Tampilkan postingan dengan label Sriwijaya 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sriwijaya 5. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 5

 




ikan itu belum menutup kemungkinan lokalisasi 

pusat kerajaan Sriwijaya di sekitar Telaga Batu di daerah Palembang. 

Justru sebab  pada piagam Telaba Batu itu terdapat nama-nama 

jabatan yang mempunyai hubungan erat dengan pucuk pemerin­ 

tahan (pemerintahan pusat), berbeda dengan yang terdapat pada 

piagam persumpahan Karang Brahi clan Kota Kapur, maka saya lebih 

cenderung untuk melokalisasikan pusat kerajaan Sriwijaya di sekitar 

Telaga Batu. Keterangan itu diuraikan di bawah. 

Meskipun piagam persumpahan Telaga Batu itu senapas dengan 

piagam persumpahan Karang Brahi clan Kota Kapur, namun 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 197 

redaksinya berbeda. Redaksi piagam kota Kapur dan Karang Brahi 

boleh dikatakan sama. Yang saya maksud ialah orang-orang yang 

disebut dalam persumpahan, sesudah bagian awal yang menguraikan 

Tandrun Luah dan Kandra Kayet. Apa yang disebut piagam Telaga 

Batu berbeda dengan apa yang disebut pada piagam Karang Brahi 

dan Kota Kapur. Perbedaan redaksi ini menimbulkan pertanyaan: 

Apa sebabnya berbeda? Menurut paham saya, tiap pengeluaran 

piagam harus mengingat untuk siapa piagam itu dikeluarkan. Betul, 

bahwa ketiga piagam persumpahan itu menyangkut seluruh lapisan 

masyarakat di wilayah Sriwijaya. Namun, susunan lapisan masyarakat 

di pusat kerajaan berbeda dengan susunan masyarakat di kota kecil 

atau di dusun. 

Di desa, terang tidak ada rajaputra atau bupati. Oleh sebab  

itu, nama jabatan rajaputra dan bupati tidak akan disebut pada 

piagam yang diperuntukkan bagi masyarakat desa. Penyebutan 

pelbagai jabatan pada piagam tersebut dialamatkan kepada masyarakat 

di mana terdapat pemegang jabatan-jabatan yang bersangkutan. Batu 

piagam itu dengan sendirinya dipasang di tempat yang didiami oleh 

pelbagai pejabat tersebut. 

Piagam persumpahan yang memuat nama jabatan tinggi itu 

ditemukan di Telaga Batu. Mungkin sekali, memang sejak semula 

piagam itu ditempatkan di situ. Tidak ada orang yang dapat menga­ 

takan, dari mana asal batu piagam tersebut. Kesimpulannya ialah 

bahwa tempat di sekitar Telaga Batu pada akhir abad ke-7 didiami 

oleh rajaputra, bupati, senapati, dandanayaka, dan sebagainya. Jabat­ 

an-jabatan ini yaitu  jabatan tinggi dalam pemerintahan. Pejabat­ 

pejabat tinggi seperti itu tinggal di sekeliling raja; dengan kata lain, 

tinggal di ibu kota. 

Lebih jelas lagi jika kita membaca baris 9 sampai 11. Di situ 

diuraikan, barangsiapa memberi tahu kepada bini haji tentang 

keadaan di dalam rumah, dan membujuknya untuk mengambil 

barang emas-emasan atau bersekutu dengan para pekerja di dalam 

rumah, akan termakan sumpah. Yang dimaksud dengan bini haji 

198 Sriwijaya 

ialah istri raja yang bukan permaisuri. Yang dimaksud dengan rumah 

ialah istana raja. Mungkin sekali, tidak semua bini haji tinggal di 

dalam keraton, sehingga ada kemungkinan bahwa bini haji tidak 

tahu keadaan di dalam. Terutama bini haji yang tinggal di luar. Para 

pekerja di dalam istana tentu mengetahui seluk beluk keraton. Barang 

siapa bermaksud jahat terhadap raja, ia akan bersekutu dengan 

mereka. Bagaimanapun, bini haji tinggal di sekitar istana, setidak­ 

tidaknya di dalam atau di sekitar ibu kota yang didiami oleh raja. 

Pada baris 11 terdapat kata kadatuan. De Casparis memberi 

tafsiran, bahwa kata kadatuan ini sama dengan kata J awa kadaton, 

keraton, yakni: istana raja. Yang berarti wilayah datu ialah pardatuan 

atau pardatvan. 

Ucapan-ucapan di atas memberikan kesan, bahwa istana raja 

terdapat di sekitar tempat bertegak batu persumpahan Telaga Batu. 

Jika analisis di atas itu benar, maka kesimpulannya ialah bahwa ibu 

kota kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 yaitu  kota Palembang 

sekarang. Tegasnya, terletak di sekitar Telaga Batu. 

EM. Schnitger antara tahun 1935 dan 1936 dalam penggalian 

di Telaga Batu memperoleh timbunan-timbunan bata. Batu-batu 

siddhayatra banyak kedapatan di situ. Mungkin timbunan bata itu 

bukan bekas keraton, melainkan bekas wihara yang didirikan di situ. 

Oleh sebab  itu, kita masih hams berusaha mencari di mana kiranya 

letak keraton Sriwijaya. 

sebab  telah diambil kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya 

ada di sekitar Telaga Batu di kota Palembang, dengan sendirinya kita 

beranggapan bahwa yang disebut sungai Fo-shih oleh I-ts'ing ialah 

sungai Musi. Penyebutan yang demikian biasa sekali. Bagian sungai 

yang mengalir melalui suatu kota disebut oleh penduduk dengan 

nama kota yang bersangkutan. Sungai Brantas, jika telah masuk kota 

Surabaya, disebut kali Surabaya. Ibu kota Sriwijaya dilalui oleh sungai 

Sriwijaya yang disebut oleh I-ts'ing sungai Fo-shih. Sungai itu ialah 

sungai Musi zaman sekarang. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 199 

Menurut penyelidikan geomorfologi yang dilakukan oleh saudara 

Drs. Sukmono pada abad ke-7, kota Palembang terletak di pantai 

laut pada ujung jazirah. Nama Palembang pada waktu itu belum 

dikenal. N ama itu baru dikenal pada abad ke-13 dalam Chu-fan-chi 

dan sejarah Ming. Seperti telah disinggung di muka dalam Ying­ 

yang-sheng-lan (tahun 1416), kota itu disebut Po-lin-pang. 

Mungkin nama itu telah ada pada abad ke-7, tetapi nama itu 

tidak digunakan untuk menyebut kota yang bersangkutan. Kota yang 

bersangkutan disebut oleh berita-berita Tionghoa dan oleh I-ts'ing, 

Shih-li-fo-shih, dan pada piagam Sriwijaya yang paling tua, yakni 

piagam Kedukan Bukit tahun 683, Sriwijaya. Nama kota Palembang 

jelas berasal dari kata Sanskerta palimbang(a): breaking of the margin, 

breaking of the edge. Sudah terang bahwa muara sungai Musi termasuk 

wilayah Sriwijaya yang digunakan sebagai pelabuhan Sriwijaya. Pada 

muaranya terdapat tempat yang disebut Shih-li-fo-shih, yakni 

Sriwijaya alias Palembang zaman sekarang. 

Pada waktu pendeta I-ts'ing mengunjungi Sriwijaya, agama 

Budha di kerajaan Sriwijaya sedang berkembang. Dikatakan bahwa 

di ibu kota yang dikelilingi oleh benteng, terdapat lebih dari 1.000 

pendeta Budha; semuanya rajin mencurahkan perhatiannya kepada 

ilmu dan mengamalkan ajaran Budha. Mereka melakukan penyeli­ 

dikan dan mempelajari ilmu yang ada pada waktu itu, tidak ada 

bedanya dengan Madhya-de~a di India. Aturan-aturan dan upacara 

keagamaan sama sekali tidak berbeda. Oleh sebab  itu, dianjurkannya 

bila ada pendeta Tionghoa yang ingin pergi ke India untuk mengikuti 

ajaran-ajaran dan membaca teks-teks asli, ada baiknya mereka itu 

tinggal di Sriwijaya dua-tiga tahun dahulu untuk berlatih sebelum 

berangkat ke India Tengah. Demikianlah keadaan pusat kerajaan 

Sriwijaya pada akhir abad ke- 7 menurut uraian I-tsing. Dengan jelas 

dinyatakan bahwa ibu kota Sriwijaya dikelilingi benteng. 

Kerajaan Melayu dan Sriwijaya 

Berita yang tertua mengenai kerajaan Melayu berasal dari T'ang­ 

hui-yao yang disusun oleh Wang-p' u pada tahun 961 pada masa 

130 Sriwijaya 

pemerintahan dinasti T'ang, dan dari Hsin T'ang Shu yang disusun 

pada awal abad ke-7 pada masa pemerintahan dinasti Sung atas 

dasar sejarah lama, yang terdiri dari T'ang-hui-yao seperti tersebut di 

atas dan Tse-fu-yuan-kuei susunan Wang-ch'in-jo dan Yang I antara 

tahun 1005 dan 1013. Menurut berita itu, kerajaan Melayu mengi­ 

rimkan utusan ke Tiongkok pada tahun 644/645. Pengiriman utusan 

ke Tiongkok oleh kerajaan Melayu pada abad ke-7 hanya tercatat 

satu kali itu saja. Selama itu, yang tampak di istana, kaisar utusan 

dari kerajaan Sriwijaya yang disebut Shih-li-fo-shih. 

Dalam Hsin T'ang Shu, tercatat bahwa kerajaan Shih-li-fo-shih 

mengirim utusan ke Tiongkok pada mangsa waktu 670-673 dan 

713-741. Sejak itu, utusan Shih-li-fo-shih tidak lagi kedengaran. 

Pada masa pemerintahan rajakula Sung, negeri dn laut Selatan yang 

namanya San-fo-ts'i mengirim utusan ke Tiongkok berkali-kali. Sung 

Shih mencatat kedatangan utusan itu pada tahun 960, 962, 971, 

972, 974, 975, 980, 983, 985, dan 988. Utusan yang terakhir ini 

tinggal di Kanton sampai tahun 990 sebab  mendengar bahwa 

negerinya, San-fo-ts'i, sedang diserang oleh tentara dari Cho-p'o. 

