Rabu, 03 Mei 2023
Home »
majapahit 2
» majapahit 2
majapahit 2
By video bobo Mei 03, 2023
tErtUlis
Siswanto
Pendahuluan
P eninggalan masa HinduBudha yang tersebar di kawasan Provinsi Jawa Timur sebagian besar meru pakan peninggalan peradaban besar seperti
Kadiri, Singosari, dan Majapahit. Diantara ketiga kerajaan besar
ini rupanya Majapahit yang paling banyak peninggalan
sehingga banyak mendapat perhatian untuk mengungkap
misterimisterinya. Dan konon untuk menyingkap misteri
warisan Majapahit tidak ada habisnya dan selalu ada yang
baru. Masa kejayaan dari sebuah kerajaan besar di nusantara
yang disebut Kerajaan Majapahit berlangsung antara abad 1315
Masehi. Kerajaan yang cukup berpengaruh dan berwibawa di
58 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
wilayah nusantara hingga sampai ke mancanegara pada masa
itu, kewibawaan ini diduga mungkin tidak sekedar karena
kuatnya prajurit perang, kuatnya dukungan rakyat, kewibawaan
dan strategi politik Sang Raja saja, tetapi karena kekuatan sosial
warga, kekuatan ekonomi, dan kebudayaannya yang turut
berperan dalam membesarkan kerajaan yang berjaya selama
ratusan tahun.
Memandang reliefrelief pada media candicandi maupun
pada media lain dapat menimbulkan rasa kekaguman seolah
kita terbawa ke masa lalu yang romantik. jika hanya
dipandang dan diamati secara sekilas tampak hanya sebagai
gambar atau hiasan belaka. Akan tetapi jika dicermati
lebih mendalam, ternyata sebagian besar merupakan cerminan
yang ekspresif dalam mengambarkan suatu potret keadaan
lingkungan di masa lalu. Lalu jika berhadapan dengan
kedua jenis benda itu seolah sedang membuka halaman demi
halaman melihat potretnya lalu membaca teks keterangannya,
walaupun keduanya tempatnya terpisah.
Disatu sisi memang relief ada kelebihan dan ada kele
mahannya, kelebihannya jelas pada keotentikan dan keunikan
yang masih bisa disaksikan sampai saat ini, sedangkan
kelemahannya apa benar gambar itu sebagi penggambaran
atau visualisasi keadaan masa lalu?. Oleh karena itu tidak
dibahas disini tentang penggambaran pada relief ini
berdasarkan apa? dan menceritakan apa?. Tetapi dalam
paparan disini hanya mengamati sisi gambar dan adegan
adegan lain dalam gambar relief, lalu diapresiasikan dengan
lingkungan kehidupan seharihari pada masa kini. lalu
dilengkapi dengan membaca dan membandingkan data
tekstualnya, maka lengkaplah menikmati keindahan masa lalu
itu dalam kemasan potretpotret kearifan lingkungannya.
59Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
Sebagian menunjukkan lukisan lingkungan alam sekitar
(lanskap), ada yang penggambaran lingkungan permukiman,
lingkungan rumah tangga, lingkungan kerajaan dan lainnya.
Penggambaran unsurunsur eksploitasi sumberdaya alam
oleh warga masa lalu mengalir begitu saja dalam
menyikapi tuntutan dan tantangan hidup mereka. lalu
secara jelas mereka ekspresikan kedalam bentuk lukisan pada
hamparan tatanan batubatu candi, bagian bangunan, dan
artefak lainnya. Banyak ragam ekspresi dalam lukisan masa
lalu di dalam relief, namun paparan ini dari berbagai relief
yang ditemukan dipilahkan menjadi kelompokkelompok
pemanfaatan dan kelompok warga masa lalu dalam
menyikapi lingkungannya.
Pertanian
Kejayaan Majapahit yang terkenal sampai ke mancanegara
itu salah satunya karena kemajuan dibidang pangan khusunya
pertanian. Data visual berupa penemuan artefak pertanian,
penggambaran aktifitas pertanian melalui relief, dan data
tekstual berupa kitabkitab kuna dan prasastiprasasti yang
menyebut aktivitas pertanian merupakan bukti yang konkrit
pertanian Majapahit. Penggambaran mengenai pertanian di
Jawa yang disebutkan dalam prasasti antara lain pada Prasasti
Kwak I (879 M), prasasti Ngabean V (prasasti Ra Tawun) 883
M, prasasti Kamalagi (831 M), prasasti Watukura I (902 M),
prasasti Harinjing (921 M), prasasti Bakalan (prasasti Wulig)
934 M, prasasti Kamalagyan (1039 M), prasasti Kandangan
(1350 M), dan prasasti Trailokyapuri (1486 M). Prasastiprasasti
ini memuat data mengenai jenisjenis pertanian, pejabat
pejabat yang mengurusi pertanian, pajak pertanian, pengairan,
60 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
usahausaha yang dilakukan oleh penguasa untuk memajukan
sektor pertanian serta gambaran mengenai proses bertani padi
(Oriza sativa) dari mulai pengolahan tanah, menanam, menuai,
dan mengolah hasil panenannya. Dari data prasasti ini
sudah dapat dirasakan kompleksitas kehidupan pertanian
pada masa itu (Wardani, 2009).
Cara bercocok tanam padi pada masa Majapahit yang
tampak begitu sistematis tentunya tidak terjadi begitu saja, pada
masa sebelumnya diduga terjadi adanya tahapan pengenalan
sampai pembudidayaan tanaman. Padi sebagai bahan pokok
makanan warga hingga saat ini masih sebetulnya masih
menyimpan pertanyaan, sejak kapan padi dibudidayakan di
nusantara atau di Jawa?. Sampai saat ini belum ada pernyataan
dan bukti arkeologis yang kuat untuk pembuktiannya. Di
beberapa situs prasejarah pernah ditemukan sisa tanaman padi
dalam bentuk arang kulit padi (sekam), namun karena belum
ada pertanggalan situs maka belum bisa dikatagorikan apakah
lebih tua, sejaman, atau lebih muda dari masa Majapahit.
Membaca catatan dalam prasasti maupun memperhatikan
penggambaran pada relief, budidaya pertanian khususnya
tanaman padi di Jawa telah dikenal semenjak abad ke8.
Dalam prasasti tidak menyebutkan secara eksplisit nama padi,
namun disebutkan kata bras atau beras. Penggambaran padi
pada relief peninggalan candicandi di Jawa lebih jelas adalah
proses pembudidayaan padi dari mulai gambar bentang
sawah, proses pengolahan tanah untuk tanaman padi, proses
penanaman padi, proses memanen atau memetik padi, proses
angkut padi hasil panenan, proses menjadikan beras, menanak
nasi hingga penggambaran hidangan nasi. Penggambaran
reliefrelief ini tidak dijumpai dalam satu panil atau
61Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
dalam satu candi tetapi diambil dari berbagai lokasi candi
dalam kurun waktu peninggalan masa Majapahit.
1. Bentang Persawahan
Penggambaran bentang sawah adalah pemandangan
lingkungan dengan liukan saluransaluran irigasi yang
seolaholah menggambarkan aliran air. Gambaran petak
petak sawah dengan batasbatas pematang, padipadi yang
merunduk siap panen, aktivitas memetik padi dan bagian
bagian petak sawah yang belum ditanami, serta kegiatan
olah sawah dengan cara membajak. Gambarangambaran
relief ini merupakan pemandangan bentang sawah
yang tertata rapi sebagimana sawahsawah masa sekarang
yang masih dijumpai di pedesaan. Sentuhan teknologi
telah tampak disini, disadari atau tidak mereka telah
memakai teknologi pengendalian penampungan air,
yaitu agar kondisi tanaman padi tetap tergenang air maka
dibuat petakpetak pematang. Pemandangan ini
seperti dijumpai pada relief yang dipahat pada batu
andesit dari bagian batu candi koleksi Museum Trowulan.
Gambar. relief sawah pada batu candi koleksi Museum Trowulan,
dan gambar kanan sketsanya oleh Prof. Th. P. Galestin dalam Pigeaud
(1962,p.116)
62 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Data tertulis oleh Mpu Prapanca di dalam kitab
Nagarakrtagama sedikitnya ada lima kali menyebutkan kata
“sawah” dalam berbagai ilustrasinya, sedangkan dalam
kitab Kakawin Siwaratrikalpa (Zoetmulder, 1983) pada bait
ke6 penyair menggambarkan sawah dan ladang disertai
ilustrasi pemandangannya sebagai berikut:
“Di sebelah barat terdapat punggungpunggung bukit yang
penuh dengan sawahsawah, pematangnya kelihatan jelas
dan tajam. Halamahalaman saling berdekatan, rapi berderet,
pohonpohon nyiur semuanya berselimut kabut. Sayapsayap
burung kuntul berkilauan ketika mereka terbang di atas,
samarsamar kelihatan dari jauh di tengahtengah awanawan,
lalu mereka lenyap, terlebur dalam kabut dan tidak
kelihatan lagi.”
2. Membajak
Salah satu kegiatan pertanian dalam penyiapan lahan
untuk tanaman padi atau palawija diawali dengan peng
olahan tanah. Membajak sebagai aktivitas peng olahan
tanah sebagai salah satu cara olah sawah atau lahan yang
bertujuan untuk memberi pernafasan tanah dan atau meng
geburkan tanah serta memberantas pertum buhan gulma
serta tumbuhan pengganggu yang tidak dikehendaki. Cara
pengolahan tanah dengan alat bajak dan bertenaga hewan
telah dikenal berabadabad di masa lalu. Darimana cara ini
berasal?, asli atau dari luar?, dan sejak kapan berkembang
di Nusantara? belum ada jawaban. Namun secara logika
pengenalan cara olah tanah semacam ini sejak dikenalnya
budaya budidaya atau bercocok tanam.
Adegan secara naturalis penggambaran orang sedang
membajak dipahatkan pada relief Candi Borobudur
dimana penggambarannya tidak jauh berbeda dengan
63Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
kegiatan serupa yang masih dilakukan petani saat ini.
Dua ekor sapi yang dikait keduanya pada leher dan
ditengahnya dipasang batang penarik bajak, sedang
bajaknya bertangkai sebagai kemudi. Berbeda sekali contoh
adegan orang yang sedang membajak ini pada relief candi
lain, terutama candicandi di Jawa Timur. Perbedaanya
terletak pada binatang yang menarik bajak, dimana pada
Candi Panataran ada penarik bajak berupa kepiting yang
dipahatkan di Candi Naga pada sisi kiri atas. Ada juga
adegan membajak dimana penarik bajaknya sapi namun
pembajaknya singa (Phanthera leo) yaitu pada relief Kolam
Petirtaan masih di dalam kompleks Candi Panataran.
Gambar: Relief membajak pada Candi Petirtaan dan Candi Naga
di Kompleks Candi Panataran di Kabupaten Blitar
Gambar: Relief membajak dengan tenaga gajah terdapat di Candi
Penampihan Tulungagung (kiri), relief membajak di Candi Gambar
Wetan Tulungagung (kanan) sketsanya oleh Prof. Th. P. Galestin
dalam Pigeaud (1962, p.39)
64 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar: Kegiatan membajak sawah masa kini di Madura dimana
tangkai kemudi bajak mirip dengan relief pada Candi Penampihan
Tulungagung (foto: penulis)
Lain halnya relief membajak pada Candi Penampihan
di Kabupaten Tulungagung, uniknya dimana hewan
penarik bajaknya adalah dua ekor gajah (Elephas sp.).
Terlepas gambaran pada relief ini apakah meng
gambar kondisi jaman dulu atau hanya sebuah ilustrasi
belaka?, yang jelas fenomena ini yang menarik untuk
menarik benang merah tentang aktivitas pengolahan
sawah dan ladang yang telah dikenal berabadabad pada
masa itu, namun kini masih layak dilakukan terutama di
pedesaan.
3. Menanam padi
Tanam padi dengan teknik semai sudah dikenal lama
sejak masa lampau di Jawa. Salah satu proses budidaya
tanam padi yang belum berubah caranya samai sekarang,
dengan cara manual yaitu menancapkan satu persatu
batang bibit padi ke dalam lumpur dengan jarak tertentu.
Penanaman padi dengan cara mekanis tampaknya belum
menjadi pilihan karena sambil memungut batang bibit
padi sambil merasakan berapa batang yang akan di tanam.
Penanaman manual dengan tangan juga menjamin batang
65Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
bibit tidak akan patah tertekan sehingga menjamin babit
padi kelak akan tumbuh baik. Potret menanam padi pada
masa Majapahit seperti pada relief umpak batu koleksi
Museum Trowulan, tampak menggambarkan kegiatan
orang sedang menanam padi manual. Cara menanam
padi pada relief seperti ini masih dilakukan orang sampai
sekarang, yaitu sesudah tanah diolah menjadi lumpur
lalu permukaan lumpurnya digaris sebagai pola
untuk menancapkan batang bibit padi. Penanaman padi
dilakukan dengan cara mundur agar tidak merusak atau
menginjak bibit padi yang baru ditanam.
Gambar: Relief “menanam padi” pada umpak batu koleksi Museum
Trowulan Mojokerto
Gambar. Kegiatan menanam padi yang masih dilakukan petani
masa kini (foto: Sugeng R.)
66 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
4. Panen dan menumbuk padi
Padi yang siap panen digambarkan bentuk untaian
untaian yang merunduk menunjukkan siap untuk dipetik.
Kegiatan memetik padi tidak jauh berbeda apa yang masih
banyak dilakukan petani di Jawa pada beberapa dekade
tahun yang lalu yaitu dengan cara ani-ani. Cara memetik
padi sekarang telah banyak berubah yaitu dengan cara
memangkas seluruh batang atau sebagian batang padi
lalu memisahkan butiran gabahnya dengan mesin
perontok, namun di beberapa tempat masih ada yang
melakukan secara tradisional yaitu dengan cara ani-ani.
Cara mengupas kulit padi untuk dijadikan beras pada
masa lalu tampaknya telah memakai cara ditumbuk.
