ikan itu belum menutup kemungkinan lokalisasi
pusat kerajaan Sriwijaya di sekitar Telaga Batu di daerah Palembang.
Justru sebab pada piagam Telaba Batu itu terdapat nama-nama
jabatan yang mempunyai hubungan erat dengan pucuk pemerin
tahan (pemerintahan pusat), berbeda dengan yang terdapat pada
piagam persumpahan Karang Brahi clan Kota Kapur, maka saya lebih
cenderung untuk melokalisasikan pusat kerajaan Sriwijaya di sekitar
Telaga Batu. Keterangan itu diuraikan di bawah.
Meskipun piagam persumpahan Telaga Batu itu senapas dengan
piagam persumpahan Karang Brahi clan Kota Kapur, namun
Pusat Kerajaan Sriwijaya 197
redaksinya berbeda. Redaksi piagam kota Kapur dan Karang Brahi
boleh dikatakan sama. Yang saya maksud ialah orang-orang yang
disebut dalam persumpahan, sesudah bagian awal yang menguraikan
Tandrun Luah dan Kandra Kayet. Apa yang disebut piagam Telaga
Batu berbeda dengan apa yang disebut pada piagam Karang Brahi
dan Kota Kapur. Perbedaan redaksi ini menimbulkan pertanyaan:
Apa sebabnya berbeda? Menurut paham saya, tiap pengeluaran
piagam harus mengingat untuk siapa piagam itu dikeluarkan. Betul,
bahwa ketiga piagam persumpahan itu menyangkut seluruh lapisan
masyarakat di wilayah Sriwijaya. Namun, susunan lapisan masyarakat
di pusat kerajaan berbeda dengan susunan masyarakat di kota kecil
atau di dusun.
Di desa, terang tidak ada rajaputra atau bupati. Oleh sebab
itu, nama jabatan rajaputra dan bupati tidak akan disebut pada
piagam yang diperuntukkan bagi masyarakat desa. Penyebutan
pelbagai jabatan pada piagam tersebut dialamatkan kepada masyarakat
di mana terdapat pemegang jabatan-jabatan yang bersangkutan. Batu
piagam itu dengan sendirinya dipasang di tempat yang didiami oleh
pelbagai pejabat tersebut.
Piagam persumpahan yang memuat nama jabatan tinggi itu
ditemukan di Telaga Batu. Mungkin sekali, memang sejak semula
piagam itu ditempatkan di situ. Tidak ada orang yang dapat menga
takan, dari mana asal batu piagam tersebut. Kesimpulannya ialah
bahwa tempat di sekitar Telaga Batu pada akhir abad ke-7 didiami
oleh rajaputra, bupati, senapati, dandanayaka, dan sebagainya. Jabat
an-jabatan ini yaitu jabatan tinggi dalam pemerintahan. Pejabat
pejabat tinggi seperti itu tinggal di sekeliling raja; dengan kata lain,
tinggal di ibu kota.
Lebih jelas lagi jika kita membaca baris 9 sampai 11. Di situ
diuraikan, barangsiapa memberi tahu kepada bini haji tentang
keadaan di dalam rumah, dan membujuknya untuk mengambil
barang emas-emasan atau bersekutu dengan para pekerja di dalam
rumah, akan termakan sumpah. Yang dimaksud dengan bini haji
198 Sriwijaya
ialah istri raja yang bukan permaisuri. Yang dimaksud dengan rumah
ialah istana raja. Mungkin sekali, tidak semua bini haji tinggal di
dalam keraton, sehingga ada kemungkinan bahwa bini haji tidak
tahu keadaan di dalam. Terutama bini haji yang tinggal di luar. Para
pekerja di dalam istana tentu mengetahui seluk beluk keraton. Barang
siapa bermaksud jahat terhadap raja, ia akan bersekutu dengan
mereka. Bagaimanapun, bini haji tinggal di sekitar istana, setidak
tidaknya di dalam atau di sekitar ibu kota yang didiami oleh raja.
Pada baris 11 terdapat kata kadatuan. De Casparis memberi
tafsiran, bahwa kata kadatuan ini sama dengan kata J awa kadaton,
keraton, yakni: istana raja. Yang berarti wilayah datu ialah pardatuan
atau pardatvan.
Ucapan-ucapan di atas memberikan kesan, bahwa istana raja
terdapat di sekitar tempat bertegak batu persumpahan Telaga Batu.
Jika analisis di atas itu benar, maka kesimpulannya ialah bahwa ibu
kota kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 yaitu kota Palembang
sekarang. Tegasnya, terletak di sekitar Telaga Batu.
EM. Schnitger antara tahun 1935 dan 1936 dalam penggalian
di Telaga Batu memperoleh timbunan-timbunan bata. Batu-batu
siddhayatra banyak kedapatan di situ. Mungkin timbunan bata itu
bukan bekas keraton, melainkan bekas wihara yang didirikan di situ.
Oleh sebab itu, kita masih hams berusaha mencari di mana kiranya
letak keraton Sriwijaya.
sebab telah diambil kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya
ada di sekitar Telaga Batu di kota Palembang, dengan sendirinya kita
beranggapan bahwa yang disebut sungai Fo-shih oleh I-ts'ing ialah
sungai Musi. Penyebutan yang demikian biasa sekali. Bagian sungai
yang mengalir melalui suatu kota disebut oleh penduduk dengan
nama kota yang bersangkutan. Sungai Brantas, jika telah masuk kota
Surabaya, disebut kali Surabaya. Ibu kota Sriwijaya dilalui oleh sungai
Sriwijaya yang disebut oleh I-ts'ing sungai Fo-shih. Sungai itu ialah
sungai Musi zaman sekarang.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 199
Menurut penyelidikan geomorfologi yang dilakukan oleh saudara
Drs. Sukmono pada abad ke-7, kota Palembang terletak di pantai
laut pada ujung jazirah. Nama Palembang pada waktu itu belum
dikenal. N ama itu baru dikenal pada abad ke-13 dalam Chu-fan-chi
dan sejarah Ming. Seperti telah disinggung di muka dalam Ying
yang-sheng-lan (tahun 1416), kota itu disebut Po-lin-pang.
Mungkin nama itu telah ada pada abad ke-7, tetapi nama itu
tidak digunakan untuk menyebut kota yang bersangkutan. Kota yang
bersangkutan disebut oleh berita-berita Tionghoa dan oleh I-ts'ing,
Shih-li-fo-shih, dan pada piagam Sriwijaya yang paling tua, yakni
piagam Kedukan Bukit tahun 683, Sriwijaya. Nama kota Palembang
jelas berasal dari kata Sanskerta palimbang(a): breaking of the margin,
breaking of the edge. Sudah terang bahwa muara sungai Musi termasuk
wilayah Sriwijaya yang digunakan sebagai pelabuhan Sriwijaya. Pada
muaranya terdapat tempat yang disebut Shih-li-fo-shih, yakni
Sriwijaya alias Palembang zaman sekarang.
Pada waktu pendeta I-ts'ing mengunjungi Sriwijaya, agama
Budha di kerajaan Sriwijaya sedang berkembang. Dikatakan bahwa
di ibu kota yang dikelilingi oleh benteng, terdapat lebih dari 1.000
pendeta Budha; semuanya rajin mencurahkan perhatiannya kepada
ilmu dan mengamalkan ajaran Budha. Mereka melakukan penyeli
dikan dan mempelajari ilmu yang ada pada waktu itu, tidak ada
bedanya dengan Madhya-de~a di India. Aturan-aturan dan upacara
keagamaan sama sekali tidak berbeda. Oleh sebab itu, dianjurkannya
bila ada pendeta Tionghoa yang ingin pergi ke India untuk mengikuti
ajaran-ajaran dan membaca teks-teks asli, ada baiknya mereka itu
tinggal di Sriwijaya dua-tiga tahun dahulu untuk berlatih sebelum
berangkat ke India Tengah. Demikianlah keadaan pusat kerajaan
Sriwijaya pada akhir abad ke- 7 menurut uraian I-tsing. Dengan jelas
dinyatakan bahwa ibu kota Sriwijaya dikelilingi benteng.
Kerajaan Melayu dan Sriwijaya
Berita yang tertua mengenai kerajaan Melayu berasal dari T'ang
hui-yao yang disusun oleh Wang-p' u pada tahun 961 pada masa
130 Sriwijaya
pemerintahan dinasti T'ang, dan dari Hsin T'ang Shu yang disusun
pada awal abad ke-7 pada masa pemerintahan dinasti Sung atas
dasar sejarah lama, yang terdiri dari T'ang-hui-yao seperti tersebut di
atas dan Tse-fu-yuan-kuei susunan Wang-ch'in-jo dan Yang I antara
tahun 1005 dan 1013. Menurut berita itu, kerajaan Melayu mengi
rimkan utusan ke Tiongkok pada tahun 644/645. Pengiriman utusan
ke Tiongkok oleh kerajaan Melayu pada abad ke-7 hanya tercatat
satu kali itu saja. Selama itu, yang tampak di istana, kaisar utusan
dari kerajaan Sriwijaya yang disebut Shih-li-fo-shih.
Dalam Hsin T'ang Shu, tercatat bahwa kerajaan Shih-li-fo-shih
mengirim utusan ke Tiongkok pada mangsa waktu 670-673 dan
713-741. Sejak itu, utusan Shih-li-fo-shih tidak lagi kedengaran.
Pada masa pemerintahan rajakula Sung, negeri dn laut Selatan yang
namanya San-fo-ts'i mengirim utusan ke Tiongkok berkali-kali. Sung
Shih mencatat kedatangan utusan itu pada tahun 960, 962, 971,
972, 974, 975, 980, 983, 985, dan 988. Utusan yang terakhir ini
tinggal di Kanton sampai tahun 990 sebab mendengar bahwa
negerinya, San-fo-ts'i, sedang diserang oleh tentara dari Cho-p'o.
