Rabu, 13 September 2023
Home »
jenderal sudirman
» jenderal sudirman
jenderal sudirman
By video bobo September 13, 2023
untuk mempertahankan Indonesia, mengantarkannya menjadi
seorang panglima besar dan menempati rumah dinas panglima
di Bintaran. Kala itu ia sedang sakit dan masih dalam tahap
penyembuhan. Proses penyembuhan itu berbarengan dengan
situasi politik nasional yang tidak menentu. Situasi ini membuat
Jenderal Sudirman harus berjuang mempertahankan negara
Indonesia.
Dimulainya Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman
Dari Kabupaten Bantul Ke Daerah Lainnya
Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta menuju Bantul
yaitu sebuah langkah yang tepat. Kala itu, perjalanan
Jenderal Soedirman menuju Bantul penuh dengan ketegangan.
Ia berada terus diintai Belanda, baik dari udara maupun darat. Dalam perjalanan ini ia seringkali berlika-liku atau
berpindah-pindah lokasi untuk mengelabuhi Belanda. Menurut
Mayor Tugiyo, beberapa kali Jenderal Soedirman harus
menghadapi penghadangan dari Belanda. Pemantauan yang
begitu ketat ini mengisyaratkan bahwa perjalanan yang
dilakukan tidak selalu mulus.
Pukul 11.30, ia meninggalkan rumah dinas dan bergerak ke jalan
Bintaran Wetan, bergerak ke timur ke jalan Taman Siswa,
lalu ke selatan menuju jalan Sugiyono, lalu ke barat
sampai ke Plengkung Gading memasuki benteng. Perjalanan
ini dilakukan oleh Jenderal Soedirman untuk
menyelamatkan keluarganya di nDalem Mangkubumen, rumah
yang sudah disediakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
ini memang sudah direncanakan oleh Sri Sultan
Hamengkubuwono IX untuk menitipkan keluarga Jenderal
Soedirman di lingkungan Keraton Yogyakarta demi keamanan
keluarganya.
Setelah itu Jenderal Soedirman melanjutkan untuk berjuang
melawan Belanda padahal Jenderal Soedirman sedang ia hanya
memiliki 1 (satu) paru-paru yang berfungsi dengan normal. Sebenarnya ia ingin beristirahat di nDalem Mangkubumen, akan
tetapi Letkol Abdul Hakim datang dan melaporkan bahwa
“bapak panglima harus segera meninggalkan kota Yogyakarta kalau
tidak ingin ditangkap Belanda”. Tidak lama lalu Belanda
sudah menjebol istana dan menangkap para pemimpin Republik
Indonesia. Beberapa pejabat istana seperti presiden dan wakil
presiden dan juga sebagian menteri ditangkap dan diasingkan
di pulau Bangka.
Akhirnya Jenderal Soedirman tidak jadi beristirahat di nDalem
Mangkubumen dan memerintahkan pengawalnya untuk
menyiapkan kendaraan agar segera bergerak ke arah Bantul
meninggalkan nDalem Mangkubumen pada pukul 14.00, dengan
melewati pojok benteng barat. Ia lalu menuju arah selatan
yaitu mengarah ke Goa Selarong. lalu rute diubah ke arah
Perempatan Palbapang, lalu ke timur arah ke Perempatan
Bakulan, lalu belok ke selatan ke arah Kretek. ini
dipilih oleh Jenderal Soedirman karena di sana ada rute strategis
untuk menyelamatkan diri dari kejaran Belanda. Taktik lika-liku
ini membuat Belanda merasa kebingungan. Jenderal
Soedirman pada waktu itu memang mencari tempat yang amankarena Belanda memantau Jenderal Soedirman melalui udara
maupun darat.
Kamrihadi menerangkan, pada waktu itulah, Jenderal
Soedirman meninggalkan Yogyakarta dengan jalur perjalanan
menuju Kretek. Perjalanan Jenderal Soedirman ini sampai
di kecamatan Kretek pada pukul 17.00, saat ia melihat para
pengawalnya, ia lalu memikirkan nasib pasukannya yang
tidak membawa bekal apapun. Lalu ia menginstruksikan kepada
Hanung Paeni dan Kopral Aceng untuk kembali ke nDalem
Mangkubumen, meminta semua perhiasan istrinya, dan
nantinya digunakan Jenderal Soedirman dalam peperangan
melawan penjajah. Mayor Heru Santoso lebih sepakat dengan
versi ini dan diperkuat juga dengan buku karya Tjokropranolo
berjudul Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin
Pendobrak Penjajahan Terakhir di Indonesia.
1
saat Aceng dan adik iparnya kembali ke nDalem
Mangkubumen, dan sebelum mereka kembali lagi, Jenderal
Soedirman sudah dijemput oleh lurah Grogol yang bernama
Mulyono Djiworedjo. Di wilayah ini , lurah Mulyono Djiworedjo sudah mengetahui akan kedatangan Jenderal
Soedirman dan sudah menyiapkan penyambutanya. Mayor
Heru Santoso juga menceritakan Mulyono Djiworedjo yang
sempat memberi kabar kepada warga bahwa ia akan
menjemput Jenderal Soedirman. “Saya akan menjemput pejuang
kita”, begitu katanya. Dalam versi Pak Kamrihadi, kedatangan
Jenderal Soedirman kala itu sudah diketahui oleh lurah Grogol
melalui badan telik sandi. “Ya sudah tahu kalau mau kesini, ada
telik sandinya” ujarnya. Ini menandakan bahwasanya badan
telik sandi selalu menjalin komunikasi tanpa henti dengan
Jenderal Soedirman untuk melaporkan berbagai situasi yang
sedang terjadi.
Pilihan Jenderal Soedirman untuk menuju Bantul didasarkan
pada pertimbangan bahwasanya terdapat rute untuk menuju
Kediri, dan juga kondisi geografis yang mendukung untuk
perang gerilya. Selain itu, faktor keamanan menjadi
pertimbangan mengingat lurah di desa Parangtritis yaitu
seorang perwira dari tentara PETA yang bernama Mulyono
Djiworedjo.
Saat itu juga, warga menyiapkan sebuah perjamuan
sebagai bentuk antusias dan kegembiraan yang mereka rasakan.
Selain itu, kondisi geografis dapat melindungi wilayah ini
dari serangan Belanda, yaitu adanya pemisah wilayah ini
berupa Sungai Opak, lalu perbukitan yang membuat
wilayah ini jauh akan deteksi Belanda.
Pada saat itu Sungai Opak sedang terjadi banjir dan belum ada
jembatan seperti yang kini menjadi jalan Parangtritis.
Penyeberangan baru dapat dilakukan saat sungai sudah surut. Setelah menunggu Sungai Opak surut, malam itu ia baru bisa
menyeberangi Sungai Opak dengan menaiki rakit seadanya.
Setibanya di tepi sungai, lalu ia menaiki dokar yang
ditarik oleh warga sekitar. ini dilakukan sebab
Mulyodiharo khawatir, jika dokar ditarik menggunakan kuda
maka disita oleh Belanda. Sesampainya di kediaman lurah
Grogol, malam itu juga ia langsung disambut oleh warga
sekitar.
Setelah merasa aman, di wilayah ini Jenderal Soedirman
akhirnya beristirahat untuk menenangkan pikiran dan
membangun strategi, karena perjalanan gerilya akan dimulai
dari daerah ini . Beberapa isi dari strategi ini
mencantumkan informasi mengenai jalur-jalur yang aman
untuk dilewati dan yang akan mengawal Jenderal Soedirman.
