Rabu, 13 September 2023

sejarah majapahit 3

kerajaan Tartar. Maka 
tentara Tartarpun sepakat dengan permintaan R Wijaya, akhirnya peperangan 
terjadi tentara R Wijaya dibantu oleh pasukan Tartar melakukan penyerangan 
dan berhasil membunuh Jayakatwang.sesudah  Jayakatwang terbunuh, Raden 
Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar 
Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Panglima Tartar 
mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya 
mempersiapkan upeti, R Wijaya dan pasukannya malah menghabisi para 
pengawal dari Tartar yang menyertainya. sesudah  itu, dengan membawa 
pasukan yang lebih besar, R Wijaya memimpin pasukan menyerbu pasukan 
Tartar yang sedang dijamu dan merayakan pesta kemenangannya.
Pasukan Tartar yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa R 
Wijaya akan bertindak demikian, akhirnya pasukan Tartar dibuat kalang 
kabut menghadapi serangan mendadak yang dilancarkan oleh pasukan 
Majapahit, seranga itu mampu membuat pasukan Tartar kocar kacir, pasukan 
Tartar ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka 
keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban. Bahkan 
Panglima perang yang memimpin penyerangan ke pulau Jawa, harus 
melarikan diri, sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa 
pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Dari sini mereka 
berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.
Adalah Lembu Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit 
yang bekerja sama dengan orang-orang Tartar menjatuhkan Jayakatwang, yang 
melakukan penumpasan itu. Kekalahan balatentara Tartar oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka 
nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di 
dunia. Ada sebuah catatan yang mengatakan pada pertempuran di Ujung 
Galuh, saat tentara tartar berhasil dikalahkan Majapahit, maka saat Itulah 
bendera Getah Getih (Merah Putih) dikibarkan, kekalahan pasukan Tartar 
sebagai tanda terbebasnya Nusantara dari interfensi kerajaan asing dan 
Majapahit menjadi kerajaan yang merdeka.
sesudah  berhasil mengusir pasukan Tartar dari pulau Jawa, maka Raden 
Wijaya lalu menobatkan dirinya menjadi raja pertama Majapahit dengan 
gelar Kertarajasa Jayawardana.. Penobatan R Wijaya sebagai Raja Majapahit 
diperkirakan terjadi pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1216 Saka, atau 10 
November 1293 M, lalu disaat yang sama dia menyatakan berdirinya 
sebuah kerajaan baru yang dinamakan Wilwatikta atau Majapahit.
Dalam memimpin Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya dikenal 
memerintah dengan tegas dan bijak. Kepemimpinan Kertarajasa dianggap 
cukup bijaksana, dengan mengangkat para pengikutnya yang setia dalam 
perjuangan dengan memberikan kedudukan dan hadiah yang pantas kepada 
para pendukungnya. Arya Wiraraja yang banyak berjasa ikut mendirikan 
Majapahit, diberi daerah khusus (Madura) dan diberi diberi kekuasaan atas 
daerah Lumajang hingga Blambangan. Disamping itu Arya Wiraraja dan 
Ranggalawe diangkat sebagai Pasangguhan Pranajaya (pejabat tinggi 
kerajaan semacam hulubalang istana yang bertugas merencanakan dan 
mengambil keputusan tentang seluk beluk pemerintahan yang harus 
dilaksanakan para pejabat di bawahnya). Nambi diangkat menjadi patih, 
Ranggalawe juga diangkat sebagai Adipati Tuban, dan Lembu Sora sebagai 
patih Dhaha (Kadiri). Demikianlah sebuah catatan berdirinya kerajaan besar 
di Nusantara yang pada akhirnya mampu menyatukan Nusantara dalam satu 
payung besar Majapahit.
Majapahit mengalami kegaduhan dan guncangan kekusaan saat Raja 
Jayanagara yang tewas ditikam tabibnya sendiri ( baca; Ra Tanca ) pada 1328 
M. Putra R. Wijaya1
, pendiri kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, itu 
belum sempat dikaruniai anak. Tak ayal, kematian Jayanagara menimbulkan 
polemik terkait siapa penggantinya. Situasi inilah yang nantinya menaikkan 
Tribhuwana Tunggadewi ke tampuk kekuasaan. Lantaran Jayanegara tidak 
punya putra mahkota, yang berhak naik takhta adalah Gayatri, salah satu istri 
R. Wijaya yang juga ibu tiri Jayanegara. Namun, Gayatri enggan menjadi 
penguasa, ia sudah melepaskan ambisi duniawinya dengan menjadi bhiksuni
(Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Volume 1, 2006: 30). Di lingkaran 
utama kekuasaan Majapahit saat itu sudah tidak ada laki-laki lagi. Dari 
kelima istrinya, R. Wijaya hanya dikaruniai satu orang putra, yakni 
Jayanegara, serta dua orang putri, yaitu Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah 
Wiyat. Gayatri lalu memberi titah kepada putri pertamanya, 
Tribhuwana Tunggadewi, untuk naik takhta, menjadi ratu penguasa 
Majapahit. Demi baktinya kepada sang ibunda, Tribhuwana bersedia dan 
kelak mengantarkan Majapahit ke gerbang kejayaan.
Nama asli Tribhuwana Tunggadewi adalah Dyah Gitarja. Beberapa bulan 
sesudah  Jayanegara tewas, ia dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Majapahit 
pada 1329, dengan gelar Tribhuwana Tunggadewi Maharajasa 
Jayawisnuwardhani (Slamet Muljana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, 
1979:135). lalu Tribhuwana Tunggadewi dipanggil sebagai “rajaputri”, 
untuk membedakan dengan istilah “ratu” . Rajaputri Tribhuwana Tunggadewi 
sebenarnya tidak pernah terpikir naik takhta sebagai pemimpin Kerajaan 
Majapahit. Ia hanya mematuhi titah sang ibunda, Gayatri, dan memang sebab  
tidak ada keturunan laki-laki lain sepeninggal Jayanegara.
Semasa Jayanegara masih hidup, Tribhuwana Tunggadewi dan adiknya, Dyah 
Wiyat, dilarang menikah. Jayanegara takut takhtanya terancam oleh suami-suami 
kedua adik tirinya itu. sesudah  raja ke-2 Majapahit itu tewas, banyak pangeran 
dari berbagai negeri yang datang untuk melamar Tribhuwana Tunggadewi dan 
Dyah Wiyat. sesudah  diadakan sayembara, Tribhuwana Tunggadewi disunting 
oleh Pangeran Cakradhara atau Kertawardhana, bangsawan muda keturunan raja￾raja Singhasari, sedangkan Dyah Wiyat menikah dengan pangeran lainnya 
bernama Kudamerta. Nantinya perkawinan Tribhuwana dengan Cakradhara 
dikaruniai anak laki-laki bernama Hayam Wuruk. Orang inilah yang kelak 
membawa Majapahit mencapai puncak keemasannya, berkat rintisan serta 
bimbingan sang Rajaputri.
Selama era Jayanegara (1309-1328), Majapahit belum sempat menikmati 
masa-masa indah. Ia dianggap lemah, jahat, dan tidak bermoral. Banyak intrik 
yang muncul sebab  kepemimpinannya yang dinilai kurang baik. Setidaknya 
sudah terjadi lebih dari 8 kali pemberontakan terhadap Jayanegara yang akhirnya 
tewas dibunuh tabibnya sendiri. Naik takhtanya Tribhuwana Tunggadewi 
sebagai pengganti Jayanegara pun sempat memantik keraguan sebab  belum ada 
sejarahnya Majapahit dipimpin seorang perempuan. Namun, sang rajaputri 
berhasil menepis skeptisme itu dan justru menjadi pembuka gerbang Majapahit 
menuju masa emas. Purwadi (2007) dalam buku Sejarah Raja-raja Jawa: 
Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa menyebut bahwa jasa 
besar Tribhuwana Tunggadewi adalah meletakkan dasar-dasar politik 
kenegaraan Majapahit (hlm. 107).
Gajah Mada berperan besar dalam kesuksesan era Tribhuwana. Saat 
dilantik menjadi mahapatih pada 1334, Gajah Mada mengucapkan Sumpah 
Palapa (Pitono Hardjowardojo, Sedjarah Indonesia Lama, 1961:191). Ia berikrar 
tidak akan merasakan kenikmatan duniawi sebelum berhasil mempersatukan 
Nusantara di bawah naungan Majapahit. Pada era Tribhuwana Tunggadewi 
inilah ekspansi besar-besaran dimulai. Tahun 1343, Majapahit menaklukkan 
Bali. Tiga tahun berselang, giliran kerajaan-kerajaan di kawasan lain di 
Nusantara, terutama di Sumatera, yang ditundukkan. Majapahit sebenarnya 
sedang menuju kegemilangan ketika Tribhuwana Tunggadewi memutuskan 
turun takhta pada 1350. Keputusan ini  diambil seiring wafatnya Gayatri. 
Bagi Tribhuwana, singgasana Majapahit sebenarnya adalah hak sang ibunda 
yang memberinya kuasa untuk menjadi pemimpin. sesudah  Gayatri tiada, 
Tribhuwana Tunggadewi menganggap bahwa amanat sang ibunda telah 
ditunaikannya, dan ia merasa tidak berhak lagi menjadi penguasameskipun saat itu Majapahit tengah merintis pamor sebagai kerajaan yang 
digdaya. Takhta Majapahit selanjutnya diserahkan kepada putra mahkota, 
Hayam Wuruk. Tribhuwana Tunggadewi sendiri lalu menempati posisi 
sebagai salah satu anggota Saptaprabhu, semacam dewan pertimbangan 
agung yang beranggotakan keluarga kerajaan.
Pada masa pemerintahan Hanyam Wuruk dan atas saran Tribhuwana 
Tunggadewi maka digelar sebuah upacara besar sebagai penghormatan untuk 
Gayatri, Raja Hayam Wuruk menggelar upacara besar-besaran yakni Upacara 
Srada. Seluruh pegawai istana, pemuka kerajaan, rakyat, juga para raja dari 
berbagai negeri datang berbondong-bondong ke Majapahit untuk menghadiri 
upacara ini . (Negarakertagama, pupuh 61-67). Tribhuwana Tunggadewi, 
juga Gajah Mada, mendampingi Hayam Wuruk mengelola pemerintahan, 
termasuk meneruskan obsesi penaklukan wilayah-wilayah lain di Nusantara. 
Pada masa inilah Majapahit mencapai puncak kejayaannya yang dirintis sejak 
era kepemimpinan sang rajaputri Tribhuwana Tunggadewi. Pada saat inilah 
dalam usaha  mempersatukan nusantara lalu Maha Patih Gajah Mada 
mulai melaksanakan politik pemerintahan Majapahit yang lalu dikenal 
dengan semboyan Mitreka Satata, sebuah semboyan politik dimana kerajaan -
kerajaan tetangga dianggap sebagai mitra dan berdiri sejajar dengan 
Majapahit. Saking hebatnya pengaruh semboyan mitreka satata, dalam 
sebuah percakapan dengan salah satu pemerhati Majapahit yaitu Nanang 
Muni, mengatakan bahwasannya Mitreka Satata lah yang melatari sikap 
politik Soekarno saat mendirikan organisasi Negara – Negara Non Blok.
Hayam Wuruk yang lalu bergelar Maharaja Sri Rajasanagara 
yang memerintah Majapahit pada 1350-1389, mampu mencapai puncak 
kejayaan dibantu oleh mahapatihnya yakni Gajah Mada (1313-1364), 
tentunya, bimbingan, ajaran serta apa yang telah diberikan oleh Tribhuwana 
Tunggadewi juga memiliki peran yang sangat besar. Pada masa Hayam 
Wuruk Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Wilayah yang dikuasai 
mencakup seluruh nusantara yakni sampai seluruh nusantara, Semenanjung 
Malaya, Kalimantan, dan Sulawesi. Adapun di Kepulauan Nusa Tenggara, 
Maluku, dan Papua, sekitar 98 kerajaan pada saat itu ada pada genggaman 
Majapahit. Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh 13-15, daerah 
kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, 
Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) 
dan sebagian kepulauan FilipinaPupuh 13
1. Terperinci pulau Negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, 
Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, 
Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane.
2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga 
Barus. Itulah terutama Negara‐negara melayu yang telah tunduk. Negara‐
negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas‐ Katingan, Sampit, Kota Lingga, 
Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut ini 
Pupuh 14
1. Kandandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan.
Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solor dan juga Pasir. Barito, Sawaku, 
Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau 
Tanjungpura.
2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut 
Langkasuka, Saimwang, Kelantan, serta Trengganu Johor, Paka, Muar, 
Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah. Jerai, Kanjapiniran, semua sudah 
lama terhimpun.
3. Disebelah timur Jawa, seperti yang berikut: Bali dengan Negara yang 
penting Badahulu dan Lo Gajah. Gurun serta Sukun, Taliwang, Pulau Sapi, 
dan Dompo. Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah. Dengan 
daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya. Bantalayan di wilayah 
Bantayan beserta Kota Luwuk. Sampai Udamaktraya dan pulau lain‐lainnya 
tunduk
5. ini  pula pulau‐pulau Makasar, Buton, Bangawi Kunir, Galian, 
serta Salayar, Sumba, Solot, Muar. Lagi pula, Wanda (n), Ambon atau pulau 
Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau‐pulau lain.
