Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 2

 




gunan itu selesai 

seluruhnya, kali dipindahkan, tanahnya dijadikan wilayah candi. 

ltulah tanah merdeka Pameget Wantil. Berikut nama pejabat dan 

jabatannya. Tanah merdeka itu menjadi milik candi. Semua orang 

yang diberi tugas untuk menjaga dan melakukan persembahan 

diharap tekun lagi tabah, dan juga tidak akan mengalami lahir-mati 

yang tidak ada hentinya. 

Dengan terbitan itu persoalan asal usul Balaputra menjadi jelas. 

Balaputra terbukti berasal dari Jawa Tengah. Penyingkirannya ke 

Sriwijaya disebabkan sebab  kekalahan perng dengan J atiningrat pada 

pertengahan abad ke-9. N ama Balaputra mulai dikenal sejak tahun 

1924 berkat penerbitan piagam Nalanda oleh sarjana Hirananda Sastri 

di bawah judul "The Nalanda Copperplate of Dewapaladewa" dalam 

Epigraphia Indica 17, hlm. 310-327. 

F.D.K. Bosch, berdasar  terbitan itu, menulis karangannya, 

een Oorkonde van het Groote Klooster te Nalanda, dalam T. B. G. 6 5 

tahun 1925 hlm. 509--527. R.C. Majumdar juga tertarik kepada 

terbitan piagam Nalanda tersebut dan menulis karangannya dalam 

monografi Varendra Research Society I pada tahun 1926. Dalam 

98 Sriwijaya 

terbitannya tentang piagam Kelurak pada tahun 1929 dalam T.B. G. 

69, Bosch dengan sendirinya membandingkan epiteton v~ravaira­ 

manthana pada piagam Nalanda dengan vairivarav~ramardana pada 

piagam Kelurak. Perbandingan itu sekarang sudah menjadi klasik, 

sebab  setiap sarjana yang menulis tentang sejarah Sriwijaya tentu 

mengulanginya, tetapi siapa di antara raja Medang yang mempunyai 

epiteton tersebut hingga sekarang belum dapat dipastikan. Pendapat 

tentang hal itu masih bersimpang siur. 

Dalam karangannya, Le <;ailendra, tueur edes h~ros ennemis 

(1950), yang telah disebut di atas, Coed~s juga menuju ke arah 

pemecahan persoalan itu dan merekonstruksi gesasarvv~rimada­ 

vithanag dengan tambahan ma dan bacaan tha diantara vi dan nag. 

Mengenai lempengan tembaga Nalanda ini, Krom menulis bahwa 

piagam tersebut membuktikan: 1). arti Nalanda bagi pemeluk agama 

Budha di Sumatra; 2). hubungan erat antara raja-raja Sailendra di 

Jawa dan Sumatra. Katanya: "Hubungan itu tidak didasarkan atas 

kesamaan nama semata-mata, tetapi sebab  kedua raja itu benar­ 

benar berasal dari satu keturunan'' (Hindoe ]avaansche Geschiedenis, 

hlm. 143). 

Persoalan Balaputra yang sebelumnya selalu menemui jalan 

bun tu, sebab  terbitan A Metrical Old Javanese Inscription Dated 856 

A.D. ini menjadi agak jelas. Namun, artikel itu juga belum dapat 

memecahkan persoalan Balaputra, sebab  bagaimana Balaputra dapat 

naik takhta kerajaan Sriwijaya masih tetap merupakan teka-teki. Juga, 

De Casparis masih beranggapan bahwa Dharmasetu, nenek Balaputra, 

yaitu  raja Sriwijaya, tetapi tidak ada buktinya. Oleh sebab  itu, 

persoalan tersebut perlu ditinjau sekali lagi. 

Kecuali terbitan piagam Jatiningrat-Balaputra yang disertai 

pembahasan panjang lebar dan mendalam, De Casparis masih 

mengemukakan piagam baru yang langsung mempunyai hubungan 

dengan sejarah Sriwijaya, yakni piagam Telaga Batu. Piagam Telaga 

Batu yaitu  piagam persumpahan, senapas dengan piagam Kota 

Kapur dan Karang Brahi, namun redaksinya berbeda. Mulai baris 3 

 99 

sampai 5, piagam itu menyebut jabatan para pembesar pemerintahan 

Sriwijaya mulai dengan rajaputra sampai hulun haji. Penyebutan yang 

demikian tidak dilakukan pada piagam Kota Kapur dan Karang Brahi. 

Perbedaan redaksi ini memberi kesempatan pentafsiran baru 

mengenai pusat kerajaan Sriwijaya. Lain dari itu, Prasasti negara kita  

II masih memuat pecahan-pecahan piagam Sriwijaya yang belum 

dikenal sebelumnya. Ini semuanya yaitu  bahan baru sebagai 

penambah bahan yang telah ada untuk penyusunan sejarah Sriwijaya. 

Pada tahun 1958, Drs. Sukmono mengemukakan teori baru 

tentang lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya berdasar  penyelidikan 

geomorfologi. Karangannya termuat dalam Laporan Kongres Ilmu 

Pengetahuan Nasional I, hlm. 245-258. Hasil penyelidikannya 

menyangkal lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang. Ia 

melokalisasikannya di Jambi, menyamakan San-fo-ts'i dari berita 

Tionghoa dengan Tembesi dan Sabadeibai dari Ptolomeus dengan 

pulau Sabak. 

Penyelidikan itu dilakukan atas paham bahwa pusat kerajaan 

Sriwijaya hams terletak di tempat strategis yang dapat menguasai 

pelayaran di Selat Malaka sebagai jalan lalu-lintas pelayaran India­ 

Tiongkok dan kebalikannya, tanpa memperhitungkan faktor-faktor 

lainnya. Karangan ini dikutip di belakang untuk dibicarakan. Kita 

akan melihat sampai di mana kebenaran teori lokalisasi pusat 

Sriwijaya berdasar  geomorfologi, setelah dikaji dengan bahan­ 

bahan sejarah lainnya. 

Pada waktu dan tempat yang bersamaan, Prof. Mr. Moh. Yamin 

menerbitkan karangannya, Penyelidikan Sejarah tentang Negara 

Sriwijaya dan Rajakula Sailendra dalam Kerangka Kesatuan 

Ketatanegaraan negara kita  (idem, hlm. 133-223). Karangan itu dibagi 

menjadi bagian: 1). Pidato pembimbing; 2). Perkembangan 

penyelidikan sejarah; 3). Susunan tata negara Sriwijaya di bawah 

kekuasaan rajakula Sailendra; 4). Negara Sriwijaya dan rajakula 

Sailendra dalam kerangka kesatuan ketatanegaraan negara kita ; 5). 

Sejarah zaman Sriwijaya dalam em pat dewasa (392--1406). Kemudian 

menyusul lampiran beberapa piagam. 

30 Sriwijaya 

Ditegaskannya bahwa penyelidikan itu dilakukan terdorong oleh 

semangat seminar sejarah di Yogyakarta pada tahun 1957 yang 

menghendaki "tersusunnya sejarah negara kita  sebagai sejarah nasional 

negara kita . Peninjauan kembali penulisan sejarah nasional. Ia 

menghendaki agar faktor kemerdekaan nasional diperhitungkan 

dengan saksama dalam penilaian kembali hasil-hasil penyelidikan 

kebudayaan pada zaman yang lampau." Pada penutup Perkembangan 

Penyelidikan tertulis, "dan kongres M.I.P.I. di kota Malang mema­ 

sukkan sejarah Sriwijaya ke pintu gerbang pembacaan dan 

penyusunan kembali. Demikian Yamin. 

Yang terbaca pada prasaran itu ialah uraian tentang hasil 

penyelidikan sejarah Sriwijaya sampai tahun 1956. Tidak ada 

pandangan baru atau usul baru untuk memecahkan persoalan-per­ 

soalan yang hingga pada waktu itu masih menjadi bahan perdebatan. 

Pembacaan kembali bahan-bahan sejarah Sriwijaya mau tidak 

mau menghadapkan kita kepada persoalan-persoalan tersebut. 

Timbulnya persoalan-persoalan itu disebabkan sebab  para sarjana 

sejarah yang bersangkutan berpikir kritis, tidak dapat menerima 

begitu saja saran-saran yang dianjurkan sebelumnya. Demikianlah, 

menurut paham saya perdebatan ilmiah itu bertujuan untuk mencari 

penjelasan mengenai kejadian yang dinyatakan pada atau dalam 

bentuk piagam dan uraian lainnya. Para sarjana mencari hubungan 

antara peristiwa-peristiwa sejarah yang tampaknya masing-masing 

berdiri sendiri. 

Sebelum hubungan antara fakta-fakta sejarah itu dapat 

dijelaskan, rekonstruksi sejarah Sriwijaya belum dapat dilakukan 

dengan sempurna. Rekonstruksi yang dipaksakan dalam suatu 

kerangka, tanpa pengetahuan yang benar mengenai fakta-fakta yang 

bersangkutan, lebih menyerupai lamunan daripada rekonstruksi, 

sebab  penjelasan fakta-fakta sejarah yang kedapatan di sana-sini 

masih merupakan persoalan. Sebagai misal, penyusunan sejarah 

Sriwijaya menurut konsep Tyonbee dikemukakan lahirnya kerajaan 

Sriwijaya berdasar  piagam Kedukan Bukit: "Dewasa timbul dari 

 31 

tahun 392 sampai 683, yaitu tarikh proklamasi pembentukan 

kedatuan Sriwijaya menurut dua pertulisan yang sama, yaitu 

pertulisan Kedukan Bukit bertarikh 605 Saka." 

Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa tarikh tahun 

proklamasi itu 683 atau menyebut piagam Kedukan Bukit itu piagam 

proklamasi, kalau hingga sekarang persoalan piagam Kedukan Bukit 

belum dapat dipecahkan. Yang pasti ialah bahwa piagam Kedukan 

Bukit itu bukan piagam proklamasi, seperti dugaan Prof. Krom 

(H.J.G. him. 121) yang diikuti oleh Moh. Yamin, atau piagam 

siddhiy~tra seperti yang dikemukakan oleh Coed~s, melainkan piagam 

perjalanan jaya atau piagam jayasiddhay~tra. Lagi pula pada tahun 

671, pendeta I-t'sing dan Wu-hing telah mengunjungi kerajaan 

Sriwijaya dan diterima oleh sang raja. 