Jika kita memerhatikan berita tentang utusan kerajaan Melayu
yang tercatat dalam T'ang-hui-yao, dan membandingkannya dengan
berita tentang utusan kerajaan Sriwijaya yang terdapat dalam Hsin
T'ang Shu, maka terdapat kepastian bahwa kerajaan Melayu telah
berdiri pada tahun 644/645. Pada waktu itu, kerajaan Sriwijaya
belum mengirimkan utusan ke Tiongkok. Kepastian berdirinya
negara Sriwijaya barn pada tahun 670, ketika negara itu mengirimkan
utusan yang pertama kali ke Tiongkok. Sejak timbulnya kerajaan
Sriwijaya, negeri Melayu tidak lagi mengirim utusan ke Tiongkok.
Demikianlah, dapat dipastikan bahwa negeri Melayu lebih dahulu
berdiri daripada Sriwijaya. Berdassarkan berita tersebut, pengiriman
utusan ke Tiongkok oleh kedua kerajaan tersebut berselisih 25 tahun.
Pertanyaan yang timbul ialah: Mengapa kerajaan Melayu tidak
lagi mengirim utusan sejak timbulnya kerajaan Sriwijaya? J awaban
atas pertanyaan itu diberikan oleh pendeta I-ts'ing dalam bukunya,
Pusat Kerajaan Sriwijaya 131
Memoire dan Record, yang menyatakan bahwa kerajaan Melayu telah
menjadi bagian Sriwijaya. Tiap kali ia menyebut nama kerajaan
Melayu, selalu dibubuhi keterangan: yang sekarang telah menjadi
bagian Sriwijaya.
Pada bulan 11 tahun 671, I-ts'ing berangkat menurutkan bin
tang Yi dan Chen, meninggalkan Kanton menyusur pantai ke arah
selatan. Waktu berpisah dengan bin tang Chi, dua layar yang masing
masing panjangnya lima helai kain kampas melampai-lambai. Kapal
meninggalkan sisi utara yang kegelap-gelapan, mengarungi lautan,
menerjang gelombang besar-besar setinggi gunung. Sesudah hampir
20 hari berlayar, kapal sampai di pelabuhan Sriwijaya. Di Sriwijaya
ia mendarat dan menetap selama enam bulan untuk belajar Sabda
vidya, yakni tata bahasa Sanskerta. Atas bantuan raja Sriwijaya,
kemudian ia berangkat ke pelabuhan Melayu, yang sekarang menjadi
bagian Sriwijaya.
Keterangan tambahan itu harus ditafsirkan bahwa pendeta I
ts'ing pernah menyaksikan negeri Melayu sebagai kerajaan merdeka.
Kedatangan I-ts'ing yang pertama kali di Sriwijaya ialah pada akhir
tahun 671. Setelah enam bulan menetap di Sriwijaya untuk belajar
tata bahasa Sanskerta, dengan bantuan raja Sriwijaya ia berlayar ke
pelabuhan Melayu untuk melanjutkan perjalanannya ke Nalanda.
Jadi, pada tahun 671 kerajaan Melayu masih merdeka. Tetapi
dalam Record dan Memoire, setiap kali ia menyebut nama kerajaan
Melayu selalu dibubuhi keterangan bahwa kerajaan itu "sekarang
menjadi bagian Sriwijay. Record dan Memoire ditulis oleh I-ts'ing
di kerajaan Sriwijaya sesudah ia pulang dari Nalanda tahun 685.
Demikianlah, penundukan kerajaan Melayu itu harus terjadi sebelum
I-ts'ing menjelaskan bukunya, Record and Memoire. Kita tetapkan
dahulu bila kedua karya itu ditulis oleh I-ts'ing.
berdasar salah baca mengenai nama yang terdapat pada
piagam Kedukan Bukit akhir baris 7, Krom menganggap bahwa
piagam Kedukan Bukit mempunyai hubungan dengan penundukan
139 Sriwijaya
kerajaan Melayu. Dugaan itu didasarkan terutama pada berita I
ts'ing tentang negeri Melayu dalam Record and Memoire.
De Casparis menaruh banyak keberatan terhadap pendapat
Krom itu. Bahwa penundukan negeri Melayu itu terjadi sebelum
tahun 692 seperti dikemukakan oleh Krom tidaklah disangkal, sebab
berita itu memang termuat dalam Record dan Memoire, yang dikirim
ke Kanton pada tahun 692. Dalam bukunya, Hindoe-Javaansche
Geschiedenis, hlm. 116, Krom berpendapat bahwa I-ts'ing menulis
Record dan Memoire antara tahun 689 dan 692. Andaikata buku itu
telah selesai sebelumnya, maka 1-ts'ing akan membawanya sendiri
ke Kanton pada tahun 689. Uraian mengenai keadaan kerajaan
Sriwijaya hams tercatat antara tahun 689 dan 692. Oleh sebab itu,
peristiwa penundukan kerajaan Melayu harus menjadi sebelum tahun
692. Demikian Krom.
Menurut pendapat saya, alasan Krom tentang selesainya
penulisan Record dan Memoire di atas sesungguhnya kurang tepat,
sebab keberangkatan 1-ts'ing ke Kanton pada tahun 689 tidak
disengaja. Ia bermaksud menitipkan surat yang berisi permintaan
supaya dikirimi kertas, tinta, dan kue-kue dari Kanton. Tetapi sebab
pada waktu itu tiba angin baik, perahunya berangkat. I-ts'ing ikut
terbawa (Memoire, hlm. 176). Andaikata Record dan Memoire itu
telah selesai ditulis, tidak akan terbawa juga, sebab I-tsing tidak
ada maksud untuk pulang ke Kanton. Pelayarannya ke Kanton pada
tahun 689 tanpa persiapan.
Memoire ditulis kemudian daripada Record, sebab Memoire
menyebut Record dua kali. Tetapi, baik kata pengantar Record maupun
kata pengantar Memoire ditulis kira-kira pada waktu yang sama,
sebab kata pengantar itu saling sebut-menyebut. Kedua-duanya
menyatakan bahwa isi Memoire 2 volume, dan Record 4 volume (40
pasal). Suplemen Memoire sudah barang tentu ditulis sesudah teks
Memoire selesai. Ketika I-ts'ing menulisnya, Tao-hung berumur 23
tahun; pada tahun 689 ketika ia menggabungkan diri pada I-ts'ing,
ia berumur 20 tahun. Demikianlah, Suplemen Memoire itu selesai
Pusat Kerajaan Sriwijaya 133
pada tahun 692. Kata pengantar Record, Memoire, dan Suplemen
Memoire itu selesai ditulis kira-kira pada waktu yang sama.
Waktu I-ts'ing menyelesaikan bah (pasal) XXXIV dari Record,
ia berkata bahwa ia tinggal di Sriwijaya sudah lebih daripada empat
tahun sejak kedatangannya dari India. Pada pasal XXIII, ia berkata
bahwa ia sudah 20 tahun lebih mengembara. Ini berarti bahwa pada
waktu itu tahun 691 atau tahun 692, sebab ia meninggalkan Kanton
pada akhir tahun 671. Demikianlah, dapat diambil kesimpulan
bahwa Record itu ditulis antara tahun 691 dan bulan kelima tahun
692, sebab pada bulan kelima tahun 692 buku itu dititipkan kepada
pendeta Ta-chin yang berangkat ke Kanton. Empat tahun sebelum
tahun 691/692 ialah tahun 688/689. Kita lihat bahwa I-ts'ing pada
tahun 689 sudah ada di Sriwijaya. Jadi, pulangnya kembali dari India
kira-kira tahun 688.
Di dalam kata pengantar Record, I-ts'ing menyebut negeri
Melayu dalam rangkaian negara-negara di laut Selatan yang memeluk
agama Budha. Pada penyebutan itu ditambahkan keterangan "yang
sekarang menjadi bagian kerajaan Sriwijay'.Juga dalam Memoire, ia
menyebut negeri Melahyu dengan tambahan yang sama. Demikianlah
ketika I-ts'ing menulis Record dan Memoire, negeri Melayu itu telah
menjadi bagian kerajaan Sriwijaya.
Pada tahun 686, Sriwijaya mengeluarkan piagam persumpahan
Kota Kapur di Bangka, yang memuat ancaman kepada siapa pun
yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya. Pada piagam itu dinyatakan
bahwa pada waktu itu tentara Sriwijaya berangkat ke Jawa. Normal,
penundukan kerajaan Melayu harus dilakukan lebih dahulu sebelum
tentara Sriwijaya berangkat ke Jawa, agar jangan terpukul oleh negara
tetangganya. Lagi pula, piagam Karang Brahi yang senafas dengan
piagam Kota Kapur, tetapi tanpa tarikh tahun, kedapatan di wilayah
kerajaan Melayu, yakni di hulu Batanghari. Ini berarti bahwa pada
waktu itu, kerajaan Melahyu sudah dikuasai oleh Sriwijaya.
Demikianlah, penundukan kerajaan Melayu oleh Sriwijaya
terjadi sebelum tahun 686. Pendapat itu kita hubungkan dengan
134 Sriwijaya
hasil penelitian piagam Kedukan Bukit. Tidak lagi dapat dibantah
bahwa piagam Kedukan Bukit yaitu piagam jayasiddhay~tra, yakni
piagam perjalanan jaya atau piagam tentang arak-arakan keme
nangan. Piagam itu bertarikh tahun Saka 605 atau tahun Masehi
683. Perjalanan jaya mempunyai hubungan dengan kemenangan.
Kemenangan yang diperoleh Sriwijaya sebelum tahun 686 yaitu
kemenangan terhadap kerajaan Melayu. Demikianlah, kerajaan
Melayu itu ditunduk an oleh kerajaan Sriwijaya pada tahun 683.
Bahwa piagam Kedukan Bukit yaitu piagam perjalanan jaya terbukti
dari hasil penelitian yang berikut.
Piagam Kedukan Bukit
Piagam Kedukan Bukit hingga sekarang masih merupakan
persoalan yang sulit. Yang menjadi persoalan ialah pertama-tama
apa maksud piagam Kedukan Bukit itu? Apa yang dimaksud dengan
siddhay~tra pada piagam Kedukan Bukit? Di mana letaknya Minanga
Tamwa(r)? Itulah persoalan pokok yang hams dipecahkan untuk
sekadar mengetahui sejarah Sriwijaya. Persoalan tersebut bukan per
soalan yang gampang pemecahannya. Hal ini terbukti dari bersim
pang-siurnya pendapat para sarjana, baik dalam bidang bahasa mau
pun purbakala serta sejarah. Bertahun-tahun mereka mencurahkan
perhatiannya kepada persoalan tersebut, namun hingga sekarang
persoalan itu belum dapat dipecahkan. Kita coba ikut serta me
merhatikan persoalan tersebut. Untuk mendapatkan gambaran
tentang wujud piagam tersebut, pada akhir pasal ini kita cantumkan
transkripsi dan terjemahan piagam tersebut. Dengan jalan demikian,
dapat mengikuti jalan pikiran mencari pemecahan persoalan.
