Rabu, 03 Mei 2023

majapahit 1

M A J A P A H I T






Bagian pertama membicarakan batas kota Majapahit di 
Trowulan yang sulit ditelusuri karena ketiadaan data dalam 
naskah kuno termasuk Nagarakertagama yang biasa dijadikan 
acuan dan ketidakjelasan wujudnya di lapangan. Berbeda 
misalnya dengan kota Banten Lama, karena data tertulis berupa 
gambar peta yang dibuat Serrurier, yang memperlihatkan 
tembok keliling kota (termasuk batas Keraton Surasowan dan 
Benteng Speelwijk), dapat lalu dibuktikan keberadaannya 
melalui ekskavasi. Bahkan kita dapat mengetahui bentuk dan 
ukuran, bahan yang dipakai dan teknik membangunnya. 
chucky Rangkuti dalam tulisannya ini membeberkan 
bagaimana kiat arkeolog untuk mengetahui luas kota dengan 
usaha mengenali batas kota Majapahit di Trowulan. Pada 
tahun 1991-1993 dibentuklah satu tim survei yang melakukan 
pengumpulan data permukaan secara sistematis di seluruh 
permukaan tanah di antara dua sungai (interfluve) yaitu Sungai 
Brangkal di timur dan Sungai Gunting di barat. Hasil survei 
menunjukkan temuan tinggalan purbakala tersebar pada satu 
wilayah yang luasnya 9 x 11 km, dan kepadatan temuannya 
berada di sekitar bangunan monumental Kolam Segaran seluas 
6,5 ha. Terobosan metodologis untuk mengetahui keluasan 
pemukiman kota Majapahit ini atas dasar keberadaan 
temuan permukaan sudah tentu masih meninggalkan 
banyak pertanyaan. chucky lalu mempertanyakan 
apakah ada wujud budaya yang menandakan batas kota itu. 
Dihubungkannya data keluasan kota Majapahit yang luasnya 
9 x 11 km (terdiri dari pusat kota dan pinggiran kota) dengan 
viiMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
keberadaan empat situs di keempat arah mata angin yaitu 
situs Klinterejo, Jabung, Sedah dan Badas. Keempat situs 
ini ditafsirkan chucky sebagai tanda batas kota Majapahit. 
Pembaca buku ini tentu dapat memahami cara arkeolog 
bernalar dalam pencarian bukti konkrit di lapangan. 
Masalah kota Majapahit berikutnya dibicarakan oleh Hery 
Priswanto dalam tulisannya “Orang-orang Asing di Majapahit”. 
Dikemukakannya keberadaan orang-orang asing di kota ini, 
yang selain dinyatakan dalam sumber tertulis (prasasti, naskah 
kuno dan berita asing) ditemukan pula wujudnya di situs 
kota Majapahit berupa arca dari terakota dan batuan. Hery 
telah berusaha mengidentifikasi arca-arca itu berdasarkan 
raut wajahnya sebagai orang Cina, India, Tartar, dan orang 
Arab, satu jumlah jenis orang asing yang ternyata lebih sedikit 
dibandingkan yang disebut dalam sumber tertulis. Para pembaca 
yang tertarik dengan arca orang asing yang ditemukan di 
situs kota Majapahit dapat melihatnya di Museum Trowulan. 
Orang-orang asing itulah yang berperan dalam kehidupan 
perdagangan di warga kota Majapahit.
Tulisan berikutnya mengenai hubungan antara kota 
Majapahit dengan lingkungan alam sebagai pendukungnya. 
Alifah dalam tulisannya “Dukungan Faktor Alam” melihat 
pemilihan lokasi kota Majapahit di Trowulan dan keber-
lanjutannya didasarkan atas berbagai pertimbangan antara 
lain: letak geografisnya di pedalaman (tetapi yang memiliki 
akses keluar hingga ke laut), dan kedekatannya dengan pusat 
pemukiman dari kerajaan-kerajaan sebelum Majapahit; kondisi 
geomorfologi yang datar, luas, dan subur; kondisi geologis 
yang dipengaruhi sistem pegunungan di selatan dan sistem 
aliran sungai Brantas beserta anak sungainya; dan kemampuan 
adaptasi budaya warga terhadap lingkungan alam 
sekitarnya. Pandangan adaptasi budaya semacam ini juga 
viii Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
dapat dipakai untuk menunjukkan pemanfaatan tanah 
di situs ini sebagai bahan utama memproduksi bangunan-
bangunan monumental, sejumlah besar perumahan, peralatan 
rumah tangga, peralatan upacara, karya seni dan sebagainya 
sebagai ciri dari kehidupan masyaratakat dengan tipe sosial 
budaya kota. 
Tulisan mengenai kearifan lingkungan yang dikemukakan 
oleh Siswanto dalam “Potret-potret Kearifan Lingkungan dalam 
Relief & Sastra Tertulis” menunjukkan bahwa warga 
Majapahit memiliki teknologi adaptif terhadap lingkungan 
alam sekitar. Pembaca dapat melihat relief-relief yang meng-
gambarkan tahap-tahap kegiatan dalam sistem pertanian 
sawah, dan kegiatan berburu hewan (baik untuk kebutuhan 
protein hewani maupun untuk memenuhi kegemaran). Selain 
itu terdapat pula relief yang menggambarkan binatang asing 
sebagaimana juga dinyatakan dalam kitab Nagakertagama, 
juga alat transportasi, keadaan alam, dan sebagainya. Bagi 
pembaca yang berminat melihat temuan terakota dalam 
bentuk beberapa jenis binatang berukuran kecil (sekitar 5-10 
cm) dapat kiranya dilihat di Museum Trowulan sebagai hasil 
ekskavasi tahun 2009 di halaman selatan museum itu. 
Bagian kedua dari buku ini diberi judul “Jejak di Luar 
Kota”. Dalam tulisan pertama dari bagian kedua buku ini 
berjudul “Desa-desa Megalitik di Negeri Majapahit”, Priyatno 
chucky menyampaikan pendapatnya bahwa pada 
masa itu terdapat pula warga berkebudayaan megalitik 
yang hidup tersebar di wilayah Majapahit, khususnya di 
daerah Bondowoso, Situbondo, Jember dan Banyuwangi. 
Pembaca dapat membayangkan keadaan itu seperti keberadaan 
warga Nias atau Banten di wilayah Republik Indonesia. 
Keberadaan sejumlah tinggalan megalitik berupa batu kenong 
(yang ditafsirkan sebagai umpak rumah), dolmen, sarkofag, 
ixMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
batu dakon, menhir, punden berundak, dan batu arca 
ditafsirkan Priyatno sebagai bukti adanya desa-desa megalitik 
di wilayah Majapahit pada masa awal hingga akhir Majapahit 
sebagaimana pertarikhannya dibuktikan oleh sarkofag 
berangka tahun 1324 Saka atau 1402 Masehi. Pembaca buku ini 
agaknya masih perlu diyakinkan pertarikhannya (absolut dan 
relatif) untuk mendukung pertanggalan yang sudah ada.
Tulisan Baskoro Daru Tjahjono berjudul “Bukti 
Kejayaan Majapahit di Blitar” mengantarkan pembaca untuk 
mengetahui begitu banyak situs candi di wilayah Blitar yaitu: 
Candi Panataran (yang terbesar), Candi Gambar Wetan, Candi 
Kalicilik, Candi Wringin Branjang, Candi Sumberagung, Candi 
Kotes, Candi Sukosewu, Candi Sawentar Lor, Candi Sawentar 
Kidul, dan Candi Sumberjati. Sebagian dari nama candi-candi 
itu disebutkan dalam kitab Nagarakertagama tatkala raja 
Hayam Wuruk mengadakan perjalanan keliling ke daerah-
daerah. Dengan tulisan ini pembaca diberi informasi bahwa 
naskah kuno dapat menjadi sumber informasi untuk lalu 
dibuktikan arkeolog di lapangan. Namun sebagaimana 
dikemukakan di bawah seringkali apa yang disebut dalam 
sumber tertulis tidak ditemukan kenyataannya, karena 
candinya sudah hancur atau masih tersembunyi di dalam 
tanah, atau telah terjadi perubahan nama desa sebagaimana 
sering terjadi dalam perjalanan sejarah kita. 
Tulisan T.M. Rita Istari “Candi di Lereng Bromo” menge-
mukakan adanya tinggalan purbakala di lereng Gunung 
Bromo. Namun seperti terungkap dalam uraiannya tidak 
semua tinggalan itu dapat dipastikan sebagai candi. Sebuah 
“punden keramat” yang dinamakan penduduk sebagai 
“Candi Sanggar” tidak serta merta dapat dipastikan sebagai 
candi, karena yang ditemukan hanya batu-batu candi tanpa 
informasi apakah bentuk batu-batu itu mewakili unsur dari 
x Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
komponen-komponen bangunan candi, dan apakah jumlahnya 
meyakinkan untuk diperkirakan sebagai bahan penyusun 
sebuah candi. Meskipun penduduk memberi tambahan 
informasi bahwa di lokasi itu pernah ditemukan beberapa 
arca tetapi lalu hilang tak diketahui rimbanya, peneliti 
tak akan menyimpulkan bahwa di dusun Wonogriyo itu 
terdapat candi. Demikian pula ketika dalam Nagarakertagama 
dinyatakan sebuah candi didirikan di desa Lumbang, peneliti 
tidak dapat menyimpulkan bahwa di desa Lumbang ada 
candi karena unsur dan komponen bangunan candi tidak 
ditemukan. Apalagi jika diingat nama-nama desa dapat 
berubah-ubah sepanjang waktu. Lebih sukar lagi bagi peneliti 
jika menemukan kumpulan batu yang dapat diduga sebagai 
susunan dinding bangunan, tetapi ternyata hanya merupakan 
tumpukan batu candi yang dilakukan oleh penduduk. Asli 
batunya tetapi palsu susunannya. Banyak kasus membuktikan 
hasil dari proses transformasi kultural semacam itu sering 
dijumpai peneliti. Rita Istari lalu menulis bahwa sesudah 
diteliti lebih lanjut ternyata batu-batu itu merupakan 23 
umpak-umpak batu dengan berbagai ukuran. Dengan uraian 
ini para pembaca diperkenalkan dengan satu cerita bagaimana 
sulitnya menemukan candi jika batu-batu yang ditemukan 
tidak mewakili komponen bangunan semacam itu.
Tulisan Gunadi K. “Candi Tegalrandu: Bukti Tinggalan 
Majapahit di Lumajang” memberi pelajaran kepada kita bahwa 
tujuan semula untuk meneliti pemukiman prasejarah di tepi 
danau ternyata beralih kepada mengkaji sisa bangunan candi 
yang semula tidak diduga keberadaannya. Di dekat (danau) 
Ranu Klakah, desa Tegalrandu, ditemukan sisa bangunan bata 
yang diduga bagian dari fondasi candi. Namun di lokasi ini 
juga terdapat tinggalan masa prasejarah. Berdasarkan data ini 
danau ini dapat disimpulkan sebagai “catchment area” 
xiMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
bagi para pemukim masa prasejarah dan masa Hindu-Buda. 
Di desa ini ditemukan tinggalan masa prasejarah berupa 
struktur (enclosure) batu andesit berdenah segi empat di atas 
(bukan di bawah) struktur lantai dari bata berukuran besar 
yang biasa dipakai pada masa Hindu-Buda dan Islam. 
Urutan kronologis dari “lapisan budaya terbalik” semacam 
ini agaknya perlu kelak diverifikasi. Tetapi sesudah ekskavasi 
diperluas ke sektor “Kandang Sapi” peneliti menemukan sisa 
candi bata berukuran 5 x 5 meter pada kedalaman 1 meter 
di bawah permukaan. Sisa bangunan yang menghadap ke 
timur ini lalu diberi nama Candi Tegalrandu. Namun, 
penggalian untuk menelusuri bentuk dan luas bangunan itu 
terpaksa dihentikan karena keterbatasan waktu, dana dan 
tenaga, satu hal yang amat umum dialami para peneliti di 
lapangan. Melalui uraian Gunadi juga para pembaca diingatkan 
mengenai hakekat penelitian kualitatif yang tidak selamanya 
konsisten dengan rencana penelitian yang dirancang sebelum 
terjun ke lapangan.
Tulisan terakhir dari bagian kedua buku ini membicarakan 
sebuah benteng yang dibangun warga Majapahit di 
Lumajang (bukan oleh orang Belanda atau Portugis). Novida 
Abbas dalam tulisannya berjudul “Benteng Biting: Sebuah 
Benteng Lokal di Jawa” menguraikan temuan benteng lokal 
yang dikajinya (sering disebut dengan istilah “benteng 
nusantara”). Benteng Biting itu berdenah persegi empat, 
dikelilingi 3 sungai asli di ketiga arah mata angin dan 1 sungai 
buatan di sisi selatan. Tingginya 2 m dan tebal dinding 1.60 m, 
dibuat dari bata-bata besar (kuno) dan dilengkapi di sisi barat 
dengan 3 menara intai (istilah penduduk “pengungakan”) 
dan masing-masing 1 menara di tiga arah mata angin lainnya. 
Tata ruang dalam benteng terbagi ke dalam satuan-satuan 
ruang yang dinamakan penduduk sebagai blok Keraton, blok 
xii Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Randu, blok Duren dan sebagainya, di mana terdapat beragam 
temuan antara lain tembikar lokal, porselin dan batuan dari 
beberapa negara asing, mata uang kepeng Cina dan artefak 
logam. Karya Novida Abbas ini ditulis berdasarkan data yang 
cukup lengkap, sehingga pembaca dapat membayangkannya 
dengan mudah. Sudah tentu masih banyak pertanyaan tentang 
benteng ini yang menuntut jawaban, namun usaha itu tak 
akan berhasil jika vandalism yang kian ekstensif kita biarkan 
berlangsung di situs penting ini. Melalui tulisan ini bukan tidak 
mungkin ada di antara pembaca yang berinisiatif membangun 
gerakan warga untuk melestarikan benteng lokal yang 
jarang ditemukan di Indonesia, suatu penerapan dari public 
archaeology yang pernah beberapa kali dikumandangkan di 
negara kita.
Bagian ketiga dari buku ini diberi judul Islam dan 
Majapahit. Tulisan pertama oleh M. Chawari “Fenomena Islam 
pada Masa Kebesaran Kerajaan Majapahit” menceritakan 
tentang keberadaan sejumlah makam Islam abad 14-16 Masehi 
yang terdapat di Troloyo yaitu di bagian selatan dari kota 
Majapahit yang sebagian terbesar bercorak Hindu-Buda. 
Keberadaan makam dan nisan inilah yang membuktikan 
bahwa kerajaan Majapahit menunjukkan toleransinya terhadap 
komunitas Islam yang bermukim tidak jauh dari pusat kota. 