Beberapa prajurit pengawal diposisikan untuk melewati jalurjalur yang berbeda. Setelah memastikan bahwa kondisi benarbenar aman, Jenderal Soedirman akan melewati jalan ini .
Pagi harinya, Jenderal Soedirman kembali melanjutkan
perjalanan gerilya. Karena kondisi fisiknya yang sudah mulai
menurun, akhirnya ia dibuatkan tandu oleh warga setempat dengan menggunakan kursi dari lurah Mulyono
Djiworedjo, sedang pembawa tandu juga dari warga Grogol
yaitu Weryowiyono (Rawun), Setrodikromo (Panggung),
Suwitowarno (Kalijan), dan Adiwiyono (Cecek). Selain diiringi
warga Grogol, Kapten Soeparjo. Sedangkan, Sersan Mayor
Oetoyo Kolopaking pergi ke Wonosari terlebih dahulu untuk
menyiapkan tempat di sana dan menjalin hubungan dengan staf
Kolonel Gatot Soebroto.
Setelah itu Jenderal Soedirman berangkat untuk menjalankan
perang gerilyanya menuju Kediri. Perjalanan pertama dilakukan
Jenderal Soedirman dengan ditandu warga setempat secara
estafet dari Grogol menuju Panggang, Gunungkidul2 dan terus
menuju desa Paliyan. Kapten Tjokropranolo memerintahkan
Pleton Djoemadi yang terdiri dari 80 prajurit untuk menyusul.
Belum sampai di Kecamatan Paliyan, Jenderal Soedirman
bermalam di Desa Karangduwet dan pagi harinya ia
melanjutkan perjalanannya kembali dengan ditandu, kurang lebih selama dua jam, dari Paliyan sampai ke Playen. Setibanya
di Playen, perjalanan dilanjutkan mengguanakan kendaraan
yang lebih cepat, yaitu dokar, akan tetapi dokar itu ditarik oleh
dua ajudanya yaitu Soepardjo Roestam dan Tjokropranolo.
Mayor Heru Santoso menambahkan keterangan bahwa selain
dua orang ini , dokar juga di dorong oleh Mayor Sulondo,
dokter pribadi Jenderal Soedirman.3
Ada satu cerita menarik yang dikisahkan oleh Mayor Heru
Santoso. Setibanya di Lapangan Wonosari, mereka berempat
berhenti untuk beristirahat sejenak. Jenderal Soedirman tiba-tiba
mendapatkan firasat, untuk segera meninggalkan tempat
peristirahatan itu dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Mendengar hal itu, mereka langsung hengkang dari tempat
ini . Benar saja, setelah 200 meter melangkah, beberapa
serdadu elite Belanda turun di lokasi yang tepat saat mereka
beristirahat. Akhirnya mereka dapat lolos dari serbuan Belanda.4
Prajurit ini mengambil jalan melewati Imogiri lalu
bergabung dengan rombongan Jenderal Soedirman di dekatWonogiri. Pada hari itu juga, Utoyo Kolopaking datang dari
Wonosari untuk melaporkan hasil persiapannya.5 Perjalanan
dari Grogol ini yaitu titik awal perjalanan gerilya
Jenderal Soedirman menuju ke wilayah Gunungkidul, Wonogiri,
sampai ke wilayah Kediri.
Riwayat Kedatangan Jenderal Sudirman Ke
Kabupaten Bantul
Setelah Yogyakarta dinyatakan aman, Jenderal Soedirman
dipanggil Presiden Soekarno untuk kembali ke Yogyakarta.
Tepat pada tanggal 7 Juli 1949, ia meninggalkan markas Sobo,
Pacitan, Jawa Timur yaitu rumah pak Kabayan Karsosumito. Ia
ditandu melewati beberapa kota selama tiga hari. Pada tanggal
10 Juli 1949, ia sampai di perbatasan Prambanan, Sungai Opak
dengan melewati Piyungan dan di Piyungan ia dijemput oleh Sri
Sultan Hamengkubuwono IX. Daerah Piyungan yaitu
termasuk daerah Prambanan, tapi secara kabupaten, ia masuk
wilayah Bantul.6 Perjalanan Singgah Jenderal Soedirman ini juga tidak begitu mulus, ada intrik yang terjadi di sana. Dimana
masih banyak tentara Belanda yang berkeliaran untuk
mengejarnya, maka dari itu banyak tantara bahkan warga
Piyungan saling bahu membahu untuk mengamankan Jenderal
Soedirman.
ini dimulai Jenderal Soedirman keluar dari hutan, yaitu ada
4 orang tantara yang keluar dari hutan (sekarang masuk dukuh
plesetan) menuju dukuh Mojosari, sementara Jenderal
Soedirman bersama pengikutnya turun melalui Hargodumilah.
Dengan kamuflase itu membuat Jenderal Soedirman selamat
dan sampai dirumah dukuh Piyungan Bapak Joyokartono. Akan
tetapi 4 orang tantara yang mengkamuflase Jenderal Soedirman
ini akhirnya harus gugur karena ditembaki tentara
Belanda. Saat ini, terdapat tugu di wilayah Tambalan, Srimartani
yang menjadi tetenger peristiwa perlawanan TNI bersama
warga melawan Belanda.
Sesampainya di rumah singgah pada pukul 08.00, dan di sana
sudah banyak tantara sekitar 1 batalion yang akan
mengamankan Jenderal Soedirman. Sesampainya di sana tidak
ada yang mengenali Jenderal Soedirman, karena memang disengaja demi keamanan dari perburuan mata-mata dan
tentara Belanda. Banyak tentara yang keluar-masuk di rumah
singgah ini , guna mengelabui musuh tentang keberadaan
Jenderal Soedirman. warga Piyungan juga sampai tidak
mengetahui Jenderal Soedirman itu yang mana.
Setelah sampai di sana, warga sudah menyediakan
suguhan berupa hasil bumi seperti ketela, jagung, dan lain
sebagainya untuk disuguhkan kepada Jenderal Soedirman dan tentaranya. Bahkan para pemuda Piyungan yang tidak
terorganisir pun, bersiap siaga mengamankan Jenderal
Soedirman saat berada di Piyungan. Dikarenakan situasi pada
saat itu belum aman, dan para tentara Belanda yang bermarkas
di Bedog (Maguwo) belum kembali ke markas besarnya di Kota
Baru. Maka dari itu pengamanan Jenderal Soedirman dimualai
dari ring pertama yang dijaga oleh tentara loyalisnya. Dan yang
terakhir yaitu warga Piyungan sendiri yang juga
berinisiatif untuk bersiaga menjaga Jenderal Soedirman.7
saat ia dirumah singgah ini , ia juga disambut oleh Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dan menemaninya untuk singgah
di sana. Setelah dirasa cukup aman, sekitar pukul 11.00, Jenderal
Soedirman diantarkan ke titik penjemputanya yaitu di
Prambanan dengan penjagaan ketat, dimana dari wilayah timur
sudah dijaga oleh batalyon dari Surakarta dan wilayah barat
dijaga dari Batalyon Yogyakarta.