Tentang piagam Kedukan Bukit ini, Krom dalam bukunya,
Hindoe ]avaanshe Geschiedenis, menulis demikian: "Tidak semuanya
terang. Tetapi ziarah untuk mencari kekuatan gaib itu mencolok
sekali. Peristiwa itu cocok dengan pendapat umum di tempat-tempat
lain. Mungkinlah hal itu berhubungan dengan peristiwa mendirikan
kerajaan Sriwijaya. Suatu kenyataan ialah bahwa peristiwa ini
Pusat Kerajaan Sriwijaya 135
memperingati suatu kejadian yang penting sekali untuk negara."
Krom menambahkan catatan: "Jelasnya, beberapa kata tidak terang.
Mungkin itu nama orang, misalnya sambau (yang telah diterjemahkan
oleh Pro£ Poerbatjaraka: perahu), dan kata yang merupakan teka
teki minanga Tamwar), tempat raja membebaskan diri."
Apa yang dikatakan oleh Krom masih sebagai kemungkinan,
oleh Prof. Mr. Moh. Yamin sudah dianggap kepastian. Dalam
Laporan Kongres M.I.P.I. hlm. 193, ia menulis: "Baru pada tahun
683 dipahat permakluman proklamasi pembentukan kedatuan
Sriwijaya dengan resmi di atas batu bertulis Kedukan Bukit di
Palembang."
Demikianlah, baik Krom maupun Yamin mengira bahwa
piagam Kedukan Bukit yaitu piagam proklamasi kerajaan Sriwijaya.
Saya kira tidak ada hubungannya dengan soal mendirikan negara
Sriwijaya. berdasar berita Tionghoa Hsin T'ang Shu, kerajaan
Sriwijaya telah mengirim utusan ke Tiongkok pada tahun 670; jadi
13 tahun sebelum piagam Kedukan Bukit. Pada tahun 683, kerajaan
Sriwijaya telah berdiri tegak. Dapunta Hyang sudah mempunyai
tentara paling sedikit dua laksa. Demikianlah, anggapan bahwa
piagam Kedukan Bukit yaitu piagam proklamasi dengan sendirinya
tidak dapat dipertahankan.
Pada piagam Kedukan Bukit, diuraikan bahwa Dapunta Hyang
mangalap siddhay~tra pada tanggal 11 bulan terang waicakha tahun
683. Prof. G. Coed~s menganggap bahwa kata siddhay~tra yang
kedapatan pada piagam Kedukan Bukit itu sinonim dari kata siddhi
y@tra pada piagam Nhan-bi~u, dan berarti: "ziarah untuk mencari
kekuatan gaib". Demikianlah, Coed~s beranggapan bahwa piagam
Kedukan Bukit yaitu piagam ziarah demi kekuatan gaib. Katanya:
"Siddhay~tra lebih tepat siddhiy@tra, berarti: perjalanan atau ziarah
untuk memperoleh kekuatan gaib; itulah arti katanya pada piagam
Nhan-bi~u, demikian pula pada piagam kedukan Bukit. Baginda
naik perahu untuk memperoleh kekuatan gaib di Minanga Tam
wa(r).
136 Sriwijaya
Pendapat Coed~s itu disetujui oleh Krom seperti terbukti dari
kutipan di atas. Demikian pula oleh Prof. Nilakanta Sastri. R.A.
Kern, dalam karangannya yang termuat dalam B.KI. 88 tahun 1931,
menyamakannya dengan kebiasaan di Sunda ngalap berkah: mencari
(memperoleh) restu. Dr. B. Ch. Chhabra membahas kata iddhay~tra
ini dalam hubungannya dengan pedagang mahanavika Buddhagupta,
dan dongeng-dongeng yang tedapat dalam Kath~sarits~gara.
De Casparis menunjukkan bahwa kata sidhay~tra terdapat juga
pada piagam Jawa kuno dari tahun 856 "A metrical old Javanese in
scription dated 856. Pada strophe 22 terbaca, bahwa burung bangau,
gagak, clan angsa serta pedagang disuruh mandi untuk memperoleh
perlindungan. Kalimat itu dikuti akta siddha ta yatra siha. Meskipun
strophe itu masih gelap artinya, namun sudah dapat diraba bahwa
kata siddhay~tra itu digunakan dalam hubungan dengan burung dan
pedagang, yang berpindah-pindah tempat clan berhubungan dengan
air, sebab burung-burung dan pedagang itu dianjurkan supaya
mandi. De Casparis menunjukan bahwa burung-burung itu dalam
bahasa Sanskerta disebut tirthakaka. Yang mendapat tekanan dalam
soal siddhay~tra ini yaitu "perpindahan tempat', dari tempat yang
satu ke tempat yang lain.
Setelah memerhatikan pembahasan para sarjana mengenai kata
siddhay@tra, timbul pertanyaan yang prinsipil: Apakah kata siddhay~trad
perlu diubah menjadi siddhiy~tra seperti yang dilakukan oleh Coed~s?
Saya berpendapat bahwa perubahan itu tidak perlu. Alasannya ialah:
1). Kata siddhay~tra itu saja sudah mempunyai arti, yakni "perjalanan.
2). Kata siddhay~tra pada baris 3 itu mempunyai hubungan dengan
kata siddhay~tra pada baris 10 dalam bentuk kata majemuk
jayasiddhay~tra, artinya 'perjalanan jaya. 3). Kata siddhay~tra dan
jayasiddhay~tra memang terdapat pada batu piagam Kedukan Bukit;
bentuk kata itu memang betul.
berdasar pendapat itu, maka batu piagam Kedukan Bukit
yaitu piagam siddhay~tra, bahkan piagam jayasiddhaytra, yakni
piagam yang mencatat perjalanan jaya. Sudah jelas bahwa perjalanan
Pusat Kerajaan Sriwijaya 137
jaya yaitu kejadian besar dalam kehidupan kenegaraan, sebab
perjalanan jaya itu mempunyai hubungan dengan kemenangan yang
diperoleh dalam peperangan. Kata jayasiddhay~tra digunakan sebagai
penutup catatan perjalanan, termuat pada baris 10. Dalam istilah
Jawa dikatakan: "dijadikan gong. Maksudnya: perkara yang paling
penting. Bahwa piagam Kedukan Bukit itu piagam perjalanan,
terbukti sebab pada piagam yang terlalu pendek itu tercatat beberapa
perjalanan, yakni:
(a) Tanggal 11 bulan terang, Waisaka Dapunta Hyang naik perahu.
(b) Tanggal 7 bulan terang, Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari
Minanga Tamwa(r) dengan tentara.
(c) Tanggal 5 bulan terang bulan, Asada Dapunta Hyang datang
membuat wanua.
(d) .... wihara ini di wanua ini. (Tambahan pada pecahan piagam.)
Mengenai berita pada (a), tidak dinyatakan bahwa Dapunta
Hyang naik perahu diikuti oleh tentaranya. Berita itu hanya
menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan dengan
naik perahu. Jarak waktu antara (a) clan (b) ialah 26 hari. Sekonyong
konyong pada (b) dinyatakan bahwa Dapunta Hyang berangkat dari
Minanga Tamwar) dengan membawa dua puluh ribu tentara.
Mengingat singkatnya jarak waktu antara berita (a) clan (b) yakni 26
hari saja, rupanya perjalanan Dapunta Hyang tanggal 11 bulan terang
bulan Waisaka itu langsung menuju Minanga Tamwa(r).
Dengan kata lain, Dapunta Hyang datang di Minanga Tamwa(r)
untuk menggabungkan diri pada tentara Sriwijaya yang berjumlah
dua puluh ribu. Dari Minanga Tamwa(r), Dapunta Hyang menuju
suatu tempat, yang tidak terbaca seluruhnya. Yang terbaca hanya
huruf-huruf ma, ta(ka), dja(). Coed~s mengira Matajap; Krom
menduga Malayu.
Bacaan Krom ini dibantah oleh De Casparis, sebab pada nama
itu tidak tampak aksara la. Aksara yang masih agak terang terbaca
pada baris 7itu menurut penglihatan saya da; wujudnya sama dengan
138 Sriwijaya
aksara keenam baris 9 pada kata datang (datam). Coed~s juga mengira
kalau bukan da ialah ja (y), tetapi ia memilih ja (ya). Aksara tersebut
masih disusul aksara lain yang samar. Yang tampak hanya garis ver
tikal. Coed~s mengira bahwa garis itu permulaan aksara pa. Menurut
penglihatan saja, itu yaitu aksara na, serupa dengan na pada kata
wanua baris 9. Jika tidak salah lihat atau salah duga, nama itu kiranya
matadanau. Artinya sama saja dengan telaga atau danau atau matd
air. Nama itu cocok dengan Telagad pada nama Telaga Batu, tempat
ditemukannya beberapa piagam Sriwijaya. Di antaranya yang
terpenting dalam hubungannya dengan persoalan kita ialah pecahan
piagam siddhay~tra yang memuat kalimat penutup: ... wihara ini di
wanua ini. (De Casparis, Prasasti negara kita II, hlm. 14-15).
Piagam tentang mendirikan bangunan biasanya tersimpan dalam
bangunan yang bersangkutan itu sendiri. Tidaklah aneh jika biara
itu didirikan di Matadanau, yang sekarang disebut Telaga Batu.
Dapunta Hyang beserta tentaranya datang di tempat tersebut dengan
sukacita. Pada tanggal 5 bulan terang bulan Asada, beliau datang
dengan lega gembira membuat wanua. Meskipun tidak dinyatakan
datang di tempat mana, namun kiranya sudah jelas bahwa tempat
itu yaitu tempat yang baru saja disebut.