Bersama dengan makam-makam itu ada pula nisan-nisan dan 
balok-balok batu yang berangka tahun sejaman dengan masa 
Majapahit awal hingga akhir. Pada nisan-nisan itu dituliskan 
kutipan ayat-ayat Quran dengan huruf Arab. Dari tulisan M. 
Chawari ini pembaca dapat memperoleh keterangan tentang 
ayat-ayat Quran mana yang dipakai dan mana yang dikutip 
utuh dan mana yang dikutip sebagian saja. Kesemuanya 
mencerminkan usaha manusia berhubungan dengan Allah. 
xiiiMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Tulisan kedua oleh Masyhudi “Komunitas Muslim di 
Tengah Kota Majapahit” membicarakan hal yang lebih kurang 
sama dengan tulisan M. Chawari sebelumnya. Hanya saja pada 
bagian akhir dari tulisannya dibicarakan perlunya kompleks 
makam Troloyo dikelola dengan mengacu pada kaidah 
pelestarian sebagaimana dikemukakan dalam perundang-
undangan cagar budaya yang berlaku di negara kita.
Penutup dari buku ini, bagian keempat, diberi judul “Kini 
di Kota Majapahit”. Tulisan Sofwan Noerwidi “Mungkinkah 
Batas Kota Majapahit ada di Jakarta” membicarakan 
kemungkinan bahwa sebuah koleksi “yoni nagaraja” dari 
batu di Museum Nasional Jakarta adalah artefak penanda 
batas kota Majapahit yang mungkin berasal dari situs Badas. 
Untuk itu Noerwidi mengusulkan agar catatan atau riwayat 
penemuan koleksi Museum ini perlu ditelusuri. Memang 
sebagian besar dari koleksi Museum Nasional tidak dilengkapi 
keterangan dari situs mana ditemukannya secara tepat, dan 
temuan apa saja yang merupakan temuan-sertanya atau 
konteksnya. Pada masa lalu lokasi ditemukannya suatu artefak 
tidak dilengkapi dengan keterangan yang in situ atau ex situ. 
Buku daftar temuan arkeologi pada waktu yang lalu tidak 
dilengkapi dengan koordinatnya, kecuali hanya nama dusun 
atau desa, yang seringkali berubah atau diganti namanya. Tidak 
banyak informasi mengenai konteks temuan suatu koleksi 
yang merupakan kunci penting bagi interpretasi fungsinya. 
Penerimaan atau pembelian koleksi tidak mempertimbangkan 
perlunya data dimensi ruang, padahal 3 pilar arkeologi yang 
menjadi dasar rekonstruksi budaya adalah dimensi form, time 
dan space. Tulisan Noerwidi membuka wawasan pembaca 
mengenai informasi dan pengemasannya dari sebagian 
besar koleksi yang tidak memadai sebagai sumber ideologi 
dan sumber pengetahuan akademik bagi publik. Bahkan 
xiv Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
diusulkannya agar ada ruang tetap khusus berkenaan dengan 
Majapahit yang merupakan ikon negara dan bangsa Indonesia. 
Sebagai informasi kini pembenahan Museum Nasional sedang 
berjalan sehingga ruang pamer museum dan ruang deposit 
koleksi tidak lagi bercampur .
Tulisan T.M. Hari Lelono berjudul “Teknologi Pembuatan 
Arca Logam pada Masa Jawa Kuna” mengutarakan kemampuan 
warga Majapahit dalam hal teknologi untuk mewujudkan 
artefak logam yang bentuk dan fungsinya amat beragam, 
bahkan sebagian di antaranya memerlukan sentuhan artistik-
dinamis dan religius-normatif. Apa yang disebutkan dalam 
naskah kuno dan yang wujudnya berupa artefak di museum 
merupakan produk akhir dari pembuatannya, sedangkan 
bagaimana cara membuatnya perlu dijelaskan secara analogis 
dengan keterangan yang diperoleh dari para pengrajin logam 
di daerah Trowulan. Data etnoarkeologi yang rinci mengenai 
langkah-langkah pembuatan arca logam (perunggu) yang 
dibuat pengrajin sekarang secara turun temurun memang 
perlu dilakukan untuk memungkinkan interpretasi fungsional 
atas temuan artefak logam masa Majapahit. Hari Lelono telah 
mengantar para pembaca untuk memperkenalkan metode 
interpretasi arkeologi yang biasa dilaksanakan pada level of 
archaeological research tingkat akhir.
Sugeng Riyanto, arkeolog yang amat menggemari 
fotografi menuliskan gagasannya atas dasar pengalaman 
praktis nya dalam tulisan “Situs Kota Majapahit dalam 
Gambar”. Bagi arkeologi, mendeskripsikan beragam temuan 
dengan konteksnya melalui gambar dan foto merupakan 
satu kewajiban. Suatu deskripsi verbal harus didukung 
oleh deskripsi piktorial dalam tingkat pengumpulan data, 
pengolahan data dan penafsiran data hingga ke tahap 
pelaporan dan penerbitan. Memang ada bedanya antara 
xvMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
pengambilan foto ketika proses ekskavasi masih berjalan dan 
dipakai untuk pelaporan sementara dibandingkan dengan 
pemotretan untuk penerbitan dan publikasi umum. Sugeng 
dalam tulisannya mencontohkan foto-foto untuk publikasi 
yang membangkitkan minat artistik dan rasa kagum. Konsep 
satu gambar memiliki ribuan kata, dan konsep seeing is 
beleiving merupakan konsep yang ada di dalam hati dan 
pikiran Sugeng Riyanto. Sudah tentu bukan berarti semua 
foto dokumen ekskavasi dan prosesnya harus difoto dengan 
cara ini. Bagi peneliti foto yang wajib menunjukkan bukti 
temuannya di kotak gali misalnya, merupakan dokumen yang 
amat penting dalam proses analisis dan interpretasi, meskipun 
harus difoto dalam keadaan yang masih kotor penuh tanah, 
dikelilingi oleh papan nomor kotak gali, skala ukuran temuan, 
dan tanda panah orientasi arah mata angin. 
Artikel terakhir yaitu tulisan Lisa Ekawati “Yang Pahit 
dari Majapahit” mengutarakan secara gamblang apanya yang 
dirasakan pahit oleh banyak pihak: arkeolog peneliti, arkeolog 
pelestari, birokrat, ikatan profesi, lsm pelestari budaya, 
pemerhati sejarah kejayaan Majapahit, sejarawan, wartawan, 
dan masyakat umum. Sudah hampir 200 tahun penelitian situs-
kota Majapahit di Trowulan diperhatikan, disurvei, diteliti, 
dianalisis dan dibahas dengan berbagai pendekatan, namun 
hingga kini kita belum mampu mengintegrasikan seluruh hasil 
penelitian lapangan dan non-lapangan. Bahkan, Lisa Ekawati 
menggambarkan perusakan situs dan temuannya makin 
intensif dan ekstensif. Sebagian besar penelitian yang dilakukan 
tidak diikuti dengan pelestarian situs dan temuan dalam 
konteksnya, bahkan kegiatan pembangunan oleh pemerintah 
untuk melindungi situs pemukiman kota Majapahit telah 
merusak cagar budaya yang hendak dilindungi, dikembangkan, 
dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan ideologik, 
xvi Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
akademik dan ekonomik. Selain kerusakan yang dirancang 
pemerintah, Lisa Ekawati juga menjelaskan kerusakan oleh 
penduduk yang matapencaharian utamanya bertani dan 
membuat bata. Program penelitian yang terintegratif dengan 
program pelestarian tidak banyak diterapkan di situs ini, 
bahkan kawasan kota Majapahit yang sudah dipatok 9x11 km 
belum ditetapkan secara hukum menurut UUCB Tahun 2011. 
Para pembaca tulisan Lisa Ekawati ini dapat memperoleh 
gambaran secara komprehensif tentang apa yang terjadi di 
situs ini dan apa yang diharapkannya sebagaimana kita semua 
mendambakannya.
Akhirnya buku ini dapat dikatakan bermanfaat bagi 
pembaca yang ingin mengetahui seluk beluk penelitian dan 
pelestarian mengenai Majapahit dan situs kota Majapahit di 
Trowulan. Di dalamnya terungkap beberapa problem dalam 
khasanah penelitian Majapahit, yaitu: permasalahan ilmiah 
berupa kesenjangan antara data tertulis dan artefaktual, 
permasalahan kelembagaan berupa kurangnya koordinasi, 
kolaborasi dan integrasi hasil penelitian, dan permasalahan 
pelestarian berupa ancaman perusakan situs sebagai akibat 
kelemahan politik pelestarian di negara kita. Selamat 
membaca.
Prof. Dr. Mundardjito, arkeolog
xviiMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
PENGANTAR PENERBIT
Majapahit yang dibangun oleh R. Wijaya sekitar abad 12 
meru pakan salah satu kerajaan besar di Nusantara, kehadiran 
Majapahit di Nusantara bertahan hingga abad 14. Menjelang 
surutnya eksistensi Majapahit pada masa Raja Brawijaya V 
yang memiliki putra bernama Djin Bun karena ibunya berasal 
dari negeri Campa, babak baru sejarah akan lahir. 
Peradaban kerajaan Majapahit yang berlatar belakang 
Hindu-Buda memasuki masa senjakala dan akan digantikan 
peradaban Islam. Kelak Djin Bun dikenal sebagai Raden 
Patah yang menjadi jalan masuknya peradaban baru melalui 
penyebaran Islam di Jawa dengan mendirikan Kerajaan Demak 
yang memperoleh dukungan dari Sunan Ampel. 
Dalam masa hampir 200 tahun kehadiran Kerajaan 
Majapahit tidak sedikit meninggalkan warisan budaya seperti 
bangunan, adat istiadat, kesenian, makanan, dan lainnya. 
Para arkeolog Indonesia yang bekerja pada Balai Arkeologi 
Yogyakarta melakukan penelitian dan menuliskan dalam buku 
dengan judul Majapahit Batas kota dan Jejak Kejayaan di Luar 
Kota yang diterbitkan oleh Kepel Press dengan dukungan Balai 
Arkeologi Yogyakarta. Secara keseluruhan dalam buku ini ada 
15 artikel, tertulis dalam xx + 312 halaman.
xviii Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Sebuah tantangan yang sungguh tidak mudah bagi para 
arkeolog menghasilkan karya berkualitas bila hambatan men-
dasar seperti ketersediaan dana dan waktu masih membayangi. 
Terlebih warga yang tinggal di sekitar situs maupun 
warga luas perlu disadarkan agar menghargai berbagai 
peninggalan dengan tidak melakukan perusakan atau tindak 
tidak terpuji lainnya.
Yogyakarta, November 2014
Penerbit Kepel Press
xixMajapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
DAFTAR ISI
Kata Pengantar  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  v
Pengantar Penerbit  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  xvii
Daftar Isi  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  xix
PROLOG
Batas Kota Majapahit
chucky Rangkuti  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  3
1. Orang-Orang Asing di Majapahit
 Hery Priswanto  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  21
2. Dukungan Faktor Alam 
 Alifah  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  39
3. Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
 Siswanto  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  57
4. Desa-Desa Megalitik di Negeri Majapahit
 Priyatno Hadi S.  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  85
5. Bukti Kejayaan Majapahit di Blitar
 Baskoro Daru Tjahjono  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  101
6. Candi di Lereng Bromo
 T.M. Rita Istari  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  127
xx Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
7. Candi Tegalrandu : Bukti Tinggalan Majapahit 
di Lumajang
 H. Gunadi Kasnowihardjo  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  145
8. Benteng Biting
 Novida Abbas  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  163
9. Fenomena Islam Pada Masa Kebesaran Kerajaan 
Majapahit
 Muhammad Chawari  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  175
10. Komunitas Muslim di Tengah Kota Majapahit
 Masyhudi  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  193
11. Mungkinkah Batas Kota Majapahit Ada di Jakarta ?
 Sofwan Noerwidi  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  219
12. Teknologi Pembuatan Arca Logam 
pada Masa Jawa Kuna
 T.M. Hari Lelono  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  243
13. Situs Kota Majapahit dalam Gambar
 Sugeng Riyanto  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  269
EPILOG
Pahitnya buah Maja
Lisa Ekawati  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  295
 PROLOG

3Batas Kota Majapahit
Batas Kota Majapahit
chucky Rangkuti
Pendahuluan
P ada masa kini menelusuri batas kota bukan pekerjaan yang mudah. Dilihat dari tampilan fisik, sulit meng­identifikasi batas yang tegas antara kota dan desa, 
terutama di daerah pinggiran kota. Tampilan kekotaan banyak 
dijumpai pada desa­desa di pinggiran kota. Bangunan­
bangunan sarana dan prasarana, arsitektur bangunan tempat 
tinggal dan bentuk pemakaian lahan lainnya yang terdapat 
di daerah pinggiran kota menunjukkan ciri­ciri kekotaan 
sekaligus ciri­ciri kedesaan.
Apalagi melacak batas bekas kota Majapahit yang kini 
tinggal puing, yaitu kawasan situs Trowulan yang berada 
di wilayah Mojokerto dan Jombang di Jawa Timur. Tak satu 
pun sumber sejarah yang memberi informasi tentang lokasi 
dan batas­batas kota Majapahit di situs Trowulan, baik secara 
geografis, budaya, maupun batas wilayah secara politis­
administratif. 
4 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Walaupun demikian, para arkeolog senantiasa berusaha 
menelusuri bekas kota Majapahit di Kawasan Trowulan 
untuk mengetahui luas dan batas­batasnya di lapangan. 
Para arkeolog memakai bukti­bukti arkeologis yang 
terdapat di permukaan tanah, dan di bawah permukaan tanah 
sebagai petunjuk. Para arkeolog menganggap seluruh situs 
arkeologis yang ada (apapun bentuk, ukuran dan kualitasnya) 
di kawasan Trowulan sangat penting karena menunjukkan 
bentuk pemakaian lahan (landuse) masa lalu. Karakteristik 
situs menjadi acuan dalam menafsirkan ciri­ciri perkotaan dan 
ciri­ciri pedesaan pada permukiman masa Hindu­Buddha di 
kawasan Trowulan.
usaha mengkaji ciri­ciri perkotaan dan pedesaan dari 
aspek bentuk pemakaian lahan masa lalu di kawasan 
situs Trowulan mengadopsi konsep­konsep dari geografi. 
pemakaian lahan merupakan salah satu cara dalam geografi 
untuk mengidentifikasi apakah sebuah wilayah merupakan 
sebuah pusat kota (city), daerah pinggiran kota (rural­urban 
fringe) atau daerah pedesaan (rural fringe). Daerah pinggiran 
kota yaitu zona pemakaian lahan campuran yang terdapat 
di sekeliling daerah perkotaan. Jalur daerah ini merupakan 
jalur peralihan antara tampilan perkotaan dan pedesaan. 
Oleh karena itu kawasan ini memiliki ciri­ciri baik perkotaan 
maupun pedesaan (Yunus 1987). 
