n Ronkel.
Bahwa Fo-shih-pu-lo yaitu transkripsi Tionghoa dari Wijayapur
mudah dipahami, sebab Shih-li-fo-shih merupakan transkripsi dari
Sriwijaya. Yang menjadi persoalan ialah di mana letaknya.
Moens menyamakan Wijayapura dengan Phucavarao dari berita
Portugal, dan menempatkannya di muara sungai Rejang di pantai
barat Kalimantan. Menurut pendapatnya, nama Kin-fo dalam
kerajaan Malano yaitu singkatan dari Kin-li-fo-che. Nama Kin-li
fo-che disamakannya dengan Shih-li-fo-shih, yang diberitakan oleh
94 Sriwijaya
pendeta I-ts'ing. Menurut dugaannya, kerajaan Malano bukan saja
meliputi Kalimantan Utara saja, tetapi juga Brunei dan Serawak.
sebab Moens menyamakan Fo-shih-pu-lo dengan Puchavarao, dan
nama ini dianggap sebagai nama ibu kota di muara sungai Rejang
sebelum Brunei tampil ke muka, maka ia mencari kerajaan Mo-chia
man transkripsi dari kerajaan Mah~kam, juga di Kalimantan. Nama
itu disamakan dengan Muara Kaman di pantai timur Kalimantan.
Penyamaan Kin-fo dan Shih-li-fo-shih ini sangat diragukan.
Demikian pula Puchavarao dengan Wijayapura, sebab bedanya
terlalu jauh jika Moens mendasarkan identifikasinya itu atas
kemiripan bunyi. Lagi pula, Fo-shih-pu-lo, Mo-chia-man, disebut
oleh I-ts'ing sesudah K'u-lun, yakni pulau Kondor. Tidak mungkin
tempat-tempat itu dicari di Kalimantan, yang letaknya di sebelah
selatan pulau Kondor. Apalagi, penyamaan Mo-chia-man dengan
Muara Kaman yang letaknya di pantai timur Kalimantan pada sungai
Mahakam. Tempat itu sama sekali tersisih dari jalan pelayaran In
dia-Tiongkok. Menurut jalan pelayaran India--Tiongkok, tempat
tempat itu harus dicari di pantai timur kontinen Asia, sebelah utara
pulau Kondor.
Kiranya tempat itu harus di pantai Vietnam. Pada tahun 192,
kerajaan Lin-i (Campa) sedang dalam pembentukan. Dalam kata
pengantar Record, kerajaan Lin-i sudah disebut oleh I-ts'ing dalam
rangkaian negara-negara yang memeluk Ratnatraya: Sriksetra,
Langkasuka, Dwarawati, dan Lin-i (Campa) di ujung timur.
Dalam perkembangannya kemudian, kerajaan Lin-i meliputi
pantai Indo-Cina. Di sebelah selatan sampai Panrang zaman sekarang,
di sebelah utara sampai Quang-nam. Di dalamnya termasuk Khanh
hoa dan Binh-dinh. Tempat-tempat ini mempunyai nama lama, yakni
Pandurangga: Pandurang; Kanthara: Khanh-hoa; Wijaya: Binh-dinh;
dan Amarawati: Quang-nam. Jelas sekali bahwa nama-nama itu
semuanya menunjukkan adanya pengaruh dari India. Pada zaman I
ts'ing, penduduk Lin-i memeluk Aryasamitinikaya. Jika nama Shih
li-fo-shih yaitu transkripsi Tionghoa dari nama Sriwijaya, maka Fo
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 95
shih-pu-lo yaitu transkripsi dari Wijayapura. Wijayapura ialah Binh
dinh. Demikianlah, Fo-shih-pu-lo itu terletak di Binh-dinh, di pantai
timur Vietnam, pada garis 14 110' L.U.
11. A-shan
Nama negeri A-shan yang dikemukakan oleh I-ts'ing barangkali
sama dengan nama negeri I-shang-na-pu-lo yang diberitakan oleh
Hs~-en-chuang. Is-hang-na-pu-lo (I~anapura) terletak di sebelah
timur To-lo-po-ti (Dwarawati) dan di sebelah barat Mo-ho-chan-po
(Mahacampa) atau Lin-i.
Negeri itu tidak jauh dari Binh-dinh, pusat kerajaan Wijayapura
yang disebut juga oleh I-ts'ing dengan nama Fo-shih-pu-lo. A-shan
atau I-shan yaitu transkripsi Tionghoa yang mirip sekali dengan
kata Sanskerta Icana. Fone a pada suku terakhir na tidak diucapkan.
Baik menurut ucapan namanya maupun menurut letaknya, A-shan
pada I-ts'ing itu sama dengan 1-shang-na-pu-lo pada Hsilen-chuang,
yakni kerajaan I~anapura di sebelah barat Campa.
12. Lang-ya-hsiu
Pada masa pemerintahan Liang-shu (502-557), tercatat adanya
utusan dari kerajaan Lang-ya-hsiu atau lang-ga-siu (ejaan
Groeneveldt), yakni pada tahun 515, 523 dan 531; pada masa
pemerintahan Ch'en-shu (557-589), datang utusan dari Lang-ya
hsiu pada tahun 568. Dalam catatan itu dinyatakan bahwa Lang
ya-hsiu terletak di laut Selatan, 24.000 li dari Kanton. Lebarnya
dari timur ke barat 30 hari perjalanan dan dari selatan ke utara 20
hari perjalanan. Negeri itu menghasilkan aloe dan kamfer. Dari berita
itu saja belum dapat diketahui dengan jelas letaknya kerajaan Lang
ya-hsiu. Perdebatan yang pernah dilakukan oleh para ahli sejarah
mengenai persoalan Lang-ya-hsiu ini sungguh menarik perhatian.
Di bawah ini, beberapa kutipan mengenai kerajaan Lang-ya-hsiu
yang disamakan dengan Langkasuka.
96 Sriwijaya
(1) Dalam Record mengenai Lang-ya-hsiu itu, I-ts'ing hanya
memberitakan bahwa Lang-ya hsiu terletak di sebelah tenggara
Sriksetra. Katanya: "Di sebelah selatan dari gunung tersebut ialah
kerajaan Shih-li-ch'a-ta-lo (Sriksetra). Di sebelah tenggara kerajaan
ini ialah kerajaan Lang-ka-su (Liang-chia-shu), yakni Langkasuka.
Terus ke timur yaitu kerajaan Lin-i (Campa). Uraian I-ts'ing
mengenai Langkasuka itu termasuk dalam rangka penyebutan
negeri-negeri di sebelah timur India. Tidak dalam rangka negeri
negeri di laut Selatan.
(2)Dalam Memoire, I-ts'ing berkata bahwa I-lang, Chih-ngan, dan
I-hs~an berangkat dari Kanton melalui Funan menuju Lang-chia
(Langkasuka). Chih-ngan jatuh sakit dan meninggal di sana. I
lang dan Ish~an meneruskan perjalanannya ke Sim-ha-la (Sri
Lanka). Dari berita I-ts'ing yang kedua ini, nyata bahwa
Langkasuka yaitu pelabuhan yang terletak di jalan pelayaran
dari Tiongkok ke Sri Lanka.
(3) Berita Hs~en-chuang dari abad ke-7 mengenai letak Langkasuka
sama dengan berita I-ts'ing dalam Record. Yang agak berbeda ialah
sebutan namanya. Pada I-ts'ing, nama itu jelas Lang-ka-su (Lang
chia-shu); pada Hsilen-chuang ialah Chia-mo-lang-chia, yang
mirip dengan Kamalangka. Yang dimaksud oleh kedua nama itu
ialah tempat yang sama, yakni kerajaan Langkasuka yang letaknya
di sebelah tenggara Sriksetra.
Uraian Hs~en-chuang, yang mengadakan perjalanan melalui
daratan, mengenai letak Langkasuka agak lebih jelas daripada
uraian I-ts'ing. Katanya: "Berdekatan dengan laut besar, di lembah
pegunungan terletak kerajaan Shih-li-cha-ta-lo (Sriksetra).
Selanjutnya di sebelah tenggara di sudut laut besar ialah kerajaan
Chiao-mo-lang-chia. Terus ke timur ialah kerajaan To-lo-po-ti
(Dwarawati). Terus ke timur lagi ialah kerajaan I-shang-na-pu-lo
(I~anapura). Di sebelah timurnya ialah kerajaan Mo-ho-chan-po
(Mahacampa); kerajaan ini juga disebut Lin-i. Terus ke timur
yaitu kerajaan Yen-mo-lo (Amarawati?). Untuk mencapai enam
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 97
negeri ini, jalannya melintasi gunung dan sungai yang sangat ,,
curam.
Baik Hstien-chuang (Hiuen Thsang) maupun I-ts'ing jelas sekali
menempatkan Lang-ka-shu di sebelah tenggara Sriksetra (Prome) dan
di sebelah barat Dwarawati (Siam Selatan). Pernyataan inilah yang
menimbulkan keberatan terhadap kesimpulan Roland Braddell.
Letak kerajaan Dwarawati diuraikan dalam Chiu-T'ang-Shu
seperti berikut: "Negara Tu-ho-lo berbatasan di sebelah selatan dengan
P'an-p'an; di sebelah utara dengan Kio-lo-sheh-fu; di sebelah timur
dengan Chen-la; dan di sebelah barat dengan laut besar. Dari Kwang
chou jauhnya lima bulan perjalanan." Dari uraian itu jelas sekali
bahwa yang dimaksud dengan Tu-ho-lo (Dwarawati) yaitu negara
yang letaknya di wilayah Siam Selatan. Biasanya, yang dianggap
sebagai ibu kotanya ialah Nakon Prathom.
Coed~s menempatkan Langkasuka di Semenanjung Melayu.
Roland Braddell di pantai timur Malaya, tegasnya di muara Dungun.
Penempatan ini pada hakikatnya agak berlainan dengan pemberitaan
I-ts'ing dan Hstien-chuang. Kerajaan lama yang terletak di sebelah
tenggara Sriksetra atau Prome dan di sebelah barat Dwarawati yaitu
kerajaan Mon. Jika berita I-ts'ing dan Hstien-chuang itu benar, maka
Lang-ka-shu harus meliputi kerajaan Mon.