Jika kita memerhatikan berita tentang utusan kerajaan Melayu 

yang tercatat dalam T'ang-hui-yao, dan membandingkannya dengan 

berita tentang utusan kerajaan Sriwijaya yang terdapat dalam Hsin 

T'ang Shu, maka terdapat kepastian bahwa kerajaan Melayu telah 

berdiri pada tahun 644/645. Pada waktu itu, kerajaan Sriwijaya 

belum mengirimkan utusan ke Tiongkok. Kepastian berdirinya 

negara Sriwijaya barn pada tahun 670, ketika negara itu mengirimkan 

utusan yang pertama kali ke Tiongkok. Sejak timbulnya kerajaan 

Sriwijaya, negeri Melayu tidak lagi mengirim utusan ke Tiongkok. 

Demikianlah, dapat dipastikan bahwa negeri Melayu lebih dahulu 

berdiri daripada Sriwijaya. Berdassarkan berita tersebut, pengiriman 

utusan ke Tiongkok oleh kedua kerajaan tersebut berselisih 25 tahun. 

Pertanyaan yang timbul ialah: Mengapa kerajaan Melayu tidak 

lagi mengirim utusan sejak timbulnya kerajaan Sriwijaya? J awaban 

atas pertanyaan itu diberikan oleh pendeta I-ts'ing dalam bukunya, 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 131 

Memoire dan Record, yang menyatakan bahwa kerajaan Melayu telah 

menjadi bagian Sriwijaya. Tiap kali ia menyebut nama kerajaan 

Melayu, selalu dibubuhi keterangan: yang sekarang telah menjadi 

bagian Sriwijaya. 

Pada bulan 11 tahun 671, I-ts'ing berangkat menurutkan bin­ 

tang Yi dan Chen, meninggalkan Kanton menyusur pantai ke arah 

selatan. Waktu berpisah dengan bin tang Chi, dua layar yang masing­ 

masing panjangnya lima helai kain kampas melampai-lambai. Kapal 

meninggalkan sisi utara yang kegelap-gelapan, mengarungi lautan, 

menerjang gelombang besar-besar setinggi gunung. Sesudah hampir 

20 hari berlayar, kapal sampai di pelabuhan Sriwijaya. Di Sriwijaya 

ia mendarat dan menetap selama enam bulan untuk belajar Sabda­ 

vidya, yakni tata bahasa Sanskerta. Atas bantuan raja Sriwijaya, 

kemudian ia berangkat ke pelabuhan Melayu, yang sekarang menjadi 

bagian Sriwijaya. 

Keterangan tambahan itu harus ditafsirkan bahwa pendeta I­ 

ts'ing pernah menyaksikan negeri Melayu sebagai kerajaan merdeka. 

Kedatangan I-ts'ing yang pertama kali di Sriwijaya ialah pada akhir 

tahun 671. Setelah enam bulan menetap di Sriwijaya untuk belajar 

tata bahasa Sanskerta, dengan bantuan raja Sriwijaya ia berlayar ke 

pelabuhan Melayu untuk melanjutkan perjalanannya ke Nalanda. 

Jadi, pada tahun 671 kerajaan Melayu masih merdeka. Tetapi 

dalam Record dan Memoire, setiap kali ia menyebut nama kerajaan 

Melayu selalu dibubuhi keterangan bahwa kerajaan itu "sekarang 

menjadi bagian Sriwijay. Record dan Memoire ditulis oleh I-ts'ing 

di kerajaan Sriwijaya sesudah ia pulang dari Nalanda tahun 685. 

Demikianlah, penundukan kerajaan Melayu itu harus terjadi sebelum 

I-ts'ing menjelaskan bukunya, Record and Memoire. Kita tetapkan 

dahulu bila kedua karya itu ditulis oleh I-ts'ing. 

berdasar  salah baca mengenai nama yang terdapat pada 

piagam Kedukan Bukit akhir baris 7, Krom menganggap bahwa 

piagam Kedukan Bukit mempunyai hubungan dengan penundukan 

139 Sriwijaya 

kerajaan Melayu. Dugaan itu didasarkan terutama pada berita I­ 

ts'ing tentang negeri Melayu dalam Record and Memoire. 

De Casparis menaruh banyak keberatan terhadap pendapat 

Krom itu. Bahwa penundukan negeri Melayu itu terjadi sebelum 

tahun 692 seperti dikemukakan oleh Krom tidaklah disangkal, sebab  

berita itu memang termuat dalam Record dan Memoire, yang dikirim 

ke Kanton pada tahun 692. Dalam bukunya, Hindoe-Javaansche 

Geschiedenis, hlm. 116, Krom berpendapat bahwa I-ts'ing menulis 

Record dan Memoire antara tahun 689 dan 692. Andaikata buku itu 

telah selesai sebelumnya, maka 1-ts'ing akan membawanya sendiri 

ke Kanton pada tahun 689. Uraian mengenai keadaan kerajaan 

Sriwijaya hams tercatat antara tahun 689 dan 692. Oleh sebab  itu, 

peristiwa penundukan kerajaan Melayu harus menjadi sebelum tahun 

692. Demikian Krom. 

Menurut pendapat saya, alasan Krom tentang selesainya 

penulisan Record dan Memoire di atas sesungguhnya kurang tepat, 

sebab  keberangkatan 1-ts'ing ke Kanton pada tahun 689 tidak 

disengaja. Ia bermaksud menitipkan surat yang berisi permintaan 

supaya dikirimi kertas, tinta, dan kue-kue dari Kanton. Tetapi sebab  

pada waktu itu tiba angin baik, perahunya berangkat. I-ts'ing ikut 

terbawa (Memoire, hlm. 176). Andaikata Record dan Memoire itu 

telah selesai ditulis, tidak akan terbawa juga, sebab  I-tsing tidak 

ada maksud untuk pulang ke Kanton. Pelayarannya ke Kanton pada 

tahun 689 tanpa persiapan. 

Memoire ditulis kemudian daripada Record, sebab  Memoire 

menyebut Record dua kali. Tetapi, baik kata pengantar Record maupun 

kata pengantar Memoire ditulis kira-kira pada waktu yang sama, 

sebab  kata pengantar itu saling sebut-menyebut. Kedua-duanya 

menyatakan bahwa isi Memoire 2 volume, dan Record 4 volume (40 

pasal). Suplemen Memoire sudah barang tentu ditulis sesudah teks 

Memoire selesai. Ketika I-ts'ing menulisnya, Tao-hung berumur 23 

tahun; pada tahun 689 ketika ia menggabungkan diri pada I-ts'ing, 

ia berumur 20 tahun. Demikianlah, Suplemen Memoire itu selesai 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 133 

pada tahun 692. Kata pengantar Record, Memoire, dan Suplemen 

Memoire itu selesai ditulis kira-kira pada waktu yang sama. 

Waktu I-ts'ing menyelesaikan bah (pasal) XXXIV dari Record, 

ia berkata bahwa ia tinggal di Sriwijaya sudah lebih daripada empat 

tahun sejak kedatangannya dari India. Pada pasal XXIII, ia berkata 

bahwa ia sudah 20 tahun lebih mengembara. Ini berarti bahwa pada 

waktu itu tahun 691 atau tahun 692, sebab  ia meninggalkan Kanton 

pada akhir tahun 671. Demikianlah, dapat diambil kesimpulan 

bahwa Record itu ditulis antara tahun 691 dan bulan kelima tahun 

692, sebab  pada bulan kelima tahun 692 buku itu dititipkan kepada 

pendeta Ta-chin yang berangkat ke Kanton. Empat tahun sebelum 

tahun 691/692 ialah tahun 688/689. Kita lihat bahwa I-ts'ing pada 

tahun 689 sudah ada di Sriwijaya. Jadi, pulangnya kembali dari India 

kira-kira tahun 688. 

Di dalam kata pengantar Record, I-ts'ing menyebut negeri 

Melayu dalam rangkaian negara-negara di laut Selatan yang memeluk 

agama Budha. Pada penyebutan itu ditambahkan keterangan "yang 

sekarang menjadi bagian kerajaan Sriwijay'.Juga dalam Memoire, ia 

menyebut negeri Melahyu dengan tambahan yang sama. Demikianlah 

ketika I-ts'ing menulis Record dan Memoire, negeri Melayu itu telah 

menjadi bagian kerajaan Sriwijaya. 

Pada tahun 686, Sriwijaya mengeluarkan piagam persumpahan 

Kota Kapur di Bangka, yang memuat ancaman kepada siapa pun 

yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Pada piagam itu dinyatakan 

bahwa pada waktu itu tentara Sriwijaya berangkat ke Jawa. Normal, 

penundukan kerajaan Melayu harus dilakukan lebih dahulu sebelum 

tentara Sriwijaya berangkat ke Jawa, agar jangan terpukul oleh negara 

tetangganya. Lagi pula, piagam Karang Brahi yang senafas dengan 

piagam Kota Kapur, tetapi tanpa tarikh tahun, kedapatan di wilayah 

kerajaan Melayu, yakni di hulu Batanghari. Ini berarti bahwa pada 

waktu itu, kerajaan Melahyu sudah dikuasai oleh Sriwijaya. 

Demikianlah, penundukan kerajaan Melayu oleh Sriwijaya 

terjadi sebelum tahun 686. Pendapat itu kita hubungkan dengan 

134 Sriwijaya 

hasil penelitian piagam Kedukan Bukit. Tidak lagi dapat dibantah 

bahwa piagam Kedukan Bukit yaitu  piagam jayasiddhay~tra, yakni 

piagam perjalanan jaya atau piagam tentang arak-arakan keme­ 

nangan. Piagam itu bertarikh tahun Saka 605 atau tahun Masehi 

683. Perjalanan jaya mempunyai hubungan dengan kemenangan. 

Kemenangan yang diperoleh Sriwijaya sebelum tahun 686 yaitu  

kemenangan terhadap kerajaan Melayu. Demikianlah, kerajaan 

Melayu itu ditunduk an oleh kerajaan Sriwijaya pada tahun 683. 

Bahwa piagam Kedukan Bukit yaitu  piagam perjalanan jaya terbukti 

dari hasil penelitian yang berikut. 

Piagam Kedukan Bukit 

Piagam Kedukan Bukit hingga sekarang masih merupakan 

persoalan yang sulit. Yang menjadi persoalan ialah pertama-tama 

apa maksud piagam Kedukan Bukit itu? Apa yang dimaksud dengan 

siddhay~tra pada piagam Kedukan Bukit? Di mana letaknya Minanga 

Tamwa(r)? Itulah persoalan pokok yang hams dipecahkan untuk 

sekadar mengetahui sejarah Sriwijaya. Persoalan tersebut bukan per­ 

soalan yang gampang pemecahannya. Hal ini terbukti dari bersim­ 

pang-siurnya pendapat para sarjana, baik dalam bidang bahasa mau­ 

pun purbakala serta sejarah. Bertahun-tahun mereka mencurahkan 

perhatiannya kepada persoalan tersebut, namun hingga sekarang 

persoalan itu belum dapat dipecahkan. Kita coba ikut serta me­ 

merhatikan persoalan tersebut. Untuk mendapatkan gambaran 

tentang wujud piagam tersebut, pada akhir pasal ini kita cantumkan 

transkripsi dan terjemahan piagam tersebut. Dengan jalan demikian, 

dapat mengikuti jalan pikiran mencari pemecahan persoalan. 