Ditinjau dari segi pemakaian lahan atau tampilan fisik, 
kota dapat diartikan sebagai suatu daerah tertentu dengan 
karakteristik tata guna lahan non­agraris, sebagian besar 
tertutup oleh bangunan dan secara umum “building coverage” 
lebih besar dibandingkan “vegetation coverage”; pola jaringan jalan 
yang kompleks; dalam satu permukiman yang kompleks dan 
relatif lebih besar dengan daerah sekitarnya (Yunus 1987). 
5Batas Kota Majapahit
Hal ini yang membedakannya dengan daerah pedesaan yang 
sebagian besar pemakaian lahannya untuk pertanian.
Berdasarkan hasil penelitian di kawasan Trowulan yang 
dilakukan sejak Maclaine Pont (1926) sampai sekarang, diper­
oleh gambaran tentang bentuk­bentuk pemakaian lahan masa 
lalu, antara lain kanal­kanal, waduk­waduk, kolam­kolam, 
dan sumur­sumur. Di samping itu ada bangunan­bangunan 
tempat tinggal, candi­candi, tempat­tempat industri logam 
dan tembikar, tempat pembuangan sampah makanan, dan 
lahan­lahan terbuka di antara situs­situs yang ada. Sepintas 
dihasilkan bahwa kawasan Trowulan adalah sebuah daerah 
perkotaan masa Majapahit yang meliputi daerah pusat kota, 
dan daerah pinggiran kota.
Nãgarakretãgama dan Situs Trowulan
Kakawin Ngãrakretãgama (khususnya pupuh VIII­XII) 
meru pakan sumber tertulis yang penting untuk mengetahui 
gambaran kota Majapahit sekitar tahun 1350. Kota pada 
masa itu bukanlah kota dalam arti kota modern. Pigeaud 
(1962), ahli sejarah bangsa Belanda, dalam kajiannya terhadap 
Ngãrakretãgama yang ditulis oleh Mpu Prapanca itu menyim­
pulkan bahwa Majapahit bukan kota yang dikelilingi tembok, 
melainkan sebuah kompleks permukiman besar yang meliputi 
sejumlah kompleks yang lebih kecil, satu sama lain dipisahkan 
oleh lapangan terbuka. Tanah­tanah lapang dipakai 
untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat­tempat 
pertemuan. 
Uraian tentang kota Majapahit dalam Ngãrakretãgama 
itu telah dicari lokasinya di lapangan. Maclaine Pont (1924­
1926) merupakan salah satu peneliti yang menghubungkan 
6 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
gambaran kota Majapahit yang tercatat dalam Ngãrakretãgama 
dengan peninggalan situs arkeologi di daerah Trowulan, yang 
terletak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa 
Timur. 
Dengan kitab di tangan kiri dan cetok di tangan kanan, ia 
menggali Situs Trowulan. Hasilnya adalah sebuah sketsa tata 
kota Majapahit, dipadukan dengan peninggalan­peninggalan 
bangunan yang terdapat di Situs Trowulan. Bentang kota 
Majapahit digambarkannya dalam bentuk jaringan jalan dan 
tembok keliling yang membentuk blok­blok empat persegi. 
Secara hipotetis Maclaine Pont menempatkan keraton 
raja Majapahit di sebelah timur Kolam Segaran, yaitu di 
sekitar lokasi sisa­sisa bangunan Candi Menak Jinggo. Di 
sebelah selatan istana terdapat tempat kediaman pemimpin 
keagamaan. Sebelah timurlaut dan tenggara istana terdapat 
tempat kediaman para pendeta Brahma dan tempat pemandian. 
Sampai sekarang hipotesis Maclaine Pont masih menjadi 
perdebatan para ahli.
usaha untuk mengetahui batas­batas kawasan Trowulan 
telah dilakukan dengan cara survey sistematis pada tahun 
1991­1993 oleh tim Indonesian Field School of Archaeology (IFSA). 
Penelitian IFSA bertitik tolak dari beberapa asumsi. Asumsi 
pertama, luas ruang kota secara horizontal dicerminkan 
oleh kekerapan (frequency) dan kepadatan (density) tinggalan 
arkeologis di permukaan. Gradasi kekerapan atau bahkan 
tidak adanya tinggalan arkeologi di suatu areal, pada radius 
tertentu dari pusat kota menandai keberadaan batas atau 
tepi kota. Asumsi kedua, pola pemukiman dan jenis­jenis 
pengelompokan warga dicerminkan oleh variabilitas, 
kekerapan, serta kerapatan dan distribusi tinggalan arkeologis 
di permukaan. Akumulasi tinggalan arkeologis secara 
7Batas Kota Majapahit
mencolok pada areal­areal tertentu sangat potensial untuk 
menandai kemungkinan adanya pengelompokan warga 
kuna pemukim Situs Trowulan (Faisaliskandiar, 1995).
Survei sistematis dilakukan dengan menerapkan strategi 
pencuplikan jalur (systematic transect sampling). Wilayah 
ditentukan seluas 9 X 11 km yang memanjang utara­selatan. 
Daerah yang disurvei adalah 11 jalur yang telah ditetapkan, 
masing­masing jalur berukuran 0,1 km X 9 km. Berbagai jenis 
keramik dan tembikar yang berada dalam jalur dikumpulkan 
untuk dianalisis lebih lanjut.
Dari hasil survei disimpulkan bahwa ternyata batas­
batas situs sukar dipastikan. Rupanya situs Trowulan tidak 
dapat dipisahkan secara mutlak dari tanah di sekitarnya, 
sebaliknya peralihan dari pusat situs kepada tapak yang 
berada di luar situs tidak dapat diperincikan. Nampak pola 
permukiman Situs Trowulan memang tidak terdiri dari suatu 
kelompok bangunan yang utuh, melainkan sejumlah pusat 
yang dipisahkan satu dari yang lain oleh tanah lapang (Miksic 
1992). Selain itu dari kepadatan dan kekerapan temuan 
keramik terlihat adanya pemusatan di sekitar Kolam Segaran. 
Semakin jauh dari lokasi itu temuannya cenderung menipis. 
Artefak keramik di sekitar Kolam Segaran cenderung relatif 
tua. Sementara itu semakin jauh dari Kolam Segaran ke arah 
barat, artefak keramik cenderung berasal dari period yang 
lebih muda (Faisaliskandiar, 1995).
Bangunan Pura Hindu di Pinggir Kota
Di daerah pinggiran kawasan Trowulan, ditemukan tiga 
kompleks bangunan pemujaan bersifat Hindu (Siwa), yang 
letaknya mengikuti arah mata angin. Kompleks bangunan yang 
8 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
terletak di bagian tenggara Trowulan, adalah Situs Lebakjabung 
(Kecamatan Jatirejo, Mojokerto), di bagian baratdaya dijumpai 
Situs Sedah atau Situs Yoni Gambar (Kecamatan Mojowarno, 
Jombang), dan di bagian baratlaut terdapat Situs Klinterejo 
(Kecamatan Sooko, Mojokerto). Ketiga kompleks bangunan 
ini masing­masing memiliki sebuah yoni dengan hiasan 
yang raya.
Penggalian arkeologis di Situs Klinterejo dan Situs Lebak­
jabung memberikan gambaran tentang tata ruang bangunan 
keagamaan itu. Pada prinsipnya, kompleks bangunan itu 
memanjang barat­timur. Luas kompleks bangunan di Situs 
Lebakjabung diperkirakan sekitar 250 X 125 meter, dan 
kompleks bangunan di Situs Klinterejo diperkirakan luasnya 
300 X 150 meter.
Tampaknya pembagian ruang berdasarkan persebaran 
sisa­sisa bangunan kuna itu, mirip dengan pembagian halaman 
pada pura­pura di Bali. Bekas kompleks bangunan pura 
Majapahit ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian paling barat 
yang memiliki pintu masuk, bagian tengah, dan terakhir bagian 
timur, yang merupakan bagian yang paling sakral. Pada bagian 
paling barat berdiri bangunan­bangunan semacam pendopo 
atau balai dengan konstruksi tiang kayu yang disangga oleh 
umpak­umpak batu berukuran besar. Umpak­umpak ini berdiri 
di atas batur tinggi yang terbuat dari susunan bata. Pada bagian 
timur pura ditempatkan sebuah yoni. Artefak keagamaan itu 
biasanya berpasangan dengan lingga, yang melambangkan 
Siwa (lingga) dan pasangannya (yoni). 
Tata letak bangunan semacam itu mengingatkan kita pada 
kompleks Candi Panataran di Blitar. Kompleks candi kerajaan 
Majapahit itu memiliki halaman yang terbagi atas tiga bagian 
yang masing­masing dihubungkan oleh gapura masuk. Bagian 
9Batas Kota Majapahit
yang pertama terletak paling barat, sedangkan bangunan 
candi utama terletak paling timur. Di halaman bagian pertama 
berdiri tiga buah bangunan batur dan sebuah bangunan candi 
yang disebut Candi Berangka Tahun (1291 Saka atau 1369 
Masehi). Pada bagian tengah terdiri dari bangunan Candi 
Naga dan bangunan­banguan lainnya, sedangkan pada bagian 
belakang atau paling timur adalah bangunan utama disertai 
kolam, dan bangunan­bangunan lainnya.
Tiga buah yoni yang terdapat pada tiga bekas kompleks 
pura Majapahit di pinggiran kawasan Trowulan, digarap 
sangat indah dengan hiasan yang raya. Menarik perhatian, 
ketiga yoni itu memiliki pahatan kepala naga yang mengguna­
kan mahkota, ditempatkan di bawah cerat. Aspek penggarapan 
yoni menunjukkan adanya pengaruh pusat kota. Pendirian 
tiga kompleks bangunan keagamaan di pinggiran kota diper­
kirakan merupakanbagian dari tata ruang kota yang telah 
direncanakan oleh kalangan elit di pusat. 
Yoni dari Lebak Jabung yang ditemukan pada tahun 1989, 
sekarang menjadi koleksi Museum Trowulan. Yoni berdenah 
segi delapan itu terbuat dari bahan batu andesit berukuran 
tinggi 77 cm dan garis tengah 81 cm. Yoni dari Sedah merupakan 
yoni terbesar dengan ukuran garis tengah badan 204 cm dan 
tinggi 133 cm. Hal yang menarik, yoni ini juga memiliki denah 
segi delapan, sehingga membuka spekulasi tentang makna 
denah yoni naga itu. Mengapa dua kompleks pura di bagian 
selatan kota Majapahit, masing­masing memiliki yoni nagaraja 
dengan denah segi delapan?
Umumnya yoni berdenah segi empat, seperti yoni dari 
Situs Klinterejo, bekas pura Majapahit yang terletak di bagian 
timurlaut kota. Yoni di Situs Klinterejo ini berukuran 
tinggi 150 cm dan lebar 189 X 183 cm. Pada salah satu sisi badan 
10 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
yoni Situs Klinterejo terpahat angka tahun dalam tulisan Jawa 
Kuna, yaitu tahun Saka 1294 (1372 Masehi). 
Mencari Pura Keempat
GPS (Global Positioning System) dipakai untuk merekam 
koordinat, arah dan jarak dari ketiga kompleks bangunan 
pura. Dengan menarik garis dari Situs Lebak Jabung ke arah 
Situs Klinterejo dan Situs Sedah, diperoleh satu garis ke utara 
dan satu garis ke barat. Dari Lebak Jabung ke Situs Klinterejo, 
berjarak sekitar 11 km ke arah utara dengan kemiringan 10 
derajat, sedangkan dari Lebak Jabung ke Situs Sedah berjarak 
sekitar 9 km ke arah barat dengan kemiringan 5 derajat. 
Berdasarkan pengukuran jarak dan arah ketiga situs satu sama 
lain, lokasi pura di bagian barat laut kota Majapahit dapat dicari 
di sekitar Tugu dan Badas, di wilayah Kecamatan Sumobito, 
Jombang. Lokasi itu dekat dengan sudetan Sungai Konto yang 
berhubungan dengan Sungai Watudakon lalu bertemu dengan 
Sungai Brantas di sekitar Kota Mojokerto.
usaha pencarian sisa pura dan yoni dengan hiasan naga 
bermahkota ke seluruh pelosok Desa Badas dan Tugu tidak 
memperoleh hasil. Namun demikian sebuah yoni ditemukan 
di tepi parit dekat jalan kereta api yang masuk wilayah Dusun 
Balongrejo di Desa Badas. Yoni berdenah segi empat ini ter­
benam dalam tanah. Bentuk, ukuran, dan kualitas pengga­
rapannya tidak sebanding dengan ketiga yoni sebelumnya. 
Yoni di Desa Badas berukuran kecil (tinggi 36 cm dan lebar 42 
cm), polos dan tak ada hiasan nagaraja di bawah cerat. Yoni 
ini telah beberapa kali pindah tempat dan akhirnya hilang 
ketika disurvei kembali oleh tim Balai Arkeologi Yogyakarta 
pada tahun 2005. Selain yoni dijumpai pula beberapa batu candi 
11Batas Kota Majapahit
di Desa Badas yang menunjukkan pernah berdiri bangunan 
suci di desa ini.
Peninggalan yang masih berdiri tegak adalah dua buah 
tugu batu di perempatan jalan Dusun Tugu, termasuk wilayah 
Desa Sebani, Kecamatan Sumobito, yang terdapat di utara 
Desa Badas. Kedua tugu batu itu seolah­olah merupakan tanda 
masuk ke wilayah Tugu­Badas jika orang datang dengan 
perahu dari Sungai Brantas menyusur Sungai Watudakon di 
bagian utara.
Situs Tugu yang terletak di tepi sudetan Sungai Konto 
memliki karakteristik situs yang bersifat profan. Di sekitar situs 
ditemukan sejumlah lumpang batu. Penggalian arkeologis 
meng hasilkan artefak­artefak keseharian dari keramik, 
tembikar, serta tulang­tulang hewan sebagai sisa makanan. 
Sebuah artefak tanahliat yang berbentuk menyerupai pemberat 
timbangan yang telah ditemukan dalam penggalian, menguat­
kan cerita rakyat bahwa daerah itu dulunya adalah pasar kuna 
dari masa Majapahit. 
Di sebelah utara Situs Tugu­Badas yang dipisahkan oleh 
sudetan Sungai Konto ditemukan tiga tugu batu dan sebuah 
lingga semu di wilayah Desa Mentoro. Tugu batu bentuknya 
sama dengan patok batu di Situs Tugu­Badas, yaitu bentuk 
denah segi empat di bagian bawah, sedangkan di bagian atas 
segi delapan. Lingga semu bentuknya segi empat di bagian 
bawah, sedangkan bagian atas bulat
Data yang diperoleh melalui survey dan penggalian 
arkeologis di Situs Mentoro pada tahun 2005 menunjukkan 
adanya permukiman masa Majapahit di tepi sungai yang 
sudah hilang. Sungai itu berhubungan dengan Sungai Brantas 
di sebelah utara. Situs Tugu­Badas satu garis utara­selatan 
dengan Situs Mentoro sebagai permukiman di tepi sungai. 