Piagam itu lalu ditutup dengan kalimat: <;riwijaya jayasiddha
yatra subhiksa ... Perjalanan Dapunta Hyang diiringkan oleh dua
puluh ribu tentara bukanlah perjalanan biasa. Perjalanan yang
demikian yaitu perjalanan jaya. Perjalanan jaya itu mulai dari
Minanga Tamwa(r). Perjalanan jaya menyusul suatu kemenangan.
Jadi, sebelum Dapunta Hyang melakukan perjalanan jaya, tentara
yang mengiringkannya memperoleh kemenangan dahulu dalam
peperangan. Arak-arakan tentara yang dikepalai oleh Dapunta Hyang
menuju tempat di mana beliau akan mendirikan wanua. Pembuatan
wanua itu dimulai pada bulan Asada. Nyata sekali bahwa tentara
dua laksa itu berkumpul di Minanga Tamwa(r), dan dari situ mereka
mulai bergerak ke Matadanau, mengadakan arak-arakan jaya.
Minanga Tamwa(r) masih merupakan teka-teki yang belum
dapat ditebak. R.A. Kern dalam terbitannya B.KI. 88 tahun 1931
Pusat Kerajaan Sriwijaya 139
menyamakan Minanga Tamwa(r) dengan muara sungai Musi. Kata
minanga ditafsirkan: "muara''. Jika minanga Tamwa (r) ditafsirkan
muara sungai Musi, timbul pertanyaan: Adakah pernah sungai Musi
itu disebutTamwa(r)? Dalam Record, I-ts'ing selalu menyebut sungai
Fo-shih atau sungai Sriwijaya. Namanya sekarang juga bukan
Tamwa(r), tetapi Musi. Lagi pula, perjalanan dari ibu kota Sriwijaya
ke muara sungai Musi tidak akan makan waktu lama seperti
dinyatakan di muka.
Dalam Riwayat negara kita , Prof. Poerbatjaraka menerangkan
bahwa Minanga Tamwa sebagai tempat pertemuan dua sungai. Ia
mendasarkan keterangannya pada kata tamwa(r), yang menurut
pendapatnya bentuk lama dari kata t~mu. Pendapat ini sudah terang
tidak dapat dipertahankan. De Casparis segera mengetahui kesalahan
itu, sebab pada piagam Talang Tuwo sudah ada kata tmu (t~mu).
Yang dimaksud oleh Pro£ Poerbatjaraka dengan pertemuan dua
sungai itu ialah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri
di daerah Minangkabau. Dari nama itu, Poerbatjaraka menerangkan
terjadinya nama Minangkabau. Tidak aneh bahwa nama Minang
kabau berasal dari Minanga Kampar. Tetapi suatu pertanyaan ialah:
Apakah Minanga Tamwa(r) itu sama dengan Minanga Kampar? De
Casparis tidak menyatakan pendapatnya secara positif tentang
persoalan Minanga Tamwa(r). la lebih cenderung kepada tafsiran
muara sebagai pertemuan antara sungai dan laut. Prof. Moh. Yamin
juga tidak menyetujui pendapat Prof. Poerbatjaraka. Ia membacanya
Minanga Hambar. Kata minanga diartikan "sungai", seperti masih
dikenal dalam bahasa Batak, sedangkan hambar sama dengan tawar.
Menurut pendapatnya, yang dimaksud dengan sungai tawar ialah
sungai Sengkawak di kaki Bukit Siguntang. Aksara ta dan aksara ha
jauh sekali bedanya. Yang terbaca sudah pasti aksara ta bukan ha.
Moh. Yamin dikuasai oleh gagasan akan menyamakan kata hambar,
tawar. Jika aksara ma(m) pada hambar itu dimasukkan pada kata
tawar, maka kita mendapatkan kata tamwar. Caranya berpikir unik,
tetapi tidak dapat memecahkan persoalan. Kata tamwa(r) tidak perlu
diperkosa.
140 Sriwijaya
Tidak ada keberatan untuk mengartikan kata minanga itu sungai
atau muara atau pertemuan antara dua sungai. Seperti dikemukakan
oleh Mr. Moh. Yamin, kata minanga dalam bahasa Batak masih berarti
sungai. Di Yogyakarta, masih dikenal kata winanga sebagai nama
sungai di bagian barat kota Yogyakarta. Di Sumatra, dikenal kata
binanga sebagai nama kota di tepi sungai Barumun. Pokoknya,
minanga mempunyai hubungan dengan sungai. Tinggallah sekarang
memecahkan persoalan di mana letaknya Tamwa(r)? Dalam bahasa
negara kita /Melayu, kata minanga dengan arti "sungai" tidak lagi
dikenal. Kata itu sudah usang.
Kata-kata zaman sekarang yang mempunyai fonem b, jika
kedapatan pada piagam Sriwijaya, biasanya mempunyai fonem w
misalnya: wulan: bulan; wanak: banyak; seriwu: seribu, dan
sebagainya. Bunyi a pada suku terakhir berubah menjadi o dalam
bahasa Minangkabau. Misalnya, siapa: sapo; apa: apo; lama: lamo;
bersua: bersuo, dan sebagainya. zaman sekarang, di seluruh Sumatra
tidak ada sungai yang bernama Tamwa(r).
Sudah pasti bahwa sungai Tumwa(r) itu sekarang masih ada,
namun namanya berubah ucapannya atau ganti ham sama sekali.
Biasanya nama itu hanya berubah bentuknya atau ucapannya,
menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakatnya. Jika kita berpegang
pada kebiasaan yang demikian itu, mungkin sungai Tamwa itu masih
juga kita kenal di daerah J ambi Hulu. N amanya sekarang ialah Ba tang
Tebo. Kota yang terletak pada pertemuan Batang Tebo dan Batang
Hari bernama Muara Tebo. Biasanya nama tempat yang terdapat pada
pertemuan dua sungai namanya sama dengan nama sungai cabang
yang masuk dalam sungai yang lebih besar, didahului dengan kata
muara. Misalnya, Muara Tembesi. Tempat ini terdapat di tempat
pertemuan antara sungai Tembesi dan Batanghari. Demikianlah, kita
kenal nama Muara Rupit, Muara Enim, Muara Tebo, Muara Dua,
dan sebagainya.
Masih ada satu persoalan lagi yang minta perhatian, yakni kata
marlepas pada baris 4 dalam kalimat: Dapunta Hyang marlepads dari
Pusat Kerajaan Sriwijaya 141
Minanga Tamwad ... Coed~s menerjemahkannya: le roi se libera de,
artinya: "baginda membebaskan diri dari ..." Coed~s tidak
menyelesaikan terjemahannya, sebab ia menghubungkannya dengan
peristiwa siddhiy~tra yang dilakukan oleh raja Kamboja, Jayawarman
II, untuk melepaskan diri dari kekuasaan Jawa. Jayawarman
menghentikan pemberian upeti kepada raj a J awa.
Jiwa terjemahan yang demikian tidak cocok dengan isi piagam
Kedukan Bukit yang merupakan kronik perjalanan. Krom juga tidak
dapat keluar dari kesulitan tersebut. Sesungguhnya, kesulitan yang
terbesar ialah memecahkan persoalan Minanga Tamwa(r). Jika kata
tersebut telah diketahui apa maksudnya, pemecahan kata marlepads
tidak lagi menimbulkan kesulitan. Minanga Tamwa(r) saya iden
tifikasikan dengan Batang (Muara) Tebo, di daerahJambi Hulu. Kata
dari berhubungan dengan tempat, tidak dengan janji atau kekuasan
orang lain.
Sesuai dengan jiwa kronik perjalanan, ungkapan marlepas dari
Minanga Tamwa berarti: "berangkat dari Minanga Tamwa'' (Muara
atau Batang Tebo). Dalam bahasa Melayu di Malaya dan Singapura,
hingga sekarang masih digunakan kata berlepas untuk pengertian
berangkat. Misalnya: "Mereka akan berlepas esok hari (dikutip dari
Berita Harian tanggal 17 Mei 1961).
Dalam membahas piagam Kedukan Bukit, Prof. Coed~s sangat
dipengaruhi oleh isi piagam Nhan-bi~u sehingga ia mengubah bentuk
kata siddhay~tra menjadi siddhiy~tra. sebab kata siddhiy~tr
mempunyai hubungan dengan kekuatan gaib, maka kata marlepas
ditafsirkan: "membebaskan diri dari ..." Kata j ay pada jayasiddhay@tr
dihilangkan, mungkin dianggap kelebihan dari bentuk Griwijaya
yang mendahuluinya.
Jika tafsiran di atas itu benar, maka perjalanan jaya itu dimulai
dari Muara (Batang) Tebo menuju Matadanau (Telaga Batu) di kota
Palembang, akibat kemenangan yang diperoleh tentara Sriwijaya
dalam menundukkan kerajaan Melayu pada tahun 683. Penundukan
kerajaan Melayu oleh Sriwijaya didasarkan atas:
149 Sriwijaya
(1)Pemberitaan I-ts'ing... yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya.
(2)Letak Batang (Muara) Tebo di Jambi Hulu, yang termasuk wilayah
kerajaan Melayu.
(3) Penemuan piagam persumpahan Karang Brahi yang dikeluarkan
oleh raj a Sriwijaya. Karang Brahi jelas terletak di wilayah kerajaan
Melayu di sebelah tenggara Muara Tebo, di jalan raya (sungai
dan darat) antara pantai timur dan daerah pedalaman, yang
banyak mengandung emas.
Wujud piagam Kedukan Bukit itu seperti berikut:
(1)Swasti cri cakrawarsatita 605 ekadaci cu
(2) Klapaksa wulan waicakha dapunta hyang najik di
(3)Samwau mangalap siddhay@tra di saptami cuklapaksa
( 4) Wulan jyetha dapunta hyang marlepads dari minanga
(5) Tamwa(r) mamawad yang wala dua laksa ko
( 6) Dua ratus cara dismawu dangan jalan sariwu
(7) Tlu ratus sapulu dua wanyaknya datang di matada(nau)
(8)Sukhacitta di pancami cuklapaksa wula(n) (asada)
(9) Laghu mudita datang marwuat wanua
(10) (riwijaya jaya siddhaytra subhiksa ...
Terjemahannya:
(1) Bahagia! Pada tahun Saka 605 hari kesebelas
(2)Dari bulan terang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
(3) Perahu melakukan siddhayatra. Pada hari ketujuh dari bulan terang.
