertama masa pemerintahan Cheng­ 

seng (tahun Masehi 695) dengan membawa lebih kurang 4.000 

naskah yang terdiri dari 500.000 sloka. Dari tahun 700 sampai 712, 

ia menerjemahkan 56 buku dalam 230 jilid. 

Pada waktu I-ts'ing mengunjungi Fo-shih, agama Budha di Fo­ 

shih sedang berkembang. Di ibu kota Fo-shih yang dikelilingi ben­ 

teng, terdapat lebih dari 1.000 pendeta Budha; semuanya rajin 

mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dan mengamalkan ajaran 

48 Sriwijaya 

Budha. Mereka melakukan penelitian dan mempelajari ilmu yang 

ada pada waktu itu; tak ada bedanya dengan Madhyadeca di India. 

Aturan-aturan dan upacara sama sekali tidak berbeda. Oleh sebab  

itu, bila ada pendeta Tionghoa yang ingin pergi ke India untuk 

mengikuti ajaran-ajaran dan membaca teks-teks asli, ada baiknya 

mereka tinggal di Fo-shih dua atau tiga tahun dahulu untuk berlatih, 

sebelum berangkat ke India. 

Di Shih-li-fo-shih, I-ts'ing bertemu dengan seorang pendeta 

Wu-hing; seperti telah diketahui, ia bertemu dengan I-ts'ing lagi di 

tempat yang letaknya sejauh 60 yojana di sebelah timur Nalanda. 

Dalam perjalanannya ke Nalanda, Wu-hing juga singgah di Sriwijaya. 

Katanya: "Setelah berlayar satu bulan, Wu-hing sampai di Shih-li­ 

fo-shih. Baginda menerimanya dengan baik dan menghormatinya 

sebagai tamu dari negeri putra dewata, T'ang agung. Dengan 

menumpang kapal raja ia berlayar ke negeri Mo-lo-yeu; setelah 15 

hari berlayar sampai di tempat tujuan. Kemudian setelah berlayar 

15 hari lagi, ia sampai di Ka-cha. Pada akhir musim dingin, ia 

menumpang kapal lain dan berlayar ke barat. 30 hari kemudian ia 

tiba di N agapatana. Dari sini ia berangkat lagi dengan kapal ke pulau 

Singhala; lamanya berlayar 20 hari." 

Mengenai letak Sriwijaya, I-ts'ing berkata: "Di India, pengukur 

waktu terdapat di mana-mana; namanya welacakra, yakni roda waktu. 

Caranya mengukur bayang-bayang ialah memerhatikan bayang­ 

bayang tongkat. J ika mencapai tingkat yang terpendek, artinya tepat 

tengah hari. Tetapi di Jambudwipa panjang bayang-bayang itu 

berbeda; ini bergantung kepada letak tempatnya. Di provinsi Lo, 

misalnya, tidak ada bayang-bayang sama sekali. Lagi, misalnya di 

negeri Shih-li-fo-shih, kita melihat bayang-bayang diwelacakra tidak 

menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan delapan. Pada 

tengah hari tak tampak bayang-bayang orang yang berdiri di bawah 

matahari. Lain halnya kalau musim semi. Matahari tepat di atas kepala 

dua kali satu tahun. Kalau matahari ada di sebelah selatan, bayang­ 

bayang membujur ke utara, panjangnya lebih kurang dua atau tiga 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 49 

kaki. Kalau matahari ada di sebelah utara, bayang-bayangnya sama, 

tetapi jatuh ke selatan." 

Di dalam kata pengantar Record, I-ts'ing menguraikan kehidupan 

keagamaan di negara-negara yang dikunjunginya. Yang dikutip di 

sini ialah uraiannya ten tang kehidupan keagamaan di Asia Tenggara, 

sebab  hal ini langsung berhubungan dengan pokok pembicaraan. 

