iagam Karang Tengah sama dengan
rakai Garung pada piagam Kedu.
sebab nama Samaragrawira terbukti tidak dapat disamakan
dengan Samaratungga, maka harus dicari pemecahannya; harus di
identifikasikan dengan tokoh lain. Menurut prasasti Kedu, raja yang
memerintah sebelum dan sesudah sri maharaja rakai Garung ialah
sri maharaja rakai Warak dan rakai Pikatan. Identifikasi antara rakai
Pikatan dan Samaragrawira tidak dimungkinkan, sebab dari peneli
tian prasasti Sri Kahulunan dan nama-nama yang terpahat pada
candi-candi Plaosan, rakai Pikatan yaitu suami Sri Kahulunan alias
Pramodawardhani, sedangkan Pramodawardhani yaitu putri Sama
ratungga. J adi, penyamaan antara rakai Pikatan dan Samaragrawira
tidak mungkin.
Satu-satunya jalan ialah penyamaan dengan sri maharaja yang
memerintah sebelum Samaratungga alias rakai Garing, dengan sri
maharaja rakai Warak atau sri maharaja rakai Panunggalan. Identifikasi
dengan rakai Panunggalan tidak dimungkinkan, sebab seperti kita
ketahui, rakai Panunggalan telah kita identifikasikan dengan
Dharanindra, ayah Samaragrawira yang, menurut piagam Nalanda,
disebut Yawabhmip~lah.
Baik Dharanindra maupun Yawabh~mip~lah mempunyai epite
ton 'pembunuh musuh-musuh perwira. Dharanindra memerintah
sesudah rakai Panangkaran. Sri maharaja rakai Panunggalan juga
998 Sriwijaya
memerintah sesudah rakai Panangkaran. Tinggalah satu-satunya
kemungkinan, ialah identifikasi antara rakai Warak dan Samaragrawira.
sebab Samaragrawira menurut piagam N alanda kawin dengan putri
Tara, dengan sendirinya putri Tara yaitu permaisuri (istri) sri ma
haraja rakai Warak. Dari perkawinan itu lahir Balaputra. Demikianlah,
Balaputra yaitu putra rakai Warak.
Menurut artinya, nama Balaputra yaitu putra bungsu, sebab
bala artinya: ekor. Demikianlah, rakai Warak hams mempunyai putra
putra lainnya yang lebih tua daripada Balaputra. Dengan sendirinya
Balaputra sebagai putra bungsu tidak langsung mempunyai hak
untuk menggantikan ayahnya sebagai raja. Putra sulung, atau putra
yang lebih tua, mempunyai lebih banyak hak atas takhta kerajaan
daripada putra bungsu. Salah seorang di antara saudara-saudara tua
Balaputra ialah sri maharaja rakai Garung menurut prasasti Kedu,
atau Samaratungga menurut prasasti Karang Tengah. Demikianlah,
hubungan antara Samaratungga dan Balaputra yaitu hubungan
saudara, atau kakak-beradik. Balaputra berkakak terhadap Samara
tungga. Dengan sendirinya Pramodawardhani yaitu putri keme
nakan Balaputradewa.
Mengapa Balaputra melarikan diri ke Suwarnadwipa, dan ke
mudian minta kepada raj a Dewapaladewa untuk membangun wihara
Nalanda, dengan pengakuan bahwa beliau yaitu keturunan raja
Sailendra di Jawa? Pertanyaan itu segera dijawab dalam pembahasan
prasasti Balaputra-Jatiningrat atau A Metrical Old Javanese Inscrip
tion Dated 856 A.D.
Prasasti Balaputra-J atiningrat
N ama Balaputra disebut pada prasasti N alanda sebagai nama
raja Suwarnadwipa. Pengakuannya sebagai keturunan raja Sailendra
dari Jawa telah cukup dibahas di atas. Nama Balaputra juga disebut
satu kali pada prasasti Balaputra-J atiningrat yang bertarikh tahun
856. Prasasti itu telah diterbitkan oleh Dr. J .G. de Casparis dalam
Prasasti negara kita II pada tahun 1957 di bawah judulA Metrical Old
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 999
Javanese Inscription Dated 856 A.D. dari hlm. 280-330. Prasasti ini
memberikan sekadar penjelasan, mengapa Balaputra melarikan diri
ke Suwarnadwipa dan menjadi raja di Sriwijaya. Ringkasan isinya
seperti berikut.
Pada 1--9: seorang raja yang bernama Jatiningrat, pemeluk
agama Siwa, kawin dengan seorang permaisuri yang memeluk agama
lain. (Dalam bagian ini terdapat nama Walaputra pada pada 7.)
Balauputra menimbun ratusan batu untuk dijadikan benteng
pertahanan dan tempat bersembunyi dalam perang melawan Jati
ningrat. Raja itu mengambil nama Brahmana "Jatiningrat" dan
mendirikan keraton di Medang di daerah Mamrati. Sesudah itu,
beliau mengundurkan diri sebagai raja dan menyerahkan kekua
saannya kepada dyah Lokapala. Rakyatnya terbagi atas empat asrama,
masing-masing dikepalai oleh seorang Brahmana.
Pada 10--13: sang raja bersiap-siap untuk mengadakan upacara
kematian. Rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil. Beliau merasa
malu bahwa dusun Iwung pernah dijadikan gelanggang pertempuran.
Setelah beliau mencapai kekuasaannya dan kekayaan, beliau men
dirikan candi makam, menghimpun pengetahuan dharma dan
adharma. Tidak ada orang yang berani melawan beliau. Sang raja
mendirikan halu, yakni lingga. Semua orang turut menyumbang
untuk pembangunan lingga yang sangat indah itu.
Pada 14--17: bagian ini menguraikan lingga yang didirikan. Di
gapura, ada area penjaga yang gagah berani untuk menjaga keamanan
dan keselamatan bangunan. Di pintu masuk, didirikan dua bangunan
yang berbeda bentuknya. Halaman lingga ditanami pohon tanjung,
dan di situ didirikan rumah-rumah kecil untuk para pertapa.
Pokoknya, bangunan itu indah sekali.
Pada 18--23: ruang bangunan yang terindah diperuntukkan
bagi yang diperdewa. Para pengunjung dan penyembah berdiri dalam
deretan dengan hormat dan tenang. Semua orang diminta datang
bersembah.
930 Sriwijaya
Pada 24 29: peresmiannya dilangsungkan pada tahun Saka 778
hari kesebelas bulan terang. Selasa Wage. Sesudah bangunan itu selesai
seluruhnya, kali dipindahkan, tanahnya dijadikan wilayah candi.
Itulah tanah merdeka pameget Wantil. Lalu menyusul nama para
pejabat dan jabatannya. Tanah merdeka itu menjadi milik candi.
Semua orang yang diberi tugas untuk menjaga dan melakukan
persembahan, diharap tekun lagi tabah, dan juga tidak mengalami
lahir-mati yang tidak ada hentinya.
Pada 7 dalam prasasti di atas menyebut nama Walaputra. Kata
itu didahului dengan kata-kata "timbunan batu untuk pengungsian".
Kata-kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa Balaputra sedang berpe
rang dengan sang raj a yang mengambil nama Brahmana "Jatiningrat
dan menimbun batu untuk digunakan sebagai tempat pengungsi
annya. Pada 9 menguraikan bahwa rakai Mamrati menyerahkan tanah
Wantil untuk bangunan lingga, dan merasa malu bahwa desa Iwung
pernah menjadi gelanggang pertempuran. Kiranya, di desa Iwung
itulah terjadi pertempuran antara Balaputra dan sang raja alias rakai
Mamrati atau J atiningrat. Balaputra menderita kekalahan.
Prasasti Balaputra-Jatiningrat dipahat pada tahun Saka 778 atau
tahun Masehi 856. Tarikh tahun itu dinyatakan pada 23 atau baris
39 dengan candrasangkala wualung gunung san wiku yang mewakili
angka 8,7,7 atau tahun Saka 778. Namun, tarikh tahun itu bukan
tarikh tahun kemenangan J atiningrat terhadap Balaputra, melainkan
tarikh tahun pembangunan lingga di tanah Pameget di daerah
Mamrati. Pembangunan lingga itu dilakukan setelah Jatiningrat
mengundurkan diri dari pemerintahan dan menyerahkan kekuasa
annya kepada dyah Lokapala. Demikianlah, penerangan antara
Jatiningrat dengan Balaputra berlangsung sebelum tahun 856. Jadi,
pengungsian Balaputra ke Suwarnadwipa juga terjadi sebelum tahun
856. Tarikh tahun kemenangan itu akan kita selidiki lebih lanjut.
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 931
Identifikasi Jatiningrat
Nama Jatiningrat yaitu nama Brahmana yang sengaja diambil
oleh sang raja yang mengeluarkan prasasti di atas. Sebagai raja, sudah
pasti beliau mempunyai nama abhiseka dan nama pribadi. Pada
prasasti itu beliau menyebut dirinya kecuali Jatiningrat, juga rakai
Mamrati. Pada 8 baris terakhir menguraikan bahwa Jatiningrat men
dirikan keraton di daerah Mamrati. Setelah itu lalu mengundurkan
diri sebagai raj a. Itulah sebabnya J atiningrat menyebut dirinya rakai
Mamrati.
De Casparis menyamakan Jatiningrat dengan rakai Pikatan pada
prasasti Kedu. Alasan yang dikemukakannya ialah sebab prasasti ini
menyebutkan bahwa J atiningrat menyerahkan kekuasaannya kepada
dyah Lokapala. Prof. LC. Damais dalam Epigrafische aanteekeningen.
Lokapdla- Kayuwangi (TB.G. LXXXIII afl. 1 hlm. 1-6 tahun 1949),
telah membuktikan kesamaan antara dyah Lokapala dan Kayuwangi.
Rakai Kayuwangi mengeluarkan piagam Argapura pada tahun 863;
jadi, tujuh tahun kemudian daripada prasasti Balaputra-Jatiningrat.
Prasasti Argapura termuat dalam O.J.O. no. VIII, namun tran
skripsinya berhenti di tengah jalan. Tarikh tahunnya Saka 786; setelah
dikoreksi oleh Prof. LC. Damais ternyata tarikh tahunnya Saka 785
atau tahun Masehi 863. Duplikat prasasti tersebut tersimpan juga.