Setelah itu Jenderal Soedirman melanjutkan perjalanan menuju
Istana Gedung Agung untuk melaporkan dari hasil
kepemimpinanya dalam menjalankan perang gerilya. Setelahmelaporkan hasil perang gerilya, ia mendapatkan jajar
kehormatan di Alun Alun Utara karena lokasi Istana Gedung
Agung dengan Alun Alun Utara tidak jauh. Pada saat itu banyak pasukan TKR yang meneteskan air mata,
membayangkan sosok panglima tertinggi, ataupun panglima
TKR-nya memberi komando pada memimpin perang gerilya dalam keadaan sakit. Walaupun dalam keadaan sakit, suaranya
masih sangat keras, semangat, dan pantang menyerah. Banyak
dari mereka membayangkan bahwa sosok Jenderal Soedirman
mempunyai fisik yang tinggi besar. Begitu melihat sosok
Jenderal Soedirman yang kurus dan pucat pasi, banyak pasukan
TKR yang meneteskan air mata.
Setelah itu Jenderal Soedirman memeriksakan kondisi fisiknya
ke Rumah Sakit Panti Rapih. Ternyata, satu paru-paru yang
semula berfungsi dengan normal kini terserang penyakit juga. Ia
kembali dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Ia tidak kembali ke rumah dinas dan tinggal di tempat dinas
Letnan Jenderal Urip Sumardjo di Kotabaru dengan
pertimbangan lebih dekat ke Rumah Sakit Panti Rapih. Di sana, ia dirawat kurang lebih empat bulan lamanya. Setelah mendapat
saran dari dokter pribadinya, ia dipindahkan ke Pesanggrahan
Wilujang, Magelang. Di sana ia dirawat kurang lebih tiga bulan
lamanya. Tepat pada tanggal 29 Januari 1950 ia dipanggil Yang
Maha Kuasa. Atas jasa jasanya yang sangat luar biasa terhadap
bangsa dan negara ini, ia dimakamkan di Taman Makam
Pahlawan Kusumanegara.
Peran Serta warga Bantul Dalam Mendukung
Perjuangan Jenderal Soedirman
warga yang riang gembira bahkan memberi sambutan
meriah seolah-olah yang datang yaitu seorang bangsawan,
hingga warga menyebut Jenderal Soedirman dengan nama
“Gusti Tentara”. Di rumah lurah Grogol, ia disiapkan untuk
mandi, akan tetapi karena kondisi sakit akhirnya ia hanya disibin
atau dilap-lap dengan air hangat. Setelah itu dipersilahkan
untuk makan bersama dengan para pejuang. Jenderal Soedirman
yaitu orang yang sangat-sangat merakyat.
Ia tidak langsung memakan hidangan yang ada dihadapannya
sebelum memastikan bahwa yang lain akan mendapat bagian
dari hidangan ini , atau nanti ia akan berkata “kita akan makan sama-sama”. Kalau hanya ia sendiri yang makan, ia tidak
akan pernah mau memakan hidangan ini . Setelah makan
bersama, lalu mengistirahatkan tubuhnya sebentar di
sana8 karena pagi harinya ia harus melanjutkan perjuangannya
memimpin perang gerilya.
Kondisi kesehatan yang semakin menurun membuatnya tidak
dapat melanjutkan gerilya dengan jalan kaki dan diputuskan
untuk melanjutkan perjalanan menggunakan tandu. Tandu
pertama dibuat di wilayah Grogol. Tandu ini terbuat dari
kursi tamu lurah Mulyono Djiworedjo. Empat orang warga
Grogol pun membantu untuk membawa tandu.
Antusiasme warga Bantul dalam mendukung Jenderal
Soedirman terlihat saat warga Grogol menyambutnya
dengan sukacita atas kedatangan seorang panglima besar ke
wilayah ini . Meskipun demikian, penyambutan ini
tetap dilaksanakan dengan kewaspadaan penuh, seperti yang dijelaskan oleh Kamrihadi dan Mayor Heru Santoso. warga
disini juga memberi sambutan dengan menyuguhkan hasil
bumi mereka untuk disuguhkan kepada Jenderal Soedirman dan
juga para tentara. Ini menandakan bahwasannya warga
Bantul mendukung penuh perang gerilya yang dilakukan oleh
Jenderal Soedirman dan juga tentaranya. Karena warga
Bantul pada waktu itu menginginkan kemerdekaan secara
penuh.9
Saat ini, terdapat monumen yang menjadi penanda perjuangan
gerilya Jenderal Soedirman. Monumen Gerilya Panglima Besar
Jenderal Soedirman berbentuk golong gilig, menandakan tekad
dan bersatunya warga dalam perjuangan gerilya bersama
Jenderal Soedirman. Sikap rela berkorban, kerja sama, setia
terhadap NKRI, disertai rasa saling menghormati dimiliki
warga setempat untuk mengusir penjajah dari wilayah
Kretek.
Penyambutan Jenderal Soedirman tidak hanya dilakukan oleh
warga Bantul saat ia sedang berangkat gerilya saja.
Penyambutan juga dilakukan oleh warga Bantul di wilayah
Piyungan tatkala ia kembali dari gerilya. Di sana, ia juga
disambut oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, staff, dan
seluruh lapisan warga bahkan para pemuda yang tidak
terorganisir oleh negara dengan siap siaga untuk mengamankan
Jenderal Soedirman dari kejaran mata-mata maupun pasukan Belanda. warga mempersiapkan hasil bumi mereka untuk
disuguhkan kepada Jenderal Soedirman dan juga para tentara.
ini yaitu bentuk kebanggaan warga Bantul
dengan perjuangan Jenderal Soedirman yang berperang demi
kemerdekaan negara Indonesia.
Soedirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa
Bodas Karangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten
Purbalingga, Jawa Tengah.1 Soedirman terlahir dari keluarga
yang sederhana bahkan bukan dari kalangan militer. Ayahnya
bernama Karsid Kartawiradji dan ibunya bernama Siyem.2
Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, orang tua Karsid Kartowiraji, dari keluarga petani yang tinggal di Desa
Tinggarwangi atau yang lebih dikenal dengan Desa Gentawangi, Kecamatan
Jatilawang. Sedangkan ibunya, Siyem, berasal dari Desa Parakan Onje yang
terletak di sebelah Selatan Desa Ajibarang. Karsid bekerja di pabrik gula
Kalibogor, lalu pindah ke Dukuh Rembang karena tidak cocok berkerja
dengan Belanda. Lihat, Sulistyo Admodjo, Mengenang Almarhum Panglima
Besar Jenderal Soedirman-Pahlawan Besar, (Jakarta: Yayasan Panglima Besar
Jenderal Soedirman,
Soedirman pernah bekerja di sebuah pabrik, bertani dan menjadi
pedagang antar kampung.
Sebelum Soedirman lahir, orang tua Soedirman mendatangi
seorang asisten wedana3 Rembang yakni Raden Tjokrosunaryo.
Kedatangan mereka bermaksud untuk mencari pekerjaan,
karena sebagai seorang pedagang waktu itu tidak banyak
menguntungkan. Dengan kemurahan hati Raden
Tjokrosunaryo, orang tua Soedirman pun diterima secara baik.
Mereka mendapat pekerjaan untuk membantu kehidupan
sehari-hari Raden Tjokrosunaryo.
Keberanian orang tua Soedirman meminta pekerjaan pada
asisten wedana Rembang ini bukan semata Raden
Tjokrosunaryo sebagai asisten wedana, namun ia juga
yaitu kakak ipar Siyem. Raden Tjokrosunaryo memiliki
tiga istri, yang salah satunya yaitu kakak kandung Siyem. Dengan kata lain, keluarga Raden Tjokrosunaryo masih
memiliki hubungan kekeluargaan dari pihak ibu.