Katanya: 

Di ujung sebelah timur ada gunung besar hitam (Takakusu 

mengira Mahakala), yang kiranya terletak di perbatasan Tu-fan (Ti­ 

bet). Kata orang, gunung itu ada di sebelah barat daya Shu-ch'uan; 

dari Shuch'uan hanya sejauh perjalanan sebulan. Di sebelah selatan 

gunung itu, dekat pantai, terdapat negeri yang disebut (riksatta 

(Sriksetra: Prome); di sebelah tenggaranya Lang-ka-su (Takakusu: 

Kamalangka, mestinya Langkasuka); sebelah timur Lang-ka-su ialah 

To-ho-lo-po-ti (Dwarawati); di ujung timur Lin-i (Campa). 

Penduduk negara-negara tersebut menyembah Ratnatraya 

(Budha, dharma, sangha). Banyak di antaranya yang teguh men­ 

jalankan hukum dan melakukan dhutangam (mengemis) yang sudah 

menjadi kebiasaan di negeri-negeri ini. Orang-orang seperti itu yang 

saya saksikan sendiri terdapat juga di barat (India); mereka memang 

berbeda dengan orang-orang biasa. Di Singhala, semua penduduknya 

tergolong dalam Aryasthawiranikaya; Aryamahasang-hikanikaya 

dilarang. 

Di negara-negara laut Selatan-terdiri dari sepuluh negara lebih­ 

pada umumnya penduduknya menganut Mulasarwastiwadanikaya, 

meskipun ada kalanya ada yang juga memeluk Sammitinikaya; 

sekarang ada juga sementara pengikut kedua aliran lainnya (meskipun 

hanya sedikit jumlahnya). 

Dihitung dari barat, yang pertama ialah negeri P'o-lu'shi, lalu 

negeri Mo-lo-yeu, yang sekarang menjadi negeri Shih-li-fo-shih, Mo­ 

ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pen, P'o-li, K'u-lun, Fo-shih-pu-lo, O­ 

shan dan Mo-chia-man. Masih ada beberapa pulau kecil-kecil lagi; 

tidak dapat disebut semuanya di sini. Agama yang dipeluk di negeri­ 

negeri ini terutama agama Budha aliran Hinayana, kecuali di negeri 

Mo-lo-yeu. Di negeri ini sedikit saja aliran Mahayana. 

Di antara negeri-negeri ini, ada yang kelilingnya kira-kira seratus 

batu Cina; ada yang kira-kira seratus yojana. Meskipun sulit untuk 

menghitung jarak di lautan besar, namun mereka yang telah biasa 

50 Sriwijaya 

berlayar dengan kapal dagang akan pandai mengira-ngira luasnya 

pulau. Negeri-negeri itu semuanya dikenal atas satu nama umum, 

yakni Kepulauan K'ulun, sebab  utusan K'ulun yang pertama kali 

datang di Ko-chin dan Kwang-tung. 

Di dalam Record, I-ts'ing juga menyebut nama para pendeta 

sarjana di India dan di negeri-negeri laut Selatan. 

Mereka itu Jnanacandra, ahli hukum, tinggal di wihara Tiladha; 

Ratnasinha di wihara Nalanda; Diwakaramitra di India Timur; 

Tathagatagarbha di daerah ujung selatan; di Shih-li-fo-shih yang terletak 

di laut Selatan menetap Sakyakirti. la berkeliling di lima negeri di India 

untuk mencari ilmu; sekarang ia ada di Shih-li-fo-shih. 

Di India Timur, ada seorang sarjana besar (mahasattwa), namanya 

Candra; sudah seperti Bodhisatwa, dianugerahi bakat besar. Orang 

ini masih hidup ketika saya, 1-ts'ing, mengunjungi daerah tersebut. 

Pada suatu hari ada orang yang bertanya kepadanya: "Apakah yang 

lebih berbahaya, cobaan ataukah bisa?" Dengan serta-merta ia 

menjawab: "Memang di antaranya barang dua itu terdapat perbedaan 

besar; bisa berbahaya, hanya bila ditelan; sedangkan yang lain merusak 

pikiran seseorang, meski hanya terpikir saja sekalipun." 

Jika ada wanita masuk wihara, dilarang keras menginjak bilik 

pendeta. la hanya boleh berbicara dengan mereka di lorong sebentar 

saja lalu pergi. Pada waktu itu ada seorang biksu bernama A-ra-hu-la­ 

mi-ta-ra (Rahulam~tra) diam di wihara; ia baru berumur lebih kurang 

30 tahun. Kelakuannya sangat terpuji dan kemasyhurannya amat luas. 