Pupuh 15
1. Inilah nama Negara asing yang mempunyai hubungan. Siam dengan 
Ayudyapura, begitu pun Darmanagari Marutma, Rajapura, begitu juga 
Singanagari. Campa, Kamboja, dan Yawana ialah Negara sahabat.
2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang Negara asing. sebab  sejak 
dahulu dengan Jawa menjadi satu. Konon tahun Saka lautan menantang 
bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda. Tiap musim
tertentu mempersembahkan pajak upeti. Terdorong keinginan akan
menambah kebahagiaan. Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti
warga  Majapahit umumnya merupakan warga  yang 
majemuk. Wilayah Kerajaan Majapahit yang sangat luas, dengan segala 
karakteristik wilayahnya, menjadikan Majapahit memiliki keragaman yang 
ditentukan oleh banyak hal, wilayah di pedalaman yang bersendikan agraris, 
akan memiliki pola kebudayaan yang berbeda dengan daerah pantai yang 
bersendikan perdagangan. warga  pedalaman lebih bersifat tertutup 
dengan kebudayaan siklus (berputar tetap). Sementara warga  pantai 
yang secara geografis sering berhubungan dengan bangsa asing, lebih bersifat 
terbuka terhadap hal-hal baru. Kehidupan keagamaan Majapahit 
menunjukkan pula hubungan dengan sendi-sendi toleransi yang kuat. 
Majapahit mengakui dan menghormati dua agama besar saat itu, yakni Hindu 
dan Buddha, dalam bentuk pengangkatan pejabat keagamaan dalam struktur 
pemerintahannya (Pinuluh, Esa Damar, 2010).
Semasa menjabat menjadi raja, Hayam Wuruk tidak hanya menerapkan 
kebijakan untuk meningkatkan bidang pertahanan dan keamanan di dalam 
negeri. Meningkatkan bidang pertahanan dan keamanan, Majapahit di masa 
pemerintahan Hayam Wuruk terbebas dari ancaman baik dalam maupun luar 
negeri. Tidak ada pemberontakan yang digencarkan dari dalam negeri, maupun 
dari luar negeri Majapahit. Hubungan kerja sama di bidang ekonomi dengan 
negara-negara tetangga sangatlah penting bagi Majapahit. Hal ini sebab  
Majapahit merupakan sumber barang dagangan yang sangat laku di pasaran. 
Barang dagangan seperti beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkih, 
pala, kapas, dan kayu cendana. Bidang perdagangan, Majapahit memiliki 
peranan ganda yang sangat penting, yakni sebagai produsen dan perantara.
Dengan luasnya kerajaan Majapahit yang mampu mempersatukan 
banyak pulau-pulau di Nusantara, hal itu membuat majapahit menjadi kerajaan 
maritim yang amat kuat. Bahkan kerajaan-kerajaan tetangga segan dan takut 
dengan kekuatan militer yang dimiliki oleh Majapahit pada masa mahapatih 
Gajah Mada masih menjabat. Kekuatan armada laut Majapahit bahkan dipuji 
para penjelajah laut. Kekuasaan Majapahit yang sangat luas ini tentu bukan
sebuah pekerjaan mudah dan begitu saja diperolehnya, namun untuk 
mencapai puncak kejayaannya, Majapahit memiliki kekuatan militer yang 
sangat kuat yang kita kenal dengan pasukan Bhayangkara. Bhayangkara 
adalah nama pasukan elit Kerajaan Majapahit. Mereka lah yang dikerahkan di 
garda depan saat terjadi peperangan. Mereka pula yang membuat rakyat 
Majapahit selalu merasa terayomi dan aman. Seleksi untuk menjadi Pasukan 
Bhayangkara tidaklah mudah. Seorang calon anggota Bhayangkara harus 
menguasai berbagai ilmu dan tangkas dalam bela diri. Seleksi yang ketat ini 
menjadikan jumlah pasukan hanya sedikit. Namun ini tidak menjadi masalah 
sebab  kekuatan satu orang Bhayangkara sama dengan kekuatan empat puluh 
orang prajurit biasa.
Namun sebesar apapun armada yang dipakai , sebanyak apapun 
pasukan yang dimiliki, jika tidak ada pimpinan yang dapat mengatur strategi, 
maka semuanya akan sia-sia. Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam 
Wuruk memiliki dua pemimpin militer yang jenius, yaitu Gajah Mada dan 
Mpu Nala. Mpu Nala bertanggung jawab atas pertahanan laut kala itu. 
Sementara Gajah Mada sangat pandai dalam mengatur strategi baik operasi 
intelejen, penyerangan, maupun pertahanan. Ia memimpin hampir di setiap 
peperangan. Ia pula yang merakit senjata-senjata yang dipakai  oleh 
prajurit Majapahit. Salah satu rakitannya adalah cetbang.
Pada masa keemasannya bukan hanya kekuatan maritimnya saja yang 
berkembang pesat bahkan siklus perekonomian yang ada di kerajaan 
Majapahit berjalan amat baik, perdagangan antar kerajaan juga berlangsung 
dengan baik bahkan sebagai alat transaksi pasar pada masa Majapahit telah 
memakai  mata uang logam sebagai alat transaksi ekonomi mereka. Pada 
masa kejayaannya itu, Majapahit memang dikenal sebagai negara yang kuat 
oleh berbagai kerajaan tetangga. Beberapa kerajaan disekitar Asia Tenggara 
yang memiliki hubungan dagang yang baik dengan Majapahit adalah 
Thailand, Singapura dan Malaysia. Selain dari sisi perdagangan, pertaninan 
milik rakyat Majapahit juga berjalan baik dengan hasil panen yang cukup 
baik tiap tahunnya, hal ini  disebabkan sebab  pusat pemerintahan 
Majapahit terletak di daerah yang subur.
Kebesaran Majapait tidak hanya terbangun sebab  kekuasan yang 
sedemikian luasnya dan kehidupan perekonomian berkembang dengan pesat, 
namun kerukunan hidup yang terjali pada saat itu merupakan faktor lain yang 
mampu membawa Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar, pada saat itu setiap 
warga Negara ( Rakyat ), hidup damai dan berdampingan, hal itu mampu
terbangun karna mereka meyakini falsafah kehidupan Bhinneka Tunggal Ika Tan 
Hana Dharma Mangrwa yang tertuang dalam naskah Sutasoma karya agung 
Rakawi Tantular dan lalu falsafah inilah yang melatarbelakangi atau 
menjadi cikal bakal terbentuknya Pancasila yang masih relevan dan begitu 
penting untuk dimaknai bagi bangsa Indonesia saat ini. Lebih enam ratus tahun 
lalu, Gajah Mada, seorang negarawan sejati telah membuktikan keampuhan 
falsafah ini menjadi kekuatan spiritual untuk membangun persatuan yang 
terbukti mampu membawa bangsa yang sangat heterogen ini mencapai kejayaan 
yang sangat disegani dan berwibawa di mata mancanegara





Sejenak kita akan kembali pada sebuah masa, dimana pada saat itu 
berdiri sebuah kerajaan besar yang awalnya hanya berupa pedukuhan kecil di 
alas Terik, ya nama pedukuhan itu adalah Majapahit sebuah nama yang 
diambil dari buah maja yang rasanya pahit. Seiring perjalanan waktu tepat 
saat pasukan tartar mau menyerang pulau jawa, saat itulah awal dari 
bangkitnya Majapahit, hingga akhirnya mampu menjadi penguasa Nusantara 
yang mampu menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan 
Majapahit. Hingga pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk dengan gelar 
Rajasanagara yang didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit telah 
berhasil dalam menghimpun kerja sama dengan kerajaan-kerajaan lain di 
Nusantara. Meski sang mahapatih hanya mendampingi selama 14 tahun, 
keberhasilan ini tidak hanya dalam hal politik atau keamanan regional, tetapi 
juga dalam perdagangan.
Majapahit berkepentingan mengamankan wilayah kerajaan-kerajaan 
lain sebab  kerajaan adikuasa itu membutuhkan pasar untuk menjual hasil 
buminya, sekaligus membutuhkan sumber daya dari kerajaan lain yang 
berpotensi untuk perdagangan. Pada masa itu arus perdagan berjalan dari 
Majapahit ke Negara – Negara kecil ( Pramudya Ananta Toer, Arus Balik ) 
hal inilah yang pada akhirnya mebentuk hubungan dagang sehingga 
warga  Majapahit menjadi multikultur.” Majapahit berkembang menjadi 
sebuah metropolitan, tempat beragam budaya dan agama bertemu dan 
membentuk kehidupan kota. Gambaran ragam budaya yang hidup bersama di 
Majapahit dituliskan oleh Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama pada 
1365, “Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari 
Jumbudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana, Campa, dan Goda, serta 
Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, 
semua merasa puas, menatap dengan senang.”
Masuknya berbagai suku bangsa dalam pusaran perdagangan 
Majapahit juga memunculkan keberagan kepercayaan (agama), pada masa itu 
agama yang berkembang adalah Hindu dan Budha. Rajasanagara telah 
menempatkan rumah ibadah yang akhirnya membentuk tata kota Majapahit: 
Sebelah timur untuk Siwa, sedangkan sebelah Barat untuk Buddha. Setiap 
tahun sang raja juga berkeliling ke tempat-tempat yang berbeda, dari kota 
pelabuhan hingga tempat pertapaan pendeta Siwa di gunung-gunung. Raja￾raja di Majapahit, khususnya Rajasanagara, mempunyai kebijakan untuk 
mengatur kehidupan multiagama. Dalam sebuah peraturan dipaparkan tujuan 
kebijakan ini  adalah saling menghargai antaragama, mencegah konflik 
sosial-agama atau manajemen konflik, dan menunjukkan sifat toleransi yang 
menghargai perbedaan. Bahkan nilai – nilai luhur pancasila dilandasi oleh 
kitab sutasoma, sebuah kitab yang lahir dan ditulis oleh Empu Tantular pada 
masa Majapahit, “bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” sebuah 
penggalan falsafah hidup yang dipegang teguh pada masa itu. sebab  hal 
itulah pada saat itu warga  Majapahit yang beragam mampu hidup 
berdampingan.
Lantas bagaimana dengan keberagaman dan pengamalan pancasila 
pada manusia Indonesia modern saat ini? Ketika bicara mamusia modern tiba
– tiba ada seulas senyum pada bibir penulis, baiklah kita bahas fenomena 
keberagaman dewasa ini, pertama. Kita bahas tentang kejadian yang sempat 
viral yaitu : Fenomena kesalahan melafalkan sila Pancasila yang terjadi pada 
finalis ajang pemilihan Puteri Indonesia 2020 utusan provinsi Sumatera Barat 
beberapa waktu lalu patut dicatat sebagai bukti nyata posisi Pancasila dewasa 
ini yang tengah berada pada titik nadir. Menurut Romo Benny Susetyo, Staf 
Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), 
ketidakhafalan sila-sila Pancasila menjadi fenomena lazim sejak tumbangnya
Orde Baru. “Masalahnya, hampir sesudah  Reformasi mata pelajaran Pancasila 
ditiadakan. Akibatnya, generasi pasca Reformasi tidak hafal lagi Pancasila,” 
tuturnya (Detiknews, 07 Maret 2020).
Akan tetapi, apabila lalu kita ikut-ikutan merundung pribadi finalis 
Puteri Indonesia 2020 utusan provinsi Sumatera Barat ini , saya pikir hal itu 
sangat tidaklah bijak. Justru, fenomena ini menjadi pelajaran bagi kita semua, 
terutama insan-insan di lingkungan lembaga pendidikan. Apakah kita sendiri 
juga hafal sila-sila dalam Pancasila? Apakah kita sendiri telah memahami dan 
melaksanakan butir-butir nilai ajaran yang terkandung dalam Pancasila, serta 
mengajarkannya pada peserta didik di lingkungan pendidikantempat kita mengabdikan diri? Apakah kita memahami perjalanan sejarah 
kelahiran Pancasila sebagai konsepsi kebangsaan Indonesia?
Akan menyita waktu yang panjang bagi masing-masing dari kita 
untuk menengok kembali diri kita lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan 
ini . Tetapi, waktu yang panjang juga bukan alasan untuk tidak 
melakukan refleksi dan berinstrokspeksi. Apalagi, jika kita sudi untuk 
menengok ke belakang; melihat kembali kebermaknaan nilai-nilai yang kita 
sebut sebagai Pancasila ini  di masa lalu.