( 4) Bulan Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari Minanga
(5)Tamwa(r) membawa tentara dua laksa orang
( 6) Dua ratus orang di perahu; yang berjalan seribu
(7)312 banyaknya; datang di matada(nau)
(8) Dengan senang hati; pada hari kelima dari bulan terang bulan
(Asada)
Pusat Kerajaan Sriwijaya
(9)Dengan lega gembira datang membuat wanua ...
(10) Sriwijaya melakukan perjalanan jaya dengan lengkap ...
143
Pusat Kerajaan Melayu
Sebelum menetapkan pusat kerajaan Melayu, lebih dahulu kita
membicarakan adat-istiadat kaum pendatang yang mendirikan
kerajaan Melayu. Di seberang utara Selat Malaka, terhampar daerah
Semenanjung Melayu, yang disebut Malaya, didiami oleh penduduk
asli bangsa Melayu. Di seberang selatan memanjang pantai timur
Sumatra, di mana terletak pelabuhan Melayu yang sudah dikenal
pada zaman Sriwijaya.
N ama Malaya dan Melayu berasal dari kata yang sama, yakni
kata Sanskerta malaya, artinya: "bukit". Kata tersebut berkembang
di dua tempat yang berbeda. Di seberang utara Selata Malaka, kata
tersebut mempertahankan bentuk aslinya malaya; di seberang selatan
kata tersebut mengalami perubahan bunyi, menjadi Melayu. Di daerah
Orissa, masih ada gunung yang bernama Malayagiri, di dekat ujung
Comorin ada lagi gunung yang bernama Malayam. Bentuk tersebut
terang turunan dari bentuk kata Sanskerta malaya. Dalam bahasa
Tamil kata malaya itu menjadi malai, artinya: "bukit".
Sesudah menjadi kebiasaan kaum pendatang untuk menyebut
tempat tinggalnya yang baru dengan nama tempat kediaman yang
ditinggalkannya. Apalagi jika antara tempat tinggal yang baru dan
yang lama terdapat kemiripan. Demikianlah, Semenanjung Melayu
disebut Malaya oleh kaum pendatang dari India sesuai dengan
keadaan alamnya.
Daerah Semenanjung Melayu penuh dengan bukit-bukit.
Penduduk aslinya menyebut dirinya bangsa Melayu, sebab mereka
kebanyakan keturunan orang pendatang dari seberang selatan Selat
Malaka. Dalam kesusastraan J awa kuno, nama Malaya belum dikenal.
Yang tersebut dalam Nagarakretagama, yang ditulis pada tahun 1365,
ialah nama Tumasik, Pahang, dan Trengganu.
144 Sriwijaya
Mungkin sekali nama Malaya ini timbulnya dalam pemakaian
sesudah abad ke-14. Juga, jika kita menyelidiki asal nama kerajaan
Campa, kita menjumpai peristiwa pemindahan nama dari India ke
tempat lain. Di India, malah ada dua tempat yang bernama Campa;
satu di Bhutan dan lainnya di Madhya Pradesh. N ama pulau Madura
juga berasal dari nama provinsi di India Selatan. Demikian pula nama
Brunei, yang kemudian menjadi nama seluruh pulau (yakni Borneo),
berasal dari nama sungai Porunai di daerah Travancore. zaman
sekarang, adat yang demikian itu masih berjalan. Di daerah
transmigrasi Sumatra Selatan, banyak amat nama desa yang sama
dengan nama kota di J awa, seperti Purwokerto, Purbolinggo,
Kutaharjo, dan sebagainya. Di daerah Selangor, masih ada kampung
J awa dan kampung Asam J awa. Adat kebiasaan J awa terbawa pula ke
tempat tersebut. Nama camatnya ialah Radin Sunarno, meskipun
sudah keturunan di situ.
Melayu sebagai nama kerajaan di Sumatra lebih tua daripada
Malaya sebagai nama Semenanjung Melayu. N ama Melayu sebagai
nama kerajaan sudah dikenal dalam berita Tionghoa pada tahun 644/
645. Kata Melayu memang mirip sekali dengan kata Malaya. Yang
berbeda hanya vokalnya terakhir, yakni a dan u.
Seperti telah disinggung, kata malaya sebagai nama Semenanjung
Melayu mempertahankan bentuk aslinya Sanskerta. Sedangkan kata
Melayu sebagai nama kerajaan di Sumatra mengalami perubahan
bunyi: datangnya di negara kita melalui bahasa Tamil, malai. sebab
sesudah mengucapkan bunyi i, mulut tertutup, maka terdengar
bunyi u yang pada hakikatnya bukan fonem dalam bahasa Tamil.
Oleh sebab itu, kata malai lalu menjadi malai-u Malayu.
Pengaruh India Selatan tampak pada gelar beberapa raj a Melayu
yang termuat pada piagam Khmer dan pada piagam Kertanegara di
tepi sungai Langsat. N ama raj a Melayu pada piagam Khmer ialah
crimat trailokyaraja Maulibhusana Warmmadewa. Gelar Kertanegara
ialah crimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa. Gelar crimat dipakai
di India Sela tan dengan arti "tuan', istimewa dalam kehidupan
keagamaan di biara-biara.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 145
berdasar gelar tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa
raja-raja Melayu itu kecuali mengepalai kerajaan juga seeara resmi
mengepalai kehidupan keagamaan. Demikianlah, baik gelar rajanya
maupun nama kerajaannya berasal dari India Selatan. Peristiwa yang
agak meneolok ialah bahwa piagam-piagam yang dikeluarkan oleh
raja-raja Melayu, yang ditemukan hingga sekarang, kebanyakan
tertulis dalam bahasa Sanskerta; berbeda dengan piagam-piagam
Sriwijaya. Tidak ada piagam Melayu yang ditemukan di sekitar kota
Jambi. Pada tahun 1286, raja Kertanagara memberikan hadiah area
kepada raja Melayu, c;rimat Tribuwanaraja Mauliwarmmadewa.
Dinyatakan dengan tegas bahwa area Amoghapac;a dengan 13
pengikutnya diangkut dari bhi Jawa ke Sumatrabh~mi, ditempatkan
di Dharmma~raya atas perintah raja Sri Kertanagara Wikrama Dhar
mottunggadewa. Atas hadiah itu semua penduduk Melayu gembira:
para pendeta, ksatria waisya dan sudra, terutama raja ~rimat tribu
wanaraja Mauliwarmmadewa.
Dharmmac;raya terletak di daerah hulu sungai Batanghari.
Selama pemerintahan Adityawarman, segala piagam tentang kerajaan
Melayu ditemukan di sekitar hulu sungai Batanghari. Piagam Pagar
Ruyung dari tahun 1356 ditemukan di bukit Gombak, kemudian
diangkut ke Pagar Ruyung. Pada piagam ini Adityawarman menyebut
dirinya: Adityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimaniwarm
madewa maharajadiraja.
Pada piagam Suroaso dari tahun 1375, Adityawarman menyebut
dirinya Surawacawan, artinya: yang dipertuan di Surawa~a. Suroaso,
hingga sekarang, masih ada sebagai nama tempat di hulu sungai
Batanghari. Pada tugu nisan, Adityawarman menyebut dirinya
Kanakamedinindra, artinya: yang dipertuan di pulau emas, yakni
Sumatra. Nama Suwarnadwipa juga digunakan pada piagam Pagar
Ruyung. Nama itu sinonim dari nama Suwarnabh~mi pada piagam
Kertanagara. Pendeta I-ts'ing menyebutnya Chin-chou: pulau emas.
Justru, Karang Brahi yang terkenal sebab emas bubuknya. Karang
Brahi yaitu daerah penghasil emas. Karang Brahi terletak di hulu
sungai Merangin. Amat jauh dari kota J ambi.
146 Sriwijaya
Pada piagam sungai Langsat dari tahun 1347, di balik piagam
Kertanagara, untuk pertama kalinya kita mengenal nama Malayapura
sebagai nama kerajaan Melayu di bawah pemerintahan Aditya
warman. Rouffaer mengemukakan pendapat, bahwa pusat kerajaan
Melayu terletak di Jambi lama. Pendapat itu termuat dalam B.KI.
77 hlm.11-19 tahun 1921. Pendapat Rouffaer itu mendapat sam
butan baik dari pihak Prof. Krom dan telah menjadi pendapat umum.
Krom menduga bahwa pusat kerajaan Melayu telah dipindahkan ke
Pagar Ruyung dekat Fort van de Kapellen (H.J.G. hlm. 413).
Jika pendapat Rouffaer itu dicocokkan dengan piagam Tanyore
yang dikeluarkan pada tahun 1030 oleh Rajendracoladewa, maka
pendapat itu agak goyah. Pada piagam tersebut, dinyatakan bahwa
ibu kota kerajaan Melayu dengan benteng pertahanannya terletak di
atas bukit. Daerah pantai timur Sumatra merupakan tanah datar,
tidak berbukit, apalagi daerah sekitar Jambi. Hampir seluruhnya
merupakan tanah rendah yang masih muda. Jika wujud daerahJambi
dicocokkan dengan arti nama Melayu, tidak sesuai, sebab Melayu
berasal dari malai atau malaya yang berarti "bukit". Demikianlah,
baik dilihat dari pernyataan piagam Tanyore maupun dari arti nama
Melayu, pusat kerajaan Melayu tidak mungkin terletak di J ambi.
Lagi pula, piagam-piagam penting yang ditemukan hingga sekarang,
tidak ditemukan di sekitar kota Jambi, tetapi di pedalaman, seperti
telah disinggung di atas.
Piagam persumpahan Karang Brahi, yang dimaksud sebagai
peringatan keras raja Sriwijaya kepada rakyat Melayu, tidak terdapat
di kota atau di sekitar kota Jambi, melainkan di hulu sungai
Merangin. Piagam serupa itu hanya layak ditempatkan di daerah
jajahan yang masih membahayakan. Diletakkan di tempat yang ramai
dikunjungi orang, supaya diketahui orang banyak. Apalagi, jika kita
memerhatikan perjalanan jaya yang dilakukan oleh Dapunta Hyang
mulai dari Batang (muara) Tebo, maka kiranya tidak aneh bila pusat
kerajaan Melayu itu terletak di pedalaman di sekitar Muara Tebo.