Tentang piagam Kedukan Bukit ini, Krom dalam bukunya, 

Hindoe ]avaanshe Geschiedenis, menulis demikian: "Tidak semuanya 

terang. Tetapi ziarah untuk mencari kekuatan gaib itu mencolok 

sekali. Peristiwa itu cocok dengan pendapat umum di tempat-tempat 

lain. Mungkinlah hal itu berhubungan dengan peristiwa mendirikan 

kerajaan Sriwijaya. Suatu kenyataan ialah bahwa peristiwa ini 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 135 

memperingati suatu kejadian yang penting sekali untuk negara." 

Krom menambahkan catatan: "Jelasnya, beberapa kata tidak terang. 

Mungkin itu nama orang, misalnya sambau (yang telah diterjemahkan 

oleh Pro£ Poerbatjaraka: perahu), dan kata yang merupakan teka­ 

teki minanga Tamwar), tempat raja membebaskan diri." 

Apa yang dikatakan oleh Krom masih sebagai kemungkinan, 

oleh Prof. Mr. Moh. Yamin sudah dianggap kepastian. Dalam 

Laporan Kongres M.I.P.I. hlm. 193, ia menulis: "Baru pada tahun 

683 dipahat permakluman proklamasi pembentukan kedatuan 

Sriwijaya dengan resmi di atas batu bertulis Kedukan Bukit di 

Palembang." 

Demikianlah, baik Krom maupun Yamin mengira bahwa 

piagam Kedukan Bukit yaitu  piagam proklamasi kerajaan Sriwijaya. 

Saya kira tidak ada hubungannya dengan soal mendirikan negara 

Sriwijaya. berdasar  berita Tionghoa Hsin T'ang Shu, kerajaan 

Sriwijaya telah mengirim utusan ke Tiongkok pada tahun 670; jadi 

13 tahun sebelum piagam Kedukan Bukit. Pada tahun 683, kerajaan 

Sriwijaya telah berdiri tegak. Dapunta Hyang sudah mempunyai 

tentara paling sedikit dua laksa. Demikianlah, anggapan bahwa 

piagam Kedukan Bukit yaitu  piagam proklamasi dengan sendirinya 

tidak dapat dipertahankan. 

Pada piagam Kedukan Bukit, diuraikan bahwa Dapunta Hyang 

mangalap siddhay~tra pada tanggal 11 bulan terang waicakha tahun 

683. Prof. G. Coed~s menganggap bahwa kata siddhay~tra yang 

kedapatan pada piagam Kedukan Bukit itu sinonim dari kata siddhi­ 

y@tra pada piagam Nhan-bi~u, dan berarti: "ziarah untuk mencari 

kekuatan gaib". Demikianlah, Coed~s beranggapan bahwa piagam 

Kedukan Bukit yaitu  piagam ziarah demi kekuatan gaib. Katanya: 

"Siddhay~tra lebih tepat siddhiy@tra, berarti: perjalanan atau ziarah 

untuk memperoleh kekuatan gaib; itulah arti katanya pada piagam 

Nhan-bi~u, demikian pula pada piagam kedukan Bukit. Baginda 

naik perahu untuk memperoleh kekuatan gaib di Minanga Tam­ 

wa(r). 

136 Sriwijaya 

Pendapat Coed~s itu disetujui oleh Krom seperti terbukti dari 

kutipan di atas. Demikian pula oleh Prof. Nilakanta Sastri. R.A. 

Kern, dalam karangannya yang termuat dalam B.KI. 88 tahun 1931, 

menyamakannya dengan kebiasaan di Sunda ngalap berkah: mencari 

(memperoleh) restu. Dr. B. Ch. Chhabra membahas kata iddhay~tra 

ini dalam hubungannya dengan pedagang mahanavika Buddhagupta, 

dan dongeng-dongeng yang tedapat dalam Kath~sarits~gara. 

De Casparis menunjukkan bahwa kata sidhay~tra terdapat juga 

pada piagam Jawa kuno dari tahun 856 "A metrical old Javanese in­ 

scription dated 856. Pada strophe 22 terbaca, bahwa burung bangau, 

gagak, clan angsa serta pedagang disuruh mandi untuk memperoleh 

perlindungan. Kalimat itu dikuti akta siddha ta yatra siha. Meskipun 

strophe itu masih gelap artinya, namun sudah dapat diraba bahwa 

kata siddhay~tra itu digunakan dalam hubungan dengan burung dan 

pedagang, yang berpindah-pindah tempat clan berhubungan dengan 

air, sebab  burung-burung dan pedagang itu dianjurkan supaya 

mandi. De Casparis menunjukan bahwa burung-burung itu dalam 

bahasa Sanskerta disebut tirthakaka. Yang mendapat tekanan dalam 

soal siddhay~tra ini yaitu  "perpindahan tempat', dari tempat yang 

satu ke tempat yang lain. 

Setelah memerhatikan pembahasan para sarjana mengenai kata 

siddhay@tra, timbul pertanyaan yang prinsipil: Apakah kata siddhay~trad 

perlu diubah menjadi siddhiy~tra seperti yang dilakukan oleh Coed~s? 

Saya berpendapat bahwa perubahan itu tidak perlu. Alasannya ialah: 

1). Kata siddhay~tra itu saja sudah mempunyai arti, yakni "perjalanan. 

2). Kata siddhay~tra pada baris 3 itu mempunyai hubungan dengan 

kata siddhay~tra pada baris 10 dalam bentuk kata majemuk 

jayasiddhay~tra, artinya 'perjalanan jaya. 3). Kata siddhay~tra dan 

jayasiddhay~tra memang terdapat pada batu piagam Kedukan Bukit; 

bentuk kata itu memang betul. 

berdasar  pendapat itu, maka batu piagam Kedukan Bukit 

yaitu  piagam siddhay~tra, bahkan piagam jayasiddhaytra, yakni 

piagam yang mencatat perjalanan jaya. Sudah jelas bahwa perjalanan 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 137 

jaya yaitu  kejadian besar dalam kehidupan kenegaraan, sebab  

perjalanan jaya itu mempunyai hubungan dengan kemenangan yang 

diperoleh dalam peperangan. Kata jayasiddhay~tra digunakan sebagai 

penutup catatan perjalanan, termuat pada baris 10. Dalam istilah 

Jawa dikatakan: "dijadikan gong. Maksudnya: perkara yang paling 

penting. Bahwa piagam Kedukan Bukit itu piagam perjalanan, 

terbukti sebab  pada piagam yang terlalu pendek itu tercatat beberapa 

perjalanan, yakni: 

(a) Tanggal 11 bulan terang, Waisaka Dapunta Hyang naik perahu. 

(b) Tanggal 7 bulan terang, Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari 

Minanga Tamwa(r) dengan tentara. 

(c) Tanggal 5 bulan terang bulan, Asada Dapunta Hyang datang 

membuat wanua. 

(d) .... wihara ini di wanua ini. (Tambahan pada pecahan piagam.) 

Mengenai berita pada (a), tidak dinyatakan bahwa Dapunta 

Hyang naik perahu diikuti oleh tentaranya. Berita itu hanya 

menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan dengan 

naik perahu. Jarak waktu antara (a) clan (b) ialah 26 hari. Sekonyong­ 

konyong pada (b) dinyatakan bahwa Dapunta Hyang berangkat dari 

Minanga Tamwar) dengan membawa dua puluh ribu tentara. 

Mengingat singkatnya jarak waktu antara berita (a) clan (b) yakni 26 

hari saja, rupanya perjalanan Dapunta Hyang tanggal 11 bulan terang 

bulan Waisaka itu langsung menuju Minanga Tamwa(r). 

Dengan kata lain, Dapunta Hyang datang di Minanga Tamwa(r) 

untuk menggabungkan diri pada tentara Sriwijaya yang berjumlah 

dua puluh ribu. Dari Minanga Tamwa(r), Dapunta Hyang menuju 

suatu tempat, yang tidak terbaca seluruhnya. Yang terbaca hanya 

huruf-huruf ma, ta(ka), dja(). Coed~s mengira Matajap; Krom 

menduga Malayu. 

Bacaan Krom ini dibantah oleh De Casparis, sebab  pada nama 

itu tidak tampak aksara la. Aksara yang masih agak terang terbaca 

pada baris 7itu menurut penglihatan saya da; wujudnya sama dengan 

138 Sriwijaya 

aksara keenam baris 9 pada kata datang (datam). Coed~s juga mengira 

kalau bukan da ialah ja (y), tetapi ia memilih ja (ya). Aksara tersebut 

masih disusul aksara lain yang samar. Yang tampak hanya garis ver­ 

tikal. Coed~s mengira bahwa garis itu permulaan aksara pa. Menurut 

penglihatan saja, itu yaitu  aksara na, serupa dengan na pada kata 

wanua baris 9. Jika tidak salah lihat atau salah duga, nama itu kiranya 

matadanau. Artinya sama saja dengan telaga atau danau atau matd 

air. Nama itu cocok dengan Telagad pada nama Telaga Batu, tempat 

ditemukannya beberapa piagam Sriwijaya. Di antaranya yang 

terpenting dalam hubungannya dengan persoalan kita ialah pecahan 

piagam siddhay~tra yang memuat kalimat penutup: ... wihara ini di 

wanua ini. (De Casparis, Prasasti negara kita  II, hlm. 14-15). 

Piagam tentang mendirikan bangunan biasanya tersimpan dalam 

bangunan yang bersangkutan itu sendiri. Tidaklah aneh jika biara 

itu didirikan di Matadanau, yang sekarang disebut Telaga Batu. 

Dapunta Hyang beserta tentaranya datang di tempat tersebut dengan 

sukacita. Pada tanggal 5 bulan terang bulan Asada, beliau datang 

dengan lega gembira membuat wanua. Meskipun tidak dinyatakan 

datang di tempat mana, namun kiranya sudah jelas bahwa tempat 

itu yaitu  tempat yang baru saja disebut. 