Pancasila lahir dan hadir melalui sejarah yang panjang dan berliku 
untuk bangsa Indonesia sebagai falsafah kebangsaan. Pada batang tubuh 
Pancasila terkandung nilai-nilai yang menunjukkan kejatidirian kita sebagai 
bangsa yang memiliki keberagaman. Bangsa Indonesia tidak hanya memiliki 
keberagaman ras, warna kulit, jenis rambut, dan seterusnya, namun juga 
memiliki keberagaman agama, etnik –berikut sub etnik-, bahasa daerah, dan 
sebagainya yang melahirkan keberagama adat istiadat serta pola pikir dan 
perilaku masing-masing warga bangsa. Keberagaman ini  jelas menuntut 
sistem pengelolaan ekstra dalam mengurus eksistensi dan keberlanjutan 
negara-bangsa Indonesia. Apalagi tanpa adanya staminaspiritual yang luar 
biasa dan saling pengertian yang mendalam antar-warga  Indonesia 
(Ma’arif, 2015:20).
Saling pengertian inilah yang menjadi modal dasar lahir, berkembang, 
dan berjayanya sebuah bangsa. Sejarah dunia telah mencatat bahwa ada 
bangsa dan negara yang lahir namun lalu pecah menjadi rumpun 
bangsa dan negara yang lebih kecil sebab  punahnya rasa saling pengertian di 
antara warganya. Sejarah lahir dan terpecahnya beberapa negara di Eropa 
Timur di tahun 1990-an hingga 2000-an, seperti Cekoslowakia yang terpecah 
menjadi Ceko dan Slowakia, Yugoslavia yang terpecah menjadi Serbia, 
Montenegro, Chechnia, dan Moldovia, dan tentu saja pecahnya Uni Soviet 
menjadi Rusia, Armenia, Azerbaizan, Turkmenistan, dan beberapa lagi 
lainnya. Kesadaran untuk membangun konstruksi saling pengertian ini 
lalu  bermutasi menjadi persatuan dan kesatuan.
Persatuan dan kesatuan bangsa bukan sesuatu yang terberi sebagaimana 
karunia pemberian Tuhan. Persatuan dan kesatuan bangsa menuntutperjuangan 
dalam proses kelahiran maupun perkembangannya. Proses ini  di Indonesia 
diawali denganterbentuknya Kerajaan Sriwijaya pada abad VII dan Kerajaan 
Majapahit pada abad XIV. Pada era Majapahit ini pulalah untuk pertama kalinya 
dikenalkan konsepsi bernegara bernama “Pancasila”.
Meski Pada saat itu belum timbul rasa kebangsaan,yang ada adalah 
semangat bernegara, padakenyataannya terdiri dari beberapa kerajaan kecil. 
Rumusan falsafah negara belum jelas, konsepsi cara pandang belum ada, 
yang ada berupa slogan-slogan seperti yang ditulis oleh Mpu Tantular; 
Bhineka Tunggal Ika (Sekretariat Jendral MPR RI, 2012 : 151). Hal inilah 
yang lalu mengilhami para founding fathers Indonesia untuk menggali 
kembali, memakai  dan memelihara visi Nusantara,bersatu dalam 
Wawasan Nusantara dengan Pancasila sebagai ideologi negara dengan 
membangun penafsiran baru sebab  dinilai relevan dengankeperluan strategis 
bangunan Indonesia merdekayang terdiri dari beragam agama, kepercayaan, 
ideologi politik, etnis, bahasa, dan budaya.
Perkembangan Kerajaan Majapahit memwarisi cara pandang kesatuan 
teritorial nusantara (Wawasan Nusantara) dari masa Kerajaan Sriwijaya, dan 
Kerajaan Singasari. Terlebih ketika Singasari di bawah pemerintahan 
Kertanegara (mertua R. Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit). Kertanegara 
menganggap penting adanya nusantara yang bersatu guna membendung 
ekspansi Tiongkok (Kerajaan Tartar/Mongolia) ke wilayah Asia Tenggara 
(Mulyono, 2006:32).
Di masa pemerintahan Raja Prabhu Hayam Wuruk dan Patih 
Mangkubumi Gajah Mada telah berhasil mewujudkan mimpi leluhur raja-raja 
Majapahit. Beberapa hal yang dibangun Hayam Wuruk dan Gajah Mada 
untuk menciptakan Wawasan Nusantara (sebagai landasan Pancasila) kala itu 
masih bernuansa oligarkhi yaitu menempatkan kekuatan religio magis yang 
berpusat pada Sang Prabhu, ikatan sosial kekeluargaan terutama antara 
kerajaan-kerajaan daerah di Jawa dengan Sang Prabhu dalam lembaga Pahom 
Narandra.Jadi dapatlah dikatakan bahwa nilai-nilai religius sosial dan politik 
yang merupakan materi Pancasila sudah muncul sejak memasuki jaman 
sejarah (Suwarno, 1993: 23-24).
Negarakertagama dan Sutasoma merupakan dua buah karya monumental 
pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Dalam kitab Negarakertagama karya 
Mpu Prapanca istilah ‘Pancasila’ disebutkan sebagai “berbatu sendi yang lima” 
(dalam bahasa Sansekerta), juga mempunyai arti “pelaksanaan kesusilaan yang 
lima” (Pancasila Krama), yaitu: (1)tidak boleh melakukan kekerasan; (2) tidak 
boleh mencuri; (3) tidak boleh berjiwa dengki;
(4) tidak boleh berbohong; dan (5) tidak boleh mabuk minuman 
keras(Darmodihardjo, 1978:6). Sedangkan dalam nukilan “Bhineka Tunggal
Ika” termaktub dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang meski konteks
penulisannya diperuntukkan bagi toleransi antar penganutSiwa dan Budha 
namun dapat diperluas maknanya menjadi keberterimaan pada keberagaman 
dan tidak menjadikannya sebagai pemicu perpecahan (Sekretariat Jendral
MPR RI, 2012:181).
Salah satu kebijakan Hayam Wuruk dalam pengelolaan warga  
yang multi-agama di Majapahit adalah mereka mengangkat pejabat-pejabat 
tinggi baik dari agama Siwa maupun dari agama Buddha bersama-sama. 
Pejabat tinggi yang menangani hukum dan kehidupan beragama ada 2 yaitu 
Dharmādhyaksa ring Kaśaiwan (agama Siwa) dan Dharmādhyaksa ring 
Kasogatan (agama Buddha). Di samping kedua pejabat tinggi ini , masih
ada 5-7 pejabat pelaksana di bidang hukum dan agama yang disebut Sang
Upapatti yang lalu berubah menjadi Sang Upapatti 
Saptadulur(Budianta, 2002:63). Lembaga ini beranggotakan pejabat lintas
agama dan mengatur mekanisme ritual ibadah masing-masing agama.
Di masa itu juga diatur tentang peta penyebaran agama. Daerah 
sebelah timur Majapahit untuk para bhiksu menyebarkan agamanya, 
sedangkan para bhiksu tidak boleh menyebarkan agama di sebelah barat, 
sebab  daerah itu diperuntukkan pendeta Siwa. Pengaturan ruang gerak itu 
disertai himbauan agar para pendeta baik Saiwa maupun Buddha tidak lupa 
mengutamakan kepentingan negara dan tidak asyik dengan kepentingan 
sendiri (Pigeaud I, 1960:12-13).
Pelembagaan sistem pengelolaan kegiatan keagamaan ini di masa 
Majalahit di atas tidak hanya bertumpu pada keamanan dan kenyamanan untuk 
melakukan ibadah sesuai dengan nilai Sila Pertama Pancasila; “Ketuhanan Yang 
Maha Esa”. Namun juga mempertimbangkan aspek keadilan sebagai manusia 
dengan sistem adab yang disepakati bersama sebagaimana nilai yang terkandung 
dalam Sila Kedua Pancasila; “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” serta Sila 
Kelima Pancasila; “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. 
Pelembagaan dengan anggota yang memiliki perbedaan latar belakang agama 
serta dalam mekanisme pengambilan keputusannya mengedepankan musyawarah 
untuk mufakat merupakan bentuk konkret perwujudan nilai pada Sila Keempat 
Pancasila; “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam 
permusyawaratan/perwakilan”.Hebatnya, kesemuanya didasarkan pada 
ekspektasi untuk menjaga stabilitas kesatuan Majapahit agar tidak mengarah 
pada perpecahan berdasar sentimen agama. Sesuatu yang menjadi spirit 
mendasar dalam Sila Ketiga Pancasila; “Persatuan Indonesia”.
Perjalanan suatu bangsa tidak bisa lepas dari akar-akar 
kebudayaannya dari masa lalu, agar selamat dan sentosa dalam 
mengembangkan dinamika hidup pada masa sekarang dan masa mendatang. 
Sekilas perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam perikehidupan warga , 
bangsa, dan negara di masa Majapahit menandaskan bahwa dari dahulukala 
bangsa kita adalah bangsa yang religius,mengedepan persatuan dan kesatuan, 
menjunjung tinggi toleransi, gemar bergotong-royong dan bermusyawarah 
demi kebaikan bersama.
Menjadi indah bukan jika Pancasila tidak semata berhenti pada hafalan, 
namun telah meresap dalam setiap tarikan nafas, detak jantung, pandangan mata, 
serta jejak langkah kehidupan –baik di lingkungan kita yang terkecil yaitu 
keluarga hingga lingkungan berwarga , berbangsa, dan bernegara-.



Pagi ini, udara sangat sejuk, kicau burung bersahutan, matahari 
bersinar agak redup, dan angin sepoi-sepoi semilir, membuat orang enggan 
bekerja dan berangkat sekolah. Yah, untung saja pagi ini adalah Hari 
Minggu. Sungguhpun demikian, orang-orang di lereng Pawitra tetap harus 
bekerja, sebab  mereka harus pergi kesawah dan ladang untuk segera 
memanen padi dan sayuran yang mereka tanam. Buah-buahan belum bisa 
dipanen, sebab  baru berbunga. Selain itu warga  disekitar Pawitra juga 
banyak yang menanam tanaman hias.
Jika liburan sekolah menjelang, gunung dan lereng Pawitra ini ramai 
sekali dikunjungi oleh pengunjung yang hendak menikmati keindahan 
panorama serta pemandangannya. Sungai yang berliku, gemericik air, sawah 
luas terbentang bagai permadani, hamparan bunga yang berwarna-warni, 
sangat elok untuk dinikmati oleh mata kita. Dari kejauhan, lembah tampak 
hijau bagai hamparan permadani. Begitu pula dengan udaranya yang segar, 
menambah nyamannya suasana. Ditambah lagi dengan aroma pohon pinus 
yang ada di kiri kanan jalan saat menuju daerah yang lebih atas lagi.
Bagi pecinta alam dan pendaki gunung, Gunung Pawitra adalah medan 
alam yang lengkap dan sempurna untuk pendaki pemula. Siapapun bisa 
mencapai puncaknya asalkan bernyali besar untuk tidak putus asa sampai ke
puncak, Meskipun tidak begitu tinggi, namun untuk mencapai puncaknya 
diperlukan waktu 5-6 jam untuk bisa menikmati betapa indah dan agungnya 
ciptaan Yang Kuasa. Dari atas gunung, pendaki bisa melihat hamparan laut 
jawa, sungai berantas yang memanjang seperti ular dari hulu ke hilir, hangat 
dan indahnya sinar matahari terbit dari timur, pada malam hari cahaya lampu 
kota-kota di bawah gunung, serta cahaya bulan dan bintang, dan yang pasti 
udara dingin yang menusuk tulang, jika perjalanan mendaki ditempuh pada 
malam hari. Semua lelah akan terbayarkan jika sudah sampai puncaknya. 
Dahsyat rasanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hanya bisa dirasakan 
dan diresapi dalam jiwa atas karunia dan keagungan Tuhan. Satu-satunya 
kata yang bisa terucap adalah rasa syukur kepada Tuhan Maha Besar, sekali 
lagi terima kasih atas karuniaMu.
Gunung Pawitra adalah sebuah gunung yang tidak begitu tinggi hanya 
memiliki ketinggian 1.659 m. Gunung Pawitra ini gunung yang berkabut. 
Makanya dinamakan Pawitra, yang artinya kabut, sebab  puncaknya yang 
runcing selalu tertutup kabut. Gunung Pawitra ini dikelilingi oleh empat 
gunung di sekitarnya yang tidak lebih tinggi, yaitu Gunung Gajah Mungkur 
(1.084 m), Gunung Bekel (1.240 m), Gunung Sarahklopo (1.235 m), dan 
Gunung Kemuncup (1.238 m). Keadaan medan Gunung Pawitra tidak 
berbeda dengan gunung - gunung lain , datar, landai, miring, berbukit dan 
berjurang. Di kaki gunung, keadaan medannya landai sampai sejauh 2 km. 
Naik ke atas kemiringannya berkisar 30 - 40 derajat. Di bagian perut gunung 
agak curam, berkisar 40 -50 derajat sepanjang 1 km. Sampai di dada gunung, 
banyak jurang-jurang dengan kemiringan berkisar 50-60 derajat, tanahnya 
berbatu sepanjang 2 km dari dada, leher sampai puncak gunung. Medannya 
amat curam, berbatu, licin dan kemiringannya berkisar 60 -80 derajat 
sepanjang 1,5 km. sampai di puncak, batu - batu padas nampak di sana - sini. 
Di puncak ada  lembah, barangkali semacam kawah yang sudah tidak 
aktif lagi. Luasnya sekitar 4 ha.