Menurut pemberitaan Hs~en-chuang, kerajaan Langkasuka
terletak di sudut laut besar, di sebelah tenggara Sriksetra. Yang
dimaksud dengan sudut laut besar kiranya teluk Martaban. Lagi pula,
I-ts'ing memberitakan bahwa kerajaan Lang-ka-shu itu dalam rangka
uraiannya mengenai negeri-negeri di sebelah timur India, dan
menyebutnya sesudah Sriksetra dan sebelum Dwarawati.
Sesungguhnya, pemberitaan dalam uraian Chang-ch~n, yang
berangkat dari Kanton ke Chih-tu pada tahun 607, belum juga
dapat memberi kepastian bahwa Langkasuka itu terletak di pantai
timur Malaya. Berita itu menyatakan bahwa Chang-ch~n pada bulan
10 tahun 607 berlayar dari Kanton dengan angin baik. Sesudah lebih
dari 20 hari berlayar, ia sampai di bukit Tsiao-shih yang membujur
98 Sriwijaya
ke tenggara, lalu berlabuh di Ling-chia-po-pa-to, yang berhadapan
dengan Lin-i. Kemudian berlayar lagi menuju selatan, sampai di
Shih-tze-shih. Dari sini, setelah berlayar dua atau tiga hari melalui
banyak pulau, tampak di sebelah barat gunung-gunung kerajaan
Lang-ya-shu. Dari sini berlayar lagi ke selatan, meninggalkan pulau
Chi-lung, lalu sampai di pantai Chih-tu. Perahu ditambatkan;
sesudah sebulan lebih, baru sampai di ibu kota.
Terjemahan Dr. Luce di atas dipandang tidak tepat oleh Prof.
Hsil. Katanya: "Sesudah lebih dari sebulan berjalan, sampai di ibu
kota." Itulah yang terdapat di Sui Shu. Tidak ada berita tentang
penambatan perahu. Dalam T'ung Tien ditulis: "Sesudah sebulan ia
sampai di ibu kota."
Menurut Prof. Hs~, ibu kotanya disebut dalam T'ung Tien,
yakni Shih-tze-cheng dan artinya kota singa. Yang dimaksud dengan
kota singa ialah Singora. Singora yaitu nama lama dari kota Songkla
yang terletak di pantai timur Malaya, di wilayah kerajaan Siam pada
garis 7° 101' L.U. Oleh sebab itu, Lang-ya-shu juga terletak di
pantai timur Malaya, tetapi sebelah utara Chih-tu. Diterangkan
oleh Prof. Hs~ tentang Ch'ih-tu itu demikian. Chih-tu yaitu
terjemahan dari nama Melayu "Tanah Merah". Berita Sui Shu dan
T'ung Tien memang menyatakan bahwa tempat itu disebut Ch'ih
t'u oleh sebab tanahnya berwarna merah. Yang paling mencolok
ialah warna tanah merah di hulu sungai Kelantan. Di Singora dan
Patani, tanahnya memang berwarna merah sebagai warna besi berkarat.
Dalam piagam Tanyore pada tahun 1030, dinyatakan juga
bahwa Rajendracoladewa merampas kerajaan Illanggasogam.
Illangasogam ini terang transkripsi Tamil dari Langkasuka. Penye
butan itu dilakukan sesudah kerajaan Melayu(r) dan Mayirudinggam
dan sebelum Mappaparam dan Mewilibanggam. Krom mengikuti
pendapat Coed~s, bahwa Langkasuka terdapat di Semenanjung
Melayu. Dari piagam itu tidak dapat ditarik kesimpulan apa-apa
mengenai lokalisasi Langkasuka. Demikianlah, persoalan Langkasuka
yang oleh umum dianggap sudah terpecahkan pada hakikatnya masih
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 99
samar-samar. Jika uraian Chang-ch~n itu dihubungkan dengan
uraian I-ts'ing dan Hsiien-chuang, maka kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa kerajaan Langkasuka di sebelah barat berbatasan
dengan Teluk Manahan; di sebelah timur berbatasan dengan Teluk
Siam.
Prof. Hs~ berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Li-ang,
Sui dan T'ang Langkasuka ada di daerah Ligor, yakni di Nakon Sri
Tamarat wilayah Siam. Dalam Wu-pei-chih, disebut beberapa nama
sungai dan daerah di pantai timur Semenanjung. Di antaranya: P'eng
k'eng chiang (sungai Pahang), Ku-lan-tan chiang (sungai Kelantan),
dan Hsi chiang ( ucapannya dalam Amoy Hokkien Sai Kang), yakni
sungai Telubin.
Daerah yang dibatasi oleh sungai Kelantan dan sungai Telubin,
menurut berita itu, menghasilkan minyak wangi. Dato Douglas
menyamakan Lang-shi-chi yang terdapat pula dalam berita itu dengan
Patani. Dalam Amoy Hokkien, ucapannya Long-sai-ka. Nama itu
disamakan oleh Roland Braddell dengan Langkasuka. Oleh sebab
itu, ia sampai kepada kesimpulan bahwa Langkasuka berpusat di
Patani. Kesimpulan itu didasarkan atas keadaan gelombang laut Cina.
Gelombang dari laut Cina sampai di sekitar pantai Patani, lalu
mengalir ke selatan, sedangkan di Singora mengalir ke utara. Keadaan
gelombang seperti di pantai Patani itu menggampangkan perahu
yang akan berlabuh.
13. To-ho-lo-po-ti
Dalam bukunya, Record, I-ts' ing menyebut To-ho-lo-po-ti dua
kali. Yang pertama kali dalam rangkaian negeri-negeri di sebelah timur
India. Yang kedua kalinya dalam rangkaian tumbuh-tumbuhan yang
digunakan sebagai obat. Dalam hal yang terakhir ini, diuraikan bahwa
di Dwarawati terdapat tiga macam rumput kardamom.
Dalam catatannya, Takakusu menyebut tiga macam kardamom
itu seperti berikut: 1). rumput kardamom yang banyak tumbuh di
100 Sriwijaya
Ling-nam, yakni di sebelah selatan pegunungan Plum (Kwang-tung
dan Kwang-hsi); 2). kardamom putih atau kardamom tulang yang
ditemukan di negeri ka-ho-ra (?); 3). kardamom dagingyang tumbuh
di negeri S~-li (sebelah barat Kashgar), juga disebut ka-kt-lok. Ka
kt-lok ini tidak ada di Tiongkok.
Bahwa To-ho-lo-pa-ti yaitu transkripsi Tionghoa dari Dwa
rawati, tidak ada keberatan. Hanya lokalisasinya yang menimbulkan
perbedaan pendapat. Kapten St. John menyamakannya dengan Tangu
lama dan Sandoway di Birma.
Prof. Chavannes menduga bahwa Dwarawati yaitu nama
Sanskerta dari Ayuthya atau Ayudhya di sebelah utara Bangkok, ibu
kota lama kerajaan Siam. Prof. Hs~ melokalisasikan ibu kota Dwa
rawati di Nakon Prathom, di sebelah barat Bangkok. Lokalisasi itu
didasarkan atas lokalisasi P'an-p'an di Prampuri yang terletak di Teluk
Siam pada garis 12.20° 98.5' L.U. Berita dari Chiu Tang Shu seperti
yang telah diterjemahkan oleh Prof. Hs~ mengatakan: "Negeri Tu
ho-lo di sebelah selatan berbatasan dengan P'an-pan, di sebelah utara
dengan Kia-lo-sheh-fu, di sebelah timur dengan Chen-la, dan di
sebelah barat dengan laut besar. Letaknya di Kanton sepanjang
perjalanan lima bulan." Berita dari Sui Shu menyatakan: "Tu-ho-lo
di sebelah selatan berbatasan dengan P' an-p' an." Berita dari I-ts'ing:
"Di sebelah timur Lang-ka-shu terletak Dwarawati, dan di ujung
timur ialah Lin-i.
Ketiga berita tersebut dengan jelas menyatakan bahwa Dwa
rawati terletak di sebelah barat Kamboja/Campa. Dua berita
menyatakan bahwa P'an-p'an terletak di sebelah selatan Dwarawati.
Han ya berita dari Chiu T'ang Shu yang menyatakan bahwa di
sebelah barat Dwarawati berbatasan dengan laut besar. Jika benar
P'an-p'an itu Pran Buri, maka menurut Chiu T'ang Shu, Langkasuka
yang berbatasan dengan P'an-p'an dan dikatakan oleh I-ts'ing terletak
di sebelah tenggara Prome. Langkasuka meliputi daerah Tenaserim.
Dengan sendirinya, yang berbatasan dengan laut besar, yakni laut
Andaman, bukan Dwarawati, tetapi Langkasuka. I-ts'ing, yang
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 101
berlayar dari India, dengan jelas menyebut bahwa di sebelah timur
Langkasuka ialah Dwarawati. Demikianlah, Dwarawati itu terletak
antara Langkasuka clan Kamboja/Campa. Di sebelah selatan
berbatasan dengan Pran Buri. ltulah Siam pada abad ke- 7 Masehi
sebelum kedatangan Thai dari Tiongkok Selatan.
Dalam bukunya, Memoire, I-ts' ing menyebut nama Langkasuka
dalam uraiannya mengenai perjalanan I-lang, Chih-ngan, dan I-hs~an,
yang berangkat dari Kanton melalui Funan sampai Langkasuka. Raja
Langkasuka menerima mereka dengan upacara. Chih-ngan jatuh sakit,
lalu meninggal di sana. I-lang dan I-hs~an melanjutkan perjalanannya
ke Sri Lanka.
