Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 4

 




n Ronkel. 

Bahwa Fo-shih-pu-lo yaitu  transkripsi Tionghoa dari Wijayapur 

mudah dipahami, sebab  Shih-li-fo-shih merupakan transkripsi dari 

Sriwijaya. Yang menjadi persoalan ialah di mana letaknya. 

Moens menyamakan Wijayapura dengan Phucavarao dari berita 

Portugal, dan menempatkannya di muara sungai Rejang di pantai 

barat Kalimantan. Menurut pendapatnya, nama Kin-fo dalam 

kerajaan Malano yaitu  singkatan dari Kin-li-fo-che. Nama Kin-li­ 

fo-che disamakannya dengan Shih-li-fo-shih, yang diberitakan oleh 

94 Sriwijaya 

pendeta I-ts'ing. Menurut dugaannya, kerajaan Malano bukan saja 

meliputi Kalimantan Utara saja, tetapi juga Brunei dan Serawak. 

sebab  Moens menyamakan Fo-shih-pu-lo dengan Puchavarao, dan 

nama ini dianggap sebagai nama ibu kota di muara sungai Rejang 

sebelum Brunei tampil ke muka, maka ia mencari kerajaan Mo-chia­ 

man transkripsi dari kerajaan Mah~kam, juga di Kalimantan. Nama 

itu disamakan dengan Muara Kaman di pantai timur Kalimantan. 

Penyamaan Kin-fo dan Shih-li-fo-shih ini sangat diragukan. 

Demikian pula Puchavarao dengan Wijayapura, sebab  bedanya 

terlalu jauh jika Moens mendasarkan identifikasinya itu atas 

kemiripan bunyi. Lagi pula, Fo-shih-pu-lo, Mo-chia-man, disebut 

oleh I-ts'ing sesudah K'u-lun, yakni pulau Kondor. Tidak mungkin 

tempat-tempat itu dicari di Kalimantan, yang letaknya di sebelah 

selatan pulau Kondor. Apalagi, penyamaan Mo-chia-man dengan 

Muara Kaman yang letaknya di pantai timur Kalimantan pada sungai 

Mahakam. Tempat itu sama sekali tersisih dari jalan pelayaran In­ 

dia-Tiongkok. Menurut jalan pelayaran India--Tiongkok, tempat­ 

tempat itu harus dicari di pantai timur kontinen Asia, sebelah utara 

pulau Kondor. 

Kiranya tempat itu harus di pantai Vietnam. Pada tahun 192, 

kerajaan Lin-i (Campa) sedang dalam pembentukan. Dalam kata 

pengantar Record, kerajaan Lin-i sudah disebut oleh I-ts'ing dalam 

rangkaian negara-negara yang memeluk Ratnatraya: Sriksetra, 

Langkasuka, Dwarawati, dan Lin-i (Campa) di ujung timur. 

Dalam perkembangannya kemudian, kerajaan Lin-i meliputi 

pantai Indo-Cina. Di sebelah selatan sampai Panrang zaman sekarang, 

di sebelah utara sampai Quang-nam. Di dalamnya termasuk Khanh­ 

hoa dan Binh-dinh. Tempat-tempat ini mempunyai nama lama, yakni 

Pandurangga: Pandurang; Kanthara: Khanh-hoa; Wijaya: Binh-dinh; 

dan Amarawati: Quang-nam. Jelas sekali bahwa nama-nama itu 

semuanya menunjukkan adanya pengaruh dari India. Pada zaman I­ 

ts'ing, penduduk Lin-i memeluk Aryasamitinikaya. Jika nama Shih­ 

li-fo-shih yaitu  transkripsi Tionghoa dari nama Sriwijaya, maka Fo­ 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 95 

shih-pu-lo yaitu  transkripsi dari Wijayapura. Wijayapura ialah Binh­ 

dinh. Demikianlah, Fo-shih-pu-lo itu terletak di Binh-dinh, di pantai 

timur Vietnam, pada garis 14 110' L.U. 

11. A-shan 

Nama negeri A-shan yang dikemukakan oleh I-ts'ing barangkali 

sama dengan nama negeri I-shang-na-pu-lo yang diberitakan oleh 

Hs~-en-chuang. Is-hang-na-pu-lo (I~anapura) terletak di sebelah 

timur To-lo-po-ti (Dwarawati) dan di sebelah barat Mo-ho-chan-po 

(Mahacampa) atau Lin-i. 

Negeri itu tidak jauh dari Binh-dinh, pusat kerajaan Wijayapura 

yang disebut juga oleh I-ts'ing dengan nama Fo-shih-pu-lo. A-shan 

atau I-shan yaitu  transkripsi Tionghoa yang mirip sekali dengan 

kata Sanskerta Icana. Fone a pada suku terakhir na tidak diucapkan. 

Baik menurut ucapan namanya maupun menurut letaknya, A-shan 

pada I-ts'ing itu sama dengan 1-shang-na-pu-lo pada Hsilen-chuang, 

yakni kerajaan I~anapura di sebelah barat Campa. 

12. Lang-ya-hsiu 

Pada masa pemerintahan Liang-shu (502-557), tercatat adanya 

utusan dari kerajaan Lang-ya-hsiu atau lang-ga-siu (ejaan 

Groeneveldt), yakni pada tahun 515, 523 dan 531; pada masa 

pemerintahan Ch'en-shu (557-589), datang utusan dari Lang-ya­ 

hsiu pada tahun 568. Dalam catatan itu dinyatakan bahwa Lang­ 

ya-hsiu terletak di laut Selatan, 24.000 li dari Kanton. Lebarnya 

dari timur ke barat 30 hari perjalanan dan dari selatan ke utara 20 

hari perjalanan. Negeri itu menghasilkan aloe dan kamfer. Dari berita 

itu saja belum dapat diketahui dengan jelas letaknya kerajaan Lang­ 

ya-hsiu. Perdebatan yang pernah dilakukan oleh para ahli sejarah 

mengenai persoalan Lang-ya-hsiu ini sungguh menarik perhatian. 

Di bawah ini, beberapa kutipan mengenai kerajaan Lang-ya-hsiu 

yang disamakan dengan Langkasuka. 

96 Sriwijaya 

(1) Dalam Record mengenai Lang-ya-hsiu itu, I-ts'ing hanya 

memberitakan bahwa Lang-ya hsiu terletak di sebelah tenggara 

Sriksetra. Katanya: "Di sebelah selatan dari gunung tersebut ialah 

kerajaan Shih-li-ch'a-ta-lo (Sriksetra). Di sebelah tenggara kerajaan 

ini ialah kerajaan Lang-ka-su (Liang-chia-shu), yakni Langkasuka. 

Terus ke timur yaitu  kerajaan Lin-i (Campa). Uraian I-ts'ing 

mengenai Langkasuka itu termasuk dalam rangka penyebutan 

negeri-negeri di sebelah timur India. Tidak dalam rangka negeri­ 

negeri di laut Selatan. 

(2)Dalam Memoire, I-ts'ing berkata bahwa I-lang, Chih-ngan, dan 

I-hs~an berangkat dari Kanton melalui Funan menuju Lang-chia 

(Langkasuka). Chih-ngan jatuh sakit dan meninggal di sana. I­ 

lang dan Ish~an meneruskan perjalanannya ke Sim-ha-la (Sri 

Lanka). Dari berita I-ts'ing yang kedua ini, nyata bahwa 

Langkasuka yaitu  pelabuhan yang terletak di jalan pelayaran 

dari Tiongkok ke Sri Lanka. 

(3) Berita Hs~en-chuang dari abad ke-7 mengenai letak Langkasuka 

sama dengan berita I-ts'ing dalam Record. Yang agak berbeda ialah 

sebutan namanya. Pada I-ts'ing, nama itu jelas Lang-ka-su (Lang­ 

chia-shu); pada Hsilen-chuang ialah Chia-mo-lang-chia, yang 

mirip dengan Kamalangka. Yang dimaksud oleh kedua nama itu 

ialah tempat yang sama, yakni kerajaan Langkasuka yang letaknya 

di sebelah tenggara Sriksetra. 

Uraian Hs~en-chuang, yang mengadakan perjalanan melalui 

daratan, mengenai letak Langkasuka agak lebih jelas daripada 

uraian I-ts'ing. Katanya: "Berdekatan dengan laut besar, di lembah 

pegunungan terletak kerajaan Shih-li-cha-ta-lo (Sriksetra). 

Selanjutnya di sebelah tenggara di sudut laut besar ialah kerajaan 

Chiao-mo-lang-chia. Terus ke timur ialah kerajaan To-lo-po-ti 

(Dwarawati). Terus ke timur lagi ialah kerajaan I-shang-na-pu-lo 

(I~anapura). Di sebelah timurnya ialah kerajaan Mo-ho-chan-po 

(Mahacampa); kerajaan ini juga disebut Lin-i. Terus ke timur 

yaitu  kerajaan Yen-mo-lo (Amarawati?). Untuk mencapai enam 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 97 

negeri ini, jalannya melintasi gunung dan sungai yang sangat ,, 

curam. 

Baik Hstien-chuang (Hiuen Thsang) maupun I-ts'ing jelas sekali 

menempatkan Lang-ka-shu di sebelah tenggara Sriksetra (Prome) dan 

di sebelah barat Dwarawati (Siam Selatan). Pernyataan inilah yang 

menimbulkan keberatan terhadap kesimpulan Roland Braddell. 

Letak kerajaan Dwarawati diuraikan dalam Chiu-T'ang-Shu 

seperti berikut: "Negara Tu-ho-lo berbatasan di sebelah selatan dengan 

P'an-p'an; di sebelah utara dengan Kio-lo-sheh-fu; di sebelah timur 

dengan Chen-la; dan di sebelah barat dengan laut besar. Dari Kwang­ 

chou jauhnya lima bulan perjalanan." Dari uraian itu jelas sekali 

bahwa yang dimaksud dengan Tu-ho-lo (Dwarawati) yaitu  negara 

yang letaknya di wilayah Siam Selatan. Biasanya, yang dianggap 

sebagai ibu kotanya ialah Nakon Prathom. 

Coed~s menempatkan Langkasuka di Semenanjung Melayu. 

Roland Braddell di pantai timur Malaya, tegasnya di muara Dungun. 

