Rabu, 03 Mei 2023

majapahit 5

a sadar juga menekuni bidang olah grafis.
Di sisi lain, geliat visual semakin kuat saat teknologi 
digital sepenuhnya mampu mendukung olah grafis yang 
nyaris tanpa batas. Imajinasi pun semakin luas jalajahnya 
untuk menghadirkan Kota Majapahit dalam gambar bernuansa 
estetis. Hasilnya adalah gambar­gambar bukan hanya hasil 
bidikan lensa berupa foto dan film, tetapi juga perpaduan 
antara teks dan gambar dalam ramuan sebuah cerita visual. 
Berikutnya adalah sebagian gambar­gambar Kota 
Majapahit buah dari geliat visual dan hasil jelajah imajinasi 
276 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
yang dituangkan dalam bidikan lensa (foto dan film), cerita 
dalam gambar (kolase dan poster), serta imajinasi lewat jemari 
(sketsa).
Bidikan Lensa
Rekaman Kota Majapahit melalui bidikan lensa terdiri 
atas foto­foto di beberapa situs serta bidikan kamera video 
yang dikemas dalam sebuah film pengetahuan arkeologi.
1. foto
a)  Wringin Lawang
Kiri: eksotika matahari terbit di Candi Wringin Lawang. 
Kanan: “Wringin Lawang on Infrared”
Kiri: Candi Wringin Lawang saat dibersihkan. Kanan: hasil bidikan 
lensa dengan filter inframerah
Candi Wringin Lawang merupakan gapura 
berbentuk bentar atau gapura tanpa ambang di 
277Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
atasnya, bagaikan sebuah candi yang dibelah dua 
lalu masing­masing ditarik menjauh, maka jadi­
lah gapura. Meskipum dinama kan gapura, namun 
tidak ada tembok di kiri dan kanannya sehingga jika 
tidak teliti orang tidak akan tahu yang mana bagian 
luar dan mana bagian dalam. Sesungguhnya, Wringin 
Lawang menghadap ke timur, sehingga mestinya 
bagain dalamnya ada di barat. Bangunan setinggi 15,5 
meter ini terletak di Desa Jatipasar, Trowulan, tak jauh 
dari jalan raya Mojokerto ­ Jombang.
b)  Candi Brahu
Kiri: Siluet Candi Brahu, tampak di latar belakang adalah jajaran pegunungan 
Penanggungan, Anjasmoro, dan Welirang. Kanan: hasil bidikan lensa berfilter 
inframerah
Bangunan yang terletak di Desa Bejijong ini meru­
pakan bangunan suci bagi agama Buddha. Dibangun 
dengan material bata, bangunan setinggi kurang lebih 
26 meter ini tampak seperti silinder berdiri yang diberi 
profil pada tepiannya. Untung ada pintu masuk di 
bagian barat, sehingga kita dapat tahu ada semacam 
teras di bagian dalamnya yang mungkin menjadi 
tempat ritual. warga percaya kalau di sinilah 
tempat perabuan bagi raja­raja masa akhir Majapahit.
278 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Kiri: sisi lain Candi Brahu dengan filter inframerah.  
Kanan: Candi Brahu saat dibersihkan  
(Foto: Sugeng Riyanto dan Indradi AW)
c)  Bajang Ratu
Bajang Ratu adalah sebuah gerbang berbahan 
bata setinggi hampir 17 meter, berbentuk gapura 
paduraksa, yaitu bangunan gapura dengan atap 
di ambangnya. Para peneliti percaya Bajang Ratu 
dibangun pada pertengahan abad ke­14, antara lain 
didasarkan pada relief yang menceritakan kisah Sri 
Tanjung. Memang, selain di sini, cerita Sri Tanjung 
juga ada di Candi Panataran, Blitar yang dibangun 
pada pertengahan abad ke­14.
 Gapura Bajangratu dalam infrared
279Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
d)  Candi Tikus 
Bangunan ini sebenarnya bukan candi tetapi 
sebuah bangunan petirtaan, atau kolam suci bagi 
agama Hindu. Bangunan berbahan bata ini berada 
di bawah level muka tanah, sehingga untuk menuju 
kolam harus turun melewati tangga yang ada di sisi 
utara. Candi Tikus mulai dipugar pada tahun 1923 
pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dan 
pemerintah RI melanjutkannya pada tahun 1980an. 
Konon, petirtaan ini dinamakan Candi Tikus karena 
sebelum dipugar situs ini memang menjadi sarang 
tikus.
Kiri: Candi Tikus dalam tone infrared.  
Kanan: sesaji di Candi Tikus
e)  Kolam Segaran
Bangunan yang ditemukan oleh Henry Maclaine 
Pont pada tahun 1926 ini benar­benar berwujud 
kolam yang berbentuk persegi panjang. Kolam 
berbahan bata ini mungkin kolam terbesar di dunia, 
melihat ukurannya yang begitu besar, yaitu 375 x 175 
meter atau 6,5 hektare lebih! Pemugaran pertama kali 
dilakukan pada tahun 1966 dan dilanjutkan tahun 
