Tampilkan postingan dengan label Sriwijaya 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sriwijaya 3. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 3

 




da 

tahun 685. Tidak perlu diragukan bahwa Mo-lo-yeu yaitu  

transkripsi Tionghoa dari nama Malayu atau Melayu. Sebelum 

menetapkan letak dua tempat tersebut, ada baiknya mengumpulkan 

berita-berita mengenai kerajaan Melayu lebih dahulu, yang kiranya 

berguna untuk memecahkan persoalannya. 

(1) Berita yang tertua mengenai kerajaan Melayu berasal dari 

T'ang-hui-yao, yang disusun oleh Wang P'u pada tahun 961 pada 

masa pemerintahan dinasti T'ang, dan dari Hs'in T'ang Shu, yang 

disusun pada awal abad ke-7 pada masa pemerintahan dinasti Sung 

atas dasar sejarah lama yang terdiri dari T'ang-hui-yao seperti tersebut 

di atas, dan Te-fu-yuan-kuei, susunan Wang-ch'in-yo dan Yang I 

antara tahun 1005 dan 1013. Menurut berita itu, kerajaan Melayu 

mengirim utusan ke Tiongkok pada tahun 644/645. Pengiriman 

utusan ke Tiongkok oleh kerajaan Melayu pada abad ke-7 hanya 

tercatat satu kali saja. Selama itu, yang tampak di istana kaisar utusan 

dari kerajaan Sriwijaya yang disebut Shi-li-fo-shih atau Fo-shih saja. 

Sebab-musabab kejadian itu baru dapat dipahami, setelah I-tsing 

menulis bukunya, Memoire dan Record, yang menyatakan bahwa 

kerajaan Melayu telah menjadi bagian kerajaan Sriwijaya. Tiap kali 

ia menyebut nama Melayu, selalu dibubuhi keterangan " ... yang 

sekarang telah masuk (menjadi bagian) kerajaan Sriwijaya'. 

(2) Dalam perjalanannya ke India, I-ts'ing singgah di Fo-shih. 

Ia menyebut negeri Melayu demikian: "Sang raja memberi bantuan 

kepada saya dan mengirim saya ke negeri Melayu, yang sekarang 

menjadi bagian kerajaan Sriwijaya. Saya tinggal di situ dua bulan, 

kemudian berangkat dari situ menuju Ka-cha." 

(3) Waktu I-ts'ing menguraikan negara-negara di laut Selatan, 

yang penduduknya umumnya memeluk agama Budha, terutama 

aliran Hinayana, ia menyebut juga kerajaan Melayu, sebagai 

69 Sriwijaya 

kekecualian. Terhitung dari barat: negeri Pu-lu-shih, lalu negeri Mo­ 

lo-yeu, yang sekarang termasuk kerajaan Shih-li-fo-shih, negeri Mo­ 

ho-sin, negeri Holing, negeri Tan-tan, negeri Pem-pen, negeri P'o-li, 

negeri Ku-lun, negeri Fo-shih-pu-lo, negeri O-shan, dan negeri Mo­ 

chia-man. Masih ada lagi beberapa negeri kecil-kecil yang tidak 

disebut di sini. 

Dalam uraiannya mengenai negeri-negeri di laut Selatan, I-ts'ing 

menggunakan kata chou, yang dapat berarti "pulau atau "negara" 

( tanah daratan). Satu kali ia menggunakan kata Chin-chou untuk 

menunjukkan pulau Sumatra, yakni waktu ia menceriterakan 

perjalanannya dengan Tao-hong dari Kwang-tung ke Chin-chou dan 

sampai di Fo-shih. Chin-chou yaitu  terjemahan nama Suwarnadwipa: 

Pulau Emas. Nyata sekali bahwa pada zaman I-ts'ing, nama 

Suwarnadwipa itu sudah dikenal. Yang disebut Suwarnadwipa yaitu  

terutama negeri Melayu, seperti akan kita kenal nanti pada piagam 

Adityawarman dan Kertanagara. 

(4) Waktu I-ts'ing menguraikan pendeta Wu-hing, yang dalam 

perjalanannya ke India juga singgah di Sriwijaya, ia pun menyebut 

nama kerajaan Melayu, namun tanpa dibubuhi keterangan apa-apa: 

"Sesudah berlayar satu bulan lamanya, Wu-hing sampai di Shih-li­ 

fo-shih. Sang raja menerimanya dengan baik dan menghormatinya 

sebagai tamu yang datang dari negara putra dewata, T'ang Agung. 

Ia menumpang perahu raja menuju negeri Mo-lo-yeu. Setelah 

berlayar 15 hari lamanya, ia sampai di sana. 15 hari lagi ia sampai 

Ka-cha. Pada akhir musim dingin, ia berganti kapal dan berlayar ke 

arah barat. Sesudah 30 hari ia sampai di N agapatana. Dari sini ia 

berlayar lagi menuju pulau Simhala. Ia sampai di sana 20 hari 

kemudian." 

(5) Chang-min berlayar dengan kapal yang panjangnya 200 

kaki dan dapat membawa penumpang antara 600 sampai 700 or­ 

ang. Ia menuju negeri Ho-ling. Dari sini ia menumpang perahu ke 

negeri Mo-lo-yeu dengan maksud meneruskan perjalanannya ke In­ 

dia. Tetapi kapal itu terlalu berat muatannya; kapal karam tidak jauh 

dari pangkalan. Chang-min tenggelam. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 63 

Yang penting untuk tujuan kita dalam pasal ini ialah 

menetapkan di mana kiranya letak pelabuhan Melayu, tempat 

singgah I-ts'ing, Wu-hing, dan pendeta Tiongkok menuju India dan 

kebalikannya. Berita Arab yang berasal dari Dimaski kurang lebih 

tahun 1325 terang tidak benar. 

Dimaski berkata bahwa di negara Kalah, yang panjangnya 800 

mil dan lebarnya 350 mil, terdapat kota Fansur, Jawa, Malayur, Lawri, 

dan Kalah. Kedah terletak di pantai seberang utara, dan Melayu 

terletak di pantai seberang selatan Selat Malaka, yang oleh orang 

Arab, di antaranya oleh Ya'kubi, disebut Salahat atau Salahit. Para 

ahli sejarah menyatukan pelabuhan dan pusat kerajaan Melayu di 

satu tempat, yakni di Jambi. 1-ts'ing dengan jelas menunjukkan 

bahwa arah pelayaran dari Kedah ke negeri Melayu ialah ke selatan 

dalam waktu sebulan. Uraian itu ditambah dengan keterangan, bahwa 

negeri Melayu itu sekarang menjadi bagian Sriwijaya. lni tidak berarti 

pelabuhan Melayu itu lalu menjadi pelabuhan Sriwijaya. Bagai­ 

manapun, kedua pelabuhan itu masih terpisah, sebab  baik I-ts'ing 

maupun Wu-hing menumpang perahu raja dari Fo-shih ke Mo-lo­ 

yeu. Hingga sekarang, pendapat Dr. Rouffaer, bahwa pusat kerajaan 

Melayu ialah Jambi, diterima seluruhnya oleh para ahli sejarah, 

namun tidak ada buruknya meneliti kembali pendapat yang sudah 

teradat itu. 

Penetapan geografi sejarah kuno memang perlu ditinjau lagi. 

Banyak hal-hal yang tidak memuaskan. Banyak nama-nama tempat 

yang disebut oleh 1-ts'ing dan berita-berita Tionghoa lainnya belum 

terpecahkan. Beberapa yang sudah ditetapkan geografinya perlu 

diteliti lagi. Yang memang sudah benar, sebab nya, menjadi lebih 

tegak dan teguh; yang masih goyah memperoleh orientasi barn. 

Bukanlah syarat mutlak bahwa pusat kerajaan itu terletak di 

tepi pantai. Contoh pusat kerajaan yang terdapat di pedalaman, baik 

zaman dahulu maupun zaman sekarang, banyak sekali. Penyatuan 

pusat kerajaan dan pelabuhan di satu tempat pun bukan syarat mutlak. 

Pusat kerajaan Majapahit terletak di pedalaman; pelabuhannya, 

64 Sriwijaya 

Canggu, terletak di tepi sungai. Pelabuhan yang terdapat di pantai 

ialah Tuban dan Jung Galuh. Ini hanya salah satu contoh saja dari 

sejarah kuno. 

Pada zaman Adityawarman, pusat kerajaan Melayu sudah terang 

terpisah dengan pelabuhannya. Pada zaman Sriwijaya, pusat kerajaan 

Melayu digantikan oleh pusat kerajaan Sriwijaya. Pelabuhannya masih 

tetap digunakan, justru untuk menguasai lalu-lintas kapal-kapal di 

Selat Malaka. Dengan penguasaan atas pelabuhan Melahyu itu, 

Sriwijaya berhasil menjadi negara penting di Asia Tenggara yang 

menguasai pula lalu-lintas kapal-kapal di Selat Malaka. Penguasaan 

selat Malaka menjadi perebutan antara Sriwijaya dan Melayu. Dari 

piagam Tanyore yang dikeluarkan pada tahun 1030, kita tahu bahwa 

benteng kerajaan Melayu tidak terletak di pantai laut, tetapi di atas 

bukit. Pusat kerajaan Melayu, sebab nya, tidak mungkin terletak di 

pantau laut atau di kota J ambi; tidak mungkin disatukan dengan 

pelabuhan Melayu. 

Orang berlayar ten tu memilih jalan yang menguntungkan. J alan 

yang menguntungkan biasanya jalan yang pendek. Jika yang berlayar 

yaitu  perahu dagang, perahu itu akan mencari jalan pendek dan 

tempat-tempat yang dapat disinggahi untuk keperluan dagang. I­ 

ts' ing dengan tegas menyatakan bahwa pelayaran dari India ke 

Tiongkok kebanyakan dilakukan melalui pelabuhan Kedah dan 

Melayu. 

Di Melayu, para penumpang menunggu sampai pertengahan 

musim panas, kemudian terns berlayar ke utara menuju Kanton. 

Pelayaran dari India ke Tiongkok tidak melalui Fo-shih. Ini berarti 

bahwa pelabuhan Fo-shih dalam pelayaran India ke Tiongkok dan 

kebalikannya tersisih. Justru oleh sebab  itu, Sriwijaya yang sedang 

berkembang berusaha menundukkan kerajaan Melayu dan merebut 

pelabuhan Melayu demi penguasaan lalu-lintas kapal-kapal di Selat 

Malaka. Itulah sebabnya maka pada pemberitaannya, I-ts'ing selalu 

menambahkan keterangan, bahwa negeri Melayu itu sekarang sudah 

menjadi bagian Sriwijaya. Pada tahun 671, ketika I-ts'ing berkunjung 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 65 

untuk pertama kalinya di Sriwijaya, ia masih menyaksikan sendiri 

bahwa kerajaan Melayu itu masih merdeka terhadap Sriwijaya. 