Gunung Pawitra merupakan gunung api yang tidur atau jenis gunung 
bukan berapi. Letak gunung berapi tidur ini membelah Kabupaten Pasuruan 
dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 60 km dari 
Surabaya. Di dekatnya Gunung Pawitra ada juga Gunung Arjuno dan 
Gunung Welirang. Diantara gunung lainnya Gunung Pawitra tak setinggi 
gunung-gunung tetangganya. Setiap gunung ini juga mempunyai cerita dan 
misteri alamnya yang tersembunyi.
Tuhan begitu sayangnya dengan melimpahkan semua karunia ini pada 
manusia. Karunia ini harus disyukuri dan dijaga kelestariannya. Begitu pula 
dengan warga  di lereng Gunung Pawitra ini sangat mensyukuri nikmat 
Tuhan yang diciptakanNya bagi segenap warga lereng gunung. Segala 
kebaikan alam sudah Tuhan ciptakan pada Gunung Pawitra.
Gunung Pawitra adalah gunung yang sangat terkenal, baik pada masa 
lalu maupun pada masa sekarang. Gunung Pawitra mempunyai nama lain 
yaitu Gunung Penanggungan. Dalam mitologi Jawa, Penanggungan adalah 
gunung yang dianggap paling suci. Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah 
tinggi sebab  di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, 
baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Jawa Kuno di Jawa 
Timur. Di masa itu gunung ini dikenal sebagai Gunung Pawitra. Setidaknya 
ada  81 bangunan candi yang pernah berdiri di kawasan lereng Pawitra. 
Dari angka tahun yang ditemukan di beberapa bangunan candinya, diketahui 
bahwa bangunan-bangunan ini  didirikan antara abad X Masehi 
(Pemandian Jalatundo, 977 M) sampai dengan abad XVI Masehi.
Semua peninggalan bersejarah yang ada  di kawasan Pawitra 
ditemukan pada tahun 1920 an, saat terjadi kebakaran hutan yang hebat di lereng 
gunung ini . Dari kejadian itu pula, benda-benda dari masa kejayaan 
Majapahit ikut banyak ditemukan beserta situs arkeologi dan ribuan artefak 
lainnya yang tersebar di lembah dan lereng sisi barat dan utara Penanggungan 
bisa terungkap. Dari situs peninggalan dan berbagai buku kuno akhirnya bisa 
diceritakan tentang asal usul Gunung Pawitra sebagi berikut.
Dikisahkan pada zaman dahulu Pulau Jawa atau Jawa Dwipa (sebutan 
Pulau Jawa pada jaman dulu) masih selalu bergoyang-goyang, selalu 
berpindahpindah terombang-ambing terbawa arus ombak Samudra Hindia 
dan Laut Jawa. Pulau Jawa Dwipa tidak bisa tetap pada suatu tempat. Selalu 
berpindah kemana arus samudra membawanya.
Para Dewa di Kahyangan sangat resah akan hal ini. Bumi belum 
seimbang. Untuk membuat pulau Jawa tetap tinggal di tempatnya, Para dewa di 
kahyangan telah memutuskan bahwa Tanah Jawa itu cukup baik untuk 
perkembangan peradaban manusia selanjutnya, untuk itu harus dihentikan 
goncangannya. Keadaan Pulau Jawa saat itu membuat Batara Guru prihatin. 
Batara Guru adalah raja para dewa. Dia dengan dibantu para dewa bertugas 
menjaga seluruh dunia ciptaan Tuhan. Batara Guru mencari akal untuk membuat 
Pulau Jawa menjadi berat agar tidak selalu berpindah-pindah tempat. 
Kegundahan hati Batara Guru diketahui oleh Batara Narada. Batara Naradaadalah dewa tertua yang menjadi penasihat Batara Guru. Batara Narada 
segera menemui Batara Guru. Batara Guru berterus terang kepada Batara 
Narada. Batara Narada menganggukangguk sesudah  mengetahui persoalan 
yang membuat hati Batara Guru gundah.
Dewa Batara Guru sebagai raja para dewa memerintahkan kepada 
para dewa yang lain untuk memotong puncak gunung Mahameru di 
Jambhudwipa (India) dan memindahkannya ke Pulau Jawa sebagai bahan 
pemberat, agar Pulau Jawa tidak bergoyang-goyang di Lautan.
Para dewa di kahyangan memutuskan untuk memindahkan Gunung 
Mahameru yang menjadi pusat alam semesta dari Jambhudwipa (India) ke 
Pulau Jawadwipa. Mahameru lalu dipotong dan digotong bersama-sama oleh 
Dewa sambil terbang di angkasa.
Selama perjalanan, bagian-bagian lereng Gunung Mahameru 
berguguran dan berceceran, maka terciptalah rangkaian gunung-gunung dari 
Jawa bagian barat hingga Jawa Timur. Tubuh Mahameru yang berat jatuh 
berdebum menjadi Gunung Sumeru atau Semeru sekarang, gunung tertinggi 
di tanah Jawa.
Walaupun sudah diletakkannya puncak Mahameru menjadi Gunung 
Semeru, tapi Pulau Jawa masih tetap miring, akhirnya Para Dewa memotong 
lagi Puncak Semeru dan meletakkan potongan puncaknya pada suatu tempat. 
Potongan puncaknya itu menjadi Gunung Pawitra atau Penanggungan 
sekarang ini. Jadi Gunung Penanggungan adalah gunung yang menanggung
keseimbangan Pulau Jawa. Makanya diberi nama Gunung Penanggungan. 
Gunung ini juga selalu diselimuti kabut putih, makanya disebut juga 
Gunung Pawitra.
Para Dewa merasa lega, sebab  tugas berat untuk menyeimbangkan 
Pulau Jawa sudah terlaksana dengan baik. Sejak saat itu Pulau Jawa menjadi 
pulau yang banyak gunungnya. Dan tidak lagi terombang ambing di ombak 
laut dan samudra.
sesudah  semua selesai, Dewa Batara Guru ingin mengunjungi Pulau 
Jawa, segera lalu menuju ke Gunung Pawitra atau Penanggungan untuk 
bertapa dan bersemedi. Selama bertapa setiap hari Dewa Batara Guru mandi 
sebanyak enam kali dalam sehari semalam. Memang sumber air disini sangat 
segar dan jernih serta bersih. Akibatnya seluruh mata air atau tandon air yang 
ada  di Gunung Pawitra menjadi habis. sebab  kehabisan air, maka Dewa 
Betara Guru terpaksa pindah mandi ke gunung di dekatnya, yaitu yang 
bernama Gunung Kemukus.
Di Gunung Kemukus ini persediaan air masih banyak dan melimpah. 
Sewaktu akan mandi, airnya berbau belerang sehingga akhirnya gunung ini 
dikenal dengan nama Gunung Welirang. Gunung ini letaknya berdekatan 
dengan Gunung Pawitra.
Maka dari itu sangat dianjurkan kepada para pecinta alam dan 
pendaki gunung untuk membawa bekal air sewaktu mendaki Gunung Pawitra 
sebab  dikawasan ini sulit mencari air, sebab  persediaan air telah dihabiskan 
Batara Guru.
Gunung Pawitra yang dulu, oleh warga  sekarang lebih dikenal 
dengan nama Penanggungan. Pawitra yang berarti kabut sebab  tubuhnya 
selalu diselimuti kabut. Walau setinggi 1659 m di atas permukaan laut, 
gunung ini tak mudah dilalui. Cuacanya selalu berubah-ubah, berkabut dan 
gerimis, tak peduli musim.
Konon segala kebaikan dan cerita tentang Gunung Pawitra menjadi 
perhatian banyak orang tanpa terkecuali termasuk raja, resi, dan rakyat biasa. 
Mereka meyakini bahwa Gunung Pawitra adalah tanah suci, swargaloka dan 
tanah tempat bersemayam para dewa. Banyak orang yang menggantungkan 
hidup pada kesuburan dan keindahannya, juga flora dan fauna yang hidup 
didalam hutan Gunung Pawitra.
sebab  itu, raja-raja yang berkuasa di Tanah Jawa pada saat itu lebih 
memilih membangun tempat pemujaan kepada Tuhan di daerah Gunung 
Pawitra, agar negara dan bangsanya damai dan makmur. Bahkan raja-raja 
yang kalah perang juga mencari perlindungan ataupun melarikan diri ke 
Gunung Pawitra. sebab  tempat ini dianggap suci, maka tidak ada yang 
berani melakukan peperangan di tempat ini ataupun berbuat yang tercela di 
sini. Seperti tempattempat suci lainnya, di gunung ini semua terjaga dengan 
baik dan selaras dengan alam.
Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau karsyan. 
Para resi adalah mereka yang mengundurkan diri dari dunia ramai, memilih 
hidup menyepi di keheningan alam pegunungan dan kehijauan hutan yang 
masih asri. Gunung Pawitra dijadikan pusat aktivitas keagamaan kaum resi, 
tentu berdasar pemikiran bahwa Pawitra tidak lain dari puncak Mahameru 
itu sendiri. Apabila para resi dan kaum pertapa itu bermukim di lerengnya, 
berarti lebih mendekati Rahmat Tuhan, lebih mudah berkomunikasi dengan 
dunia Swarloka.
Selain itu Gunung Pawitra juga dijadikan sebagi tempat untuk belajar 
banyak hal, seperti ilmu pengetahuan, ilmu kanuragan, ataupun kesenian. 
Gunung Pawitra memang berkah Tuhan untuk semua makhluk di bumi.
Mayarakat pada masa itu sebagaimana juga dengan warga  
lainnya memanfaatkan sumberdaya lingkungan sesuai dengan perkembangan 
peradaban, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Budaya mereka 
sudah cukup tinggi terbukti mampu membangun candi-candi yang megah 
dengan peralatan yang masih sederhana. Hasil pengamatan terhadap segala 
bentuk, posisi, atribut, dan keadaan relief flora dan fauna di Relief fauna 
yang teridentifikasi menunjukkan hewan peliharaan seperti anjing yang 
berkalung, burung dan juga hewan ternak seperti angsa dan ayam.
Selain itu ada juga hewan yang dipakai  untuk transportasi atau 
dimanfaatkan tenaganya seperti kuda, gajah, keledai, sapi dan kerbau. 
lalu ada juga relief rusa yang kemungkinan sebagai hewan buruan dari 
hutan yang ada di sekitar lereng Pawitra. Selain itu ditemukan juga gambar 
singa yang tidak ditemui di Indonesia. sebab  tidak pernah melihat langsung, 
bentuk singa ini  jadi aneh dalam penggambarannya.
Resi sebagai orang yang pintar selalu memberi saran kepada raja. 
Salah satu pesannya kepada raja bahwa, candi, prasasti, tempat ibadah, 
pertapaan dan tempat peristirahatan di Pawitra tidak bisa dibangun 
disembarang tempat, harus didirikan di atas tanah yang subur.
Raja belum mengerti maksud perkataan Resi. Akhirnya Raja 
memanggil Resi ini .
“Resi, ceritakan padaku apa maksud wejangan singkatmu tadi,”
kata Raja.
“Tuanku Raja, kalau boleh hamba memberi saran, dalam membangun candi 
perhatikan unsur lingkungan, maksudnya candi selalu didirikan di atas tanah 
yang subur, dekat dengan sumber air atau sungai,” kata Resi.
“Mengapa?” kata Raja
“sebab  air mempunyai peranan yang sangat besar untuk upacaraupacara 
keagamaan, seperti membersihkan anggota tubuh sebelum berdoa dan 
membersihkan tempat ibadah” kata Resi.
“Untuk itu warga  harus selalu menjaga kelestarian air dengan tidak 
menebangi pohon-pohon yang besar dan berusaha  menanami lingkungan 
sekitar candi dengan pohon-pohon yang mampu mengikat air seperti pohon 
beringin, pohon bambu, dan tumbuhan besar lainnya” begitu pesan Resi 
selanjutnya.
Selain itu Resi juga punya permintaan berkaitan dengan itu, yaitu 
bahwa Raja harus mau membebaskan rakyat dari pungutan pajak atau sima 
bagi warga yang hidup di daerah sekitar tempat suci di Pawitra. Sebagai 
gantinya rakyat harus mau merawat lingkungan serta bangunan suci dan 
tempat pertapaan yang ada di Pawitra.
Oleh Raja semua permintaan Resi dikabulkan, dan pesan singkat itu 
diabadikan pada sebuah prasasti (batu bertulis). Tujuannya agar keturunan dan 
warga  yang mendiami Gunung Pawitra selalu menjaga tanah suci ini, agar 
tetap lestari dan bermanfaat. Hidup selaras berdampingan dengan alam.
Dengan dikabulkannya permintaan sang Resi, maka warga  yang 
hidup di dekat bangunan suci dan candi-candi di Gunung Pawitra dianjurkan 
untuk merawat candi sebagai syarat untuk dibebaskan dari pajak. Raja 
memungut pajak dari warga  desa yang lain dan pajak itu akan 
dipakai  untuk merawat bangunan suci. Namun warga  tetap 
diperbolehkan untuk bekerja sesuai dengan keahliannya. Selain merawat 
bangunan suci, sebagian besar warga  hidup dari bertani dan pertanian 
pada masa itu juga cukup berkembang.