280 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
1974 dan diselesaikan sejak tahun 1978. warga 
sekitar ternyata cukup ”girang” dengan kolam yang 
nyaris berisi air sepanjang tahun ini karena memang 
banyak ikan di dalamnya.
Kiri: eksotika matahari terbit di Segaran.  
Kanan: foto infrared Kolam Segaran
Malam hari di Segaran, mungkin ini satu­satunya foto Kolam 
Segaran di waktu malam
Kiri: girang berperahu karet di kolam Majapahit.  
Kanan: berburu ikan di Segaran
281Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
f)  Foto­foto Lainnya
Masih di seputar Kota Majapahit, beberapa objek 
arkeologi ternyata juga memiliki sisi estetika, tentu 
saja jika direkam dengan teknik fotografi khusus. 
Inilah foto­foto itu.
Jajaran umpak raksasa berbentuk segi delapan di Sentonorejo  
(Foto: Sugeng Riyanto)
Kiri: yoni berukuran jumbo di Japanan, bandingkan dengan ukuran 
orang dewasa. Kanan: salah satu ruas kanal Kota Majapahit (jalur X7)  
(Foto: Sugeng Riyanto)
282 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Kiri: jajaran umpak di rimbun kebun jambu mete, Lebak Jabung.  
Kanan: bangunan Sitihinggil, Bejijong
 Kiri: sisa saluran air, Nglinguk. Kanan: runtuhan Candi Minak Jinggo, 
Trowulan
g)  Fenomena Kota Majapahit
Bekas kota Majapahit kini memang menjadi ruang 
permukiman yang ramai dan padat. Di dalamnya ternyata 
terdapat fenomena baru yang dapat “dikait­kaitkan” 
dengan Kota Majapahit, meskipun tidak ada benang 
merah nya secara langsung sebenarnya. Inilah potret 
beberapa fenomena di Kota Majapahit itu.
283Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
Arca Buddha raksasa, Bejijong, bandingkan dengan ukuran orang dewasa  
(Foto: Sugeng Riyanto)
 Perajin arca logam, Bejijong dan perajin terakota, Trowulan.  
Konon, mereka meniru artefak asli Majapahit sebagai modelnya  
(Foto: Sugeng Riyanto)
2. Film
Sebuah film pengetahuan arkeologi bertema Majapahit 
telah diproduksi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dengan 
dukungan Yayasan Tahija. Film berjudul “Menembus Kota 
Majapahit” ini terinspirasi oleh perjuangan para peneliti dalam 
usahanya menjelaskan tentang bentuk dan isi Kota Majapahit, 
termasuk kehidupan di luar kota. Catatan Prapanca dalam 
Nagarakrtagama dan rekonstruksi perjalanan Hayam Wuruk 
284 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
ke desa­desa di Jawa Timur dan di sekitar kota mengawali 
“kisah” dalam film ini.
Film berformat VCD dan berdurasi 49’ 40” ini juga 
menampilkan sebagian isi kota sebagaimana dapat disaksikan 
sekarang, baik berupa bangunan candi, gapura, kolam, struktur 
rumah, bahkan kanal. Kekuatan film ini adalah visualisasi 
hasil penelitian chucky Rangkuti tentang batas kota yang 
berukuran 9 x 11 Km. Bukan hanya itu, dengan lugas juga 
digambarkan teori jalan masuk ke Kota Majapahit dari Sungai 
Brantas hingga Kota Majapahit di Trowulan sekarang.
Sampul film (kiri), opening title (tengah), dan bagian film saat host 
menjelaskan peran Sungai Brantas sebagai pintu masuk ke Kota 
Majapahit (kanan) (Sumber: “Menembus Kota Majapahit”)
Di bagian akhir, divisualisasikan makna bentuk dan tata 
kota yang dikaitkan dengan konsep kosmologis, artinya ada 
unsur perencanaan pada bentuk Kota Majapahit. Dijelaskan 
oleh Rangkuti sebagai narasumber utama film ini bahwa 
konsep amertamanthana melandasi bentuk kota sebagaimana 
ditunjukkan oleh yoni­yoni berhias nagaraja yang menjadi 
batas kota, serta adanya jaringan kanal dan waduk­waduk di 
sekitar Trowulan. Konsep amertamanthana sendiri merupakan 
suatu kisah sakral ketika para dewa mencari air kehidupan 
(amertha) yang berada di dasar laut, sehingga laut harus diaduk 
285Situs Kota Majapahit dalam Gambar 
agar amertha dapat diambil. Alat pengaduknya adalah Gunung 
Mandhara, sebagai alasnya adalah kura­kura raksasa jelmaan 
Dewa Wisnu, dan sebagai tali pemutarnya adalah naga.
Bercerita dengan Gambar
Kolase dan poster adalah sebagian media untuk menam­
pilkan sebuah cerita melalui bahasa gambar. Tentu saja teks 
masih diperlukan di sini, namun perimbangan komposisi 
gambar harus lebih besar. Berikutnya adalah kolase dan poster 
bertema Kota Majapahit.
1. Kolase
 
