da
tahun 685. Tidak perlu diragukan bahwa Mo-lo-yeu yaitu
transkripsi Tionghoa dari nama Malayu atau Melayu. Sebelum
menetapkan letak dua tempat tersebut, ada baiknya mengumpulkan
berita-berita mengenai kerajaan Melayu lebih dahulu, yang kiranya
berguna untuk memecahkan persoalannya.
(1) Berita yang tertua mengenai kerajaan Melayu berasal dari
T'ang-hui-yao, yang disusun oleh Wang P'u pada tahun 961 pada
masa pemerintahan dinasti T'ang, dan dari Hs'in T'ang Shu, yang
disusun pada awal abad ke-7 pada masa pemerintahan dinasti Sung
atas dasar sejarah lama yang terdiri dari T'ang-hui-yao seperti tersebut
di atas, dan Te-fu-yuan-kuei, susunan Wang-ch'in-yo dan Yang I
antara tahun 1005 dan 1013. Menurut berita itu, kerajaan Melayu
mengirim utusan ke Tiongkok pada tahun 644/645. Pengiriman
utusan ke Tiongkok oleh kerajaan Melayu pada abad ke-7 hanya
tercatat satu kali saja. Selama itu, yang tampak di istana kaisar utusan
dari kerajaan Sriwijaya yang disebut Shi-li-fo-shih atau Fo-shih saja.
Sebab-musabab kejadian itu baru dapat dipahami, setelah I-tsing
menulis bukunya, Memoire dan Record, yang menyatakan bahwa
kerajaan Melayu telah menjadi bagian kerajaan Sriwijaya. Tiap kali
ia menyebut nama Melayu, selalu dibubuhi keterangan " ... yang
sekarang telah masuk (menjadi bagian) kerajaan Sriwijaya'.
(2) Dalam perjalanannya ke India, I-ts'ing singgah di Fo-shih.
Ia menyebut negeri Melayu demikian: "Sang raja memberi bantuan
kepada saya dan mengirim saya ke negeri Melayu, yang sekarang
menjadi bagian kerajaan Sriwijaya. Saya tinggal di situ dua bulan,
kemudian berangkat dari situ menuju Ka-cha."
(3) Waktu I-ts'ing menguraikan negara-negara di laut Selatan,
yang penduduknya umumnya memeluk agama Budha, terutama
aliran Hinayana, ia menyebut juga kerajaan Melayu, sebagai
69 Sriwijaya
kekecualian. Terhitung dari barat: negeri Pu-lu-shih, lalu negeri Mo
lo-yeu, yang sekarang termasuk kerajaan Shih-li-fo-shih, negeri Mo
ho-sin, negeri Holing, negeri Tan-tan, negeri Pem-pen, negeri P'o-li,
negeri Ku-lun, negeri Fo-shih-pu-lo, negeri O-shan, dan negeri Mo
chia-man. Masih ada lagi beberapa negeri kecil-kecil yang tidak
disebut di sini.
Dalam uraiannya mengenai negeri-negeri di laut Selatan, I-ts'ing
menggunakan kata chou, yang dapat berarti "pulau atau "negara"
( tanah daratan). Satu kali ia menggunakan kata Chin-chou untuk
menunjukkan pulau Sumatra, yakni waktu ia menceriterakan
perjalanannya dengan Tao-hong dari Kwang-tung ke Chin-chou dan
sampai di Fo-shih. Chin-chou yaitu terjemahan nama Suwarnadwipa:
Pulau Emas. Nyata sekali bahwa pada zaman I-ts'ing, nama
Suwarnadwipa itu sudah dikenal. Yang disebut Suwarnadwipa yaitu
terutama negeri Melayu, seperti akan kita kenal nanti pada piagam
Adityawarman dan Kertanagara.
(4) Waktu I-ts'ing menguraikan pendeta Wu-hing, yang dalam
perjalanannya ke India juga singgah di Sriwijaya, ia pun menyebut
nama kerajaan Melayu, namun tanpa dibubuhi keterangan apa-apa:
"Sesudah berlayar satu bulan lamanya, Wu-hing sampai di Shih-li
fo-shih. Sang raja menerimanya dengan baik dan menghormatinya
sebagai tamu yang datang dari negara putra dewata, T'ang Agung.
Ia menumpang perahu raja menuju negeri Mo-lo-yeu. Setelah
berlayar 15 hari lamanya, ia sampai di sana. 15 hari lagi ia sampai
Ka-cha. Pada akhir musim dingin, ia berganti kapal dan berlayar ke
arah barat. Sesudah 30 hari ia sampai di N agapatana. Dari sini ia
berlayar lagi menuju pulau Simhala. Ia sampai di sana 20 hari
kemudian."