Relief yang menggambarkan adegan demikian terdapat
di Candi Borobudur. Sedangkan artefak lumpang batu
sebagai alat menumbuk padi saat ini masih banyak di
jumpai dibeberapa situs.
Gambar: Relief memetik padi (panen) pada Candi Rimbi
di Kabupaten Jombang
67Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
5. Menanak nasi
Pada masa Majapahit menanak nasi dicontohkan pada
relief umpak batu yaitu dengan mengunakan dandang
dan kukusan diletakkan di atas tungku yang berbahan
bakar kayu. Cara menanak nasi seperti ini sebagian masih
dilakukan oleh warga saat ini, terutama yang masih
memakai bahan bakar kayu atau arang. Nasi yang
telah matang dihidangkan dalam bakul yang dilengkapi
dengan lauk pauk berupa ikan terdapat pada relief Candi
Cabean Kunti di Kabupaten Boyolali.
Gambar. Relief “menanak nasi” pada umpak batu
koleksi Museum Trowulan Mojokerto
Berburu
Berburu binatang merupakan kegiatan manusia yang
berlagsung sejak masa prasejarah dan ribuan tahun sebelum
sekarang. Aktifitas berburu pada masa prasejarah biasanya
digambarkan pada lukisanlukisan dinding gua. Sedangkan
masa sejarah klasik di Jawa digambarkan pada reliefrelief,
dituliskan dalam prasasti maupun naskahnaskah sastra kuna.
Bagi rakyat biasa, berburu lebih utama sebagai pemenuhan
68 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
kebutuhan pangan untuk memenuhi kebutuhan protein
hewani. Mungkin lain halnya dengan para kepentingan bagi
para bangsawan atau raja, berburu merupakan kegemaran,
kebanggaan, dan sebagai sarana latihan berperang. Disamping
sebagai hiburan, berburu dengan memakai senjata di
hutan belantara dapat bermanfaat sebagai tempaan atau latihan
berperang bagaimana cara mengepung dan melemahkan
musuh. Gambaran seorang raja yang sedang berburu seperti
dalam petikan dari kitab Nagarakrtagama yang berbunyi
sebagai berikut:
PupuhL (1)
ini Bagianda Raja berangkat berburu
Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta
Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara
Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak….
Pupuh LIV (1)
ini Baginda telah mengendarai kereta kencana
Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya
Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan
Yang menjauhkan diri lari berceraiberai meninggalkan
bangkai
(Pigeaud, 1960).
Isi pada bait ini tampak mirip dengan gambaran
dalam bentuk relief di Candi Sukuh Jawa Tengah, dimana
digambarkan suatu adegan bangsawan sedang berburu
dengan naik kuda dan di tangan kanan memegang sejata. Di
belakangnya sedang berjalan juga tampak seorang bangsawan
yang dilukiskan dengan berpenutup kepala serta dipayungi,
sedangkan pada bagian depan para bala dan seekor anjing
pemburu siap memburu.
69Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
Gambar Relief “suasana berburu” pada Candi Sukuh di lerereng barat
Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar (batang skala 1 meter)
Berdasarkan reliefrelief yang menggambarkan berburu
tampaknya pada masa lalu telah ada beberapa cara berburu
atau menangkap binatang yaitu dengan cara panah, cara jerat,
cara tangkap, cara pancing, cara pukul, cara geladag. Cara
geladag seperti contoh relief di Candi Sukuh di atas adalah
memakai hewan geladag yaitu anjing. Dalam Pupuh LIII
yang berisi tentang kegiatan berburu:
1. ini pemburu kijang rusa riuh seru menyeru
Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya
Karena luka kakinya, darah deras meluapluap
Lainnya mati terinjakinjak, menggelimpang kesakitan
2. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing
Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk
timbun
Banteng serta binatang galak lainnya bergerak
menyerang
Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang
3. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu
rimbun
Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut
puncak
Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah
Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!
70 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
4. Segera kawankawan datang menolong dengan kereta
Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-
jejak
Karenanya badak mundur, meluncur berdebak
gemuruh
Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk
timbun.
(Pigeaud, 1960).
Cara berburu binatang selain geladag adalah adanya cara
jerat yang digambarkan pada relief terakota koleksi Museum
Trowulan. Adegan ini yaitu digambarkan dengan memasang
tali jerat pada ujung tongkat atau ranting elastik lalu
dileng kungkan sedemikian rupa. jika ada hewan buruan
menyentuh tali atau jebakan ini maka hewan terjerat tali,
pada saat bersamaan tongkat ini kembali lurus sehingga
menarik hewan buruan yang terjerat kakinya atau bisa pada
lehernya.
Gambar: Adegan menjerat binatang dilukis pada bejana terakota koleksi
Museum Pusat Informasi majapahit Trowulan (batang skala 10 cm).
Cara menangkap ikan dengan pancing dikenal melalui
relief tampaknya mulai muncul pada masa sesudah abad ke10,
71Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
karena relief kegiatan memancing hanya ada pada candicandi
pada era sesudah abad ke10 saja. Contoh adegan memancing
ikan dan memancing katak seperti di Candi Surawana,
demikian pula adegan memancing katak ada terdapat di relief
Candi Rimbi.
Gambar: Memancing katak, relief Candi Rimbi Kabupaten Jombang
Menangkap ikan dengan cara wuwu, yaitu semacam alat
perangkap dari bahan bambu yang dibuat sedemikian rupa
sehingga kalau diletakkan di dalam air ikan yang masuk
kedalamnya terjebak tidak bisa keluar lagi. Gambar yaitu
memasang wuwu diperlihatkan pada relief di Candi Rimbi.
Kegiatan ini masih ada beberapa warga yang melakukan
penangkapan ikan dengan cara ini terutama warga
pedesaan, karena bahan dan pembuatannya mudah.
Cara berburu lainnya yaitu cara panah, dimana degan
meng gunakan peralatan busur dan anak panah untuk
melumpuhkan binatang buruan. Relief panah dan kegiatan
berburu dengan panah banyak digambarkan pada relief candi
antara lain pada Candi Panataran di Blitar, Candi Kedhaton
di Probolinggo, dan Candi Surawana di Kediri. Dan di dalam
kitab Negarakrtagama disebut panah pada pupuh LV (3)
”..gelaknya seperti hujan panah jatuh”. (Pigeaud, 1960).
72 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar: Relief pemakaian panah untuk membunuh babi hutan
di Candi Kedhaton Kabupaten Probolinggo.
Secara keseluruhan di dalam kitab Nagarakrtagama
disebutkan pula beberapa jenis binatang buruan, antara
lain celeng (Sus scrofa), kasuari (Casuarius sp.), rusa (Cervus
sp.), kelinci (Leporidae), badak (Rhinoceros sp.), banteng
(Bos banteng), kerbau (Bos bubalus), lembu (Bos indicus), serta
harimau (Panthera sp.), biawak (Varanus sp.), kucing (Felis
silvestris catus), kera (Macaca sp.), serigala (Canis lupus), dan
singa (Panthera leo).
Binatang-binatang asing
Pemburuan dan penggambaran unsur fauna ternyata
tidak hanya binatang yang berhabitat di jawa saja, ternyata
binatang asing disebut dan digambar. Apa yang menjadi
bahan wawasan sang penyair dan pemahat relief? apa karena
tuntutan cerita atau karena memang benar ada binatang
ini didatangkan ke Jawa?. Baitbait dalam berikut dalam
kitab Nagarakrtagama:
73Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
Pupuh L (6)
Tertangkap segala binatang dalam hutan
Tak ada yang menentang, semua bersatu
Srigala gagah, yang bersikap tegakteguh
Berunding dengan singa sebagai ketua
Pupuh LIV (2)
Celeng, kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan
Baginda berkuda mengejar yang riuh lari berceraiberai
Menteri, tanda dan pujangga di punggung kuda turut
memburu
Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk,
tertikam.
(Pigeaud, 1960).
Apa yang tampak ada yang janggal dalam baitbait
ini?, yaitu pelukisan dan penulisan jenis binatang asing
sebagai buruannya, dimana disebutkan binatang kasuari dan
singa. Diketahui karena kedua jenis binatang ini bukan jenis
yang berhabitat di Jawa. Tampaknya si penyair dalam ceritanya
hanya memaparkan sebagai ilustrasi atau latar belakang
untuk lebih menghidupkan penggambaranya adengan sedang
berburu di hutan. lalu dalam gambar relief apakah
terkait dengan isi kitab Nagarakrtagama atau tidak bahwa
bukti adanya penggambaran kedua jenis binatang ini
seperti dipahatkan di Candi Panataran untuk relief kasuari,
sedangkan jenis singa juga dipahatkan di Candi Panataran dan
candicandi lainnya.
74 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar Relief burung kasuari (kiri) dan keledai (kanan)
pada Candi Panataran Kabupaten Blitar.
Tentang keledai (Equus asinus) binatang yang berhabitat
asli dari Afrika ini didatangkan ke Jawa atau hanya disebut
dalam cerita? seperti halnya singa dan kasuari.
Alat transportasi
Transportasi pada masa HinduBuddha di Jawa rupanya
masih mengandalkan tenaga hewan, baik untuk transportasi
orang atau barang. Hewan yang dipakai sebagai alat
transportasi tentunya hewan yang memiliki tenaga kuat
misalnya gajah, kerbau, sapi, kuda, dan keledai. Seiring dengan
adanya teknologi roda maka beban hewan sebagai tenaga alat
transportasi menjadi ringan. Selain itu dengan adanya roda
transportasi lebih praktis, ekonomis dan cepat karena dengan
memakai kereta yang ditarik kuda larinnya lebih cepat
maupun gerobag yang ditarik sapi, gajah maupun kerbau
muatannya lebih banyak.
75Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
Gambar: Kereta yang ditarik empat ekor kuda,
relief pada Candi Panataran di Blitar
Relief gajah di Candi Panataran digambarkan sedang
ditunggangi dan dengan aksesoris di tubuhnnya yaitu ber
pelana. Pada Candi Panataran banyak dipahatkan gajah
dan semuanya menunjukkan jenis gajah Asia. Demikian
pula relief gajah di Candi Sukuh yang terletak di Kabupaten
Karanganyar, memperhatikan jenis gajahnya adalah gajah Asia
(Elephas maximus) digambarkan sedang ditunggangi orang
pada punggunggnya, berkalung kelinting dan berjalan sambil
dikawal seseorang. Tinggalan Candi Sukuh ini berdasarkan
catatan dan prasasti berupa candrasengkala yang bermakna
angka tahun antara 14161459 Masehi atau abad ke15
(Kempers, 1959).
pemakaian gajah sebagai alat transportasi pada abad
abad sekitar abad ke15 ini didukung oleh buktibukti
tertulis sebagaimana disebutkan dalam kitab Nagarakretagama
pupuh XVII (5) berbunyi “Bhayangkari gemruduk berbondong-
bondong naik gajah dan kuda “ (Pigeaud, 1960).
76 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar, Gajah (Elephas sp.) sebagai alat transportasi
pada relief Candi Jawi di Pasuruan
Sarana transportasi bergerak selain di darat adalah sarana
transportasi air berupa perahu. Pupuh LXVI Nagarakrtagama
menyebut perahu,
Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan
persajian.
Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah
rumahan yang terpikul.
Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melu
kiskan kutipan kidung.
Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar meng
guntur menggembirakan.
(Pigeaud 1960).
Gambaran perahu dan kapal yang sangat terkenal reliefnya
berada di Candi Borobudur, yang membuktikan jauh sebelum
masa Majapahit di Jawa sudah memakai transportasi
perahu. Pengaruh Majapahit sampai mancanegara dan
pengaruh kekuasaannya di Nusantara sangat mustahil kalau
tanpa didukung transportasi perahu. Walaupun disebutkan
dalam data tekstual, namun sayangnya penggambaran perahu
masa Majapahit dalam relief sangat langka. Satu contoh peng
gambaran bentuk perahu pada dinding barat Candi Pendopo
Teras kompleks Candi Panataran di Blitar.
77Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
Gambar. Perahu Majapahit?, gambar kiri pada relief Candi Pendopo
Teras Panataran Blitar, dan gambar kanan perahu dayung pada relief
Candi Pendopo Teras Panataran Blitar sketsa oleh Prof. Th. P. Galestin
dalam Pigeaud (1962, 218).
Potret lingkungan dan landskap
Seni masa lalu sudah demikian tinggi namun masih ter
batasnya media untuk menuangkan gagasannya. Sedangkan
media yang ada untuk melukis biasanya tidak tahan lama,
misalnya pada daun, kulit kayu, atau pada kayu. Media batu
adalah salah satu yang tahan lama sebagi media lukis yang
dibuat bentuk relief.
1. Lanskap
Lukisan alam lingkungan yang menggambarkan suatu
tata lingkungan yang apik sebuah candi dengan taman
yang dihiasi tumbuhtumbuhan serta genangan air kolam
yang mengelilinginya. Gambaran ini merupakan
gambar lansekap candi tempat relief itu dipahatkan yaitu
Candi Jawi. Relief lansekap ini mengilhami perancang
dalam mere konstruksi dan merehabilitasi candi itu sendiri
yang pada mulanya telah rusak dan runtuh. Lansekap ling
kungan perkampungan dengan jajaran rumah penduduk,
jalan kampung serta fasilitas umum (public area) nya
dipotret lewat lukisan batu yang ditampakkan dalam
bentuk tiga dimensi.
78 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gambar: Relief yang mengambarkan“lingkungan kampung dan
sawah” pada lempengan batu koleksi Museum Trowulan Mojokerto,
sketsa oleh Prof. Th. P. Galestin dalam Pigeaud (1960, p.II).
Gambar: Relief yang mengambarkan “lanskap lingkungan kampung”
pada dinding Candi jawi Kabupaten Pasuruan,
sketsa oleh Prof. Th. P. Galestin dalam Pigeaud (1962, p.II).
2. Jual beli
Ada adegan pada relief yang menggambarkan sebuah
kegiatan ekonomi seharihari dalam warga yaitu
79Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
transaksi atau jual beli di sebuah pasar. Cara yang diguna
kan apakah dalam bentuk barter atau telah memakai
alat tukar berupa uang tidak tampak dalam relief.
