Tampilkan postingan dengan label Sriwijaya 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sriwijaya 1. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 1

 




DAFTAR SINGKATAN 

B.E.EE.O. : Bulletin de I'Ecole Francaise d'Ext~eme Orient. 

B.K.I. : Bijdragen tot de Taal, Land- en Volkenkunde van 

Nederlandsch Indi~, uitgegeven door het Koninklijk 

Institut voor Taal-, Land- end Volkenkunde. 

M.B.R.A.S. : Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (Journal) 

KO. : Kawi-Oorkonden in facsimile met inleiding en 

transcriptie van Dr. A.B. Cohen Stuart. 

0.J.0. : Oud-Javaansche Oorkonden, nagelaten transcripties 

van wijlen Dr. J .L.A. Brandes, uitgegeven door Dr. N .J. 

Krom. 



Sriwijaya diketahui luas merupakan kerajaan maritim terbesar 

di negara kita  yang pernah berjaya di masa lampau. Di dalam peta 

sejarah Asia Tenggara lama, nama Sriwijaya nyaris menjadi mitos 

dari sebuah kebesaran dan keagungan. Selain dikenal dengan potensi 

lautnya yang besar, nama Sriwijaya juga terdengar harum sebab  

keterbukaannya kepada dunia luar. Reputasi Sriwijaya sebagai 

kerajaan yang berbudaya juga dikenal luas, sebab  di Sriwijaya-lah 

untuk pertama kalinya agama Budha berkembang pesat. 

Sayang sekali, meski sangat masyhur pada zaman lampau, belum 

banyak penggalian sejarah yang dilakukan terhadap Sriwijaya. 

Minimnya riset sejarah terhadap keberadaan Sriwijaya dapat di­ 

maklumi, mengingat dokumentasi sejarah pada masa lampau yang 

masih langka dan mengandalkan bahan-bahan yang terbatas. Kendati 

demikian, para sejarawan dan arkeolog terus mencoba melakukan 

rekonstruksi sejarah secara lebih baik. Upaya ini antara lain dirintis 

oleh Prof. Dr. Slamet Muljana lewat buku ini. Slamet Muljana 

melanjutkan kerja keras Prof. George Coed~s, yang menghangatkan 

kembali perbincangan mengenai Sriwijaya melalui temuannya yang 

fenomenal pada tahun 1918. 

Seperti dua karyanya yang kami terbitkan, Runtuhnya Kerajaan 

Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (2005) 

vi Sriwijaya 

clan Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit) (2005), 

Slamet Muljana juga melakukan pendekatan filologis dalam karya 

ini. Berbekal teori-teori yang sudah dikembangkan oleh para peneliti 

sebelumnya, Muljana meneliti akurasi berita-berita sejarah tentang 

Sriwijaya. Terutama, berita-berita Tionghoa clan prasasti asli dari 

zaman Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya, Sanskerta, clan 

Tamil. 

Di tengah langkanya kajian tentang Sriwijaya, buku ini 

menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan metode filologi yang 

sudah sangat dikuasainya, Slamet Muljana menguji akurasi pene­ 

muan-penemuan sebelumnya yang masih berupa hipotesis clan 

belum cukup meyakinkan. Untuk mencari situs Sriwijaya, misalnya, 

para sejarawan masih berselisih pendapat. Sebagian sejarawan clan 

arkeolog menyebut Sriwijaya terletak di kota Palembang. Tapi 

sebagian lainnya menolak, clan malah memosisikan Sriwijaya tepat 

di Jambi. Manakah yang benar? Buku ini memberikan jawabannya. 

Rasa terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan kepada ahli 

waris penulis atas izin clan partisipasinya. Khususnya, kepada Ibu 

Dani yang waktunya rela diganggu untuk sekadar kontak clan 

konfirmasi. Selebihnya kami ucapkan selamat membaca ... 

KATA PENGANTAR 

Kesadaran nasional bangkit kembali akibat timbulnya kemer­ 

dekaan di pelbagai negara Asia. Dengan sendirinya, pengetahuan 

sejarah nasional mendapat perhatian para penduduk negara-negara 

yang bersangkutan lebih banyak daripada waktu yang sudah silam. 

Sejarah kerajaan Sriwijaya yaitu  sejarah salah satu negara Asia 

Tenggara yang menguasai Selat Malaka pada zaman yang sudah lama 

lampau. Selat Malaka, sebagai satu-satunya jalan lalu-lintas pelayaran 

dari India ke Tiongkok dan kebalikannya, memegang peranan penting 

dalam sejarah Asia Tenggara. Oleh sebab  itu, sejarah kerajaan Sriwijaya 

pada hakikatnya yaitu  bagian penting dari sejarah lama Asia 

Tenggara. Sejarah Sriwijaya menyangkut hubungan antara bangsa­ 

bangsa Asia, terutama yang menggunakan Selat Malaka sebagai jalan 

lalu-lintas. Peranan Sriwijaya tidak dapat diabaikan dalam penge­ 

tahuan sejarah Asia Tenggara lama. 

Kerajaan Sriwijaya lama terpendam dalam abu sejarah tanpa 

diketahui oleh seorang pun. Baru semenjak tahun 1918, kerajaan 

Sriwijaya timbul lagi dalam sejarah berkat penemuan Prof. George 

Coed~s. Sejak itu, nama Sriwijaya menjadi sangat masyhur. Pe­ 

nyelidikan lebih lanjut masih terus-menerus dilakukan untuk mencari 

penjelasan mengenai hal-hal yang masih kabur. Penemuan kerajaan 

Sriwijaya ini mendapat sambutan yang hangat sekali dari para sarjana 

dalam bidang pengetahuan sejarah. 

viii Sriwijaya 

Sudah selayaknya bangsa Asia Tenggara umumnya, bangsa 

Malaya dan negara kita  khususnya, tidak lagi puas dengan hanya 

mendengar namanya saja. Mereka ingin tahu bagaimana seluk-beluk 

yang sebenarnya. Itulah sebabnya maka hasil penyelidikan para sarjana 

dalam bidang sejarah Sriwijaya itu juga dihimpun dan disiarkan 

dalam bahasa Melayu/negara kita  dalam bentuk seperti berikut. 

Di samping menghimpun dan mengutip pendapat para sarjana 

yang telah memberikan sumbangan dalam rekonstruksi sejarah 

Sriwijaya, penyusun tidak lupa mengemukakan pelbagai persoalan 

yang masih menghendaki pemecahan. Justru, persoalan-persoalan 

itulah yang terutama mendapat perhatiannya. Usul pemecahannya 

ada kalanya sama dengan pendapat lama yang sudah pernah 

dikemukakan, ada kalanya berbeda dan merupakan buah pikiran 

baru. 

Sumber sejarah yang digunakan sama saja dengan sumber sejarah 

yang telah ditelaah sebelumnya dalam penelitian sejarah Sriwijaya. 

Hasil penelitian yang penting-penting pun secara singkat diuraikan 

dalam pasal ikhtisar penulisan sejarah Sriwijaya, yang menyebut 

pelbagai karya para sarjana dalam bidang sejarah Sriwijaya. Tanpa 

mengurangi jasa para sarjana yang telah menyumbangkan pendapat 

dalam penyusunan kembali sejarah Sriwijaya, uraian ini tidak di­ 

perberat dengan banyak kutipan dan catatan. Dengan jalan demikian, 

uraian mudah dibaca, dan pikiran dapat dipusatkan pada persoalan 

yang ditelaah. 

Dalam penulisan sejarah Sriwijaya, kita harus berusaha untuk 

hidup dan berpikir dalam alam abad ke-7 sampai abad ke-13, dan 

berusaha memahami makna peristiwa sejarah dalam rangka zamannya. 

Suasana zaman Sriwijaya yang telah lampau berabad-abad hanya dapat 

kita bayangkan saja dan kadang-kadang pembayangan suasana itu 

masih bersifat raba-raba. Peristiwa sejarah yang ingin kita pahami 

sangat kabur, sebab  sumber sejarah memberitakannya tidak jelas. 

Sebagian besar dari peristiwa-peristiwa sejarah Sriwijaya yang kita 

jumpai diberitakan oleh sumber sejarah asing, terutama sumber berita 

Kata Pengantar ix 

Tionghoa dan prasasti-prasasti asli dari zaman Sriwijaya yang ditulis 

dalam bahasa Sriwijaya, Sanskerta, clan Tamil. 

Berita Tionghoa tentang Sriwijaya kadang-kadang terlalu singkat 

clan terlalu kabur. Berita-berita itu kadang-kadang disangsikan 

kebenarannya, sebab  kebanyakan di antara berita-berita itu tidak 

berasal dari tangan pertama. Nama-nama tempat clan tokoh sejarah 

yang diberitakan ditulis dalam bahasa Tionghoa menurut pen­ 

dengaran penulisnya. Ucapan kata-kata Tionghoa yang digunakan 

untuk mencatat nama-nama itu berbeda-beda sehingga susah untuk 

ditafsirkan. Bahasa Tionghoa pada abad ke-7 berbeda dengan bahasa 

Tionghoa zaman sekarang. Bahasa Tionghoa Kanton berbeda dengan 

bahasa Tionghoa Mandarin. Untuk memberikan tafsir terhadap 

berita-berita Tionghoa itu, diperlukan bantuan ahli bahasa Tionghoa 

klasik, yang mempunyai perhatian kepada persoalan sejarah. 

Nama-nama tempat yang ditranskripsikan dengan huruf-huruf 

Tionghoa perlu ditafsirkan. Penafsiran nama-nama itu tidaklah 

mudah, sebab  nama-nama itu biasanya ditulis dalam satu rangkaian 

yang bunyinya berbeda sekali dengan nama-nama desa atau kota di 

Malaya clan Sumatra. Sering kali tempat yang namanya tercatat dalam 

kronik Tionghoa itu sudah berubah namanya, menyesuaikan diri 

dengan perkembangan bahasa setempat. Keterangan geografi tentang 

tempat-tempat yang disebut kadang-kadang bersifat umum sekali, 

diukur dengan jarak pelayaran clan jarak dari pulau atau tempat yang 

letaknya sangat jauh. 

Pemberitaan tentang batas-batas tempat itu dinyatakan dengan 

penyebutan laut clan pulau atau negara yang sangat jauh letaknya. 