Piagam itu lalu ditutup dengan kalimat: <;riwijaya jayasiddha­ 

yatra subhiksa ... Perjalanan Dapunta Hyang diiringkan oleh dua 

puluh ribu tentara bukanlah perjalanan biasa. Perjalanan yang 

demikian yaitu  perjalanan jaya. Perjalanan jaya itu mulai dari 

Minanga Tamwa(r). Perjalanan jaya menyusul suatu kemenangan. 

Jadi, sebelum Dapunta Hyang melakukan perjalanan jaya, tentara 

yang mengiringkannya memperoleh kemenangan dahulu dalam 

peperangan. Arak-arakan tentara yang dikepalai oleh Dapunta Hyang 

menuju tempat di mana beliau akan mendirikan wanua. Pembuatan 

wanua itu dimulai pada bulan Asada. Nyata sekali bahwa tentara 

dua laksa itu berkumpul di Minanga Tamwa(r), dan dari situ mereka 

mulai bergerak ke Matadanau, mengadakan arak-arakan jaya. 

Minanga Tamwa(r) masih merupakan teka-teki yang belum 

dapat ditebak. R.A. Kern dalam terbitannya B.KI. 88 tahun 1931 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 139 

menyamakan Minanga Tamwa(r) dengan muara sungai Musi. Kata 

minanga ditafsirkan: "muara''. Jika minanga Tamwa (r) ditafsirkan 

muara sungai Musi, timbul pertanyaan: Adakah pernah sungai Musi 

itu disebutTamwa(r)? Dalam Record, I-ts'ing selalu menyebut sungai 

Fo-shih atau sungai Sriwijaya. Namanya sekarang juga bukan 

Tamwa(r), tetapi Musi. Lagi pula, perjalanan dari ibu kota Sriwijaya 

ke muara sungai Musi tidak akan makan waktu lama seperti 

dinyatakan di muka. 

Dalam Riwayat negara kita , Prof. Poerbatjaraka menerangkan 

bahwa Minanga Tamwa sebagai tempat pertemuan dua sungai. Ia 

mendasarkan keterangannya pada kata tamwa(r), yang menurut 

pendapatnya bentuk lama dari kata t~mu. Pendapat ini sudah terang 

tidak dapat dipertahankan. De Casparis segera mengetahui kesalahan 

itu, sebab  pada piagam Talang Tuwo sudah ada kata tmu (t~mu). 

Yang dimaksud oleh Pro£ Poerbatjaraka dengan pertemuan dua 

sungai itu ialah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri 

di daerah Minangkabau. Dari nama itu, Poerbatjaraka menerangkan 

terjadinya nama Minangkabau. Tidak aneh bahwa nama Minang­ 

kabau berasal dari Minanga Kampar. Tetapi suatu pertanyaan ialah: 

Apakah Minanga Tamwa(r) itu sama dengan Minanga Kampar? De 

Casparis tidak menyatakan pendapatnya secara positif tentang 

persoalan Minanga Tamwa(r). la lebih cenderung kepada tafsiran 

muara sebagai pertemuan antara sungai dan laut. Prof. Moh. Yamin 

juga tidak menyetujui pendapat Prof. Poerbatjaraka. Ia membacanya 

Minanga Hambar. Kata minanga diartikan "sungai", seperti masih 

dikenal dalam bahasa Batak, sedangkan hambar sama dengan tawar. 

Menurut pendapatnya, yang dimaksud dengan sungai tawar ialah 

sungai Sengkawak di kaki Bukit Siguntang. Aksara ta dan aksara ha 

jauh sekali bedanya. Yang terbaca sudah pasti aksara ta bukan ha. 

Moh. Yamin dikuasai oleh gagasan akan menyamakan kata hambar, 

tawar. Jika aksara ma(m) pada hambar itu dimasukkan pada kata 

tawar, maka kita mendapatkan kata tamwar. Caranya berpikir unik, 

tetapi tidak dapat memecahkan persoalan. Kata tamwa(r) tidak perlu 

diperkosa. 

140 Sriwijaya 

Tidak ada keberatan untuk mengartikan kata minanga itu sungai 

atau muara atau pertemuan antara dua sungai. Seperti dikemukakan 

oleh Mr. Moh. Yamin, kata minanga dalam bahasa Batak masih berarti 

sungai. Di Yogyakarta, masih dikenal kata winanga sebagai nama 

sungai di bagian barat kota Yogyakarta. Di Sumatra, dikenal kata 

binanga sebagai nama kota di tepi sungai Barumun. Pokoknya, 

minanga mempunyai hubungan dengan sungai. Tinggallah sekarang 

memecahkan persoalan di mana letaknya Tamwa(r)? Dalam bahasa 

negara kita /Melayu, kata minanga dengan arti "sungai" tidak lagi 

dikenal. Kata itu sudah usang. 

Kata-kata zaman sekarang yang mempunyai fonem b, jika 

kedapatan pada piagam Sriwijaya, biasanya mempunyai fonem w 

misalnya: wulan: bulan; wanak: banyak; seriwu: seribu, dan 

sebagainya. Bunyi a pada suku terakhir berubah menjadi o dalam 

bahasa Minangkabau. Misalnya, siapa: sapo; apa: apo; lama: lamo; 

bersua: bersuo, dan sebagainya. zaman sekarang, di seluruh Sumatra 

tidak ada sungai yang bernama Tamwa(r). 

Sudah pasti bahwa sungai Tumwa(r) itu sekarang masih ada, 

namun namanya berubah ucapannya atau ganti ham sama sekali. 

Biasanya nama itu hanya berubah bentuknya atau ucapannya, 

menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakatnya. Jika kita berpegang 

pada kebiasaan yang demikian itu, mungkin sungai Tamwa itu masih 

juga kita kenal di daerah J ambi Hulu. N amanya sekarang ialah Ba tang 

Tebo. Kota yang terletak pada pertemuan Batang Tebo dan Batang 

Hari bernama Muara Tebo. Biasanya nama tempat yang terdapat pada 

pertemuan dua sungai namanya sama dengan nama sungai cabang 

yang masuk dalam sungai yang lebih besar, didahului dengan kata 

muara. Misalnya, Muara Tembesi. Tempat ini terdapat di tempat 

pertemuan antara sungai Tembesi dan Batanghari. Demikianlah, kita 

kenal nama Muara Rupit, Muara Enim, Muara Tebo, Muara Dua, 

dan sebagainya. 

Masih ada satu persoalan lagi yang minta perhatian, yakni kata 

marlepas pada baris 4 dalam kalimat: Dapunta Hyang marlepads dari 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 141 

Minanga Tamwad ... Coed~s menerjemahkannya: le roi se libera de, 

artinya: "baginda membebaskan diri dari ..." Coed~s tidak 

menyelesaikan terjemahannya, sebab  ia menghubungkannya dengan 

peristiwa siddhiy~tra yang dilakukan oleh raja Kamboja, Jayawarman 

II, untuk melepaskan diri dari kekuasaan Jawa. Jayawarman 

menghentikan pemberian upeti kepada raj a J awa. 

Jiwa terjemahan yang demikian tidak cocok dengan isi piagam 

Kedukan Bukit yang merupakan kronik perjalanan. Krom juga tidak 

dapat keluar dari kesulitan tersebut. Sesungguhnya, kesulitan yang 

terbesar ialah memecahkan persoalan Minanga Tamwa(r). Jika kata 

tersebut telah diketahui apa maksudnya, pemecahan kata marlepads 

tidak lagi menimbulkan kesulitan. Minanga Tamwa(r) saya iden­ 

tifikasikan dengan Batang (Muara) Tebo, di daerahJambi Hulu. Kata 

dari berhubungan dengan tempat, tidak dengan janji atau kekuasan 

orang lain. 

Sesuai dengan jiwa kronik perjalanan, ungkapan marlepas dari 

Minanga Tamwa berarti: "berangkat dari Minanga Tamwa'' (Muara 

atau Batang Tebo). Dalam bahasa Melayu di Malaya dan Singapura, 

hingga sekarang masih digunakan kata berlepas untuk pengertian 

berangkat. Misalnya: "Mereka akan berlepas esok hari (dikutip dari 

Berita Harian tanggal 17 Mei 1961). 

Dalam membahas piagam Kedukan Bukit, Prof. Coed~s sangat 

dipengaruhi oleh isi piagam Nhan-bi~u sehingga ia mengubah bentuk 

kata siddhay~tra menjadi siddhiy~tra. sebab  kata siddhiy~tr 

mempunyai hubungan dengan kekuatan gaib, maka kata marlepas 

ditafsirkan: "membebaskan diri dari ..." Kata j ay  pada jayasiddhay@tr 

dihilangkan, mungkin dianggap kelebihan dari bentuk Griwijaya 

yang mendahuluinya. 

Jika tafsiran di atas itu benar, maka perjalanan jaya itu dimulai 

dari Muara (Batang) Tebo menuju Matadanau (Telaga Batu) di kota 

Palembang, akibat kemenangan yang diperoleh tentara Sriwijaya 

dalam menundukkan kerajaan Melayu pada tahun 683. Penundukan 

kerajaan Melayu oleh Sriwijaya didasarkan atas: 

149 Sriwijaya 

(1)Pemberitaan I-ts'ing... yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. 

(2)Letak Batang (Muara) Tebo di Jambi Hulu, yang termasuk wilayah 

kerajaan Melayu. 

(3) Penemuan piagam persumpahan Karang Brahi yang dikeluarkan 

oleh raj a Sriwijaya. Karang Brahi jelas terletak di wilayah kerajaan 

Melayu di sebelah tenggara Muara Tebo, di jalan raya (sungai 

dan darat) antara pantai timur dan daerah pedalaman, yang 

banyak mengandung emas. 

Wujud piagam Kedukan Bukit itu seperti berikut: 

(1)Swasti cri cakrawarsatita 605 ekadaci cu­ 

(2) Klapaksa wulan waicakha dapunta hyang najik di 

(3)Samwau mangalap siddhay@tra di saptami cuklapaksa 

( 4) Wulan jyetha dapunta hyang marlepads dari minanga 

(5) Tamwa(r) mamawad yang wala dua laksa ko 

( 6) Dua ratus cara dismawu dangan jalan sariwu 

(7) Tlu ratus sapulu dua wanyaknya datang di matada(nau) 

(8)Sukhacitta di pancami cuklapaksa wula(n) (asada) 

(9) Laghu mudita datang marwuat wanua 

(10) (riwijaya jaya siddhaytra subhiksa ... 

Terjemahannya: 

(1) Bahagia! Pada tahun Saka 605 hari kesebelas 

(2)Dari bulan terang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di 

(3) Perahu melakukan siddhayatra. Pada hari ketujuh dari bulan terang. 