Persoalan bagaimana Balaputra dapat menjadi raja di Sriwijaya 

sesudah menyingkir dari Mataram, belum mendapat jawaban yang 

memuaskan. Kebanyakan para sarjana menduga bahwa nenek Bala­ 

putra Sri Dharmasetu yaitu  raja Sriwijaya, tetapi dugaan ini tidak 

berdasar  bukti. Urutan raja yang memerintah kerajaan Sriwijaya, 

seperti yang dipaparkan oleh Moh. Yamin, masih harus diikuti tanda 

tanya yang besar. Ini hanya beberapa contoh saja mengenai persoalan 

sejarah Sriwijaya. Semangat nasional dalam penulisan sejarah 

memang sangat diperlukan, dan semangat itu menjiwai Prof. Yamin. 

Namun, semangat nasional di dalam karya ilmiah tidak dapat 

mengubah anggapan menjadi fakta sejarah tanpa didahului oleh 

pembuktian, atau menganggap sepi persoalan-persoalan yang ada. 

Oleh sebab  itu, menurut pendapat saya, salah satu jalan yang hams 

ditempuh sebelum menyusun kembali sejarah Sriwijaya dalam rangka 

nasional ialah berusaha meneliti lagi bahan-bahan sejarah Sriwijaya, 

dan berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang masih gelap. 

Usaha penyusunan kembali sejarah Sriwijaya, seperti yang dicita­ 

citakan oleh Prof. Mr. Moh. Yamin, terang mempunyai segi-segi 

yang baik. Sedikit demi sedikit kelemahannya akan dapat diatasi. 

39 Sriwijaya 

Pada tahun 1961, Tan Yeok Seong mengumumkan salinan 

piagam Kanton yang ditemukan pada tahun 1959. Piagam itu 

mengenai pembangunan kembali candi Tien ching yang 

diselenggarakan oleh Ti-hua-ka-lo dari San-fo-ts'i pada tahun 1079. 

Penemuan piagam ini penting artinya untuk mengetahui keadaan 

negara Sriwijaya pada abad ke-11 sesudah serangan raj a Chola, seperti 

dinyatakan pada piagam Tanyore yang bertarikh tahun 1030. Jika 

transkripsi Ti-hua-ka-lo itu memang benar dan dapat diidentifikasikan 

dengan Dewa Kulottungga (Dewa Chola), ada kepastian bahwa 

Sriwijaya pada waktu itu ada di bawah kekuasaan raja-raja Khola. 

Prof. Brian Harrison dalam bukunya, South East Asia (1957), 

membicarakan kerajaan Sriwijaya pada pasal III di bawah judul Early 

Indianized States: Funan and Sriwijaya. Brian Harrison menguraikan, 

pembentukan kerajaan Funan oleh Kaundinya berasal dari P'an-pa an 

(Prampuri diTeluk Siam) di sekitar tahun 400 dan runtuhnya dalam 

abad ke-6 oleh bangsa Khmer. Dengan runtuhnya kerajaan Funan 

itu, Kamboja memasuki zaman pra-Angkor yang berakhir pada tahun 

802, yakni timbulnya pemerintahan Jayawarman II setelah mem­ 

bebaskan diri dari kekuasaan J awa. 

berdasar  pendapat Coed~s, ia menghubungkan wangsa 

Sailaraja di Kamboja dengan wangsa Sailendra di Jawa Tengah dan 

Sriwijaya. Menurut pendapatnya, penyebutan wangsa Sailendra oleh 

raj a-raj a di Jawa Tengah itu menunjukkan bahwa mereka yaitu  ahli 

waris dari raja-raja di Funan. Namun, pendapat Coed~s itu hingga 

sekarang masih tetap merupakan anggapan yang masih memerlukan 

pembuktian. Secara populer sekali, Brian Harrison menguraikan 

sejarah Sriwijaya dengan sekadar menyinggung pelbagai peristiwa 

sejarah yang masih diragukan dan menghendaki pemecahan. Tetapi, 

sebab  tulisan itu dimaksud sebagai tafsir peristiwa sejarah yang 

populer dalam rangka sejarah Asia Tenggara secara singkat pula, 

dengan sendirinya ia tidak berusaha untuk memecahkan persoalan­ 

persoalan itu. 

Mengenai hubungan antara wangsa Sailendra di Jawa Tengah 

dan di Sriwijaya, dikatakannya bahwa kedatangan wangsa Sailendra 

 335 

di Sriwijaya dalam abad ke-9 disebabkan sebab  perkawinan. Bukti 

usang yang dikemukakannya ialah pernyataan Balaputradewa pada 

piagam Nalanda. Soal perkawinan politik memang mempunyai 

peranan penting dalam perluasan wilayah, namun kedatangan 

Balaputradewa dari Jawa Tengah ke Sriwijaya kiranya tidak didasarkan 

atas perkawinan dengan putri Sriwijaya. Lagi pula, Dharmasetu yang 

hingga sekarang dianggap raja Sriwijaya dan menjadi nenek 

Balaputradewa, kiranya raja Jawa Tengah. Yang pasti ialah bahwa 

nama Sri D harmasetu kedapatan pada piagam Kelurak dengan tarikh 

tahun 782. Balaputra sendiri berasal dari Jawa Tengah pula. Ayahnya, 

Samaragrawira, juga menjadi raja di Jawa Tengah. Penyingkiran 

Balaputradewa ke Sriwijaya tidak didasarkan atas perkawinan dengan 

putri Sriwijaya, tetapi kalah perang dengan rakai Pikatan. Mengenai 

hal ini akan didapat uraian yang lebih mendalam dalam pasal yang 

bersangkutan. 

Pada tahun 1961, terbit cetak ulang buku Prof. D.G.E. Hall, A 

History ofSouth East Asia, yang telah terbit pada tahun 1955. Tulisan 

Hall tidak semata-mata menguraikan sejarah kuno seperti yang 

dilakukan oleh Prof. Dr. N.J. Krom dan Prof. George Coed~s, tetapi 

juga membicarakan sejarah baru tentang perkembangan negara-negara 

di Asia Tenggara. Uraiannya tentang sejarah lama yang bersangkut 

paut dengan negara kita  dikerjakannya dengan teliti berdasar  hasil 

penyelidikan dan pandangan para sarjana Prancis, India, dan Belanda, 

baik yang telah lama lampau maupun yang masih sangat baru. 

Sejarah negara kita  kuno mendapat tempat yang wajar. Juga 

sejarah Sriwijaya dengan sendirinya mendapat penuh perhatian. 

Uraiannya mengenai sejarah Sriwijaya didasarkan atas karangan 

Coed~s, Majumdar, Nilakanta Sastri, Krom, dan terutama De 

Casparis. Boleh dikatakan, pandangan de Casparis hampir seluruhnya 

diterima, diringkas. Nama-nama raja Sriwijaya yang masih merupakan 

teka-teki dan yang pernah dikemukakan oleh De Casparis sebagai 

anggapan ikut juga terkutip. Di samping itu, ia menolak pendapat 

Coed~s tentang asal usul rajakula Sailendra, dengan mengatakan 

bahwa pendapat Coed~s masih merupakan teori belaka, yang masih 

34 Sriwijaya 

memerlukan bukti-bukti. Ia gembira dengan penemuan nama 

narawarad yang tercantum pada baris penghabisan piagam Kelurak, 

yang mengingatkannya kepada nama ibu kota kerajaan Funan lama. 

Kata narawara, artinya "orang pilihan" atau "orang perwira, tidak 

ada hubungannya dengan nama kota. Pandangan Hall, sebagai 

pandangan sejarah yang didasarkan atas segala hasil penyelidikan 

para sarjana yang bersangkutan, merupakan himpunan sari 

penyelidikan sejarah Sriwijaya, dan berguna sekali untuk diketahui 

namun tidak memberikan fakta baru. 

Itulah karangan-karangan yang penting tentang sejarah Sriwijaya 

hingga tahun 1961. Karangan-karangan lainnya yang khusus 

mengenai Sriwijaya akan disinggung dalam pembahasan, jika 

dianggap perlu. Masih ada beberapa karangan ahli sejarah yang juga 

menyinggung sejarah Sriwijaya, tetapi pembahasannya hanya 

dilakukan sambil lalu, sehingga rasanya tidak perlu ditanggapi secara 

khusus. 

Bernard H.M. Vlekke menerbitkan Vusantara: A History of In­ 

donesia pada tahun 1959 sebagai cetak ulang dari karangannya pada 

tahun 1943. Dari judulnya itu, orang mengharapkan pembahasan 

sejarah Sriwijaya secara mendalam atau Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya 

dibicarakan pada pasal II: The Kingdom of Java and Sumatra. Dalam 

pasal itu, kerajaan Sriwijaya hanya disinggung saja dengan beberapa 

kalimat. Yang lebih banyak mendapat perhatian ialah sejarah Mataram 

dan Majapahit. Uraiannya boleh dikatakan singkatan pendapat Krom. 

Juga H.J. de Graaf dalam bukunya, Geschiedenis van Indonesie (1948), 

hanya menyinggung secara sepintas lalu sejarah Sriwijaya. 

Bab 9 

PENDIDIKAN PENDETA I-TS'ING 

Pendidikan 

Fa-chien yaitu  pendeta Tionghoa yang pertama kali melakukan 

ziarah ke tanah suci India sebagai sumber agama Budha. Lama ziarah 

itu lebih kurang 15 tahun, yakni dari tahun 399 sampai 414. Ziarah 

itu diuraikan dalam bukunya, Fo-hue-ki. 

Seratus tahun kemudian, yakni pada tahun 518, Sun-yun dan 

Hwui-ning berziarah dari Tiongkok ke India juga, namun uraiannya 

terlalu singkat jika dibandingkan dengan uraian pendeta-pendeta 

lainnya. Pendeta Hiuen Thsang mengembara selama 17 tahun di 

tanah suci India dari tahun 629 sampai 645. Segala pengalamannya 

diuraikannya dengan teliti dalam bukunya, Si-yu-ki. Dengan 

sendirinya uraian itu berharga sekali untuk pengetahuan sejarah dan 

geografi India pada abad ke-7. Uraian yang bernilai tinggi itu ternyata 

menarik perhatian para pemeluk agama Budha dan menjadi 

pendorong untuk juga melakukan ziarah ke India. Demikianlah, 

setelah Hiuen Thsang meninggal, pendeta I-t'sing berangkat ke 

Nalanda pada tahun 671. 

Secara teliti ia menguraikan ziarahnya dalam bukunya yang 

berjudul, Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan dan Ta-tang-si-yu-ku-fa-kao­ 

s~ng-ch'uan. Buku yang pertama diterjemahkan oleh Takakusu pada 

tahun 1896 di bawah judulA Record of the Buddhist Religion as Prac- 

36 Sriwijaya 

tised in India and the Malay Archipelago. Untuk gampangnya, buku 

itu disebut Record saja. 