Tiap hari ia membaca Ratnakutasutra, yang memuat 700 sloka. Tidak 

hanya paham akan tiga kumpulan buku saja, tetapi juga menjelajah 

kesusastraan agama dalam empat ilmu, ia dihormati sebagai kepala 

pendeta di daerah India Timur. 

Sejak pelantikannya sebagai pendeta, tidak pernah bercakap 

dengan wanita apalagi bertemu muka, kecuali dengan ibu dan adiknya 

perempuan bila mereka datang berkunjung. ltu pun terjadi di luar 

biliknya. Pada suatu ketika saya bertanya kepadanya, apa sebabnya 

ia berbuat demikian, padahal itu bukan larangan. Maka jawabnya: 

"sebab  pembawaan saya mudah tertarik kepada kata-kata; jika saya 

tidak berbuat demikian, saya tidak akan dapat menyumbat sumbernya. 

Meskipun itu bukan larangan Budha, kiranya memang baik berbuat 

demikian jika orang bermaksud menghindari keinginan-keinginan 

jahat." 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 51 

Hui-ning naik perahu menuju Ho-ling. Setelah tiba di sana, ia 

menetap tiga tahun lamanya untuk menerjemahkan naskah-naskah 

Sanskerta dalam kerja sama dengan pendeta bumiputra J nanabhadra. 

Hasil kerja itu kemudian disuruh bawa pulang Yun-k'i ke Chiao­ 

chih. Setelah menyampaikan terjemahan itu, Yun'ki kembali ke Ho­ 

ling, tetapi tidak dapat bertemu dengan Hui-ning sebab  Hui-ning 

telah berangkat. Yun-k'i menetap selama sepuluh tahun di negeri 

laut Selatan clan mempelajari bahasa Kun-lun, di samping bahasa 

Sanskerta. Ia menjadi murid J nanabhadra. Ia tinggal di Shih-li-fo­ 

shih. Waktu I-ts'ing ada di sana, ia berumur 30 tahun. 

Dua orang pendeta yang tidak disebut namanya dengan 

menumpang kapal meninggalkan Tiongkok menu ju P'o-lu-shih, yang 

letaknya di sebelah barat Shih-li-fo-shih. Setibanya di tempat yang 

dituju, mereka jatuh sakit lalu meninggal. Fa-lang berlayar dari Pan­ 

yong ke Fo-shih selama sebulan. Hoai-ye melalui laut sampai di Fo­ 

shih. Di sana ia belajar Kun-lun dan bahasa Sanskerta. Tao-hong 

clan Ch'eng-ku menemani I-ts'ing ke Chin-chou sampai di negeri 

Fo-shih. 

Itulah berita-berita yang dapat dikumpulkan dari dua karya I­ 

ts'ing, Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan (Record) dan Ta-tang-si-yu-kao­ 

seng-ch'uan (Memoire). Kedua-duanya dititipkan oleh I-ts'ing kepada 

Ta-tsin untuk dibawa ke Kwang-tung. Peristiwa-peristiwa sejarah 

tersebut disajikan tanpa tafsir agar para pembaca dapat menilai 

peristiwa-peristiwa tersebut tanpa terpengaruh oleh tafsir. Tempat­ 

tempat yang disebut oleh I-ts'ing memerlukan penjelasan, sebab  

nama-nama itu bunyinya berbeda dengan namanya yang asli. 

Lokalisasi tempat-tempat tersebut tidaklah mudah. Lokalisasi tempat­ 

tempat itu akan dicoba dalam pasal berikut. 


Bab 3 

LOKALISASI TEMPAT-TEMPAT DALAM 

PERJALANAN I-TS'ING 

Perjalanan I-ts'ing dari Kwang-Tung ke Tan-mo-lo-ti dan 

kebalikannya melalui pelbagai tempat. Ia menyebut nama-nama 

tempat itu dengan ucapan Tionghoa, tetapi tidak menegaskan di 

mana letaknya. Demikianlah, pelayaran I-ts'ing itu masih perlu 

ditafsirkan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai jalan 

pelayaran yang ditempuhnya. 