Seperti apa jadinya jika Kolam Segaran 
dipotret dari pagi hingga malam? 
Kolase ini lah jawabannya, yang 
menggambarkan aspek estetika Segaran 
sepanjang hari hingga malam (Foto dan 
desain: Sugeng Riyanto)  
Inilah kolase eksotika Wringin Lawang 
sepanjang pagi, dari sebelum matahari 
terbit hingga matahari beranjak naik. 
Gemilang lazuardi adalah point of 
interest foto-foto dalam kolase ini

2. Poster
 
Keprihatinan atas penurunan kualitas 
dan kuantitas data arkeologi di situs 
Trowulan adalah inspirasi poster ini  
(Ide: chucky Rangkuti,  
desain: Sugeng Riyanto)
Poster ini menggambarkan keagungan 
Kota Majapahit. Penggalian makna 
antara lain berbuah pesan adanya 
konsep persatuan dalam keragaman, 
etos kerja keras, keselarasan dengan 
lingkungan, serta konsep jatidiri 
 (Ide: chucky Rangkuti,  
desain: Sugeng Riyanto)
Imajinasi Lewat Jemari
Kamera dan komputer adalah perpanjangan imajinasi 
guna menuangkan hasil jelajahnya ke dalam media visual. 
Di sisi lain, ternyata jelajah imajinasi juga dapat disalurkan 
melalui “tarian jemari” dan sebuah pensil. Berikut adalah 
karya visual bertema Kota Majapahit dalam bentuk sktesa 
pensil pada media kertas HVS karya Hadi Sunaryo.

Lensa dan Imajinasi untuk Kota Majapahit
“Sayangnya, kota Majapahit kini hanya dapat direkonstruksi di 
atas kertas. Di lapangan, bekas kota itu berubah wajah menjadi 
kota industri bata. Lebih dari 3.000 titik lokasi pembuatan bata 
telah melenyapkan lapisan budaya Majapahit. Pemusnahan secara 
sistemik itu berlangsung terus tanpa dapat dicegah”.
Epilog dalam film “Menembus Kota Majapahit” itu benar­
benar menggambarkan kondisi bekas kota yang semakin 
menge naskan dari hari ke hari. Namun, dalam porak­poranda, 
di antara puing, dan di sela rimbun tebu dan lumpur per­
sawahan, peneliti maju terus untuk menggali dan menggali 
sisa runtuhan kota. Hanya dengan cara itulah arkeolog 
berjuang untuk dapat memperoleh gambaran seperti apa kota 
Majapahit.
Menggali dan terus menggali, seolah berpacu dan berebut 
data dengan perajin bata terus dilakukan meski kadang 
dihantui perasaan pesimis. Namun, api harap dan semangat 
terus terjaga dan tak akan pernah padam meskipun di­
tingkahi rasa cemas. Semua itu tidak lain adalah demi dapat 
menyampaikan nilai­nilai luhur dan adiluhung di balik kota 
Majapahit ke seantero negeri. Di sisi lain, penggalian kejayaan 
itu juga dilakukan lewat gambar, sebut saja foto, film, dan 
poster. Jadi, penggalian tidak saja memakai cetok dan 
cangkul, tetapi juga dapat memakai lensa. Namun, lensa 
yang memiliki peran terbesar sebenarnya adalah lensa nurani 
dan imajinasi, tentu saja lewat eksplorasi perasaan yang lembut 
dan jelajah imajinasi yang manis. Lewat jalan inilah anak­anak 
negeri akan tahu dan dapat memahami betapa ada jejak jaya 
di riwayat negeri, yang dapat diteladani untuk menyambut 
lazuardi gemilang esok pagi.

 
Begitu banyak pabrik bata di Trowulan,  
sebagian di antaranya berada persis di atas runtuhan bangunan 
masa Majapahit
 
Ini adalah contoh sisa bangunan masa Majapahit yang digempur tanpa 
ampun demi memperoleh bahan baku bata
 

