Rabu, 03 Mei 2023

majapahit 2

M rEliEF daN sastra 
tErtUlis
Siswanto
Pendahuluan
P eninggalan masa Hindu­Budha yang tersebar di kawasan Provinsi Jawa Timur sebagian besar meru pakan peninggalan peradaban besar seperti 
Kadiri, Singosari, dan Majapahit. Diantara ketiga kerajaan besar 
ini rupanya Majapahit yang paling banyak peninggalan 
sehingga banyak mendapat perhatian untuk mengungkap 
misteri­misterinya. Dan konon untuk menyingkap misteri 
warisan Majapahit tidak ada habisnya dan selalu ada yang 
baru. Masa kejayaan dari sebuah kerajaan besar di nusantara 
yang disebut Kerajaan Majapahit berlangsung antara abad 13­15 
Masehi. Kerajaan yang cukup berpengaruh dan berwibawa di 
58 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
wilayah nusantara hingga sampai ke mancanegara pada masa 
itu, kewibawaan ini diduga mungkin tidak sekedar karena 
kuatnya prajurit perang, kuatnya dukungan rakyat, kewibawaan 
dan strategi politik Sang Raja saja, tetapi karena kekuatan sosial 
warga, kekuatan ekonomi, dan kebudayaannya yang turut 
berperan dalam membesarkan kerajaan yang berjaya selama 
ratusan tahun. 
Memandang relief­relief pada media candi­candi maupun 
pada media lain dapat menimbulkan rasa kekaguman seolah 
kita terbawa ke masa lalu yang romantik. jika hanya 
dipandang dan diamati secara sekilas tampak hanya sebagai 
gambar atau hiasan belaka. Akan tetapi jika dicermati 
lebih mendalam, ternyata sebagian besar merupakan cerminan 
yang ekspresif dalam mengambarkan suatu potret keadaan 
lingkungan di masa lalu. Lalu jika berhadapan dengan 
kedua jenis benda itu seolah sedang membuka halaman demi 
halaman melihat potretnya lalu membaca teks keterangannya, 
walaupun keduanya tempatnya terpisah. 
Disatu sisi memang relief ada kelebihan dan ada kele­
mahannya, kelebihannya jelas pada keotentikan dan keunikan 
yang masih bisa disaksikan sampai saat ini, sedangkan 
kelemahannya apa benar gambar itu sebagi penggambaran 
atau visualisasi keadaan masa lalu?. Oleh karena itu tidak 
dibahas disini tentang penggambaran pada relief ini 
berdasarkan apa? dan menceritakan apa?. Tetapi dalam 
paparan disini hanya mengamati sisi gambar dan adegan­
adegan lain dalam gambar relief, lalu diapresiasikan dengan 
lingkungan kehidupan sehari­hari pada masa kini. lalu 
dilengkapi dengan membaca dan membandingkan data 
tekstualnya, maka lengkaplah menikmati keindahan masa lalu 
itu dalam kemasan potret­potret kearifan lingkungannya. 
59Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
Sebagian menunjukkan lukisan lingkungan alam sekitar 
(lanskap), ada yang penggambaran lingkungan permukiman, 
lingkungan rumah tangga, lingkungan kerajaan dan lainnya. 
Penggambaran unsur­unsur eksploitasi sumberdaya alam 
oleh warga masa lalu mengalir begitu saja dalam 
menyikapi tuntutan dan tantangan hidup mereka. lalu 
secara jelas mereka ekspresikan kedalam bentuk lukisan pada 
hamparan tatanan batu­batu candi, bagian bangunan, dan 
artefak lainnya. Banyak ragam ekspresi dalam lukisan masa 
lalu di dalam relief, namun paparan ini dari berbagai relief 
yang ditemukan dipilahkan menjadi kelompok­kelompok 
pemanfaatan dan kelompok warga masa lalu dalam 
menyikapi lingkungannya. 
Pertanian 
Kejayaan Majapahit yang terkenal sampai ke mancanegara 
itu salah satunya karena kemajuan dibidang pangan khusunya 
pertanian. Data visual berupa penemuan artefak pertanian, 
penggambaran aktifitas pertanian melalui relief, dan data 
tekstual berupa kitab­kitab kuna dan prasasti­prasasti yang 
menyebut aktivitas pertanian merupakan bukti yang konkrit 
pertanian Majapahit. Penggambaran mengenai pertanian di 
Jawa yang disebutkan dalam prasasti antara lain pada Prasasti 
Kwak I (879 M), prasasti Ngabean V (prasasti Ra Tawun) 883 
M, prasasti Kamalagi (831 M), prasasti Watukura I (902 M), 
prasasti Harinjing (921 M), prasasti Bakalan (prasasti Wulig) 
934 M, prasasti Kamalagyan (1039 M), prasasti Kandangan 
(1350 M), dan prasasti Trailokyapuri (1486 M). Prasasti­prasasti 
ini memuat data mengenai jenis­jenis pertanian, pejabat­
pejabat yang mengurusi pertanian, pajak pertanian, pengairan, 
60 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
usaha­usaha yang dilakukan oleh penguasa untuk memajukan 
sektor pertanian serta gambaran mengenai proses bertani padi 
(Oriza sativa) dari mulai pengolahan tanah, menanam, menuai, 
dan mengolah hasil panenannya. Dari data prasasti ini 
sudah dapat dirasakan kompleksitas kehidupan pertanian 
pada masa itu (Wardani, 2009).
Cara bercocok tanam padi pada masa Majapahit yang 
tampak begitu sistematis tentunya tidak terjadi begitu saja, pada 
masa sebelumnya diduga terjadi adanya tahapan pengenalan 
sampai pembudidayaan tanaman. Padi sebagai bahan pokok 
makanan warga hingga saat ini masih sebetulnya masih 
menyimpan pertanyaan, sejak kapan padi dibudidayakan di 
nusantara atau di Jawa?. Sampai saat ini belum ada pernyataan 
dan bukti arkeologis yang kuat untuk pembuktiannya. Di 
beberapa situs prasejarah pernah ditemukan sisa tanaman padi 
dalam bentuk arang kulit padi (sekam), namun karena belum 
ada pertanggalan situs maka belum bisa dikatagorikan apakah 
lebih tua, sejaman, atau lebih muda dari masa Majapahit. 
Membaca catatan dalam prasasti maupun memperhatikan 
penggambaran pada relief, budidaya pertanian khususnya 
tanaman padi di Jawa telah dikenal semenjak abad ke­8. 
Dalam prasasti tidak menyebutkan secara eksplisit nama padi, 
namun disebutkan kata bras atau beras. Penggambaran padi 
pada relief peninggalan candi­candi di Jawa lebih jelas adalah 
proses pembudidayaan padi dari mulai gambar bentang 
sawah, proses pengolahan tanah untuk tanaman padi, proses 
penanaman padi, proses memanen atau memetik padi, proses 
angkut padi hasil panenan, proses menjadikan beras, menanak 
nasi hingga penggambaran hidangan nasi. Penggambaran 
relief­relief ini tidak dijumpai dalam satu panil atau 
61Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
dalam satu candi tetapi diambil dari berbagai lokasi candi 
dalam kurun waktu peninggalan masa Majapahit. 
1.  Bentang Persawahan
Penggambaran bentang sawah adalah pemandangan 
lingkungan dengan liukan saluran­saluran irigasi yang 
seolah­olah menggambarkan aliran air. Gambaran petak­
petak sawah dengan batas­batas pematang, padi­padi yang 
merunduk siap panen, aktivitas memetik padi dan bagian­
bagian petak sawah yang belum ditanami, serta kegiatan 
olah sawah dengan cara membajak. Gambaran­gambaran 
relief ini merupakan pemandangan bentang sawah 
yang tertata rapi sebagimana sawah­sawah masa sekarang 
yang masih dijumpai di pedesaan. Sentuhan teknologi 
telah tampak disini, disadari atau tidak mereka telah 
memakai teknologi pengendalian penampungan air, 
yaitu agar kondisi tanaman padi tetap tergenang air maka 
dibuat petak­petak pematang. Pemandangan ini 
seperti dijumpai pada relief yang dipahat pada batu 
andesit dari bagian batu candi koleksi Museum Trowulan. 
Gambar. relief sawah pada batu candi koleksi Museum Trowulan,  
dan gambar kanan sketsanya oleh Prof. Th. P. Galestin dalam Pigeaud 
(1962,p.116)
62 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Data tertulis oleh Mpu Prapanca di dalam kitab 
Nagarakrtagama sedikitnya ada lima kali menyebutkan kata 
“sawah” dalam berbagai ilustrasinya, sedangkan dalam 
kitab Kakawin Siwaratrikalpa (Zoetmulder, 1983) pada bait 
ke­6 penyair menggambarkan sawah dan ladang disertai 
ilustrasi pemandangannya sebagai berikut:
“Di sebelah barat terdapat punggung­punggung bukit yang 
penuh dengan sawah­sawah, pematangnya kelihatan jelas 
dan tajam. Halama­halaman saling berdekatan, rapi berderet, 
pohon­pohon nyiur semuanya berselimut kabut. Sayap­sayap 
burung kuntul berkilauan ketika mereka terbang di atas, 
samar­samar kelihatan dari jauh di tengah­tengah awan­awan, 
lalu mereka lenyap, terlebur dalam kabut dan tidak 
kelihatan lagi.”
2.  Membajak 
Salah satu kegiatan pertanian dalam penyiapan lahan 
untuk tanaman padi atau palawija diawali dengan peng­
olahan tanah. Membajak sebagai aktivitas peng olahan 
tanah sebagai salah satu cara olah sawah atau lahan yang 
bertujuan untuk memberi pernafasan tanah dan atau meng­
geburkan tanah serta memberantas pertum buhan gulma 
serta tumbuhan pengganggu yang tidak dikehendaki. Cara 
pengolahan tanah dengan alat bajak dan bertenaga hewan 
telah dikenal berabad­abad di masa lalu. Darimana cara ini 
berasal?, asli atau dari luar?, dan sejak kapan berkembang 
di Nusantara? belum ada jawaban. Namun secara logika 
pengenalan cara olah tanah semacam ini sejak dikenalnya 
budaya budidaya atau bercocok tanam. 
Adegan secara naturalis penggambaran orang sedang 
membajak dipahatkan pada relief Candi Borobudur 
dimana penggambarannya tidak jauh berbeda dengan 
63Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
kegiatan serupa yang masih dilakukan petani saat ini. 
Dua ekor sapi yang dikait keduanya pada leher dan 
ditengahnya dipasang batang penarik bajak, sedang 
bajaknya bertangkai sebagai kemudi. Berbeda sekali contoh 
adegan orang yang sedang membajak ini pada relief candi 
lain, terutama candi­candi di Jawa Timur. Perbedaanya 
terletak pada binatang yang menarik bajak, dimana pada 
Candi Panataran ada penarik bajak berupa kepiting yang 
dipahatkan di Candi Naga pada sisi kiri atas. Ada juga 
adegan membajak dimana penarik bajaknya sapi namun 
pembajaknya singa (Phanthera leo) yaitu pada relief Kolam 
Petirtaan masih di dalam kompleks Candi Panataran. 
Gambar: Relief membajak pada Candi Petirtaan dan Candi Naga  
di Kompleks Candi Panataran di Kabupaten Blitar
Gambar: Relief membajak dengan tenaga gajah terdapat di Candi 
Penampihan Tulungagung (kiri), relief membajak di Candi Gambar 
Wetan Tulungagung (kanan) sketsanya oleh Prof. Th. P. Galestin  
dalam Pigeaud (1962, p.39)
64 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar: Kegiatan membajak sawah masa kini di Madura dimana 
tangkai kemudi bajak mirip dengan relief pada Candi Penampihan 
Tulungagung (foto: penulis)
Lain halnya relief membajak pada Candi Penampihan 
di Kabupaten Tulungagung, uniknya dimana hewan 
penarik bajaknya adalah dua ekor gajah (Elephas sp.). 
Terlepas gambaran pada relief ini apakah meng­
gambar kondisi jaman dulu atau hanya sebuah ilustrasi 
belaka?, yang jelas fenomena ini yang menarik untuk 
menarik benang merah tentang aktivitas pengolahan 
sawah dan ladang yang telah dikenal berabad­abad pada 
masa itu, namun kini masih layak dilakukan terutama di 
pedesaan. 
3.  Menanam padi
Tanam padi dengan teknik semai sudah dikenal lama 
sejak masa lampau di Jawa. Salah satu proses budidaya 
tanam padi yang belum berubah caranya samai sekarang, 
dengan cara manual yaitu menancapkan satu persatu 
batang bibit padi ke dalam lumpur dengan jarak tertentu. 
Penanaman padi dengan cara mekanis tampaknya belum 
menjadi pilihan karena sambil memungut batang bibit 
padi sambil merasakan berapa batang yang akan di tanam. 
Penanaman manual dengan tangan juga menjamin batang 
65Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
bibit tidak akan patah tertekan sehingga menjamin babit 
padi kelak akan tumbuh baik. Potret menanam padi pada 
masa Majapahit seperti pada relief umpak batu koleksi 
Museum Trowulan, tampak menggambarkan kegiatan 
orang sedang menanam padi manual. Cara menanam 
padi pada relief seperti ini masih dilakukan orang sampai 
sekarang, yaitu sesudah tanah diolah menjadi lumpur 
lalu permukaan lumpurnya digaris sebagai pola 
untuk menancapkan batang bibit padi. Penanaman padi 
dilakukan dengan cara mundur agar tidak merusak atau 
menginjak bibit padi yang baru ditanam.
Gambar: Relief “menanam padi” pada umpak batu koleksi Museum 
Trowulan Mojokerto 
Gambar. Kegiatan menanam padi yang masih dilakukan petani 
masa kini (foto: Sugeng R.)
66 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
4.  Panen dan menumbuk padi
Padi yang siap panen digambarkan bentuk untaian­
untaian yang merunduk menunjukkan siap untuk dipetik. 
Kegiatan memetik padi tidak jauh berbeda apa yang masih 
banyak dilakukan petani di Jawa pada beberapa dekade 
tahun yang lalu yaitu dengan cara ani-ani. Cara memetik 
padi sekarang telah banyak berubah yaitu dengan cara 
memangkas seluruh batang atau sebagian batang padi 
lalu memisahkan butiran gabahnya dengan mesin 
perontok, namun di beberapa tempat masih ada yang 
melakukan secara tradisional yaitu dengan cara ani-ani. 
Cara mengupas kulit padi untuk dijadikan beras pada 
masa lalu tampaknya telah memakai cara ditumbuk. 
Relief yang menggambarkan adegan demikian terdapat 
di Candi Borobudur. Sedangkan artefak lumpang batu 
sebagai alat menumbuk padi saat ini masih banyak di­
jumpai dibeberapa situs. 