( 4) Bulan Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari Minanga 

(5)Tamwa(r) membawa tentara dua laksa orang 

( 6) Dua ratus orang di perahu; yang berjalan seribu 

(7)312 banyaknya; datang di matada(nau) 

(8) Dengan senang hati; pada hari kelima dari bulan terang bulan 

(Asada) 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 

(9)Dengan lega gembira datang membuat wanua ... 

(10) Sriwijaya melakukan perjalanan jaya dengan lengkap ... 

143 

Pusat Kerajaan Melayu 

Sebelum menetapkan pusat kerajaan Melayu, lebih dahulu kita 

membicarakan adat-istiadat kaum pendatang yang mendirikan 

kerajaan Melayu. Di seberang utara Selat Malaka, terhampar daerah 

Semenanjung Melayu, yang disebut Malaya, didiami oleh penduduk 

asli bangsa Melayu. Di seberang selatan memanjang pantai timur 

Sumatra, di mana terletak pelabuhan Melayu yang sudah dikenal 

pada zaman Sriwijaya. 

N ama Malaya dan Melayu berasal dari kata yang sama, yakni 

kata Sanskerta malaya, artinya: "bukit". Kata tersebut berkembang 

di dua tempat yang berbeda. Di seberang utara Selata Malaka, kata 

tersebut mempertahankan bentuk aslinya malaya; di seberang selatan 

kata tersebut mengalami perubahan bunyi, menjadi Melayu. Di daerah 

Orissa, masih ada gunung yang bernama Malayagiri, di dekat ujung 

Comorin ada lagi gunung yang bernama Malayam. Bentuk tersebut 

terang turunan dari bentuk kata Sanskerta malaya. Dalam bahasa 

Tamil kata malaya itu menjadi malai, artinya: "bukit". 

Sesudah menjadi kebiasaan kaum pendatang untuk menyebut 

tempat tinggalnya yang baru dengan nama tempat kediaman yang 

ditinggalkannya. Apalagi jika antara tempat tinggal yang baru dan 

yang lama terdapat kemiripan. Demikianlah, Semenanjung Melayu 

disebut Malaya oleh kaum pendatang dari India sesuai dengan 

keadaan alamnya. 

Daerah Semenanjung Melayu penuh dengan bukit-bukit. 

Penduduk aslinya menyebut dirinya bangsa Melayu, sebab  mereka 

kebanyakan keturunan orang pendatang dari seberang selatan Selat 

Malaka. Dalam kesusastraan J awa kuno, nama Malaya belum dikenal. 

Yang tersebut dalam Nagarakretagama, yang ditulis pada tahun 1365, 

ialah nama Tumasik, Pahang, dan Trengganu. 

144 Sriwijaya 

Mungkin sekali nama Malaya ini timbulnya dalam pemakaian 

sesudah abad ke-14. Juga, jika kita menyelidiki asal nama kerajaan 

Campa, kita menjumpai peristiwa pemindahan nama dari India ke 

tempat lain. Di India, malah ada dua tempat yang bernama Campa; 

satu di Bhutan dan lainnya di Madhya Pradesh. N ama pulau Madura 

juga berasal dari nama provinsi di India Selatan. Demikian pula nama 

Brunei, yang kemudian menjadi nama seluruh pulau (yakni Borneo), 

berasal dari nama sungai Porunai di daerah Travancore. zaman 

sekarang, adat yang demikian itu masih berjalan. Di daerah 

transmigrasi Sumatra Selatan, banyak amat nama desa yang sama 

dengan nama kota di J awa, seperti Purwokerto, Purbolinggo, 

Kutaharjo, dan sebagainya. Di daerah Selangor, masih ada kampung 

J awa dan kampung Asam J awa. Adat kebiasaan J awa terbawa pula ke 

tempat tersebut. Nama camatnya ialah Radin Sunarno, meskipun 

sudah keturunan di situ. 

Melayu sebagai nama kerajaan di Sumatra lebih tua daripada 

Malaya sebagai nama Semenanjung Melayu. N ama Melayu sebagai 

nama kerajaan sudah dikenal dalam berita Tionghoa pada tahun 644/ 

645. Kata Melayu memang mirip sekali dengan kata Malaya. Yang 

berbeda hanya vokalnya terakhir, yakni a dan u. 

Seperti telah disinggung, kata malaya sebagai nama Semenanjung 

Melayu mempertahankan bentuk aslinya Sanskerta. Sedangkan kata 

Melayu sebagai nama kerajaan di Sumatra mengalami perubahan 

bunyi: datangnya di negara kita  melalui bahasa Tamil, malai. sebab  

sesudah mengucapkan bunyi i, mulut tertutup, maka terdengar 

bunyi u yang pada hakikatnya bukan fonem dalam bahasa Tamil. 

Oleh sebab  itu, kata malai lalu menjadi malai-u Malayu. 

Pengaruh India Selatan tampak pada gelar beberapa raj a Melayu 

yang termuat pada piagam Khmer dan pada piagam Kertanegara di 

tepi sungai Langsat. N ama raj a Melayu pada piagam Khmer ialah 

crimat trailokyaraja Maulibhusana Warmmadewa. Gelar Kertanegara 

ialah crimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa. Gelar crimat dipakai 

di India Sela tan dengan arti "tuan', istimewa dalam kehidupan 

keagamaan di biara-biara. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 145 

berdasar  gelar tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa 

raja-raja Melayu itu kecuali mengepalai kerajaan juga seeara resmi 

mengepalai kehidupan keagamaan. Demikianlah, baik gelar rajanya 

maupun nama kerajaannya berasal dari India Selatan. Peristiwa yang 

agak meneolok ialah bahwa piagam-piagam yang dikeluarkan oleh 

raja-raja Melayu, yang ditemukan hingga sekarang, kebanyakan 

tertulis dalam bahasa Sanskerta; berbeda dengan piagam-piagam 

Sriwijaya. Tidak ada piagam Melayu yang ditemukan di sekitar kota 

Jambi. Pada tahun 1286, raja Kertanagara memberikan hadiah area 

kepada raja Melayu, c;rimat Tribuwanaraja Mauliwarmmadewa. 

Dinyatakan dengan tegas bahwa area Amoghapac;a dengan 13 

pengikutnya diangkut dari bhi Jawa ke Sumatrabh~mi, ditempatkan 

di Dharmma~raya atas perintah raja Sri Kertanagara Wikrama Dhar­ 

mottunggadewa. Atas hadiah itu semua penduduk Melayu gembira: 

para pendeta, ksatria waisya dan sudra, terutama raja ~rimat tribu­ 

wanaraja Mauliwarmmadewa. 

Dharmmac;raya terletak di daerah hulu sungai Batanghari. 

Selama pemerintahan Adityawarman, segala piagam tentang kerajaan 

Melayu ditemukan di sekitar hulu sungai Batanghari. Piagam Pagar 

Ruyung dari tahun 1356 ditemukan di bukit Gombak, kemudian 

diangkut ke Pagar Ruyung. Pada piagam ini Adityawarman menyebut 

dirinya: Adityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimaniwarm­ 

madewa maharajadiraja. 

Pada piagam Suroaso dari tahun 1375, Adityawarman menyebut 

dirinya Surawacawan, artinya: yang dipertuan di Surawa~a. Suroaso, 

hingga sekarang, masih ada sebagai nama tempat di hulu sungai 

Batanghari. Pada tugu nisan, Adityawarman menyebut dirinya 

Kanakamedinindra, artinya: yang dipertuan di pulau emas, yakni 

Sumatra. Nama Suwarnadwipa juga digunakan pada piagam Pagar 

Ruyung. Nama itu sinonim dari nama Suwarnabh~mi pada piagam 

Kertanagara. Pendeta I-ts'ing menyebutnya Chin-chou: pulau emas. 

Justru, Karang Brahi yang terkenal sebab  emas bubuknya. Karang 

Brahi yaitu  daerah penghasil emas. Karang Brahi terletak di hulu 

sungai Merangin. Amat jauh dari kota J ambi. 

146 Sriwijaya 

Pada piagam sungai Langsat dari tahun 1347, di balik piagam 

Kertanagara, untuk pertama kalinya kita mengenal nama Malayapura 

sebagai nama kerajaan Melayu di bawah pemerintahan Aditya­ 

warman. Rouffaer mengemukakan pendapat, bahwa pusat kerajaan 

Melayu terletak di Jambi lama. Pendapat itu termuat dalam B.KI. 

77 hlm.11-19 tahun 1921. Pendapat Rouffaer itu mendapat sam­ 

butan baik dari pihak Prof. Krom dan telah menjadi pendapat umum. 

Krom menduga bahwa pusat kerajaan Melayu telah dipindahkan ke 

Pagar Ruyung dekat Fort van de Kapellen (H.J.G. hlm. 413). 

Jika pendapat Rouffaer itu dicocokkan dengan piagam Tanyore 

yang dikeluarkan pada tahun 1030 oleh Rajendracoladewa, maka 

pendapat itu agak goyah. Pada piagam tersebut, dinyatakan bahwa 

ibu kota kerajaan Melayu dengan benteng pertahanannya terletak di 

atas bukit. Daerah pantai timur Sumatra merupakan tanah datar, 

tidak berbukit, apalagi daerah sekitar Jambi. Hampir seluruhnya 

merupakan tanah rendah yang masih muda. Jika wujud daerahJambi 

dicocokkan dengan arti nama Melayu, tidak sesuai, sebab  Melayu 

berasal dari malai atau malaya yang berarti "bukit". Demikianlah, 

baik dilihat dari pernyataan piagam Tanyore maupun dari arti nama 

Melayu, pusat kerajaan Melayu tidak mungkin terletak di J ambi. 

Lagi pula, piagam-piagam penting yang ditemukan hingga sekarang, 

tidak ditemukan di sekitar kota Jambi, tetapi di pedalaman, seperti 

telah disinggung di atas. 

Piagam persumpahan Karang Brahi, yang dimaksud sebagai 

peringatan keras raja Sriwijaya kepada rakyat Melayu, tidak terdapat 

di kota atau di sekitar kota Jambi, melainkan di hulu sungai 

Merangin. Piagam serupa itu hanya layak ditempatkan di daerah 

jajahan yang masih membahayakan. Diletakkan di tempat yang ramai 

dikunjungi orang, supaya diketahui orang banyak. Apalagi, jika kita 

memerhatikan perjalanan jaya yang dilakukan oleh Dapunta Hyang 

mulai dari Batang (muara) Tebo, maka kiranya tidak aneh bila pusat 

kerajaan Melayu itu terletak di pedalaman di sekitar Muara Tebo. 