Jika demikian, maka pusat kerajaan itu terpisah dari pelabuhan.
Pantai laut tidak merupakan syarat mutlak bagi pusat kerajaan. Pusat
Pusat Kerajaan Sriwijaya 147
kerajaan Singasari dan Majapahit tidak terletak di tepi pantai. Pusat
kerajaan itu terpisah dari pelabuhan. Biasanya, pusat kerajaan itu
terletak di tempat yang menguntungkan: di tanah subur yang
merupakan daerah pertanian, atau di pantai laut yang merupakan
pelabuhan. Daerah di sekitar Muara Tebu yaitu daerah makmur,
daerah pertanian. Lagi pula, Muara Tebo mudah dicapai dari pela
buhan Jambi melalui sungai Batanghari. Demikianlah, baik ditinjau
dari peninggalan-peninggalan kuno yang berupa piagam maupun
dari pemberitaan piagam Tanyore dan piagam Kedukan Bukit, maka
letak pusat kerajaan Melayu di sekitar Muara Tebo lebih mengun
tungkan daripada di kota J ambi. Pusat kerajaan yang letaknya demi
kian tidak mudah diserang oleh musuh baik dari laut maupun dari
darat. Untuk dapat mencapai Muara Tebo, musuh harus berhasil
mere but pelabuhan J ambi lebih dahulu.
Justru sebab Sriwijaya bernafsu untuk menguasai lalu-lintas
kapal di Selat Malaka, Sriwijaya harus merebut pelabuhan Melayu
dahulu. Tetapi sebab pelabuhan hanya sebagian dari milik kerajaan,
maka pusat kerajaan itu perlu diserbu. Hanya dengan demikian, maka
kekuasaan kerajaan Melayu itu patah. Ditinjau dari sudut ini, maka
kita dapat memahami mengapa perjalanan jaya itu mulai dari Muara
Tebo, tidak dari kota Jambi.
Piagam Talang Tuwo
Setahun setelah penundukan kerajaan Melayu, raja Sriwijaya
memberikan hadiah kepada rakyat berupa taman. Pemberian hadiah
itu disertai piagam yang bertarikh tahun 684, dan berisi pesan
Dapunta Hyang kepada rakyat untuk menikmati hadiah taman yang
bersangkutan.
Piagam tersebut ditemukan di Talang Tuwo yang terletak 5 km
sebelah barat daya Bukit Siguntang, pada tanggal 17 November 1920
oleh residen Westenek. Penemuan piagam diumumkan pada tahun
1921 di majalah berkala Jawa I. Penetapan tarikh tahun berasal dari
Dr. F.D.K. Bosch. Dari piagam tersebut, ternyata bahwa Dapunta
148 Sriwijaya
Hyang menghadiahkan beberapa taman di pelbagai tempat yang
tidak disebut namanya. Selain memuat pesan Dapunta Hyang Sri
J ayanaga, piagam terse but memuat doa untuk kebahagiaan raj a
Sriwijaya atas kemurahan hatinya. Didoakan agar beliau memperoleh
segala hal yang baik sesuai dengan ajaran agama Budha. Segala hal
yang baik itu disebut dengan istilah-istilah dalam agama Budha.
Pesan Dapunta Hyang termuat pada baris dua, mulai dengan kata
sawanyaknya dan berakhir pada baris dengan kata sacaracarad.
Selanjutnya yaitu ucapan pemahat atau pembesar yang menyuruh
pahat piagam tersebut, berupa doa kepada Dapunta Hyang.
Dalam bukunya, Hindoe-Javaansche Geschiedenis, him. 121,
Krom menulis tentang piagam Talang Tuwo itu seperti berikut: "Na
de daardoor te breiken gelukkige testanden volgen de in het uitzicht gestelde
goederen van geestelijke aard, het ontwaken van de gedachte aan de Bodhi,
het niet gescheiden zijn van Drie Juweelen etc. . . . (Artinya: Setelah
mencapai keadaan yang berbahagia, kemudian menyusul hal-hal
rohaniah seperti: membangkitkan bodhicitta, tidak bercerai dengan
Dang H yang Ratnatraya dan sebagainya ... ) .
Jasa Coed~s dalam penerbitan piagam Talang Tuwo berupa usaha
membetulkan bacaan teks dan mencari arti kata-katanya. Namun,
sebab kurang tepat menghubungkan kata-kata yang bersangkutan,
terjemahannya sangat kusut. De Casparis mengemukakan beberapa
keberatan terhadap terjemahan Coed~s dalam Prasasti negara kita II.
Istilah-istilah agama Budha itu tidak saja diterjemahkan, sebab hal
itu lebih banyak berhubungan dengan agama daripada usaha untuk
memahami maksud piagam.
Teks dan terjemahan piagam Talang Tuwo itu seperti berikut:
1. Swasti cri cakawarsatita 606 dim dwitiya cuklapaksa wulan caitra
s~na tatk~l~nya parlak criksetra ini niparwuat.
2. parwa n dapunta hyang cri jayanaga (ca) ini pranindh~nm dapuntad
hyang sawanyaknya m mit~nam di sini nyiur pinang hanau, ru
3. mwiya dngan samicrnya yang k~yu nim~kan wuahnya tathapi h~ur
wuluh pattung ityewam~di punarapi yang parlak wukan
Pusat Kerajaan Sriwijaya 149
4. dngan tawad tal~ga sawanyaknya yang wuatku sucarita par~wis
prayojan~kan puny@nya sarwwasatwa sacaracara ware pay~nya tmu
5. sukha di ~sanak~l~ di antara m@rgga lai tmu muah ya ah~ra dngan
air niminumnya sawanyaknya wuatnya huma parlak mancak mu
6. ah ya manghidupi pacu prak~ra marhulun tuwi wr~ddhi muah ya
jangan ya nikn~i sawanyaknya yang upasargga p~dana swapna
wighna, warang wuad
7. tnya kathamapi anukla yang graha naksatra par~wi s diya nirwy~dhi
ajara kawuatananya tath~pi sawanyaknya yang bhr~ty~nya
8. sayt@rijawa dr~dhabhakti muah ya diya yang mitr~nya tuwi j@ngan
ya kapata ya wininya mulang anukla bh~rayymuah ya warang
stha
9. n~nya lagi curi ucca wadh~nya parad~ra di s~na punarapi tmu ya
kaly~namitra marwwangun wodhicitta dngan maitri
10.-dh~ri di dang hyang ratnatraya j@ngan mars~rak dngan hyang
tatnatraya tathapi nityak~la ty~ga mar~ila ks~nti marwwangun
wiryya r~jin
11. t~hu di samicranya cilpak~la par~wis samadhitacinta tmu ya prajnya
smr~ti medhwi punarapi dhairyyam~ni mah~s~ttwad
12.wajracar~ra anupamagakti jaya tath~pi j@tismara awikalendriya
mancak rpa subhaga hasin halap ~de
13. yaw~kya wrahmaswara j~di l~ki swayambhu puna(ra)pi tmu ya
cint~maninidh~na tmu janmawacit~ karmmawacit~ klecawacit~
14.awag~na tmu ya anutt~rabhisamyaksamvodhi.
Artinya:
Bahagia! Tahun Saka 106 pada hari kedua bulan terang bulan
Caitra, itulah waktunya taman Sriksetra ini dibuat, milik Dapunta
H yang Sri J ayanaga.
150 Sriwijaya
Inilah pesan Dapunta Hyang; "Semuanya yang ditanam di sini:
nyiur, pinang, enau, rumbia, dan lain-lainnya. Pohon-pohon itu
dimakan buahnya, tetapi aur, buluh, betung dan yang semacam itu.
Demikian pula taman-taman lainnya dengan tebat dan telaganya,
yang kubuat. Semua itu dimaksudkan demi kebahagiaan segenap
makhluk, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak."
Hendaklah daya upaya yang mulia itu mendapat kesukaan di
kemudian hari dengan jalan lain. Semoga beliau mendapat makanan
dan air untuk minumnya. Segala sesuatu yang dibuatnya-ladang,
kebun luas-supaya menghidupi segala makhluk. Semoga semua
hamba beliau hidup sejahtera! Jauhkanlah beliau dari segala bencana,
dari pidana dan penyakit tidak dapat tidur. Semoga segala usahanya
berhasil baik, bintang-bintangnya lengkap, terhindar dari penyakit
dan dianugerahi awet muda! Semoga semua abdi setia bakti kepada
beliau. J angan hendaknya para sahabat berkhianat terhadap beliau;
para bini hendaknya tetap setia sebagai isteri kepada beliau. Di mana
pun beliau berada, janganlah dilakukan curi, curang, bunuh, dan
zina di situ.
Mudah-mudahan beliau bertemu dengan kalyanamitra, mem
bangun bodhicitta dengan maitri, menyembah kepada Ratnatraya,
bahkan senantiasa tenang bersila membangun keteguhan hati,
keuletan, dan pengetahuan tentang perbedaan segala silpakala dan
pemusatan pikiran.
Semoga beliau memperoleh pengetahuan, ingatan, dan kecer
dasan, dan lagi ketetapan mahasatwa, badan manikam wajracarira
yang sakti tanpa umpama. Mendapat kemenangan dan ingatan kepada
kelahiran yang lampau, indera lengkap, rupa penuh, kebahagiaan,
kegembiraan, ketenangan, kata manis, suara Brhma. J adi lelaki sebab
kekuatannya sendiri. Mudah-mudahan beliau memperoleh cinta
manindhara, janmawa~ita, karmmawacita, klegawacita, akhirnya
mendapat anuttarabhisamsyaksambodhi.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 151
Gelar Dapunta Hyang
Baik pada piagam Talang Tuwo maupun pada piagam Kedukan
Bukit, telah kita jumpai gelar dapunta hyang, tanpa mengetahui tepat
bagi siapa gelar itu diperuntukkan. Mengingat bahwa menurut berita
Tionghoa, dari sejarah Sung banyak keluarga di kerajaan San-fo-ts'i
yang bergelar pu, maka gelar dapunta hyang hams diperuntukkan
bagi orang yang amat tinggi kedudukannya.