Buku I-ts'ing yang kedua diterjemahkan oleh Prof. Chavannes 

pada tahun 1894 di bawah judul Memoire ~ l'~poque de la grande 

dynastie Tang sur les religieux ~minents qui allerent chercher la Loi dans 

les pays d'Occident. Atas alasan yang sama, buku yang kedua ini disebut 

Memoire saja. Kedua karya itu penting sekali untuk mengetahui 

sejarah kerajaan Sriwijaya khususnya dan negeri-negeri di lautan 

Teduh umumnya, yang dilalui I-ts'ing dalam perjalanannya dari 

Tiongkok ke India dan kebalikannya. I-ts' ing menyaksikan keadaan 

negara Sriwijaya dan negara-negara lainnya dengan mata kepala 

sendiri. Uraiannya yaitu  sumber berita dari tangan pertama; oleh 

sebab  itu, mendapat perhatian sepenuhnya. 

Pendeta I-ts'ing lahir pada tahun 635 di Fan-yang dekat Pe­ 

king, dalam masa pemerintahan Fai-tsung. Sejak berumur 7 tahun, 

ia belajar sastra Tionghoa um um. Ia merasa berbahagia sekali bertemu 

dengan dua orang guru, yakni San-y~ sebagai upadhyaya dan Hui­ 

hsi sebagai karmacarya. Mereka tinggal di asrama Shi-en-t' ung yang 

didirikan oleh ahli renung Seng-lang sejak tahun 396, seorang pertapa 

dari Chin-ii di Tai Shan. Mereka masing-masing dilahirkan di Teh 

dan Pei. Mereka berdua sependapat bahwa kehidupan bertapa banyak 

manfaatnya untuk kepentingan dirinya pribadi, namun sedikit 

faedahnya untuk kebahagiaan orang lain. 

Sekadar untuk memenuhi peraturan agama yang dipeluknya, 

San-y~ dan Hui-hsi pernah melakukan tapa di gua (Tu-ku) sambil 

memandang air jernih yang mengalir. Hidup bertapa demikian itu 

tidak dilanjutkan. Mereka lebih suka bekerja, mengumpulkan bahan 

makanan untuk persediaan bagi para murid yang suka mengangsu 

ilmu pada mereka di asrama, dan untuk persajian kepada area Budha. 

San-y~ dan Hui-shi mendidik I-ts'ing sejak berumur 7 tahun sampai 

berumur 37 tahun, waktu ia berangkat ke India melalui kerajaan 

Sriwijaya di Sumatra. 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 37 

I-ts'ing hanya mendapat kesempatan lima tahun lamanya untuk 

belajar kepada San-y~, sebab  pada tahun 646 San-y~ meninggal. 

Tetapi waktu lima tahun itu sudah cukup baginya untuk mengenal 

jiwa San-yil. Gengsi San-y~ sangat berkesan pada I-ts'ing. 

I-ts'ing menyebut gurunya dalam Record, yang ditulisnya lebih 

kurang 45 tahun kemudian sepeninggal San-y~, dengan kiasan gajah 

besar. Pemakaian metafora yang demikian oleh sarjana besar I-ts'ing 

hanya dapat ditafsirkan sebagai pernyataan kekagumannya terhadap 

keagungan sifat-sifat sang guru San-y~ sebagai guru, sebagai pendeta, 

sebagai sarjana, dan sebagai manusia biasa. Dalam bukunya tersebut, 

I-ts'ing menguraikan enam sifat yang dimiliki oleh San-y~, yakni 

keluasan pengetahuan sebagai guru, keanekaragaman pengetahu­ 

annya, kecerdasan berpikir, kejujuran, kemurahan hati, dan ketekunan 

kerja. 

I-ts'ing melanjutkan riwayatnya dan berkata bahwa pada waktu 

itu ia sedang menginjak usia 12 tahun. Sepeninggal San-y~, dalam 

pelajaran ia dipimpin oleh Hui-hsi, yang menurut uraiannya ternyata 

sarjana besar pula. Pada umur 14 tahun, ia dilantik dalam pravadya 

dan sejak menginjak umur 18 tahun, timbullah angan-angan untuk 

melakukan ziarah ke tanah suci India. Tetapi keinginannya itu lama 

tidak terkabul sampai ia berumur 37 tahun. Selama itu ia selalu ada 

di bawah pimpinan Hui-hsi dan mempelajari kanon suci agama 

Budha. Ketika ia berumur 20 tahun, ia dilantik dalam upasampadad. 

Menurut I-ts'ing, Hui-hsi yaitu  seorang ahli dalam winaya. 

Pikirannya terang-tenang, tidak pernah melalaikan latihan, enam kali 

selama satu hari satu malam. Tidak pernah merasa lelah mengajar 

empat macam kelas, yakni golongan biksu, biksuni, upasaka, dan 

upasika. Boleh dikatakan bahwa ia tidak pernah gusar dalam meng­ 

hadapi kesibukan yang bagaimanapun. Sikapnya tetap tenang dan 

sabar. Hui-hsi terlalu jujur, tidak suka memihak. Baik pendeta 

maupun awam bila benar dibenarkan; bila salah disalahkan. 

Saddharmapundarika yaitu  buku kegemarannya. Selama 60 

tahun ia membacanya setiap hari; jadi ia sudah membacanya 20.000 

38 Sriwijaya 

kali. Meskipun hidupnya dalam zaman yang serba sulit pada masa 

pemerintahan dinasti Sui (509-617), dan berpindah-pindah dari 

tempat yang satu ke tempat yang lain menurutkan nasibnya, ia tidak 

melalaikan kesanggupannya untuk membaca Saddharmapundarika 

setiap hari. 

Hui-hsi memiliki sadindera dan empat macam zat yang 

diperlukan untuk kesehatan badannya. Oleh sebab  itu, selama 60 

tahun ia tidak pernah jatuh sakit. Pada waktu senja senyap, biasanya 

Hui-hsi mencari I-ts'ing. Dengan ramah mereka bercakap-cakap. Ada 

kalanya percakapan itu hanya mengenai daun-daun yang sedang 

menguning, tetapi sebab  percakapan itu ia dapat menghindarkan 

I-ts'ing dari rasa rindu kepada ibunya. Ada kalanya ia menceritakan 

adat anak lembu yang disusui dan dibesarkan oleh induknya. Dengan 

contoh itu ia mengajar I-ts'ing secara tidak langsung, agar ia selalu 

membalas cinta kasih yang pernah dilimpahkan orang kepadanya. 

Hui-hsi yaitu  pujangga besar. I-ts'ing mengagumi bakat 

kepujanggaannya. Puji sanjung I-ts'ing kepada Hui-hsi terlalu muluk. 

Pada hlm. 213, I-tsing menyatakan ketakutannya kalau-kalau 

sementara orang menyangsikan ucapannya, menduga bahwa 

pujiannya kepada Hui-hsi tidak beralasan. Oleh sebab  itu, ia 

memberikan bukti tentang kebesaran Hui-hsi. 

Pada tanggal 12 bulan kedua, yakni pada hari Budha-nirwana, 

orang ramai, baik pendeta maupun awam, berkumpul di bukit selatan 

tern pat Seng-lang dimakamkan. Mereka datang untuk memperingati 

Seng-lang sebagai pemuka agama Budha. Pada waktu itu, semua 

pujangga di kerajaan Chi hadir. Masing-masing yaitu  pujangga 

terkenal yang telah mempunyai bukti kerja berupa karya sastra. 

Sebelum hari yang mulia itu tiba, raja telah membuat seruan kepada 

para pujangga untuk menulis sebuah kakawin yang akan ditulis pada 

kaki arca Seng-lang pada hari Budha-nirwana. Hui-hsi menyambut 

seruan itu tanpa ragu-ragu. 

Hui-hsi menulis kakawinnya pada tembok tanpa kekeliruan 

sedikit pun. Kakawin itu termuat pada hlm. 214. Waktu hadirin 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 39 

membaca kakawin tersebut, semuanya kagum. Ada di antara pujangga 

yang segera meletakkan pensilnya, ada yang menusukkannya pada 

batang pohon sambil berkata: "Si Shih (nama seorang wanita yang 

terpuja kecantikannya) telah memperlihatkan diri. Bagaimana Mu 

Mo (nama wanita buta) akan menandinginya?" Banyak kaum cen­ 

dekiawan yang hadir pada waktu itu, namun tak ada seorang pun 

yang sanggup menandingi Hui-hsi. Karya Hui-hsi yang bertebaran 

telah dikumpulkan dalam himpunan karangan. 

I-ts'ing dibesarkan dalam lingkungan kesarjanaan. sebab  ia pun 

memiliki bakat dan jiwa besar, maka bakat dan jiwanya mendapat 

pupuk yang akan menyuburkan tumbuhnya. Di dalam uraiannya, 

ia menyebut tiga orang guru yang paham akan winaya dan sangat 

dihormatinya, yakni San-y~, Hui-his, dan Ming-teh. Itulah latar 

belakang pendidikan pendeta I-ts'ing sebelum berangkat ke India. 

Hui-hsi sering berkata kepadanya bahwa Budha telah lama mening­ 

gal. Ajarannya sudah mulai disalahtafsirkan. Mereka yang harus 

membina aturan-aturan keagamaan malah melanggarnya. 

Ajaran Hui-hsi inilah yang menjadi pendorong dan menim­ 

bulkan angan-angan padanya untuk melakukan ziarah ke India, un­ 

tuk mempelajari agama Budha lebih dalam lagi. I-ts'ing menganggap 

San-y~ sebagai bapaknya, Hui-hsi sebagai ibunya. Dalam hubungan 

mesra antara guru dan murid seperti yang diuraikan dan dialami 

oleh I-tsing itu sendiri, jiwa yang memang berbakat akan dapat 

berkembang. 

Salah satu pendorong I-ts' ing untuk melakukan ziarah ke India 

ialah kekagumannya kepada pendeta Fa-hien dan bhadanta Hiuen 

Thsang yang telah lebih dahulu mengunjungi India. sebab  

kunjungan itu, mereka mendapat pengetahuan yang lebih luas dan 

lebih dalam serta semangat yang menyala-nyala untuk menyiarkan 

agama Budha di Tiongkok. Dalam Record hlm. 183-184, I-ts'ing 

berkata: "Kasiapa-matanga dan Dharmaraksha menyampaikan berita­ 

berita suci di ibu kota provinsi timur Lo (Honan-fu); kemasyhuran 

Paramartha sampai di laut Sela tan (Nan Ying), dan yang sedang mulai 

40 Sriwijaya 

ialah Kumarajiwa. Ia memberikan kehidupan segar kepada negeri 

asing (Tiongkok). Kemudian bhadanta Hiuen Thsang memberikan 

kuliah di negerinya sendiri. Dengan jalan demikian, baik pada zaman 

yang telah silam maupun pada zaman sekarang, para guru menye­ 

barkan ajaran Budha sangat luas dan jauh." 