Jika demikian, maka pusat kerajaan itu terpisah dari pelabuhan. 

Pantai laut tidak merupakan syarat mutlak bagi pusat kerajaan. Pusat 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 147 

kerajaan Singasari dan Majapahit tidak terletak di tepi pantai. Pusat 

kerajaan itu terpisah dari pelabuhan. Biasanya, pusat kerajaan itu 

terletak di tempat yang menguntungkan: di tanah subur yang 

merupakan daerah pertanian, atau di pantai laut yang merupakan 

pelabuhan. Daerah di sekitar Muara Tebu yaitu  daerah makmur, 

daerah pertanian. Lagi pula, Muara Tebo mudah dicapai dari pela­ 

buhan Jambi melalui sungai Batanghari. Demikianlah, baik ditinjau 

dari peninggalan-peninggalan kuno yang berupa piagam maupun 

dari pemberitaan piagam Tanyore dan piagam Kedukan Bukit, maka 

letak pusat kerajaan Melayu di sekitar Muara Tebo lebih mengun­ 

tungkan daripada di kota J ambi. Pusat kerajaan yang letaknya demi­ 

kian tidak mudah diserang oleh musuh baik dari laut maupun dari 

darat. Untuk dapat mencapai Muara Tebo, musuh harus berhasil 

mere but pelabuhan J ambi lebih dahulu. 

Justru sebab  Sriwijaya bernafsu untuk menguasai lalu-lintas 

kapal di Selat Malaka, Sriwijaya harus merebut pelabuhan Melayu 

dahulu. Tetapi sebab  pelabuhan hanya sebagian dari milik kerajaan, 

maka pusat kerajaan itu perlu diserbu. Hanya dengan demikian, maka 

kekuasaan kerajaan Melayu itu patah. Ditinjau dari sudut ini, maka 

kita dapat memahami mengapa perjalanan jaya itu mulai dari Muara 

Tebo, tidak dari kota Jambi. 

Piagam Talang Tuwo 

Setahun setelah penundukan kerajaan Melayu, raja Sriwijaya 

memberikan hadiah kepada rakyat berupa taman. Pemberian hadiah 

itu disertai piagam yang bertarikh tahun 684, dan berisi pesan 

Dapunta Hyang kepada rakyat untuk menikmati hadiah taman yang 

bersangkutan. 

Piagam tersebut ditemukan di Talang Tuwo yang terletak 5 km 

sebelah barat daya Bukit Siguntang, pada tanggal 17 November 1920 

oleh residen Westenek. Penemuan piagam diumumkan pada tahun 

1921 di majalah berkala Jawa I. Penetapan tarikh tahun berasal dari 

Dr. F.D.K. Bosch. Dari piagam tersebut, ternyata bahwa Dapunta 

148 Sriwijaya 

Hyang menghadiahkan beberapa taman di pelbagai tempat yang 

tidak disebut namanya. Selain memuat pesan Dapunta Hyang Sri 

J ayanaga, piagam terse but memuat doa untuk kebahagiaan raj a 

Sriwijaya atas kemurahan hatinya. Didoakan agar beliau memperoleh 

segala hal yang baik sesuai dengan ajaran agama Budha. Segala hal 

yang baik itu disebut dengan istilah-istilah dalam agama Budha. 

Pesan Dapunta Hyang termuat pada baris dua, mulai dengan kata 

sawanyaknya dan berakhir pada baris dengan kata sacaracarad. 

Selanjutnya yaitu  ucapan pemahat atau pembesar yang menyuruh 

pahat piagam tersebut, berupa doa kepada Dapunta Hyang. 

Dalam bukunya, Hindoe-Javaansche Geschiedenis, him. 121, 

Krom menulis tentang piagam Talang Tuwo itu seperti berikut: "Na 

de daardoor te breiken gelukkige testanden volgen de in het uitzicht gestelde 

goederen van geestelijke aard, het ontwaken van de gedachte aan de Bodhi, 

het niet gescheiden zijn van Drie Juweelen etc. . . . (Artinya: Setelah 

mencapai keadaan yang berbahagia, kemudian menyusul hal-hal 

rohaniah seperti: membangkitkan bodhicitta, tidak bercerai dengan 

Dang H yang Ratnatraya dan sebagainya ... ) . 

Jasa Coed~s dalam penerbitan piagam Talang Tuwo berupa usaha 

membetulkan bacaan teks dan mencari arti kata-katanya. Namun, 

sebab  kurang tepat menghubungkan kata-kata yang bersangkutan, 

terjemahannya sangat kusut. De Casparis mengemukakan beberapa 

keberatan terhadap terjemahan Coed~s dalam Prasasti negara kita  II. 

Istilah-istilah agama Budha itu tidak saja diterjemahkan, sebab  hal 

itu lebih banyak berhubungan dengan agama daripada usaha untuk 

memahami maksud piagam. 

Teks dan terjemahan piagam Talang Tuwo itu seperti berikut: 

1. Swasti cri cakawarsatita 606 dim dwitiya cuklapaksa wulan caitra 

s~na tatk~l~nya parlak criksetra ini niparwuat. 

2. parwa n dapunta hyang cri jayanaga (ca) ini pranindh~nm dapuntad 

hyang sawanyaknya m mit~nam di sini nyiur pinang hanau, ru­ 

3. mwiya dngan samicrnya yang k~yu nim~kan wuahnya tathapi h~ur 

wuluh pattung ityewam~di punarapi yang parlak wukan 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 149 

4. dngan tawad tal~ga sawanyaknya yang wuatku sucarita par~wis 

prayojan~kan puny@nya sarwwasatwa sacaracara ware pay~nya tmu 

5. sukha di ~sanak~l~ di antara m@rgga lai tmu muah ya ah~ra dngan 

air niminumnya sawanyaknya wuatnya huma parlak mancak mu­ 

6. ah ya manghidupi pacu prak~ra marhulun tuwi wr~ddhi muah ya 

jangan ya nikn~i sawanyaknya yang upasargga p~dana swapna­ 

wighna, warang wuad­ 

7. tnya kathamapi anukla yang graha naksatra par~wi s diya nirwy~dhi 

ajara kawuatananya tath~pi sawanyaknya yang bhr~ty~nya 

8. sayt@rijawa dr~dhabhakti muah ya diya yang mitr~nya tuwi j@ngan 

ya kapata ya wininya mulang anukla bh~rayymuah ya warang 

stha­ 

9. n~nya lagi curi ucca wadh~nya parad~ra di s~na punarapi tmu ya 

kaly~namitra marwwangun wodhicitta dngan maitri­ 

10.-dh~ri di dang hyang ratnatraya j@ngan mars~rak dngan hyang 

tatnatraya tathapi nityak~la ty~ga mar~ila ks~nti marwwangun 

wiryya r~jin 

11. t~hu di samicranya cilpak~la par~wis samadhitacinta tmu ya prajnya 

smr~ti medhwi punarapi dhairyyam~ni mah~s~ttwad 

12.wajracar~ra anupamagakti jaya tath~pi j@tismara awikalendriya 

mancak rpa subhaga hasin halap ~de­ 

13. yaw~kya wrahmaswara j~di l~ki swayambhu puna(ra)pi tmu ya 

cint~maninidh~na tmu janmawacit~ karmmawacit~ klecawacit~ 

14.awag~na tmu ya anutt~rabhisamyaksamvodhi. 

Artinya: 

Bahagia! Tahun Saka 106 pada hari kedua bulan terang bulan 

Caitra, itulah waktunya taman Sriksetra ini dibuat, milik Dapunta 

H yang Sri J ayanaga. 

150 Sriwijaya 

Inilah pesan Dapunta Hyang; "Semuanya yang ditanam di sini: 

nyiur, pinang, enau, rumbia, dan lain-lainnya. Pohon-pohon itu 

dimakan buahnya, tetapi aur, buluh, betung dan yang semacam itu. 

Demikian pula taman-taman lainnya dengan tebat dan telaganya, 

yang kubuat. Semua itu dimaksudkan demi kebahagiaan segenap 

makhluk, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak." 

Hendaklah daya upaya yang mulia itu mendapat kesukaan di 

kemudian hari dengan jalan lain. Semoga beliau mendapat makanan 

dan air untuk minumnya. Segala sesuatu yang dibuatnya-ladang, 

kebun luas-supaya menghidupi segala makhluk. Semoga semua 

hamba beliau hidup sejahtera! Jauhkanlah beliau dari segala bencana, 

dari pidana dan penyakit tidak dapat tidur. Semoga segala usahanya 

berhasil baik, bintang-bintangnya lengkap, terhindar dari penyakit 

dan dianugerahi awet muda! Semoga semua abdi setia bakti kepada 

beliau. J angan hendaknya para sahabat berkhianat terhadap beliau; 

para bini hendaknya tetap setia sebagai isteri kepada beliau. Di mana 

pun beliau berada, janganlah dilakukan curi, curang, bunuh, dan 

zina di situ. 

Mudah-mudahan beliau bertemu dengan kalyanamitra, mem­ 

bangun bodhicitta dengan maitri, menyembah kepada Ratnatraya, 

bahkan senantiasa tenang bersila membangun keteguhan hati, 

keuletan, dan pengetahuan tentang perbedaan segala silpakala dan 

pemusatan pikiran. 

Semoga beliau memperoleh pengetahuan, ingatan, dan kecer­ 

dasan, dan lagi ketetapan mahasatwa, badan manikam wajracarira 

yang sakti tanpa umpama. Mendapat kemenangan dan ingatan kepada 

kelahiran yang lampau, indera lengkap, rupa penuh, kebahagiaan, 

kegembiraan, ketenangan, kata manis, suara Brhma. J adi lelaki sebab  

kekuatannya sendiri. Mudah-mudahan beliau memperoleh cinta 

manindhara, janmawa~ita, karmmawacita, klegawacita, akhirnya 

mendapat anuttarabhisamsyaksambodhi. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 151 

Gelar Dapunta Hyang 

Baik pada piagam Talang Tuwo maupun pada piagam Kedukan 

Bukit, telah kita jumpai gelar dapunta hyang, tanpa mengetahui tepat 

bagi siapa gelar itu diperuntukkan. Mengingat bahwa menurut berita 

Tionghoa, dari sejarah Sung banyak keluarga di kerajaan San-fo-ts'i 

yang bergelar pu, maka gelar dapunta hyang hams diperuntukkan 

bagi orang yang amat tinggi kedudukannya. 