12 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Diperkirakan tempat­tempat itu sebagai pelabuhan sungai 
masa Majapahit.
Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 Masehi, 
diterbitkan oleh Raja Hayam Wuruk, berisi tentang desa­
desa penyeberangan, dan aturan­aturan mengenai aktivitas 
penyeberangan. Dalam prasasti itu disebutkan nama­nama 
desa penyeberangan yang juga berfungsi sebagai pelabuhan 
sungai, antara lain Canggu, Nusa, Temon, Mabuwur, Godhong, 
Rumasan, Randu Gowok, Wahas, Nagara, Sarba. 
Canggu sendiri sudah diketahui lokasinya yaitu di sebelah 
timurlaut Kota Mojokerto sekarang, letaknya di tepi Sungai 
Brantas. Situs Tugu, Badas dan Mentoro yang terletak dekat 
sungai yang berhubungan dengan Brantas, tidak mustahil juga 
merupakan bekas pelabuhan sungai Majapahit, pelabuhan 
yang terdekat dengan Kota Majapahit. 
Situs Candi Kedaton: Pura Pusat?
Dengan menarik dua garis diagonal dari empat lokasi 
yaitu Situs Sedah (Yoni Gambar), Lebakjabung, Klinterejo 
dan Tugu, maka perpotongan dua garis diagonal terdapat di 
wilayah Desa Pesantren, Kecamatan Mojoagung. Tepat pada 
titik perpotongan yang bersifat hipotetis itu dijumpai sebidang 
tanah di tengah­tengah sawah yang berawa. 
Dalam foto udara lokasi titik hipotesis itu terletak di ujung 
sebuah bekas kanal kuno yang terletak di bagian barat Situs 
Trowulan. Pada sebidang tanah itu dijumpai peninggalan 
arkeologis berupa sebuah balok batu candi dan sebuah fragmen 
lumpang batu. 
Sebagai titik pusat yang dianggap penting, peninggalan­
peninggalan yang ada di lokasi itu tidak mewakili gambaran 
13Batas Kota Majapahit
tentang kompleks bangunan keagamaan di pusat kota 
Majapahit. Oleh karena itu dicari situs terdekat dengan titik 
pusat itu yang menggambarkan adanya kompleks keagamaan 
yang sejenis dengan sisa bangunan di Situs Lebakjabung dan 
Klinterejo. Situs yang paling dekat dengan titik pusat itu 
adalah kompleks Candi Kedaton di Sentonorejo, letaknya 1,7 
km di sebelah timur titik hipotetis. 
Lokasi kompleks Situs Candi Kedaton dikelilingi oleh 
kanal­kanal kuna yang berpotongan, membentuk sebidang 
tanah berdenah segi empat dengan luas sekitar 700 meter X 
500 m yang memanjang utara­selatan. Pada lahan seluas itu 
terdapat peninggalan­peninggalan arkeologis yang padat 
dan beraneka ragam. Selain candi Kedaton, di areal ini 
terdapat deretan umpak­umpak batu berukuran besar, 
struktur­struktur bangunan bata, lantai bata segi enam, lantai 
bata segi empat, sumur­sumur kuna. Serangkaian penggalian 
arkeologis di tempat ini banyak menemukan artefak­artefak 
rumah tangga dari tembikar dan keramik, serta fragmen 
logam, mata uang logam Cina, serta sisa­sisa tulang dan gigi 
hewan. 
Candi Kedaton, dikenal juga dengan sebutan Candi 
Sumurupas, berupa bagian kaki sebuah bangunan yang 
memiliki denah segi empat dengan ukuran 12,60 X 9,50 meter 
dan tingginya 1,58 meter dan menghadap ke barat dengan 
azimuth 279 derajat. Di depan bangunan ini terdapat 
sebuah sumur kuna berdenah bujursangkar, dibuat dari 
susunan bata. Kira­kira 80 meter di sebelah barat Candi Kedaton 
terdapat deretan 16 umpak batu besar dalam konfigurasi tujuh­
enam yang berorientasi timur­barat. Di antara lokasi umpak­
umpak dan Candi Kedaton terdapat sisa­sisa bangunan dari 
bata yang belum diketahui bentuk dan fungsinya. 
14 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Penggalian arkeologis pada lokasi umpak­umpak di 
Sentonorejo itu menghasilkan informasi bahwa umpak­umpak 
ini berdiri di atas pondasi berupa susunan dan tumpukan 
bata yang dikeraskan. Seperti halnya di Lebakjabung dan 
Klinterejo, tampaknya umpak­umpak besar itu diletakkan di 
atas lantai batur yang disusun dari bata.
Candi Kedaton tampaknya berkaitan dengan bangunan 
batur berumpak batu yang terdapat di sebelah barat. Bila diurut 
dari barat ke timur, kelompok Candi Kedaton terdiri dari 
bangunan batur berumpak batu besar, bangunan­bangunan 
bata di bagian tengah, dan Candi Kedaton. Kelompok ini 
membentuk pola dua atau tiga halaman dari barat ke timur. 
Bukanlah hal yang kebetulan, bila pola ini memiliki kemiripan 
dengan pola persebaran bangunan di Situs Lebakjabung dan 
Klinterejo. Persamaannya adalah bangunan­bangunan ber­
umpak terdapat di bagian barat, sedangkan bangunan utama 
ada di bagian timur. 
Dalam ROD 1915 tercatat adanya benda­benda keagama­
an yang ditemukan di sekitar Candi Kedaton dan Sentonorejo, 
yang disimpan di Museum Jakarta dan Museum Mojokerto 
(sekarang Museum Trowulan). Artefak­artefak yang ditemu­
kan antara lain sebuah genta, dua buah arca Siwa, sebuah 
Mahakala, Bhairawa, sebuah arca Parwati, sebuah arca 
Buddha, sebuah kepala kala, sebuah pahatan kepala naga, dan 
dua buah batu candi berangka tahun Saka (1297 dan 1372). 
Hal ini mendukung fungsi kompleks Candi Kedaton sebagai 
bangunan suci. 
Pada jarak sekitar 100 meter di sebelah selatan Candi 
Kedaton terdapat peninggalan arkeologis yang dikenal dengan 
situs Lantai Segi Enam. Situs ini telah digali pada tahun 1982 
dengan luas 12,50 meter X 12, 50 meter. Lantai bata segi enam 
15Batas Kota Majapahit
ini ditemukan bersama­sama dengan lantai bata segi empat 
seluas 200 cm X 80 cm. 
Penggalian arkeologis di sebelah barat Situs Lantai Segi 
Enam yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Arkeologi 
Nasional, Jakarta, juga menemukan lantai yang serupa. Lokasi 
penggalian berjarak sekitar 70 meter dari situs lantai segi enam, 
dan sekitar 100 meter di selatan situs Batu Umpak. Selain 
lantai bata segi enam, juga ditemukan lantai bata segi empat, 
sumur kuna dan struktur­struktur bata lainnya. Tim penelitian 
menyimpulkan bahwa situs ini merupakan situs hunian kaum 
bangsawan yang dikelilingi oleh pagar tembok bata.
Tampaknya kompleks bangunan “pura” Candi Kedaton 
berada di lingkungan hunian kaum elit Majapahit. Apakah 
bangunan perumahan ini bagian dari kompleks keraton 
Majapahit?
Batas Kota
Secara keruangan, bekas kota Majapahit yang tidak 
dikelilingi tembok itu terdiri dari daerah bagian dalam kota 
(inner city), dan daerah pinggiran kota (rural-urban fringe). 
Daerah bagian dalam kota dipastikan terdapat pada lahan­
lahan yang dikelilingi oleh kanal­kanal kuna yang berpotongan 
tegak lurus di situs Trowulan, meliputi situs­situs di sekitar 
Kemasan, Segaran,Nglinguk, Pendopo Agung, Kedaton 
dan Sentonorejo. Penggalian arkeologis di daerah ini 
menunjukkan adanya kelompok­kelompok permukiman elit 
dalam suatu kompleks bangunan­bangunan yang besar dan 
luas. Karakteristik permukiman ini dicirikan oleh adanya 
perlengkapan rumah tangga yang beragam (variabilitas 
16 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
bentuk dan bahan) dalam jumlah besar, memiliki kepadatan, 
dan banyak artefak berkualitas tinggi.
Daerah pinggiran kota merupakan suatu zona yang 
memiliki karakteristik campuran kota­desa yang terdapat di 
sekeliling daerah perkotaan. Daerah ini berada di luar lahan 
yang dikelilingi oleh kanal­kanal. Persebaran situs di zona ini 
sampai ke dataran aluvial Brantas (Kecamatan Sumobito di 
Jombang) di baratlaut, dan puncak kipas alluvial di tenggara 
(Kecamatan Jatirejo dan Kecamatan Gondang di Mojokerto). 
Daerah pinggiran kota Majapahit menempati daerah 
pertanian yang telah mapan di Jawa Timur sebelum masa 
Majapahit. Pada masa Mpu Sindok abad ke­10 Masehi telah 
dibangun sistem irigasi di daerah hulu Sungai Brangkal. 
Waduk­waduk kuno dan bendungan kuno banyak dijumpai 
di sebelah tenggara Trowulan.
Berdasarkan jarak dan keletakan empat situs (Sedah, 
Lebakjabung, Klinterejo dan Badas­Tugu) yang mengikuti 
arah mata angin, diperkirakan luas Kota Majapahit, yaitu 11 
km x 9 km, memanjang utara­selatan. Penempatan pura­pura 
di pinggiran kota berfungsi pula sebagai tanda batas kota 
Majapahit. Di bagian baratlaut kota, dijumpai sisa bangunan 
candi dan situs­situs permukiman di Badas, Tugu dan 
Mentoro. Diperkirakan tempat­tempat itu merupakan desa 
penye berangan dan pelabuhan sungai masa Majapahit.
Sumber tertulis berupa naskah yang bernama Kidung 
Wargasari menggambarkan rute dari Wewetih sampai ke 
Majapahit melalui Jirah, Bletik, Kamal Pandak, dan Sagada. 
Menurut Hadi Sidomulyo (2005) rute ini dapat diikuti dari 
barat ke timur melalui Kabupaten Jombang. Ia mengidentifikasi 
Sagada dapat disamakan dengan Segodo(rejo) yang terdapat 
di Kecamatan Sumobito jaraknya sekitar satu kilometer di 
17Batas Kota Majapahit
sebelah timur Situs Tugu­Badas. Di Desa Segodorejo ditemu­
kan lumping batu dan fragmen­fragmen bata kuna. Dikaitkan 
dengan hasil kajian arkeologis di Kecamatan Sumobito diper­
kirakan daerah di baratlaut kawasan Trowulan ini 
merupakan jalan masuk ke kota Majapahit melalui jalur 
transportasi sungai dan darat.
KEpUstaKaaN
Arifin, Karina, 1983. “Waduk dan Kanal di Pusat Kerajaan 
Majapahit Trowulan­Jawa Timur”, Skripsi S­1 Fakultas 
Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.
Faizaliskandiar, Mindra, 1995. “Sebaran Tembikar di Trowulan: 
Hasil Survei IFSA 1991­1993” dalam Berkala Arkeologi 
Edisi Khusus :Manusia dalam Ruang: Studi Kawasan 
dalam Arkeologi, Yogyakarta: Balai Arkeologi. Hlm...
Lombard, Denys, 2000. Nusa Jawa: Silang Budaya Warisan 
Kerajaan­Kerajaan Konsentris, Jilid IV. Jakarta:Gramedia.
Miksic, John N., 1992. “Survey Permukaan Trowulan dalam 
Rangka IFSA, Juni 1991”, makalah dalam Pertemuan 
Ilmiah Arkeologi VI, di Batu, Malang26­30 Juli 1992. 
Pigeaud, Th. G. Th., 1960. Java in the Fourtenth Century: A Study 
in Cultural History. The Naga­ rakretagama by Rakawi 
Prapanca of Majapahit 1365 AD. Vol. 1. 
______________ 1962. Java in the Fourtenth Century: A Study 
in Cultural History. The Ngãrakretãgama by Rakawi 
Prapanca of Majapahit 1365 AD. Vol. IV. 
18 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Priyor, Robin, 1970. “Defining The Rural­Urban Fringe”, in Larry 
S. B. (ed.) Internal Structure of The City: Readings on 
Space and Environment. New York: Oxford University 
Press.
Rangkuti, chucky, 2005. “Jalan Masuk Kota Majapahit, Kajian 
Situs­Situs Arkeologi di Kecamatan Sumobito, Jombang, 
Jawa Timur” dalam Berkala Arkeologi Tahun XXV Edisi 
November 2005. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Hlm...
 ______________ 2008. “Daerah Pinggiran Kota Majapahit” dalam 
Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi Ke­IX, 
Kediri, 23­28 Juli 2002. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi 
Indonesia. Hlm...
Rangkuti, chucky dan Baskoro Daru Tjahjono, 2001. “Arsitektur 
Bangunan Majapahit Situs Lebak Jabung, Kecamatan 
Jatirejo, Kabupaten Mojokerto”, dalam Laporan Penelitian 
Arkeologi, Yogyakarta: Balai Arkeologi.
Robson, Stuart, 1995. Desawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu 
Prapanca. Leiden: KITLV Press.
Sidomulyo, Hadi, 2005. “Dimana Letak Dharma Sang Rajapatni 
di Kamal Pandak?” makalah dalam Pertemuan Ilmiah 
Arkeologi X, Yogyakarta, 26­30 September 2005.
Slametmulyana, 1979. Ngãrakretãgama dan Tafsir Sejarahnya. 
Jakarta: Bhratara Karyaaksara. 
Soeroso MP, 1983. “Struktur Batu Bata Dari Trowulan (Suatu 
Tinjauan Sebab­Sebab Keruntuhan Majapahit)”, makalah 
dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, Ciloto 23­28 Mei 
1983. 
Yunus, Hadi Sabari, 1987. “Permasalahan Daerah “Urban 
Fringe” Dan Alternatif Pemecahannya,” Paper Dalam 
19Batas Kota Majapahit
Kursus Perencanaan Pembangungan Regional Untuk 
Penyusunan Kerangka Pembangunan Strategis (Kps). 
Yogyakarta: Fak. Geografi Ugm.

21Orang-Orang Asing  di Majapahit
1
oraNg-oraNg asiNg  
di Majapahit
Hery Priswanto
Pendahuluan
M ajapahit pada abad XII ­ XV Masehi merupakan sebuah negara adidaya dan adikuasa di kawasan Asia Tenggara yang memiliki daya tarik 
ter sendiri bagi orang­orang asing untuk mengunjunginya. 
Pengertian orang asing disini adalah orang yang datang dari 
daerah lain yang memiliki raut wajah yang berbeda dengan 
raut wajah orang Majapahit. Kedatangan orang­orang asing 
ini tentunya memiliki berbagai macam tujuan antara 
lain untuk berdagang. 
