Selasa, 02 Mei 2023
atlantis
By video bobo Mei 02, 2023
Mitos tentang Peradaban Atlantis pertama kali dicetuskan oleh seorang filsafat Yunani
kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam buku Critias dan Timaeus.
Dalam buku Timaeus Plato menceritakan bahwa dihadapan selat Mainstay Haigelisi, ada
sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan
pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah
kerajaan Atlantis. saat itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan
Athena, namun di luar dugaan Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak
sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang
melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.
Dibagian lain pada buku Critias adalah adik sepupu dari Critias mengisahkan tentang
Atlantis. Critias adalah murid dari ahli filsafat Socrates, tiga kali ia menekankan
keberadaan Atlantis dalam dialog. Kisahnya berasal dari cerita lisan Joepe yaitu moyang
lelaki Critias, sedangkan Joepe juga mendengarnya dari seorang penyair Yunani bernama
Solon (639-559 SM).
Solon adalah yang paling bijaksana di antara 7 mahabijak Yunani kuno, suatu kali saat
Solon berkeliling Mesir, dari tempat pemujaan makam leluhur mengetahui legenda
Atlantis.
Garis besar kisah pada buku iniAda sebuah daratan raksasa di atas Samudera
Atlantik arah barat Laut Tengah yang sangat jauh, yang bangga dengan peradabannya
yang menakjubkan. Ia menghasilkan emas dan perak yang tak terhitung banyaknya.
Istana dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Dinding tembok
dalam istana bertahtakan emas, cemerlang dan megah. Di sana, tingkat perkembangan
peradabannya memukau orang. Memiliki pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang
sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang terbang. Kekuasaannya tidak hanya
terbatas di Eropa, bahkan jauh sampai daratan Afrika. sesudah dilanda gempa dahsyat,
tenggelamlah ia ke dasar laut beserta peradabannya, juga hilang dalam ingatan orang-
orang.
Jika dibaca dari sepenggal kisah diatas maka kita akan berpikiran bahwa Atlantis
merupakan sebuah peradaban yang sangat memukau. Dengan teknologi dan ilmu
pengetahuan pada waktu itu sudah menjadikannya sebuah bangsa yang besar dan
memiliki kehidupan yang makmur.
Tapi kemudian saya memiliki pertanyaan, apakah itu hanya sebuah cerita untuk
pengantar tidur pada jamannya Plato atau memang Plato memiliki bukti2 kuat dan
otentik bahwa atlantis itu benar-benar pernah ada dalam kehidupan di bumi ini?
Terdapat beberapa catatan tentang usaha para ilmuwan dan orang-orang dalam pencarian
untuk membuktikan bahwa Atlantis itu benar-benar pernah ada.
Menurut perhitungan versi Plato waktu tenggelamnya kerajaan Atlantis, kurang lebih
11.150 tahun yang silam. Plato pernah beberapa kali mengatakan, keadaan kerajaan
Atlantis diceritakan turun-temurun. Sama sekali bukan rekaannya sendiri. Plato bahkan
pergi ke Mesir minta petunjuk biksu dan rahib terkenal setempat waktu itu. Guru Plato
yaitu Socrates saat membicarakan tentang kerajaan Atlantis juga menekankan, karena
hal itu adalah nyata, nilainya jauh lebih kuat dibanding kisah yang direkayasa.
Jika semua yang diutarakan Plato memang benar-benar nyata, maka sejak 12.000 tahun
silam, manusia sudah menciptakan peradaban. Namun di manakah kerajaan Atlantis itu?
Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini.
Hingga abad ke-20 sejak tahun 1960-an, laut Bermuda yang terletak di bagian barat
Samudera Atlantik, di kepulauan Bahama, dan laut di sekitar kepulauan Florida pernah
berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.
Suatu hari di tahun 1968, kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan
Pulau Bahama, laut tenang dan bening bagaikan kaca yang terang, tembus pandang
hingga ke dasar laut. Beberapa penyelam dalam perjalanan kembali ke kepulauan Bimini,
tiba-tiba ada yang menjerit kaget. Di dasar laut ada sebuah jalan besar! Beberapa
penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar
membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun
dengan memakai batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan
ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Apakah
ini merupakan jalan posnya kerajaan Atlantis?
Awal tahun ‘70-an disekitar kepulauan Yasuel Samudera Atlantik, sekelompok peneliti
telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut,
atas ungkapan ilmiah, tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun
silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip
seperti yang dilukiskan Plato! Namun, apakah di sini tempat tenggelamnya kerajaan
Atlantis?
Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang
jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno mahakarya manusia. Apakah ini
dibangun oleh orang Atlantis?
Tahun 1979, ilmuwan Amerika dan Perancis dengan peranti instrumen yang sangat
canggih menemukan piramida di dasar laut “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang
piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan
permukaan samudera hanya berjarak 100 meter, lebih besar dibanding piramida Mesir.
Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang
menakjubkan mengalir di dasar lubang.
Piramida besar ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan
pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke
Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal
dari kerajaan Atlantis?
Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut
“segitiga maut”. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar
vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang),
kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan mutlak percaya terhadap apa yang
mereka temukan itu adalah Benua Atlantis seperti yang dilukiskan oleh Plato. Benarkah
itu?
Yang lebih menghebohkan lagi adalah penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos,
seorang ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang
sekarang ini dinamakan Indonesia.
Dalam penelitiannya selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah buku “Atlantis, The Lost
Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization” dia
menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung
berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang
diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di
Meksiko.
Santos menetapkan bahwa pada masa lalu Atlantis itu merupakan benua yang
membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke
arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat
puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama
Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
sedangkan menurut Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung
berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih
diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh
gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu)
itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di
antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru
di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba
dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu.
Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang
memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran
Sunda.
Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu
berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu,
memicu lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah.
Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi inimembebani samudera dan
dasarnya, memicu tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera,
terutama pada pantai benua. Tekanan ini memicu gempa. Gempa ini diperkuat lagi
oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.
Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato
telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya
datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik
yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik
terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu
tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica
veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni
pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos
dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata
rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa,
Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani.
Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Ini ada lagi yang lebih unik dari Santos dan kawan-kawan tentang usaha untuk menguak
misteri Atlantis. Sarjana Barat secara kebetulan menemukan seseorang yang mampu
mengingat kembali dirinya sebagai orang Atlantis di kehidupan sebelumnya “Inggrid
Benette”. Beberapa penggal kehidupan dan kondisi sosial dalam ingatannya masih
membekas, sebagai bahan masukan agar bisa merasakan secara gamblang peradaban
tinggi Atlantis. Dan yang terpenting adalah memberikan kita petunjuk tentang mengapa
Atlantis musnah. Di bawah ini adalah ingatan Inggrid Bennette.
Dalam kehidupan sebelumnya di Atlantis, saya adalah seorang yang berpengetahuan luas,
dipromosikan sebagai kepala energi wanita “Pelindung Kristal” (setara dengan seorang
kepala pabrik pembangkit listrik sekarang). Pusat energi ini letaknya pada sebuah ruang
luas yang bangunannya beratap lengkung. Lantainya dari pasir dan batu tembok, di
tengah-tengah kamar sebuah kristal raksasa diletakkan di atas alas dasar hitam. Fungsinya
adalah menyalurkan energi ke seluruh kota. Tugas saya melindungi kristal ini.
Pekerjaan ini tak sama dengan sistem operasional pabrik sekarang, tapi dengan menjaga
keteguhan dalam hati, memahami jiwa sendiri, merupakan bagian penting dalam
pekerjaan, ini adalah sebuah instalasi yang dikendalikan dengan jiwa. Ada seorang lelaki
yang cerdas dan pintar, ia adalah “pelindung” kami, pelindung lainnya wanita.