Pada sekitar pertengahan tahun 1916, Raden Tjokrosunaryo
yang menjabat sebagai asisten wedana Rembang memasuki
masa pensiun. lalu ia memutuskan untuk tinggal dan
menetap di Cilacap.4 yang diikuti oleh kedua orang tua
Soedirman. Setelah dua tahun tinggal di Cilacap, sekitar tahun
1918 ibunya melahirkan seorang anak laki-laki yang lalu
diberi nama Muhammad Samingan.
Tidak berselang lama, ayah Soedirman meninggal dunia.
lalu Siyem pulang ke kampung halamannya dan menikah
lagi. Ia mengijinkan dua anaknya (Soedirman dan Muhammad
Samingan) diadopsi oleh Raden Tjokrosunaryo. ini
dilakukan oleh Siyem, karena pertimbangan ekonomi, khawatir
kelak tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan
anak-anaknya. Sehingga ia memasrahkan anaknya untuk hidup
bersama keluarga Raden Tjokrosunaryo.Perjalanan hidup Soedirman bisa dikatakan beruntung,
meskipun ia harus berpisah dengan orang tuanya kandungnya,
namun Soedirman hidup dalam lingkungan orang tua
angkatnya yang ekonominya berkecukupan. Alasan Raden
Tjokrosunaryo mengadopsi Soedirman karena ia tidak
dianugerahi keturunan meskipun memiliki tiga istri. Bahkan,
nama Soedirman bukan pemberian dari orang tua kandungnya
sendiri, akan tetapi nama ini diberikan oleh Raden
Tjokrosunaryo.5 Sebab itulah, sebagian ada yang menyebut
bahwa Soedirman bergelar “Raden Soedirman”6
Kehidupan pendidikan Soedirman sangat sederhana layaknya
penduduk pribumi lainnya zaman penjajahan. Proses
pendidikannya lebih banyak ditempuh di surau dengan cara
mengaji atau belajar ilmu agama. Soedirman mengenyam
pendidikan dasar melalui didikan ayah angkatnya.
Kesederhanaan hidup Soedirman tumbuh dari latar belakang dirinya yang lahir dari keluarga kurang mampu. Namun karena
kebaikan hati pamannya, ia bisa tumbuh menjadi pribadi
dengan nilai-nilai moral dan pendidikan yang baik. Sehingga
dapat membuat jiwanya ramah penuh kebijaksanaan.
Pada masa kolonial, penduduk pribumi tidak bebas melakukan
aktivitas sehari-hari. Keterbatasan ini tentu menjadi kendala
bagi warga , kecuali mereka yang diberi jabatan oleh
pemerintah kolonial, seperti Raden Tjokrosunaryo yang menjadi
asisten wedana. Karena itulah, Soedirman di bawah asuhan
Raden Tjokrosunaryo memiliki kesempatan lebih banyak dalam
mengenyam pendidikan. Selain pendidikan non formal seperti
di surau, Soedirman juga mendapat kesempatan mengenyam
pendidikan umum atau formal. Pada usia tujuh tahun,
Soedirman masuk HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Cilacap.
Setelah lulus dari HIS tahun 1930, selama dua tahun Soedirman
tidak sekolah, dan sebagai gantinya ia bekerja, bertani, dan
mengaji. Pada tahun 1932 Soedirman memasuki MULO (Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs) Wiworotomo dan tamat pada tahun
1935. Perguruan Wiworotomo yaitu perguruan yang
bertujuan menampung anak-anak pribumi yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan pelajarannya di sekolah (negeri).7 Di
MULO Wiworotomo, Soedirman mendapatkan didikan dari
guru-guru yang yaitu tokoh pergerakan anti Belanda,
seperti R. Sumoyo (tokoh Budi Utomo), dan R. Suwarjo
Tirtosupono (lulusan Akademi Militer Breda di Belanda).8
Pada masa mudanya Soedirman dikenal sebagai seorang
pemuda yang tumbuh bertanggung jawab dan senang
mengikuti berbagai kegiatan perkumpulan/organisasi.9
Soedirman selain aktif dalam organisasi kepanduan, ia juga aktif
di Hizbul Wathan, yaitu sebuah organisasi yang berada di bawah
naungan Muhammadiyah.10 Setelah lulus mengenyam pendidikan, Soedirman berkarir menjadi seorang guru di
sekolah Hollandsche Indische School (HIS), sebuah sekolah rakyat
milik Muhammadiyah pada tahun 1936.11 Tidak lama
lalu , ia diangkat menjadi kepala sekolah di instansi
ini karena kemampuan yang dimilikinya.
Pada tahun 1936, Soedirman menikah dengan Siti Alfiah, anak
perempuan dari Sastroatmodjo asal Plasen, Cilacap. Siti Alfiah
ini dikenal saat Jenderal Soedirman sedang menempuh
pendidikan di Parama Wiworo Tomo. Pernikahan Soedirman
dengan Siti Alfiah dikaruniai tujuh (7) orang anak, yaitu: Ahmad
Tidarwono, Didi Praptiastuti, Didi Suciati, Taufik Efendi, Didi
Pudjiati, Titi Wahjuti Satyaningrum, dan Muhammad Teguh
Bambang Cahyadi,
Dedikasi Soedirman dalam pendidikan dan berorganisasi terus
ditekuninya. Pada tahun 1937, Soedirman lalu menjadi
salah satu pemimpin organisasi Pemuda Muhammadiyah.
Bahkan saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942,
Soedirman masih setia menjadi guru. Kedatangan Jepang ke
Indonesia pada 8 Maret 1942. Pada awal pemerintahannya,
Jepang mengeluarkan kebijakan untuk menutup sekolah HIS
Muhammadiyah, tempat Soedirman mengajar.
Pada saat itulah, muncul rasa kecewa atas kebijakan Jepang.
Sebagai bentuk dari kekecewaan ini , lalu Soedirman
bersama teman-temannya mendirikan perkumpulan yang
dibawahi oleh sebuah koperasi dagang bernama Perbi. Inisiatif
ini muncul dari usaha yang dilakukan oleh ayah
mertuanya sebagai pedagang batik. Sementara tujuan koperasi
dagang Perbi ini sebagai lembaga yang mengakomodir berbagai
bahan makanan dan beberapa keperluan hidup sehari-hari yang
lalu dijual dengan harga murah kepada warga . Perkenalan Soedirman dalam dunia militer tidak bisa
dipisahkan dengan perjuangannya saat mendirikan koperasi
dagang. Melalui gerakan koperasi dagang ini , sikap
kejujuran dan jiwa militan Soedirman mulai terlihat, hingga
akhirnya ia ditunjuk untuk menjadi salah satu kader dalam
pelatihan Pembela Tanah Air (PETA). PETA (Giguyun)
yaitu organisasi bentukan Jepang yang didirikan pada
bulan Oktober 1943. Proses pelatihan dalam PETA, secara tidak
langsung memberi pendidikan kemiliteran bagi rakyat
Indonesia. PETA yaitu suatu lembaga yang memiliki
gerakan semi-militer bentukan Jepang yang sifatnya sukarela
dengan perekrutannya dari kalangan rakyat Indonesia.