Pada hlm. 207, I-ts'ing menguraikan jasa-jasa Seng-lang sebagai 

pendeta terkemuka yang mendirikan candi dan asrama di T' ai Shan. 

Meskipun Seng-lang telah lama meninggal, namun pengaruhnya 

masih tetap terlampau besar dan kemasyhurannya masih terus 

berkumandang. Sepeninggal Seng-lang, San-y~ dan Hui-hsi tampil 

ke muka sebagai penggantinya, ditambah seorang lagi Ming-teh: 

ketiga-tiganya ahli dalam winaya dan paham akan segala sutera. 

Salah satu ajaran yang mereka pertahankan ialah larangan mem­ 

bakar jenasah. Sejak para pendeta dari asrama Kuda Putih di Lo­ 

yang yakni Kasiapa-matanga dan Dharmaraksha-bergerak, 

memancarkan sinar kebijaksanaan, seolah-olah mereka menjadi 

matahari dan bulan di negara dewata (Tiongkok), gajah hi tam Kang 

seng-hui dan Fa-hien siap berpelana, sebab  tepa teladan yang sangat 

utama menjadi pertahanan dan jembatan untuk mengantarkan 

kekayaan spiritual India ke Tiongkok. Tao-an dan Hui-yen bergerak 

sebagai harimau di sebelah selatan sungai Yang-tse dan Han. Hui­ 

hsi dan Fa-li beterbangan sebagai burung hantu di sebelah utara 

sungai Hwang dan Chi. 

I-ts'ing berangan-angan menjadi pendeta yang berguna untuk 

penyiaran agamanya seperti para pendeta yang dikaguminya itu. la 

berpikir bahwa rantai kedatangan penyiar agama tidak boleh terputus. 

Oleh sebab  itu, ia ingin bersiap-siap untuk menjadi pendeta besar 

di negerinya, yang kiranya kemudian sanggup mengganti gurunya, 

Hui-hsi. Oleh sebab  itu, ia pun mencurahkan segenap tenaga dan 

perhatiannya kepada ajaran sang guru dan kepada segala macam 

sutera. Ketika terasa oleh Hui-hsi bahwa ia sudah masak dalam ilmu, 

ia mendapat perintah untuk pergi mencari ilmu yang lebih dalam. 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 41 

Demikianlah, I-ts'ing minta diri kepada Hui-hsi, berangkat ke 

Wei di sebelah selatan. Di sana ia mempelajari Abhidarmasangiti dan 

Samparigrahasastra, kemudian berpindah ke ibu kota provinsi barat 

Si-an-fu untuk mempelajari Koca dan Vidyamatrasiddhi. Di sini, I­ 

ts'ing menetap sampai tahun 670, beberapa bulan sebelum ia 

berangkat ke India. 

Setelah persiapan untuk melakukan ziarah ke India dipandang 

telah cukup, ia meninggalkan ibu kota Si-an-fu menuju Fan-yang, 

tern pat kelahirannya. Sesudah itu barulah ia kembali ke asrama T' ai 

Shan untuk minta nasihat kepada Hui-hsi. Katanya: "Sang guru, 

saya bermaksud untuk mengadakan perjalanan jauh. Saya yak.in bahwa 

di sini saya belum sampai pada ilmu yang saya tuntut. Di tempat 

tujuan itu, saya akan memperoleh kemajuan yang pesat. Engkau 

sudah lanjut dalam usia. Oleh sebab  itu, saya tidak akan berbuat 

sesuatu tanpa minta nasihatmu lebih dahulu." 

Jawab Hui-hsi: "Ini yaitu  kesempatan yang sangat baik 

bagimu. Kesempatan itu tidak akan berulang lagi. Alm gembira 

mendengar maksudmu. Tak ada gunanya aku melahirkan perasaan 

kesedihanku. Bila ada umur panjang, aku akan melihatmu kembali 

dan akan menyaksikan usahamu memperluas ajaran Budha. Berang­ 

katlah tan pa ragu-ragu.J angan melihat segala apa yang kau tinggalkan. 

Alm setuju benar dengan maksudmu untuk melakukan ziarah ke 

tanah suci. Apalagi mengingat bahwa ziarah itu yaitu  penunaian 

tugas suci untuk kebahagiaan agama. Tidak usah ragu-ragu." 

Perjalanan ke India 

Sebelum I-ts'ing berangkat, ia masih sempat mengunjungi 

kubur San-y~ untuk memberi hormat, minta diri dan restu. Pada 

waktu itu daun-daun pohon di sekitarnya terlalu rimbun melingkupi 

nisannya, dan rumput-rumput tumbuh sangat rapat pada kaki nisan. 

Meskipun San-y~ sudah tidak ada lagi, namun hormat I-ts'ing 

besar bukan kepalang, seolah-olah San-y~ masih hidup. I-ts'ing 

49 Sriwijaya 

merenungkan segala kebaikan sang guru yang pernah dilimpahkan 

kepadanya. Kemudian ia berangkat meninggalkan Kwang-chou 

(Kanton) pada bulan 11 tahun kedua pada masa pemerintahan Hsien 

Heng, atau pada tahun Masehi 671, menuju lautan Selatan dengan 

hati tenteram, sebab  maksudnya disetujui oleh sang guru, bahkan 

mendapat perintah berangkat, yang bagaimanapun tidak akan dapat 

diabaikannya. 

Demikianlah, ia berlayar dari negeri yang satu ke negeri yang 

lain, menuju India untuk berziarah. Pada hari kedelapan bulan dua 

tahun keempat masa pemerintahan Hsien Heng (tahun Masehi 673), 

I-ts'ing sampai di Tamralipti, sebuah pelabuhan di pantai India Timur. 

Pada bulan kelima ia mengadakan perjalanan ke barat, bertemu 

dengan kawan di sana-sini. Kemudian ke asrama Nalanda dan ke 

takhta manikam; akhirnya mengunjungi semua tempat suci. Setelah 

itu kembali ke Shi-li-fo-shih. 

Uraian perjalanan I-ts'ing dalam Record terlalu singkat. Uraian 

itu hanya sekadar diselipkan saja dalam pasal yang istimewa mem­ 

perbincangkan para gurunya. Uraiannya yang lebih panjang termuat 

dalam Memo ire yang telah diterjemahkan oleh Prof. Chavannes. 

Semula ada beberapa orang teman yang akan turut berangkat. 

Sampai tahun pertama masa pemerintahan Hsien Heng atau tahun 

Masehi 670, I-ts'ing tinggal di ibu kota provinsi Chang-an. Pada 

waktu itu, Chui (pengajar hukum, anak kelahiran Ping-pu), Hui-gi 

(pengajar sastra, berasal dari Lai-chou), dan dua-tiga bhadanta lainnya 

telah setuju untuk bersama-sama dengan I-ts'ing mengunjungi 

Gridakuta dan melihat Bhodidruma di India. Ch'ui tidak jadi ikut 

sebab  cintanya kepada tempat kelahirannya dan ingat kepada ibunya 

yang sudah tua. Hui-gi berubah pikirannya, berbelok ke Sukawati 

waktu bertemu dengan Hiuen-chan di Kianning. Hiuen-kei hanya 

sampai Kwang-tung. Akhirnya I-tsing berangkat dengan seorang 

teman saja, seorang pendeta muda, muridnya yang bernama Tsin­ 

chou. Pendeta muda ini dalam perjalanannya berhenti di Sumatra, 

lalu kembali ke Kwang-tung sebab  jatuh sakit. Demikianlah, I-ts'ing 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 43 

berziarah ke India hanya seorang diri. Pada musim rontok tahun 

671, ia bertemu dengan Feng-hsiao-ch'uan dari Kong-chou. 

Atas pertolongan Feng-hsiao-ch'uan, ia dapat berhubungan 

dengan pemilik kapal Persi yang akan ditumpanginya. I-ts' ing merasa 

banyak berhutang budi kepadanya, sebab  Feng-hsiao beserta saudara­ 

saudaranya menyiapkan segala perlengkapan untuk keberangkat­ 

annya. Mereka menjaga benar-benar agar I-ts'ing jangan sampai 

menderita kekurangan, mengalami kesulitan di tengah jalan. Mereka 

tidak ada ubahnya dengan orang tuanya sendiri. Pada pasal ini 

nyatalah bahwa ibu-bapak I-ts'ing pada waktu itu telah meninggal, 

sebab  ia berkata bahwa segala apa yang diminta oleh si yatim piatu 

kepada keluarga Feng diberinya. 

Demikianlah, waktu I-ts'ing pada tahun 670 dari ibu kota pro­ 

vinsi barat berangkat ke Fan-yang, tempat kelahirannya, ia mengun­ 

jungi makam orang tuanya untuk minta diri dan restu dalam perjalan­ 

an ke India. Secara jujur ia mengaku bahwa ziarahnya ke India dapat 

dilakukan terutama berkat kemurahan hati dan bantuan keluarga 

Feng. Tidak enggan-enggan ia menyebut Feng sebagai tempat 

bernaung. Para pendeta dan awam yang menaruh perhatian turut 

mengantarkannya sampai pelabuhan. Para cerdik-cendekia dari 

provinsi utara hadir, terharu pada waktu berpisah. Mereka mengira 

tidak akan saling bertemu lagi. 

Demikianlah, pada bulan 11 tahun 617, I-ts'ing berangkat me­ 

nurutkan bintang Yi dan Chen, meninggalkan Kwang-tung, me­ 

nyusur pantai ke arah selatan. Dalam pikirannya telah terbayang 

taman Mregadawa di Benares dan gunung Kukkutapadagiri dekat 

Gaya. Kapal berlayar menuju arah selatan yang kemerah-merahan; 

tali-temali yang panjangnya seratus kubit, mengelewer dua-dua dari 

atas. Waktu berpisah dengan bintang Yi, dua layar yang masing­ 

masing panjangnya lima helai kain kampas melambai, meninggalkan 

sisi utara yang kegelap-gelapan. Kapal laju ke selatan menumpang 

aliran ombak; gelombang seperti awan putih melemparkan diri ke 

angkasa. 