Pada prasasti Argapura (oleh Damais disebut prasasti Wanua Tengah)
terbaca nama rakai Pikatan pu Manuk dan rakaray~n Kayuwangi pu
Likap~la. Nyata di sini adanya kesamaan antara rakai Kayuwangi
dan pu Lokapala.
Dalam silsilah raja-raja di Poh Pitu pada prasasti Kedu, sri ma
haraja rakai Pikatan disebut lebih dahulu daripada sri maharaja
Kayuwangi. Pada prasasti Balaputra-Jatiningrat, dinyatakan bahwa
J atiningrat menyerahkan kekuasaannya kepada dyah Lokapala.
Demikianlah, J atiningrat itu sama dengan rakai Pikatan.
Pada prasasti Argapura itu nyata pula bahwa nama rakai Pikatan
ialah pu Manuku, sedangkan pada prasasti Balaputra-Jatiningrat
939 Sriwijaya
beliau mengaku mengambil nama Brahmana "Jatiningrat. Juga, pada
prasasti yang terakhir ini beliau menyebut dirinya rakai Mamrati.
Dikatakan bahwa rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil,
sedangkan rakai Mamrati tidak dikenal pada prasasti Kedu. sebab
Jatiningrat/Manuku yaitu rakai Pikatan, maka mungkin sekali tern
pat Mamrati itu terletak di daerah Pikatan. Kita hanya mengetahui
J atiningrat membangun istana di Mamrati setelah beroleh kekuasaan
dan kekayaan. Letak desa Pikatan telah dapat kita ketahui, yakni
dekat Temanggung di Karesidenan Kedu. Mamrati hams juga terletak
di sekitar daerah Temanggung.
Kecuali pada prasasti Balaputra-Jatiningrat, namadesaMamrati
juga dikenal pada prasasti Alas Lintakan (K.O. no. I). Rakai Layang
dyah Tulodong sri maharaja. Sanjaya Sannatanuraga Tunggadewa
membuat tanah perdikan di Alas Lintakan. Desa Kasugihan dibeli
oleh sri maharaja, ikut dijadikan tanah perdikan Caitya Niyaya. Di
sebelah selatan berbatasan dengan desa Mamrati.
Ada dua nama desa yang perlu diperhatikan, yakni desa Pikatan
dan desa Kasugihan. Kedua desa itu tersebut juga pada prasasti di
atas Desa Pikatan dekat Temanggung, desa Kasugihan di sebelah
timur laut Mantyasih. sebab desa Mamrati tidak disebut pada
prasasti Kedu, maka letaknya harus di luar lingkaran bangunan di
Mantyasih, di sebelah selatan desa Kasugihan. Nama desa Kasugihan
disebut pada prasasti Kedu, dan merupakan desa lapis ketiga di
sebelah timur laut Mantyasih. Bagaimanapun, keraton Mamrati yang
didirikan oleh rakai Pikatan hams terletak di sekitar Temanggung.
Sejak pemerintahan rakai Pikatan, Mamrati menjadi pusat
kerajaan atau ibu kota kerajaan. Pada tahun 842, kiranya rakai Pikatan
sudah berkuasa, sebab pada tahun itu Pramodawardhani telah
bergelar Sri Kahulunan: permaisuri. Seperti kita ketahui, pada tahun
842 dikeluarkan prasasti Sri Kahulunan bertalian dengan tanah
perdikan Sri Kahulunan yang menjadi milik bangunan suci Kam~lan
Bh~mis~mbhara alias Barabudur.
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 933
Prasasti Sri Kahulunan, yang berupa batu besar, diduga oleh
Krom berasal dari daerah Temanggung (Krom. HJG. hlm. 182).
Prasasti Gandasuli yang bertarikh tahun 832 telah menyebut adanya
tanah Sri Kahuluan (Sri Kahulunan) yang diurus oleh Busu
Pandarangan. Jika demikian, maka rakai Pikatan pada tahun 832
telah memegang kekuasaan. Penetapan letak desa Mamrati itu
bertalian dengan pemberitaan tentang adanya tiga keraton, yakni:
I. medang i Bh~mi Mataram (pada Minto-steen tahun Saka 846
O.JO. XXXI)
2. medang i mamrati (pada prasasti Balaputra-J atiningrat tahun Saka
778)
3. medang ri Poh Pitu (pada prasasti Kedu, tahun Saka 829).
Demikianlah, sebelum rakai Pikatan berkuasa, pusat kerajaan
itu terletak di Mataram. Hingga sekarang, kita tidak mengetahui
dengan pasti di mana letak desa Mataram itu secara tepat. Yang kita
ketahui ialah bahwa menurut prasasti Kedu, Sanjaya disebut rakai
Mataram. Hingga sekarang, daerah istimewa Yogyakarta masih
disebut daerah Mataram. Orang masih membedakan Mataram clan
Kedu. Jelas bahwa pada pemerintahan rakai Pikatan, ibu kota itu
dipindahkan dari Mataram ke Kedu. Tepatnya di sekitar Temanggung.
Jika kita memerhatikan aktivitas rajakula Sanjaya, maka nyata
bahwa aktivitas terbatas di sekitar daerah istimewa Yogyakarta
sekarang. Lingga yang didirikan oleh raja Sanjaya di atas gunung
Wukir, letaknya tidak jauh dari Yogyakarta. Prasasti Gata clan Taji
Gunung tentang pembangunan dharmma kawikuan di Timbangan
Wungkal terdapat di Prambanan. Candi Kalasan yang dibangun oleh
rakai Panangkaran pada tahun 778 terdapat di daerah Yogyakarta.
Masih banyak lagi prasasti-prasasti yang dikeluarkan sebelum
pemerintahan rakai Pikatan yang ditemukan di tempat-tempat yang
tidak terlalu jauh dari daerah Yogya. Misalnya, prasasti Ratu Baka
yang memuat nama Dharmatungga. Namun, dari prasasti-prasasti
itu kita tidak dapat menetapkan letak pusat kerajaan. Di daerah
934 Sriwijaya
makmur sebelah utara kota Yogya, memang ada sekelompok desa
yang memakai nama Sanskerta. Nama-nama itu kiranya bukan nama
baru. Dan di situ juga ada candinya, yang sudah sangat rusak. Desa
tempat candi itu sekarang disebut desa Candi. Di sebelah tenggara
Candi, terletak desa Rejadani (R~jadhani): tempat raja. Di sebelah
barat Rejadani yaitu Poton (Pattana): kota. Di sebelah barat desa
Poton yaitu desa Saragan (S~ragana): tentara. Di sebelah selatan
Rejadani yaitu desa Kamdan~n yaitu desa Nandan (Nandana):
taman kesenangan. Di sebelah timur Rejadani yaitu desa Dayakan
(Dyaka): sanak-saudara (raja). Di sebelah timurnya yaitu desa
Gentan (Gata): tentara. Sebelah utara Rejadani yaitu desa Bantarja
(Batarar@ja): arwah para leluhur alias makam. Di sebelah utaranya
yaitu desa Danalajan (D~nalaya): tempat berkorban. Sungai yang
melalui desa Rejadani juga disebut dengan nama Sanskerta, yakni
kali Trasi (traci): menakutkan, berbahaya.
Itulah sekelompok desa di daerah sebelah utara Yogyakarta, yang
nama-namanya mempunyai hubungan dengan kemungkinan adanya
pusat kerajaan clan hingga sekarang masih ada serta mengandung
unsur-unsur India. sebab tidak ada bahan lain yang dapat diguna
kan, toponimi itu hanya memberikan petunjuk saja, tidak mem
berikan kemungkinan untuk menarik kesimpulan.
Terbukti pada tahun 907 pusat kerajaan itu telah berpindah ke
Poh Pitu. Di mana letaknya juga tidak kita ketahui. Yang pasti ialah
di daerah Kedu. Nama Poh Pitu sendiri tidak kita kenal baik zaman
sekarang maupun pada prasasti, kecuali pada prasasti Kedu. Desa
Poh Pitu tidak disebut di antara 24 desa pada prasasti. Desa Kedu
hingga sekarang masih ada. Mungkin sebab Poh Pitu itu menjadi
pusat kerajaan, nama itu tidak disebut.
Desa Poh atau wanua Poh kita kenal beberapa kali pada prasasti.
Di antaranya pada prasasti Bara Tengah dari tahun 907, tentang
pembuatan tanah perdikan Kayu Ara Hiwang di daerah Waru Tihang
oleh rake wanua Poh dyah Mala. Di situ disebutkan juga pelbagai
nama desa; di antaranya desa Mantyasih. Desa Mantyasih terletak
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 935
di sebelah utara desa Kedu dan merupakan pusat. Desanya disebut
Mantyasih, tetapi sebagai pusat kerajaan disebut Poh Pitu. lkhtisar
mengenai kelompok desa di sekitar Mantyasih telah diberikan secara
jelas oleh De Casparis dalam Prasasti negara kita I hlm. 159.
sebab pada piagam Balaputrap-Jatiningrat dengan jelas
dinyatakan bahwa J atiningrat memeluk agama Siwa, berbeda dengan
sang permaisuri, maka dapat diambil kesimpulan bahwa beliau kawin
dengan putri dari rajakula Sailendra, yang memeluk agama Budha.
Putri itu ialah rani yang mengeluarkan prasasti Sri Kahulunan pada
tahun 842. Nama Sri Kahulunan ternyata terpahat bersama dengan
sri maharaja rakai Pikatan pada kelompok candi Plaosan Lor. Sri
Kahulunan yaitu putri Samaratungga, yang pada piagam Karang
Tengah bernama Pramodawardhani.
Bahwa rakai Pikatan mempunyai banyak nama terbukti dari
pelbagai prasasti. Bagi kita, yang penting ialah mengetahui bahwa
penyingkiran Balaputradewa dari J awa akibat kekalahan perang
dengan rakai Pikatan, menantu Samaratungga. Nama Samaratungga
ini sangat menarik perhatian, sebab nama itu oleh De Casparis dan
Bosch disamakan dengan nama Samaragrawira pada piagam Nalanda.