Betapapun kaburnya berita geografi itu, berita geografi itu harus 

dijadikan pegangan untuk melokalisasikan tempat-tempat yang di­ 

maksud. Pengetahuan geografi dalam penulisan sejarah kuno, seperti 

sejarah Sriwijaya, sangat diperlukan untuk menghindarkan salah tafsir 

tentang peristiwa sejarah. Kadang-kadang, untuk melokalisasikan 

nama-nama yang disebut, diperlukan pengetahuan tentang keadaan 

daerah di pelbagai pulau clan kemungkinan perkembangannya dalam 

masa sejarah. 

X Sriwijaya 

Bagaimanapun, pengetahuan geografi kuno ini merupakan 

bagian penting dalam sejarah Sriwijaya untuk dapat memahami 

peristiwa sejarah dalam suasana zamannya. Pengetahuan geografi itu 

tidak dapat diabaikan begitu saja. Oleh sebab  itu, 

Times in Malaya, yang khusus merintis pengetahuan geografi sejarah 

kuno negara kita  bagian barat dan Semenanjung, harus dipandang 

sebagai sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu 

sejarah Sriwijaya. 

Ini tidak berarti bahwa semua kesimpulan yang diambilnya 

boleh kita terima begitu saja. Mereka membuka jalan baru untuk 

mendekati kenyataan sejarah yang sudah berulang kali disoroti dari 

segi filologi, dan terbukti tidak menjadi lebih jelas. Saya yakin bahwa 

lokalisasi pelbagai nama tempat yang disebut oleh pendeta I-ts'ing 

dalam karyanya, Memoire dan Record, serta oleh kronik Tionghoa, 

yang telah dilakukan oleh pelbagai sarjana berhubung dengan 

perkembangan penelitian geografi sesudah perang dunia kedua, perlu 

dikoreksi. 

Baik geografi maupun filologi serta arkeologi, dalam hal ini, 

mengabdi penulisan sejarah. Fungsinya tidak lain daripada mem­ 

berikan bantuan untuk memahami makna peristiwa sejarah dalam 

rangka zamannya dan susunan masyarakatnya. Hanya dalam beberapa 

hal di mana diperlukan bantuannya, filologi, arkeologi, dan geografi 

dibeberkan demi penjelasan peristiwa sejarah. Penulisan sejarah tetap 

menjadi tujuan utama. 

Tentang Sriwijaya, ditemukan juga pelbagai prasasti dalam 

bahasa Sriwijaya, Sanskerta, dan Tamil. Sebagian besar dari prasasti­ 

prasasti itu telah ditranskripkan dengan huruf Latin, diterjemahkan, 

dan diterbitkan dalam pelbagai majalah ilmiah oleh pelbagai sarjana. 

Namun, tafsir sejarahnya tetap masih gelap. Prasasti-prasasti itu hanya 

Kata Pengantar xi 

sebagian kecil dari kehidupan kenegaraan Sriwijaya. Namun 

meskipun demikian, prasasti-prasasti itu harus dijadikan pegangan 

untuk mengetahui perkembangan kerajaan Sriwijaya. Terjemahan 

prasasti-prasasti itu sering kali sangat kusut sebab  memang tidak 

mudah untuk memahaminya. 

Untunglah, di samping terjemahan itu, disiarkan juga tran­ 

skripsi dan kadang-kadang fotokopi prasasti-prasasti yang ber­ 

sangkutan sehingga barang siapa menaruh perhatian dapat ikut 

membacanya sendiri. Pembacaan fotokopi dan penafsiran transkripsi 

prasasti-prasasti itu ada kalanya memberikan gagasan baru untuk 

memecahkan persoalan sejarah Sriwijaya yang masih gelap. 

Meskipun sejarah Sriwijaya tidak mempunyai sangkut paut 

secara langsung dengan zaman negara kita  modern, namun sejarah 

Sriwijaya itu masih tetap mempunyai tempat dalam kerangka sejarah 

nasional. Mungkin pengetahuan sejarah kuno itu dapat memberikan 

dorongan ke arah pengagungan negara dan bangsa. Jika tidak, paling 

sedikit, sejarah Sriwijaya itu mengingatkan bangsa negara kita  kepada 

zaman gemilang yang sudah silam. 



Maksud penulisan sejarah pada umumnya ialah untuk menafsir­ 

kan peristiwa-peristiwa sejarah dalam rangka kehidupan kenegaraan 

suatu negara. Tafsir sejarah itu bertujuan untuk memaparkan 

pandangan individual seorang ahli sejarah, sebagai hasil usahanya 

untuk memahami sepenuhnya peristiwa sejarah yang diperolehnya 

dari sumber sejarah. 

Orang lain yang membacanya boleh menyetujui atau menentang 

pandangannya. Tentangan atau perbedaan pandangan ahli sejarah 

lain boleh memberikan dorongan untuk mengkaji suatu pandangan 

sejarah lebih lanjut, sekali-kali tidak bertujuan untuk semata-mata 

menggugurkan anggapan sarjana lainnya, tetapi dimaksud sebagai 

usaha untuk memperoleh penjelasan yang lebih memuaskan. 

Demikianlah, pertentangan tafsir sejarah oleh para sarjana itu 

harus diartikan sebagai usaha untuk mendekati kenyataan sejarah. 

Pikiran bahwa hanya anggapannya saja yang benar dan boleh 

dipercayai, akan menghentikan penyelidikan sejarah. Tiap pandangan 

baru, apalagi jika pandangan itu didasarkan atas bahan-bahan baru 

yang belum diketahui atau belum dapat dipecahkan sebelumnya, 

merupakan sumbangan yang berharga dan perlu dipertimbangkan. 

Lagi pula, pengetahuan sejarah bukanlah monopoli seorang ahli 

semata-mata. 

9 Sriwijaya 

Sejarah Sriwijaya sudah mengalami pengolahan pelbagai sarjana 

sejarah, baik mengenai keseluruhannya maupun mengenai bagian­ 

bagiannya. Pandangan para sarjana itu tidak semuanya sehaluan. 

Apalagi jika mereka menghadapi suatu soal sejarah yang menghendaki 

suatu pemecahan. Tafsiran mereka kadang-kadang bukan saja tidak 

sehaluan, melainkan sering kali bertentangan, sehingga seolah-olah 

menimbulkan polemik ilmu sejarah. Masing-masing pihak berusaha 

mempertahankan anggapannya dan mengemukakan bukti-bukti 

untuk memperkuatnya. Bukti-bukti itu diambilnya dari pelbagai 

sumber sejarah. Usaha mengumpulkan bukti-bukti ini melampaui 

penapisan sumber sejarah yang tertulis dalam pelbagai bahasa, 

terdapat di pelbagai tempat, berserak dalam pelbagai buku, dan 

tertulis dalam pelbagai masa. Pembuktian-pembuktian itu merupakan 

pengkajian pandangan terhadap soal sejarah. 

Pengetahuan sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad 

ke-20. Nama Sriwijaya baru mulai dikenal pada tahun 1918, sejak 

George Coed~s menulis karangannya, Le royaume de (rivijayd 

(B.E.F.E. 0. 18). Pada tahun 1913, waktu Prof. Kern menerbitkan 

piagam Kota Kapur, salah satu piagam Sriwijaya dari tahun 686, ia 

masih menganggap bahwa nama Sriwijaya yang tercantum pada 

piagam tersebut yaitu  nama seorang raja, sebab  rri biasanya 

digunakan sebagai sebutan atau gelar raja, diikuti nama raja yang 

bersangkutan. 

Sarjana Jepang Takakusu, yang menerjemahkan karya I-ts'ing, 

Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch'uan, ke dalam bahasa Inggris (A Record of 

the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago) 

pada tahun 1896, belum mengenal nama Sriwijaya. I-ts'ing, baik 

dalam bukunya, Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch'uan, maupun dalam 

bukunya, Ta-tang-si-yu-ku-fa-kao-seng-ch'uan, yang telah 

diterjemahkan lebih dahulu oleh Prof. Chavannes pada tahun 1894 

ke dalam bahasa Prancis (Memoire compos~ ~ l'~poque de la grande 

dynastie T'ang sur les religieux ~minents qui all~rent chercher la loi dans 

les pays d'Occident), menyebut Sriwijaya yang pernah dikunjunginya 

Shih-li-fo-shih (atau dengan ejaan Prancis: Che-li-fo-che). Nama itu 

 3 

dikira transkripsi Tionghoa dari nama asli Sribhoja. Dalam kedua 

buku itu, nama Shih-li-fo-shih, yang sering kali disingkat Fo-shih 

saja, digunakan untuk menyebut negara, ibu kota pusat kerajaan, 

dan sungai yang muaranya digunakan sebagai pelabuhan. 

Terjemahan piagam Kota Kapur oleh Kern, di mana terdapat 

nama Sriwijaya, dan terjemahan karya I-ts'ing, di mana terdapat 

transkripsi Tionghoa Shih-li-fo-shih, memungkinkan Coed~s untuk 

menetapkan bahwa Sriwijaya yaitu  nama negara di Sumatra Selatan, 

yang ditranskripkan ke dalam tulisan Tionghoa Shih-li-fo-shih. Tetapi 

Coed~s tidak berhenti pada penemuan itu saja. Ia berusaha pula 

menetapkan letak ibu kotanya di Palembang berdasar  anggapan 

Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and 

Malacca, Compiled from Chinese Sources, dari tahun 1876 yang 

menyatakan bahwa San-fo-ts'i yaitu  Palembang. 

Beal pada tahun 1886 telah mengemukakan pendapatnya, 

bahwa negara Shih-li-fo-shih terletak di tepi sungai Musi dekat kota 

Palembang. Namun, pada pertengahan kedua abad ke-19 itu, nama 

Sriwijaya belum dikenal. Kerajaan itu masih disebut dengan nama 

Tionghoa yang tidak diketahui nama aslinya. Meskipun anggapan 

itu boleh dipandang sebagai penemuan ilmiah yang asli, namun 

sebab  kepincangan tersebut masih kabur sekali. 