Keberangkatannya pada bulan 11 tahun 671 dari Kwang-tung 

ke Tan-mo-lo-ti telah disajikan di muka. Dari uraiannya nyatalah 

bahwa I-ts'ing tidak menyusur pantai, melainkan menyeberangi lautan 

besar, langsung ke Fo-shih dengan men um pang kapal Possu (Persi). 

Sesudah hampir 20 hari berlayar, ia mencapai Fo-shih lalu singgah 

di situ selama enam bulan. Kemudian, atas bantuan raja Fo-shih, ia 

berangkat ke Mo-lo-yeu dan singgah di situ dua bulan. Sesudah itu 

Ka-cha. Pada bulan 12, ia berlayar dengan menumpang perahu raja, 

meninggalkan Ka-cha ke arah utara. Sesudah berlayar lebih dari 

sepuluh hari, ia sampai di Lo-j~ng-kuo. Pelayaran dilanjutkan ke 

arah barat laut; satu setengah bulan kemudian, ia sampai di Tan­ 

mo-lo-ti, pada hari kedelapan bulan kedua masa pemerintahan Hsi­ 

en-heng (tahun 673). 

Perjalanan pulang pada tahun 685 diuraikan secara singkat 

demikian. Ia berangkat dari Tan-mo-lo-ti ke arah tenggara menuju 

54 Sriwijaya 

Ka-cha. Singgah di sini sampai musim dingin. Dengan menumpang 

perahu raja, berangkat dari Ka-cha ke selatan menuju Mo-lo-yeu, 

yang sekarang menjadi Fo-shih. Pelayaran itu makan waktu selama 

sebulan. Umumnya pada bulan pertama atau kedua, perahu datang 

di negeri Mo-lo-yeu. Tinggal di sini sampai pertengahan musim panas, 

lalu berangkat ke utara menuju Kwang-tung. Lebih kurang sebulan 

berlayar, kemudian sampai di tempat yang dituju. 

Dua tempat yang telah jelas letaknya, yakni tempat pangkal 

berangkat Kwang-tung dan tempat tujuan Tan-mo-lo-ti. Kwang-tung 

yaitu  Kanton, clan Tan-mo-lo-ti yaitu  Tamralipti, yang sekarang 

disebut Tamluk, terletak di sebelah barat daya Kalkuta, di tempi 

sungai Hooghly, di sebelah barat delta Hooghly di provinsi Benggala. 

I-tsing menjelaskan bahwa Tan-mo-lo-ti terletak 40 yojana dari tapal 

batas India sebelah timur. Di sana ada lima asrama; penduduknya 

kaya. Termasuk India Timur, kira-kira sejauh 60 yojana dari 

Mahabodhi clan Nalanda. Itu yaitu  pelabuhan tempat orang 

menumpang perahu jika akan kembali ke Tiongkok. 

Kita sekarang akan meninjau letak beberapa tempat yang disebut 

oleh pendeta I-ts'ing dalam Record clan Memoire, teruama yang 

disinggahi selama perjalanannya dari Fo-shih ke Tan-mo-lo-ti clan 

kebalikannya, kemudian baru tempat-tempat lainnya. Kita mulai 

dengan nama tempat yang boleh dikatakan telah pasti letaknya, yakni: 

1. Lo-j~ng-kuo 

Lo-j~ng-kuo artinya 'pulau orang telanjang. Dengan panjang 

lebar, I-ts'ing menguraikan keadaan penduduknya seperti telah 

disajikan terjemahannya di muka. Nama pulau ini telah dikenal dalam 

piagam Tanyore yang dikeluarkan oleh Rajendracoladewa pada tahun 

1030 dalam bahasa Tamil. 

Pada piagam Tanyore, Rajendracoladewa menyebut nama-nama 

kerajaan yang ditundukkannya. Di antaranya ialah Manakkawaram, 

artinya: pulau besar yang didiami oleh orang-orang telanjang. Pulau 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 55 

ini juga dikenal oleh Marco Polo dengan nama Necuveram. Dari nama 

ini maka terbentuklah namanya sekarang, yakni kepulauan Nikobar. 