Piagam Nalanda yang dikeluarkan oleh raja Dewapaladewa
menguraikan pembangunan wihara Nalanda atas permintaan
Balaputra dari Suwarnadwipa. Balaputra mengaku keturunan raja
Sailendra dari Jawa. Maharaja yang disebut Yawabhmip~lah cri
wirawairimanthananugratabhidanah mempunyai seorang putra, yang
kemasyhurannya dalam peperangan sama dengan Yudistira, Parasara,
Bimasena, Karna, dan Arjuna, bernama Samaragrawira. Rajaputra
Samaragrawira kawin dengan Tara, putri Sri Dharmasetu; dari
perkawinan itu lahir seorang putra bernama Balaputradewa.
Seperti telah dijelaskan kemiripan nama antara Samaratungga
dan Samaragrawita itu, maka pelbagai sarjana mengira bahwa Samara
tungga yaitu sama dengan Samaragrawira.
936 Sriwijaya
Bosch dalam karangannya, De Inscriptie van Ligordalam majalah
T.B. G. LXXXI tahun 1941, menyamakan Samaratungga pada pia
gam Karang Tengah dengan rakai Panunggalan pada piagam Kedu,
dan kemudian dengan Samaragrawira pada piagam Nalanda, yakni
ayah Balaputra. Penyamaan itu masih lebih lanjut lagi. la menya
makannya dengan Wisnu pada piagam Ligor B. Dalam karangannya,
riwijaya, de (ailendra - en de Safijayawamca (B.KI. 108 hlm. 113
123), masih tetap ia menyamakan Samaratungga dengan Samarag
rawira. Rakai Garung sama dengan rakai Patapan pada piagam Karang
Tengah dan piagam Gandasuli. Untuk mendapatkan gambaran yang
jelas tentang teori Bosch mengenai hubungan antara rajakula
Sailendra, Sriwijaya, Sanjaya, dan Sailaraja di Fu-nan, yang pada
hakikatnya himpunan dari hasil penelitian Coed~s, van Naerssen,
De Casparis, dan penelitiannya sendiri, maka silsilah yang telah
disusunnya itu disalin seperti di bawah.
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra
Cailendra-wangsa menurut teori ED.K. Bosch
937
{ Dinasti Fu-nan
Somawangsa
Sailendrawangsa (?)
Putri
Sanjaya (C)
WisnuL
= rakai Pangangkaran (Kd)
= rakai Panangkaran (K)
Dharmasetu (N)
= raja Sriwijaya (L) Sri Maharaja
Syailendrawangsa
Sarwwarimadawi (ma)thana (L)
= Sailendraraja (K)
= D haranindra
rakai Warak (Kd)
{ rakai Garung (Kd)
= rakai Patapan (Kt)
= rakai Panunggalan (Kd)
wairiwarawiramardana (Kl
= Yawabhumipalah
Gailendrawamcatilaka
wirawairimathana (N)
Tara (N) _ -{ Samaratungga (Kt) r - Samaragrawira (N)
Balaputradewa { Pramodawardhani (Kt)
Suwarnadwipadhipa (N)
= Sri Kahulunan (Mg)
Cudamaniwarman
Raja Kataha dan Sriwijaya (Gr. Ch)
I
Marawijayatunggawarman
Raja Kataha dan Sriwijaya
Sailendrawangsa (Gr. Ch)
rakai Pikatan (Kd)
(Pl)
rakai Kayuwangi (Kd)
rakai Humalang (Kd)
I
rakai W atukura (Kd)
Piagam-piagam:
Keterangan singkatan: K = Kalasan; Kd = Kedu; Kl = Kelurak;
Kt= KarangTengah; L = Ligor; Mg= Magelang; N = Nalanda; Pl
= Plaosan Lor; C = Canggal, Gr. Ch; = Great Charter of Leyden.
938 Sriwijaya
Dari ikhtisar hubungan antara raja-raja Sriwijaya, rajakula
Sailendra di J awa, clan rajakula Sanjaya di atas, nyata bahwa Bosch
masih tetap menyamakan Samaratungga dengan Samaragrawira.
Sudah pasti bahwa kedua nama itu mirip sekali, sebab kedua-duanya
mulai dengan Samara; yang berbeda hanya bagian belakangnya.
Boleh dipastikan bahwa Balaputra mengenal nama Samaratungga
pada piagam Karang Tengah clan Samaragrawira sebagai ayah
Balaputra, sebab Balaputra baru pada pertengahan abad ke-9 me
ninggalkan Jawa Tengah.
Andaikata Samaratungga itu benar sama saja dengan
Samaragrawira, timbul pertanyaan: Mengapa pada piagam Nalanda
Balaputra tidak menyebut ayahnya Samaratungga saja? Penyebutan
itu lebih menguntungkan sebab dengan jalan demikian, ia sebagai
putra laki-laki mempunyai hak atas takhta yang lebih besar daripada
Pramodawardhani.
sebab kedua nama itu berbeda, kiranya memang nama dua
tokoh yang berlain-lainan. Samaragrawira yaitu nama rakai Warak,
Samaratungga yaitu nama rakai Garung. Dengan kata lain,
Samaratungga yaitu putra Samaragrawira clan kakak Balaputra.
Samaratungga yaitu putra sulung yang mempunyai hak untuk
mewaris takhta; Balaputra yaitu putra bungsu, sebab namanya
memang berarti demikian; ( wala = ekor; putra= anak).
Terbukti bahwa Samaratungga tidak mempunyai putra. Beliau
hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawardhani, permaisuri
rakai Pikatan. Balaputra, sebagai putra laki-laki Samaragrawira,
mengira berhak pula menggantikan Samaratungga yang tidak
berputra laki-laki. Timbullah sebab nya sengketa antara Balaputra
dewa clan J atiningrat yang membela hak permaisurinya. Ini lebih
logis daripada anggapan bahwa Balaputradewa yaitu adik Pramo
dawardhani. berdasar anggapan yang terakhir ini, maka Balaputra
mempunyai hak atas takhta yang lebih besar daripada Pramoda
wardhani. Pernyataan Balaputra di Nalanda harus ditafsirkan sebagai
pernyataan persahabatan antara Balaputra clan Dewapaladewa untuk
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 939
sekadar minta bantuan dalam merebut kembali hak menjadi raja di
Mataram.
Tafsiran yang demikian dapat dipahami. Sengketa antara Bala
putradewa dan J atiningrat kiranya terutama mengenai perebutan
kekuasaan antara Balaputra dan Pramodawardhani, sepeninggal rakai
Garung. Dalam hal ini, sebenarnya Jatiningrat sebagai menantu ada
di luar sengketa, namun sebab membela kepentingan istri, turut
terlibat.
Pada piagam Balaputra-Jatiningrat, dengan jelas dinyatakan
bahwa setelah J atiningrat beroleh kekuasaan dan kekayaan, beliau
lalu mendirikan candi makam, menghimpun ilmu dharma dan
adharma. Tidak ada orang yang berani melawan. Sesudah berkuasa
sebagai raja, lalu mendirikan keraton di Medang di daerah Mamrati.
Sesudah itu lalu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya
kepada putranya, Lokapala. Lokapala memang berhak sepenuhnya
atas takhta kerajaan sebagai putra Pramodawardhani. J atiningrat lalu
hidup sebagai pertapa. Dengan jelas pula dinyatakan bahwa beliau
menyesal, bahwa desa Iwung pernah jadi medan pertempuran.
Kiranya, kalimat yang terakhir ini juga sekadar membayangkan penye
salannya atas peperangan yang dilakukannya melawan Balaputradewa.
Pada tahun 842, dikeluarkan sebuah piagam oleh seorang rani
yang bergelar Sri Kahulunan. Menurut dugaan, Sri Kahulunan yaitu
Pramodawardhani. De Casparis berpendapat bahwa gelar sri
kahulunan yaitu gelar permaisuri, bukan gelar rajaputri. Pendapat
itu didasarkan atas piagam candi Plaosan. Samaratungga masih
mempunyai seorang putra bernama Balaputra, yang berarti: anak
bungsu. Prof. Mr. Moh. Yamin sependapat dengan De Casparis.
Katanya:
Pramodawardhani tak ikut bersama Balaputra berpindah ke
Sumatra, melainkan menetap di Jawa Tengah dan berkawin dengan
rakai Pikatan. Pertulisan Ratu Baka berisi pertentangan antara rakai
Pikatan dengan Balaputra yang, agaknya sebab menderita kekalahan,
lalu berpindah ke Sumatra. Sementara itu, putri Pramodawardhani
dikawini rakai Pikatan, dan keraton Ratu Baka menjadi keraton Siwa.
940 Sriwijaya
Padahal, sebelum tahun 856, ialah keraton Sailendra untuk kepen
tingan agama Budha Mahayana.
Persoalan Sri Dharmasetu
Pada piagam tercantum bahwa Tara, ibu Balaputra, yaitu putri
Sri Dharmasetu dan permaisuri Samaragrawira. Namun, pada piagam
itu tidak dinyatakan di mana kerajaan Sri Dharmasetu. Timbullah
sebab nya anggapan bahwa Sri Dharmasetu yaitu raja Sriwijaya.
Anggapan itu telah dikemukakan oleh Krom pada tahun 1938 dalam
Stapel's Geschiedenis I hlm. 162. Dalam bukunya, Prasasti negara kita
I hlm. 110-111, De Casparis menulis:
Setelah Balaputra meninggalkan Jawa, di Jawa tidak ada lagi
rajaputra yang mewaris takhta kerajaan. Putri Samaratungga telah
dikawinkan dengan rakai Pikatan. Dengan jalan demikian, rakai
Pikatan memperoleh kekuasaan untuk memerintah sebagian dari Jawa
Tengah. Kemungkinan lain ialah bahwa Balaputra belum dewasa ketika
ayahnya meninggal, sehingga ia belum diizinkan memerintah. Ber
hubung dengan timbulnya perubahan suasana yang sebab-sebabnya
tidak dapat diketahui dengan pasti, Balaputra kemudian menjadi raja
di Sriwijaya.