Kehormatan yang amat tinggi itu ditunjuk an dengan bubuhan 

da-, -ta, dan sebutan hyang. Pemakaian gelar terikat pada waktu dan 

tempat. Oleh sebab  itu, mungkin sebutan atau gelar yang sama, 

berbeda maknanya di Jawa dan di Sumatra. zaman sekarang, kata 

teuku atau tengku di Aceh dan Persekutuan Tanah Melayu 

menunjukkan keturunan raja yang masih akrab. Demikian pula, gelar 

atau sebutan tengku dan ungku di Johor. Tetapi, sebutan tengku atau 

engku di Minangkabau biasa digunakan untuk menyebut seorang 

guru. Derajatnya sama dengan pak zaman sekarang di negara kita , 

dan chikgu di Singapura. Misalnya, engku Sulaiman (Minangkabau) 

= chikgu Sulaiman (Singapura) = pak Sulaiman (negara kita  sekarang). 

Ringkasnya, gelar atau sebutan itu dalam pemakaiannya dapat 

mengalami perubahan semantik. 

Pada piagam dari tahun 860 di Jawa, terdapat gelar dapunta, 

yakni dapunta Anggada. Contoh lain, dapunta i Panunggalan: yang 

dipertuan di Panunggalan (K.O. IX); dapuntaMarhyang(O.JO. II). 

Dapunta Anggada yaitu  pembesar biara. Bagaimanapun, dapunta 

yaitu  gelar yang berhubungan dengan kehidupan di biara. 

Hingga sekarang, menurut De Casparis, belum ada bukti yang 

menunjukkan bahwa dapunta itu digunakan sebagai gelar raja. Jika 

kita memerhatikan piagam lain sebagai analogi, maka berdasar  

analogi itu mungkin dapat diambil kesimpulan. Yang saya maksud 

ialah gelar yang kedapatan pada piagam Khmer, yang telah diterbitkan 

oleh Coed~s dalam B.E.FE.O. 18, 6 (1918), dan pada piagam 

Kertanegara yang ditemukan di tepi sungai Langsat. Nama raja 

Melayu (Sriwijaya) pada piagam Khmer ialah crimat Trailokyaraj 

159 Sriwijaya 

Maulibhusana Warmmadewa, dan pada piagam Kertanagara crimat 

Tibhuwanaraja Mauliwarmmadewa. Kedua-duanya menggunakan 

gelar crimat, di India Selatan berarti "tuan', dan dipakai khusus dalam 

kehidupan keagamaan. Tetapi gelar crimat itu di wilayah kerajaan 

Melayu pada tahun 1286 terang digunakan sebagai gelar raja. 

Kata crimat sebagai gelar di India Selatan sama tepat dengan 

kata dapunta di Jawa pada tahun 860. Kedua-duanya digunakan 

sebagai gelar pembesar biara. Jika kita mengenal ~rimat Trailokyaraja 

Maulibhusana Warmmadewa pada piagam Khmer dan ~rimat Tribhu­ 

wanaraja Mauliwarmmadewa pada piagam Kertanagara, maka pada 

piagam Talang Tuwo, kita mengenal dapunta hyang Sri Jayanaga. 

Dapunta hyang memberikan pesan kepada segenap rakyat untuk 

menikmati hadiah taman. 

Hingga sekarang, orang berpendapat bahwa piagam Talang Tuwo 

yaitu  piagam Sriwijaya, dan hadiah taman itu diberikan oleh raja 

Sriwijaya. Kiranya, yang memberi pesan ialah raja Sriwijaya. Yang 

berpesan yaitu  orang yang bergelar dapunta hyang. Segala puji-pujian 

yang muluk dan doa diperuntukkan bagi dapunta hyang, yang 

memberi hadiah taman. J adi, logisnya dapunta hyang yaitu  gelar 

raja Sriwijaya. Pada piagam Talang Tuwo itu, yang bergelar dapunta 

hyang ialah Sri Jayanaga (~a). Jadi, Sri Jayanaga yaitu  raja Sriwijaya 

pada tahun 684. Pada piagam Kedukan Bukit, juga disebut dapunta 

hyang tan pa diikuti nama. Sama dengan dapunta hyang pada piagam 

Talang Tuwo baris 2. Mengingat bahwa selisih waktu antara piagam 

Kedukan Bukit dan piagam Talang Tuwo hanya satu tahun saja, maka 

kiranya dapunta hyangpada Kedukan Bukit itu yaitu  dapunta hyang 

Sri Jayanaga juga. 

Andaikata dapunta hyangpada piagam Kedukan Bukit itu hanya 

gelar kepala biara, seperti dapunta Anggada, maka agak aneh bahwa 

kepala biara ikut campur dengan urusan ketentaraan. Juga, (pada 

piagam Talang Tuwo) agak aneh bahwa kepala biara memberikan 

hadiah taman ( tidak hanya satu) kepada masyarakat. Biasanya kepala 

biara malah mendapat hadiah dari raja atau pembesar lainnya. Yang 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 153 

menimbulkan dugaan bahwa dapunta hyang yaitu  kepala biara, 

kecuali perbandingan dengan dapunta pada piagamJawa Kuno, juga 

penemuan pecahan piagam, di mana terdapat pecahan kalimat yang 

berbunyi: wihara ini diwanua ini. Sudah jelas bahwa Dapunta Hyang 

datang di Matadanau untuk membuat wanua. Dari pecahan piagam 

tersebut, nyata bahwa di wanua itu terdapat biara. berdasar  jalan 

pikiran di atas, maka biara itu yaitu  hadiah raja Sriwijaya, yang 

bergelar dapunta hyang. 

Dari pelbagai piagam, nyata sekali bahwa raja-raja Sriwijaya 

sikapnya sangat baik terhadap agama Budha, bahkan menjadi pro­ 

motor untuk kesuburan agama tersebut. Setidak-tidaknya, raja 

Sriwijaya menjadi pelindungnya, jika tidak langsung turut campur 

dalam urusan agama secara aktif. 

Pun, dalam piagam Nalanda dinyatakan bahwa Balaputra, dewa 

yang menyebut dirinya Suwarnadwip~dhipamah~raja, keturunan 

Yawabh~mip~lah, mendirikan sebuah wihara di Nalanda. Meskipun 

menurut tafsiran soal mendirikan biara itu mempunyai maksud 

politik, yakni untuk mengeratkan persahabatan dan kemudian untuk 

memperoleh bantuan dari India, namun ditinjau dari sudut ke­ 

agamaan, hadiah biara itu menunjuk an kecendarungan raj a Sriwijaya 

kepada agama Budha. Tentang Balaputradewa ini, akan diuraikan 

dengan lebih panjang di belakang. 

Pada charter Leiden, yang tertulis dalam bahasa Tamil, dinyata­ 

kan juga bahwa ~ri Marawijayotunggawarman, putra raja Cudama­ 

niwarman keturunan Sailendra, raja Kataha dan Sriwijaya, meng­ 

hadiahkan sebuah desa di Nagippattana. Ayahnya menghadiahkan 

sebuah biara yang diberi nama Cudamaniwarmanwihara. Hadiah 

itu diberikan pada tahun pertama pemerintahan raja Cola Rajaraja I 

(1005/1006). Dalam persahabatannya dengan Tiongkok, raja San­ 

fo-ts'i, Ti-hua-ka-lo (Dewa Kalottungga), memperbaiki candi Tien 

Ching di Kanton dan menghadiahkan 400.000 uang emas, yang 

kemudian digunakan untuk membeli ladang padi guna membina 

candi dan para pendeta di biara. Raja San-fo-ts'i, Ti-hua-ka-lo, men­ 

154 Sriwijaya 

dapat julukan jenderal besar yang menyokong pembaharuan ibadah 

clan keutamaan. Perbaikan candi Tien-Ching dilakukan pada tahun 

1079. 

Dari contoh-contoh di atas, terbukti bahwa raja-raja Sriwijaya 

sering menghadiahkan biara untuk kepentingan kehidupan 

keagamaan di luar negeri. Tidaklah aneh jika raja Sriwijaya juga 

menghadiahkan sebuah biara di negerinya sendiri yang diperingati 

pada pecahan piagam yang terdapat di Telaga Batu, tempat dapunta 

hyang mendirikan wanua. Pemberian hadiah biara bertalian dengan 

perjalanan jaya yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dari Muara 

Tebo atas kemenangan terhadap kerajaan Melayu, dengan diikuti 

oleh dua puluh ribu tentara. 

Pembangunan biara yang demikian yaitu  gejala biasa. Sebuah 

manifestasi rasa terima kasih. Pembangunan candi Tara di Kalasan 

pada tahun 778 juga bertepatan dengan munculnya rajakula Sailen­ 

dra Pancapana Panangkaran clan berhentinya rajakula Sanjaya, yang 

menggunakan perhitungan tarikh Sanjaya. Piagam yang menggunakan 

tarikh Sanjaya yang terakhir ialah piagam Taji Gunung ( O.]. 0. 

XXXVI). Pembangunan bangunan suci sebagai manifestasi rasa terima 

kasih seorang raja yang demikian banyak dilakukan di luar negeri. 

Piagam Persumpahan 

Piagam persumpahan Karang Brahi ditemukan pada tahun 1904 

oleh Kontrolir L.M. Berkhout di hulu sungai Merangin, cabang sungai 

Batanghari; atau lebih tepat, cabang sungai Tembesi. Krom telah 

mengemukakan pendapatnya tentang piagam persumpahan Karang 

Brahi itu pada tahun 1921 dalam T.B. G. LIX hlm. 426-431, clan 

dalam bukunya, Hindoe-Javaansche Geschiedenis, hlm. 117. la 

berpendapat bahwa pengeluaran piagam itu boleh dipandang sebagai 

pernyataan kekuasaan Sriwijaya yang, katanya, sama dengan peristiwa 

menaikkan bendera Sriwijaya. Pendapat itu masih ditambah dengan 

ucapan, yang berdasar  pemberitaan I-ts'ing: kerajaan Melayu 

sebagai saingan berat Sriwijaya juga sudah ditundukkan. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 155 

Menurut De Casparis, ancaman yang termuat dalam piagam 

Karang Brahi dan Kota Kapur ditujukan kepada musuh-musuh 

dalam negeri. Fragmen a dan b yang ditemukan di Bukit Siguntang 

dan Telaga Batu sangat menarik perhatian, sebab  kedua pecahan 

piagam itu menguraikan perjuangan dalam negeri, setidak-tidaknya 

pada awal pertumbuhan kerajaan Sriwijaya. Musuh-musuh dalam 

negeri ini sesungguhnya sulit ditegaskan, sebab  kita tidak mengetahui 

dengan pasti, sampai di mana batas kerajaan Sriwijaya pada tahun 

686, dan berapa luas wilayah Sriwijaya asli, dan di mana letaknya. 