Namun, 15 tahun kemudian, ketika ia pulang dari Nalanda menuju 

Sriwijaya, dilihatnya bahwa sudah ada perubahan ketatanegaraan 

dalam kerajaan Sriwijaya. Negeri Melayu telah menjadi bagian 

Sriwijaya. 

Untuk menetapkan di mana letak pelabuhan Melayu, masih 

diperlukan keterangan lebih lanjut. Letak pelabuhan Melayu dan 

pelabuhan Sriwijaya atau Mo-lo-yeu dan Shih-li-fo-shih, hingga 

sekarang masih merupakan teka-teki. Oleh sebab  itu, persoalan letak 

Mo-lo-yeu dan Shih-li-fo-shih dibahas bersama. Dengan kata lain, 

persoalan geografi Mo-lo-yeu dilanjutkan dalam bah "Shih-li-fo-shih". 

4. Shih-li-fo-shih 

Suatu hal lagi kiranya penting untuk penetapan letak pelabuhan 

Melayu, ialah uraian I-ts'ing tentang negeri-negeri di laut Selatan 

yang memeluk agama Budha. Dalam urutan dari barat, ia menyebut: 

P'o-lu-shih, Mo-lo-yeu, yang sekarang menjadi bagian kerajaan Shih­ 

li-fo-shih, Mo-ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pen, Po-li, Ku-lun, 

Fo-shih-pu-lo, A-shan, dan Mo-chia-man. Masih ada beberapa pulau 

kecil-kecil lagi yang tidak disebut di sini. 

Uraian dari barat pada I-ts'ing ini kiranya harus ditafsirkan 

menurut perjalanan dari India ke Tiongkok melalui laut. Tidak dari 

barat berturut-turut ke timur menurut kiblat semata-mata. Kiranya, 

yang dimaksud dengan negeri-negeri di laut Selatan yang memeluk 

agama Budha yaitu  negeri-negeri yang terdapat di perjalanan dari 

India ke Tiongkok, mulai dengan Po-lu-shih. Negeri-negeri lainnya 

yang letaknya di sebelah timur, seperti Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi 

dan sebagainya, masih sangat disangsikan, sebab  I-ts'ing tidak pernah 

mengunjungi tempat-tempat tersebut. Kiranya, juga perlu mendapat 

perhatian bahwa penyebutan itu didasarkan atas pelabuhan yang 

pernah disinggahi atau diketahuinya. Ini yaitu  hal yang termakan 

66 Sriwijaya 

akal. Nama-nama yang tersebut di atas, kebanyakan, belum mendapat 

pemecahan yang memuaskan. Kita mulai dengan P'o-lu-shih. 

(I) Dalam urutan negeri-negeri di laut Selatan yang memeluk 

agama Budha, I-ts'ing menyebut P'o-lu-shih sebagai negeri yang 

terletak di ujung barat. Sesudah P'o-lu-shih, baru menyusul Mo­ 

lo-yeu. Dengan kata lain, negeri Po-lu-shih terletak di sebelah barat 

negeri Melayu. 

Di tempat lain, I-ts'ing juga memberitakan negeri P'o-lu-shih 

berkenaan dengan pendeta Korea, yang setibanya di P'o-lu-shih jatuh 

sakit. P' o-lu-shih terletak di sebelah barat Shih-li-fo-shih. Prof. 

Chavannes menyamakan P'o-lu-shih ini dengan Lang-po-lou-se dari 

sejarah Tang. Lang-po-lou-se terdapat di sebelah barat Shih-li-fo­ 

shih. Baik Prof. Chavannes maupun Takakusu melokalisasikannya 

dengan Perlak. Ptolomeus menyebut Argyrie Chora: pulau perak; 

Chryse Chora: pulau emas, dan Chrys~ Cherson~sos: jazirah emas. 

Negeri-negeri tersebut dilokalisasikannya di daratan Asia Tenggara. 

Sesudah itu ia menyebut lima pulau Barusai dan tiga Sabadeibai, 

yang didiami oleh orang-orang yang makan daging manusia. Barusai 

dari berita Ptolomeus itu kiranya sama saja dengan Po-lu-shih dari 

berita I-ts'ing. Prof. Kern menyamakannya dengan Barus atau Baros 

yang terletak di pantai barat Sumatra di daerah Tapanuli, pada garis 

2° 98' L.U. Demikianlah, Barus pada abad ke-7 menguasai Sumatra 

Utara sampai pantai timurnya. Wilayahnya disebut dengan nama 

ibu kotanya. Hal yang demikian biasa dalam sejarah. 

(2) Dalam perjalananya pulang dari Nalanda, I-ts'ing meng­ 

uraikan bahwa ia berangkat dari Tan-mo-lo-ti ke arah timur menuju 

Kacha. Singgah di sini sampai musim dingin. Dengan menumpang 

perahu raja, ia berangkat dari Ka-cha menuju Mo-lo-yeu, yang 

sekarang menjadi bagian Fo-shih. Pelayaran itu makan waktu sebulan. 

Umumnya perahu tiba di pelabuhan Mo-lo-yeu pada bulan pertama 

atau bulan kedua. Tinggal di situ sampai pertengahan musim panas. 

Lalu berangkat ke utara menuju Kwang-tung. Lebih kurang sebulan 

kemudian, sampai di tempat tujuan. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 67 

(3) sebab  I-ts'ing juga menceriterakan bahwa pendeta Wu­ 

hing berlayar dengan perahu raja dari Fo-shih ke negeri Mo-lo-yeu 

selama 15 hari, maka penyamaan pelabuhan Mo-lo-yeu dengan 

pelabuhan Fo-shih tidak mungkin. 

(4) Satu hal lagi yang harus mendapat perhatian ialah bahwa di 

pelabuhan Melayu ini, perahu berlayar ke utara menuju Tiongkok 

tanpa singgah di Fo-shih. Dengan kata lain, pelabuhan Melayu 

merupakan tempat berlabuh perahu-perahu dari Selat Malaka yang 

akan menuju Tiongkok sambil menunggu datangnya angin barat 

daya. Kebalikannya, perahu-perahu dari laut Cina yang akan berlayar 

melalui Selat Malaka menuju India clan negeri barat lainnya singgah 

di pelabuhan Melayu, sambil menunggu tibanya musim angin timur 

laut. Ditinjau dari segi perdagangan clan kesibukan lalu-lintas, letak 

pelabuhan Melayu lebih menguntungkan daripada pelabuhan Fo­ 

shih atau Sriwijaya. 

(5) Pelayaran I-ts'ing pada tahun 671 dari Kwang-tung ke Fo­ 

shih, mengarungi laut Cina, hanya makan waktu 20 hari. J alan yang 

ditempuhnya berbeda dengan pelayarannya yang kedua pada tahun 

689, dari Kwang-tung kembali ke Fo-shih. Pada pelayarannya yang 

kedua ini, I-ts'ing menyusur pantai. Dalam perjalanan yang pertama, 

I-ts'ing langsung menuju Fo-shih, mengarungi lautan besar, kemudian 

berangkat ke Mo-lo-yeu, terus ke India. Ini berarti bahwa pelabuhan 

Mo-lo-yeu terletak di sebelah barat Fo-shih, atau paling sedikit dalam 

perjalanan Fo-shih--India. 

(6) berdasar  tinjauan geomorfologi, Drs. Sukmono menge­ 

mukakan pendapat, bahwa satu-satunya tem pat yang letaknya sangat 

ideal untuk menguasai pelayaran di Selat Malaka clan laut Selatan 

ialah Jambi. Ia beranggapan bahwa Jambi yaitu  pusat kerajaan 

Sriwijaya. Justru sebab  letak Jambi yang sangat ideal itulah, maka 

kiranya Jambi sesuai benar dengan uraian I-ts'ing mengenai 

kedudukan pelabuhan Melayu. Letak pelabuhan Sriwijaya tidak 

sebagus pelabuhan Melayu. Demikianlah, pada hakikatnya hasil 

penyelidikan Drs. Sukmono malah memperkuat pendapat, bahwa 

68 Sriwijaya 

J ambi yaitu  pelabuhan Melayu, sedangkan ia bermaksud untuk 

menetapkan J ambi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya. 

(7) Arca Amoghapa~a, hadiah raja Kertanagara pada tahun 1286, 

sebelas tahun sesudah keberangkatan tentara Singasari ke negeri 

Melayu, ditempatkan di Dharmma~raya. Arca tersebut diangkut dari 

Jawa ke Suwarnabhumi untuk dihadiahkan kepada grimat Tribu­ 

wanaraja Mauliwarmmadewa. Arca itu terdapat di Padang Roco dekat 

sungai Langsat di distrik Batanghari. Nama Langsat juga tersebut 

pada piagam Aditityawarman, di mana juga terdapat nama Mala­ 

yapura. 

Demikianlah, pusat kerajaan Melayu letaknya harus di sebelah 

selatan kota Jambi, terpisah dari pelabuhannya. Pelabuhan Melayu 

terletak pada muara sungai Batanghari, di kota J ambi yang sekarang. 

Mengenai lokalisasi pusat kerajaan Melayu ini, akan diberi 

pembahasan yang lebih mendalam. 

(8) sebab  letak pelabuhan Melayu sudah dapat dipastikan di 

muara sungai Batanghari, di kota J ambi sekarang, maka identifikasi 

Fo-shih dengan muara sungai Musi di Palembang termakan akal, 

tidak perlu diragukan. Perjalanan dari Fo-shih ke pelabuhan Melayu, 

menurut I-ts'ing, makan waktu 15 hari. 

Jika kita memerhatikan perjalanan Dapunta Hyang dari Sriwijaya 

ke Minanga Tamwa, yakni Muara Tebo, yang letaknya di sebelah 

selatan kota J ambi, maka perjalanan itu makan waktu kurang dari 

26 hari. Hal ini diberitakan pad piagam Kedukan Bukit. Berapa hari 

lamanya Dapunta Hyang singgah di Minanga Tamwa, tidak 

dinyatakan. Demikianlah, berita I-ts'ing mengenai jarak antara Fo­ 

shih clan pelabuhan Melayu sesuai dengan berita pada piagam 

Kedukan Bukit tentang pelayaran Dapunta Hyang dari Sriwijaya ke 

Minanga Tamwa, alias Muara Tebo. 