Bagaimanapun, harus diakui bahwa ilmu sejarah Sriwijaya 

yaitu  penemuan Coed~s dan lahir dari kecerdasannya dalam 

menggunakan hasil penyelidikan sarjana-sarjana lainnya. Penemuan 

Coed~s ini mendapat sambutan yang hebat dalam ilmu pengetahuan 

sejarah, terutama dalam sejarah Asia Tenggara. sebab  letaknya yang 

sangat ideal untuk lalu-lintas pelayaran Jawa, India, Arab, dan 

Tiongkok, maka sejarah Sriwijaya menyangkut hubungan inter­ 

nasional. Dengan sendirinya sejarah Sriwijaya itu berhubungan 

dengan sejarah negara-negara lain yang menggunakan Selat Malaka 

sebagai jalan lalu-lintas, dan namanya teringat pula dalam sejarah 

asing. Apalagi, sebab  terbukti bahwa Sriwijaya merupakan salah satu 

negeri besar di antara negeri-negeri di laut Selatan. Penemuan negeri 

4 Sriwijaya 

Sriwijaya oleh Coed~s ini mengalihkan minat para sarjana sejarah, 

terutama para sarjana Belanda, yang pada waktu itu terlalu banyak 

memusatkan perhatiannya kepada sejarah Jawa. Justru, sebab  kerajaan 

Sriwijaya lebih tua daripada kerajaan Mataram lama, sejarah Sriwijaya 

itu sangat menarik perhatian. sebab nya, perkembangan ilmu sejarah 

Sriwijaya sangat pesat. 

Pada tahun 1919, jadi setahun sesudah terbitnya karangan 

Coed~s Le royaume de (rivijaya yang sangat masyhur itu, Krom 

mengucapkan pidato pelantikannya sebagai guru besar pada Univer­ 

sitas Leiden yang berjudul De Sumatraansche periode der ]avaansche 

Geschiedenis. Krom menyarankan bahwa di dalam sejarah J awa, 

menyusup masa pemerintahan raja-raja Sumatra, yakni raja-raja 

Sriwijaya. Bukti yang dikemukakannya ialah pemakaian banyak kata 

Melayu pada piagam Gandasuli dari tahun 832 yang ditemukan di 

J awa Tengah. 

Sepuluh tahun kemudian, saran ini mendapat serangan dari 

sarjana W.F. Stutterheim, yang mengemukakan teori kebalikannya. 

Stutterheim menulis pada tahun 1929 4 Javanese Period in Sumatran 

History. Kecuali Krom, Gabriel Ferrand pada tahun 1919 juga me­ 

nyambut tulisan Coed~s tersebut di atas, dan pada tahun 1922 ia 

menerbitkan bukunya L'Empire Sumatranais de (rivijaya. 

Ferrand mengakui jasa Kern dalam usahanya menerjemahkan 

piagam Kota Kapur pada tahun 1913, meskipun sarjana ini tidak 

mengenal bahasa Melayu Kuno. J .Ph. Vogel tidak ketinggalan. Ia 

membahas karangan Coed~s dalam karangannya yang berjudul Het 

koninkrijk (rivijaya. Karangan itu ditulis dalam B.KI. 75, tahun 

1919. Demikian pula sarjana Inggris, ahli bahasa, clan sejarah Melayu 

C.O Blagden. Sarjana ini pada tahun 1920 menulis karangannya, 

The Empire of the Maharadja, King of the Mountains and Lord of the 

Isles. 

Pada tahun 1926, Krom menerbitkan bukunya, Hindoe Javaan­ 

sche Geschiedenis. Dalam buku itu, ia juga mengemukakan kerajaan 

Sriwijaya. Buku ini dicetak lagi pada tahun 1913. Dalam cetakan 

 5 

yang kedua itu, Krom tidak lupa membahas pendapat Dr. 

Stutterheim, yang telah dibicarakan oleh Dr. F.D.K. Bosch pada tahun 

1929. Baik Krom maupun Bosch menolak pendapatnya. Karangan 

Krom ini merupakan buku sejarah negara kita  lama yang paling 

lengkap dan menjadi buku pegangan sejarah negara kita  bagi para 

sarjana lain-lainnya. Segala literatur yang mempunyai sangkut paut 

dengan sejarah negara kita  sampai waktu itu dibahas dan disebut. 

Susunan buku Krom ini dipandang dari segi sejarah tidak luput 

dari kritik. Bertalian dengan perkembangan penelitian sejarah Indo­ 

nesia kuno, banyak bagian yang perlu dikoreksi. Pada hakikatnya, 

tulisan itu lebih banyak menyerupai pandangan arkeologi daripada 

pandangan sejarah dalam arti khusus. 

Sifat yang demikian mudah dipahami jika kita menempatkan 

tulisannya pada zaman dan suasana perkembangan ilmu sejarah di 

negara kita . Kita tidak dapat menulis sejarah negara kita  lama seperti 

yang dilakukan oleh para sarjana Eropa tentang salah satu bagian 

benua Eropa, sebab  terlalu banyak hal-hal yang masih sangat 

meragukan. Tanpa pengetahuan arkeologi, yang pada waktu penulisan 

buku itu boleh dikatakan baru mulai berkembang, tidak mungkin 

orang menulis tentang sejarah lama. Dengan sendirinya, Krom sebagai 

ahli arkeologi terlalu banyak mengutamakan soal-soal arkeologi dalam 

penulisan sejarah. Ia beranggapan bahwa dengan menempuh jalan 

ini, ia berharap dapat memberikan penjelasan tentang hubungan 

peristiwa yang masih gelap atau, paling sedikit, masih samar-samar. 

Oleh sebab  itu, alih-alih memberikan tafsir peristiwa sejarah yang 

mempunyai hubungan dengan pandangan hidup dan cara berpikir, 

ia dalam banyak hal memberikan tafsir purbakala. Akibatnya, 

tulisannya mengandung sifat sejarah yang bercampur aduk dengan 

arkeologi. 

Buku Krom berhenti pada uraian tentang kerajaan Majapahit 

saja. Suatu hal yang agak aneh jika dipandang dari segi penulisan 

sejarah. Pembatasan itu membayangkan wataknya sebagai seorang 

ahli arkeologi. Kejadian sesudah runtuhnya kerajaan Majapahit tidak 

6 Sriwijaya 

mendapat perhatian sama sekali, sebab  zaman itu sudah dianggap 

zaman Islam dan termasuk pangsa waktu baru. Penyelidikan arkeologi 

mengenai zaman ini tidak dilakukan. 

Sesudah terbitan Hindoe--Javaansche Geschiedeni s karangan Krom 

ini, menyusul pada tahun 1930 Les incriptions Malai ses de (rivijaya, 

yang dikumpulkan, diperiksa, dan dibicarakan oleh Coedes. Terbitan 

itu memuat piagam-piagam Sriwijaya yang tertulis dalam bahasa 

Melayu dan dikenal sampai tahun tersebut. Piagam-piagam itu ialah 

piagam Kedukan Bukit dari tahun 683, piagam Talang Tuwo dari 

tahun 684, piagam Kota Kapur dan piagam Karang Brahi dari tahun 

686. 

Terbitan Coed~s menyebut segala literatur yang bersangkutan 

dengan piagam-piagam tersebut dan karangan-karangan yang 

mempunyai sangkut paut dengan sejarah Sriwijaya. Yang sangat 

penting ialah bahwa piagam-piagam itu dikumpulkan dalam satu 

terbitan, sehingga setiap sarjana yang ingin menyumbangkan 

pikirannya mengenai sejarah Sriwijaya dapat berkenalan secara 

langsung dengan piagam-piagam asli tersebut. Terjemahannya pun 

dilampirkan pula. Orang bebas menerima atau menolak terjemahan 

itu. Namun, yang pasti ialah bahwa sajian yang demikian dapat 

dijadikan pegangan untuk bekerja lebih lanjut, tanpa terpengaruh 

oleh konsepsi Coed~s sendiri. Kumpulan piagam asli Sriwijaya itu 

menjadi lengkap sebab  terbitan piagam Telaga Batu dan beberapa 

pecahan piagam lainnya oleh Dr. De Casparis dalam bukunya, Pra­ 

sasti negara kita  II, dari tahun 1956. 

Pada tahun 1932, vor H. N. Ivans menulis tentang sebuah 

cincin yang ditemuinya di Tanjung Rawa, Selinsing, Perak, dalam 

majalah Federated Malay States Museums Vol. XV part 3 seperti berikut: 

"his a small seal of red carnelian of good colour and somewhat transluctant, 

chamfered at the edges on the face and there engraved with an inscription 

running the length of the seal in the middle. The dimensions of the piece 

are 1.45cms x 1cm x 4cm. The back is a flat." Huruf tulisan pada 

cincin tersebut ialah huruf Palawa, dan tulisannya terbaca <;ri Visnu­ 

varmasya. 

 7 

Dr. C.O. Blagden clan Dr. L.D. Barnett menduga bahwa cincin 

itu berasal dari tahun 400, tetapi Dr. Van Stein Callenfels menduga 

dari tahun 600. Van Stein Callenfels berpendapat bahwa nama <;ri 

Visnuvarmasya (Sri Wisnuwarman) itu yaitu  nama seorang raja atau 

seorang pangeran, sebab  nama itu menggunakan gelar Gri. 

Dalam A Note on an Inscribed Seal from Perk, Prof. Nilakanta 

Sastri meragukan pendapat itu. Justru sebab  pada nama tersebut 

terdapat suatu kesalahan, yakni Visnuvarmasya alih-alih Visnu­ 

varmanah, maka ia cenderung untuk mengatakan bahwa pemilik 

cincin tersebut ialah orang biasa atau seorang saudagar. Gelar cri itu 

saja belum merupakan jaminan bahwa pemiliknya yaitu  seorang 

raja, sebab  gelar gri itu sudah umum dipakai sebagai gelar peng­ 

hormatan pada nama-nama orang biasa. Dalam hubungan itu, ia 

mengemukakan nama <;ri Vati-Kuddasya yang berasal dari Ujjain, 

dan tertulis dengan huruf-huruf yang serupa benar dengan huruf­ 

huruf pada cincin dari Perak itu. Oleh sebab  itu, ia menduga bahwa 

nama Wisnuwarman pada cincin yang bersangkutan itu yaitu  nama 

seorang pedagang dari India Tengah, atau seorang pendatang dari 

India di Kuala Selinsing. Ternyata bahwa cincin dari Selinsing ini 

sangat menarik perhatian. 