Rambut saya panjang berwarna emas, rambut digelung dengan benda rajutan emas, persis
seperti zaman Yunani. Rambut disanggul tinggi, dengan gulungan bengkok jatuh bergerai
di atas punggung. Setiap hari rambutku ditata oleh ahli penata rambut, ini adalah
sebagian pekerjaan rutin. Filsafat yang diyakini orang Atlantis adalah bahwa “tubuh
merupakan kuilnya jiwa”, oleh karena itu sangat memperhatikan kebersihan tubuh dan
cara berbusana, ini merupakan hal yang utama dalam kehidupan. Saya mengenakan baju
panjang tembus pandang, memakai daun pita emas yang diikat di pinggang belakang
sesudah disilang di depan dada. Lelaki berpakaian rok panjang juga rok pendek, sebagian
orang memakai topi, sebagian tidak, semuanya dibuat dengan bahan putih bening yang
sama. Seperti pakaian seragam, namun di masa itu, sama sekali tidak dibedakan,
mengenakan ini hanya menunjukkan sebuah status, melambangkan kematangan jiwa raga
kita. Ada juga yang mengenakan pakaian warna lain, namun dari bahan bening yang
sama, mereka mengenakan pakaian yang berwarna karena bertujuan untuk pengobatan.
Hubungannya sangat besar dengan ketidakseimbangan pusat energi tubuh, warna yang
spesifik memiliki fungsi pengobatan.
Berkomunikasi dengan Hewan
Saya sering pergi mendengarkan nasihat lumba-lumba. Lumba-lumba hidup di sebuah
tempat yang dibangun khusus untuk mereka. Sebuah area danau besar yang indah,
memiliki undakan raksasa yang menembus ke tengah danau. Pilar dua sisi undakan
adalah tiang yang megah, sedangkan area danau dihubungkan dengan laut melalui terusan
besar. Di siang hari lumba-lumba berenang di sana, bermain-main, sesudah malam tiba
kembali ke lautan luas. Lumba-lumba bebas berkeliaran, menandakan itu adalah tempat
yang sangat istimewa. Lumba-lumba adalah sahabat karib dan penasihat kami. Mereka
sangat pintar, dan merupakan sumber keseimbangan serta keharmonisan warga
kami. Hanya sedikit orang pergi mendengarkan bahasa intelek lumba-lumba. Saya sering
berenang bersama mereka, mengelus mereka, bermain-main dengan mereka, serta
mendengarkan nasihat mereka. Kami sering bertukar pikiran melalui telepati. Energi
mereka membuat saya penuh vitalitas sekaligus memberiku kekuatan. Saya dapat
berjalan-jalan sesuai keinginan hati, misalnya jika saya ingin pergi ke padang luas yang
jauh jaraknya, saya memejamkan mata dan memusatkan pikiran pada tempat ini.
Akan ada suatu suara “wuung” yang ringan, saya membuka mata, maka saya sudah
berada di tempat itu.
Saya paling suka bersama dengan Unicorn (kuda terbang). Mereka sama seperti kuda
makan rumput di padang belantara. Unicorn memiliki sebuah tanduk di atas kepalanya,
sama seperti ikan lumba-lumba, kami kontak lewat hubungan telepati. Secara relatif,
pikiran Unicorn sangat polos. Kami acap kali bertukar pikiran, misalnya, “Aku ingin
berlari cepat”. Unicorn akan menjawab: “Baiklah”. Kita lari bersama, rambut kami
berterbangan tertiup angin. Jiwa mereka begitu tenang, damai menimbulkan rasa hormat.
Unicorn tidak pernah melukai siapa pun, apalagi memiliki pikiran atau maksud jahat,
saat menemui tantangan sekalipun akan tetap demikian.
Saya sering kali merasa sedih pada orang zaman sekarang, sebab sama sekali tidak
percaya dengan keberadaan hewan ini, ada seorang pembina jiwa mengatakan kepadaku:
“Saat saat kondisi dunia kembali pada keseimbangan dan keharmonisan, semua orang
saling menerima, saling mencintai, saat itu Unicorn akan kembali”.
Lingkungan yang Indah Permai
Di timur laut Atlantis terdapat sebidang padang rumput yang sangat luas. Padang rumput
ini menyebarkan aroma wangi yang lembut, dan saya suka duduk bermeditasi di sana.
Aromanya begitu hangat. Kegunaan dari bunga segar sangat banyak, maka ditanam
secara luas. Misalnya, bunga yang berwarna biru dan putih ditanam bersama, ini bukan
saja sangat menggoda secara visual, sangat dibutuhkan buat efektivitas getaran. Padang
rumput ini dirawat oleh orang yang mendapat latihan khusus dan berkualitas tinggi serta
kaya pengetahuan. “Ahli ramuan” mulai merawat mereka sejak tunas, kemudian memetik
dan mengekstrak sari pati kehidupannya.
Di lingkungan kerja di Atlantis, jarang ada yang berposisi rendah. Serendah apa pun
pekerjaannya, tetap dipandang sebagai anggota penting di dalam warga kami.
warga terbiasa dengan menghormati dan memuji kemampuan orang lain. Yang
menanam buah, sayur-mayur, dan penanam jenis kacang-kacangan juga hidup di timur
laut. Sebagian besar adalah ahli botani, ahli gizi dan pakar makanan lainnya. Mereka
bertanggung jawab menyediakan makanan bagi segenap peradaban kami.
Sebagian besar orang ditetapkan sebagai pekerja fisik, misalnya tukang kebun dan tukang
bangunan. Hal itu akan membuat kondisi tubuh mereka tetap stabil. Sebagian kecil dari
mereka memiliki kecerdasan, pengaturan pekerjaan disesuaikan dengan tingkat
perkembangan kecerdasan mereka. Orang Atlantis menganggap, bahwa pekerjaan fisik
lebih bermanfaat, ini membuat emosi (perasaan) mereka mendapat keseimbangan, marah
dan suasana hati saat depresi dapat diarahkan secara konstruktif, lagi pula tubuh manusia
terlahir untuk pekerjaan fisik, hal initelah dibuktikan. Namun, selalu ada
pengecualian, misalnya lelaki yang kewanitaan atau sebaliknya, pada akhirnya, orang
pintar akan membimbing orang-orang ini bekerja yang sesuai dengan kondisi mereka.
Setiap orang akan menuju ke kecerdasan, berperan sebagai tokoh sendiri, semua ini
merupakan hal yang paling mendasar.
Seluruh kehidupan Atlantis merupakan himpunan keharmonisan yang tak terikat secara
universal bagi tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan dan sayur-mayur. Setiap orang
merupakan partikel bagiannya, setiap orang tahu, bahwa pengabdian mereka sangat
dibutuhkan. Di Atlantis tidak ada sistem keuangan, hanya ada aktivitas perdagangan.
Kami tidak pernah membawa dompet atau kunci dan sejenisnya. Jarang ada keserakahan
atau kedengkian, yang ada hanya kebulatan tekad.
Teknologi yang Tinggi
Di Atlantis ada sarana terbang yang modelnya mirip “piring terbang” (UFO), mereka
memakai medan magnet mengendalikan energi perputaran dan pendaratan, sarana
hubungan jenis ini biasa digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Perjalanan jarak pendek
hanya memakai katrol yang dapat ditumpangi dua orang. Ia memiliki sebuah
mesin yang mirip seperti kapal hidrofoil, prinsip kerja sama dengan alat terbang, juga
memakai medan energi magnet. Yang lainnya seperti makanan, komoditi rumah
tangga atau barang-barang yang berukuran besar, diangkut dengan cara yang sama
memakai alat angkut besar yang dinamakan “Subbers.”
Atlantis adalah sebuah peradaban yang sangat besar, kami berkomunikasi memakai
kapal untuk menyiarkan berita ke berbagai daerah. Sebagian besar informasi diterima
oleh “orang pintar” melalui respons batin, mereka memiliki kemampuan menerima
dengan cara yang istimewa, ini mirip dengan stasiun satelit penerima, dan sangat akurat.
Maka, pekerjaan mereka adalah duduk dan menerima informasi yang disalurkan dari
tempat lain. Sebenarnya, dalam pekerjaan, cara saya mengoperasikan kristal besar, juga
dikerjakan melalui hati.