(5) Chang-min berlayar dengan kapal yang panjangnya 200
kaki dan dapat membawa penumpang antara 600 sampai 700 or
ang. Ia menuju negeri Ho-ling. Dari sini ia menumpang perahu ke
negeri Mo-lo-yeu dengan maksud meneruskan perjalanannya ke In
dia. Tetapi kapal itu terlalu berat muatannya; kapal karam tidak jauh
dari pangkalan. Chang-min tenggelam.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 63
Yang penting untuk tujuan kita dalam pasal ini ialah
menetapkan di mana kiranya letak pelabuhan Melayu, tempat
singgah I-ts'ing, Wu-hing, dan pendeta Tiongkok menuju India dan
kebalikannya. Berita Arab yang berasal dari Dimaski kurang lebih
tahun 1325 terang tidak benar.
Dimaski berkata bahwa di negara Kalah, yang panjangnya 800
mil dan lebarnya 350 mil, terdapat kota Fansur, Jawa, Malayur, Lawri,
dan Kalah. Kedah terletak di pantai seberang utara, dan Melayu
terletak di pantai seberang selatan Selat Malaka, yang oleh orang
Arab, di antaranya oleh Ya'kubi, disebut Salahat atau Salahit. Para
ahli sejarah menyatukan pelabuhan dan pusat kerajaan Melayu di
satu tempat, yakni di Jambi. 1-ts'ing dengan jelas menunjukkan
bahwa arah pelayaran dari Kedah ke negeri Melayu ialah ke selatan
dalam waktu sebulan. Uraian itu ditambah dengan keterangan, bahwa
negeri Melayu itu sekarang menjadi bagian Sriwijaya. lni tidak berarti
pelabuhan Melayu itu lalu menjadi pelabuhan Sriwijaya. Bagai
manapun, kedua pelabuhan itu masih terpisah, sebab baik I-ts'ing
maupun Wu-hing menumpang perahu raja dari Fo-shih ke Mo-lo
yeu. Hingga sekarang, pendapat Dr. Rouffaer, bahwa pusat kerajaan
Melayu ialah Jambi, diterima seluruhnya oleh para ahli sejarah,
namun tidak ada buruknya meneliti kembali pendapat yang sudah
teradat itu.
Penetapan geografi sejarah kuno memang perlu ditinjau lagi.
Banyak hal-hal yang tidak memuaskan. Banyak nama-nama tempat
yang disebut oleh 1-ts'ing dan berita-berita Tionghoa lainnya belum
terpecahkan. Beberapa yang sudah ditetapkan geografinya perlu
diteliti lagi. Yang memang sudah benar, sebab nya, menjadi lebih
tegak dan teguh; yang masih goyah memperoleh orientasi barn.
Bukanlah syarat mutlak bahwa pusat kerajaan itu terletak di
tepi pantai. Contoh pusat kerajaan yang terdapat di pedalaman, baik
zaman dahulu maupun zaman sekarang, banyak sekali. Penyatuan
pusat kerajaan dan pelabuhan di satu tempat pun bukan syarat mutlak.
Pusat kerajaan Majapahit terletak di pedalaman; pelabuhannya,
64 Sriwijaya
Canggu, terletak di tepi sungai. Pelabuhan yang terdapat di pantai
ialah Tuban dan Jung Galuh. Ini hanya salah satu contoh saja dari
sejarah kuno.
Pada zaman Adityawarman, pusat kerajaan Melayu sudah terang
terpisah dengan pelabuhannya. Pada zaman Sriwijaya, pusat kerajaan
Melayu digantikan oleh pusat kerajaan Sriwijaya. Pelabuhannya masih
tetap digunakan, justru untuk menguasai lalu-lintas kapal-kapal di
Selat Malaka. Dengan penguasaan atas pelabuhan Melahyu itu,
Sriwijaya berhasil menjadi negara penting di Asia Tenggara yang
menguasai pula lalu-lintas kapal-kapal di Selat Malaka. Penguasaan
selat Malaka menjadi perebutan antara Sriwijaya dan Melayu. Dari
piagam Tanyore yang dikeluarkan pada tahun 1030, kita tahu bahwa
benteng kerajaan Melayu tidak terletak di pantai laut, tetapi di atas
bukit. Pusat kerajaan Melayu, sebab nya, tidak mungkin terletak di
pantau laut atau di kota J ambi; tidak mungkin disatukan dengan
pelabuhan Melayu.
Orang berlayar ten tu memilih jalan yang menguntungkan. J alan
yang menguntungkan biasanya jalan yang pendek. Jika yang berlayar
yaitu perahu dagang, perahu itu akan mencari jalan pendek dan
tempat-tempat yang dapat disinggahi untuk keperluan dagang. I
ts' ing dengan tegas menyatakan bahwa pelayaran dari India ke
Tiongkok kebanyakan dilakukan melalui pelabuhan Kedah dan
Melayu.
Di Melayu, para penumpang menunggu sampai pertengahan
musim panas, kemudian terns berlayar ke utara menuju Kanton.
