Kamis, 06 Juli 2023
Home »
penjajah belanda 2
» penjajah belanda 2
penjajah belanda 2
By video bobo Juli 06, 2023
pemerintahan Holland (Staten) giliran jatuh ke
kota mereka. Maka Haarlem menuntut agar
kursi direktur yang sebelumnya dipegang oleh
kota Dordrecht kini beralih kepada mereka.
Perdebatan tentang perpanjangan oktroi yang
mulai tidak lama sesudah itu menyadarkan
pimpinan Kompeni tentang perlunya melakukan
konsesi kepada kota-kota sebagai imbalan
dukungan mereka dalam perundingan mengenai
perpanjangan itu. Haarlem dan Leiden mendapat
hadiah yang paling besar, sebab kedua kota itu
meraih sebuah kursi direktur biasa dalam Kamer
Amsterdam (yang baru dapat mereka duduki
secara nyata pada tahun 1648). Di samping kursi
direktur luar biasa dalam Kamer Amsterdam,
Dordrecht mendapat posisi serupa dalam satu
dari kedua kamer di bagian selatan daerah Holland
(Zuiderkwartier), yaitu Delft atau Rotterdam,
kemudian hanya di Kamer Rotterdam. Kota
Alkmaar boleh mengangkat satu orang direktur,
yang berkedudukan secara bergantian di Hoorn
dan Enkhuizen. Kota Gouda datang belakangan,
tetapi pada tahun 1665 akhirnya berhasil
meraih kursi direktur di Kamer Amsterdam.
Jauh sesudahnya, pada tahun 1696, Ridderschap
van Holland (para bangsawan provinsi Holland)
memperoleh dua kursi direktur dalam kamer-kamer
provinsi Holland yang kecil. Kedua kursi ini
dihitung di atas jumlah enam puluh biasa yang
sudah ada.
Jadi, menurut tata cara yang sudah lama
berlaku di pemerintahan Republik Belanda,
struktur kepengurusan VOC telah menjadi amat
rumit. Lagi pula, kamer-kamer yang kecil tidak
mematuhi aturan-aturan resmi. Di kamer-kamer
Noorderkwartier (daerah Holland Utara), yaitu Kamer
Hoorn dan Kamer Enkhuizen, direktur luar luasa
dari Alkmaar dianggap sebagai ordinaris (direktur
biasa). Direktur tersebut selalu menduduki tempat
di kamer yang kebetulan satu kursi tidak terisi.
Maka sekali-sekali di antara para direktur Kamer
Hoorn atau Kamer Enkhuizen hanya enam orang
saja yang berasal dari kota itu sendiri. Aturan
serupa berlaku sejak tahun 1696 berkenaan
dengan direktur wakil Ridderschap dalam Kamarkamar Holland Selatan (Zuiderkwartier).7
Dalam abad ke-17 tidak hanya jumlah direktur,
tetapi juga imbalan yang mereka terima dan
prosedur pemilihan mereka serta peranan para
partisipan mengalami perubahan. Di antara para
partisipan tumbuh rasa ketidakpuasan mengenai
tidak ditepatinya kewajiban-kewajiban yang telah
ditetapkan pada tahun 1602 berkaitan dengan
pembayaran dividen dan pembayaran kembali
modal awal serta tentang minimnya keterbukaan
para direktur dalam hal-hal yang menyangkut
keuangan VOC. Di samping itu, timbul dugaan
bahwa para direktur sedang mengisi kantong
mereka sendiri dari dana Kompeni. Selama
masa berlakunya oktroi periode pertama,
semua isu tersebut mencetuskan pertemgkaran
hebat. Pada waktu perpanjangan oktroi, StatenGeneraal dalam beberapa hal kecil berusaha
memperhatikan keluhan-keluhan tersebut.
Pertama, mereka mengubah sistem imbalan
yang dinikmati para direktur. Untuk seterusnya
mereka akan menerima komisi sebesar satu persen
pengeluaran untuk perlengkapan kapal dan hasil
bersih (bukan lagi hasil kotor) penjualan barang.
Hal ini menghasilkan pengurangan honorarium.
Pada tahun 1647 seluruh peraturan di atas
dihapuskan dan diganti pemberian honor tetap
sebesar 3.100 gulden setahun bagi para direktur
Kamer Amsterdam, 2.600 gulden bagi para direktur
di Zeeland, dan 1.200 gulden bagi direktur-direktur
kamer di kota-kota kecil. Selanjutnya pada tahun
1623 masa jabatan seorang direktur dibatasi
menjadi tiga tahun. Akan tetapi, peraturan
terakhir ini tidak dipatuhi; sesudahnya pun para
direktur biasanya memegang kedudukan mereka
sampai ajalnya.
Pada tahun 1623 diambil juga tindakan lain.
Melalui jalan yang rumit dan berliku-liku, para
partisipan sekadar diberi kuasa dan kesempatan melakukan pengawasan. Hal ini terlaksana dengan
jalan mengadakan tiga komisi yang terdiri atas
hoofdparticipanten, artinya penanam modal yang
memenuhi syarat yang berlaku juga bagi para
direktur, yaitu menanam modal yang minimal
6.000 gulden di Kamer Amsterdam dan Zeeland,
atau 3.000 gulden di kamer lainnya.8
Komisi pertama, yaitu para rekeningopnemers
atau akuntan, bertugas untuk bersama para
direktur memeriksa gererale rekeninge (account
umum), yang untuk pertama kalinya harus
didipresentasikan pada saat oktroi habis berlaku
(1622). Mulai tahun 1647 pertanggungjawaban
keuangan seperti ini berlangsung empat tahun
sekali, di hadapan baik para rekeningopnemers
maupun sebuah komisi yang terdiri atas anggotaanggota Staten-Generaal.
Komisi yang kedua dari lingkungan
hoofdparticipanten menjalankan fungsinya dalam
kamer masnig-masing. Mereka diminta berkumpul
setiap kali terjadi lowongan dalam jajaran para
direktur. Dengan jalan menempelkan kertas-kertas
pemberitahuan dipanggillah sejumlah partisipan
utama yang sama besar dengan jumlah direktur
yang masih berfungsi. Selanjutnya, para direktur
dan partisipan utama secara bersama merupakan
badan pemilih, yang boleh mengajukan tiga calon.
Dalam kenyataan setiap kamer mengikuti peraturan
sendiri. Di Zeeland jumlah hoofdparticipanten
yang berkumpul dua kali lipat jumlah direktur.
Sebaliknya, di Amsterdam minat hoofdparticipanten
pada sidang ini sangat kecil; biasanya hanya
beberapa dari mereka yang hadir.
Yang ketiga, dari pengurus-pengurus kamer
masing-masing ditunjuk sembilan hoofdparticipanten,
yang menghadiri sidang-sidang dan beberapa
komisi Heren Zeventien serta boleh memberi suara
penasihat di dalamhya. Empat dari mereka
berasal dari Amsterdam, dua dari Zeeland, dan
tiga dari kamer-kamer lainnya. Maka secara bergilir
salah satu dari keempat kamer kecil tersebut tidak
diwakili dalam dewan Heren Zeventien oleh seorang
hoofdparticipant. Prosedur pemilihan mereka kurang
lebih sama dengan yang berlaku dalam pemilihan
seorang direktur: Para partisipan menyusun
daftar calon yang menandung nama tiga orang,
kemudian para walikota setempat memilih salah
seorang diantara ketiga calon tersebut. Sesudah
pemilihannya, partisipan itu mengangkat sumpah
di hadapan walikota (sama seperti para direktur).
Maka mereka dinamakan Beëdigde hoofdparticipanten
(partisipan utama yang tersumpah).