Untuk melestarikan mata air di Gunung Pawitra, Resi dan Raja juga 
sudah memikirkannya. Air adalah hal yang penting dalam kehidupan maupun 
peribadatan. Untuk itu dibangunlah sebuah petirtaan. Adalah pemandian kuna 
(patirthan) Jalatunda yang ada  di lerengnya. Pemandian itu dibangun 
pada tahun 899 - 977 M dan masih mengalirkan air hingga sekarang. Airnya 
dianggap amerta (air keabadian) sebab  ke luar langsung dari tubuh 
Mahameru, gunung pusat alam yang di puncaknya ada  swarloka, 
persemayaman dewa - dewa. Sampai sekarang air petirtaan ini dianggap 
bermanfaat bagi kesehatan warga  setempat. Petirtaan lain yang tak kalah 
bermanfaatnya yaitu petirtaan Candi Belahan. Konon dikisahkan bahwa 
pembangunannya selain untuk bersucinya badan juga dimaksudkan sebagai 
bukti cinta raja pada permaisurinya. Selain petirtaan sebagai bukti cinta para 
raja kepada permaisurinya banyak sekali candicandi yang dibuat sebagia 
bukti cintanya, banyak relief candi juga ditemukan yang berkisahkan 
percintaan seperti kisah Ramayana.
Tahun berganti tahun, Gunung Pawitra sebagai tempat suci atau 
swargaloka tak lagi terdengar suaranya. Gunung Pawitra lebih banyak 
dimanfaatkan untuk kepentingan uang daripada fungsi awalnya sebagai 
penanggung, penyeimbang, pusat kebaikan. Zaman modern membuat 
warga  setempat melupakan pesan singkatnya Sang Resi.
Manusia mulai serakah dan tak peduli lagi akan lingkungan, hutan di 
Pawitra kini telah gundul oleh penebangan liar pencurian hasil hutan. Selain 
itu juga terjadi pengrusakan tanah oleh pabrik serta pengambilan tanah secara
besarbesaran untuk tanah urug (tanah penimbun), pembukaan lahan 
pertanian. Bahkan bangunan candipun tak luput dari pencurian dan 
penjarahan. Belum lagi ulah sebagian para pendaki gunung yang tidak 
bertanggung jawab yang membuang sampah sembarangan, membuat coretan 
pada candi ataupun secara tak sengaja merusak artefak, pepunden, candi dan 
bebatuan lain yang bernilai sejarah tinggi.
Banyak hutan yang sudah gundul sudah mulai dirasakan akibatnya 
oleh warga sekitar, beberapa sumber air sudah mulai kering dan kalau hujan 
menimbulkan kekhawatiran tanah longsor, udara Pawitra sekarang tidak lagi 
sesejuk dahulu. Bahkan beberapa flora dan fauna asli Pawitra sudah mulai 
musnah. Sehingga akibat keserakahan dan kesalahan ini beberapa tahun yang 
lalu, banjir bandang pernah menimpa daerah ini dan menewaskan banyak 
orang. Demikianlah keadaan Pawitra atau Penanggungan yang sekarang 
sangat memprihatinkan.
Hingga pada suatu hari ada seorang ketua adat setempat yang 
bermimpi, bahwa bencana tanah longsor dan banjir yang mengerikan 
melanda daerah sekitar lereng dan gunung akan terjadi lagi. Selain itu ketua 
adat juga bermimpi mendapatkan wejangan singkat dari Resi yang bernama 
Mpu Sindok, yang isinya mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga 
kelestarian alam yang sudah dilakukan oleh warga  Pawitra sejak zaman 
dulu, seperti menanam pohonpohon yang mampu mengikat air, menjaga 
kelestarian candi dan memanfaatkan alam secara arif dan bijaksana. Tidak 
menebang pohon, menjaga sumber air dan bercocok tanam dengan benar.
Ketika terbangun Pak Ketua Adat merasa bersalah, sebagai pemimpin 
dia harus lebih peduli dan akan menggalakkan budaya kearifan dalam 
menjaga alam, agar alam tetap bersahabat dengan manusia, dan tidak 
menyian-yiakan anugerah Tuhan begitu saja.
Sejak dulu nenek moyang kita sudah mengajarkan secara benar 
mengenai alam, dan arti pentingnya bagi manusia. Kalau kita merwat alam 
dengan baik, maka alam akan bersahabat, sebaliknya kalau kita merusaknya 
bencana akan melanda dan menimpa kita.
Sejak kejadian itu, sang ketua adat mulai berkampanye tentang 
kelestarian alam Pawitra. Semua warga diajak untuk melestarikan Gunung 
Pawitra seperti yang sudah dilakukan oleh nenek moyang mereka sejak zaman
dulu. Selain reboisasi, warga juga berusaha untuk melindungi aset bangsa 
yang lain yaitu berupa candi-candi, arca-arca, yang banyak bertebaran di 
sekitar gunung. Semua wajib bertanggung jawab, tanpa kecuali. Sebutan 
tempat suci untuk Pawitra harus dilestarikan jika kita ingin melindungi 
generasi selanjutnya. Diciptakan Tuhan berkabut, mungkin agar manusia 
enggan dan tidak berani menjamahnya, agar tetap lestari sebagai tanah yang 
menanggung kehidupan

Dalam rangka pembangunan nasional, Pemerintah berusaha menggali 
dan mengembangkan berbagai potensi sumber daya yang ada di setiap daerah. 
Salah satunya dengan mengembangkan potensi pada sektor pariwisata. Untuk 
mencapai pembangunan ini  Pemerintah telah mengeluarkan berbagai 
kebijakan dalam bidang kepariwisataan. Pembangunan pariwisata perlu 
ditingkatkan untuk memperluas kesempatan kerja dan berusaha, meningkatkan 
devisa serta memperkenalkan alam kebudayaannya 
Pembangunan sektor pariwisata ini merupakan salah satu program 
andalan Pemerintah Indonesia yang memiliki prospek dan peranan penting 
dalam pembangunan. Hal ini sebab  Indonesia memiliki potensi keindahan 
alam, keanekaragaman seni budaya, adat istiadat serta peninggalan sejarah. 
Semua itu merupakan aset pariwisata yang potensial untuk dikembangkan. 
Suksesnya pengembangan kepariwisataan sangat ditentukan oleh adanya 
dukungan serta partisipasi aktif seluruh lapisan warga  terutama 
penduduk sekitar objek wisata. Kegiatan pariwisata tentunya tidak lepas dari 
potensi pariwisata yang ada di setiap daerah. Di Indonesia banyak sekali 
objek yang menarik yang biasa dijadikan sebagai objek wisata, objek-objek 
ini  antara lain objek wisata alam, wisata budaya (wisata religi), dan 
wisata bahari. Oleh sebab itu, setiap daerah berusaha mengembangkan dan 
saling bersaing dalam sektor pariwisata.
Perkembangan makam Troloyo sebagai objek wisata religi, tidak terlepas 
dari pengaruh perkembangan Islam di Jawa yang terjadi dengan pesat pada abad 
XV-XVI, namun sebelumnya telah didahului oleh pertumbuhan komunitas 
muslim secara sporadis di kota-kota pelabuhan Majapahit, khususnya bandar￾bandar sepanjang pantai utara Jawa Timur, Sungai Brantas, serta di sekitar 
Trowulan, dan Troloyo dijadikan sebagai pusat perkembangan Islam oleh 
Pemerintahan kerajaan Majapahit. Saat inilah terjadi perpindahan
agama dari Hindu-Budha ke Islam oleh sebagian besar penduduk di pusat￾pusat perdagangan ini  (Mustopo, 2001:2).
Tjandrasasmita (dalam Wahab, 2008:82-82) menjelaskan bahwa 
keberadaan nisan–nisan Islam di Troloyo menandakan bahwa Islam 
berkembang bukan hanya di bandar, tetapi juga masuk ke pusat kerajaan 
Majapahit pada saat kerajaan Majapahit tengan mencapai puncak 
kejayaannya pada abad ke-14, dengan toleransi kebijakannya, Majapahit 
menerima para pedagang muslim memasuki ibukotanya dan membolehkan 
mereka membentuk komunitasnya sendiri. Selain itu, ciri khas hiasan dan 
penulisannya yang bertahun Saka Hijriah (aksara Arab), mengisyaratkan 
pertemuan antara tradisi seni Jawa-Hindu masa Majapahit dan Islam. Dengan 
bukti ini, sangat mungkin sebagian besar orang muslim dalam komunitas di 
Troloyo dan Trowulan adalah orang Jawa yang telah diIslamkan.
Adanya latar belakang sejarah dari makam Troloyo telah 
membuktikan bahwa pentingnya peninggalan Islam di zaman Majapahit 
untuk dikembangkan menjadi sebuah wisata religi. Hal ini dimaksudkan agar 
warga  dapat mengetahui dan memahami keberadaan makam Troloyo di 
Trowulan yang merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Majapahit. 
Makam Troloyo telah menjadi bukti perkembangan Islam pada masa kerajaan 
Majapahit. Dibandingkan dengan objek-objek lain yang ada di Trowulan, 
seperti Museum Trowulan, Makam Putri Cempa, Mahaviara Majapahit, 
Kolam Segaran, Lantai Segi Enam dan lain-lainnya. Situs makam Troloyo 
mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu banyak situs makam Islam yang 
ada  di situ, merupakan peningalan Islam di zaman kerajaan Majapahit 
dan selalu ramai dikunjungi oleh warga  dan para peziarah, khususnya 
para peziarah dari daerah Trowulan dan pada umumnya peziarah dari daerah 
kabupaten Mojokerto dan daerah-daerah yang ada di Jawa Timur.
Dijadikannya makam Troloyo sebagai wisata budaya (wisata religi), 
diharapkan mampu untuk mengembangkannya secara berkelanjutan dan 
berusaha menggali potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Mojokerto secara 
menyeluruh. Dengan adanya objek wisata ini  mampu untuk bersaing 
dengan daerah-daerah sekitar bahkan tingkat nasional dalam pencapaian 
pengembangan wisata budaya (wisata religi). Objek wisata ini diharapkan dapat 
memberi manfaat bagi warga  setempat terutama pada peningkatan 
ekonominya. Manfaat dari kegiatan ini dapat dinikmati oleh pihak pengelola 
wisata, Pemerintah setempat serta warga  yang berdagang dan menawarkan 
jasanya di sekitar objek wisata religi makam Troloyo.
Keanekaragaman tujuan dan perilaku para peziarah yang datang ke makam 
Troloyo telah membuat perpaduan karakter kebudayaan yang membantu 
eksistensi dan pengembangan makam Troloyo.
Gambaran Umum Kompleks Makam Troloyo
Makam Troloyo terletak di dukuh Sidodadi, Desa Sentonorejo, 
Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Orang pertama yang menyebut 
tentang Troloyo dengan makam-makam lainnya adalah P.J. Veth dalam 
bukunya Java Jilid II tahun 1878. Ahli lainnya yang menaruh perhatian pada 
makam Troloyo adalah Verbuk, Knebel, N.J Kromndan lain-lain, sedangkan 
penelitian terakhir tentang Troloyo dilakukan oleh L.C.H. Damais yang 
menginterpretasikan serta mencoba mencari hubungan dengan kerajaan 
Majapahit ,
Penjabaran makam-makam yang ada  di kompleks makam 
Troloyo, baik yang ada di dalam maupun di luar kompleks makam Troloyo Pada kompleks makam Troloyo ada  beberapa 
kelompok makam diantaranya:
1. Makam Sayyid Syeikh Jumadil Kubro
Di tempat ini dimakamkan seorang tokoh penyebar agama Islam 
dari Samarkhand-Azarbaijan. Syeikh Jumadil Kubro yang dilahirkan 
sekitar tahun 1256 dalam tradisi tharekat Kubrawiyah di Asia Tengah, 
menjadikannya sebagai seorang sufi pengembara yang melakukan tradisi 
dakwahnya hingga ke Campa pada abad ke-13. Salah seorang putranya, 
Ibrahim Asmorakandhi, dinikahkan dengan putrid raja Campa, Dewi 
Candrawulan, yang kelak menurunkan sunan Ampel. Sejarah masuk dan 
berkembangnya Islam di Jawa tidak terlepas dari nama Syeikh Jumadil 
Kubro dan Syeikh Syubakir waliullah, penyebar agama Islam asal Persia, 
nenek moyang Raden Rachmad aatau lebih dikenal dengan Sunan Ampel 
Dento ,
Ketokohan beliau sangat spektakuler sebab  beliau adalah pioner 
penyebar agama Islam di wilayah kerajaan Majapahit dimana pada saat itu 
pengaruh agama Hindu sangat kuat disamping keyakinan warga  pada 
arwah leluhur dan benda-benda suci. Beliau pulalah yang mengusulkan 
kepada penguasa Islam di Turki (sultan Muhammad I) susaha  sultan 
mengundang ulama-ulama terkenal yang mempunyai berbagai ahli guna 
membahas metode dakwah menyebarkan agama Islam di kerajaan 
Majapahit. Bermula dari usul beliau ini akhirnya terbentuk kelompok
ulama yang berjumlah sembilan untuk menyebarkan agama Islam di 
kerajaan Majapahit. Kesembilan ulama ini yang disebut Wali Songo. 
Perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan agama Islam 
melawan penguasa Majapahit sangat besar dan hayat beliau berakhir di 
medan pertempuran membela agama Islam. Keturunan beliau (cucu dan 
cicit) menjadi tokoh penyebar agama Islam di pulau Jawa sepeninggal 
beliau 
Di dalam kompleks makam Mbah Sayyid Jumadil Kubro ada  
pohon pule, yang kulitnya banyak dipakai  sebagai obat penyakit gatal 
Keberagaman para peziarah yang datang ke makam Syeikh 
Jumadil Kubro, memicu perbedaan dalam tata cara berdoa. Hal itu 
biasa terjadi di dalam makam Syeikh Jumadil Kubro. Berikut ini petikan 
catatan lapangan yang menggambarkan kondisi para peziarah ini  
ketika berada di dalam makam.
“Banyak para peziarah yang datang ke makam Syeikh Jumadil Kubro, 
dengan berbagai karakter cara menyampaikan caranya untuk bertawasul 
atau mencari keberkahan. Pelarangan untuk memakai pengeras suara 
merupakan salah satu usaha  untuk menjaga ketenangan di dalam makam. 
Perilaku peziarah tertib dan serius ketika membacakan do’a di dalam 
makam”.
Dengan demikian ada  sifat saling menghormati antara 
peziarah yang datang ke makam Syeikh Jumadil Kubro meskipun mereka 
berbeda dalam tata cara berdo’a.
Dari  ini  dapat dijelaskan bahwa pohon pule 
yang tampak kering itu merupakan keunikan tersendiri dari pohon ini. 
Seolah-olah pohon ini mati tetapi di bagian atas atap makam Syeikh 
Jumadil Kubro ada  rerimbunan dedaunan dan cabang batang pohon 
pule yang masih hidupDari (gambar 1.3) ini  dapat dijelaskan bahwa kondisi makam 
Syeikh Jumadil Kubro ramai dikunjungi oleh peziarah sebab  banyak para 
peziarah dan warga  setempat mempercayai bahwa makam Syeikh 
Jumadil Kubro mempunyai karomah tertinggi dibandingkan dengan makam￾makam lainnya yang berada di kompleks makam Troloyo.
2. Makam Tiga (Kubur Telu)
Ketiga makam ini berada di dalam cungkup makam Sayyid 
Jumadil Kubro. Ketiga makam ini adalah makam Syeikh Abdul Qodir 
Jaelani Assyni (Tan Kim Han), Syeikh Maulana Sekah dan Syeikh 
Maulana Ibrahim. Beliau adalah pengikut Sayyid Jumadil Kubro dari 
negeri Champa-Muangthai (Wahab, 2008:294), (lihat gambar 1.4).
Peziarah yang datang di makam tiga atau kubur telu merupakan 
salah satu usaha  dilakukan menyambung tawasul dan mencari 
keberkahan di dalam makam ini . Berikut ini petikan catatan 
lapangan yang menggambarkan kondisi para peziarah ini  ketika 
berada di dalam makam.
“Kedatangan peziarah di makam tiga ini sesudah  para peziarah datang ke 
makam Syeikh Jumadil Kubro, sebab  makam ini satu atap dan tempat 
yang sama, tetapi banyak juga yang langsung keluar sesudah  dari makam 
Syeikh Jumadil Kubro”.
Dengan adanya ini  dapat disimpulkan bahwa makam kubur 
telu atau makam kubur telu, kedudukan atau karomahnya lebih rendah 
dari pada makam Syeikh Jumadil Kubro”.
3. Makam Patas Angin
Tokoh yang dimakamkan di makam ini adalah seorang kusir raja 
Majapahit. Beliau dikenal sakti. Banyak peziarah yang mengunjungi 
makam ini 

4. Makam Endang Roro Kepyur
Endang Roro Kepyur adalah seniman tari pada zaman Majapahit. 
Konon, beliau pada waktu itu berparas cantik. Dan pada zaman kerajaan 
Majapahit, wilayah Troloyo adalah sebuah alun-alun kerajaan yang sering 
dipakai  sebagai tempat hiburan rakyat. Saat ini banyak peziarah dari 
kalangan seniman yang mengunjungi makam ini 
5. Makam Tumenggung Satim Singgomoyo
Beliau adalah pejabat kerajaan Majapahit yang sudah memeluk 


agama Islam pada saat itu. Peranan beliau dalam membantu Sayyid 
Jumadil Kubro sangat besar. Beliau sering diajak berdiskusi oleh Sayyid 
Jumadil Kubro untuk memecahkan kesulitan-kesulitan dalam berdakwah. 
Beliau juga menyarankan raja Majapahit saat itu (Prabu Kertabumi) 
untuk bergabung Wali Songo pada saat kerajaan Majapahit mendapatkan 
serangan dari kerajaan Kediri. Makam ini dikeramatkan dan banyak 
warga  sekitar mengadakan selamatan apabila mereka akan 
mengadakan hajatan. Dan makanan yang dipakai  untuk selamatan 
adalah ikan bandeng bukan ikan ayam.
Di dalam kompleks makam ini juga ada  dua makam lainnya 
yaitu makam Tumenggung Safari dan Raden Husen (Sayyid Chusen). 
Tumenggung Sofari adalah tokoh yang bertugas merawat jenazah pada 
jaman kerajaan Majapahit, sementara Raden Husen adalah adik Raden 
Patah yang memimpin pasukan Majapahit melawan pasukan Islam 
Demak. sesudah  sunan Kalijogo menemui Raden Husen dan menjelaskan 
bahwa pasukan muslim Majapahit sebenarnya diadu domba dengan 
pasukan Demak oleh Girindra Wardana sebab  Girindra tidak ingin 
muncul kerajaan Islam berkembang besar, Raden Chusen berbalik 
menyerang pasukan Majapahit beliau terkenal sebagai panglima yang 
sangat berani di medan laga. Akhir hayat beliau berakhir di medan perang 
antara kerajaan Islam Demak dan kerajaan Majapahit. Konon beliau 
meninggal sebab  terkena “tombak 1000” menancak pada badan beliau 
dan beliau tidak ingin tombak-tombak ini  dicabut, beliau ingin 
tombak-tombak ini  tetap menancap pada jasad beliau pada saat 
beliau dimakamkan 
Dari gambar   dapat dijelaskan bahwa ada  pohon 
mati yang ada  di makam ini, berdasar keterangan dari warga  
bahwa pohon ini telah ada dari dulu (berpuluh-puluh tahun) kondisinya 
tetap seperti ini. Pohon mati inilah yang menjadi keunikan tersendiri di 
makam Troloyo.
6. Petilasan Wali Songo
Tempat ini bukanlah suatu makam melainkan sebuah petilasan 
yang dipakai  Wali Songo sebagai tempat musyawarah untuk 
melakukan dakwah menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Dan tempat 
ini konon pernah dipakai  oleh Tumenggung Satim mengislamkan para 
muallaf Majapahit 
7. Makam Sunan Ngudung
Makam ini merupakan makam terpanjang di kompleks makam 
Troloyo. Menurut cerita, pada malam Jum’at legi tepatnya pukul 12 malam, 
banyak darah tercecer di makam Sunan Ngudung dan darah ini  akan 
hilang dengan sendirinya seiring lewatnya waktu malam. Sunan Ngudung 
adalah ayah dari Sunan Kudus, dan merupakan senopati Demak yang 
ditugaskan untuk memimpin perang melawan Majapahit, Banyak peziarah 
yang datang ke makam ini guna mencari keberkahan 
Makam sunan Ngudung juga ramai dikunjungi para peziarah, kerena 
makan ini dekat dengan masjid dan mempunyai kelebihan tersendiri dari 
pada makam-makam lainnya. Hal ini diceritakan oleh Mas Haimin, seorang 
penjaga kebersihan di makam sunan Ngudung, sebagai berikut.
“Banyak peziarah yang datang ke makam sunan Ngudung sebab  makam ini 
merupakan makam terpanjang di kompleks makam Troloyo, dan sebagian 
besar para peziarah yang datang kesini adalah untuk menyelesaikan 
permasalahannya dan dimudahkan dalam mencari jodoh”.
Berikut ini beberapa makam yang terletak di belakang tembok 
pembatas kompleks makam yaitu:
1. Makam Syeikh Rokhim
Syeikh Rokhim adalah seseorang tokoh pengikut Sayyid Jumadil 
Kubro. Awalnya beliau adalah pencuri yang sakti dengan mendapat 
julukan Maling Aguno. Pada zamannya beliau bertemu Sayyid Jumadil 
Kubro dank arena kagum atas kelebihan Mbah Sayyid Jumadil Kubro,
Syeikh Rokhim menjadi pengikutnya 
2. Makam Syeikh Zaelani
Makam ini terletak suatu lokasi dengan makam Syeikh Rokhim. 
Tokoh ini mempunyai kesamaan cerita dengan Syeikh Rokhim. Awalnya 
adalah seorang pencuri dengan sebutan Maling Langkir dan bisa masuk 
rumah melalui kunci. Namun akhirnya sadar dan menjadi pengikut Mbah 
Sayyid Jumadil Kubro 
3. Makam Syeikh Qohar
Lokasinya berdekatan dengan dua makam terdahulu. Tokoh ini 
mendapat julukan Maling Cluring dan bisa masuk rumah lewat cahaya 
lampu. Namun akhirnya menjadi pengikut Mbah Sayyid Jumadil Kubro 

Makam Syeikh Qohar ini merupakan makam yang berada di luar 
area kompleks makam Troloyo. Banyak peziarah yang datang kesini 
ketika malam jum’at legi. Hal ini diceritakan oleh bapak Syaiful Hadi, 
seorang tokoh agama di desa Sentonorejo, sebagai berikut.
“Makam Syeikh Qohar ramai dikunjungi oleh peziarah sesudah  kedatangan 
Gus Dur, kerena ketika beliau datang ke makam Troloyo makam yang di 
dahulukan ialah makam Syeikh Qohar, sehingga sampai saat ini banyak 
peziarah dan warga  desa Sentonorejo menyakini bahwa makam 
Syeikh Qohar mempunyai karomah yang tinggi”.
Kondisi Makam Syeikh Kohar pada tahun 2019 sudah mengalami 
perubahan yang menojol  dan didepannya sekarang dibangun Pondok 
Pesantren Segoro Agung yang dipimpin oleh Gus Bimo Agus Setiawan.
4. Makam Mbah Rembyong
Konon di lokasi ini ditanam tumbal oleh Syeikh Subakir sebelum 
Wali Songo periode pertama melakukan tugas menyebarkan agama Islam 
di tanah Jawa. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum kedatangan Wali 
Songo periode pertama, wilayah pulau Jawa terkenal angker disebabkan 
oleh pengaruh Animisme dan Dinamisme. Mbah Rembyong (Muniron) 
adalah seorang janda dari daerah Lamongan 
5. Makam kencono wungu dan anjasmoro
Makam Kencono Wungu adalah Ratu Majapahit yang arif dan 
bijaksana. Di makam ini juga dimakamkan Anjasmoro, putri Patih 
Logender. Beliau adalah istri lain Damarwulan 
6. Makam Tujuh (Kubur Pitu)
Disebut makam Tujuh sebab  disini dimakamkan tujuh orang yaitu:
(1) Noto Suryo; (2) Noto Kusumo; (3) Gajah Permodo; (4) Noyo 
Genggong; (5) Sabdo Palon; (6) Emban Kinasih; (7) Polo Putro. Ketujuh 
orang ini merupakan yang berada dilingkungan istana kerajaan Majapahit, 
ada yang menjabat sebagai Patih, Senopati, dan Abdi Dalem 
Pada bagian selatan di dalam kompleks makam Troloyo ada  
tempat peristirahatan sementara untuk para peziarah, biasanya tempat ini 
dipakai  untuk berteduh, aktivitas makan dan minum serta tempat untuk 
tukar pikiran atau mengobrol 

Keberadaan Masjid di kompleks makam Troloyo telah menjadi 
tempat untuk melaksanakan ibadah shalat. Masjid ini juga menjadi masjid 
desa Sentonorejo yangn biasa dipakai  untuk shalat Jum’at dan shalat 
hari raya. berdasar wawancara dengan bapak Mundir selaku petugas 
kebersihan dan penjaga kotak makam (pada tanggal 20 Maret 2011), 
menjelaskan bahwa:
“Masjid Troloyo ini seharusnya dilakukan usaha  pembenahan secara 
menojol  terutama pada atap masjid, sebab  pada saat hujan maka sering 
terjadi kebocoran. Pembenahan sudah mulai dilakukan secara bertahap 
mulai dari tempat wudhu”.