Penempatan ini pada hakikatnya agak berlainan dengan pemberitaan 

I-ts'ing dan Hstien-chuang. Kerajaan lama yang terletak di sebelah 

tenggara Sriksetra atau Prome dan di sebelah barat Dwarawati yaitu  

kerajaan Mon. Jika berita I-ts'ing dan Hstien-chuang itu benar, maka 

Lang-ka-shu harus meliputi kerajaan Mon. 

Menurut pemberitaan Hs~en-chuang, kerajaan Langkasuka 

terletak di sudut laut besar, di sebelah tenggara Sriksetra. Yang 

dimaksud dengan sudut laut besar kiranya teluk Martaban. Lagi pula, 

I-ts'ing memberitakan bahwa kerajaan Lang-ka-shu itu dalam rangka 

uraiannya mengenai negeri-negeri di sebelah timur India, dan 

menyebutnya sesudah Sriksetra dan sebelum Dwarawati. 

Sesungguhnya, pemberitaan dalam uraian Chang-ch~n, yang 

berangkat dari Kanton ke Chih-tu pada tahun 607, belum juga 

dapat memberi kepastian bahwa Langkasuka itu terletak di pantai 

timur Malaya. Berita itu menyatakan bahwa Chang-ch~n pada bulan 

10 tahun 607 berlayar dari Kanton dengan angin baik. Sesudah lebih 

dari 20 hari berlayar, ia sampai di bukit Tsiao-shih yang membujur 

98 Sriwijaya 

ke tenggara, lalu berlabuh di Ling-chia-po-pa-to, yang berhadapan 

dengan Lin-i. Kemudian berlayar lagi menuju selatan, sampai di 

Shih-tze-shih. Dari sini, setelah berlayar dua atau tiga hari melalui 

banyak pulau, tampak di sebelah barat gunung-gunung kerajaan 

Lang-ya-shu. Dari sini berlayar lagi ke selatan, meninggalkan pulau 

Chi-lung, lalu sampai di pantai Chih-tu. Perahu ditambatkan; 

sesudah sebulan lebih, baru sampai di ibu kota. 

Terjemahan Dr. Luce di atas dipandang tidak tepat oleh Prof. 

Hsil. Katanya: "Sesudah lebih dari sebulan berjalan, sampai di ibu 

kota." Itulah yang terdapat di Sui Shu. Tidak ada berita tentang 

penambatan perahu. Dalam T'ung Tien ditulis: "Sesudah sebulan ia 

sampai di ibu kota." 

Menurut Prof. Hs~, ibu kotanya disebut dalam T'ung Tien, 

yakni Shih-tze-cheng dan artinya kota singa. Yang dimaksud dengan 

kota singa ialah Singora. Singora yaitu  nama lama dari kota Songkla 

yang terletak di pantai timur Malaya, di wilayah kerajaan Siam pada 

garis 7° 101' L.U. Oleh sebab  itu, Lang-ya-shu juga terletak di 

pantai timur Malaya, tetapi sebelah utara Chih-tu. Diterangkan 

oleh Prof. Hs~ tentang Ch'ih-tu itu demikian. Chih-tu yaitu  

terjemahan dari nama Melayu "Tanah Merah". Berita Sui Shu dan 

T'ung Tien memang menyatakan bahwa tempat itu disebut Ch'ih­ 

t'u oleh sebab  tanahnya berwarna merah. Yang paling mencolok 

ialah warna tanah merah di hulu sungai Kelantan. Di Singora dan 

Patani, tanahnya memang berwarna merah sebagai warna besi berkarat. 

Dalam piagam Tanyore pada tahun 1030, dinyatakan juga 

bahwa Rajendracoladewa merampas kerajaan Illanggasogam. 

Illangasogam ini terang transkripsi Tamil dari Langkasuka. Penye­ 

butan itu dilakukan sesudah kerajaan Melayu(r) dan Mayirudinggam 

dan sebelum Mappaparam dan Mewilibanggam. Krom mengikuti 

pendapat Coed~s, bahwa Langkasuka terdapat di Semenanjung 

Melayu. Dari piagam itu tidak dapat ditarik kesimpulan apa-apa 

mengenai lokalisasi Langkasuka. Demikianlah, persoalan Langkasuka 

yang oleh umum dianggap sudah terpecahkan pada hakikatnya masih 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 99 

samar-samar. Jika uraian Chang-ch~n itu dihubungkan dengan 

uraian I-ts'ing dan Hsiien-chuang, maka kita dapat mengambil 

kesimpulan bahwa kerajaan Langkasuka di sebelah barat berbatasan 

dengan Teluk Manahan; di sebelah timur berbatasan dengan Teluk 

Siam. 

Prof. Hs~ berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Li-ang, 

Sui dan T'ang Langkasuka ada di daerah Ligor, yakni di Nakon Sri 

Tamarat wilayah Siam. Dalam Wu-pei-chih, disebut beberapa nama 

sungai dan daerah di pantai timur Semenanjung. Di antaranya: P'eng­ 

k'eng chiang (sungai Pahang), Ku-lan-tan chiang (sungai Kelantan), 

dan Hsi chiang ( ucapannya dalam Amoy Hokkien Sai Kang), yakni 

sungai Telubin. 

Daerah yang dibatasi oleh sungai Kelantan dan sungai Telubin, 

menurut berita itu, menghasilkan minyak wangi. Dato Douglas 

menyamakan Lang-shi-chi yang terdapat pula dalam berita itu dengan 

Patani. Dalam Amoy Hokkien, ucapannya Long-sai-ka. Nama itu 

disamakan oleh Roland Braddell dengan Langkasuka. Oleh sebab  

itu, ia sampai kepada kesimpulan bahwa Langkasuka berpusat di 

Patani. Kesimpulan itu didasarkan atas keadaan gelombang laut Cina. 

Gelombang dari laut Cina sampai di sekitar pantai Patani, lalu 

mengalir ke selatan, sedangkan di Singora mengalir ke utara. Keadaan 

gelombang seperti di pantai Patani itu menggampangkan perahu 

yang akan berlabuh. 

13. To-ho-lo-po-ti 

Dalam bukunya, Record, I-ts' ing menyebut To-ho-lo-po-ti dua 

kali. Yang pertama kali dalam rangkaian negeri-negeri di sebelah timur 

India. Yang kedua kalinya dalam rangkaian tumbuh-tumbuhan yang 

digunakan sebagai obat. Dalam hal yang terakhir ini, diuraikan bahwa 

di Dwarawati terdapat tiga macam rumput kardamom. 

Dalam catatannya, Takakusu menyebut tiga macam kardamom 

itu seperti berikut: 1). rumput kardamom yang banyak tumbuh di 

100 Sriwijaya 

Ling-nam, yakni di sebelah selatan pegunungan Plum (Kwang-tung 

dan Kwang-hsi); 2). kardamom putih atau kardamom tulang yang 

ditemukan di negeri ka-ho-ra (?); 3). kardamom dagingyang tumbuh 

di negeri S~-li (sebelah barat Kashgar), juga disebut ka-kt-lok. Ka­ 

kt-lok ini tidak ada di Tiongkok. 

Bahwa To-ho-lo-pa-ti yaitu  transkripsi Tionghoa dari Dwa­ 

rawati, tidak ada keberatan. Hanya lokalisasinya yang menimbulkan 

perbedaan pendapat. Kapten St. John menyamakannya dengan Tangu 

lama dan Sandoway di Birma. 

Prof. Chavannes menduga bahwa Dwarawati yaitu  nama 

Sanskerta dari Ayuthya atau Ayudhya di sebelah utara Bangkok, ibu 

kota lama kerajaan Siam. Prof. Hs~ melokalisasikan ibu kota Dwa­ 

rawati di Nakon Prathom, di sebelah barat Bangkok. Lokalisasi itu 

didasarkan atas lokalisasi P'an-p'an di Prampuri yang terletak di Teluk 

Siam pada garis 12.20° 98.5' L.U. Berita dari Chiu Tang Shu seperti 

yang telah diterjemahkan oleh Prof. Hs~ mengatakan: "Negeri Tu­ 

ho-lo di sebelah selatan berbatasan dengan P'an-pan, di sebelah utara 

dengan Kia-lo-sheh-fu, di sebelah timur dengan Chen-la, dan di 

sebelah barat dengan laut besar. Letaknya di Kanton sepanjang 

perjalanan lima bulan." Berita dari Sui Shu menyatakan: "Tu-ho-lo 

di sebelah selatan berbatasan dengan P' an-p' an." Berita dari I-ts'ing: 

"Di sebelah timur Lang-ka-shu terletak Dwarawati, dan di ujung 

timur ialah Lin-i. 

Ketiga berita tersebut dengan jelas menyatakan bahwa Dwa­ 

rawati terletak di sebelah barat Kamboja/Campa. Dua berita 

menyatakan bahwa P'an-p'an terletak di sebelah selatan Dwarawati. 

Han ya berita dari Chiu T'ang Shu yang menyatakan bahwa di 

sebelah barat Dwarawati berbatasan dengan laut besar. Jika benar 

P'an-p'an itu Pran Buri, maka menurut Chiu T'ang Shu, Langkasuka 

yang berbatasan dengan P'an-p'an dan dikatakan oleh I-ts'ing terletak 

di sebelah tenggara Prome. Langkasuka meliputi daerah Tenaserim. 

Dengan sendirinya, yang berbatasan dengan laut besar, yakni laut 

Andaman, bukan Dwarawati, tetapi Langkasuka. I-ts'ing, yang 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 101 

berlayar dari India, dengan jelas menyebut bahwa di sebelah timur 

Langkasuka ialah Dwarawati. Demikianlah, Dwarawati itu terletak 

antara Langkasuka clan Kamboja/Campa. Di sebelah selatan 

berbatasan dengan Pran Buri. ltulah Siam pada abad ke- 7 Masehi 

sebelum kedatangan Thai dari Tiongkok Selatan. 

Dalam bukunya, Memoire, I-ts' ing menyebut nama Langkasuka 

dalam uraiannya mengenai perjalanan I-lang, Chih-ngan, dan I-hs~an, 

yang berangkat dari Kanton melalui Funan sampai Langkasuka. Raja 

Langkasuka menerima mereka dengan upacara. Chih-ngan jatuh sakit, 

lalu meninggal di sana. I-lang dan I-hs~an melanjutkan perjalanannya 

ke Sri Lanka. 