Gambar: Relief memetik padi (panen) pada Candi Rimbi  
di Kabupaten Jombang 
67Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
5.  Menanak nasi 
Pada masa Majapahit menanak nasi dicontohkan pada 
relief umpak batu yaitu dengan mengunakan dandang 
dan kukusan diletakkan di atas tungku yang berbahan 
bakar kayu. Cara menanak nasi seperti ini sebagian masih 
dilakukan oleh warga saat ini, terutama yang masih 
memakai bahan bakar kayu atau arang. Nasi yang 
telah matang dihidangkan dalam bakul yang dilengkapi 
dengan lauk pauk berupa ikan terdapat pada relief Candi 
Cabean Kunti di Kabupaten Boyolali. 
Gambar. Relief “menanak nasi” pada umpak batu  
koleksi Museum Trowulan Mojokerto 
Berburu 
Berburu binatang merupakan kegiatan manusia yang 
berlagsung sejak masa prasejarah dan ribuan tahun sebelum 
sekarang. Aktifitas berburu pada masa prasejarah biasanya 
digambarkan pada lukisan­lukisan dinding gua. Sedangkan 
masa sejarah klasik di Jawa digambarkan pada relief­relief, 
dituliskan dalam prasasti maupun naskah­naskah sastra kuna. 
Bagi rakyat biasa, berburu lebih utama sebagai pemenuhan 
68 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
kebutuhan pangan untuk memenuhi kebutuhan protein 
hewani. Mungkin lain halnya dengan para kepentingan bagi 
para bangsawan atau raja, berburu merupakan kegemaran, 
kebanggaan, dan sebagai sarana latihan berperang. Disamping 
sebagai hiburan, berburu dengan memakai senjata di 
hutan belantara dapat bermanfaat sebagai tempaan atau latihan 
berperang bagaimana cara mengepung dan melemahkan 
musuh. Gambaran seorang raja yang sedang berburu seperti 
dalam petikan dari kitab Nagarakrtagama yang berbunyi 
sebagai berikut:
Pupuh­L (1)
ini Bagianda Raja berangkat berburu
Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta
Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara
Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak….
Pupuh LIV (1)
ini Baginda telah mengendarai kereta kencana
Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya
Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan
Yang menjauhkan diri lari bercerai­berai meninggalkan 
bangkai
(Pigeaud, 1960).
Isi pada bait ini tampak mirip dengan gambaran 
dalam bentuk relief di Candi Sukuh Jawa Tengah, dimana 
digambarkan suatu adegan bangsawan sedang berburu 
dengan naik kuda dan di tangan kanan memegang sejata. Di 
belakangnya sedang berjalan juga tampak seorang bangsawan 
yang dilukiskan dengan berpenutup kepala serta dipayungi, 
sedangkan pada bagian depan para bala dan seekor anjing 
pemburu siap memburu.
69Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
Gambar Relief “suasana berburu” pada Candi Sukuh di lerereng barat 
Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar (batang skala 1 meter) 
Berdasarkan relief­relief yang menggambarkan berburu 
tampaknya pada masa lalu telah ada beberapa cara berburu 
atau menangkap binatang yaitu dengan cara panah, cara jerat, 
cara tangkap, cara pancing, cara pukul, cara geladag. Cara 
geladag seperti contoh relief di Candi Sukuh di atas adalah 
memakai hewan geladag yaitu anjing. Dalam Pupuh LIII 
yang berisi tentang kegiatan berburu:
1.  ini pemburu kijang rusa riuh seru menyeru
 Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya
 Karena luka kakinya, darah deras meluap­luap
 Lainnya mati terinjak­injak, menggelimpang kesakitan
2.  Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing
 Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk 
timbun
 Banteng serta binatang galak lainnya bergerak 
menyerang
 Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang
3.  Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu 
rimbun
 Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut 
puncak
 Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah
 Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!
70 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
4.  Segera kawan­kawan datang menolong dengan kereta
 Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-
jejak
 Karenanya badak mundur, meluncur berdebak 
gemuruh
 Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk 
timbun.
 (Pigeaud, 1960).
Cara berburu binatang selain geladag adalah adanya cara 
jerat yang digambarkan pada relief terakota koleksi Museum 
Trowulan. Adegan ini yaitu digambarkan dengan memasang 
tali jerat pada ujung tongkat atau ranting elastik lalu 
dileng kungkan sedemikian rupa. jika ada hewan buruan 
menyentuh tali atau jebakan ini maka hewan terjerat tali, 
pada saat bersamaan tongkat ini kembali lurus sehingga 
menarik hewan buruan yang terjerat kakinya atau bisa pada 
lehernya. 
Gambar: Adegan menjerat binatang dilukis pada bejana terakota koleksi 
Museum Pusat Informasi majapahit Trowulan (batang skala 10 cm).
Cara menangkap ikan dengan pancing dikenal melalui 
relief tampaknya mulai muncul pada masa sesudah abad ke­10, 
71Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
karena relief kegiatan memancing hanya ada pada candi­candi 
pada era sesudah abad ke­10 saja. Contoh adegan memancing 
ikan dan memancing katak seperti di Candi Surawana, 
demikian pula adegan memancing katak ada terdapat di relief 
Candi Rimbi. 
Gambar: Memancing katak, relief Candi Rimbi Kabupaten Jombang
Menangkap ikan dengan cara wuwu, yaitu semacam alat 
perangkap dari bahan bambu yang dibuat sedemikian rupa 
sehingga kalau diletakkan di dalam air ikan yang masuk 
kedalamnya terjebak tidak bisa keluar lagi. Gambar yaitu 
memasang wuwu diperlihatkan pada relief di Candi Rimbi. 
Kegiatan ini masih ada beberapa warga yang melakukan 
penangkapan ikan dengan cara ini terutama warga 
pedesaan, karena bahan dan pembuatannya mudah.
Cara berburu lainnya yaitu cara panah, dimana degan 
meng gunakan peralatan busur dan anak panah untuk 
melumpuhkan binatang buruan. Relief panah dan kegiatan 
berburu dengan panah banyak digambarkan pada relief candi 
antara lain pada Candi Panataran di Blitar, Candi Kedhaton 
di Probolinggo, dan Candi Surawana di Kediri. Dan di dalam 
kitab Negarakrtagama disebut panah pada pupuh LV (3) 
”..gelaknya seperti hujan panah jatuh”. (Pigeaud, 1960).
72 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar: Relief pemakaian panah untuk membunuh babi hutan  
di Candi Kedhaton Kabupaten Probolinggo.
Secara keseluruhan di dalam kitab Nagarakrtagama 
disebutkan pula beberapa jenis binatang buruan, antara 
lain celeng (Sus scrofa), kasuari (Casuarius sp.), rusa (Cervus 
sp.), kelinci (Leporidae), badak (Rhinoceros sp.), banteng 
(Bos banteng), kerbau (Bos bubalus), lembu (Bos indicus), serta 
harimau (Panthera sp.), biawak (Varanus sp.), kucing (Felis 
silvestris catus), kera (Macaca sp.), serigala (Canis lupus), dan 
singa (Panthera leo). 
Binatang-binatang asing
Pemburuan dan penggambaran unsur fauna ternyata 
tidak hanya binatang yang berhabitat di jawa saja, ternyata 
binatang asing disebut dan digambar. Apa yang menjadi 
bahan wawasan sang penyair dan pemahat relief? apa karena 
tuntutan cerita atau karena memang benar ada binatang 
ini didatangkan ke Jawa?. Bait­bait dalam berikut dalam 
kitab Nagarakrtagama:
73Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
Pupuh L (6)
Tertangkap segala binatang dalam hutan
Tak ada yang menentang, semua bersatu
Srigala gagah, yang bersikap tegak­teguh
Berunding dengan singa sebagai ketua
Pupuh LIV (2)
Celeng, kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan
Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai­berai
Menteri, tanda dan pujangga di punggung kuda turut 
memburu
Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, 
tertikam.
(Pigeaud, 1960).
Apa yang tampak ada yang janggal dalam bait­bait 
ini?, yaitu pelukisan dan penulisan jenis binatang asing 
sebagai buruannya, dimana disebutkan binatang kasuari dan 
singa. Diketahui karena kedua jenis binatang ini bukan jenis 
yang berhabitat di Jawa. Tampaknya si penyair dalam ceritanya 
hanya memaparkan sebagai ilustrasi atau latar belakang 
untuk lebih menghidupkan penggambaranya adengan sedang 
berburu di hutan. lalu dalam gambar relief apakah 
terkait dengan isi kitab Nagarakrtagama atau tidak bahwa 
bukti adanya penggambaran kedua jenis binatang ini 
seperti dipahatkan di Candi Panataran untuk relief kasuari, 
sedangkan jenis singa juga dipahatkan di Candi Panataran dan 
candi­candi lainnya.
74 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar Relief burung kasuari (kiri) dan keledai (kanan) 
pada Candi Panataran Kabupaten Blitar.
Tentang keledai (Equus asinus) binatang yang berhabitat 
asli dari Afrika ini didatangkan ke Jawa atau hanya disebut 
dalam cerita? seperti halnya singa dan kasuari. 
Alat transportasi 
Transportasi pada masa Hindu­Buddha di Jawa rupanya 
masih mengandalkan tenaga hewan, baik untuk transportasi 
orang atau barang. Hewan yang dipakai sebagai alat 
transportasi tentunya hewan yang memiliki tenaga kuat 
misalnya gajah, kerbau, sapi, kuda, dan keledai. Seiring dengan 
adanya teknologi roda maka beban hewan sebagai tenaga alat 
transportasi menjadi ringan. Selain itu dengan adanya roda 
transportasi lebih praktis, ekonomis dan cepat karena dengan 
memakai kereta yang ditarik kuda larinnya lebih cepat 
maupun gerobag yang ditarik sapi, gajah maupun kerbau 
muatannya lebih banyak. 
75Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
Gambar: Kereta yang ditarik empat ekor kuda,  
relief pada Candi Panataran di Blitar
Relief gajah di Candi Panataran digambarkan sedang 
ditunggangi dan dengan aksesoris di tubuhnnya yaitu ber­
pelana. Pada Candi Panataran banyak dipahatkan gajah 
dan semuanya menunjukkan jenis gajah Asia. Demikian 
pula relief gajah di Candi Sukuh yang terletak di Kabupaten 
Karanganyar, memperhatikan jenis gajahnya adalah gajah Asia 
(Elephas maximus) digambarkan sedang ditunggangi orang 
pada punggunggnya, berkalung kelinting dan berjalan sambil 
dikawal seseorang. Tinggalan Candi Sukuh ini berdasarkan 
catatan dan prasasti berupa candra­sengkala yang bermakna 
angka tahun antara 1416­1459 Masehi atau abad ke­15 
(Kempers, 1959). 
pemakaian gajah sebagai alat transportasi pada abad­
abad sekitar abad ke­15 ini didukung oleh bukti­bukti 
tertulis sebagaimana disebutkan dalam kitab Nagarakretagama 
pupuh XVII (5) berbunyi “Bhayangkari gemruduk berbondong-
bondong naik gajah dan kuda “ (Pigeaud, 1960).
76 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar, Gajah (Elephas sp.) sebagai alat transportasi 
pada relief Candi Jawi di Pasuruan
Sarana transportasi bergerak selain di darat adalah sarana 
transportasi air berupa perahu. Pupuh LXVI Nagarakrtagama 
menyebut perahu, 
Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan 
persajian.
Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah­
rumahan yang terpikul.
Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melu­
kiskan kutipan kidung.
Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar meng­
guntur menggembirakan.
(Pigeaud 1960).
Gambaran perahu dan kapal yang sangat terkenal reliefnya 
berada di Candi Borobudur, yang membuktikan jauh sebelum 
masa Majapahit di Jawa sudah memakai transportasi 
perahu. Pengaruh Majapahit sampai mancanegara dan 
pengaruh kekuasaannya di Nusantara sangat mustahil kalau 
tanpa didukung transportasi perahu. Walaupun disebutkan 
dalam data tekstual, namun sayangnya penggambaran perahu 
masa Majapahit dalam relief sangat langka. Satu contoh peng­
gambaran bentuk perahu pada dinding barat Candi Pendopo 
Teras kompleks Candi Panataran di Blitar.
77Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
Gambar. Perahu Majapahit?, gambar kiri pada relief Candi Pendopo 
Teras Panataran Blitar, dan gambar kanan perahu dayung pada relief 
Candi Pendopo Teras Panataran Blitar sketsa oleh Prof. Th. P. Galestin 
dalam Pigeaud (1962, 218).
Potret lingkungan dan landskap
Seni masa lalu sudah demikian tinggi namun masih ter­
batasnya media untuk menuangkan gagasannya. Sedangkan 
media yang ada untuk melukis biasanya tidak tahan lama, 
misalnya pada daun, kulit kayu, atau pada kayu. Media batu 
adalah salah satu yang tahan lama sebagi media lukis yang 
dibuat bentuk relief. 
1.  Lanskap
Lukisan alam lingkungan yang menggambarkan suatu 
tata lingkungan yang apik sebuah candi dengan taman 
yang dihiasi tumbuh­tumbuhan serta genangan air kolam 
yang mengelilinginya. Gambaran ini merupakan 
gambar lansekap candi tempat relief itu dipahatkan yaitu 
Candi Jawi. Relief lansekap ini mengilhami perancang 
dalam mere konstruksi dan merehabilitasi candi itu sendiri 
yang pada mulanya telah rusak dan runtuh. Lansekap ling­
kungan perkampungan dengan jajaran rumah penduduk, 
jalan kampung serta fasilitas umum (public area) nya 
dipotret lewat lukisan batu yang ditampakkan dalam 
bentuk tiga dimensi. 
78 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar: Relief yang mengambarkan“lingkungan kampung dan 
sawah” pada lempengan batu koleksi Museum Trowulan Mojokerto, 
sketsa oleh Prof. Th. P. Galestin dalam Pigeaud (1960, p.II).
Gambar: Relief yang mengambarkan “lanskap lingkungan kampung” 
pada dinding Candi jawi Kabupaten Pasuruan,  
sketsa oleh Prof. Th. P. Galestin dalam Pigeaud (1962, p.II).
2.  Jual beli
Ada adegan pada relief yang menggambarkan sebuah 
kegiatan ekonomi sehari­hari dalam warga yaitu 
79Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
transaksi atau jual beli di sebuah pasar. Cara yang diguna­
kan apakah dalam bentuk barter atau telah memakai 
alat tukar berupa uang tidak tampak dalam relief. 