Dalam terbitannya, Prasasti negara kita II hlm. 296 note 66, De
Casparis menyarankan bahwa Balaputra kawin dengan putri sulung
raj a Sriwijaya setelah menyingkir dari J awa. berdasar perkawinan
itu, beliau berhak menjadi raja Sriwijaya. Pengangkatan menjadi raja
tidak semata-mata didasarkan atas keunggulannya sebagai calon,
tetapi sebab Balaputra mempunyai hak atas takhta kerajaan J awa
Tengah. Jika tuntutannya berhasil, berarti perluasan wilayah
Sriwijaya sampai di Jawa. ltulah sebabnya, Balaputra menyerukan
asal usulnya sebagai keturunan raj a Sailendra di J awa dan cucu Sri
Dharmasetu, raja Sriwijaya, di Nalanda. Dengan kata lain, ia
mengadukan kepada raja Dewapaladewa bahwa haknya menjadi raja
di J awa dirampas oleh orang lain, yakni oleh rakai Pikatan.
Ten tang anggapan bahwa perkawinan Pramodawardhani dengan
rakai Pikatan berlangsung sesudah Balaputra meninggalkan J awa,
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 941
ada keberatannya. Pada tahun 856, Dyah Lokapala, yang lahir dari
perkawinan antara J atiningrat dan Pramodawardhani, sudah diserahi
pemerintah. Pada waktu itu, beliau sudah dewasa. Padahal, peng
usiran Balaputra dari Mataram terjadi baru beberapa tahun sebe
lumnya, yakni antara tahun 842 sebagai batas pemerintahan Sama
ratungga dan tahun 856 masa penyerahan kekuasaan kepada Dyah
Lokapala dan pembangunan halu dan tiga lingga di dataran tinggi
Ratu Baka. Oleh sebab itu, menurut pendapat saya, perkawinan
antara J atiningrat dan Pramodawardhani berlangsung pada masa
pemerintahan Samaratungga alias rakai Garung. Selama Samaratungga
masih berkuasa, tidak ada perselisihan antara Balaputra dan
Jatiningrat. Tetapi sepeninggal beliau, timbul perselisihan mengenai
hak atas takhta kerajaan. Sebagai suami, J atiningrat membela
permaisuri Pramodawardhani. Setelah berhasil mengalahkan
Balaputradewa, sang suami J atiningrat memegang tampuk peme
rintahan, bukan Pramodawardhani.
sebab De Casparis menerima anggapan bahwa Sri Dharmasetu
yaitu raja Sriwijaya, maka perkawinan Balaputra dengan putri raja
Sriwijaya, yang pada hakikatnya masih berupa teori yang sangat kabur,
yaitu perkawinan antara dua saudara sepupu. Penyingkirannya ke
Sumatra didasarkan pertimbangan akan adanya hubungan ke
keluargaan dengan raja Sriwijaya, seperti dinyatakan pada piagam
Ligor B. Saran ini logis sekali dan mudah dipahami. Seperti telah
disinggung di muka, Coed~s telah mengemukakan pendapat bahwa
piagam Ligor B dikeluarkan oleh putra (riwijayegwarabhupati dari
piagam Ligor A, yang menjadi raja Sailendra I, setelah kawin dengan
putri Fu-nan. Teori Coed~s telah diambil alih oleh Prof. FD.K. Bosch
dalam karangannya, (riwijaya, de Gailendra - en de Sanjayawamcad
seperti kelihatan jelas pada silsilah yang disusunnya.
Mr. Moh. Yamin dalam Laporan Konggres M.I.PI. dan Nilakanta
Sastri dalam History of <;riwijaya juga menerima saran bahwa Sri
Dharmasetu yaitu raja Sriwijaya. Tetapi hingga sekarang, tidak ada
pembuktiannya. Keberatan terhadap pendapat Coed~s telah saya
kemukakan. Meskipun saran De Casparis sangat termakan akal,
949 Sriwijaya
namun ada banyak keberatannya. Pertama, perkawinan antara putri
raja Sriwijaya dan Balaputradewa. Hal tersebut merupakan anggapan
saja, sebab tidak ada pemberitaan tentang perkawinan itu. Kedua,
tentang anggapan bahwa Sri Dharmasetu yaitu raja Sriwijaya. Hal
tersebut juga masih merupakan anggapan, sebab pemberitaannya
tidak tercantum pada piagam mana pun. Ketiga, perkawinan antara
putri Fu-nan dengan raja Wisnu, yang mengakibatkan timbulnya
dua cabang rajakula Sailendra. Juga mengenai hal ini tidak diperoleh
bukti-buktinya.
N ama Sri D harmasetu jelas kedapatan pada dua piagam: pada
piagam Kelurakdan pada piagam Nalanda. Kiranya, Sri Dharmasetu
yang kedapatan pada piagam Kelurak itu sama saja dengan Sri
Dharmasetu yang kedapatan pada piagam Nalanda. Pada piagam
Nalanda, tercantum bahwa Sri Dharmsetu termasuk Somakula. Jadi,
beliau bukan keturunan Sailendra. Demikianlah, Samaragrawira itu
mengambil putri dari Somakula. Pada upacara peresmian area
Manjuri di Kelurak dinyatakan: mah pratipal~niyah cri dharmmasetur
ayam, artinya: Sri Dharmasetu yang diserahi untuk menjaga ...
sebab bangunan itu terdapat di Jawa Tengah, kiranya Sri
Dharmasetu yang diserahi untuk menjaganya juga berkedudukan di
Jawa Tengah. Samaragrawira yaitu rakai Warak dan putra Dha
ranindra (rakai Panunggalan). Demikianlah, Dharanindra itu
berbesan dengan Sri Dharmasetu.
Balaputradewa yaitu cucu dari Sri Dharmasetu menurut
keturunan ibunya, dan cucu Dharanindra menurut keturunan
ayahnya. Kedua-duanya berkedudukan di Jawa Tengah. Namun,
menurut analisis di atas, rakai Panunggalan berhasil menguasai
kerajaan Sriwijaya. sebab Balaputra menderita kekalahan dalam
peperangan melawan J atiningrat dan kemudian terpaksa menyingkir
ke Sumatera, maka negeri yang hams diwarisnya dari nenek
Dharmasetu dan dari ayahnya Samaragrawira terampas semuanya
oleh rakai Pikatan, yang menurut adat tidak berhak untuk
menguasainya. Demikianlah, penyebutan Dharmasetu sebagai
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 943
neneknya melalui urutan ibunya dan penyebutan Jawabhumip~lah
melalui urutan ayahnya, dihubungkan dengan negara yang hams
diwarisnya melalui urutan ayahnya sebagai keturunan rajakula
Sailendra. Seman hak itu ditujukan kepada raja Dewapaladewa
terhadap rakai Pikatan dan keturunannya. Jika sekarang tidak berhasil
merebut kembali hak itu, harap perjuangan merebut kembali hak
atas takhta itu dilanjutkan kemudian.
Penobatan Balaputra sebagai raja Sriwijaya tidak didasarkan atas
keturunan Sri Dharmasetu. Satu-satunya jalan ialah menerima
anggapan bahwa maharaja Wisnu yang tercantum pada piagam Ligor
sama dengan Dharanindra pada piagam Kelurak; sama dengan rakai
Panunggalan pada piagam Kedu.
Demikianlah, yang dimaksud dengan Yawabhumip~lah pada
piagam Nalanda ialah Dharanindra pada piagam Kelurak, atau rakai
Panunggalan pada piagam Kedu. Dengan jalan demikian, epipeton
criwirawairamathana pada piagam Nalanda itu memang sama dengan
epiteton wairiwaraw~ramardana pada piagam Kelurak. Epiteton itu
kedua-duanya epiteton Dharanindra atau rakai Panunggalan.
Epiteton raja Wisnu pada piagam Ligor hampir serupa, yakni
sarwwarimadawi (ma)thana. Semua mengandung arti: pembunuh
musuh perwira. sebab nama Dharanindra (Dharanindhara) sama
dengan nama Wisnu, maka epiteton sarww~rimadavi(ma)thana pada
piagam ligor itu juga epiteton Dharanindra alias rakai Panunggalan.
Daftar nama raja-raja Jawa Tengah itu lalu seperti berikut:
Nama Pribadi Rakai Abhiseka Tarikh Prasasti
Sanjaya Mataram 732 Canggal
Daksottamabah ubaj ra 771 Gata
pratipaksasaja sri
Tunggadewi 772 Taji Gunung
Pancapana Panangkaran Dharmatungga? 778 Kalasan
Dharanindra Panunggalan Sanggramadhananjaya 782 Kelurak
+ 787 Ligor B
944 Sriwijaya
+ 860 Nalanda
Samaragrawi ra Warak + 860 Nalanda
Samaratungga Garung 819 Pengging
824 Karang Tengah
Jatiningrat Pikatan 856 Balaputra-
Jatiningrat
850 Tulang Air
863 Argapura
Lokapala Kayuwangi Sajanotsawatungga 856 Balaputra-
Jatiningrat
880 Wuatan Tija
863 Wanua Tengah
(Gurun Wangi) 887 Munggu Antan
Dyah Dewendra Limus 890 (Poh Dulur)
Watuhumalang 896 Kawikuan
Panunggalan
886
Balitung Watukura Sri lswarakesawotawa-
tungga 907 Matyasih (Kedu)
Tulodong Layang Sajanasanatanuraga-
tunggadewa 919 (Lintakan)
Bab 8
KERAJAAN SAN-FO-TS'I
Berita Tionghoa
Pada masa pemerintahan rajakula Tang (618-907), kerajaan
Sriwijaya disebut Shih-li-fo-shih (Che-li-fo-che). Nama Shih-li-fo
shih, baik yang tercatat dalam sejarah T'ang maupun yang tercatat
dalam karya-karya I-ts'ing, yaitu transkripsi Tionghoa dari nama
Sriwijaya. Transkripsi yang demikian mudah dipahami. Hsin-tang
shu mencatat bahwa kerajaan Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke
Tiongkok dalam pangsa waktu 670-673 dan 713-741. Sejak itu,
utusan Shih-li-fo-shih tidak lagi kedengaran.