Dalam tahun1749 prosedur direktur dan
hoofdparticipant sekali lagi mengalami perubahan.
Atas usul 60 orang hoofdparticipant VOC,
stadhouder Willem IV diangkat menjadi Direktur
Utama. Kepada stadhouder itu dilimpahkan hak
memilih direktur-direktur dan partisipan utama
tersumpah yang baru dari antara tiga calon
yang telah diajukan. Di luar itu, Willem IV dan
penggantinya, Willem V, tidak mencampuri soal
direksi secara langsung; dalam dewan direksi kamer
masing-masing dan dalam sidang Heren Zeventien
mereka diwakili oleh seorang representant (wakil).9
Perubahan terakhir berlangsung pada tahun
1786. Ketika itu, VOC membutuhkan suntikan
dana dari pihak pemerintah. Maka atas usul
pemerintah (Staten) provinsi Holland jumlah
anggota Kamer Amsterdam ditingkatkan dengan
enam orang. Perluasan ini didahului oleh
perselisihan politik yang sengit. Mula-mula Staten
daerah Holland ingin supaya di Zeeland pun
diangkatlah beberapa orang direktur lagi. Pada
saat itu pemerintah dikuasai oleh fraksi patriotten,
yang mengikhtiarkan reformasi tata negara, dan
direktur-direktur yang mereka angkat tentu akan
mendukung usaha membawa pembaharuan.
Dari mereka diharapkan agar mereka secara
khusus mencurahkan perhatian pada kegiatan
VOC di seberang laut. Akan tetapi, pemerintah
daerah Zeeland menentang rencana itu, sehingga
penambahan jumlah direktur tetap terbatas pada
Kamer Amsterdam. Dalam kamer itu, para direktur
yang baru diangkat ini membentuk departement tot
de Indische zaken (Departemen Urusan Hindia), juga
dikenal sebagai Vijfde Departement (Departemen
yang kelima). De daerah Holland kaum patriot,
yang anti-Oranye, sedang naik daun, maka
mula-mula pengangkatan direktur-direktur baru
itu tidak dilakukan oleh stadhouder, tetapi oleh
pemerintah se-Belanda (Staten-Generaal), setelah
pemerintah daerah Holland mengajukan caloncalon. Pada tahun 1788 situasi politik berubah lagi
dan stadhouder memperoleh kembali kedudukannya
yang lama. Maka terpulihkan pulalah hak
beliau dalam pelaksanaan pemilihan tersebut di
atas. Pada tahun 1790 akhirnya Kamer Zeeland
menyatakan setuju atas pembentukan badan
kepengurusan tersebut, yang kemudian dinamakan
Preparatoir Besogne (Komisi Persiapan)10
Masuknya tentara Perancis (Januari 1795) dan
didirikannya Bataafse Republiek mengakhiri masa
direksi lama. Menurut dekret yang dikeluarkan
oleh pemerintah Belanda (Staten-Generaal) pada
tanggal 24 December 1795, para direktur
dibebastugaskan dari fungsi mereka pada tanggal
1 Maret 1796. Pengurusan VOC diserahkan
kepada Comité tot de zaken van de Oost-Indische handel
en bezittingen (Komite untuk Urusan Perdagangan
dan Jajahan di Hindia Timur)Pimpinan pusat; tugas-tugas dan cara
kerja Heren Zeventien
Tidak lama sesudah tahun 1602 tata cara Heren
Zeventien mulai mengikuti pola yang tetap.
Selama abad ke-17 badan tersebut hanya
bersidang tiga kali setahun selama satu atau
beberapa minggu. Kadang-kadang hanya terjadi
dua kali persidangan dalam setahun; sejak 1751
ini menjadi kebiasaan. Dalam waktu selang
berlangsung rapat-rapat komisi-komisi dari
para direktur, yang mempersiapkan keputusankeputusan Heren Zeventien atau mengadakan
pengawasan terhadap pengelolaan urusan VOC
oleh kamer masing-masing. Sama seperti Heren
Zeventien sendiri, komisi-komisi ini, yang tidak
tercantum di dalam oktroi dan secara berangsur
terbentuk dalam paruhan pertama abad ke-17,
beranggotakan utusan-utusan dari dewan direktur
kamer masing-masing.11
Di bawah ini kami menyebutkan komisi-komisi
yang aktif:
1. Komisi untuk menyusun neraca tahunan.
2. Komisi untuk menghadiri dan mengawasi
berjalannya perlelangan kamer masing-masing.
3. Komisi untuk mengawasi pembukuan kamer
masing-masing.
4. Komisi yang bertugas membaca suratmenyurat dan dokumen-dokumen yang masuk
dari Asia, kemudian menyusun rancangan
surat untuk pimpinan VOC di Asia. Komisi
ini beranggotakan empat direktur dari
Amsterdam, dua dari Zeeland, dan satu dari
kamer kecil masing-masing. Mereka berkumpul
di Den Haag dan dinamakan Haags Besogne.
5. Dalam masa perang kapal-kapal VOC
diharuskan untuk berlayar melewati jalur
rahasia dan memakai sinyal-sinyal rahasia.
Kesemuanya ini disusun oleh secrete commissie
(komisi rahasia).
Waktu Heren Zeventien bersidang dan topik-topik
yang hendak dibahas dalam sidang itu sebagian
besarnya tergantung pada musim perdagangan
dan pelayaran kapal-kapal. ‘Sidang musim
gugur’ dapat dipandang sebagai sidang pertama
dalam kisaran tahunan itu. Sidang ini diadakan
sekitar akhir Agustus setelah kembalinya armada
kapal dari Asia. Di dalamnya dibahas soal-soal
berikutnya:
– Tanggal-tanggal pelelangan yang
diselenggarakan oleh keenam kamer, jumlah
barang yang hendak ditawarkan, dan
syarat-syarat yang berlaku dalam
penjualannya. Hal terakhir ini terpaksa
diselesaikan secepatnya, pada awal
persidangan, karena poster-poster
pemberitahuan lelang harus dikirim tepat
waktu ke kota-kota besar pusat perdagangan di
Eropa. Pelelangan sendiri pun sebaiknya tidak
diadakan ketika sebagian besar musim gugur
sudah berlalu, supaya kedatangan musim
dingin tidak mencegah para saudagar tidak
dapat lagi mengirim
barang-barang yang mereka beli kepada
pembelinya di dalam dan di luar negeri.
Berkali-kali terjadi bahwa sidang musim
gugur mengadakan reses selama beberapa
waktu, dengan maksud memberi kesempatan
mengadakan lelang-lelang dan supaya
para anggota komisi perlelangan dapat
melaksanakan tugas mereka. Dalam hal itu
tahap kedua sidang musim gugur berlangsung
menjelang akhir tahun; terkadang rapat Heren
Zeventien malah berlangsung terus hingga Natal
atau Tahun Baru.
– Jumlah kapal dan tenaga yang harus dikirim
ke Asia. Hal ini berkenaan dengan kapal-kapal
yang sudah sejak bulan September – jadi,
selagi persidangan masih sedang berlangsung –
sampai dengan musim panas tahun berikutnya
harus berlayar meninggalkan patria (tanah
air). Dikarenakan kamer-kamer tentunya sudah
harus memperlengkapi kapal-kapal pertama
armada ini jauh sebelum bulan September
tiba, sebenarnya sebelumnya sudah diambil
keputusan sementara tentang hal ini. Pada
musim gugur ditetapkan daftar definitif
kapal-kapal yang akan berlayar.
– Seberapa banyak barang-barang yang
hendak dikirim ke Asia. Keputusan ini
merupakan tanggapan atas eis der behoeften
(pesan kebutuhan-kebutuhan) yang telah
diterima dari Pemerintah Tinggi di Batavia.