(9) sebab  perjalanan Wu-hing dan I-ts'ing dari Fo-shih ke In­ 

dia melalui pelabuhan Melayu, maka letak Fo-shih harus di sebelah 

tenggara pelabuhan Melayu; tidak mungkin ada di sebelah baratnya. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 69 

Satu-satunya pelabuhan di sebelah tenggara J ambi yaitu  muara 

sungai Musi. Demikianlah, Fo-shih harus terletak di muara sungai 

Musi. Nama Palembang pada zaman I-ts'ing belum dikenal. 

(1 O) Sriwijaya terletak di tepi sungai. Menurut berita Record, 

Sriwijaya terletak di tepi sungai. Nama sungainya sama dengan nama 

kerajaannya. Dalam bahasa Tionghoa, baik nama kerajaannya maupun 

nama sungainya ialah Fo-shih, singkatan dari Shih-li-fo-shih. 

Beritanya demikian: Pada tanggal 20 dan 7 tahun pertama peme­ 

rintahan Yung-chang (689), ia sampai di Kwang-tung kembali. 

Pelayaran-kembali itu tidak direncanakan lebih dahulu. Semula, ia 

datang di sungai Fo-shih titip surat rahasia ke Kwang-tung untuk 

minta kiriman kue-kue, kertas dan tinta, guna menurun naskah­ 

naskah Sanskerta dan sebagai upah kerja tulis. Namun, pada waktu 

itu tiba angin baik. Oleh sebab  itu, layar-layar segera dipasang. I­ 

ts'ing ikut terbawa. Ia tidak bermaksud akan pulang. 

(11) Letak Sriwijaya. Letak Sriwijaya diberitakan oleh I-ts'ing 

dengan panjang bayang-bayang orang yang berdiri di bawah 

matahari. Katanya: "Di negeri Shih-li-fo-shih, kita lihat bahwa 

bayang-bayang di welacakra tidak menjadi panjang atau menjadi 

pendek pada pertengahan bulan delapan. Pada tengah hari, tak tampak 

bayang-bayang orang yang berdiri di bawah matahari. Lain halnya 

kalau musim semi. Matahari tepat di atas kepala dua kali satu tahun. 

Kalau matahari di sebelah selatan, bayang-bayang membujur ke utara; 

panjangnya lebih kurang dua atau tiga kaki. Kalau matahari di sebelah 

utara, bayang-bayangnya sama, tetapi jatuh ke selatan. Dari berita 

itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Shih-li-fo-shih terleak di sebelah 

garis khatulistiwa. 

Dari segala berita yang telah dikumpulkan di atas, dapat diambil 

kesimpulan bahwa Sriwijaya terletak di tepi sungai, di sebelah 

tenggara (timur) pelabuhan Melayu (Jambi), di sekitar garis 

khatulistiwa. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat-syarat 

tersebut ialah muara sungai Musi di daerah Palembang. Tempat itu 

terletak pada garis 30° 104 L.S. Pada zaman I-ts'ing, nama Palembang 

70 Sriwijaya 

belum dikenal sebagai nama tempat di muara sungai Musi. Juga, 

nama Musi belum dikenal sebagai nama sungai. Baik nama sungainya 

maupun nama kota dan kerajaannya disebut Fo-shih atau Sriwijaya. 

5. Mo-ho-sin 

Sesudah negeri Mo-lo-yeu, 1-ts'ing menyebut Mo-ho-sin. 

Hingga sekarang, lokalisasi Mo-ho-sin masih bersimpang siur. Terang 

sekali bahwa negeri-negeri yang disebut oleh I-ts'ing sebagai negara 

Budha ialah negara-negara yang terletak di jalan pelayaran lndia­ 

Tiongkok. 

Yang agak mencolok ialah bahwa di antara negara-negara di 

laut Selatan itu, tidak ada satu pun yang menurut tafsiran para sarjana 

terletak di daerah Semenanjung Melayu. Padahal, Semenanjung 

Melayu jelas terletak di laut Selatan, berhadapan dengan negeri 

Melayu di pantai timur Sumatra, dan jelas terletak di jalan pelayaran 

lndia-Tiongkok. Suatu kemustahilan, bahwa pengaruh agama Budha 

tidak terdapat di Semenanjung. 

Dari hasil penyelidikan prasejarah Malaya, yang disusun oleh 

Tweedie, nyata sekali akan adanya agama Budha di Semenjung 

Melayu. Bahkan area Budha dari abad ke-5 terdapat juga di Kedah. 

I-ts'ing pasti mengetahui tentang adanya agama Budha di jazirah 

Melayu. Lagi pula, Semenanjung Melayu termasuk daerah yang besar. 

I-ts'ing menambahkan pada uraiannya sebuah keterangan, yang 

kelihatannya tidak penting, tetapi berguna untuk tujuan kita, yakni: 

masih ada beberapa pulau kecil-kecil lagi yang tidak disebut di sini. 

Di antara pulau-pulau itu, pasti Semenanjung tidak termasuk, sebab  

Semenanjung yaitu  negara yang terhitung besar. Oleh sebab  itu, 

saya berpendapat bahwa Semenanjung itu juga disebut dalam 

rangkaian negara Budha oleh I-ts'ing. Hanya saja namanya bukan 

Semenanjung. Catatan ini boleh dianggap penting, sebab  hal ini 

mengubah tafsiran para sarjana mengenai nama salah satu negara 

yang disebut oleh I-ts'ing. Nama yang saya maksudkan ialah Mo­ 

ho-sin. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 71 

berdasar  keserupaan bunyi, Takakusu menduga bahwa Mo­ 

ho-sin sama dengan Mahasin atau Masin. Nama itu lalu disamakan 

dengan Banjarmasin di muara sungai Barito di Kalimantan Selatan. 

Tetapi di dalam lampiran peta, ia menyebut dengan sangat hati-hati 

pulau Biliton sebagai Mahasin, dan Banjarmasin diikuti tanda tanya. 

Dr. Rouffaer menyamakan Mo-ho-sin dengan Hasin, yang 

terdapat pada piagam Airlangga dan harus dicari di luar J awa; 

mungkin sekali T umasik. Pendapat Rouffaer ini timbul, sebab  ia 

menerjemahkan nama-nama yang dijumpainya pada piagam 

Airlangga. Seperti Wura-wari diterjemahkan dengan "klaar water, 

air jernih; sama dengan Ganggayu dalam Sejarah Melayu. Ganggayu 

ini terdapat di Semenanjung. Lawaran diterjemahkan dengan "lief 

water', air cantik; disamakan dengan Langka atau Langkasuka, yang 

dikatakannya Johor Lama; Galuh diterjemahkannya dengan 

"manikam; manikam yaitu  Johor, sebab  Johor berasal dari Jauhar, 

manikam. Dengan sendirinya pendapat Rouffaer ini mendapat 

sambutan sajana Inggris Winstedt dalam bukunya, History of ]ohore. 

Winstedt lebih percaya kepada Krom daripada kepada Rouffaer. 

Krom bersikap sangat hati-hati terhadap teori Roffaer yang sangat 

berani. Ia mencari Hasin dan Galuh di Jawa Timur. Bagaimanapun, 

Mo-ho-sin I-tsing berbeda dengan Hasin pada piagam Airlangga 

yang dipersoalkan di atas. Mengenai Mo-ho-sin ini, Krom tidak 

mengeluarkan sesuatu pendapat, kecuali mengemukakan pendapat 

Rouffaer. Ia membenarkan usaha untuk mencari Mo-ho-sin di 

Semenanjung Melayu, sebab  Semenanjung tidak disebut oleh I­ 

ts'ing. 

Prof. Dr. Poerbatjaraka membicarakan Mo-ho-sin dalam 

bukunya, Riwayat negara kita  I. Pendapatnya secara lengkap seperti 

berikut: 

1. Menurut pendapat kami sendiri, dugaan bahwa Mo-ho-sin 

terletak di Semenanjung itu kurang benar. Sebab, di atas sudah 

dikatakan bahwa kekuatan Sriwijaya telah menduduki tanah Si 

Menanjung (Malaka). Jadi, bila di Si Menanjung masih ada 

79 Sriwijaya 

kerajaan, bagaimanapun juga kerajaan itu sudah tidak berarti, 

sebab sudah ada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Oleh sebab itu, 

I-ts'ing tidak menyebut salah satu kerajaan di Malaka. 

2. Dengan dugaan yang terbelakang ini, maka letak Mo-ho-sin itu 

dapat diduga ialah di Pulau J awa, sebab  menilik tern pat yang 

disebut oleh I-ts'ing di antara Sriwijaya dengan Ho-ling (Jawa). 

Jadi, di sebelah barat Ho-ling; barangkali di Pasundan. Adapun 

alasan bagi dugaan ini agak panjang dan kami terangkan seperti 

di bawah ini. 

3. Di dalam tulisan yang dimuat di Bijdragen voor de Taal Landen 

Volenkunde, tahun 1921, muka 72 seterusnya, Dr. Rouffaer 

menyamakan Mo-ho-sin dengan Hasin, dan lain-lainnya ialah 

Singapura. Di sini kami katakan dengan hormat kepada Dr. 

Rouffaer, bahwa ceriteranya itu sebagian besar hanya petai-hampa 

saja. 

4. Di dalam T.B.G. jilid 19 tahun 1870 muka 393, Dr. Van der 

Tuuk menulis seperti berikut: "Di dalam piagam dari Banten, 

selalu saya dapati perkataan Wong encik buat menamakan orang 

Melayu. Perkataan ini sangat menarik perhatian kami, sebab 

membuktikan bahwa perkataan Wong Melayu di masa itu ialah 

nama nistaan, nama penghinaan. Bangsa lain yang datang 

berperahu, di dalam piagam itu, juga dinamakan wong asin. Mula­ 

mula kami kira bahwa kata Melayu asing; akan tetapi sering kali 

kami jumpai kata itu selalu ditulis dengan n saja. Oleh sebab  

itu, kami berpendapat bahwa kata itu asal dari asin. Di dalam 

piagam yang lebih muda ... kami berjumpa dengan perkataan 

wong]aketra, dan di dalamnya piagam-piagam lainnya selalu wong 

]ayakerta . . ". 

5. Sekian tulisan Dr. Van derTuuk yang kami ambil. Biarpun tidak 

dikatakan dengan banyak perkataan, akan tetapi menilik tulisan 

Van der Tuuk yang sekonyong-konyong mengganti perkataan wong 

* Petai-hampa = bualan atau among kosong (ed.) 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 73 

asin di dalam piagam yang tua dengan wong Jayakerta di dalam 

piagam yang lebih muda, maka boleh diduga bahwa wong asin di 

sini maksudnya semata-mata sama dengan wong w~tan, yakni 

orang timor. Oleh sebab  itu, tanah di daerah atau tempat yang 

bernama asin seharusnya dicari di Tanah Jawa, yang letaknya ke 

timur daripada Banten. 