I-ts'ing menyatakan bahwa penduduk pulau Lo-j~ng-kuo meng­ 

gunakan kata loha untuk pengertian besi. Kata terse but tidak dikenal 

dalam bahasa Melayu-Polinesia. sebab  pulau tersebut tidak 

menghasilkan besi, boleh dipastikan bahwa kata loha dalam bahasa 

Nikobar yaitu  kata pinjaman. Mungkin sekali, kata itu dipinjam 

dari bahasa yang digunakan oleh para penduduk pantai kontinen 

Asia. Bahasa-bahasa Ahom, Khamti, Nora di Assam, clan dalam 

bahasa-bahasa dari rumpun bahasa Shan, yang merupakan cabang 

bahasa yang berasal dari Tiongkok Selatan, menggunakan kata lik 

untuk pengertian besi. Mungkin sekali, kata loha dalam bahasa 

Nikobar ini bentuk turunan dari kata lik, yang kemudian dtran­ 

skripsikan ke dalam bahasa Tionghoa menjadi loha. Kita tidak tahu 

bagaimana penduduk Nikobar mengucapkannya. 

Dalam kata pengantar Recordhlm. 12, I-ts'ing menyatakan bah­ 

wa penduduk negara-negara Sriks~tra (Prome), Langkasu (Lang­ 

kasuka) clan To-ho-lo-po-ti (Dwarawati) serta negara-negara di laut 

Selatan, semuanya mirip dengan bangsa Tionghoa kecuali penduduk 

pulau Kun-lun (pulau Kondor). Penduduk pulau Kondor berkulit 

hi tam clan berambut keriting. Tetapi penduduk negara-negara lainnya 

tidak demikian. Mereka biasanya memakai kain kan-man (sarong), 

tetapi kakinya terbuka sampai paha. 

Dalam keterangan mengenai Lo-j~ng-kuo ini, I-ts'ing me­ 

nambahkan bahwa menurut pendengarannya, kepulauan Lo-j~ng­ 

kuo ada di bawah pengawasan Shu-ch'uan barat daya. Shu-ch'uan 

terletak di Tiongkok Selatan. Pulau itu sama sekali tidak menghasilkan 

besi; emas clan perak jarang sekali. Tidaklah aneh bila kata loha itu 

pun berasal dari bahasa Shu-ch' uan yang serum pun dengan bahasa­ 

bahasa Miau-tse di Tiongkok Selatan. Bahasa-bahasa Shan, Ahom, 

Khamti, Thai, clan Nora memang serumpun dengan bahasa Miau­ 

tse clan menggunakan kata lik untuk pengertian besi. 

56 Sriwijaya 

2. Kha-cha 

Sebelum I-ts'ing sampai di Lo-j~ng-kuo, ia singgah di Ka-cha 

dalam perjalanannya ke Tan-mo-lo-ti. Dalam perjalanan kembali dari 

Tan-mo-lo-ti, ia berlayar ke arah tenggara menuju Ka-cha, kemudian 

ke arah selatan menuju Mo-lo-yeu. Takakusu menyamakan Ka-cha 

dengan Kotaraja yang terletak di ujung Sumatra Utara (Aceh). 

I-ts'ing menguraikan bahwa pulau Lo-j~ng-kuo itu terletak di 

sebelah utara Ka-cha dan dapat dicapai dari Ka-cha sesudah berlayar 

sepuluh hari lebih. Dari Kotaraja, pulau Nikobar terletak di sebelah 

barat laut, tidak di sebelah utara. Dalam perjalanan kembali dari 

Tan-mo-lo-ti ia tidak singgah di Lo-j~ng-kuo, tetapi langsung ke 

Ka-cha. Dengan sendirinya maka Lo-j~ng-kuo tidak merupakan 

pelabuhan yang penting dalam perjalanan dari Fo-shih ke Tan-mo­ 

lo-ti atau kebalikannya. 