Pemberitaan I-ts'ing ini pen ting sekali untuk mengetahui bahwa 

pelayaran dari Tiongkok ke India dengan jalan menyusur pantai 

melalui pantai timur Malaya. Pelayaran itu tidak langsung dari Funan 

ke Tan-ma-shi (Tumasik), terns ke Melayu. Rupanya, memang jalan 

itulah yang biasa ditempuh. Dalam hubungan ini, maka dapat 

diberitakan di sini bahwa I-ts'ing, dalam perjalanannya dari Kwang­ 

chou ke Fo-shih pada bulan 11 tahun 671 dengan menumpang 

perahu dagang Persi, tidak menyusur pantai kontinen Asia, tetapi 

mengarungi laut Cina, langsung menuju Fo-shih. Oleh sebab  itu, 

pelayarannya hanya memakan waktu hampir 20 hari saja. Dalam 

pelayaran yang kedua kalinya pada tanggal satu bulan sebelas tahun 

689, jadi 18 tahun kemudian, ia berangkat dengan kapal dagang 

dari Pan-y~ menuju Foshih melalui Lin-i. Ini berarti bahwa 

perjalanan itu menyusur pantai. Biasanya, makan waktu sebulan. 

Perbedaan waktu sepuluh hari itu lalu mudah dipahami. 

Pada abad ke-3 sampai ke-5, pelayaran menyusur pantai ini 

dapat langsung dari Funan ke Langkasuka. Pada waktu itu, yang 

berkuasa sepanjang pantai laut Cina ialah Funan. Funan menguasai 

tanah datar sepanjang sungai Mekong, pantai Vietnam clan Kamboja, 

meluas sampai Siam clan pantai timur Malaya. Tetapi pada abad ke- 

7, kekuasaan Funan itu dipatahkan oleh Kamboja, yang disebut Chen­ 

la oleh para ahli sejarah Tionghoa. Sejak itu perahu-perahu yang 

109 Sriwijaya 

menyusur pantai diharuskan singgah di pelabuhan Kamboja. Dengan 

sendirinya pelayaran itu makan waktu lebih lama. 

Pelayaran menyusur pantai dari Tiongkok ke negeri-negeri 

Selatan dan ke barat bertambah intensif sejak pemerintahan Sung­ 

shu, Liang-shu, dan T'ang. Pada pemerintahan Sung dan Liang, 

politik mulai diarahkan untuk menguasai negeri-negeri di laut Selatan. 

Persahabatan dan perdagangan dengan negeri-negeri di laut Selatan 

diperluas. Kunjungan dari dan ke negeri Selatan lebih banyak 

dilakukan daripada waktu yang sudah-sudah. 

Sejak pemerintahan Liang (502-557), tiap tahun kaisar me­ 

ngirim utusan keliling untuk menarik pajak dan upeti di negeri­ 

negeri Selatan yang bersahabat baik dengan Tiongkok. Akibat 

persahabatan itu, negeri-negeri yang bersangkutan mendapat 

perlindungan. Apalagi pada zaman pemerintahan dinasti Tang (618­ 

907), ketika Tiongkok sudah bersatu kembali. Persahabatan dengan 

Tiongkok betul-betul dirasakan sebagai usaha mencari perlindungan 

terhadap serangan negeri tetangganya. Baik mengenai perdagangan 

maupun mengenai persahabatan, Tiongkok sesungguhnya bersikap 

pasif. 

Perahu-perahu dagang yang pulang-pergi melalui jalan pelayaran 

tepi pantai dan tengah samudra yaitu  perahu dagang asing yang 

datang dari Arab, India, Persi, dan negara-negara di laut Selatan. 

Para pendeta yang berangkat ke India kebanyakan menumpang 

perahu asing. Dalam soal persahabatan, lebih banyak kunjungan 

tetamu dari negeri sahabat daripada pengiriman utusan Tiongkok ke 

negeri lain. Mungkin sekali, kunjungan-kunjungan utusan Tiongkok 

tidak biasa tercatat dalam sejarah negeri-negeri di laut Selatan atau 

di negeri lainnya. Hanya satu-dua saja yang diberitakan, terutama 

jika utusan itu menyangkut hal-hal yang agak istimewa. Ke­ 

balikannya, kunjungan dari luar banyak sekali. Bahkan, kunjungan­ 

kunjungan utusan dari luar itu perlu diatur waktunya. 

Dari T'ang Hui Yao, kita tahu bahwa tanggal 5 bulan 9 tahun 

695 dikeluarkan perintah untuk mengadakan persiapan menerima 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 103 

utusan dari luar: enam bulan untuk utusan dari negeri-negeri India 

Selatan clan India Utara, Persi clan Arab; lima bulan untuk utusan 

dari Fo-shih, Chen-la, Ho-ling, clan sebagainya; tiga bulan untuk 

utusan dari negeri Lin-i. Utusan dari negeri luar tidak dapat datang 

sewaktu-waktu menurut kehendak raja yang mengutusnya. 

Kedatangan para utusan untuk mempersembahkan upeti semuanya 

dicatat. Dan dari para utusan itulah sesungguhnya mereka mem­ 

peroleh pengetahuan yang agak luas tentang geografi clan situasi 

negeri-negeri asing, terutama negeri-negeri di laut Selatan. 

Bagaimanapun, pengetahuan yang diperoleh dari sumber yang 

demikian kurang dapat dipercayai. Oleh sebab  itu, kadang-kadang 

sulit untuk menafsirkannya. Tetapi di samping itu, ada juga sumber 

pengetahuan geografi dan situasi negeri-negeri di laut Selatan yang 

asli, berasal dari pengunjung negeri-negeri itu sendiri, seperti Fa­ 

shien, I-ts'ing, Chia-tan, Hsi.ien-chuang, clan sebagainya. Perjalanan 

melalui laut clan daratan dari Tiongkok ke India atau ke negeri Selatan 

lalu menjadi jelas. Pada zaman pemerintahan dinasti T'ang, kesadaran 

sebagai warga negara Tiongkok bernyala pada para perantau di negeri­ 

negeri di laut Selatan. Masing-masing sadar clan bangga menjadi 

"orangnya Tang. I-ts'ing, dalam uraiannya tentang pendeta Wu­ 

hing yang singgah di Sriwijaya, dengan bangga mengatakan: "Sang 

raja menerimanya sangat baik clan menghormatinya sebagai tamu 

dari negeri putra dewata, T'ang Agung." 


Bab 4 

PUSAT KERAJAAN SRIWIJAYA 

Dalam sejarah Ming, dikatakan bahwa Kan-to-Ii yaitu  nama 

lama kerajaan San-fo-ts'i. Gerini melokalisasi Kan-to-Ii di pantai timur 

Semenanjung. berdasar  pendapat Gerini itu, R.C. Majumdar 

mengambil kesimpulan bahwa kerajaan San-fo-ts'i terdapat di pantai 

timur Semenanjung. sebab  Kan-to-Ii menurut pendapatnya meliputi 

Kadara atau Kidara (menurut piagam Tamil), maka San-fo-ts'i sama 

dengan Kadara. Nama Kan-to-Ii sesuai dengan nama Kadara; nama 

San-fo-ts'i sesuai pula dengan Zabag dari berita Arab. Perbedaannya 

semata-mata terletak pada n yang terdapat pada nama Kan-to-Ii dan 

San-fo-ts'i yang berasal dari berita Tionghoa. Tentang hal ini, akan 

banyak kita bicarakan pada pasal "Kerajaan San-Fo-Ts'i". 

Ir. Moens beranggapan bahwa kerajaan Sriwijaya lama terdapat 

di pantai timur Semenanjung. Alasan yang dikemukakannya ber­ 

dasarkan berita geografi dari sumber Tionghoa. Dari sejarah Sung, 

tercatat bahwa em pat hari perjalanan dari Ch'o-p'o orang sampai di 

laut; jika berlayar ke arah barat laut sesudah 1 S hari orang sampai di 

P'u-ni, dan 1 Shari lagi sampai di San-fo-ts'i. Juga diberitakan bahwa 

San-fo-ts'i terletak di antara Chen-la dan Ch'o-p'o. berdasar  dua 

berita geografi itu, Moens mengambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i 

terletak di Semenanj ung. Dan berdasar  berita Arab dari Abu Zaid 

yang mengatakan bahwa ibu kota Zawaga berhadap-hadapan dengan 

106 Sriwijaya 

Tiongkok, maka diambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di 

timur Semenanjung. Menurut pendapatnya, Zabag sama dengan 

San-fo-ts'i. Akhirnya, ia menyamakan San-fo-ts'i dengan Kadaram 

clan melokalisasikan Kadaram di pantai timur Semenanjung. Moens 

beranggapan bahwa San-fo-ts'i bersaingan dengan Palembang. Setelah 

mengalahkan pusat kerajaan Palembang clan mengusir keluarga raja, 

San-fo-ts'i mendirikan pusat kerajaan baru di daerah Melayu, yakni 

di muara Takus. Lokalisasi pusat kerajaan San-fo-ts'i di Muara Takus 

itu didasarkan atas: 

(1) berita I-ts'ing mengenai bayang-bayang diwelacakra yang tidak 

menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan delapan. 

Pada tengah hari, orang yang berdiri di matahari tidak mempunyai 

bayang-bayang sama sekali. Muara Takus terletak pada garis 

khatulistiwa. 

(2) berita ahli peta Chia-tan, yang menyatakan bahwa di sebelah 

utara Chih-chih terletak kerajaan Lo-yueh, dan di sebelah selatan 

terletak Shih-li-fo-shih. Berita itu pun cocok. 

(3) berita Arab yang berasal dari Ibn Said clan Abul Fida, yang 

mengatakan bahwa ibu kota Sribusa terletak di muara sungai. 

Menurut Moens, sungai Kampar 1.200 tahun yang lalu jauh 

lebih ke barat daripada sekarang. 

Muara Kampar sebagai pelabuhan hingga sekarang masih ramai 

hubungannya dengan Singapura. Kemunduran pelabuhan Muara 

Kampar disebabkan timbulnya pelabuhan Teluk Bayur (Emma) di 

pantai barat. Menurut dongeng, benteng ibu kotanya memanjang 

sebulan perjalanan tikus. Moens menceriterakan adanya nama rajad 

Bicau yang dianggapnya sebagai ubahan dari nama raja (Sri)wijaya, 

clan dongeng tentang adanya datu Sriwijaya yang menetap di Kota 

Baru. berdasar  alasan-alasan itu semuanya, Moens mengambil 

kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya terletak di Muara Takus, 

dekat tempuran Kampar Kanan dengan Batang Mahat di Sumatra 

Tengah. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 107 

Quaritch Wales mencari pusat kerajaan Sriwijaya di Chaiya atau 

Ligor di Teluk Bandon. Pendapatnya ini kemudian berubah. Ibu 

kota Sriwijaya dilokalisasikan di Kadaram, clan Kadaram menurut 

pendapatnya terletak di Perak di lembah Kinta. Tetapi tidak ada 

peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa barang-barang 

purbakala yang kedapatan di tempat tersebut. 