Di dalam tembaga tulis yang berangka tahun 872 <;aka , 

terdapat di daerah Klaten Surakarta, ada tersebut ramani hasin. Kata 

Hasin di sini terang nama suatu tempat. 

Ada lagi nama Hasin, yakni yang tersebut di dalam batu tulis, 

O.].O. no. IX (muka 128-129). Jikalau dihilangkan ialah seperti 

berikut: Angka tahun 956 <;aka, bulan, hari, dan seterusnya rik~ 

diwacany@jna cri mah~rja ... (Airlangga) ... Tinadah rakry~n 

mah~mantri ... (nama segenap menteri besar) kumonak~n ikanang 

karam~n ring baru makabehan padamlakna sang hyang ~jfa haji tamra 

pracasti tinanda garudamuka kmitanaya sambandha ri panghin~p 

p~duka cri mah~raja i rikanang th~ni ring baru maprayojana i rikang 

r~tri ri sdangany@njaya~atwa cri mah~r~ja ring samara kumawacn 

musuhira ikana i hasin at~h~r tumunggalakna ikanang prtiw~mandala 

an s~m~ p~rnnahanikanang th~ni ring baru dening r~ma ring baru 

makabehan. 

Artinya: "Angka tahun 956 (aka, bulan, hari dan seterusnya 

itulah harinya perintah ~ri maharaja (Airlangga) diterima ( oleh) yang 

terhormat (para) menteri besar ... (nama segenap menteri besar) 

menyuruh supaya sekalian penduduk di desa Baru dibuatkan surat 

kekancingan di atas logam yang, menurut perintah mulia c;ri baginda, 

ditandai dengan muka garuda, supaya menjadi pegangan dan dirawat 

( oleh sekalian penduduk di desa Baru), lantaran ketika c;ri baginda 

menginap di desa Baru, di masa perangnya dan dapat menguasai 

musuhnya di masa itu di Hasin, selanjutnya menyatukan sekitar 

tanah (Jawa), maka desa Baru dijadikan desa merdeka bagi sekalian 

penduduk di desa Baru." 

74 Sriwijaya 

Inilah pokok isi batu-tulis itu yang penting-penting. 

Selanjutnya, tertangkaplah raj a di Hasin, lalu dibunuhnya. Barangkali 

sudah sangat terang bahwa kerajaan Hasin itu letaknya di tanah J awa. 

Dan oleh sebab  itu, tahu bahwa kerajaan maharaja Airlangga itu di 

tanah Jawa Timur. Tentu saja, kerajaan Hasin itu letaknya di Tanah 

Jawa sebelah barat, baik masih di dalam bagian tanah Jawa Tengah 

maupun di tanah Pasundan. Sebab, jikalau Hasin itu dianggap 

terletak di luar tanah J awa, perkataan "menyatukan sekitar tanah" yang 

kami tambah dengan "Jaw itu agak susah diartikan. 

Di atas, telah kami katakan bahwa Rouffaer menyamakan Mo­ 

ho-sin dengan Masin, lalu disamakan dengan yang sekarang menjadi 

Singapura. Pertanyaan: Apakah maharaja Airlangga yang hendak 

menyerang musuhnya di Singapura bermalam di desa Baru? Apakah 

harapan beliau menjadikan merdeka desa Baru itu hanya mendoakan 

dari jauh saja untuk kemenangannya di dalam perang di Singapura? 

Hal itu suatu hal yang sangat mustahil. Apalagi, kalau kita ingat 

kata "menyatukan sekitar tanah (Jawa)', negeri Hasin itu tidak boleh 

tidak tentu terletak di pulau J awa. 

Masih ada lagi nama Hasin yang terdapat dalam riwayat J awa, 

yakni di dalam buku Pararaton (cetakan kedua muka 20, terjemahan 

muka 63). Dikatakan bahwa permaisuri raja Dangdang Gendis di 

Kediri, yang dikalahkan oleh Ken Angrok, ialah Dewi Amisani, Dewi 

Hasin, dan Dewi Paja. 

Tentang nama yang kedua itu, Dr. Brandes yang mengerjakan 

buku Pararaton dengan teliti sekali, sepatah kata pun tidak memberi 

keterangan. Menurut perasaan kami, istri sang Dangdang Gendis 

yang tiga orang itu ialah istri lantaran perkawinan politik. Yang 

pertama istri asal dari negerinya sendiri; yang kedua dari kerajaan 

Hasin; yang ketiga dari kerajaan Paja, yang seharusnya dibaca Pajang. 

Biarpun kira-kira di masa itu kerajaan Hasin dan Pajang (dekat Solo) 

kecil sekali, akan tetapi masih dianggap kuat juga oleh sang Dangdang 

Gendis buat menambah kekuatannya di dalam kerajaannya sendiri 

di Kediri. Bahwa sang Dewi Hasin itu seorang putri dari kerajaan 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 75 

Hasin, yang dulu telah dikalahkan oleh raja Airlangga, hal ini 

barangkali tidak perlu lagi diterangkan lebih panjang. Kami ulangi 

lagi, letak negeri atau kerajaan Hasin atau Mo-ho-sin ialah di tanah 

Jawa, agaknya ke sebelah barat. (Di daerah Batang [Pekalongan] 

kecamatan Warung-asem, sekarang masih ada di desa Masin.) 

Penyebutan Mo-ho-sin dilakukan I-ts'ing sesudah Mo-lo-yeu, 

yang sekarang menjadi bagian kerajaan Shih-li-fo-shih. Ini dapat 

ditafsirkan bahwa wilayah kerajaan Mo-lo-yeu, atau pelabuhan Mo­ 

lo-yeu yang pernah disinggahi oleh I-ts'ing, terletak agak ke barat di 

pantai Sumatra Timur dari Mo-ho-sin. 

Telah kita ketahui bahwa pantai timur Sumatra termasuk 

wilayah kerajaan Sriwijaya. Menurut uraian I-ts'ing sendiri, per­ 

jalanan dari India ke Tiongkok melalui pelabuhan Melayu biasanya 

langsung ke utara, tanpa melalui pelabuhan Fo-shih. Perjalanan yang 

demikian menerobos Selat Malaka, terus ke Tumasik, yang dalam 

transkripsi Tionghoa menjadi Tan-ma-shi, menuju laut Cina. Di 

sebelah kiri memanjang pantai barat Malaka-Pontian; di sebelah 

kanan pantai timur Sumatra. 

Ahli peta Chia-tan menyebut negeri seberang timur itu Lo­ 

yueh dan di seberang barat Fo-shih. Lo-yueh yaitu  Lo-cak menurut 

catatan Marco Polo. Lo-cak ini bentuk ubahan dari Lo-kok, yang 

berarti Negara Lo, dan yang dimaksud dengan Lo yaitu  Langkasuka. 

Negara ini oleh I-ts'ing disebut Lang-chia-shu. Chia-tan menganggap 

kerajaan Langkasuka yang terletak di pantai timur Malaya meliputi 

juga wilayah Malaya sebelah barat dan selatan. I-ts'ing, yang tinggal 

bertahun-tahun di Fo-shih dan pernah mengadakan perjalanan dari 

India ke Tiongkok, pasti lebih tahu tentang keadaan pantai barat 

Malaya daripada Chia-tan. la tentu tahu akan adanya beberapa pe­ 

labuhan di pantai barat Malaya. Satu-satunya nama yang agak mirip 

dengan Mo-ho-sin ialah bandar Maharani, yang sekarang menjadi 

Muar. Bandar Maharani sudah lama dikenal sebagai tempat yang 

ramai dan tempat yang baik. Tidak asing bagi para ahli sejarah, bahwa 

pembentukan kerajaan Johor dimuai dari Muar. Raja Singapura 

76 Sriwijaya 

Iskandar Syah, ketika negaranya diserang oleh tentara J awa, lari ke 

Muar. Bandar Maharani terletak di muara sungai Maharani, hingga 

sekarang masih digunakan. 

Tidaklah aneh hahwa handar Maharani sudah herupa pelahuhan 

clan menjadi pusat kerajaan pada ahad ke-7, ketika l-ts'ing menetap 

di Shih-li-fo-shih. Penyelidikan paling akhir yang dilakukan oleh 

H.D. Collings di Tanjung Bunga dekat Muar menunjukkan hahwa 

tempat tersehut mempunyai kebudayaan-batu baru, sebab  dalam 

penggalian ia menemukan alat-alat hatu hersegi empat yang 

mempunyai huhungan dengan kebudayaan-batu baru. Kerajaan yang 

ada di situ mungkin tidak sehesar kerajaan Kedah. 

6.Ho-ling 

Dalam abad ke-7, kerajaan Ho-ling memegang peranan penting 

dalam soal kehudayaan. Pendeta Tionghoa Hwui-ning pada tahun 

644/645 berangkat dari Tiongkok sengaja menuju Ho-ling. Apa yang 

dilakukan oleh Hwui-ning selama tinggal di Ho-ling, diuraikan oleh 

I-ts'ing dengan teliti. Hwui-ning mengadakan kerja sama dengan 

pendeta Ho-ling Yoh-na-po-to-lo untuk menerjemahkan hagian 

penutup Nirwanasutra, yang menguraikan pemhakaran jenasah 

Budha clan pengumpulan peninggalan-peninggalannya. 

Teks ini ternyata herheda dengan Mahaparinirwanasutra. Nama 

pendeta Ho-ling, Yoh-na-po-to-lo, sesuai henar dengan nama 

Sanskerta, Jnanahhadra. Ketika terjemahan itu selesai, Hwui-ning 

memberi perintah kepada pendeta muda Yun-k'i untuk membawanya 

pulang ke Tiongkok. Hwui-ning tinggal di Ho-ling. Setelah Yun-k'i 

selesai menunaikan tugasnya, ia herlayar kemhali ke Ho-ling untuk 

menyampaikan tanda terima kasih kepada sang guru J nanahhadra 

clan untuk menggahungkan diri lagi dengan Hwui-ning. Tetapi 

sesampainya di Ho-ling, pendeta Hwui-ning telah berangkat ke In­ 

dia. 

(1) Yun-k'i, pendeta kelahiran Chiao-chih (Tongkin), tinggal sepuluh 

tahun di negeri laut Selatan. Ia menjadi murid Jnanahhadra. Ia 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 77 

mempelajari bahasan Kun-lun dan paham akan bahasa Sanskerta. 

Ketika I-ts'ing menulis bukunya, Memoire, Yunk'i tinggal di Shih­ 

li-fo-shih dan berumur 30 tahun. 