44 Sriwijaya 

Sesudah hampir 20 hari berlayar, kapal sampai di Fo-shih 

(Sriwijaya). Di sini ia mendarat dan menetap selama enam bulan 

untuk belajar Sabdavidya, yakni tata bahasa Sanskerta. Atas bantuan 

sri baginda raja, kemudian ia berangkat ke tanah Melayu; sekarang 

menjadi bagian Shih-li-fo-shih (Sriwijaya). Di sini ia singgah dua 

bulan lamanya. Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Ka-cha 

(Kedah). Dari sini ia berlayar lagi dengan kapal raja menuju India. 

Dari Ka-cha terus ke utara. 

Sesudah berlayar sepuluh hari lamanya, sampailah pada pulau­ 

pulau Lo-j~ng-kuo; penduduknya masih telanjang bulat. Di sebelah 

timur tampak pantai antara jarak satu-dua batu Cina. Yang tampak 

hanyalah pohon nyiur dan pohon pinang gembira melambai-lambai. 

Ketika tampak kapal datang, para penduduk, kira-kira seratus orang 

banyaknya, segera melompat ke dalam sampan-sampan kecil; 

semuanya membawa buah nyiur, pisang, barang-barang dari rotan 

dan bambu, dengan maksud untuk ditukarkan. Yang mereka 

harapkan ialah besi; lempengan besi selebar dua jari ditukarnya 

dengan lima atau sepuluh buah nyiur. Yang laki-laki telanjang bulat; 

yang perempuan sekadar bertutup daun. Jika ada di antara penum­ 

pang yang secara senda-gurau menawarkan pakaiannya, mereka 

melambaikan tangannya sebagai isyarat menolak. 

Konon negara ini ada di bawah pengawasan Shu-ch'uan barat 

daya. Pulau ini sama sekali tidak menghasilkan besi; emas dan perak 

jarang sekali. Penduduknya semata-mata hidup dari buah nyiur, tidak 

banyak padinya. Oleh sebab  itu, yang mereka anggap paling 

bermutu dan paling berharga ialah loha. Itulah nama untuk besi di 

tempat itu. Kulitnya tidak hitam, tingginya sedang. Mereka cakap 

sekali menganyam bakul-bakul dari rotan; tidak ada tempat lain yang 

sanggup menandinginya. Kalau ada yang berani menolak tukar­ 

menukar, mereka segera melepaskan anak panah yang beripuh. 

Peluncuran sekali saja sudah cukup untuk membunuh orang. 

Kira-kira sebulan berlayar dari situ ke arah barat laut sampai 

Tan-mo-lo-ti, yang merupakan tapal batas India Timur, terletak lebih 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 45 

kurang 60 yojana dari Mahabodhi clan Nalanda. Menurut berita 

Record, I-ts'ing sampai di Tan-mo-lo-ti pada hari kedelapan bulan 

kedua tahun keempat pada masa pemerintahan Hsien Heng (tahun 

Masehi 673). Tan-mo-lo-ti yaitu  pelabuhan di pantai Timur. Nama 

yang sebenarnya ialah Tamralipti. 

Di Tan-mo-li-ti, I-ts'ing bertemu dengan pendeta Tan-ch'eng­ 

teng. la lalu tinggal bersama-sama dengan Teng beberapa bulan. 

Selama itu ia mempelajari bahasa Sanskerta clan mempraktikkan 

pengetahuannya tentang tata bahasa. Kemudian bersama-sama 

dengan Teng berangkat ke provinsi barat clan menggabungkan diri 

dengan sekelompok pedagang yang menuju India Tengah. 

Kira-kira sejauh sepuluh hari perjalanan dari wihara Mahabodhi, 

jalannya amat sulit lagi berbahaya. Pada waktu itu, ia jatuh sakit dan 

tertinggal oleh kawan-kawannya sejalan. Teng bersama 20 pendeta 

Nalanda lainnya telah jauh ke muka. Terhuyung-huyung dengan 

jatuh bangun ia berusaha menyusulnya, namun tidak berhasil. la 

berjalan seorang diri sampai Nalanda. Dalam hatinya telah tumbuh 

pikiran bahwa ziarahnya akan gagal di tengah jalan. Lain dari itu, 

pada waktu itu di provinsi barat sedang berkobar pergolakan. Tiap 

orang yang berkulit putih dibunuh. sebab  ketakutan, I-ts'ing masuk 

dalam lumpur. Seluruh badannya disaput dengan lumpur hitam. 

Jalan membelok ke utara menuju ke sebuah desa. ltulah Nalanda 

yang dimimpikannya. 

I-ts'ing lalu masuk candi Mulagandhakuti, kemudian mendaki 

gunung Gridhakuta. Sesudah itu mengunjungi wihara Mahabodhi, 

menyembah kepada area Budha. la menyampaikan pakaian yang 

dibawanya dari Shan-tung, pemberian para pendeta clan awam, 

kepada area Budha. Segala titipan ahli winaya Hiuen dari daerah Pu 

disampaikannya. Demikian pula pesan An-tao dari daerah Ts' ao 

untuk menyampaikan hormatnya kepada area Budha telah dilakukan. 

I-ts'ing segera melemparkan dirinya di atas lantai, dengan pikiran 

bulat memberikan sembah. la memohonkan kebahagiaan untuk 

Tiongkok, kemurahan Budha kepada raja, ibu-bapak serta para 

46 Sriwijaya 

budiman berlimpah-limpah di wilayah Dharmadatu; harapannya 

ialah bertemu dengan Budha Maitreja di bawah pohon Naga, beroleh 

ajaran sejati dan akhirnya memiliki pengetahuan yang tidak tunduk 

kepada hukum kelahiran. Di India, I-ts'ing berziarah berkeliling ke 

tempat-tempat suci: wihara Waic_;:ali, Kusinagara, taman Mrigadawa 

di Benares, dan gunung Kukkutapadagiri dekat Gaya. Ia tinggal di 

wihara N alanda sepuluh tahun lamanya. 

Setelah mengumpulkan naskah-naskah sebanyak 500.000 sloka, 

ia bersiap-siap akan pulang. Pada tahun pertama masa pemerintahan 

Chui-kung (tahun Masehi 685), I-ts'ing minta diri kepada Wu­ 

hing di tempat sejauh 60 yojana di sebelah timur N alanda. Demi­ 

kianlah, 1-ts'ing menetap di Nalanda antara tahun 675 sampai tahun 

685. Dari situ ia berangkat ke Tan-mo-lo-ti untuk menumpang kapal 

menuju Ka-cha. Dari sini kapal berlayar dua bulan ke arah tenggara 

untuk sampai di Ka-cha. Pada waktu itu kapal dari Fo-shih akan 

berlabuh di Ka-cha. Kedatangan kapal dari Fo-shih umumnya pada 

bulan pertama atau bulan kedua. Mereka akan berangkat ke Singala 

(Sri Lanka) berlayar ke arah barat daya. Kata orang, pelayaran itu 

sejauh 700 yojana. 

I-ts'ing singgah di Ka-cha sampai musim dingin, lalu berlayar 

lagi ke arah selatan sebulan lamanya menuju tanah Mo-lo-yeu, yang 

pada waktu itu sudah menjadi Fo-shih. Banyak negeri-negeri yang 

menjadi bawahannya. Pada umumnya kedatangan perahu di sana 

pada bulan pertama atau bulan kedua. Tinggal di sana sampai per­ 

tengahan musim panas, lalu berangkat lagi ke utara; kira-kira sebulan 

berlayar sampai di Kwang-fu (Kwang-tung). 

Pernyataan I-ts'ing 

Sekembalinya dari Nalanda, I-ts'ing menetap di Fo-shih lebih 

kurang em pat tahun lamanya. Pada tanggal 20 bulan 7 tahun pertama 

masa pemerintahan Yung-ch ang (689), ia sampai di Kwang-tung 

kembali. Pelayaran kembali ini tidak direncanakan lebih dahulu. 

Semula ia datang di sungai Fo-shih dengan maksud menitipkan surat 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 47 

rahasia ke Kwang-tung untuk minta kiriman kue-kue, kertas, dan 

tinta, guna menurun naskah-naskah Sanskerta dan sebagai upah kerja 

menurun. Namun, pada waktu itu tiba angin baik. Oleh sebab  itu, 

layar-layar segera dipasang. I-tsing ikut terbawa. Ia tidak bermaksud 

akan pulang. 

Sekembalinya di Kwang-tung, I-ts ing bertemu dengan kawan­ 

kawannya seagama, baik pendeta maupun awam. Dalam sidang di 

candi Chih-chih, I-ts'ing mengemukakan usul pendapatnya: ia 

membawa 500.000 sloka Tripitaka dari India. Sloka-sloka tersebut 

masih ketinggalan di Fo-shih. Bagaimanapun, ia harus kembali ke 

Fo-shih. Tetapi ia sudah merasa tua, sudah berumur 50 tahun lebih. 

Oleh sebab  itu, ia minta bantuan tenaga, yang kiranya dapat diserahi 

pekerjaannya. 

Usul itu mendapat sambutan baik dari sidang. Pendeta bernama 

Cheng-ku, seorang ahli winaya, yang tempat tinggalnya tidak jauh 

dari Kwang-tung, diusulkan oleh sidang sebagai pembantu utama I­ 

ts'ing. Cheng-ku, yang tinggal sebagai pertapa di Shih-men sebelah 

barat laut Kwang-tung, setelah membaca surat I-ts'ing segera sanggup 

untuk menyertainya. Demikianlah, pada hari pertama bulan sebelas 

tahun 689, I-ts'ing dengan pembantunya menumpang kapal dagang 

melalui Lin-i menuju Fo-shih. Kecuali Cheng-ku, ada tiga pembantu 

lagi yang menyertainya, yakni pendeta Tao-hung dan dua orang 

pendeta yang tidak disebut namanya. 

Menurut Sung-kao-seng-ch'uan, pengembaraan I-ts'ing di luar 

Tiongkok selama 25 tahun. Ia kembali ke Kwang-tung pada perte­ 

ngahan musim panas tahun pertama masa pemerintahan Cheng­ 

seng (tahun Masehi 695) dengan membawa lebih kurang 4.000 

naskah yang terdiri dari 500.000 sloka. Dari tahun 700 sampai 712, 

ia menerjemahkan 56 buku dalam 230 jilid. 

Pada waktu I-ts'ing mengunjungi Fo-shih, agama Budha di Fo­ 

shih sedang berkembang. Di ibu kota Fo-shih yang dikelilingi ben­ 

teng, terdapat lebih dari 1.000 pendeta Budha; semuanya rajin 

mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dan mengamalkan ajaran 

48 Sriwijaya 

Budha. Mereka melakukan penelitian dan mempelajari ilmu yang 

ada pada waktu itu; tak ada bedanya dengan Madhyadeca di India. 