– Seberapa banyak emas dan perak yang
hendak dikirim ke Asia, apakah dalam bentuk
uang logam atau batangan, dan seberapa
banyak jumlah uang logam tembaga. Ini
merupakan tanggapan eis der contanten (pesan
uang tunai) yang telah diterima dari Batavia.
Keputusan mengenai uang logam mulia dan
tembaga itu bersifat sementara; pada musim
semi dipertimbangkan lagi apakah perlu
menyediakan persediaan tambahan.
– Penyusunan eis van retouren, yaitu daftar
barang-barang yang oleh para direktur mau
diterima dengan armada kapal pertama
yang masuk kembali dari Asia ke tanah
air. Biasanya orang menyusun lebih dulu
daftar sementara; eis definitif baru disusun
seusai perlelangan. Selain angka-angka hasil
penjualan dari pelelangan sendiri, para
direktur memperhitungkan hasil pelelangan
di London. Jika sidang musim gugur terpaksa dihentikan untuk sementara waktu karena
haris diadakan pelelangan, keputusan akhir
dapat diambil dalam tahap kedua sidang
musim gugur itu. Tetapi, kadang kala
tugas menyusun daftar definitif diserahkan
kepada para direktur yang menghadiri
lelang bersama dengan direktur-direktur dari
Kamer Amsterdam. Sesekali hasil penjualan
rempah-rempah yang dilakukan di musim
semi menuntun untuk mencantumkan lagi
tambahan-tambahan dalam daftar akhir ini.
– Susunan Pemerintah Tinggi atau Raad
van Indië di Batavia dan kenaikan pangkat
pejabat tinggi di kantor-kantor di seberang
lautan. Hanya Heren Zeventien yang berhak
mengangkat seseorang menjadi anggota Raad
van Indië atau direktur salah satu kantor VO.C
Acap kali keputusan-keputusan di bidang ini
sekadar pengukuhan pengangkatan yang telah
terjadi sebelumnya di Asia. Selanjutnya, butir
agenda rapat ini memberi kesempatan kepada
para direktur kamer masing-masing untuk
mengajukan kenaikan pangkat salah seorang
kesayangan.
– Dalam semua persidangan Heren Zeventien,
termasuk yang di musim gugur, orang
memasukkan pula laporan mengenai situasi
keuangan di kamer masing-masing: jumlah
uang kas, saldo di bank wesel, beban hutang,
dan tagihan-tagihan. Selain itu, dalam musim
gugur (terkadang dalam musim semi) diperiksa
pula persediaan meriam.
– Pada beberapa saat selama sidang musim
gugur ini dibacakanlah bagian-bagian generale
missive yang telah dikirim oleh gubernur
jenderal dan Raad van Indië. Surat kiriman
itu berisikan tinjauan situasi VOC di Asia di
bidang perdagangan, keuangan, dan politik.
Urusan-urusan mendesak atau yang menurut
penilaian Heren Zeventien dapat saja diselesaikan
dengan segera, dirangkum dalam sebuah surat
ke Batavia. Urusan-urusan lainnya bersama
dengan sisa berkas-berkas tebal dari Asia
dirujuk ke Haags Besogne.
Persidangan pertama Heren Zeventien sesudah
sidang musim gugur diselenggarakan pada awal
musim semi, sering sudah dalam bulan Februari,
jika tidak dalam bulan Maret. Dalam rapat ini
diambil keputusan-keputusan tentang perlelangan
musim semi (di sana VOC biasanya menawarkan
rempah-rempah semata). Selain itu, perkumpulan
itu memberi para direktur peluang untuk
mengawasi berjalannya pekerjaan memperlengkapi
kapal-kapal. Pada saat itu juga ditentukan pula
jumlah definitif uang tunai yang hendak dikirim.
Selain itu, di musim semi dilakukan liquidasi en
egalisatie van de retouren en van de timmeringhe van
schepen (penyelesaian dan pengimbangan
barang-barang yang masuk dari Asia dan
pembangunan kapal-kapal). Artinya, berdasarkan
data-data yang masuk dari kamer masing-masing,
para direktur meninjau seberapa jauh orang
berpegang pada kunci pembagian yang telah
ditetapkan dalam oktroi. Berkenaan dengan
barang-barang yang masuk dari Asia, hal ini
dapat membawa akibat bahwa salah satu kamer
wajib memasok produk tertentu kepada kamer
yang lain, atau dilakukan pembayaran untuk
mencapai perbandingan yang seimbang. Dalam
hal pembangunan kapal-kapal cara-cara ini
tidak mungkin diterapkan. Akan tetapi, dalam
penetapan program pembangunan kapal baru,
beberapa bulan sesudahnya, orang memperhatikan
hasil perbandingan dan ketidakseimbangan yang
mungkin terjadi dalam pelaksanaan pembangunan
kapal-kapal hingga saat itu.
Menonjollah bahwa sering keputusan mengenai
pembayaran dividen sudah diambil dalam rapat
musim semi, sebelum berlangsung pelelangan
rempah-rempah dalam bulan Maret, dan sebelum
akhir tahun buku, yang biasanya ditutup pada
pertengahan bulan Mei atau pada akhir bulan itu.
Maka pembayaran dividen dimasukkan ke dalam
pembukuan tahun buku yang tengah berjalan.
Sesungguhnya, pada tahun 1669 atas usul Kamer
Amsterdam telah diputuskan bahwa besarnya
dividen baru akan ditetapkan setelah buku-buku
ditutup dan neraca keuangan disusun. Akan tetapi,
sekitar tahun 1684 praktek lama tersebut sudah
diberlakukan kembali.
Yang terakhir, pada rapat musim semu
orang menentukan tanggal Haags Besogne akan
berkumpul. Para direktur yang diwakilkan ke
rapat ini terpaksa menerima kenyataan bahwa
mereka akan menghabiskan waktu cukup lama di
Den Haag. Sekali-sekali Haags Besogne bersidang
selama tiga bulan. Soalnya, bersama kapal-kapal
yang datang dari Asia masuk tidak hanya generale
missive gubernur jenderal dan Raad van Indië kepada
Heren Zeventien, tetapi juga salinan surat-menyurat
antara Batavia dan kantor-kantor VOC lainnya
di Asia. Berkas-berkas korespondensi ini disusun
menurut kantor dan dibaca serta dijawab oleh
Haags Besogne bersama dengan bagian-bagian
terkait dari generale missive dan dari surat-surat yang
telah ditulis sebelumnya atas nama Heren Zeventien.
Laporan Haags Besogne, yaitu ‘Haags Verbaal’,
pada dasarnya merupakan daftar surat-surat yang
telah dibaca disertai rujukan ke konsep-missive,
yang biasanya dilampirkan pada Verbaal itu.
Sekali-sekali disisipkan catatan-catatan singkat,
terkadang juga diberikan penjelasan panjang lebar,
umpamanya bilamana para direktur di Den Haag telah mendengar penjelasan-penjelasan lisan dari
seorang pegawai VOC yang baru saja kembali
dari Asia.
Haags Besogne meninjau juga navale magt, yaitu
ikhtisar armada kapal VOC yang berada di Asia.
Oleh sebab itu, lembaga inilah yang paling tepat
untuk menginventarisasikan semua kapal milik
VOC dan berdasarkan informasi ini memberi
nasihat berkenaan dengan pembangunan
kapal-kapal baru. Dalam abad ke-18 para direktur
yang berkumpul di Den Haag memasukkan lebih
banyak lagi informasi ke dalam Verbaal, misalnya
tentang penjualan barang-barang yang berasal
dari Eropa di Asia. Di samping itu, Haags Besogne
juga dibebani tugas membahas pelbagai urusan
yang tidak diselesaikan atau tidak mau diselesaikan
oleh Heren Zeventien dalam rapat mereka. Secara
berkala para direktur di Den Haag itu diminta
juga untuk mempercepat atau mengakhiri prosesproses pengadilan yang oleh VOC diajukan ke
Hof van Holland (Pengadilan Provinsi Holland).