(2) C ang-min menumpang perahu yang panjangnya 200 kali dan 

dapat mengangkut penumpang sebanyak 600 sampai 700 orang 

menuju negeri Ho-ling. Dari sana ia berlayar ke negeri Mo-lo­ 

yeu untuk meneruskan perjalanannya ke India. Tetapi perahunya 

karam tidak jauh dari pangkalan, sebab  terlalu berat muatannya. 

Chang-min meninggal. 

(3) Ming-yuen berangkat dari Chiao-chih; perahunya terdampar 

gelombang sampai di negeri Ho-ling. 

( 4) Tan-yuen berangkat melalui daratan ke Chiao-chih. Ketika 

musim angin baik telah tiba, ia menumpang perahu menuju 

selatan dengan harapan akan sampai di India Barat, tetapi waktu 

ia sampai di negeri Pu-p'en di sebelah utara Ho-ling, ia 

meninggal. 

(5) Fa-lang berlayar dari Pan-yong, sampai di Fo-shih pada akhir 

bulan. Sesudah beberapa lama tinggal di sana, ia berangkat ke 

Ho-ling, di mana ia meninggal. 

(6) Tao-lin melakukan perjalanan jauh, berlayar menuju laut Selatan. 

Ia sampai di negeri Lang-chia melalui negeri Ho-ling dan Lo­ 

j~ng-kuo. Di tiap negeri yang disinggahinya, ia diterima oleh 

raja dengan hormat dan diperlakukan sangat baik. Sesudah 

beberapa tahun ia sampai di India Timur di kerajaan Tan-mo-lo­ 

ti. Di sana ia tinggal tiga tahun untuk belajar bahasa Sanskerta. 

Itulah beberapa catatan tentang kerajaan Ho-ling yang termuat 

dalam Memoire karya pendeta I-ts'ing. Di dalam Record masih ada 

berita mengenai kerajaan Ho-ling yang, meskipun samar-samar, 

sekadar memberi petunjuk tentang letaknya. I-ts'ing menyebut 

negeri-negeri di laut Selatan yang penduduknya memeluk agama 

Budha, berturut-turut dari barat. Di antaranya tersebut Ho-ling. 

78 Sriwijaya 

Pelliot mencatat pengiriman utusan dari Ho-ling ke Tiongkok 

pada tahun 640 sampai 648, 666, 767, 768, 813 sampai 815 dan 

818. 

Bagaimanapun, kerajaan Ho-ling itu pernah ada, namun hingga 

sekarang belum dapat dipastikan letaknya. Dari catatan I-ts'ing 

mengenai geografi Ho-ling, kita hanya dapat menangkap bahwa Ho­ 

ling disebut sesudah kerajaan Mo-lo-yeu dan Mo-ho-sin dalam urutan 

dari barat. Namun, pengertian "dari barai' pada I-ts'ing itu harus 

ditafsirkan menurut perjalanan dari India ke Tiongkok; tidak dari 

barat berturut-turut ke timur menurut kiblat. 

Hingga sekarang, para ahli sejarah menyamakan Ho-ling dengan 

Jawa. Jawa terletak di sebelah timur Sumatra, sedangkan Sumatra 

sebelah timur dan selatan yaitu  wilayah kerajaan Melayu (Sriwijaya). 

Menurut Hsin-'ang-Shu buku 222 bagian 11, demikian Takakusu, 

disebut bahwa yang dimaksud dengan Kalingga yaitu  J awa. Buku 

197 menyatakan bahwa Kalingga terletak di sebelah timur Sumatra. 

Groeneveldt menyamakannya dengan pantai utara pulau J awa, dan 

Prof. Chavannes menyamakannya dengan J awa Barat. Demikianlah, 

Ho-ling dikira transkripsi Tionghoa dari nama Kalingga. Dan 

Kalingga yaitu  J awa. 

berdasar  panjangnya bayang-bayang dalam welacakra, yang 

perhitungannya dilakukan oleh seorang profesor, Takakusu sampai 

kepada kesimpulan bahwa Ho-ling harus terletak di Malaya pada 

garis 6 8' L.U., sebab  Hsin-Tang-Shu memberitakan demikian: 

"Di Ho-ling pada musim panas, jika tongkat welacakra panjangnya 

8 kaki, bayang-bayangnya pada waktu siang jatuh ke selatan dan 

panjangnya 2 kaki empat inci (2 2/5 kaki)." 

Takakusu membuat catatan bahwa pemberitaan itu agak kacau, 

jika yang dimaksud ialah salah satu tempat di Jawa (yang terletak 

pada garis 68' L.S.). Ia akan berusaha mencari bahan perbandingan 

dalam kitab-kitab Tionghoa lebih dahulu sebelum memberikan 

pemecahannya. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 79 

Sudah terang bahwa pada zaman I-ts'ing, nama Jawa itu sudah 

dikenal di kerajaan Sriwijaya, sebab  pada piagam Kota Kapur yang 

dikeluarkan pada tahun 686 telah disebut bahwa "tentara Sriwijaya 

berangkat ke bhumi jawa." Tentunya I-ts'ing juga mengenal piagam 

terse but, setidak-tidaknya pernah mendengar nama J awa, sebab  ia 

lama menetap di Sriwijaya. Lagi pula ia yaitu  orang yang menga­ 

gumi Fa-hien, padahal Fa-hien yang berangkat dari Tiongkok pada 

tahun 414 telah menyebut jawadi, clan pada zaman dinasti Sung 

yang pertama (420-578), telah disebut pula nama Yawada; maksud­ 

nya Yawadwipa. Suatu kenyataan ialah bahwa I-ts' ing menyebut Ho­ 

ling. Andaikata yang dimaksud oleh I-ts'ing yaitu  Jawa, pasti ia 

akan berusaha mendeskripsikan nama J awa itu dengan ucapan 

Tionghoa yang mirip. Demikianlah, mungkin sekali bahwa yang 

dimaksud dengan Ho-ling itu memang bukan pulau J awa. 

Sejarah T'ang lama, yang hanya mengenal nama Ho-ling 

(maksudnya, tan pa identifikasi dengan Kalingga atau J awa seperti 

yang dikenal dalam sejarah T'ang susunan baru), mencatat bahwa 

kota Ho-ling dikelilingi pagar yang dibuat dari kayu. Rajanya tinggal 

di rumah di atas tiang, beratap rumbia; ia duduk di atas takhta gading. 

Di Ho-ling, orang sudah mengenal tulisan dan telah mengenal ilmu 

falak. Orang-orangnya makan tanpa sendok, melainkan makan 

dengan jari. Minumannya dibuat dari mayang pinang. 

Uraian tentang adat kebiasaan itu penting artinya untuk ilmu 

sejarah. Namun, pemberitaan yang demikian sedikit artinya untuk 

penetapan geografi. Kemudian menyusul dongeng yang sudah sangat 

populer, yakni dongeng tentang maharani Si-mo. Pada tahun 644/ 

645, rakyat Ho-ling mempunyai raja perempuan yang sangat keras 

clan adil dalam pemerintahannya. Raja perempuan itu bernama Si­ 

mo. Tak ada orang yang berani mengambil barang yang jatuh di 

tengah jalan kecuali pemiliknya. Kabar itu terdengar oleh raja Ta­ 

che. Raja Ta-che lalu menyuruh meletakkan emas sekampil di tengah 

jalan di wilayah Ho-ling. Tiap orang yang lalu di situ menyingkir. 

Tidak ada orang yang menyinggungnya. Kampil itu terletak di tengah 

jalan tiga tahun lamanya tanpa berubah. 

80 Sriwijaya 

Pada suatu ketika rajaputra lalu, kakinya tersandung pada 

kampil tersebut. Maharani Si-mo marah sekali mendengar laporan 

bahwa kaki rajaputra menyentuh kampil tersebut. sebab  perbuatan 

itu bertentangan dengan adat yang berlaku di Ho-ling, maka 

diputuskan oleh maharani Si-mo bahwa rajaputera akan dijatuhi 

hukuman penggal kepala. Tetapi keputusan itu ditentang oleh para 

menteri. Akhirnya, diputuskan hukuman potong kaki, sebab  yang 

berbuat salah yaitu  kakinya. Protes para menteri tidak dihirau­ 

kannya. Hukuman harus dilaksanakan, supaya umum mengetahui 

adanya hukum dan keadilan di negeri Ho-ling. Ketika raja Ta-che 

mendengar berita itu, ia takut dan tidak berani melakukan serangan 

terhadap kerajaan Ho-ling. 

Yang dimaksud dengan raja Ta-che yaitu  raja Arab. Krom 

membuat tafsiran, bahwa mungkin sekali yang dimaksud ialah or­ 

ang Arab perantau yang menetap di pantai Sumatra. Adakah dongeng 

itu peristiwa sejarah yang sungguh terjadi, masih disangsikan. Yang 

terang ialah bahwa dongeng itu menggambarkan adanya ke­ 

makmuran, keadilan, dan pembinaan hukum di negeri Ho-ling, salah 

satu negara di laut Selatan. 

Dalam urutan negara-negara di laut Selatan yang memeluk 

agama Budha dan terdapat di jalan pelayaran India-Tiongkok, Ho­ 

ling disebut sesudah negeri Mo-lo-yeu dan Mo-ho-sin, sebelum Tan­ 

tan. Jika urutan itu ditafsirkan menumt kiblat dari barat ke timur, 

maka Tan-tan hams dicari di sebelah timur Ho-ling. Sedangkan Ho­ 

ling oleh para ahli sejarah disamakan dengan J awa. Menurut pikiran 

itu, Tan-tan hams terletak di sebelah timur pulau Jawa. Hal yang 

demikian tidaklah mungkin. 

Kemudian menyusul Pem-pen (Peng-pen), lalu P'oli. Demikian 

selanjutnya. Namun, Pem-pen disingkirkan atau didiamkan saja; 

mereka menempatkan Poli di sebelah timur Ho-ling sebab  bunyinya 

serupa dengan Bali, yang dalam berita Tionghoa disebut Pangli atau 

Son-dor (Yule: mungkin dari kata sundara, "cantik). 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 81 

Identifikasi P'o-li dengan Bali didasarkan pula atas uraian 

Friedrich mengenai kesusasteraan Kawi di pulau Bali, yang agak mirip 

dengan isi berita tentang kebudayaan Ho-ling. sebab  I-ts'ing dalam 

uraiannya tentang T' an Yuen, yang men um pang perahu dari Chiao­ 

chih (Tongkin) menuju selatan dan sesampainya di Pu-pen (Pem­ 

pen) meninggal, mengatakan bahwa P'u-pen terletak di sebelah utara 

Ho-ling, maka segera Takakusu menyamakan Pu-pen itu dengan 

Pabuan, yang terletak di muara sungai Pabuan di pantai selatan 

Kalimantan. 