Yang merupakan pelabuhan penting ialah Ka-cha. Pelabuhan 

penting dalam perjalanan antara Fo-shih dan Tan-mo-lo-ti atau dari 

Tiongkok ke India, dan yang namanya hampir sebunyi dengan Ka­ 

cha, ialah Kedah. Pada waktu itu namanya bukan Kedah, tetapi 

Kat~ha. Mungkin sekali kata Ka-cha itu transkripsi Tionghoa dari 

kata Sanskerta Kat~ha. I-ts'ing sebagai sarjana Budha yang mengenal 

bahasa Sanskerta akan berusaha untuk membuat transkripsi nama 

tersebut sedekat dan setepat mungkin. Nama tersebut juga dikenal 

dalam piagam Tanyore dalam bahasa Tamil, dan ditulis Kadar(m). 

Baik Kadaram maupun Kat~ha, terang Kedah zaman sekarang. Berita 

mengenai Kedah sebagai tempat penting datang dari pelbagai sudut. 

Ma-tuan-lin memberitakan bahwa pada tahun 638, kerajaan Kia­ 

tcha mengirim utusan ke Tiongkok. Menurut G. Ferrand, meskipun 

tulisannya agak berbeda dengan Chieh-cha (ejaan Pelliot), kedua nama 

tersebut menunjukkan tempat yang sama, yakni Kedah di 

Semenanjung Melayu. 

Seorang ahli peta Tionghoa yang masyhur dan hidup antara 

tahun 730 dan 805 ialah Chia-tan. Karangannya disusun antara tahun 

785 dan 805 atas perintah dinasti Tang. Memang, ia diberi tugas 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 57 

untuk membuat perjalanan dari Tiongkok ke negeri-negeri di laut 

Selatan dan ke India melalui laut dan melalui daratan. Tetapi karya 

aslinya telah hilang. Yang masih tinggal hanya kutipan-kutipannya, 

termuat dalam Hsin T'ang Shu dan T'ai-ping-huan-yu-chi. Pelliot 

mengadakan penyelidikan mengenai dua macam perjalanan ini. 

Perjalanan melalui laut diuraikannya demikian. Perjalanan itu 

melalui pulau Hainan menuju pantai Indo-Cina; terus menyusur 

pantai sampai di tempat yang bernama Kun-t'u-nung. Dari situ 

berlayar lima hari lagi, maka sampailah pada selat yang namanya 

Chih; lebarnya dari utara ke selatan 100 li. Di pantai sebelah utara 

terdapat kerajaan Lo-yueh, di pantai selatan kerajaan Fo-shih. Sebelah 

timur kerajaan Fo-shih, kira-kira sejauh pelayaran lima hari orang 

mencapai kerajaan Ho-ling; ini meliputi pulau yang terbesar di 

selatan. Kemudian, tiga hari belayar dari selat itu orang mencapai 

kerajaan Ko-koseng-chin, terletak di sebuah pulau di sudut barat 

laut Fo-shih. Penduduknya ban yak yang jadi perompak; pen um pang 

perahu yang menjadi mangsanya. Di pantai utara terletak kerajaan 

Ko-lo. Sebelah barat Ko-lo ialah Ko-ku-lo. 

Pada tahun 1904, Pelliot mempersoalkan kerajaan Ko-lo yang 

diberitakan oleh Chia-tan itu. Kesimpulannya ialah bahwa Ko-lo 

sama dengan Ka-cha Chieh-ch'a) yang diberitakan oleh I-ts'ing. Ko­ 

lo terletak di pantai barat Semenanjung Melayu, sama dengan Kedah. 

lni pun cocok dengan nama Ka-lah yang disebut nama berita Arab. 

Berita-berita Arab itu dapat disingkat demikian: 

Sulayman (tahun 851). Sulayman berkata bahwa dari Muscat, 

pelayaran menuju Kulam Malaya untuk mengisi air sebelum 

pelayaran dilanjutkan ke laut Harkand; terus ke Langabalus, dan 

dari sini ke laut Kalah-bar. Diterangkannya bahwa bar berarti baik 

kerajaan maupun pantai. Kalah-bar ada di bawah pemerintahan 

Jawaga. Di Kalah-bar perahu diisi dengan air sumber. 