keberadaan tempat pelataran tempat MCK perlu diperbaiki lagi sebab  
pada saat hujan, genangan air masih ada dan memicu para peziarah 
menjuju ke tempat wudhu dan tempat MCK. Hal ini berdasar 
wawancara dengan bapak Mundir selaku petugas kebersihan dan penjaga 
kotak makam (pada tanggal 20 Maret 2011), menjelaskan bahwa:
“Perlu adanya jalan alternatif untuk memudahkan para peziarah ketika 
hendak menuju ke tempat wudhu dan tempat MCK”.
Ketinggian masjid dan makam juga perlu diperhatikan juga, sebab  
tempat ibadah yaitu masjid lebih tinggi dibandingkan makam. Hal ini 
berdasar wawancara dengan bapak Syaiful Hadi selaku tokoh agama di 
Desa Sentonorejo menjelaskan bahwa:
“Seharusnya ketinggian masjid dan makam lebih diperhatikan lagi, sebab  
berdasar kenyataan yang ada, ketinggian masjid di makam Troloyo lebih 
rendah dibandingkan dengan cungkup makam Syeikh Jumadil Kubro. Hal 
itu seharusnya yang terbalik, berdasar konsep Islam adalah bangunan 
Masjid seharusnya lebih tinggi dari pada cungkup makam. Takutnya nanti 
ada salah paham ketika seseorang memintanya kepada makam atau 
leluhurnya bukan kepada Allah SWT”.
Aktivitas peziarah di kompleks makam Troloyo merupakan 
kegiatan yang dilakukan untuk mengharap barokah dari makam yang ada 
disitu. Kedatangan pertama para peziarah biasanya langsung menuju ke 
makam Syeikh Jumadil Kubro, sebab  makam ini  banyak diyakini 
oleh warga  dan para peziarah mempunyai karomah tertinggi dan 
merupakan punjer walisongo. sesudah  dari makam Syeikh Jumadil Kubro,kebanyakan para peziarah datang ke makam Kubur Telu, Tumenggung 
Satim, Patas Angin, Endang Roro Kepyur dan Sunan Ngudung. Terkait 
makam yang berada di luar kompleks makam Troloyo, seperti makam 
Kencono Wungu, Syeikh Kohar, Kubur Pitu, Eyang Surgi, Dipo 
Rembyong dll. Biasanya dikujungi oleh peziarah yang mempunyai 
maksud dan tujuan tertentu. Peziarah ini  bermalam di makam atau 
penginapan beberapa hari sampai tujuannya selesai. Pada hakekatnya, 
kedatangan para peziarah ialah mencari barokah dari makam yang dituju, 
misalnya untuk mendapat pekerjaan, jodoh, penyelesaian masalah, 
peningkatan keimanan dan ketakwaan kita (mengingat mati) dan lain￾lainnya. Disitulah para peziarah melakukan tawasul atau berdoa dengan 
keyakinannya masing-masing. Dengan cara bertawasul di makam di 
harapkan dapat dijadikan sebagai lantaran doa untuk meminta harapan 
dan mengabulkan doa kita kepada Allah SWT.
Perkembangan Makam Troloyo sebagai Objek Wisata Religi di Desa 
Sentonorejo, Kecamatan Trowulan.
Perkembangan makam Troloyo yang terjadi sebagai wujud perubahan 
terhadap keyakinan bahwa makam Troloyo merupakan makam Islam pada 
masa kerajaan Majapahit. Denggan adanya persamaan keyakinan dan 
persepsi tentang makam Troloyo maka dilaksanakan pengembangan awal 
untuk melestarikan dan mengenalkan makam Troloyo sebagai objek wisata 
religi dan mempunyai tokoh yang dipercayai sebagai punjer walisongo adalah 
makam Syeikh Jumadil Kubro. Soekmono (1973:85) menjelaskan bahwa 
penghormatan ini lebih-lebih lagi ditujukan kepada seseorang yang
mempunyai kedudukan lebih daripada manusia.
berdasar informasi dari warga  dijelaskan bahwa kondisi awal 
makam Troloyo kurang menarik dan banyak alang-alang, cungkupnya sederhana, 
hutan, batu nisannya besar-besar, batu merah tumpuk ditata memakai lemah 
lempung kumuh, tempat pengembala hewan, lapangan olahraga serta ada 
fasilitas untuk ibadah. warga  sedikit yang mengetahuinya, kurang lebih 
hanya 200 orang yang mengetahuinya. Pada tahun 1958 tuan Calik, seorang 
konglomerat yang datang ke makam Troloyo dengan memakai kuda, beliau 
sering ke makam Troloyo dan berusaha melestarikan keberadaan makam 
Troloyo. KH. Ismail Ibrohim sering juga datang ke makam Troloyo, terutama di 
makam Syeikh Kumadil Kubro dengan santri-santrinya, hal itu dilakukan dengan 
sederhana. Nisan di makam Troloyo bagian depan bertuliskan arab yang berbunyi “kullun nafsin dha ikotul maut”
yang artinya bahwa siapa yang bernyawa pasti akan mati serta bagian 
belakang nisan ini  bertuliskan gambar surya Majapahit.
Pernyataan di atas sesuai dengan makna dari perkembangan 
merupakan perubahan yang melihat dari teori garis lurus, baik yang mengarah 
pada kemajuan maupun sebaliknya ke arah kemunduran. bahwa tidak ada perkembangan yang 
menganut garis lurus dalam sejarah sebab  pola perkembangan kebudayaan 
ditandai dengan pola perkembangan yang melingkar.
Perkembangan makam Troloyo merupakan bentuk dari perkembangan 
pariwisata, hal ini dipengaruhi adanya dorongan dan kemauan warga 
untuk menjadikan makam Troloyo sebagai objek wisata religi. Wisata religi 
merupakan suatu aktivitas untuk meningkatkan kebutuhan spiritual dengan 
melakukan kunjungan kemakam wali atau tempat-tempat keagamaan yang 
mempunyai peninggalan sejarah (budaya) yang memiliki nuansa historis dan 
religius ,
Banyak para peziarah yang datang ke kompleks makam Troloyo 
dengan berbagai latar belakang dan tujuan yang berbeda, hal inilah yang 
menjadikan keunikan tersendiri dalam tata cara berdo’a. Hal ini didasarkan 
atas pernyataan Subhani (dalam Sholihuddin, 2006:136) menjelaskan bahwa 
“tujuan orang-orang muslim yang berdoa disisi makam para wali adalah 
tabarrukan (mencari berkah) dari tempat yang dijadikan makam para kekasih
Allah. Sehingga apa yang menjadi permohonan seseorang peziarah akan lebih 
mudah untuk dikabulkan”.
Keberadaan makam-makam yang ada di makam Troloyo menjadikan 
daya tarik tersendiri oleh para peziarah yang data di kompleks makam Troloyo. 
Hal ini  terlihat dari kedatangan para peziarah yang datang ke makam￾makam yang ada  di kompleks makam Troloyo, kunjungan pertama dari para 
peziarah biasanya ke makam Syeikh Jumadil Kubro. Sebagian kecil para 
peziarah datang ke salah satu makam, itupun disesuaikan dengan kebutuhan dan 
pengharapan doa dari para peziarah agar cepat diijabahi atau dikabulkan.
Makam-makam yang ada  di kompleks makam Troloyo, terdiri dari 
dua bagian baik yang ada di dalam maupun di luar kompleks makam Troloyo. 
Berikut ini merupakan makam yang berada di dalam kompleks makam Troloyo 
adalah sebagai berikut: Pertama, makam Sayyid Syeikh Jumadil Kubro; Kedua, 
makam Tiga (Kubur Telu) yang ada di dalamnya ada  makam Syeikh Abdul 
Qodir Jaelani Assyni (Tan Kim Han), Syeikh Maulana Sekah
dan Syeikh Maulana Ibrahim; Ketiga, makam Patas Angin; Keempat, makam 
Endang Roro Kepyur; Kelima, makam Tumenggung Satim Singgomoyo; 
Keenam, Petilasan Wali Songo; Ketujuh, makam Sunan Ngudung.
Berikut ini beberapa makam yang terletak di belakang tembok 
pembatas kompleks makam yaitu: Pertama, makam Syeikh Rokhim; Kedua, 
makam Syeikh Zaelani; Ketiga, makam Syeikh Qohar; Keempat, makam 
Mbah Rembyong; Kelima, makam Kencono Wungu dan Anjasmoro; 
Keenam, makam Tujuh (Kubur Pitu) yang ada di dalamnya ada  makam 
makam Noto Suryo, Noto Kusumo, Gajah Permodo, Noyo Genggong, Sabdo 
Palon, Emban Kinasih dan Makam Polo Putro.
Makam Troloyo didanai oleh asset desa dan yayasan, pada awalnya 
terjadi perang mulut, antara warga  pro dan kontra terhadap 
perkembangan makam Troloyo ke depannya, khususnya kepercayaan dan 
keyakinan keberedaan makam Syeikh Jumadil Kubro, hal itu terjadi pada 
tahun 1995-1996. Pada tahun 1996 makam Troloyo mulai berkembang 
sesudah  ditaskihkan oleh Gus Dur dan Kyai Jamal, selanjutnya makam 
Troloyo milik purbakala (BP3 Jatim) dan para pejabat.
Dalam rangka perkembangan objek wisata religi makam Troloyo dari 
tahun 1995-2003, pengelolaannya di kelola oleh pemerintah desa, untuk 
pemeliharaan dan pembangunannya dari swadaya warga  dan simpatisan. 
Pada tahun 2002 mulai dibangun dan pada tahun 2003 selesai, pembangunan 
ini  dilakukan oleh pemerintah Desa dan warga  desa Sentonorejo.
Mulai tahun 2004 pemerintah desa ada kepercayaan di pemerintah 
kabupaten untuk mengembangkan objek wisata religi makam Troloyo dengan 
wujud MOU (Memorandum of Understanding) antara pemerintah daerah 
dengan pemerintah desa, pada bulan Maret 2004-2007 dilakukan MOU 
pertama, sementara dari tahun 2007-2009 dilakukan MOU kedua, sampai 
sekarang, pada tahun 2006 pemerintah daerah mulai membangun makam 
Troloyo dan pada tahun 1998 dikelola oleh Desa,
Inti dari MOU (Memorandum of Understanding) ini  antara lain: 
bekerjasama tentang pembangunan objek wisata religi, sumber dana dari 
pemerintah kabupaten. Tata ruang perencanaan objek wisata bekerjasama antara 
pemerintah desa dan pemerintah kabupaten. Pengelolaan merupakan tanggung 
jawab pemerintah kabupaten dibantu oleh pemerintah desa. Sumber pendapatan 
sebagai penyokong Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) daerah kabupaten dan 
sumber PAD pemerintah desa. Dalam MOU untuk mendukung ketertiban dan 
sarana prasarana objek menunjuk dinas instansi terkait.
Pengelolaan internal objek: Dinas Pariwisata, untuk ketertiban dan keamanan 
ialah satpol PP sementara untuk kelancaran parkir ialah Dinas Perhubungan. 
Dalam pelaksanaan dibantu oleh pemerintah Desa. fisik sarana dan prasarana 
mengalami peningkatan 100% dari kondisi sebelumnya. Pemugaran dan 
pembangunan cungkup, pagar, kios depan, kantor seketariatan dan warung 
belakang. Adapun MOU yang telah dibuat dan disepakati oleh pemerintah 
desa Sentonorejo dengan pemerintah daerah kabupaten Mojokerto terlampir 
dalam lampiran 6.
Kesepakatan antara kedua pihak (pemerintah desa dan pemerintah 
daerah) telah membawa perubahan yang menojol , terutama peningkatan 
sarana dan prasarana kompleks makam Troloyo. Dengan adanya 
perkembangan makam Troloyo telah memicu banyak peziarah yang 
datang ke makam Troloyo. Terutama peningkatan semakin meningkat sesudah  
adanya perkembangan makam Gus Dur pada tahun 2010. Banyak para 
peziarah yang datang ke makam Gus Dur lalu melanjutkan ke makam 
Troloyo atau sebaliknya serta kerjasama dilakukan oleh Dinas Kepariwisatan 
Mojokerto dengan Dinas Kepariwisataan Jombang dalam usaha  mengenalkan 
atau mempromosikan makam Gus Dur dan makam Troloyo sebagai objek 
wisata religi yang ada di Jawa Timur. Perlu diketahui juga bahwa yang 
datang ke makam Troloyo itu terdiri dari berbagai macam suku dan agama. 
Pada hakekatnya makam Troloyo merupakan tempat wisata yang ramai 
dikunjungi oleh orang serta objek wisata religi makam Troloyo mempunyai 
karomah makam auliya’.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Perkembangan Makam Troloyo 
terhadap Kehidupan warga  di Desa Sentonorejo, Kecamatan 
Trowulan.
Pengaruh kehidupan sosial dan ekonomi warga  yang terjadi 
sesudah  adanya perkembangan makam Troloyo ialah sangat besar dan 
menojol  terutama berdirinya warung atau toko, penitipan sepeda dll. Dari 
segi positifnya perekonomian warga  meningkat, banyak warga  
yang berjualan di sekitar makam Troloyo.