Karir kemiliteran Soedirman dimulai saat resmi menjadi
anggota PETA yang dibentuk dan dilatih oleh Jepang. Pada
tahun 1943, , Soedirman diangkat oleh pemerintahan Jepang
menjadi anggota Syu Sangikai,13 Banyumas. Setelah selesai
mengikuti pelatihan PETA, Soedirman diangkat sebagai Daidanco (Komandan Batalyon) yang ditempatkan di Kroya,
Banyumas. Sejak Soedirman diangkat sebagai Daidanco oleh
pemerintahan Jepang, secara tidak langsung ia telah memulai
karir hidupnya dalam dunia militer. Seiring berjalannya waktu,
Soedirman dan beberapa perwira PETA lainnya dianggap
berbahaya bagi pemerintahan Jepang, mereka dipanggil untuk
berangkat ke Bogor dengan dalih akan mendapat pelatihan
PETA tingkat berikutnya. Padahal Soedirman dan beberapa
perwira yang lain dipanggil dengan maksud untuk dibunuh
oleh pemerintahan Jepang. Akan tetapi inisiatif ini tidak
terwujud, karena pada 14 Agustus 1945 pemerintahan Jepang
menyerah pada sekutu.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada 18 Agustus
1945 pihak Jepang membubarkan PETA. Soedirman lalu
mengumpulkan para perwira didikan PETA, lalu membentuk
Badan Keamanan Rakyat (BKR). Peristiwa ini membuat
kondisi negara mulai mengkhawatirkan, karena tentara sekutu
masuk ke Indonesia yang diikuti oleh Netherlands Indies Civil
Administration (NICA). Maka tidak mengherankan jika
Soedirman membentuk BKR sebagai salah satu bentuk
pertahanan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seiring perkembangannya, istilah BKR yang dibentuk oleh
Soedirman itu terus mengalami perubahan hingga empat kali.
Pertama, dari BKR (Badan Keamanan Rakyat) menjadi TKR
(Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945. Kedua, dari
TKR (Tentara Keamanan Rakyat) menjadi TKR (Tentara
Keselamatan Rakyat) pada 7 Januari 1946. Ketiga, dari TKR
(Tentara Keselamatan Rakyat) menjadi TRI (Tentara Republik
Indonesia) pada 26 Januari 1946. Keempat, dari TRI (Tentara
Republik Indonesia) menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia)
pada 3 Juni 1947.
Peristiwa yang cukup menggemparkan terjadi pada 20 Oktober
1945. Pada saat itu, pasukan tentara Inggris mendarat di
Semarang untuk melucuti senjata dan menaklukkan Jepang.
Setelah berhasil melakukan hal itu, tentara Inggris menuju ke
Magelang dengan maksud untuk membebaskan warga Belanda
yang menjadi tahanan Jepang. Ternyata setelah tentara Inggris
berhasil menuju Magelang, mereka tidak mau untuk
melangkahkan kaki keluar dari Magelang dan berusaha
bertahan di Magelang untuk menguasai daerah ini .Pertempuran tidak bisa dielakkan, saat secara diam-diam
pasukan tentara Inggris keluar dari Magelang dengan tujuan
Ambarawa.14 Di wilayah inilah TKR berusaha mengejar mereka
dan terjadilah pertempuran. Pertempuran dengan pasukan TKR
dipimpin oleh Letnan Kolonel Isdiman Suryokusumo
(komandan resimen TKR Banyumas). Ia menjadi tangan kanan
Soedirman sekaligus perwira terbaik dalam TKR. Sayangnya,
dalam pertempuran itu, Isdiman, salah satu pasukan TKR harus
gugur.
Selanjutnya pada 11 Desember 1945, Soedirman menggelar rapat
dengan komandan sektor TKR. Rapat digelar dalam rangka
mengusir tentara Inggris yang posisinya di Ambarawa. Pada 12
Desember 1945, saat dini hari, serangan dimulai yang dipimpin
oleh Soedirman. Pertempuran pun meletus di Ambarawa dan
sekitarnya. Taktik yang digunakan oleh Soedirman yaitu
“Supit Urang”,
15(strategi pengepungan rangkap) sehingga
tentara Inggris benar-benar terkepung dan mundur menuju arah ,
Semarang. Pertempuran terjadi selama empat hari empat
malam, pertempuran Ambarawa berakhir pada 15 Desember
1945 dengan kemenangan pasukan Soedirman di bawah panji
TKR.
Atas jasa perjuangan Soedirman dan beberapa tokoh hingga
memperoleh kemenangan pada pertempuran Ambarawa,
lalu diabadikan dalam bentuk Monumen Palagan
Ambarawa dan peringatan Hari Infanteri (Juang Kartika) setiap
tanggal 15 Desember tiap tahunnya.
Negara sempat mengalami kekosongan kursi panglima besar,
sehingga negara berusaha mencari panglima yang sesuai dalam
memimpin komando bagi tentara Indonesia. Situasi ditambah
dengan ketidakstabilan negara dengan adanya Agresi Militer
Belanda I. Pemerintah memutuskan untuk mengadakan
pemilihan calon panglima TKR.16
saat pemilihan itu diadakan, seluruh komandan resimen dan
komandan divisi untuk mengikuti jalannya pemilihan panglima
besar yang akan mengomando mereka. Empat kandidat ini yaitu Sri Sultan Hamengkubowono IX, Letnan Jenderal Urip
Sumaharjo, Jenderal Mayor Gusti Purbonegoro (mantan kasat
pertama dari Keraton Solo), dan yang terakhir yaitu Kolonel
Soedirman. Saat itu, Soedirman masih berpangkat rendah di
antara kandidat lain. Ia masih seorang perwira yang bertugas di
Komandan Divisi V Banyumas. Namun, secara mengejutkan ia
mampu mengalahkan 3 kandidat lainnya. Bahkan saingan
terdekatnya yaitu Jenderal Urip Sumoharjo dengan selisih satu
suara.
Keberhasilan Soedirman dalam memimpin perjuangan ini
membuat pemerintah semakin yakin dan percaya akan
kecakapan Soedirman dalam memimpin tentara. Keberhasilan
Soedirman dalam memimpin berbagai perjuangan, maka
akhirnya Soedirman dilantik menjadi panglima TKR pada
tanggal 18 Desember 1945, dari yang semula berpangkat kolonel
naik menjadi Jenderal.
lalu pemerintah mengangkat seorang Jendral sebagai
wakil Soedirman yaitu Letnan Jenderal Urip Sumaharjo.
Keputusan yang diambil oleh pemerintah sudah sangat tepat
dengan melantik Jenderal Soedirman menjadi Panglima TKR. ini berkaca dari kemampuanya dalam menjalankan
peperangan mengusir sekutu dari negara ini. Setelah dilantik
lalu ia menempati rumah dinas di Bintaran Yogyakarta
beserta keluarga selama kurang lebih 3 tahun lamanyaMeskipun Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan,
Belanda kembali menyerang. Pasukan tentara Belanda
melakukan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Mereka
melakukan penyerangan terhadap Yogyakarta sebagai ibukota
Republik Indonesia saat itu. Lalu bergerak ke seluruh wilayah
Republik Indonesia. Penyerangan yang dilakukan oleh Belanda
dalam Agresi Militer II bukan hanya fokus ke Yogyakarta, tetapi
dilakukan di beberapa titik lain, seperti daerah Pujon, Batu,
Malang, Jawa Timur. Mahardika menyebutkan bahwa
penyerangan Belanda saat itu dilaksanakan dengan strategi
yang sangat rapi, tetapi sulit meraih keberhasilan.1 ini
karena pertahanan TKR dalam menghadapi Belanda juga mempunyai taktik lebih cerdik dengan menguasai medan
pertempuran yang dijalani.
ini tetap dilakukan oleh Belanda dengan melanggar
perjanjian seruan gencatan senjata dalam perjanjian Renville.