Terakhir, para Direktur yang berkumpul di
Den Haag memanfaatkan kesempatan itu
untuk membicarakan pelengkapan kapal-kapal
yang sedang berjalan. Jika para direktur Kamer
Amsterdam belum melakukannya dalam sidang
musim semi, biasanya mereka mengajukan usul
ke Haags Besogne agar sejumlah uang logam
mulia dikirim dengan kapal-kapal yang sedang
diperlengkapkan, sebagai kiriman muka sebelum
masuk eis der contanten dari Batavia. Dengan
perkecualian topik yang disebut terakhir ini, Haags
Besogne tidak mengambil keputusan-keputusan.
Segala persoalan yang dibahas daam sidangnya
selanjutnya diajukan kepada sidang berikutnya
Heren Zeventien untuk dipertimbangkan.
Kemudian, dalam bulan Juni, berkumpullah
komisi yang bertugas memeriksa buku-buku
dan membuat neraca tahunan. Tidak hanya
direktur yang duduk dalam komisi ini (dua dari
Amsterdam, satu dari Zeeland, dan tiga dari
kamer-kamer lainnya; satu kamer tidak diwakili dalam
komisi ini), tetapi juga para pemegang buku dari
keenam kamer tersebut menuju Oost-Indisch Huis
(Wisma Hindia Timur) yang merupakan kantor
Kamer Amsterdam. Di sini secara bergilir para
pemegang buku memberikan laporan mereka
mengenai pembukuan dan situasi keuangan tiap
kamer kepada Komisi ini. Pada akhirnya komisi
menyusun neraca umum VOC di tanah air
berdasarkan keenam neraca sekamer. Dokumendokumen yang dikumpulkan oleh komisi tersebut
mencakup antara lain daftar-daftar barangbarang yang terjual pada setiap kamer, persediaan,
hutang-piutang, uang simpanan di kas dan
saldo di bank wesel. Empat tahun sekali, yaitu
waktu menurut ketentuan oktroi VOC wajib
melakukan pertanggungjawaban keuangan di
hadapan wakil-wakil pemerintah Belanda dan para
hoofdparticipanten, setiap penutupan tahun buku,
pembukuan diperiksa sekali lagi kamer demi kamer.
Komisi yang berbasis Amsterdam ini tidak
mungkin melakukan pengawasan ketat atas
pembukuan kamer. Karenanya dari waktu ke waktu
dibentuk sebuah komisi yang bertugas melakukan
pemeriksaan dan pengawasan langsung di tempat.
Tindakan ini dicetuskan oleh kecurangan besar
yang terjadi pada Kamer Hoorn pada tahun
1670. Pemeriksaan jenis ini tidak terjadi menurut
jadwal yang pasti. Kadang kala seusai sidang
Heren Zeventien di Zeeland, beberapa direktur tetap
tinggal di Zeeland untuk melakukan tugas ini.
Sembari melakukan perjalanan kembali menuju
Amsterdam dilakukan pula pemeriksaan atas
Kamer Delft dan Kamer Rotterdam, sedangkan
dalam bulan-bulan berikutnya orang melakukan
kunjungan ke Amsterdam, Hoorn dan Enkhuizen.
Sidang ketiga Heren Zeventien berlangsung di
musim panas, biasanya pada bulan Juli atau
Agustus. Rapat ini membahas konsep surat
jawaban yang telah disusun oleh Haags Besogne.
Setelah konsepnya disetujui dan setelah dilakukan
perubahan-perubahan seperlunya atasnya,
surat jawaban tersebut dapat dikirim ke Batavia
dengan kapal-kapal pertama armada baru, yang
menuju Batavia pada bulan September. Dalam
sidang musim panas ini diambil pula keputusankeputusan sementara berkenaan dengan kapalkapal, tenaga, dan barang-barang muatan yang
hendak dikirim dalam musim berikutnya. Selain
itu, diputuskan pula seberapa banyak logam
mulia yang hendak dikirim dengan kapal-kapal
yang akan berlayar pada bulan September. Jadi,
keputusan ini pun pada dasarnya mendahului
permintaan (eis) yang baru akan diterima pada
akhir bulan Agustus dan keputusan definitif
yang baru akan dikeluarkan beberapa bulan
sesudahnya. Dalam abad ke-18 disusun eis van
retouren (permintaan barang yang harus dikirim
kembali ke Belanda) yang bersifat sementara,
dengan maksud agar pihak Batavia dapat sesegera
mungkin memulai pengumpulan barang-barang
yang harus dikirim ke tanah air. Maka keputusankeputusan yang diambil oleh Heren Zeventien pada
musim gugur karenanya lama-kelamaan bersifat
tambahan saja.
Sesekali, disebabkan kejadian istimewa, tidak
mungkin lagi mengumpulkan semua wakil kamer
untuk sidang paripurna Heren Zeventien. Dalam hal
itu dianggap cukup kalau berkumpul halve Zeventien
(separuh XVII) saja. Umpamanya, sesudah
pecahnya perang dengan Inggris dan Perancis
pada bulan Juli tahun 1672 diadakan sidang
tambahan halve Zeventien di Den Haag hanya untuk satu hari saja, ‘agar tidak terjadi kehebohan atau
halnya menarik perhatian orang’. Juga buruknya
cuaca bisa menghalangi pengadaan sidang, seperti
pada tahun 1681, ketika cuaca yang luar biasa
dingin mencegah direktur-direktur dari daerah
Holland menuju Zeeland. Untuk mengatur soal
lelang musim semi, orang terpaksa mengadakan
rapat halve Zeventien di Den Haag. Akan tetapi,
pertemuan-pertemuan semacam ini menyinggung
perasaan banyak orang. Para direktur dari
Zeeland khawatir kalau-kalau kamer yang lain
akan dengan senang hati menggunakan keadaan
darurat untuk dalam periode Zeeland menjabat
ketua memindahkan tempat persidangan ke Den
Haag. Padahal, Amsterdam keberatan terhadap
diadakannya halve Zeventien dikarenakan kumpulan
itu terdiri atas empat direktur dari Amsterdam,
dua dari Zeeland, dan empat (kadang-kadang
juga hanya dua) wakil dari kamer-kamer kecil,
sehingga Amsterdam relatif kurang terwakili. Lagi
pula, karena jumlah hadirin genap, pemberian
suara dapat saja menemukan jalan buntu. Maka
Amsterdam menghendaki agar suara diberikan per
kamer, dengan delapan suara bagi keempat direktur
dari Amsterdam dan empat bagi kedua wakil dari
Zeeland (atau lima bila Kamer Zeeland menjabat
sebagai ketua.
Dalam abad ke-18, pertumbuhan perusahaan,
seiring dengan meningkatnya beban pekerjaan
Heren Zeventien, menyebabkan para direktur
semakin tedesak waktu. Jadwal rapat semakin
terganggu, terutama disebabkan berlarutnya
perundingan di Den Haag. Kadang kala rapat
musim panas baru dapat dimulai menjelang akhir
bulan Agustus – padahal, pada saat itu kapalkapal dari Asia sudah mulai masuk. Pada waktu
itu para direktur harus mengerjakan banyak tugas
di kamer mereka sendiri, dan terpaksa menaruh
perhatian juga pada penyiapan sidang Heren
Zeventien di musim gugur. Oleh karena itu, pada
tahun 1751 diputuskan untuk membatalkan sidang
musim panas. Provisionele besluiten (keputusankeputusan sementara) tentang pelengkapan
kapal-kapal dan semacamnya, yang besar sekali
jumlahnya, diserahkan kepada Haags Besogne,
sedangkan konsep missive Haags Besogne dibahas
langsung sesudah acara pembukaan sidang musim
gugur, dengan maksud agar keterlambatan dalam
pengirimannya seminimal mungkin.