Pemberitaan I-ts'ing ini pen ting sekali untuk mengetahui bahwa
pelayaran dari Tiongkok ke India dengan jalan menyusur pantai
melalui pantai timur Malaya. Pelayaran itu tidak langsung dari Funan
ke Tan-ma-shi (Tumasik), terns ke Melayu. Rupanya, memang jalan
itulah yang biasa ditempuh. Dalam hubungan ini, maka dapat
diberitakan di sini bahwa I-ts'ing, dalam perjalanannya dari Kwang
chou ke Fo-shih pada bulan 11 tahun 671 dengan menumpang
perahu dagang Persi, tidak menyusur pantai kontinen Asia, tetapi
mengarungi laut Cina, langsung menuju Fo-shih. Oleh sebab itu,
pelayarannya hanya memakan waktu hampir 20 hari saja. Dalam
pelayaran yang kedua kalinya pada tanggal satu bulan sebelas tahun
689, jadi 18 tahun kemudian, ia berangkat dengan kapal dagang
dari Pan-y~ menuju Foshih melalui Lin-i. Ini berarti bahwa
perjalanan itu menyusur pantai. Biasanya, makan waktu sebulan.
Perbedaan waktu sepuluh hari itu lalu mudah dipahami.
Pada abad ke-3 sampai ke-5, pelayaran menyusur pantai ini
dapat langsung dari Funan ke Langkasuka. Pada waktu itu, yang
berkuasa sepanjang pantai laut Cina ialah Funan. Funan menguasai
tanah datar sepanjang sungai Mekong, pantai Vietnam clan Kamboja,
meluas sampai Siam clan pantai timur Malaya. Tetapi pada abad ke-
7, kekuasaan Funan itu dipatahkan oleh Kamboja, yang disebut Chen
la oleh para ahli sejarah Tionghoa. Sejak itu perahu-perahu yang
109 Sriwijaya
menyusur pantai diharuskan singgah di pelabuhan Kamboja. Dengan
sendirinya pelayaran itu makan waktu lebih lama.
Pelayaran menyusur pantai dari Tiongkok ke negeri-negeri
Selatan dan ke barat bertambah intensif sejak pemerintahan Sung
shu, Liang-shu, dan T'ang. Pada pemerintahan Sung dan Liang,
politik mulai diarahkan untuk menguasai negeri-negeri di laut Selatan.
Persahabatan dan perdagangan dengan negeri-negeri di laut Selatan
diperluas. Kunjungan dari dan ke negeri Selatan lebih banyak
dilakukan daripada waktu yang sudah-sudah.
Sejak pemerintahan Liang (502-557), tiap tahun kaisar me
ngirim utusan keliling untuk menarik pajak dan upeti di negeri
negeri Selatan yang bersahabat baik dengan Tiongkok. Akibat
persahabatan itu, negeri-negeri yang bersangkutan mendapat
perlindungan. Apalagi pada zaman pemerintahan dinasti Tang (618
907), ketika Tiongkok sudah bersatu kembali. Persahabatan dengan
Tiongkok betul-betul dirasakan sebagai usaha mencari perlindungan
terhadap serangan negeri tetangganya. Baik mengenai perdagangan
maupun mengenai persahabatan, Tiongkok sesungguhnya bersikap
pasif.
Perahu-perahu dagang yang pulang-pergi melalui jalan pelayaran
tepi pantai dan tengah samudra yaitu perahu dagang asing yang
datang dari Arab, India, Persi, dan negara-negara di laut Selatan.
Para pendeta yang berangkat ke India kebanyakan menumpang
perahu asing. Dalam soal persahabatan, lebih banyak kunjungan
tetamu dari negeri sahabat daripada pengiriman utusan Tiongkok ke
negeri lain. Mungkin sekali, kunjungan-kunjungan utusan Tiongkok
tidak biasa tercatat dalam sejarah negeri-negeri di laut Selatan atau
di negeri lainnya. Hanya satu-dua saja yang diberitakan, terutama
jika utusan itu menyangkut hal-hal yang agak istimewa. Ke
balikannya, kunjungan dari luar banyak sekali. Bahkan, kunjungan
kunjungan utusan dari luar itu perlu diatur waktunya.
Dari T'ang Hui Yao, kita tahu bahwa tanggal 5 bulan 9 tahun
695 dikeluarkan perintah untuk mengadakan persiapan menerima
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 103
utusan dari luar: enam bulan untuk utusan dari negeri-negeri India
Selatan clan India Utara, Persi clan Arab; lima bulan untuk utusan
dari Fo-shih, Chen-la, Ho-ling, clan sebagainya; tiga bulan untuk
utusan dari negeri Lin-i. Utusan dari negeri luar tidak dapat datang
sewaktu-waktu menurut kehendak raja yang mengutusnya.
Kedatangan para utusan untuk mempersembahkan upeti semuanya
dicatat. Dan dari para utusan itulah sesungguhnya mereka mem
peroleh pengetahuan yang agak luas tentang geografi clan situasi
negeri-negeri asing, terutama negeri-negeri di laut Selatan.
Bagaimanapun, pengetahuan yang diperoleh dari sumber yang
demikian kurang dapat dipercayai. Oleh sebab itu, kadang-kadang
sulit untuk menafsirkannya. Tetapi di samping itu, ada juga sumber
pengetahuan geografi dan situasi negeri-negeri di laut Selatan yang
asli, berasal dari pengunjung negeri-negeri itu sendiri, seperti Fa
shien, I-ts'ing, Chia-tan, Hsi.ien-chuang, clan sebagainya. Perjalanan
melalui laut clan daratan dari Tiongkok ke India atau ke negeri Selatan
lalu menjadi jelas. Pada zaman pemerintahan dinasti T'ang, kesadaran
sebagai warga negara Tiongkok bernyala pada para perantau di negeri
negeri di laut Selatan. Masing-masing sadar clan bangga menjadi
"orangnya Tang. I-ts'ing, dalam uraiannya tentang pendeta Wu
hing yang singgah di Sriwijaya, dengan bangga mengatakan: "Sang
raja menerimanya sangat baik clan menghormatinya sebagai tamu
dari negeri putra dewata, T'ang Agung."
Bab 4
PUSAT KERAJAAN SRIWIJAYA
Dalam sejarah Ming, dikatakan bahwa Kan-to-Ii yaitu nama
lama kerajaan San-fo-ts'i. Gerini melokalisasi Kan-to-Ii di pantai timur
Semenanjung. berdasar pendapat Gerini itu, R.C. Majumdar
mengambil kesimpulan bahwa kerajaan San-fo-ts'i terdapat di pantai
timur Semenanjung. sebab Kan-to-Ii menurut pendapatnya meliputi
Kadara atau Kidara (menurut piagam Tamil), maka San-fo-ts'i sama
dengan Kadara. Nama Kan-to-Ii sesuai dengan nama Kadara; nama
San-fo-ts'i sesuai pula dengan Zabag dari berita Arab. Perbedaannya
semata-mata terletak pada n yang terdapat pada nama Kan-to-Ii dan
San-fo-ts'i yang berasal dari berita Tionghoa. Tentang hal ini, akan
banyak kita bicarakan pada pasal "Kerajaan San-Fo-Ts'i".
Ir. Moens beranggapan bahwa kerajaan Sriwijaya lama terdapat
di pantai timur Semenanjung. Alasan yang dikemukakannya ber
dasarkan berita geografi dari sumber Tionghoa. Dari sejarah Sung,
tercatat bahwa em pat hari perjalanan dari Ch'o-p'o orang sampai di
laut; jika berlayar ke arah barat laut sesudah 1 S hari orang sampai di
P'u-ni, dan 1 Shari lagi sampai di San-fo-ts'i. Juga diberitakan bahwa
San-fo-ts'i terletak di antara Chen-la dan Ch'o-p'o. berdasar dua
berita geografi itu, Moens mengambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i
terletak di Semenanj ung. Dan berdasar berita Arab dari Abu Zaid
yang mengatakan bahwa ibu kota Zawaga berhadap-hadapan dengan
106 Sriwijaya
Tiongkok, maka diambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di
timur Semenanjung. Menurut pendapatnya, Zabag sama dengan
San-fo-ts'i. Akhirnya, ia menyamakan San-fo-ts'i dengan Kadaram
clan melokalisasikan Kadaram di pantai timur Semenanjung. Moens
beranggapan bahwa San-fo-ts'i bersaingan dengan Palembang. Setelah
mengalahkan pusat kerajaan Palembang clan mengusir keluarga raja,
San-fo-ts'i mendirikan pusat kerajaan baru di daerah Melayu, yakni
di muara Takus. Lokalisasi pusat kerajaan San-fo-ts'i di Muara Takus
itu didasarkan atas:
(1) berita I-ts'ing mengenai bayang-bayang diwelacakra yang tidak
menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan delapan.
Pada tengah hari, orang yang berdiri di matahari tidak mempunyai
bayang-bayang sama sekali. Muara Takus terletak pada garis
khatulistiwa.
(2) berita ahli peta Chia-tan, yang menyatakan bahwa di sebelah
utara Chih-chih terletak kerajaan Lo-yueh, dan di sebelah selatan
terletak Shih-li-fo-shih. Berita itu pun cocok.
(3) berita Arab yang berasal dari Ibn Said clan Abul Fida, yang
mengatakan bahwa ibu kota Sribusa terletak di muara sungai.
Menurut Moens, sungai Kampar 1.200 tahun yang lalu jauh
lebih ke barat daripada sekarang.
Muara Kampar sebagai pelabuhan hingga sekarang masih ramai
hubungannya dengan Singapura. Kemunduran pelabuhan Muara
Kampar disebabkan timbulnya pelabuhan Teluk Bayur (Emma) di
pantai barat. Menurut dongeng, benteng ibu kotanya memanjang
sebulan perjalanan tikus. Moens menceriterakan adanya nama rajad
Bicau yang dianggapnya sebagai ubahan dari nama raja (Sri)wijaya,
clan dongeng tentang adanya datu Sriwijaya yang menetap di Kota
Baru. berdasar alasan-alasan itu semuanya, Moens mengambil
kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya terletak di Muara Takus,
dekat tempuran Kampar Kanan dengan Batang Mahat di Sumatra
Tengah.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 107
Quaritch Wales mencari pusat kerajaan Sriwijaya di Chaiya atau
Ligor di Teluk Bandon. Pendapatnya ini kemudian berubah. Ibu
kota Sriwijaya dilokalisasikan di Kadaram, clan Kadaram menurut
pendapatnya terletak di Perak di lembah Kinta. Tetapi tidak ada
peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa barang-barang
purbakala yang kedapatan di tempat tersebut.