Dr. Ch. Chhabra yang menulis karangannya, Expansion of Indo­ 

Aryan Culture during Pallava Rule, as Evidenced by Inscriptions, dalam 

J.A.S. Bengal Letters I 1935, kecuali membicarakan piagam Ligor A 

clan B, juga menyinggung nama Sri Wisnuwarman pada cincin dari 

perak ini. Ia sampai pada kesimpulan bahwa berdasar  bentuk 

aksaranya yang persegi, cincin itu harus berasal dari abad ke-8 dan 

nama Wisnuwarman pada cincin tersebut sama dengan nama Wisnu 

pada piagam Ligor B. 

Justru sebab  tempat penemuan cincin itu letaknya tidak jauh 

dari Ligor. Dr. Ch. Chhabra beranggapan bahwa piagam Ligor A 

clan Bitu pada hakikatnya hanya suatu piagam yang terputus sesudah 

baris ketujuh. Manggalacarananya svasti terdapat pada permulaan 

piagam B, sedangkan piagam Ligor A yang bertarikh tahun 775 tidak 

mulai dengan manggalacarana. 

8 Sriwijaya 

Pada tahun 1933, clalam tulisannya, Les rois <;ailendra de 

Suvarnadvipa (B.E.FE. 0. XXXIII), R.C. Majumdar telah 

mengemukakan pendapat bahwa piagam Ligor A clan B hams 

clipanclang sebagai dua piagam yang ditulis oleh clua orang raja. 

Piagam B ditulis kemudian claripacla piagam A. 

Persoalan piagam A clan B ini masih tetap hangat. Pada tahun 

1941, sebagai karangan yang terakhir tentang Sriwijaya sebelum 

pecah Perang Dunia II, terbit tulisan Dr. F.D.K. Bosch dalam T. B. G. 

jilid LXXXI yang berjuclul De inscriptie van Ligor. 

Dalam tulisan itu Bosch mengulangi pendapat Chhabra, clan 

akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pada tahun 775, seorang 

raja Sailenclra yang bernama Wisnu memerintah Sriwijaya. Raja 

Wisnu yang tercatat pada piagam Ligor B itu tidak lain claripacla 

rakai Panunggalan yang tercatat pada piagam Keclu yang clikeluarkan 

oleh raja Balitung pacla tahun 907. Rakai Panunggalan ini sama 

clengan Samarottungga pada piagam Karang Tengah, clan 

Samarottungga aclalah Samaragrawira pada piagam N alancla. Ini 

yaitu  putra rakai Pancapana Panangkaran yang tersebut pada piagam 

Kalasan dari tahun 778. Pada piagam Kelurak, raja Sailendra 

Panangkaran itu menyebut clirinya pembunuh musuh perwira 

vairivara-viravimarclana, dan pada piagam Nalanda disebut 

viravairimathana. Artikel Bosch ini akan clisambut oleh Coed~s pada 

tahun 1950 dalam karangannya, Le (ailendra tueur des h~ros ennemis, 

dalam Bingkisan Budi, kumpulan karangan para sarjana untuk 

menghormat Prof. Ph. S. van Ronkel. 

Sementara itu, pada tahun 1937 teori Coed~s tentang kerajaan 

Sriwijaya yang ditulis pada tahun 1918 itu dihantam oleh Ir. L. 

Moens dalam terbitannya, (rivijaya, Yava en Katha (T.B.G. 

LXXVII). 

Salinannya ke dalam bahasa Inggris clisiarkan pacla tahun 1940 

dalam Journal of the Malayan Branch XVII. Ia merombak teori yang 

telah disusun oleh Coed~s. Meons mengemukakan teori baru yang 

berclasarkan pengetahuan geografi dari berita Tionghoa clan Arab. 

 

Menurut pendapatnya, Sriwijaya tidak pernah berpusat di 

Palembang. Pada mulanya, pusat kerajaan itu terletak di pantai timur 

Malaya, kemudian berpindah ke Sumatra Tengah dekat Muara Takus. 

Sangat menarik perhatian, bagaimana Moens menggunakan berita­ 

berita geografi untuk menegakkan teorinya. 

Dari sejarah Sung, tercatat bahwa empat hari perjalanan dari 

Cho-p'o orang sampai di laut; jika berlayar ke arah barat laut sesudah 

lima belas hari, orang sampai di P'o-ni, dan lima belas hari lagi sampai 

di San-fo-ts'i. Juga diberitakan bahwa San-fo-ts'i terletak di antara 

dan Cho-p'o. berdasar  dua berita geografi itu, Moens mengambil 

kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di Semenanjung Melayu. 

Berita Arab yang berasal dari Abu Zaid mengatakan bahwa ibu 

kota Yawaga berhadap-hadapan dengan Tiongkok. Menurut 

pendapatnya, Zabag (Yawaga) sama dengan San-fo-ts'i. Oleh sebab  

itu, diambilnya kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di pantai timur 

Semenanjung. Moens menyamakan San-fo-ts'i dengan Kadaram; oleh 

sebab  itu, terpaksa melokalisasikan Kadaram di pantai timur 

Semenanjung. Ia juga beranggapan bahwa San-fo-ts'i bersaingan 

dengan Palembang. Setelah mengalahkan pusat kerajaan Palembang 

dan mengusir keluarga raja, [San-fo-ts'i] lalu mendirikan pusat 

kerajaan ham di wilayah Melayu, yakni dekat Muara Takus. 

Penunjukan Muara Takus sebagai pusat kerajaan Sriwijaya 

didasarkan: 

(1)atas berita I-ts' ing mengenai bayang-wayang diwelacakra yang 

tidak menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan 

delapan. Pada tengah hari, orang yang berdiri di matahari tidak 

berbayang-bayang sama sekali. Muara Takus terletak pada garis 

ekuator 0. 20' N. Jadi, cocok dengan berita I-ts'ing. 

(2)atas berita ahli peta Tionghoa Chia Tan, yang menyatakan bahwa 

di sebelah utara Ch-Cih (Selat Malaka) terletak kerajaan Lo-yueh, 

dan di sebelah selatan terletak kerajaan Shih-li-fo-shih. Berita itu 

pun cocok dengan penempatan pusat kerajaan di Muara Takus. 

10 Sriwijaya 

(3)atas beritaArab yang berasal dari Ibn Said clan Abdul Fida, bahwa 

ibu kota Sribusa terletak di muara sungai. Menurut Moens, muara 

sungai itu muara sungai Kampar. 1.200 tahun yang lalu muara 

sungai itu lebih jauh ke barat daripada sekarang. Muara Kampar 

sebagai pelabuhan hingga sekarang masih ramai hubungannya 

dengan Singapura. Kemunduran pelabuhan Muara Kampar 

disebabkan timbulnya pelabuhan teluk Bayur di pantai barat. 

Moens menguraikan adanya nama raja Bicau yang dianggapnya 

sebagai ubahan dari nama raja (Sri)wijaya clan dongeng tentang 

adanya datu Sriwijaya yang menetap di Kotabaru. berdasar  itu 

semua, ia mengambil kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya 

terletak di Muara Takus. Peninggalan-peninggalan pusat kerajaan itu 

masih tampak di Muara Takus, dekat tempuran Kampar Kanan 

dengan Batang Mahat di Sumatra Tengah. 

Beberapa tahun sebelumnya, teori Coed~s ini telah diragukan, 

di antaranya oleh Prof. R.C. Majumdar. Ia mengutarakan bahwa 

kerajaan Sriwijaya di Sumatra sampai abad ke-8 memperluas keku­ 

asaannya sampai di Ligor. Tetapi kemudian kerajaan itu dihancurkan 

oleh kerajaan Jawaka, yang disebut San-fo-ts'i dalam berita Tionghoa 

pada masa pemerintahan dinasti Sung. Pusat kerajaan San-fo-ts'i ialah 

Ligor. Kerajaan itu dikuasai oleh rajakula Sailendra dari India. 

Pendapat Majumdar ini dibantah oleh Prof. K.A. Nilakanta 

Sastri dalam T.B.G. 75, tahun 1935. Kemudian, Dr. H.G. Quaritch 

Wales menerbitkan karangannya dalam majalah Indian Art and Let­ 

ters vol. IX no. 1. Ia pun pada dasarnya meragukan lokalisasi pusat 

kerajaan Sriwijaya di Palembang seperti yang dikemukakan oleh 

Coed~s. Dr. Quaritch Wales melokalisasikan pusat kerajaan itu di 

Ch' aiya. Pertimbangan yang dikemukakannya untuk memperkuat 

pendapat itu: 

1). Penemuan-penemuan purbakala di daerah Cha'iya yang terbukti 

lebih banyak daripada di wilayah Palembang, 

 11 

2). Kemiripan bunyi antara Sriwijaya dan Sivic'ai sebagai nama bukit 

di sebelah selatan kota Ch' aiya. Mengenai kemiripan bunyi itu, 

ia menulis: "A difference in the native pronunciation of the word 

Srivijava in the region from its pronunciation in Sumatra might well 

account for the Chinese form San-fo-ts'i being applied to the empire 

from the 10th century onwards, while in the 7th and 8th centuries the 

Sumatra State of Srivijaya had been referred to by the Chinese as Po­ 

che - Che-li-fo-che." 

Usul lokalisasi dari Dr. Quaritch Wales mendapat jawaban 

Coed~s dalam jurnal M.B.R.A.S. Vol. XIV part III. Pada dasarnya, 

Coed~s menolak pendapat Wales. Untuk membantah lokalisasi San­ 

fo-ts'i di Ch' aiya, Coed~s mengutip berita Tionghoa dari zaman Sung 

yang dengan jelas menguraikan bahwa San-fo-ts'i terletak di 

Palembang. Chao Ju Kua mengatakan bahwa negara San-fo-ts' i terletak 

di tepi laut besar clan menguasai lalu-lintas pelayaran dari barang ke 

Tiongkok clan kebalikannya. Mengenai penemuan-penemuan barang 

purbakala, ia mengemukakan piagam Kedukan Bukit, piagam Talang 

Tuwo, Karang Brahi, clan Kota Kapur. Isi kedua piagam yang terakhir 

ini memberikan kesan bahwa Sriwijaya itu menguasai wilayah tempat 

piagam persumpahan itu ditemukan. Lagi pula, piagam Ligor di Vat 

Serna Muong dari tahun 775 jelas menyebut nama Sriwijaya. Nama 

M~rawijayottunggawarman, putra Cudamaniwarman, keturunan raja 

Sailendra, yang disebut pada piagam Leiden sebagai raja Kataha clan 

Sriwijaya, disebut dalam berita Tionghoa raja San-fo-ts'i. Jika Sriwijaya 

sama dengan San-fo-ts'i, maka Sriwijaya itu tidak mungkin dilokali­ 

sasikan di Ch' aiya. 