Penggambaran suasana aktifitas jual beli yang dilakukan 
oleh dua orang penjual dan pembeli yang bernaung 
di bawah pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Pohon waru 
sebagai jenis pohon yang mudah dan cepat tumbuh serta 
memiliki tajuk daun yang rindang sehingga nyaman 
bernaung di bawahnya. 
Gambar: Relief kiri “Perempuan duduk di bawah pohon sambil 
menjajakan dagangan”, kanan “transaksi di bawah pohon” pada 
batu koleksi Pusat Informasi Majapahit Trowulan Mojokerto.
Adegan semacam ini layaknya sekarang masih banyak 
dijumpai di dalam sebuah pasar tradisional, dimana pada 
umumnya masih menjajakan langsung barang dagangan­
nya di atas wadahnya dan bernaung di bawah pohon. 
Pohon pada relief ini diidentifikasi dengan ciri 
bentuk tajuk, bentuk daun dan bentuk bunganya sebagai 
pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Relief pada batu­batu 
andesit ini diduga merupakan bagian dari sebuah 
candi masa Majapahit dimana sekarang sebagai koleksi 
Museum Trowulan Jawa Timur. 
80 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Cuaca dan keadaan alam
Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis yang hanya 
memiliki dua musim yaitu musim kering atau kemarau dan 
musim hujan. Hujan badai ditandai dengan binatang­binatang 
berteduh dibawah pohon, ranting­ranting patah diterpa angin. 
Potret­potret kejadian alam pada masa lalu mereka goreskan 
pada bagian candi antara lain di Candi Borobudur, Candi 
Rimbi, Candi Jago, dan Candi Wleri.
Gambar: Suasana awan mendung, hujan dan air dibawah  
terdapat ikan dan tumbuhan teratai, pada relief pada Candi Wleri  
di Kabupaten Blitar
Gambar: Suasana hujan dan tumbuhan teratai pada Candi Rimbi 
Kabupaten Jombang.
81Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
Demikian pula penggambaran kejadian­kejadian alam 
lingkungan seperti kebakaran, mereka melukiskan kobaran 
api yang menyala­nyala disertai kepanikan binatang dan 
manusia yang berlari untuk menyelamatkan diri, adegan 
seperti ini tergambar pada relief Candi Panataran.
Gambar: Api yang berkobar membuat panik hewan dan manusia 
dipahatkan pada dinding Candi Panataran.
Lain halnya dalam menggambarkan keadaan gelap pada 
malam hari, bila dituangkan kedalam kanvas atau kertas tinggal 
memberi warna hitam, namun bila menggambarkan kedalam 
media batu dalam bentuk relief memerlukan cara tersendiri. 
Gambaran suasana pada malam hari ini mereka wujudkan 
dengan memahatkan bentuk benda­benda alam yang biasanya 
muncul pada malam hari yaitu bulan purnama, bulan sabit, 
dan bintang­bintang. Penggambaran ini tidak dijumpai 
pada peninggalan masa Majapahit namun tertera pada relief 
di pagar langkan lantai IV Candi Borobudur.
Penutup
Kearifan warga masa lalu terhadap lingkungannya 
tampak telah berkembang dengan baik. Bentuk kearifan yang 
82 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
dimiliki berbeda dari satu warga ke warga yang 
lain, dan dari generasi ke generasi. Perbedaan disebabkan oleh 
karena tantangan alam berbeda dan kebutuhan hidup mereka 
berbeda­beda. Bagimana cara mereka mengeksploitasi sumber 
daya alam baik flora, fauna, dan batuan disekitar hidup mereka 
untuk dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai sumber pangan, 
sumber energi, dan memenuhi kebutuhan spiritualnya. Dengan 
kata lain pengalaman mereka dalam memenuhi kebutuhan 
hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan, 
baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial 
kemasya rakatan, dengan tujuan untuk melindungi dirinya 
dan alam sekitarnya secara spesifik. Pada akhirnya mereka 
memahami dan merasakan secara mendalam bagaimana 
makna dan pengaruh lingkungan terhadap kehidupan sehari­
harinya. Tentu saja sistem pengetahuan ini tumbuh dalam 
sejarah panjang perjalanan hidup warga Majapahit pada 
jamannya. 
Potret­potret warga dalam lingkungan hidupnya 
ini diambil dengan latar belakang yang berbeda, namun 
pada intinya mengambil obyek yang menggambarkan unsur 
flora, fauna, dan alam fisik. Relief­relief ini terkadang 
ada dalam sebuah adegan cerita dan ada yang lepas atau 
bukan bagian dari sebuah cerita. Pada umumnya cerita di 
dalam relief berisi mengenai ajaran moral seperti cerita­cerita 
fabel, cerita Bubuksah­Gagangaking, cerita Sang Satyawan, 
cerita Arjuna Wiwaha, cerita Kunjarakarna, dan cerita lainnya. 
Ternyata pengaruh adegan cerita dalam relief lebih tampak 
nyata dalam penampilan flora dan fauna dibanding pengaruh 
latar belakang keagamaanya. (Siswanto, 1999).
Mengapa potret­potret masa lalu hanya melalui pengamatan 
penggambaran relief dan sastra tertulis?, Sebenarnya tidak 
83Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
juga, hasil­hasil penggalian penelitian dapat membantu untuk 
rekonstruksi lingkungan masa lalu, namun tinggalan inilah 
yang paling mudah dipahami. Dan tampaknya benda­benda 
tinggalan ini memang dibuat agar terus dipahami dan 
diresapi terutama ajaran moralnya dari generasi ke generasi. 
Sedangkan pertimbangan lain memakai media ini adalah 
bahwa di dalam penggambaran atau ilustrasinya sang penyair 
dan pelukis (pemahat) akan menyajikan gambaran yang ada 
didalam benaknya, sehingga apa yang tertuang dalam karyanya 
merupakan sesuatu yang telah mereka lihat, mereka ketahui, 
dan yang mereka alami pada masa itu.
Memang mengenang kemasyurannya, mengagumi 
pening galannya, dan mengungkap misterinya selalu saja 
menarik dan seolah tidak ada lelah, apalagi selalu ada sesuatu 
tantangan baru. Demikianlah bila berhadapan dengan sisa­sisa 
kejayaan masa lalu yang dapat kita nikmati sekarang. Melalui 
benda yang tersisa itu bagaimana caranya dapat menikmatinya 
kalau tidak dicermati, dibandingkan, dan diterjemahkan. 
Peninggalan relief dan sastra kuna adalah bentuk peninggalan 
visual dan tekstual yang menarik untuk dicermati. Karena 
secara visual potret masa lalu tergambar pada relief­relief 
candi maupun relief pada bahan lain, sedangkan secara 
tekstual ditinggalkan dalam bentuk prasasti maupun dalam 
kitab­kitab kuna. 
84 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
KEpUstaKaaN
Kempers. 1959. Ancient Indonesian Art. J.P.J. van der Peet. 
Amsterdam.
Pigeaud. T. G. Th. 1960. Java in the 14th Century – A Study in 
Cultural History. Volume III : Translations. The Hague­ 
Martinus Nijhoff. 
______________. 1962. Java in the 14th Century – A Study 
in Cultural History. Volume IV : Comentaries and 
Recapitulation. The Hague­ Martinus Nijhoff.
Siswanto. 1999. Relief Flora dan Fauna Tinggalan Masa 
Majapahit. Berita Penelitian Arkeologi – Nomor 8. Balai 
Arkeologi Yogyakarta.
Wardani, KWA, 2009. Berkaca dari kejayaan masa lampau: 
Trowulan, wadah implementatif keilmuan masa kini. 
http://arupadhatuindonesia.com/budaya.
Zoetmulder P.J, 1983. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang 
Pandang. Djambatan. Jakarta.
85Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
4
dEsa-dEsa MEgalitiK  
di NEgEri Majapahit
Priyatno Hadi S.
Negeri Majapahit
Dalam Kitab Nágárakretágama dikisahkan bahwa Majapahit pada mulanya adalah sebuah desa yang terletak di lembah Sungai Brantas, tepatnya di daerah 
Tarik yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari. 
Konon, pada mulanya tempat itu merupakan hutan belantara 
yang banyak ditumbuhi pohon­pohon Maja yang pahit 
rasanya. Hutan belantara itu lalu dibuka untuk lahan 
pertanian dan permukiman, dan terbentuklah sebuah desa 
yang bernama Majapahit dengan kepala desa bernama Nararya 
Sanggramawijaya. Berakhirnya berbagai intrik politik di pusat 
kerajaan Singasari yang memicu runtuhnya kerajaan­
kerajaan besar, yaitu Singasari dan Kediri, Desa Majapahit 
lalu dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaan baru 
yang bernama Kerajaan Majapahit (Slametmulyana: 1979).
86 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Kerajaan Majapahit pertama kali didirikan dan dipimpin 
oleh seorang raja yang bernama Nararya Sanggramawijaya 
pada tahun 1293 M. Wilayah kekuasaannnya meliputi bekas 
wilayah kerajaan Singasari, Kediri, Jenggala, dan Pulau Madura. 
Kerajaan Majapahit lalu mencapai puncak kejayaannya 
di bawah pemerintahaan Raja Hayam Wuruk (1350­1389), dan 
pendampingnya seorang mahapatih bernama Gadjahmada. 
Mahapatih Gadjahmada memakai strategi sumpah amukti 
palapa yang bertujuan mempersatukan wilayah Nusantara 
menjadi kenyataan, semakin lama wilayah kekuasaannya 
semakin luas. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika semakin menun­
jukkan bukti puncak kejayaan Negeri Majapahit yang ditandai 
dengan luas wilayah kerajaan bawahan yang meliputi seluruh 
wilayah Nusantara (Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumatera, 
Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga Irian). 
Selain itu, terdapat kerajaan­kerajaan bawahan lain yang 
berada di luar wilayah Nusantara, yaitu Tumasik dan Brunei 
(Slametmulyana: 1979).
Negeri Majapahit memiliki aturan perundangan yang 
meng atur tata kehidupan rakyat Majapahit yang disebut 
Kutara Manawa. Kitab Kutara Manawa mengatur berbagai aspek 
tentang hukum baik pidana maupun perdata. Agama resmi 
negara terdiri dari Siwa, Budha, dan Brahma. Kehidupan 
keagamaan ini sangat mempengaruhi pola tata kehidupan 
warga Majapahit, yang dikelompokkan ke dalam empat 
golongan warga (warna) berdasarkan kastanya, yang 
terdiri dari brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra. Namun di luar 
kelompok itu masih terdapat golongan Candaka, Mleccha, dan 
Tuccha (Slametmulyana: 1979). 
Majapahit yang tadinya merupakan sebuah desa kemu­
dian berkembang menjadi sebuah kota yang berfungsi sebagai 
87Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
pusat pemerintahan Negeri Majapahit. Wilayah di luar pusat 
pemerintahan berupa daerah bawahan, yang terdiri dari 
kerajaan­kerajaan bawahan yang juga dipimpin oleh seorang 
raja bawahan. Organisasi pemerintahan di dalam kerajaan 
bawahan sama persis dengan organisasi pemerintahan pusat, 
yaitu raja, patih amangkubumi, dan lima pejabat utama di 
bidang administrasi negara yang terdiri dari patih, demung, 
kanuruhan, rangga, dan tumenggung. Selain itu, Negeri Majapahit 
juga memiliki wilayah bawahan yang bukan dipimpin oleh 
seorang raja, tetapi oleh seorang menteri amancanagara atau 
juga disebut juru. Organisasi pemerintahan di bawah menteri 
amancanagara terdiri dari beberapa tingkat, yaitu wedana, 
akuwu, dan buyut. Wedana membawahi wilayah pada tingkat 
semacam distrik atau kabupaten. Akuwu membawahi wilayah 
semacam kecamatan atau kelompok desa­desa, dan buyut 
adalah pembesar desa setingkat lurah (Slametmulyana: 1979).
Permasalahan yang muncul adalah adanya kontradiksi 
antara peraturan perundangan (Kutara Manawa) dan pembagian 
wilayah bawahan, yaitu adanya wilayah bawahan yang 
dipimpin oleh raja dan wilayah bawahan yang dipimpin oleh 
seorang menteri. Apakah aturan perundangan Kutara Manawa 
ini berlaku untuk seluruh rakyat Majapahit di seluruh 
pelosok negeri atau hanya terbatas untuk kalangan keluarga 
dan pejabat kerajaan saja? Masalah itu perlu mendapat 
perhatian mengingat pada kenyataannya di pinggiran Negeri 
Majapahit pada masa yang sama terdapat pula warga yang 
hidup dengan budaya, kepercayaan, dan aturan yang sangat 
berbeda dengan Kutara Manawa. warga ini adalah 
pendukung budaya megalitik yang jejak­jejak kehidupannya 
ditemukan tersebar di wilayah Bondowoso, Situbondo, Jember, 
dan Banyuwangi.
88 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Tinggalan Megalitik di Jawa Timur
Tinggalan megalitik di Jawa Timur ditemukan tersebar 
di wilayah Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi. 
Tinggalan megalitik di wilayah itu mulai dikenal sejak 
dilaporkan oleh H.E. Steinmetz (1898), H.R. Van Heekeren 
(1931), dan W.J.A. Willems (1938) yang dipublikasikan melalui 
terbitan Rapporten van Oudheidkundige Dienst jilid 3 (Willems, 
1938). Willems melakukan kegiatan penelitian berupa survei 
permukaan dan berhasil menemukan beberapa jenis tinggalan 
megalitik, antara lain batu kenong, sarkopagus, dolmen, batu 
dakon, menhir/batu tegak, punden berundak, dan arca batu. 
Benda­benda ini dalam konteks megalitik merupakan 
komponen permukiman, antara lain untuk bangunan tempat 
tinggal, bangunan pemujaan, dan penguburan. Laporan 
para pendahulu ini lalu ditindaklanjuti dengan 
beberapa kegiatan penelitian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta 
(1983, 1985, 1991). Berdasarkan jumlah temuan tinggalan 
megalitik yang melimpah dan sebaran yang sangat luas, serta 
kepadatan yang tinggi dapat dikatakan bahwa daerah Jawa 
Timur merupakan “kerajaan megalitik” yang “beribukota” di 
Bondowoso (Hidayat,2007). Hasil analisis terhadap tinggalan 
megalitik ini diuraikan di bawah ini: 
Batu Kenong Sebagai Umpak Rumah Megalitik
Salah satu jenis tinggalan megalitik yang paling menarik 
perhatian adalah batu kenong, yaitu batu andesit yang dipahat 
dengan bentuk silinder, pada salah satu ujungnya terdapat 
tonjolan, sehingga bagian itu menyerupai bentuk instrumen 
gamelan yang bernama kenong. Pada umumnya batu kenong 
89Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
ditemukan pada posisi berdiri 
tegak, bagian kenongnya berada 
di atas dan bagian ujung yang 
lain terpendam di dalam tanah. 