Semata-mata berdasar pertimbangan atas keuntungan letak
kota Jambi dari sudut perdagangan clan pelayaran dalam hubung
annya dengan Selat Malaka, yang merupakan tempat lalu-lintas dari
Tiongkok ke barat clan kebalikannya, Drs. Sukmono menolak
Palembang sebagai pusat kerajaan Sriwijaya, clan melokalisasikan pusat
kerajaan itu di kota J ambi. Letak kota J ambi zaman dahulu berbeda
dengan zaman sekarang. Hal itu dengan sendirinya tidak luput dari
pertimbangan. sebab tinjauan dari sudut geomorfologi ini penting,
maka karangan itu dikutip seperti di bawah ini:
Keberatan tentang lokalisasi <;riwijaya di Palembang itu terutama
sekali didasarkan atas sangat sedikitnya peninggalan-peninggalan
purbakala di sana. Dalam tahun 1930, Bosch sudah mengemukakan
kesangsiannya ketika ia menyatakan bahwa "de persoonlijk opgedane
ervaring, dat de hoofdplaats (Palembang) nagenoeg gene
overblijfselen bevat, die aan het glorierijk bestaan van het oude
<;riwijaya kunnen herinneren, heeft met klem de vraag naar voren
gebracht, of we/ ooit de hoofdstad van dat rijk op de plaats van het
huidige Palembang gevestigd is geweest", dan kemudian
berkesimpulan ... de oudheid kundige overblijfselen (geven) geen
steun aan de gangbare onderstelling, dat de hoofdstad <;riwijaya op
de plaats van de tegenwoordige kota Palembang gelegen was." Pun
Nilakanta Sastri, yang bagaimanapun juga tetap mempertahankan
Palembang untuk lokalisasi <;riwijaya dan menyatakan bahwa "no
case has been made out for locating the new site of Srivijaya else
where in Sumatra than at Palembang", harus menenteramkan diri
dengan perkataan "the most total absence of archeological vestiges
of Srivijaya at Palembang (Srivijaya) remains a mystery of wich no
solution is forthcoming as yet."
Sumber utama untuk lokalisasi <;riwijaya sebenarnya yaitu
berita-berita Tionghoa, Arab, Yunani, clan India. Di situ didapatkan
108 Sriwijaya
nama-nama Fo-che, Che-li-fo-che, San-fo-ts'i, Sribuza, Zabag,
Sabadibai, <;riwisaya, dan sebagainya, dan semuanya sudah dapat
diterima sebagai ejaan atau ucapan asing untuk Qriwijaya. Didapat
kan pula dalam berbagai berita itu lokalisasi tempat-tempat tersebut.
Sayang sekali bahwa lokalisasi itu tidak membuat sesuatu kepastian,
sehingga dalam merekonstruksi peta Asia Tenggara terdapat banyak
perbedaan pendapat.
Di antara para penentang Coed~s, mula-mula tampil ke muka
Mayumdar, yang berpendirian bahwa <;riwijaya itu harus dicari di
Jawa dan nantinya di Ligor, dan kemudian Quaritch Wales yang,
berdasar atas penyelidikannya di daerah Chaiya, berkesimpulan
untuk menempatkan <;riwijaya itu di Chaiya. Kedua pendapat ini
dibantah oleh Coed~s sendiri dengan sangat tegas, sehingga identifikasi
<;riwijaya dengan Palembang menjadi lebih kokoh. Penentang yang
kuat yaitu Moens, yang dengan merekonstruksikan peta Asia
Tenggara berdasar berita-beritaTionghoa dan Arab sampai kepada
kesimpulan, bahwa <;riwijaya itu mula-mula berpusat di Kedah dan
kemudian di daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Batang
Mahat. Meskipun teori Moens belum dapat dibantah sepenuhnya,
namun tidak dapat pula mengubah "tradisi, bahwa (riwijaya itu di
Palembang.
Betapapun sulitnya menggunakan bahan-bahan dari berita
berita asing itu, nyata benar dari kesimpulan Roland Braddell, yang
selama hampir 20 tahun telah beturut-turut mengumumkan hasil
studinya untuk mengidentifikasikan dan melokalisasikan tempat
tempat yang terdapat dalam berita-berita asing tadi, dan sebagai
penutup karangannya yang terakhir dalam seri itu mengatakan,
bahwa: "Our main purpose has been to protest againts the repetition of
insufficiently investigated identifications, and to ask from sinologists far
more help than they have yet given in a the construction of the ancient
historical geography of Malaya."
Dengan tidak mengurangi jasa dan kebesaran para ahli pur
bakala, ahli bahasa, ahli sejarah, dan ahli-ahli lainnya yang telah
Pusat Kerajaan Sriwijaya 109
memberikan sumbangannya yang tak ternilai terhadap sejarah
riwijaya, pada kesempatan ini saya ingin meminta perhatian
terhadap suatu hal yang pada hemat saya patut diperhatikan, yaitu
bahwa peta Asia Tenggara zaman <;riwijaya sangat berlainan daripada
apa yang dapat kita lihat sekarang. Hal ini oleh para ahli tersebut
tadi tentu dimaklumi, akan tetapi selanjutnya tidak diperhitungkan.
Maka dari itu, dalam usaha melokalisasikan <;riwijaya terlebih dahulu
kita harus mencari pegangan pokok dengan jalan merekonstruksi peta
Asia Tenggara, khusus garis-garis pantainya; lebih khusus lagi, pantai
yang berbatasan dengan bagian barat Sunda-plat. Usaha ke arah ini
dilakukan pula oleh Moens clan Roland Braddell. Akan tetapi, satu
cabang ilmu pengetahuan yang dapat memberi bantuan untuk
mendapatkan sesuatu kepastian tidak mereka gunakan. Yang saya
maksudkan ialah geomorfologi.
Usaha untuk memetakan pantai-pantai di sebelah barat Sunda
plat pertama kali dilakukan oleh Obdeyn yang, berdasar
geomorfologi, melokalisasi tempat-tempat yang tersebut dalam berita
berita Tionghoa clan sebagainya. Antara lain, ia sampai kepada
kesimpulan bahwa di dalam zaman <;riwijaya, Bangka-Belitung
bersambung menjadi satu dengan jazirah Malaka melalui kepulauan
Lingga clan Riau. sebab Selat Sunda belum ada (Sumatra ber
sambung dengan Jawa), maka pelayaran internasional India-Indo
nesia-Tiongkok hams mengitari Bangka-Belitung, sehingga pantai
timur Sumatra clan pantai utara Jawa menjadi sangat penting.
Meskipun hasil-hasil usaha Obdeyn itu untuk sebagian besar
tidak dapat diterima oleh para ahli yang berkepentingan, namun
jelaslah kiranya bahwa geomorfologi yaitu ilmu yang dapat memberi
bahan-bahan baru lagi untuk lokalisasi <;riwijaya. Maka, sayanglah
bahwa kegagalan Obdeyn itu menyebabkan hasil telaahannya tidak
mendapat sambutan clan tenggelam begitu saja dalam timbunan teori
teori yang ada.
Namun, usaha Obdeyn itu jugalah yang dijadikan pangkal,
ketika Dinas Purbakala dalam tahun 1954 atas perintah Menteri P.P.
110 Sriwijaya
& K (Mr. Moh. Yamin) melakukan penyelidikan terhadap <;riwijaya,
terutama untuk meneliti garis pantainya dan lokalisasi peninggalan
peninggalan purbakala. Penyelidikan ini dilakukan baik dari udara
maupun di darat, dan sebab geomorfologi akan dijadikan bahan
utama, maka khusus untuk keperluan ini telah dipinjam seorang
ahli geomorfologi dari jawatan Topografi Angkatan Darat. Ialah Dr.
H. Th. Verstappen.
Hasil penyelidikan dari udara ialah bahwa garis yang memisah
kan tanah tertiair dari tanah quartair (terutama alluvium) sebagai
mana dinyatakan dalam peta-peta gologi-dapat dianggap sebagai
garis pantai dahulu kala. Maka, dengan garis pantai ini sebagai pe
gangan, ternyata bahwa Palembang dan Jam bi terletak di pantai laut,
Palembang pada ujung jazirah yang berpangkal di Sekayu, dan Jam bi
pada sebuah teluk yang menjorok ke dalam sampai di Muara Tembesi.
Penyelidikan di darat ternyata memperkuat hipotesis ini. Semua
peninggalan purbakala, baik di daerah Palembang maupun di Jambi
dan Muara Jambi, tidak ada yang terletak di atas tanah alluvium.
Juga tempat-tempat ditemukannya batu-batu bersurat, seperti
Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu letaknya di atas tanah
tua.
Menurut keadaannya sekarang, kota-kota Palembang dan Jambi
itu masing-masing letaknya kira-kira 70 km dari laut, dan tanah
alluvium yang penuh rawa-rawa dan menjadi lajur dataran rendah
di pantai timur Sumatra itu yaitu hasil pengendapan sungai-sungai
yang membawa lumpur dari daerah pedalaman ke laut. Timbullah
pertanyaan: apakah mungkin sejak zaman <;riwijaya itu, pengendapan
pengendapan tadi telah dapat mengubah garis pantai itu begitu rupa,
sehingga kedua kota tadi menjadi terpisah demikian jauhnya dari
laut?
Menurut van Bemmelen, garis pantai pada muara Batanghari
bertambah lear 7 1 /2 km dari tempo 100 tahun, yang berarti rata
ata 75 m tiap tahun. Lehar seluruhnya dari lajur alluvium di sini
kira-kira ada 140 km; "so that it may have come into existence since the
Pusat Kerajaan Sriwijaya 111
beginning of the Christian era." Tentang air Musi dikatakan, bahwa
pengendapan yang secepat ini ialah sebab di Palembang sungai Musi
mendapat tambahan air sungai-sungai Ogan clan Komering. Maka,
dapat pula diambil kesimpulan, pantai barn dimulai pada awal tarikh
Masehi.