Penggambaran suasana aktifitas jual beli yang dilakukan
oleh dua orang penjual dan pembeli yang bernaung
di bawah pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Pohon waru
sebagai jenis pohon yang mudah dan cepat tumbuh serta
memiliki tajuk daun yang rindang sehingga nyaman
bernaung di bawahnya.
Gambar: Relief kiri “Perempuan duduk di bawah pohon sambil
menjajakan dagangan”, kanan “transaksi di bawah pohon” pada
batu koleksi Pusat Informasi Majapahit Trowulan Mojokerto.
Adegan semacam ini layaknya sekarang masih banyak
dijumpai di dalam sebuah pasar tradisional, dimana pada
umumnya masih menjajakan langsung barang dagangan
nya di atas wadahnya dan bernaung di bawah pohon.
Pohon pada relief ini diidentifikasi dengan ciri
bentuk tajuk, bentuk daun dan bentuk bunganya sebagai
pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Relief pada batubatu
andesit ini diduga merupakan bagian dari sebuah
candi masa Majapahit dimana sekarang sebagai koleksi
Museum Trowulan Jawa Timur.
80 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Cuaca dan keadaan alam
Indonesia sebagai wilayah beriklim tropis yang hanya
memiliki dua musim yaitu musim kering atau kemarau dan
musim hujan. Hujan badai ditandai dengan binatangbinatang
berteduh dibawah pohon, rantingranting patah diterpa angin.
Potretpotret kejadian alam pada masa lalu mereka goreskan
pada bagian candi antara lain di Candi Borobudur, Candi
Rimbi, Candi Jago, dan Candi Wleri.
Gambar: Suasana awan mendung, hujan dan air dibawah
terdapat ikan dan tumbuhan teratai, pada relief pada Candi Wleri
di Kabupaten Blitar
Gambar: Suasana hujan dan tumbuhan teratai pada Candi Rimbi
Kabupaten Jombang.
81Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
Demikian pula penggambaran kejadiankejadian alam
lingkungan seperti kebakaran, mereka melukiskan kobaran
api yang menyalanyala disertai kepanikan binatang dan
manusia yang berlari untuk menyelamatkan diri, adegan
seperti ini tergambar pada relief Candi Panataran.
Gambar: Api yang berkobar membuat panik hewan dan manusia
dipahatkan pada dinding Candi Panataran.
Lain halnya dalam menggambarkan keadaan gelap pada
malam hari, bila dituangkan kedalam kanvas atau kertas tinggal
memberi warna hitam, namun bila menggambarkan kedalam
media batu dalam bentuk relief memerlukan cara tersendiri.
Gambaran suasana pada malam hari ini mereka wujudkan
dengan memahatkan bentuk bendabenda alam yang biasanya
muncul pada malam hari yaitu bulan purnama, bulan sabit,
dan bintangbintang. Penggambaran ini tidak dijumpai
pada peninggalan masa Majapahit namun tertera pada relief
di pagar langkan lantai IV Candi Borobudur.
Penutup
Kearifan warga masa lalu terhadap lingkungannya
tampak telah berkembang dengan baik. Bentuk kearifan yang
82 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
dimiliki berbeda dari satu warga ke warga yang
lain, dan dari generasi ke generasi. Perbedaan disebabkan oleh
karena tantangan alam berbeda dan kebutuhan hidup mereka
berbedabeda. Bagimana cara mereka mengeksploitasi sumber
daya alam baik flora, fauna, dan batuan disekitar hidup mereka
untuk dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai sumber pangan,
sumber energi, dan memenuhi kebutuhan spiritualnya. Dengan
kata lain pengalaman mereka dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan,
baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial
kemasya rakatan, dengan tujuan untuk melindungi dirinya
dan alam sekitarnya secara spesifik. Pada akhirnya mereka
memahami dan merasakan secara mendalam bagaimana
makna dan pengaruh lingkungan terhadap kehidupan sehari
harinya. Tentu saja sistem pengetahuan ini tumbuh dalam
sejarah panjang perjalanan hidup warga Majapahit pada
jamannya.
Potretpotret warga dalam lingkungan hidupnya
ini diambil dengan latar belakang yang berbeda, namun
pada intinya mengambil obyek yang menggambarkan unsur
flora, fauna, dan alam fisik. Reliefrelief ini terkadang
ada dalam sebuah adegan cerita dan ada yang lepas atau
bukan bagian dari sebuah cerita. Pada umumnya cerita di
dalam relief berisi mengenai ajaran moral seperti ceritacerita
fabel, cerita BubuksahGagangaking, cerita Sang Satyawan,
cerita Arjuna Wiwaha, cerita Kunjarakarna, dan cerita lainnya.
Ternyata pengaruh adegan cerita dalam relief lebih tampak
nyata dalam penampilan flora dan fauna dibanding pengaruh
latar belakang keagamaanya. (Siswanto, 1999).
Mengapa potretpotret masa lalu hanya melalui pengamatan
penggambaran relief dan sastra tertulis?, Sebenarnya tidak
83Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu
juga, hasilhasil penggalian penelitian dapat membantu untuk
rekonstruksi lingkungan masa lalu, namun tinggalan inilah
yang paling mudah dipahami. Dan tampaknya bendabenda
tinggalan ini memang dibuat agar terus dipahami dan
diresapi terutama ajaran moralnya dari generasi ke generasi.
Sedangkan pertimbangan lain memakai media ini adalah
bahwa di dalam penggambaran atau ilustrasinya sang penyair
dan pelukis (pemahat) akan menyajikan gambaran yang ada
didalam benaknya, sehingga apa yang tertuang dalam karyanya
merupakan sesuatu yang telah mereka lihat, mereka ketahui,
dan yang mereka alami pada masa itu.
Memang mengenang kemasyurannya, mengagumi
pening galannya, dan mengungkap misterinya selalu saja
menarik dan seolah tidak ada lelah, apalagi selalu ada sesuatu
tantangan baru. Demikianlah bila berhadapan dengan sisasisa
kejayaan masa lalu yang dapat kita nikmati sekarang. Melalui
benda yang tersisa itu bagaimana caranya dapat menikmatinya
kalau tidak dicermati, dibandingkan, dan diterjemahkan.
Peninggalan relief dan sastra kuna adalah bentuk peninggalan
visual dan tekstual yang menarik untuk dicermati. Karena
secara visual potret masa lalu tergambar pada reliefrelief
candi maupun relief pada bahan lain, sedangkan secara
tekstual ditinggalkan dalam bentuk prasasti maupun dalam
kitabkitab kuna.
84 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
KEpUstaKaaN
Kempers. 1959. Ancient Indonesian Art. J.P.J. van der Peet.
Amsterdam.
Pigeaud. T. G. Th. 1960. Java in the 14th Century – A Study in
Cultural History. Volume III : Translations. The Hague
Martinus Nijhoff.
______________. 1962. Java in the 14th Century – A Study
in Cultural History. Volume IV : Comentaries and
Recapitulation. The Hague Martinus Nijhoff.
Siswanto. 1999. Relief Flora dan Fauna Tinggalan Masa
Majapahit. Berita Penelitian Arkeologi – Nomor 8. Balai
Arkeologi Yogyakarta.
Wardani, KWA, 2009. Berkaca dari kejayaan masa lampau:
Trowulan, wadah implementatif keilmuan masa kini.
http://arupadhatuindonesia.com/budaya.
Zoetmulder P.J, 1983. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang
Pandang. Djambatan. Jakarta.
85Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
4
dEsa-dEsa MEgalitiK
di NEgEri Majapahit
Priyatno Hadi S.
Negeri Majapahit
Dalam Kitab Nágárakretágama dikisahkan bahwa Majapahit pada mulanya adalah sebuah desa yang terletak di lembah Sungai Brantas, tepatnya di daerah
Tarik yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari.
Konon, pada mulanya tempat itu merupakan hutan belantara
yang banyak ditumbuhi pohonpohon Maja yang pahit
rasanya. Hutan belantara itu lalu dibuka untuk lahan
pertanian dan permukiman, dan terbentuklah sebuah desa
yang bernama Majapahit dengan kepala desa bernama Nararya
Sanggramawijaya. Berakhirnya berbagai intrik politik di pusat
kerajaan Singasari yang memicu runtuhnya kerajaan
kerajaan besar, yaitu Singasari dan Kediri, Desa Majapahit
lalu dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaan baru
yang bernama Kerajaan Majapahit (Slametmulyana: 1979).
86 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Kerajaan Majapahit pertama kali didirikan dan dipimpin
oleh seorang raja yang bernama Nararya Sanggramawijaya
pada tahun 1293 M. Wilayah kekuasaannnya meliputi bekas
wilayah kerajaan Singasari, Kediri, Jenggala, dan Pulau Madura.
Kerajaan Majapahit lalu mencapai puncak kejayaannya
di bawah pemerintahaan Raja Hayam Wuruk (13501389), dan
pendampingnya seorang mahapatih bernama Gadjahmada.
Mahapatih Gadjahmada memakai strategi sumpah amukti
palapa yang bertujuan mempersatukan wilayah Nusantara
menjadi kenyataan, semakin lama wilayah kekuasaannya
semakin luas. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika semakin menun
jukkan bukti puncak kejayaan Negeri Majapahit yang ditandai
dengan luas wilayah kerajaan bawahan yang meliputi seluruh
wilayah Nusantara (Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga Irian).
Selain itu, terdapat kerajaankerajaan bawahan lain yang
berada di luar wilayah Nusantara, yaitu Tumasik dan Brunei
(Slametmulyana: 1979).
Negeri Majapahit memiliki aturan perundangan yang
meng atur tata kehidupan rakyat Majapahit yang disebut
Kutara Manawa. Kitab Kutara Manawa mengatur berbagai aspek
tentang hukum baik pidana maupun perdata. Agama resmi
negara terdiri dari Siwa, Budha, dan Brahma. Kehidupan
keagamaan ini sangat mempengaruhi pola tata kehidupan
warga Majapahit, yang dikelompokkan ke dalam empat
golongan warga (warna) berdasarkan kastanya, yang
terdiri dari brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra. Namun di luar
kelompok itu masih terdapat golongan Candaka, Mleccha, dan
Tuccha (Slametmulyana: 1979).
Majapahit yang tadinya merupakan sebuah desa kemu
dian berkembang menjadi sebuah kota yang berfungsi sebagai
87Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
pusat pemerintahan Negeri Majapahit. Wilayah di luar pusat
pemerintahan berupa daerah bawahan, yang terdiri dari
kerajaankerajaan bawahan yang juga dipimpin oleh seorang
raja bawahan. Organisasi pemerintahan di dalam kerajaan
bawahan sama persis dengan organisasi pemerintahan pusat,
yaitu raja, patih amangkubumi, dan lima pejabat utama di
bidang administrasi negara yang terdiri dari patih, demung,
kanuruhan, rangga, dan tumenggung. Selain itu, Negeri Majapahit
juga memiliki wilayah bawahan yang bukan dipimpin oleh
seorang raja, tetapi oleh seorang menteri amancanagara atau
juga disebut juru. Organisasi pemerintahan di bawah menteri
amancanagara terdiri dari beberapa tingkat, yaitu wedana,
akuwu, dan buyut. Wedana membawahi wilayah pada tingkat
semacam distrik atau kabupaten. Akuwu membawahi wilayah
semacam kecamatan atau kelompok desadesa, dan buyut
adalah pembesar desa setingkat lurah (Slametmulyana: 1979).
Permasalahan yang muncul adalah adanya kontradiksi
antara peraturan perundangan (Kutara Manawa) dan pembagian
wilayah bawahan, yaitu adanya wilayah bawahan yang
dipimpin oleh raja dan wilayah bawahan yang dipimpin oleh
seorang menteri. Apakah aturan perundangan Kutara Manawa
ini berlaku untuk seluruh rakyat Majapahit di seluruh
pelosok negeri atau hanya terbatas untuk kalangan keluarga
dan pejabat kerajaan saja? Masalah itu perlu mendapat
perhatian mengingat pada kenyataannya di pinggiran Negeri
Majapahit pada masa yang sama terdapat pula warga yang
hidup dengan budaya, kepercayaan, dan aturan yang sangat
berbeda dengan Kutara Manawa. warga ini adalah
pendukung budaya megalitik yang jejakjejak kehidupannya
ditemukan tersebar di wilayah Bondowoso, Situbondo, Jember,
dan Banyuwangi.
88 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Tinggalan Megalitik di Jawa Timur
Tinggalan megalitik di Jawa Timur ditemukan tersebar
di wilayah Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi.
Tinggalan megalitik di wilayah itu mulai dikenal sejak
dilaporkan oleh H.E. Steinmetz (1898), H.R. Van Heekeren
(1931), dan W.J.A. Willems (1938) yang dipublikasikan melalui
terbitan Rapporten van Oudheidkundige Dienst jilid 3 (Willems,
1938). Willems melakukan kegiatan penelitian berupa survei
permukaan dan berhasil menemukan beberapa jenis tinggalan
megalitik, antara lain batu kenong, sarkopagus, dolmen, batu
dakon, menhir/batu tegak, punden berundak, dan arca batu.
Bendabenda ini dalam konteks megalitik merupakan
komponen permukiman, antara lain untuk bangunan tempat
tinggal, bangunan pemujaan, dan penguburan. Laporan
para pendahulu ini lalu ditindaklanjuti dengan
beberapa kegiatan penelitian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta
(1983, 1985, 1991). Berdasarkan jumlah temuan tinggalan
megalitik yang melimpah dan sebaran yang sangat luas, serta
kepadatan yang tinggi dapat dikatakan bahwa daerah Jawa
Timur merupakan “kerajaan megalitik” yang “beribukota” di
Bondowoso (Hidayat,2007). Hasil analisis terhadap tinggalan
megalitik ini diuraikan di bawah ini:
Batu Kenong Sebagai Umpak Rumah Megalitik
Salah satu jenis tinggalan megalitik yang paling menarik
perhatian adalah batu kenong, yaitu batu andesit yang dipahat
dengan bentuk silinder, pada salah satu ujungnya terdapat
tonjolan, sehingga bagian itu menyerupai bentuk instrumen
gamelan yang bernama kenong. Pada umumnya batu kenong
89Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
ditemukan pada posisi berdiri
tegak, bagian kenongnya berada
di atas dan bagian ujung yang
lain terpendam di dalam tanah.