Tidak lama sesudah pertengahan abad ke-18
diterapkan perubahan lain lagi dalam organisasi
generaal bestuur (pimpinan umum). Pada tahun 1755
diputuskan untuk mengubah pola perdagangan
dan pelayaran kapal ke Cina. Untuk seterusnya,
kapal-kapal dari tanah air akan langsung menuju
Kanton. Tindakan ini mengurangi peran Batavia
sebagai pengurus arus lalu-lintas pelayaran di
Asia. Di atas itu, perdagangan dan arus lalulintas pelayaran menuju Cina dibuat tanggungan
sebuah komisi tersendiri. China commissie ini, yang
beranggotakan direktur-direktur dari semua kamer,
menentukan pelengkapan kapal-kapal yang hendak
menuju Kanton, dan menetapkan seberapa
banyak teh, porselen, dan barang-barang lain
yang harus dibeli, serta melakukan surat-menyurat
dengan para pegawai VOC di Cina. Dalam rapatrapat Heren Zeventien hubungan dagang dengan
Cina ini hanya dibahas dengan sepintas. Akan
tetapi, pola organisasi ini, yang mempercayakan
urusan perdagangan dan pelayaran kapal ke satu
wilayah kepada satu badan khusus, tidak pernah
diikuti berkaitan dengan wilayah lain, sehingga
tetap merupakan unikum dalam lingkungan
Kompeni.12
Secara keseluruhan, generaal bestuur VOC
memiliki struktur yang lemah. Sidang Heren
Zeventien tidak berkumpul secara tetap. Susunan
sidangnya berubah terus, dan Heren Zeventien
tidak memiliki staf administratif sendiri. Namun,
pelbagai penyesuaian yang berkembang dalam
praktek badan pengurus itu cukup ampuh.
Keputusan-keputusan Heren Zeventien memiliki
kekuatan mengikat pengurus semua kamer.
Disebabkan setiap kamer memiliki terwakili dalam
sidang Heren Zeventien, para direktur kamer benarbenar melaksanakan keputusan-keputusan yang
telah diambil dalam sidang tersebut. Dalam
penunjukan utusan ke sidang Heren Zeventien Kamer
Amsterdam dan Kamer Zeeland, agaknya juga
kamer lainnya, berpegang pada aturan-aturan
tertentu, yang tak tertulis. Di Amsterdam, direktur
yang merangkap walikota, dan mantan walikota
didahulukan; selanjutnya orang memperhatikan
tingkat kesenioritasan. Di Zeeland berlaku aturan
serupa. Akan tetapi, acap kali para direktur tidak
mau mempergunakan hak mereka untuk mewakili
kamer mereka dalam sidang Heren Zeventien.
Khususnya bila badan itu bersidang di Zeeland,
cukup sulit bagi wakil dari Amsterdam untuk
mengisi penuh delegasi mereka yang terdiri atas
delapan anggota. Boleh diduga bahwa banyak
direktur yang selama masa jabatan mereka
satu kali atau lebih menghadiri sidang Heren
Zeventien; yang pasti, sejumlah direktur menghadiri
sidang itu dengan teratur. Maka sebanyakbanyaknya pergantian anggota, namun terbentuk
kesinambungan.13
Pengaruh Kamer Amsterdam atas pimpinan
pusat sungguh besar. Persiapan sidang-sidang
Heren Zeventien selalu mereka tangani dengan
sungguh-sungguh dan mereka mengikuti
jalannya sidang dengan penuh perhatian. Dalam
pembicaraan agenda persidangan Heren Zeventien,
para direktur Amsterdam sudah menyusun usul-usul terinci berkenaan dengan masalahmasalah penting, seperti pelengkapan kapalkapal atau pesan barang-barang dari Asia, yang
kemudian dititipkan kepada anggota perwakilan
Amsterdam dalam sidang Heren Zeventien. Jika
selama jalannya persidangan direktur-direktur
dari kamer lain melontarkan kritik terhadap
pandangan-pandangan Amsterdam, delegasi
Amsterdam berembuk dengan rekan-rekan mereka
di Amsterdam. Tentu saja sulit untuk menempuh
siasat ini bila rapat bersidang di Middelburg
(Zeeland); dalam hal ini mereka terpaksa meminta
pendapat sejabatnya di Amsterdam secara tulisan.
Terakhir, kesinambungan dalam kepemimpinan
ditingkatkan juga oleh kegiatan para pengacara
VOC. Mereka ini – ada pengacara pertama
dan pengacara yang kedua – bertindak sebagai
sekretaris direksi, sehingga ia adalah satu-satunya
pejabat tinggi tetap yang memiliki fungsi dalam
generaal bestuur (badan pengurus umum). Pengacara
mendampingi kamer yang menjadi ketua sidang
dalam menyusun agenda sidang Heren Zeventien dan
ia menghadiri baik sidang-sidang Heren Zeventien
maupun pertemuan-pertemuan komisi-komisi
badan tersebut. Di samping itu, ia juga bertugas
di Kamer Amsterdam. Pengacara Kompeni yang
paling terkenal ialah Pieter van Dam, yang
memegang jabatan itu selama lima puluh tahun
lebih (1652-1706). Sekitar tahun 1700 ia menulis
karya penting, yaitu Beschryvinge van de Oostindische
Compagnie (Deskripsi VOC).
Kepengurusan dan pengelolaan dalam
Kamer-kamer
Selaku pengurus kamer masing-masing, para
direktur harus melaksanakan keputusan-keputusan
yang telah diambil oleh Heren Zeventien. Tidak
lama sesudah pembentukan VOC, kamer-kamer
mendapat fasilitas yang diperlukan untuk tugas
itu. Di semua kota tempat kamer berkedudukan
berdirilah Oost-Indisch Huis (Wisma Hindia Timur),
yang menjadi tempat para direktur bersidang
dan yang berfungsi sebagai tempat kerja para
penata buku, kasir, dan juru tulis. Tidak jarang
juga Wisma tersebut bahkan dijadikan gudang,
tempat menyimpan barang-barang. Selain itu,
kamer-kamer memiliki gudang-gudang dan gedung
lainnya untuk membangun dan memperlengkapi
kapal-kapal, seperti galangan kapal, bengkel layar,
bengkel tali, bengkel tukang besi, dan rumah jagal,
apotik, serta pelbagai sarana lain.14 Organisasi
intern kamer-kamer berbeda-beda. Besarnya Kamer
Zeeland empat kali lipat besarnya kamer-kamer
kecil; besarnya Kamer Amsterdam bahkan delapan
kali. Maka organisasi kedua kamer besar ini tidak
dapat tidak bersifat lain.
Di Amsterdam, para direktur biasanya
berkumpul seminggu dua kali, yaitu pada hari
Senen dan hari Kamis. Pada masa persidangan
Heren Zeventien atau saat terjadi peristiwa lain yang
mendesak, disisipkan rapat-rapat luar biasa (extraordinaris). Akan tetapi, banyak urusan diselesaikan
dalam komisi-komisi. Mula-mula para direktur
mengikuti kebiasaan yang telah bertumbuh pada
masa pra-kompeni: setiap kali ada kapal yang
harus diperlengkapi mereka membentuk komisi
tersendiri. Direktur-direktur ditunjuk untuk
selama satu musim atau satu tahun duduk dalam
komisi pembangunan kapal, pengadaan bekal,
amunisi, pembukuan, atau penjualan barang.