Data arkeologi seperti prasasti, naskah kuna, dan berita 
asing memberikan informasi yang banyak mengenai keber­
adaan beberapa orang asing di Majapahit. Selain data 
arkeologi ini di atas data arkeologi berupa arca batu 
22 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
maupun terakota juga dijumpai adanya penggambaran orang 
asing di Majapahit. Sumber tertulis yang paling awal pada 
masa Majapahit yang menyinggung mengenai keberadaan 
orang­orang asing adalah Prasasti Balawi (1305 M.). Prasasti 
Balawi atau Prasasti Kertarajasa merupakan prasasti koleksi 
Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris No. 80 
a ­f berasal dari daerah Trowulan, Jawa Timur. Prasasti ini 
ditulis memakai huruf dan bahasa Jawa Kuna. Pada 
prasasti ini disebutkan adanya orang asing dari Keling, Arya, 
Singhala, Karnnataka, Bahlara, Cina, Campa, Mandikira, 
Rĕmin, Khmer, Bĕbĕl, dan Māmbaŋ. Selain Prasasti Balawi, 
pada Kakawin Nāgarakrtāgama (1365 M.) digambarkan 
kegiatan perdagangan yang melibatkan para pedagang asing, 
dan suasana pasar ketika para pedagang asing melakukan 
transaksi dagang. (Wiryomartono, 1992 :271). Selain itu, dalam 
Kakawin Nāgarakrtāgama pupuh XV/1 juga disebutkan per­
sahabatan antara Majapahit dengan negara­negara asing yaitu: 
“...nakan/lwir ning deçantara kacaya de çri narapati, tuhun/tang 
syangkayodyapura kimutang dharmmanagari marutma mwang 
ring rajapura nuniweh sinhanagari, ri campa kambojanyat i yamana 
mitreka satata...” (Pigeuad, 1962: 12). Dalam pupuh XV/1 ini 
disebutkan negara­negara asing dari Syangkayodyapura, 
Dharmmanagari, Marutma, Singhanagara, Campa, Kamboja, 
dan Yamana.
Majapahit juga mengikat hubungan persahabatan dengan 
Jambudwipa, Kamboja Cina, Yamana, Campa, Karnnataka, 
Goda, dan Siam. Para tamu asing yang mengarungi lautan ber­
sama para pedagang, resi, dan pendeta merasa puas dan senang 
menetap di Majapahit (Zoetmulder, 1985: 183), sebagai mana 
digambarkan dalam pupuh LXXXIII/4: yaitu “...hetunyanantara 
sarwwajana tka sakenanyadeça prakirnna nang jambudwipa khamboja 
23Orang-Orang Asing di Majapahit 
cina yamana len/cempa kharnnatakadi, goda mwang syangka tang 
sankanika makahawan/putra milwina wanika sök, bhiksu mwang 
wipra mukyan hana tka sinuman/bhoga trstan pananti...” (Pigeaud, 
1962: 64) yang artinya kurang lebih yaitu “...itulah alasannya 
mengapa tanpa henti semua orang datang dari negara lain tak 
terkecuali dari Jambudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana 
(Annam), serta Campa, Karnnataka (India Selatan), Goda 
(Gauri), dan Syangka (Siam) yang berangkat dari tempat 
asalnya dengan naik kapal bersama­sama dengan pedagang. 
Kaum bhiksu dan wipra juga berkunjung ke sini (Majapahit). 
Pada saat kedatangannya, mereka disambut dengan baik dan 
hangat...”
Selain berhubungan dagang dan menjalin persahabatan 
dengan negara­negara asing, sejarah berdirinya Majapahit juga 
tidak lepas dari keberadaan orang­orang Tatar. Tujuan orang­
orang Tartar datang ke Pulau Jawa adalah untuk menghukum 
Raja Jawa yaitu Kertanegara, yang telah melukai wajah 
utusan Kaisar Kublai Khan. Pada Kitab Pararaton disebutkan 
cerita Raden Wijaya yang bersekutu dengan tentara Tartar 
untuk melawan Jayakatwang di Daha. Berikut kutipan Kitab 
Pararaton pupuh VI yang berhubungan dengan hal ini 
di atas:
“...sakawulanira. Raden wijaya angajak ing sira wiraraja amerepeng 
daha. Sirawiraraja anayuti, angucap ing utusan: aja geru, hana 
usahanisun manih, matura sira ki pangalasanira ring sira pangeran, 
isun amitra lawan sang satu ring tatar, isun tawanane rajaputri, 
sira ta kaki pangalasanira, muliha mangke iki maring majapahit. 
Sapungkurira sun akirim surat maring tatar, apan parahu saking 
tatar mangke hana adagang merene. Hana parahunisun, sun kon 
milua maring tatar, angajak amerep ing Daha; lamun huwus kalah 
sang ratu ring daha, hana rajaputri ring tumapel hayu, sanusa jawa 
24 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
tan hanamadani, irika akua ring ratu tatar, iku pangapusisun ing 
ratu tatar...” (Brandes. 1920).
Yang artinya adalah Raden Wijaya mengajak Wiraraja 
menyerang Daha, namun Wiraraja tidak tergesa­gesa mene­
rimanya dan berkata kepada utusannya: jangan tergesa­gesa 
dahulu, aku masih memiliki muslihat, aku akan berteman 
dengan raja orang Tatar yang akan kutawari seorang puteri 
bangsawan. Hendaklah kamu pulang ke Majapahit sekarang. 
Sepeninggalmu, aku akan berkirim surat ke Tatar karena 
perahu orang­orang Tatar yang berdagang sedang menuju ke 
sini. Aku memiliki perahu yang akan kusuruh ikut serta 
ke Tatar, agar menyampaikan ajakan untuk menyerang Daha. 
Jika raja Daha telah kalah maka puteri­puteri bangsawan 
di Tumapel, yang cantik dan tak ada yang menyamainya di 
seluruh Jawa, itu dapat dimiliki oleh raja Tatar, demikian 
muslihatku terhadap raja Tatar...” (Padmapuspita, 1966: 77).
Orang-Orang Asing di Majapahit
Arca batu dan arca terakota memberikan informasi menge­
nai keberadaan orang asing di Majapahit dapat dikelompokkan 
atas:
1. Orang Cina
Pengertian Orang Cina di sini adalah orang­orang 
yang hidup dan berasal dari daerah lőss yang subur di 
Daratan Cina. Orang Cina termasuk salah satu kelompok 
penting Ras Mongolid yaitu Sin, Tungus di Mongolia, 
Paleomongol di Asia Tenggara dan Siberia di Asia Tengah. 
Persebaran ras kulit kuning yang merupakan induk Ras 
Mongolid berpusat di Asia Tengah, menyebar ke Asia 
25Orang-Orang Asing di Majapahit 
Timur, Utara, dan Tenggara, bahkan sampai ke Benua 
Amerika (Indian). (Shadily, 1996: 2278). Ciri­ciri fisik Ras 
Mongolid adalah bentuk kepala yang brachycephalic, yaitu 
perbandingan panjang kepala lebih besar dibandingkan lebar 
kepala sehingga membentuk wajah persegi hingga oval. 
Rambut hitam lurus, bertubuh pendek kurang dari 168 
cm, berkulit kuning atau coklat­kuning, mata coklat atau 
hitam dengan ‘lipatan mongol’ (epicanthus), hidung relatif 
kecil rendah dan berpangkal melebar dan ke dalam, dagu 
bulat, dan tulang pipi menonjol (torus zigotmaticus) (Comas, 
1960: 611 ­ 612). Artefak Majapahit yang memperlihatkan 
ciri­ciri fisik orang Cina berupa:
a. Arca Siwa Mahadewa
Arca Siwa Mahadewa 
ini merupakan arca koleksi 
Museum Nasional Jakarta 
dengan nomor inventaris 
5621. Arca Siwa Mahadewa 
ini di temukan di daerah 
Rejoagung, Pare, Kediri dan 
diperkirakan berasal dari 
periode Majapahit (abad 
XIII­XIV M) yang ditandai 
dengan bunga teratai yang 
keluar dari vasnya. Arca 
Siwa Mahadewa meng gambarkan seorang tokoh laki­
laki dengan sikap samabhangga dan memiliki dua 
pasang tangan. Sepasang tangan diangkat ke samping, 
masing­masing­masing memegang camara dan vajra. 
Sepasang tangan yang lainnya bersikap dhyanamudra 
Dok. Penulis
26 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
sambil memegang padma. Stela dan prabha berbentuk 
persegi dengan puncak berbentuk kurawal.
Hal yang menarik untuk diamati pada Arca Siwa 
Mahadewa adalah pada bagian wajah, hiasan kepala, 
dan tata rambutnya. Tokoh ini memiliki bentuk 
wajah persegi, rahang lebar, alis mata tipis, dan 
meleng kung sampai pangkal hidung. Bagian hidung 
sudah rusak. Matanya berbentuk elips dan sipit dengan 
sudut mata bagian luar lebih tinggi dari sudut yang 
dalam serta kelopak mata yang tebal. Mulut tertutup, 
berbibir tebal, dan dagu persegi. Ciri fisik Arca Siwa 
Mahadewa ini termasuk ke dalam ciri ras Mongolid 
yaitu terlihat pada bentuk wajah persegi, bermata 
sipit, dan tulang pipi menonjol.
b. Arca Siwa Mahakala
Arca Siwa Mahakala Koleksi 
Museum Nasional Jakarta dengan 
nomor inventaris 38. Arca Siwa 
Mahakala ini ditemukan dari 
daerah Mojokerto Jawa Timur. 
Siwa Mahakala ini digambarkan 
sebagai seorang tokoh laki­laki. 
Arca ini memiliki stela berbentuk 
persegi dengan bagian ujung 
seperti kurawal, dan mem punyai 
prabha pada bagian belakang 
kepalanya. Seluruh tubuh arca 
dike lilingi “surya majapahit” yang 
mencirikan tinggalan­tinggalan 
dari periode Majapahit.
Dok. Repro. Holt, 
Claire. 1967, Art 
in Indonesia ­ 
Continuities and 
Change
27Orang-Orang Asing di Majapahit 
Hal yang menarik dari tokoh Siwa Mahakala adalah 
bagian wajah serta cara menata kumis dan jenggotnya. 
Arca ini memiliki bentuk wajah persegi, leher 
pendek, tulang pipi menonjol, bentuk bibir tebal, serta 
alis mata tajam dan lurus. Bentuk mata elips, pelupuk 
mata tebal, sudut mata luar digambarkan lebih ke atas 
sehingga mata sipitnya tampak jelas. Kumisnya ditata 
dengan cara dipilin dan dibiarkan panjang, begitu juga 
dengan jenggotnya ditata dengan cara dipilin, selebar 
mulut, dan dibentuk segitiga sampai ujungnya berada 
di depan dada. Ciri fisik Siwa Mahakala termasuk ke 
dalam Ras Mongolid yaitu terlihat pada bentuk wajah 
persegi, mata sipit, dan tulang pipi menonjol. Adapun 
ciri budaya yang menonjol adalah pada penataan 
kumis dengan cara dipilin dan dikumpulkan pada 
masing­masing sudut mulut sampai menyentuh dagu, 
sedangkan jenggotnya dibiarkan 
panjang yang ditata dengan cara 
dipilin berbentuk seperti segitiga 
sampai bagian dada.
c. Arca laki­laki bertopi 
Arca laki­laki bertopi ini meru­
pakan arca terakota Koleksi Museum 
Trowulan­Mojokerto dengan nomor 
inventaris 30/tr/kms/24/Bpg. Arca 
ini menggam barkan seorang laki­
laki dengan posisi duduk bersila. 
Telapak tangan kanannya dalam 
keadaan meng genggam sedangkan 
telapak tangan kirinya berada di atas 
pangkuan. Tokoh laki­laki ini menge­
Dok. Repro. 
John Miksic 
dan Endang Sri 
H.S., (ed.), 1995 
The Legacy of 
Majapahit.
28 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
nakan tutup kepala ber bentuk setengah lingkaran 
dengan tonjolan kecil di bagian atasnya yang disebut 
Maozi. Maozi adalah sebuah penutup kepala (topi) 
yang sering dipakai oleh orang­orang Cina.
Mata tokoh digambarkan sipit, yaitu sudut mata 
bagian luar lebih tinggi dari sudut mata dalam, serta 
pelupuk mata tebal. Selain itu, tokoh laki­laki ini 
digambarkan memiliki hidung kecil, mulut dengan 
ekspresi tersenyum, bibir tipis, pipi montok, dan dagu 
panjang berlipat­lipat.
Tokoh laki­laki ini digambarkan berbadan gemuk 
dan berperut buncit, tidak mengenakan baju bagian 
atas dan baju bagian bawahnya berupa sarung 
yang dipakai dengan cara digulung pada bagian 
pinggangnya. 
d. Arca laki­laki memegang kotak uang
Arca terakota ini menggam barkan 
seorang laki­laki, tanpa anggota 
badan bagian bawah. Rambut tokoh 
disisir model belah tengah dan diberi 
hiasan bunga di atas telinga kanannya. 
Penggambaran alis mata berupa dua 
garis lengkung bertemu di pangkal 
hidung. Mata sipit dengan sudut mata 
bagian luar ditarik ke atas. Hidung 
mancung. Mulut terkatup dengan 
bentuk bibirnya tebal.
Tokoh laki­laki ini digambarkan 
mengenakan pakaian seperti baju 
kurung berlengan panjang yang lazim disebut qi pao. 
Lengan digulung pada bagian pergelangan tangan. 
Dok. Repro. 
John Miksic 
dan Endang Sri 
H.S., (ed.), 1995 
The Legacy of 
Majapahit.
29Orang-Orang Asing di Majapahit 
Telapak tangan kanannya diletakkan pada bagain 
lambung kanan, dan tangan kirinya memegang sebuah 
kotak uang. Qi pao lazim dipakai sebagai pakaian 
sehari­hari orang­orang Cina.
e. Arca Laki­Laki berjubah 
Arca laki­laki berjubah ini meru­
pakan arca terakota koleksi Museum 
Trowulan­Mojokerto dengan nomor 
inventaris 35/Tr/Kms/24/Bpg. Arca 
terakota ini menggambarkan seorang 
tokoh laki­laki yang memakai jubah 
seperti baju kurung berlengan panjang, 
bagian dada dibiarkan terbuka, leher 
baju dibuat tinggi sampai menyentuh 
dagu. Tangan kanannya berada di 
pangkuan sedangkan tangan kirinya 
sedang memegang sebuah benda.