Dengan melihat pada dua peristiwa sejarah, perjanjian Renville
dan Agresi Militer Belanda II, pemerintah Belanda selalu
menggunakan tipu daya dan kelicikan demi menguasai
Republik Indonesia. Dari berbagai perjuangan yang dilakukan
oleh sejumlah kalangan warga Indonesia, perlawanan
Jenderal Soedirman pada akhirnya menjadi sebuah bom waktu
yang terus membakar jiwa pejuang yang ada di seluruh wilayah
Indonesia.
Perjuangan di Luar Yogyakarta
Suatu hari dengan adanya tekad dan keyakinan yang mendalam,
Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk
memimpin perang gerilya yang berlangsung selama tujuh bulan.
Dalam menjalankan peperangan ini kondisi fisik
Soedirman dalam keadaan sakit. Sehingga, dalam perjalanan
perangnya ia harus ditandu untuk memimpin pasukannya.
Ada beberapa alasan perang gerilya itu dilakukan, diantaranya
ialah strategi gerilya memiliki karakteristik perang dengan
persenjataan atau kekuatan militer yang minim. Strategi yang
digunakan Jenderal Soedirman dalam melawan Belanda dengan
gerilyanya bersifat non-kooperatif. Ia tidak mau menjalin
perundingan ataupun kerja sama dengan pemerintah kolonial.
Strategi gerilya ini memiliki sifat melemahkan, bukan
menghancurkan. Selain itu dalam strategi perang gerilya
berusaha agar serangan mencakup di berbagai daerah seluasluasnya. Sementara tujuan memperluas serangan agar lawan
dapat menyebar pasukannya, sehingga kekuatan mereka
menjadi terpecah dan mudah untuk ditaklukkan.2
Berdasarkan rute perjalanan gerilya Jenderal Soedirman
berangkat dari Yogyakarta lewat jalur selatan menuju arah timur
melewati Bantul, Palbapang, Bakulan, Kretek, Grogol,
Parangtritis, Karangtengah, Panggang, Paliyan (Karangduwet),
Playen, Siyono, Wonosari, Semanu, Bedoyo, Pracimantoro, Pulo,
Karangbendo, Eromoko, Wuryantoro, Wonogiri, Jatisrono, Slogohimo, Purwantoro, Sumoroto, Ponorogo, Jetis, Sambit,
Sawo, Tumpakpelem, Nglongsor, Tugu, Trenggalek, Bendorejo,
Kalangbret, Kediri, Sukorame, Karangnongko, Pekso,
Krampyang, Bajulan, Salamjudeg, Makuto, Sawahan, Ngliman,
Gimbal, Gedangklutuk, Selayang, Serang, Jambu, Wayang,
sampai ke Banyutowo,Di Banyutowo, Jenderal Soedirman bermalam selama lima hari.
Setelah itu ia melanjutkan perjalanan kembali menuju
Warungbung, Gunungtukul, Ngindang, ke arah Sawo,
Nglongsor, Tugu, Trenggalek, Karangan, Suruwetan, Dongko,
Panggul, Sudimoro, Bodang, Nogosari, Gebyur, Pringapus,
Gebyur, Wonosidi, Kerto, Wonokerto, Gebyur, Tegalombo, Mujing, Ngambarsari, Sompok, Nawangan, Sobo. Rute ini
juga disertai pasukan pengawalan yang melewati jalur yang
berbeda. lalu pada saat berada di Sobo, Jenderal
Soedirman diminta agar kembali lagi ke Yogyakarta. Hal
ini lalu dilakukan dengan rute pulang ke Yogyakarta
melewati Tokawi, Tirtomoyo, Baturetno, Pulo, Karangnongko,
Ponjong, Karangmojo, Grogol Gati, Gading, Patuk, Piyungan,
Prambanan, Maguwo, hingga ke Yogyakarta.
Rute perjalanan perang gerilya Jenderal Soedirman dari
Yogyakarta hingga Pacitan yaitu sebuah usaha untuk
mengelabuhi tentara kolonial. Pada 1 April 1949, Jenderal
Soedirman menetap di daerah Dukuh Sobo, Desa Pakis,
Kecamatan Nawangan, Pacitan, Jawa Timur. Pada saat itu
keadaan Jenderal Soedirman sedikit mulai membaik. Ia bisa
melakukan komunikasi dengan pejabat pemerintah yang ada di
Yogyakarta dengan perantara kurir. Jenderal Soedirman berada
di Pacitan selama kurang lebih tiga bulan. Selain kronologi
ini , bukti lain bahwa Jenderal Soedirman bergerilya dari
Yogyakarta hingga Pacitan yaitu sebuah monumen Panglima
Besar Jenderal Soedirman yang berada di Pakis Baru,
Nawangan, Pacitan, Jawa Timur. Pada saat Jenderal Soedirman dalam masa perang gerilya, terjadi
Perjanjian Roem-Roijen tanggal 7 Mei 1949. Perjanjian ini
ditandatangani oleh perwakilan dari kedua negara yakni
Mohammad Roem (delegasi dari Indonesia) dan Herman van
Roijen (delegasi dari Belanda). Berdasarkan pada perjanjian ini,
pada Juni 1949 Presiden Soekarno dan wakilnya Mohammad
Hatta serta pejabat pemerintah RI yang ditahan pihak Belanda
di Pulau Bangka dikembalikan lagi ke Yogyakarta. Perjanjian
Roem-Royen yaitu salah satu dari cara perjuangan guna
mempertahankan kemerdekaannya melalui strategi diplomasi,
sehingga kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia kembali
lagi ke Yogyakarta.
Setelah presiden kembali lagi ke Yogyakarta, Jenderal
Soedirman pun diminta untuk kembali juga ke Yogyakarta,
namun ia menolak. Atas penolakan ini , pihak pemerintah
meminta bantuan Kolonel Gatot Subroto, yang pada waktu itu
menjabat sebagai Panglima Divisi XI yang memiliki hubungan
baik dengan Jenderal Soedirman. Gatot mengirim surat yang
bertujuan untuk membujuk Jenderal Soedirman agar mau
kembali lagi ke Yogyakarta. Pada 10 Juli 1949, dengan berbagai
pertimbangan dan maksud untuk menghargai Gatot, Jenderal ,Soedirman bersama pasukannya bersedia kembali lagi ke
Yogyakarta. Mulai sejak itu, Jenderal Soedirman kembali
bersama pasukannya dan menetap di Yogyakarta dan
penyakitnya kambuh kembali.
Perjuangan di Yogyakarta
Peran dan perjuangan yang dilakukan Jenderal Soedirman di
Yogyakarta tidak berlangsung begitu lama dibandingkan di
daerah lain. Yogyakarta hanya menjadi tempat persinggahan
Soedirman, karena pada waktu itu Yogyakarta yaitu
ibukota Indonesia yang menjadi incaran tantara Belanda untuk
dihancurkan.
saat Jenderal Soedirman keluar dari Yogyakarta untuk
melakukan perlawanan dengan siasat perang gerilya,
Yogyakarta berhasil dikuasai oleh pasukan Belanda pada 19
Desember 1948. Mereka menahan Presiden dan Wakil Republik
Indonesia Pihak Belanda mengira bahwa Indonesia telah
berhasil dihancurkan jika menahan presiden dan wakilnya, tapi
faktanya tidak seperti yang mereka duga. Presiden Soekarno
telah menyerahkan mandat pemerintahan kepada Sjafruddin
Prawiranegara yang menjabat sebagai Menteri Kemakmuranyang bertempat di Sumatera Barat. Selain itu juga, pasukan
tentara Indonesia masih utuh bersama panglima besarnya yakni
Jenderal Soedirman yang pada saat itu sedang melakukan
perjalanan perang gerilya. Dengan mengetahui ini ,
pihak Belanda mengerahkan pasukannya untuk mengejar
pasukan Jendeal Soedirman untuk ditangkap.