T empat kediaman raja digambarkan bertembok bata yang tingginya lebih dari 20 kaki dan panjangnya lebih dari 100 kaki, memiliki gapura ganda dan keadaannya bersih dan terawat 
baik. Rumah-rumah di dalamnya terletak di atas tanah setinggi 30-40 kaki; 
lantainya dari papan kayu yang di alasi tikar rotan atau alang-alang yang 
dianyam halus, atap-atap rumah dipakai papan kayu yang keras sebagai 
genteng. Rumah-rumah rakyatnya diberi atap jerami. Demikian gambaran 
tentang ibukota Trowulan yang diuraikan dalam berita Cina pada abad ke 
15 M.
Pahitnya buah Maja
Konon nama Majapahit 
berasal dari nama buah Maja 
yang dikenal dengan rasanya 
yang pahit. Pada waktu 
Raden Wijaya bersama­sama 
orang Madura membuka 
”alasing wong Trik” yang akan 
Buah Maja dengan latar belakang 
Candi Brahu  
dipakai sebagai pemukiman, di sekitar lokasi tempat baru 
itu banyak dijumpai pohon Maja. Ketika itu para pekerja yang 
membabat alas kehabisan perbekalannya, lalu mereka makan 
buah Maja ini dan ternyata rasanya pahit. 
Ada beberapa nama tempat yang memakai unsur kata 
”mojo”, seperti Mojoagung, Mojowarno, Mojolegi, Mojoduwur, 
Mojowangi, dan Mojosari. Sementara itu di Trowulan sendiri 
tidak dijumpai nama tempat yang memakai unsur kata 
”mojo”. Namun desa ini telah mewariskan kepada kita 
berbagai jenis maupun variasi benda­benda purbakala. Oleh 
karena itu Desa Trowulan hingga sekarang diyakini sebagai 
bekas ibukota kerajaan Majapahit.
Seratus sembilan puluh empat tahun (1815­2009) sudah 
usia situs Trowulan sebagai situs perkotaan Majapahit yang 
digeluti oleh para peneliti, baik dari dalam negeri, luar negeri, 
maupun pemerhati budaya. Namun hasil dari penelitian­
penelitian yang telah dilakukan itu hingga kini belum mem­
buahkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu sebuah ibukota 
kerajaan dari masa Hindu­Buda, satu­satunya situs perkotaan 
di era kerajaan­kerajaan kuno dari abad V­XV Masehi yang 
ada di Nusantara ini. Memang usaha untuk memperoleh 
gambaran yang utuh tentang sebuah kota tidaklah mudah. 
Apalagi peninggalan­peninggalannya yang sampai kepada 
kita sangat fragmentaris. 
Ada beberapa faktor penyebab kerusakan yang dialami 
kerajaan Majapahit. Utamanya adalah faktor internal, yaitu 
adanya suksesi dan perebutan kekuasaan. Di dalam perja­
lanannya kerajaan Majapahit mengalami berbagai peristiwa 
pemberontakan di antara keluarga raja untuk memperebutkan 
kekuasaan, seperti pemberontakan Ranggalawe, Lembusora, 
297Yang Pahit dari Majapahit
Nambi, Kuti, Tanca, penaklukan Keta, dan Sadeng (Baskoro 
2004).
Peristiwa besar yang hampir meruntuhkan kerajaan 
Majapahit dikenal sebagai perang Paregreg, antara 
Wikramawardhana dari wilayah bagian barat (Majapahit) 
dengan Bhrĕ Wirabhumi yang memerintah di bagian timur 
(Blambangan). Pemberontakan terus­menerus terjadi, penguasa 
silih berganti. lalu muncullah Girindrawardhana yang 
mengambil alih pemerintahan Majapahit. Girindrawardhana 
inilah yang berusaha mempersatukan kembali wilayah 
kerajaan Majapahit yang terpecah­pecah akibat pertentangan 
keluarga (Baskoro 2004). Meskipun ia telah menyatukan 
kembali wilayah Majapahit yang terpecah­pecah, tetapi 
kekuasaan kerajaan Majapahit tidak dapat dipertahankan. 
Akibatnya pengawasan terhadap daerah­daerah bawahannya 
semakin lemah, dan memberi peluang bagi daerah­daerah 
bawahan ini untuk menyusun kekuatan dan melepaskan 
diri dari Majapahit. Pada waktu itu di kawasan Asia Tenggara 
timbul perkembangan baru di bidang politik dan ekonomi, 
khususnya di daerah­daerah pesisir utara Jawa. Selain itu 
perkembangan agama Islam sangat pesat pada abad 15 
Masehi. Oleh karena itu pengaruh Majapahit lenyap dengan 
sendirinya dan muncullah kerajaan Demak pada tahun 1519 
Masehi (Djafar 1978: 108). Keadaan istana di Majapahit yang 
sudah hancur juga disebutkan dalam Babad Pasir tahun 1891 
(Irna 2004: 79).
Faktor alam seperti gunung meletus, banjir, dan gempa 
juga mendukung kehancuran Majapahit. Hasil penelitian yang 
dilakukan oleh Sartono dan Bandono (1991) membuktikan 
bahwa situs Trowulan terkena bencana letusan gunung. Letusan 
gunung Kelud merusak situs Trowulan sebanyak delapan 
298 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
kali. Dampak dari letusan gunung dan banjir yang melanda 
Trowulan menghancurkan pemukiman di situs ini, dan 
sangat mempengaruhi hancurnya sektor perekonomian dan 
perdagangan yang menjadi andalan kerajaan Majapahit. 
Selain faktor internal dan faktor alam, hal yang paling 
sulit diatasi adalah ulah manusia. Kerusakan peninggalan­
peninggalan arkeologi di Trowulan ini sudah terjadi sejak 
jaman Belanda dahulu. Entah sengaja atau tidak, ketika 
Maclaine Pont berusaha merekonstruksi tembok keraton 
Majapahit, ia melakukan kesalahan prosedur. Tembok bata 
yang masih tertutup itu disemprot dengan air dari mobil 
pemadam kebakaran, sehingga dinding tembok dengan cepat 
tampak dipermukaan. Sementara temuan penting lainnya 
tidak dihiraukan dan terbawa air. Temuan­temuan lainnya itu 
dianggap sebagai temuan permukaan lalu dikumpulkan oleh 
penduduk. Temuan­temuan itu disimpan di rumah Maclaine 
Pont yang lalu dijadikan museum (Wibowo 1980: 20­21). 
Pada tahun 1926 museum ini dibuka untuk umum, 
dan ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942 
museum ditutup karena Pont ditawan. Setahun lalu 
atas ijin pimpinan Kantor Urusan Barang Kuno di Jakarta 
museum dibuka kembali dan barang­barang koleksi Pont 
dilelang, termasuk sebagian koleksi museum itu sendiri. 