Sekitar pertengahan abad ke-17 terbentuk empat
komisi tetap, yang dalam abad ke-18 dinamakan
‘departemen’. Saat diangkat seorang direktur ia
langsung ditempatkan dalam salah satu komisi,
dan biasanya mereka tetap duduk dalam komisi
itu selama masa jabatannya.15
Medan kegiatan komisi-komisi ini mencakup
pelbagai bagian administratip dan unit
perusahaan. Pembagian tugas adalah sebagai
berikut:
1. Commissie voor de rekenkamer (Komisi untuk
Badan Pengawas Keuangan) bertugas
mengawasi kepala pembukuan, liquidatiekantoor,
soldijkantoor, dan klerkenkantoor. Kepala
pembukuan menyusun buku kas induk dan
jurnal (buku untuk mencatat transaksi) kamernya dan membukukan penyerahan saham serta
pembayaran dividen-dividen. Liquidatiekantoor
membuat pembukuan transaksi-transaksi
dengan para pedagang. Soldijkantoor
bertanggung jawab atas administrasi personel
dan bertugas menyimpan buku-buku
pembayaran gaji awak kapal. Klerkenkantoor
merupakan sekretariat.
2. Commissie van de ontvang (acap kali bersama
dengan rekenkamer) harus melakukan
pengawasan terhadap sang kasir. Komisi ini
bertugas juga melakukan pembelian perak
dan emas yang hendak dikirim ke Asia. Kasir
bersama asisten-asistennya bekerja dalam
ontvangkamer (‘ruang penerimaan’).
3. Para heeren van ’t pakhuis (tuan-tuan gudang),
atau, menurut nama lebih anggun yang
dipakai di kemudian hari, departement van de
commercie (departemen perdagangan) mengawasi
para penata buku di kantor pergudangan.
Di sana orang mencatat barang yang dibeli,
bagiannya yang dikirim ke Asia, barang masuk
dari Asia, dan harga penjualan yang diraih di
lelang-lelang. Di samping itu, para direktur
yang duduk dalam komisi ini mengemban
tugas lain lagi: mereka harus memeriksa para
pendeta yang ingin dikirim ke Asia4. Commissie van de equipage bertugas mengawasi
segala sesuatu yang berkaitan dengan
pembangunan dan pelengkapan kapal-kapal.
Direktur-direktur ini mengawasi galangan
kapal; mereka hadir saat kapal-kapal berangkat
dari labuhan lepas Texel atau tiba di sana;
dan mereka harus merekrut awak kapel serta
serdadu baru.
Di Kamer Zeeland para direktur membentuk tiga
komisi, yaitu komisi thesaurie (perbendaharaan)
comissie koopmanschappen (perdagangan), dan
komisi equipage (pelengkapan kapal).16 Dalam
Kamer itu juga seorang direktur baru segera diberi
kedudukan dalam salah satu komisi. Akan tetapi,
ternyata orang paling suka masuk komisi equipage
dan komisi koopmanschappen, sebab kedudukan itu
membuka peluang lebih besar untuk memberikan
tempat kerja kepada sanak-saudara atau handaitaulan. Oleh sebab itu, sering terjadi pertukaran
tempat. Bilamana terjadi lowongan dalam
equipage maka acap kali seorang anggota komisi
perbendaharaan berpindah ke sana, sedangkan
direktur yang baru diangkat ditempatkan dalam
komisi tersebut pertama. Pembagian administratif
di Zeeland sama seperti di Amsterdam. Hanya
saja, dibandingkan dengan Amsterdam, jumlah
pegawai di kantor-kantor Zeeland jauh kurang. Di
Zeeland pun terdapat seorang kepala pembukuan,
kantor kasir, kantor perdagangan, dan soldijkantoor.
Selain itu, sama seperti di Amsterdam ada penata
buku dan juru tulis (klerken) di gelanggang kapal.
Kantor yang bernama buitenkantoor adalah kantor
pergudangan.
Organisasi VOC di Asia
Dalam oktroi tahun 1602, organisasi VOC di
negeri Belanda digambarkan dengan jelas dan
rinci. Sebaliknya, pasal-pasal mengenai struktur
kepemerintahan di Asia samar-samar saja. Oktroi
(piagam) tersebut memberi VOC wewenang
luas di seberang laut, tegasnya di wilayah yang
terbentang dari Tanjung Harapan sampai Selat
Magelan Kompeni boleh membangun bentengbenteng, mengerahkan serdadu, mengikat
perjanjian dengan raja-raja, dan mengangkat
hakim-hakim. Namun, wewenang ini tidak
digambarkan dengan lebih rinci; agaknya pada
masa itu orang belum menyadari besarnya
perluasan kekuasaan VOC dalam tahun-tahun
mendatang.
Armada-armada kapal pertama yang
diluncurkan oleh VOC sesudah tahun 1602
membawa persenjataan yang jauh lebih berat
daripada yang dimiliki oleh kapal-kapal prakompeni yang telah berangkat sebelumnya.
Tujuannya bukan untuk merebut wilayah tertentu
di Asia, melainkan untuk menyerang orang
Portugis dan menimbulkan kerusakan sebesarbesarnya di jajahan mereka. Mula-mula Kompeni
mengikuti kebiasaan yang berlaku sebelum tahun
1602. Laksamana armada yang keluar memiliki
kuasa tertinggi di Asia dan kepadanya semua
pegawai Kompeni harus patuh, apakah mereka
sedang berada di kapal-kapalnya atau di salah satu
kantor dagang. Tetapi sesudah beberapa tahun
ternyata praktek ini membawa dampak negatif.
Lebih baik mengikuti pola yang dipakai di jajahan
Portugis, yaitu adanya penguasa pusat di satu
tempat yang tetap.
Pada tahun 1609 direksi VOC memutuskan
untuk menyerahkan kekuasaan sentral di
Asia kepada seorang gubernur jenderal, yang
akan didampingi oleh dewan penasihat yang
bernama Raad van Indië.
17 Setelah berlangsung
pertempuran hebat, pada 1619 didirikanlah
Batavia di tempat pelabuhan orang Jawa yang
bernama Jakatra. Kota Batavia menjadi residensi
Hogere Regering (sebutan gubernur jenderal bersama
Raad van Indië), dan merupakan pusat administratif
dan titik temu berbagai jalur pelayaran Kompeni.
Surat-menyurat Hoge Regering dengan kantorkantor cabang VOC di Asia, yang jumlahnya
besar sekali, dilakukan oleh para anggota Raad
van Indië. Pembagian tugas ini menentukan pula
susunan Generale missive (surat kiriman umum),
yakni laporan Hoge Regering kepada Heren Zeventien
mengenai keadaan Kompeni di Asia. Tiap-tiap
anggota Raad itu menulis bagian tertentu missive
tersebut, lalu keseluruhannya diajukan kepada
sidang paripurna Raad van Indië untuk disahkan
dan ditandatangani. Hoge Regering menyusun juga
generale eis van Indië (permintaan umum dari Asia),
yaitu taksiran dana, barang, kapal dan tenaga
yang dibutuhkan untuk perusahaan di seberang
laut. Dalam sidah Heren Zeventien daftar ini menjadi
pedoman dalam pengambilan keputusan berkaitan
dengan hal-hal itu. Dalam generale eis tercantum
pesanan dari kantor masing-masing, tetapi Hoge
Regering berwenang memangkas atau menambah
pesanan itu berdasarkan pertimbangannya
sendiri. Hanya kantor-kantor di Sri Lanka selama
beberapa tahun dalam abad ke-17 diperbolehkan
mengajukan eis tersendiri kepada Heren Zeventien.
Sebaliknya, Hoge Regering di Batavia harus
meneruskan pesanan dari direksi di tanah air
kepada kantor-kantor di Asia.
Besarnya kantor-kantor VOC di Asia dan
bobot ekonomis serta kedudukan politisnya
sangat berbeda-beda. Dalam generale instructie
(instruksi umum) yang pada tahun 1650 dikirim
kepada gubernur jenderal dan anggota Raad van
Indië, direksi VOC menyatakan perdagangan di
semua kantor dapat dibagikan atas tiga golongan, yang mencerminkan kedudukan politis masingmasing.18
1. Kegiatan dagang yang dimiliki Kompeni karena
telah direbutnya daerah yang bersangkutan
dengan kekuatan militer, umpamanya
Kepulauan Banda dan Taiwan.
2. Kegiatan dagang yang dilakukan berdasarkan
perjanjian-perjanjian eksklusif, seperti dengan
Sultan Ternate dan dengan masyarakat
Amboina (Pulau Ambon dan daerah
sekitarnya).
3. Kegiatan dagang yang dilakukan setelah
tercapai kesepakatan dengan raja-raja atau
bangsa-bangsa Asia berdasarkan asas berdiri
sama tinggi duduk sama rendah.
Sebelumnya, yaitu pada tahun 1620, seorang
gubernur jenderal yang baru pulang dari Asia
ke tanah air telah melakukan pula pembagian
atas tiga golongan yang serupa. Akan tetapi,
pembedaannya bersifat agak artifisial. Perjanjianperjanjian eksklusif sering dipaksakan kepada
penduduk yang bersangkutan dengan pemakaian
kekerasan. Misalnya, pulau-pulau di Maluku yang
resminya mengikat perjanjian eksklusif, mestinya
kita anggap sebagai daerah yang direbut oleh
Kompeni.
Pentingnya dan kedudukan kantor-kantor
tampak juga dalam pangkat dan gaji kepalanya
masing-masing. Di cabang-cabang besar, yang
sebenarnya merupakan daerah jajahan VOC,
kepala itu memakai gelar ‘gubernur’. Sekitar
tahun 1685 golongan ini mencakup Ambon,
Banda, ‘Maluku’ (Ternate), Koromandel (pantai
timur India), Sri Lanka, dan Malaka. Satu abad
kemudian Tanjung Harapan, pantai timurlaut
Pulau Jawa, dan Makasar juga mempunyai
seorang gubernur. Di samping itu ada sejumlah
kantor lain, yang penting dari sudut ekonomi,
seperti Benggala, Surat, dan Persia; kepala kantorkantor ini disebut ‘direktur’ (pada masa Kompeni
pangkat ‘direktur’ selalu berkaitan dengan kegiatan
perdagangan). Kantor-kantor di Malabar (pantai
barat India) dan di pantai barat Sumatra (Padang)
dikepalai seorang commandeur (komendur). Cirebon,
Banjarmasin, dan Palembang dipimpin oleh
seorang resident (residen); kantor di Jepang dan di
Pulau Timor oleh seorang opperhoofd (kepala besar).
Semua penguasa tersebut tidak menjadi pimpinan
tunggal; sama seperti gubernur jenderal di Batavia
mereka menduduki tempat pertama dalam sebuah
dewan. Keputusan-keputusan penting hanya dapat
mereka ambil in rade, artinya bersama dengan
dewan itu. Dalam dewan-dewan tersebut pun
berlaku pembagian tugas. Orang kedua, atau
secunde, sering berpangkat opperkoopman (saudagar
besar) dan memegang urusan dagang. Selain dia,
raad harus beranggotakan seorang komandan
militer, kepala pembukuan, dan fiscaal (yang
bertugas mengusut kasus penipuan dan perbuatan
pidana). Dalam praktek, formasi raad berbedabeda.
Batavia sebagai pusat administratif
Semua kantor VOC di Asia (dan yang di Tanjung
Harapan) tunduk pada Hoge Regering di Batavia.
Selain itu, Batavia menjadi pelabuhan yang paling
penting; di sana sebagian besar (selama sebagian
abad ke-17 bahkan semua) kapal yang masuk dari
Eropa membuang sauh dan dari sana pula kapalkapal itu berangkat lagi. Maka komunikasi direksi
di negeri Belanda dengan kantor-kantor yang
tersebar jauh itu untuk sebagian besar berjalan
lewat Hoge Regering dan aparat administratifnya.
Akan tetapi, ada beberapa kekecualian.
Kantor VOC di Gamron (Persia), sekali-sekali
juga yang di India, melakukan surat-menyurat
dengan direksi di tanah air lewat jalan darat,
artinya melalui Timur Tengah. Di samping itu,
setelah VOC mendirikan pemukiman di Tanjung
Harapan terus berlangsung surat-menyurat
langsung para penguasa setempat dengan Heren
Zeventien. Akhirnya, bilamana VOC memasukkan
pelabuhan-pelabuhan selain Batavia dalam jalur
pelayaran Eropa-Asia maka kantor-kantor yang
bersangkutan dan direksi di negeri Belanda
berkirim-kiriman surat-surat dan laporan-laporan
secara langsung.19
Di mata Hoge Regering, izin berlayar ke Eropa
dengan tidak singgah di pelabuhan Batavia
menggerogoti kedudukannya sendiri. Mereka
berpendapat pula, penciptaan perhubungan
langsung itu menyebabkan Batavia tidak dapat
lagi memainkan peranannya sebagai titik temu
berbagai jalur pelayaran dengan semestinya. Oleh
sebab itu, para penguasa di Batavia sungguhsungguh puas ketika direksi VOC, pada tahun
1636, menghentikan pelayaran langsung ke pantai
Koromandel, Surat, dan Gamron, yang telah
dimulai sebelum kota Batavia didirikan. Akan
tetapi, tiga puluh tahun kemudian gubernur
jenderal dan Raad van Indië terpaksa menerima
peningkatan status Sri Lanka menjadi pangkalan
kedua, di samping Batavia, bagi kapal-kapal yang
masuk dari Eropa atau berangkat ke sana. Heren
Zeventien mengizinkan perhubungan langsung Sri
Lanka-negeri Belanda agar VOC dapat memenuhi
kebutuhan akan merica di pasaran Eropa, yang
sedang bertumbuh dengan pesat. Kini merica
dari Malabar, yang bagaimanapun dibawa lebih
dahulu ke Sri Lanka, dapat diangkut ke negeri
Belanda dengan lebih cepat. Di samping itu,
dengan cara ini kayu manis dari Sri Lanka sendiri
tidak usah lagi dipindahkan di Batavia ke kapal yang akan membawanya ke Eropa, sehingga lebih
cepat sampai dan mutunya lebih terjamin.
Tidak lama setelah Sri Lanka mendapat
perhubungan langsung dengan negeri Belanda
timbullah persaingan sengit antara gubernur pulau
tersebut, Rijklof van Goens, dengan Hoge Regering.
Menurut Van Goens, sebaiknya Sri Lanka,
tegasnya kota Galle, yang menjadi tempat kapalkapal VOC berangkat ke tanah air, dijadikan titik
temu kapal-kapal yang hendak berlayar bersamasama ke Eropa. Berkat upayanya, sekali-sekali
armada yang berangkat dari Sri Lanka membawa
muatan lebih kaya dibandingkan kapal-kapal
dari Batavia. Lalu direksi VOC membuka pula
jalur pelayaran langsung dari pantai Koromandel
dan dari Benggala. Tetapi, jalur ini tidak sukses,
mungkin karena Batavia tidak mendukung
kebijakan ini atau bahkan menyabotnya.