Aturan-aturan dan upacara sama sekali tidak berbeda. Oleh sebab  

itu, bila ada pendeta Tionghoa yang ingin pergi ke India untuk 

mengikuti ajaran-ajaran dan membaca teks-teks asli, ada baiknya 

mereka tinggal di Fo-shih dua atau tiga tahun dahulu untuk berlatih, 

sebelum berangkat ke India. 

Di Shih-li-fo-shih, I-ts'ing bertemu dengan seorang pendeta 

Wu-hing; seperti telah diketahui, ia bertemu dengan I-ts'ing lagi di 

tempat yang letaknya sejauh 60 yojana di sebelah timur Nalanda. 

Dalam perjalanannya ke Nalanda, Wu-hing juga singgah di Sriwijaya. 

Katanya: "Setelah berlayar satu bulan, Wu-hing sampai di Shih-li­ 

fo-shih. Baginda menerimanya dengan baik dan menghormatinya 

sebagai tamu dari negeri putra dewata, T'ang agung. Dengan 

menumpang kapal raja ia berlayar ke negeri Mo-lo-yeu; setelah 15 

hari berlayar sampai di tempat tujuan. Kemudian setelah berlayar 

15 hari lagi, ia sampai di Ka-cha. Pada akhir musim dingin, ia 

menumpang kapal lain dan berlayar ke barat. 30 hari kemudian ia 

tiba di N agapatana. Dari sini ia berangkat lagi dengan kapal ke pulau 

Singhala; lamanya berlayar 20 hari." 

Mengenai letak Sriwijaya, I-ts'ing berkata: "Di India, pengukur 

waktu terdapat di mana-mana; namanya welacakra, yakni roda waktu. 

Caranya mengukur bayang-bayang ialah memerhatikan bayang­ 

bayang tongkat. J ika mencapai tingkat yang terpendek, artinya tepat 

tengah hari. Tetapi di Jambudwipa panjang bayang-bayang itu 

berbeda; ini bergantung kepada letak tempatnya. Di provinsi Lo, 

misalnya, tidak ada bayang-bayang sama sekali. Lagi, misalnya di 

negeri Shih-li-fo-shih, kita melihat bayang-bayang diwelacakra tidak 

menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan delapan. Pada 

tengah hari tak tampak bayang-bayang orang yang berdiri di bawah 

matahari. Lain halnya kalau musim semi. Matahari tepat di atas kepala 

dua kali satu tahun. Kalau matahari ada di sebelah selatan, bayang­ 

bayang membujur ke utara, panjangnya lebih kurang dua atau tiga 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 49 

kaki. Kalau matahari ada di sebelah utara, bayang-bayangnya sama, 

tetapi jatuh ke selatan." 

Di dalam kata pengantar Record, I-ts'ing menguraikan kehidupan 

keagamaan di negara-negara yang dikunjunginya. Yang dikutip di 

sini ialah uraiannya ten tang kehidupan keagamaan di Asia Tenggara, 

sebab  hal ini langsung berhubungan dengan pokok pembicaraan. 

Katanya: 

Di ujung sebelah timur ada gunung besar hitam (Takakusu 

mengira Mahakala), yang kiranya terletak di perbatasan Tu-fan (Ti­ 

bet). Kata orang, gunung itu ada di sebelah barat daya Shu-ch'uan; 

dari Shuch'uan hanya sejauh perjalanan sebulan. Di sebelah selatan 

gunung itu, dekat pantai, terdapat negeri yang disebut (riksatta 

(Sriksetra: Prome); di sebelah tenggaranya Lang-ka-su (Takakusu: 

Kamalangka, mestinya Langkasuka); sebelah timur Lang-ka-su ialah 

To-ho-lo-po-ti (Dwarawati); di ujung timur Lin-i (Campa). 

Penduduk negara-negara tersebut menyembah Ratnatraya 

(Budha, dharma, sangha). Banyak di antaranya yang teguh men­ 

jalankan hukum dan melakukan dhutangam (mengemis) yang sudah 

menjadi kebiasaan di negeri-negeri ini. Orang-orang seperti itu yang 

saya saksikan sendiri terdapat juga di barat (India); mereka memang 

berbeda dengan orang-orang biasa. Di Singhala, semua penduduknya 

tergolong dalam Aryasthawiranikaya; Aryamahasang-hikanikaya 

dilarang. 

Di negara-negara laut Selatan-terdiri dari sepuluh negara lebih­ 

pada umumnya penduduknya menganut Mulasarwastiwadanikaya, 

meskipun ada kalanya ada yang juga memeluk Sammitinikaya; 

sekarang ada juga sementara pengikut kedua aliran lainnya (meskipun 

hanya sedikit jumlahnya). 

Dihitung dari barat, yang pertama ialah negeri P'o-lu'shi, lalu 

negeri Mo-lo-yeu, yang sekarang menjadi negeri Shih-li-fo-shih, Mo­ 

ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pen, P'o-li, K'u-lun, Fo-shih-pu-lo, O­ 

shan dan Mo-chia-man. Masih ada beberapa pulau kecil-kecil lagi; 

tidak dapat disebut semuanya di sini. Agama yang dipeluk di negeri­ 

negeri ini terutama agama Budha aliran Hinayana, kecuali di negeri 

Mo-lo-yeu. Di negeri ini sedikit saja aliran Mahayana. 

Di antara negeri-negeri ini, ada yang kelilingnya kira-kira seratus 

batu Cina; ada yang kira-kira seratus yojana. Meskipun sulit untuk 

menghitung jarak di lautan besar, namun mereka yang telah biasa 

50 Sriwijaya 

berlayar dengan kapal dagang akan pandai mengira-ngira luasnya 

pulau. Negeri-negeri itu semuanya dikenal atas satu nama umum, 

yakni Kepulauan K'ulun, sebab  utusan K'ulun yang pertama kali 

datang di Ko-chin dan Kwang-tung. 

Di dalam Record, I-ts'ing juga menyebut nama para pendeta 

sarjana di India dan di negeri-negeri laut Selatan. 

Mereka itu Jnanacandra, ahli hukum, tinggal di wihara Tiladha; 

Ratnasinha di wihara Nalanda; Diwakaramitra di India Timur; 

Tathagatagarbha di daerah ujung selatan; di Shih-li-fo-shih yang terletak 

di laut Selatan menetap Sakyakirti. la berkeliling di lima negeri di India 

untuk mencari ilmu; sekarang ia ada di Shih-li-fo-shih. 

Di India Timur, ada seorang sarjana besar (mahasattwa), namanya 

Candra; sudah seperti Bodhisatwa, dianugerahi bakat besar. Orang 

ini masih hidup ketika saya, 1-ts'ing, mengunjungi daerah tersebut. 

Pada suatu hari ada orang yang bertanya kepadanya: "Apakah yang 

lebih berbahaya, cobaan ataukah bisa?" Dengan serta-merta ia 

menjawab: "Memang di antaranya barang dua itu terdapat perbedaan 

besar; bisa berbahaya, hanya bila ditelan; sedangkan yang lain merusak 

pikiran seseorang, meski hanya terpikir saja sekalipun." 

Jika ada wanita masuk wihara, dilarang keras menginjak bilik 

pendeta. la hanya boleh berbicara dengan mereka di lorong sebentar 

saja lalu pergi. Pada waktu itu ada seorang biksu bernama A-ra-hu-la­ 

mi-ta-ra (Rahulam~tra) diam di wihara; ia baru berumur lebih kurang 

30 tahun. Kelakuannya sangat terpuji dan kemasyhurannya amat luas. 

Tiap hari ia membaca Ratnakutasutra, yang memuat 700 sloka. Tidak 

hanya paham akan tiga kumpulan buku saja, tetapi juga menjelajah 

kesusastraan agama dalam empat ilmu, ia dihormati sebagai kepala 

pendeta di daerah India Timur. 

Sejak pelantikannya sebagai pendeta, tidak pernah bercakap 

dengan wanita apalagi bertemu muka, kecuali dengan ibu dan adiknya 

perempuan bila mereka datang berkunjung. ltu pun terjadi di luar 

biliknya. Pada suatu ketika saya bertanya kepadanya, apa sebabnya 

ia berbuat demikian, padahal itu bukan larangan. Maka jawabnya: 

"sebab  pembawaan saya mudah tertarik kepada kata-kata; jika saya 

tidak berbuat demikian, saya tidak akan dapat menyumbat sumbernya. 

Meskipun itu bukan larangan Budha, kiranya memang baik berbuat 

demikian jika orang bermaksud menghindari keinginan-keinginan 

jahat." 

Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 51 

Hui-ning naik perahu menuju Ho-ling. Setelah tiba di sana, ia 

menetap tiga tahun lamanya untuk menerjemahkan naskah-naskah 

Sanskerta dalam kerja sama dengan pendeta bumiputra J nanabhadra. 

Hasil kerja itu kemudian disuruh bawa pulang Yun-k'i ke Chiao­ 

chih. Setelah menyampaikan terjemahan itu, Yun'ki kembali ke Ho­ 

ling, tetapi tidak dapat bertemu dengan Hui-ning sebab  Hui-ning 

telah berangkat. Yun-k'i menetap selama sepuluh tahun di negeri 

laut Selatan clan mempelajari bahasa Kun-lun, di samping bahasa 

Sanskerta. Ia menjadi murid J nanabhadra. Ia tinggal di Shih-li-fo­ 

shih. Waktu I-ts'ing ada di sana, ia berumur 30 tahun. 

Dua orang pendeta yang tidak disebut namanya dengan 

menumpang kapal meninggalkan Tiongkok menu ju P'o-lu-shih, yang 

letaknya di sebelah barat Shih-li-fo-shih. Setibanya di tempat yang 

dituju, mereka jatuh sakit lalu meninggal. Fa-lang berlayar dari Pan­ 

yong ke Fo-shih selama sebulan. Hoai-ye melalui laut sampai di Fo­ 

shih. Di sana ia belajar Kun-lun dan bahasa Sanskerta. Tao-hong 

clan Ch'eng-ku menemani I-ts'ing ke Chin-chou sampai di negeri 

Fo-shih. 

Itulah berita-berita yang dapat dikumpulkan dari dua karya I­ 

ts'ing, Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan (Record) dan Ta-tang-si-yu-kao­ 

seng-ch'uan (Memoire). Kedua-duanya dititipkan oleh I-ts'ing kepada 

Ta-tsin untuk dibawa ke Kwang-tung. Peristiwa-peristiwa sejarah 

tersebut disajikan tanpa tafsir agar para pembaca dapat menilai 

peristiwa-peristiwa tersebut tanpa terpengaruh oleh tafsir. Tempat­ 

tempat yang disebut oleh I-ts'ing memerlukan penjelasan, sebab  

nama-nama itu bunyinya berbeda dengan namanya yang asli. 