Jarak antara Kulam dan Kalah-bar kira-kira sejauh sebulan 

pelayaran. Kemudian perahu berlayar menujui Tiyuma, kira-kira 

selama sepuluh hari untuk mengisi air, jika dipandang perlu. Dari 

58 Sriwijaya 

sini menuju tempat yang bernama Kundrang. Pelayaran itu makan 

waktu sepuluh hari. Kemudian menuju Campa, yang menghasilkan 

kamfer. Pelayaran itu makan waktu sebulan. Sepuluh hari lagi 

berlayar, sampai di Kundur-fulat. Sepuluh hari kemudian perahu 

masuk laut Cankhay melalui gerbang Cina, yang berpagar gunung 

kanan-kiri. Jika selamat, perahu terus berlayar ke Tiongkok. Pada 

akhir bulan sampai disana. Dari waktu satu bulan itu, tujuh hari 

perahu menerobos selat yang terbentuk dari gunung-gunung. 

Yang dimaksud dengan Kulam Malaya ialah Quillon yang ter­ 

letak di pantai barat Travancore, di bawah pegunungan Malai (Malaya). 

Langabalus ialah kepulauan Nikobar, Jawaga ialah Jawa (Sumatra); 

Kundrang ialah Kundurangga; Kundur-fulat ialah pulau Kondor. 

Abu Dulaf Misar (± 940). Abu Dulaf Misar menguraikan 

perjalanannya dari Tiongkok ke Kalah. Ia menyebut Kalah sebagai 

pangkal bertolak ke India dan ujung perjalanan dari Tiongkok. 

Perjalanan dari Tiongkok, bila telah sampai di Kalah, tidak dapat 

dilanjutkan tanpa mengalami kekandasan. 

Ini dapat diartikan bahwa perahu yang berlayar dari Tiongkok 

sampai di Kalah pada akhir musim angin timur laut, dan pada awal 

musim angin barat daya. Perjalanan menuju Sri Lanka dan India 

terhenti sebab nya. Kalah dikelilingi tembok tebal dan mempunyai 

banyak taman. Airnya berlimpah-limpah. Di tempat itu terdapat 

tambang timah yang disebut kal'i (pedang dari kal'a). 

Di sekitar Kalah ada banyak kota dan kelompok rumah-rumah. 

Rajanya ada di bawah pengawasan Tiongkok dan berdoa untuk 

keselamatan kaisar Tiongkok. Sanggar pemujaan raj a dimaksud untuk 

kaisar, dan kiblatnya ke arah Tiongkok pula. Abu Dulaf Misar me­ 

nyebutnya kota India yang terletak di tengah-tengah antara Oman 

dan Tiongkok. Berita yang sangat penting mengenai letaknya ialah 

bahwa pada tengah hari, orang tidak berbayang sama sekali. Ini dapat 

ditafsirkan bahwa Kalah terletak dekat garis khatulistiwa. 

Berita-berita lainnya yang berasal dari para pedagang Arab 

menyebut tempat itu Kaah atau Kala. Isinya hampir sama saja. Boleh 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 59 

dikatakan bahwa hampir semuanya menyatakan Kalah terletak antara 

Arab dan Tiongkok, menghasilkan kamfer, timah dan bambu, ada di 

bawah pemerintahan J awa. 

Ibn Khordazbeh (844). Kilah terletak sejauh enam hari pelayaran 

dari Langabus. Negara tersebut ada di bawah pemerintahan Jaba 

dan memiliki tambang timah kal'i yang sangat terkenal. 

Ibn al-Fakih (902). Kala-bar merupakan bagian dari kerajaan 

Jawaga. Hanya seorang raja saja yang memerintah. 

Abu Zaid(± 916). Salah satu jajahan Jawaga ialah Kalah, terletak 

antara negara Tiongkok dan Arab. Kapal-kapal dari Oman datang ke 

situ dan dari situ kembali ke negara Arab. 

Mas'udi (943). Di sekitar Kalah dan Sribusa terdapat tambang­ 

tambang emas dan perak; negara Kalah terletak di tengah perjalanan 

ke Tiongkok. Sekarang, tempat itu menjadi tempat pertemuan 

perahu-perahu dari Oman dan Siraf di satu pihak, dan perahu-perahu 

dari Tiongkok di pihak lain. 