Ukuran batu kenong sangat ber
variasi, panjangnya antara 12 m,
sedangkan diameter ratarata 1
m, dan tonjolan kenongnya ber
ukuran antara 510 cm. Fungsi
batu kenong ini seringkali diinter
pretasikan sebagai umpak bangunan yang memakai tiang
dari bambu. Lubang bambu diletakkan pada tonjolan kenong,
sehingga mampu menahan tiang agar tidak bergeser.
Jenis tinggalan ini selain jumlahnya paling banyak juga
memiliki sebaran paling luas di antara temuan yang lain.
Sebaran batu kenong paling padat terdapat di situs Pakauman
di Bondowoso. Namun, saat ini banyak batu kenong yang
ditemukan dalam kondisi roboh, sehingga keletakan sebaran
batu kenong ini bersifat acak. Hal ini disebabkan karena
lokasi temuan sebagian besar berada di pemukiman penduduk
dan di lahan pertanian, sehingga sangat memungkinkan lokasi
temuan banyak yang tidak insitu lagi. Sebaran batu kenong
yang berpola teratur ditemukan di situs Kodedek. Lokasi
situs ini berada di atas punggung bukit di tepi hutan sehingga
kondisi temuan lebih terjaga kelestariannya. Keteraturan pola
sebaran ini dapat dipakai sebagai petunjuk tentang
bentuk denah bangunannya.
Kegiatan penelitian di situs Kodedek berupa eksavasi
dengan tujuan untuk mengungkap fungsi batu kenong dan
batu tegak, terutama yang berkaitan dengan aspek arsitektur
rumah megalitik Bondowoso. Hasil ekskavasi memperoleh
Batu kenong dari Bondowoso
90 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
kesimpulan bahwa batu kenong di situs Kodedek berfungsi
sebagai umpak bangunan. Hal ini tampak dari pola sebaran
batu kenong yang masih insitu, membentuk bidang lingkaran
dan persegi empat. Selain itu, data artefaktual dari dalam tanah
membuktikan adanya sissisa aktifitas kehidupan keseharian
yang dilakukan oleh manusia penghuninya.
Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh beberapa ahli
tentang fungsi batu kenong. Pendapat pertama dikemukakan
oleh Steinmetz, yang mengkaitkan bentuk fisik batu kenong
dengan alat musik dari etnik Jawa (Steinmetz, 1898). Heekeren
menghubungkan fungsi batu kenong sebagai umpak rumah
panggung dan kemungkinan lain batu kenong yang ber
kelompok berfungsi sebagai kuburan bersama (mass graves)
(Heekeren, 1931). Pendapat Heekeren didukung pula oleh
Willems yang menyatakan bahwa batu kenong berfungsi
sebagai umpak rumah panggung (Willems, 1940).
Batu kenong formasi lingkaran
Pendapat mengenai fungsi batu kenong sebagai umpak
rumah panggung tampaknya dapat dibuktikan dari hasil
ekskavasi di situs Kodedek. Ekskavasi pada kelompok batu
91Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
kenong dengan formasi melingkar dan persegi mengindikasikan
bahwa batu kenong ini berfungsi sebagai umpak rumah.
Hasil ekskavasi menunjukkan ada perbedaan konstruksi
antara batu kenong yang berada di sekeliling dan batu kenong
yang berada di tengah (titik pusat lingkaran). Konstruksi batu
kenong yang terletak di tengah diberi alas atau ditopang oleh
lempengan batu, sedangkan batu kenong di sekeliling tidak
dilakukan.
Fungsi lempengan batu ini sebagai penopang umpak
yang berada di tengah bangunan. Posisi umpak yang berada
pada titik pusat ling karan merupakan umpak yang menang
gung beban paling berat, sehingga lempengan batu ini
dipakai sebagai fondasi atau sebagai media pembagi beban
ke permukaan tanah yang lebih luas. Dengan per lakuan ini
beban berat dari bangunan di atasnya dapat terbagi ke bidang
yang lebih luas, sebagai usaha agar umpak tidak melesak.
Perbedaan konstruksi demikian juga terjadi pada formasi batu
kenong persegi empat, yaitu hanya umpak di tengah yang
dileng kapi dengan fondasi berupa lempengan batu. Perbedaan
konstruksi ini membuk tikan
bahwa batu kenong berfungsi
sebagai umpak rumah (Sulistyarto,
1991/1992)
Data yang mendukung bahwa
bangunan di situs Kodedek adalah
bangunan rumah panggung
tampak pada kelompok batu
kenong dengan formasi melingkar
dan dua buah batu kenong lagi
ber ada di sisi luar arah tenggara
dari formasi lingkaran ini.
92 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Kedua batu kenong itu menunjukkan umpak bagian tangga
dan pintu masuk, sehingga diduga bangunan rumah ini
menghadap ke arah tenggara. Arah hadap bangunan ini sangat
sesuai dengan morfologi permukaan bukit, yaitu sisi tenggara
memiliki kelerengan lebih landai.
Arsitektur rumah panggung pada umumnya memakai
umpak sebagai penopang tiang, dan penyangga atap. Tiap
umpak menopang sebuah tiang kayu yang masingmasing
saling dikaitkan oleh kayu penyangga lantai rumah dan kayu
kerangka atap.
Keletakan umpak menun
jukkan bentuk denah bangunan.
Dengan demikian berarti bahwa
arsitektur rumah megalitik di
situs Kodedek terdiri dari dua
bentuk denah, yaitu berbentuk
bulat dan persegi empat,
kedua nya menghadap ke arah
tenggara. Jumlah tiang sesuai
dengan jumlah umpak, yaitu 11
buah tiang sebagai konstruksi
penyangga rumah induk, dan 4
buah tiang sebagai penyangga
pintu masuk dan tangga.
Dugaan ini didukung pula oleh temuan artefaktual
hasil ekskavasi, yaitu fragmen tembikar, arang, fragmen
belincung, fragmen batu rijang, fragmen kaca, fragmen
gigi, tulang binatang, dan moluska (lihat tabel). Jenis
jenis temuan ini merupakan indikator kuat bahwa
lokasi situs merupakan bekas hunian manusia. Fragmen
tembikar merupakan sisasisa benda yang berfungsi sebagai
93Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
peralatan keperluan seharihari, terutama sekali berkaitan
dengan kebutuhan akan wadah. Adapun arang merupakan
sisa pembakaran yang merupakan indikator dalam suatu
kehidupan manusia yang bersifat hunian.
Selain itu, data lingkungan juga mendukung bahwa
lokasi situs yang berdekatan dengan sungai sangat ideal
untuk hunian, yaitu sebagai sumber air yang menyediakan
kebutuhan utama manusia.
Sarkopagus
Sarkopagus adalah salah
satu tinggalan mega litik yang
berfungsi sebagai wadah kubur
dalam sistem penguburan
yang dikenal di Indonesia.
Pada umumnya sarkopagus
terbuat dari batuan, namun
ada pula yang dibuat dari
bahan kayu. Wadah kubur ini terdiri dari dua komponen,
yaitu wadah dan tutup. Bentuk wadah kubur ini menye rupai
dua buah perahu yang ditelangkupkan menjadi satu sehingga
di dalamnya tercipta rongga
sebagai ruang untuk mele
takkan mayat. Bentuk utuh
sarkopagus terdiri dari dua
komponen, bagian bawah
sebagai wadah, dan bagian
atas sebagai tutup.
Kedua bagian itu ber
bentuk sama, jika ada
Sarkopagus sebelum diekskavasi
Sarkofagus sesudah diekskavasi
94 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
perbedaan biasanya terdapat pada pola hias. Orientasi hiasan
dapat dipakai sebagai indikator untuk menentukan antara
wadah dan tutup. Pada umumnya sarkopagus berukuran besar
dengan ukuran panjang minimal 2 m, lebar minimal 0,80 m.
Ukuran wadah kubur ini memungkinkan untuk meletakkan
mayat secara langsung (sistem primer) dengan posisi tubuh
membujur/terlentang.
Salah satu sarkopagus di Bondowoso menunjukkan
petunjuk penting sebagai data pertanggalan. Hiasan yang
dipahatkan pada sarkopagus berupa inskripsi yang menun
jukkan angka tahun 1324 Çaka atau 1402 M. Dalam sejarah
Indonesia angka tahun itu semasa dengan masa pemerintahan
Majapahit.
Dolmen
Dolmen adalah salah satu tinggalan megalitik berupa
susunan batu yang terdiri dari sebuah batu lebar yang di
topang oleh beberapa batu lain, sehingga menyerupai bentuk
meja (Soejono, 1984). Dolmen di situs Pakauman, Bondowoso
pada umumnya terbuat dari batu andesit dengan ukuran
panjang 100200 cm, lebar 60120 cm, tinggi 80120 cm. Sampai
saat ini ekskavasi pada dolmen di Bondowoso belum pernah
dilakukan, sehingga belum diketahui konteksnya dengan
artefak lepas, dan lapisan tanah di bawahnya. Dengan demikian
fungsi dolmen dalam kehidupan megalitik belum diketahui.
Namun, berdasarkan penelitian pada dolmen di wilayah lain
di Indonesia, Soejono berpendapat bahwa dolmen berfungsi
sebagai altar/tempat untuk meletakkan sesaji pada upacara
pemujaan arwah leluhur (Soejono, 1984).
95Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
Batu Dakon
Batu dakon merupakan benda yang seringkali ditemukan
di situssitus megalitik, dan pada warga sekarang
benda ini tidak dikenal lagi. Lokasi penemuan batu dakon
di situssitus megalitik di Indonesia pada umumnya terletak
pada lingkungan yang berdekatan dengan sumber air, atau
pertemuan antar sungai. Bahkan pada beberapa situs lain,
sampai saat ini batu dakon masih dikeramatkan dengan cara
diberi sesaji pada waktuwaktu tertentu. Bahkan batu dakon
diletakkan pada undakan teratas sebuah bangunan punden
berundak, dan merupakan objek utama pemujaan. Penempatan
ini memberi petunjuk bahwa batu dakon merupakan benda
yang dianggap sakral. Lingkungan dan keletakannya meru
pakan indikator bahwa batu dakon berfungsi sebagai sarana
pemujaan terhadap alam, terutama terhadap unsur air. Selain
itu benda ini berfungsi sebagai komponen dalam upacara
pemujaan pada arwah nenek moyang terutama untuk
memohon kesuburan.
Tinggalan batu dakon di situs Kodedek, di wilayah
Bondowoso dibuat dari batu andesit, berbentuk lonjong dengan
ukuran 85x67x43 cm. Bagian atas permukaan batu relatif rata
dan memiliki sembilan buah lubang berbentuk cekungan.
Permukaan batu pada bagian dalam cekungan sangat halus
dengan ukuran kedalaman lubang ratarata 10 cm. Ciri fisik
ini menunjukkan bahwa benda ini pernah difungsikan secara
intensif. Lokasi temuan batu dakon berada di tengah antara
kelompok batu kenong berpola melingkar, dan kelompok batu
kenong berpola segi empat.
96 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Menhir/Batu Tegak
Jenis temuan batu tegak
berupa lempengan batu andesit
yang didirikan dengan cara
sebagian badannya ditanam
di dalam tanah. Batu tegak di
situs Kodedek berjumlah 4 buah
dengan ukuran ratarata tinggi
60 cm, lebar 40 cm, tebal 15 cm.
Batu tegak pertama terletak di sebelah utara, batu tegak kedua
dan ketiga terletak di sebelah tenggara batu tegak pertama,
sedangkan batu tegak keempat terletak di sebelah barat daya
batu tegak pertama, masingmasing dengan jarak 2 m, di
antara batu tegak ini terdapat lempenganlempengan
batu yang ditanam berjajar sehingga menyerupai bentuk huruf
“L” (lihat gambar). Hasil ekskavasi di lokasi ini menunjukkan
bahwa batu tegak ini ternyata tertanam jauh ke dalam
tanah hingga mencapai kedalaman 1.6 m. Susunan batu tegak
ini berfungsi sebagai dinding dari ruangan di dalam
tanah yang berdenah bidang persegi sama sisi (masingmasing
berukuran 2 m). Pada bagian dasar terdapat lantai dari batu.
Bentuk bangunan ini menyerupai bangunan megalitik kamar
batu (stone chamber) di situs Pasemah, Sumatera Selatan, yang
berfungsi sebagai tempat penguburan (Hoop, 1932)
Punden Berundak
Sebuah bangunan punden berundak yang berfungsi
sebagai tempat melaksanakan upacara pemujaan ditemukan
di daerah Tlogosari, Bondowoso. Temuan permukaan pada
Menhir untuk struktur stone
chamber
97Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
punden berundak ini berupa fragmen batu bata lepas
berukuran besar, lumpang batu (2 buah), batu tegak dalam
posisi berpasangan pada umumnya berfungsi sebagai tanda
kubur (10 pasang), dan batu tegak sebagai pembatas jalan dan
pintu masuk (2 pasang), dan umpak batu.
Arca Batu
Arca megalitik di temukan di situs Pekauman, Bondowoso.
Arca ini dibuat dari batu andesit dan dipahat untuk
menggambarkan bentuk figur manusia. Ukuran arca sebesar
ukuran manusia dewasa, bahkan pada beberapa bagian tubuh
digambarkan berukuran besar.
Desa-desa Megalitik di Jawa Timur
Penelitian mengenai permukiman megalitik telah dila
kukan oleh Sukendar (1984), yang bertujuan melakukan
rekonstruksi permukiman megalitik melalui analogi etnografi.