Koleksi museum ini lalu ditempatkan di Museum 
Mojokerto, dan pada tahun 1963 dipindahkan ke Museum 
Balai Penyelamatan Arca yang terletak di dekat kolam Segaran 
(Sulanjari 2004). Museum Balai Penyelamatan Arca (sekarang 
menjadi Pusat Informasi Majapahit) memiliki tiga ruang 
pamer, yaitu ruang logam, ruang prasejarah, ruang keramik 
dan terakota, dan ruang terbuka untuk menyimpan jenis 
temuan dari batu andesit. Melihat jenis­jenis koleksi yang 
299Yang Pahit dari Majapahit
dipamerkan di museum ini tidak satupun jenis koleksi 
yang dapat menjadi ”unggulan” bagi kerajaan Majapahit 
yang diakui kebesarannya. Kebanyakan jenis koleksi yang 
dipamerkan adalah artefak yang terbuat dari terakota. Koleksi 
dari terakota ini disimpan di ruang khusus dengan berbagai 
jenis dan kuantitasnya. 
Kerusakan Situs Majapahit juga akibat kegiatan para 
penggali liar yang dilakukan penduduk untuk mendulang 
emas hingga sekarang. Banyak lubang yang dibuat para 
penggali liar merusak situs Majapahit. Sebuah kerajaan yang 
besar tentunya mewariskan banyak benda kerajinan dari 
emas. Seperti yang diuraikan dalam beberapa pupuh dari 
kitab Nagarakertagama bahwa iring­iringan raja Majapahit 
memakai kereta yang berhiaskan emas. Juga ada sebuah 
legenda yang diyakini oleh warga setempat bahwa raja­
raja Majapahit sering mengadakan perjamuan untuk tamu di 
tepi kolam Segaran. Konon peralatan pesta terbuat dari emas 
yang dihiasi dengan permata yang sangat indah (Badil 2009). 
Peralatan­peralatan ini sesudah dipakai dibuang ke kolam 
Segaran.
Demikian juga ada berita­berita Cina yang menyebutkan 
bahwa raja Jawa sangat kaya. Raja memakai pakaian yang 
ditenun dengan benang emas, perhiasan emas, dan senjata 
pedang pendek berhulu emas. Di dalam berita Cina juga 
disebutkan bahwa utusan Majapahit mendatangi Cina mem­
bawa “upeti maaf” senilai 60.000 tail emas. Sementara itu 
seorang pelaut berkebangsaan Portugis bernama Tome Pires 
melaporkan bahwa pada tahun 1515 ”orang Jawa itu sangat 
kaya raya begitu makmurnya sampai­sampai kalung anjingpun 
dibuat dari emas” (Badil 2009). Akan tetapi tidak satupun jenis 
300 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
koleksi berbahan dasar emas ini dijumpai di Museum Balai 
Penyelamatan Arca (PIM).
Lubang “penggalian liar” tempat mendulang emas yang dilakukan 
penduduk di Dukuh Nglinguk, Desa Trowulan, dan di sekitar lubang 
banyak berserakan bata­bata kuna (Foto ini dibuat tahun 1974)  
(Repro: A.S. Wibowo 1980)
Keperihatinan tentang kerusakan ibukota kerajaan 
Majapahit juga dirasakan oleh Harjoso Projopangarso seorang 
guru besar Teknik Sipil UGM. Ia menilai bahwa situs ibukota 
kerajaan Majapahit menyimpan teknologi ramah lingkungan 
yang sangat penting untuk dipelajari generasi sekarang, 
seperti saluran air yang sederhana tetapi peduli lingkungan. 
Berbagai teknologi ramah lingkungan itu masih perlu 
digali untuk dikembangkan di masa mendatang. Dengan 
pengrusakan terjadi, sejumlah kekayaan teknologi dari masa 
silam dikhawatirkan hilang untuk selamanya (Kompas 2009). 
Kekhawatiran hilangnya saluran air di Trowulan ini sudah 
301Yang Pahit dari Majapahit
terjadi. Di dekat Sentonorejo saluran dan juga situs sudah 
dibuldozer dan dijadikan lahan parkir bagi para pengunjung 
yang akan berziarah ke makam Troloyo. 
Aktifitas pembuat bata di Desa Sentonorejo  
(dokumentasi: Sugeng R./BAY)
Kerusakan akibat aktifitas pembuat bata di sekitar Candi Tikus 
(dokumentasi: Sugeng R/BAY)
302 Majapahit :  Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya
Struktur bata yang dibongkar tanpa prosedur yang benar  
di Desa Sentonorejo (Dokumentasi: Sugeng R./BAY).
Panggung yang dibangun di halaman Candi Wringin Lawang  
Oleh BP3 Jatim dan Dinas Pariwisata Mojokerto  
(Dokumentasi: Sugeng R./ BAY)
Kebiasaan memanfaatkan lahan untuk pembuatan bata 
paling sulit untuk dikendalikan dan dihentikan, karena pem­
buatan bata ini merupakan sumber utama mata penca harian 
303Yang Pahit dari Majapahit
penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Justru 
peninggalan­peninggalan arkeologi di Trowulan itu banyak 
dijumpai di lahan pembuatan bata baik dalam keadaan utuh, 
tidak utuh, rusak saat ditemukan, atau rusak akibat alat yang 
dipakai oleh pembuat bata. Bahkan seringkali para pembuat 
bata menemukan benda­benda yang masih utuh atau benda 
lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi lalu diperjual 
belikan. 
Pembongkaran dan pengambilan bata kuna menurut 
laporan Bosch (1930: 30­31) sudah berlangsung ratusan tahun. 
Orang berusaha mengambil bata­bata yang utuh untuk dijual 
ke pabrik­pabrik dan bata­bata yang tidak utuh ditumbuk. 
Seperti Candi Lima di Trowulan juga sudah hilang tidak ada 
bekasnya, karena bata­batanya diambil. Hilangnya Candi 
Lima ini disebutkan dalam ROC 1915 halaman 216. Hal ini 
diperkuat juga dengan surat bertarikh 1877, yang dikirimkan 
oleh seorang Insinyur Jawatan Kereta Api bernama Wouters 
pada tahun 1924 kepada Oudheidkundige Dienst, bahwa bata­
bata dari Candi Lima itu dipakai untuk fondasi jalan kereta 
api antara Surabaya­Madiun dan Kertosono­Blitar 
Kerusakan kawasan situs Trowulan menurut Yunus Satrio 
Atmojo mencapai sekitar 6,2 ha per tahun, yaitu berupa tanah 
di sekitar situs yang dimanfaatkan untuk pembuatan bata Kurang lebih 5000 kepala keluarga bermata 
pencaharian dari pembuatan bata. Akibat dari kegiatan 
ini sepertiga situs rusak  Dari luas 99 
km2, pemerintah hanya menguasai lahan seluas 57,225 m2. Di 
luar lahan ini pemerintah tidak dapat berbuat apa­apa 