Pengobatan yang Maju
Dalam peradaban ini, tidak ada penyakit yang parah. Metode pengobatan yang
digunakan, semuanya memakai kristal, warna, musik, wewangian dan paduan
ramuan, dengan mengembangkan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.
Pusat pengobatan adalah sebuah tempat yang banyak kamarnya. Saat penderita masuk,
sebuah warna akan dicatat di tembok. Lalu pasien diarahkan ke sebuah kamar khusus
untuk menentukan pengobatan. Di kamar pertama, asisten yang terlatih baik dan
berpengetahuan luas tentang pengobatan akan mendeteksi frekwensi getaran pada tubuh
pasien. Informasi dialihkan ke kamar lainnya. Di kamar ini, sang pasien akan
berbaring di atas granit yang datar, sedangkan asisten lainnya akan mengatur rancangan
pengobatan yang sesuai untuk pasien.
sesudah itu, kamar akan dipenuhi musik terapi, kristal khusus akan diletakkan di pasien.
Seluruh kamar penuh dengan wewangian yang lembut, terakhir akan tampak sebuah
warna. lalu, pasien diminta merenung, agar energi pengobatan meresap ke dalam
tubuh. Dengan demikian, semua indera yang ada akan sehat kembali, “warna”
menyembuhkan indera penglihatan, “aroma tumbuh-tumbuhan” menyembuhkan indera
penciuman, “musik yang merdu” menyembuhkan indera pendengaran, dan terakhir, “air
murni” menyembuhkan indera perasa. Saat meditasi selesai, harus minum air dari tabung.
Energinya sangat besar, bagaikan seberkas sinar, menyinari tubuh dari atas hingga ke
bawah. Seluruh tubuh bagai telah terpenuhi. Teknik pengobatan selalu berkaitan dengan
“medan magnet” dan “energi matahari” , sekaligus merupakan pengobatan secara fisik
dan kejiwaan.
Pendidikan Anak yang Ketat
Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan
kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan
pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat
dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-
anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran
warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah
bertema filosofis.
Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi
makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar
jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar
memegang peranan yang sangat besar, pendidik memiliki posisi terhormat dalam
warga Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh saat usia mencapai 60-120 tahun,
tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap
orang.
Di seluruh wilayah, setiap orang menerima pendidikan sejak usia 3 tahun. Mereka
menerima pendidikan di dalam gedung bertingkat. Di depan gedung sekolah terdapat
lambang pelangi, pelangi adalah lambang pusat bimbingan. Pelajaran utamanya adalah
mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang
belakang tidak mengalami tekanan. Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup
dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada
kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi
pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir
masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling
efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian.
“Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang
anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap
anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.
Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa
belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat
frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin
positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun
kesadaran terpendam. saat keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang
positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan
kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup
yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.
Dalam buku sejarah kami, kami pernah merasa tidak aman dan tenang. Karakter leluhur
kami yang tak beradab masih saja mempengaruhi warga kami waktu itu. Misalnya,
memilih binatang untuk percobaan. Namun, kaidah inteligensi dengan keras melarang
mencampuri kehidupan orang lain. Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak
boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab
atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada warga itu, rasa tidak aman adalah
demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati
orang-orang saat itu, ia adalah pelindung kami.
Saya tidak bersuami. Pada waktu itu, orang-orang tidak ada ikatan perkawinan. Jika Anda
bermaksud mengikat seseorang, maka akan melaksanakan sebuah ritual sakral pengikatan.
Pengikatan inisama sekali tidak ada efek hukum atau kekuatan yang mengikat,
hanya berdasarkan pada perasaan hati. Kehidupan seks orang Atlantis sangat dinamis
untuk mempertahankan kesehatan. Saya memutuskan hidup bersamanya berdasarkan
kesan akan seks, inteligensi dan daya tarik. Di masa itu, seks merupakan sebuah bagian
penting dalam kehidupan, seks sama pentingnya dengan makan atau tidur. Ini adalah
bagian dari “keberadaan hidup secara keseluruhan”, lagi pula tubuh kami secara fisik
tidak menampakkan usia kami, umumnya kami dapat hidup hingga berusia 200 tahun
lamanya.
Ada juga yang orang berhubungan seks dengan hewan, atau dengan setengah manusia
separuh hewan, misalnya, tubuh seekor kuda yang berkepala manusia. Di saat itu, orang
Atlantis dapat mengadakan transplantasi kawin silang, demi keharmonisan manusia dan
hewan pada alam, namun sebagian orang melupakan hal ini, titik tolak tujuan mereka
adalah seks. Orang yang sadar mengetahui bahwa ini akan memicu
ketidakseimbangan pada warga kami, orang-orang sangat cemas dan takut terhadap
hal ini, tetapi tidak ada tindakan preventif. Ini sangat besar hubungannya dengan
keyakinan kami, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, dan seseorang tidak boleh
mengganggu pertumbuhan inteligensi orang lain. Orang yang memilih hewan sebagai
lawan main, biasanya kehilangan keseimbangan pada jiwanya, dan dianggap tidak
matang.
Teknologi Maju yang Lalim
Pada masa kehidupan saya, kami tahu Atlantis telah sampai di pengujung ajal. Di antara
kami ada sebagian orang yang tahu akan hal ini, namun, adalah sebagian besar orang
sengaja mengabaikannya, atau tidak tertarik terhadap hal ini. Unsur materiil telah
kehilangan keseimbangan. Teknologi sangat maju. Misalnya, polusi udara dimurnikan,
suhu udara disesuaikan. Majunya teknologi, hingga kami mulai mengubah komposisi
udara dan air. Terakhir ini memicu kehancuran Atlantis.
Empat unsur pokok yakni: angin, air, api, dan tanah adalah yang paling fundamental dari
galaksi dan bumi kami ini, basis materiil yang paling stabil. Mencoba menyatukan atau
mengubah unsur pokok ini telah melanggar hukum alam. Ilmuwan bekerja dan hidup di
bagian barat Atlantis, mereka “mengalah” pada keserakahan, demi kekuasaan dan
kehormatan pribadi bermaksud “mengendalikan” 4 unsur pokok. Kini alam tahu, hal ini
telah memicu kehancuran total. Mereka mengira dirinya di atas orang lain, mereka
berkhayal sebagai tokoh Tuhan, ingin mengendalikan unsur pokok dasar pada bintang
ini.
Menjelang Hari Kiamat
Ramalan “kiamat” pernah beredar secara luas, namun hanya orang yang pintar dan yang
mengikuti jalan spritual yang tahu penyebabnya. Akhir dari peradaban kami hanya
disebabkan oleh segelintir manusia! Ramalan mengatakan: “Bumi akan naik, Daratan
baru akan muncul, semua orang mulai berjuang lagi. Hanya segelintir orang bernasib
mujur akan hidup, mereka akan menyebar ke segala penjuru di daratan baru, dan kisah
Atlantis akan turun-temurun, kami akan kembali ke masa lalu”. Menarik pelajaran,
Lumba-lumba pernah memberitahu kami hari “kiamat” akan tiba, kami tahu saat-saat
inisemakin dekat, sebab telah dua pekan tidak bertemu lumba-lumba. Mereka
memberitahu saat kami akan pergi ke sebuah tempat yang tenang, dan menjaga bola
kristal, lumba-lumba memberitahu kami dapat pergi dengan aman ke barat.
Banyak orang meninggalkan Atlantis mencari daratan baru. Sebagian pergi sampai ke
Mesir, ada juga menjelang “kiamat” meninggalkan Atlantis dengan kapal perahu, ke
daratan baru yang tidak terdapat di peta. Daratan-daratan ini bukan merupakan bagian
dari peradaban kami, oleh karena itu tidak dalam perlindungan kami. Banyak yang
merasa kecewa dan meninggalkan kami, aktif mencari lingkungan yang maju dan aman.