Ukuran batu kenong sangat ber­
variasi, panjangnya antara 1­2 m, 
sedangkan diameter rata­rata 1 
m, dan tonjolan kenongnya ber­
ukuran antara 5­10 cm. Fungsi 
batu kenong ini seringkali diinter­
pretasikan sebagai umpak bangunan yang memakai tiang 
dari bambu. Lubang bambu diletakkan pada tonjolan kenong, 
sehingga mampu menahan tiang agar tidak bergeser. 
Jenis tinggalan ini selain jumlahnya paling banyak juga 
memiliki sebaran paling luas di antara temuan yang lain. 
Sebaran batu kenong paling padat terdapat di situs Pakauman 
di Bondowoso. Namun, saat ini banyak batu kenong yang 
ditemukan dalam kondisi roboh, sehingga keletakan sebaran 
batu kenong ini bersifat acak. Hal ini disebabkan karena 
lokasi temuan sebagian besar berada di pemukiman penduduk 
dan di lahan pertanian, sehingga sangat memungkinkan lokasi 
temuan banyak yang tidak insitu lagi. Sebaran batu kenong 
yang berpola teratur ditemukan di situs Kodedek. Lokasi 
situs ini berada di atas punggung bukit di tepi hutan sehingga 
kondisi temuan lebih terjaga kelestariannya. Keteraturan pola 
sebaran ini dapat dipakai sebagai petunjuk tentang 
bentuk denah bangunannya.
Kegiatan penelitian di situs Kodedek berupa eksavasi 
dengan tujuan untuk mengungkap fungsi batu kenong dan 
batu tegak, terutama yang berkaitan dengan aspek arsitektur 
rumah megalitik Bondowoso. Hasil ekskavasi memperoleh 
Batu kenong dari Bondowoso
90 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
kesimpulan bahwa batu kenong di situs Kodedek berfungsi 
sebagai umpak bangunan. Hal ini tampak dari pola sebaran 
batu kenong yang masih insitu, membentuk bidang lingkaran 
dan persegi empat. Selain itu, data artefaktual dari dalam tanah 
membuktikan adanya sis­sisa aktifitas kehidupan keseharian 
yang dilakukan oleh manusia penghuninya.
Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh beberapa ahli 
tentang fungsi batu kenong. Pendapat pertama dikemukakan 
oleh Steinmetz, yang mengkaitkan bentuk fisik batu kenong 
dengan alat musik dari etnik Jawa (Steinmetz, 1898). Heekeren 
menghubungkan fungsi batu kenong sebagai umpak rumah 
panggung dan kemungkinan lain batu kenong yang ber­
kelompok berfungsi sebagai kuburan bersama (mass graves) 
(Heekeren, 1931). Pendapat Heekeren didukung pula oleh 
Willems yang menyatakan bahwa batu kenong berfungsi 
sebagai umpak rumah panggung (Willems, 1940).
Batu kenong formasi lingkaran
Pendapat mengenai fungsi batu kenong sebagai umpak 
rumah panggung tampaknya dapat dibuktikan dari hasil 
ekskavasi di situs Kodedek. Ekskavasi pada kelompok batu 
91Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
kenong dengan formasi melingkar dan persegi mengindikasikan 
bahwa batu kenong ini berfungsi sebagai umpak rumah. 
Hasil ekskavasi menunjukkan ada perbedaan konstruksi 
antara batu kenong yang berada di sekeliling dan batu kenong 
yang berada di tengah (titik pusat lingkaran). Konstruksi batu 
kenong yang terletak di tengah diberi alas atau ditopang oleh 
lempengan batu, sedangkan batu kenong di sekeliling tidak 
dilakukan.
Fungsi lempengan batu ini sebagai penopang umpak 
yang berada di tengah bangunan. Posisi umpak yang berada 
pada titik pusat ling karan merupakan umpak yang menang­
gung beban paling berat, sehingga lempengan batu ini 
dipakai sebagai fondasi atau sebagai media pembagi beban 
ke permukaan tanah yang lebih luas. Dengan per lakuan ini 
beban berat dari bangunan di atasnya dapat terbagi ke bidang 
yang lebih luas, sebagai usaha agar umpak tidak melesak. 
Perbedaan konstruksi demikian juga terjadi pada formasi batu 
kenong persegi empat, yaitu hanya umpak di tengah yang 
dileng kapi dengan fondasi berupa lempengan batu. Perbedaan 
konstruksi ini membuk tikan 
bahwa batu kenong berfungsi 
sebagai umpak rumah (Sulistyarto, 
1991/1992)
Data yang mendukung bahwa 
bangunan di situs Kodedek adalah 
bangunan rumah panggung 
tampak pada kelompok batu 
kenong dengan formasi melingkar 
dan dua buah batu kenong lagi 
ber ada di sisi luar arah tenggara 
dari formasi lingkaran ini. 
92 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Kedua batu kenong itu menunjukkan umpak bagian tangga 
dan pintu masuk, sehingga diduga bangunan rumah ini 
menghadap ke arah tenggara. Arah hadap bangunan ini sangat 
sesuai dengan morfologi permukaan bukit, yaitu sisi tenggara 
memiliki kelerengan lebih landai. 
Arsitektur rumah panggung pada umumnya memakai 
umpak sebagai penopang tiang, dan penyangga atap. Tiap 
umpak menopang sebuah tiang kayu yang masing­masing 
saling dikaitkan oleh kayu penyangga lantai rumah dan kayu 
kerangka atap. 
Keletakan umpak menun­
jukkan bentuk denah bangunan. 
Dengan demikian berarti bahwa 
arsitektur rumah megalitik di 
situs Kodedek terdiri dari dua 
bentuk denah, yaitu berbentuk 
bulat dan persegi empat, 
kedua nya menghadap ke arah 
tenggara. Jumlah tiang sesuai 
dengan jumlah umpak, yaitu 11 
buah tiang sebagai konstruksi 
penyangga rumah induk, dan 4 
buah tiang sebagai penyangga 
pintu masuk dan tangga.
Dugaan ini didukung pula oleh temuan artefaktual 
hasil ekskavasi, yaitu fragmen tembikar, arang, fragmen 
belincung, fragmen batu rijang, fragmen kaca, fragmen 
gigi, tulang binatang, dan moluska (lihat tabel). Jenis­
jenis temuan ini merupakan indikator kuat bahwa 
lokasi situs merupakan bekas hunian manusia. Fragmen 
tembikar merupakan sisa­sisa benda yang berfungsi sebagai 
93Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
peralatan keperluan sehari­hari, terutama sekali berkaitan 
dengan kebutuhan akan wadah. Adapun arang merupakan 
sisa pembakaran yang merupakan indikator dalam suatu 
kehidupan manusia yang bersifat hunian. 
Selain itu, data lingkungan juga mendukung bahwa 
lokasi situs yang berdekatan dengan sungai sangat ideal 
untuk hunian, yaitu sebagai sumber air yang menyediakan 
kebutuhan utama manusia.
Sarkopagus
Sarkopagus adalah salah 
satu tinggalan mega litik yang 
berfungsi sebagai wadah kubur 
dalam sistem penguburan 
yang dikenal di Indonesia. 
Pada umumnya sarkopagus 
terbuat dari batuan, namun 
ada pula yang dibuat dari 
bahan kayu. Wadah kubur ini terdiri dari dua komponen, 
yaitu wadah dan tutup. Bentuk wadah kubur ini menye rupai 
dua buah perahu yang ditelangkupkan menjadi satu sehingga 
di dalamnya tercipta rongga 
sebagai ruang untuk mele­
takkan mayat. Bentuk utuh 
sarkopagus terdiri dari dua 
komponen, bagian bawah 
sebagai wadah, dan bagian 
atas sebagai tutup. 
Kedua bagian itu ber­
bentuk sama, jika ada 
Sarkopagus sebelum diekskavasi
Sarkofagus sesudah diekskavasi
94 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
perbedaan biasanya terdapat pada pola hias. Orientasi hiasan 
dapat dipakai sebagai indikator untuk menentukan antara 
wadah dan tutup. Pada umumnya sarkopagus berukuran besar 
dengan ukuran panjang minimal 2 m, lebar minimal 0,80 m. 
Ukuran wadah kubur ini memungkinkan untuk meletakkan 
mayat secara langsung (sistem primer) dengan posisi tubuh 
membujur/terlentang. 
Salah satu sarkopagus di Bondowoso menunjukkan 
petunjuk penting sebagai data pertanggalan. Hiasan yang 
dipahatkan pada sarkopagus berupa inskripsi yang menun­
jukkan angka tahun 1324 Çaka atau 1402 M. Dalam sejarah 
Indonesia angka tahun itu semasa dengan masa pemerintahan 
Majapahit.
Dolmen
Dolmen adalah salah satu tinggalan megalitik berupa 
susunan batu yang terdiri dari sebuah batu lebar yang di­
topang oleh beberapa batu lain, sehingga menyerupai bentuk 
meja (Soejono, 1984). Dolmen di situs Pakauman, Bondowoso 
pada umumnya terbuat dari batu andesit dengan ukuran 
panjang 100­200 cm, lebar 60­120 cm, tinggi 80­120 cm. Sampai 
saat ini ekskavasi pada dolmen di Bondowoso belum pernah 
dilakukan, sehingga belum diketahui konteksnya dengan 
artefak lepas, dan lapisan tanah di bawahnya. Dengan demikian 
fungsi dolmen dalam kehidupan megalitik belum diketahui. 
Namun, berdasarkan penelitian pada dolmen di wilayah lain 
di Indonesia, Soejono berpendapat bahwa dolmen berfungsi 
sebagai altar/tempat untuk meletakkan sesaji pada upacara 
pemujaan arwah leluhur (Soejono, 1984).
95Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
Batu Dakon
Batu dakon merupakan benda yang seringkali ditemukan 
di situs­situs megalitik, dan pada warga sekarang 
benda ini tidak dikenal lagi. Lokasi penemuan batu dakon 
di situs­situs megalitik di Indonesia pada umumnya terletak 
pada lingkungan yang berdekatan dengan sumber air, atau 
pertemuan antar sungai. Bahkan pada beberapa situs lain, 
sampai saat ini batu dakon masih dikeramatkan dengan cara 
diberi sesaji pada waktu­waktu tertentu. Bahkan batu dakon 
diletakkan pada undakan teratas sebuah bangunan punden 
berundak, dan merupakan objek utama pemujaan. Penempatan 
ini memberi petunjuk bahwa batu dakon merupakan benda 
yang dianggap sakral. Lingkungan dan keletakannya meru­
pakan indikator bahwa batu dakon berfungsi sebagai sarana 
pemujaan terhadap alam, terutama terhadap unsur air. Selain 
itu benda ini berfungsi sebagai komponen dalam upacara 
pemujaan pada arwah nenek moyang terutama untuk 
memohon kesuburan.
Tinggalan batu dakon di situs Kodedek, di wilayah 
Bondowoso dibuat dari batu andesit, berbentuk lonjong dengan 
ukuran 85x67x43 cm. Bagian atas permukaan batu relatif rata 
dan memiliki sembilan buah lubang berbentuk cekungan. 
Permukaan batu pada bagian dalam cekungan sangat halus 
dengan ukuran kedalaman lubang rata­rata 10 cm. Ciri fisik 
ini menunjukkan bahwa benda ini pernah difungsikan secara 
intensif. Lokasi temuan batu dakon berada di tengah antara 
kelompok batu kenong berpola melingkar, dan kelompok batu 
kenong berpola segi empat.
96 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Menhir/Batu Tegak
Jenis temuan batu tegak 
berupa lempengan batu andesit 
yang didirikan dengan cara 
sebagian badannya ditanam 
di dalam tanah. Batu tegak di 
situs Kodedek berjumlah 4 buah 
dengan ukuran rata­rata tinggi 
60 cm, lebar 40 cm, tebal 15 cm. 
Batu tegak pertama terletak di sebelah utara, batu tegak kedua 
dan ketiga terletak di sebelah tenggara batu tegak pertama, 
sedangkan batu tegak keempat terletak di sebelah barat daya 
batu tegak pertama, masing­masing dengan jarak 2 m, di 
antara batu tegak ini terdapat lempengan­lempengan 
batu yang ditanam berjajar sehingga menyerupai bentuk huruf 
“L” (lihat gambar). Hasil ekskavasi di lokasi ini menunjukkan 
bahwa batu tegak ini ternyata tertanam jauh ke dalam 
tanah hingga mencapai kedalaman 1.6 m. Susunan batu tegak 
ini berfungsi sebagai dinding dari ruangan di dalam 
tanah yang berdenah bidang persegi sama sisi (masing­masing 
berukuran 2 m). Pada bagian dasar terdapat lantai dari batu. 
Bentuk bangunan ini menyerupai bangunan megalitik kamar 
batu (stone chamber) di situs Pasemah, Sumatera Selatan, yang 
berfungsi sebagai tempat penguburan (Hoop, 1932)
Punden Berundak
Sebuah bangunan punden berundak yang berfungsi 
sebagai tempat melaksanakan upacara pemujaan ditemukan 
di daerah Tlogosari, Bondowoso. Temuan permukaan pada 
Menhir untuk struktur stone 
chamber
97Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
punden berundak ini berupa fragmen batu bata lepas 
berukuran besar, lumpang batu (2 buah), batu tegak dalam 
posisi berpasangan pada umumnya berfungsi sebagai tanda 
kubur (10 pasang), dan batu tegak sebagai pembatas jalan dan 
pintu masuk (2 pasang), dan umpak batu.
Arca Batu
Arca megalitik di temukan di situs Pekauman, Bondowoso. 
Arca ini dibuat dari batu andesit dan dipahat untuk 
menggambarkan bentuk figur manusia. Ukuran arca sebesar 
ukuran manusia dewasa, bahkan pada beberapa bagian tubuh 
digambarkan berukuran besar. 
Desa-desa Megalitik di Jawa Timur 
Penelitian mengenai permukiman megalitik telah dila­
kukan oleh Sukendar (1984), yang bertujuan melakukan 
rekonstruksi permukiman megalitik melalui analogi etnografi. 