Pembuatan masterplan Majapahit sudah dilakukan oleh 
Ditlinbinjarah (sekarang: Direktorat Peninggalan Purbakala) 
bekerjasama dengan berbagai instansi terkait termasuk 
Bakosurtanal. Pada tahun 1986 master plan itu diterbitkan 
dengan judul Bukti-Bukti Kejayaan Majapahit Muncul 
Kembali: Rencana Induk Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan 
Bekas Kota Kerajaan Majapahit. Dalam perkembangan 
selanjutnya kegiatan penelitian tentang berbagai aspek yang 
berkaitan dengan Majapahit tetap terus berjalan. 
Lokasi rencana pembangunan PIM di atas situs  
(Repro: Kompas, Januari 2009)
Data­data baru dari hasil penelitian masih terbatas pada 
pengumpulan data saja. Belum disinkronkan dan dipakai 
sebagai data untuk melengkapi buku induk yang pernah 
dibuat. usaha untuk melengkapi data­data yang ada dalam 
buku masterplan ini telah dilakukan oleh Puslit Arkenas 
(sekarang: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi 
Nasional). Hasil dari penelitian itu nantinya akan dipakai 

untuk melengkapi data dan mencocokkan kembali ada­
tidaknya keberadaan data yang terdapat dalam buku induk 
ini dengan kondisi sekarang.
Pembangunan tiang pancang dekat struktur bata kuna 
Majapahit yang Pahit
Isu rencana pembangunan Pusat Informasi Majapahit 
(PIM) ini sudah lama terdengar, di antaranya disebutkan akan 
dibangun semacam arena bermain yang letaknya tidak jauh 
dari Balong Bunder. Begitu terkejutnya ketika sebuah media 
massa mengabarkan tentang Pembangunan Pusat Informasi 
Majapahit yang berdiri di atas lahan yang diduga mengandung 