Pada masa pemerintahan rajakula Sung (960-1279), negeri di
laut Selatan yang namanya San-fo-ts'i mengirim utusan ke Tiongkok
berkali-kali. Sung Shih mencatat kedatangan utusan itu ke Tiongkok
pada tahun 960, 962, 971, 972, 974, 975, 980, 983, 985, dan
988. Utusan yang terakhir ini tinggal di Kanton sampai tahun 990,
sebab mendengar bahwa negerinya San-fo-ts'i sedang diserang oleh
tentara dari Cho-p'o.
Pada musim semi tahun 992, utusan itu berangkat lagi menuju
San-fo-ts'i, namun pelayarannya hanya sampai di Campa sebab
belum ada kepastian tentang negerinya. Oleh sebab itu, ia belajar
kembali. la mendesak kaisar untuk mengeluarkan pengumuman
bahwa San-fo-ts'i ada di bawah perlindungan Tiongkok. Pada tahun
946 Sriwijaya
992 itu juga, datang utusan dari Cho-p'o di Tiongkok, menyatakan
bahwa negerinya sering berperang dengan San-fo-ts'i. Utusan dari
Cho-p'o ini yaitu utusan dari raj a Dharmawangsa, yang naik takhta
pada tahun 991. Baru pada tahun 1003 datang lagi utusan dari
San-fo-ts'i. Kemudian pada tahun 1008. Sepuluh tahun lamanya
tidak ada utusan dari San-fo-ts'i yang datang. Sung Shih mencatat
bahwa utusan dari San-fo-ts'i datang lagi pada tahun 1017, 1028,
1067, 1080, 1082, 1083, pangsa waktu 1094-1097, 1156, dan
yang penghabisan kali pada tahun 1178. Pada tahun 1178, kaisar
mengeluarkan pengumuman agar San-fo-ts'i tidak lagi mengirim
utusan ke istana, tetapi mendirikan suatu perusahaan dagang di
Chuan-chow di Fu-kien.
Di dalam sejarah Sung (bah 489), kerajaan San-fo-ts'i itu
diuraikan seperti berikut:
Kerajaan San-fo-ts'i yaitu kerajaan bangsa liar di laut Selatan.
Letaknya antara Chen-la dan She-po, memerintahkan 15 macam
negeri. Negeri itu menghasilkan rotan, kina merah, kayu cendana,
pinang, dan nyiur. Penduduknya tidak menggunakan uang tembaga;
kebiasaan mereka ialah berdagang emas dan perak. Hawanya panas.
Di musim dingin tidak ada es atau salju. Rakyatnya mengusap
badannya dengan minyak semegrak.
Negeri ini tidak menghasilkan gandum, tetapi menghasilkan
banyak padi, kapri kuning dan hijau. Mereka membuat anggur dari
bunga, dari nyiur, pinang, dan madu. Mereka menggunakan huruf
Sanskerta (Dewanagari); rajanya menggunakan cincin sebagai cap.
Mereka juga mengenal huruf Tionghoa. Jika mengirim utusan ke
Tiongkok, mereka menulis dengan huruf yang terakhir ini. Bila angin
baik, jarak antara Kwang-tung dan negara tersebut dapat ditempuh
dalam waktu 20 hari.
Nama-nama keluarga banyak yang mulai dengan P'u. Pada tahun
960, raja Shih-li-hu-ta-hia-li-tan mengirim utusan ke Tiongkok. Pada
tahun 992, negeri itu ditundukkan oleh Jawa. Pada tahun 1003, dua
utusan dari San-fo-ts'i memberitahukan bahwa di negeri itu telah
didirikan candi Budha dengan tujuan sebagai tempat berdoa untuk
memohonkan panjang usia bagi kaisar Tiongkok. Kaisar kemudian
memberi nama untuk candi itu dan menghadiahkan lonceng khusus
tercetak untuk candi tersebut.
Kerajaan San-f0-ts'i
Pada tahun 1017, utusan dari San-fo-ts'i membawa bingkisan
bingkisan buku Sanskerta yang dilipat dalam sampul papan. Pada
tahun 1082, tiga utusan datang menghadap kaisar. Mereka
mempersembahkan bunga teratai mas yang berisi mutiara, kapur
barus, dan satin.
947
Chu-fan-chi, yang disusun oleh Chao-ju-kua pada masa
pemerintahan rajakula Sung (960-1279), menguraikan bahwa San
fo-ts'i terletak tepat di sebelah selatan Ch'uan-hou (berhadapan
dengan Formosa utara); rakyatnya bersarung kain kapas dan ber
payung sutera. Mereka pandai berperang, baik di laut maupun di
darat. Organisasi ktentaraannya sangat rapi. Bila rajanya wafat,
rakyatnya bercukur gundul sebagai tanda belasungkawa. Mereka yang
berbela menceburkan diri dalam minyak mendidih. Adat itu disebut
"Tung-sheng-ssu', artinya "sehidup semati". Ada area Budha yang
disebut gunung emas dan perak. Rajanya biasa disebut "hakikat ular.
Mahkotanya emas, berat sekali. Hanya baginda saja yang kuat meng
angkatnya. Barang siapa kuat mengangkatnya, jadi penggantinya.
Negeri itu terletak di tepi laut dan merupakan bandar penting, meng
awasi masuk-keluar kapal negeri-negeri lainnya. Dahulu meng
gunakan rantai besi sebagai batas bandar.
Dalam sejarah Ming (1368-1643) buku 324 tercatat demikian:
"Pada tahun 1937, San-fo-ts'i untuk penghabisan kalinya dikalahkan
oleh Jawa. Kemudian namanya diganti Chiu-chiang, artinya:
pelabuhan lama, sungai lama."
Dalam Ying-yai-sheng-lan (1416), tercatat bahwa Chiu-chiang
sama saja dengan negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga
disebut Po-lin-pang, ada di bawah kekuasaan Jawa. Kapal-kapal yang
datang dari mana pun masuk selat Peng-chia (Bangka) yang berair
tawar. Di dekatnya banyak pagoda yang dibuat dari bata. Kemudian
para pedagang mudik ke hulu, jalannya makin lama makin sempit,
menuju ibu kota.
berdasar berita-berita geografi di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa kerajaan San-fo-ts'i terletak di Palembang.
948 Sriwijaya
Kesimpulan itu sudah merupakan pendapat umum. Dan memang
tidak ada keberatan untuk menerima pendapat itu.
Seperti telah disinggung di atas, yang menimbukan persoalan
ialah: Adakah Shih-li-fo-shih itu sama dengan San-fo-ts'i? Hingga
sekarang, para ahli sejarah menganggapnya sama. Takakusu, yang
belum mengenal nama Sriwijaya, menyamakan Shih-li-fo-shih
dengan Sribhoya, Fo-shih dengan Bhoya. Ia juga beranggapan bahwa
Shih-li-fo-shih dalam pemberitaan I-ts' ing sama dengan San-fo-ts'i
dalam berita-berita Chu-fan-chi.
Penyamaan Shih-li-fo-shih dengan Sriwijaya yaitu jasa Coed~s.
Penyamaan itu memang cocok. Tarikh piagam Kedukan Bukit ialah
683; tarikh piagam TalangTuwo ialah 684; dan tarikh piagam Kota
Kapur ialah 686. Pada tahun 672, I-ts'ing ada di Sriwijaya. Bukunya,
Memoire dan Record, semuanya ditulis di kerajaan Sriwijaya sesudah
ia kembali dari Nalanda. Tetapi penyamaan Shih-li-fo-shih dan San
fo-ts'i masih hams dibuktikan. Kesulitannya segera tampak jika kita
memerhatikan perbedaan waktu antara timbulnya dua nama tersebut.
Nama Shih-li-fo-shih dikenal pada masa pemerintahan rajakula T'ang
(618-907), dan nama San-fo-ts'i dikenal pada masa pemerintahan
rajakula Sung (960-1279) dan seterusnya. Perbedaan bunyi antara
dua nama itu terutama berupa perbedaan antara bunyi Shih-Ii dan
San. Bahwa Shih-Ii atau Che-Ii yaitu transkripsi Tionghoa dari Sri
mudah dipahami. Mengapa maka pada pemerintahan rajakula Sung
sekonyong-konyong timbul bunyi San? Adakah nama Sriwijaya
berubah menjadi Sang Wijaya?
Meskipun soal linguistik ini soal kecil, namun kiranya perlu
juga diperhatikan. Saya yakin bahwa yang dimaksud dengan San-fo
ts'i dalam sumber berita Tionghoa itu kerajaan Sriwijaya, namun
kiranya San-fo-ts'i bukanlah transkripsi nama Sriwijaya. Untuk
menunjukkan identifikasi kerajaan San-fo-ts'i dengan kerajaan
Sriwijaya, kita perlu membandingkan berita Tionghoa pada masa
pemerintahan rajakula Sung dengan piagam Leiden yang berbahasa
Sanskerta. Di situ kita melihat raj a yang sama diberitakan oleh kedua
belah pihak, baik oleh berita Tionghoa maupun oleh berita India.
Kerajaan San-f0-ts'i 949
Berita Tionghoa menguraikan bahwa pada tahun 1003, seorang
raja dari San-fo-ts'i yang bernama Cudamaniwarmadewa mengirim
dua orang utusan ke Tiongkok. Dua orang utusan itu menyatakan
kepada kaisar, bahwa di negerinya sedang dibangun sebuah candi
Budha. Mereka mohon kepada kaisar agar beliau suka memberi nama
untuk bangunan tersebut. Candi itu lalu diberi nama Cheng-tien
wan-show. Pada tahun 1008, datang lagi utusan dari San-fo-ts'i.
Terbukti bahwa raja yang mengirim utusan itu bukan lagi
Cudamaniwarman, tetapi putranya, yakni Marawijayatunggawarman.
Dua nama itu memang tercatat pada piagam Leiden yang berbahasa
Sanskerta. Menurut berita Tionghoa itu, raja Cudamaniwarmadewa
disebut Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa, sedangkan Marawijaya
tunggawarman disebut Se'-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yakni Sari
Marawijaya).
Beritalndia
Hubungan antara Sriwijaya dan India pada permulaan abad
ke-11 tercatat pada piagam yang sekarang disebut Larger Leyden Plates,
ditulis dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Tamil. Isinya peringatan
pembangunan wihara Cudamaniwarman oleh raj a Marawijayatung
gawarman dan persembahan dusun Anaimanggalam sebagai jaminan
kepada para pendeta yang hidup dalam wihara tersebut. Bagian yang
tertulis dalam bahasa Sanskerta itu telah diterjemahkan oleh Prof.