Di tengah gentingnya keadaan saat itu, Jenderal Soedirman
bersama staf dan anggotanya melakukan rapat untuk kebaikan
TNI. Lalu, T.B. Simatupang dan A.H. Nasution menemukan
strategi perongrongan (attrition strategy). Strategi ini yaitu
strategi perang yang bersifat jangka panjang yang lalu
dijabarkan dalam organisasi dan sistem wehrkreise (lingkungan
pertahanan atau pertahanan daerah). lalu pada
November 1948, sistem wehrkreise ini disahkan penggunaannya
melalui SURAT PERINTAH SIASAT No.1 yang ditandatangani
oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Untuk menghadapi Agresi Militer Belanda II, Jenderal
Soedirman mengeluarkan SURAT PERINTAH KILAT
No.1/PB/D/48. Isi surat Perintah Kilat ini yaitu bahwa
pada 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda telahmenyerang Kota Yogyakarta dan Lapangan Terbang Udara
Maguwo. Pemerintah Belanda telah membatalkan gencatan
senjata (sebagaimana tercantum dalam Pernjanjian Renville
yang ditandatangani pada 17 Januari 1948). Semua angkatan
perang telah menjalankan rencana untuk menghadapi serangan
Belanda.
Serangan 1 Maret 1949 disebabkan oleh pemberitaan Belanda
kepada dunia bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui
akses jaringannya di luar negeri, Sri Sultan Hamengkubuwono
IX langsung menyampaikan kabar itu kepada Soeharto agar
segera merencanakan serangan balik kepada Belanda untuk
memberi sinyal kepada dunia bahwa Indonesia masih berdiri.
Berita penyerangan ini disiarkan melalui RRI, lalu
ditangkap oleh BBC London, dan disampaikan kepada Dewan
Keamanan PBB. saat berita ini menyebar luas, seluruh
wartawan internasional berkumpul di Hotel Merdeka untuk
mewawancarai para pejuang. Propaganda Belanda diringkus
habis dengan pernyataan bahwa kabar burung dari Belanda itu
keluar dari para pengacau keamanan. Dengan demikian,
Indonesia mendapatkan kedaulatannya kembali pada tanggal 27
Desember 1949. Puncak dari perang gerilya ini yaitu serangan 1 Maret 1949
yang direncanakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX,
lalu dikomando oleh Jenderal Soedirman, dan
dilaksanakan oleh Letkol Suharto. Ini menjadi bukti bahwasanya
segala komando perjuangan masih berada di pundak panglima
besar Jenderal Soedirman seperti yang telah dijelaskan di awal.
Perlawanan ini membuat Belanda semakin tercengang,
karena serangan ini memang sengaja dilakukan oleh
Indonesia, dan memberi tahu bahwa bangsa Indonesia tidak
takut dan masih akan terus berdaulat. Serangan ini yaitu
tanda bahwa bangsa Indonesia masih ada dan tidak takut
dengan segala bentuk penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia
siap untuk melawan dan mengusir segala bentuk penjajahan di
negara Indonesia dan perjuangan ini tidaklah sia-sia,
karena serangan ini mampu membungkam propaganda
yang dibuat oleh Belanda. Belanda pada waktu itu mengatakan
bahwa Indonesia sudah dikuasai, dan intrik-intrik itu
yaitu gerakan yang dilakukan oleh pengacau keamanan,
bukan dari para pejuang. Akhirnya serangan ini mampu
membungkam propaganda yang dilakukan oleh Belanda.
Perjuangan ini juga menjadi tonggak perjuangan para
pahlawan di medan perang karena perjuangan di ranah diplomasi juga memberi hasil yang baik, di mana Belanda
dapat diusir kembali ke negeri asalnya,
Nilai-nilai kehidupan yang dapat kita teladani salah satunya
yaitu religiusnya, di mana ia yaitu seorang jenderal yang
sangat taat terhadap agamanya. Soedirman yaitu seorang
muslim yang sangat taat, ia juga aktif sebagai juru dakwah di
bidang keagamaan. saat ia telah menjadi Panglima
Soedirman, ia tetap aktif melakukan kegiatan pengajian di
Gedung Pesantren Kauman Yogyakarta setiap selasa malam.1
Dengan ini membuat Jenderal Soedirman sangat
memegang kuat prisnsip kehidupanya berlandaskan agama.
Mayor Heru Santoso dan Kamrihadi memberi banyak
informasi atas sisi religius Jenderal Soedirman, termasuk
mengenai kekuatannya untuk bangkit dari tempat tidur setelah memanjatkan doa yang begitu khusyuk untuk keamanan negara
Indonesia. Ini menandakan bahwasanya dengan keadaan
apapun ia terus pasrahkan segala urusan kepada Tuhannya.
Terbukti dengan penjelasan di atas, saat Belanda sudah mulai
menyerang dan menguasai lapangan Maguwo, ia tetap
memanjatkan doa untuk keselamatan bangsanya.2 Nilai ini
tentunya harus dicontoh oleh generasi-generasi penerus, yaitu
segala bentuk kehidupan ini harus dilandaskan dengan
agama. Karena dengan pasrah ini Tuhan akan memberi
pertolongan kepada kita dengan cara yang tidak di duga-duga.
Tawakal menjadi bentuk kepasrahan seorang Jenderal
Soedirman, pasrah yang bukan tanpa usaha, tetapi ia
mengerahkan segala kemampuannya, lalu memasrahkan segala
urusanya kepada Allah. Sebagai seorang muslim yang taat ia
bertawakal dalam setiap usahanya saat bergerilya. Karena,
dengan ia bertawakal, Allah akan memberi anugerah berupa
keselamatan bagi dirinya ,Mayor Heru Santoso menyebut Jenderal Soedirman sebagai
tokoh nasionalis yang religius. Ia juga membeberkan lima ajaran
dari Jenderal Soedirman. Pertama yaitu setia akidah, yaitu
pemahaman bahwa pada dasarnya manusia yaitu ciptaan
Tuhan dan untuk itu harus setia kepada Tuhan. Kedua yaitu
setia ibadah, yaitu setiap manusia harus setia menjalankan
bentuk ibadah, apapun agamanya, sebagai bentuk kesetiaan kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Ketiga yaitu setia
ilmu, bahwa anugerah tertinggi yang diberikan kepada manusia
yaitu akal budi. Akal budi ini yang memberi pembeda antara
manusia dengan hewan. Keempat ialah setia berkorban, yaitu
bagaimana usaha manusia agar ia dapat memberi manfaat
untuk manusia lain, sesuai dengan ajaran agama. Kelima yaitu
setia perjuangan, bahwa hakikat dari kehidupan yaitu sebuah
perjuangan. Kelima ajaran ini disebut sebagai “Lima Setia”.
Selain itu Jenderal Soedirman juga selalu menjaga kesucian
dirinya dengan menjaga wudhunya dimanapun tempatnya.
Bahkan saat ia sampai dirumah singgah Piyungan, ia tidak
melupakan wudhu dan menjalankan sholat sunah sebagai rasa
syukurnya karena telah diberikan keselamatan dalam perjalanan
gerilyanya. ini memberi pelajaran penting bagi
generasi sekarang walaupun sudah diberikan kemudahan
dalam menjalankan segala keinginan, hal yang harus dilakukan
yaitu bersyukur dan selalu ingat dengan Tuhan. Ini menjadi
penting susaha terhindar dari sifat sombong atau takaburPatriotisme yaitu sikap seseorang yang bersedia
mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan
kemakmuran tanah airnya.Melihat generasi muda sekarang
yang sudah tidak begitu memahami sikap patriotisme, maka
buku ini hadir untuk memberi pemahaman terkait sikap
patriotisme seorang Jenderal Soedirman yang berjuang untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan Jenderal
Soedirman begitu hebat, rela berkorban untuk mempertahankan
kemerdekaan bangsa ini dari segala ancaman bangsa asing.
Perjuangan ini ia lakukan demi negara ini dapat merdeka
seutuhnya.
Mayor teguh memberi informasi atas pengabdian Jenderal
Soedirman kepada bangsa ini, begitu pula Kamihardi. Mereka
sepakat bahwa Jenderal Soedirman tetap setia pada jalur tentara
dan ia tidak pernah memasuki ranah politik sama sekali hingga
akhir hayatnya.Sikap patriotisme Jenderal Soedirman membuatnya dicintai oleh
warga , selain itu mengajarkan para pengikutnya untuk
loyal. ini menjadi panutan utama para perwira sampai
sekarang. Jiwa patriotisme Jenderal Soedirman selalu diajarkan
dilingkungan TNI sebagai bentuk rasa hormat dan cinta kepada
Panglima Besar.
Pernyataan ini menjelaskan bahwa seorang prajurit
memiliki pendirian yang tegas serta tanggungjawab dalam
mempertahankan negara dari segala bentuk ancaman. Sebagai
ujung tombak keamanan negara, prajurit harus siap sedia
berkorban untuk bangsa dan negara, dan tidak boleh mudah
berbelok tujuan dari visi mulia dalam mempertahankan negara.
Ini yaitu nilai patriotik yang sangat luar biasa dari seorang
Jenderal Soedirman.
Pengorbanan yang ia lakukan tidak hanya berupa tenaga dan
pikiran, akan tetapi sesuatu yang sifatnya materil juga ia
korbankan. Seperti halnya saat ia sedang diburu oleh Belanda,
lalu melarikan diri dari Yogyakarta menuju Bantul ia
memerintahkan adik ipar dan ajudannya untuk mengambil seluruh perhiasan istri sang jenderal untuk perbekalan bagi
segenap pasukannya.
ini mengambarkan ketulusan pengorbanan Jenderal
Soedirman terhadap bangsa Indonesia. Hal-hal semacam ini
sepatutnya diwariskan kepada generasi penerus susaha
generasi penerus dapat meneladani sikap patriotisme Jenderal
Soedirman. Ini menjadi penting susaha generasi muda mampu
memiliki karakter yang kuat dan sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila, dan jauh dari pengaruh globalisasi yang akan
mengikis karakter bangsa Indonesia.
Aksinya dalam mempertahankan negara yaitu sebuah
perwujudan sikap patriotisme. Sikap hidup dan perilaku hidup
yang ikhlas berkorban, tidak mengenal putus asa, serta
senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara,
tabah dan tahan menanggung setiap ancaman sebagai akibat
kesetiaannya kepada tugas dalam usaha mempertahankan
kemerdekaan. “Makin dekat cita-cita kita capai, makin besar
penderitaan yang harus kita alami.” ucap Jenderal Soedirman.Sebagai seorang panglima besar, Jenderal Soedirman tentunya
memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat luar biasa. ini
dapat dilihat dari kepemimpinannya dalam memenangkan
peperangan dalam rangka mengusir penjajah dari Indonesia.
ini dapat dilihat saat ia masih menjadi seorang kolonel,
kecakapannya mampu memukul mundur musuh saat
peperangan di Ambarawa pada tahun 1945.
Soedirman mampu mengintegrasikan seluruh kekuatan
bersenjata yang ada di seluruh wilayah Indonesia, baik dari
tentara reguler seperti TRI maupun dari badan-badan
perjuangan/laskar yang ada di kalangan warga .
Soedirman juga dikenal sebagai sosok pimpinan angkatan
perang yang cerdas, cakap, tegas dan bijak.Bentuk pengabdian
dan pengorbananya ia wujudkan untuk membangun kekuatan
guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari segala
bentuk penjajahan, maka Jenderal Soedirman telah membuktikan kepemimpinannya sebagai Panglima TNI yang
dapat digunakan sebagai teladan bagi generasi sekarang dan
yang akan datang.Walaupun dalam keadaan sakit, ia mampu memimpin seluruh
pasukanya untuk menjalankan strategi. Betapa hebatnya
Jenderal Soedirman dalam memimpin bahkan saat anak
buahnya sedih melihat keadaannya yang sedang sakit, akan tetapi ia tetap menjaga semangat pengikutnya untuk terus kuat
dalam menjalankan misi perjuangan. Di tengah anak buahnya
yang sedang merasa khawatir, Jenderal Soedirman
menyampaikan ‘Yang sakit yaitu Soedirman, panglima besar tidak
pernah sakit.”
Inilah bentuk tanggung jawab dari seorang pemimpin yang
terus memberi semangat pantang menyerah kepada prajuritprajuritnya untuk senantiasa bersemangat demi tercapainya
cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka seutuhnya. Hal
ini selaras dengan pernyataan Hadari Nawawi, yang
menjelaskan bahwasannya “Kepemimpinan yaitu proses
mengarahkan, membimbing, mempengaruhi, menguasai pikiran,
perasaan atau tindakan dan tingkah laku seseorang”.
Kepemimpinan lebih cenderung pada proses dari kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat
orang lain bersedia mengikuti perintah dalam mencapai sebuah
tujuan dari lembaga atau lembaga tertentu.” ini
dikarenakan Jenderal Soedirman sebagai seorang panglima besar akan memikul segala tanggung jawabnya sebagai seorang
pemimpin kepada prajuritnya, lalu dalam keadaan negara
sudah diserang ia harus hadir ditengah-tengah prajuritnya
untuk memotivasi dan mengarahkan susaha terkomando
dengan baik. Tidak heran, kala Soekarno memintanya untuk
tinggal sejenak di Yogyakarta, ia berkata “Maaf saja saya tidak bisa,
tempat saya yang terbaik yaitu ditengah-tengah anak buah, saya akan
meneruskan perjuangan Met of zonder pemerintah APRI berjuang
terus.
Pernyataannya ini menandakan ia sangat bertanggung
jawab sebagai seorang pemimpin yang lebih memikirkan
prajuritnya daripada dirinya sendiri. Ini menandakan bahwa
Jenderal Soedirman yaitu seorang pimpinan yang sangat
bertanggung jawab kepada semua prajuritnya. Tidak heran jika
di usia yang begitu muda ia sudah dipercaya untuk menjadi
seorang panglima besar, dan mengemban tugas dan tanggung
jawab yang besar.Tugas dan tanggung jawab yang diembannya ini ia pegang kuat dan sangat amanah. Nilainilai ini harus diajarkan kepada generasi penerus agar nilai-nilai
perjuangan itu terwariskan sebagai bekal para putra bangsa
membangun negara Indonesia untuk menjadi yang lebih baik.
Related Posts:
jenderal sudirman Serangkaian perjuangan yang dilakukan Jenderal Sudirmanuntuk mempertahankan Indonesia, men… Read More