Berdasarkan hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa
permukiman megalitik pada dasarnya dapat dibagi menjadi
dua kategori, yaitu permukiman komunitas dan permukiman
zonal. Permukiman komunitas merupakan permukiman tingkat
desa atau situs yang keberadaannya banyak dipengaruhi oleh
kuatnya organisasi kekerabatan. Bentuk permukiman zonal,
menurut Sukendar lebih bersifat hubungan antar situs dan
pengelolaan areal situs di luar komunitasnya. Secara umum
Sukendar menyimpulkan bahwa permukiman megalitik di
Indonesia yang sampai saat ini masih berlangsung terdiri
atas berbagai aspek, yaitu: tempat tinggal, tempat pemujaan,
tempat penguburan, tempat upacara, tempat pertanian,
98 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
tempat perburuan, tempat pengambilan hasil hutan, tempat
penangkapan ikan, dan pasar (Sukendar, 1994). Aspekaspek
data etnografis ini ternyata lebih kompleks bila dibandingkan
dengan data artefaktual yang terdapat pada situssitus
megalitik di Indonesia.
Penerapan konsep ini dapat dipakai untuk
merekonstruksi pola permukiman megalitik di Jawa Timur
(Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi). Sebaran
situs megalitik yang begitu luas, keragaman bangunan yang
beraneka dan intensitas temuan yang padat menunjukkan
bahwa pemukiman megalitik di Jawa Timur berada pada
permukiman tingkat zonal yang di dalamnya terdiri dari
sejumlah komunitas berupa perkampungan atau desa
Pertanggalan Permukiman Megalitik di Jawa Timur
Data pertanggalan berlangsungnya kehidupan tradisi
megalitik di Kawasan Jawa Timur di wilayah Bondowoso,
Situbondo, Jember, dan Banyuwangi diperoleh dari berbagai
sumber. Data pertanggalan dari situs Krajan di Situbondo
memakai metode pertanggalan analisa karbon menun
jukkan umur 1250±240 BP atau sekitar 10001500 tahun yang
lalu (abad VIX M). Data pertanggalan lain diperoleh pula
dari inskripsi yang dipahatkan pada sebuah Sarkopagus yang
menunjukkan angka tahun 1324 Çaka atau 1402 M (Prasetyo:
1999, 2008). Berdasarkan kedua data pertanggalan ini
menunjukkan bahwa pada sekitar abad VI hingga awal abad
XV M, budaya megalitik di situs ini masih berkembang.
Hal ini berarti pula bahwa pada saat Negeri Majapahit mulai
berdiri, mencapai puncak kejayaannya, bahkan hingga
keruntuhannya, di daerah Bondowoso, Situbondo, Jember,
99Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
dan Banyuwangi berkembang pula kehidupan warga
dengan budaya megalitik. Pola permukiman warga
dengan budaya megalitik yang menyebar dengan bentuk
perkampungan atau desadesa.
Penutup
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1. Sebaran tinggalan megalitik di Kawasan Jawa
Timur di wilayah Bondowoso, Situbondo, Jember,
dan Banyuwangi merupakan data permukiman
perkampungan atau desadesa bercorak megalitik
2. Salah satu bentuk arsitektur rumah yang dipakai
adalah rumah panggung yang memakai batu
kenong sebagai umpak/penyangga tiang
3. Data pertanggalan menunjukkan bahwa antara
keberlangsungan kehidupan desadesa megalitik
di Kawasan Jawa Timur memiliki kesamaan waktu
dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit
KEpUstaKaaN
Heekeren. H.R. van., (1931), Megalitische Overblijfselen Besoeki
dalam Majalah Djawa. Jilid XI, hlm. 711.
Hidayat, Muhamad, 2007, Menengok Kembali Budaya dan
warga Megalitik di Bondowoso, Berkala Arkeologi,
100 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Tahun XXVII, Edisi No.1/Mei, Yogyakarta: Balai
Arkeologi Yogyakarta, hlm. 1930.
Hoop, A.N.J.Th.a.Th. Van Der, 1932. Megalithic Remain in South
Sumatera, Zuthpen: W.J. Thieme.
Prasetyo, Bagyo, 1999, Megalitik di Situbondo dan Pengaruh Hindu
di Jawa Timur, Berkala Arkeologi, Tahun XlX, Edisi No,2/
November, Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta, hlm.
2229.
Prasetyo, Bagyo, 2008, Penempatan Benda-benda Megalitik Kawasan
Lembah Yang- Ijen Kabupaten Bondowoso dan Jember, Jawa
Timur, Disertasi. Memperoleh gelar doktor humaniora
Universitas Indonesia, hlm. 73.
Slametmulyana, 1979, Nagárákretágama dan Tafsir Sejarahnya,
Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Soejono. RP., 1984, Jaman Prasejarah Indonesia dalam Sejarah
Nasional Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Steinmetz. H.F., (1898), Oudheidkundige Bescrijfing van de Afdeeling
Bandawasa (Residen Besoeki) dalam TBG XL. Hlm. 2122.
Sukendar., Haris., (1984) Pemukiman Megalitik di Indonesia:
Tinjauan Melalui Analogi Etnografi dalam Rapat Evaluasi
Hasil Penelitian Arkeologi II, Cisarua: Pusat Penelitian
Arkeologi Nasional.
Sulistyarto, Priyatno H., 1991/1992, Laporan Hasil Penelitian
Arkeologi Situs Pakauman, Kecamatan Grujugan dan Situs
Kodedek, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa
Timur. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.
Willems, W.J.A. (1938), Het Onderzoek der Megalithe te Pakaoeman
bij Bondowoso dalam ROD III.
101Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
5
BUKti KEjayaaN Majapahit
di Blitar
Baskoro Daru Tjahjono
Pengantar
M ajapahit adalah sebuah kerajaan besar pada masa Indonesia kuna. Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya dari hutan Tarik,
berkembang menjadi sebuah kerajaan, yang makin lama
makin kuat dan besar, serta mencapai kejayaannya pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Sang
Mahapatih Gajah Mada.
usaha untuk mencari lokasi ibukota Majapahit telah
dilakukan sejak lama, dimulai pada abad XIX M oleh Gubernur
Jenderal Raffles, lalu dilanjutkan oleh Maclaine Pont
(1924) dengan melakukan penggalian di situs Trowulan di
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Maclaine Pont merekons
truksi kota Majapahit di Situs Trowulan berdasarkan
102 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
gambaran dari naskah Nagarakretagama. Sejak tahun 1976
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian
permukiman kota kuna di Situs Trowulan itu secara intensif
(Rangkuti, 2000: 1). Serangkaian kegiatan penelitian telah
berhasil mengungkapkan berbagai peninggalan arkeologi dari
masa Majapahit di kawasan ini, antara lain berupa candi,
gapura, pemandian, kolam, kanalkanal buatan, struktur
struktur bata, umpakumpak batu, fragmen keramik, fragmen
gerabah, dan mata uang logam (Rangkuti, 2000: 16). Hasil
hasil penelitian ini telah memberikan gambaran bahwa
Situs Trowulan merupakan situs kota yang diyakini sebagai
ibukota Majapahit.
Bukti kejayaan Majapahit yang telah berhasil memper
satukan Nusantara tidak terbatas di Trowulan saja, melainkan
juga di berbagai daerah yang pernah dikuasainya, salah
satunya di daerah Blitar. Oleh karena itu, tulisan ini tidak
bertujuan untuk membahas tinggalantinggalan arkeologis
di situs Trowulan, melainkan ingin mengetahui buktibukti
kejayaan Majapahit di Blitar, salah satu tempat yang pernah
dikunjungi Hayam Wuruk dalam perjalanannya ke desa
desa wilayah Majapahit. Kunjungan itu tertulis dalam kitab
Nāgarakretāgama atau dikenal juga sebagai Desawarnana.
Blitar sekarang adalah sebuah kota kecil di Jawa Timur bagian
selatan, ibukota Kabupaten Blitar. Daerah itu sarat dengan
tinggalan sejarah masa HinduBuddha, yaitu sejak jaman Kadiri
sekitar abad XII M hingga akhir masa kerajaan Majapahit.
Banyaknya tinggalan arkeologis dari masa Majapahit yang
terdapat di wilayah Kabupaten Blitar menunjukkan bahwa
daerah ini memiliki peran penting pada masa lalu,
khususnya masa Majapahit.
103Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
Tidak mengherankan jika di daerah Blitar banyak ting
galan arkeologis dari masa Majapahit, karena memang daerah
kekuasaan Majapahit sangat luas meliputi seantero Nusantara.
Permasalahannya adalah tinggalan arkeologis manakah yang
menunjukkan sisasisa kejayaan Majapahit. Peran apakah yang
telah dimainkan oleh daerah Blitar pada masa itu, sehingga
tinggalantinggalan penting dari masa Majapahit banyak
terdapat di wilayah ini.
Situs-Situs Candi di Blitar
Di sebelah utara Kabupaten Blitar terdapat sebuah gunung
yang aktif yaitu Gunung Kelud (1731 meter). Dua buah sungai
yang berhulu di lereng atas gunung itu dan mengalir ke daerah
Blitar adalah Sungai Bladak dan Sungai Putih. Sungai Bladak
mengalir ke baratdaya Blitar di wilayah Kecamatan Ponggok,
sedangkan Sungai Putih mengalir ke selatan dan bermuara di
Sungai Brantas. Melalui kedua sungai itu pulalah material lava
Gunung Kelud dialirkan ke daerah Blitar. Material lava itulah
yang sebagian telah mengubur situssitus candi yang berada
di lereng barat dan selatan Gunung ini.
Aliran Sungai Bladak memiliki gosong sungai di daerah
Gambar. Di tepi sungai ini terdapat situs Candi Gambar
Wetan atau sering disebut Candi Bodo, yang secara administratif
berada di Dusun Perkebunan Gambar, Desa Sumberasri,
Kecamatan Nglegok. Candi Gambar Wetan memiliki
pola halaman yang terbagi menjadi tiga disusun berundak
ke belakang. Pada halaman pertama terdapat sebuah arca
dwarapala, di halaman kedua tidak ada temuan, di halaman
ketiga terdapat candi induk dan 2 buah arca dwarapala. Candi
induk berupa batur dengan penampil berupa tangga masuk
104 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
di sebelah barat berukuran 4 x 5,5 m. Pada masingmasing
lapik arca kedua dwarapala itu terdapat angka tahun Jawa
Kuna yaitu 1260 Ç (1338 M) dan 1293 Ç (1371 M). Berdasarkan
pertanggalan ini Candi Gambar Wetan diperkirakan
merupakan bangunan suci masa Majapahit dari dua periode
pemerintahan, yaitu tahun 1260 Ç (1338 M) masa pemerintahan
Tribhuwana Tunggadewi dan tahun 1293 Ç (1371 M) masa
pemerintahan Hayam Wuruk (Anonim, 2009: 2127).
Candi Induk Panataran
Di daerah Gambar, Sungai Bladak bercabang dua, salah
satunya adalah sungai Lahar yang mengalir melewati bagian
barat situs Candi Panataran. Candi ini terletak di Desa
Panataran, Kecamatan Nglegok. Candi Panataran atau Candi
Palah yang memiliki arah hadap ke barat itu merupakan
candi terbesar di Jawa Timur. Kompleks candi ini didirikan
secara bertahap yang tampak dari banyaknya angka tahun yang
dipahatkan di bagianbagian gugusan candinya. Angkaangka
tahun itu yang tertua 1119 Ç (1197 M) dan termuda 1376 Ç
(1454 M). Kompleks ini diperuntukkan bagi Çiwa raja gunung
105Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
atau Girindra. Terdiri atas tiga halaman berurutan dari barat
ke timur. Halaman utama terletak paling belakang (timur).
Pada halaman pertama terdapat dua buah batur pendapa, satu
di antaranya berhiaskan reliefrelief cerita yaitu Çri Tanjung,
Bubuksah dan Gagang Aking, serta beberapa cerita Panji. Di
halaman II terdapat sebuah candi yang berangka tahun 1291
Ç (1369 M), sehingga disebut Candi Angka Tahun. Selain itu
juga terdapat sebuah candi dengan relief naga. Pada halaman
III (halaman utama) terletak candi induknya. Candi induk
Panataran tinggal bagian kaki yang terdiri atas tiga teras.
Relief yang mengelilingi candi induk terdiri atas relief pengisi
bidang dan relief cerita. Relief pengisi bidang berupa medalion
medalion bergambar binatang dengan ekor berupa tumbuh
tumbuhan atau bungabungaan, sedangkan relief cerita yaitu
Ramayana dan Krsnayana (Kempers, 1959: 9092).
Di lereng barat Gunung
Kelud tepatnya di Desa Candirejo,
Kecamatan Ponggok juga terdapat
sebuah candi yang terbuat dari
bata dan batu andesit yaitu Candi
Kalicilik. Candi ini masih cukup
lengkap, hanya bagian atapnya
yang tidak utuh. Pintu candi
menghadap ke barat, sedangkan
pada sisisisi lainnya terdapat
pintu semu. Di atas pintu masuk
maupun pintu semu terdapat
hiasan kepala kala. Selain hiasan
kepala kala, di atas pintu masuk
candi juga terdapat pahatan
angka tahun 1271 Ç (1369 M).
Candi Kalicilik Sumber: files.
myopera.com
106 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Dari angka tahun itu dapat diketahui bahwa Candi Kalicilik
merupakan peninggalan masa Majapahit pada pemerintahan
Tribhuwanatunggadewi. Bilik candi dalam keadaan kosong,
pada bagian cungkup candi terdapat relief Surya Majapahit
(Anonim, 2009: 1719). Oleh Raffles Candi Kalicilik ini disebut
Candi Genengan, karena letaknya di dekat Desa Genengan
(Raffles, 2008: 382; Anonim, 2009: 20). Menurut Agus Aris
Munandar kemungkinan Candi Kalicilik adalah Kagenengan,
tempat pendarmaan Ken Arok. Angka tahun yang terdapat
pada pintu masuk candi kemungkinan merupakan peringatan
perbaikan atau pemugaran bangunan yang telah ada pada masa
Singasari (Munandar, 2005: 34; Anonim, 2009: 20).
Sungai Putih dan anakanak sungainya mengalir mem
bawa material lava ketika terjadi erupsi Gunung Kelud,
dan merusak situssitus candi yang terletak di sekitarnya.