Nilakanta Sastri seperti berikut:
He, this Rajakesawariwarman Rajaraja, who had seen the other
shore of the ocean of the collection of all sciences, who foot-stool was
made yellow by the cluster of rays (eminating) from many a gem set on
the borders of the beautiful gold diadems worn by the entire cycle of
kings, gave in the twenty-first year of his universal sovereignty, to the
Budha residing in the surpassing by beautiful culamaniwarmawihara,
of (such) high loftiness (as had) belittled the kanakagiri (i.e. Meru),
which had been built in the name of his father, by the glorious
Marawijayatunggawarman, who by the greatness of his wisdom, had
conquered the teacher of the gods, who was the sun to the lotusforest
(viz.) the learned man, who was the Kalpa-tree to supplicants, who
950 Sriwijaya
was born in the (ailendra family, who was the lord of the (riwisaya
(country), who was conducting the rule of Kataha, who had the makara
crest (and) who was the son of Culamaniwarman that had matered all
state-craft, at Nagapittana, delightful (on account of) many a temple,
rest-house, watershed, and pleasure garden and brilliant with arrays
of various kinds mansions (situated) in the division called Pattanakura
(included) in the big group of districts named Ksatriya~ikkamani
walanadu, which was the forehead mark of the whole earth, the vil
lage named Anaimangalam (wich had its) four bounderies defined by
circumabulation of the female elephant and (which was situated) in
the division called Pattanakura (included) in the same group of dis
tricts (as has been named above).
When that powerful (Rajaraja) had obtained divinity, his wise
son, king Madhurantaka, who ascended on his throne, caused an
enduring edict (to be made) for this village, which had thus been
granted by his father, the king-emperor, and ordered thus:
As long as <;esa, the lord of all serpents, hold the entire earth, so
long may this wihaa last in (this) world with its endowment.
This lord of Kataha of great valour, the abode of virtues, thus
prays to all futurre kings:
Protect (ye) for ever this my charity.
Selanjutnya, Nilakanta Sastri memberikan keterangan bahwa
dalam piagam Tamil, disebut bahwa pembangunan wihara dan candi
itu dilakukan oleh raja Kidara Cudamaniwarman pada tahun ke-21
masa pemerintahan Rajakesariwarman, yakni pada tahun 1006.
Piagam penguatnya dikeluarkan oleh raja Madhurantaka, yakni
Rajendra, putra raja Kesariwarman. Namun, pada piagam Sanskerta
disebut bahwa pembangunan wihara dan candi itu dilakukan oleh
Marawijayatunggawarman. Ini dapat ditafsirkan bahwa pemba
ngunan wihara dan candi itu dimulai oleh Cudamaniwarman pada
tahun 1006. Namun sebelum bangunan itu selesai, beliau mangkat,
kemudian pembangunan diselesaikan oleh Marawijayatunggawarman.
Piagam Tamil ditulis pada masa pemerintahan Rajakesariwarman
Rajaraja, sedangkan piagam Sanskerta ditulis pada masa pemerintahan
Rajendra. Beliau mengetahui bahwa pembangunan itu dilakukan
atas nama raj a Marawijayatunggawarman. N ama Cudamaniwarman
dan Marawijayatunggawarman dikenal dalam berita Tionghoa.
Kerajaan San-f0-ts'i 951
Tarikh berita Tionghoa itu cocok dengan tarikh piagam Larger
Leyden Plates, tentang masa pemerintahan Cudamaniwarman dan
Marawijayatunggawarman. Menurut J.c. Powell-Price dalam
bukunya, A History of India hlm. 87, masa pemerintahan Rajaraja
mulai tahun 985 sampai tahun 1012. Jadi, tahun ke 21 masa peme
rintahan Rajaraja ialah tahun 1006.
Menurut berita Tionghoa, yang mengirim utusan ke Tiongkok
pada tahun 1008 ialah Marawijayatunggawarman. Pada piagam yang
ditulis dalam bahasa Tamil, dinyatakan bahwa pada tahun ke 22
masa pemeirntahan beliau, yakni pada tahun 1007, wihara di
Nagapattana itu sedang dibangun oleh raj a Kidara Cudamaniwarman.
Demikianlah, dapat dipastikan bahwa Cudamaniwarman wafat antara
tahun 1006 dan 1008. Baik piagam Larger Leyden Plates maupun
berita Tionghoa itu membuktikan bahwa raja Sriwijaya Cudamani
warman dan Marawijayatunggawarman mengadakan hubungan
dengan India dan Tiongkok untuk memperkuat kedudukan Sriwijaya.
Berita Tionghoa menyebut negaranya San-fo-ts'i, sedangkan Larger
Leyden Plates menyebut <;riwisaya. Demikianlah, San-fo-ts'i itu sama
dengan Sriwijaya.
Menurut berita Tionghoa Yin-yai-sheng-lan yang telah dikutip
di atas, Chiu-chiang sama saja dengan negara yang sebelumnya
disebut San-fo-ts'i, juga disebut Po-lin-pang. sebab San-fo-ts'i seperti
dibuktikan di atas sama saja dengan Sriwijaya, maka Sriwijaya terletak
di Palembang. San-fo-ts'i tidak mungkin diidentifikasikan dengan
Muara Tembesi di daerah Jambi seperti disarankan oleh Drs. Sukmono.
Lokalisasi San-fo-ts'i
Tidak dapat lagi disangkal bahwa San-fo-ts'i terletak di
Palembang. Kita ingin mengetahui mengapa kiranya kerajaan
Sriwijaya, yang ditranskripsikan dalam tulisan Tionghoa pada masa
pemerintahan rajakula Tang Shih-li-fo-shih, sekonyong-konyong
dalam masa pemerintahan rajakula Sung ditranskripsikan San-fo-ts'i.
959 Sriwijaya
Takakusu, dalam menerjemahkan karya pendeta I-ts'ing, Nan
hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan yang diberi judul A Record of the Bhuddhist
Religion as Practised in India and the Malay Archipelago, disingkat
Record, juga menyinggung nama San-fo-ts'i. Nama itu ditran
skripsikan kembali Sam-bo-tzai. Nama Sam-bo-tzai terang tidak ada
di Sumatra. Van Ronkel menyamakannya dengan Sam-bho-ja. Coed~s
beranggapan bahwa san pada San-fo-ts'i yaitu akibat salah tulis.
Pendapat yang demikian tidak dapat dipertahankan, sebab nama
San-fo-ts'i digunakan dalam sejarah Sung dan Ming berkali-kali.
Ferrand cenderung untuk menyamakan San-fot-ts'i dengan Shamboja,
dan beranggapan bahwa nama Sriwijaya kemudian berubah menjadi
Shamboja (Samboja).
G. Ferrand mengikuti pendapat van Ronkel. Tetapi segera
tertumbuk kepada kesulitan, bahwa baik dalam kesusastraan maupun
epigrafi pada permulaan abad ke-10 dan selanjutnya, nama Sambhoja
tidak pernah dijumpai. Bahkan pada tahun 1006, raj a Cudamani
warman dan Marawijayatunggawarman masih disebut raja (riwisaya
dan kadaram (menurut Larger Leyden Plates). Majumdar membantah
penyamaan San-fo-t'si dengan Palembang. Ia berpendapat bahwa San
fo-ts'i dan Palembang yaitu dua tempat yang berbeda. Menurut
pendapatnya, satu-satunya kemungkinan untuk menetapkan di mana
letak San-fo-ts'i ialah menerima pendapat bahwa San-fo-ts'i itu sama
dengan Zabaj atau Zabag, seperti yang diberitakan oleh penulis
penulis Arab. San-fo-ts'i harus terletak di Semenanjung Melayu.
Dalam sejarah Ming, dinyatakan bahwa San-fo-ts'i semula
disebut Kan-to-li. Negeri ini mengirim utusan yang pertama kali
pada masa pemerintahan kaisar Wu (454-464). Selama pemerintahan
kaisar Wa (502-549) dari rajakula Liang, negeri San-fo-ts'i berulang
kali mengirim utusan ke Tiongkok. Selama masa pemerintahan rajakula
Sung yang kedua (960-1279), tidak ada putusnya mengirim utusan.
Tentang georafi Kant-to-Ii, dikatakan bahwa negeri tersebut terletak
di laut Selatan. Adat istiadat penduduknya sama dengan penduduk
Fu-nan dan Lin-i. Gerini mendapatkan Kan-to-li ini di pantai timur
Semenanjung.
Kerajaan San-f0-ts'i 953
berdasar penyelidikan Gerini ini, Majumdar menetapkan
San-fo-ts'i juga di pantai timur Semenanjung. Ditegaskannya bahwa
Kan-to-li meliputi wilayah Kadara atau Kidara. Kidara atau Kadara
yaitu nama Kedah dalam bahasa Tamil. Menurut pendapatnya, San
fo-ts'i yaitu nama Tionghoa-nya. Nama Kan-to-li sesuai dengan
nama Kidara, sedangkan San-fo-ts'i sesuai dengan Zabaj atau Zabag.
Perbedaannya hanya tambahan fonem selundup n pada Kan
to-li clan San-fo-ts'i. Dalam bahasa Tamil, bentuk lain dari Kadara
ialah Kidara. Dalam bahasa Tionghoa pun, ada dua bentuknya, yakni
Kan-to-li dan Kin-to-li. Groenveldt menyamakannya dengan
Palembang, berdasar berita Tionghoa pada masa pemerintahan
rajakula Ming. Mengenai nama Kan-to-li, Prof. Kern mengira bahwa
nama tersebut yaitu transkripsi Tionghoa dari nama Kandari;
Kandari disamakannya dengan Kondor. Dari berita Arab tulisan Ibn
Madjid dari abad ke-15, G. Ferrand memperoleh keterangan bahwa
pelabuhan Singkel di Sumatra disebut oleh berita Arab "Sinkil
Kandari". Kesimpulan yang diambilnya ialah bahwa nama Kandari
kemudian menjadi nama seluruh Sumatra. Krom sependapat dengan
Ferrand, bahwa Kandari harus dicari di Sumatra.