Rambutnya dipotong sedemikian 
rupa sehingga bagian dahinya tampak lebar sedang­
kan rambutnya disisir ke belakang dan dikucir. Tata 
rambut demikian lazim dijumpai dan merupakan 
tradisi orang Cina. Matanya sipit dengan pelupuk 
mata tebal dan sudut mata luar meninggi. Hidung 
besar dan lebar. Kumis tebal ditata dengan membentuk 
pilinan di kanan kiri mulut. Bentuk mulut mungil dan 
berbibir tebal. Pakaian arca terakota ini juga berciri 
Cina, yaitu pakaian dengan bagian leher baju tertutup 
yang disebut dengan cheongsam atau chángshān (長衫) 
(http://en.wikipedia.org/wiki/Cheongsam, 2009)
Dok. Repro. 
John Miksic dan 
Endang Sri H.S., 
(ed.), 1995  
The Legacy of 
Majapahit.
30 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
f. Arca Kepala Laki­laki
Arca terakota berupa kepala 
Laki­laki merupakan arca terakota 
Koleksi Kantor BP3 Jawa Tengah 
dengan nomor inventaris 247. Arca 
terakota ini menggambarkan kepala 
laki­laki dengan bentuk wajah bulat, 
mengenakan tutup kepala ber bentuk 
setengah bola dengan tonjolan kecil 
di bagian atasnya. Bentuk dahinya 
lebar, mata sipit, hidung kecil, pipi 
tembem, mulutnya dengan ekspresi tersenyum hingga 
terlihat sebaris gigi bagian atas. Bentuk daun telinga 
kecil. Pada bagian leher atas terdapat indikasi bagian 
dari pakaian, yaitu bagian leher baju yang dibuat tinggi 
hingga menutupi leher. cheongsam atau chángshān. Ciri 
etnis Cina pada arca ini adalah tutup kepala maozi 
yang dikenakan yang berbentuk setengah bola dengan 
tonjolan kecil di bagian atasnya dan cheongsam.
g.  Arca Kepala Anak Laki­Laki
Arca Kepala Anak Laki­Laki ini 
merupakan arca terakota koleksi 
Kantor BP3 Jawa Tengah dengan 
nomor inventaris 261. Arca terakota 
ini menggambarkan kepala arca 
anak laki­laki, yang digambarkan 
dengan bentuk kepala lonjong. 
Rambutnya dipotong gundul dengan 
menyisakan semacam kucir pada 
bagian ubun­ubunnya. Tata rambut seperti demikian 
merupakan cara penataan rambut yang biasa dijumpai 
Dok. Penulis
Dok. Penulis
31Orang-Orang Asing di Majapahit 
dan diterapkan pada anak­anak kecil di daratan Cina, 
yang sedang mengikuti pelatihan wushu di shao lin sie 
(http://www.kungfu­in­china.com/temple.htm, 2009)
Ciri­ciri kanak­kanaknya ditun jukkan oleh bagian 
dahi nya yang lebar dengan pipi yang tembem. Bentuk 
hidungnya kecil (pesek), mulut sedikit terbuka seperti 
sedang tertawa sehingga tiga buah gigi bagian atasnya 
kelihatan. Matanya sipit, pelupuk mata tebal, dan 
sudut mata bagian luar meninggi.
Ciri­ciri budaya yang menggambarkan orang 
Cina adalah cara menata rambut, kumis, dan jenggot; 
jenis pakaian yang dikenakan; serta tutup kepala 
(maozi) yang berbentuk setengah lingkaran dengan 
tonjolan kecil di bagian atasnya. (Muller, 1978: 58).
Tutup kepala ini merupakan salah satu ciri khas 
kelengkapan pakaian orang Cina. Melalui tutup kepala 
yang dikenakan dapat diidentifikasikan asal usul serta 
agama yang dianutnya. Maozi dengan bentuk pendek 
biasanya dikenakan oleh orang­orang Cina di bagian 
selatan yang menganut agama Buddha, sedangkan 
maozi yang bentuk lebih tinggi dipakai oleh orang­
orang Cina Muslim di bagian utara.
Pakaian tradisional orang Cina terdiri atas dua jenis 
yaitu cheongsam dan qi pao. Masa itu cheongsam atau 
chángshān adalah pakaian dengan leher baju tertutup 
lazim dikenakan oleh kaum laki­laki Cina. Qípáo atau 
sering juga disebut shanghai dress adalah jenis pakaian 
yang menyerupai baju kurung dengan lengan panjang 
yang bagian ujung lengan biasanya digulung hingga 
pada bagian pergelangan tangan. Jenis pakaian 
32 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
ini lazim dikenakan oleh kaum wanita Cina 
(http://en.wikipedia.org/wiki/Cheongsam, 2009)
2. Orang India
Orang India sebagian termasuk 
ke dalam Ras Kaukasid, biasanya 
disebut suku bangsa Arya. Arya 
adalah nama sebuah suku bangsa 
yang memasuki India dan yang 
meneruskan kebudayaan Hindu. 
Nama Arya dapat dijumpai dalam 
kitab Veda (Hockings, 1993: 13). 
Selain itu terdapat orang India 
yang memiliki ciri kulit hitam 
yang tinggal di bagian selatan India 
dan Sri Lanka, yaitu suku bangsa 
Drawida. Drawida adalah nama 
sebuah suku bangsa asli India 
yg mendiami bagian selatan, bagian tengah, dan timur 
laut India, sebelum bangsa Arya memasuki wilayah ini 
(Majumdar 1960: 13 ­14). 
Suku bangsa Arya memiliki ciri­ciri fisik ras 
Kaukasid, yaitu berkulit pucat (kadang­kadang agak 
gelap), wajah persegi, bentuk kepala dolichocephalic, yaitu 
perbandingan antara panjang kepala dengan lebar kepala 
hampir sama, tulang hidung tinggi dan runcing (mancung), 
tubuh berambut, dan kaki lebih pendek jika dibanding­
kan dengan Ras Negrid tetapi lebih panjang dari pada Ras 
Mongolid. Dari semua ciri fisik yang telah diuraikan yang 
tidak dapat dikenali pada sampel arca adalah warna kulit. 
Salah satu arca terakota yang diidentifikasikan sebagai 
orang India adalah arca laki­laki bersorban. Ciri fisik arca 
Dok. Repro. John 
Miksic dan Endang Sri 
H.S., (ed.), 1995 The 
Legacy of Majapahit.
33Orang-Orang Asing di Majapahit 
ini termasuk ciri orang Arya, yaitu bentuk wajah oval, alis 
mata tebal dengan kelopak mata menonjol, dan berbibir 
tebal. Arca ini merupakan arca terakota koleksi Museum 
Trowulan­Mojokerto dengan nomor inventaris 31/Tr/
Kms/24/Bpg, menggambarkan seorang tokoh laki­laki 
dalam posisi bersandar pada semacam stela, dan berdiri di 
atas lapik dengan membawa barang yang dipikul. 
Tokoh ini digambarkan bertubuh gemuk dan ber perut 
buncit mengenakan upawita berupa kain polos yang dipakai 
menyilang dari bahu kiri hingga ke bagian pinggang. 
Udarabandha dilengkapi dengan timang (gesper) serta 
mengenakan baju penutup tubuh bagian bawah semacam 
dhoti sampai batas mata kaki. Ciri­ciri budaya yang dapat 
menunjukkan identitasnya sebagai orang India adalah 
tutup kepala, pakaian, dan cara menata kumis dan jenggot. 
Arca ini mengenakan tutup kepala berupa sorban. Seperti 
diketahui bahwa orang­orang di India identik dengan 
pemakaian sorban (http://id.wikipedia.org/wiki/Swami_
Vivekananda,2009), walaupun tidak secara keseluruhan. 
Begitu juga dengan kebiasaan memelihara kumis dan 
jenggot, tokoh ini mengenakan pakaian yang disebut dhoti, 
yaitu jenis pakaian untuk kaum laki­laki sebagai penutup 
tubuh bagian bawah yang lazim dipakai terutama di daerah 
pedesaan di India. (Setiawan, 1989 : 57).
3. Orang Tartar
Nama Tartar seringkali dikaitkan dengan sejarah 
runtuhnya Singhasari dan berdirinya Majapahit sekitar 
abad XIII­XIV M. keberadaan orang Tartar disebut 
dalam Kakawin Nāgarakrtāgama, Pararaton, dan Kidung 
Harsawijaya. Ketiga naskah itu menyebutkan kedatangan 
orang Tartar ke Pulau Jawa adalah dalam rangka meng­
34 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
hukum raja Jawa, yaitu Kertanegara, 
raja Singhasari. Selanjutnya nama 
Tatar dipakai untuk menyebut 
bangsa­bangsa yang menyerang dan 
menduduki beberapa bagian Asia 
dan Eropa pada abad XIII M yang 
dipimpin oleh suku bangsa Moghul 
(Mongol).
Orang­orang Tartar termasuk 
ke dalam Ras Turanian yang mem ­
punyai ciri­ciri tinggi badan sedang, 
berkepala lebar (brachy chephalic), 
bentuk wajah panjang dengan 
tulang pipi menonjol, bentuk bibir lembut, dan mata tidak 
memiliki lipatan epichantic tetapi sudut mata luarnya 
agak naik. Suku Turanian termasuk orang­orang nomaden 
pastoral dari daerah padang rumput di Rusia bagian selatan 
dan Turkestan. Suku ini merupakan percampuran dari 
suku Kirghiz, Uzbegs, Bashkirs, Sarts, (Comas, 1960: 609)
Arca terakota koleksi Museum Trowulan­Mojokerto 
dengan nomor inventaris 327/tr/trw/24/Bpg menggam­
barkan kepala tokoh laki­laki yang memakai tutup kepala 
berbentuk seperti caping, dengan bentuk wajah bulat. 
Matanya digambarkan sipit dengan kelopak mata tebal dan 
agak menonjol. Bentuk hidungnya pendek dan melebar 
(pesek). Mulutnya kecil dan bibirnya tebal. Kumisnya 
tebal dan ditata melengkung ke bawah, yang disesuaikan 
dengan bentuk mulutnya.
Meskipun ciri yang dimiliki sampel tidak secara 
menyeluruh menunjukkan ciri fisik orang Tatar, tetapi ciri 
budaya yang tampak yaitu tutup kepala yang dikenakan 
Dok. Repro. John 
Miksic dan Endang 
Sri H.S., (ed.), 
1995 The Legacy of 
Majapahit.
35Orang-Orang Asing di Majapahit 
dengan bentuk seperti caping dengan sebuah tonjolan kecil 
di bagian puncaknya, serta rambut yang ditata seperti 
gumpalan di kanan­kiri kepala merupakan ciri budaya 
khas Tartar. Selain itu, pakaian yang dikenakan berupa 
semacam jubah dengan belahan di depan leher, mirip 
dengan pakaian prajurit Tartar (Kusen, 1981: 124).
4. Orang Arab
Hubungan orang­orang Arab dengan dunia timur, 
termasuk Nusantara, sudah terjalin sejak masa pra­Islam 
akibat adanya aktivitas dagang (Arnold, 1981: 317). Pada 
abad VIII M, orang­orang Arab sudah mulai mengadakan 
hubungan lebih luas dengan penduduk di wilayah 
Nusantara. Hal ini dikaitkan dengan kegiatan penyebaran 
agam Islam yang dilakukan orang­orang Arab. Lebih jauh 
dapat dikatakan bahwa masuknya agama Islam ke wilayah 
Nusantara diikuti pula dengan masuknya orang­orang 
Arab beserta budayanya. Orang­orang Arab yang datang 
ke Nusantara diduga kebanyakan berasal dari Hadramaut, 
sebuah negara di Timur Tengah yang sekarang dikenal 
dengan nama Jumhuriyat Al Yaman atau Yaman Selatan. 
Dorongan untuk berdagang sampai ke Nusantara adalah 
karena adanya hasil bumi yang sangat laku di pasaran 
internasional (Wijayanto, 1983: 30­32).
Orang­orang Arab tinggal di daerah gurun di Arab, 
Mesopotamia, Syria, dan Palestina. Orang­orang Arab 
termasuk ke dalam Ras Kaukasid dan memiliki ciri­ciri 
fisik: bentuk kepala dolychochephalic, berhidung mancung 
dengan cuping lebar, rambut berombak, bibir tebal, bentuk 
wajah persegi hingga oval, warna mata dan kulit gelap, 
dan memiliki tinggi badan sekitar 1,65 ­ 1,68 m (Comas, 
1960 : 608­609).
36 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Ciri fisik orang Arab dari Hadramaut sebagaimana 
diidentifikasikan, dapat diamati pada arca terakota laki­
laki bersongkok yang merupakan koleksi Kantor BP3 Jawa 
Tengah dengan nomor inventaris 242. Arca terakota ini 
digambarkan dengan bagian mata dan hidung agak besar, 
bibir tebal, serta kelopak mata yang menonjol. Selain itu, 
arca ini memiliki ciri budaya yang dapat menunjukkan 
identitasnya sebagai penggambaran orang Arab, yaitu 
kumis yang dipelihara lebat, tutup kepala berupa songkok 
yang bagian atasnya datar, serta mengenakan anting­
anting. Perhiasan telinga berupa anting­anting berbentuk 
cincin yang besar juga merupakan salah satu ciri budaya 
orang Arab (Kusen, 1981 : 112).
Penutup
Majapahit pada abad XIII ­ XV Masehi merupakan suatu 
magnet yang memiliki daya tarik yang tinggi bagi orang 
asing untuk melakukan kunjungan, transaksi dagang, maupun 
menjalin persahabatan. Mengenai keberadaan orang asing di 
Majapahit, akan lebih menarik lagi jika diketahui mengenai 
jumlah populasi dan peranan mereka di dalam pertumbuhan 
dan perkembangan Majapahit. Keberadaan orang asing dalam 
komunitas lokal Majapahit memberikan warna dan dinamika 
dalam historiografi Majapahit. 
Di dalam beberapa sumber tertulis Majapahit dijumpai 
bahwa orang asing yang paling sering disebut adalah orang 
Cina. Hal ini berkaitan erat dengan keberadaan orang 
Cina sebagai pedagang yang sudah lama berhubungan dengan 
Jawa, jika dibandingkan dengan orang asing lainnya. 
Tampaknya mereka juga merupakan pedagang asing mayoritas 
37Orang-Orang Asing di Majapahit 
di Majapahit. Hal ini nampak dari beberapa tinggalan­tinggalan 
arkeologi yang sebagian besar juga menunjukkan ciri­ciri fisik 
orang Cina.
KEpUstaKaaN
Arnold, Thomas W. 1981. Sejarah Dakwah Islam terj. H.A.Nawawi 
Rambe.(Jakarta: Wijaya, 1981.
Brandes, J.L.A. 1920. “Pararaton (Ken Angrok) het Boek der 
Koningen van Toemapel en Madjapahit”, VBG LXII.
Comas, Juan. 1960. Manual Physical Anthropology. Illinois: Charles 
Thomas Publisher
Hockings, Paul. 1993 (vol. ed.), “Encyclopedia of World Cultures 
Vol. III ­ South Asia”, dalam David Levinson (ed.), 
Encyclopedia of World Cultures (New York: G.K. Hall & 
Company, 1993), hlm. 13.