Di daerah Menjanganmalung sungai ini bercabang
dua, di sebelah barat adalah anak sungai Glondong, dan di
sebelah timur adalah Sungai Putih dan Sungai Landing. Di
Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar
terdapat Candi Wringin Branjang. Candi yang berdiri di
lereng tertinggi Gunung Kelud ini dibuat dari balokbalok
batu andesit. Strukturnya sederhana, tidak memiliki kaki,
hanya memiliki tubuh dan atap candi saja (Siagian, 2002:
153). Menarik perhatian bahwa Candi Wringin Branjang ini
menghadap ke selatan.
Di Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari terdapat
situs Candi Sumberagung, yang sebagian terbenam oleh
endapan lava. Candi Sumberagung yang semula berdiri di
tengah Sungai Putih ini dibuat dari batu andesit. Komponen
bangunan sekarang tinggal bagian kaki, dan di tengahnya
terdapat lubang bekas sumuran. Sisa bangunan candi yang
107Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
menghadap ke timur itu diekskavasi oleh tim peneliti Balai
Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982. Akan tetapi ketika
Gunung Kelud meletus pada tahun 1990 sebagian bangunan
candi ini terbenam kembali.
Candi Sawentar Lor (I)
Pada jarak 1,7 km di sebelah timur Candi Sumberagung
terdapat Candi Kotes, yang terletak di Desa Sukasewu
Kecamatan Gandusari. Candi yang terbuat dari batu andesit
ini terdiri dari dua bangunan yang menghadap ke
barat. Bangunan di depan berupa batur candi yang di atasnya
berdiri tiga miniatur candi dengan bangunan altar pemujaan.
Bangunan yang terletak di belakangnya berupa bangunan batur
candi berdenah empat persegi panjang. Di atasnya terdapat
umpakumpak dari batu andesit. Pada sisi depan kedua batur
itu terdapat angka tahun, masingmasing adalah 1222 Ç (1300
M) dan 1223 Ç (1301 M). Berdasarkan angka tahun ini
candi ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raden
108 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Wijaya, raja pertama Majapahit (Tim Penggali dan Perumus
Hari Jadi Kabupaten Blitar, 1976: 3940; Anonim, 2009: 15).
Sekitar 300 m di sebelah timurlaut Candi Kotes terdapat
situs Candi Sukosewu. Situs ini berupa bangunan altar
dan miniatur bangunan. Arah hadap altar ini ke selatan
dengan orientasi ke puncak Gunung Kelud. Candi Kotes dan
Candi Sukosewu terletak di dekat Sungai Mlalo yang berhulu
di Gunung Pisang, yang merupakan bagian dari Gunung
Kelud.
Di daerah dataran di selatan Gunung Kelud juga terdapat
situssitus candi, yaitu situs Candi Sawentar Lor (I) dan situs
Candi Sawentar Kidul (II). Kedua candi ini terletak di Dusun
Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro dan berada di
tepi sungai kuna yang kini alirannya sudah mati yaitu Sungai
Ngasinan. Materialmaterial lava berupa pasir kasar, kerikil,
kerakal, dan batubatu besar yang ditemukan saat ekskavasi
Candi Sawentar kidul, berasal dari aliran Sungai Putih. Candi
Sawentar Lor (I) berada di sebelah timur Sungai Ngasinan dan
menghadap ke barat atau menghadap ke sungai, sedangkan
Candi Sawentar Kidul berada di sebelah barat sungai dan
menghadap ke barat juga atau membelakangi sungai. Kedua
candi ini juga memiliki bentuk arsitektur yang berbeda.
Candi Sawentar Lor (I) mewakili arsitektur awal Majapahit,
sedangkan Candi Sawentar Kidul (II) mewakili arsitektur
akhir Majapahit. Candi Sawentar Lor (I) tidak memuat angka
tahun, tetapi dari berbagai ciri khasnya termasuk dalam seni
bangun Majapahit (Soekmono, 1993: 73), sedangkan Candi
Sawentar Kidul (II) didirikan tahun 1436 M (Tjahjono, 2000:
42). Candi Sawentar Lor (I) terbuat dari batu andesit dan masih
tampak utuh, terdiri dari batur, kaki, tubuh, dan atap. Candi
ini menghadap ke barat dengan penampil di bagian depan. Di
109Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
kanan kiri pintu masuk dihiasi dengan kepala naga yang sudah
aus. Pada sisi utara, timur, dan selatan tubuh candi terdapat
pintu semu dengan hiasan kala di bagian atas. Di bagian atas
bilik candi terdapat relief surya majapahit dengan tokoh dewa
menunggang kuda. Di dalam bilik juga terdapat yoni dengan
hiasan garuda sedang terbang. Adanya hiasan surya majapahit
menunjukkan bahwa candi ini termasuk dalam periode awal
Majapahit karena hiasan surya majapahit merupakan lambang
Kerajaan Majapahit (Krom, 1923: 292; Mursitawati, 1987: 88;
Anonim, 2009: 8).
Candi Kotes
Penelitian yang telah dilakukan bebe rapa kali di situs
Candi Sawentar Kidul (II) telah berhasil mengungkap denah
bangunan dan pagar halaman candi. Pagar halaman terbuat dari
bata berbentuk empat persegi panjang dengan luas 29,70 x 38,80
m². Halaman seluas itu terbagi menjadi dua bagian, halaman
utara dengan luas 21, 30 x 29,70 m² dan halaman selatan dengan
luas 17,50 x 29,70 m². Masingmasing halaman memiliki
pintu gerbang di sebelah barat. Halaman utara lebih tinggi
110 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
dari halaman selatan, yang tampak dari perbedaan ketinggian
masingmasing ambang pintu bawahnya dan perbedaan
ketinggian dasar dinding pagar halaman utara dengan
dinding pagar halaman selatan. Pada masingmasing halaman
ditemukan sebuah gugusan candi yang sebagian besar terbuat
dari batu andesit dan sebagian lagi terbuat dari bata. Gugusan
candi di halaman utara
terdiri dari dua buah
batur berdenah empat
persegi panjang berjajar
melintang utaraselatan.
Batur di sebelah timur
terbuat dari batu andesit,
di atasnya terdapat dua
buah pondasi bangunan
berdenah bujursangkar.
Sedangkan batur di sebelah barat juga berdenah empat persegi
panjang. Pada bagian luar terbuat dari batu andesit tetapi
bagian dalamnya terbuat dari bata. Di atas batur tidak terdapat
bangunan apapun. Di sebelah baratnya terdapat dua buah
pondasi bangunan dari bata berbentuk bujursangkar. Bangunan
ini berukuran kecil dan tinggal dua lapis bata saja. Di halaman
selatan gugusan candinya hampir sama bentuk dan ukurannya
dengan gugusan candi di halaman utara, yang berbeda hanya
pada baturbaturnya. Batur sisi timur berbentuk bujursangkar
yang berdiri sendirisendiri, masingmasing menyangga
pondasi bangunan yang di atasnya terdapat bangunan
berbentuk kubus dengan masingmasing dindingnya terdapat
relief binatang. Di bawah batur yang ter buat dari batu andesit
ini terdapat empat lapis bata yang me nyangga masingmasing
batur ini. Di sebelah baratnya terdapat batur ber bentuk
Candi Sukosewu
111Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
empat persegi panjang melintang utara selatan yang terbuat
dari bata (Tjahjono, 2006: 3435). Melalui penelitian juga, telah
berhasil diidentifikasi 3 angka tahun, salah satunya berupa
angka tahun yang terdapat di ambang pintu (relung) miniatur
candi yaitu tahun 1358 Ç (1436 M), sedangkan lainnya berupa
sengkalan memet terdapat pada panilpanil berrelief binatang
yang berbunyi “Nagaraja anahut surya” berarti tahun 1318 Ç
(1396 M) dan “Ganeça inapit mong anahut Surya” berarti tahun
1328 Ç (1406 M) (Tjahjono, 2000: 35).
Candi Wringin Branjang
Agak jauh di daerah Blitar selatan terdapat Desa Sumberjati
yang termasuk wilayah Kecamatan Kademangan. Di desa ini
terdapat tinggalan arkeologis berupa sisasisa bangunan candi
yang dikenal sebagai Candi Sumberjati atau Candi Simping. Di
candi ini terdapat pahatan angka tahun 1283 Ç (1361 M) yang
menunjukkan tahun pendirian bangunan ini. Di candi
ini juga ditemukan arca Harihara yang merupakan perpaduan
112 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
antara Dewa Çiwa dengan Dewa Wisnu. Arca ini sekarang
disimpan di Museum Nasional Jakarta. Candi Sumberjati
merupakan bangunan pendharmaan Raja Kertarajasa. Candi
yang terbuat dari batu andesit ini berdiri di atas pondasi bata.
Denah bangunan berbentuk bujursangkar dengan arah hadap
ke barat. Komponen bangunan yang tersisa tinggal pondasi
dan sebagian kaki candi (Siagian, 2002: 157158).
Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
Banyaknya tinggalan candicandi masa Majapahit di Blitar
menunjukkan bahwa daerah ini pada masa itu memegang peran
penting dalam kehidupan politik dan religiusnya. Berdasarkan
angkaangka tahun yang terdapat pada komponenkomponen
Candi Panataran maupun candicandi lain dapat diketahui
berasal dari abad 12 sampai dengan abad 15 M. Jadi meliputi
awal berdirinya Kerajaan Majapahit sampai akhir Majapahit.
Di Blitar juga terdapat candicandi dari yang berukuran kecil,
sedang, sampai candi yang kompleks dan terbesar di Jawa
Timur. Pentingnya daerah Blitar ini tampak juga dari seringnya
daerah ini dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk.
Dua buah candi di daerah Blitar yang sering dikunjungi
oleh Hayam Wuruk adalah Candi Sumberjati atau Candi
Simping dan Candi Panataran atau Candi Palah. Candi
Sumberjati yang terletak di daerah Blitar selatan adalah sebuah
candi pendharmaan Kertarajasa, pendiri dan raja pertama
Majapahit. Dia adalah leluhur raja Hayam Wuruk, sehingga
sudah kewajibannya untuk mengunjungi bahkan memelihara
tempat pendharmaan leluhur ini.
Dari kitab Nagarakretagama dan kitab Pararaton diketahui
bahwa pembangunan candi pada masa Majapahit bertalian erat
113Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
dengan peristiwa wafatnya seorang raja. Sebuah candi didirikan
untuk mengabadikan dharma-nya dan memuliakan rohnya yang
telah bersatu dengan dewa penitisnya. Oleh karena itu, sebutan
untuk candi adalah dharma atau sudharma, sedangkan raja yang
telah meninggal itu dhinarma atau didharmakan (Soekmono,
1993: 67). Arca yang didirikan dalam candi ini dikenal
sebagai arca perwujudan. Arca perwujudan itu merupakan
penggambaran seorang raja yang dipuja sebagai dewa, yang
sering disebut sebagai kultus Dewaraja. Munculnya bentuk
arca perwujudan itu karena adanya percampuran unsurunsur
kebudayaan Hindu dengan unsur kebudayaan asli Indonesia,
yaitu pemujaan arwah nenek moyang (Stutterheim, 1931: 5).
Di Sumberjati ditemukan sisasisa bangunan candi, namun
arca perwujudan yang ditemukan di situs ini bukan arca
Çiwa –sebagaimana disebutkan dalam Nagarakretagama–
melainkan arca Harihara. Candi Simping atau Candi Sumberjati
ini menurut kitab Nagarakretagama merupakan salah satu
candi pendharmaan raja atau yang sering disebut sebagai
dharma haji (Soekmono, 1993: 70).
Menurut Bernet Kempers, Sumberjati disamakan
dengan Simping, yaitu nama tempat yang terdapat dalam
Nagarakretagama sebagai “Çiwapratista” atau tempat arca
Çiwa (Kempers, 1959: 82). Dalam Nagarakretagama diterang
kan bahwa Simping terletak di sebelah selatan Blitar, seperti
disebutkan dalam pupuh LXI bait 3 dan 4, yang berbunyi
(Pigeaud, 1960: 46):
“jañjan sańke balitar ańidul tūt/mārgga,
sĕńkān/poryyaŋ gataraşa tahĕnyādoh wwe,
ndah prāpteŋ lodaya sira piraŋ rātryāńher,
çakte rūmniń jaladi jinajah tūt pińgir.” (bait 3)
114 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
“sah sańke lodaya sira mańanti ri simpiŋ,
swecchānambyāmahajöńa ri saŋ hyaŋ darmma,
sākniŋ prasańda tuwi hana dohnya ńulwan,
na hetunyān/bańunĕn ańawetan matra.” (bait 4)
artinya (Riana, 2009: 304):
“Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan,
mendaki kayukayu mengering kekurangan air tak sedap
dipandang,
maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal di
sana,
tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisir pantai,”
(bait 3)
“Baginda Raja meninggalkan Lodaya menuju desa Simping,
dengan rela seraya memperbaiki candi tempat memuja
leluhur,
candi itu rusak tampak bergeser ke barat,
itulah sebabnya direnovasi digeser agak ke timur,” (bait 4)
Berdasarkan uraian di dalam Nagarakretagama ini
dapat diketahui bahwa Hayam Wuruk telah mengunjungi
Simping dan meme rintahkan untuk memperbaiki Candi
Simping ini yang prasada atau bagian atasnya miring ke
barat. Selanjutnya, dalam pupuh 70 kitab Nagarakretagama
diceritakan bahwa dua tahun lalu sang raja datang lagi ke
Simping untuk meresmikan arca perwujudan raja Kertarajasa
sebagai Harihara atau ÇiwaWisnu (Soekmono, 1993: 71).
Candi Panataran atau yang di dalam Nagarakretagama
disebut Candi Palah merupakan candi yang terbesar dan
ter lengkap di JawaTimur, namun Nagarakretagama tidak
menyatakan bahwa candi ini termasuk dharma haji ataupun
prasada haji. Akan tetapi kunjungan raja Hayam Wuruk
ke candi ini dalam perjalanan keliling ke daerahdaerah
115Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
sebagai mana diceritakan dalam
Nagarakretagama sebenarnya me
nunjukkan bahwa Candi Panataran
menduduki tempat yang cukup
penting dalam kerajaan Majapahit.