Mengenai pengendapan ini, tidak boleh juga dilupakan bahwa
dengan mengambil garis pemisah tanah tertiair clan quartair sebagai
pangkalnya, permulaan pengendapan air Musi itu berlangsungnya
di Sekayu (jarak terbang 100 km di sebelah barat Palembang) clan
bagi Batanghari, permulaannya di Muara Tembesi (60 km jarak
terbang di sebelah barat J ambi). Ditambah lagi dengan kenyataan
bahwa proses pengendapan di Sekayu clan Muara Tembesi lebih
lambat berlangsung daripada pengendapan sesudah melewati
Palembang clan Jambi. Maka, dengan mendekati kepastian, dapatlah
kini kita katakan bahwa dalam zaman (riwijaya, kota-kota Palembang
clan Jambi terletak di tepi laut; Palembang pada ujung jazirah, clan
Jambi pada suatu teluk.
Seperti kita ketahui, kerajaan Criwijaya dengan ups and downs
nya-berlangsung dari pertengahan akhir abad ke-7 sampai akhir
abad ke-14. Selama tujuh abad itu, tentu saja garis pantai yang telah
saya gambarkan tadi mengalami perubahan-perubahan yang tidak
sedikit. Hal ini nyata, misalnya, dari berita-beritaArab clan Tionghoa
dari abad ke-13, yang menyatakan bahwa Griwijaya terletak di tepi
sungai besar. Hanya ganjilnya ialah bahwa pada peta-peta V.O.C.,
di antaranya ada yang bahkan berasal dari tahun 1660. Palembang
dan Jambi itu masih digambarkan di tepi pantai. Mungkin hal itu
disebabkan sebab petanya terlalu kecil, sehingga jarak-jarak kecil
tidak ditampakkan. Dan lagi oleh sebab kedua kota itu memang
merupakan pelabuhan samudra di dalam zaman itu.
Mengingat hal yang terakhir ini, yaitu bahwa dalam abad ke
13 Criwijaya terletak di tepi sungai, pula dengan menghitung
kecepatan pengendapan sungai-sungai Musi clan Batanghari mulai
dari Sekayu clan Muara Tembesi, maka dapatlah kini kita tentukan
119 Sriwijaya
bahwa lokalisasi <;riwijaya di tepi laut hanya berlaku dari permulaan
sejarahnya sampai sekitar tahun 1000 Masehi. Kesimpulan ini kiranya
mendapat sokongan dari peninggalan-peninggalan purbakalanya di
daerah Jambi. Kalau sebuah bangunan (candi) di Solok Sipin di tepi
barat kotaJambi berangka tahun 1064, maka di muaraJambi terdapat
bangunan yang berasal dari zaman Singasari. Hal ini, dihubungkan
dengan apa yang dikenal sebagai "Pamalayu', memberi kesan bahwa
tentara Singasari sampainya di Melayu, bukan J ambi melainkan jauh
ke timur lagi, yaitu di Muara Jambi, untuk kemudian menuju ke
daerah sungai Dareh. Pun, peninggalan-peninggalan V. 0. C. (benteng
dari tahun 1724) di daerah ini terdapat di Muara Kompeh, antara
Jambi clan Muara Jambi.
Setelah kita merekonstruksi garis pantai timur Sumatra itu untuk
melokalisasi <;riwijaya, kita masih juga perlu meneliti garis-garis pantai
yang berhadapan dengan pantai tadi guna merekonstruksi jalan-jalan
pelayaran zaman <;riwijaya. Seperti sudah dikatakan di muka, Obdeyn
berpendapat bahwa jazirah Malaka bersambung menjadi satu dengan
kepulauan Riau-Lingga dan Bangka-Belitung. Terhadap pendapat
ini, Verstappen menyatakan dengan tegas bantahannya dan berpen
dapat bahwa di dalam zaman <;riwijaya, kepulauan Riau clan Lingga
memang merupakan tanah lanjutan dari jazirah Malaka, tetapi
Bangka clan Belitung terpisah oleh laut. Pandangan ini sesuai dengan
apa yang nyata dari peta-peta hydrografi. Pun, dari sudut geologi,
pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan. Menurut van Bemmelen,
kepulauan Lingga, Bangka, clan Belitung itu "belong to a mountain
range wich had largely been baselevelled and which was partly abraded.
It has of the sea in late quarternary time. They represent a drowned topog
raphy". Dan selanjutnya ia katakan bahwa "Singkip, Bangka, and
Billiton are surrounded by an aureole of submerged river valleys, contain
ing alluvial tin-ores."
Kesimpulan yang kini dapat kita tarik mengenai rekonstruksi
peta daerah Riau clan kepulauan Lingga ialah bahwa di dalam zaman
<;riwijaya, daerah-daerah ini bukannya terdiri atas pulau-pulau,
melainkan merupakan ujung selatan jazirah Malaka. Dengan me-
Pusat Kerajaan Sriwijaya 113
nyesuaikan keadaan garis pantai Sumatra sendiri, gambaran tanah
Riau ini dapat juga kiranya dipertahankan sampai sekitar 1000
Masehi. Namun, kalau sejak masa ini daerah itu sudah mulai ber
pecah-pecah menjadi kepulauan, selat-selat sempit dan dangkal di
antara pulau-pulaunya belum juga dapat dipakai untuk pelayaran.
Daerah ini bahkan terkenal sebagai sarang bajak-bajak laut, yang
selalu mengganggu jalan pelayaran di Selat Malaka.
Rekonstruksi peta daerah Riau ini dapat pula kiranya memberi
penjelasan, mengapa di Pasir Panjang (ujung utara pulau Karimun),
terdapat tulisan dari abad ke-9 yang menggunakan huruf-huruf
Dewanagari dan bersifat agama Budha Mahayana. Tempat ini sebagai
ujung yang menjorok ke laut, dan yang tentu dihadapi orang dalam
pelayaran dari utara ke selatan melalui Selat Malaka, yaitu tempat
yang penting. Mungkin sebagai tempat singgah, dan mungkin pula
hanya sebagai tanda peringatan atau petunjuk pelayaran.
Setelah kita merekonstruksi jalan pantai-pantai dahulu di sektiar
Palembang-Jambi dan kepulauan Riau, dapatlah kita kini berusaha
menetapkan jalan-jalan laut yang menghubungkan India dengan
negara kita , dan dengan Hindia Belakang serta Tiongkok. Oleh
Quaritch Wales, telah dapat dibuktikan bahwa bagian tersempit
jazirah Malaka (di sekitar teluk Bandon) memegang peranan penting
sebagai kunci jalan perdagangan antara India dan Tiongkok. Jalan
ini yaitu jalan darat, sehingga di sini muatan kapal harus dibongkar
untuk dipindahkan ke kapal-kapal lain-suatu hal yang bagi niaga
laut tidak sedikit menimbulkan kesulitan dan kerugian. Maka, jalan
ini terang tidak banyak memengaruhi jalannya pelayaran mengitari
j azirah Mal aka.
Ada juga pendapat yang baru-baru ini dikemukakan oleh Chand,
bahwa "at one time there was a sea route through the peninsula that
made present day Malaya as island'. Akan tetapi, ucapan ini hanya
berupa kalimat demikian saja, tanpa disertai sesuatu bukti ataupun
penjelasan. Dengan demikian, pendapat ini tidak dapat kita
perhitungkan dalam uraian sekarang ini.
114 Sriwijaya
Jalan lain yang mungkin menghubungkan lautan Hindia clan
laut Tiongkok Selatan yaitu Selat Sunda. Akan tetapi, menurut
Obdeyn, Selat Sunda ini barn dikenal oleh orang-orang Tiongkok
clan Arab sejak tahun 1175. Pendapat ini disokong pula oleh van
Bemmelen, yang menyatakan: "It is possible that indeed. Strait Sunda
did not yet exist in older historical times in is present configuration. The
link between South Sumatra and Java has probably been engulfed in the
early quartenary, accompained by paroxysmal volcanic outbursts". Dan
kemudian dalam subchapter "Speculation on the Origin of the Ori
gin of Straits Sunda'', sampai pada kesimpulan bahwa "It is possible
that (Selat Sunda) became navigable scarcely on thousand years ago. Es
pecially the narrow passage across the northmost branch of the Great
Lampong fault, with the island of Dwars-in-de-weg (Sangian) in the
middle, could be navigated only since the middle ages."
Dengan tertutupnya kemungkinan hubungan pelayaran
dilakukan melalui Teluk Bandon clan Selat Sunda, maka jelaslah
betapa pentingnya Selat Malaka clan Selat Berhala di dalam zaman
Criwijaya sebelum tahun 1000 Masehi. Tiap kapal dari dan ke In
dia, Jawa clan Hindia Belakang, Tiongkok, hams melalui teluk Jambi.
**
Dari kegiatan ini, tampaklah dengan jelas bahwa Jambi mem
punyai kedudukan yang lebih penting daripada Palembang, yang
hanya disinggahi oleh kapal-kapal yang melewatinya dalam
pelayarannya antara Selat Malaka clan pulau J awa saja. Lagi pula,
Jambi letaknya menghadap ke laut bebas, sedangkan Palembang pada
suatu selat saja, yaitu selat Bangka. Maka, di antara Palembang clan
Jambi untuk (riwijaya, pilihan akan lebih tepat kalau jatuh pada
Jambi.
Teluk Jambi memang sangat ideal untuk suatu pelabuhan
samudra. Pula, untuk pertahanan terhadap serangan-serangan dari
laut yang paling luar terdapat sebuah dusun sekarang yang bernama
Muara Sabak. Dan menurut keterangan beberapa orang di Jambi di
dusun itu, ada pula ditemukan peninggalan-peninggalan purbakala.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 115
Adanya tiga pulau dan dusun Sabak itu sungguh-sungguh menarik
perhatian, sebab dari Ptolomeus diketahui adanya tiga pulau
Sabadeibai, yang oleh Krom dilokalisasikan di sekitar Palembang,
sedangkan "wanneer wij in deibai weder het gewone dwipa in zijn
Praktrit-vorm vertegenwoordigd mogen denken, houden wij Saba als
eigenlijke plaatsnaam over." Terlalu jauhkah kalau kita menarik
kesimpulan bahwa ketiga pulau di Teluk Jambi itulah yang dimak
sudkan oleh Ptolomeus?