banyak tinggalan arkeologi. Ada sekitar 50 buah tiang pancang 
beton dengan diameter masing­masing 50 cm yang akan 
dipasang dengan cara di bor, bukan dengan pemukul tiang 
pancang (hydraulic hammer). Cara pertama ini dianggap 
dapat meminimalisir kerusakan situs. Sungguh merupakan 
pekerjaan yang sangat ceroboh, dan mengapa harus dibangun 
di lokasi yang sangat kaya dengan peninggalan Majapahit 
yang belum sepenuhnya terungkap oleh penelitian arkeologis. 
Bukankah di Segaran III dan Segaran IV juga belum diteliti. 
Atau pemilihan lokasi pembangunan di Segaran itu disengaja 
karena ingin menampilkan sisa­sisa bangunan rumah tangga 
warga Majapahit seperti yang ditunjukkan di Segaran II 
(lihat peta). Konon di atas gedung 
yang dibangun itu berlantaikan 
kaca tembus pandang, sehingga 
dapat melihat ke bawah sisa­sisa 
pemukiman Majapahit.
Bentuk Surya Majapahit yang 
akan dijadikan model bangunan 
PIM dengan pem bagian ruang 
yang sudah dirancang sedemikian 
rupa, khususnya ruang pamer 
ada 4 tempat. Apakah fasilitas ini 
mampu mengisi koleksi artefak 
Majapahit yang memiliki daya 
tarik, ”eyecatching?”, mengingat 
jenis koleksi yang tersimpan di 
museum sekarang tidak ada yang 
dapat di ”unggulkan”.
Maksud dari pembangunan mega proyek ini adalah 
menya tukan situs­situs peninggalan ibukota Majapahit di 
Denah dan lokasi proyek PIM  

Trowulan dalam sebuah konsep terpadu. Tujuannya untuk 
menye lamatkan situs dan benda cagarbudaya dari kerusakan 
untuk menarik wisatawan. Namun sangat disayangkan bahwa 
maksud dan tujuan dari pembangunan ini tidak seimbang 
dengan prakteknya. 
Di satu sisi berusaha melestarikan peninggalan­pening­
galan Majapahit yang masih ada, tetapi di sisi lain justru 
merusak data bahkan menghancurkannya. Kerusakan pada 
skala besar ini tidak lepas dari andil pemerintah. Sejak awal 
niat pemerintah untuk melindungi situs ibukota Majapahit 
tidak pernah total. Di sini tampak sekali kepentingan investasi 
lebih diprioritaskan dibandingkan pemeliharaan situs bersejarah.
Akhir­akhir ini seringkali di daerah sekitar Trowulan 
di temukan peninggalan­peninggalan Majapahit. Konon 
temuan­temuan itu sudah dilaporkan ke instansi yang 
berhak menanganinya, namun seringkali belum/kurang/
tidak mendapat tanggapan. Mungkin banyak sekali temuan 
yang harus mendapat ganti rugi, sementara dana ganti rugi 
dari pemerintah masih minim. Selain itu kemungkinan 
yang lain disebabkan terbatasnya SDM yang ada di instansi 
ini karena terlampau banyak kasus yang harus dihadapi. 
Minimnya SDM juga akibat dari peraturan pemerintah yang 
lambat membuka lowongan kerja terutama bagi para sarjana 
arkeologi. Akibatnya terjadi kevacuman dalam instansi, 
fatalnya lagi menjadikan generasi muda yang ingin menekuni 
bidang arkeologi makin lama makin habis. Semestinya 
pemerintah harus memikirkan lembaga yang minim SDMnya 
dengan beban pekerjaannya yang sangat kompleks. Padahal 
warisan budaya bangsa Indonesia sangat kaya dan ada di 
hampir seluruh wilayah nusantara. Bila pemerintah tidak 
segera memikirkan atau memperhatikan SDM dan warisan 
budayanya, sangat dikhawatirkan jati diri bangsa ini juga akan 
segera hancur.
Semestinya masterplan yang sudah dibuat dapat dijadikan 
panduan untuk mengembangkan penelitian, pelestarian, dan 
pemanfaatan tinggalan­tinggalan yang ada di bekas ibukota 
kerajaan Majapahit. Untuk itu instansi yang terkait ataupun 
pemerhati budaya yang peduli dengan Trowulan selayaknya 
bersama­sama mencari jalan keluar segala permasalahan 
tentang Trowulan dan melepaskan ego kepentingan. 
Memang rehabilitasi situs yang rusak akibat pembangunan 
PIM sulit dilakukan jika melihat parahnya kerusakan situs 
oleh penggalian fondasi PIM. Namun perlu segera ditetapkan 
secara hukum batas­batas kawasan dan batas­batas zona di 
dalam kawasan secara geografis, administratif dan kultural, 
seperti yang dikemukakan Mundarjito. Dengan demikian jelas 
mana wilayah perlindungan dan pengembangan. 
Untuk membantu zonasi ini diperlukan metode 
yang lebih cepat. Dalam hal ini dapat melibatkan para ahli 
geofisika dari BPPT dengan memakai alat georadar. 
Studi tentang geofisika terfokus pada bidang minyak dan gas 
bumi, eksplorasi mineral, geotermal, gempa, tsunami dan 
cuaca. Geofisika migas dan geofisika arkeologi memiliki 
kesamaan teori, konsep, metode interpretasi, oleh karena itu 
tidak sulit untuk memetakan situs Trowulan yang terpendam. 
Perbedaannya: untuk eksplorasi migas dipakai energi 
gelombang getaran seismik untuk memperoleh citra bawah 
permukaan; sedangkan untuk kepentingan pemetaan arkeologi 
dipakai sumber gelombang radar (ground penetration radar/
GPR) (Ikawati 2009). 
Pemetaan GPR memakai pulsa radar frekuensi tinggi 
yang dipancarkan dengan antene dari permukaan ke dalam 