Berdasarkan hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa 
permukiman megalitik pada dasarnya dapat dibagi menjadi 
dua kategori, yaitu permukiman komunitas dan permukiman 
zonal. Permukiman komunitas merupakan permukiman tingkat 
desa atau situs yang keberadaannya banyak dipengaruhi oleh 
kuatnya organisasi kekerabatan. Bentuk permukiman zonal, 
menurut Sukendar lebih bersifat hubungan antar situs dan 
pengelolaan areal situs di luar komunitasnya. Secara umum 
Sukendar menyimpulkan bahwa permukiman megalitik di 
Indonesia yang sampai saat ini masih berlangsung terdiri 
atas berbagai aspek, yaitu: tempat tinggal, tempat pemujaan, 
tempat penguburan, tempat upacara, tempat pertanian, 
98 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
tempat perburuan, tempat pengambilan hasil hutan, tempat 
penangkapan ikan, dan pasar (Sukendar, 1994). Aspek­aspek 
data etnografis ini ternyata lebih kompleks bila dibandingkan 
dengan data artefaktual yang terdapat pada situs­situs 
megalitik di Indonesia.
Penerapan konsep ini dapat dipakai untuk 
merekonstruksi pola permukiman megalitik di Jawa Timur 
(Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi). Sebaran 
situs megalitik yang begitu luas, keragaman bangunan yang 
beraneka dan intensitas temuan yang padat menunjukkan 
bahwa pemukiman megalitik di Jawa Timur berada pada 
permukiman tingkat zonal yang di dalamnya terdiri dari 
sejumlah komunitas berupa perkampungan atau desa
Pertanggalan Permukiman Megalitik di Jawa Timur
Data pertanggalan berlangsungnya kehidupan tradisi 
megalitik di Kawasan Jawa Timur di wilayah Bondowoso, 
Situbondo, Jember, dan Banyuwangi diperoleh dari berbagai 
sumber. Data pertanggalan dari situs Krajan di Situbondo 
memakai metode pertanggalan analisa karbon menun­
jukkan umur 1250±240 BP atau sekitar 1000­1500 tahun yang 
lalu (abad VI­X M). Data pertanggalan lain diperoleh pula 
dari inskripsi yang dipahatkan pada sebuah Sarkopagus yang 
menunjukkan angka tahun 1324 Çaka atau 1402 M (Prasetyo: 
1999, 2008). Berdasarkan kedua data pertanggalan ini 
menunjukkan bahwa pada sekitar abad VI hingga awal abad 
XV M, budaya megalitik di situs ini masih berkembang. 
Hal ini berarti pula bahwa pada saat Negeri Majapahit mulai 
berdiri, mencapai puncak kejayaannya, bahkan hingga 
keruntuhannya, di daerah Bondowoso, Situbondo, Jember, 
99Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit 
dan Banyuwangi berkembang pula kehidupan warga 
dengan budaya megalitik. Pola permukiman warga 
dengan budaya megalitik yang menyebar dengan bentuk 
perkampungan atau desa­desa.
Penutup
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan 
bahwa:
1. Sebaran tinggalan megalitik di Kawasan Jawa 
Timur di wilayah Bondowoso, Situbondo, Jember, 
dan Banyuwangi merupakan data permukiman 
perkampungan atau desa­desa bercorak megalitik
2. Salah satu bentuk arsitektur rumah yang dipakai 
adalah rumah panggung yang memakai batu 
kenong sebagai umpak/penyangga tiang
3. Data pertanggalan menunjukkan bahwa antara 
keberlangsungan kehidupan desa­desa megalitik 
di Kawasan Jawa Timur memiliki kesamaan waktu 
dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit
KEpUstaKaaN
Heekeren. H.R. van., (1931), Megalitische Overblijfselen Besoeki 
dalam Majalah Djawa. Jilid XI, hlm. 7­11.
Hidayat, Muhamad, 2007, Menengok Kembali Budaya dan 
warga Megalitik di Bondowoso, Berkala Arkeologi, 
100 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Tahun XXVII, Edisi No.1/Mei, Yogyakarta: Balai 
Arkeologi Yogyakarta, hlm. 19­30.
Hoop, A.N.J.Th.a.Th. Van Der, 1932. Megalithic Remain in South 
Sumatera, Zuthpen: W.J. Thieme.
Prasetyo, Bagyo, 1999, Megalitik di Situbondo dan Pengaruh Hindu 
di Jawa Timur, Berkala Arkeologi, Tahun XlX, Edisi No,2/
November, Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta, hlm. 
22­29.
Prasetyo, Bagyo, 2008, Penempatan Benda-benda Megalitik Kawasan 
Lembah Yang- Ijen Kabupaten Bondowoso dan Jember, Jawa 
Timur, Disertasi. Memperoleh gelar doktor humaniora 
Universitas Indonesia, hlm. 73.
Slametmulyana, 1979, Nagárákretágama dan Tafsir Sejarahnya, 
Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Soejono. RP., 1984, Jaman Prasejarah Indonesia dalam Sejarah 
Nasional Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Steinmetz. H.F., (1898), Oudheidkundige Bescrijfing van de Afdeeling 
Bandawasa (Residen Besoeki) dalam TBG XL. Hlm. 21­22.
Sukendar., Haris., (1984) Pemukiman Megalitik di Indonesia: 
Tinjauan Melalui Analogi Etnografi dalam Rapat Evaluasi 
Hasil Penelitian Arkeologi II, Cisarua: Pusat Penelitian 
Arkeologi Nasional.
Sulistyarto, Priyatno H., 1991/1992, Laporan Hasil Penelitian 
Arkeologi Situs Pakauman, Kecamatan Grujugan dan Situs 
Kodedek, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa 
Timur. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.
Willems, W.J.A. (1938), Het Onderzoek der Megalithe te Pakaoeman 
bij Bondowoso dalam ROD III.
101Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
5
BUKti KEjayaaN Majapahit  
di Blitar
Baskoro Daru Tjahjono
Pengantar
M ajapahit adalah sebuah kerajaan besar pada masa Indonesia kuna. Majapahit yang didiri­kan oleh Raden Wijaya dari hutan Tarik, 
berkembang menjadi sebuah kerajaan, yang makin lama 
makin kuat dan besar, serta mencapai kejayaannya pada masa 
pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Sang 
Mahapatih Gajah Mada.
usaha untuk mencari lokasi ibukota Majapahit telah 
dilakukan sejak lama, dimulai pada abad XIX M oleh Gubernur 
Jenderal Raffles, lalu dilanjutkan oleh Maclaine Pont 
(1924) dengan melakukan penggalian di situs Trowulan di 
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Maclaine Pont merekons­
truksi kota Majapahit di Situs Trowulan berdasarkan 
102 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
gambaran dari naskah Nagarakretagama. Sejak tahun 1976 
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian 
permukiman kota kuna di Situs Trowulan itu secara intensif 
(Rangkuti, 2000: 1). Serangkaian kegiatan penelitian telah 
berhasil mengungkapkan berbagai peninggalan arkeologi dari 
masa Majapahit di kawasan ini, antara lain berupa candi, 
gapura, pemandian, kolam, kanal­kanal buatan, struktur­
struktur bata, umpak­umpak batu, fragmen keramik, fragmen 
gerabah, dan mata uang logam (Rangkuti, 2000: 16). Hasil­
hasil penelitian ini telah memberikan gambaran bahwa 
Situs Trowulan merupakan situs kota yang diyakini sebagai 
ibukota Majapahit.
Bukti kejayaan Majapahit yang telah berhasil memper­
satukan Nusantara tidak terbatas di Trowulan saja, melainkan 
juga di berbagai daerah yang pernah dikuasainya, salah 
satunya di daerah Blitar. Oleh karena itu, tulisan ini tidak 
bertujuan untuk membahas tinggalan­tinggalan arkeologis 
di situs Trowulan, melainkan ingin mengetahui bukti­bukti 
kejayaan Majapahit di Blitar, salah satu tempat yang pernah 
dikunjungi Hayam Wuruk dalam perjalanannya ke desa­
desa wilayah Majapahit. Kunjungan itu tertulis dalam kitab 
Nāgarakretāgama atau dikenal juga sebagai Desawarnana. 
Blitar sekarang adalah sebuah kota kecil di Jawa Timur bagian 
selatan, ibukota Kabupaten Blitar. Daerah itu sarat dengan 
tinggalan sejarah masa Hindu­Buddha, yaitu sejak jaman Kadiri 
sekitar abad XII M hingga akhir masa kerajaan Majapahit. 
Banyaknya tinggalan arkeologis dari masa Majapahit yang 
terdapat di wilayah Kabupaten Blitar menunjukkan bahwa 
daerah ini memiliki peran penting pada masa lalu, 
khususnya masa Majapahit.
103Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
Tidak mengherankan jika di daerah Blitar banyak ting­
galan arkeologis dari masa Majapahit, karena memang daerah 
kekuasaan Majapahit sangat luas meliputi seantero Nusantara. 
Permasalahannya adalah tinggalan arkeologis manakah yang 
menunjukkan sisa­sisa kejayaan Majapahit. Peran apakah yang 
telah dimainkan oleh daerah Blitar pada masa itu, sehingga 
tinggalan­tinggalan penting dari masa Majapahit banyak 
terdapat di wilayah ini.
Situs-Situs Candi di Blitar
Di sebelah utara Kabupaten Blitar terdapat sebuah gunung 
yang aktif yaitu Gunung Kelud (1731 meter). Dua buah sungai 
yang berhulu di lereng atas gunung itu dan mengalir ke daerah 
Blitar adalah Sungai Bladak dan Sungai Putih. Sungai Bladak 
mengalir ke baratdaya Blitar di wilayah Kecamatan Ponggok, 
sedangkan Sungai Putih mengalir ke selatan dan bermuara di 
Sungai Brantas. Melalui kedua sungai itu pulalah material lava 
Gunung Kelud dialirkan ke daerah Blitar. Material lava itulah 
yang sebagian telah mengubur situs­situs candi yang berada 
di lereng barat dan selatan Gunung ini. 
Aliran Sungai Bladak memiliki gosong sungai di daerah 
Gambar. Di tepi sungai ini terdapat situs Candi Gambar 
Wetan atau sering disebut Candi Bodo, yang secara administratif 
berada di Dusun Perkebunan Gambar, Desa Sumberasri, 
Kecamatan Nglegok. Candi Gambar Wetan memiliki 
pola halaman yang terbagi menjadi tiga disusun berundak 
ke belakang. Pada halaman pertama terdapat sebuah arca 
dwarapala, di halaman kedua tidak ada temuan, di halaman 
ketiga terdapat candi induk dan 2 buah arca dwarapala. Candi 
induk berupa batur dengan penampil berupa tangga masuk 
104 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
di sebelah barat berukuran 4 x 5,5 m. Pada masing­masing 
lapik arca kedua dwarapala itu terdapat angka tahun Jawa 
Kuna yaitu 1260 Ç (1338 M) dan 1293 Ç (1371 M). Berdasarkan 
pertanggalan ini Candi Gambar Wetan diperkirakan 
merupakan bangunan suci masa Majapahit dari dua periode 
pemerintahan, yaitu tahun 1260 Ç (1338 M) masa pemerintahan 
Tribhuwana Tunggadewi dan tahun 1293 Ç (1371 M) masa 
pemerintahan Hayam Wuruk (Anonim, 2009: 21­27).
Candi Induk Panataran
Di daerah Gambar, Sungai Bladak bercabang dua, salah 
satunya adalah sungai Lahar yang mengalir melewati bagian 
barat situs Candi Panataran. Candi ini terletak di Desa 
Panataran, Kecamatan Nglegok. Candi Panataran atau Candi 
Palah yang memiliki arah hadap ke barat itu merupakan 
candi terbesar di Jawa Timur. Kompleks candi ini didirikan 
secara bertahap yang tampak dari banyaknya angka tahun yang 
dipahatkan di bagian­bagian gugusan candinya. Angka­angka 
tahun itu yang tertua 1119 Ç (1197 M) dan termuda 1376 Ç 
(1454 M). Kompleks ini diperuntukkan bagi Çiwa raja gunung 
105Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
atau Girindra. Terdiri atas tiga halaman berurutan dari barat 
ke timur. Halaman utama terletak paling belakang (timur). 
Pada halaman pertama terdapat dua buah batur pendapa, satu 
di antaranya berhiaskan relief­relief cerita yaitu Çri Tanjung, 
Bubuksah dan Gagang Aking, serta beberapa cerita Panji. Di 
halaman II terdapat sebuah candi yang berangka tahun 1291 
Ç (1369 M), sehingga disebut Candi Angka Tahun. Selain itu 
juga terdapat sebuah candi dengan relief naga. Pada halaman 
III (halaman utama) terletak candi induknya. Candi induk 
Panataran tinggal bagian kaki yang terdiri atas tiga teras. 
Relief yang mengelilingi candi induk terdiri atas relief pengisi 
bidang dan relief cerita. Relief pengisi bidang berupa medalion­
medalion bergambar binatang dengan ekor berupa tumbuh­
tumbuhan atau bunga­bungaan, sedangkan relief cerita yaitu 
Ramayana dan Krsnayana (Kempers, 1959: 90­92).
Di lereng barat Gunung 
Kelud tepatnya di Desa Candirejo, 
Kecamatan Ponggok juga terdapat 
sebuah candi yang terbuat dari 
bata dan batu andesit yaitu Candi 
Kalicilik. Candi ini masih cukup 
lengkap, hanya bagian atapnya 
yang tidak utuh. Pintu candi 
menghadap ke barat, sedangkan 
pada sisi­sisi lainnya terdapat 
pintu semu. Di atas pintu masuk 
maupun pintu semu terdapat 
hiasan kepala kala. Selain hiasan 
kepala kala, di atas pintu masuk 
candi juga terdapat pahatan 
angka tahun 1271 Ç (1369 M). 
Candi Kalicilik Sumber: files.
myopera.com
106 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Dari angka tahun itu dapat diketahui bahwa Candi Kalicilik 
merupakan peninggalan masa Majapahit pada pemerintahan 
Tribhuwanatunggadewi. Bilik candi dalam keadaan kosong, 
pada bagian cungkup candi terdapat relief Surya Majapahit 
(Anonim, 2009: 17­19). Oleh Raffles Candi Kalicilik ini disebut 
Candi Genengan, karena letaknya di dekat Desa Genengan 
(Raffles, 2008: 382; Anonim, 2009: 20). Menurut Agus Aris 
Munandar kemungkinan Candi Kalicilik adalah Kagenengan, 
tempat pendarmaan Ken Arok. Angka tahun yang terdapat 
pada pintu masuk candi kemungkinan merupakan peringatan 
perbaikan atau pemugaran bangunan yang telah ada pada masa 
Singasari (Munandar, 2005: 3­4; Anonim, 2009: 20).
Sungai Putih dan anak­anak sungainya mengalir mem­
bawa material lava ketika terjadi erupsi Gunung Kelud, 
dan merusak situs­situs candi yang terletak di sekitarnya. 