Oleh karenanya, Atlantis nyaris tidak ada pendatang. Namun, sesudah perjalanan
segelintir orang hingga ke daratan yang “aneh”, mereka kembali dengan selamat. Dan
keadaan negerinya paling tidak telah memberi tahu kami pengetahuan tentang kehidupan
di luar Atlantis.
Saya memilih tetap tinggal, memastikan kristal energi tidak mengalami kerusakan apa
pun, hingga akhir. Kristal selalu menyuplai energi ke kota. Saat beberapa pekan terakhir,
kristal ditutup oleh pelindung transparan yang dibuat dari bahan khusus. Mungkin suatu
saat nanti, ia akan ditemukan, dan digunakan sekali lagi untuk maksud baik. Saat kristal
ditemukan, ia akan membuktikan peradaban Atlantis, sekaligus menyingkap misteri lain
yang tak terungkap selama beberapa abad.
Saya masih tetap ingat hari yang terpanjang, hari terakhir, detik terakhir, bumi kandas,
gempa bumi, letusan gunung berapi, bencana kebakaran. Lempeng bumi saling
bertabrakan dengan keras. Bumi sedang mengalami kehancuran, orang-orang di dalam
atap lengkung bangunan kristal bersikap menyambut saat kedatangannya. Jiwa saya
sangat tenang. Sebuah gedung berguncang keras. Saya ditarik seseorang ke atas tembok,
kami saling berpelukan. Saya berharap bisa segera mati. Di langit asap tebal bergulung-
gulung, saya melihat lahar bumi menyembur, kobaran api merah mewarnai langit. Ruang
dalam rumah penuh dengan asap, kami sangat sesak. Lalu saya pingsan, lalu, saya
ingat roh saya terbang ke arah terang. Saya memandang ke bawah dan terlihat daratan
sedang tenggelam. Air laut bergelora, menelan segalanya. Orang-orang lari ke segala
penjuru, jika tidak ditelan air dahsyat pasti jatuh ke dalam kawah api. Saya mendengar
dengan jelas suara jeritan. Bumi seperti sebuah cerek air raksasa yang mendidih, bagai
seekor binatang buas yang kelaparan, menggigit dan menelan semua buruannya. Air laut
telah menenggelamkan daratan.
Sumber Kehancuran
Lewat ingatan Inggrid Benette, diketahui tingkat perkembangan teknologi bangsa
Atlantis, berbeda sekali dengan peradaban kita sekarang, bahkan pengalamannya akan
materiil berbeda dengan ilmu pengetahuan modern, sebaliknya mirip dengan ilmu
pengetahuan Tiongkok kuno, berkembang dengan cara yang lain. Peradaban seperti ini
jauh melampaui peradaban sekarang. Mendengarnya saja seperti membaca novel fiktif.
Bandingkan dengan masa kini, kemampuan jiwa bangsa Atlantis sangat diperhatikan,
bahkan memiliki kemampuan supernormal, mampu berkomunikasi dengan hewan,
yang diperhatikan orang sekarang adalah pintar dan berbakat, dicekoki berbagai
pengetahuan, namun mengabaikan kekuatan dalam.
Bangsa Atlantis mementingkan “inteligensi jiwa” dan “tubuh” untuk mengembangkan
seluruh potensi terpendam pada tubuh manusia, hal ini membuat peradaban mereka bisa
berkembang pesat dalam jangka panjang dan penyebab utama tidak menimbulkan gejala
ketidakseimbangan. Mengenai punahnya peradaban Atlantis, layak direnungkan orang
sekarang. Plato menggambarkan kehancuran Atlantis dalam dialognya sebagai berikut:
“Hukum yang diterapkan Dewa Laut membuat rakyat Atlantis hidup bahagia, keadilan
Dewa Laut mendapat penghormatan tinggi dari seluruh dunia, peraturan hukum diukir di
sebuah tiang tembaga oleh raja-raja masa sebelumnya, tiang tembaga diletakkan di
tengah di dalam pulau kuil Dewa Laut. Namun warga Atlantis mulai bejat, mereka
yang pernah memuja dewa palsu menjadi serakah, maunya hidup enak dan menolak kerja
dengan hidup berfoya-foya dan serba mewah.”
Plato yang acap kali sedih terhadap sifat manusia mengatakan: “Pikiran sekilas yang suci
murni perlahan kehilangan warnanya, dan diselimuti oleh gelora nafsu iblis, maka orang-
orang Atlantis yang layak menikmati keberuntungan besar itu mulai melakukan
perbuatan tak senonoh, orang yang arif dapat melihat akhlak bangsa Atlantis yang makin
hari makin merosot, kebajikan mereka yang alamiah perlahan-lahan hilang, tapi orang-
orang awam yang buta itu malah dirasuki nafsu, tak dapat membedakan benar atau salah,
masih tetap gembira, dikiranya semua atas karunia Tuhan.”
Hancurnya peradaban disebabkan oleh segelintir manusia, banyak yang tahu sebabnya,
akan tetapi sebagian besar orang mengabaikannya, maka timbul kelongsoran besar, dalam
akhlak dan tidak dapat tertolong. Maka, sejumlah kecil orang berbuat kesalahan tidak
begitu menakutkan, yang menakutkan adalah saat sebagian besar orang “mengabaikan
kesalahan”, hingga “membiarkan perubahan” lalu diam-diam “menyetujui
kejahatan”, tidak dapat membedakan benar dan salah, kabar terhadap kesalahan
memicu kesenjangan sifat manusia, moral warga merosot dahsyat,
mendorong peradaban ke jalan buntu.
Kita sebagai orang modern, dapatlah menjadikan sejarah sebagai cermin pelajaran,
merenungi kembali ilmu yang kita kembangkan, yang mengenal kehidupan hanya
berdasarkan pengenalan yang objektif terhadap dunia materi yang nyata, dan
mengabaikan hakikat kehidupan dalam jiwa. Makna kehidupan sejati, berangsur menjadi
bisnis memenuhi nafsu materiil, seperti ilmuwan Atlantis, segelintir orang tunduk pada
keserakahan, tidak mempertahankan kebenaran, demi kekuasaan dan kemuliaan,
mengembangkan teknologi yang salah, merusak lingkungan hidup. Apakah kita sedang
berbuat kesalahan yang sama? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing…..
“Ternyata tidak hanya Atlantis aja yang masih misterius, seorang Inggrid Benette
yang dapat memvisualisasikan kehidupan masa lampaunya itu juga ikut-ikutan
misterius karena tidak diketahui dari mana asalnya orang itu. sesudah mencoba
mencari dari berbagai artikel yang ada ternyata banyak yang “bisa” melihat masa lalu
peradaban atlantis dengan memakai teknik meditasi Reiki. Yaitu dengan kilas
balik melihat kehidupan masa lalunya, rata-rata visualisasi yang didapat memiliki
kesamaan dengan apa yang diceritakan oleh si Inggrid Benette. Jika ada yang
penasaran silakan cari di mesin pencari dengan memakai kata kunci “Past Life
Memories of altantis”.
”Peradaban Atlantis yang hilang” hingga kini barangkali hanyalah sebuah mitos mengingat
belum ditemukannya bukti-bukti yang kuat tentang keberadaannya. Mitos itu pertama kali
dicetuskan oleh seorang akhli filsafat terkenal dari Yunani, Plato (427 - 347 SM), dalam
bukunya ”Critias dan Timaeus”. Disebutkan oleh Plato bahwa terdapat awal peradaban yang
disebut Benua Atlantis; para penduduknya dianggap sebagai dewa, makhluk luar angkasa, atau
bangsa superior; benua itu kemudian hilang, tenggelam secara perlahan-lahan karena
serangkaian bencana, termasuk gempa bumi.