Pun, pada peta kuno (abad ke-16-17), yang dipakai sebagai
bahan oleh Obdeyn, kita jumpai nama-nama "Saban" dan "Sabi",
yang letaknya di sebelah utara "Palimbao (Palembang), tepat di mana
kita mengharapkan letak J ambi.
Tidakkah lebih masuk akal kalau perkataan-perkataan Zabay,
Zabag, dari berita-berita Arab kita identifikasikan dengan (Muara)
Sabak? Mungkin pula, bahkan Sabak ini yaitu pelabuhan bagi
Criwijaya yang beribu kota Jambi di Jambi. Inilah kiranya yang
menyebabkan berita-berita Arab itu mengatakan adanya maharaja
dari Zabag.
Tidak masuk akal pulakah kalau San-fo-ts'i dari berita-berita
Tionghoa itu kita identifikasikan dengan (Muara) Tembesi, sebuah
kota di riwijaya juga, tetapi mempunyai kedudukan penting sebab
letaknya di ujung telukJambi dan di muara Batanghari, dan dengan
demikian menjadi penghubung penting antara pantai dan daerah
pedalaman?
Dapatkah kesimpulan melokalisasikan (riwijaya di Jambi itu
memperoleh dukungan dari bahan-bahan ilmu purbakala? Jawabnya
menguntungkan, bahkan memperkuat kesimpulan ini. Prasasti
prasasti yang didapatkan di sekitar Palembang, yang sampai kini
dipakai untuk memperkuat pendapat bahwa di Palembanglah
letaknya Griwijaya, kalau kita teliti kembali bahkan akan memperkuat
kebalikannya. Penelitian kembali ini dimungkinkan oleh
diterbitkannya prasasti Telaga Batu oleh De Casparis, yang ternyata
"consists of a long imprecation directed againt the perpetrators of all pos-
116 Sriwijaya
sible crime againts the king and the state (riwijay dan asalnya dari
masa yang seperti prasasti-prasasti lainnya. Kalau Palembang me
manglah ibu kota <;riwijaya, dapatkah masuk akal bahwa kutrukan
kutukan yang berupa ancaman sangat mengerikan itu justru
diabadikan di ibu kota? Mungkin warga ibu kota sendiri diancam
secara demikian oleh rajanya?
Prasasti Telaga Batu bukanlah piagam raja clan negara <;riwijaya
yang berpusat atau beribu kota di Palembang. Peringatan itu yaitu
usaha menjamin ketertiban (dengan istilah sekarang: follow up dari
suatu operasi militer) dari seorang raja <;riwijaya yang telah berhasil
menduduki Palembang. Inilah kiranya interpretasi yang dapat
memberi penjelasan kepada prasasti Kedukan Bukit. Lebih-lebih
setelah ada lagi pecahan prasasti lainnya yang memuat keterangan
tambahan terhadap prasasti tersebut. Follow up yang positif ialah
pemberian suatu hadiah kepada masyarakat yang telah tunduk itu
agar mereka mengecap kebahagiaan atas kemurahan raja, clan inilah
yang dimaksudkan dengan "pranindhana'' yang dikekalkan pada batu
Talang Tuwo ( tahun 684; jadi, tahun berikutnya dari prasasti Kedukan
Bukit).
Dalam rangka ini, maka prasasti Kota Kapur clan Karang Brahi,
yang sama isinya, yaitu peringatan-peringatan yang dimaksudkan
untuk memperkuat kedudukan <;riwijaya. Kota Kapur di Bangka
yaitu tempat yang strategis untuk menguasai jalan laut di muka
pelabuhan Palembang, clan Karang Brahi terletak di jalan raya (sungai
clan darat) antara pantai timur clan daerah pedalaman, yang banyak
mengandung emas. Dan tempat-tempat yang khusus diperkuat itu
yaitu tempat-tempat yang sesuai dengan siasat untuk menjamin
pertahanan <;riwijaya, clan yang memperkuat pula pilihan kita untuk
melokalisasikan (riwijaya dan Jambi.
Pun, peringatan-peringatan purbakalanya yang berupa area tidak
bertentangan dengan kesimpulan kita. Arca Budha yang besar sekali
dari bukit Siguntang, yang coraknya dapat dikembalikan kepada
langgam Amarawati, clan area-area perunggu yang didapatkan dari
Pusat Kerajaan Sriwijaya 117
dalam sungai dan bercorak langgam Gupta, merupakan petunjuk ke
arah Budha Mahayana di Palembang di sekitar abad ke-6 7. Kenya
taan ini, bila dihubungkan dengan berita I-ts'ing, seorang musafir
Tionghoa yang menjelang akhir abad ke-7 lama sekali tinggal di
Criwijaya bahwa di daerah lautan Selatan agama Budha yang ia
jumpai di mana-mana yaitu Hinayana (dari aliran Mulasarwastiwa
danikaya), kecuali di Melayu di mana ia jumpai penganut-penganut
agama Budha Mahayana-menutup segala kemungkinan untuk
melokalisasi (riwijaya di Palembang. Maka, menarik perhatianlah
bahwa Moens justru mengidentifikasikan Melayu itu dengan Palem
bang, meskipun Sumatra Tengah (Jambi dan Muara Takus) ia masuk
kan pula.
Jelaslah kini, bahwa rekonstruksi bedasarkan geomorfologi yang
memberi kesimpulan untuk melokalisasikan riwijaya di Jambi sesuai
juga dengan bukti-bukti peninggalan purbakala.
Sesuaikah pula kesimpulan ini dengan berita-berita Tionghoa,
Arab, dan lain-lain sebagainya? Seperti sudah dikatakan di muka,
mengenai berita-berita Tionghoa itu Roland Braddell sampai kepada
kesimpulan untuk memprotes "the repetition of insufficiently investi
gated identifications" dan "to ask from sinologists for more help." Lebih
sempurna lagi kiranya kalau protes ini ditambah dengan penyesalan
yang sangat terhadap tradisi yang, berdasar atas "insufficiently
investigated identifications itu, menjadi penghalang untuk meninjau
kembali teori-teori yang sudah usang.
Dalam hal ini, sangatlah menarik perhatian, bahwa salah satu
sumber terpenting yang dipakai oleh Moens untuk kartografinya,
baru-baru ini oleh William T. Kao dapat dibuktikan sebagai sumber
yang tidak seharusnya dipercayai secara mutlak. Sumber ini yaitu
berita dari Kia-tan, "one of China's most celebrated cartographers', yang
tern ya ta" never travelled beyond the borders of his native country',akan
tetapi dari bukunya yang 40 jilid tebalnya mengenai topografi
Tiongkok dan negara-negara di lautan Selatan menimbulkan "a wide
spread belief that Kia-tan's writing were based on first hand observations
118 Sriwijaya
made during his journeys." Pun, nama-nama tempat sering kali ditulis
berbeda-beda, tergantung dari pendengaran orang Tionghoa sendiri.
Ho-lo-tan, misalnya, "has been transcribed in different ways and
its location is also uncertain. One translator says that it is situated on the
island of Cho-po or Tou-po; another maintains that it ruled over the
Island of Cho-po while a third thinks that it has its capital in She-po."
Pembacaan kembali tulisan-tulisan Tionghoa kuno itu pun menim
bulkan berbagai kesulitan. Kao mengatakan bahwa "it is difficult to
trace the influence of the Amoy-Swatow-Canton dialects in the toponyms;
clan selanjutnya: "Notwithstanding what we have just said as to the
insignificant part played by South China seamen before the eleventh cen
tury, however, we think the Amoy dialect is a very useful guide to the
correct pronunciation of many Chinese characters in early writings. For,
among all dialects, it retains the largest elements of ancient Chinese into
nations and rhymes."
Apa yang dikemukakan oleh W.T. Kao tadi, yang sesuai dengan
protes Roland Braddell, memberikan dorongan pada kita untuk lebih
berhati-hati lagi dalam mengidentifikasi serta melokalisasikan nama
nama dan tempat-tempat, sebagaimana didapatkan dalam berita
berita Tionghoa. Demikian pula kiranya kita dalam menghadapi
berita-berita Arab atau lainnya. Hal ini nyata sudah, kalau kita
mengingat bahwa apa yang kini dibaca Sribuza dari berita Arab,
dahulunya dibaca Sarbaza, clan Zabej dibunyikan sekarang Zabag.
Namun, kita dalam berhati-hati itu, kalau sesuatu identifikasi
clan lokalisasi (atau satu di antara dua) tidak meragukan clan memang
sesuai dengan kenyataan, apa salahnyakah kalau kita sampai kepada
suatu ketetapan? Sebagaimana yang sudah dikemukakan, Sabadeibai
dari Ptolomeus clan Zabag dari berita-berita Arab yaitu (Muara)
Sabak di muka teluk Jambi. San-fo-ts'i untuk (Muara) Tembesi dapat
pula kita anggap pasti, kalau kita menilik berita-berita Tionghoa dari
zaman Sung (960-1279), di mana kita jumpai raja "Chan-pi" di
kerajaan San-fo-ts'i. Chan-pi dan San-fo-ts'i bersama-sama tidak
memberi kesangsian lagi untuk mengidentifikasikannya dengan J ambi
clan (Muara) Tembesi.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 119
Demikianlah, maka-ditinjau dari berbagai sudut-tidak ada
suatu bahan yang memberi petunjuk untuk melokalisasikan <;riwijaya
di Palembang. Semua petunjuk mengarahkan pandangan kita ke
J ambi, dengan meninggalkan tradisi yang telah bertahan 40 tahun
lamanya.