Moens lebih banyak meletakkan tekanannya pada soal geografi
daripada soal linguistik. Oleh sebab itu, ia mendasarkan pendapatnya
terutama pada berita-beritaTionghoa, yang mempunyai sangkut paut
dengan geografi kerajaan San-fo-ts'i. Dari sejarah Sung, diperoleh
berita bahwa dari Cho-po, dalam empat hari perjalanan orang
mencapai laut. Sesudah 15 hari berlayar ke arah barat laut, orang
sampai di Po-ni; 15 hari lagi orang sampai di San-fo-ts'i. Dari berita
Tionghoa, didapat lagi keterangan bahwa San-fo-ts'i terletak antara
Chen-la clan Cho-po, atau antara Kamboja clan J awa. berdasar
berita itu, Moens mengambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak
di bagian selatan Semenanjung.
Moens lalu mengutip berita Arab Abu Zayd, yang mengatakan
bahwa ibu kota Jawaka berhadapan dengan Tiongkok dan dapat
dicapai dari Tiongkok selama 30 hari pelayaran dengan angin baik.
954 Sriwijaya
Menurut Moens, berita itu menunjukkan bahwa J awaka terletak di
pantai timur Semenanjung, sebab bagian ini berhadapan dengan
Tiongkok. Ia menyamakan Zabaj dan San-fo-ts'i dengan Kadaram.
sebab San-fo-ts'i terletak di pantai timur Semenanjung, dan
Sriwijaya terletak di Palembang, dan menurut berita Tionghoa San
fo-ts'i kemudian menggantikan Sriwijaya, maka Moens berpendapat
bahwa San-fo-ts'i pernah menundukkan Sriwijaya.
Pendapat Moens ini diperkuat oleh berita Arab, berasal dari
Sulaiman (851), yang mengatakan bahwa Kalah-bar dan Zabaj ada
di bawah kekuasaan satu raja. Berita Zayd Hassan juga mengatakan
bahwa Sribuza yaitu salah satu negara yang termasuk wilayah
kekuasaan raja Zabaj. Jadi, menurut Moens, Kadaram mengalahkan
Sriwijaya, bukan kebalikannya.
Pendapat Moens ini bertentangan dengan pendapat para sarjana
yang berlaku hingga pada waktu itu. Penempatan San-fo-ts'i di pantai
timur Semenanjung oleh Moens dan Majumdar bertentangan dengan
berita Yin-yai-sheng-lan, yang menyatakan bahwa Chiu-chiang sama
saja dengan negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga disebut
Po-lin-pang. Uraian tentang letak ibu kota kerajaan San-fo-ts'i oleh
Yin-yai-sheng-lan jelas sekali. Bagaimanapun, yang dimaksud dengan
San-fo-ts'i oleh Yin-yai-sheng-lan ialah kerajaan di Sumatra yang ibu
kotanya terletak di Palembang.
Hingga sekarang, orang berpendapat bahwa ibu kota kerajaan
Sriwijaya ialah Palembang, meskipun bukti-bukti yang dikemukakan
belum memberi keyakinan. Andaikata benar bahwa ibu kota kerajaan
Sriwijaya itu terletak di Palembang, timbul pertanyaan: Apa sebabnya
nama Shih-li-fo-shih itu berubah menjadi San-fo-ts'i? Kedua-duanya
yaitu transkripsi Tionghoa dari nama kerajaan di Palembang. Yang
satu terang transkripsi dari Sriwijaya. Yang lain belum diketahui,
sebab usaha para sarjana hingga sekarang belum memberikan hasil
yang memuaskan.
Nilakanta Sastri mengemukakan pendapat bahwa timbulnya
nama San-fo-ts'i di berita-berita Tionghoa terang sesudah Sriwijaya
Kerajaan San-fO-ts'i 955
diperintah oleh rajakula Sailendra dari J awa yang bernama
Balaputradewa, seperti tercantum pada piagam Nalanda. Timbullah
pertanyaan: Apakah perubahan rajakula itu menyebabkan perubahan
nama kerajaan? Apa yang menjadi dasar perubahan nama kerajaan
itu? Dalam hal ini, Nilakanta Sastri tidak mengemukakan
pendapatnya. Dengan kata lain, basil usahanya untuk memecahkan
persoalan San-fo-ts'i masih negati£
Suatu kenyataan ialah bahwa perubahan dinasti yang me
merintah itu menimbulkan perubahan gelar atau sebutan raja. Pada
piagam-piagam yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya, raja yang
memerintah bergelar dapunta hang. Pada piagam-piagam yang ditulis
dalam bahasa Sanskerta dan dikeluarkan oleh raja dari rajakula
Sailendra, gelar raja ialah maharaja. Pada piagam Nalanda, Balaputra
bergelar maharaja dan menyebut dirinya Suwarnadwipadhipa
mah~rja: maharaja Suwarnadwipa. Pada piagam Ligor B, rajanya
bergelar cri mah~rja: Sri maharaja. Gelar maharaja tidak dikenal
pada piagam-piagam Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya.
Pada piagam Nalanda, negara Sriwijaya disebut Suwarnadwipa. Nama
Suwarnadwipa pada piagam Nalanda terang sama dengan nama
Sriwijaya pada piagam-piagam yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya.
Nama Suwarnadwipa tidak mungkin ditranskripsikan San-fo-ts'i
dalam tulisan Tionghoa.
Sung-shih mencatat bahwa pada tahun 980 dan 983, raja San
fo-ts'i menggunakan sebutan hia-tche. Sebutan hia-tch'e yaitu
transkripsi dari kata Melayu haji atau Jawa kuno haji: raja. Di antara
piagam-piagam Sriwijaya, hanya piagam Telaga Batu yang menyebut
raja Sriwijaya haji dalam hubungan marsi haji: dubi raja, bini haji:
istri raj a; dan hulun haji: abdi raja. Pada tahun 1017, tercatat sebutan
hiatch'e Sou-wou-tch'a: haji Sumatra (haji Suwarnadwipa). Nama
Suwarnadwipa telah banyak dikenal dalam berita Tionghoa. Dalam
karya-karyanya, I-ts'ing menyebutnya Chin-chou: pulau emas. Ia tidak
mentranskripsikan dengan huruf Tionghoa, tetapi menerjemah
kannya. Pada tahun 1156, digunakan lagi maharaja dalam bentuk
956 Sriwijaya
si-li-ma-chia-lo-cho. Gelar maharaja itu jelas gelar raja Sriwijaya dari
rajakula Sailendra.
Tidak ada nama atau sebutan yang kiranya mirip dengan nama
San-fo-ts'i. Yang agak menarik perhatian ialah usaha untuk menya
makan nama San-fo-ts'i dari berita Tionghoa dengan Zabaj atau Zabag
dari berita Arab.
Baik Coed~s maupun Nilakanta Sastri menyetujui bahwa Zabag
dari berita Arab clan Jawaka dari berita Tamil yaitu bentuk ubahan
nama asli yang digunakan untuk Malaysia. Yang menjadi persoalan
ialah: Bentuk nama asli yang mana? Yang mungkin ditranskripsikan
Zabaj dalam bahasa Arab ialah nama Yawadwipa. Yawadwipa telah
dikenal oleh Ptolomeus clan ditranskripsikan menjadi labadiou.
Tambahan diou sesuai dngan kata Prakrit diwu, yang berasal dari
kata Sanskerta dwipa.
Bentuk Zabag clan Zabaj dalam berita Arab berbeda asalnya.
Zabag mengikuti transkripsi Tamil Jawaka; Zabaj mengikuti labadiou
atau memang langsung dari Yawadwipa. Pada abad ke-14, fonem y
pada Yawa sudah berubah menjadi j seperti dikenal dalam
Nagarakretagama. Nama Yawadwipa tidak semata-mata digunakan
untuk menyebut pulau Jawa; Sumatra disebut juga Yawadwipa.
Nama Yawadwipa ditranskripsikan dengan hurufTionghoa menjadi
Ye-po-ti. Ye-po-ti tidak mungkin sama dengan San-fo-ts'i.
Saya beranggapan bahwa San-fo-ts'i yaitu transkripsi dari nama
tempat yang sudah ada pada zaman Sriwijaya. Tempat itu harus
terletak di daerah Palembang, sebab menurut Yin-yai-sheng-lan,
kerajaan San-fo-ts'i juga disebut kerajaan Po-lin-pang. Nama tempat
itu harus sudah ada pada zaman Sriwijaya, sebab pada tahun 960
ketika kerajaan Sriwijaya masih berdiri, seperti terbukti dari piagam
Tanyore (tahun 1030), nama San-fo-ts'i telah muncul dalam sejarah
Tionghoa. Menurut Chu-fan-chi, Palembang termasuk salah satu
negeri bawahan San-fo-ts'i. Nama yang ditranskripsikan San-fo-ts'i,
bunyinya paling sedikit menyerupainya. J adi, harus memuat bunyi
San: b(w), g(y), clan fonem yang terakhir ini harus disertai bunyi i.
Kerajaan San-fO-ts'i 957
Mungkin bunyi i ini perubahan dari suku ya dari kata Sanskerta
jaya, yang menjadi yay, mungkin memang i pada dasarnya.
N ama tempat yang kiranya memenuhi syarat-syarat tersebut
ialah Sabukingking di bagian timur kota Palembang zaman sekarang,
terletak di tepi sungai Musi. Tempat ini terbukti tempat penting
dalam sejarah, sebab di situ ditemukan pecahan piagam yang tertulis
dalam bahasa Sanskerta. berdasar bentuk tulisannya, piagam itu
berasal dari abad ke ke-7, sama dengan pecahan piagam Bukit
Siguntang.
Zaman sekarang, tempat itu dijadikan tempat keramat, tempat
orang mencari restu; dianggap sebagai tempat dimakamkan orang
penting zaman dahulu kala. Sesuai dengan kepercayaan masyarakat
zaman sekarang, yang kebanyakan anggotanya beragama Islam, sudah
semestinya timbul anggapan bahwa tempat itu menjadi tempat
dimakamkan raja Palembang yang beragama Islam. Demikianlah,
Sabukingking mengalami proses peng-Islam-an. Kiranya nama itu
bentuk ubahan dari nama lama yang disesuaikan dengan sifat clan
ucapan bahasa Palembang sekarang. Nama itu kiranya semula kata
Sanskerta, seperti halnya dengan nama Palembang yang berasal dari
palimbang(a: tepi. Kalau kita salah duga, namanya dahulu ialah
Sambhogin, artinya: tempat yang pen uh dengan kesenangan. N ama
Sambhogin memang tidak jauh dari transkripsi Tionghoa San-fo-ts'i.