Selama lebih dari 2000 tahun, Atlantis yang hilang telah menjadi dongeng. Tetapi sejak abad
pertengahan, kisah Atlantis menjadi populer di dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat secara
diam-diam meyakini kemungkinan keberadaannya. Di antara para ilmuwan itu banyak yang
menganggap bahwa Atlantis terletak di Samudra Atlantis, bahkan ada yang menganggap
Atlantis terletak di Benua Amerika sampai Timur Tengah. Penelitian pun dilakukan di wilayah-
wilayah tersebut. Akan tetapi, kebanyakan peneliti itu tidak memberikan bukti atau telaah
yang cukup. Sebagian besar dari mereka hanya mengira-ngira. .
Hanya beberapa tempat di bumi yang keadaannya memiliki persayaratan untuk dapat diduga
sebagai Atlantis sebagaimana dilukiskan oleh Plato lebih dari 20 abad yang lalu. Akan tetapi
Samudera Atlantik tidak termasuk wilayah yang memenuhi persyaratan itu. Para peneliti masa
kini malahan menunjuk Sundaland (Indonesia bagian barat hingga ke semenanjung Malaysia
dan Thailand) sebagai Benua Atlantis yang hilang dan merupakan awal peradaban manusia
.
Fenomen Atlantis dan awal peradaban selalu merupakan impian para peneliti di dunia untuk
membuktikan dan menjadikannya penemuan ilmiah sepanjang masa. Apakah pandangan
geologi memberi petunjuk yang kuat terhadap kemungkinan ditemukannya Atlantis yang hilang
bila jawabannya negatif, apakah peluang yang dapat ditangkap dari perdebatan ada
tidaknya Atlantis dan kemungkinan lokasinya di wilayah Indonesia?.
”Mitos” atau cerita tentang benua
Atlantis yang hilang pertama kali dicetuskan
oleh seorang filosof terkenal dari Yunani
bernama Plato (427 - 347 SM) dalam
bukunya berujudl Critias and Timaeus.
Penduduknya dianggap dewa, makhluk luar
angkasa atau bangsa superior. Plato
berpendapat bahwa peradaban dari para
peghuni benua Atlantis yang hilang itulah
sebagai sumber peradaban manusia saat ini.
Hampir semua tulisan tentang
sejarah peradaban menempatkan Asia
Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’.
Kawasan yang kebudayaannya dapat subur
berkembang hanya karena imbas migrasi
manusia atau riak-riak difusi budaya dari
pusat-pusat peradaban lain, baik yang
berpusat di Mesir, Cina, maupun India.
Pemahaman tersebut mengacu pada teori
yang dianut saat ini yang mengemukakan
bahwa pada Jaman Es paling akhir yang
dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai
8.000 tahun yang lalu mempengaruhi migrasi
spesies manusia.
Jaman Es terakhir ini dikenal dengan
nama periode Younger Dryas. Pada saat ini,
manusia telah menyebar ke berbagai penjuru
bumi berkat ditemukannya cara membuat api
12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat
ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari
kampung halamannya di padang rumput
Afrika Timur ke utara, menyusuri padang
rumput purba yang kini dikenal sebagai
Afrasia.
Padang rumput purba ini
membentang dari pegunungan Kenya di
selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di
pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak
mempengaruhi mereka karena kebekuan itu
hanya terjadi di bagian paling utara bumi
sehingga iklim di daerah tropik-subtropik
justru menjadi sangat nyaman. Adanya api
membuat banyak warga manusia betah
berada di padang rumput Afrasia ini.
Maka, ketika para ilmuwan barat
berspekulasi tentang keberadaan benua
Atlantis yang hilang, mereka mengasumsikan
bahwa lokasinya terdapat di belahan bumi
Barat, di sekitar laut Atlantik, atau paling
jauh di sekitar Timur Tengah sekarang.
Penelitian untuk menemukan sisa Atlantis
pun banyak dilakukan di kawasan-kawasan
tersebut. Namun di akhir dasawarsa 1990,
kontroversi tentang letak Atlantis yang
hilang muluai muncul berkaitan dengan
pendapat dua orang peneliti, yaitu:
Oppenheimer (1999) dan Santos (2005).
KONTROVERSI DAN REKONTRUKSI
OPPENHEIMER
Kontroversi tentang sumber
peradaban dunia muncul sejak
diterbitkannya buku Eden The East (1999)
oleh Oppenheimer, Dokter ahli genetik
yang banyak mempelajari sejarah
peradaban. Ia berpendapat bahwa Paparan
Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal
bakal peradaban kuno atau dalam bahasa
agama sebagai Taman Eden. Istilah ini
diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan
Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut
Firdaus yang diserap dari kata Persia
"Pairidaeza" yang arti sebenarnya adalah
Taman.
Menurut Oppenheimer, munculnya
peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai
Indus, dan Cina justru dipicu oleh
kedatangan para migran dari Asia Tenggara.
Landasan argumennya adalah etnografi,
arkeologi, osenografi, mitologi, analisa
DNA, dan linguistik. Ia mengemukakan
bahwa di wilayah Sundaland sudah ada
peradaban yang menjadi leluhur peradaban
Timur Tengah 6.000 tahun silam. Suatu
ketika datang banjir besar yang
menyebabkan penduduk Sundaland
berimigrasi ke barat yaitu ke Asia, Jepang,
serta Pasifik. Mereka adalah leluhur
Austronesia.
Rekonstruksi Oppenheimer diawali
dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last
Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang
lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar
150 m di bawah muka air laut sekarang.
Kepulauan Indonesia bagian barat masih
bergabung dengan benua Asia menjadi
dataran luas yang dikenal sebagai Sundaland.
Namun, ketika bumi memanas, timbunan es
yang ada di kutub meleleh dan
mengakibatkan banjir besar yang melanda
dataran rendah di berbagai penjuru dunia.
Data geologi dan oseanografi
mencatat setidaknya ada tiga banjir besar
yang terjadi yaitu pada sekitar 14.000,
11.000, dan 8,000 tahun yang lalu. Banjir
besar yang terakhir bahkan menaikkan muka
air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari
yang sekarang. Wilayah yang paling parah
dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan
pantai Cina Selatan. Sundaland malah
menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara
lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera.
Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup
padat dihuni manusia prasejarah yang
berpenghidupan sebagai petani dan nelayan.
Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir
Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak
lain adalah rekaman budaya yang
mengabadikan fenomena alam dahsyat ini.
Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau
legenda seperti ini juga masih tersebar luas di
antara warga tradisional, namun belum
ada yang meneliti keterkaitan legenda
dengan fenomena Taman Eden.
BENUA ATLANTIS MENURUT
ARYSO SANTOS
Kontroversi dari Oppenheimer
seolah dikuatkan oleh pendapat Aryso
Santos. Profesor asal Brazil ini menegaskan
bahwa Atlantis yang hilang sebagaimana
cerita Plato itu adalah wilayah yang
sekarang disebut Indonesia. Pendapat itu
muncul setelah ia melakukan penelitian
selama 30 tahun yang menghasilkan buku
Atlantis, The Lost Continent Finally Found,
The Definitifve Localization of Plato’s Lost
Civilization (2005). Santos dalam bukunya
tersebut menampilkan 33 perbandingan,
seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam,
gunung berapi, dan cara bertani, yang
akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu
adalah Sundaland (Indonesia bagian Barat).
Santos menetapkan bahwa pada
masa lalu Atlantis merupakan benua yang
membentang dari bagian selatan India, Sri
Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi
Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke
arah timur. Wilayah Indonesia bagian barat
sekarang sebagai pusatnya. Di wilayah itu
terdapat puluhan gunung berapi aktif dan
dikelilingi oleh samudera yang menyatu
bernama Orientale, terdiri dari Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik.
Argumen Santos tersebut didukung
banyak arkeolog Amerika Serikat bahkan
mereka meyakini bahwa benua Atlantis
adalah sebuah pulau besar bernama
Sundaland, suatu wilayah yang kini
ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu
tenggelam diterjang banjir besar seiring
berakhirnya zaman es.
Menurut Plato, Atlantis merupakan
benua yang hilang akibat letusan gunung
berapi yang secara bersamaan meletus dan
mencairnya Lapisan Es yang pada masa itu
sebagian besar benua masih diliputi oleh
Lapisan-lapisan Es. Maka tenggelamlah
sebagian benua tersebut.