Kusen, 1981. “Arca­Arca Terracotta Majapahit: Sebuah Studi 
tentang Fungsi dan Kedudukannya”, Skripsi. Yogyakarta: 
FS UGM, 1981.
Majumdar, R.C. 1960. (et.al), An Advanced History of India. 
MacMillan & Co, Ltd
Muller, H.R.A. 1978. Javanese Terracottas. Lochem­The Netherlands: 
uitgeversmaatschappij De Tijdstroom B.V.
Pigeuad, Th. G. Th. 1962. Java in the 14th Century ­ A Study in 
Cultural History Volume I. The Hague: Martinus Nijhoff.
38 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Setiawan, B. 1989. (ed.), Ensiklopedi Nasional Indonesia - Buku VII. 
Jakarta: PT. Cipta Pustaka Ad.
Shadily, Hassan. (ed.) 1996. Ensiklopedia Indonesia - Buku IV. 
Jakarta: PT. Ichtiar Baru ­ Van Hoeve
Wijayanto, 1983. ”Sistem Perkawinan Keturunan Arab Golongan 
Sayid di Kelurahan Pasar Kliwon ­ Surakarta”, Skripsi. 
Yogyakarta: FS UGM.
Wiryomartono, Ignatius Kuntoro. 1992. “Kesusastraan Zaman 
Majapahit”, dalam Sartono Kartodirdjo, dkk. (ed.)., 700 
Tahun Majapahit ­ Suatu Bunga Rampai. Surabaya: C.V. 
Tiga Dara.
Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan - Sastra Jawa Kuna Selayang 
Pandang. terj. Dick Hartoko. Jakarta: Djambatan.
http://en.wikipedia.org/wiki/Cheongsam
http://id.wikipedia.org/wiki/Swami_Vivekananda
http://www.kungfu­in­china.com/temple.htm
39Dukungan Faktor Alam
2
dUKUNgaN FaKtor alaM 
Alifah
Gapura Wringin Lawang, Dok. Sugeng Riyanto
Asal­usul Majapahit disebutkan dalam kitab Pararaton dan Nagarakretagama diawali dengan pembukaan hutan Trik yang terletak di Delta Sungai Brantas oleh 
Raden Wijaya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1293 M. 
40 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Hutan yang semula banyak ditumbuhi pohon maja ini 
lalu berkembang menjadi perkampungan yang dihuni 
oleh orang Madura dan orang Tumapel. Daerah ini 
menjadi tempat yang subur, dengan tanaman­tanaman seperti 
bunga pucung, pinang, kelapa, pisang, serta persawahan. 
Majapahit merupakan kelanjutan dari kerajaan Singasari, yang 
tercermin dari nama abhiseka Raden Wijaya ketika naik tahta, 
yaitu Kertarajasa Jayawardana. Nama ini terdiri dari 4 
kata yaitu kerta, rajasa, jaya, wardhana. Keempat kata yang 
dapat dihubungkan dengan nama raja­raja Singasari sebagai 
leluhur Raden Wijaya yaitu Kertanegara, Rajasa (Ken Angrok), 
dan Jayawisnuwardana (Mulyana, 1979).
Sampai saat ini belum ada sumber atau penelitian yang 
menyebutkan alasan perpindahan pusat atau cikal bakal 
kerajaan Majapahit dari hutan Trik (dari data toponim diper­
kirakan berada Dusun Medowo, Kecamatan Tarik, Kabupaten 
Sidoarjo, Jawa Timur) ke Trowulan, dan kapan peristiwa 
perpindahan itu terjadi. Penelitian yang dilakukan oleh 
Kusumohartono di situs Medowo menghasilkan temuan 
berupa fragmen tembikar, bata, keramik asing, bandul jala, 
mata uang, alat logam, alat batu, dan tulang yang tersebar di 
area yang cukup luas. Data­data ini mengindikasikan 
bahwa situs Medowo pernah berfungsi sebagai lokasi pusat 
suatu kegiatan pada periode Indonesia kuno yang sejaman 
dengan fase Majapahit (Kusumohartono, 1990). Menurut 
Wibowo (1980), ada dua kemungkinan tentang perpindahan 
pusat Majapahit dari Medowo ke Trowulan. Kemungkinan 
pertama adalah luas alasing Trik yang diminta oleh Raden 
Wijaya dari Jayakatwang untuk dibuka menjadi pemukiman 
baru meliputi daerah Tarik di tepi Sungai Brantas terus ke arah 
selatan dan barat daya hingga daerah Trowulan sekarang. 
41Dukungan Faktor Alam 
Kemungkinan kedua, pemukiman baru Raden Wijaya dalam 
perkembangan selanjutnya meluas hingga mencapai puncak 
jayanya di Trowulan. Keyakinan bahwa Trowulan adalah 
ibukota Majapahit diperoleh dari catatan Prapanca yang 
menyebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk melakukan per­
jalanan ke daerah­daerah bawahan yang diawali dan diakhiri 
di daerah Trowulan. Selain itu dugaan ini juga diperkuat 
dengan banyaknya temuan, baik berupa bangunan­bangunan 
candi, gapura, saluran air dan dam, umpak, pondasi bangunan, 
prasasti serta beberapa perabot seperti gerabah, patung, dan 
perhiasan.
Kondisi lingkungan situs Trowulan secara garis besar 
dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu letak geografis, 
geomorfologis, dan geologis. Dasar pemikirannya adalah 
proses alam yang berlangsung pada masa sekarang tidak 
jauh berbeda dengan proses alam yang berlangsung pada 
masa lampau. Perbedaan yang mungkin ada adalah akibat 
dari aktifitas gunung api yang ada di sebelah selatan kawasan 
Trowulan, namun perbedaan ini masih pada julad yang 
dapat diterima (Soetikno,1991). Berdasarkan klasifikasi iklim, 
daerah Trowulan termasuk daerah yang memiliki musim 
kemarau yang panjang, sedangkan pada bagian selatan yaitu 
sekitar pegunungan memiliki curah hujan yang relatif lebih 
tinggi.
Letak Geografis
Kota Trowulan terletak pada posisi strategis yang dapat 
diakses baik melalui jalan darat maupun jalan air. Letak 
Trowulan yang berada didaerah yang relatif datar dan 
dekat dengan pusat kerajaan terdahulu seperti Kadiri, Daha, 
42 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Singasari, Jenggala, dan Panjalu sangat memungkinkan ter­
jadinya kontak antar daerah­daerah ini, baik untuk 
kepentingan perdagangan, sosial budaya, maupun politik. 
Daerah Trowulan terletak tidak terlalu jauh dari kota 
pelabuhan seperti Surabaya, Gresik, Tuban, dan Pasuruan 
yang berada di pesisir utara pulau Jawa. Daerah pesisir Jawa 
utara tidak jauh dari Semenanjung Malaka yang dilewati 
arus perdagangan internasional. Pelabuhan­pelabuhan di 
sepanjang jalan perdagangan di Asia Tenggara, khususnya 
Semenanjung Malaka, sejak abad VIII telah ramai dikunjungi 
oleh para pedagang dari Arab, Persi, Turki, India, dan Cina. 
Sumber tertulis Arab menyebutkan bahwa pada abad X di 
Asia Tenggara telah terjadi koloni­koloni (Kusbandono,1993). 
Di sekitar Trowulan juga mengalir sungai­sungai yang besar 
seperti kali Brantas, Kali Porong, dan Kali Brangkal yang 
merupakan jalur utama perdagangan. Sungai­sungai ini 
berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan. Dari 
sungai­sungai dekat pantai ini bermunculan desa­desa yang 
lalu berkembang sebagai pusat perdagangan, pelayaran, 
dan penyeberangan antar daerah. 
Kondisi Geomorfologi
Daerah Trowulan terletak pada dataran aluvial yang 
sangat luas serta memiliki derajat kemiringan yang rendah. 
Daerah ini memiliki ketinggian sekitar 30­40 m dari 
permukaan laut. Di sebelah utara terdapat hamparan luas 
dataran banjir sungai Brantas, sedangkan di sebelah selatan dan 
tenggara sejauh lebih kurang 25 km menjulang tinggi kompleks 
pegunungan api Anjasmoro dan Arjuno­Welirang, dengan 
ketinggian 2000­3000 m dari permukaan laut (Sampurno 
43Dukungan Faktor Alam 
dan Bandono, 1980). Secara garis besar berdasarkan bentuk 
lahan dan proses geomorfiknya, daerah Trowulan dibedakan 
menjadi beberapa satuan bentuk lahan, yaitu dataran aluvial, 
dataran fluvio vulkanik, kipas fluvio vulkanik, serta tubuh 
vulkan (Sutikno,1991).
Dataran aluvial yang ada di situs Trowulan terbentuk oleh 
aktifitas air yang berasal dari sungai Brantas. Bentuk lahan ini 
terdapat di sebelah utara Trowulan arah Mojokerto. Bentang 
lahan ini memiliki ciri­ciri: topografinya datar dengan derajat 
kemiringan 2%. Endapan yang ada tersusun atas material 
pasir, geluh, dan lempung. Daerah ini umumnya memiliki 
tanah yang subur dan baik untuk aktifitas pertanian, namun 
karena letaknya di dataran dekat sungai maka daerah ini sering 
dilanda banjir. Daerah Trowulan bagian barat dan meluas 
sampai Mojoagung merupakan bentang alam yang terbentuk 
oleh dataran fluvio vulkanik, dengan material penyusun yang 
berasal dari aktifitas kompleks gunung api Arjuna dan Kelud. 
Daerah ini memiliki topografi yang landai dan dilalui oleh 
sungai­sungai dengan pola aliran radial seperti sungai Jarak, 
Sungai Gunting, dan Sungai Blokororubuh. Faktor kemiringan 
dan posisinya menyebabkan daerah ini rawan terhadap 
bahaya banjir, baik banjir air maupun banjir lahar. Wilayah 
selatan Trowulan memiliki topografi yang lebih tinggi serta 
memiliki material yang lebih tahan terhadap erosi, sehingga 
memicu aliran sungai yang berasal dari Gunung 
Blokororubuh yang seharusnya mengalir ke utara melalui 
daerah Trowulan menjadi membelok ke arah barat.
Daerah Trowulan ke arah tengggara merupakan bentang 
lahan kipas fluvio vulkanik yang terbentuk oleh proses fluvial. 
Bentang lahan ini disebabkan oleh aliran sungai yang berasal 
dari Gunung Api Anjasmoro dan Welirang, yang mengalir ke 
44 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
arah barat. Kipas fluvio vulkanik terdiri dari 3 bagian yaitu 
bagian puncak, bagian tengah, dan bagian kaki. Daerah bagian 
atas memiliki derajat kemiringan 8­10% dan tersusun 
atas material yang kasar. Pada bentang lahan ini proses erosi 
berlangsung sangat kuat sehingga sungai sering mengalami 
pergeseran. Oleh karena materialnya kasar, dan kemiringannya 
relatif besar, maka air tanah relatif lebih dalam. Bagian tengah 
kipas dengan derajat kemiringan 4­8%, memiliki material 
penyusun yang berukuran sedang dan kasar. Daerah ini 
memiliki persediaan air tanah yang cukup banyak, sehingga 
pada umumnya merupakan daerah yang subur untuk aktifitas 
pertanian. Kaki kipas aluvial memiliki derajat kemiringan 
lebih kecil dari 2% dan tersusun atas material berupa endapan 
berukuran sedang mencapai kaki kipas. Aliran permukaan 
kadang­kadang besar dan menyebabkan banjir yang biasanya 
merupakan kejadian periodik yang berulang, yaitu setiap lima 
tahun sekali atau sepuluh tahun sekali.
Bentuk lahan tubuh vulkan terletak di sebelah selatan 
Trowulan, yaitu satuan tubuh gunung api kompleks Arjuna, 
Anjasmoro, Welirang, dan Kelud. Gunung api yang paling 
berperan dalam proses pembentukan lahan di daerah 
Trowulan adalah Gunung api Anjasmoro dan Welirang. 
Batuan penyusun dari bentang lahan ini adalah aliran lava, 
piroklastika, dan breksi laharik. Di beberapa tempat batuan 
ini tersingkap dan muncul ke permukaan, sehingga jika 
terjadi banjir, material­material ini tererosi dan memberi 
kontribusi terhadap pembentukan kipas aluvial di daerah 
Trowulan dan sekitarnya (Sutikno,1991)
45Dukungan Faktor Alam 
Kondisi Geologis
Daerah Trowulan tersusun oleh endapan Vulkanik kwarter 
tua yang terdiri dari bahan piroklastika berukuran pasir dan 
pada tempat tertentu terdapat lapisan yang berstruktur lebih 
halus (tuff). Material­material ini berasal dari gunung 
api di sebelah selatan. Secara garis besar daerah Trowulan 
dipengaruhi oleh dua sistem geologi, yaitu pengaruh sistem 
pegunungan berupa gunung berapi di sebelah selatannya 
yang terdiri atas kompleks gunung Welirang, Arjuno dan 
Anjasmoro, serta pengaruh sistem aliran sungai yang berasal 
dari Sungai Brantas dan beberapa anak sungainya. Di sebelah 
utara Trowulan terdapat cekungan memanjang arah timur­
barat, yang terletak antara pegunungan Kendeng di sebelah 
utara dengan kompleks gunung api di selatannya. Material 
penyusunnya adalah endapan aluvial dengan ukuran butiran 
yang halus. Material dasar dari endapan fluvial ini 
adalah abu vulkanik dari Gunung Kelud yang sangat aktif 
Gunung Penanggungan yang melatar belakangi Situs Trowulan.  
Dok. Sugeng Riyanto.
46 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
menge luarkan abu vulkanik yang tersebar luas, sehingga 
material letusan ini dapat menjadi materi pembentuk 
endapan aluvial di sekitar Trowulan. Jenis tanah yang terdapat 
di Trowulan adalah regosol dan litosol. Tanah ini terdiri dari 
pasir halus yang bersifat lepas dan hanya kadang­kadang 
tersemen, serta sering mengandung sisipan kerikil tipis. Pada 
bagian permukaan, pasir ini melapuk menjadi tanah laterik 
kecoklatan dengan ketebalan sekitar 0.5­1 m. 
Pemilihan Lokasi
Sungai Brantas sebagai penghubung daerah hulu dan hili.,  
Dok. Sugeng Riyanto.