Pada tahun 1935 itu pula, Dr. Stutterheim dalam Verslag over 

de gevonden inscripties (Oudheidkundige Vondsten in Palembang door 

F.M. Schnitgen) melokalisasikan Sriwijaya di muara sungai Indragiri, 

tidak di muara sungai Musi di Palembang. Moens beranggapan bahwa 

nama Yava, Yavadvipa (Iabadiou), clan Ch'o-po mula-mula dipakai 

untuk menyebut Semenanjung Melayu. Nenek moyang rakai Sanjaya 

berpindah dari Kunjarakunjadesa di India Selatan ke Kedah. Pada 

tahun 724/8, Sanjaya terdesak oleh Sriwijaya; lari ke Jawa Tengah. 

19 Sriwijaya 

Di Pulau Jawa, Sanjaya mendirikan kerajaan ham. Pada tahun 732, 

mendirikan lingga di atas Gunung Wukir, yang piagamnya hingga 

sekarang terkenal dengan nama piagam Canggal. 

Pada piagam itu, terse hut akan adanya candi Siwa yang didirikan 

di tempat yang hernama Kunjarakunjadesa. Menumt Moens, nama 

Java (]avakya) pada piagam Canggal yaitu  nama pindahan dari 

Yavadwipa sehagai nama Semenanjung Melayu, negara nenek 

moyangnya. 

Orang boleh menerima atau menolak pandangannya. N amun, 

tidak dapat disangkal hahwa pandangannya yaitu  pandangan ham 

yang didasarkan atas berita-berita geografi dan piagam-piagam yang 

ditemukan hingga waktu itu. Prof. Nilakanta Sastri dalam hukunya, 

History of Griwijaya (1949), menolak pandangan itu dan lebih 

cenderung untuk mengikuti pendapat Coed~s. 

Dato' Sir Roland Braddell menerbitkan seri karangan dalam 

jurnal MB.R.A.S. sejak tahun 1935 di hawah judul An Introduction 

to the Study of Ancient Times in the Malay Peninsula and the Straits of 

Malacca. Karangannya termuat dalam volume XIII part 2, vol. XIV 

part 3, vol. XV part 4, vol. XVII part 5, vol. XIX, part l. Karangan 

Roland Braddell ini penting sekali untuk pengetahuan sejarah kuno 

Malaya dalam huhungannya dengan negara-negara tetangganya. 

Penyelidikan itu terutama mengenai Campa dan Kamhoja atau Funan, 

dihagi menjadi Pre-Funan dan Funan. Dalam karangannya yang 

termuat dalam vol. XIX part 1, Roland Braddel menguraikan betapa 

pentingnya penyelidikan Funan dalam huhungannya dengan 

persoalan negara Sriwijaya dan asal usul rajakula Sailendra. Katanya: 

" The whole question of the last days of Funan and its passing into the 

beginning of the Cambodian Empire is worthy of close argument and a 

matter of importance as we shall see when we come to discuss Srivijaya 

and the origin of the Sailendras." 

Karangan-karangannya yang langsung herhuhungan dengan 

sejarah Sriwijaya mulai dengan terhitannya tahun 1941 tersebut di 

atas pada hlm. 28; dilanjutkan sesudah perang mulai tahun 1947 

 13 

sampai 1951, ditutup dengan pembahasan tentang Che-li-fo-che, Mo­ 

lo-yu, and Holing. Ia memusatkan perhatiannya kepada lokalisasi 

nama-nama tempat yang disebut oleh berita-berita Tionghoa dan 

Arab, yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Sriwijaya. 

Lokalisasi itu terutama didasarkan atas pandangan geografi, yang 

diambilnya dari sumber-sumber berita Tionghoa dan Arab; tidak 

semata-mata didasarkan atas kemiripan bunyi seperti yang banyak 

dilakukan oleh para sarjana sejarah hingga sekarang. Ini yaitu  

revolusi berpikir dalam lapangan penyelidikan sejarah, yang 

dipelopori oleh Moens. Ia mengaku jasa-jasa Moens dan menyetujui 

pandangannya. Katanya: "We agree with Mr. Moens that it is wrong to 

disregard in favour of phonetic reasoning the evidence wich are given. We 

agree with him that having ascertained the evidence we must accept it an 

reason from it. Indeed, we would insist most urgently that unless the an­ 

cient geography of Malaysia is determined by a scientific application of 

the fundamental rules of reasoning it will get nowhere." 

Lokalisasi yang berdasar  pandangan geografi ini dengan 

sendirinya menghendaki penelitian segala bahan sejarah yang banyak 

sekali jumlahnya. Justru sebab  itu pandangan itu berharga sekali. 

Karangan-karangan Roland Braddell dalam lapangan ini terbit 

di bawah judul Notes on Ancient Times in Malaya. Dalam vol. XIX 

part 1, ia menyelidiki Yavadvipa, labadiou, Tou-po, Tchou-po, Ye-po­ 

ti. Ia sampai kepada kesimpulan bahwa tempat yang disebut dengan 

pelbagai nama itu ialah pantai barat Kalimantan, yakni Sabah. Nama 

Sabah sekarang hanya dipakai untuk menyebut bagian utara 

Kalimantan. 

Karangannya yang termuat dalam vol XX part 1 menguraikan 

prasejarah zaman kebudayaan batu besar (megalith), batu baru 

(neolith), dan zaman kebudayaan perunggu. Part 2 menguraikan 

zaman besi yang disebutnya The Ancient Beadtrade, kemudian disusul 

dengan Ancient History of South Arabia. Vol. XXII part 1 

membicarakan Tako/a and Kataha dan llangasoka and Kadaram. Vol. 

XXII part 4 tentang P'o-li di bawah judul A Note on Sambas and 

14 Sriwijaya 

Borneo. P'o-li ditempatkan di pantai barat Kalimantan. Identifikasi 

Po-lo dengan Borneo masih memerlukan penyelidikan yang lebih 

mendalam. Vol. XXIII part I tentang Langkasuka and Kedah. Nama 

Langkasuka dalam berita-berita Tionghoa berbunyi: Lang-ya-hsiu 

(Liang Shu: Chiu Tang Shu), Leng-chiau-shu (Hsii Kao Seng 

Chuan), Lang-ya-shu (Sui Shu), Lang-chia-shu (I-ts'ing), Kia-mo­ 

lang-chia (Hstan Chuang), Ling-ya-ssi-kia (Chu Fan Chi), Lang­ 

shi-chia (Wupei-shih). Lokalisasinya di pantai timur Malaya. 

Pusatnya di Patani. Kedah disebut Chieh-ch'a (I-ts'ing), Kia-tcha 

(Ma-tuan-lin), Ko-lo (Chia-Tan), Ki-t'o (Chu Fan Chi), Chi-ta (Wu­ 

pei-shih). 

Ho-lo-tan dilokalisasikan di Patani. Vol. XXIII part 3 

menguraikan Tan-ma-ling and Fo-lo-an. Tan-ma-ling disamakan 

dengan Tambralingga (piagam Candrabhanu), Madalinggam (piagam 

Tanyore), Damalinggam (piagam Tamil), Tan-mei-lieou atau Tan­ 

mi-liu atau Tan-mei-liu (Sung-shih), Tan-ma-ling (Chu Fan Chi). 

Lokalisasi Tembeling di pantai timur Malaya di daerah sungai 

Kuantan. Fo-lo-an terletak di muara sungai Dungun. Pong-fong. 

Tong-ya-nong, dan Ki-Ian-tan tidak banyak menimbulkan kesulitan, 

sebab  nama-nama itu masih digunakan hingga sekarang, yakni 

Pahang, Trengganu, dan Kelantan. Tempat-tempat itu berturut-turut 

terletak di muara sungai Pahang, sungai Trengganu, dan sungai 

Kelantan. Vol. XXIV part I membicarakan Che-li-fo-che, Mo-lo-yu 

dan Ho-ling. Lokalisasi Che-li-fo-che di Palembang, Mo-lo-yu di 

Jambi, dan Ho-ling di pantai barat Kalimantan. 

Meskipun lokalisasi tempat-tempat tidak merupakan pokok 

persoalan peristiwa sejarah, namun lokalisasi itu memberikan 

gambaran tentang wilayah negara yang bersangkutan. Justru sebab  

nama-nama tempat itu kebanyakan terdapat dalam sumber sejarah 

asing, maka ucapan nama-nama itu berbeda dengan nama aslinya. 

Sering kali tempat-tempat itu sudah berubah namanya. Nama yang 

tidak dihubungkan dengan tempat tidak memberikan gambaran yang 

jelas. Apalagi jika lokalisasinya salah, hal itu akan mengakibatkan 

penafsiran yang keliru. Justru sebab  sejarah kuno tentang Sriwijaya 

 15 

sebagian besar disusun berdasar  berita-berita asing, yang terutama 

hanya merupakan catatan pengiriman utusan clan penyebutan nama­ 

nama, maka lokalisasi nama-nama tempat itu perlu sekali. 

Tulisan Moens clan Roland Braddell ini betul-betul penelitian 

kembali sejarah Sriwijaya dari sudut geografi. Lain dari itu, tulisan 

itu banyak diketahui sebelumnya. Oleh sebab  itu, tulisan Moens 

clan Braddell tersebut di atas penting bagi pengetahuan sejarah kuno 

Malaya. 

Hampir bersamaan waktu dengan karangan Moens di atas, telah 

terbit pula dua jilid buku Suvarnadvipa karangan Prof. R.C. 

Majumdar pada tahun 1937 dan 1938. Prof. George Coed~s me­ 

nerbitkan Histoire ancienne des Etats Hindoui s~s dExtreme Orient pada 

tahun 1944. Terbitan itu diperbaharui pada tahun 1948 di bawah 

judul Les Etats Hindouis~ s d'Indo Chine et d'Indon~ sie. 