Berdasarkan temuan prasastinya,
candi ini sudah dibangun tahun
1197 M oleh raja Çrengga dari
kerajaan Kadiri. Candi ini mendapat
perhatian khusus dari raja Hayam
Wuruk, tidak hanya berdasarkan
dari kunjungankunjungan sang
raja secara teratur, tetapi juga dari
adanya sebuah gugusan candi kecil
yang dikenal sebagai Candi Angka
Tahun. Bangunan itu disebut demikian karena pada ambang
pintunya diberi pahatan angka tahun 1291 Ç (1369 M). Angka
tahun ini menunjukkan bahwa pembangunannya berlangsung
dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (13501389 M)
(Soekmono, 1993: 72).
Satu candi lagi yang juga dikunjungi oleh Hayam
Wuruk dalam perjalanannya ke desadesa wilayah Majapahit
adalah Candi Sawentar Lor (I), yang disebutkan dalam
Nagarakertagama sebagai Lwang Wentar. Pupuh LXI bait 2
berbunyi (Pigeaud, 1960: 46):
“ndan ri śakha tri tanu rawi riŋ weśāka,
śri natha muja mara ri palah sabhrtya,
jambat sing ramya pinaraniran/lańlitya,
ri lwań wentar mańuri balitar mwań jimbe”
Situs Candi
Sawentar Kidul (II)
116 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
artinya (Riana, 2009: 302):
“Lalu pada tahun saka Tritanurawi1283 (1361 M) bulan wesaka
(AprilMei),
Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya,
berlarutlarut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur
hati,
di Lawang Wentar Manguri Blitar dan Jimbe.
Candi Sawentar Lor (I) kemungkinan merupakan salah
satu candi kerajaan, karena pada penutup cungkup candinya
terdapat hiasan surya majapahit yang merupakan lambang
Kerajaan Majapahit. Selain Candi Sawentar Lor (I), candi
lain yang memiliki hiasan surya majapahit adalah Candi
Kalicilik dan Candi Sawentar Kidul (II). Candi Kalicilik jika
benar merupakan Candi Kagenengan –tempat pendharmaan
Ken Arok– berarti didirikan pada masa Singasari. Menurut
Agus Aris Munandar, candi ini lalu diperbaiki
atau dipugar pada masa Majapahit. Hal ini menunjukkan
bahwa tidak hanya masa Majapahit saja daerah Blitar sangat
penting, melainkan dari masa Singasari bahkan masa Kediri
sudah merupakan daerah yang penting, karena bagian dari
kompleks Candi Panataran sudah didirikan sejak masa Kediri.
Candi Kalicilik pada masa Majapahit dianggap sebagai candi
yang penting karena sebagai tempat pendharmaan leluhur raja
raja Majapahit, sehingga perlu dipertahankan dan dijadikan
sebagai candi kerajaan yang ditandai dengan adanya hiasan
surya majapahit.
Relief surya majapahit juga terdapat di Candi Sawentar
Kidul (II) yaitu yang terdapat pada dua buah relief candra
sengkala. Dengan demikian Candi Sawentar Kidul (II) juga
merupakan salah satu candi kerajaan yang penting. Melalui
117Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
penelitian telah berhasil diidentifikasi 3 angka tahun, salah
satunya berupa angka tahun yang terdapat di ambang pintu
(relung) miniatur candi, sedangkan dua yang lain berupa
sengkalan memet terdapat pada panilpanil berrelief binatang.
Angka tahun yang tertera di ambang pintu candi biasanya
menunjukkan tahun pendirian candi, misalnya seperti yang
terdapat di ambang pintu Candi Angka Tahun yang merupakan
salah satu gugusan bangunan di kompleks Candi Panataran.
Atas dasar itu, maka kemungkinan angka tahun yang tertera
pada ambang pintu (relung) miniatur Candi Sawentar Kidul
(II) juga menunjukkan tahun pendirian bangunan ini.
Jika benar tahun 1358 Ç (1436 M) merupakan tahun pendirian
Candi Sawentar Kidul berarti bangunan ini didirikan pada
masa pemerintahan Suhita di Majapahit, sebab ia memerintah
dari tahun 1351 Ç sampai 1369 Ç (14291447 M) (Djafar, 1978;
Krom, 1931).
Nagaraja Anahut Surya (1318 Ç/1396 M)
118 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Dua angka tahun lain yang berhasil diidentifikasi berupa
sengkalan memet menunjukkan angka tahun 1318 Ç (1396 M)
dan 1328 Ç (1406 M). Kedua angka tahun ini menunjukkan
kronologi yang lebih tua dari angka tahun di ambang pintu
(relung) bangunan miniatur candi. Kedua angka tahun
ini tampaknya tidak menunjukkan kronologi tahapan
pembangunan candi, sebab selisih angkaangka tahun ini
tidak sebanding dengan ukuran bangunan.
Kemungkinan lain, angkaangka tahun yang berujud
sengkalan memet ini berkaitan dengan gambaran yang
terdapat pada reliefrelief itu sendiri. Namun untuk dapat
meng kaitkannya harus memahami makna simbolik relief
relief itu, dan ditafsirkan bahwa gambargambar dalam
relief itu menunjukkan kejadian suatu peristiwa. Yang
jelas jika identifikasi angkaangka tahun itu benar berarti
peristiwa itu terjadi pada masa sebelum Suhita naik tahta.
Pada masa itu kekuasaan Majapahit masih berada di tangan
Wikramawarddhana, ayah Suhita, yang memerintah tahun
13111351 Ç (13891429 M) (Djafar, 1978).
Menurut Pararaton, peristiwa besar yang terjadi pada masa
pemerintahan Wikramawarddhana, yang nyaris meruntuhkan
Majapahit adalah usaha perebutan tahta oleh Wirabhumi.
Peristiwa perang saudara ini dikenal sebagai peristiwa
Paregreg. Pada masa pemerintahan Wikramawarddhana telah
terjadi pertentangan keluarga, antara Wikramawarddhana
yang memerintah wilayah bagian barat (Majapahit) dengan
Bhre Wirabhumi yang memerintah bagian timur (daerah
Balambangan). Perang paregreg terjadi antara tahun 1323
1328 Ç (14011406 M) (Djafar, 1978).
Sepeninggal raja Hayam Wuruk dan Patih Amangkubhumi
Gajah Mada Majapahit memang telah mengalami kesuraman
119Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
dan muncul suatu masalah yaitu perebutan kekuasaan
dan per tentangan keluarga mengenai hak waris atas tahta
kerajaan. Sebelumnya Hayam Wuruk telah membagi kerajaan
menjadi dua yaitu di sebelah barat (Majapahit) diperintah
oleh Wikramawarddhana dan kerajaan di timur (daerah
Balambangan) diperintah oleh Wirabhumi, anak Hayam
Wuruk dari istri selir. Sedangkan Wikramawarddhana
adalah keponakan dan menantu Hayam Wuruk (Djafar,
1978). Dia naik tahta karena mengawini Kusumawarddhani,
anak Hayam Wuruk dari parameswari. Dengan demikian
Kusumawardhanilah yang sebenarnya berhak atas tahta
kerajaan karena sebagai putri mahkota.
Ganeça Inapit Mong Anahut Surya (1328 Ç/1406 M)
Angkaangka tahun yang disebutkan dalam pararaton
tentang peristiwa Paregreg ini ternyata sangat dekat
bahkan ada yang sama dengan candra sengkala atau sengkalan
memet yang dipahatkan pada reliefrelief di Candi Sawentar
Kidul ini. Tahun 1318 Ç yang tersirat dalam sengkalan
“Nagaraja anahut surya” sangat dekat dengan awal terjadinya
120 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
peristiwa Paregreg yang menurut Pararaton mulai tahun 1323
Ç. Jadi kemungkinan sebelum mulai peristiwa Paregreg telah
didahului dengan peristiwaperistiwa yang berkaitan dengan
usaha perebutan tahta ini. Atau kemungkinan lain, angka
tahun itu justru menunjuk tahun dimulainya peristiwa Paregreg.
Kemungkinan tahun yang disebut oleh penulis Pararaton
kurang tepat, mengingat penulisan Pararaton jauh sesudah
peristiwa itu berlangsung (sekitar abad XVII M), sedangkan
Candi Sawentar Kidul yang memuat sengkalan “Nagaraja
anahut surya” berasal dari tahun 1358 Ç (1436 M). Jadi Candi
Sawentar Kidul didirikan 40 tahun sesudah peristiwa Paregreg
terjadi. Sedangkan tahun 1328 Ç yang tersirat dalam sengkalan
memet “Ganeça inapit mong anahut Surya” sama dengan tahun
berakhirnya Paregreg saat terbunuhnya Bhre Wirabhumi, yang
menurut Pararaton berbunyi “Nagalara anahut wulan” (Djafar,
1978).
jika diamati dari makna penggambaran naga yang
mengenakan mahkota, sangat mungkin hal itu merupakan
simbolisasi seorang raja yang marah, dan digambarkan
sedang ber usaha menelan matahari. Sedangkan matahari
yang dicaplok naga raja ini merupakan simbolisasi dari
kekuasaan kerajaan Majapahit yang sedang dicabikcabik
untuk di runtuhkan. Sebab matahari yang digambarkan pada
panil itu adalah “Surya Majapahit” yang merupakan lambang
kebesaran Kerajaan Majapahit.
Dengan demikian penggambaran “Nagaraja anahut Surya”
adalah untuk menggambarkan adanya usahausaha untuk
meruntuhkan kekuasaan Majapahit melalui perebutan tahta
oleh Wirabhumi terhadap kekuasaan Wikramawarddhana.
Gambaran perebutan kekuasaan antar keluarga rajaraja
Majapahit ini lebih diperjelas dengan adanya reliefrelief
121Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
berikut yang menggambarkan dua ekor kuda sedang berebut
bola. Relief ini kemungkinan menggambarkan dua bersaudara
yang sedang berebut kekuasaan. Sedangkan yang lebih
memperkuat bahwa reliefrelief itu menggambarkan peristiwa
perang adalah adanya relief Ganeça yang sedang diapit dua
ekor harimau. Selain sebagai dewa ilmu pengetahuan Ganeça
juga sebagai dewa perang. Ganeça yang digambarkan dalam
relief ini kemungkinan sebagai dewa perang, sebab
tampak sekali Ganeça ini sangat atraktif sedang menggigit
matahari dan siap mengayunkan kapaknya.
Candra sengkala atau sengkalan memang sering diguna
kan sebagai peringatan tentang kejadian atau peristiwa yang
khusus, seperti berdirinya kerajaan, kenaikan tahta raja,
kelahiran, peperangan, serta peristiwa lainnya (Suwatno,
1998/1999). Jika hal ini benar berarti Candi Sawentar Kidul
didirikan oleh Suhita untuk memperingati peristiwa usaha
perebutan tahta (Paregreg) yang terjadi pada masa pemerintahan
ayahnya. Peristiwa itu tergambar dalam panilpanil relief, dua
di antaranya sebagai sengkalan memet yang menggambarkan
kronologi terjadinya peristiwa ini. Jadi pendirian
bangunan suci Sawentar Kidul adalah untuk memperingati
peristiwa yang telah terjadi 40 tahun lalu sebelum bangunan
itu didirikan.
Kesimpulan
Peran penting suatu daerah dapat diketahui dari banyak
nya bangunanbangunan monumental yang didirikan di
daerah itu. Selain itu, juga dapat diketahui dari banyaknya
kunjungan yang dilakukan oleh penguasa pada waktu itu. Di
Blitar ditemukan candicandi masa Majapahit, dari masa paling
122 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
awal yaitu bangunan suci tempat pendharmaan Kertarajasa
sampai candicandi di lereng Gunung Kelud dari masa yang
lebih muda yaitu masamasa akhir Majapahit, yang ditandai
oleh munculnya kembali anasiranasir Indonesia asli, seperti
unsur undakan pada pola halaman maupun pada candi induk
Panataran, serta munculnya bentukbentuk miniatur candi.
Ditempatkannya candi pendharmaan Kertarajasa –pendiri
Majapahit– di Simping atau Sumberjati menunjukkan bahwa
daerah Blitar merupakan tempat yang penting sejak masa awal
Majapahit. Selanjutnya kunjungan rutin yang sering dilakukan
Hayam Wuruk ke Blitar, terutama di Candi Simping atau
Candi Sumberjati dan Candi Palah atau Candi Panataran lebih
menegaskan bahwa daerah Blitar merupakan tempat yang
istimewa bagi Majapahit. Lebihlebih melihat arsitektur Candi
Panataran yang merupakan candi terbesar di Jawa Timur
dengan pola halaman ke belakang mewakili pola arsitektur
Jawa Timur yang lengkap, bukan tidak mungkin sebagai candi
kerajaan walaupun Nagarakretagama tidak menyatakannya
sebagai dharma haji.
Ditemukannya kompleks Candi Sawentar Kidul yang ber
dasarkan hasil kajian kemungkinan berkaitan dengan peristiwa
paregreg atau dengan kata lain pendirian candi ini ditujukan
sebagai monumen peringatan kemenangan telah menambah
peran penting daerah Blitar dalam sejarah Majapahit. Mungkin
masih banyak lagi tinggalan arkeologis di daerah Blitar yang
belum terungkap, yang masih merupakan potensi terpendam.
Apa yang sudah terungkap saat ini baru sebagian kecil dari
buktibukti kejayaan Majapahit di Blitar. Masih banyak
masalah yang perlu diungkap dari keberadaan candicandi
di Blitar, seperti mengapa pendiri Majapahit didharmakan di
Blitar, mengapa candi terbesar di Jawa Timur justru didirikan
123Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
di Blitar, mengapa monumen paregreg juga didirikan di Blitar,
dan masih banyak lagi permasalahan yang harus dijawab.
KEpUstaKaaN
Anonim, 2009. “Laporan Usulan Penetapan Benda Cagar Budaya
di Kabupaten Blitar Tahap II (Candi Sawentar I, Candi
Kotes, Candi Kalicilik, Candi Gambar Wetan, Gapura
Plumbangan). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala
Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur.