Uraian I-ts'ing mengenai P'u-p'en yang terletak di sebelah utara 

Ho-ling sesungguhnya sudah merupakan pemberitahuan, bahwa 

urutan penyebutan negeri-negeri itu tidak boleh ditafsirkan dari barat 

ke timur seperti yang dilakukan hingga sekarang. Krom patuh kepada 

pendapat bahwa Ho-ling yaitu  Kalingga, maka ia membicarakan 

Ho-ling dalam rangka Jawa Tengah dan menyebut pendeta Jnana­ 

bhadara berasal dari J awa. Timbulnya anggapan yang demikian itu, 

pada hakikatnya, sebab  mereka bersandar pada anggapan bahwa 

Ho-ling yaitu  Kalingga, dan Kalingga yaitu  Jawa, terletak di 

sebelah timur Shih-li-fo-shih. Shih-li-fo-shih yaitu  Palembang. 

Untuk keluar dari jaringan pendapat tersebut sukar sekali. 

Takakusu sendiri, berdasar  perhitungan welacakra seperti yang 

dilakukannya menurut berita dari sejarah baru, sesungguhnya sudah 

ragu-ragu untuk menerima penyamaan Ho-ling dengan Jawa, sebab  

perhitungan welacakra jelas menunjukkan (bila berita itu benar) 

bahwa Ho-ling harus terletak di sebelah utara garis khatulistiwa. 

Jika Ho-ling disamakan dengan pulauJawa, bagaimana mungkin I­ 

ts'ing menceriterakan tentang Chang-min yang naik perahu 

berangkat ke Ho-ling, terus ke Mo-lo-yeu, dengan harapan akan 

sampai di India? Bagaimana mungkin Ming-yuen yang berlayar dari 

Chiao-chih (Tong-kin), sebab  perahunya terdampar gelombang, bisa 

sampai di Ho-ling, jika yang dimaksud dengan Ho-ling ialah pulau 

Jawa? Pulau Jawa dengan pelabuhan-pelabuhannya di pantai utara, 

seperti Japara, Tegal, Cirebon, terletak jauh dari perjalanan Tiongkok­ 

India. Singgah di Jawa dalam perjalanan dari Tiongkok ke India 

89 Sriwijaya 

tidaklah mungkin, sebab  pelabuhan-pelabuhan di pantai utara J awa 

tidak terdapat di jalan pelayaran India-Tiongkok, atau orang hams 

sengaja datang ke pulau J awa. Demikianlah, terdapat ban yak kesulitan 

jika kita berpikir agak praktis, untuk menyamakan Ho-ling dengan 

Jawa. 

Mengingat banyaknya pendeta yang kebanyakan naik perahu 

dagang dan singgah di Ho-ling dalam perjalanannya dari Tiongkok 

ke India, maka Ho-ling harus merupakan pelabuhan yang penting. 

Oleh sebab  itu, mau tidak mau, letaknya hams baik sebagai 

pelabuhan. Atas dasar berita-berita itu, semata-mata kita belum dapat 

mengira-ngira di mana letak Ho-ling, kecuali hanya mendengar 

bahwa Ho-ling itu harus terletak di jalan pelayaran Tiongkok-Melayu. 

Jika kita mempelajari uraian Chia-tan, seorang ahli peta 

Tionghoa yang masyhur dan hidup antara tahun 730 dan 805, 

tentang perjalanan dari Tiongkok ke laut Selatan, maka letak kerajaan 

Ho-ling menjadi lebih terang. Uraiannya demikian: 

Perjalanan itu melalui pulau Hai-nan menuju pantai lndo-Cina, 

terus menyusur pantai sampai di tempat yang bernama Kun-t'u-nung. 

Dari situ berlayar lima hari lagi, maka sampailah pada selat yang 

namanya Chi h. Lebarnya dari utara ke selatan 100 Ii. Di pantai sebelah 

utara terdapat kerajaan Lo-yueh; di pantai selatan terdapat kerajaan 

Fo-shih. 

Sebelah timur kerajaan Fo-shih, kira-kira sejauh lima hari 

pelayaran, orang mencapai kerajaan Ho-ling. lni merupakan pulau 

yang terbesar di selatan. Kemudian, tiga hari berlayar dari selat itu, 

orang mencapai kerajaan Ko-ko-chih, terletak di sebuah pulau di sudut 

barat laut Fo-shih. Penduduknya banyak yang jadi perompak; 

penumpang perahu banyak menjadi mangsanya. Di pantai utara 

terletak kerajaan Ko-lo. Sebelah barat Ko-lo ialah kerajaan Ko-ku-lo. 

Chia-tan menyatakan bahwa Ho-ling terletak sejauh em pat atau 

lima hari pelayaran dari Fo-shih ke arah timur. Fo-shih terletak di 

pantai sebelah selatan Chih (yang disebut Chih sama dengan apa 

yang disebut Sahalat oleh berita Arab, yang berasal dari Ya'kubi), 

dan di sebelah utara ialah kerajaan Lo-yueh. Kerajaan Lo-yueh ini 

sama dengan kerajaan Lo-cak seperti yang tercatat oleh Marco Polo, 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 83 

yakni kerajaan Langkasuka di pantai timur Malaya. Tepatnya, Patani 

sekarang. Yang terpenting ialah pernyataan Chia-tan, bahwa Ho­ 

ling terletak di pulau yang paling besar di laut Selatan. Bagaimanapun, 

pulau yang paling besar di laut Selatan ialah pulau Borneo atau 

Kalimantan, bukan pulau J awa. Demikianlah, sudah terang bahwa 

pelabuhan Ho-ling terdapat di pantai barat Kalimantan, sebab  Ho­ 

ling terdapat di j alan pelayaran dari Tiongkok ke India. 

Mengenai wilayah kerajaan Ho-ling, diberitakan dalam sejarah 

T'ang, yang juga terkutip dalam sejarah baru, demikian: "Kerajaan 

Ho-ling terletak di laut Selatan. Di sebelah timur berbatasan dengan 

P'oli, di sebelah barat denganTo-po-teng: di sebelah selatan dengan 

laut, di sebelah utara dengan Chen-la." Yang dimaksud dengan Chen­ 

la ialah Kamboja dan Vietnam sekarang. Demikianlah, di sebelah 

utara Ho-ling terletak Chen-la. Chen-la dan Ho-ling terpisah oleh 

lautan. Di sebelah timur Ho-ling terletak P'o-li. Di sebelah selatan 

Ho-ling yaitu  laut. 

sebab  sekarang sudah kita ketahui bahwa Ho-ling terletak di 

pantai barat Kalimantan, kita coba untuk melokalisasikannya. Jika 

I-ts'ing menyebut Ho-ling dalam berita-beritanya, yang dimaksud 

terutama ialah pelabuhan Ho-ling, bukan wilayah kerajaannya. 

Berhubung dengan urutan penyebutan negeri-negeri di laut Selatan 

Ho-ling disebut lebih dahulu daripada Tan-tan, yang disamakan 

dengan Ten-dong di pantai timur Malaya, maka letak pelabuhan 

Ho-ling dari Fo-shih lebih dekat daripadan Tan-tan. 

Menurut perhitungan bayang-bayang di welacakra, Ho-ling 

terletak pada garis 6 108' L.U. Tempat ini yaitu  laut. Jadi, tidak 

mungkin. Sudah pasti kita tidak boleh percaya seratus persen kepada 

berita tentang bayang-bayang di welacakra itu. Berita itu dianggap 

sebagai pegangan. Ucapan nama Ho-ling dalam bahasa Mandarin 

yaitu  Ke-ling. Bagaimanapun, nama kerajaan di pantai barat 

Kalimantan itu ialah Kalingga. Tentunya, zaman sekarang tempat 

tersebut tidak terletak di pantai laut, tetapi di daratan beberapa puluh 

kilometer dari pantai laut, seperti halnya kota J ambi zaman sekarang. 

84 Sriwijaya 

Pada umumnya, pelabuhan pada waktu itu terletak di muara 

sungai besar, sebab  sungai memegang peranan penting sebagai 

penghubung antara pantai dan daerah pedalaman. Salah satu sungai 

di pantai barat Kalimantan yang muaranya kiranya dipakai sebagai 

pelabuhan kerajaan Kalingga ialah Batang Lupar. Di tepi Batang 

Lupar itu, sekarang masih ada kota yang namanya Lingga. Mung­ 

kinlah nama ini sisa dari nama lama Kalingga, yang disebut Ho­ 

ling. Tempat tersebut terletak di daerah Serawak pada garis 2° 111 

L.U. Jadi, mendekati berita welacakra. Pantai barat Serawak pada 

zaman yang lampau terang mendapat banyak pengaruh kebudayaan 

India. 

Di sekitar Serawak ditemukan barang-barang purbakala, kiranya 

mempunyai hubungan dengan peranan Serawak pada zaman yang 

sudah silam. Di Santubong, di muara sungai Serawak, ditemukan 

area batu, tempayan, manik-manik. Menurut pendapat I.H.N. Ivans, 

barang-barang tersebut serupa dengan penemuan-penemuan di Kuala 

Selinsing di pantai timur Malaya. Dari bukit Berhala di tepi sungai 

Samarahan, ditemukan lingga, yoni, dan area Ganesa, sedangkan di 

dekat Samp'so sebuah area lembu dari bata. Penemuan barang emas 

lainnya yang berasal dari Limbang berupa einein, rantai, kaneing 

baju, dan subang. Di antara barang-barang emas ini, yang terpenting 

ialah einein yang memuat tulisan dan sebuah lukisan singa sebesar 1 

1/2 inci x 1 1/2inci. Namun, tulisan pada einein tersebut tidak lagi 

terbaea. 

7. Poli 

Ten tang P'oli yang disebut oleh I-ts'ing, ada beberapa pendapat. 

Pelliot melokalisasikannya di Bali, berdasar  keserupaan bunyi dan 

berita dari Hsin-Tang-Shu, bahwa Poli juga disebut Mali. 

Bretsehneider melokalisasikannya di Kalimantan. Dalam hal ini, G. 

Coed~s bersikap sangat hati-hati. Berita mengenai Poli seperti 

berikut: 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 85 

(I) Liang-Shu yang disusun oleh Yao Chien (623) memberitakan 

bahwa Po-li mengirim utusan ke Tiongkok dua kali. Yang 

pertama kali pada tahun 518; yang kedua kalinya pada tahun 

523. Rajanya bernama Kaundinya. Mengenai letaknya, 

diberitakan bahwa P'o-li terletak di chou, yakni pulau. Lebarnya 

dari timur ke barat 50 hari perjalanan, dari utara ke selatan ± 20 

hari perjalanan. P'o-li mempunyai 136 desa. 