Lokalisasi tempat-tempat tersebut tidaklah mudah. Lokalisasi tempat­ 

tempat itu akan dicoba dalam pasal berikut. 


Bab 3 

LOKALISASI TEMPAT-TEMPAT DALAM 

PERJALANAN I-TS'ING 

Perjalanan I-ts'ing dari Kwang-Tung ke Tan-mo-lo-ti dan 

kebalikannya melalui pelbagai tempat. Ia menyebut nama-nama 

tempat itu dengan ucapan Tionghoa, tetapi tidak menegaskan di 

mana letaknya. Demikianlah, pelayaran I-ts'ing itu masih perlu 

ditafsirkan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai jalan 

pelayaran yang ditempuhnya. 

Keberangkatannya pada bulan 11 tahun 671 dari Kwang-tung 

ke Tan-mo-lo-ti telah disajikan di muka. Dari uraiannya nyatalah 

bahwa I-ts'ing tidak menyusur pantai, melainkan menyeberangi lautan 

besar, langsung ke Fo-shih dengan men um pang kapal Possu (Persi). 

Sesudah hampir 20 hari berlayar, ia mencapai Fo-shih lalu singgah 

di situ selama enam bulan. Kemudian, atas bantuan raja Fo-shih, ia 

berangkat ke Mo-lo-yeu dan singgah di situ dua bulan. Sesudah itu 

Ka-cha. Pada bulan 12, ia berlayar dengan menumpang perahu raja, 

meninggalkan Ka-cha ke arah utara. Sesudah berlayar lebih dari 

sepuluh hari, ia sampai di Lo-j~ng-kuo. Pelayaran dilanjutkan ke 

arah barat laut; satu setengah bulan kemudian, ia sampai di Tan­ 

mo-lo-ti, pada hari kedelapan bulan kedua masa pemerintahan Hsi­ 

en-heng (tahun 673). 

Perjalanan pulang pada tahun 685 diuraikan secara singkat 

demikian. Ia berangkat dari Tan-mo-lo-ti ke arah tenggara menuju 

54 Sriwijaya 

Ka-cha. Singgah di sini sampai musim dingin. Dengan menumpang 

perahu raja, berangkat dari Ka-cha ke selatan menuju Mo-lo-yeu, 

yang sekarang menjadi Fo-shih. Pelayaran itu makan waktu selama 

sebulan. Umumnya pada bulan pertama atau kedua, perahu datang 

di negeri Mo-lo-yeu. Tinggal di sini sampai pertengahan musim panas, 

lalu berangkat ke utara menuju Kwang-tung. Lebih kurang sebulan 

berlayar, kemudian sampai di tempat yang dituju. 

Dua tempat yang telah jelas letaknya, yakni tempat pangkal 

berangkat Kwang-tung dan tempat tujuan Tan-mo-lo-ti. Kwang-tung 

yaitu  Kanton, clan Tan-mo-lo-ti yaitu  Tamralipti, yang sekarang 

disebut Tamluk, terletak di sebelah barat daya Kalkuta, di tempi 

sungai Hooghly, di sebelah barat delta Hooghly di provinsi Benggala. 

I-tsing menjelaskan bahwa Tan-mo-lo-ti terletak 40 yojana dari tapal 

batas India sebelah timur. Di sana ada lima asrama; penduduknya 

kaya. Termasuk India Timur, kira-kira sejauh 60 yojana dari 

Mahabodhi clan Nalanda. Itu yaitu  pelabuhan tempat orang 

menumpang perahu jika akan kembali ke Tiongkok. 

Kita sekarang akan meninjau letak beberapa tempat yang disebut 

oleh pendeta I-ts'ing dalam Record clan Memoire, teruama yang 

disinggahi selama perjalanannya dari Fo-shih ke Tan-mo-lo-ti clan 

kebalikannya, kemudian baru tempat-tempat lainnya. Kita mulai 

dengan nama tempat yang boleh dikatakan telah pasti letaknya, yakni: 

1. Lo-j~ng-kuo 

Lo-j~ng-kuo artinya 'pulau orang telanjang. Dengan panjang 

lebar, I-ts'ing menguraikan keadaan penduduknya seperti telah 

disajikan terjemahannya di muka. Nama pulau ini telah dikenal dalam 

piagam Tanyore yang dikeluarkan oleh Rajendracoladewa pada tahun 

1030 dalam bahasa Tamil. 

Pada piagam Tanyore, Rajendracoladewa menyebut nama-nama 

kerajaan yang ditundukkannya. Di antaranya ialah Manakkawaram, 

artinya: pulau besar yang didiami oleh orang-orang telanjang. Pulau 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 55 

ini juga dikenal oleh Marco Polo dengan nama Necuveram. Dari nama 

ini maka terbentuklah namanya sekarang, yakni kepulauan Nikobar. 

I-ts'ing menyatakan bahwa penduduk pulau Lo-j~ng-kuo meng­ 

gunakan kata loha untuk pengertian besi. Kata terse but tidak dikenal 

dalam bahasa Melayu-Polinesia. sebab  pulau tersebut tidak 

menghasilkan besi, boleh dipastikan bahwa kata loha dalam bahasa 

Nikobar yaitu  kata pinjaman. Mungkin sekali, kata itu dipinjam 

dari bahasa yang digunakan oleh para penduduk pantai kontinen 

Asia. Bahasa-bahasa Ahom, Khamti, Nora di Assam, clan dalam 

bahasa-bahasa dari rumpun bahasa Shan, yang merupakan cabang 

bahasa yang berasal dari Tiongkok Selatan, menggunakan kata lik 

untuk pengertian besi. Mungkin sekali, kata loha dalam bahasa 

Nikobar ini bentuk turunan dari kata lik, yang kemudian dtran­ 

skripsikan ke dalam bahasa Tionghoa menjadi loha. Kita tidak tahu 

bagaimana penduduk Nikobar mengucapkannya. 

Dalam kata pengantar Recordhlm. 12, I-ts'ing menyatakan bah­ 

wa penduduk negara-negara Sriks~tra (Prome), Langkasu (Lang­ 

kasuka) clan To-ho-lo-po-ti (Dwarawati) serta negara-negara di laut 

Selatan, semuanya mirip dengan bangsa Tionghoa kecuali penduduk 

pulau Kun-lun (pulau Kondor). Penduduk pulau Kondor berkulit 

hi tam clan berambut keriting. Tetapi penduduk negara-negara lainnya 

tidak demikian. Mereka biasanya memakai kain kan-man (sarong), 

tetapi kakinya terbuka sampai paha. 

Dalam keterangan mengenai Lo-j~ng-kuo ini, I-ts'ing me­ 

nambahkan bahwa menurut pendengarannya, kepulauan Lo-j~ng­ 

kuo ada di bawah pengawasan Shu-ch'uan barat daya. Shu-ch'uan 

terletak di Tiongkok Selatan. Pulau itu sama sekali tidak menghasilkan 

besi; emas clan perak jarang sekali. Tidaklah aneh bila kata loha itu 

pun berasal dari bahasa Shu-ch' uan yang serum pun dengan bahasa­ 

bahasa Miau-tse di Tiongkok Selatan. Bahasa-bahasa Shan, Ahom, 

Khamti, Thai, clan Nora memang serumpun dengan bahasa Miau­ 

tse clan menggunakan kata lik untuk pengertian besi. 

56 Sriwijaya 

2. Kha-cha 

Sebelum I-ts'ing sampai di Lo-j~ng-kuo, ia singgah di Ka-cha 

dalam perjalanannya ke Tan-mo-lo-ti. Dalam perjalanan kembali dari 

Tan-mo-lo-ti, ia berlayar ke arah tenggara menuju Ka-cha, kemudian 

ke arah selatan menuju Mo-lo-yeu. Takakusu menyamakan Ka-cha 

dengan Kotaraja yang terletak di ujung Sumatra Utara (Aceh). 

I-ts'ing menguraikan bahwa pulau Lo-j~ng-kuo itu terletak di 

sebelah utara Ka-cha dan dapat dicapai dari Ka-cha sesudah berlayar 

sepuluh hari lebih. Dari Kotaraja, pulau Nikobar terletak di sebelah 

barat laut, tidak di sebelah utara. Dalam perjalanan kembali dari 

Tan-mo-lo-ti ia tidak singgah di Lo-j~ng-kuo, tetapi langsung ke 

Ka-cha. Dengan sendirinya maka Lo-j~ng-kuo tidak merupakan 

pelabuhan yang penting dalam perjalanan dari Fo-shih ke Tan-mo­ 

lo-ti atau kebalikannya. 

Yang merupakan pelabuhan penting ialah Ka-cha. Pelabuhan 

penting dalam perjalanan antara Fo-shih dan Tan-mo-lo-ti atau dari 

Tiongkok ke India, dan yang namanya hampir sebunyi dengan Ka­ 

cha, ialah Kedah. Pada waktu itu namanya bukan Kedah, tetapi 

Kat~ha. Mungkin sekali kata Ka-cha itu transkripsi Tionghoa dari 

kata Sanskerta Kat~ha. I-ts'ing sebagai sarjana Budha yang mengenal 

bahasa Sanskerta akan berusaha untuk membuat transkripsi nama 

tersebut sedekat dan setepat mungkin. Nama tersebut juga dikenal 

dalam piagam Tanyore dalam bahasa Tamil, dan ditulis Kadar(m). 

Baik Kadaram maupun Kat~ha, terang Kedah zaman sekarang. Berita 

mengenai Kedah sebagai tempat penting datang dari pelbagai sudut. 

Ma-tuan-lin memberitakan bahwa pada tahun 638, kerajaan Kia­ 

tcha mengirim utusan ke Tiongkok. Menurut G. Ferrand, meskipun 

tulisannya agak berbeda dengan Chieh-cha (ejaan Pelliot), kedua nama 

tersebut menunjukkan tempat yang sama, yakni Kedah di 

Semenanjung Melayu. 

Seorang ahli peta Tionghoa yang masyhur dan hidup antara 

tahun 730 dan 805 ialah Chia-tan. Karangannya disusun antara tahun 

785 dan 805 atas perintah dinasti Tang. Memang, ia diberi tugas 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 57 

untuk membuat perjalanan dari Tiongkok ke negeri-negeri di laut 

Selatan dan ke India melalui laut dan melalui daratan. Tetapi karya 

aslinya telah hilang. Yang masih tinggal hanya kutipan-kutipannya, 

termuat dalam Hsin T'ang Shu dan T'ai-ping-huan-yu-chi. Pelliot 

mengadakan penyelidikan mengenai dua macam perjalanan ini. 