Di daerah Menjanganmalung sungai ini bercabang 
dua, di sebelah barat adalah anak sungai Glondong, dan di 
sebelah timur adalah Sungai Putih dan Sungai Landing. Di 
Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar 
terdapat Candi Wringin Branjang. Candi yang berdiri di 
lereng tertinggi Gunung Kelud ini dibuat dari balok­balok 
batu andesit. Strukturnya sederhana, tidak memiliki kaki, 
hanya memiliki tubuh dan atap candi saja (Siagian, 2002: 
153). Menarik perhatian bahwa Candi Wringin Branjang ini 
menghadap ke selatan. 
Di Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari terdapat 
situs Candi Sumberagung, yang sebagian terbenam oleh 
endapan lava. Candi Sumberagung yang semula berdiri di 
tengah Sungai Putih ini dibuat dari batu andesit. Komponen 
bangunan sekarang tinggal bagian kaki, dan di tengahnya 
terdapat lubang bekas sumuran. Sisa bangunan candi yang 
107Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
menghadap ke timur itu diekskavasi oleh tim peneliti Balai 
Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982. Akan tetapi ketika 
Gunung Kelud meletus pada tahun 1990 sebagian bangunan 
candi ini terbenam kembali.
Candi Sawentar Lor (I)
Pada jarak 1,7 km di sebelah timur Candi Sumberagung 
terdapat Candi Kotes, yang terletak di Desa Sukasewu 
Kecamatan Gandusari. Candi yang terbuat dari batu andesit 
ini terdiri dari dua bangunan yang menghadap ke 
barat. Bangunan di depan berupa batur candi yang di atasnya 
berdiri tiga miniatur candi dengan bangunan altar pemujaan. 
Bangunan yang terletak di belakangnya berupa bangunan batur 
candi berdenah empat persegi panjang. Di atasnya terdapat 
umpak­umpak dari batu andesit. Pada sisi depan kedua batur 
itu terdapat angka tahun, masing­masing adalah 1222 Ç (1300 
M) dan 1223 Ç (1301 M). Berdasarkan angka tahun ini 
candi ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raden 
108 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Wijaya, raja pertama Majapahit (Tim Penggali dan Perumus 
Hari Jadi Kabupaten Blitar, 1976: 39­40; Anonim, 2009: 15).
Sekitar 300 m di sebelah timurlaut Candi Kotes terdapat 
situs Candi Sukosewu. Situs ini berupa bangunan altar 
dan miniatur bangunan. Arah hadap altar ini ke selatan 
dengan orientasi ke puncak Gunung Kelud. Candi Kotes dan 
Candi Sukosewu terletak di dekat Sungai Mlalo yang berhulu 
di Gunung Pisang, yang merupakan bagian dari Gunung 
Kelud.
Di daerah dataran di selatan Gunung Kelud juga terdapat 
situs­situs candi, yaitu situs Candi Sawentar Lor (I) dan situs 
Candi Sawentar Kidul (II). Kedua candi ini terletak di Dusun 
Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro dan berada di 
tepi sungai kuna yang kini alirannya sudah mati yaitu Sungai 
Ngasinan. Material­material lava berupa pasir kasar, kerikil, 
kerakal, dan batu­batu besar yang ditemukan saat ekskavasi 
Candi Sawentar kidul, berasal dari aliran Sungai Putih. Candi 
Sawentar Lor (I) berada di sebelah timur Sungai Ngasinan dan 
menghadap ke barat atau menghadap ke sungai, sedangkan 
Candi Sawentar Kidul berada di sebelah barat sungai dan 
menghadap ke barat juga atau membelakangi sungai. Kedua 
candi ini juga memiliki bentuk arsitektur yang berbeda. 
Candi Sawentar Lor (I) mewakili arsitektur awal Majapahit, 
sedangkan Candi Sawentar Kidul (II) mewakili arsitektur 
akhir Majapahit. Candi Sawentar Lor (I) tidak memuat angka 
tahun, tetapi dari berbagai ciri khasnya termasuk dalam seni 
bangun Majapahit (Soekmono, 1993: 73), sedangkan Candi 
Sawentar Kidul (II) didirikan tahun 1436 M (Tjahjono, 2000: 
42). Candi Sawentar Lor (I) terbuat dari batu andesit dan masih 
tampak utuh, terdiri dari batur, kaki, tubuh, dan atap. Candi 
ini menghadap ke barat dengan penampil di bagian depan. Di 
109Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
kanan kiri pintu masuk dihiasi dengan kepala naga yang sudah 
aus. Pada sisi utara, timur, dan selatan tubuh candi terdapat 
pintu semu dengan hiasan kala di bagian atas. Di bagian atas 
bilik candi terdapat relief surya majapahit dengan tokoh dewa 
menunggang kuda. Di dalam bilik juga terdapat yoni dengan 
hiasan garuda sedang terbang. Adanya hiasan surya majapahit 
menunjukkan bahwa candi ini termasuk dalam periode awal 
Majapahit karena hiasan surya majapahit merupakan lambang 
Kerajaan Majapahit (Krom, 1923: 292; Mursitawati, 1987: 88; 
Anonim, 2009: 8). 
Candi Kotes
Penelitian yang telah dilakukan bebe rapa kali di situs 
Candi Sawentar Kidul (II) telah berhasil mengungkap denah 
bangunan dan pagar halaman candi. Pagar halaman terbuat dari 
bata berbentuk empat persegi panjang dengan luas 29,70 x 38,80 
m². Halaman seluas itu terbagi menjadi dua bagian, halaman 
utara dengan luas 21, 30 x 29,70 m² dan halaman selatan dengan 
luas 17,50 x 29,70 m². Masing­masing halaman memiliki 
pintu gerbang di sebelah barat. Halaman utara lebih tinggi 
110 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
dari halaman selatan, yang tampak dari perbedaan ketinggian 
masing­masing ambang pintu bawahnya dan perbedaan 
ketinggian dasar dinding pagar halaman utara dengan 
dinding pagar halaman selatan. Pada masing­masing halaman 
ditemukan sebuah gugusan candi yang sebagian besar terbuat 
dari batu andesit dan sebagian lagi terbuat dari bata. Gugusan 
candi di halaman utara 
terdiri dari dua buah 
batur berdenah empat 
persegi panjang berjajar 
melintang utara­selatan. 
Batur di sebelah timur 
terbuat dari batu andesit, 
di atasnya terdapat dua 
buah pondasi bangunan 
berdenah bujursangkar. 
Sedangkan batur di sebelah barat juga berdenah empat persegi 
panjang. Pada bagian luar terbuat dari batu andesit tetapi 
bagian dalamnya terbuat dari bata. Di atas batur tidak terdapat 
bangunan apapun. Di sebelah baratnya terdapat dua buah 
pondasi bangunan dari bata berbentuk bujursangkar. Bangunan 
ini berukuran kecil dan tinggal dua lapis bata saja. Di halaman 
selatan gugusan candinya hampir sama bentuk dan ukurannya 
dengan gugusan candi di halaman utara, yang berbeda hanya 
pada batur­baturnya. Batur sisi timur berbentuk bujursangkar 
yang berdiri sendiri­sendiri, masing­masing menyangga 
pondasi bangunan yang di atasnya terdapat bangunan 
berbentuk kubus dengan masing­masing dindingnya terdapat 
relief binatang. Di bawah batur yang ter buat dari batu andesit 
ini terdapat empat lapis bata yang me nyangga masing­masing 
batur ini. Di sebelah baratnya terdapat batur ber bentuk 
Candi Sukosewu
111Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
empat persegi panjang melintang utara selatan yang terbuat 
dari bata (Tjahjono, 2006: 34­35). Melalui penelitian juga, telah 
berhasil diidentifikasi 3 angka tahun, salah satunya berupa 
angka tahun yang terdapat di ambang pintu (relung) miniatur 
candi yaitu tahun 1358 Ç (1436 M), sedangkan lainnya berupa 
sengkalan memet terdapat pada panil­panil berrelief binatang 
yang berbunyi “Nagaraja anahut surya” berarti tahun 1318 Ç 
(1396 M) dan “Ganeça inapit mong anahut Surya” berarti tahun 
1328 Ç (1406 M) (Tjahjono, 2000: 35).
Candi Wringin Branjang
Agak jauh di daerah Blitar selatan terdapat Desa Sumberjati 
yang termasuk wilayah Kecamatan Kademangan. Di desa ini 
terdapat tinggalan arkeologis berupa sisa­sisa bangunan candi 
yang dikenal sebagai Candi Sumberjati atau Candi Simping. Di 
candi ini terdapat pahatan angka tahun 1283 Ç (1361 M) yang 
menunjukkan tahun pendirian bangunan ini. Di candi 
ini juga ditemukan arca Harihara yang merupakan perpaduan 
112 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
antara Dewa Çiwa dengan Dewa Wisnu. Arca ini sekarang 
disimpan di Museum Nasional Jakarta. Candi Sumberjati 
merupakan bangunan pendharmaan Raja Kertarajasa. Candi 
yang terbuat dari batu andesit ini berdiri di atas pondasi bata. 
Denah bangunan berbentuk bujursangkar dengan arah hadap 
ke barat. Komponen bangunan yang tersisa tinggal pondasi 
dan sebagian kaki candi (Siagian, 2002: 157­158).
Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
Banyaknya tinggalan candi­candi masa Majapahit di Blitar 
menunjukkan bahwa daerah ini pada masa itu memegang peran 
penting dalam kehidupan politik dan religiusnya. Berdasarkan 
angka­angka tahun yang terdapat pada komponen­komponen 
Candi Panataran maupun candi­candi lain dapat diketahui 
berasal dari abad 12 sampai dengan abad 15 M. Jadi meliputi 
awal berdirinya Kerajaan Majapahit sampai akhir Majapahit. 
Di Blitar juga terdapat candi­candi dari yang berukuran kecil, 
sedang, sampai candi yang kompleks dan terbesar di Jawa 
Timur. Pentingnya daerah Blitar ini tampak juga dari seringnya 
daerah ini dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk. 
Dua buah candi di daerah Blitar yang sering dikunjungi 
oleh Hayam Wuruk adalah Candi Sumberjati atau Candi 
Simping dan Candi Panataran atau Candi Palah. Candi 
Sumberjati yang terletak di daerah Blitar selatan adalah sebuah 
candi pendharmaan Kertarajasa, pendiri dan raja pertama 
Majapahit. Dia adalah leluhur raja Hayam Wuruk, sehingga 
sudah kewajibannya untuk mengunjungi bahkan memelihara 
tempat pendharmaan leluhur ini. 
Dari kitab Nagarakretagama dan kitab Pararaton diketahui 
bahwa pembangunan candi pada masa Majapahit bertalian erat 
113Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
dengan peristiwa wafatnya seorang raja. Sebuah candi didirikan 
untuk mengabadikan dharma-nya dan memuliakan rohnya yang 
telah bersatu dengan dewa penitisnya. Oleh karena itu, sebutan 
untuk candi adalah dharma atau sudharma, sedangkan raja yang 
telah meninggal itu dhinarma atau di­dharma­kan (Soekmono, 
1993: 67). Arca yang didirikan dalam candi ini dikenal 
sebagai arca perwujudan. Arca perwujudan itu merupakan 
penggambaran seorang raja yang dipuja sebagai dewa, yang 
sering disebut sebagai kultus Dewaraja. Munculnya bentuk 
arca perwujudan itu karena adanya percampuran unsur­unsur 
kebudayaan Hindu dengan unsur kebudayaan asli Indonesia, 
yaitu pemujaan arwah nenek moyang (Stutterheim, 1931: 5). 
Di Sumberjati ditemukan sisa­sisa bangunan candi, namun 
arca perwujudan yang ditemukan di situs ini bukan arca 
Çiwa –sebagaimana disebutkan dalam Nagarakretagama– 
melainkan arca Harihara. Candi Simping atau Candi Sumberjati 
ini menurut kitab Nagarakretagama merupakan salah satu 
candi pendharmaan raja atau yang sering disebut sebagai 
dharma haji (Soekmono, 1993: 70).
Menurut Bernet Kempers, Sumberjati disamakan 
dengan Simping, yaitu nama tempat yang terdapat dalam 
Nagarakretagama sebagai “Çiwapratista” atau tempat arca 
Çiwa (Kempers, 1959: 82). Dalam Nagarakretagama diterang­
kan bahwa Simping terletak di sebelah selatan Blitar, seperti 
disebutkan dalam pupuh LXI bait 3 dan 4, yang berbunyi 
(Pigeaud, 1960: 46):
“jañjan sańke balitar ańidul tūt/mārgga,
sĕńkān/poryyaŋ gataraşa tahĕnyādoh wwe,
ndah prāpteŋ lodaya sira piraŋ rātryāńher,
çakte rūmniń jaladi jinajah tūt pińgir.” (bait 3)
114 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
“sah sańke lodaya sira mańanti ri simpiŋ,
swecchānambyāmahajöńa ri saŋ hyaŋ darmma,
sākniŋ prasańda tuwi hana dohnya ńulwan,
na hetunyān/bańunĕn ańawetan matra.” (bait 4)
artinya (Riana, 2009: 304):
“Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan,
mendaki kayu­kayu mengering kekurangan air tak sedap 
dipandang,
maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal di 
sana,
tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisir pantai,” 
(bait 3)
“Baginda Raja meninggalkan Lodaya menuju desa Simping,
dengan rela seraya memperbaiki candi tempat memuja 
leluhur, 
candi itu rusak tampak bergeser ke barat,
itulah sebabnya direnovasi digeser agak ke timur,” (bait 4)
Berdasarkan uraian di dalam Nagarakretagama ini 
dapat diketahui bahwa Hayam Wuruk telah mengunjungi 
Simping dan meme rintahkan untuk memperbaiki Candi 
Simping ini yang prasada atau bagian atasnya miring ke 
barat. Selanjutnya, dalam pupuh 70 kitab Nagarakretagama 
diceritakan bahwa dua tahun lalu sang raja datang lagi ke 
Simping untuk meresmikan arca perwujudan raja Kertarajasa 
sebagai Harihara atau Çiwa­Wisnu (Soekmono, 1993: 71).
Candi Panataran atau yang di dalam Nagarakretagama 
disebut Candi Palah merupakan candi yang terbesar dan 
ter lengkap di JawaTimur, namun Nagarakretagama tidak 
menyatakan bahwa candi ini termasuk dharma haji ataupun 
prasada haji. Akan tetapi kunjungan raja Hayam Wuruk 
ke candi ini dalam perjalanan keliling ke daerah­daerah 
115Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
sebagai mana diceritakan dalam 
Nagarakretagama sebenarnya me­
nunjukkan bahwa Candi Panataran 
menduduki tempat yang cukup 
penting dalam kerajaan Majapahit. 