(2) Sui-Shu memberitakan pengiriman utusan dari P'o-li pada tahun 

616. Mengenai luas daerahnya: dari timur ke barat ± 4 bulan 

perjalanan, dari utara ke selatan 45 hari perjalanan. Mengenai 

letaknya, dikatakan: dari Chiao-chih orang berlayar ke selatan 

melalui Chih-tu dan Tan-tan, kemudian sampai Po-li. 

(3) Chiu-T'ang Shu menguraikan bahwa kerajaan P'o-li terletak di 

sebelah tenggara Lin-i (Campa) di pantai laut, di sebuah pulau. 

Lehar dan panjangnya beberapa ribu li. Untuk sampai di situ, 

kita harus berlayar mengarungi laut dari Chiao-chih (Tongkin) 

menuju selatan, melalui negeri Lin-i, Fu-nan, dan Tan-tan. 

Bagaimanapun, jelas bahwa P'o-li yaitu  tempat sesudah Tan­ 

tan dalam pelayaran dari Tiongkok ke Selat Malaka. Dalam 

penyelidikannya tentang lokalisasi Tan-tan dalam jurnal MB.R.A.S. 

vol. XX part 1 tahun 1947, Prof. Hsu Y~n-ts'iao sampai kepada 

kesimpulan bahwa Tan-tan terletak di muara sungai Kelantan dekat 

Kota Bharu. Nama aslinya ialah Tendong. Roland Braddell sampai 

kepada kesimpulan yang hampir serupa. Bagaimanapun, menurut 

pendapatnya, Tan-tan yaitu  salah satu bagian dari Kelantan. 

Penyelidikan ini yaitu  peninjauan kembali saran Bretschneider, 

yang menyamakannya dengan pulau Na tuna. Keterangan geografi 

di atas memberikan kesan bahwa penyamaan P'o-li dengan Bali tidak 

mungkin benar. P'o-li harus terletak di pantai barat Kalimantan. 

Negeri yang terletak di pantai barat Kalimantan dan di sebelah utara/ 

timur Ho-ling yaitu  Brunei. Brunei merupakan daerah pendudukan 

kaum pendatang dari India Selatan. N amanya pun berasal dari India 

86 Sriwijaya 

Selatan, yakni nama sungai di Travancore. Sungai itu bernama Porunai, 

namun namanya sekarang ialah Tamiraparani. 

Pendapat mengenai nama Brunei ini berbeda dengan pendapat 

G.T.M.Mc. Bryan. Menurut pendapatnya, nama Brunei itu berasal 

dari kata Sanskerta burni: activity, kesibukan. Oleh Bryan, kata itu 

diberi arti khusus, yakni: perdagangan. Saya kurang dapat menyetujui 

pendapat Bryan itu. Oleh sebab  itu, berusaha mencari sumber lain. 

Nama Porunai itu kemudian berubah menjadi Brunei. Hingga 

sekarang, nama itu masih digunakan untuk menyebut negeri di pantai 

barat Kalimantan. 

Pengambilan nama dari India seperti itu banyak dilakukan di 

negara kita . Lihat saja pulau Madura. Namanya berasal dari India 

Mathura. Di dalam East India Gazetteer, Hamilton menguraikan 

bahwa wilayah Brunei di pantai barat sepanjang 700 mil dari Sambas 

sampai Tanjung Datu. Di sebelah timur sampai sungai Sandakan. T. 

Posewitz, dalam Borneo: Its Geology and Mineral Resources (1892), 

mencatat bahwa sampai ± 50 tahun sebelumnya, wilayah Brunei 

meliputi daerah antara Tanjung Datu dan sungai Siboco. Sampai 

pada tahun 1812, dinyatakan dalam laporannya kepada Raffles, 

bahwa pulau Borneo hanya terbagi atas tiga kerajaan, yakni kerajaan 

Brunei, Sukadana, dan Banjarmasin. 

Berita di atas dimaksud untuk menunjukkan betapa luas wilayah 

Brunei pada permulaan abad ke-19. Menurut Hamilton, kerajaan 

Brunei di antara kerajaan-kerajaan lainnya di Kalimantan yaitu  

kerajaan yang pertama kali dikunjungi oleh bangsa kulit putih dari 

Eropa. sebab  nama Brunei dikenal paling dahulu oleh bangsa kulit 

putih di antara nama-nama lainnya, maka nama Brunei itu lalu 

digunakan untuk menyebut seluruh pulau, padahal para penduduk 

aslinya menyebutnya Pulo Klemantan. Tetapi nama Brunei itu, 

menurut pendengaran orang Portugis, menjadi Borneo. Oleh sebab  

itu, nama Borneo lalu menjadi nama seluruh pulau yang ber­ 

sangkutan hingga sekarang. Namun semenjak proklamasi negara 

negara kita  dan perasaan antikolonial meluap-luap, timbullah usaha 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 87 

untuk menggunakan kembali nama-nama asli. Demikianlah, nama 

Kalimantan timbul kembali sebagai nama pulau yang bersangkutan. 

Selama toponimi di N usantara belum mendapat perhatian 

sepenuhnya dalam dunia kesarjanaan, penjelasan tentang asal usul 

nama tempat masih tetap merupakan rabaan belaka. Demikian pula 

halnya dengan nama Kalimantan, yang diucapkan oleh para penduduk 

aslinya Klemantan. Beberapa pendapat mengenai Kalimantan: 

(I) Crowfurd, di dalam Descriptive Dictionary of the Indian Islands 

(1856), menulis bahwa pulau Borneo dinamakan oleh para 

penduduk aslinya Kalimantan. Kata itu yaitu  nama sejenis 

mangga. J adi, pulau Kalimantan berarti pulau mangga. Crawfurd 

menambahkan keterangan bahwa nama itu berbau dongeng dan 

tidak populer. 

(2) Dalam karangannya yang termuat dalam jurnal MB.R.A.S. vol. 

XV part 3 hlm. 79, Dr. B.Ch. Chhabra menunjukkan bahwa 

sudah menjadi kebiasaan bangsa India kuno untuk memberikan 

nama sebuah tempat sesuai dengan hasil bunyinya, seperti nama 

pulau Jawa. sebab  hasil bumi pulau tersebut terutama jewawut 

(Sanskerta: yawa), maka pulau tersebut diberi nama pulau /awa. 

berdasar  analogi itu, maka mungkin sekali nama Sanskerta­ 

nya Amra-dwipa, yakni Pulau Mangga. 

(3) C. Hose dan Mac Dougall menguraikan bahwa suku Pagan di 

Kalimantan terbagi atas enam golongan, yakni: I). Dayak Laut 

atau Iban; 2). Orang Kayan; 3). Dayak Kenya; 4). Klemantan; 

5). Murut; 6). Punan. Di sini, Klemantan yaitu  nama suku. 

Dalam karangannya, Natural Man, ad Recordftom Borneo (1926), 

C. Hose menjelaskan bahwa Klemantan yaitu  nama baru. Nama 

itu digunakan oleh bangsa Melayu untuk menyebut seluruh pulau. 

(4) Anehnya bahwa menurut W.H. Treacher dalam British Borneo 

dalam jurnal M.B.R.A.S. (1889), mangga liar tidak dikenal di 

Kalimantan Utara. Lagi pula, Borneo tidak pernah dikenal sebagai 

pulau yang menghasilkan mangga. Ia menambahkan catatan, 

88 Sriwijaya 

bahwa Kalimantan itu mungkin sekali berarti Sago Island (Pulau 

Sagu), sebab  lamantah yaitu  nama dalam bahasa asli untuk 

sago mentah, yang dijual kepada pabrik. Dengan kata lain, 

karangan itu membantah nama Kalimantan yang, menurut 

pendapat Crawford, diambil dari nama buah mangga. 

Barangkali kata Kalimantan itu juga bukan kata Melayu asli. 

Mungkin sekali kata tersebut yaitu  kata pinjaman seperti kata Ma­ 

laya dan Melayu sebagai nama di daerah yang bersangkutan. Kata­ 

kata tersebut terang berasal dari India. Mungkin sekali Kalimantan 

juga demikian. Saya kira, nama Klemantan berasal dari Sanskerta 

Kalamanthana, yakni pulau yang udaranya sangat panas, seakan­ 

akan membakar; (kalfa]: musim, waktu; manthan[a}: membakar; 

producing fire). sebab  vokal a pada kala, dan manthana menurut 

kebiasaan tidak diucapkan, maka kata Kalamanthana menjadi 

Kalmantan. Oleh penduduk asli, kata itu diucapkan Klemantan atau 

Quallamontan. Dari bentuk itu diturunkan kata Kalimantan. 

8. Tan-tan 

Di dalam bukunya, The Knowledge Possessed by the Ancient Chi­ 

nese of the Arabs, Bretschneider menyamakan Tan-tan dari berita 

Tionghoa dengan pulau Natuna. Demikian pulaJulien dalam Hiuen 

Thsang. Pendapat itu diterima oleh Takakusu. Hirt dan Rockhill dalam 

Chao-ju-kua juga melokalisasikannya di pulau Natuna. Gerini sangat 

ragu-ragu untuk melokalisasikannya. Tan-tan disamakannya dengan 

pulau Terketau dalam kumpulan Langkawi, atau dengan Tanjung 

Datu, atau dengan Panei di pantai timur Sumatra. Prof. Hs~-ts'iao 

meninjau sekali lagi persoalan Tan-tan dari pemberitaan I-ts'ing dalam 

karangannya yang berjudul Notes on Tan-tan dalam jurnal MB.R.A.S 

vol. XX part I hlm. 47 sampai 63. Segala berita Tionghoa mengenai 

Tan-tan dikumpulkannya, dan kebanyakan berita itu juga 

memberitakan Po-li. Beritanya seperti berikut: 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 89 

(1)Berita dari Liang Shu: 

Pada tahun kedua masa pemerintahan Chung Ta Tung (tahun 

530), raja Tan-tan mengirimkan utusan yang mempersembahkan 

ucapan muluk-muluk kepada kaisar. Kaisar disamakan dengan 

yang mahamurah, memerintah rakyatnya dengan ramah, 

kepercayaannya kepada Ratnatraya sangat tabah. Ajaran Budha 

benar-benar meresap dalam tingkah-lakunya. Itulah sebabnya 

maka pendeta Budha mengerumuni beliau; pelantikan pendeta 

Budha makin bertambah, semuanya hormat kepada beliau, yang 

kasih sayangnya meliputi segala umat, sehingga makhluk dari 

delapan jurusan dunia berkumpul. Betapa besar kekuasaan beliau 

untuk menaklukkan semua negeri-negeri tetangga hampir-hampir 

tidak terkatakan. 