Prof. K.A. Nilakanta Sastri membukukan kuliahnya, History of 

Grivijaya, yang dilengkapi dengan piagam-piagam yang mempunyai 

hubungan dengan sejarah Sriwijaya, dari piagam Kedukan Bukit 

sampai piagam Candrabhanu pada tahun 1949. Mungkin, piagam­ 

piagam itu disertai terjemahannya dalam bahasa lnggris yang disalin 

dari pelbagai terbitan, sehingga orang yang tidak mengenal bahasa 

piagam-piagam yang bersangkutan dapat sekadar mengikuti 

pembicaraannya. Sebagian dari piagam-piagam itu kami lampirkan 

pula pada terbitan ini, terutama yang tertulis dalam bahasa Tamil, 

Khmer, clan Sanskerta. 

Meskipun terbitan-terbitan itu penting sekali artinya, namun 

tidak ada yang dapat memecahkan persoalan pokok sejarah Sriwijaya 

yang banyak diperdebatkan sebelum pecah Perang Dunia II secara 

memuaskan. Persoalan yang dimaksud ialah persoalan piagam 

Kedukan Bukit, hubungan antara piagam Ligor A clan piagam Ligor 

B, clan hubungan antara rajakula Sailendra dan raja-raja Sriwijaya. 

Mengenai persoalan siddhiy~tra yang masih dipegang teguh oleh 

Prof. Coed~s dalam terbitannya, Les inscriptions Malaises de (rivijayad. 

16 Sriwijaya 

Prof. Nilakanta Sastri sudah mulai meragukan pendapat Coed~s dan 

lebih cenderung untuk mengikuti pendapat Prof. Krom. Bagaimana­ 

pun, yang terbaca ialah jayasiddhay~tra, bukan siddhiy~tra; dan ini 

yaitu  kemenangan terhadap kerajaan Melayu. N amun, ia tidak dapat 

keluar dari persoalan Minanga Tamwa, dan tidak dapat menjelaskan 

dari mana diambilnya kata Malayu yang didasarkan atas bacaan Krom 

yang terang salah. Hubungan antara rajakula Sailendra dan raja-raja 

Sriwijaya masih tetap merupakan persoalan, meskipun berulang kali 

disebutnya nama Balaputradewa pada piagam Nalanda. sebab , 

persoalan bagaimana Balaputra dapat menjadi raja di Sriwijaya tidak 

ada penjelasannya kecuali keterangan yang sudah usang, yakni akibat 

keturunan raja Dharmasetu yang dianggap raja Sriwijaya oleh para 

sarjana sejarah. Apalagi mengenai hubungan antara piagam Ligor A 

dan piagam Ligor B. 

** 

Pada tahun 1947, Dr. F.H.N. van Naerssen menerbitkan sebuah 

karangan dalam India Antiqua berjudul "The Cailendra Interreg­ 

num''. Ringkasan pandangannya demikian. Piagam Kalasan memuat 

dua wangsa, yakni: 1). wangsa Sailendra, 2). wangsa Sanjaya. Dalam 

wangsa Sanjaya termasuk maharaja dyah Pancapana Pangkaran. Ma­ 

haraj a Panangkaran ada di bawah kekuasaan wangsa Sailendra. Dalam 

wangsa Sailendra termasuk Rajasinga dan para guru Sailendra. 

Pandangan van Naerssen ini kemudian menjadi pola pembahasan 

piagam Ligor B oleh Coed~s. Pada piagam Ligor B, Coed~s juga 

melihat dua raj a, yakni raj a Wisnu dan seorang raj a lagi yang bergelar 

maharaja. Menurut anggapannya, raja yang terakhir ini raj a Sailendra 

yang pertama. Rakai Panangkaran dianggap sebagai raja setempat 

yang hanya menerima perintah dari raja Sailendra. Demikianlah, 

pandangan kedua sarjana itu boleh dikatakan sejajar, meskipun piagam 

yang dibahasnya berbeda-beda. 

Sebelum kita membicarakan anggapan van Naerssen, kita teliti 

dahulu piagam Kalasan yang dibahas. Yang dibahas di sini hanya 

pokok-pokoknya saja. Isinya seperti berikut: 

 17 

Pada' 2-3: para guru raja Sailendra mohon kepada ma­ 

haraja dyah Pancapana Panangkaran agar beliau membangun 

candi Tara. Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah 

area Dewi Tara, candinya dan beberapa rumah untuk para 

pendeta yang fasih akan pengetahuan Mahayana Winaya. 

Pada 4-6: para pangkur, tawan, dan tirip menerima 

perintah untuk membuat candi Tara dan perumahan para 

pendeta. Candi Tara didirikan di daerah makmur sang raja 

yang menjadi hiasan rajakula Sailendra untuk kepentingan para 

guru raja Sailendra. Pada tahun Saka 700, maharaja Panangk­ 

aran selesai membangun candi Tara, tempat para guru me­ 

lakukan persembahan. 

Pada 7-10: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur, 

tawan, dan tirip, adyaksa desa, dan para pembesar menjadi 

saksi. Tanah yang dihadiahkan oleh sang raja hams dijaga baik­ 

baik oleh para raja keturunan wangsa Sailendra, oleh para 

pangkur, para tawan, para tirip, dan para pembesar yang bijak 

turun-temurun. Selanjutnya, sang raja berulang kali minta 

kepada semua raj a yang akan memerintah kemudian agar candi 

itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagiaan semua orang. 

Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu diharapkan 

semoga semua orang memperoleh pengetahuan tentang 

kelahiran, memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran 

Jina. Yang mulia kariyana (rakyan) Panangkaran mengulangi 

lagi permintaan beliau kepada semua raja yang akan menyusul 

untuk membina wihara itu dalam keadaan yang sempurna­ 

sempurnanya. 

Demikian itulah terjemahan piagam Kalasan menurut paham 

saya. Kata cailendraraja yang kedapatan dua kali pada piagam tersebut 

1 Catatan editor: Pada, menurut Kamus Besar Bahasa negara kita , yaitu  satuan pola 

tekanan dalam mengukur struktur persajakan. Penggunaan kata pada di sini mengacu 

pada pengertian tersebut. 

18 Sriwijaya 

terang sama dengan maharaja Panangkaran, dan Gailendrar~jaguru 

yaitu  para guru maharaja Panangkaran. Mereka minta kepada sang 

prabu agar beliau mendirikan candi Tara untuk keperluan mereka, 

sebab  mereka pemeluk agama Budha. Permintaan yang demikian 

termakan akal. Apalagi, jika kita mengingat bahwa sebelum rakai 

Panangkaran memegang kekuasaan, yang berkuasa di J awa tengah 

ialah rakai Sanjaya. 

Rakai Sanjaya memeluk agama Siwa. Beliau mendirikan lingga 

di atas gunung Wukir pada tahun 732. Jika kita memerhatikan 

piagam yang terdapat di Gata dekat Prambanan dan Taji Gunung 

dekat Prambanan juga, kedua piagam itu menggunakan perhitungan 

tahun Sanjaya (Sanjayawarsa); masing-masing bertarikh tahun 693 

dan 694 Saka, atau tahun Masehi 771 dan 772 (Oud Javaanse 

Oorkonde XXXV dan XXXVI). Pada piagam Gata, kedapatan nama 

maharaja Daksottamab~hubajra. sebab  kedua piagam tersebut 

menggunakan safijayawarsa, boleh dipastikan bahwa piagam tersebut 

dikeluarkan oleh keturunan raja Sanjaya. Demikianlah, keturunan 

raja Sanjaya memerintah sampai tahun Masehi 772. 

Pembangunan candi Kalasan selesai pada tahun 778. Pemba­ 

ngunan itu makan waktu beberapa tahun, dan dilakukan atas 

perintah raja Panangkaran, keturunan Sailendra dan beragama Budha. 

Dari perbandingan piagam-piagam tersebut dapat disimpulkan 

bahwa Daksottamab~hubajra, keturunan raja Sanjaya, ditundukkan 

oleh Dyah Pancapana Panangkaran, keturunan raja Sailendra, antara 

tahun Masehi 772 dan 778. Pada waktu itu, Sanjayawangsa diganti 

oleh agama Budha Mahayana yang dianut oleh Sailendrawangsa. 

Jelaslah sekarang bahwa Dyah Pancapana Panangkaran bukan 

keturunan Sanjaya. Beliau yaitu  raj a Sailendra yang pertama di J awa 

Tengah yang menggantikan Sanjayawangsa. Andaikata beliau 

keturunan raja Sanjaya, pasti beliau akan juga menggunakan per­ 

hitungan tahun Sanjaya seperti nyata pada piagam O.J 0. XXXV 

dan XXXVI tersebut di atas. 

 19 

Dengan bukti di atas, teori van N aersen yang memasukkan 

maharaja Panangkaran dalam Sanjayawangsa tidak dapat diper­ 

tahankan. Kerajaan Siwa yang dikendalikan oleh raja Sanna, kemudian 

dilanjutkan oleh raja Sanjaya, berakhir pada tahun-tahun antara 772 

dan 778 dengan timbulnya kerajaan Budha yang dikendalikan oleh 

wangsa Sailendra maharaja Pancapana Panangkaran. Kerajaan Siwa 

itu akan timbul kembali dan dilanjutkan pada masa pemerintahan 

maharaja Pikatan alias Jatiningrat. Tidaklah aneh bila pembangunan 

candi Tara dimaksud pula sebagai lambang kemenangan wangsa 

Sailendra terhadap wangsa Sanjaya. 

Pendapat van Naersen yang mengemukakan adanya dua wangsa 

pada piagam Kalasan dan memasukkan rakai Panangkaran dalam 

wangsa Sanjaya disambut baik oleh Prof. Vogel sebagai pembuka 

pintu ke arah penyelesaian persoalan Sriwijaya-Sailendra. Pendapat 

itu kiranya timbul akibat salah tafsir mengenai isi piagam Kalasan. 

Piagam Canggal Sanjaya menyebut nama tempat Kunjarakunja. 

Penyebutan itu menunjukkan adanya hubungan antara wangsa 

Sanjaya dan India Selatan dalam soal agama, atau mungkin sekali 

juga dalam asal usul nenek moyangnya. Pada masa pemerintahan 

rajakula Sailendra, termasuk rakai Panangkaran yang menyebut 

dirinya hiasan rajakula Sailendra, hubungan agama itu tidak dengan 

India Selatan tetapi dengan Benggala. 