tanah. Gelombang ini lalu diteruskan dan dipantulkan 
kembali oleh benda­benda yang terpendam dalam tanah. 
lalu data pantulan gelombang ini akan direkam di 
dalam domain waktu dan citra yang dihasilkannya, lalu 
dikonversi ke dalam domain kedalaman. Citra bawah per­
mukaan digambarkan dalam bentuk amplitude gelombang 
yang menggambarkan perubahan cepat rambat gelombang 
pada benda­benda terpendam maupun sedimen tertutup. 
Batu candi atau benda peninggalan lainnya memiliki 
cepat rambat gelombang yang lebih tinggi dibandingkan sedimen 
penutupnya. pemakaian alat georadar di situs Trowulan yang 
diperkirakan berukuran 11 X 9 km2 dapat diketahui kerapatan 
peninggalan arkeologi, dan tempat­tempat mana yang kosong. 
Ditemukannya tempat kosong itu dapat dijadikan acuan untuk 
mendirikan bangunan yang direncanakan. 
Aplikasi georadar ini pernah dipakai dalam pencarian 
bekas kerajaan Sumbawa yang terpendam akibat letusan 
Gunung Tambora di NTB. Pencarian ini dilakukan oleh 
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Inventarisasi 
Sumberdaya Alam BPPT dipimpin Djoko Nugroho. Selain itu 
metode ini juga pernah dilakukan untuk pendeteksian 
keberadaan situs Megalitik di Pagar Alam di Desa Rimba Jati, 
Sumatra Selatan yang tertimbun akibat letusan gunung Dempo 


Tidaklah mudah untuk menjawab berbagai permasalahan 
mengenai Trowulan yang diduga sebagai bekas ibukota 
kerajaan Majapahit ini. Namun penelitian arkeologi untuk 
menjawab berbagai pertanyaan tentang Trowulan haruslah 

terus dilakukan sebelum semuanya menjadi sulit untuk dijawab 
akibat aktivitas pemakaian lahan yang memicu 
rusaknya atau hilangnya jejak­jejak budaya masa lampau.
Semoga kepahitan dari peristiwa­peristiwa yang telah 
terjadi di situs Trowulan tidak terulang lagi dan masih ada yang 
bisa diselamatkan. Dengan harapan generasi muda mendatang 
masih dapat menikmati sisa­sisa kebesaran kerajaan Majapahit, 
dan tidak hanya mendengar dongengnya saja. Tinggalan­
tinggalan Majapahit ini jika ditangani secara profesional 
dapat memberikan keuntungan berbagai pihak. Paling tidak 
membangkitkan jati diri bangsa. 
Pemerintah juga diharapkan perlu meningkatkan anggaran 
di bidang kebudayaan, agar ganti rugi yang harus diterimakan 
kepada pihak yang bersangkutan disambut dengan rasa 
lega. Selain itu, Undang Undang No. 5 tahun 1992 tentang 
benda cagar budaya yang telah direvisi segera diedarkan dan 
disosialisasikan. 

Related Posts:

  • majapahit 5 a sadar juga menekuni bidang olah grafis.Di sisi lain, geliat visual semakin kuat saat teknologi digital sepe… Read More