Semata-mata berdasar  pertimbangan atas keuntungan letak 

kota Jambi dari sudut perdagangan clan pelayaran dalam hubung­ 

annya dengan Selat Malaka, yang merupakan tempat lalu-lintas dari 

Tiongkok ke barat clan kebalikannya, Drs. Sukmono menolak 

Palembang sebagai pusat kerajaan Sriwijaya, clan melokalisasikan pusat 

kerajaan itu di kota J ambi. Letak kota J ambi zaman dahulu berbeda 

dengan zaman sekarang. Hal itu dengan sendirinya tidak luput dari 

pertimbangan. sebab  tinjauan dari sudut geomorfologi ini penting, 

maka karangan itu dikutip seperti di bawah ini: 

Keberatan tentang lokalisasi <;riwijaya di Palembang itu terutama 

sekali didasarkan atas sangat sedikitnya peninggalan-peninggalan 

purbakala di sana. Dalam tahun 1930, Bosch sudah mengemukakan 

kesangsiannya ketika ia menyatakan bahwa "de persoonlijk opgedane 

ervaring, dat de hoofdplaats (Palembang) nagenoeg gene 

overblijfselen bevat, die aan het glorierijk bestaan van het oude 

<;riwijaya kunnen herinneren, heeft met klem de vraag naar voren 

gebracht, of we/ ooit de hoofdstad van dat rijk op de plaats van het 

huidige Palembang gevestigd is geweest", dan kemudian 

berkesimpulan ... de oudheid kundige overblijfselen (geven) geen 

steun aan de gangbare onderstelling, dat de hoofdstad <;riwijaya op 

de plaats van de tegenwoordige kota Palembang gelegen was." Pun 

Nilakanta Sastri, yang bagaimanapun juga tetap mempertahankan 

Palembang untuk lokalisasi <;riwijaya dan menyatakan bahwa "no 

case has been made out for locating the new site of Srivijaya else­ 

where in Sumatra than at Palembang", harus menenteramkan diri 

dengan perkataan "the most total absence of archeological vestiges 

of Srivijaya at Palembang (Srivijaya) remains a mystery of wich no 

solution is forthcoming as yet." 

Sumber utama untuk lokalisasi <;riwijaya sebenarnya yaitu  

berita-berita Tionghoa, Arab, Yunani, clan India. Di situ didapatkan 

108 Sriwijaya 

nama-nama Fo-che, Che-li-fo-che, San-fo-ts'i, Sribuza, Zabag, 

Sabadibai, <;riwisaya, dan sebagainya, dan semuanya sudah dapat 

diterima sebagai ejaan atau ucapan asing untuk Qriwijaya. Didapat­ 

kan pula dalam berbagai berita itu lokalisasi tempat-tempat tersebut. 

Sayang sekali bahwa lokalisasi itu tidak membuat sesuatu kepastian, 

sehingga dalam merekonstruksi peta Asia Tenggara terdapat banyak 

perbedaan pendapat. 

Di antara para penentang Coed~s, mula-mula tampil ke muka 

Mayumdar, yang berpendirian bahwa <;riwijaya itu harus dicari di 

Jawa dan nantinya di Ligor, dan kemudian Quaritch Wales yang, 

berdasar  atas penyelidikannya di daerah Chaiya, berkesimpulan 

untuk menempatkan <;riwijaya itu di Chaiya. Kedua pendapat ini 

dibantah oleh Coed~s sendiri dengan sangat tegas, sehingga identifikasi 

<;riwijaya dengan Palembang menjadi lebih kokoh. Penentang yang 

kuat yaitu  Moens, yang dengan merekonstruksikan peta Asia 

Tenggara berdasar  berita-beritaTionghoa dan Arab sampai kepada 

kesimpulan, bahwa <;riwijaya itu mula-mula berpusat di Kedah dan 

kemudian di daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Batang 

Mahat. Meskipun teori Moens belum dapat dibantah sepenuhnya, 

namun tidak dapat pula mengubah "tradisi, bahwa (riwijaya itu di 

Palembang. 

Betapapun sulitnya menggunakan bahan-bahan dari berita­ 

berita asing itu, nyata benar dari kesimpulan Roland Braddell, yang 

selama hampir 20 tahun telah beturut-turut mengumumkan hasil 

studinya untuk mengidentifikasikan dan melokalisasikan tempat­ 

tempat yang terdapat dalam berita-berita asing tadi, dan sebagai 

penutup karangannya yang terakhir dalam seri itu mengatakan, 

bahwa: "Our main purpose has been to protest againts the repetition of 

insufficiently investigated identifications, and to ask from sinologists far 

more help than they have yet given in a the construction of the ancient 

historical geography of Malaya." 

Dengan tidak mengurangi jasa dan kebesaran para ahli pur­ 

bakala, ahli bahasa, ahli sejarah, dan ahli-ahli lainnya yang telah 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 109 

memberikan sumbangannya yang tak ternilai terhadap sejarah 

riwijaya, pada kesempatan ini saya ingin meminta perhatian 

terhadap suatu hal yang pada hemat saya patut diperhatikan, yaitu 

bahwa peta Asia Tenggara zaman <;riwijaya sangat berlainan daripada 

apa yang dapat kita lihat sekarang. Hal ini oleh para ahli tersebut 

tadi tentu dimaklumi, akan tetapi selanjutnya tidak diperhitungkan. 

Maka dari itu, dalam usaha melokalisasikan <;riwijaya terlebih dahulu 

kita harus mencari pegangan pokok dengan jalan merekonstruksi peta 

Asia Tenggara, khusus garis-garis pantainya; lebih khusus lagi, pantai 

yang berbatasan dengan bagian barat Sunda-plat. Usaha ke arah ini 

dilakukan pula oleh Moens clan Roland Braddell. Akan tetapi, satu 

cabang ilmu pengetahuan yang dapat memberi bantuan untuk 

mendapatkan sesuatu kepastian tidak mereka gunakan. Yang saya 

maksudkan ialah geomorfologi. 

Usaha untuk memetakan pantai-pantai di sebelah barat Sunda­ 

plat pertama kali dilakukan oleh Obdeyn yang, berdasar  

geomorfologi, melokalisasi tempat-tempat yang tersebut dalam berita­ 

berita Tionghoa clan sebagainya. Antara lain, ia sampai kepada 

kesimpulan bahwa di dalam zaman <;riwijaya, Bangka-Belitung 

bersambung menjadi satu dengan jazirah Malaka melalui kepulauan 

Lingga clan Riau. sebab  Selat Sunda belum ada (Sumatra ber­ 

sambung dengan Jawa), maka pelayaran internasional India-Indo­ 

nesia-Tiongkok hams mengitari Bangka-Belitung, sehingga pantai 

timur Sumatra clan pantai utara Jawa menjadi sangat penting. 

Meskipun hasil-hasil usaha Obdeyn itu untuk sebagian besar 

tidak dapat diterima oleh para ahli yang berkepentingan, namun 

jelaslah kiranya bahwa geomorfologi yaitu  ilmu yang dapat memberi 

bahan-bahan baru lagi untuk lokalisasi <;riwijaya. Maka, sayanglah 

bahwa kegagalan Obdeyn itu menyebabkan hasil telaahannya tidak 

mendapat sambutan clan tenggelam begitu saja dalam timbunan teori­ 

teori yang ada. 

Namun, usaha Obdeyn itu jugalah yang dijadikan pangkal, 

ketika Dinas Purbakala dalam tahun 1954 atas perintah Menteri P.P. 

110 Sriwijaya 

& K (Mr. Moh. Yamin) melakukan penyelidikan terhadap <;riwijaya, 

terutama untuk meneliti garis pantainya dan lokalisasi peninggalan­ 

peninggalan purbakala. Penyelidikan ini dilakukan baik dari udara 

maupun di darat, dan sebab  geomorfologi akan dijadikan bahan 

utama, maka khusus untuk keperluan ini telah dipinjam seorang 

ahli geomorfologi dari jawatan Topografi Angkatan Darat. Ialah Dr. 

H. Th. Verstappen. 

Hasil penyelidikan dari udara ialah bahwa garis yang memisah­ 

kan tanah tertiair dari tanah quartair (terutama alluvium) sebagai­ 

mana dinyatakan dalam peta-peta gologi-dapat dianggap sebagai 

garis pantai dahulu kala. Maka, dengan garis pantai ini sebagai pe­ 

gangan, ternyata bahwa Palembang dan Jam bi terletak di pantai laut, 

Palembang pada ujung jazirah yang berpangkal di Sekayu, dan Jam bi 

pada sebuah teluk yang menjorok ke dalam sampai di Muara Tembesi. 

Penyelidikan di darat ternyata memperkuat hipotesis ini. Semua 

peninggalan purbakala, baik di daerah Palembang maupun di Jambi 

dan Muara Jambi, tidak ada yang terletak di atas tanah alluvium. 

Juga tempat-tempat ditemukannya batu-batu bersurat, seperti 

Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu letaknya di atas tanah 

tua. 

Menurut keadaannya sekarang, kota-kota Palembang dan Jambi 

itu masing-masing letaknya kira-kira 70 km dari laut, dan tanah 

alluvium yang penuh rawa-rawa dan menjadi lajur dataran rendah 

di pantai timur Sumatra itu yaitu  hasil pengendapan sungai-sungai 

yang membawa lumpur dari daerah pedalaman ke laut. Timbullah 

pertanyaan: apakah mungkin sejak zaman <;riwijaya itu, pengendapan­ 

pengendapan tadi telah dapat mengubah garis pantai itu begitu rupa, 

sehingga kedua kota tadi menjadi terpisah demikian jauhnya dari 

laut? 

Menurut van Bemmelen, garis pantai pada muara Batanghari 

bertambah lear 7 1 /2 km dari tempo 100 tahun, yang berarti rata­ 

ata 75 m tiap tahun. Lehar seluruhnya dari lajur alluvium di sini 

kira-kira ada 140 km; "so that it may have come into existence since the 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 111 

beginning of the Christian era." Tentang air Musi dikatakan, bahwa 

pengendapan yang secepat ini ialah sebab  di Palembang sungai Musi 

mendapat tambahan air sungai-sungai Ogan clan Komering. Maka, 

dapat pula diambil kesimpulan, pantai barn dimulai pada awal tarikh 

Masehi. 