Pada piagam Kelurak dari tahun 782, terbukti bahwa upacara 

pembukaann area Manjusri dipimpin oleh Sailendrarajagur Kuma­ 

ragosha dari Gaudadwipa. Hubungan agama di Jawa dan Sumatra 

pada masa pemerintahan rajakula Sailendra terutama dengan Beng­ 

gala sebagai pusat agama Budha Mahayana. Kumaragosha yaitu  

seorang pendeta Budha dari Benggala. Raja Dewapala yang 

mengeluarkan piagam Nalanda atas permintaan Balaputradewa dari 

Sriwijaya juga raja Benggala, yang pusat kerajaannya terletak di Pata­ 

liputra. Beliau memerintah antara tahun 794 dan 839. Pada per­ 

kembangan kerajaan Sailendra, tingkat mula hubungan agama di­ 

lakukan oleh rakai Panangkaran dengan raja Dharmapala yang 

memerintah antara tahun 758 dan 794. 

90 Sriwijaya 

Kumaragosha hid up pada masa pemerintahan raj a D harmapala 

ini. N ama Sri Dharmasetu yang tercatat pada piagam Kelurak kiranya 

sama dengan Sri Dharmasetu, yang menjadi nenek Balaputra pada 

piagam Nalanda. Telah terbukti pula bahwa Balaputradewa semasa 

kecil hidup di Jawa Tengah. Dharmasetu harus juga berasal dari Jawa 

Tengah pada akhir abad ke-8 dan mempunyai sekadar hubungan 

dengan raja Sailendra, yang menyebut dirinya Dharanindra. 

Pada tahun 1950, Prof. Coed~s menerbitkan karangannya, Le 

Gailendra 'tueur des h~ros ennemis'', yakni Sailendra pembunuh 

pahlawan-pahlawan lawannya. Karangan itu termuat dalam Bingki san 

Budi, kumpulan karangan-karangan para sarjana bekas murid dan 

kawan untuk menghormati Prof. van Ronkel yang mencapai usia 80 

tahun. 

Karangan Coed~s tersebut yaitu  usaha baru untuk memecahkan 

persoalan hubungan piagam Ligor Adan B, terdorong oleh karangan 

Bosch dari tahun 1941, dalam T.B. G. deel LXXXI hlm. 26 dst. 

Dalam karangan itu, Dr. F.D.K. Bosch menyamakan Samaratungga 

pada piagam Karang Tengah dengan rakai Panunggalan pada piagam 

Kedu, dan kemudian dengan Samaragrawira pada piagam Nalanda, 

yakni ayah Balaputra. Penyamaan itu masih lebih lanjut lagi. Ia 

menyamakannya dengan Wisnu pada piagam Ligor B. 

Teori Bosch ini terang tidak dapat dipertahankan lagi setelah 

terbitnya karangan De Casparis tentang piagam Balaputra-Jati­ 

ningrat, A Metrical Old Javanese Inscription Dated 856 A.D. Namun, 

penyamaan Samaratungga dan Samaragrawira ini hingga sekarang 

masih tetap dipertahankan. Sudah barang tentu, kedua itu mirip 

sekali, sebab  kedua-duanya mulai dengan Samara. Yang berbeda 

hanya akhirannya. Boleh dipastikan bahwa Balaputradewa mengenal 

nama Samaratungga pada piagam Karang Tengah dan Smaragrawira 

sebagai nama ayah beliau, sebab  Balaputra baru pada pertengahan 

abad ke-9 meninggalkan Jawa Tengah. 

Andaikata Samaratungga itu memang benar sama dengan Sama­ 

ragrawira, timbul pertanyaan: Mengapa piagam N alanda Balaputra 

 91 

tidak menyebut Samaratungga saja? sebab  kedua nama itu berbeda, 

kiranya memang nama dua orang yang berlain-lainan pula. Sama­ 

ragrawira yaitu  nama rakai Warak; Samaratungga yaitu  nama rakai 

Garung. Dengan kata lain, Samaratungga yaitu  putra Samaragrawira 

dan kakak Balaputra. Samaratungga yaitu  putra sulung yang mem­ 

punyai hak mewaris takhta kerajaan. Balaputra yaitu  putra bungsu 

sebab  namanya memang berarti demikian. (vala: ekor; putera: anak) 

Samaratungga terbukti tidak mempunyai putra laki-laki. Beliau 

hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawardani, permaisuri 

rakai Pikatan. Balaputra, sebagai putra laki-laki Samaragrawira, 

mengira berhak pula menggantikan Samaratungga yang tidak 

berputra laki-laki. Timbullah sebab nya sengketa antara Balaputra 

dan Jatiningrat yang membela hak permaisurinya. Hal ini lebih 

termakan akal daripada anggapan bahwa Balaputra yaitu  adik 

Pramodawardani. 

berdasar  anggapan yang terakhir ini, Balaputra mempunyai 

hak lebih besar atas takhta kerajaan daripada Pramodawardani. Per­ 

nyataan Balaputra, seperti yang tertera pada piagam Nalanda, me­ 

rupakan pernyataan persahabatan dengan raja Dewapaladewa untuk 

sekadar minta bantuan dalam merebut kembali hak menjadi raja di 

Mataram. Tafsiran yang demikian dapat dipahami sepenuhnya. 

Sengketa antara Balaputra dan J atiningrat kiranya terutama mengenai 

perebutan kekuasaan antara Balaputra dan Pramodawardhani, sepe­ 

ninggal rakai Garung alias Samaratungga. Dalam hal ini, J atiningrat 

sesungguhnya sebagai menantu ada di luar sengketa, namun sebab  

membela kepentingan istri, turut terlibat. Tentang hal ini akan kita 

bahas lebih lanjut dalam bab "Piagam Nalanda. 

Dalam usaha menyamakan Samaratungga dengan Samarag­ 

rawira, dengan sendirinya tidak dilupakan penyamaan epipeton yang 

terdapat pada piagam Keluran vairivarav~ravimardana dan yang 

terdapat pada piagam N alanda v~ravairimanthana. 

Prof. Coed~s tidak lupa menyebut karangan F.H.N. van Naersen 

dalam India Antiqua yang telah disinggung di atas. Juga, Coed~s 

99 Sriwijaya 

melihat adanya dua raja pada piagam Ligor B seperti van Naerssen 

melihatnya pada piagam Kalasan. Coed~s sekali lagi meneliti piagam 

Ligor B. Pembetulan vapusmn dan dvitiyas oleh Coed~s telah 

dilakukan lebih dahulu oleh Glihabra dan Nilakanta Sastri; 

prabha(va) diganti dengan prabhu sesuai dengan pendapat Paul Mus. 

Yang penting dalam penelitian kembali ini ialah perbedaan 

tafsiran Coed~s dengan sarjana-sarjana lainnya. Coed~s berpendapat 

bahwa pada piagam Ligor B, tersebut dua nama raja. Yang pertama 

ialah raja Wisnu, yang disamakannya dengan Wisnuwarman pada 

cincin Perak. Yang kedua ialah raja yang mempunyai epiteton sarvvad­ 

rimadavi(ma)thana, yakni pembunuh musuh perwira. Aksara tha 

terdapat antara vi dan nar;. Tambahan ma disebabkan sebab  untuk 

keperluan metrik yang kurang satu suku pendek. Paralelisme penye­ 

butan dua raja itu, menurut Coed~s, ditunjukkan dengan pemakaian 

kata ganti penunjuk 2 x, yakni yosau dan asau yah, dan lebih-lebih 

oleh perlawanan ekas dan dvitiyas. Terjemahan Coed~s itu lalu kita 

bandingkan dengan terjemahan Chhabra. 

Coed~s: Ce premier, roi des rois, qui par son ~clat personnel est 

comparable au soleil dissipant la nuit constitu~ par la troupe de tousses 

ennemis, qui ressemble par sa beaut~ charmante a la lune d'automne 

sans tache, qui a l'aspect de Kama incarn~, a pour nom Visnu; - et ce 

second qui par son ~nergie personnelle d~truit sans exception tous 

ses arrogants ennemis, en consequence de la mention de son origine, 

le (ailendravam~a, a pour nom (ri Mahar~ja. 

Chhabra: He, who is the supreme king of kings, who through his 

energy alone comparable to the sun for dispelling the darkness in the 

shape of the hosts of all his foes, who in charming beauty is the very, 

spotless autumnal moon, and is like Cupid in person, who is called 

Visnu who entirely (annihilates) the pride of all his opponents, and 

who with regard to his prowess is without a second, that self-name is 

known by the appellation of (ailendravam~aprabhu and bears the 

title of (ri Mahar~ja. 

Terhadap paralelisme penyebutan dua raja yang dikemukakan 

oleh G. Coed~s, saya menaruh keberatan gramatikal seperti nyata 

dalam pembahasan di belakang. Dengan sendirinya lalu timbul 

 93 

perbedaan tafsiran. Coed~s mempertentangkan kata ekas dan dvitiyas. 

Menurut anggapan saya, hal itu tidak mungkin dipertentangkan, 

sebab  yang tertera di situ yaitu  ekas, bukan prathama. Mengenai 

pemakaian kata penunjuk (ganti diri) yo'asau dan asau yah dalam 

bahasa Sanskerta yaitu  soal biasa; tidak mengandung pretensi untuk 

menyatakan perbedaan apa-apa. 

Coed~s sampai kepada kesimpulan, bahwa raja Wisnu yang 

dikatakan raja yang pertama pada piagam Ligor B sama dengan raja 

yang menyebut dirinya (rivijayendarja, Crivijayesvarabhupati, dan 

(rivijayanr~pati pada piagam Ligor A. Jadi, beliau memerintah pada 

tahun 775. Raja yang kedua yang bergelar Sri Maharaja yaitu  putra 

raja Wisnu. Setelah kawin dengan putri dari Funan, dari keluarga 

Somawangsa, [ia] menjadi raja Sailendra yang pertama dan 

menurunkan raja-raja Sailendra di Mataram. Tetapi Coed~s sendiri 

mengakui bahwa anggapan itu tidak berdiri di atas bukti-bukti yang 

kuat. Katanya: 

J'ai formul~ plus haut, avec les plus expresses r~serves, une 

hypoth~se sur l'origine de ce (ailendra, le premier que nous fasse 

cona~tre l'epigraphie. Sil venait ~ ~tre prouv~ qu'il etait fils du roi 

Visnu, et que ce dernier est identique au roi de <,;rivijaya de la fase A 

de la st~le de Ligor (deux hypotheses aux quelles manque pour le 

moment une base solide), ii faudrait admettre, soit que ce (ailendra 

r~gnait aussi ~ Sumatra, ce qui n'accorde pas avec le temoignage de 

la chartre de Nalanda, soit que le tr~ne de (rivijaya appartenait ~ son 

p~re Visnu encore vivant, ou un fr~re. Ce ne serait que son petit fils 

Balaputra qui aurait definitivement assis a Sumatra la puissance des 

(ailendra. 