Perjalanan melalui laut diuraikannya demikian. Perjalanan itu 

melalui pulau Hainan menuju pantai Indo-Cina; terus menyusur 

pantai sampai di tempat yang bernama Kun-t'u-nung. Dari situ 

berlayar lima hari lagi, maka sampailah pada selat yang namanya 

Chih; lebarnya dari utara ke selatan 100 li. Di pantai sebelah utara 

terdapat kerajaan Lo-yueh, di pantai selatan kerajaan Fo-shih. Sebelah 

timur kerajaan Fo-shih, kira-kira sejauh pelayaran lima hari orang 

mencapai kerajaan Ho-ling; ini meliputi pulau yang terbesar di 

selatan. Kemudian, tiga hari belayar dari selat itu orang mencapai 

kerajaan Ko-koseng-chin, terletak di sebuah pulau di sudut barat 

laut Fo-shih. Penduduknya ban yak yang jadi perompak; pen um pang 

perahu yang menjadi mangsanya. Di pantai utara terletak kerajaan 

Ko-lo. Sebelah barat Ko-lo ialah Ko-ku-lo. 

Pada tahun 1904, Pelliot mempersoalkan kerajaan Ko-lo yang 

diberitakan oleh Chia-tan itu. Kesimpulannya ialah bahwa Ko-lo 

sama dengan Ka-cha Chieh-ch'a) yang diberitakan oleh I-ts'ing. Ko­ 

lo terletak di pantai barat Semenanjung Melayu, sama dengan Kedah. 

lni pun cocok dengan nama Ka-lah yang disebut nama berita Arab. 

Berita-berita Arab itu dapat disingkat demikian: 

Sulayman (tahun 851). Sulayman berkata bahwa dari Muscat, 

pelayaran menuju Kulam Malaya untuk mengisi air sebelum 

pelayaran dilanjutkan ke laut Harkand; terus ke Langabalus, dan 

dari sini ke laut Kalah-bar. Diterangkannya bahwa bar berarti baik 

kerajaan maupun pantai. Kalah-bar ada di bawah pemerintahan 

Jawaga. Di Kalah-bar perahu diisi dengan air sumber. 

Jarak antara Kulam dan Kalah-bar kira-kira sejauh sebulan 

pelayaran. Kemudian perahu berlayar menujui Tiyuma, kira-kira 

selama sepuluh hari untuk mengisi air, jika dipandang perlu. Dari 

58 Sriwijaya 

sini menuju tempat yang bernama Kundrang. Pelayaran itu makan 

waktu sepuluh hari. Kemudian menuju Campa, yang menghasilkan 

kamfer. Pelayaran itu makan waktu sebulan. Sepuluh hari lagi 

berlayar, sampai di Kundur-fulat. Sepuluh hari kemudian perahu 

masuk laut Cankhay melalui gerbang Cina, yang berpagar gunung 

kanan-kiri. Jika selamat, perahu terus berlayar ke Tiongkok. Pada 

akhir bulan sampai disana. Dari waktu satu bulan itu, tujuh hari 

perahu menerobos selat yang terbentuk dari gunung-gunung. 

Yang dimaksud dengan Kulam Malaya ialah Quillon yang ter­ 

letak di pantai barat Travancore, di bawah pegunungan Malai (Malaya). 

Langabalus ialah kepulauan Nikobar, Jawaga ialah Jawa (Sumatra); 

Kundrang ialah Kundurangga; Kundur-fulat ialah pulau Kondor. 

Abu Dulaf Misar (± 940). Abu Dulaf Misar menguraikan 

perjalanannya dari Tiongkok ke Kalah. Ia menyebut Kalah sebagai 

pangkal bertolak ke India dan ujung perjalanan dari Tiongkok. 

Perjalanan dari Tiongkok, bila telah sampai di Kalah, tidak dapat 

dilanjutkan tanpa mengalami kekandasan. 

Ini dapat diartikan bahwa perahu yang berlayar dari Tiongkok 

sampai di Kalah pada akhir musim angin timur laut, dan pada awal 

musim angin barat daya. Perjalanan menuju Sri Lanka dan India 

terhenti sebab nya. Kalah dikelilingi tembok tebal dan mempunyai 

banyak taman. Airnya berlimpah-limpah. Di tempat itu terdapat 

tambang timah yang disebut kal'i (pedang dari kal'a). 

Di sekitar Kalah ada banyak kota dan kelompok rumah-rumah. 

Rajanya ada di bawah pengawasan Tiongkok dan berdoa untuk 

keselamatan kaisar Tiongkok. Sanggar pemujaan raj a dimaksud untuk 

kaisar, dan kiblatnya ke arah Tiongkok pula. Abu Dulaf Misar me­ 

nyebutnya kota India yang terletak di tengah-tengah antara Oman 

dan Tiongkok. Berita yang sangat penting mengenai letaknya ialah 

bahwa pada tengah hari, orang tidak berbayang sama sekali. Ini dapat 

ditafsirkan bahwa Kalah terletak dekat garis khatulistiwa. 

Berita-berita lainnya yang berasal dari para pedagang Arab 

menyebut tempat itu Kaah atau Kala. Isinya hampir sama saja. Boleh 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 59 

dikatakan bahwa hampir semuanya menyatakan Kalah terletak antara 

Arab dan Tiongkok, menghasilkan kamfer, timah dan bambu, ada di 

bawah pemerintahan J awa. 

Ibn Khordazbeh (844). Kilah terletak sejauh enam hari pelayaran 

dari Langabus. Negara tersebut ada di bawah pemerintahan Jaba 

dan memiliki tambang timah kal'i yang sangat terkenal. 

Ibn al-Fakih (902). Kala-bar merupakan bagian dari kerajaan 

Jawaga. Hanya seorang raja saja yang memerintah. 

Abu Zaid(± 916). Salah satu jajahan Jawaga ialah Kalah, terletak 

antara negara Tiongkok dan Arab. Kapal-kapal dari Oman datang ke 

situ dan dari situ kembali ke negara Arab. 

Mas'udi (943). Di sekitar Kalah dan Sribusa terdapat tambang­ 

tambang emas dan perak; negara Kalah terletak di tengah perjalanan 

ke Tiongkok. Sekarang, tempat itu menjadi tempat pertemuan 

perahu-perahu dari Oman dan Siraf di satu pihak, dan perahu-perahu 

dari Tiongkok di pihak lain. 

Kalah masih dikenal oleh para pedagang Arab sesudah abad ke­ 

11 sampai abad ke-16. Tetapi tidak semua berita itu penting bagi 

tujuan kita. Yang penting di antaranya ialah: 

Dimaski (1325). Laut Kalah disebut demikian menurut nama 

negara Kalah, yang ibu kotanya juga disebut Kalah. Kalah yaitu  

kota yang paling besar di antara kota-kota yang terdapat di situ. 

Negara Kalah panjangnya 800 mil, lebarnya 350 mil, dan sangat 

berbahaya untuk mendarat di situ. Di negara tersebut terdapat kota 

Fansur, Jawa, Malayur, Lawri, dan Kalah; di situ ada gajah yang 

ditangkap dari tanah daratan dan sengaja dilatih untuk keperluan 

rajanya. 

Pemberitaan Dimaski sama dengan pemberitaan Nuwayri dari 

tahun 1332, yang juga menyatakan di kerajaan Kalah terdapat kota­ 

kota Fansur, Malayur, Lawri, dan Kalah. 

Abu Fida' (1273-1331). Kalah yaitu  pelabuhan umum dari 

negara-negara antara Oman dan Tiongkok. Negara tersebut 

60 Sriwijaya 

mengekspor timah; di situ ada kota yang sangat makmur, didiami 

oleh orang-orang muslim, Hindu, dan Persi. Dikatakan bahwa di 

tempat tersebut terdapat tambang timah, kebun bambu, dan pohon 

kamfer. Negara itu terpisah sejauh 20 hari pelayaran dari negara 

Maharaj a. 

Sedikit banyak berita-berita Arab itu pasti mengandung ke­ 

benaran. Yang nyata ialah bahwa Kedah sebelum dan sesudah abad 

ke-10 merupakan pelabuhan pen ting di tengah-tengah jalan pelayaran 

antaraArab, India, dan Tiongkok. Sudah barang tentu juga merupakan 

tempat penting pada zaman Sriwijaya, ketika I-ts'ing melakukan ziarah 

ke India. Roland Braddell menyebut muara sungai Merbok di 

kerajaan Kedah sekarang sebagai pelabuhan Kedah, yang disebut 

dengan pelbagai nama dalam pelbagai berita: I-ts'ing: Ka-cha (Chieh­ 

cha); Ma-tuan-lin: Kia-tcha; Chia-tan: Ko-lo; Chu-fan-chi: Ki-t'o; 

Wu-pei-chih: Chi-ta; Arab: Kalah, Kala; Sanskerta; Kat~ha; Tamil: 

Kadara(m). 

3. Mo-lo-yeu 

Dalam perjalanan pulang dari Tan-mo-lo-ti, I-ts'ing menceritakan 

bahwa ia naik kapal raja dari Ka-cha ke arah selatan selama sebulan, 

menuju negara Mo-lo-yeu. Di sini biasanya orang singgah sampai 

pertengahan musim panas untuk menunggu tibanya musim angin 

barat daya; kemudian baru berlayar ke utara menuju Kwang-fu 

(Kwang-tung). 

Yang dimaksud oleh I-ts'ing dengan negara Mo-lo-yeu di sini 

ialah pelabuhan di negara Mo-lo-yeu, yang pada waktu itu sudah 

berada di bawah kekuasaan Shih-li-fo-shih; sama dengan pelabuhan 

tempatnya singgah dalam perjalanannya dari Fo-shih menuju India. 

I-ts'ing juga menceriterakan bahwa pendeta Wu-hing berlayar dengan 

perahu raja dari Fo-shih ke negero Mo-lo-yeu selama 15 hari. Yang 

terang ialah bahwa dari pelabuhan Mo-lo-yeu, orang biasanya terus 

berlayar ke utara menuju Tiongkok tanpa singgah di Fo-shih. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 61 

Dalam uraiannya, I-ts'ing jelas sekali menunjukkan adanya 

pelabuhan Mo-lo-yeu, tempat masuk perahu raja Fo-shih untuk 

berangkat ke Tan-mo-lo-ti, dan adanya kerajaan Mo-lo-yeu yang telah 

menjadi bagian kerajaan Fo-shih sekembali I-ts'ing dari Nalanda pa