Saya berharap mudah-mudahan beliau berkenan memandang saya 

dan memberi kesempatan kepada utusan saya untuk bertemu 

muka dengan beliau. Saya mohon agar beliau suka menerima 

hadiah saya yang serba remeh, berupa dua area gading, dua pa­ 

goda, sejumlah agnimani, kapas, dan minyak wangi. 

Pada tahun pertama masa pemerintahan Ya-tung (tahun 535), 

raja Tan-tan mengirim utusan lagi dengan membawa emas, perak, 

kaca, minyak wangi, rempah-rempah, dan pelbagai benda lainnya. 

(2)Berita dari Sui Shu, susunan Wei Cheng: 

Negeri P'o-li dapat dicapai dari Chiao-chih melalui Chih-tu dan 

Tan-tan. Dari timur ke barat jauhnya sepanjang empat bulan 

perjalanan, dari selatan ke utara 45 hari perjalanan. Adat-istiadat 

negeri Po-li sama dengan adat-istiadat negeri Kamboja. Hasil 

buminya sama dengan negeri Campa. Pada tahun kedua belas 

masa pemerintahan Ta-yih (tahun 616), negeri itu mengirim 

utusan ke Tiongkok untuk mempersembahkan upeti, namun 

pemberian itu tidak dilanjutkan. Di sebelah selatan P'o-li terletak 

negeri Tan-tan dan P'an-p'an. Dua negeri ini memberikan hasilnya 

sebagai upeti. Baik adat-istiadatnya maupun hasil buminya sama. 

90 Sriwijaya 

(3) Berita Hsin T'ang Shu: 

P'o-li terletak di sebelah tenggara Huang-wang (Campa), dapat 

dicapai dari Kocin-Cina melalui Chi-tu dan Tan-tan. Lehar dan 

panjangnya beberapa ribu li. Di situ banyak kudanya. Negeri itu 

juga disebut Mali. Di sebelah timurnya terletak negeri Lo-tha. 

( 4) Berita dari Nan Shih, susunan Li-yen-shu: 

Berita mengenai Tan-tan dikutip dari Liang Shu (lihat berita no. 1). 

(5) Berita dari Tung Tien, susunan Tu You: 

Berita tentang negeri Tan-tan kita kenal pada masa pemerintahan 

rajakula Sui. Letaknya di sebelah barat laut To-lo-mo dan di sebelah 

tenggara Chen-chow. Nama wangsa rajanya Sha-li. Namanya 

sendiri Shih-ling-chia. Ibu kotanya didiami oleh kurang lebih 

20.000 keluarga. 

Negeri itu dibagi dalam distrik dan provinsi untuk memudahkan 

jalannya administrasi dan pimpinan. Setiap hari, rajanya pagi dua 

jam dan petang dua jam di istana. Jumlah menterinya delapan, 

semuanya pendeta. Beliau bersaput bedak wangi, mengenakan 

mahkota terbuka bersabuk pita, pakaiannya berwarna awan pagi, 

sandalnya dibuat dari kulit; jika keluar tidak jauh, duduk di atas 

tandu; jika keluar jauh naik gajah. Dalam peperangan terompet 

dibunyikan, genderang dipukul, bendera dikibarkan. Hukum 

pidananya tidak pandang bulu. Barang siapa mencuri dikenakan 

hukuman mati. Hasilnya: emas, perak, kayu cendana, kayu sapan, 

dan pinang. J uga menghasilkan padi. Bina tang ternaknya: 

kambing, babi, ayam, angsa, itik, kijang, dan rusa. Di situ ada 

burung kocin dan merak. Buah-buahan dan rumput air: anggur, 

delima, labu, lugenaria vulgaris, ganggang, dan teratai. Sayur­ 

mayurnya: brambang, bawang, dan akar. 

( 6) Berita dari Hsin T'ang Shu, susunan Au Yang-hsiu: 

Tan-tan terletak di sebelah tenggara Ch~n-chow dan di sebelah 

barat To-lo-mo, terbagi atas distrik dan provinsi. Di negeri itu 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 91 

terdapat banyak kayu cendana. Nama wangsa rajanya Sha-li dan 

namanya sendiri Shih-ling-chia. Beliau menjalankan tugasnya 

setiap hari clan mempunyai delapan menteri. Beliau memakai 

minyak wangi, mengenakan mahkota dengan pelbagai bulu-bulu 

yang mahal-mahal. Dalam perjalanan dekat, beliau naik kereta, 

tetapi dalam perjalanan jauh, naik gajah. Dalam peperangan 

terompet dibunyikan clan genderang dipukul. Pencuri besar-kecil 

dihukum berat. 

Pada masa pemerintahan Chien-f~ng (666-667) dan Tsu-cheng 

(668-669), negeri itu mempersembahkan upeti hasilnya setem­ 

pat. Negeri Lo-yueh letaknya 5.000 li dari laut di sebelah utaranya 

Di sebelah barat daya berbatasan dengan Ko-ku-lo, menjadi pusat 

pertemuan para pedagang clan pusat lalu-lintas. Adat-istiadatnya 

sama dengan negara To-ho-po-ti (Dwarawati). Tiap tahun ada 

perahu dari negeri itu datang di Kanton, nakhodanya memberi 

laporan ke istana. 

(7)Berita dari Nan-hai-chi-kuei-nei-fa-chuan, karangan I-ts'ing: 

Tan-tan termasuk salah satu negeri laut Selatan yang memeluk 

agama Budha, clan disebut sesudah Ho-ling. 

(8)Berita dari Tung Chih, susunan Ch~ng-ts'iao: 

Beritanya dikutip dari T'ung Tien (lihat berita no. 5). 

(9) Berita dari masa pemerintahan dinasti Ch'ing: 

Tan-tan terletak di pantai laut sejauh 130 hentian di sebelah barat 

daya Amoy. Adat-istiadat, pakaian clan hasil buminya sama dengan 

Johar. Pelayaran dari Amoy ke Johar sejauh 180 hentian, ke 

Sangora clan Patani sejauh 150 hentian. Satu hentian kira-kira 60 

li. 

(10) Berita dari Ming Shih: 

Tan-tan dalam berita Ming Shih, menurut Pro£ Hsti, jelas sama 

dengan Kelantan. N ama Kelantan tidak disebut. 

99 Sriwijaya 

Prof. Hs~ menduga bahwa Tan-tan dari berita Ming Shih, yang 

jelas sama dengan Kelantan itu, disebabkan sebab  kecerobohan 

menulis. Kata "lan-tan" dijadikan "Tan-tan; Ke pada Kelantan, sebab  

tidak mendapat tekanan, diabaikan. 

berdasar  berita dari Liang-Shu, Tan-tan terletak di sebelah 

barat laut To-lo-mo. To-lo-mo yaitu  nama sungai di Trengganu; 

namanya sekarang ialah Telemong. Di sebelah barat laut Trengganu 

ialah Kelantan. Demikianlah, mungkin sekali Tan-tan itu nama dusun 

yang sekarang terletak sepuluh mil dari muara sungai Kelantan, antara 

lima atau enam mil dari kota Bharu. Nama dusun itu sekarang 

Tendong. Itulah kesimpulannya. 

9 P' ' P' ' . en-pen atau an-pan 

Jalan pelayaran India-Tiongkok ada dua macam, yakni 

mengarungi lautan Cina dan menyusur pantai. Negeri-negeri di laut 

Selatan yang disebut oleh I-ts'ing tentu banyak yang terletak di jalan 

pelayaran menyusur pantai. J alan pelayaran menyusur pantai melalui 

Teluk Siam dan pantai timur Malaya. Kita kumpulkan dahulu berita­ 

berita mengenai P'en-p'en: 

(1) 1-ts'ing menyebut P'en-p'en dalam rangkaian negeri-negeri di laut 

Selatan yang memeluk agama Budha, sesudah Tan-tan. 

(2) Di tempat lain, I-ts'ing menguraikan bahwaTan-yuen berangkat 

dari Chiao-chih (Tongkin), tetapi meninggal di P'an-pan, di 

sebelah utara Ho-ling. 

(3) Chiu T'ang Shu menguraikan bahwa P'an-P'an terletak di sebelah 

barat daya Lin-i (Campa), di sudut laut. Di sebelah utara terpisah 

oleh laut sempit dengan Lin-i. Dari Chiao-chou letaknya sejauh 

40 hari pelayaran. Negeri ini berbatasan dengan Langya-hsiu. 

(4)Negeri Tou-ho-lo (Dwarawati) di sebelah selatan berbatasan 

dengan Pan-p'an, di sebelah utara dengan Kia-lo-sheh-fu, di 

sebelah timur dengan Chen-la, dan di sebelah barat dengan laut 

besar. Dari Kanton letaknya sejauh lima bulan perjalanan. 

Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 93 

(5)Hsin T'ang Shu menyatakan bahwa di sebelah selatan P'an-p'an 

terletak Ko-lo, atau Ko-lo-fu-sha-lo. 

(6)T'ung Tien mengatakan bahwa Ko-lo atau Ko-lo-fu-shao-lo, 

menurut uraian dinasti Han, terletak di tenggara P'an-pan. 

Prof. G. Coed~s berpendapat bahwa Pan-p'an terletak di 

Semenanjung, di pantai Teluk Siam. Lokalisasinya tidak dinyatakan 

dengan tegas. Dr. Quaritch Wales mengira bahwa Wieng Sra yaitu  

pusat pertama negeri P'an-pan. Prof Hs~ sampai kepada kesimpulan 

bahwa P'an-p'an sama dengan Pran-puri (Pranpun), sebab  menurut 

beria Shui Shu, Tu-ho-lo di sebelah selatan berbatasan dengan P'an­ 

p'an. Pernyataan bahwa Ko-lo terletak di sebelah selatan P'an-pan, 

sebab nya, hams ditafsirkan "di tenggara''. Demikianlah, pendapat 

para sarjana sejarah tentang P'an-p'an. Kiranya di antara pendapat­ 

pendapat itu pendapat Prof. Hs~ yang paling konkret dan mendekati 

kebenaran. 

10. Fo-shih-pu-lo 

Sesudah Ku-lun, pendeta I-ts'ing menyebut Fo-shih-pu-lo. Ku­ 

lun yaitu  pulau Kondor, terletak di laut Cina, di muka Vietnam. 

Demikianlah, Fo-shih-pu-lo harus dicari di pantai timur Vietnam. 

Takakusu mencarinya di pulau Jawa dan menyamakannya 

dengan Bojonegoro di sebelah barat kota Surabaya, sebab  Fo-shih­ 

pu-lo dikira transkripsi Tionghoa dari Bhojapura. Sejalan dengan 

Shih-li-fo-shih sebagai transkripsi dari Sribhoya menurut va