Santos berpendapat bahwa meletus-
nya berpuluh-puluh gunung berapi secara
bersamaan tergambarkan pada wilayah
Indonesia (dulu). Letusan gunung api yang
dimaksud di antaranya letusan gunung Meru
di India Selatan, letusan gunung berapi di
Sumatera yang membentuk Danau Toba, dan
letusan gunung Semeru/Mahameru di Jawa
Timur. Letusan yang paling dahsyat di
kemudian hari adalah letusan Gunung
Tambora di Sumbawa yang memecah
bagian-bagian pulau di Nusa Tenggara dan
Gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah
bagian Sumatera dan Jawa membentuk Selat
Sunda (Catatan : tulisan Santos ini perlu
diklarifikasi dan untuk sementara dikutip di
sini sebagai apa yang diketahui Santos).
Berbeda dengan Plato, Santos tidak
setuju mengenai lokasi Atlantis yang
dianggap terletak di lautan Atlantik. Ilmuwan
Brazil itu berargumentasi, bahwa letusan
berbagai gunung berapi menyebabkan
lapisan es mencair dan mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur
berasal dari abu gunung berapi tersebut
membebani samudera dan dasarnya sehingga
mengakibatkan tekanan luar biasa kepada
kulit bumi di dasar samudera, terutama pada
pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan
gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh
gunung-gunung yang meletus kemudian
secara beruntun dan menimbulkan
gelombang tsunami yang dahsyat. Santos
menamakannya Heinrich Events. Catatan :
pernyataan Santos ini disajikan seperti apa
adanya dan tidak merupakan pendapat
penulis.
Namun, ada beberapa keadaan masa
kini yang antara Plato dan Santos
sependapat yakni pertama, bahwa lokasi
benua yang tenggelam itu adalah Atlantis
dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah
Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau
panjangnya mata rantai gunung berapi di
Indonesia, diantaranya ialah: Kerinci,
Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung,
Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru,
Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari
gunung itu telah atau sedang aktif kembali.
Dalam usaha mengemukakan
pendapat, tampak Plato telah melakukan dua
kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi
bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai
letak benua Atlantis yang katanya berada di
Samudera Atlantik yang ditentang oleh
Santos. Penelitian oleh para akhli Amerika
Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak
berhasil menemukan bekas-bekas benua
yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah
semena-mena ada peribahasa yang berkata,
“Amicus Plato, sed magis amica veritas.”
Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi
saya lebih senang kepada kebenaran.”
Atlantis memang misterius, dan
karenanya menjadi salah satu tujuan utama
arkeologi di dunia. Jika Atlantis ditemukan,
maka penemuan tersebut bisa jadi akan
menjadi salah satu penemuan terbesar
sepanjang masa.
Pendekatan ilmu geologi untuk
mengungkap fenomena hilangnya Benua
Atlantis dan awal peradaban kuno, dapat
ditinjau dari dua sudut pandang yaitu
pendekatan tektonik lempeng dan kejadian
zaman es.
Wilayah Indonesia dihasilkan oleh
evolusi dan pemusatan lempeng kontinental
Eurasia, lempeng lautan Pasifik, dan
lempeng Australia Lautan Hindia (Hamilton,
1979). umumnya disepakati bahwa
pengaturan fisiografi kepulauan Indonesia
dikuasai oleh daerah paparan kontinen, letak
daerah Sundaland di barat, daerah paparan
Sahul atau Arafura di timur. Intervensi area
meliputi suatu daerah kompleks secara
geologi dari busur kepulauan, dan cekungan
laut dalam (van Bemmelen, 1949).
Kedua area paparan memberikan
beberapa persamaan dari inti-inti kontinen
yang stabil ke separuh barat dan timur
kepulauan. Area paparan Sunda
menunjukkan perkembangan bagian tenggara
di bawah permukaan air dari lempeng
kontinen Eurasia dan terdiri dari
Semenanjung Malaya, hampir seluruh
Sumatra, Jawa dan Kalimantan, Laut Jawa
dan bagian selatan Laut China Selatan.
Tatanan tektonik Indonesia bagian
Barat merupakan bagian dari sistim
kepulauan vulkanik akibat interaksi
penyusupan Lempeng Hindia- Australia di
Selatan Indonesia. Interaksi lempeng yang
berupa jalur tumbukan (subduction zone)
tersebut memanjang mulai dari kepulauan
Tanimbar sebelah barat Sumatera, Jawa
sampai ke kepulauan Nusa Tenggara di
sebelah Timur. Hasilnya adalah terbentuknya
busur gunung api (magmatic arc).
Garis merah
adalah batas wilayah yang dikenal sebagai
Sundaland
Rekontruksi tektonik lempeng
tersebut akhirnya dapat menerangkan
pelbagai gejala geologi dan memahami
pendapat Santos, yang menyakini Wilayah
Indonesia memiliki korelasi dengan
anggapan Plato yang menyatakan bahwa
tembok Atlantis terbungkus emas, perak,
perunggu, timah dan tembaga, seperti
terdapatnya mineral berharga tersebut pada
jalur magmatik di Indonesia. Hingga saat
ini, hanya beberapa tempat di dunia yang
merupakan produsen timah utama. Salah
satunya disebut Kepulauan Timah dan
Logam, bernama Tashish, Tartessos dan
nama lain yang menurut Santos (2005) tidak
lain adalah Indonesia. Jika Plato benar,
maka Atlantis sesungguhnya adalah
Indonesia.
Selain menunjukan kekayaan
sumberdaya mineral, fenomena tektonik
lempeng tersebut menyebabkan munculnya
titik-titik pusat gempa, barisan gunung api
aktif (bagian dari Ring of Fire dunia), dan
banyaknya komplek patahan (sesar) besar,
tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara
dan Indonesia bagian timur. Pemunculan
gunungapi aktif, titik-titik gempa bumi dan
kompleks patahan yang begitu besar, seperti
sesar Semangko (Great Semangko Fault
membujur dari Aceh sampai teluk
Semangko di Lampung) memperlihatkan
tingkat kerawanan yang begitu besar.
Menurut Kertapati (2006), karakteristik
gempabumi di daerah Busur Sunda pada
umumnya diikuti tsunami.
Para peneliti masa kini terutama
Santos (2005) dan sebagian peneliti
Amerika Serikat memiliki kenyakinan
bahwa gejala kerawanan bencana geologi
wilayah Indonesia adalah sesuai dengan
anggapan Plato yang menyatakan bahwa
Benua Atlantis telah hilang akibat letusan
gunung berapi yang bersamaan.
Pendekatan lain akan keberadaan
Benua Atlantis dan awal peradaban manusia
(hancurnya Taman Eden) adalah kejadian
Zaman Es. Pada zaman Es suhu atau iklim
bumi turun dahsyat dan menyebabkan
peningkatan pembentukan es di kutub dan
gletser gunung. Secara geologis, Zaman Es
sering digunakan untuk merujuk kepada
waktu lapisan Es di belahan bumi utara dan
selatan; dengan definisi ini kita masih dalam
Zaman Es. Secara awam untuk waktu 4 juta
tahun ke belakang, definisi Zaman Es
digunakan untuk merujuk kepada waktu
yang lebih dingin dengan tutupan Es yang
5luas di seluruh benua Amerika Utara dan
Eropa.
Penyebab terjadinya Zaman Es
antara lain adalah terjadinya proses
pendinginan aerosol yang sering menimpa
planet bumi. Dampak ikutan dari peristiwa
Zaman Es adalah penurunan muka laut.
Letusan gunung api dapat menerangkan
berakhirnya Zaman Es pada skala kecil dan
teori kepunahan Dinosaurus dapat
menerangkan akhir Zaman Es pada skala
besar.
Dari sudut pandang di atas, Zaman
Es terakhir dimulai sekitar 20.000 tahun yang
lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu
atau pada awal kala Holocene (akhir
Pleistocene). Proses pelelehan Es di zaman
ini berlangsung relatif lama dan beberapa
ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar
6.000 tahun yang lalu.