Berdasarkan temuan prasastinya, 
candi ini sudah dibangun tahun 
1197 M oleh raja Çrengga dari 
kerajaan Kadiri. Candi ini mendapat 
perhatian khusus dari raja Hayam 
Wuruk, tidak hanya berdasarkan 
dari kunjungan­kunjungan sang 
raja secara teratur, tetapi juga dari 
adanya sebuah gugusan candi kecil 
yang dikenal sebagai Candi Angka 
Tahun. Bangunan itu disebut demikian karena pada ambang 
pintunya diberi pahatan angka tahun 1291 Ç (1369 M). Angka 
tahun ini menunjukkan bahwa pembangunannya berlangsung 
dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350­1389 M) 
(Soekmono, 1993: 72).
Satu candi lagi yang juga dikunjungi oleh Hayam 
Wuruk dalam perjalanannya ke desa­desa wilayah Majapahit 
adalah Candi Sawentar Lor (I), yang disebutkan dalam 
Nagarakertagama sebagai Lwang Wentar. Pupuh LXI bait 2 
berbunyi (Pigeaud, 1960: 46):
“ndan ri śakha tri tanu rawi riŋ weśāka,
śri natha muja mara ri palah sabhrtya,
jambat sing ramya pinaraniran/lańlitya,
ri lwań wentar mańuri balitar mwań jimbe”
Situs Candi  
Sawentar Kidul (II)
116 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
artinya (Riana, 2009: 302):
“Lalu pada tahun saka Tritanurawi­1283 (1361 M) bulan wesaka 
(April­Mei),
Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya,
berlarut­larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur 
hati,
di Lawang Wentar Manguri Blitar dan Jimbe.
Candi Sawentar Lor (I) kemungkinan merupakan salah 
satu candi kerajaan, karena pada penutup cungkup candinya 
terdapat hiasan surya majapahit yang merupakan lambang 
Kerajaan Majapahit. Selain Candi Sawentar Lor (I), candi 
lain yang memiliki hiasan surya majapahit adalah Candi 
Kalicilik dan Candi Sawentar Kidul (II). Candi Kalicilik jika 
benar merupakan Candi Kagenengan –tempat pendharmaan 
Ken Arok– berarti didirikan pada masa Singasari. Menurut 
Agus Aris Munandar, candi ini lalu diperbaiki 
atau dipugar pada masa Majapahit. Hal ini menunjukkan 
bahwa tidak hanya masa Majapahit saja daerah Blitar sangat 
penting, melainkan dari masa Singasari bahkan masa Kediri 
sudah merupakan daerah yang penting, karena bagian dari 
kompleks Candi Panataran sudah didirikan sejak masa Kediri. 
Candi Kalicilik pada masa Majapahit dianggap sebagai candi 
yang penting karena sebagai tempat pendharmaan leluhur raja­
raja Majapahit, sehingga perlu dipertahankan dan dijadikan 
sebagai candi kerajaan yang ditandai dengan adanya hiasan 
surya majapahit.
Relief surya majapahit juga terdapat di Candi Sawentar 
Kidul (II) yaitu yang terdapat pada dua buah relief candra 
sengkala. Dengan demikian Candi Sawentar Kidul (II) juga 
merupakan salah satu candi kerajaan yang penting. Melalui 
117Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
penelitian telah berhasil diidentifikasi 3 angka tahun, salah 
satunya berupa angka tahun yang terdapat di ambang pintu 
(relung) miniatur candi, sedangkan dua yang lain berupa 
sengkalan memet terdapat pada panil­panil berrelief binatang. 
Angka tahun yang tertera di ambang pintu candi biasanya 
menunjukkan tahun pendirian candi, misalnya seperti yang 
terdapat di ambang pintu Candi Angka Tahun yang merupakan 
salah satu gugusan bangunan di kompleks Candi Panataran. 
Atas dasar itu, maka kemungkinan angka tahun yang tertera 
pada ambang pintu (relung) miniatur Candi Sawentar Kidul 
(II) juga menunjukkan tahun pendirian bangunan ini. 
Jika benar tahun 1358 Ç (1436 M) merupakan tahun pendirian 
Candi Sawentar Kidul berarti bangunan ini didirikan pada 
masa pemerintahan Suhita di Majapahit, sebab ia memerintah 
dari tahun 1351 Ç sampai 1369 Ç (1429­1447 M) (Djafar, 1978; 
Krom, 1931).
Nagaraja Anahut Surya (1318 Ç/1396 M)
118 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Dua angka tahun lain yang berhasil diidentifikasi berupa 
sengkalan memet menunjukkan angka tahun 1318 Ç (1396 M) 
dan 1328 Ç (1406 M). Kedua angka tahun ini menunjukkan 
kronologi yang lebih tua dari angka tahun di ambang pintu 
(relung) bangunan miniatur candi. Kedua angka tahun 
ini tampaknya tidak menunjukkan kronologi tahapan 
pembangunan candi, sebab selisih angka­angka tahun ini 
tidak sebanding dengan ukuran bangunan. 
Kemungkinan lain, angka­angka tahun yang berujud 
sengkalan memet ini berkaitan dengan gambaran yang 
terdapat pada relief­relief itu sendiri. Namun untuk dapat 
meng kaitkannya harus memahami makna simbolik relief­
relief itu, dan ditafsirkan bahwa gambar­gambar dalam 
relief itu menunjukkan kejadian suatu peristiwa. Yang 
jelas jika identifikasi angka­angka tahun itu benar berarti 
peristiwa itu terjadi pada masa sebelum Suhita naik tahta. 
Pada masa itu kekuasaan Majapahit masih berada di tangan 
Wikramawarddhana, ayah Suhita, yang memerintah tahun 
1311­1351 Ç (1389­1429 M) (Djafar, 1978). 
Menurut Pararaton, peristiwa besar yang terjadi pada masa 
pemerintahan Wikramawarddhana, yang nyaris meruntuhkan 
Majapahit adalah usaha perebutan tahta oleh Wirabhumi. 
Peristiwa perang saudara ini dikenal sebagai peristiwa 
Paregreg. Pada masa pemerintahan Wikramawarddhana telah 
terjadi pertentangan keluarga, antara Wikramawarddhana 
yang memerintah wilayah bagian barat (Majapahit) dengan 
Bhre Wirabhumi yang memerintah bagian timur (daerah 
Balambangan). Perang paregreg terjadi antara tahun 1323­ 
1328 Ç (1401­1406 M) (Djafar, 1978).
Sepeninggal raja Hayam Wuruk dan Patih Amangkubhumi 
Gajah Mada Majapahit memang telah mengalami kesuraman 
119Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
dan muncul suatu masalah yaitu perebutan kekuasaan 
dan per tentangan keluarga mengenai hak waris atas tahta 
kerajaan. Sebelumnya Hayam Wuruk telah membagi kerajaan 
menjadi dua yaitu di sebelah barat (Majapahit) diperintah 
oleh Wikramawarddhana dan kerajaan di timur (daerah 
Balambangan) diperintah oleh Wirabhumi, anak Hayam 
Wuruk dari istri selir. Sedangkan Wikramawarddhana 
adalah keponakan dan menantu Hayam Wuruk (Djafar, 
1978). Dia naik tahta karena mengawini Kusumawarddhani, 
anak Hayam Wuruk dari parameswari. Dengan demikian 
Kusumawardhanilah yang sebenarnya berhak atas tahta 
kerajaan karena sebagai putri mahkota.
Ganeça Inapit Mong Anahut Surya (1328 Ç/1406 M)
Angka­angka tahun yang disebutkan dalam pararaton 
tentang peristiwa Paregreg ini ternyata sangat dekat 
bahkan ada yang sama dengan candra sengkala atau sengkalan 
memet yang dipahatkan pada relief­relief di Candi Sawentar 
Kidul ini. Tahun 1318 Ç yang tersirat dalam sengkalan 
“Nagaraja anahut surya” sangat dekat dengan awal terjadinya 
120 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
peristiwa Paregreg yang menurut Pararaton mulai tahun 1323 
Ç. Jadi kemungkinan sebelum mulai peristiwa Paregreg telah 
didahului dengan peristiwa­peristiwa yang berkaitan dengan 
usaha perebutan tahta ini. Atau kemungkinan lain, angka 
tahun itu justru menunjuk tahun dimulainya peristiwa Paregreg. 
Kemungkinan tahun yang disebut oleh penulis Pararaton 
kurang tepat, mengingat penulisan Pararaton jauh sesudah 
peristiwa itu berlangsung (sekitar abad XVII M), sedangkan 
Candi Sawentar Kidul yang memuat sengkalan “Nagaraja 
anahut surya” berasal dari tahun 1358 Ç (1436 M). Jadi Candi 
Sawentar Kidul didirikan 40 tahun sesudah peristiwa Paregreg 
terjadi. Sedangkan tahun 1328 Ç yang tersirat dalam sengkalan 
memet “Ganeça inapit mong anahut Surya” sama dengan tahun 
berakhirnya Paregreg saat terbunuhnya Bhre Wirabhumi, yang 
menurut Pararaton berbunyi “Nagalara anahut wulan” (Djafar, 
1978). 
jika diamati dari makna penggambaran naga yang 
mengenakan mahkota, sangat mungkin hal itu merupakan 
simbolisasi seorang raja yang marah, dan digambarkan 
sedang ber usaha menelan matahari. Sedangkan matahari 
yang dicaplok naga raja ini merupakan simbolisasi dari 
kekuasaan kerajaan Majapahit yang sedang dicabik­cabik 
untuk di runtuhkan. Sebab matahari yang digambarkan pada 
panil itu adalah “Surya Majapahit” yang merupakan lambang 
kebesaran Kerajaan Majapahit. 
Dengan demikian penggambaran “Nagaraja anahut Surya” 
adalah untuk menggambarkan adanya usaha­usaha untuk 
meruntuhkan kekuasaan Majapahit melalui perebutan tahta 
oleh Wirabhumi terhadap kekuasaan Wikramawarddhana. 
Gambaran perebutan kekuasaan antar keluarga raja­raja 
Majapahit ini lebih diperjelas dengan adanya relief­relief 
121Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
berikut yang menggambarkan dua ekor kuda sedang berebut 
bola. Relief ini kemungkinan menggambarkan dua bersaudara 
yang sedang berebut kekuasaan. Sedangkan yang lebih 
memperkuat bahwa relief­relief itu menggambarkan peristiwa 
perang adalah adanya relief Ganeça yang sedang diapit dua 
ekor harimau. Selain sebagai dewa ilmu pengetahuan Ganeça 
juga sebagai dewa perang. Ganeça yang digambarkan dalam 
relief ini kemungkinan sebagai dewa perang, sebab 
tampak sekali Ganeça ini sangat atraktif sedang menggigit 
matahari dan siap mengayunkan kapaknya. 
Candra sengkala atau sengkalan memang sering diguna­
kan sebagai peringatan tentang kejadian atau peristiwa yang 
khusus, seperti berdirinya kerajaan, kenaikan tahta raja, 
kelahiran, peperangan, serta peristiwa lainnya (Suwatno, 
1998/1999). Jika hal ini benar berarti Candi Sawentar Kidul 
didirikan oleh Suhita untuk memperingati peristiwa usaha 
perebutan tahta (Paregreg) yang terjadi pada masa pemerintahan 
ayahnya. Peristiwa itu tergambar dalam panil­panil relief, dua 
di antaranya sebagai sengkalan memet yang menggambarkan 
kronologi terjadinya peristiwa ini. Jadi pendirian 
bangunan suci Sawentar Kidul adalah untuk memperingati 
peristiwa yang telah terjadi 40 tahun lalu sebelum bangunan 
itu didirikan.
Kesimpulan
Peran penting suatu daerah dapat diketahui dari banyak­
nya bangunan­bangunan monumental yang didirikan di 
daerah itu. Selain itu, juga dapat diketahui dari banyaknya 
kunjungan yang dilakukan oleh penguasa pada waktu itu. Di 
Blitar ditemukan candi­candi masa Majapahit, dari masa paling 
122 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
awal yaitu bangunan suci tempat pendharmaan Kertarajasa 
sampai candi­candi di lereng Gunung Kelud dari masa yang 
lebih muda yaitu masa­masa akhir Majapahit, yang ditandai 
oleh munculnya kembali anasir­anasir Indonesia asli, seperti 
unsur undakan pada pola halaman maupun pada candi induk 
Panataran, serta munculnya bentuk­bentuk miniatur candi. 
Ditempatkannya candi pendharmaan Kertarajasa –pendiri 
Majapahit– di Simping atau Sumberjati menunjukkan bahwa 
daerah Blitar merupakan tempat yang penting sejak masa awal 
Majapahit. Selanjutnya kunjungan rutin yang sering dilakukan 
Hayam Wuruk ke Blitar, terutama di Candi Simping atau 
Candi Sumberjati dan Candi Palah atau Candi Panataran lebih 
menegaskan bahwa daerah Blitar merupakan tempat yang 
istimewa bagi Majapahit. Lebih­lebih melihat arsitektur Candi 
Panataran ­­yang merupakan candi terbesar di Jawa Timur­­ 
dengan pola halaman ke belakang mewakili pola arsitektur 
Jawa Timur yang lengkap, bukan tidak mungkin sebagai candi 
kerajaan walaupun Nagarakretagama tidak menyatakannya 
sebagai dharma haji.
Ditemukannya kompleks Candi Sawentar Kidul yang ber­
dasarkan hasil kajian kemungkinan berkaitan dengan peristiwa 
paregreg atau dengan kata lain pendirian candi ini ditujukan 
sebagai monumen peringatan kemenangan telah menambah 
peran penting daerah Blitar dalam sejarah Majapahit. Mungkin 
masih banyak lagi tinggalan arkeologis di daerah Blitar yang 
belum terungkap, yang masih merupakan potensi terpendam. 
Apa yang sudah terungkap saat ini baru sebagian kecil dari 
bukti­bukti kejayaan Majapahit di Blitar. Masih banyak 
masalah yang perlu diungkap dari keberadaan candi­candi 
di Blitar, seperti mengapa pendiri Majapahit didharmakan di 
Blitar, mengapa candi terbesar di Jawa Timur justru didirikan 
123Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
di Blitar, mengapa monumen paregreg juga didirikan di Blitar, 
dan masih banyak lagi permasalahan yang harus dijawab.
KEpUstaKaaN
Anonim, 2009. “Laporan Usulan Penetapan Benda Cagar Budaya 
di Kabupaten Blitar Tahap II (Candi Sawentar I, Candi 
Kotes, Candi Kalicilik, Candi Gambar Wetan, Gapura 
Plumbangan). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala 
Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur.
Djafar, Hasan. 1978. Girindrawarddhana, Beberapa Masalah 
Majapahit Akhir. Cetakan kedua. Jakarta: Yayasan Dana 
Pendidikan Nalanda.
http://files.myopera.com/4Go3s/albums/594730/candi%20
kalicilik%20­%20blitar.jpg
Kempers, A.J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: 
C.P.J. van der Peet.