Mengenai pengendapan ini, tidak boleh juga dilupakan bahwa 

dengan mengambil garis pemisah tanah tertiair clan quartair sebagai 

pangkalnya, permulaan pengendapan air Musi itu berlangsungnya 

di Sekayu (jarak terbang 100 km di sebelah barat Palembang) clan 

bagi Batanghari, permulaannya di Muara Tembesi (60 km jarak 

terbang di sebelah barat J ambi). Ditambah lagi dengan kenyataan 

bahwa proses pengendapan di Sekayu clan Muara Tembesi lebih 

lambat berlangsung daripada pengendapan sesudah melewati 

Palembang clan Jambi. Maka, dengan mendekati kepastian, dapatlah 

kini kita katakan bahwa dalam zaman (riwijaya, kota-kota Palembang 

clan Jambi terletak di tepi laut; Palembang pada ujung jazirah, clan 

Jambi pada suatu teluk. 

Seperti kita ketahui, kerajaan Criwijaya dengan ups and downs­ 

nya-berlangsung dari pertengahan akhir abad ke-7 sampai akhir 

abad ke-14. Selama tujuh abad itu, tentu saja garis pantai yang telah 

saya gambarkan tadi mengalami perubahan-perubahan yang tidak 

sedikit. Hal ini nyata, misalnya, dari berita-beritaArab clan Tionghoa 

dari abad ke-13, yang menyatakan bahwa Griwijaya terletak di tepi 

sungai besar. Hanya ganjilnya ialah bahwa pada peta-peta V.O.C., 

di antaranya ada yang bahkan berasal dari tahun 1660. Palembang 

dan Jambi itu masih digambarkan di tepi pantai. Mungkin hal itu 

disebabkan sebab  petanya terlalu kecil, sehingga jarak-jarak kecil 

tidak ditampakkan. Dan lagi oleh sebab  kedua kota itu memang 

merupakan pelabuhan samudra di dalam zaman itu. 

Mengingat hal yang terakhir ini, yaitu bahwa dalam abad ke­ 

13 Criwijaya terletak di tepi sungai, pula dengan menghitung 

kecepatan pengendapan sungai-sungai Musi clan Batanghari mulai 

dari Sekayu clan Muara Tembesi, maka dapatlah kini kita tentukan 

119 Sriwijaya 

bahwa lokalisasi <;riwijaya di tepi laut hanya berlaku dari permulaan 

sejarahnya sampai sekitar tahun 1000 Masehi. Kesimpulan ini kiranya 

mendapat sokongan dari peninggalan-peninggalan purbakalanya di 

daerah Jambi. Kalau sebuah bangunan (candi) di Solok Sipin di tepi 

barat kotaJambi berangka tahun 1064, maka di muaraJambi terdapat 

bangunan yang berasal dari zaman Singasari. Hal ini, dihubungkan 

dengan apa yang dikenal sebagai "Pamalayu', memberi kesan bahwa 

tentara Singasari sampainya di Melayu, bukan J ambi melainkan jauh 

ke timur lagi, yaitu di Muara Jambi, untuk kemudian menuju ke 

daerah sungai Dareh. Pun, peninggalan-peninggalan V. 0. C. (benteng 

dari tahun 1724) di daerah ini terdapat di Muara Kompeh, antara 

Jambi clan Muara Jambi. 

Setelah kita merekonstruksi garis pantai timur Sumatra itu untuk 

melokalisasi <;riwijaya, kita masih juga perlu meneliti garis-garis pantai 

yang berhadapan dengan pantai tadi guna merekonstruksi jalan-jalan 

pelayaran zaman <;riwijaya. Seperti sudah dikatakan di muka, Obdeyn 

berpendapat bahwa jazirah Malaka bersambung menjadi satu dengan 

kepulauan Riau-Lingga dan Bangka-Belitung. Terhadap pendapat 

ini, Verstappen menyatakan dengan tegas bantahannya dan berpen­ 

dapat bahwa di dalam zaman <;riwijaya, kepulauan Riau clan Lingga 

memang merupakan tanah lanjutan dari jazirah Malaka, tetapi 

Bangka clan Belitung terpisah oleh laut. Pandangan ini sesuai dengan 

apa yang nyata dari peta-peta hydrografi. Pun, dari sudut geologi, 

pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan. Menurut van Bemmelen, 

kepulauan Lingga, Bangka, clan Belitung itu "belong to a mountain 

range wich had largely been baselevelled and which was partly abraded. 

It has of the sea in late quarternary time. They represent a drowned topog­ 

raphy". Dan selanjutnya ia katakan bahwa "Singkip, Bangka, and 

Billiton are surrounded by an aureole of submerged river valleys, contain­ 

ing alluvial tin-ores." 

Kesimpulan yang kini dapat kita tarik mengenai rekonstruksi 

peta daerah Riau clan kepulauan Lingga ialah bahwa di dalam zaman 

<;riwijaya, daerah-daerah ini bukannya terdiri atas pulau-pulau, 

melainkan merupakan ujung selatan jazirah Malaka. Dengan me- 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 113 

nyesuaikan keadaan garis pantai Sumatra sendiri, gambaran tanah 

Riau ini dapat juga kiranya dipertahankan sampai sekitar 1000 

Masehi. Namun, kalau sejak masa ini daerah itu sudah mulai ber­ 

pecah-pecah menjadi kepulauan, selat-selat sempit dan dangkal di 

antara pulau-pulaunya belum juga dapat dipakai untuk pelayaran. 

Daerah ini bahkan terkenal sebagai sarang bajak-bajak laut, yang 

selalu mengganggu jalan pelayaran di Selat Malaka. 

Rekonstruksi peta daerah Riau ini dapat pula kiranya memberi 

penjelasan, mengapa di Pasir Panjang (ujung utara pulau Karimun), 

terdapat tulisan dari abad ke-9 yang menggunakan huruf-huruf 

Dewanagari dan bersifat agama Budha Mahayana. Tempat ini sebagai 

ujung yang menjorok ke laut, dan yang tentu dihadapi orang dalam 

pelayaran dari utara ke selatan melalui Selat Malaka, yaitu  tempat 

yang penting. Mungkin sebagai tempat singgah, dan mungkin pula 

hanya sebagai tanda peringatan atau petunjuk pelayaran. 

Setelah kita merekonstruksi jalan pantai-pantai dahulu di sektiar 

Palembang-Jambi dan kepulauan Riau, dapatlah kita kini berusaha 

menetapkan jalan-jalan laut yang menghubungkan India dengan 

negara kita , dan dengan Hindia Belakang serta Tiongkok. Oleh 

Quaritch Wales, telah dapat dibuktikan bahwa bagian tersempit 

jazirah Malaka (di sekitar teluk Bandon) memegang peranan penting 

sebagai kunci jalan perdagangan antara India dan Tiongkok. Jalan 

ini yaitu  jalan darat, sehingga di sini muatan kapal harus dibongkar 

untuk dipindahkan ke kapal-kapal lain-suatu hal yang bagi niaga 

laut tidak sedikit menimbulkan kesulitan dan kerugian. Maka, jalan 

ini terang tidak banyak memengaruhi jalannya pelayaran mengitari 

j azirah Mal aka. 

Ada juga pendapat yang baru-baru ini dikemukakan oleh Chand, 

bahwa "at one time there was a sea route through the peninsula that 

made present day Malaya as island'. Akan tetapi, ucapan ini hanya 

berupa kalimat demikian saja, tanpa disertai sesuatu bukti ataupun 

penjelasan. Dengan demikian, pendapat ini tidak dapat kita 

perhitungkan dalam uraian sekarang ini. 

114 Sriwijaya 

Jalan lain yang mungkin menghubungkan lautan Hindia clan 

laut Tiongkok Selatan yaitu  Selat Sunda. Akan tetapi, menurut 

Obdeyn, Selat Sunda ini barn dikenal oleh orang-orang Tiongkok 

clan Arab sejak tahun 1175. Pendapat ini disokong pula oleh van 

Bemmelen, yang menyatakan: "It is possible that indeed. Strait Sunda 

did not yet exist in older historical times in is present configuration. The 

link between South Sumatra and Java has probably been engulfed in the 

early quartenary, accompained by paroxysmal volcanic outbursts". Dan 

kemudian dalam subchapter "Speculation on the Origin of the Ori­ 

gin of Straits Sunda'', sampai pada kesimpulan bahwa "It is possible 

that (Selat Sunda) became navigable scarcely on thousand years ago. Es­ 

pecially the narrow passage across the northmost branch of the Great 

Lampong fault, with the island of Dwars-in-de-weg (Sangian) in the 

middle, could be navigated only since the middle ages." 

Dengan tertutupnya kemungkinan hubungan pelayaran 

dilakukan melalui Teluk Bandon clan Selat Sunda, maka jelaslah 

betapa pentingnya Selat Malaka clan Selat Berhala di dalam zaman 

Criwijaya sebelum tahun 1000 Masehi. Tiap kapal dari dan ke In­ 

dia, Jawa clan Hindia Belakang, Tiongkok, hams melalui teluk Jambi. 

** 

Dari kegiatan ini, tampaklah dengan jelas bahwa Jambi mem­ 

punyai kedudukan yang lebih penting daripada Palembang, yang 

hanya disinggahi oleh kapal-kapal yang melewatinya dalam 

pelayarannya antara Selat Malaka clan pulau J awa saja. Lagi pula, 

Jambi letaknya menghadap ke laut bebas, sedangkan Palembang pada 

suatu selat saja, yaitu selat Bangka. Maka, di antara Palembang clan 

Jambi untuk (riwijaya, pilihan akan lebih tepat kalau jatuh pada 

Jambi. 

Teluk Jambi memang sangat ideal untuk suatu pelabuhan 

samudra. Pula, untuk pertahanan terhadap serangan-serangan dari 

laut yang paling luar terdapat sebuah dusun sekarang yang bernama 

Muara Sabak. Dan menurut keterangan beberapa orang di Jambi di 

dusun itu, ada pula ditemukan peninggalan-peninggalan purbakala. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 115 

Adanya tiga pulau dan dusun Sabak itu sungguh-sungguh menarik 

perhatian, sebab  dari Ptolomeus diketahui adanya tiga pulau 

Sabadeibai, yang oleh Krom dilokalisasikan di sekitar Palembang, 

sedangkan "wanneer wij in deibai weder het gewone dwipa in zijn 

Praktrit-vorm vertegenwoordigd mogen denken, houden wij Saba als 

eigenlijke plaatsnaam over." Terlalu jauhkah kalau kita menarik 

kesimpulan bahwa ketiga pulau di Teluk Jambi itulah yang dimak­ 

sudkan oleh Ptolomeus? 

Pun, pada peta kuno (abad ke-16-17), yang dipakai sebagai 

bahan oleh Obdeyn, kita jumpai nama-nama "Saban" dan "Sabi", 

yang letaknya di sebelah utara "Palimbao (Palembang), tepat di mana 

kita mengharapkan letak J ambi. 

Tidakkah lebih masuk akal kalau perkataan-perkataan Zabay, 

Zabag, dari berita-berita Arab kita identifikasikan dengan (Muara) 

Sabak? Mungkin pula, bahkan Sabak ini yaitu  pelabuhan bagi 

Criwijaya yang beribu kota Jambi di Jambi. Inilah kiranya yang 

menyebabkan berita-berita Arab itu mengatakan adanya maharaja 

dari Zabag. 

Tidak masuk akal pulakah kalau San-fo-ts'i dari berita-berita 

Tionghoa itu kita identifikasikan dengan (Muara) Tembesi, sebuah 

kota di riwijaya juga, tetapi mempunyai kedudukan penting sebab  

letaknya di ujung telukJambi dan di muara Batanghari, dan dengan 

demikian menjadi penghubung penting antara pantai dan daerah 

pedalaman? 

Dapatkah kesimpulan melokalisasikan (riwijaya di Jambi itu 

memperoleh dukungan dari bahan-bahan ilmu purbakala? Jawabnya 

menguntungkan, bahkan memperkuat kesimpulan ini. Prasasti­ 

prasasti yang didapatkan di sekitar Palembang, yang sampai kini 

dipakai untuk memperkuat pendapat bahwa di Palembanglah 

letaknya Griwijaya, kalau kita teliti kembali bahkan akan memperkuat 

kebalikannya. Penelitian kembali ini dimungkinkan oleh 

diterbitkannya prasasti Telaga Batu oleh De Casparis, yang ternyata 

"consists of a long imprecation directed againt the perpetrators of all pos- 

116 Sriwijaya 

sible crime againts the king and the state (riwijay dan asalnya dari 

masa yang seperti prasasti-prasasti lainnya. Kalau Palembang me­ 

manglah ibu kota <;riwijaya, dapatkah masuk akal bahwa kutrukan­ 

kutukan yang berupa ancaman sangat mengerikan itu justru 

diabadikan di ibu kota? Mungkin warga ibu kota sendiri diancam 

secara demikian oleh rajanya? 

Prasasti Telaga Batu bukanlah piagam raja clan negara <;riwijaya 

yang berpusat atau beribu kota di Palembang. Peringatan itu yaitu  

usaha menjamin ketertiban (dengan istilah sekarang: follow up dari 

suatu operasi militer) dari seorang raja <;riwijaya yang telah berhasil 

menduduki Palembang. Inilah kiranya interpretasi yang dapat 

memberi penjelasan kepada prasasti Kedukan Bukit. Lebih-lebih 

setelah ada lagi pecahan prasasti lainnya yang memuat keterangan 

tambahan terhadap prasasti tersebut. Follow up yang positif ialah 

pemberian suatu hadiah kepada masyarakat yang telah tunduk itu 

agar mereka mengecap kebahagiaan atas kemurahan raja, clan inilah 

yang dimaksudkan dengan "pranindhana'' yang dikekalkan pada batu 

Talang Tuwo ( tahun 684; jadi, tahun berikutnya dari prasasti Kedukan 

Bukit). 

Dalam rangka ini, maka prasasti Kota Kapur clan Karang Brahi, 

yang sama isinya, yaitu  peringatan-peringatan yang dimaksudkan 

untuk memperkuat kedudukan <;riwijaya. Kota Kapur di Bangka 

yaitu  tempat yang strategis untuk menguasai jalan laut di muka 

pelabuhan Palembang, clan Karang Brahi terletak di jalan raya (sungai 

clan darat) antara pantai timur clan daerah pedalaman, yang banyak 

mengandung emas. Dan tempat-tempat yang khusus diperkuat itu 

yaitu  tempat-tempat yang sesuai dengan siasat untuk menjamin 

pertahanan <;riwijaya, clan yang memperkuat pula pilihan kita untuk 

melokalisasikan (riwijaya dan Jambi. 

Pun, peringatan-peringatan purbakalanya yang berupa area tidak 

bertentangan dengan kesimpulan kita. Arca Budha yang besar sekali 

dari bukit Siguntang, yang coraknya dapat dikembalikan kepada 

langgam Amarawati, clan area-area perunggu yang didapatkan dari 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 117 

dalam sungai dan bercorak langgam Gupta, merupakan petunjuk ke 

arah Budha Mahayana di Palembang di sekitar abad ke-6 7. Kenya­ 

taan ini, bila dihubungkan dengan berita I-ts'ing, seorang musafir 

Tionghoa yang menjelang akhir abad ke-7 lama sekali tinggal di 

Criwijaya bahwa di daerah lautan Selatan agama Budha yang ia 

jumpai di mana-mana yaitu  Hinayana (dari aliran Mulasarwastiwa­ 

danikaya), kecuali di Melayu di mana ia jumpai penganut-penganut 

agama Budha Mahayana-menutup segala kemungkinan untuk 

melokalisasi (riwijaya di Palembang. Maka, menarik perhatianlah 

bahwa Moens justru mengidentifikasikan Melayu itu dengan Palem­ 

bang, meskipun Sumatra Tengah (Jambi dan Muara Takus) ia masuk­ 

kan pula. 

Jelaslah kini, bahwa rekonstruksi bedasarkan geomorfologi yang 

memberi kesimpulan untuk melokalisasikan riwijaya di Jambi sesuai 

juga dengan bukti-bukti peninggalan purbakala. 

Sesuaikah pula kesimpulan ini dengan berita-berita Tionghoa, 

Arab, dan lain-lain sebagainya? Seperti sudah dikatakan di muka, 

mengenai berita-berita Tionghoa itu Roland Braddell sampai kepada 

kesimpulan untuk memprotes "the repetition of insufficiently investi­ 

gated identifications" dan "to ask from sinologists for more help." Lebih 

sempurna lagi kiranya kalau protes ini ditambah dengan penyesalan 

yang sangat terhadap tradisi yang, berdasar  atas "insufficiently 

investigated identifications itu, menjadi penghalang untuk meninjau 

kembali teori-teori yang sudah usang. 

Dalam hal ini, sangatlah menarik perhatian, bahwa salah satu 

sumber terpenting yang dipakai oleh Moens untuk kartografinya, 

baru-baru ini oleh William T. Kao dapat dibuktikan sebagai sumber 

yang tidak seharusnya dipercayai secara mutlak. Sumber ini yaitu  

berita dari Kia-tan, "one of China's most celebrated cartographers', yang 

tern ya ta" never travelled beyond the borders of his native country',akan 

tetapi dari bukunya yang 40 jilid tebalnya mengenai topografi 

Tiongkok dan negara-negara di lautan Selatan menimbulkan "a wide­ 

spread belief that Kia-tan's writing were based on first hand observations 

118 Sriwijaya 

made during his journeys." Pun, nama-nama tempat sering kali ditulis 

berbeda-beda, tergantung dari pendengaran orang Tionghoa sendiri. 

Ho-lo-tan, misalnya, "has been transcribed in different ways and 

its location is also uncertain. One translator says that it is situated on the 

island of Cho-po or Tou-po; another maintains that it ruled over the 

Island of Cho-po while a third thinks that it has its capital in She-po." 

Pembacaan kembali tulisan-tulisan Tionghoa kuno itu pun menim­ 

bulkan berbagai kesulitan. Kao mengatakan bahwa "it is difficult to 

trace the influence of the Amoy-Swatow-Canton dialects in the toponyms; 

clan selanjutnya: "Notwithstanding what we have just said as to the 

insignificant part played by South China seamen before the eleventh cen­ 

tury, however, we think the Amoy dialect is a very useful guide to the 

correct pronunciation of many Chinese characters in early writings. For, 

among all dialects, it retains the largest elements of ancient Chinese into­ 

nations and rhymes." 

Apa yang dikemukakan oleh W.T. Kao tadi, yang sesuai dengan 

protes Roland Braddell, memberikan dorongan pada kita untuk lebih 

berhati-hati lagi dalam mengidentifikasi serta melokalisasikan nama­ 

nama dan tempat-tempat, sebagaimana didapatkan dalam berita­ 

berita Tionghoa. Demikian pula kiranya kita dalam menghadapi 

berita-berita Arab atau lainnya. Hal ini nyata sudah, kalau kita 

mengingat bahwa apa yang kini dibaca Sribuza dari berita Arab, 

dahulunya dibaca Sarbaza, clan Zabej dibunyikan sekarang Zabag. 

Namun, kita dalam berhati-hati itu, kalau sesuatu identifikasi 

clan lokalisasi (atau satu di antara dua) tidak meragukan clan memang 

sesuai dengan kenyataan, apa salahnyakah kalau kita sampai kepada 

suatu ketetapan? Sebagaimana yang sudah dikemukakan, Sabadeibai 

dari Ptolomeus clan Zabag dari berita-berita Arab yaitu  (Muara) 

Sabak di muka teluk Jambi. San-fo-ts'i untuk (Muara) Tembesi dapat 

pula kita anggap pasti, kalau kita menilik berita-berita Tionghoa dari 

zaman Sung (960-1279), di mana kita jumpai raja "Chan-pi" di 

kerajaan San-fo-ts'i. Chan-pi dan San-fo-ts'i bersama-sama tidak 

memberi kesangsian lagi untuk mengidentifikasikannya dengan J ambi 

clan (Muara) Tembesi. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 119 

Demikianlah, maka-ditinjau dari berbagai sudut-tidak ada 

suatu bahan yang memberi petunjuk untuk melokalisasikan <;riwijaya 

di Palembang. Semua petunjuk mengarahkan pandangan kita ke 

J ambi, dengan meninggalkan tradisi yang telah bertahan 40 tahun 

lamanya. 

** 

Penyelidikan geomorfologi yang dilakukan oleh Drs. Sukmono, 

dengan tujuan untuk menetapkan lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya, 

merupakan salah satu usaha untuk memecahkan persoalan sejarah 

Sriwijaya. Andaikata lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya itu semata­ 

mata bergantung kepada pandangan dari sudut geomorfologi, maka 

pendapatnya akan dapat diterima tanpa keragu-raguan. Hasil pe­ 

nyelidikan geomorfologi memberikan saran yang kuat untuk mene­ 

tapkan J ambi sebagai pelabuhan yang sangat ideal dan sanggup 

menguasai lalu-lintas kapal di Selat Malaka yang berlayar ke utara 

menuju Tiongkok, ke timur menuju Jawa. Kebalikannya, perahu­ 

perahu yang berlayar dari lautan Selatan dan laut Jawa menuju In­ 

dia dan negara-negara lainnya di sebelah barat, berlayar melalui 

Jambi. Demikianlah, menurut pendapatnya, pusat kerajaan Sriwijaya 

harus terletak di Jambi, bukan di Palembang. 

Namun, pandangan geomorfologi bukan satu-satunya sumber 

sejarah yang dapat digunakan untuk melokalisasikan pusat kerajaan 

Sriwijaya. Oleh sebab  itu, hasil penyelidikan geomorfologi masih 

perlu dikaji dengan sumber sejarah lainnya yang kiranya dapat 

dipercaya. Sumber sejarah yang saya maksud ialah pernyataan I-ts'ing 

tentang letak pelabuhan Melayu, yang bertahun-tahun menetap di 

Sriwijaya dan beberapa kali mengunjungi pelabuhan Melayu. 

Yang akan dibicarakan di sini bukanlah pernyataan I-ts'ing 

mengenai bayang-bayang di welacakra yang bertalian dengan letak 

ibu kota Sriwijaya, melainkan pernyataannya tentang pelabuhan 

tempatnya singgah dalam perjalanan dari India ke Tiongkok. 

Perjalanan pulang dari Nalanda pada tahun 685 diuraikan oleh I­ 

ts'ing secara singkat. Uraiannya demikian: 

190 Sriwijaya 

1-ts'ing berangkat dari Tan-mo-lo-ti (Tamralipti atau Tamluk) 

menuju Ka-cha (Kataha atau Kedah). Singgah di sini sampai musim 

dingin. Dengan men um pang perahu raja, ia berangkat dari sini (Kedah) 

ke selatan menuju tanah Melayu, yang sekarang menjadi bagian Fo­ 

shih (Sriwijaya). Pelayaran itu makan waktu selama sebulan. Umumnya 

perahu itu datang di negeri Melayu pada bulan kedua. Tinggal di sini 

(di negeri Melayu) sampai pertengahan musim panas. Lalu berangkat 

ke utara menuju Kwang-tung (Kanton). Lebih kurang sebulan kemudian 

sampai di tempat tujuan. 

Dari pernyataan I-ts'ing itu, nyata sekali bahwa perjalanan dari 

India ke Tiongkok melalui pelabuhan Melayu. Dari pelabuhan Melayu 

perahu terns menuju ke utara ke arah Kwang-tung. Dengan kata 

lain, pelabuhan Melayu yaitu  tempat berlabuh perahu yang berlayar 

dari Kedah melalui Selat Malaka clan yang berlayar dari Tiongkok 

melalui laut Tiongkok Selatan menuju India. I-ts'ing tidak menga­ 

takan bahwa perjalanan dari selat Malaka ke Tiongkok melalui 

Sriwijaya atau Fo-shih. Demikianlah, pelabuhan Melayu menguasai 

lalu-lintas pelayaran dari laut Tiongkok Selatan ke Selat Malaka clan 

kebalikannya. 

berdasar  pernyataan I-ts'ing di atas, maka letak pelabuhan 

Melayu dalam soal menguasai pelayaran di Selat Malaka clan di laut 

Tiongkok Selatan lebih baik daripada pelabuhan Fo-shih. Sdr. 

Sukmono justru mendasarkan penyelidikannya dari sudut geo­ 

morfologi pada penguasaan pelayaran di Selat Malaka clan di laut 

Tiongkok Selatan. Oleh sebab  itu, ia justru memperkuat pendapat, 

bahwa yang terletak di J ambi ialah pelabuhan Melayu, bukan pe­ 

labuhan Sriwijaya. Letak pelabuhan Melayu yang sangat ideal itu 

memperkuat pernyataan I-ts'ing tentang pelabuhan Melayu yang 

menguasai lalu-lintas pelayaran di Selat Malaka. 

Pelabuhan Sriwijaya tersisih dari lalu-lintas perahu dari Tiongkok 

ke Selat Malaka clan kebalikannya. J ambi mempunyai kedudukan 

yang jauh lebih penting daripada Palembang, yang hanya disinggahi 

oleh kapal-kapal yang melewatinya dalam pelayarannya antara Selat 

Malaka clan Pulau Jawa saja. Lagi pula, Jambi letaknya menghadap 

ke laut bebas, sedangkan Palembang pada suatu selat saja, yaitu selat 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 191 

Bangka. Demikianlah, kedudukan pelabuhan J ambi jauh lebih 

penting daripada pelabuhan Palembang. 

Jika Sdr. Sukmono mengidentifikasikan Jambi itu dengan psuat 

Sriwijaya, di manakah lokasi pelabuhan Melayu? Pertanyaan itu secara 

tidak langsung dijawab dengan mengemukakan lokalisasi pelabuhan 

Melayu oleh Moens. Maka, menarik perhatianlah, bahwa Moens 

justru mengidentifikasikan Melayu itu dengan Palembang ... 

Dengan jelas dinyatakan oleh I-ts'ing, bahwa dalam perjalan­ 

annya ke Nalanda di India, baik I-ts'ing maupun Wu-hing berangkat 

dari Fo-shih menuju Melayu, kemudian terus ke Ka-cha (Kedah). 

Jika pelabuhan Melayu itu yaitu  pelabuhan Palembang seperti yang 

disarankan oleh Moens, maka I-ts'ing dan Wu-hing untuk berangkat 

ke India yang letaknya di sebelah barat hams pergi ke timur dahulu, 

sebab  Palembang letaknya di sebelah timur atau tenggara Jambi. 

Hal yang demikian agak aneh, tidak termakan akal. Kecuali kalau 

mereka mempunyai kepentingan istimewa di Palembang! 

Soal yang perlu mendapat perhatian ialah penyamaan San-fo­ 

ts'i dengan (Muara) Tembesi. Logis sekali bahwa Sdr. Sukmono, 

berdasar  lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya di Jambi, lalu meng­ 

identifikasikan San-fo-ts'i dengan Tembesi, yang terletak di tempuran 

sungai Tembesi dengan sungai Batanghari. 

Tembesi yaitu  satu-satunya tempat di daerah J ambi yang 

bunyinya hampir serupa dengan San-fo-ts'i, namun keserupaan bunyi 

itu tidak dapat dijadikan alasan untuk penyamaan tanpa memer­ 

hatikan keterangan-keterangan lain. Penyamaan itu sam sekali tidak 

cocok dengan pemberitaan dari sumber Tionghoa yang menyatakan 

letak San-fo-ts'i. Sudah pasti bahwa ada di antara berita-berita 

Tionghoa itu yang boleh dipercaya. Dalam hal ini, saya kutip per­ 

nyataan Ying-yai-sheng-lan (1416), yang isinya, bahwa Chiu-chiang 

sama saja dengan negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga 

disebut Po-lin-pang, ada di bawah kekuasaan Jawa. Kapal-kapal yang 

datang dari mana pun masuk selat Peng-chia (Bangka), yang berair 

tawar. Di dekatnya yaitu  tempat bertegak banyak pagoda yang 

199 Sriwijaya 

dibuat dari bata. Kemudian, para pedagang mudik ke hulu. J alannya 

makin lama makin sempit, menuju ibu kota. 

berdasar  berita Tionghoa di atas, yang serba jelas uraiannya, 

nyatalah bahwa San-fo-ts'i terletak di Palembang. Drs. Sukmono 

menganggap pasti penyamaan antara San-fo-ts'i dan (Muara) Tembesi. 

Penyamaan itu kecuali berdasar  keserupaan bunyi-lokalisasi 

Sriwijaya di kota Jambi-juga berdasar  berita Tionghoa pada 

zaman pemerintahan rajakula Sung (960-1279) di mana dijumpai 

raja "Chan-pi di kerajaan San-fo-ts'i. Chan-pi dan San-fo-ts'i ber­ 

sama-sama tidak memberi kesangsian lagi untuk mengidentifi­ 

kasikannya dengan Jambi clan (Muara) Tembesi, menurut pendapat­ 

nya. 

Mengenai raj a "Chan-pi", kiranya tidak mutlak demikian tafsir­ 

annya. Sumber berita itu ialah Sung Hui Yao. Demikianlah beritanya: 

Pada tahun kelima pemerintahan Yuang Fong (yakni pada tahun 

1082) bu Ian 10 tanggal 17, Sun Chiang, wakil Kepala urusan peng­ 

angkutan dan wakil kepala urusan dagang, menyatakan bahwa wakil 

umum para pedagang asing di negeri laut Selatan menyampaikan 

surat kepadanya yang ditulis dengan bahasa Tionghoa. Surat tersebut 

berasal dari raja Chan-pei (Jambi) bagian dari San-fo-ts'i dan dari putri 

raja, yang diserahi kekuasaan mengawasi urusan negara San-fo-ts'i. 

Mereka mengirimkan kepadanya 227 tahil su-lung (perhiasan), rumbia, 

kamfer, dan 13 potong pakaian. 

Peristiwa ini terjadi sesudah penundukan Sriwijaya, Melayu, 

dan negara-negara lainnya oleh raja Cola seperti tercatat pada piagam 

Tanyore (tahun 1030). Oleh sebab  itu, yang dimaksud dengan putri 

raj a di sini ialah putri keturunan raj a asing yang memerintah San-fo­ 

ts'i. Beliau dibantu oleh raja Jambi, yang telah ditaklukkan oleh raja 

Cola clan sebab nya juga menjadi raja bawahan San-fo-ts'i. Tan Yeok 

Seong memberi tafsiran, bahwa pada tahun 1082 ada dua pemerin­ 

tahan yang politiknya sejalan. Yang satu penjajah; yang lain asli. 

Yang penjajah berpangkal di Palembang; yang asli di Jambi. Dengan 

kata lain, raja penjajah itu bertakhta di Sriwijaya; yang lain di daerah 

Melayu. 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 193 

Jelaslah bahwa raja Chan-pei itu tidak menguasai San-fo-ts'i, 

tetapi malah kebalikannya. Bahwa raja San-fo-ts'i pada waktu itu 

bukan lagi orang asli, terbukti dari piagam Kanton yang ditemukan 

pada tahun 1959 tentang "Chung Siu Tien Ching Kuan Chi, yakni 

laporan pembangunan kembali candi Ten Ching. Candi Kanton yang 

telah rusak itu diperbaiki atas biaya raja San-fo-ts'i pada tahun 1079. 

Dengan jelas dinyatakan pada piagam itu bahwa raj a San-fo-ts'i yang 

bersangkutan ialah Ti-hua-ka-lo (Dewa Kulottungga). Piagam Kanton 

ini akan kita bahas di belakang. 

Di mana letaknya San-fo-ts'i, dari uraian Ying Yai Sheng Lan 

telah jelas, yakni di Palembang. San-fo-ts'i tidak mungkin diiden­ 

tifikasikan dengan Tembesi yang terletak di daerah Jambi. Hingga 

sekarang, ahli sejarah menerima penyamaan antara San-fo-ts'i dan 

Shih-li-fo-shih, yang pada hakikatnya masih merupakan persoalan. 

Penyamaan itu menurut pendapat saya tidak dapat diterima (lihat 

pasal "Kerajaan San-Fo-Ts'i"). sebab  San-fo-ts'i bagaimanapun yaitu  

transkripsi Tionghoa dari nama asli atau Sanskerta, yang menurut 

berita Tionghoa terdapat di Palembang, maka kita harus mencari 

tempat di daerah tersebut yang mungkin dapat disamakan; tidak 

mencarinya di daerah Jambi. J ustru sebab  Jambi yang disangka Sdr. 

Sukmono pusat kerajaan Sriwijaya terbukti pelabuhan Melayu, maka 

anjuran untuk mencari San-fo-ts'i di Palembang beralasan lebih kuat 

lagi. 

Ors. Sukmono mengemukakan peninggalan-peninggalan 

purbakala di Palembang yang jelas menunjukkan adanya agama Budha 

Mahayana di Palembang. Peninggalan itu terutama berupa area 

Budha, berasal dari Bukit Siguntang. Coraknya dapat dikembalikan 

kepada langgam Amarawati. Peninggalan purbakala ini lalu di­ 

hubungkan dengan pernyataan I-ts'ing, bahwa di daerah laut Selatan 

di mana-mana agama Budha yang dijumpainya yaitu  agama Budha 

Hinayana, kecuali di negeri Melayu. Di sini terdapat beberapa 

penganut agama Budha Mahayana. Peristiwa tersebut, menurut 

pendapatnya, menutup segala kemungkinan untuk melokalisasikan 

Sriwijaya di Palembang. Ditambahkannya pendapat Moens bahwa 

194 Sriwijaya 

kerajaan Melayu berpusat di Palembang. Penunjukkan Moens 

mengenai lokalisasi pelabuhan Melayu di J ambi (?) tidak bersifat 

mutlak. 

sebab  di Palembang ditemukan area Budha Mahayana, Drs. 

Sukmono mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan Palembang 

sebagai pusat kerajaan Sriwijaya tertutup sama sekali. Ia membatasi 

diri sampai kepada pernyataan I-ts'ing yang didasarkan atas keadaan 

pada akhir abad ke-7. 

Pernyataan I-ts'ing mengenai agama Budha Mahayana clan 

Hinayana di daerah laut Selatan tidak bersifat mutlak. Sebagai bukti, 

dapat dikemukakan pernyataan piagam Talang Tuwo, yang ditemukan 

di daerah sekitar Palembang clan bertarikh tahun 684, setahun 

sesudah piagam Kedukan Bukit. Tidak ada orang yang menyangkal 

bahwa piagam Talang Tuwo yaitu  piagam Sriwijaya. Piagam itu 

yaitu  piagam 'pranindhana, yakni pemberian suatu hadiah oleh 

raja Sriwijaya kepada masyarakat. 

Piagam TalangTuwo dikeluarkan atas perintah Dapunta Hyang 

SriJayanaga. Jadi, merupakan pernyataan resmi dari pucuk pimpinan 

pemerintahan Sriwijaya. Piagam tersebut jelas sekali menguraikan 

ajaran agama Budha Mahayana, istimewa aliran tantrisme, sebab  di 

situ tercatat wajracarira. Tidak dapat dikatakan bahwa pernyataan 

piagam itu semata-mata dimaksud untuk mengelus-elus perasaan 

rakyat yang memeluk agama Budha Mahayana di wilayah Sriwijaya. 

sebab  pernyataan tersebut yaitu  pernyataan resmi, maka dapat 

diambil kesimpulan bahwa ajaran agama Budha Mahayana aliran 

tantrisme itu dipeluk oleh Sriwijaya, setidak-tidaknya tidak dilarang 

oleh raja yang memerintah pada tahun 684. Rupa-rupanya memang 

ada sikap toleransi antara agama Budha Mahayana aliran tantrisme 

clan Budha Hinayana aliran Mulasarwastiwadanikaya di wilayah 

Sriwijaya. Kedua-duanya diperlakukan sama oleh raj a Sriwijaya, tan pa 

membeda-bedakan. 

Perlakuan yang demikian itu terbukti dari penerimaan para 

pendeta Tionghoa yang beraliran agama Budha Hinayana clan 

penerimaan pendeta dari Sri Lanka, Wajrabodhi, yang beraliran agama 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 195 

Budha Mahayana. Pada tahun 717, pendeta Wajrabhodi berangkat 

dari Sri Lanka dengan 35 perahu Persi menuju Tiongkok. Ia singgah 

di Sriwijaya, diterima oleh raja Sriwijaya dengan hormat dan 

diperlakukan dengan baik. Bahkan pendeta ini malah tinggal selama 

lima bulan di Sriwijaya, menunggu tibanya musim angin baik. Lagi 

pula, I-ts'ing juga secara mutlak mengatakan bahwa di kerajaan 

Sriwijaya hanya ada agama Budha Hinayana aliran Mulasarwastiwa­ 

danikaya. 

Pernyataan I-ts'ing mengenai agama Budha di negeri-negeri di 

laut Selatan itu ditutup dengan kalimat: "Agama yang dipeluk di 

negeri ini terutama aliran Hinayana, kecuali di negeri Melayu. Di 

negeri-negeri ini, sedikit saja pengikut aliran Mahayana." Jadi, adanya 

agama Budha aliran Mahayana di kerajaan Sriwijaya tidak tertutup 

sama sekali. Terbukti bahwa piagam Talang Tuwo yang terang yaitu  

piagam Sriwijaya, menguraikan ajaran agama Budha Mahayana. 

Kesimpulan yang diambil oleh Sdr. Sukmono ialah bahwa pusat 

kerajaan Sriwijaya terletak di Jambi dan pusat kerajaan Melayu di 

Palembang, meskipun pendapat yang terakhir ini tidak dinyatakan 

secara tegas, hanya dengan mengingatkan bahwa Moens justru 

mengidentifikasikan Melayu dan Palembang. Andaikata pelabuhan 

Melayu itu di Palembang, maka ada kesulitan mengenai penafsiran 

pelayaran I-ts'ing dari Fo-shih ke Nalanda. 

Baik I-ts'ing maupun Wu-hing pernah mengadakan pelayaran 

dari Fo-shih ke Mo-lo-yeu, terus ke Kacha (Kedah). Pelayaran I-ts'ing 

dari Fo-shih ke Nalanda, menurut pendapat saya, hams ditafsirkan 

bahwa I-ts'ing melalui pelabuhan Melayu terus ke Kedah. Ini berarti 

bahwa pelabuhan Melayu terletak di antara Sriwijaya dan Kedah. 

Jika pelabuhan Melayu itu dilokalisasikan di Palembang, maka 

pelayaran itu menuju timur dahulu, lalu kembali lagi ke Sriwijaya 

terus ke Kedah. Perjalanan yang demikian terang tidak normal, tidak 

biasa. Pelayaran dari Kedah ke Tiongkok, menurut tafsiran Sdr. 

Sukmono, lalu hams melalui Sriwijaya yang disebut Fo-shih. I-ts'ing 

tidak mengatakan demikian. 

196 Sriwijaya 

Dalam perjalanannya dari India ke Sriwijaya, I-ts'ing berkata: 

"Dari sini (Tan-mo-lo-ti), kapal berlayar dua bulan ke arah tenggara 

untuk sampai di Ka-cha. Pada waktu itu, kapal dari Fo-shih akan 

berlabuh di Ka-cha. Kedatangan perahu dari Fo-shih umumnya pada 

bulan pertama atau bulan kedua. Mereka yang akan berangkat ke 

Sinhala (Sri Lanka) berlayar ke arah barat daya. Kata orang, pelayaran 

itu sejauh 700 yojana. I-ts'ing singgah di Ka-cha sampai musim 

dingin, lalu berlayar lagi ke arah selatan sebulan lamanya menuju 

tanah Mo-lo-yeu, yang pada waktu itu sudah menjadi bagian Fo­ 

shih; banyak negeri-negeri yang menjadi bawahannya. Pada 

umumnya, kedatangan perahu di sana pada bulan pertama atau bulan 

kedua. Tinggal di sana sampai pertengahan musim panas, lalu 

berangkat lagi ke utara; kira-kira sesudah sebulan berlayar, sampai di 

Kwang-fu." 

Jadi, pelayaran dari Selat Malaka menuju Tiongkok melalui 

pelabuhan Melayu, tidak melalui pelabuhan Sriwijaya. J adi, pe­ 

labuhan Melayu menguasai lalu-lintas kapal di Selat Malaka ke 

Tiongkok. Pelabuhan yang menguasai lalu-lintas kapal di Selat Malaka 

yaitu  pelabuhan J ambi. J adi, pelabuhan Melayu yaitu  pelabuhan 

Jambi. berdasar  pernyataan I-ts'ing yang melakukan pelayaran 

itu sendiri, maka identifikasi pelabuhan Melayu dengan pelabuhan 

Palembang tidak mungkin. 

Saya sependapat sepenuhnya dengan Drs. Sukmono, bahwa 

piagam persumpahan Telaga Batu itu sangat mengerikan. Namun, 

sifat yang menger