**
Penyelidikan geomorfologi yang dilakukan oleh Drs. Sukmono,
dengan tujuan untuk menetapkan lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya,
merupakan salah satu usaha untuk memecahkan persoalan sejarah
Sriwijaya. Andaikata lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya itu semata
mata bergantung kepada pandangan dari sudut geomorfologi, maka
pendapatnya akan dapat diterima tanpa keragu-raguan. Hasil pe
nyelidikan geomorfologi memberikan saran yang kuat untuk mene
tapkan J ambi sebagai pelabuhan yang sangat ideal dan sanggup
menguasai lalu-lintas kapal di Selat Malaka yang berlayar ke utara
menuju Tiongkok, ke timur menuju Jawa. Kebalikannya, perahu
perahu yang berlayar dari lautan Selatan dan laut Jawa menuju In
dia dan negara-negara lainnya di sebelah barat, berlayar melalui
Jambi. Demikianlah, menurut pendapatnya, pusat kerajaan Sriwijaya
harus terletak di Jambi, bukan di Palembang.
Namun, pandangan geomorfologi bukan satu-satunya sumber
sejarah yang dapat digunakan untuk melokalisasikan pusat kerajaan
Sriwijaya. Oleh sebab itu, hasil penyelidikan geomorfologi masih
perlu dikaji dengan sumber sejarah lainnya yang kiranya dapat
dipercaya. Sumber sejarah yang saya maksud ialah pernyataan I-ts'ing
tentang letak pelabuhan Melayu, yang bertahun-tahun menetap di
Sriwijaya dan beberapa kali mengunjungi pelabuhan Melayu.
Yang akan dibicarakan di sini bukanlah pernyataan I-ts'ing
mengenai bayang-bayang di welacakra yang bertalian dengan letak
ibu kota Sriwijaya, melainkan pernyataannya tentang pelabuhan
tempatnya singgah dalam perjalanan dari India ke Tiongkok.
Perjalanan pulang dari Nalanda pada tahun 685 diuraikan oleh I
ts'ing secara singkat. Uraiannya demikian:
190 Sriwijaya
1-ts'ing berangkat dari Tan-mo-lo-ti (Tamralipti atau Tamluk)
menuju Ka-cha (Kataha atau Kedah). Singgah di sini sampai musim
dingin. Dengan men um pang perahu raja, ia berangkat dari sini (Kedah)
ke selatan menuju tanah Melayu, yang sekarang menjadi bagian Fo
shih (Sriwijaya). Pelayaran itu makan waktu selama sebulan. Umumnya
perahu itu datang di negeri Melayu pada bulan kedua. Tinggal di sini
(di negeri Melayu) sampai pertengahan musim panas. Lalu berangkat
ke utara menuju Kwang-tung (Kanton). Lebih kurang sebulan kemudian
sampai di tempat tujuan.
Dari pernyataan I-ts'ing itu, nyata sekali bahwa perjalanan dari
India ke Tiongkok melalui pelabuhan Melayu. Dari pelabuhan Melayu
perahu terns menuju ke utara ke arah Kwang-tung. Dengan kata
lain, pelabuhan Melayu yaitu tempat berlabuh perahu yang berlayar
dari Kedah melalui Selat Malaka clan yang berlayar dari Tiongkok
melalui laut Tiongkok Selatan menuju India. I-ts'ing tidak menga
takan bahwa perjalanan dari selat Malaka ke Tiongkok melalui
Sriwijaya atau Fo-shih. Demikianlah, pelabuhan Melayu menguasai
lalu-lintas pelayaran dari laut Tiongkok Selatan ke Selat Malaka clan
kebalikannya.
berdasar pernyataan I-ts'ing di atas, maka letak pelabuhan
Melayu dalam soal menguasai pelayaran di Selat Malaka clan di laut
Tiongkok Selatan lebih baik daripada pelabuhan Fo-shih. Sdr.
Sukmono justru mendasarkan penyelidikannya dari sudut geo
morfologi pada penguasaan pelayaran di Selat Malaka clan di laut
Tiongkok Selatan. Oleh sebab itu, ia justru memperkuat pendapat,
bahwa yang terletak di J ambi ialah pelabuhan Melayu, bukan pe
labuhan Sriwijaya. Letak pelabuhan Melayu yang sangat ideal itu
memperkuat pernyataan I-ts'ing tentang pelabuhan Melayu yang
menguasai lalu-lintas pelayaran di Selat Malaka.
Pelabuhan Sriwijaya tersisih dari lalu-lintas perahu dari Tiongkok
ke Selat Malaka clan kebalikannya. J ambi mempunyai kedudukan
yang jauh lebih penting daripada Palembang, yang hanya disinggahi
oleh kapal-kapal yang melewatinya dalam pelayarannya antara Selat
Malaka clan Pulau Jawa saja. Lagi pula, Jambi letaknya menghadap
ke laut bebas, sedangkan Palembang pada suatu selat saja, yaitu selat
Pusat Kerajaan Sriwijaya 191
Bangka. Demikianlah, kedudukan pelabuhan J ambi jauh lebih
penting daripada pelabuhan Palembang.
Jika Sdr. Sukmono mengidentifikasikan Jambi itu dengan psuat
Sriwijaya, di manakah lokasi pelabuhan Melayu? Pertanyaan itu secara
tidak langsung dijawab dengan mengemukakan lokalisasi pelabuhan
Melayu oleh Moens. Maka, menarik perhatianlah, bahwa Moens
justru mengidentifikasikan Melayu itu dengan Palembang ...
Dengan jelas dinyatakan oleh I-ts'ing, bahwa dalam perjalan
annya ke Nalanda di India, baik I-ts'ing maupun Wu-hing berangkat
dari Fo-shih menuju Melayu, kemudian terus ke Ka-cha (Kedah).
Jika pelabuhan Melayu itu yaitu pelabuhan Palembang seperti yang
disarankan oleh Moens, maka I-ts'ing dan Wu-hing untuk berangkat
ke India yang letaknya di sebelah barat hams pergi ke timur dahulu,
sebab Palembang letaknya di sebelah timur atau tenggara Jambi.
Hal yang demikian agak aneh, tidak termakan akal. Kecuali kalau
mereka mempunyai kepentingan istimewa di Palembang!
Soal yang perlu mendapat perhatian ialah penyamaan San-fo
ts'i dengan (Muara) Tembesi. Logis sekali bahwa Sdr. Sukmono,
berdasar lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya di Jambi, lalu meng
identifikasikan San-fo-ts'i dengan Tembesi, yang terletak di tempuran
sungai Tembesi dengan sungai Batanghari.
Tembesi yaitu satu-satunya tempat di daerah J ambi yang
bunyinya hampir serupa dengan San-fo-ts'i, namun keserupaan bunyi
itu tidak dapat dijadikan alasan untuk penyamaan tanpa memer
hatikan keterangan-keterangan lain. Penyamaan itu sam sekali tidak
cocok dengan pemberitaan dari sumber Tionghoa yang menyatakan
letak San-fo-ts'i. Sudah pasti bahwa ada di antara berita-berita
Tionghoa itu yang boleh dipercaya. Dalam hal ini, saya kutip per
nyataan Ying-yai-sheng-lan (1416), yang isinya, bahwa Chiu-chiang
sama saja dengan negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga
disebut Po-lin-pang, ada di bawah kekuasaan Jawa. Kapal-kapal yang
datang dari mana pun masuk selat Peng-chia (Bangka), yang berair
tawar. Di dekatnya yaitu tempat bertegak banyak pagoda yang
199 Sriwijaya
dibuat dari bata. Kemudian, para pedagang mudik ke hulu. J alannya
makin lama makin sempit, menuju ibu kota.
berdasar berita Tionghoa di atas, yang serba jelas uraiannya,
nyatalah bahwa San-fo-ts'i terletak di Palembang. Drs. Sukmono
menganggap pasti penyamaan antara San-fo-ts'i dan (Muara) Tembesi.
Penyamaan itu kecuali berdasar keserupaan bunyi-lokalisasi
Sriwijaya di kota Jambi-juga berdasar berita Tionghoa pada
zaman pemerintahan rajakula Sung (960-1279) di mana dijumpai
raja "Chan-pi di kerajaan San-fo-ts'i. Chan-pi dan San-fo-ts'i ber
sama-sama tidak memberi kesangsian lagi untuk mengidentifi
kasikannya dengan Jambi clan (Muara) Tembesi, menurut pendapat
nya.
Mengenai raj a "Chan-pi", kiranya tidak mutlak demikian tafsir
annya. Sumber berita itu ialah Sung Hui Yao. Demikianlah beritanya:
Pada tahun kelima pemerintahan Yuang Fong (yakni pada tahun
1082) bu Ian 10 tanggal 17, Sun Chiang, wakil Kepala urusan peng
angkutan dan wakil kepala urusan dagang, menyatakan bahwa wakil
umum para pedagang asing di negeri laut Selatan menyampaikan
surat kepadanya yang ditulis dengan bahasa Tionghoa. Surat tersebut
berasal dari raja Chan-pei (Jambi) bagian dari San-fo-ts'i dan dari putri
raja, yang diserahi kekuasaan mengawasi urusan negara San-fo-ts'i.
Mereka mengirimkan kepadanya 227 tahil su-lung (perhiasan), rumbia,
kamfer, dan 13 potong pakaian.
Peristiwa ini terjadi sesudah penundukan Sriwijaya, Melayu,
dan negara-negara lainnya oleh raja Cola seperti tercatat pada piagam
Tanyore (tahun 1030). Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan putri
raj a di sini ialah putri keturunan raj a asing yang memerintah San-fo
ts'i. Beliau dibantu oleh raja Jambi, yang telah ditaklukkan oleh raja
Cola clan sebab nya juga menjadi raja bawahan San-fo-ts'i. Tan Yeok
Seong memberi tafsiran, bahwa pada tahun 1082 ada dua pemerin
tahan yang politiknya sejalan. Yang satu penjajah; yang lain asli.
Yang penjajah berpangkal di Palembang; yang asli di Jambi. Dengan
kata lain, raja penjajah itu bertakhta di Sriwijaya; yang lain di daerah
Melayu.