Krom, N.J. 1931. Hindoe-Javaansche Geschiedenis. Tweede 
herziene druk. ‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff.
_________. 1923. Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. ‘s 
Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Munandar, Agus Aris. 2005. “Peran Penting Data dari Karya 
Sastra Jawa Kuna dalam Kajian Arkeologi Hindu­Buddha: 
Candi Pendharmaan (Abad ke 13 – 15). Makalah Seminar 
Naskah Kuna Nusantara sebagai Warisan Bernilai 
Luhur dalam rangka memperingati Seperempat Abad 
Perpustakaan Nasional RI, 1980 – 2005. Jakarta: Tidak 
Diterbitkan.
124 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Mursitawati, Enny. 1987. “Variasi dan Arti Simbolis Hiasan Surya 
Majapahit. Yogyakarta: Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra 
Universitas Gadjah Mada, tidak diterbitkan.
Pigeaud, Th. 1960. Java in the Fourteenth Century. Volume I. 
Leiden: The Hague­Martinus Nijhoff.
Raffles, Thomas Stamford. 2008. The History of Java. Yogyakarta: 
Narasi.
Rangkuti, chucky. 2000. “Pola Permukiman Desa Majapahit: 
Kajian Situs­situs Arkeologi di Kabupaten Mojokerto 
dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Berita Penelitian 
Arkeologi. No. 09. Yogyakarta: Balai Arkeologi 
Yogyakarta.
Riana, I Ketut. 2009. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara 
Krtagama, Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: Kompas.
Siagian, Renville. 2002. Candi, Sebagai Warisan Seni dan Budaya 
Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soekmono, R. dan Inajati Adrisijanti Romli. 1993. “Peninggalan­
peninggalan Purbakala masa Majapahit”. 700 Tahun 
Majapahit, Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas 
Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa 
Timur.
Stutterheim, W.F. 1931. “The Meaning of the Hindu Javanese 
Candi”. Journal of the American Oriental Society. 
Volume 51. Pensylvania: Pensylvania University. Hal. 
1­15.
Suwatno, Edi. 1998/1999. “Perspektif Budaya Candrasengkala”. 
Kebudayaan. Nomor 16 Tahun VIII. Departemen 
Pendidikan dan Kebudayaan.
125Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar 
Tjahjono, 2000. “Candi Sawentar II di Blitar. Berita Penelitian 
Arkeologi. No. 11. Yogyakarta: Balai Arkeologi 
Yogyakarta.
________. 2006. “Candi Sawentar II (Kidul), Arsitektur Peralihan 
pada Abad 15 M”. Berita Penelitian Arkeologi No. 21. 
Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.

127Candi di Lereng Bromo
6
CaNdi di lErENg BroMo
T.M. Rita Istari
Pak Karno dari Desa Lumbang
A
dalah seorang mantan Kepala Sekolah Dasar 
Bulukambang II, Kecamatan Lumbang, Kabupaten 
Pasuruan bernama Soekarno BA. Dia juga dikenal 
sebagai dalang yang mengkhususkan dirinya mendalang 
dalam upacara keagamaan, atau upacara adat di desa­desa 
sekitar tempat tinggalnya, sehingga lakon yang dimainkannya 
pun disesuai kan dengan tujuan diadakannya upacara ini. 
Satu hal yang menarik bahwa di desa Lumbang ini pernah 
tinggal seorang Empu pembuat keris yang sangat terkenal 
pada jaman Majapahit, cuma tidak diketahui siapa namanya. 
Juga dalam Nāgarakertagāma pupuh 73:3 disebutkan bahwa 
pada masa pemerintahan raja Hayam­Wuruk di desa Lumbang 
dibangun sebuah candi untuk seseorang (Robson.1995:78). 
Pramudito (2006) dalam bukunya mengatakan bahwa sesudah 
128 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gajah Mada tidak lagi menjabat sebagai Mahapatih di 
Majapahit, dia mengasingkan dirinya hidup sebagai pertapa 
di sebuah dusun terpencil di lereng Gunung Bromo dekat air 
terjun, dengan suasana yang sunyi sepi di pinggir hutan yang 
lebat (Pramudito.2006:135). Kenyataannya di desa Lumbang 
memang terdapat air terjun yang sekarang berfungsi sebagai 
tempat rekreasi. Mungkinkah nama desa Lumbang yang 
sekarang ini identik dengan Lumbang seperti yang disebutkan 
dalam Nāgarakertagāma dan buku karangan Pramudito 
ini? Jika demikian halnya, nampaklah bahwa nama desa 
Lumbang tidak dapat diabaikan begitu saja. 
 Pada tahun 1985, pak Soekarno yang waktu itu men­
jabat sebagai Kepala Sekolah Dasar, tergerak hatinya saat 
menemukan beberapa batu candi dan arca di sebuah bukit 
di lereng Gunung Bromo yang lumayan jauh dari tempat 
tinggalnya. Penemuan ini langsung dilaporkan ke 
instansi terkait, termasuk ke Balai Arkeologi Yogyakarta, 
dan tentunya dengan sepengetahuan Kepala Desa setempat. 
Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Hal ini mungkin 
disebabkan karena lokasi tinggalan arkeologi ini sulit 
dijangkau, sebab jalan menuju dusun itu melingkari bukit 
dengan jurang yang terjal jalan itupun sempit, hanya cukup 
untuk satu kendaraan roda empat. Harus benar­benar waspada 
agar tidak berpapasan dengan kendaraan roda empat lain. 
 Dusun Wonogriyo, Desa Pusungmalang, Kecamatan 
Puspo, Kabupaten Pasuruan, terletak pada ketinggian 1340 
meter di atas permukaan laut (dpl). Seperti diketahui bahwa 
pada umumnya desa di Jawa memiliki sebuah punden yang 
dikeramatkan oleh penduduk setempat, karena dianggap 
sebagai makam atau tempat bersemayamnya sesepuh desa 
sebagai cikal­bakal berdirinya desa ini. Sesepuh desa 
129Candi di Lereng Bromo
umumnya dipuja sebagai Danyang yang menjaga keselarasan 
hidup seluruh penduduk. Asal mula munculnya Danyang 
adalah pada masa pra­Hindu kepercayaan warga ber­
pusat kepada alam dan arwah nenek moyang. Dewa­dewa 
ini dinamakan Dahyang atau Rahyang yang lalu 
berubah menjadi Danyang (da = honorefic prefix) dalam bahasa 
Jawa Baru (Kartoatmodjo:1979:43). 
 Demikian juga halnya di Dusun Wonogriyo, penduduk 
memiliki Danyang bernama Kyai Wonosodo, dan pundennya 
berada di ujung desa, di sebuah bukit bagian dari lereng 
Gunung Bromo. Penduduk juga menamakan punden ini: 
Candi Sanggar. Mengapa dinamakan demikian? Karena selain 
punden ini dianggap sebagai makam Kyai Wonosodo, juga 
banyak ditemukan reruntuhan bangunan candi berupa batu­
batu andesit, dan pernah pula ditemukan beberapa arca batu.
 Tahun 2004 pada waktu penulis melihat arsip­arsip lama 
di perpustakaan Balai Arkeologi Yogyakarta ditemukanlah 
surat pak Karno ini di atas. Surat itu memakai tulisan 
tangan yang rapi dengan kertas ukuran folio yang sudah 
menguning di makan usia. Isi surat menginformasikan bahwa 
ada reruntuhan candi dengan rincian yang lengkap seperti 
yang penulis sertakan di atas. Namun, informasi yang sangat 
berharga itu tidak satu pun mendapat tanggapan, akibatnya 
dari tahun ke tahun arca­arca di sana hilang satu demi satu.
Surat pak Karno yang menginformasikan tentang situs Candi 
Sanggar, dan ditulis 20 tahun yang lalu
130 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
131Candi di Lereng Bromo
Informasi ini diperkuat pula oleh laporan tim 
penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang pada tahun 2004 
mengadakan penelitian tentang “Unsur­unsur Kepercayaan 
pada Bentuk Permukiman dan Rumah Tengger, Jawa Timur” di 
Desa Keduwung (Lelono.2004:1). Pada waktu itu tim mendapat 
laporan penduduk bahwa di dusun Wonogriyo ada punden 
yang disebut Candi Sanggar. Tim melakukan peninjauan 
ke tempat itu dan memang di sana banyak ditemukan batu­
batu candi. Menurut cerita penduduk, dulu ditemukan arca­
arca seperti gambar dalam laporan tulisan tangan pak Karno, 
tetapi arca ini beberapa kali dicuri oleh oknum tidak 
bertanggungjawab dari luar dusun ini. 
 Akhirnya ada pencuri yang mengembalikan arca­
arca itu ke tempat semula, karena selalu menderita dan sial, 
konon akibat kutukan dari arca ini. Pencuri terakhir 
tidak mengem balikan arca­arca itu ke tempat semula, karena 
sesudah menjualnya menjadi gila. Tentu saja arca­arca itu 
tidak dapat dilacak kembali keberadaannya, sungguh sayang!! 
Akan tetapi penduduk desa dan sekitarnya sejak dahulu tetap 
menjalankan suatu tradisi yang dilakukan satu tahun sekali. 
Mereka berarakan naik ke punden, dan di halaman punden 
mereka mengadakan selamatan untuk menghormati Danyang 
Desa, agar tetap menjaga desanya susaha terhindar dari segala 
hal yang tidak baik. Upacara ini merupakan upacara 
bersih desa turun temurun.
Arkeolog dan Candi Sanggar 
Sesuai dengan laporan pak Karno, tim peneliti dari Balai 
Arkeologi Yogyakarta mengadakan penelitian, dimulai tahun 
2005 sampai sekarang. Untuk mencapai lokasi, meskipun 
132 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
cuaca sangat dingin menusuk tulang, tetapi tim peneliti tetap 
terengah­engah karena menaiki bukit yang cukup tinggi. 
Apalagi sering turun hujan yang menyebabkan tanah menjadi 
licin. Akibatnya tak ada satupun anggota tim yang tidak 
pernah terpeleset!!
Di atas bukit itulah ditemukan susunan batu­batu candi 
yang semula disangka sebagai bagian dari dinding candi. 
Namun ternyata susunan batu­batu ini adalah tum­
pukan batu­batu candi yang dikumpulkan oleh penduduk 
jika mereka menemukannya. Sesudah batu­batu candi itu 
dibersihkan, diketahui bahwa tumpukan ini antara lain 
berupa umpak­umpak sejumlah 23 buah berukuran besar, 
sedang, dan kecil. Ternyata umpak­umpak batu juga ditemu­
kan bertebaran di sekitar bukit karena terbawa tanah longsor. 
Dengan penuh ketelitian para arkeolog anggota tim mem­
bersihkan, mengukur, dan memotret batu­batu candi ini 
satu persatu. Dari 23 buah umpak batu ini diantaranya 
ditemukan tiga buah umpak dengan ukuran sama, yang salah 
satu sisinya bertuliskan huruf dan bahasa Jawa Kuna yang 
merupakan angka tahun 
dan terbaca 1431 Saka 
atau 1509 Masehi.
Temuan lain adalah 
beberapa fragmen terakota 
dan fragmen tembikar, 
diantaranya berupa jam­
bangan berukuran besar. 
Dugaan ini didasar kan 
dari bagian tepiannya 
yang tebal, lebih kurang 
Umpak berangka tahun 1431 Saka  
(dok. Balar Yogya)
133Candi di Lereng Bromo
2 cm. Ada pula yang bermotif hias yang indah dan halus 
pengerjaannya. 
Beberapa artefak terakota hasil survei permukaan di sekitar situs  
(dok.Balar Yogya)
Selain pecahan­pecahan tembikar, juga beberapa fragmen 
keramik asing dan mata uang kepeng Cina. 
Fragmen keramik asing  
(dok. Balar Yogya)
Mata uang kepeng Cina  
(Dok.Balar Yogya)
Temuan lain adalah satu buah batu andesit berbentuk 
empat persegi panjang yang memuat prasasti dengan huruf 
dan bahasa Jawa Kuna pada salah satu sisinya. Prasasti ini 
diduga Candrasengkala. Penulis meminta bantuan 2 orang 
epigraf untuk membaca dan menganalisa tulisan ini. 
Hasil nya adalah sebagai berikut:
134 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
1. Titi Surti Nastiti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan 
Arkeologi Nasional, Jakarta membaca candrasengkala 
ini:
  Rupa (1), Guna (3), Catur (4), Janma (1) = 1431 Saka atau 
1509 Masehi. 
2.  Sedangkan Kayato Hardani dari Balai Pelestarian 
Peninggalan Purbakala DIY, menafsirkan Candrasengkala 
ini sebagai berikut:
 Ruya O Saturnakhma atau Ru Ya O Saturnakhma, maknanya: 
 Kata Ruya tidak dijumpai di dalam kamus Jawa Kuna 
maupun Sansekerta.
 Kata Ru dalam kamus Sansekerta, didefinisikan 
sebagai “roar, cry, howl, yell, croak, hum, resound” ada 
kaitannya dengan suara, teriakan atau lolongan.
 Kata Ya merupakan partikel penegas atau penunjuk.
 Kata Saturnakhma(?) mungkin dari kata dasar Turna 
yang berarti dengan cepat. Kata ini berasal dari kata 
Sansekerta Türna dari akar kata Tvar yang berarti 
cepat. 
Prasasti berupa Candrasengkala (dok.Balar Yogya)
 Dalam konteks inskripsi dari Candi Sanggar ini belum 
dapat diperoleh penafsiran arti kata yang jelas. Mungkin 
135Candi di Lereng Bromo
inskripsi ini tentang seruan untuk mempercepat “sesuatu”. 
Hal ini terlihat adanya partikel penegas dan seruan Ya dan O. 
Untuk kata Saturnakhma diperkirakan sebagai sebuah bentuk 
kata pasif dari kata dasar Turna yang berarti “percepatlah”. 
Kayato Hardani mengacu pada Kamus bahasa Sansekerta 
karangan Mac Donnel terbitan tahun 1954, dan Kamus Jawa 
Kuna karangan Zoetmulder terbitan tahun 1997. Dengan tidak 
mengurangi penghargaan penulis kepada Kayato Hardani, 
dalam konteks ini, penulis lebih condong memakai 
pembacaan Titi Surti Nastiti, dengan alasan angka tahun 
ini sesuai dengan angka tah

Related Posts:

  • majapahit 2 M rEliEF daN sastra tErtUlisSiswantoPendahuluanP eninggalan masa Hindu­Budha yang tersebar di kawasan Provins… Read More