Kalah masih dikenal oleh para pedagang Arab sesudah abad ke­ 

11 sampai abad ke-16. Tetapi tidak semua berita itu penting bagi 

tujuan kita. Yang penting di antaranya ialah: 

Dimaski (1325). Laut Kalah disebut demikian menurut nama 

negara Kalah, yang ibu kotanya juga disebut Kalah. Kalah yaitu  

kota yang paling besar di antara kota-kota yang terdapat di situ. 

Negara Kalah panjangnya 800 mil, lebarnya 350 mil, dan sangat 

berbahaya untuk mendarat di situ. Di negara tersebut terdapat kota 

Fansur, Jawa, Malayur, Lawri, dan Kalah; di situ ada gajah yang 

ditangkap dari tanah daratan dan sengaja dilatih untuk keperluan 

rajanya. 

Pemberitaan Dimaski sama dengan pemberitaan Nuwayri dari 

tahun 1332, yang juga menyatakan di kerajaan Kalah terdapat kota­ 

kota Fansur, Malayur, Lawri, dan Kalah. 

Abu Fida' (1273-1331). Kalah yaitu  pelabuhan umum dari 

negara-negara antara Oman dan Tiongkok. Negara tersebut 

60 Sriwijaya 

mengekspor timah; di situ ada kota yang sangat makmur, didiami 

oleh orang-orang muslim, Hindu, dan Persi. Dikatakan bahwa di 

tempat tersebut terdapat tambang timah, kebun bambu, dan pohon 

kamfer. Negara itu terpisah sejauh 20 hari pelayaran dari negara 

Maharaj a. 

Sedikit banyak berita-berita Arab itu pasti mengandung ke­ 

benaran. Yang nyata ialah bahwa Kedah sebelum dan sesudah abad 

ke-10 merupakan pelabuhan pen ting di tengah-tengah jalan pelayaran 

antaraArab, India, dan Tiongkok. Sudah barang tentu juga merupakan 

tempat penting pada zaman Sriwijaya, ketika I-ts'ing melakukan ziarah 

ke India. Roland Braddell menyebut muara sungai Merbok di 

kerajaan Kedah sekarang sebagai pelabuhan Kedah, yang disebut 

dengan pelbagai nama dalam pelbagai berita: I-ts'ing: Ka-cha (Chieh­ 

cha); Ma-tuan-lin: Kia-tcha; Chia-tan: Ko-lo; Chu-fan-chi: Ki-t'o; 

Wu-pei-chih: Chi-ta; Arab: Kalah, Kala; Sanskerta; Kat~ha; Tamil: 

Kadara(m). 

3. Mo-lo-yeu 

Dalam perjalanan pulang dari Tan-mo-lo-ti, I-ts'ing menceritakan 

bahwa ia naik kapal raja dari Ka-cha ke arah selatan selama sebulan, 

menuju negara Mo-lo-yeu. Di sini biasanya orang singgah sampai 

pertengahan musim panas untuk menunggu tibanya musim angin 

barat daya; kemudian baru berlayar ke utara menuju Kwang-fu 

(Kwang-tung). 

Yang dimaksud oleh I-ts'ing dengan negara Mo-lo-yeu di sini 

ialah pelabuhan di negara Mo-lo-yeu, yang pada waktu itu sudah 

berada di bawah kekuasaan Shih-li-fo-shih; sama dengan pelabuhan 

tempatnya singgah dalam perjalanannya dari Fo-shih menuju India. 

I-ts'ing juga menceriterakan bahwa pendeta Wu-hing berlayar dengan 

perahu raja dari Fo-shih ke negero Mo-lo-yeu selama 15 hari. Yang 

terang ialah bahwa dari pelabuhan Mo-lo-yeu, orang biasanya terus 

berlayar ke utara menuju Tiongkok tanpa singgah di Fo-shih. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 61 

Dalam uraiannya, I-ts'ing jelas sekali menunjukkan adanya 

pelabuhan Mo-lo-yeu, tempat masuk perahu raja Fo-shih untuk 

berangkat ke Tan-mo-lo-ti, dan adanya kerajaan Mo-lo-yeu yang telah 

menjadi bagian kerajaan Fo-shih sekembali I-ts'ing dari Nalanda pa