Djafar, Hasan. 1978. Girindrawarddhana, Beberapa Masalah
Majapahit Akhir. Cetakan kedua. Jakarta: Yayasan Dana
Pendidikan Nalanda.
http://files.myopera.com/4Go3s/albums/594730/candi%20
kalicilik%20%20blitar.jpg
Kempers, A.J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam:
C.P.J. van der Peet.
Krom, N.J. 1931. Hindoe-Javaansche Geschiedenis. Tweede
herziene druk. ‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff.
_________. 1923. Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. ‘s
Gravenhage: Martinus Nijhoff.
Munandar, Agus Aris. 2005. “Peran Penting Data dari Karya
Sastra Jawa Kuna dalam Kajian Arkeologi HinduBuddha:
Candi Pendharmaan (Abad ke 13 – 15). Makalah Seminar
Naskah Kuna Nusantara sebagai Warisan Bernilai
Luhur dalam rangka memperingati Seperempat Abad
Perpustakaan Nasional RI, 1980 – 2005. Jakarta: Tidak
Diterbitkan.
124 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Mursitawati, Enny. 1987. “Variasi dan Arti Simbolis Hiasan Surya
Majapahit. Yogyakarta: Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra
Universitas Gadjah Mada, tidak diterbitkan.
Pigeaud, Th. 1960. Java in the Fourteenth Century. Volume I.
Leiden: The HagueMartinus Nijhoff.
Raffles, Thomas Stamford. 2008. The History of Java. Yogyakarta:
Narasi.
Rangkuti, chucky. 2000. “Pola Permukiman Desa Majapahit:
Kajian Situssitus Arkeologi di Kabupaten Mojokerto
dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Berita Penelitian
Arkeologi. No. 09. Yogyakarta: Balai Arkeologi
Yogyakarta.
Riana, I Ketut. 2009. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara
Krtagama, Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: Kompas.
Siagian, Renville. 2002. Candi, Sebagai Warisan Seni dan Budaya
Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soekmono, R. dan Inajati Adrisijanti Romli. 1993. “Peninggalan
peninggalan Purbakala masa Majapahit”. 700 Tahun
Majapahit, Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas
Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa
Timur.
Stutterheim, W.F. 1931. “The Meaning of the Hindu Javanese
Candi”. Journal of the American Oriental Society.
Volume 51. Pensylvania: Pensylvania University. Hal.
115.
Suwatno, Edi. 1998/1999. “Perspektif Budaya Candrasengkala”.
Kebudayaan. Nomor 16 Tahun VIII. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
125Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
Tjahjono, 2000. “Candi Sawentar II di Blitar. Berita Penelitian
Arkeologi. No. 11. Yogyakarta: Balai Arkeologi
Yogyakarta.
________. 2006. “Candi Sawentar II (Kidul), Arsitektur Peralihan
pada Abad 15 M”. Berita Penelitian Arkeologi No. 21.
Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.
127Candi di Lereng Bromo
6
CaNdi di lErENg BroMo
T.M. Rita Istari
Pak Karno dari Desa Lumbang
A
dalah seorang mantan Kepala Sekolah Dasar
Bulukambang II, Kecamatan Lumbang, Kabupaten
Pasuruan bernama Soekarno BA. Dia juga dikenal
sebagai dalang yang mengkhususkan dirinya mendalang
dalam upacara keagamaan, atau upacara adat di desadesa
sekitar tempat tinggalnya, sehingga lakon yang dimainkannya
pun disesuai kan dengan tujuan diadakannya upacara ini.
Satu hal yang menarik bahwa di desa Lumbang ini pernah
tinggal seorang Empu pembuat keris yang sangat terkenal
pada jaman Majapahit, cuma tidak diketahui siapa namanya.
Juga dalam Nāgarakertagāma pupuh 73:3 disebutkan bahwa
pada masa pemerintahan raja HayamWuruk di desa Lumbang
dibangun sebuah candi untuk seseorang (Robson.1995:78).
Pramudito (2006) dalam bukunya mengatakan bahwa sesudah
128 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Gajah Mada tidak lagi menjabat sebagai Mahapatih di
Majapahit, dia mengasingkan dirinya hidup sebagai pertapa
di sebuah dusun terpencil di lereng Gunung Bromo dekat air
terjun, dengan suasana yang sunyi sepi di pinggir hutan yang
lebat (Pramudito.2006:135). Kenyataannya di desa Lumbang
memang terdapat air terjun yang sekarang berfungsi sebagai
tempat rekreasi. Mungkinkah nama desa Lumbang yang
sekarang ini identik dengan Lumbang seperti yang disebutkan
dalam Nāgarakertagāma dan buku karangan Pramudito
ini? Jika demikian halnya, nampaklah bahwa nama desa
Lumbang tidak dapat diabaikan begitu saja.
Pada tahun 1985, pak Soekarno yang waktu itu men
jabat sebagai Kepala Sekolah Dasar, tergerak hatinya saat
menemukan beberapa batu candi dan arca di sebuah bukit
di lereng Gunung Bromo yang lumayan jauh dari tempat
tinggalnya. Penemuan ini langsung dilaporkan ke
instansi terkait, termasuk ke Balai Arkeologi Yogyakarta,
dan tentunya dengan sepengetahuan Kepala Desa setempat.
Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Hal ini mungkin
disebabkan karena lokasi tinggalan arkeologi ini sulit
dijangkau, sebab jalan menuju dusun itu melingkari bukit
dengan jurang yang terjal jalan itupun sempit, hanya cukup
untuk satu kendaraan roda empat. Harus benarbenar waspada
agar tidak berpapasan dengan kendaraan roda empat lain.
Dusun Wonogriyo, Desa Pusungmalang, Kecamatan
Puspo, Kabupaten Pasuruan, terletak pada ketinggian 1340
meter di atas permukaan laut (dpl). Seperti diketahui bahwa
pada umumnya desa di Jawa memiliki sebuah punden yang
dikeramatkan oleh penduduk setempat, karena dianggap
sebagai makam atau tempat bersemayamnya sesepuh desa
sebagai cikalbakal berdirinya desa ini. Sesepuh desa
129Candi di Lereng Bromo
umumnya dipuja sebagai Danyang yang menjaga keselarasan
hidup seluruh penduduk. Asal mula munculnya Danyang
adalah pada masa praHindu kepercayaan warga ber
pusat kepada alam dan arwah nenek moyang. Dewadewa
ini dinamakan Dahyang atau Rahyang yang lalu
berubah menjadi Danyang (da = honorefic prefix) dalam bahasa
Jawa Baru (Kartoatmodjo:1979:43).
Demikian juga halnya di Dusun Wonogriyo, penduduk
memiliki Danyang bernama Kyai Wonosodo, dan pundennya
berada di ujung desa, di sebuah bukit bagian dari lereng
Gunung Bromo. Penduduk juga menamakan punden ini:
Candi Sanggar. Mengapa dinamakan demikian? Karena selain
punden ini dianggap sebagai makam Kyai Wonosodo, juga
banyak ditemukan reruntuhan bangunan candi berupa batu
batu andesit, dan pernah pula ditemukan beberapa arca batu.
Tahun 2004 pada waktu penulis melihat arsiparsip lama
di perpustakaan Balai Arkeologi Yogyakarta ditemukanlah
surat pak Karno ini di atas. Surat itu memakai tulisan
tangan yang rapi dengan kertas ukuran folio yang sudah
menguning di makan usia. Isi surat menginformasikan bahwa
ada reruntuhan candi dengan rincian yang lengkap seperti
yang penulis sertakan di atas. Namun, informasi yang sangat
berharga itu tidak satu pun mendapat tanggapan, akibatnya
dari tahun ke tahun arcaarca di sana hilang satu demi satu.
Surat pak Karno yang menginformasikan tentang situs Candi
Sanggar, dan ditulis 20 tahun yang lalu
130 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
131Candi di Lereng Bromo
Informasi ini diperkuat pula oleh laporan tim
penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang pada tahun 2004
mengadakan penelitian tentang “Unsurunsur Kepercayaan
pada Bentuk Permukiman dan Rumah Tengger, Jawa Timur” di
Desa Keduwung (Lelono.2004:1). Pada waktu itu tim mendapat
laporan penduduk bahwa di dusun Wonogriyo ada punden
yang disebut Candi Sanggar. Tim melakukan peninjauan
ke tempat itu dan memang di sana banyak ditemukan batu
batu candi. Menurut cerita penduduk, dulu ditemukan arca
arca seperti gambar dalam laporan tulisan tangan pak Karno,
tetapi arca ini beberapa kali dicuri oleh oknum tidak
bertanggungjawab dari luar dusun ini.
Akhirnya ada pencuri yang mengembalikan arca
arca itu ke tempat semula, karena selalu menderita dan sial,
konon akibat kutukan dari arca ini. Pencuri terakhir
tidak mengem balikan arcaarca itu ke tempat semula, karena
sesudah menjualnya menjadi gila. Tentu saja arcaarca itu
tidak dapat dilacak kembali keberadaannya, sungguh sayang!!
Akan tetapi penduduk desa dan sekitarnya sejak dahulu tetap
menjalankan suatu tradisi yang dilakukan satu tahun sekali.
Mereka berarakan naik ke punden, dan di halaman punden
mereka mengadakan selamatan untuk menghormati Danyang
Desa, agar tetap menjaga desanya susaha terhindar dari segala
hal yang tidak baik. Upacara ini merupakan upacara
bersih desa turun temurun.
Arkeolog dan Candi Sanggar
Sesuai dengan laporan pak Karno, tim peneliti dari Balai
Arkeologi Yogyakarta mengadakan penelitian, dimulai tahun
2005 sampai sekarang. Untuk mencapai lokasi, meskipun
132 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
cuaca sangat dingin menusuk tulang, tetapi tim peneliti tetap
terengahengah karena menaiki bukit yang cukup tinggi.
Apalagi sering turun hujan yang menyebabkan tanah menjadi
licin. Akibatnya tak ada satupun anggota tim yang tidak
pernah terpeleset!!
Di atas bukit itulah ditemukan susunan batubatu candi
yang semula disangka sebagai bagian dari dinding candi.
Namun ternyata susunan batubatu ini adalah tum
pukan batubatu candi yang dikumpulkan oleh penduduk
jika mereka menemukannya. Sesudah batubatu candi itu
dibersihkan, diketahui bahwa tumpukan ini antara lain
berupa umpakumpak sejumlah 23 buah berukuran besar,
sedang, dan kecil. Ternyata umpakumpak batu juga ditemu
kan bertebaran di sekitar bukit karena terbawa tanah longsor.
Dengan penuh ketelitian para arkeolog anggota tim mem
bersihkan, mengukur, dan memotret batubatu candi ini
satu persatu. Dari 23 buah umpak batu ini diantaranya
ditemukan tiga buah umpak dengan ukuran sama, yang salah
satu sisinya bertuliskan huruf dan bahasa Jawa Kuna yang
merupakan angka tahun
dan terbaca 1431 Saka
atau 1509 Masehi.
Temuan lain adalah
beberapa fragmen terakota
dan fragmen tembikar,
diantaranya berupa jam
bangan berukuran besar.
Dugaan ini didasar kan
dari bagian tepiannya
yang tebal, lebih kurang
Umpak berangka tahun 1431 Saka
(dok. Balar Yogya)
133Candi di Lereng Bromo
2 cm. Ada pula yang bermotif hias yang indah dan halus
pengerjaannya.
Beberapa artefak terakota hasil survei permukaan di sekitar situs
(dok.Balar Yogya)
Selain pecahanpecahan tembikar, juga beberapa fragmen
keramik asing dan mata uang kepeng Cina.
Fragmen keramik asing
(dok. Balar Yogya)
Mata uang kepeng Cina
(Dok.Balar Yogya)
Temuan lain adalah satu buah batu andesit berbentuk
empat persegi panjang yang memuat prasasti dengan huruf
dan bahasa Jawa Kuna pada salah satu sisinya. Prasasti ini
diduga Candrasengkala. Penulis meminta bantuan 2 orang
epigraf untuk membaca dan menganalisa tulisan ini.
Hasil nya adalah sebagai berikut:
134 Majapahit : Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
1. Titi Surti Nastiti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan
Arkeologi Nasional, Jakarta membaca candrasengkala
ini:
Rupa (1), Guna (3), Catur (4), Janma (1) = 1431 Saka atau
1509 Masehi.
2. Sedangkan Kayato Hardani dari Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala DIY, menafsirkan Candrasengkala
ini sebagai berikut:
Ruya O Saturnakhma atau Ru Ya O Saturnakhma, maknanya:
Kata Ruya tidak dijumpai di dalam kamus Jawa Kuna
maupun Sansekerta.
Kata Ru dalam kamus Sansekerta, didefinisikan
sebagai “roar, cry, howl, yell, croak, hum, resound” ada
kaitannya dengan suara, teriakan atau lolongan.
Kata Ya merupakan partikel penegas atau penunjuk.
Kata Saturnakhma(?) mungkin dari kata dasar Turna
yang berarti dengan cepat. Kata ini berasal dari kata
Sansekerta Türna dari akar kata Tvar yang berarti
cepat.
Prasasti berupa Candrasengkala (dok.Balar Yogya)
Dalam konteks inskripsi dari Candi Sanggar ini belum
dapat diperoleh penafsiran arti kata yang jelas. Mungkin
135Candi di Lereng Bromo
inskripsi ini tentang seruan untuk mempercepat “sesuatu”.
Hal ini terlihat adanya partikel penegas dan seruan Ya dan O.
Untuk kata Saturnakhma diperkirakan sebagai sebuah bentuk
kata pasif dari kata dasar Turna yang berarti “percepatlah”.
Kayato Hardani mengacu pada Kamus bahasa Sansekerta
karangan Mac Donnel terbitan tahun 1954, dan Kamus Jawa
Kuna karangan Zoetmulder terbitan tahun 1997. Dengan tidak
mengurangi penghargaan penulis kepada Kayato Hardani,
dalam konteks ini, penulis lebih condong memakai
pembacaan Titi Surti Nastiti, dengan alasan angka tahun
ini sesuai dengan angka tah
Related Posts:
majapahit 2 M rEliEF daN sastra tErtUlisSiswantoPendahuluanP eninggalan masa HinduBudha yang tersebar di kawasan Provins… Read More