Kehormatan yang amat tinggi itu ditunjuk an dengan bubuhan
da-, -ta, dan sebutan hyang. Pemakaian gelar terikat pada waktu dan
tempat. Oleh sebab itu, mungkin sebutan atau gelar yang sama,
berbeda maknanya di Jawa dan di Sumatra. zaman sekarang, kata
teuku atau tengku di Aceh dan Persekutuan Tanah Melayu
menunjukkan keturunan raja yang masih akrab. Demikian pula, gelar
atau sebutan tengku dan ungku di Johor. Tetapi, sebutan tengku atau
engku di Minangkabau biasa digunakan untuk menyebut seorang
guru. Derajatnya sama dengan pak zaman sekarang di negara kita ,
dan chikgu di Singapura. Misalnya, engku Sulaiman (Minangkabau)
= chikgu Sulaiman (Singapura) = pak Sulaiman (negara kita sekarang).
Ringkasnya, gelar atau sebutan itu dalam pemakaiannya dapat
mengalami perubahan semantik.
Pada piagam dari tahun 860 di Jawa, terdapat gelar dapunta,
yakni dapunta Anggada. Contoh lain, dapunta i Panunggalan: yang
dipertuan di Panunggalan (K.O. IX); dapuntaMarhyang(O.JO. II).
Dapunta Anggada yaitu pembesar biara. Bagaimanapun, dapunta
yaitu gelar yang berhubungan dengan kehidupan di biara.
Hingga sekarang, menurut De Casparis, belum ada bukti yang
menunjukkan bahwa dapunta itu digunakan sebagai gelar raja. Jika
kita memerhatikan piagam lain sebagai analogi, maka berdasar
analogi itu mungkin dapat diambil kesimpulan. Yang saya maksud
ialah gelar yang kedapatan pada piagam Khmer, yang telah diterbitkan
oleh Coed~s dalam B.E.FE.O. 18, 6 (1918), dan pada piagam
Kertanegara yang ditemukan di tepi sungai Langsat. Nama raja
Melayu (Sriwijaya) pada piagam Khmer ialah crimat Trailokyaraj
159 Sriwijaya
Maulibhusana Warmmadewa, dan pada piagam Kertanagara crimat
Tibhuwanaraja Mauliwarmmadewa. Kedua-duanya menggunakan
gelar crimat, di India Selatan berarti "tuan', dan dipakai khusus dalam
kehidupan keagamaan. Tetapi gelar crimat itu di wilayah kerajaan
Melayu pada tahun 1286 terang digunakan sebagai gelar raja.
Kata crimat sebagai gelar di India Selatan sama tepat dengan
kata dapunta di Jawa pada tahun 860. Kedua-duanya digunakan
sebagai gelar pembesar biara. Jika kita mengenal ~rimat Trailokyaraja
Maulibhusana Warmmadewa pada piagam Khmer dan ~rimat Tribhu
wanaraja Mauliwarmmadewa pada piagam Kertanagara, maka pada
piagam Talang Tuwo, kita mengenal dapunta hyang Sri Jayanaga.
Dapunta hyang memberikan pesan kepada segenap rakyat untuk
menikmati hadiah taman.
Hingga sekarang, orang berpendapat bahwa piagam Talang Tuwo
yaitu piagam Sriwijaya, dan hadiah taman itu diberikan oleh raja
Sriwijaya. Kiranya, yang memberi pesan ialah raja Sriwijaya. Yang
berpesan yaitu orang yang bergelar dapunta hyang. Segala puji-pujian
yang muluk dan doa diperuntukkan bagi dapunta hyang, yang
memberi hadiah taman. J adi, logisnya dapunta hyang yaitu gelar
raja Sriwijaya. Pada piagam Talang Tuwo itu, yang bergelar dapunta
hyang ialah Sri Jayanaga (~a). Jadi, Sri Jayanaga yaitu raja Sriwijaya
pada tahun 684. Pada piagam Kedukan Bukit, juga disebut dapunta
hyang tan pa diikuti nama. Sama dengan dapunta hyang pada piagam
Talang Tuwo baris 2. Mengingat bahwa selisih waktu antara piagam
Kedukan Bukit dan piagam Talang Tuwo hanya satu tahun saja, maka
kiranya dapunta hyangpada Kedukan Bukit itu yaitu dapunta hyang
Sri Jayanaga juga.
Andaikata dapunta hyangpada piagam Kedukan Bukit itu hanya
gelar kepala biara, seperti dapunta Anggada, maka agak aneh bahwa
kepala biara ikut campur dengan urusan ketentaraan. Juga, (pada
piagam Talang Tuwo) agak aneh bahwa kepala biara memberikan
hadiah taman ( tidak hanya satu) kepada masyarakat. Biasanya kepala
biara malah mendapat hadiah dari raja atau pembesar lainnya. Yang
Pusat Kerajaan Sriwijaya 153
menimbulkan dugaan bahwa dapunta hyang yaitu kepala biara,
kecuali perbandingan dengan dapunta pada piagamJawa Kuno, juga
penemuan pecahan piagam, di mana terdapat pecahan kalimat yang
berbunyi: wihara ini diwanua ini. Sudah jelas bahwa Dapunta Hyang
datang di Matadanau untuk membuat wanua. Dari pecahan piagam
tersebut, nyata bahwa di wanua itu terdapat biara. berdasar jalan
pikiran di atas, maka biara itu yaitu hadiah raja Sriwijaya, yang
bergelar dapunta hyang.
Dari pelbagai piagam, nyata sekali bahwa raja-raja Sriwijaya
sikapnya sangat baik terhadap agama Budha, bahkan menjadi pro
motor untuk kesuburan agama tersebut. Setidak-tidaknya, raja
Sriwijaya menjadi pelindungnya, jika tidak langsung turut campur
dalam urusan agama secara aktif.
Pun, dalam piagam Nalanda dinyatakan bahwa Balaputra, dewa
yang menyebut dirinya Suwarnadwip~dhipamah~raja, keturunan
Yawabh~mip~lah, mendirikan sebuah wihara di Nalanda. Meskipun
menurut tafsiran soal mendirikan biara itu mempunyai maksud
politik, yakni untuk mengeratkan persahabatan dan kemudian untuk
memperoleh bantuan dari India, namun ditinjau dari sudut ke
agamaan, hadiah biara itu menunjuk an kecendarungan raj a Sriwijaya
kepada agama Budha. Tentang Balaputradewa ini, akan diuraikan
dengan lebih panjang di belakang.
Pada charter Leiden, yang tertulis dalam bahasa Tamil, dinyata
kan juga bahwa ~ri Marawijayotunggawarman, putra raja Cudama
niwarman keturunan Sailendra, raja Kataha dan Sriwijaya, meng
hadiahkan sebuah desa di Nagippattana. Ayahnya menghadiahkan
sebuah biara yang diberi nama Cudamaniwarmanwihara. Hadiah
itu diberikan pada tahun pertama pemerintahan raja Cola Rajaraja I
(1005/1006). Dalam persahabatannya dengan Tiongkok, raja San
fo-ts'i, Ti-hua-ka-lo (Dewa Kalottungga), memperbaiki candi Tien
Ching di Kanton dan menghadiahkan 400.000 uang emas, yang
kemudian digunakan untuk membeli ladang padi guna membina
candi dan para pendeta di biara. Raja San-fo-ts'i, Ti-hua-ka-lo, men
154 Sriwijaya
dapat julukan jenderal besar yang menyokong pembaharuan ibadah
clan keutamaan. Perbaikan candi Tien-Ching dilakukan pada tahun
1079.
Dari contoh-contoh di atas, terbukti bahwa raja-raja Sriwijaya
sering menghadiahkan biara untuk kepentingan kehidupan
keagamaan di luar negeri. Tidaklah aneh jika raja Sriwijaya juga
menghadiahkan sebuah biara di negerinya sendiri yang diperingati
pada pecahan piagam yang terdapat di Telaga Batu, tempat dapunta
hyang mendirikan wanua. Pemberian hadiah biara bertalian dengan
perjalanan jaya yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dari Muara
Tebo atas kemenangan terhadap kerajaan Melayu, dengan diikuti
oleh dua puluh ribu tentara.
Pembangunan biara yang demikian yaitu gejala biasa. Sebuah
manifestasi rasa terima kasih. Pembangunan candi Tara di Kalasan
pada tahun 778 juga bertepatan dengan munculnya rajakula Sailen
dra Pancapana Panangkaran clan berhentinya rajakula Sanjaya, yang
menggunakan perhitungan tarikh Sanjaya. Piagam yang menggunakan
tarikh Sanjaya yang terakhir ialah piagam Taji Gunung ( O.]. 0.
XXXVI). Pembangunan bangunan suci sebagai manifestasi rasa terima
kasih seorang raja yang demikian banyak dilakukan di luar negeri.
Piagam Persumpahan
Piagam persumpahan Karang Brahi ditemukan pada tahun 1904
oleh Kontrolir L.M. Berkhout di hulu sungai Merangin, cabang sungai
Batanghari; atau lebih tepat, cabang sungai Tembesi. Krom telah
mengemukakan pendapatnya tentang piagam persumpahan Karang
Brahi itu pada tahun 1921 dalam T.B. G. LIX hlm. 426-431, clan
dalam bukunya, Hindoe-Javaansche Geschiedenis, hlm. 117. la
berpendapat bahwa pengeluaran piagam itu boleh dipandang sebagai
pernyataan kekuasaan Sriwijaya yang, katanya, sama dengan peristiwa
menaikkan bendera Sriwijaya. Pendapat itu masih ditambah dengan
ucapan, yang berdasar pemberitaan I-ts'ing: kerajaan Melayu
sebagai saingan berat Sriwijaya juga sudah ditundukkan.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 155
Menurut De Casparis, ancaman yang termuat dalam piagam
Karang Brahi dan Kota Kapur ditujukan kepada musuh-musuh
dalam negeri. Fragmen a dan b yang ditemukan di Bukit Siguntang
dan Telaga Batu sangat menarik perhatian, sebab kedua pecahan
piagam itu menguraikan perjuangan dalam negeri, setidak-tidaknya
pada awal pertumbuhan kerajaan Sriwijaya. Musuh-musuh dalam
negeri ini sesungguhnya sulit ditegaskan, sebab kita tidak mengetahui
dengan pasti, sampai di mana batas kerajaan Sriwijaya pada tahun
686, dan berapa luas wilayah Sriwijaya asli, dan di mana letaknya.