Pada Zaman Es, pemukaan air laut
jauh lebih rendah daripada sekarang, karena
banyak air yang tersedot karena membeku di
daerah kutub. Kala itu Laut China Selatan
kering, sehingga kepulauan Nusantara barat
tergabung dengan daratan Asia Tenggara.
Sementara itu pulau Papua juga tergabung
dengan benua Australia.
Ketika terjadi peristiwa pelelehan Es
tersebut maka terjadi penenggelaman
daratan yang luas. Oleh karena itu
gelombang migrasi manusia dari/ke
Nusantara mulai terjadi. Walaupun belum
ditemukan situs pemukiman purba, sejumlah
titik diperkirakan sempat menjadi tempat
tinggal manusia purba Indonesia sebelum
mulai menyeberang selat sempit menuju
lokasi berikutnya (Hantoro, 2001).
Tempat-tempat itu dapat dianggap
sebagai awal pemukiman pantai di
Indonesia. Seiring naiknya paras muka laut,
yang mencapai puncaknya pada zaman
Holosen ± 6.000 tahun dengan kondisi muka
laut ± 3 m lebih tinggi dari muka laut
sekarang, lokasi-lokasi tersebut juga
bergeser ke tempat yang lebih tinggi masuk
ke hulu sungai.
Berkembangnya budaya manusia,
pola berpindah, berburu dan meramu (hasil)
hutan lambat laun berubah menjadi penetap,
beternak dan berladang serta menyimpan
dan bertukar hasil dengan kelompok lain.
Kemampuan berlayar dan menguasai
navigasi samudera yang sudah lebih baik,
memungkinkan beberapa suku bangsa
Indonesia mampu menyeberangi Samudra
Hindia ke Afrika dengan memanfaatkan
pengetahuan cuaca dan astronomi. Dengan
kondisi tersebut tidak berlebihan
Oppenheimer beranggapan bahwa Taman
Eden berada di wilayah Sundaland.
Taman Eden hancur akibat air bah
yang memporak-porandakan dan mengubur
sebagian besar hutan-hutan maupun taman-
taman sebelumnya. Bahkan sebagian besar
dari permukaan bumi ini telah tenggelam
dan berada dibawah permukaan laut, Jadi
pendapat Oppenheimer memiliki kemiripan
dengan akhir Zaman Es yang
menenggelamkan sebagian daratan
Sundaland.
Pendapat Oppenheimer (1999) dan
Santos (2005) bagi sebagian para peneliti
adalah kontroversial dan mengada-ada. Tentu
kritik ini adalah hal yang wajar dalam
pengembangan ilmu untuk mendapatkan
kebenaran. Beberapa tahun ke belakang
pendapat yang paling banyak diterima adalah
seperti yang dikemukakan oleh Kircher
(1669) bahwa Atlantis itu berada di tengah-
tengah Samudera Atlantik sendiri, dan
tempat yang paling meyakinkan adalah Pulau
Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut
Tengah.
Pulau Thera yang dikenal pula
sebagai Santorini adalah pulau gunung api
yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta.
Sekira 1.500 SM, sebuah letusan gunung api
yang dahsyat mengubur dan
menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil
galian arkeologis menunjukkan bahwa
kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan
yang sangat maju di Eropa pada zaman itu,
namun demikian sampai saat ini belum ada
kesepakatan di mana lokasi Atlantis yang
sebenarnya. Setiap teori memiliki pendukung
masing-masing yang biasanya sangat fanatik
dan bahkan bisa saja Atlantis hanya ada
dalam pemikiran Plato.
Perlu diketahui pula bahwa kandidat
lokasi Atlantis bukan hanya Indonesia,
banyak kandidat lainnya antara lain :
Andalusia, Pulau Kreta, Santorini, Tanjung
Spartel, Siprus, Malta, Ponza, Sardinia, Troy,
Tantali, Antartika, Kepulauan Azores,
Karibia, Bolivia, Meksiko, Laut Hitam,
Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia,
Kuba, Finlandia, Laut Utara, Laut Azov,
Estremadura dan hasil penelitian terbaru
oleh Kimura's (2007) yaitu menemukan
beberapa monument batu dibawah perairan
Yonaguni, Jepang yang diduga sisa-sisa dari
peradaban Atlantis atau Lemuria.
. Monument Batu yang berhasil
ditemukan dibawah perairan Yonaguni, Jepang,
PELUANG PENGEMBANGAN ILMU
Adalah fakta bahwa saat ini
berkembang pendapat yang menjadikan
Indonesia sebagai wilayah yang dianggap
ahli waris Atlantis yang hilang. Untuk itu
kita harus bersyukur dan membuat kita tidak
rendah diri di dalam pergaulan internasional,
sebab Atlantis pada masanya adalah
merupakan pusat peradaban dunia yang
misterius. Bagi para arkeolog atau
oceanografer moderen, Atlantis merupakan
obyek menarik terutama soal teka-teki di
mana sebetulnya lokasi benua tersebut dan
karenanya menjadi salah satu tujuan utama
arkeologi dunia. Jika Atlantis ditemukan,
maka penemuan tersebut bisa jadi akan
menjadi salah satu penemuan terbesar
sepanjang masa.
Perkembangan fenomena ini
menyebabkan Indonesia menjadi lebih
dikenal di dunia internasional khususnya di
antara para peneliti di berbagai bidang yang
terkait. Oleh karena itu Pemerintah
Indonesia perlu menangkap peluang ini
dalam rangka meningkatkan pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Peluang ini
penting dan jangan sampai diambil oleh
pihak lain.
Kondisi ini mengingatkan pada
Sarmast (2003), seorang arsitek Amerika
keturunan Persia yang mengklaim telah
menemukan Atlantis dan menyebutkan
bahwa Atlantis dan Taman Firdaus adalah
sama. Sarmast menunjukkan bahwa Laut
Mediteranian adalah lokasi Atlantis,
tepatnya sebelah tenggara Cyprus dan
terkubur sedalam 1500 meter di dalam air.
‘Penemuan’ Sarmast, menjadikan kunjungan
wisatawan ke Cyprus melonjak tajam. Para
penyandang hibah dana penelitian Sarmast,
seperti editor, produser film, agen media dll
mendapat keuntungan besar. Mereka seolah
berkeyakinan bahwa jika Sarmast benar,
maka mereka akan terkenal; dan jika tidak,
mereka telah mengantungi uang yang sangat
besar dari para sponsor.
Santos (2005) dan seorang arkeolog
Cyprus sendiri yaitu Flurentzos dalam
artikel berjudul : ”Statement on the alleged
discovery of atlantis off Cyprus” (Santos,
2003) memang menolak penemuan Sarmast.
Mereka sependapat dengan Plato dan
menyatakan secara tegas bahwa Atlantis
berada di luar Laut Mediterania. Pernyataan
ini didukung oleh Morisseau (2003) seorang
ahli geologis Perancis yang tinggal di pulau
Cyprus. Ia menyatakan tidak berhubungan
sama sekali dengan fakta geologis. Bahkan
Morisseau menantang Sarmast untuk
melakukan debat terbuka. Namun demikian,
usaha Sarmast untuk membuktikan bahwa
Atlantis yang hilang itu terletak di Cyprus
telah menjadikan kawasan Cyprus dan
sekitarnya pada suatu waktu tertentu dibanjiri
oleh wisatawan ilmiah dan mampu
mendatangkan kapital cukup berasal dari
para sponsor dan wisatawan ilmiah tersebut.
Gambar 6. Peta Atlantis menurut Kircher (1669).
Pada peta tersebut, Atlantis terletak di tengah
Samudra Atlantik.
Demikian juga dengan letak Taman
Eden, sudah banyak yang melakukan
penelitian mulai dari agamawan sampai para
ahli sejarah maupun ahli geologi jaman
sekarang. Ada yang menduga letak Taman
Eden berada di Mesir, di Mongolia, di Turki,
di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada
yang bisa memastikannya.
Penelitian yang cukup konprehensif
berkenaan dengan Taman Eden diantaranya
dilakukan oleh Zarins (1983) dari Southwest
Missouri State University di Springfield. Ia
telah mengadakan penelitian lebih dari 10
tahun untuk mengungkapkan rahasia di mana
letaknya Taman Eden. Ia menyelidiki foto-
foto dari satelit dan berdasarkan hasil
penelitiannya ternyata Taman Eden itu telah
tenggelam dan sekarang berada di bawah
permukaan laut di teluk Persia.
Gambar 7. Taman Eden menurut Zarins (1983)
Hingga saat ini, letak dari Atlantis
dan Taman Eden masih menjadi sebuah
kontroversi, namun berdasarkan bukti
arkeologis dan beberapa teori yang
dikemukakan oleh para peneliti,
menunjukkan kemungkinan peradaban
tersebut berlokasi di Samudera Pasifik
(disekitar Indonesia sekarang). Ini menjadi
tantangan para peneliti Indonesia untuk
menggali lebih jauh, walaupun banyak juga
yang skeptis, beranggapan bahwa Atlantis
dan Taman Eden tidak pernah ada di muka
bumi ini.
Peluang pengembangan ilmu
sebenarnya telah direalisasikan oleh LIPI
melalui gelaran 'International Symposium on
The Dispersal of Austronesian and the
Ethnogeneses of the People in Indonesia
Archipelago, 28-30 Juni 2005 yang lalu.
Salah satu tema dalam gelaran tersebut
menyangkut banyak temuan penting soal
penyebaran dan asal usul manusia dalam dua
dekade terakhir. Salah satu temuan penting
dari hasil penelitian yang dipresentasikan
dalam simposium tersebut adalah hipotesa
adanya sebuah pulau yang sangat besar
terletak di Laut Cina Selatan yang kemudian
tenggelam setelah Zaman Es.
Menurut Jenny (2005), hipotesa itu
berdasarkan pada kajian ilmiah seiring
makin mutakhirnya pengetahuan tentang
8arkeologi molekuler. Salah satu pulau
penting yang tersisa dari benua Atlantis jika
memang benar, adalah Pulau Natuna, Riau.
Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk
asli Natuna diketahui memiliki gen yang
mirip dengan bangsa Austronesia tertua.
Bangsa Austronesia diyakini memiliki
tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan
tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut
dalam mitos Plato.
Ketika Zaman Es berakhir, yang
ditandai tenggelamnya 'benua Atlantis',
bangsa Austronesia menyebar ke berbagai
penjuru. Mereka lalu menciptakan
keragaman budaya dan bahasa pada
warga lokal yang disinggahinya. Dalam
tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000
tahun lampau kebudayaan ini telah
menyebar. Kini rumpun Austronesia
menempati separuh muka bumi.
Dari berbagai pendapat tersebut
dapat disimpulkan bahwa asal usul Taman
Eden (manusia modern) dan hilangnya benua
Atlantis sangat berkaitan dengan kondisi
geologi khususnya aktivitas tektonik
lempeng dan peristiwa Zaman Es.
Perubahan iklim yang drastik di dunia,
menyebabkan berubahnya muka laut,
kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Zaman Es memberi ruang yang
besar kepada perkembangan peradaban
manusia yang amat besar di Sundaland. Pada
saat itu suhu bumi amat dingin, kebanyakan
air dalam keadaan membeku dan
membentuk glasier. Oleh karena itu
kebanyakan kawasan bumi tidak sesuai untuk
didiami kecuali di kawasan khatulistiwa yang
lebih panas.
Di antara kawasan ini adalah wilayah
Sundaland dan Paparan Sahul serta kawasan
di sekitarnya yang memiliki banyak gunung
api aktif yang memberikan kesuburan tanah.
Dengan demikian keduanya memiliki tingkat
kenyamanan tinggi untuk berkembangnya
peradaban manusia.
Adapun wilayah lainnya tidak cukup
memiliki kenyamanan berkembangnya
peradaban, karena semua air dalam keadaan
membeku yang membentuk lapisan es yang
tebal. Akibatnya, muka laut turun hingga
200 kaki dari muka laut sekarang.
Wilayah Sundaland yang memiliki
iklim tropika dan memiliki kondisi tanah
subur, menunjukkan tingkat keleluasaan
untuk didiami. Kemungkinan pusat
peradaban adalah berada antara
Semenanjung Malaysia dan Kalimantan,
tepatnya sekitar Kepulauan Natuna (sekitar
laut China Selatan) atau pada Zaman Es
tersebut merupakan muara Sungai yang
sangat besar yang mengalir di Selat Malaka
menuju laut China Selatan sekarang. Anak-
anak sungai dari sungai raksasa tersebut
adalah sungai-sungai besar yang berada di
Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan
bagian Barat dan Utara.
Gambar 8. Pola aliran sungai purba di daratan
paparan tepian kontinen Sunda
(Hantoro, 2007).
Kemungkinan kedua adalah Muara
Sungai Sunda yang mengalir di Laut Jawa
menuju Samudera Hindia melalui Selat
Lombok. Hulu dan anak-anak sungai
terutama berasal dari Sumatera bagian
Selatan, seluruh Pulau Jawa, dan Pulau
kalimantan bagian Selatan.
Oleh karena itu klaim bahwa awal
peradaban manusia berada di wilayah
Mediterian patut dipertanyakan. Sebab pada
masa itu kondisi iklim sangat dingin dan
beku, lapisan salju di wilayah Eropa dapat
menjangkau hingga 1 km tebalnya dari
permukaan bumi. Keadaan di Eropa dan
Mesir pada masa itu adalah sama seperti apa
yang ada di kawasan Artik dan Antartika
sekarang ini.
Kawasan Sundaland pada saat itu
walaupun memiliki suhu paling dingin
sekalipun, tetap dapat didiami dan menjadi
kawasan bercocok tanam kerena terletak di
sekitar garisan khatulistiwa. Lebih menarik
lagi, dengan muka laut yang lebih rendah,
pada masa itu Sundaland adalah satu daratan
benua yang menyatu dengan Asia dan
terbentang membentuk kawasan yang amat
luas dan datar. jika bumi menjadi
semakin panas dan sebagian daratan
Sundaland tenggelam daerah ini tetap dapat
didiami dan tetap subur.
Di sisi lain kenyamanan iklim dan
potensi sumberdaya alam yang dimiliki
wilayah Sundaland, juga dibayangi oleh
kerawanan bencana geologi yang begitu
besar akibat pergerakan lempeng benua
seperti yang dirasakan saat ini. Kejadian
gempabumi, letusan gunung api, tanah
longsor dan tsunami yang terjadi di masa kini
juga terjadi di masa lampau dengan intensitas
yang lebih tinggi seperti letusan Gunung
Toba, Gunung Sunda dan gunung api lainnya
yang belum terungkap dalam penelitian
geologi.
Instansi yang terkait diharapkan
dapat berperan menangkap peluang dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk
mengungkap fenomena Sundaland sebagai
Benua Atlantis yang hilang maupun sebagai
Taman Eden. Paling tidak peranan instansi
tersebut dapat memperoleh temuan-temuan
awal (hipothesis) yang mampu mengundang
minat penelitian dunia untuk melakukan riset
yang komprehensif dan berkesinambungan..
Keberhasilan langkah upaya
mengungkap suatu fenomena alam akan
membuka peluang pengembangan berbagai
sektor diantaranya adalah sektor pariwisata.
Kemampuan manajemen kepariwisataan
yang baik, suatu kegiatan penelitian berskala
internasional artinya hipotesis penelitian
yang dibangun dapat mempengaruhi wilayah
dunia lainnya, akan berpotensi menjadi
kegiatan wisata ilmiah yang dapat
menghasilkan devisa negara andalan dan
basis ekonomi warga seperti yang telah
dinikmati oleh Mesir, Yunani, Cyprus dll.