Coed~s beranggapan bahwa raja Sailendra yang pertama itu sama 

dengan Dharanindra pada piagam Kelurak, memerintah Jawa Tengah 

dan menyuruh raja setempat Pancapana Panangkaran membangun 

kembali candi Kelurak. Panangkaran pada piagam Kalasan diang­ 

gapnya sebagai pengganti rakai Sanjaya. 

Kesimpulan selanjutnya tidak cocok, baik dengan teori Krom 

tentang "pemerintahan Sriwijaya terselundup dalam sejarah Jawa'' 

94 Sriwijaya 

maupun dengan teori Stutterheim ten tang "pemerintahan Jawa dalam 

sejarah Sumatra. Yang ada ialah masa pemerintahan rajakula Sailen­ 

dra keturunan raja Semenanjung dan putri Funan pada penghabisan 

abad ke-8 dan permulaan abad ke-9. 

Coed~s menganggap maharaja Panangkaran sebagai pengganti 

raja Sanjaya, dan sebagai raj a setempat yang menerima perintah dari 

Dharanindra, yakni raja Sailendra yang pertama di negara kita . Yang 

terang ialah bahwa maharaja Panangkaran, menurut piagam Kalasan, 

telah memegang pemerintahan pada tahun 778 dan bergelar maha­ 

raja, menjadi hiasan rajakula Sailendra. lnilah pernyataan tentang 

adanya raja Sailendra yang pertama kali dan yang terang mempunyai 

tarikh tahun. Jika Wisnu, menurut Coed~s, yaitu  ayah raja Sailendra 

yang pertama dan sama dengan (rivijayanr~pati pada piagam Ligor 

A, maka piagam Ligor B harus dikeluarkan sesudah tahun 775. 

Bolehlah diduga bahwa pada tahun 775, seperti telah saya kemukakan 

di atas, maharaja Panangkaran telah memegang kekuasaan di Jawa 

Tengah. Penobatannya menjadi raja berlangsung lebih dahulu 

daripada peresmian pembangunan candi Kalasan pada tahun 778. 

Demikianlah anggapan Coedes terbentur kepada kronologi. 

Teori Coed~s itu pada pokoknya diterima baik oleh Prof. Dr. 

F.D.K. Bosch dalam terbitannya, (rivijaya, de (ailendra en de 

Sanjayawam~a, termuat dalam B.KI. 108 tahun 1952. Ini berarti 

bahwa Bosch telah melepaskan anggapannya pada tahun 1941. Jika 

pandangan Coed~s itu diteliti benar-benar, ternyata bahwa pan­ 

dangannya sangat goyah, terbentur pada pelbagai kesulitan. Namun, 

harus diakui bahwa usahanya sangat berharga untuk perkembangan 

pengetahuan sejarah Sriwijaya. 

Pada tahun 1952 itu juga, terbit karangan Prof. Dr. Poerba­ 

tjaraka, Riwayat negara kita , jilid I. Yang kedua tidak pernah menyusul. 

Pro£ Poerbatjaraka dalam bukunya tersebut banyak membicarakan 

piagam-piagam Sriwijaya. Pendapatnya yang baru ialah: 1. Lokalisasi 

K~njara-kuiijade~a pada piagam Canggal, yang disamakannya dengan 

desa Sleman di daerah Yogyakarta; 2. Lokalisasi Mo-ho-sin pada I­ 

ts'ing, yang ditempatkannya di Jawa Barat. 

 95 

Lokalisasi Mo-ho-sin oleh Prof. Poerbatjaraka semata-mata di­ 

dasarkan atas kesamaan bunyi dengan nama-nama yang serupa yang 

terdapat pada piagam-piagam tanpa memperhitungkan faktor geografi 

pelayaran pendeta 1-ts'ing. Pendeta I-ts'ing tidak pernah belajar sam­ 

pai pulau Jawa. Uraiannya mengenai Sriwjaya lebih lanjut termuat 

dalam Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I pada tahun 

1958. 

Piagam Sriwijaya dibagi menjadi dua, yakni piagam dengan 

sebutan punta (yakni dapunta hyang) dan sebutan maharaja. Yang 

penting dalam rangkaian ini ialah golongan piagam yang terakhir. 

Katanya: 

Batu tulis yang belum memuat sebutan maharaja itu dari zaman 

sebelum Sriwijaya menyerang pulau Jawa. Kemudian, tanah Jawa 

diserang dan dapat dikalahkan; kerajaan diserahkan kepada Sriwijaya. 

Sanjaya lari ke daerah pegunungan. Di situ Sanjaya menyiapkan diri 

untuk membalas. Sanjaya berhasil mengalahkan Sriwijaya di bawah 

anak Melayu tulen. Setelah seorang keturunan Sanjaya dinobatkan di 

Sriwijaya, batu tulis Sriwijaya memuat sebutan maharaja dari keturunan 

Sailendra. 

Adapun maharaja keturunan Sailendra yang tersebut dalam 

prasasti Kalasan, menurut keyakinan saya, ialah rakai Panangkaran. 

Kalau dikatakan bahwa rakai Panangkaran itu cuma diperintah saja 

oleh raja yang tidak disebut namanya, hal itu tidak tepat ... 

Setelah Sriwijaya ada di bawah kekuasaan keluarga Sailendra, 

rajanya tinggal di tanah Jawa. Rakai Panangkaran disuruh pindah ke 

Sriwijaya. sebab  rakyatnya beragama Budha, [ia] diminta oleh 

ayahnya, raja Sanjaya, untuk memeluk agama Budha. Kemudian [ia] 

didesak oleh pendeta-pendeta dari Koja untuk menyerang tanah Jawa, 

di mana bertakhta seorang kaumnya sendiri. Peperangan ini tercantum 

dalam cerita Aji Saka. Seterusnya, rakai Panangkaran menjadi raja 

Sriwijaya, berkedudukan di Jawa, dan saudaranya melarikan diri ke 

Dinaya (Malang), yaitu raja Dewashimha. 

Uraian Prof. Poerbatjaraka di atas menarik perhatian, namun 

hubungan peristiwa belum ada pembuktiannya. Misalnya, adakah 

rakai Panangkaran itu memeluk agama Budha sebab  disuruh Sanjaya 

untuk memerintah Sriwijaya, sebab  rakyat Sriwijaya beragama 

96 Sriwijaya 

Budha? Adakah sudah pasti bahwa rakai Panangkaran itu menjadi 

raja Sriwijaya? Adakah hubungan antara ratu Sanjaya dan rakai 

Panangkaran betul sebagai ayah dan putra? Semuanya masih me­ 

rupakan tanda tanya, merupakan persoalan yang pemecahannya 

menghendaki bukti-bukti. 

Terbitan sesudah Perang Dunia II yang benar-benar sekadar 

memberikan pemecahan salah satu soal sejarah Sriwijaya ialah terbitan 

Dr. J. G. De Casparis Prasasti negara kita  I, II. Dalam hubungan ini, 

bagian yang terpenting ialah pasal XI tentang piagam Jatiningrat­ 

Balaputra yang terbit di bawah judul "A Metrical Old Javanese Inscrip­ 

tion Dated 856 A.D. Penyelidikannya tentang piagam Jatiningrat­ 

Balaputra ini penting sekali artinya untuk pemecahan soal hubungan 

antara rajakula Sailendra dan Sriwijaya pada pertengahan abad ke-9. 

Piagam terse but mempunyai tarikh tahun Saka wualung gunung sang 

wiku (tahun Saka 778) atau tahun Masehi 856, tertulis dalam bentuk 

kawya (kakawin) dalam bahasa J awa kuno. Hingga sekarang, kakawin 

tersebut yaitu  kakawin J awa kuno yang tertulis. Isinya seperti berikut: 

Pada 1--9: seorang raja bernama Jatiningrat memeluk agama 

Siwa, berbeda dengan sang permaisuri. Justru dalam bagian itu 

tersebut nama Balaputra dalam pada7. Balaputra menimbun ratusan 

batu untuk dijadikan benteng pertahanan dan tempat bersembunyi 

dalam peperangan dengan J atiningrat. Beliau mengambil nama 

Brahmana (yakni Jatiningrat) dan memberikan keraton di medang 

di daerah Mamrati. Sesudah itu beliau mengundurkan diri sebagai 

raja dan menyerahkan pemerintahan kepada Dyah Lokapala. 

Rakyatnya terbagi atas empat asrama, masing-masing dikepalai oleh 

seorang brahmana. 

Pada 10-13: sang raj a bersiap-siap untuk mengadakan upacara 

kematian. Rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil. Beliau merasa 

malu bahwa dusun Iwung pernah menjadi medan pertempuran. 

Setelah beliau beroleh kekuasaan dan kekayaan, lalu mendirikan candi 

makam. Beliau menghimpun pengetahuan dharma dan adharma. 

Tidak ada orang yang berani melawan. Sang raja mendirikan halu, 

 97 

yakni lingga. Semua orang turut menyumbang untuk pembangunan 

lingga yang sangat indah itu. 

Pada 14-17: tentang keadaan lingga yang didirikan. Di pintu 

ada area penjaga yang gagah berani untuk menjaga keamanan dan 

keselamatan bangunan. Di pintu masuk didirikan dua bangunan 

yang berbeda-beda bentuknya. Di dalam daerah lingga itu, ditanam 

pohon tanjung dan didirikan rumah-rumah kecil untuk para pertapa. 

Pokoknya, bangunan itu indah sekali. 

Pada 18-23: ruang bangunan yang terindah dipakai untuk yang 

diperdewa. Para pengunjung dan penyembah berderet-deret dengan 

hormat dan tenang. Semua orang diminta datang bersembah. Pada 

hari peresmiannya, rakyat datang menyaksikannya. 

Pada 24-29: peresmiannya dilakukan pada tahun Saka 778 hari 

11 dari bulan terang, Selasa Wage. Sesudahnya ban