Sebagai percobaan, dua orang Tionghoa saya suruh menulis
Sambogin dengan huruf Tionghoa. Kedua-duanya menjawab: sulit
sekali. N amun, mereka berusaha juga untuk menulisnya. Hasilnya,
mereka menulis huruf-huruf yang sama. Mereka lalu membacanya
menurut ucapan Mandarin clan Kanton: San-fo-ts'i. Tulisan itu saya
bandingkan dengan tulisan Tionghoa yang biasa diucapkan San-fo
ts'i, terdapat pada Record terbitan Takakusu.
berdasar percobaan itu saya yakin bahwa San-fo-ts'i dalam
sejarah Sung itu yaitu transkripsi Tionghoa dari nama tempat
Sambhogin yang sekarang menjadi Sabukingking, terletak di bagian
timur Palembang, di tepi sungai Musi. Perubahan nama yang
958 Sriwijaya
demikian yaitu peristiwa biasa dalam sejarah toponimi. Perubahan
bunyi nama yang bersangkutan disesuaikan dengan kebiasaan
masyarakat yang menyebutnya. N ama Carpentier di kota Solo dijadikan
Sekar pace: kampung Sekar Pace. Bouwploeg dijadikan Boplo: pasar
Boplo di Jakarta. N ama Marlborough dijadikan Malioboro: jalan raya
di kota Yogyakarta.
Letak Sambhogin di tepi sungai Musi sesuai dengan pemberitaan
Yin-yai-sheng-lan seperti telah dikutip di atas. Menurut berita Yin
yai-sheng-lan, San-fo-ts'i yaitu nama ibu kota kerajaan San-fo-ts'i.
Demikianlah, Sambhogin (Sabukingking) yaitu ibu kota Sriwijaya
dalam abad ke-10 ke atas. Orang-orang Tionghoa menyebut nama
kerajaan yang pada waktu itu masih jelas bernama Sriwijaya dengan
nama pusat kerajaannya.
Peristiwa yang demikian juga merupakan gejala biasa dalam
sejarah. Sebagai analogi, kita mengambil contoh kata Jakarta zaman
sekarang. Biasa orang berkata: "Apa kata Jakarta?". Maksudnya, apa
yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin Republik negara kita yang
ada di Jakarta? N ama ibu kota Jakarta mewakili Republik negara kita .
zaman 300 tahun yang lalu, Daerah lstimewa Yogyakarta bernama
kerajaan Mataram. Setelah ibu kota Ayodhyakarta didirikan, orang
menyebutnya Yogyakarta. Nama Mataram terdesak oleh nama
Yogyakarta.
Masih banyak contoh-contoh lainnya. Perpindahan ibu kota
sebagai pusat kerajaan banyak terjadi. Tidaklah aneh bahwa ibu kota
kerajaan Sriwijaya dalam abad ke-10 ke atas mengalami perpindahan
juga, meskipun perpindahan itu hanya terjadi di lingkungan kota
Palembang saja. Pusat aktivitas pembesar-pembesar Sriwijaya
berpindah ke Sabukingking. Tempat itulah yang dikenal baik oleh
para pedagang clan pembesar Tionghoa. Dalam berita-berita
Tionghoa, nama itu lebih dikenal daripada nama resmi kerajaannya.
Kerajaan San-fO-ts'i 959
Negara-Negara Bawahan San-fo-ts'i
Chu-fan-chi yang disusun pada tahun 1225 memberitakan 15
negeri bawahan kerajaan San-fo-ts I, termasuk di antaranya Palembang,
yakni: 1). Pong-fong, 2). Tong-ya-nong, 3). Ling-ya-si-kia, ).
Kilantan, 5). Fo-lo-an, 6). Ji-lo-ting, 7). Tsien-mai, 8). Pa-r'a, 9).
Tan-ma-ling, 10). Kia-lo-hi, 11). Pa-lin-fong, 12). Sin-to, 13). Kien
pi, 14). Lan-mu-li, 15). Siam.
Pong-fang disamakan dengan Pahang; Tong-ya nong dengan
Trengganu; Ling-ya-si-kia dengan Langkasuka; Ki-lan-tan dengan
Kelantan; Ji-lo-ting dengan Jelotong di ujung tenggara Semenanjung;
Tan-ma-ling dengan Tamralingga; Kia-lo-hi dengan Grahi; Pal-lin
fong dengan Palembang; Sin-to dengan Sunda; Ken-pi dengan Kampe
di teluk Aru; Lan-wu-li dengan Lamuri (Aceh); Si-lan dengan Cyelon
atau Sailan atau Sri Lanka.
Rouffaer menyamakan Kien-pi dengan Kampe di teluk Aru.
Dalam Sung-hui-yao, dinyatakan bahwa pada tahun 1082, kerajaan
Jambi masih berdiri sendiri sebagai bagian kerajaan San-fo-ts'i.
Kerajaan Jambi itu disebut Chan-pei. Jika nama Kien-pi pada Chu
fan-chi ini sama dengan Chan-pei pada Sung-hu-yao, maka yang
dimaksud ialah J ambi, yang sudah terang ada di bawah kekuasaan
San-fo-ts'i atau muara Kompeh.
Rouffaer mencari Fo-lo-an di Selangor Selatan, Pa-t'a disamakan
dengan Batak, Ts'ien-mai disamakan dengan Semang atau Semawe.
Roland Braddell yang meneliti toponimi tentang nama-nama itu,
sekali lagi, tidak mendasarkan pendapatnya pada kemiripan bunyi
semata-mata tanpa mengingat geografi. la menyatakan bahwa Fa-lo
an yaitu daerah sungai Dungun, dan Pa-t'a yaitu daerah sunga
Paka. Kedua-duanya terdapat di pantai timur Semenanjung. Ji-lo
ting yaitu sungai Cerating, yang mengalir di daerah perbatasan
Trengganu dan Pahang. Tentang nama Ts'ien-mai, Braddell tidak
dapat menemukan tempat yang mirip namanya dan menurut geografi
dapat dipertanggungjawabkan. Penyelidikannya memberi sumbangan
yang berharga bagi pengetahuan geografi dalam sejarah lama.
960 Sriwijaya
Tan-ma-ling oleh Takakusu dikira Tana-Melayu; oleh Coed~s
disamakan dengan Tamralingga di daerah Ligor. Pendapat Coed~s
ini diterima oleh umum hingga sekarang. Nama Tamralingga
kedapatan pada piagam yang ditemukan di Chai-ya, yakni di daerah
Ligor, bertarikh tahun 1230. Pada piagam itu tersebut nama
Tjandrabhanu (Candrabhanu) yang bergelar Sri Dharmaraja,
pembesar Tamralingga. sebab piagam tersebut ditemukan di Ch'ai
ya, dikira bahwa Chai-ya termasuk wilayah Tamralingga. Tetapi tidak
diketahui di mana letaknya. Coed~s menempatkannya antara Beluk
Bandon clan Ligor, seperti juga Nilakanta Sastri, sebab menumt
anggapannya Sri Dharmaraja yaitu khusus sebutan raja-raja Ligor.
Sejak daerah itu termasuk wilayah Siam, nama ibu kotanya disebut
Negara Sridharmaraja, yakni Nakon Sri Tammarat zaman sekarang.
Pada piagam Nidessa yang tertulis dalam bahasa Tamil, terdapat
nama Tambralingam. Baik oleh Coed~s maupun oleh Nilakanta Sastri,
nama itu disamakan dengan nama Tramalingga pada piagam Ch'ai
ya. Menurut pendapatnya, Tan-ma-ling yaitu transkripsi Tionghoa
dari Tamralingga. Ma-Damalingam pada prasasti Nidessa yaitu
Damalingam atau Tamalingam agung. Demikianlah, Tan-ma-ling
(Tionghoa) = Tamalingam (Tami) = Tamralingga (Chai-ya). la
menambahkan bahwa tambra yaitu bentuk Prakrit dari tamra dan
berarti: tembaga. Tetapi sebab Ch'ai-ya tidak menghasilkan tembaga,
maka nama itu harus diartikan "lingga tembaga. Demikian ringkasan
pendapat Coed~s.
sebab Tan-ma-ling yaitu transkripsi Tionghoa dari suatu
tempat, yang disebut di antara negara-negara di pantai timur Malaya
dalam rangkaian negara-negara bawahan San-fo-ts'i, maka nama itu
hams dicari di pantai timur Semenanjung Melayu. Mungkin di antara
nama-nama tempat yang sekarang masih ada; ada yang
menyerupainya. Kecuali dari itu, kita hams mencari penjelasan
mengenai berita-berita lain atau dalam Chu-fan-chi, yang sekadar
memberikan uraian tentang Tan-ma-ling sebelum mengambil
kesimpulan. Demikian Roland Braddell.
Kerajaan San-fO-ts'i 961
Di dalam bahasa Amoy Hokkien, Tan-ma-ling itu diucapkan
tan-b~-ling, menurut Schlegel. Nama tempat yang mirip sekali
dengan Tan-b~-ling ialah Tembeling di Pahang. Chao-ju-kua dalam
Chu-fan-chi mencatat bahwa Tan-ma-ling yaitu suatu kerajaan di
bawah pemerintahan Siang-kung. sebab Tan-ma-ling daerah jajahan
San-fo-ts'i, maka pembesar yang disebut siang-kung itu bukan raja.
Dalam susunan kerajaan Sriwijaya, seorang pembesar yang diserahi
pemerintahan di daerah tertentu oleh raja Sriwijaya disebut datu.
Mungkin Siang-kung ini sama dengan datu. Oleh San-tsai-t'u-hui
(1607) diberitakan dengan jelas, bahwa Tan-ma-ling diperintah oleh
seorang pembesar yang bukan raj