Pusat Kerajaan Sriwijaya 193
Jelaslah bahwa raja Chan-pei itu tidak menguasai San-fo-ts'i,
tetapi malah kebalikannya. Bahwa raja San-fo-ts'i pada waktu itu
bukan lagi orang asli, terbukti dari piagam Kanton yang ditemukan
pada tahun 1959 tentang "Chung Siu Tien Ching Kuan Chi, yakni
laporan pembangunan kembali candi Ten Ching. Candi Kanton yang
telah rusak itu diperbaiki atas biaya raja San-fo-ts'i pada tahun 1079.
Dengan jelas dinyatakan pada piagam itu bahwa raj a San-fo-ts'i yang
bersangkutan ialah Ti-hua-ka-lo (Dewa Kulottungga). Piagam Kanton
ini akan kita bahas di belakang.
Di mana letaknya San-fo-ts'i, dari uraian Ying Yai Sheng Lan
telah jelas, yakni di Palembang. San-fo-ts'i tidak mungkin diiden
tifikasikan dengan Tembesi yang terletak di daerah Jambi. Hingga
sekarang, ahli sejarah menerima penyamaan antara San-fo-ts'i dan
Shih-li-fo-shih, yang pada hakikatnya masih merupakan persoalan.
Penyamaan itu menurut pendapat saya tidak dapat diterima (lihat
pasal "Kerajaan San-Fo-Ts'i"). sebab San-fo-ts'i bagaimanapun yaitu
transkripsi Tionghoa dari nama asli atau Sanskerta, yang menurut
berita Tionghoa terdapat di Palembang, maka kita harus mencari
tempat di daerah tersebut yang mungkin dapat disamakan; tidak
mencarinya di daerah Jambi. J ustru sebab Jambi yang disangka Sdr.
Sukmono pusat kerajaan Sriwijaya terbukti pelabuhan Melayu, maka
anjuran untuk mencari San-fo-ts'i di Palembang beralasan lebih kuat
lagi.
Ors. Sukmono mengemukakan peninggalan-peninggalan
purbakala di Palembang yang jelas menunjukkan adanya agama Budha
Mahayana di Palembang. Peninggalan itu terutama berupa area
Budha, berasal dari Bukit Siguntang. Coraknya dapat dikembalikan
kepada langgam Amarawati. Peninggalan purbakala ini lalu di
hubungkan dengan pernyataan I-ts'ing, bahwa di daerah laut Selatan
di mana-mana agama Budha yang dijumpainya yaitu agama Budha
Hinayana, kecuali di negeri Melayu. Di sini terdapat beberapa
penganut agama Budha Mahayana. Peristiwa tersebut, menurut
pendapatnya, menutup segala kemungkinan untuk melokalisasikan
Sriwijaya di Palembang. Ditambahkannya pendapat Moens bahwa
194 Sriwijaya
kerajaan Melayu berpusat di Palembang. Penunjukkan Moens
mengenai lokalisasi pelabuhan Melayu di J ambi (?) tidak bersifat
mutlak.
sebab di Palembang ditemukan area Budha Mahayana, Drs.
Sukmono mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan Palembang
sebagai pusat kerajaan Sriwijaya tertutup sama sekali. Ia membatasi
diri sampai kepada pernyataan I-ts'ing yang didasarkan atas keadaan
pada akhir abad ke-7.
Pernyataan I-ts'ing mengenai agama Budha Mahayana clan
Hinayana di daerah laut Selatan tidak bersifat mutlak. Sebagai bukti,
dapat dikemukakan pernyataan piagam Talang Tuwo, yang ditemukan
di daerah sekitar Palembang clan bertarikh tahun 684, setahun
sesudah piagam Kedukan Bukit. Tidak ada orang yang menyangkal
bahwa piagam Talang Tuwo yaitu piagam Sriwijaya. Piagam itu
yaitu piagam 'pranindhana, yakni pemberian suatu hadiah oleh
raja Sriwijaya kepada masyarakat.
Piagam TalangTuwo dikeluarkan atas perintah Dapunta Hyang
SriJayanaga. Jadi, merupakan pernyataan resmi dari pucuk pimpinan
pemerintahan Sriwijaya. Piagam tersebut jelas sekali menguraikan
ajaran agama Budha Mahayana, istimewa aliran tantrisme, sebab di
situ tercatat wajracarira. Tidak dapat dikatakan bahwa pernyataan
piagam itu semata-mata dimaksud untuk mengelus-elus perasaan
rakyat yang memeluk agama Budha Mahayana di wilayah Sriwijaya.
sebab pernyataan tersebut yaitu pernyataan resmi, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa ajaran agama Budha Mahayana aliran
tantrisme itu dipeluk oleh Sriwijaya, setidak-tidaknya tidak dilarang
oleh raja yang memerintah pada tahun 684. Rupa-rupanya memang
ada sikap toleransi antara agama Budha Mahayana aliran tantrisme
clan Budha Hinayana aliran Mulasarwastiwadanikaya di wilayah
Sriwijaya. Kedua-duanya diperlakukan sama oleh raj a Sriwijaya, tan pa
membeda-bedakan.
Perlakuan yang demikian itu terbukti dari penerimaan para
pendeta Tionghoa yang beraliran agama Budha Hinayana clan
penerimaan pendeta dari Sri Lanka, Wajrabodhi, yang beraliran agama
Pusat Kerajaan Sriwijaya 195
Budha Mahayana. Pada tahun 717, pendeta Wajrabhodi berangkat
dari Sri Lanka dengan 35 perahu Persi menuju Tiongkok. Ia singgah
di Sriwijaya, diterima oleh raja Sriwijaya dengan hormat dan
diperlakukan dengan baik. Bahkan pendeta ini malah tinggal selama
lima bulan di Sriwijaya, menunggu tibanya musim angin baik. Lagi
pula, I-ts'ing juga secara mutlak mengatakan bahwa di kerajaan
Sriwijaya hanya ada agama Budha Hinayana aliran Mulasarwastiwa
danikaya.
Pernyataan I-ts'ing mengenai agama Budha di negeri-negeri di
laut Selatan itu ditutup dengan kalimat: "Agama yang dipeluk di
negeri ini terutama aliran Hinayana, kecuali di negeri Melayu. Di
negeri-negeri ini, sedikit saja pengikut aliran Mahayana." Jadi, adanya
agama Budha aliran Mahayana di kerajaan Sriwijaya tidak tertutup
sama sekali. Terbukti bahwa piagam Talang Tuwo yang terang yaitu
piagam Sriwijaya, menguraikan ajaran agama Budha Mahayana.
Kesimpulan yang diambil oleh Sdr. Sukmono ialah bahwa pusat
kerajaan Sriwijaya terletak di Jambi dan pusat kerajaan Melayu di
Palembang, meskipun pendapat yang terakhir ini tidak dinyatakan
secara tegas, hanya dengan mengingatkan bahwa Moens justru
mengidentifikasikan Melayu dan Palembang. Andaikata pelabuhan
Melayu itu di Palembang, maka ada kesulitan mengenai penafsiran
pelayaran I-ts'ing dari Fo-shih ke Nalanda.
Baik I-ts'ing maupun Wu-hing pernah mengadakan pelayaran
dari Fo-shih ke Mo-lo-yeu, terus ke Kacha (Kedah). Pelayaran I-ts'ing
dari Fo-shih ke Nalanda, menurut pendapat saya, hams ditafsirkan
bahwa I-ts'ing melalui pelabuhan Melayu terus ke Kedah. Ini berarti
bahwa pelabuhan Melayu terletak di antara Sriwijaya dan Kedah.
Jika pelabuhan Melayu itu dilokalisasikan di Palembang, maka
pelayaran itu menuju timur dahulu, lalu kembali lagi ke Sriwijaya
terus ke Kedah. Perjalanan yang demikian terang tidak normal, tidak
biasa. Pelayaran dari Kedah ke Tiongkok, menurut tafsiran Sdr.
Sukmono, lalu hams melalui Sriwijaya yang disebut Fo-shih. I-ts'ing
tidak mengatakan demikian.
196 Sriwijaya
Dalam perjalanannya dari India ke Sriwijaya, I-ts'ing berkata:
"Dari sini (Tan-mo-lo-ti), kapal berlayar dua bulan ke arah tenggara
untuk sampai di Ka-cha. Pada waktu itu, kapal dari Fo-shih akan
berlabuh di Ka-cha. Kedatangan perahu dari Fo-shih umumnya pada
bulan pertama atau bulan kedua. Mereka yang akan berangkat ke
Sinhala (Sri Lanka) berlayar ke arah barat daya. Kata orang, pelayaran
itu sejauh 700 yojana. I-ts'ing singgah di Ka-cha sampai musim
dingin, lalu berlayar lagi ke arah selatan sebulan lamanya menuju
tanah Mo-lo-yeu, yang pada waktu itu sudah menjadi bagian Fo
shih; banyak negeri-negeri yang menjadi bawahannya. Pada
umumnya, kedatangan perahu di sana pada bulan pertama atau bulan
kedua. Tinggal di sana sampai pertengahan musim panas, lalu
berangkat lagi ke utara; kira-kira sesudah sebulan berlayar, sampai di
Kwang-fu."
Jadi, pelayaran dari Selat Malaka menuju Tiongkok melalui
pelabuhan Melayu, tidak melalui pelabuhan Sriwijaya. J adi, pe
labuhan Melayu menguasai lalu-lintas kapal di Selat Malaka ke
Tiongkok. Pelabuhan yang menguasai lalu-lintas kapal di Selat Malaka
yaitu pelabuhan J ambi. J adi, pelabuhan Melayu yaitu pelabuhan
Jambi. berdasar pernyataan I-ts'ing yang melakukan pelayaran
itu sendiri, maka identifikasi pelabuhan Melayu dengan pelabuhan
Palembang tidak mungkin.
Saya sependapat sepenuhnya dengan Drs. Sukmono, bahwa
piagam persumpahan Telaga Batu itu sangat mengerikan. Namun,
sifat yang menger