Dalam uraian mengenai perjalanan pulang dari India, I-ts'ing 

mencatat bahwa banyak negeri-negeri bawahan Sriwijaya. Sayang 

sekali, I-ts'ing tidak menyebutnya satu demi satu. Namun, kita dapat 

menangkap maksudnya, yakni bahwa negeri-negeri bawahan itu 

semula berdiri sendiri sebagai kerajaan merdeka sebelum masuk 

wilayah Sriwijaya. I-ts'ing hanya menyebut satu saja di antara negeri­ 

negeri bawahan yang banyak itu, yakni kerajaan Melayu. Kiranya, 

kerajaan Melayu yaitu  salah satu negeri bawahan Sriwijaya yang 

sangat penting. 

Yang terang ialah bahwa I-ts'ing mempunyai kepentingan dalam 

penyebutan itu, sebab  pelabuhan Melayu yaitu  tempat I-ts'ing 

singgah dalam perjalanannya ke Nalanda. Dengan negeri-negeri 

bawahan lainnya, I-ts'ing tidak mempunyai sangkut paut. Ancaman 

itu jelas dimaksud untuk mengelakkan pemberontakan di negeri­ 

negeri bawahan yang disebut oleh I-ts'ing. Oleh sebab  itu, piagam 

persumpahan itu harus ditempatkan di negeri-negeri yang dianggap 

membahayakan. 

Hingga sekarang, piagam persumpahan itu baru tiga buah yang 

ditemukan, yakni piagam Karang Brahi, piagam Kota Kapur, dan 

piagam Telaga Batu. Mungkin masih ada lagi yang akan menyusul. 

Menilik isinya, piagam-piagam persumpahan itu harus dikeluarkan 

pada waktu yang bersamaan dan atas motif yang sama pula. Hanya 

satu saja di antara piagam-piagam persumpahan itu yang memuat 

tarikh tahun, yakni piagam Kota Kapur, dengan tarikh tahun 686. 

156 Sriwijaya 

Jadi, piagam-piagam persumpahan itu dikeluarkan tiga tahun sesudah 

penundukan kerajaan Melayu. 

Piagam persumpahan Kota Kapur ditutup dengan kalimat yang 

berbunyi, bahwa pada waktu piagam itu dikeluarkan, tentara Sriwijaya 

berangkat ke Pulau J awa, sebab  pulau J awa tidak berbakti kepada 

Sriwijaya. ltulah motif pengeluaran piagam-piagam persumpahan 

tersebut. Keberangkatan tentara Sriwijaya ke Jawa membawa akibat 

pengurangan kekuatan pertahanan dalam negeri. Dengan sendirinya 

Dapunta Hyang takut kalau-kalau timbul pemberontakan di wilayah 

Sriwijaya sebagai usaha untuk memperoleh kemerdekaan kembali, 

atau sebagai balas dendam terhadap Sriwijaya. 

Pemberontakan yang mungkin timbul yaitu  pemberontakan 

di negeri-negeri bawahan. Tidak mustahil pula bahwa pemberontakan 

akan timbul di pusat kerajaan akibat hasutan para pembesar, yang 

tidak menyetujui politik Dapunta Hyang. Oleh sebab  itu, tekanan 

terletak pada drohaka, pengkhianat. Barang siapa melawan kekuasaan 

Dapunta Hyang, atau barang siapa melakukan pemberontakan atau 

bersekutu dengan pemberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya, dicap 

sebagai drohaka atau pengkhianat. Dalam bentuk apa pun, pem­ 

berontakan terhadap kekuasaan Dapunta Hyang akan ditumpas. 

Penumpasan itu pasti akan berhasil, seperti telah terbukti dengan 

penumpasan Kandra Kayet, pemberontak yang kuat sekali. 

Peristiwa penundukan Kandra Kayet rupa-rupanya masih hangat 

sekali dan masih teringat oleh setiap orang di wilayah Sriwijaya. 

sebab  ketiga-tiganya, piagam persumpahan itu mulai dengan 

peristiwa penumpasan Kandra Kayet. Jangankan orang lain yang lebih 

lemah, Kandra Kayet yang sangat kuat sekalipun berhasil ditumpas 

oleh Dapunta Hyang. Dalam perang melawan Kandra Kayet Sriwijaya 

kehilangan seorang senapati yang bernama Tandrun Luah. Dalam 

perkelahian, Tandrun Luah terbunuh oleh Kandra Kayet. Namun, 

akhirnya Kandra Kayet berhasil juga diringkus oleh Dapunta Hyang. 

Penumpasan Kandra Kayet oleh Dapunta Hyang itulah yang hams 

menjadi peringatan pada setiap orang di wilayah Sriwijaya yang 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 157 

berangan-angan untuk memberontak terhadap kekuasaan Dapunta 

Hyang. Itulah makna manggala ketiga piagam persumpahan tersebut, 

yang hingga sekarang belum berhasil diterjemahkan. 

Secara lengkap, George Coed~s menguraikan penemuan piagam 

Kota Kapur dalam terbitannya, Les inscriptions malaieses de <;rivijaya. 

Secara singkat uraiannya demikian. 

Kota Kapur terletak di pulau Bangka, di sebelah utara sungai 

Menduk. Uraian tentang tempat penemuan piagam Kota Kapur 

disampaikan oleh van der Meulen kepada Roufaer (B.K.I.7 4, 1918 

hal. 142). Van der Meulen, administrator di Sungai Selan, me­ 

nemukan piagam persumpahan Kota Kapur dalam bulan Desember 

1892. 

Pada tanggal 5 Agustus 1893, batu piagam tersebut diangkut 

ke Jakarta. Brandes selaku konservator membuat pengumuman 

tentang penerimaan batu piagam tersebut dalam notulen tahun 1893. 

Pada waktu itu, boleh dikatakan bahwa Brandes yaitu  satu-satunya 

sarjana yang menaruh perhatian kepada piagam tersebut. Ia pun 

membuat turunan piagam yang diterimanya (0.J.0 CXXI). 

Pada tahun 1909, sepeninggal Dr. Brandes, turunan itu 

dikirimkan kepada Prof. Kern. Tiga tahun kemudian, Kern mener­ 

bitkan teks dan terjemahannya dalam B.KI. 67 tahun 1913, hlm. 

393-400. Teks dan terjemahannya dalam lagi dalam V.G. VII hlm. 

205."Suatu karya yang jenial!" kata Coed~s tentang terbitan Kern 

tersebut. C.O. Blagden mencoba memberikan catatan linguistik 

tentang piagam Kota Kapur dalam jurnal M.B.R.A.S. 64 tahun 1913 

di bawah judul The Kota Kapur (West Bangka) inscription. Seterusnya, 

piagam tersebut mendapat perhatian G. Coed~s dalam terbitannya, 

Le Royaume de <;rivijaya tahun 1918, dan dalam Les inscriptions mal­ 

aises de <;rivijaya tahun 1930. Perhatian G. Ferrand termuat dalam 

L'empire Sumatranais de (rivijaya tahun 1922 dan perhatian Krom 

dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis tahun 1926, 1931. 

Suatu kenyataan ialah bahwa piagam Karang Brahi tepat benar 

dengan piagam Kota Kapur. Yang berbeda hanya barisnya. Kedua 

158 Sriwijaya 

piagam tersebut mulai dengan peristiwa Kandra Kayet dan Tandrun 

Luah. Kata hamwan pada piagam Karang Brahi terdapat pada baris 

I; pada piagam Kota Kapur pada baris I? Kata Tandrun Luah pada 

piagam Karang Brahi terdapat pada baris 2, 2-3, 5-6; pada piagam 

Kota Kapur pada baris I, 2, 2, sama-sama tiga kali. Piagam Telaga 

Batu senapas dengan piagam Kota Kapur dan Karang Brahi, namun 

redaksinya agak berbeda. Juga, piagam Telaga Batu mulai dengan 

manggala yang sama. 

Telah disinggung di muka, bahwa manggala itu hingga sekarang 

belum berhasil diterjemahkan. De Casparis mengemukakan pendapat 

bahwa manggala piagam persumpahan itu mungkin tetap gelap 

untuk selama-lamanya. Menurut pendapat saya, manggala itu bukan 

mantra persumpahan, seperti yang dikemukakan oleh Coed~s dan 

para ahli sejarah lainnya, tetapi peristiwa pada abad ke-7 di kerajaan 

Sriwijaya. Tidak dapat dikatakan, pembesar daerah mana Kandra 

Kayet itu, sebab  ketiga piagam persumpahan yang bersangkutan 

tiak memberitakan asalnya. Yang jelas ialah asal Tandrun Luah. Ia 

yaitu  senapati atau pahlawan Sriwijaya, sebab  pada piagam Kota 

Kapur dan Karang Brahi dinyatakan bahwa ia menjaga kedatuan 

Sriwijaya. Pada piagam Telaga Batu, pernyataan itu tidak ada. 

Tidak dapat disangkal bahwa Tandrun Luah yaitu  nama orang, 

sebab  di situ dinyatakan bahwa Tandrun Luah dibunuh: Tandrun 

Luah winunu. Pembunuhnya ialah Kandra Kayet: Kandra Kayet 

makamatai. 

Penjajaran Tandrun Luah dengan para dewata yang menjaga 

kedatuan Sriwijaya hams ditafsirkan bahwa yang dimaksudkan yaitu  

arwah Tandrun Luah. Setelah ia dibunuh oleh Kandra Kayet, 

arwahnya masih tetap menjaga kedatuan Sriwijaya. Zaman sekarang, 

orang akan menyamakannya dengan arwah para pahlawan (kemer­ 

dekaan) yang telah gugur. Selama hidupnya, mereka memper­ 

tahankan negaranya terhadap serangan musuh; sebab  mereka seka­ 

rang sudah gugur, arwahnya menjaga atau melindungi negara. 

Demikianlah, kalimat kita tuwi Tandrun Luah wanyaknya dewatad 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 159 

mulanya yang parsumpahan parawis saya tafsirkan: "Dan kau Tandrun 

Luah clan semua para dewata, yang dijadikan permulaan (pembuka­ 

an) seluruh persumpahan. Piagam persumpahan memang mulai 

dengan peristiwa Tandrun Luah clan Kandra Kayet. 

Pada manggala itu dijelaskan siapa musuh Tandrun Luah. Di 

situ kedapat