Pemilihan lokasi sebuah kota atau pemukiman memerlu­
kan persyaratan­persyaratan antara lain: sudut lereng yang 
sesuai untuk tata guna dan peruntukan tanah, cukup luas untuk 
pembangunan dan perluasan kota, cukup air untuk memenuhi 
kebutuhan sehari­hari dan usaha industri, memiliki tanah 
47Dukungan Faktor Alam 
fondasi yang cukup mantap untuk pendirian bangunan, mem­
punyai daerah belakang yang mendukung kehidupan dan 
perkembangan kehidupan kota, seperti tanah yang subur untuk 
pertanian, dan adanya bahan baku bangunan. Satu hal yang 
penting bahwa lokasi pemukiman ini jauh dari ancaman 
bencana alam (Sampurno dan Bandono, 1980). Syarat­syarat 
ini berlaku untuk perencanaan kota atau pemukiman, baik 
pemukiman lama maupun pemukiman modern. Daerah sekitar 
situs Trowulan memiliki bentuk lahan yang umumnya 
bergelombang, memiliki pegu nungan­pegunungan yang 
lebar dan lembah yang lebar pula, serta mengarah ke utara. 
Banyak di antara lembah­lembah ini membentuk 
cekungan­cekungan berbelok, dan undak­undak di sekitarnya 
yang merupakan ciri khas pola aliran meander (Sampurno dan 
Bandono, 1980). Daerah di sekitar cekungan pada umumnya 
menjadi daerah persawahan, sedangkan pegunungan menjadi 
daerah ladang atau perkampungan. Sungai­sungai kecil juga 
dijumpai di sekitar cekungan. Kondisi tanahnya yang berpasir 
dan kadang­kadang kerakal merupakan tanah fondasi yang 
kuat, yang mampu menahan beban bangunan berat tanpa 
ambles. Perkembangan kawasan ini juga didukung oleh 
ketersediaan bahan­bahan bangunan yang dekat dan mudah 
didapat. Sumber air yang ada di sekitar situs berasal dari 
sungai­sungai di antaranya Kali Brangkal dengan beberapa 
cabang anak sungai di antaranya Kali Landean dan Kali Pikatan. 
Demikian pula mata air dijumpai di daerah hulunya, sehingga 
diduga daerah ini dapat memperoleh dan mengembangkan 
air dengan cukup leluasa. 
48 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Pemanfaatan kondisi lingkungan.
warga Majapahit khususnya Trowulan, tampaknya 
memiliki kecerdasan yang cukup tinggi dalam memanfaat­
kan kondisi alam sekitar. Trowulan sebagai pusat kerajaan 
berada di daerah pedalaman, namun memiliki akses ke luar 
melalui jalur­jalur air, dengan memanfaatkan air sungai yang 
lalu dikembangkan dengan pembangunan kanal sebagai 
perpanjangan dari sungai­sungai alam. 
Diagram blok lokasi pusat kerajaan Majapahit Sumber: Sampurno  
dan Bandono disempurnakan oleh Sugeng Riyanto dan Andreas Eka
Dalam kitab Nagarakretagama disebutkan bahwa 
barang­barang yang akan dibawa ke Majapahit dari daerah 
luar diturunkan di pelabuhan besar, lalu diangkut 
dengan mengunakan kapal­kapal kecil melalui sungai dan 
kanal. Tampak di sini bahwa pemanfaatan transportasi air 
dimaksimalkan. Sungai Brantas sebagai penghubung utama 
antara daerah pesisir dengan pedalaman telah memberi 
kontribusi positif terhadap perkembangan peradaban 
49Dukungan Faktor Alam 
pada masa Majapahit. Keberadaan sungai dan pelabuhan 
selain dipakai sebagai pendukung faktor ekonomi juga 
dipakai sebagai jalur diplomasi, politik, penyebaran 
agama, dan kebudayaan. Kondisi ini sangat ber­
pengaruh terhadap berkembangnya kota Trowulan.
Dalam prasasti Canggu atau prasasti Trowulan I 
disebutkan bahwa terdapat 44 desa penyeberangan di tepi 
Sungai Brantas. Adanya desa­desa penyeberangan ini 
lalu berkembang menjadi pelabuhan sungai yang besar 
seperti Canggu, Bubat, dan Terung (Rangkuti, 2005). Persebaran 
desa penyeberangan di Sungai Brantas mempertegas posisi 
sungai ini sebagai sarana transportasi dan perdagangan 
yang menghubungkan daerah hulu dengan daerah hilir.
Ilustrasi desa penyeberangan pada masa Majapahit.  
Gambar Hadi Sunaryo.
Dilihat dari faktor keamanan dan politik, pemilihan lokasi 
di pedalaman sebagai ibukota tampaknya cukup beralasan, 
karena daerah ini cukup aman dari ancaman bahaya 
terbuka yang berupa penyerangan dari pihak luar melalui jalur 
50 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
laut. Adanya kanal­kanal sebagai “perpanjangan” dari sungai­
sungai alam sebagai jalur transportasi air memungkinkan 
untuk mendeteksi ancaman atau bahaya secara lebih dini. Berita 
Cina Ying­Yai Sheng­Lan (1416) menyebutkan bahwa tanah 
Jawa memiliki empat buah kota tanpa tembok. Kapal yang 
datang ke daerah ini pertama mendarat di Tuban lalu 
ke Gresik, Surabaya, dan terakhir ke Majapahit. Perjalanan 
dari Surabaya ke Majapahit terlebih dahulu melewati Canggu 
sebuah pelabuhan sungai dengan memakai perahu 
kecil sepanjang 70­80 li atau kurang lebih 25 mil, lalu 
perjalanan dilanjutkan dengan menempuh jalan darat selama 
1,5 hari (Groeneveld, 1960). Keberadaan kanal, selain untuk 
jalur transportasi dan pertahanan juga dikaitkan dengan 
aktivitas pertanian. Konsep pendirian kerajaan Majapahit 
adalah berbasis pertanian. Hal ini dibuktikan dari adanya 
waduk dan saluran­saluran air. 
Sawah sebagai penyokong perekonomian Majapahit. 
Dok. Sugeng Riyanto
51Dukungan Faktor Alam 
Dalam dunia pertanian ketergantungan terhadap alam 
sekitar sangat mutlak. Unsur hara tanaman, air hujan, letak 
ketinggian, serta sinar matahari merupakan komponen alam 
yang sangat diperlukan dalam sistem budidaya tanaman 
(Munir, 1996). Syarat­syarat ini cukup dimiliki oleh kondisi 
alam Majapahit sehingga daerah ini memiliki hasil pertanian 
yang melimpah. Hasil pertanian merupakan komoditas utama 
sebagai penyokong perekonomian kerajaan. Kondisi tanah 
Towulan yang berbahan abu vulkanik merupakan daerah yang 
subur untuk dikelola sebagai lahan pertanian. Rupanya hal ini 
sangat diperhatikan oleh para pejabat kerajaan masa itu. 
Majunya pertanian di Trowulan selain oleh dukungan 
faktor alam juga dipengaruhi oleh ketrampilan pengelolaannya, 
terutama dengan campur tangan pemerintah yang menentukan 
aturan dan undang­undang tentang pengelolaan tanah. Seperti 
tertuang dalam prasasti Trailokyapuri 1486 M, bentuk campur 
tangan pemerintah berupa dibentuknya pejabat­pejabat yang 
khusus untuk menangani kebutuhan pertanian, seperti petugas 
pengatur irigasi. Teknologi pengolahan pertanianpun mulai 
dikembangkan, seperti teknologi pengolahan tanah dengan 
pemakaian bajak, tatacara persemaian benih, serta teknik 
penanggulangan hama.
52 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Saluran irigasi untuk keperluan pertanian. Dok. Sugeng Riyanto.
Majapahit merupakan negara agraris komersial, dengan 
hasil bumi melimpah yang dari pedalaman diangkut ke pesisir 
untuk diperdagangkan. Hal ini menunjukan bahwa Trowulan 
sebagai pusat kerajaan Majapahit merupakan daerah yang 
sudah memiliki ketahanan pangan dengan surplus bahan 
makanan yang lalu dijual sebagai komoditas ekspor. 
Beras yang sudah diangkut ke pesisir lalu dibawa 
oleh armada kerajaan ke Maluku untuk diperdagangkan 
atau ditukar dengan rempah­rempah. Selanjutnya rempah­
rempah yang diperoleh, ditukar atau diperdagangkan dengan 
para pedagang yang datang dari negara lain, terutama dari 
Cina dan India. Dari perdagangan inilah keluarga kerajaan 
memperoleh kain, sutra, keramik, dan benda­benda logam. 
Selain beras sebagai unggulan hasil pertanian, menurut catatan 
Cina Majapahit juga memiliki komoditas ekspor lainnya, 
seperti garam (yang berasal dari pantai utara Jawa), merica, 
cengkeh, kemukus, kayu adas, kayu cendana, damar, kayu 
gaharu, kapur barus, gula tebu, pisang, pinang, gading gajah, 
53Dukungan Faktor Alam 
kulit penyu, tikar pandan, kain sutra, dan kain katun. Selain 
itu juga ada beberapa binatang yang diekspor seperti burung 
nuri, merak, merpati, dan tekukur (Kristinah, 2007).
Kondisi lingkungan Majapahit selain memberikan 
dukungan terhadap kemajuan, juga menyimpan bahaya berupa 
bencana alam, yaitu bencana banjir dan letusan gunung berapi. 
warga Majapahit rupanya memahami betul ancaman 
ini dan mengantisipasinya dengan pembangunan waduk­
waduk. Berdasarkan fungsinya, waduk­waduk yang ada di 
situs Trowulan dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok 
barat laut dan kelompok timur. Waduk­waduk yang ada di 
kelompok barat laut berfungsi sebagai jalur transportasi air, 
sebagai contoh adalah waduk Temon. Terdapat dua kanal 
kuno yang bermuara di sungai Temon dari arah barat. Dalam 
prasasti Canggu juga disebutkan bahwa tempat penyeberangan 
kali pertama adalah Temon, sehingga dugaan bahwa waduk 
Temon sebagai terminal air cukup beralasan (Wibowo, 2006). 
Adapun kelompok kedua adalah kelompok timur. Waduk­
waduk yang ada di kelompok timur memiliki fungsi 
sebagai penyeimbang debit air, sehingga pada musim hujan 
tidak terjadi banjir, dan pada musim kemarau tidak terjadi 
kekeringan.
Selain dukungan faktor alam, berkembangnya kerajaan 
Majapahit terutama pada masa pemerintahan Hayam Wuruk 
juga didukung oleh beberapa faktor, yaitu:
1. adanya sistem pemerintahan yang efektif
2. adanya keajegan/kestabilan pemerintahan
3. kehidupan agama yang baik
4. terselengggaranya upacara kemegahan di istana
5. tumbuh kembangnya berbagai kesenian
54 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
6. hidupnya perniagaan Nusantara dengan Jawa 
(Majapahit)
7. pelaksanaan politik Majapahit terhadap nusantara
8. adanya pengakuan internasional dari negara­negara 
lain di Asia (Munandar, 2008). 
Luasnya wilayah Majapahit bukan merupakan hasil eks­
pansi politik semata, melainkan karena alasan yang didorong 
oleh kepentingan perdagangan yang perlu dilindungi dengan 
menempatkan daerah­daerah itu sebagai pangkalan yang 
memang harus dikuasai (Bosch, 1956 dalam Habib Mustafa, 
1993).
Penutup
Kondisi alam daerah sekitar Trowulan sangat mendukung 
proses berkembangnya Majapahit hingga mencapai puncak 
kejayaannya. Lokasi yang cukup datar dan kondisi tanah yang 
cukup stabil sangat baik untuk tempat pemukiman. Tanah yang 
subur serta ketersediaan air menyebabkan daerah ini surplus 
bahan makanan. Selain dukungan faktor alam, berkembangnya 
Trowulan hingga mencapai kejayaan Majapahit tidak terlepas 
dari warga pendukungnya. Dengan kecerdasannya 
warga Majapahit mampu mengubah bencana menjadi 
potensi yang menguntungkan bagi kehidupan mereka. 
Letaknya yang strategis sangat mendukung terhadap proses 
tumbuhnya Majapahit baik dari jalur darat maupun jalur air. 
Terbukti bahwa di masa itu Majapahit dapat berkembang 
pesat dengan dukungan berbagai aspek yang terutama berasal 
dari dukungan faktor alam serta, sistem pemerintahan serta 
warga pendukungnya.
55Dukungan Faktor Alam 
KEpUstaKaaN
Groeneveld, 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya. Jakarta: 
CV Bhratara.
Kristinah, Endang dan Aris Soviyani (penyunting), 2007. Mutiara-
mutiara Majapahit. Surabaya: Direktorat Peninggalan 
Purbakala, Direktorat jenderal sejarah dan Purbakala, 
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Koesbandono, Bambang, 1993. Peringatan 700 tahun Majapahit, 
Pekan Budaya dan Pariwisata Jatim. Surabaya : Pemda 
Jatim.
Kusumohartono, Bugie dan Siswanto, 1991. “Akumulasi Sisa 
Fauna Dari satuan Ruang Mikro Situs Medowo”. Berkala 
Arkeologi. Yogyakarta: Balai Arkeologi. Hal 20­27.
56 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Munandar, Agus Aris. 2008. Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan 
Pencapaian, Jakarta: Komunitas Bambu.
Munir, Moch, 1996. Geologi dan Mineralogi Tanah. Jakarta : PT 
Pustaka Jaya.
Mustopo, M Habib, 1993. “Teori Majapahit Raya”. Simposium 
Peringatan 700 Tahun Majapahit, Surabaya :.............
Rangkuti, chucky. 2005. “Jalan Masuk Kota Majapahit, Kajian 
Situs Arkeologi di Kecamatan Sumobito Jombang, Jatim”. 
Berkala Arkeologi TH XXV Ed November Yogyakarta : 
Balai Arkeologi
Sampurno dan Bandono, 1980. “Peranan Geologi dalam 
Pertumbuhan dan Kehancuran Kerajaan­kerajaan Lama 
di Jawa,dengan Contoh Majapahit”. Makalah IAGI (Ikatan 
Ahli Geologi Indonesia), Yogyakarta.
Slametmulyana, 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. 
Jakarta : Bhratara Karya Aksara.
Sutikno,1991. “Kondisi Geografis Keraton Majapahit”. 700 
Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai. Surabaya : Dinad 
Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Tingkat I Jatim CV 
Tiga Dara. Hal 13­ 30.
Wibowo, A.S.,1980.” Kubur Panggung: Situs yang Memerlukan 
Penelitian Khusus”. Majalah Arkeologi, III/1­2. Jakarta : 
Universitas Indonesia. Hal 3­34.
Wibowo, Budi Santoso dan Ni Ketut Wardani P.D, 2006. 
“Keberadaan Waduk dan Kanal Kuno di Pusat dan 
Sekitar Ibukota Majapahit (Trowulan): Sebuah Pemikiran 
Awal”. Desawarnana. Surabaya : BP3 Jatim.
57Potret-Potret Kearifan Lingkungan Masa Lalu 
3
potrEt-potrEt KEariFaN 
liNgKUNgaN Masa lalU 
dala

Related Posts:

  • majapahit 1 M A J A P A H I TBagian pertama membicarakan batas kota Majapahit di Trowulan yang sulit ditelusuri karena ke… Read More