Dalam uraian mengenai perjalanan pulang dari India, I-ts'ing
mencatat bahwa banyak negeri-negeri bawahan Sriwijaya. Sayang
sekali, I-ts'ing tidak menyebutnya satu demi satu. Namun, kita dapat
menangkap maksudnya, yakni bahwa negeri-negeri bawahan itu
semula berdiri sendiri sebagai kerajaan merdeka sebelum masuk
wilayah Sriwijaya. I-ts'ing hanya menyebut satu saja di antara negeri
negeri bawahan yang banyak itu, yakni kerajaan Melayu. Kiranya,
kerajaan Melayu yaitu salah satu negeri bawahan Sriwijaya yang
sangat penting.
Yang terang ialah bahwa I-ts'ing mempunyai kepentingan dalam
penyebutan itu, sebab pelabuhan Melayu yaitu tempat I-ts'ing
singgah dalam perjalanannya ke Nalanda. Dengan negeri-negeri
bawahan lainnya, I-ts'ing tidak mempunyai sangkut paut. Ancaman
itu jelas dimaksud untuk mengelakkan pemberontakan di negeri
negeri bawahan yang disebut oleh I-ts'ing. Oleh sebab itu, piagam
persumpahan itu harus ditempatkan di negeri-negeri yang dianggap
membahayakan.
Hingga sekarang, piagam persumpahan itu baru tiga buah yang
ditemukan, yakni piagam Karang Brahi, piagam Kota Kapur, dan
piagam Telaga Batu. Mungkin masih ada lagi yang akan menyusul.
Menilik isinya, piagam-piagam persumpahan itu harus dikeluarkan
pada waktu yang bersamaan dan atas motif yang sama pula. Hanya
satu saja di antara piagam-piagam persumpahan itu yang memuat
tarikh tahun, yakni piagam Kota Kapur, dengan tarikh tahun 686.
156 Sriwijaya
Jadi, piagam-piagam persumpahan itu dikeluarkan tiga tahun sesudah
penundukan kerajaan Melayu.
Piagam persumpahan Kota Kapur ditutup dengan kalimat yang
berbunyi, bahwa pada waktu piagam itu dikeluarkan, tentara Sriwijaya
berangkat ke Pulau J awa, sebab pulau J awa tidak berbakti kepada
Sriwijaya. ltulah motif pengeluaran piagam-piagam persumpahan
tersebut. Keberangkatan tentara Sriwijaya ke Jawa membawa akibat
pengurangan kekuatan pertahanan dalam negeri. Dengan sendirinya
Dapunta Hyang takut kalau-kalau timbul pemberontakan di wilayah
Sriwijaya sebagai usaha untuk memperoleh kemerdekaan kembali,
atau sebagai balas dendam terhadap Sriwijaya.
Pemberontakan yang mungkin timbul yaitu pemberontakan
di negeri-negeri bawahan. Tidak mustahil pula bahwa pemberontakan
akan timbul di pusat kerajaan akibat hasutan para pembesar, yang
tidak menyetujui politik Dapunta Hyang. Oleh sebab itu, tekanan
terletak pada drohaka, pengkhianat. Barang siapa melawan kekuasaan
Dapunta Hyang, atau barang siapa melakukan pemberontakan atau
bersekutu dengan pemberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya, dicap
sebagai drohaka atau pengkhianat. Dalam bentuk apa pun, pem
berontakan terhadap kekuasaan Dapunta Hyang akan ditumpas.
Penumpasan itu pasti akan berhasil, seperti telah terbukti dengan
penumpasan Kandra Kayet, pemberontak yang kuat sekali.
Peristiwa penundukan Kandra Kayet rupa-rupanya masih hangat
sekali dan masih teringat oleh setiap orang di wilayah Sriwijaya.
sebab ketiga-tiganya, piagam persumpahan itu mulai dengan
peristiwa penumpasan Kandra Kayet. Jangankan orang lain yang lebih
lemah, Kandra Kayet yang sangat kuat sekalipun berhasil ditumpas
oleh Dapunta Hyang. Dalam perang melawan Kandra Kayet Sriwijaya
kehilangan seorang senapati yang bernama Tandrun Luah. Dalam
perkelahian, Tandrun Luah terbunuh oleh Kandra Kayet. Namun,
akhirnya Kandra Kayet berhasil juga diringkus oleh Dapunta Hyang.
Penumpasan Kandra Kayet oleh Dapunta Hyang itulah yang hams
menjadi peringatan pada setiap orang di wilayah Sriwijaya yang
Pusat Kerajaan Sriwijaya 157
berangan-angan untuk memberontak terhadap kekuasaan Dapunta
Hyang. Itulah makna manggala ketiga piagam persumpahan tersebut,
yang hingga sekarang belum berhasil diterjemahkan.
Secara lengkap, George Coed~s menguraikan penemuan piagam
Kota Kapur dalam terbitannya, Les inscriptions malaieses de <;rivijaya.
Secara singkat uraiannya demikian.
Kota Kapur terletak di pulau Bangka, di sebelah utara sungai
Menduk. Uraian tentang tempat penemuan piagam Kota Kapur
disampaikan oleh van der Meulen kepada Roufaer (B.K.I.7 4, 1918
hal. 142). Van der Meulen, administrator di Sungai Selan, me
nemukan piagam persumpahan Kota Kapur dalam bulan Desember
1892.
Pada tanggal 5 Agustus 1893, batu piagam tersebut diangkut
ke Jakarta. Brandes selaku konservator membuat pengumuman
tentang penerimaan batu piagam tersebut dalam notulen tahun 1893.
Pada waktu itu, boleh dikatakan bahwa Brandes yaitu satu-satunya
sarjana yang menaruh perhatian kepada piagam tersebut. Ia pun
membuat turunan piagam yang diterimanya (0.J.0 CXXI).
Pada tahun 1909, sepeninggal Dr. Brandes, turunan itu
dikirimkan kepada Prof. Kern. Tiga tahun kemudian, Kern mener
bitkan teks dan terjemahannya dalam B.KI. 67 tahun 1913, hlm.
393-400. Teks dan terjemahannya dalam lagi dalam V.G. VII hlm.
205."Suatu karya yang jenial!" kata Coed~s tentang terbitan Kern
tersebut. C.O. Blagden mencoba memberikan catatan linguistik
tentang piagam Kota Kapur dalam jurnal M.B.R.A.S. 64 tahun 1913
di bawah judul The Kota Kapur (West Bangka) inscription. Seterusnya,
piagam tersebut mendapat perhatian G. Coed~s dalam terbitannya,
Le Royaume de <;rivijaya tahun 1918, dan dalam Les inscriptions mal
aises de <;rivijaya tahun 1930. Perhatian G. Ferrand termuat dalam
L'empire Sumatranais de (rivijaya tahun 1922 dan perhatian Krom
dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis tahun 1926, 1931.
Suatu kenyataan ialah bahwa piagam Karang Brahi tepat benar
dengan piagam Kota Kapur. Yang berbeda hanya barisnya. Kedua
158 Sriwijaya
piagam tersebut mulai dengan peristiwa Kandra Kayet dan Tandrun
Luah. Kata hamwan pada piagam Karang Brahi terdapat pada baris
I; pada piagam Kota Kapur pada baris I? Kata Tandrun Luah pada
piagam Karang Brahi terdapat pada baris 2, 2-3, 5-6; pada piagam
Kota Kapur pada baris I, 2, 2, sama-sama tiga kali. Piagam Telaga
Batu senapas dengan piagam Kota Kapur dan Karang Brahi, namun
redaksinya agak berbeda. Juga, piagam Telaga Batu mulai dengan
manggala yang sama.
Telah disinggung di muka, bahwa manggala itu hingga sekarang
belum berhasil diterjemahkan. De Casparis mengemukakan pendapat
bahwa manggala piagam persumpahan itu mungkin tetap gelap
untuk selama-lamanya. Menurut pendapat saya, manggala itu bukan
mantra persumpahan, seperti yang dikemukakan oleh Coed~s dan
para ahli sejarah lainnya, tetapi peristiwa pada abad ke-7 di kerajaan
Sriwijaya. Tidak dapat dikatakan, pembesar daerah mana Kandra
Kayet itu, sebab ketiga piagam persumpahan yang bersangkutan
tiak memberitakan asalnya. Yang jelas ialah asal Tandrun Luah. Ia
yaitu senapati atau pahlawan Sriwijaya, sebab pada piagam Kota
Kapur dan Karang Brahi dinyatakan bahwa ia menjaga kedatuan
Sriwijaya. Pada piagam Telaga Batu, pernyataan itu tidak ada.
Tidak dapat disangkal bahwa Tandrun Luah yaitu nama orang,
sebab di situ dinyatakan bahwa Tandrun Luah dibunuh: Tandrun
Luah winunu. Pembunuhnya ialah Kandra Kayet: Kandra Kayet
makamatai.
Penjajaran Tandrun Luah dengan para dewata yang menjaga
kedatuan Sriwijaya hams ditafsirkan bahwa yang dimaksudkan yaitu
arwah Tandrun Luah. Setelah ia dibunuh oleh Kandra Kayet,
arwahnya masih tetap menjaga kedatuan Sriwijaya. Zaman sekarang,
orang akan menyamakannya dengan arwah para pahlawan (kemer
dekaan) yang telah gugur. Selama hidupnya, mereka memper
tahankan negaranya terhadap serangan musuh; sebab mereka seka
rang sudah gugur, arwahnya menjaga atau melindungi negara.
Demikianlah, kalimat kita tuwi Tandrun Luah wanyaknya dewatad
Pusat Kerajaan Sriwijaya 159
mulanya yang parsumpahan parawis saya tafsirkan: "Dan kau Tandrun
Luah clan semua para dewata, yang dijadikan permulaan (pembuka
an) seluruh persumpahan. Piagam persumpahan memang mulai
dengan peristiwa Tandrun Luah clan Kandra Kayet.
Pada manggala itu dijelaskan siapa musuh Tandrun Luah. Di
situ kedapat