Hal ini diceritakan oleh bapak Abdul Ghofar, seorang penggagas yang 
mengembangkan makam Troloyo menjelaskan bahwa dampak yang 
ditimbulkan dengan adanya perkembangan makam Troloyo sangat begitu 
pesat, terutama peningkatan prekonomian warga  dan kehidupan sosial 
warga  desa Sentonorejo. Banyak terciptanya lapangan pekerjaan baru,sebab  sebagian besar warga  desa Sentonorejo yang bermata 
pencaharian bertani, pindah menjadi pedagang, ojek dan lain-lainnya”.
Peranan penjual jasa juga sangat penting bagi interaksi dengan peziarah 
secara langsung, seperti halnya para pemandu wisata (guide) yang ada di 
kompleks makam Troloyo telah membantu para peziarah yang datang dari luar 
daerah agar mampu mendapatkan informasi yang ada di kompleks makam 
Troloyo. Terutama adanya makam yang dianggap mempunyai karomah tertinggi. 
Pemandu wisata yang ada di makam Troloyo merupakan perangkat desa pada 
masa pemerintahan kepala desa bapak Abdul Ghofar. Tugas dari pemandu wisata 
ini  ialah memberikan informasi dan mengarahkan atau menunjukkan 
makam-makam yang ada di kompleks makam Troloyo.
bahwa hal terpenting dalam peningkatan 
ekonomi adalah talent atau bakat dan niat, seseorang dapat berhasil dalam 
segi ekonomi sebab  diawali niat yang kuat dan bakat yang memadai, selain 
itu manusia juga membutuhkan modal dalam berwirausaha sebab  tanpa 
modal teknologi tidak dapat tercapai dan yang terakhir adalah ketrampilan,
sebab  tanpa ketrampilan kita tidak bisa mengolah dari teknologi ini . 
bahwa dampak 
kegiatan pariwisata di bidang sosial meliputi perubahan sistem nilai, tingkah 
laku perorangan, hubungan keluarga, gaya hidup, moral, upacara tradisional 
dan organisasi warga . Timbulnya dampak ini  sebagai akibat 
adanya kontak antara warga  tuan rumah dengan wisatawan. 
Perkembangannya otomatis ekonomi meningkat, tetapi sosial keagamaan 
berkurang. Hal itu terjadi sebab  warga  terkadang sulit untuk 
meninggalkan kegiatan berdagang yang dilakukakannya. Perekonomian 
terangkat dan banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh warga .
Dengan meningkatnya dan membaiknya kualitas hidup tentu dapat 
membangun karakter bangsa bermodalkan kreativitas budaya untuk 
meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Perlu diperhatikan juga bahwa 
adanya pengaruh yang dibawa oleh para peziarah, misalnya cara berpakain para 
peziarah yang kurang sopan dan tidak sesuai dengan ajaran Islam terkadang 
masih sering diadopsi dan ditiru oleh warga  desa Sentonorejo, terutama 
kalangan pemuda dan pemudi serta wanita yang selalu menginginkan modis dan 
mengikuti perkembangan zaman dalam berpakaian. 
menyebutkan bahwa dampak kegiatan pariwisata di bidang sosial
meliputi perubahan sistem nilai, tingkah laku perorangan, hubungan 
keluarga, gaya hidup, moral, upacara tradisional dan organisasi warga .
Dalam kehidupan sosial warga  telah banyak mengalami 
peningkatan yang terutama pada kegiatan keagamaan, sebab  dengan hal 
ini  akan memicu interaksi dalam warga , jika kebiasaan 
ini  dilakukan secara konsisten dan bersifat saling memberikan manfaat 
dalam kehidupan sehari. Tingkat pendidikan warga  semakin meningkat, 
sebab  ditunjang dengan pendidikan formal dan non formal yang ada di desa 
interaksi sosial adalah pengaruh timbal balik antara segi kehidupan bersama. 
Pengertian ini  menunjukkan pada hubungan-hubungan sosial yang 
dinamis. Proses sosial merupakan bentuk khusus dari interaksi sosial. Terjadi 
proses secara umum disebabkan oleh adanya kontak sosial dan juga 
komunikasi.
Kontribusi dari Berbagai Macam Kegiatan atau Ritual Keagamaan di 
Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan terhadap Pendidikan Karakter 
bagi warga  Desa Sentonorejo.
bahwa dalam 
pendidikan karakter ada  sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai￾nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap 
ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran atau 
amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka 
tolong-menolong dan gotong royong atau kerjasama; keenam, percaya diri 
dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan 
rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Dari pernyataan di atas, ada tiga pilar utama yang dapat diaplikasikan 
dalam penelitian ini, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap 
ciptaan-Nya; kedua, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong 
atau kerjasama, dan; ketiga, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Dari 
ketiga pilar ini  dapat dijadikan sebagai acuan dasar dalam 
pengaplikasian pendidikan karakter bagi warga  desa Sentonorejo.
bahwa 
situasi kewarga an dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi 
sikap dan cara pandang warga  secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan 
pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka usaha  ambisinya 
terbatas pada kini dan di sini pula. Di sinilah, tulis Quraish Shihab, muncul
gagasan dan ajaran tentang amar ma’ruf nahy munkar, dan tentang fardhu 
kifayah, tanggung jawab bersama dalam menegakkan nilai-nilai yang baik 
dan mencegah nilai-nilai yang buruk.
Dalam kontribusi pendidikan, pemerintah desa memberikan bantuan 
perbulan kepada sekolah, pondok pesantren dan tempat ibadah (masjid dan 
mushola). Adanya tahlil akbar setiap 36 hari sekali, sesudah  jum’at legi dan sabtu 
pahing. Kajian rutin ini  dilakukan secara bergilir di 13 tempat ibadah. 
Pengaruhnya sangat pesat, adanya diniyah dan madrosah, serta diniyah atau 
TPQ, pondok pesantren Al Ridho dan SDN Sentonorejo. Semuanya merupakan 
barokah dari keberadaan makam Syeikh Jumadil Kubro, yang jelas secara tidak 
langsung ada peningkatan kesadaran warga  terbentuk ukhuwah islamiyah 
melalui lingkungan RT masing-masing. Dengan adanya sumber dana dari desa di 
tasarubkan untuk kegiatan selapan dino atau 35 hari se-Desa Sentonorejo dalam 
bentuk pengajian umum. Dengan adanya hal di atas maka pendidikan karakter 
mulai diterapkan melalui kegiatan atau kebiasaan yang telah mereka laksanakan, 
hal ini dimaksudkan agar pengaplikasian dan pelaksanaan pendidikan karakter 
dapat terwujud dengan baik. George Homan 
menjelaskan bahwa teori perilaku sosial ialah tingkah laku sosial dasar tingkah 
laku yang muncul dan muncul kembali entah seseorang merencanakan untuk 
melakukan hal ini  atau tidak. Homan yakin bahwa tingkah laku sosial dasar 
dapat dijelaskan dengan masalah-masalah dasar perubahan sosial
Kegiatan grebeg dan haul Syeikh Jumadil Kubro telah menjadi ritual 
keagamaan yang khusus dan dilakukan setiap setahun sekali. Banyak 
warga  yang menunggu moment ini, sebab  ritual ini banyak 
mengandung makna tersendiri di kalangan warga  setempat. Banyak 
makna yang terkandung pada ritual ini terutama penanaman nilai-nilai moral, 
kebersamaan, kesopanan, dan menjadikan warga  untuk selalu 
menghargai jasa seseorang (tokoh yang diagungkan), serta melaksanakan 
ritual keagamaan berdasar keyakinan masyaraka. Hal inilah yang perlu 
diambil hikmahnya dan nantinya diharapkan dapat menjadikan manusia yang 
religius dan berbudaya serta bisa menerapkan pendidikan karakter khususnya 
bagi warga  desa Sentonorejo. Dari pernyataan di atas perlu dianalisis 
dengan teori reinforcement dan tingkah laku yang menjelaskan bahwa 
peranan ganjaran sebagai penguat (reinforcement) perilaku. Suatu perilaku 
yang membawa pengaruh positif (menyenangkan) pada diri individu akan 
cenderung diulang pada waktu yang lain, akan tetapi akibat yang tidak
memuaskan (tidak memicu ) apa-apa pada hubungan stimulus respon. 
Menurut Thorndika (dalam Basrowi, 2005:198) menjelaskan bahwa semua 
proses belajar adalah pembentukan ikatan, atau hubungan, atau koneksi 
antara stimulus dan respon kuat, atau dengan kata lain telah terbentuk
perilaku tertentu maka perilaku ini  telah menjadi kebiasaan. Sebaliknya, 
bila hubungan lemah maka kebiasaan hilang.
Dengan adanya berbagai macam kegiatan atau ritual keagamaan yang 
dilakukan oleh warga  desa Sentonorejo telah memberikan pengaruh yang 
menojol  terhadap pendidikan karakter bagi warga  desa Sentonorejo. Hal 
ini  telah menumbuhkan nilai-nilai dalam berprilaku dengan berlandaskan 
syari’at Islam. Penerapan nilai-nilai ini merupakan cerminan dari moral dan 
perilaku warga  yang berlandaskan atas pendidikan karakter. 
Pengaplikasiannya dapat diterapkan melalui keluarga, warga  dan negara.
 
berdasar pemaparan data dan pembahasan diatas maka dapat 
diambil  sebagai berikut:
1. Perkembangan makam Troloyo mengalami perubahan yang sangat pesat. 
Kerjasama dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Mojokerto dengan 
pemerintah desa Sentonorejo dalam usaha  meningkatkan dan menjadikan 
makam Troloyo sebagai objek wisata religi di kawasan Jawa Timur.
a. Pada tahun 2002 mulai diadakannya pembangunan makam Troloyo di 
danai oleh pemerintah desa dan donatur dari warga  desa 
Sentonorejo yang timbul kesadaran pribadi dan kelompok atau 
golongan.
b. Pada tahun 2004 sarana dan prasarana makam Troloyo lebih 
ditingkatkan lagi sesudah  adanya MOU (Memorandum of
Understanding) pada tahun 2004 dan 2007. Hal ini dilakukan untuk
menjadikan makam Troloyo sebagai objek wisata religi di Kabupaten 
Mojokerto.
c. Pada tahun 2010 jumlah peziarah semakin meningkat, sebab  
keberadaan makam Gus Dur dan kerjasama antara Dinas 
Kepariwisatan Mojokerto dengan Dinas Kepariwisataan Jombang 
dalam usaha  mengenalkan atau mempromosikan makam Gus Dur dan 
makam Troloyo sebagai objek wisata religi yang ada di Jawa Timur.
d. Diadakannya Grebeg dan Haul Syeikh Jumadil Kubro yang 
diperingati tiap tahunnya oleh Disporabudpar Kabupaten Mojokerto.
e. Berdirinya Pondok Pesantren Yatim Piatu Segoro Agung sejak tahun 
2015 menambah ramai kompleks Makam Troloyo di bagian belakang 
atau sebelah Barat. sebab  pondok ini juga sering mengundang Cak 
Nun dan Kiai Kanjeng untuk memperingati milad pondok ini .
2. Kehidupan sosial dan ekonomi warga  mengalami peningkatan dan 
perubahan yang menojol . Hal itu terjadi sebab  warga  mampu 
untuk memanfaatkan dan memahami terhadap keberadaan makam 
Troloyo sebagai objek wisata religi.
a. Tingkat pendidikan formal maupun non formal mengalami kemajuan 
terutama adanya peningkatan sarana dan prasarana seiring 
perkembangan makam Troloyo.
b. Berbagai kegiatan keagamaan dilakukan dalam usaha  untuk menjaga 
silaturahmi antar warga  desa Sentonorejo dan berusaha untuk 
menciptakan dan mempertahankan kebudayaan Islam.
c. Peningkatan perekonomian memicu banyak warga  yang 
memperoleh lapangan pekerjaan baru atau berpindah profesi dari 
buruh tani menjadi pedagang, tukang ojek, penjaga parkir, jasa 
penginapan, pengemis dan lain-lainnya.
3. Adanya kegiatan atau ritual keagamaan yang dilakukan oleh warga  
desa Sentonorejo telah mencerminkan penerapan pendidikan karakter 
bagi warga , sehingga adanya usaha untuk menanamkan nilai-nilai 
keIslaman telah mengarahkan moral warga  desa Sentonorejo ke arah 
kebaikan dan kebersamaan dalam kehidupan warga .
a. Untuk kebiasaan-kebiasaan penduduk dalam upacara ritual yang rutin 
mereka lakukan seiring dengan adanya perkembangan objek wisata 
religi makam Troloyo tidak mengalami perubahan.
b. Pengaplikasian pendidikan karakter ini  dilaksanakan ketika 
warga  melakukan kegiatan Haul dan Grebeg Jumadil Kubro, 
pengajian umum, tahlil akbar dan kajian rutin.
c. Pendidikan karakter juga bisa diterapkan di lingkungan keluarga dan 
pendidikan formal atau non formal yang ada di desa Sentonorejo.

Related Posts: