Rabu, 03 Mei 2023

majapahit 4

ng Benda Cagar Budaya 
(Tanudirjo, 1998: 14)
Berkenaan dengan pengelolaan sumberdaya budaya, 
siapapun orangnya harus paham benar dengan bidang yang 
205Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
ditekuninya sehingga diperlukan suatu proporsi yang tepat 
antara penguasaan objek dan kemampuan manajerial yang 
tinggi belum tentu menjamin hasil yang optimal, jika tidak 
disertai pemahaman yang memadahi mengenai objek yang 
ditanganinya dan demikan juga sebaliknya.
Kebudayaan adalah suatu karya individu atau kelompok 
manusia yang sekaligus merupakan sistem nilai yang dihayati 
oleh sekelompok manusia. Hasil dari suatu kebudayaan dapat 
dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu hasil budaya yang 
secara fisik dapaat dilihat dan disentuh (tangible), misalnya, 
candi, gua, masjid, gereja, benteng, rumah adat, kuil makam 
dan lain­lain. Sedangkan yang satu lagi adalah hasil budaya 
yang tidak dapat disentuh (intangible) seperti ilmu pengetahuan, 
teknologi, adat istiadat, hukum, kesenian, gagasan dan lain 
sebagainya.
Kebudayaan dengan berbagai pengertian yang ada pada 
hakekatnya berkembang sebagai perwujudan tanggapan aktif 
manusia terhadap lingkungannya. Dengan segala kemampuan 
yang dimiliki manusia berusaha melihat, memahami dan 
memilah gejala yang ada untuk lalu merencanakan 
tindakan, menentukan sikap untuk suatu perbuatan yang 
meng hasilkan karya. Pada mulanya manusia menanggapi 
lingkungan dan sekitarnaya dengan berbagai pengalaman 
yang didasari pada suatu sikap trial and error, salah­mencoba 
dan seterusnya. Oleh karena itu cepat­lambatnya suatu 
kebudaya an tergantung pada sedikit banyaknya umpan balik 
yang dapat ditangkap oleh akal manusia dalam mengelola 
lingkungannya.
Dalam hal pengembangan sumberdya budaya seharusnya 
di ketahui atau dipelajari terlebih dahulu tentang nilai­nilai 
dan makna kultural yang terdapat di dalamnya. Sumberdaya 
206 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
budaya yang bersifat yang bersifat tangible sebagai karya 
manusia di masa lalu yang juga dikenal sebagai warisan 
budaya ini hendaknya dijunjung tinggi, karena di dalam­
nya terdapat nilai­nilai tinggi yang terlihat melalui nilai­nilai 
sosial dan individu yang membentuk jalinan tradisi dan adat 
istiadat yang kemudiasn menghasilka produk­produk bendas 
budaya oleh lingkungan warga tertentu serta pada zaman 
tertentu pula) 
Mengingat faktor kerusakan yang bersumber dari perla­
kukan manusia merupakan salah satu faktor yang sangat sulit 
untuk diatasi. Serta yang yang menjadikasn sebab keberadaan 
tinggalan­tinggalan arkeologis di Twowulan semakin rusak 
dan semakin terancam kelestariaanya, maka dalam usaha 
mengantisipasi hal ini, yaitu agar keberadaan tinggalan­
tinggalan arkeologis ini tidak semakin rusak, sebenarnya 
secara yuridis sudah ada undang­undang no. 5 tahun 1992, 
tentang Cagar Budaya. Akan tetapi dengan adanya beberapa 
kepentingan, terutama kepentingan ekonomi bagi pemilik 
lahan yang merasa masih berhak untuk menggarap lahannya 
sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka perlu 
usaha­usaha yang lain. Adapun langkah yang paling men­
desak untuk dilakukan dalam rangka usaha pelestarian dan 
penyelamatan adalah;
A. Menekan atau mengurangi tingkat kerusakan
B. Melakukan kontrol terhadap bangunan candi melalui 
petugas yang ditunjuk oleh instansi terkait (BP­3). 
C. Menjalin kerjasama yang erat antara Pemerintah 
Daerah, BP­3 dan warga, dalam rangka menum­
buhkan kesadaran warga akan penting nya suatu 
tinggalan budaya (bangunan candi bata Samberan). 
207Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
Hal­hal ini di atas akan dapat terealisir jika dilaku­
kan suatu usaha pengembangan sumberdaya manusia. 
Pengembangan Sumberdaya manusia dapat diartikan sebagai 
usaha mempersiapkan seseorang, baik sebagai individu 
maupun sebagai anggota warga dengan segala kedu­
dukannya. Artinya usaha ini tidak hanya terbatas 
pada usaha pembinaan kemampuan fisik, tetapi juga usaha 
pem binaan mental sebagai pendukung suatu kebudayaan. 
Sehingga pengembangan sumberdaya manusia harus dapat 
mempersiapkan kemampuan atau ketrampilan jasmaniah 
agar seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 
Disamping itu pengembangan sumberdaya manusia juga 
harus dapat mempersiapkan seseorang untuk dapat berperan 
dalam kehidupan sosial secara mantap. Oleh karena itu dalam 
praktek komunikasi atau interaksi sosial, secara efektif dapat 
terselenggara kalau terdapat pranata, aturan, hukum, undang­
undang dan lain sebagainya yang semuanya didasari oleh 
nilai­nilai, gagasan ataupun keyakinan yang mendominasi 
kehidupan warga yang bersangkutan. 
Masalah yang secara umum dihadapi oleh warga 
kita (Indonesia) adalah suatu kenyataan bahwa kita hidup 
dalam warga yang majemuk yang terdiri dari berbagai 
suku bangsa dan golongan dengan latar belakang aneka ragam 
kebudayaan. Disamping itu berkenaan dengan pembangunan 
yang merupakan usaha peningkatan kesejahteraan yang 
dalam penyelenggaraannya dilakukan secara singkat. Banyak 
teknologi dan ilmu pengetahuan asing yang diadopsi untuk 
mempercepat suatu proses. Akibatnya, menuntut adaptasi 
(penyerapan) ke dalam sistem budaya yang ada, bahkan 
tidak mungkin akan menggeser nilai­nilai yang tidak sesuai. 
208 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Masalah yang lain adalah adanya kontak dengan pihak asing 
yang dipermudah dengan kemajuan teknologi
Untuk mengatasi permasalahan demikian adalah sesuatu 
yang tidak gampang untuk dilakukan, karena diperlukan 
suatu sistem sosial yang mampu mengendalikan pergaulan 
antara sesama penduduk tanpa memandang asal kesukuan, 
etnis, maupun golongan. Disamping itu dalam usaha mengem­
bangkan sistem sosial yang memadai diperlukan landasan 
yang diterima sebagai acuan bersama, yaitu kebu dayaan 
sebagai sistem nilai, gagasan dan keyakinan. 
Pelestarian
Istilah pelestarian dalam arkeologi dapat disamakan 
dengan istilah konservasi, yaitu suatu kegiatan yang berhu­
bungan dengan pengelolaaan dan perlindungan terhadap 
peninggalan arkeologi. Pada mulanya istilah konservassi 
berhubungann cara pemanfaatan sumberdaya alam, misal­
nya tanah, air, tanaman, binatang dalam mineral dan lain 
sebagainya. Akan tetapi dalam hal ini konservasi dapat 
dimasuk kan sebagai usaha memenfaatkan tanah dan sumber­
daya alam yang lain secara bijaksana sehingga tanah dan 
sumber daya alam ini dapart dimanfaatkansecara lebih 
lama.
Dari sudut pandang estetis inilah konservasi berkembang 
menjadi suatu usaha pemeliharaan sumberdaya alam, ter­
masuk situs­situs arkeologi dan sejarah. Peninggalan arkeologi 
beserta situs­situsnya merupakan asset budaya bangsa yang 
memeiliki nilai yang sangat tinggi. Oleh karena itu agar 
asset budaya bangsa ini dapat diselamatkan selama 
mungkin, maka perlu dilakukaan suatu usaha konservasi 
209Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
yang dapatmemelihara nilai estetis, historis, nilai sosial dan 
nilai akademis.
Dari pengertian ini di atas jelaslah bahwa konservasi 
bagi arkeologi bertujuan untuk mengelola dan memlihara 
(memelihara peninggalan arkeologi beserta situs­situsnya) 
dengan berbagai cara sebagaimana ini di atas agar dapat 
dimanfaatkan lebih lama dengan memperhatikan makna 
kulturalnya.
Oleh karena sumberdaya arkeologi merupakan bagian 
dibandingkan sumberdaya budaya yang memiliki sifat spesifik, maka 
sumberdaya arkeologipun memerlukan suatu penanganan yang 
spesifik dan professional. Artinya pelaku pengelolaan harus 
melakukan pengelolaan secara bertanggungjawab. Untuk itu 
diperlukan suatu perencanaan yang matang, mulai dari metode 
atau teknik pelaksanaan sampai dengan penyebarluasan 
informasi, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan 
evaluasi kerja, sehingga seluruh kegiatan akan dapat berjalan 
secara efektif dan efisien. Selain itu penyebarluasan informasi 
mengenai hasil yang diperoleh dalam suatu kegiatan harus 
dilakukan, yaitu menyampaikan informasi kepada publik 
(warga luas) agar dapat memberi manfaat yang seimbang 
bagi semua pihak, karena sumberdaya budaya sebagaimana 
sumberdaya lainnya adalah warisan untuk seluruh masya­
rakat, sehingga segala sesuatu yang terjadi padanya harus 
sepengetahuan warga. Untuk itu informasi kepada 
warga luas sangatlah penting, karena jika warga 
luas mengetahui dan memahami akan mafaat dan nilai penting 
suatu sumberdaya budaya, maka wargapun akan merasa 
ikut memiliki sehingga usaha untuk pelestarian terhadap suatu 
sumberdaya budaya akan terpenuhi.
210 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Pemanfaatan dan Pengembangan
Dalam usaha pengembangan terhadap situs makam 
Troloyo akan menambah rasa kebanggaan bangsa dan dapat 
memperkuat jati diri bangsa, sehingga akan menambah dan 
memperkuat rasa kebangsaannya. Dalam hal ekonomi, suatu 
sumberdaya budaya akan dapat bermanfaat untuk kemajuan 
ekonomi melalui sektor pariwisata yang dalam hal ini terdapat 
tiga sektor yang berkepentingan, yaitu akademisi, pemerintah 
dan public yang dalam pemanfaatan dan pengembangannya 
harus seimbang dan harus memperhatikan kepentingan masya­
rakat luas serta berorientasi ke masa depan (Triger, 1989).
Dalam pemanfaatan sumberdaya budaya haruslah ber­
orientasi pada pelestarian. Hal ini disebabkan oleh jumlah 
sumberdaya budaya yang terbatas (finite), tak terbaharui 
(non renewable), tak dapaat dipindahkan serta mudah rapuh. 
Oleh karena itu dalam rangka pemanfaatannya hendaknya 
dilakukan secara hati­hati. Dalam hal pengembangan ter­
hadap aset budaya harus pula melihat nilai dari berbagai 
kepentingan, sehingga berbagai konflik kepentingan yang ada 
dapat di tekan sejauh mungkin agar tidak ada usaha untuk 
saling mengalahkan, tetpi saling menguntungkan.
Situs Troloyo merupakan salah satu sumberdaya budaya 
yang ada di wilayah Trowulan yang memiliki nilai ideologik, 
akademik dan ekonomik. Dalam UU RI Nomor 5 Tahun 1992 
tentang Benda Cagar Budaya (BCB) antara lain dinyatakan 
bahwa BCB dapat dimanfaatkan untuk kepen tingan 
agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan 
dan kebudayaan. Dalam hal ini kompleks makam Troloyo 
dapat dimanfaatkan untuk kepeentingan penelitian ber­
kesinambungan, pendidikan, penggalian jati diri bangsa 
211Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
dan daerah (local genius) serta dapat dimanfaatkan untuk 
kepentingan pariwisata. Adapun pariwisata yang dapat dikem­
bang kan adalah pariwisata arkeologi (Archaeology Tourism). 
Bentuk wisata ini adalah merupakan suatu kunjungan ke 
situs­situs arkeologi dan bentang lahan yang ditinggalkan 
oleh kebudayaan masa lalu. Wisata arkeologi adalah meru­
pakan bagian akowisata (ecotourism), yaitu perjalanan ke 
daerah­daerah aang bertanggungjawab terhadap pelestarian 
lingkungan dan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk 
setempat (Tjahjono, 2003).
Kompleks makam Troloyo merupakan situs arkeologi 
yang dapat dijadikan sebagai bagian dari program pariwisata 
arkeologi di Trowulan dan sekitarnya. Untuk itu perlu adanya 
usaha untuk menampilkan potensi­potensi sumberdaya yang 
ada di sekitar objek, antara lain sumberdaya alam dan sumber­
daya budaya. Sumberdaya alam meliputi bentang lahan 
berupa lembah, bukit, sungai, dataran dan pemandangan alam. 
Sedangkan sumberdaya budaya meliputi kesenian tradisional, 
kerajinan dan tradisi­tradisi budaya setempat yang masih asli. 
Dalam kaitannya dengan penyajian objek dan atraksi budaya, 
usaha pemberdayaan warga setempat sangat diharapkan, 
seperti pembuatan cinderamata serta pengadaan sarana dan 
prasarana yang ramah lingkungan. 
Dalam pariwisata arkeologi ini perlu memperhatikan 
daya dukung situs arkeologi jika dikunjungi orang, yaitu 
perlu dilakukan studi teknik manajemen pengunjung ke 
situs­situs arkeologi. Selain itu perlu dibuat panduan untuk 
wisatawan tentang apa yang boleh ataupun yang tidak boleh 
dilakukan pada saat melakukan perjalanan wisata ke situs­
situs arkeologi. Dengan adanya aturan ini diharapkan 
situs­situs arkeologi dapat terjaga kelestariannya.
212 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Situs­situs Islam di daerah Trowulan pada umumnya 
telah dimanfaatkan sebagai objek wisata ziarah dengan 
pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Jawa. 
Berdasarkan banyaknya pengunjung yang datang ke situs 
ini menunjukkan adanya suatau potensi untuk dilakukan 
suatu pengembangan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya 
arkeologi sebagai objek wisata religi (weisata ziarah). Terkait 
dengan wisata yang kini berkembang di beberapa daerah di 
Nusantara kegiatan ini ditangani oleh Dinas Pariwisata. 
Akan tetapi bukan berarti bahwa Dinas Pariwisata harus 
berdiri sendiri, tanpa adanya kerjasama dengan pihak­pihak 
lain seperti warga dan instansi­instansi terkait yang 
berwenang mengelola suatu ebjek wisata.
Dalam usaha membangun atau mengelola peluang pasar 
wisata harus disadari bahwa tidak semua objek memiliki 
kemam puan daya tembus pasar yang kuat secara nasional 
maupun internasional baik berskala primer, yaitu suatu 
objek wisata yang menjadi motivasi utama maupun berskala 
sekunder yang berarti suatu objek wisata bukanlah menjadi 
motivasi utama (Nuryanti, 2003). 
Dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya 
arkeologi, CRM dapat diartikan sebagai cara pengelolaan 
sumber daya budaya dalam rangka pemanfaatannya termasuk 
di dalamnya opelestarian.Dal hal pelestarian sumberdaya 
budaya ada dua hal pokok yang tercakup di dalamnya, 
yaitu pelestarian secara fisik terhadap benda budaya itu 
sendiri dan pelestarian secara non fisik melalui usaha untuk 
mempertahankan nilai­nilai yang melekat pada benda 
ini, seperti nilai arkeologis dan nilai historis (Samidi, 
1998: 9). Selaian itu CRM merupakan salah satu pendekatan 
untuk menyelesaikan konflik kepentingan yang terkait dengan 
213Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
benda­benda budaya. Oleh karenanya usaha yang dilakukan 
bukan hanya melestarikan, melindungi dan mempertahankan 
benda­benda budaya yang terkait dengan kepentingan 
arkeologi, tetapi harus juga memperhatikan kepentingan lain 
terutama yang berkaitan dengan kepentingan sosial ekonomi 
tanpa mengesampingkan tujuan utamanya yaitu melestarian 
terhadap benda budayanya. 
Dengan banyaknya peziarah yang datang ke kompleks 
makam Troloyo ini, maka situs ini akan memiliki 
nilai positif bagi warga sekitar situs. Dampak posistif 
itu dapat dilihat dari segi ekonomi, di mana pendapatan 
warga sekitar menjadi bertambah. Hal ini menjadi 
perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun sarana 
dan prasarana yang ditujukan untuk menarik pengunjung. 
Namun demikian terdapat juga sisi negatifnya, yaitu pem­
bangunan yang mengabaikan prinsip­prinsip pelestarian.
Dari keadaan sekarang yang ada di situs Makam Troloyo 
diketahui bahwa sarana­sarana bangunan yang ada menyim­
pang dari penataan yang sesuai dengan prinsip­prinsip 
pelestarian. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 
1993 Pasal 27 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa pemugaran 
sebagaimana yang dimaksud ayat (1) dilakukan dengan 
memperhatikan keaslian bentuk, bahan, pengerjaan, dan tata 
letak, serta nilai sejarahnya.
Pengrusakan situs Troloyo dalam arti luas telah merubah 
bentuk secara keseluruhan, antara lain denah halaman makam, 
serta benda cagar budayanya itu sendiri. Denah halaman yang 
dimaksud adalah tambahan bangunan baru berbentuk lorong 
beratap, serta jirat dan nisan diganti bahan keramik baru warna 
putih sehingga sangat terlihat tidak asli. Perubahan ini 
214 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
jelas tidak sesuai dengan prinsip­prinsip pelestarian benda 
cagar budaya.
Kasus pengembangan Makam Troloyo ini dapat menjadi 
pelajaran bagi kita, agar di kelak lalu hari tidak terjadi 
lagi kasus­kasus serupa pada situs yang lain, mengingat 
dewasa ini semakin maraknya perhatian Pemerintah Provinsi 
dan Kabupaten/Kota terhadap situs­situs kepurbakalaan yang 
bersifat living monument. http://www.facebook.com/note.
php?note_id=39408192604
Dengan demikian, untuk mengantisipasi hal­hal yang 
disebabkan oleh adanya beberapa pihak yang berkepentingan, 
agar situs ini tidak semakin terancam kelestariannya, 
maka diperlukan beberapa langkah, Yaitu:
1. Profesionalisasi, yaitu para pelaku pengembangan dan 
pelestarian harus memikliki kemampuan yang profe­
sional, tidak hanya sekedar teori yang dimiliki, tetapi 
harus mampu mengaplikasikan dalam hal pengem­
bangan situs Makam Troloyo
2. Menempatkan dampak manfaat ekonomi yang signifi­
kan sebagai salah satu faktor dalam perencanaan 
pengem bangan pariwisata yang pada akhirnya 
menjadi sumber penting bagi pengembangan budaya.
3. Melakukan kontrol terhadap situs melalui petugas 
yang ditunjuk oleh instansi terkait.
4. Menjalin kerjasama yang erat antara warga, BP­3 
Jawa Timur, beberapa instansi terkait dan pemerintah 
dalam rangka menumbuhkan kesadaran warga 
akan pentingnya suatu tinggalan budaya.
5. Menumbuhkan kesadaran warga agar terwujud 
suatu semangat untuk merasa ikut memiliki.
215Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
Kesimpulan
Peninggalan Majapahit merupakan produk masa lalu 
yang memiliki potensi pendidikan bagi bangssa. Sebagai 
sumberdaya budaya, situs makam Troloyo dapat menyadarkan 
bangsa akan sejarah di masa lampau. Dalam era sekarang, 
suatu sumberdaya budaya harus memiliki ketahanan budaya 
agar tidak mudah terombang ambing oleh persentuhan budaya 
asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. 
Jika suatu ketahanan budaya telah dimiliki, maka perusakan 
budaya tidak akan terjadi, meskipun kontak budaya bangsa 
dengan budaya asing tidak dapat dihindari.
usaha pelestarian terhadap peninggalan sejarah dan 
purbakala adalah suatu langkah untuk menjaga kelestarian 
suatu objek dengan segala potensi yang ada, sehingga dapat 
bermanfaat untuk kesejahteraan hidup manusia. Oleh kerna itu 
suatu kegiatan pelestarian harus diawali dengan menumbuhkan 
apresiasi warga tentang pentingnya warisan budaya yang 
dapat difanfaatkan untuk kepentingan jati diri dan peningkatan 
kesejahteraan hidup warga. Dengan demikian usaha 
pelestarian terhadap suatu sumberdaya budaya dilaksanakan 
dengan mempertimbangkan asas manfaat. Sedangkan dalam 
hal pemanfaatan sumberdaya budaya harus selalu berwawasan 
pelestarian. 
216 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
KEpUstaKaaN
Anonim, 1986, Rencana Induk Arkeologi Bekas Kota Kerajaan 
Majapahit, Trowulan, Departemen Pendidikan dan 
Kebudayaan, Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan 
Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Jakarta.
____________, 1997, Khadim Al­Haramain Asy­Syarifain, 
Al-Qur’anul-Karim dan Terjemahnya, Makkah­
AlMukarramah.
Ambary, Hasan Muarif, 1998, Menemukan Peradaban, Arkeologi 
dan Islam di Indonesia, Pusat Penelitian Arkeologi 
Nasional, Jakarta.
Chawary, Muhammad, Inskripsi Berhuruf Arab di Kompleks 
Makam Troloyo, Kajian Terhadap Gaya Penulisan, 
Arti dan Maksud Inskripsi Serta Kronologinga, dalam 
Berkala Arkeologi No. 2 Tahun 1997, Balai Arkeologi 
Yogyakaarta.
Nuryanti, 1993, Pengembangan Benda Cagar Budaya Dalam 
Konteks Global-Lokal, Materi Perkuliahan Program 
Pascasarjana (S­2), Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Samaidi, 1998, Kultural Resources Management Kaitannya 
dengan Pemugaran, Artefak, No. 19, Yogyakarta.
Soekmono, Inayati Adrisiyanti Romli, 1993, Peninggalan-
Peninggalan Purbakala Pada Masa Majapahit, dalam 
700 Majapahit, Dinas Pariwisata Daerah, Provinsi Daerah 
Tingkat I, Jawa Timur.
Tanudirjo, Daud Aris, Kultural Resources Management Sebagaai 
Manajemen Konflik, Artefak No. 19, Yogyakarta.
217Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit 
Tjahjono, Basksoro, D, 2003, Laporan Penelitian Arkeolgi (LPA) 
Balai Arkeologi Yogyakarta.
Trigger Bruce, 1989, A History of Archaelogical Thught, 
CambridgeUniversity Press. 
http://www.facebook.com/note.php?note_id=39408192604

219Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
11
MUNgKiNKah Batas Kota 
Majapahit ada di jaKarta ?
Sofwan Noerwidi
Yang Menciptakan, Memelihara dan Mengakhiri
Semoga Sirna Segala Rintangan,
Sujudku Setunduk-tunduknya.
Tentang Majapahit
M
ajapahit, sebagai salah satu kerajaan besar pada 
masa lampau telah banyak mengilhami kehi­
dupan kita pada masa kini. Usaha­usaha untuk 
mengungkapkan kebesaran kerajaan ini telah dimulai 
sejak Letnan Jenderal Raffles menguasai Pulau Jawa dan daerah 
sekitarnya. Thomas Stamford Raffles­lah yang menggeluti 
bidang kepurbakalaan dan sejarah Indonesia kuno. Dalam 
bukunya “the History of Java” tahun 1817, telah dimuat 
beberapa keterangan mengenai peninggalan Majapahit yang 
220 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
menarik perhatiannya, antara lain Candi Brahu dan Gapura Jati 
Pasar (lihat Raffles, 1978: 54 dan 134). sesudah itu banyak pula 
sarjana asing, kebanyakan Belanda ikut andil menyumbangkan 
pemikirannya dalam merekonstruksi Majapahit, yang beberapa 
diantaranya merupakan ahli bahasa Sansekerta, antara lain 
adalah; J.L.A. Brandes (1857­1905), H. Kern (1833­1917), N.J. 
Krom (1883­1945), dan W.F. Stutterheim (1892­1942). Pada 
tahun 1896, Brandes menerbitkan edisi pertamanya tentang 
Pararaton, yang lalu diikuti oleh artikel Kern pada tahun 
1905 tentang Nagarakretagama dan kebesaran Majapahit, serta 
karya Krom tentang “Sejarah Hindu­Jawa” (Hindoe-Javaansche 
Geschiedenis) pada tahun 1931 (lihat Lombard, 2006b: 6­7). 
Selain itu, karya yang cukup komprehensif menggambarkan 
keadaan Majapahit pada masa Hayam Wuruk berdasarkan 
kitab Nagarakretagama adalah terbitan lima jilid “Java in the 
Fourteenth Century” karya Theodore G. Th. Pigeaud pada 
tahun 1960.
Selain para peneliti asing, anak bangsa pun tidak mau 
kalah dalam mengkaji kebesaran Majapahit. Pada masa awal 
kemerdekaan, ketika bangsa ini sedang memerlukan jati 
diri yang kuat akibat pengaruh kolonialisme yang cukup 
lama, Muhammad Yamin begitu antusiasnya menyejajarkan 
kebesaran Sriwijaya sebagai Indonesia jilid satu dan kejayaan 
Majapahit sebagai jilid duanya. lalu Slamet Mulyana 
seorang sejarawan, menghasilkan beberapa buku sejak 
“Menuju Puncak Kemegahan” Majapahit, sampai “Runtuhnya 
Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara­negara Islam 
di Nusantara”. Hassan Djafar yang juga seorang arkeolog, 
dalam penelitiannya berhasil merekonstruksi klan penguasa 
pada masa akhir pemerintahan Majapahit, dalam bukunya 
“Girindrawarddhana”. Di tahun 1993, pada peringatan 700 
221Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
tahun Majapahit (1293­1993) beberapa peneliti yang berasal dari 
lembaga penelitian dan civitas akademika, yang dikoordinir 
oleh seorang sejarawan kawakan, Sartono Kartodirjo, turut 
andil menuangkan pemikirannya dalam suatu bunga rampai. 
Hingga kini, Majapahit masih memberikan inspirasi pada 
beberapa sastrawan muda seperti Langit Kresna Hariadi yang 
menghasilkan beberapa novel, lalu diterbitkan oleh 
Tiga Serangkai. Tokoh utamanya adalah Gajah Mada dan 
mengambil setting cerita penggalan sejarah Majapahit, seperti 
“Gajah Mada”, “Hamukti Palapa”, “Bergelut dalam Kemelut 
Takhta dan Angkara”, “Perang Bubat” serta “Madakaripura 
Hamukti Moksa”. 
Batas Kota
Telah banyak para ahli baik asing maupun lokal yang 
berkutat pada peninggalan­peninggalan di Trowulan, yang 
ditengarai sebagai isi ibu kota Majapahit. Kini, para peneliti 
ini mengais reruntuhan Majapahit, berkejaran dengan 
ribuan pabrik pembuat bata yang menjamur di sekitarnya. H 
Maclaine Pont, adalah seorang arsitek Belanda yang meng­
awali penelitian intensif terhadap sisa­sisa Majapahit di 
Trowulan. Terinspirasi dengan Nagarakretagama terjemahan 
Brandes, beliau menggali banyak lokasi di sana. Hasil inves­
tigasinya antara lain adalah fasilitas hidrologi Majapahit 
berupa waduk­waduk besar di sekitar Trowulan, yang salah 
satunya berukuran kira­kira 175 m x 350 m, dan kemungkinan 
memiliki daya tampung air sejumlah 350.000 m³. Kondisi 
serupa dijumpai di baray, Angkor namun dengan skala yang 
jauh lebih besar (Lombard, 2006b:19). Begitu terinspirasinya 
Maclaine Pont dengan Majapahit, ia membidani pembangunan 
222 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gereja Poh Sarang, Kediri, Jawa Timur. Sebagai seorang arsitek 
ia menggabungkan gaya arsitektur modern dengan arsitektur 
tradisional Jawa, untuk melahirkan Gereja dengan gaya 
Majapahit ini (Lombard, 2006a: 180). 
Pada tahun 2003, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang 
dipimpin oleh chucky Rangkuti melakukan survei untuk 
mencari batas­batas Situs Kota Majapahit yang diperkirakan 
memiliki luas 11 Km x 9 Km memanjang arah utara­selatan. 
Dari penelitian sebelumnya telah ditemukan tiga lokasi batas 
kota yang ditandai dengan sebuah kompleks bangunan suci 
agama Hindu yang besar dengan Yoni berhias naga raja. Tiga 
batas kota ini adalah Klinterejo di timur laut, Lebak Jabung 
di tenggara, dan Sedah di barat daya (Rangkuti, 2005:53). 
Berdasarkan ekskavasi arkeologis di Situs Klinterejo dan Lebak 
Jabung, didapatkan gambaran mengenai bentuk bangunan 
suci Hindu di penjuru sudut penanda batas kota. Secara garis 
besar, pola tata ruang bangunan ini memanjang barat – 
timur, yang terdiri dari tiga halaman. Pada halaman paling 
barat terdapat bangunan terbuka, berumpak batu dengan 
batur batu bata, mirip bangunan balai atau pendopo. Pada 
halaman tengah terdapat sisa­sisa bangunan dari bata, dan 
pada halaman bagian timur juga terdapat bangunan bata 
dengan Yoni Naga Raja. Tampaknya pola tata ruang bangunan 
suci ini mirip dengan kompleks bangunan Pura di Bali, 
yang memiliki tiga halaman yaitu: jaba, jaba tengah dan jeroan 
(lihat Rangkuti, 2006:175­176).
Selain berhasil membangun hipotesis mengenai lokasi dan 
penanda batas kota, sebelumnya Rangkuti juga berhasil mere­
konstruksi pola pemukiman desa­desa Majapahit di sekitar 
Trowulan di Kabupaten Sidoarjo, Probolinggo, Pasuruan, 
dan Lumajang. Rupa­rupanya berbeda dengan peneliti 
223Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
lainnya, peneliti ini memiliki kecenderungan untuk lebih suka 
menelusuri tepian Majapahit yang masih menjadi misteri 
dan belum banyak diungkap, dibandingkan isi bagian dalam 
kotanya yang telah diobrak­abrik pembuat bata (atau bahkan 
pemerintah ?).
(Hipotesis Batas Kota Majapahit dan Kepurbakalaan di 
Dalamnya, Sumber: Rangkuti, 2006: 177)
Masih Misteri
Berdasarkan hasil penelitian tahun 2003 yang lalu, muncul 
hipotesis bahwa kompleks bangunan di sudut barat laut 
kemungkinan berada di Desa Tugu dan Desa Badas, Kecamatan 
Sumobito, Kabupaten Jombang. Pada saat dilakukan penelitian, 
di kedua lokasi ini ditemukan beberapa sebaran struktur 
bata, namun belum ditindaklanjuti dengan penelitian yang 
224 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
intensif. Sayangnya pula, sejauh penelusuran di lapangan tidak 
ditemukan Yoni kerajaan berpahat naga raja, kecuali sebuah 
Yoni kecil polos dan sederhana yang kini terletak di tepi rel 
kereta api, sesudah beberapa kali dipindahkan oleh penduduk 
(Rangkuti, 2006: 176). Berdasarkan kondisi di lapangan ini 
maka muncul beberapa permasalahan, antara lain adalah: 
Adakah sesungguhnya batas kota Majapahit yang ditandai 
dengan kompleks bangunan suci besar agama Hindu? Jika 
ada, di manakah letak sesungguhnya? Apakah keberadaannya 
juga ditandai dengan media pemujaan Yoni Naga Raja Segi 
Delapan? Jika beberapa permasalahan ini telah terjawab, 
lalu bagaimanakah cara untuk menyajikan informasi ini 
kepada warga luas ?
Tulisan kecil ini tidak akan mempertanyakan ada tidaknya 
kompleks bangunan suci di tiap sudut kota, namun hanya 
mencoba sedikit menelusuri keberadaan salah satu Yoni Naga 
Raja Segi Delapan, sebagai ikon Majapahit yang misterius 
ini. Jika memang kompleks bangunannya telah musnah, 
kira­kira di mana relik ini kini berada? Perhatian kita 
lalu beralih ke “gudang” “Perkumpulan Batavia” yang 
menyimpan barang­barang sejarah kebudayaan dari hampir 
seluruh wilayah bekas jajahan Hindia Belanda. Perkumpulan 
yang telah berdiri sejak paruh akhir abad 18 Masehi, bahkan 
telah mendirikan museum yang sekarang dinamai Museum 
Nasional, di Jakarta.
Museum Nasional
Cikal bakal Museum Nasional dimulai ketika J.C.M 
Rademacher salah seorang anggota Raad van Indie mendirikan 
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 
225Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
(Perkumpulan Batavia untuk Ilmu dan Seni) pada tanggal 24 
April 1778. Beliau menghibahkan kepada organisasi ini 
patung­patung batu, perunggu, dan benda­benda etnografi 
yang lalu menjadi koleksi Museum Nasional dan enam 
lemari buku­buku ilmu alam, ilmu hayat, dan hukum yang 
menjadi koleksi Perpustakaan Museum Nasional. Museum 
tertua di Asia Tenggara ini pada mulanya menempati sebuah 
rumah di Kali Baru yang juga dihibahkan oleh Rademacher. 
Karena koleksinya bertambah lalu Raffles memindahkan 
museum ini ke Jl. Majapahit No. 3 pada awal abad ke 
19, dan memberinya nama “the Literary Society”. Pada tahun 
1862 pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah gedung 
museum baru yang tidak hanya berfungsi sebagai perkantoran, 
namun juga berfungsi untuk menyimpan, mengawetkan, 
dan menampilkan koleksi. Pada tahun 1868 secara resmi 
museum ini pindah ke lokasi saat ini di Jl. Merdeka Barat 
No. 12 dan dikenal dengan nama Gedung Arca (lihat www.
museumnasional.org dan Martowikrido, 2006:1­2). 
Baru tiga tahun berselang, pada bulan Maret 1871, Raja 
Siam Somdetch Phra Paramindr Maha Chulalonkorn mengun­
jungi museum ini. Kehadirannya sangat dipuja banyak orang 
dan diabadikan dengan “Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam 
di Betawi” yang bahkan sampai saat ini siapa pengarangnya 
belum diketahui (lihat Marcus A.S, 2000). Dalam kunjungannya 
beliau menghadiahkan sebuah arca gajah perunggu yang 
sekarang masih nangkring di depan museum, dan ditukar 
dengan enam kontainer koleksi arca dan relief dari Borobudur. 
Suatu tragedi dalam sejarah pengelolaan warisan sejarah 
budaya di Indonesia. Sejak kedatangan arca gajah ini, 
Gedung Arca atau Gedung Perabot (disebut demikian karena 
226 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
banyak menyimpan perkakas etnografis) juga dikenal dengan 
sebutan Gedung Gajah atau Museum Gajah. 
Kebanyakan orang awam yang belum pernah berkunjung 
ke museum ini akan mengira dari namanya, bahwa Museum 
Gajah menyimpan hal­hal yang berkaitan dengan binatang 
gajah, barangkali mirip dengan kebun binatang. Padahal, 
sejatinya museum ini menyimpan benda­benda peninggalan 
sejarah dan kebudayaan Indonesia. Berdasarkan informasi 
yang dipublikasikan di website www.museumnasional.org, 
diketahui bahwa institusi ini menyimpan 109.342 koleksi 
yang dipamerkan di sembilan ruang display dengan kategori 
prehistori, ruang harta karun, koleksi perunggu, arca batu, 
keramik, numismatik, relik sejarah, etnografi, tekstil, dan 
koleksi geografi. Museum ini juga dilengkapi dengan toko 
cinderamata yang menyediakan beberapa terbitan pilihan, kartu 
pos dan reproduksi benda­benda koleksi museum. Museum 
Nasional melayani pengunjung pada hari Senin­Kamis dan 
Minggu pukul 8.30­14.30, Jumat pukul 8.30­11.30 serta Sabtu 
pukul 8.30­13.30. Museum ini juga menyediakan guide dalam 
bahasa asing, seperti Inggis, Jepang, dan Jerman serta melayani 
tour privat bagi siswa­siswa sekolah dan kelompok minat 
khusus lainnya. Gudangnya ilmu pengetahuan, sejarah dan 
kebudayaan Indonesia ini dapat kita kunjungi hanya dengan 
membayar tiket Rp. 750 bagi dewasa dan Rp. 250 bagi pelajar 
dan anak­anak. Harga yang untuk saat ini sangat­sangat luar 
biasa terjangkau.
Memasuki halaman museum ini, kita akan disapa oleh arca 
gajah berlapik prasasti dari Kerajaan Siam, meriam­meriam 
perunggu yang sudah tidak dapat menyalak, dan beberapa 
jambangan batu berinskripsi dari zaman Kadiri. Memasuki 
bangunan utama, duduk berderet dengan syahdunya arca­arca 
227Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
Dhyani Buddha Borobudur bergaya Gupta. lalu kita 
akan sedikit bingung, dari mana harus memulai menikmati 
koleksi di museum ini, ke sayap selatan tempat koleksi keramik 
dan barang pecah belah lainnya, ke sayap utara dengan koleksi 
artefak etnografisnya, atau naik ke lantai atas menuju ruang 
harta karun dengan koleksi logam mulianya. Kita tentunya 
tetap pada tujuan semula mencari relik Yoni Naga Raja Segi 
Delapan. Kebetulan, seluruh koleksi batu dari masa Hindu­
Budha dipamerkan di sepanjang selasar gedung bagian depan, 
belakang, sayap selatan, dan sayap utara museum. Namun 
nampaknya koleksi­koleksi batu dari zaman Klasik Indonesia 
yang sangat berlimpah ini dijajar berjubel, seandainya mereka 
hidup tentunya akan sesak nafas. Ratusan koleksi ini 
ditempatkan tanpa suatu konsep kronologis, lokasional atau 
 (Museum Nasional, Jakarta dan Prasasti Raja Chulalonkorn pada lapik 
Arca Gajah. Dok: Pribadi)
228 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
tema yang jelas sehingga bercampur antara satu dan lainnya, 
dan menyulitkan aksesibilitas pengunjung. 
Di bagian depan, koleksi dari Sumatera bercampur dengan 
arca dari Mataram Kuna dan Majapahit. Di ujung selasar, 
sebelum memasuki ruang koleksi prehistori, dipamerkan 
Yupa inskripsi tertua di Indonesia sekitar abad V dari Kutai 
yang berhadapan dengan arca­arca Candi Gurah, dari masa 
peralihan klasik awal dan klasik muda. Arca­arca Singasari 
yang anggun tersebar di selasar sudut timur laut (dari Candi 
Jago) dan barat daya (replika dari Candi Singasari). Perlakuan 
yang sangat kontras terlihat dengan ditempatkannya arca 
Prajñaparamita (dikenal dengan sebutan Ken Dedes) di 
dalam kotak berkaca di ruang harta karun. Sedangkan 
(Yang terawat dan kurang terawat, Arca Ganesha dari Singasari 
koleksi Museum Leiden dan Arca Nandi dari candi yang sama koleksi 
Museum Nasional. Dok: Pribadi)
229Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
arca Nandi yang sejaman berada di taman tengah yang tak 
beratap, kepanasan dan kehujanan. Dengan demikian pada 
saat pameran bersama koleksi Singasari antara Leiden dan 
Museum Nasional beberapa waktu yang lalu, tampak jelas 
perbedaan kondisi arca­arca di kedua museum. Tampaknya 
memang Museum Nasional cukup kesulitan memadukan tema 
pameran dengan ruang yang terbatas, dan isinya yang sangat 
berlimpah. Lalu, dimanakah relik Majapahit yang kita cari­cari 
ini teronggok?
Yoni Naga Raja
Di gedung lama Museum Nasional (pada tahun 1994 
pemerintah membangun gedung baru dengan style yang 
sama dengan gedung asli di sebelah utaranya), tepatnya di 
depan arca raksasa Bhairawa Budha dari Padang Roco, pada 
bagian tengah selasar yang tak beratap, teronggok sebuah 
Yoni dengan nomor inventaris 366a. Yoni ini dihias 
dengan pahatan sulur­suluran yang cukup raya, berhiaskan 
relief Naga Raja pada bagian bawah ceratnya dan berbentuk 
segi delapan. Sayangnya, selain nomor inventaris di bagian 
badan Yoni, tidak terdapat keterangan apapun mengenai 
keberadaan benda unik ini. Wawancara sepintas dengan 
staf museum yang dijumpai di sekitar Yoni, tidak diketahui 
hal­ihwal mengenai benda ini, sekilas yang mereka 
ketahui bahwa Yoni ini telah ada (disimpan di Museum 
Nasional) sejak zaman kolonial Belanda. Walaupun penulis 
belum pernah mendeskripsikan secara detil morfologi dan 
morfometri benda ini, namun sepintas bentuk, ukuran 
dan motif hiasnya mirip benar dengan Yoni Naga Raja Segi 
Delapan dari sebuah pekuburan di Situs Lebak Jabung, 
230 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
yang saat ini telah dipindahkan ke Balai Penyelamatan Arca, 
Trowulan. Nampaknya perlu ditelusuri arsip dan catatan 
sejarah di perpustakaan museum mengenai penemuan Yoni 
ini dan perihal pemindahannya ke Gedung Arca dari 
lokasi asalnya. Jika nomor inventarisnya (366a) dilengkapi 
dengan alphabet di bagian belakangnya, tentunya ada koleksi 
bernomor sama dengan alphabet yang berbeda di museum ini. 
Biasanya koleksi­koleksi dengan nomor inventaris yang sama 
namun akhiran alphabet berbeda, berasal dari satu konteks 
temuan. Mudah­mudahan ketika benda ini diangkut ke 
museum masih dilengkapi dengan konteks temuan penting 
lainnya (seperti Lingga misalnya). Dan jangan­jangan benda 
inilah yang menjadi target chucky Rangkuti beserta tim dari 
Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2003 dalam suvei 
pencarian batas kota Majapahit sekitar Kecamatan Sumobito, 
Kabupaten Jombang, Jawa Timur. 
(Mungkin, Yoni Naga Raja Segi Delapan inilah yang dicari­cari.  
Dok: Pribadi)
231Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
Yoni berhias naga raja lainnya yang menjadi koleksi 
Museum Nasional adalah Yoni Naga Raja yang ditempatkan 
di selasar sayap utara sudut timur laut gedung ini. 
Sayangnya, pada saat berkunjung ke Museum Nasional 
penulis kurang memperhatikan nomer identitas inventaris 
koleksi ini. Berbeda dengan Yoni Naga Raja Segi Delapan 
366a, walaupun juga berhias naga raja, Yoni ini berbentuk segi 
empat dengan motif hias flora­fauna yang sangat raya pada 
bagian tepian­tepiannya. Nampaknya Yoni yang berfungsi 
sebagai lapik arca ini lebih mirip dengan Yoni Naga Raja dari 
bangunan Candi Tigawangi di Kediri. Dalam kenyataannya di 
lapangan, Yoni Naga Raja yang menjadi hipotesis batas kota 
sudut timur laut di Klinterejo merupakan Yoni Naga Raja Segi 
Empat yang bentuk dan motif hiasnya berbeda dengan dua 
yoni lainnya dari Sedah dan Lebak Jabung. Kelihatannya Yoni 
Naga Raja Segi Delapan 366a lebih memenuhi syarat untuk 
ditempatkan pada salah satu penjuru batas kota yang hilang. 
Perlu diketahui bahwa pada tahun 1914 Belanda menggali 
sudetan Kali Konto, sehingga memisahkan Situs Tugu­Badas 
dan Situs Mentoro (Rangkuti, 2005:62). Perlu diselidiki arsip dan 
(Koleksi Yoni Naga Raja lainnya di Museum Nasional. Dok: Pribadi)
232 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
catatan kolonial mengenai pembuatan proyek sudetan ini 
(bahkan jika memungkinkan juga proyek pembangunan rel 
kereta api), apakah juga ikut menggusur bangunan suci Hindu 
yang menjadi penanda batas kota di lokasi ini, sehingga 
salah satu tinggalannya yang dianggap unik pada waktu itu 
terpaksa diungsikan ke Bataviaasch Genootschap. 
Pengemasan Informasi
Museum sebagai sebuah institusi, seperti didefinisikan 
oleh ICOM adalah: lembaga pelayanan warga yang 
bersifat tetap, nirlaba, terbuka untuk umum, yang menyimpan, 
melestarikan, meneliti, menginformasikan, dan menyajikan 
bukti material tentang kehidupan manusia dan lingkungannya, 
untuk tujuan penelitian, pendidikan dan rekreasional. Di 
lain pihak, lembaga yang tidak menjalankan salah satu 
fungsi ini dianggap bukan museum (Carman, 2002: 
83­84). Sebagai konsekuensinya, museum sebagai lembaga 
pelayanan warga yang merupakan salah satu muara 
pengelolaan warisan budaya, harus mampu menyajikan 
bukti materi dan informasi yang terkandung di dalamnya 
kepada warga luas. Dalam ICOMOS Charter tahun 
1990 mengenai perlindungan dan pengelolaan peninggalan 
purba kala dinyatakan bahwa, penyajian warisan budaya 
kepada warga umum adalah hal yang sangat mendasar 
dalam menyebarluaskan pemahaman mengenai asal­usul dan 
perkembangan warga modern. Pada saat yang sama, hal 
ini bermakna sangat signifikan untuk mempromosikan 
pemahaman pentingnya pelestarian warisan budaya. Penyajian 
informasi seharusnya mengandung interpretasi yang sifatnya 
populer, mengikuti perkembangan pemahaman warga 
233Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
saat ini, serta informasinya selalu diperbaharui secara 
berkesinambungan berdasarkan berbagai sudut pandang 
pendekatan keilmuan (ICAHM: 1990). 
Oleh karena itu, Museum Nasional juga harus melakukan 
pembaharuan informasi terhadap koleksi yang dimilikinya, 
serta mengikuti perkembangan informasi hasil penelitian 
instansi terkait, termasuk misteri batas kota Majapahit dan 
Yoni Naga Raja Segi Delapan. Jika dalam perkembangan 
penyelidikan terbukti benar bahwa Yoni koleksi museum 
ini berasal dari salah satu bangunan suci di batas 
kota Majapahit, maka salah satu konsekuensinya adalah 
menampilkan informasi mengenai Majapahit dengan lebih 
representatif. Saat ini, Majapahit sebagai ikon pemersatu 
bangsa Indonesia hanya ditampilkan sekedarnya saja di 
museum kebanggaan negeri ini. Padahal koleksi yang berasal 
dari Majapahit sangat banyak jumlahnya, baik koleksi batu, 
terakota, keramik, logam, bahkan lontar Nagarakretagama ada 
di sini. Melihat besarnya potensi ini seharusnya Museum 
Nasional mampu mencitrakan kebesaran Majapahit sebagai 
NKRI masa lampau, sehingga wisatawan Nusantara yang 
mengunjungi museum ini dapat mengapresiasikan nilai­nilai 
luhur yang dikandungnya. Namun nampaknya kebanyakan 
koleksi di Museum Nasional baru dilengkapi dengan name 
tag berbahan kuningan yang sangat singkat saja, bahkan Yoni 
Naga Raja Segi Delapan hanya dilengkapi dengan nomor 
inventaris 366a di bagian badan, tanpa adanya sedikitpun 
penjelasan lainnya. 
Sebagai perbandingan kecil, jika kita mampir ke ruang 
Kerajaan Siam (Thai Room) yang terdapat di sayap selatan 
Museum Nasional, maka akan nampak perbedaan ragam 
informasi yang ditampilkan antara ruangan ini dengan 
234 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
ruang lainnya yang menyimpan koleksi lokal. Terbatasnya 
ruang yang diberikan bagi koleksi Thailand, tidak menyurutkan 
niat untuk mencuri perhatian, mempromosikan aset sejarah 
budaya mereka di negeri orang. Relik yang dipamerkan tidak 
bersifat master piece, namun dilengkapi dengan informasi yang 
cukup lengkap dalam bentuk poster yang menarik. Selain 
itu juga ada beberapa miniatur replika chedi, peninggalan 
kepurbakalaan yang aslinya cukup monumental. Hasilnya, 
hanya dengan berkunjung ke ruangan ini dalam beberapa menit 
saja, pengunjung dapat mengetahui kekayaan peninggalan 
sejarah budaya si pemilik ruangan.
(Terbatasnya informasi yang disajikan, “jangan kalah dengan Thai 
Room…”. Dok: Pribadi)
Museum sebagai salah satu sumber pengetahuan tentunya 
harus memiliki kekuatan pada informasi yang disajikan. 
Agar pengetahuan ini dapat tersalurkan sampai kepada 
warga luas, maka diperlukan media penyampaian yang 
optimal. Pada museum, media penyampai informasi ini 
adalah pameran, sehingga diperlukan berbagai inovasi dalam 
hal pameran. Pada dasarnya inovasi dilakukan bertujuan 
untuk memenuhi kebutuhan pengunjung museum yang ingin 
235Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
melakukan kegiatan pembelajaran di museum. Anita Olds 
dalam Hein (1998: 158­159) menekankan beberapa kebutuhan 
pengunjung museum, antara lain adalah: (a) bebas bergerak di 
museum, mengunjungi yang mereka inginkan dan mengetahui 
di mana mereka berada, (b) setting lingkungan yang nyaman, 
dan tanpa perasaan tekanan, (c) merasa mampu memahami, 
tidak diliputi oleh banyak hal yang sulit dimengerti, dan 
pengalaman baru yang melebihi kemampuan, serta (d) 
perasaan ingin menguasai keadaan.
Beberapa rekomendasi inovasi penyajian koleksi di 
Museum Nasional yang ditawarkan dalam tulisan ini, ber­
tujuan agar museum dapat memenuhi kebutuhan dasar 
pengunjung dalam melakukan pembelajaran. Hal yang pertama 
adalah dilakukan penataan ulang koleksi pameran dengan 
menciptakan ruang nafas bagi koleksi arca yang berjubel, dan 
dilakukan pengelompokan koleksi berdasarkan kategori tema 
tertentu. Nampaknya penataan koleksi terakota dan keramik di 
ruangan tertentu sudah cukup representatif, namun informasi 
yang disajikan masih sangat terbatas. Akan sangat baik jika 
museum menyediakan ruang khusus Majapahit sebagai bentuk 
testimoni terhadap nilai­nilai luhur kerajaan ini. Koleksi 
yang dipamerkan dalam ruang khusus ini sebaikya ada 
yang bersifat permanen (tetap) dan ada yang dapat dirotasi 
(dipamerkan bergantian). Koleksi permanen ditempati oleh 
relik master piece, seperti Kitab Nagarakretagama misalnya, 
sedangkan koleksi yang dipamerkan secara bergantian dapat 
berupa koleksi terakota, keramik, barang­barang logam, 
maupun arca­arca batu. Bahkan jika suatu saat memungkinkan, 
juga dilakukan pameran dengan koleksi pinjaman dari 
museum­museum yang menyimpan koleksi Majapahit, baik 
236 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
museum di dalam negeri (seperti Museum Trowulan) maupun 
di luar negeri.
Selain penataan koleksi, hendaknya informasi disajikan 
dengan representatif dan menarik, baik informasi Majapahit 
secara umum, maupun keterangan­keterangan khusus ber­
kaitan dengan koleksi yang ditampilkan. Relik­relik yang 
dipamerkan hanyalah benda­benda mati tanpa arti yang 
teronggok dan tidak akan hidup tanpa adanya ruh yang 
menjiwainya. Dengan memberikan makna pada benda mati 
ini maka kita mengembalikan jiwa yang hilang, sehingga 
membuatnya hidup kembali dan dapat berbicara, bercerita 
mengenai kisahnya. Misalnya makna yang melekat pada 
motif hias Naga Raja di bagian bawah cerat Yoni. Kita dapat 
memulainya dengan mitologi suci Samudramanthana, sebuah 
kisah India kuna mengenai perjuangan bahu membahu Dewa 
dan Raksasa dalam pencarian air kehidupan, lalu 
menghubungkannya dengan makna kesuburan, dan berakhir 
pada nilai­nilai luhur kearifan dalam pengelolaan sumberdaya 
alam (air) dengan bijak. Ada baiknya juga jika di ruangan ini 
dipamerkan replika tata ruang ibu kota Majapahit, beserta sisa­
sisa peninggalan lain di dalamnya, seperti waduk, jaringan 
kanal­kanal, Petirtaan Candi Tikus, dan bangunan pengelolaan 
air lainnya.
Bentuk informasi yang disajikan dapat berbentuk poster 
yang dipasang secara temporer maupun booklet dan leaflet 
yang dibagikan gratis, khusus menampilkan keterangan yang 
berkenaan dengan informasi ruang pamer ini. Namun, 
warga tidak selalu berkeinginan untuk membaca, bahkan 
kemasan tekstual seringkali dianggap tidak dapat mem berikan 
penjelasan atas berbagai pertanyaan (Riyanto, 2006: 31). Oleh 
karena itu akan sangat baik jika juga terdapat informasi dalam 
237Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
bentuk multimedia atau audio­visual. Sebuah perangkat 
multimedia interaktif dapat ditempatkan di ruangan ini yang 
menyajikan berbagai macam variasi informasi yang berkenaan 
dengan Majapahit, sehingga pengunjung dapat berinteraksi 
memilih informasi yang diinginkan sesuai dengan selera 
masing­masing. Selain tata letak, tidak kalah penting adalah 
pengaturan cahaya dan suara latar yang berperan menggiring 
imajinasi pengunjung ke masa Majapahit. Jika memungkinkan 
dilakukan rekonstruksi musik Majapahit yang diperdengarkan 
di ruangan ini. Potongan klip­klip film kecil mungkin juga 
dapat diputar secara berulang terus menerus di ruangan 
Majapahit, yang misalnya menyajikan informasi mengenai 
keadaan peninggalan Majapahit di lokasi aslinya. Atau, 
bahkan jika memung kinkan disediakan film khusus tentang 
Majapahit yang dapat dinikmati di ruang teater audio­visual 
museum ini.
(Animasi audio­visual serta pengaturan tata letak dan cahaya koleksi 
dari Indonesia di Musée du quai Branly, Paris. Dok: Pribadi)
Jika penataan pameran telah dibenahi secara optimal 
tentunya akan banyak keuntungan yang diperoleh. Secara 
umum, beberapa keuntungan dapat diperoleh dari publikasi 
238 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
informasi mengenai warisan budaya kepada warga luas. 
Keuntungan ini antara lain adalah: dapat memberikan 
informasi yang valid dan logis kepada warga mengenai 
warisan budaya yang ada di sekitar mereka, meningkatkan 
apresiasi dan respon positif serta kepedulian publik terhadap 
penelitian, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan 
warisan budaya, serta dapat befungsi sebagai strategi preventif 
untuk mencegah perusakan terhadap warisan budaya (Sharer 
dan Ashmore, 2003: 618). Adapun keuntungan khusus yang 
berkaitan dengan museum adalah: memutus kejenuhan 
pengunjung dengan kesan pameran museum yang itu­itu 
saja, memberikan pengalaman yang lebih mendalam kepada 
pengunjung sehingga suatu saat ingin datang kembali, serta 
museum mampu menyampaikan suatu informasi kepada 
pengunjung. Begitu juga sebaliknya pengunjung memperoleh 
suatu pengetahuan pembelajaran dari museum. Oleh karena 
itu, harus disadari bahwa peran strategis museum sebagai 
salah satu muara penyebarluasan informasi peninggalan 
sejarah budaya bangsa, merupakan bagian yang tidak dapat 
dipisah kan dalam sebuah alur pengelolaan warisan budaya. 
Penutup
Sinar kejayaan Majapahit yang memancar hampir ke 
seluruh wilayah Nusantara, dipercaya berasal dari suatu tempat 
di Trowulan. Desa kecil inilah yang sampai saat ini diyakini 
sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit pada masa puncak 
kejayaannya. Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi 
Yogyakarta, diperkirakan ibu kota Majapahit berukuran 9 
Kmx11 Km memanjang utara selatan. Keempat penjuru batas 
kota ini ditandai dengan bangunan suci besar yang salah 
239Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
satu media pemujaannya adalah Yoni Naga Raja Segi Delapan. 
Namun sampai saat ini baru di tiga lokasi di sekitar Trowulan 
yang dijumpai sisa­sisa bangunan suci dengan Yoni Naga Raja, 
yaitu Klinterejo, Lebak Jabung dan Sedah. Satu lagi Yoni Naga 
Raja dari sudut kota lainnya di Tugu­Badas sampai saat ini 
belum diketahui keberadaannya. Salah satu lokasi yang diduga 
telah mengamankan relik ini adalah Museum Nasional, 
Jakarta. Sebagai museum tertua di Asia Tenggara, museum 
ini menyimpan banyak koleksi unik dan langka dari seluruh 
Nusantara. Salah satu koleksinya yang menarik adalah Yoni 
Naga Raja Segi Delapan. Namun belum diketahui dari mana 
asal muasal benda ini sehingga akhirnya menjadi koleksi 
Museum Nasional. Guna mengungkap keberadaan Yoni Naga 
Raja Segi Delapan, maka harus dilakukan penelusuran pada 
berita penemuan dan catatan pemindahan koleksi ini ke 
museum ini. 
Museum sebagai “gudang” ilmu pengetahuan harus 
mampu menyampaikan informasi yang dimilikinya. Agar 
informasi ini dapat tersampaikan kepada pengunjung, 
maka diperlukan strategi penyampaian yang tepat. Pada 
museum, media penyampai informasi adalah koleksi yang 
dipamerkan, maka perlu dilakukan berbagai inovasi yang 
berkaitan dengan pameran. Sesungguhnya contoh kasus Yoni 
Naga Raja Segi Delapan dan Batas Kota Majapahit di atas 
hanyalah pancingan agar museum­museum di Indonesia mau 
berinovasi dalam mengelola koleksinya. Dalam tulisan ini, 
beberapa rekomendasi yang ditawarkan bagi pengembangan 
museum adalah penataan ulang koleksi pameran dengan 
kategori tertentu, ruangan khusus bagi pameran dengan 
tema tertentu, penyajian informasi yang lebih lengkap dan 
representatif, serta diversifikasi bentuk informasi yang 
240 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
disediakan. Jika museum mampu berinovasi dalam menam­
pilkan koleksinya, maka akan banyak keuntungan langsung 
dan tidak langsung yang diperoleh baik bagi museum maupun 
bagi warga yang mengunjunginya. 
Gemilang masa lalu sebagai kisah kejayaan bangsa 
Indonesia hendaknya tidak hanya sebatas menjadi romantisme 
belaka, namun turut pula membentuk karakter dan jati diri 
bangsa. Tugas kitalah para arkeolog dan rekan­rekan yang 
berkecimpung pada pelestarian warisan budaya sebagai “juru 
dongeng”. Kita bertugas memberikan makna bagi benda­
benda mati yang berserakan sehingga dapat hidup, bertutur 
tentang kisahnya dan memberikan teladan bagi kita di zaman 
ini, hingga menuntun langkah ke masa depan yang lebih 
gemilang.
Terima Kasih
Evi Novita, Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta, atas 
masukannya yang membangun sehingga terwujud tulisan 
sederhana ini.
KEpUstaKaaN
A.S., Marcus dan Pax Benedanto., ed. 2000. Kesastraan Melayu 
Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, Jilid 1. Jakarta: 
Kepustakaan Populer Gramedia
Carman, John. 2002. Archaeology and Heritage. London: 
Continuum
241Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
Djafar, Hasan. 1978. Girindrawarddhana. Jakarta: Yayasan Dana 
Pendidikan Buddhis Nalanda
Hein, George E. 1998. Learning in the Museum. London: Routledge
ICAHM. 1990. ICOMOS Charter for the Protection and Management 
of the Archaeological Heritage. Lausanne: Tidak Terbit.
Kartodirdjo, Sartono. dkk., ed. 1992. 700 Tahun Majapahit (1293-
1993): Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata 
Jawa Timur.
Lombard, Denis. 2006a. Nusa Jawa Silang Budaya, Bagian 1: Batas-
batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
__________. 2006b. Nusa Jawa Silang Budaya, Bagian 3: Warisan 
Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia Pustaka 
Utama
Martowikrido, Wahyono. 2006. Cerita dari Gedung Arca, Serba-serbi 
Museum Nasional Jakarta. Jakarta: Masup Jakarta
Muljana, Slamet. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan 
Majapahit). Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara
__________. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya 
Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS Pelangi 
Aksara
Raffles, Thomas Stamford. 1978. The History of Java, Volume II. 
Kuala Lumpur: Cetakan Ulang, Oxford University Press
Rangkuti, chucky. 2005. “Jalan Masuk Kota Majapahit: Kajian 
Situs­Situs Arkeologi di Kecamatan Sumobito, Jombang, 
Jawa Timur”, Berkala Arkeologi Tahun XXV Edisi November 
2005. Yogyakarta: Balai Arkeologi
__________. 2006. “Raja Naga: Ikon Kota Majapahit”, Permukiman 
di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Arkenas
242 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Riyanto, Sugeng. 2006. ”Pengelolaan Informasi di Taman Wisata 
Candi Prambanan, Kajian tentang Keterkaitannya dengan 
Peningkatan Apresiasi warga terhadap Benda Cagar 
Budaya”, Tesis Pasca Sarjana. Yogyakarta: Universitas 
Gadjah Mada
Sharer, R.J. dan Wendy Ashmore. 2003. Archaeology, Discovering 
Our Past. New York: McGraw­Hill.
Website
 www.museumnasional.org 
243Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
12
tEKNologi pEMBUataN arCa 
logaM pada Masa jawa KUNa
T.M. Hari Lelono
Pendahuluan
Dahulu, ketika belajar sejarah dan kebudayaan Indo­nesia di bangku sekolah, sejak sekolah dasar sampai ke jenjang perguruan tinggi, pasti diberikan pelajaran 
tentang kerajaan­kerajaan besar dengan tokohnya. Pelajaran 
ini dapat menjadi sumber inspirasi, bahwa bangsa 
Indonesia sudah maju pada masa itu. Sebagai bangsa, kita 
tentu ingat dan tahu siapa Maha Patih Gajah Mada dengan 
sumpahnya yang sangat terkenal tan amukti palapa. Sumpah 
dan tekad Sang Maha Patih, akhirnya dapat terwujud dengan 
menyatukan/menaklukkan Nusantara di bawah panji­panji 
kebesaran Majapahit. 
Majapahit sebagai kerajaan besar, memiliki pengaruh kuat 
yang dengan armada angkatan perangnya dapat memperluas 
244 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
wilayahnya. Sebagai kerajaan yang besar, tentunya memiliki 
struktur pemerintahan dan warga yang memadai. 
Kehidupan warga dapat berkembang dengan baik, 
dengan bukti banyak pendirian tempat suci yang dibangun 
dengan arsitektur yang raya dan megah, bagi kepentingan 
kerajaan, serta berkembangnya kesenian yang berkaitan dengan 
sistem religinya, seperti seni patung/arca. Tinggalan budaya 
materi yang ditemukan di sekitar Trowulan, menunjukkan 
kemampuan warga Jawa kuna, dalam menguasai 
teknologi logam, berupa arca dewa­dewa yang bernilai tinggi, 
bagus, serta teliti dalam pengerjaannya.
Membicarakan tentang Majapahit seringkali tidak lepas 
dari Kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh seorang pujangga 
Mpu Prapanca yang dikenal baik oleh pihak kerabat keraton 
dengan karya­karya sastranya. Kitab ini ditemukan salinannya 
dalam keropag lontar di Kerajaan Selaparang, Lombok, Nusa 
Tenggara Tengah. Mpu Prapanca menulis dalam gaya bahasa 
yang enak dibaca, dengan perumpamaan dan kata­kata sastra 
yang indah. Dalam tulisan Sang Empu, dikisahkan beberapa 
aspek kehidupan Kerajaan Majapahit, mulai dari para raja, 
bangsawan, para menteri, pendeta, patih, para tanda, maupun 
rakyat. Semuanya tunduk kepada sang raja, berkat adanya 
sistem pemerintahan dan ketatanegaraan yang baik dan kuat. 
Pusat pemerintahan kerajaan yang sangat ramai dan luas 
ini diperkirakan berada di daerah Trowulan. Trowulan 
sekarang, merupakan sebuah kota kecamatan di wilayah 
Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Penelitian yang 
secara intensif dilakukan oleh para arkeolog sejak masa pen­
jajahan Belanda, maupun para arkeolog Indonesia, mencoba 
untuk merekonstruksi aspek­aspek kehidupan melalui 
tinggalan budaya materi, berupa artefak, ekofak, prasasti, 
245Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
dan bangunan­bangunan monumental. Melalui serangkaian 
penelitian dengan melakukan ekskavasi di Situs Trowulan, 
akhirnya dapat diasumsikan bahwa ibukota Kerajaan 
Majapahit berada di daerah Trowulan saat ini. 
Ditemukannya yoni berhias nagaraja di tiga penjuru mata 
angin, yaitu di timurlaut (Klinterejo), tenggara (Lebakjabung), 
dan baratdaya (Sedah), serta dikaitkan dengan kanal­kanal dan 
kolam­kolam yang terdapat di bagian dalam kota Majapahit di 
situs Trowulan, mungkinkah tata letak bekas Kota Majapahit 
itu melambangkan kisah Amertamanthana ? Bisa juga nagaraja 
Majapahit yang terpahat pada tubuh yoni melambangkan 
Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan agraris. Umumnya yoni 
berpasangan dengan lingga yang melambangkan Dewa Siwa 
(lingga) dan isterinya (yoni) sebagai lambang kesuburan. 
Rajanaga seolah menjadi ikon Kota Majapahit yang luasnya 
sekitar 11 X 9 Km itu (Rangkuti, 2006: 176­177). Bagian dalam 
kota dihubungkan dengan kanal­kanal yang dapat berfungsi 
sebagai jalur transportasi serta menjaga suhu udara, agar tetap 
nyaman. Sayang sekali, dari serangkaian penelitian ini 
belum dapat ditemukan lokasi dan prakiraan luas Keraton 
Majapahit.
Menjadi pertanyaan sekarang, adalah di manakah 
letak sesungguhnya Majapahit? Menurut Slamet Muljana, 
Majapahit terletak di lembah Sungai Brantas di sebelah 
tenggara Kota Majakerta, di daerah Tarik, sebua kota kecil di 
persim pangan Kali Mas dan Kali Porong. Konon pada akhir 
tahun 1292, tempat ini masih merupakan hutan belantara, 
penuh dengan pohon­pohon maja seperti kebanyakan tempat­
tempat lainnya di Lembah Sungai Brantas (Muljana, 2006: 
155). Dapat dibayangkan daerah di antara sungai dan lembah 
ini tentunya merupakan daerah hunian yang ideal untuk 
246 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
permukiman dan pengembangan kerajaan pada masa itu. 
Sebagai kerajaan besar, aspek penting di masa kejayaan kerajaan 
ini adalah bagaimana kehidupan warga Majapahit 
pada masa itu, sebagai sebuah ibukota kerajaan. Berbagai 
bangsa seperti Cina, Arab, dan India datang ke ibukota untuk 
melakukan hubungan, baik politis maupun perdagangan 
antara dua kearajaan atau lebih. Kedatangan bangsa­bangsa 
dari berbagai negara ini tentunya menyebabkan ter­
jadinya pertemuan dan percampuran antarbudaya. Dalam 
konteks ini, substansi yang berkembang cepat, salah 
satunya adalah sistem kepercayaan berupa budaya dan Agama 
Hindu yang dibawa oleh bangsa India jauh sebelum Majapahit 
berdiri. Masuknya Hindu di Jawa, ditanggapi dengan positif 
oleh warga dan mereka mengikuti perkembangan yang 
awalnya ada di kalangan kerajaan dan keluarga kerajaan. 
Dalam konteks ini, kesenian berkembang dengan pesat, 
salah satunya adalah seni patung/arca. Pada masa lampau seni 
patung diciptakan sebagai pendukung dari konsep religius 
(Hernaningsih, 1990: 1). 
Adanya beragam profesi yang berhubungan dengan logam 
membuktikan bahwa warga Jawa kuna telah mencapai 
tingkat pengetahuan teknologi yang cukup tinggi. Hasil­
hasil pekerjaan dapat dikelompokkan ke dalam kelompok 
barang­barang keperluan domestik, seperti alat­alat pertanian 
(karya para pande besi), barang­barang perhiasan (karya para 
pande emas), barang­barang keperluan upacara ritual (karya 
para pande perunggu dan pande emas), alat­alat musik atau 
gamelan (karya pande perungu), dan mata uang (emas dan 
perak). Temuan artefak logam hasil penelitian arkeologi selama 
ini memperkuat kenyataan ini (Haryono, 2002: 7)
247Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
Patung logam, batu, kayu dan bahan lainnya dibuat 
seindah mungkin, karena selain sebagai benda seni patung, juga 
merupakan benda religius. Patung­patung religius perwujudan 
dewa­dewa dibuat dengan ketentuan dan aturan yang berlaku, 
seperti yang disebutkan dalam Kitab Cilpaçastra.
Budaya materi berupa arca dewa­dewa dari bahan logam, 
merupakan ekspresi manusia dalam memenuhi kebutuhan 
akan hal­hal yang bersifat imanen, yang sangat erat korelasinya 
dengan sistem budaya dan religi yang dianutnya. Budaya 
materi masa lalu, berupa artefak yang merupakan hasil karya 
para seniman pada masa Jawa kuna ini tidak diketahui 
bagaimana cara pembuatannya. 
Untuk mengungkapkan cara pembuatan patung­patung 
ini, dipakai pendekatan etnoarkeologi, yakni dengan 
cara melihat kegiatan serupa, berupa pengerjaan arca secara 
tradisional yang masih dilakukan oleh pengrajin arca di 
Trowulan, Jawa Timur. Cara pembuaan arca tidak dapat 
diungkapkan melalui data arkeologis, sehingga diperlukan 
data etnografis sebagai bahan analogi. Terdapat dua model 
pendekatan dalam studi etnoarkeologi, yaitu pendekatan 
kesinam bungan sejarah (direct historical) dan perbandingan 
umum (general comparative). Pendekatan pertama didasarkan 
pada pandangan bahwa kebudayaan yang berkembang 
sekarang ini merupakan kelanjutan dari kebudayaan masa lalu. 
Oleh karena itu, studi etnoarkeologi akan relevan dilakukan 
jika antara data etnografi dan data arkeologi memiliki per­
samaan atau kesinambungan sejarah. Pendekatan kedua 
yaitu perbandingan umum didasari oleh pandangan bahwa 
hubungan antara budaya arkeologi yang pendukungnya 
telah punah dengan budaya yang masih berlangsung, pada 
hakekatnya adalah hubungan bentuk, sehingga tidak perlu 
248 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
memiliki kaitan historis, ruang, dan waktu. Namun demikian, 
pendekatan ini menuntut persyaratan­persyaratan, yaitu perlu 
adanya kesamaan dalam bentuk budaya maupun lingkungan 
antara data etnografis dengan data arkeologis (Watson, 
1971: 50). Pemanfaatan analogi etnografis untuk membantu 
menjelaskan data arkeologi, secara lebih rinci memiliki 
enam syarat yang perlu diperhatikan: 1) semakin dekat jarak 
waktu antara data etnografi dengan data arkeologi, semakin 
baik hasilnya, 2) adanya kesamaan satuan tingkat kelompok 
warga yang dibandingkan, 3) adanya tingkat yang 
sama dalam mata pencaharian, 4) berada pada wilayah yang 
berdekatan, 5) adanya kencenderungan linguistik yang sama, 
dan 6) terjaganya konservativitas budaya etnografis (Hole dan 
Heiser, 1973: 312).
Oleh karena itu, mengetahui tentang kehidupan seniman 
cor logam yang ada di Bejijong, Jawa Timur sebagai bahan 
etnografis untuk menganalogikan proses pembuatan arca cor 
logam pada masa Jawa kuna.
Ikonologi Dalam Pembuatan Arca
Dalam ilmu arca dikenal istilah ikonologi. Menurut 
Kippenberg (1987: 5­7), dalam kesenian ada tiga tingkatan 
makna. Tingkatan pertama bertalian dengan pengetahuan 
tentang keadaan alam, benda­benda, bangunan, keindahan 
alam, dan lain sebagainya. Dalam hal ini setiap seniman harus 
melihat suatu benda dalam hubungannya dengan benda lain, 
sebab hanya dalam hubungan dengan benda lainlah suatu 
benda kesenian dapat diketahui arti yang sesungguhnya. 
Tingkat kedua meliputi motif­motif karya seni serta arca­arca. 
Tingkat ini merupakan bidang ikonografi, dalam arti sempit 
249Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
untuk mengetahui makna yang melatarbelakangi pembuatan 
sebuah arca. Tingkat ketiga adalah prinsip nilai­nilai simbolis. 
Tahap ini merupakan bidang ikonologi dan ikonografi 
(Maulana, 1997: 1)
Menurut Rao (1920: 43­44) seorang seniman yang ditugasi 
untuk membuat arca dewa harus mengikuti ketentuan­
ketentuan yang berlaku dan termuat dalam Cilpaçastra, sebuah 
kitab di India yang berisi ketentuan­ketentuan pokok dalam 
pembuatan arca, yang terdiri atas:
1. rûpabheda  :  yaitu perbedaan rupa dan bentuk arca
2. pramanam  :  yaitu, ukuran arca harus tepat
3. sadrçyam  :  arca harus digambarkan sesuai dengan 
bentuk yang sesungguhnya yang dapat 
dilihat (diketahui) dengan jalan meditasi 
atau yoga
4. varnakibhangam :  permainan dan persesuaian warna
5. bhawa  :  permainan perasaan
6. lavanya :  keindahan yang ditimbulkan dari hasil 
ciptaannya
Gambaran umum dalam pembuatan arca dewa seperti 
telah disebutkan di atas, dapat dirinci menjadi dua aspek, 
yaitu: 
a. Aspek Ikonometri, 
Dalam ikonometri, pembuatan arca harus dibuat 
dengan memenuhi ukuran metrik yang telah ditentukan, 
sehingga ada perbedaan penggambaran antara dewa yang 
satu dengan lainnya maupun antara dewa utama (Brahma 
Wisnu dan Siwa), dengan dewa­dewi pada derajat di 
bawahnya (Dewi Sri dan Tara). Dewa utama memiliki 
ukuran/angula yang lebih tinggi dibandingkan dengan 
250 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
dewa/dewi di bawahnya.. Acharya (tt: 607­609) merinci 
cara pengukuran yang biasanya dipakai para seniman 
dalam merancang pembuatan arca:
KATEGORI UKURAN KELOMPOK DEWA/MAHLUK
uttamadaśatala 124 ańgula Visņu, Brahma, dan Siva
madhyama daśatala 120 ańgula Sri, Bhumi, Uma, dan Saraswati
adhamadaśatala 116 ańgula dewa­dewa lokapala, 12 dewa aditya, 
11 dewa rudra, 8 dewa (Vasu, Aswin, 
Bhrgu, Markandeya, Garuda, Sēsa, 
Durga, Karttikeya) serta 7 Rsi
navadaśatala 114 ańgula para Kubera dan Navagraha
uttamanavatala 112 ańgula Yaksa lainnya, Daitya, Gandarva
satrya ańgula navatala 111 ańgula manusia yang disamakan dengan dewa
navatala 106 ańgula Raksasa, Indra, Asura
astatala 96 ańgula manusia biasa
Dalam tabel di atas, jelas terlihat adanya perbedaan 
ukuran arca berdasarkan angula antara arca dewa utama 
(uttamadaśatala) 124 ańgula, dewa madya (madhyama 
daśatala), raksasa, dan manusia (astatala) 96 ańgula. Semakin 
tinggi derajatnya, semakin tinggi pula ukuran arcanya. 
b. Aspek Ikonografi, 
Ikonografi berisikan ketentuan tentang jenis atribut 
yang disandang pada arca berdasarkan derajat dan ciri­ciri 
dewa, seperti; kelengkapan pakaian/motif serta senjata dan 
sikap tangan/kaki. Ikonografi berarti “Rincian suatu benda 
yang menggambarkan tokoh dewa atau seseorang keramat 
dalam bentuk suatu lukisan, relief, mosaik, arca atau 
benda lainnya”, yang khusus dimaksudkan untuk dipuja 
atau dalam beberapa hal dihubungkan dengan upacara 
keagamaan yang berkenaan dengan pemujaan dewa­
251Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
dewa tertentu (Maulana, 1997: 1). Untuk membedakan 
dewa yang satu dari yang lain, dikenal apa yang dalam 
bahasa Sanskerta dinamakan laksana, yang berarti “tanda 
khusus” yang dipunyai seorang dewa, misalnya benda 
atau senjata yang dipegang atau diletakkan di dekatnya, 
vahana (=kendaraan, binatang tunggangan), jenis pakaian 
tertentu yang dikenakan, maupun ciri tubuh tertentu, 
yang merupakan tanda pengenal arca dewa tertentu 
(Sedyawati, 1985: 62). Jadi, laksana adalah tanda yang 
dikaitkan dengan ketentuan keagamaan. Dalam hal ini 
laksana dilihat sebagai suatu identitas yang dapat menandai 
dewa tertentu. Sebagai contoh; Dewa Wisnu digambarkan 
selalu memegang senjata cakra, sedangkan Dewi Sri selalu 
memegang pohon/bunga padi. 
Pembuatan Arca Cor Logam di Trowulan
Desa Bejijong, letaknya di atas situs bekas kota Kerajaan 
Majapahit, sekarang lebih dikenal oleh warga luas 
sebagai daerah Trowulan. Para arkeolog yang telah melakukan 
penelitian secara intensif, sejak dari masa Belanda hingga 
sekarang, menduga bahwa di daerah ini pada abad XIII M 
merupakan Ibukota Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan 
penemuan arkeologis berupa candi, gapura, struktur­struktur 
bangunan, kolam, dan kanal­kanal kuna yang tersebar luas di 
daerah persawahan dan permukiman penduduk saat ini. 
Dalam mencari nafkah, penduduk Bejijong bekerja di 
beberapa sektor, seperti; pertanian, pembuatan bata merah, 
pedagang, pegawai negeri, dan kerajinan membuat arca cor 
logam. Di desa ini terdapat banyak seniman/pengrajin 
pembuat arca logam. Kepandaian membuat arca logam 
252 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
umumnya diperoleh secara turun temurun Pembuatan cor 
logam diawali sekitar tahun 1970­an oleh Pak Sabar, kini 
kepan daian ini telah dimiliki oleh anak, saudara dan para 
tetangga yang berminat membuat arca cor logam. Pembuatan 
arca memerlukan keterampilan, ketelitian, kesabaran, mengerti 
seluk beluk ukuran, bentuk, dan perbedaan serta ciri khas arca 
tertentu. Pengetahuan ini dipelajari dari buku­buku, 
gambar dan foto arca dewa yang akan dibuat. Satu hal yang 
sangat penting, adalah untuk pembuatan arca dewa diperlukan 
kecermatan dan ketelitian, untuk menghasilkan karya yang 
berkualitas dan bernilai tinggi.
Teknik pembuatan arca, selama ini dikenal dengan dua 
cara; teknik a cire-perdue dan bivalve. A cire perdue adalah 
dengan menuangkan logam cair panas ke dalam cetakan 
dari bahan tanah liat. Pada bagian dalam terdapat rongga 
dengan bentuk arca yang diinginkan, cetakan ini hanya dapat 
dipakai sekali.. Adapun bivalve, berupa dua buah cetakan 
yang dapat ditangkupkan satu dengan lainnya. Pada kedua 
sisi dalam cetakan terdapat negatif bentuk arca/tokoh, cetakan 
ini dapat dipakai berulangkali dan biasanya dipakai 
untuk produk masal.
Dalam membuat arca logam diperlukan seperangkat alat 
yang memiliki bentuk dan fungsinya masing­masing. Peralatan 
dibuat dari bahan besi baja pilihan yang dipesan pada pande 
besi. Pande besi sudah mengetahui jenis dan bahan alat­alat 
yang dibutuhkan oleh seniman arca cor. Namun ada beberapa 
alat yang bisa dibuat sendiri, memakai bahan kawat baja 
bekas payung dan ruji sepeda, khususnya untuk alat­alat yang 
kecil dan runcing, atau berbentuk seperti huruf. Beberapa 
jenis alat yang biasa dipakai untuk membuat arca memiliki 
253Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
nama dan fungsi yang berbeda satu dengan lainnya (Lelono, 
2007: 113), antara lain:
1. Esek-esek besar, dipakai untuk menoreh model arca 
pada bagian yang lurus dan simetris.
2. Esek-esek kecil, dipakai untuk menoreh model arca pada 
bagian yang kecil dan rumit, misalnya lekukan­lekukan.
3. Glati ukir, berfungsi untuk memotong model pada bagian 
tertentu, sekaligus berfungsi untuk meratakan dan meng­
haluskan.
4. Seret, alat yang dipakai untuk membuat bentuk dasar 
gelang, kalung, sabuk, dan mahkota.
5. Plong, alat yang kedua sisinya ditajamkan, berfungsi untuk 
membuat detil hiasan pada subang, kalung, gelang, ikat 
pinggang, dan hisan pada motif kain.
6. Ukel, sebuah alat kecil dan runcing yang bisa dibuat dari 
bahan jari­jari payung. Alat ini dipakai untuk membuat 
rambut, bulatan­bulatan kecil yang menghiasi subang, 
kalung, kelat bahu, gelang, dan wiron pakaian.
7. Cukit, alat dengan dua sisi yang ditajamkan, dipakai 
untuk membentuk motif bunga teratai, bagian mata, bibir, 
dan telinga. 
8. Coret, dipakai untuk menuliskan huruf, angka tahun, 
nama dewa dan tanda­tanda khusus pada arca. Contoh 
huruf dan angka tahun diperoleh dari buku atau melihat 
koleksi Museum BP3 Trowulan. 
9. Kuas/sikat halus, dipakai untuk membersihkan per­
mukaan model dari sisa­sisa kotoran bekas goresan, 
potongan, dan gosokan. Permukaan model harus benar­
benar bersih dan licin, karena akan berpengaruh pada 
hasil cetakan.
254 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Berbagai peralatan ini memiliki variasi ukuran, 
dari kecil hingga besar, sesuai dengan ukuran arca yang akan 
dibuat untuk arca berukuran besar, dipakai alat berukuran 
besar, dan demikan pula sebaliknya.
Proses pembuatan arca cor memerlukan beberapa 
tahapan yang masing­masing memakai bahan berbeda. 
Sekurangnya ada empat tahap yang harus dilakukan, antara 
lain: pembuatan model arca dari bahan lilin; pembuatan 
cetakan dari bahan tanah liat; Penyiapan bahan cor dari logam 
perunggu atau emas, proses pengecoran, dan proses yang 
terakhir adalah menghaluskan hasil cetakan. 
a.  Pembuatan model arca dari bahan lilin
Seorang seniman ketika membuat model arca yang 
menggambarkan tokoh dewa tertentu memakai 
bahan dasar parafin, damar, dan malam. Ketiganya ber­
fungsi sama, tergantung pada selera dan pengalaman 
masing­masing seniman. Proses pembuatan model arca 
adalah sebagai berikut:
1) Parafin, damar, atau malam dimasukkan ke sebuah 
wadah dicampur dengan serlak (untuk pewarna), dan 
dipanaskan dalam wadah sampai mencair dan pekat 
seperti glali (adonan gula Jawa). sesudah warnanya 
berubah menjadi hitam kekuning­kuningan, lalu 
dituang ke lantai yang dilapisi dengan air sabun 
susaha tidak lengket.
2) sesudah dingin akan terbentuk lempengan warna 
coklat tua dan keras. Lempengan ini lalu 
dipanaskan dengan sebatang lilin sambil diremas­
remas sampai berbentuk bulatan. Gumpalan parafin 
ini lalu dibentuk agak lonjong sesuai 
255Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
ukuran arca yang akan dibuat, dan diangin­anginkan 
sampai dingin dan menjadi keras. 
3) Bentuk dasar dibuat dengan membagi dalam tiga 
bagian; bagian kepala, badan, dan tangan­kaki. Alat 
yang dipakai adalah esek-esek besar dan kecil serta 
glati. Bagian­bagian ini lalu dipotong dan 
ditoreh secara perlahan. dengan cara memotong, 
menoreh, bagian per­bagian secara perlahan­lahan. 
4) Bentuk setengah jadi, sesudah bentuk dasar jadi, kemu­
dian membuat bentuk yang semakin jelas seperti, 
anting, telinga, gelang, dan asesoris lain yang meleng­
kapi arca, alat yang dipakai (seret kecil, glati ukir, 
coret). 
5) Tahap selanjutnya membuat detail secara teliti, seperti 
rambut (ikal, lurus, keriting) tergantung dari tokoh 
yang digambarkan, motif kain, motif bunga, sulur­
suluran, dan ukiran, dengan memakai alat­alat 
(seret, plong, ukel, cukit).
6) Tahap akhir adalah, menghaluskan dan membersihkan 
seluruh permukaan model dari sisa­sisa kotoran yang 
menempel.
Pada saat melakukan tatahan, torehan, dan pemo­
tongan model, berbagai alat yang dipakai disesuaikan 
dengan bentuk dan ukuran bidang yang akan dibentuk. 
Sebagai contoh; untuk membuat ceplok bunga dengan alat 
cukit, besar kecil nya bunga menentukan pula besar atau 
kecilnya cukit yang dipakai. Sementara itu, alat­alat 
lainnya dapat dipakai untuk saling menunjang dalam 
membuat bentuk, motif dan detail sebuah model arca. 
256 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
b.  Pembuatan rakitan (cetakan) 
Bejijong merupakan sebuah kawasan yang relatif 
subur untuk lahan pertanian, dengan lahan berjenis tanah 
liat. Oleh karena itu, bertani merupakan salah satu mata 
pencahaian penduduk, selain ada yang membuat batu bata, 
karena melimpah nya bahan. Salah satu bahan dasar untuk 
membuat cetakan adalah tanah liat. Para seniman meng­
ambil bahan dari halaman rumah atau persawahan yang 
mereka miliki. Tanah lalu dipisahkan dari campuran 
kerikil dan batu dengan meng­
gunakan saringan kopi. Tanah 
yang telah disaring lalu 
dicampur dengan sedikit air 
dan pasir, untuk dibuat adonan 
dengan cara diremas­remas. 
Adonan ini lalu 
dibanting, dan dibolak­balik, 
sampai menghasilkan adonan 
yang liat, homogen dan halus. Adonan tanah liat akan 
menjadi sempurna dan siap dipakai, jika tidak lengket 
pada jari­jari tangan. Komposisi dari campuran ini (tanah 
liat, pasir dan air), menentukan dalam proses selanjutnya 
untuk membuat cetakan, susaha permukaan cetakan 
(negatif) benar­benar halus dan dapat membentuk detail 
yang ditorehkan dalam arca model dari bahan parafin 
(malam). Pasir halus berperan penting dalam mencampur 
adonan. Karena pasir berfungsi sebagai penyeimbang, agar 
cetakan yang dihasilkan tidak retak, menjadi lebih kuat, 
serta tahan terhadap guncangan yang terjadi pada saat 
proses pengecoran nantinya. Oleh karena itu, campuran 
pasir hanya diberikan kurang lebih lima persen dari tanah 
Foto 1: Contoh beberapa jenis 
alat yang dipakai
257Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
liat, sedangkan air dipercikkan sedikit­demi sedikit agar 
campuran merata. 
Proses selanjutnya adalah mengolesi permukaan model 
dengan minyak/oli dengan memakai kuas halus dan 
rata. sesudah itu dilaukan pembalutan, bahan pembalut 
adalah tanah liat halus yang tela disaring, dicampur 
kalsium sebagai penambah daya lekat, dan ditambah 
dengan air untuk dilumat dan dicampur, sehingga menjadi 
adonan dengan komposisi yang tepat. Adonan ini 
halus tidak lengket dan tidak menempel ditelapak tangan. 
Pembalutan dilakukan dalam dua tahap, yaitu:
1) Pembalutan pertama, model yang telah disiapkan dan 
dilumuri dengan minyak/oil, dilapisi perlahan­lahan 
dan dilakukan penekanan seperlunya pada seluruh 
model sampai merata, lalu didiamkan dengan 
diangin­anginkan sampai agak kering dan keras.
2) Pembalutan kedua: sesudah hasil pembalutan pertama 
agak kering dan keras, lalu dilakukan pem­
balutan kedua dengan cara dan teknik yang sama 
seperti pembalutan pertama. Bedanya pada proses 
kedua ini, bagian bawah lapisan tanah diberi lubang 
untuk jalan ke luar model dari lilin yang mencair 
pada saat dipanaskan pada tungku api. Tujuannya 
pembalutan kedua adalah untuk mempertebal lapisan 
susaha menjadi lebih kuat dan kokoh, karena ber­
fungsi sebaai alat cetakan (negatif) arca yang akan 
dibuat (rakitan). sesudah pembalutan selesai, lalu 
diangin­anginkan sampai kering dan keras. Proses 
pengeringan tidak boleh kena sinar matahari secara 
langsung, karena dapat berakibat cetakan retak/pecah­
258 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
pecah. Dalam konteks ini pengeringan dilakukan 
hanya dengan mengandalkan proses alami. 
jika seluruh rangkaian cetakan telah selesai dan 
kering, seniman menyiapkan bahan logam yang dipakai 
untuk arca. Bahan logam dapat dibedakan menjadi dua 
jenis; bahan emas atau bahan perunggu. Komposisi bahan 
cor emas terdiri dari: emas (60 %), perak (30 %), dan 
aloy (10 %). Sedangkan bahan cor perunggu terdiri dari: 
Uang kepeng cina, kuningan, tembaga dan timah dengan 
komposisi Tembaga 60 %, Kuningan 30% dan timah 10%.
c.  Bahan cor dan alat yang dipakai
Bahan­bahan yang telah disipakan dan ditimbang, 
lalu dibersihkan dari kotoran yang melekat. 
Pembuatan bahan cor emas maupun perunggu proses 
pem bakarannya sama, yakni dengan cara dipanaskan 
di atas tungku api (anglo) memakai bahan bakar 
arang kayu dan sebuah wadah dari bahan gerabah yang 
dinamakan kowi (wadah mirip mangkok, tetapi berukuran 
lebih tinggi). Pada bibir/tepian terdapat cerat sebagai jalan 
ke luar cairan untuk dituang ke dalam rakitan (cetakan). 
Cekungan kowi mengarah ke dalam, agar isinya tidak 
mudah tumpah ketika diangkat dan terguncang. 
pemakaian kowi dipercaya dapat mengurangi 
pemuaian. Dalam proses ini sesudah semua logam 
mencair akan terjadi penguapan yang berakibat, mengu­
rangi bobot logam secara keseluruhan. Jika bahan ini 
dari emas, sangat merugikan karena dapat mengurangi 
bobot, maupun kualitas warna/kecerahan emas ini. 
sesudah semua bahan siap, lalu kowi dipanaskan 
di atas anglo dan ditaburi serbuk borak. Serbuk ini 
259Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
berfungsi untuk mengurangi peresapan kowi, khususnya 
yang masih baru. 
Foto 2: Kowi koleksi BP3 Jatim Foto 3: Kowi sekarang, tengah 
diisi dengan emas, perak, dan 
alloy.
d.  Proses pembuatan arca cor 
Arca cor merupakan suatu karya seni yang indah dan 
rumit, utamanya dalam proses pembuatan diperlukan 
ketelitian dan kecermatan, karena proses pengecoran 
hanya dilakukan sekali, kemudan rakitan dipecah untuk 
mengambil isi cetakan. Oleh karena itu, seluruh materi 
yang akan dipakai sebelumnya harus dipersiapkan 
dengan matang. Jika persiapan dan waktu pemanasan 
kurang tepat, akan berakibat rusaknya hasil setakan. 
Sebagai contoh; misalnya terdapat gerongga/gelembung 
udara, atau permukaan kurang rata. Semua tahapan dalam 
proses pengecoran, menjadi perhatian utama bagi para 
seniman, agar memperoleh hasil yang berkualitas. Berikut 
proses pengecoran logam, antara lain: 
1. Pemanasan rakitan (cetakan negatif)
Rakitan yang sudah kering dipanaskan di atas 
tungku berbahan bakar arang, secara simultan 
temperatur ditinggikan sedikit demi sidikit, dengan 
260 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
cara menambah arang ke dalam tungku. Rakitan 
untuk arca berukuran kurang­lebih 30 cm diperlukan 
pemanasan kurang lebih sekitar 3 jam, sampai terjadi 
perubahan warna menjadi coklat pucat. Pada saat 
pemanasan, dari lubang rakitan yang ada di bagian 
bawah akan ke luar cairan lilin/parafin dengan bunyi 
ces, ces, ces yang semakin lama, bunyinya semakin 
berkurang. Bersamaan dengan mengalirnya cairan 
parafin dan bunyi­bunyi ini, lambat laun di 
dalam rekitan tertinggal sebuah rongga dengan bentuk 
model arca yang dikehendaki. Hilangnya bunyi ces 
merupakan tanda bahwa cairan lilin dalam rongga 
rakitan sudah bersih dan kering. Selain itu, lama­
kelamaan rakitan akan berubah warna menjadi merah 
bata, sebagai tanda siap dimasuki logam cor berupa 
emas atau perunggu. Proses perubahan warna dan 
kematangan rakitan, menentukan kualitas dan hasil 
cetakan.
2.  Pemanasan logam
Sementara itu, secara bersamaan bahan logam 
(emas atau perunggu) yang akan dijadikan coran-coran 
(dilebur) disiapkan dan dipanaskan di dalam kowi. 
Lambat laun, logam dalam kowi akan meleleh/menjadi 
cair. Pemanasan ini kadang dibantu dengan alat las 
karbit, untuk mempercepat proses peleburan, sampai 
terjadi perubahan warna dan bentuk. Jika pada sisi 
luar lingkaran cairan ada terdapat garis melingkar 
mirip bulan purnama, itu adalah tanda logam cor 
ini sudah siap untuk dituang ke dalam rakitan. 
261Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
3. Penuangan cor logam ke dalam rakitan
a) Rakitan lalu diangkat dari api dan didiamkan 
sejenak, lalu lubang tempat pembuangan 
cairan yang terdapat di bagian bawah rakitan ditiup 
memakai gelonggong (batang daun pepaya) 
dengan perlahan­lahan, susaha kotoran yang ada 
di rongga dapat ke luar melalui lubang ini. 
Gelonggong dipakai karena tahan panas dan 
tidak mudah meleleh pada suhu tinggi. sesudah 
peniupan dianggap cukup, dan masih dalam 
kondisi panas, rakitan dibalik sehingga lubang 
yang ada di bawah posisinya di atas, lalu 
dilakukan pengecoran logam ke dalam rakitan.
b) Pengecoran/penuangan cairan logam ke dalam 
rakitan, dilakukan ketika kedua­duanya dalam 
kondisi panas dan dilakukan dengan hati­hati, agar 
tidak tidak tumpah dan terputus­putus. Seandainya 
terputus, akan berakibat masuknya gelembung 
udara. Cara mengatasinya adalah dibantu dengan 
alat las untuk mendorong cairan ini masuk 
pada sela­sela rongga yang sempit. 
Foto 4: Rakitan yang sudah dimasuki dengan coran logam emas. Pada 
lubang tampak warna merah membara. Dalam cetakan inilah terdapat 
sebuah arca
262 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
c) Dalam kondisi terbalik, rakitan diletakkan pada 
tempat yang aman tidak goyang dan diangin­
anginkan, sampai dingin. sesudah rakitan ini 
dingin, lalu dipecah perlahan­lahan meng­
gunakan palu dan kayu. Bahan tanah yang telah 
mengeras ini pecah dan dicelah­celahnya 
tampak sebuah arca. Selanjutnya, permukaan arca 
dibersihkan dengan sikat kawat.
d) Pecahan rakitan bagian dalam dikumpulkan untuk 
dipisahkan dari sisa baan cor, yaitu dengan cara 
dimasak untuk mengambil sisa­sisa emas yang 
kadang menempel pada dinding. Adapun sisa 
arca dari bahan perunggu dimanfaatkan lagi 
untuk pengecoran selanjutnya.
4.  Penyelesaian akhir (finishing)
 Tahap ini sangat menentukan kualitas arca yang 
dihasilkan. Banyak hal bisa menyebabkan cetakan 
cacat, walaupun telah dilakukan pengerjaan sesuai 
dengan prosedur yang ditentukan. Arca sesudah dicuci 
lalu diamati, bagian mana yang tidak sempurna, 
mulai dari bentuk keseluruhan, wajah, badan, kaki 
serta asesoris yang ada. Berdasarkan pengalaman, 
cacat pada bagian muka (hidung, bibir, alis, mata) 
meru pakan hal yang agak sulit untuk diperbaiki 
dengan cara menambal memakai bahan dan campuran 
yang sama. Untuk menambal diperlukan alat las, guna 
menyatukan dengan menutupi bagian yang rusak 
atau cacat. sesudah penambalan, lalu bagian 
ini ditoreh memakai alat sesuai dengan 
kebutuhannya, misalkan; glati untuk memotong dan 
263Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
cukit untuk membuat bentuk bagian bibir, telinga, 
mata, serta hiasan­hiasan lainnya.
Jika penambalan selesai dilakukan, lalu 
dilakukan torehan pada bagian­bagian tertentu sampai 
menjadi sempurna. Langkah selanjutnya yang harus 
dilakukan adalah menyepuh, pada pande mas. Untuk 
arca dari bahan emas, penyepuhan dimaksudkan 
untuk memperoleh hasil dan efek warna emas yang 
ideal. Pemberian efek warna pada tukang emas adalah 
dengan: 
a) Arca dipanasi dengan alat 
las pompa berbahan bakar 
minyak tanah sampai panas, 
lalu dimasukkan ke 
dalam cairan untuk member­
sihkan dari sisa­sisa kotoran. 
lalu arca diangkat dan 
dimasukkan ke dalam cairan 
sepuh emas, memakai 
alat listrik.
b) Langkah terahkir adalah mem­
beri kesan warna kuna dan 
antik, dengan cara dipanasi 
dan diolesi dengan serbuk 
batu bata kuna yang banyak 
ter dapat di Situs Trowulan. 
Hasilnya arca emas ini, 
ber warna emas murni dan antik, berbeda dari 
sebelumnya yang cenderung berwana emas 
kepucatan. 
Foto5: Arca emas 
Dewi Sri, buatan 
Seniman Bejijong
264 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Penutup
Tinggalan budaya materi dari peradaban nenek moyang 
Indonesia yang telah ditemukan sanga luas persebarannya. 
Ada yang telah menjadi koleksi museum, baik pamerintah 
maupun swasta, dan ada juga yang masih insitu (pada 
tempatnya), utamanya yang berupa bangunan­bangunan 
monumental. Seni arca, sebagai salah satu hasil kebudayaan 
dalam penguasaan teknologi cor logam, telah menghasilkan 
karya­karya seni yang indah dan menjadikan ciri khas dari 
arca Indonesia, khususnya Jawa.
Hasil karya berpa arca buatan warga Jawa kuna, 
mayoritas berkaitan dengan hal­hal bersifat religius. Arca­arca 
yang dibuat mayoritas merupakan perwujudan dewa­dewa 
dalam budaya Hindu dan Budha, seperti Dewa Wisnu, Siwa, 
Sang Budha dan masih banyak lagi yang lainnya. Tinggalan 
dan karya seni tinggi ini tidak diketahui bagaimana 
proses dan cara pengerjaannya. Melalui data etnografis, dicoba 
untuk mencari jawabnya, sehingga data etnoigrafis ini 
dapat dijadikan sebagai salah satu bahan analogi. Tujannya 
adalah agar dapat memberikan gambaran kepada generasi 
penerus bahwa karya­karya seni pada masa lalu bukanlah hal 
yang mudah untuk dikerjakan. Banyak cara dan ketentuan 
yang berkaitan dengan sistem kepercayaan yang dianut, yang 
harus diikuti oleh seorang seniman, khususnya seniman arca 
cor pada masa itu. Setiap dewa memiliki kekhususan dalam 
ukuran (ikonometri) dan gaya, sikap tangan, serta atribut­
atribut kedewaannya (ikonografi). Ketentuan ini diacu 
dari seorang pendeta yang diambil dari Kitab Cilpacastra, 
khususnya untuk pengarcaan dewa­dewa Hindu.
265Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
Bejijong sebagai desa tempat tinggal seniman arca cor 
logam, dapat dijadikan suatu contoh, untuk mengetahui 
tentang cara pembuatan arca, sejak dari tahap persiapan bahan, 
pembuatan model, pengolahan bahan, membuat cetakan 
(rakitan), sampai menjadi sebuah arca. Proses pengerjaannya 
ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berbagai hal 
yang berkaitan dengan masalah teknis harus diatasi dengan 
pengalaman secara empirik, untuk menghasilkan sebuah arca 
yang berkualitas. Suatu hal yang patut menjadi perhatian, 
adalah dalam pemakaian bahan maupun caranya masih 
tradisional. Sebagai contoh pemakaian alat­alat anglo, kowi, 
glonggong kates (pepaya), dan arang. Selain itu nama alat yang 
dipakai juga masih memakai nama tradisional seperti; 
esek-esek besar, esek, glati ukir, plong, ukel, cukit, coret, dan lain­
lainnya.
Betrdasarkan pada data etnografis sebagai analogi untuk 
menggambarkan kehidupan warga Majapahit pada masa 
itu, ternyata telah terbukti menyimpan kemegahan dalam 
berbagai bentuk kebudayaan, salah satunya adalah dalam 
karya seni ketrampilan membuat arca.
KEpUstaKaaN
Haryono, Timbul
2002  “Logam dan Peradaban Manusia Dalam Perspektif Hintoris-
Arkeologis” Pidato Pengukuhan jabatan Guru Besar pada 
Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada.
266 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Hernaningsih
1990  Teknik Pembuatan Patung Batu Desa Sidoarjo, Muntilan. 
Skripsi. Program Studi Seni Patung Jurusan Seni Murni, 
Fakultas Seni Rupa Dan Disain. Institut Seni Indonesia 
Yogyakarta.
Hole, Frank and Robert F. Heizer. 
1973.  An Introduction to Prehistoric Archaeology 3 nd 
editions, New York: Holt, Rinehart and Winston Inc., 
Lelono, Hari
2007  “Kajian Etnoarkeologi: Teknologi Pembuatan Arca Logam 
di Bejijong, Trowulan, Jawa Timur Sebagai Bahan Analogi. 
Berita Penelitian Arkeologi (BPA) No 22. Balai Arkeologi 
Yogyakarta.
Maulana, Ratnaesih
1997  Ikonografi Hindu. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 
Jakarta
Muljana, Slamet
2006  Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. PT. LPIS Yogyakarta.
Rangkuti, Noerhadi
2006  “Rajanaga: Ikon Kota Majapahit” Permukiman di Indonesia 
Perspektif Arkeologi. Pusat Penelitian da Pengembangan 
Arkeologi Nasional. Jakarta
Rao, T.A Gopinatha
1920  “Talamana of Iconometri”, Memoirs of the Archaeological 
Survey of India, 3. Calcuta
267Teknologi Pembuatan Arca Logam pada Masa Jawa Kuna
Sedyawati, Edi
1994  “Pengarcaan Ganesa Masa kadiri dan Singasari, Sebuah 
Tinjauan Kesenian”. Disertasi. Lembaga Ilmu Pengetahuan 
Indonesia. Jakarta
Watson, Patty Jo, Steven A. Le Blanc, Charles L. Redman. 
1971  Explanation in Archaeology: An Explicity Scientific 
Approach, New York: Columbia University Press, 

269Situs Kota Majapahit dalam Gambar
13
sitUs Kota Majapahit  
dalaM gaMBar
Sugeng Riyanto
Dahsyatnya Sebuah Gambar
Baca­tulis kini menjadi salah satu kebutuhan primer bagi siapa pun, dan semua orang mengakuinya. Sindhunata pernah menulis bahwa aksara adalah jalan 
menuju ke ilmu pengetahuan, sekaligus sarana bagi manusia 
untuk maju dan berkembang (Sindhunata, 2008). Untungnya 
dia tidak menyi sipkan kata “satu­satunya” sehingga tentu saja 
ada sarana lain, yaitu gambar. Justru dia mempertanyakan, 
sungguhkah pada mulanya memang aksara yang menjadi 
sarana belajar? Dengan cukup meyakinkan akhirnya dijelas­
kan bahwa gambarlah pada awalnya, dan belajar tidak melulu 
harus melalui baca­tulis. Dia contohkan sebuah gambar seorang 
pemburu yang buta aksara, dan disimpulkan bahwa dalam 
warga tanpa alfabet itu, juga ada pendidikan sebagai­
mana ditunjukkan oleh hadirnya pengetahuan dan keahlian 
membuat busur dan anak panah.
270 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Lalu, apa hubungannya dengan Majapahit ?
Sebagai contoh, coba cermati tulisan Rangkuti tentang 
batas kota Majapahit dan bayangkan jika rangkaian aksara 
yang membentuk kata dan kalimat itu tidak dilengkapi 
dengan gambar. Tentu butuh perjuangan ekstra untuk dapat 
meng ikuti makna kata dan kalimat­kalimatnya melalui 
jelajah imajinasi yang terlalu luas; apalagi bagi orang yang 
tidak pernah berkunjung ke Kota Majapahit. Bukan hal yang 
mustahil jika penjelajahan imajinatif itu meleset dari makna 
kata dan kalimat sebagaimana dimaksud oleh Rangkuti. 
Sarana gambar memang dahsyat, termasuk untuk 
men jelaskan batas kota dan jejak­jejak kejayaan Majapahit 
sekalipun. Memang benar dokumen visual, entah itu foto 
atau pun gambar, adalah bagian tak terpisahkan dari proses 
penelitian, dan arkeologi tentu termasuk di dalamnya. 
Kepungan peneliti atas Kota Majapahit memang sudah ber­
langsung lama, setidaknya sejak tahun 1815. Dokumen visual 
pun sejak itu sudah menjadi kebutuhan yang bukan main 
pentingnya. Karya­karya dokumen visual dari para pendahulu 
itu, meskipun umumnya masih hitam­putih, tetapi begitu 
cantik, apalagi jika dicermati di era digital seperti sekarang. 
Fenomena gambar Kota Majapahit itu sedikit atau pun 
banyak juga menjadi inspirasi bagi arkeolog untuk berkarya 
secara visual berkenaan dengan tema Majapahit. Geliat visual 
ini seolah semakin mengukuhkan bahwa rangkaian aksara 
bukanlah monopoli sarana untuk menjelaskan seluk­beluk 
Kota Majapahit, sehingga gambar pun tak boleh dilupakan.
271Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
Majapahit Dalam Kepungan Peneliti
Majapahit, sebuah kerajaan adidaya yang berkembang 
dari akhir abad ke­13 hingga awal abad ke­16 M, merupakan 
salah satu tonggak paling penting dalam mata rantai perjalanan 
sejarah bangsa Indonesia. Kerajaan ini tidak pernah dilepaskan 
dari situs Trowulan di Kabupaten Mojokerto dan situs­situs 
lain di sekitarnya hingga wilayah Kabupaten Jombang, justru 
karena keyakinan di situlah ibu kotanya. 
Sebelum ditemukan pertama kali oleh Wardenaar pada 
tahun 1815, “Kota” Trowulan memang dalam keadaan 
hancur. Berbagai kemungkinan tentang faktor kehancuran 
ini antara lain dikemukakan oleh Sartono dan Bandono 
(1991:130) yang menyatakan ada dua faktor, yaitu politis dan 
alam. Faktor politis misalnya suksesi, perpindahan pusat 
peme rintahan (oleh Rajasanegara ke Tumapel pada tahun 
1451), dan pendirian bangunan baru di atas bangunan lama 
sebagai usaha pemulihan kota. Adapun faktor alam adalah 
letusan Gunung Kelud yang terjadi berkali­kali yang bukan 
hanya menimbulkan goncangan hebat tetapi juga debu yang 
mengubur sebagian kota.
Di antara puing kota dan sisa kejayaan itu, banyak usaha 
telah dilakukan untuk memperoleh gambaran seperti apa 
sebenarnya bentuk dan isi kota Majapahit. Sejak itu, Trowulan 
benar­benar berada dalam kepungan peneliti yang berjuang 
di sana, dan catatan berikut ini adalah sebagian dari hasil 
perjuangan mereka.
Pigeaud (1960­3, IV) menggambarkan beberapa aspek 
kehidupan Majapahit berdasarkan Nāgararakrtāgama, seperti 
penggolongan warga yang terdiri atas empat kelompok, 
yaitu penguasa (rulers), pejabat keagamaan (men of religion), 
272 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
rakyat biasa (commoners), dan para abdi dalem (bondmen). Aspek 
kehidupan ekonomi waktu itu didasarkan pada pertanian 
yang dilakukan di tanah datar atau di punggung bukit dengan 
memakai sistem séngkédan, yang menghasilkan beras 
dan jelai. Pojoh menambahkan adanya jenis­jenis hewan yang 
dikonsumsi pada saat itu, antara lain katak, cacing, penyu, 
tikus, dan anjing. Sementara itu beberapa jenis minuman yang 
dikenal oleh warga Majapahit meliputi tuak, dari pohon 
kelapa maupun lontar, arak dari pohon aren, kilang, brem, dan 
tampo (Pojoh, 1990: 221). 
Secara khusus Parmono Atmadi (1993: 119­130) mengkaji 
aspek arsitektural terhadap tinggalan kepurbakalaan 
Majapahit, baik yang bersifat monumen maupun lansekap 
(tata ruang). Kajian ini selain didasarkan pada pengamatan 
terhadap berbagai tinggalan yang ada juga didasarkan pada 
berbagai laporan para pendahulu seperti: Maclaine Pont 
yang menyebut Javansche Architectuur; W.F. Stutterheim yang 
membicarakan de Kedaton van Majapahit; T.G. Th. Pigeaud yang 
menguraikan dalam bukunya Java in the 14th Century. A Study 
in Cultural History; dan Prapanca dalam Nāgararakrtāgama.
Niken Wirasanti (1997) mengulas situs Trowulan sebagai 
kota pusat kerjaan Majapahit yang difokuskan pada masalah 
penggolongan kota menurut fungsinya (penggolongan non 
numerik) seperti kota sebagai pusat produksi, perdagangan, 
maupun pemerintahan. Diyakini bahwa Trowulan merupakan 
pusat kerajaan Majapahit sebagai sebuah kota yang tertata 
dengan kawasan­kawasan khusus, misalnya kawasan 
bangunan suci (candi), perumahan kelompok profesi dan 
industri, serta kelompok pedagang. 
Kehidupan keagamaan warga Majapahit antara lain 
tercermin dari ditemukannya sejumlah besar bangunan suci 
273Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
(candi) yang juga didukung oleh data tertulis. Selanjutnya 
Subroto (1997: 118) menjelaskan bahwa adanya tiga kepala 
keagamaan di Majaphit, yaitu Buddhadyaksa, Saiwadyaksa, 
dan Mantri er haji meupakan bukti adanya tiga agama, yaitu 
Buddha, Hindu, dan pertapa. Pengakuan terhadap tiga agama 
ini mencerminkan adanya usaha pemerintah pada waktu 
itu dalam memupuk rasa persatuan dan kesatuan melalui 
kehidupan bertoleransi dalam bidang keagamaan. Hal ini 
sangat jelas tergambar dari sisa­sisa Kota Trowulan kuna, 
khususnya tinggalan bangunan keagamaan.
Soekmono dan Inajati Adrisijanti (1993: 67­88) menguraikan 
tentang kejayaan dan dinamika Kerajaan Majapahit seperti 
tercermin dari berbaga tinggalan purbakala yang ada sebagai 
warisan luhur. Warisan ini antara lain adalah:
1. berbagai bangunan candi masa Majapahit yang ter­
sebar di Jawa Timur
2. peninggalan bercorak Islam khususnya nisan­nisan 
bertulis dari abad XIV M yang tersebar pada tujuh 
kelompok makam. Bentuk Nisan­nisan ini paling tidak 
meliputi 4 tipe yaitu: lengkung kala-makara, segi empat 
berujung akolade dan berpangkal antefiks, segi empat 
dengan tonojolan di atas, dan bentuk bertingkat.
Peneliti yang lain, Karina Arifin (1983), secara khusus mem­
bahas waduk dan jaringan kanal di Trowulan. Berdasarkan 
pandangan para ahli sebelumnya ditambah hasil penelitiannya 
(antara lain melalui analisis foto udara), dapat dipastikan bahwa 
kanal­kanal ini dibangun pada masa Majapahit. Selain 
itu, dikatakan bahwa fungsi utama waduk dan kanal adalah 
sebagai pengendali banjir, khususnya untuk menyelamatkan 
kota dan lahan pertanian yang ada. Secara geografis Trowulan 
274 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
memang berada pada bentang kipas alluvial sehingga sungai­
sungai di sekitarnya cepat mengalami pendangkalan justru 
karena berada pada kipas alluvial. Percepatan pendangkalan 
ini berakibat langsung terhadap daya tampung sungai yang 
semakin rendah, sehingga ketika musim hujan potensi meluap­
nya air sungai sangat besar.
Hingga kini, berbagai kegiatan penelitian arkeologi 
di Trowulan dan sekitarnya terus dilakukan, baik secara 
per orangan maupun secara institusional. Seolah berpacu 
dengan menurunnya kualitas dan kuantitas data di lapangan, 
mungkin juga didorong oleh keniscayaan atas hasil penelitian 
yang nantinya akan bermanfaat untuk negeri ini, menggali 
dan menggali memang tidak boleh berhenti. Apalagi ujung 
riset itu seringkali berbuah pertanyaan baru sehingga mesti 
dicari jawabannya, dan terus menggali adalah cara untuk 
menemukan jawaban itu.
Geliat Visual Arkeolog
Kepungan peniliti atas situs Kota Majapahit selain meng­
hasilkan berbagai informasi dan pengetahuan yang sangat 
berharga, juga berbuah dokumen grafis, baik foto maupun 
gambar yang hingga saat ini tak seorang pun mampu meng­
hitung berapa banyak sebenarnya jumlahnya. Begitu banyak 
memang informasi dan dokumen itu hingga mendorong 
beberapa arkeolog berpikir keras untuk memadukan informasi 
tentang Kota Majapahit dengan dokumen grafis. Tujuannya 
tidak lain adalah agar hasil riset tidak sekedar menjadi menu 
yang hanya dapat dikonsumsi oleh arkeolog atau kaum 
akademisi terkait, tetapi juga dapat “disantap” oleh publik 
secara lebih luas. Bahasa gambar, atau setidaknya gabungan 
275Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
antara gambar dan teks, tentu saja menjadi media komunikasi 
yang lebih efektif untuk itu. Beranjak dari situ, beberapa 
arkeolog mulai menggeliat untuk “memberdayakan” aspek 
visual Kota Majapahit sebagai salah satu alat komunikasi 
dengan publik.
Seolah tidak puas dengan foto­foto yang melulu hanya 
dipakai untuk sekedar dokumen dan lampiran semata, 
beberapa arkeolog pun mulai menggeliat secara visual. Saat 
fotografi semakin “diremehkan” di era kamera digital, justru 
karena berbagai kemudahan yang ditawarkan, saat itu pula 
sebenarnya arkeolog semakin jauh dari kemampuan memotret 
yang baik dan benar. Tak heran jika eksotika Kota Majapahit 
tidak dapat terekam dengan semestinya, ada nuansa estetika 
yang luput dari bidikan, entah karena tidak tahu atau memang 
sengaja dilewatkan karena dianggap tidak berguna. Dari 
kacamata fotografi maupun kerangka estetika grafis lainnya, 
Kota Majapahit di Trowulan sesungguhnya menyimpan 
nuansa eksotika yang belum banyak dieksplorasi. Memang, 
mungkin hanya yang berpengalaman dan yang sudah matang 
di bidang estetika grafis saja yang dapat melihat mutiara­
mutiara itu, termasuk di antaranya adalah beberapa arkeolog 
yang secar

Related Posts:

  • majapahit 4 ng Benda Cagar Budaya (Tanudirjo, 1998: 14)Berkenaan dengan pengelolaan sumberdaya budaya, siapapun oran… Read More