Bagaimanapun, sedikit demi sedikit Hoge Regering
berhasil memperoleh kembali kedudukannya
yang semula. Sekitar tahun 1700, selain Batavia
hanya Galle yang masih mempunyai perhubungan
langung dengan tanah air.
Pergeseran pola perdagangan dalam abad
ke-18 menyebabkan perubahan lain lagi dalam
lalu lintas pelayaran. Selama kurun waktu 1700-
1730 secara berkala berangkatlah kapal-kapal
(yang dijuluki ‘kapal-kapal kopi’) dari Moka di
pantai Laut Merah menuju negeri Belanda, lewat
Galle. Ada juga perkembangan lain, yang lebih
penting lagi: pada tahun 1728, setelah bentrokan
sengit Heren Zeventien dengan Hoge Regering, tercipta
perhubungan langsung antara negeri Belanda
dan Kanton (Guangzhou). Sampai tahun 1733
Kamer Amsterdam dan Kamer Zeeland mengirim
tiga belas kapal ke Kanton, tetapi tidak satu pun
yang mencapai pelabuhan di Cina Selatan itu.
Maka pengiriman kapal ke sana dipercayakan
lagi kepada Batavia, dengan pengertian bahwa
di antara dua atau tiga kapal yang setiap tahun
berlayar dari Batavia ke Cina hanya satu yang
akan kembali ke pelabuhan asal; yang lain
akan mengangkut muatannya berupa teh dan
perselen langsung ke tanah air, lewat Selat
Sunda. Akhirnya, pada tahun 1756, bersamaan
dengan pembentukan Chinase commissie (Komisi
Cina), lalu lintas kapal ke Cina diurus di negeri
Belanda sendiri; pelayaran langsung ke sana tetap
dipertahankan.
Sesudah Galle dan Kanton, dalam abad ke-
18 kantor VOC di Benggala, Hooghly, menjadi
pelabuhan yang ketiga yang mempunyai
perhubungan langsung dengan tanah air. Mulai
1734 setiap tahun dua (sejak 1742: empat)
kapal berlayar dari Benggala ke negeri Belanda.
Selain itu, sejak tahun 1750 setiap tahun Kamer
Amsterdam mengirim satu kapal langsung ke
Hooghly. Mulai tahun 1770 Koromandel juga
termasuk jaringan pelayaran ini.
Meski demikian, adanya perhubungan langsung
dan surat-menyurat pimpinan di negeri Belanda
dengan kantor-kantor di Asia pada hakikatnya
tidak mengganggu posisi Batavia sebagai kantor
pusat VOC di Asia. Batavia tetap menjadi pusat
administrasi dan pembukuan. Lagi pula, direksi
di tanah air tetap menerima salinan-salinan suratmenyurat antara Hoge Regering di Batavia dengan
semua kantor yang tunduk padanya, termasuk
yang dengan Sri Lanka, Kanton, dan Benggala.
Akhir VOC
Lama sekali VOC seperti hidup segan, mati tidak
hendak. Dalam bulan Desember 1780 pecah
perang antara negeri Belanda dengan Inggris.
Akibatnya, Kompeni mengalami krisis keuangan
yang begitu genting, sehingga semua kamer di
daerah Holland terpaksa meminta penangguhan
pembayaran. Hanya Kamer Zeeland yang masih
bertahan; kamer ini memang berhutang besar
kepada Kamer Amsterdam, tetapi pinjamannya dari
pihak ketiga tidak seberapa. Permohonan Kamer di
Holland dikabulkan, tetapi dengan demikian VOC
serta merta kehilangan kredibilitasnya. Perusahaan
besar itu tidak dapat lagi bertahan tanpa bantuan
dari luar. Bantuan itu datang dari pemerintah
Belanda, yang menjamin pembayaran pelunasan
hutang lama dan bunga hutang yang baru. Hanya
dengan cara itu direksi VOC dapat meneruskan
perusahaan.
Ketergantungan dari pemerintah ini
menyebabkan direksi diperkuat dengan
menambahkan Vijfde Departement (lihat di atas).
Di samping itu, pada tahun 1790 diangkat
Staatscommissie (Komisi Negara), yang bertugas
melakukan supervisi politik. Komisi ini
beranggotakan empat orang dari Holland dan
dua dari Zeeland, yang ditunjuk oleh Staten
(pemerintah) daerah masing-masing. Sesudah
masuknya tentara Perancis dan tumbangnya
rezim lama (1795), keempat anggota dari Holland
diganti oleh tokoh-tokoh pemerintahan yang
termasuk partai patriot; beberapa bulan kemudian
diangkat enam orang patriot lagi. Dengen
demikian direksi telah ditempatkan di bawah
pengampuan. Bagi mereka tinggal menunggu
saat mereka akan diberhentikan. Sebab, komisi
tersebut mengusulkan agar direksi lama diganti
oleh Comité tot de zaken van de Oost-Indische handel en
bezittingen (Komite untuk Urusan Perdagangan dan
Jajahan di Hindia Timur). Usul ini diterima oleh
pemerintah Belanda dan pada tanggal 1 Maret
1796 para direktur lama meletakkan jabatannya.
Kendati demikian, pada saat itu juga oktroi lama VOC diperpanjang, mula-mula sampai akhir
tahun 1798, kemudian sampai 31 Desember 1800.
Jadi, VOC tetap berdiri. Namun, kegiatan kamernya dikurangi sampai tingkat minimum. Sejumlah
pegawai diberhentikan dan bengkel-bengkel
dibongkar. Pada 1803 tiga kamer dibubarkan, yakni
Delft, Hoorn, dan Enkhuizen. Di Rotterdam dan
Middelburg tinggal kantor penjualan. Oktroi tidak
diperpanjang lagi. Dengan demikian perusahaan
tidak mempunyai dasar hukum lagi. Selama tidak
ada peraturan baru, Komite tersebut di atas
dan badan yang menggantikannya, yaitu Raad
der Aziatische bezittingen en etablissementen (Dewan
Urusan Jajahan dan Kantor-kantor di Asia,
dilantik tanggal 15 Mei 1800) berpedoman pada
peraturan-peraturan yang berlaku pada masa orde
lama.
Di Asia, dampak perubahan-perubahan yang
sedang diadakan dalam pimpinan VOC bahkan
lebih kecil lagi. Pada tahun 1793 dikirim dua
commisarissen-generaal (komisaris umum), yaitu S.C.
Nederburgh dan S. Frijkenius. Pengutusan mereka
bertujuan menghentikan kemerosotan perusahaan.
Akan tetapi, dua tahun kemudian Belanda terseret
ke dalam perang yang sedang berlangsung antara
Perancis dengan Inggris. Orang Inggris merebut
bagian terbesar kantor-kantor VOC. Orang
Belanda masih bertahan di Pulau Jawa dan
bendera Belanda tetap berkibar juga di Kanton
dan di Desima (Nagasaki, Jepang). Perang itu
berdampak besar terhadap perdagangan dan lalu
lintas kapal antara Eropa dan Jawa, yang tidak
mungkin berjalan terus seperti biasa. Perubahan
institusional yang besar di Batavia dan di Pulau
Jawa harus menunggu kedatangan Gubernur
Jenderal H.W. Daendels (1807-1810), yang
menyelenggarakan reorganisasi besar-besaran.
Akan tetapi, perubahan radikal terhadap tradisi
baru terjadi ketika Pula Jawa beralih ke tangan
orang-orang Inggris (1811).
Related Posts:
penjajah belanda 2 kepangkatan kota-kota dalam pemerintahan Holland (Staten) giliran jatuh ke kota mereka. Maka Haarlem men… Read More