Pelayaran dari India ke Tiongkok tidak melalui Fo-shih. Ini berarti
bahwa pelabuhan Fo-shih dalam pelayaran India ke Tiongkok dan
kebalikannya tersisih. Justru oleh sebab itu, Sriwijaya yang sedang
berkembang berusaha menundukkan kerajaan Melayu dan merebut
pelabuhan Melayu demi penguasaan lalu-lintas kapal-kapal di Selat
Malaka. Itulah sebabnya maka pada pemberitaannya, I-ts'ing selalu
menambahkan keterangan, bahwa negeri Melayu itu sekarang sudah
menjadi bagian Sriwijaya. Pada tahun 671, ketika I-ts'ing berkunjung
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 65
untuk pertama kalinya di Sriwijaya, ia masih menyaksikan sendiri
bahwa kerajaan Melayu itu masih merdeka terhadap Sriwijaya.
Namun, 15 tahun kemudian, ketika ia pulang dari Nalanda menuju
Sriwijaya, dilihatnya bahwa sudah ada perubahan ketatanegaraan
dalam kerajaan Sriwijaya. Negeri Melayu telah menjadi bagian
Sriwijaya.
Untuk menetapkan di mana letak pelabuhan Melayu, masih
diperlukan keterangan lebih lanjut. Letak pelabuhan Melayu dan
pelabuhan Sriwijaya atau Mo-lo-yeu dan Shih-li-fo-shih, hingga
sekarang masih merupakan teka-teki. Oleh sebab itu, persoalan letak
Mo-lo-yeu dan Shih-li-fo-shih dibahas bersama. Dengan kata lain,
persoalan geografi Mo-lo-yeu dilanjutkan dalam bah "Shih-li-fo-shih".
4. Shih-li-fo-shih
Suatu hal lagi kiranya penting untuk penetapan letak pelabuhan
Melayu, ialah uraian I-ts'ing tentang negeri-negeri di laut Selatan
yang memeluk agama Budha. Dalam urutan dari barat, ia menyebut:
P'o-lu-shih, Mo-lo-yeu, yang sekarang menjadi bagian kerajaan Shih
li-fo-shih, Mo-ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pen, Po-li, Ku-lun,
Fo-shih-pu-lo, A-shan, dan Mo-chia-man. Masih ada beberapa pulau
kecil-kecil lagi yang tidak disebut di sini.
Uraian dari barat pada I-ts'ing ini kiranya harus ditafsirkan
menurut perjalanan dari India ke Tiongkok melalui laut. Tidak dari
barat berturut-turut ke timur menurut kiblat semata-mata. Kiranya,
yang dimaksud dengan negeri-negeri di laut Selatan yang memeluk
agama Budha yaitu negeri-negeri yang terdapat di perjalanan dari
India ke Tiongkok, mulai dengan Po-lu-shih. Negeri-negeri lainnya
yang letaknya di sebelah timur, seperti Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi
dan sebagainya, masih sangat disangsikan, sebab I-ts'ing tidak pernah
mengunjungi tempat-tempat tersebut. Kiranya, juga perlu mendapat
perhatian bahwa penyebutan itu didasarkan atas pelabuhan yang
pernah disinggahi atau diketahuinya. Ini yaitu hal yang termakan
66 Sriwijaya
akal. Nama-nama yang tersebut di atas, kebanyakan, belum mendapat
pemecahan yang memuaskan. Kita mulai dengan P'o-lu-shih.
(I) Dalam urutan negeri-negeri di laut Selatan yang memeluk
agama Budha, I-ts'ing menyebut P'o-lu-shih sebagai negeri yang
terletak di ujung barat. Sesudah P'o-lu-shih, baru menyusul Mo
lo-yeu. Dengan kata lain, negeri Po-lu-shih terletak di sebelah barat
negeri Melayu.
Di tempat lain, I-ts'ing juga memberitakan negeri P'o-lu-shih
berkenaan dengan pendeta Korea, yang setibanya di P'o-lu-shih jatuh
sakit. P' o-lu-shih terletak di sebelah barat Shih-li-fo-shih. Prof.
Chavannes menyamakan P'o-lu-shih ini dengan Lang-po-lou-se dari
sejarah Tang. Lang-po-lou-se terdapat di sebelah barat Shih-li-fo
shih. Baik Prof. Chavannes maupun Takakusu melokalisasikannya
dengan Perlak. Ptolomeus menyebut Argyrie Chora: pulau perak;
Chryse Chora: pulau emas, dan Chrys~ Cherson~sos: jazirah emas.
Negeri-negeri tersebut dilokalisasikannya di daratan Asia Tenggara.
Sesudah itu ia menyebut lima pulau Barusai dan tiga Sabadeibai,
yang didiami oleh orang-orang yang makan daging manusia. Barusai
dari berita Ptolomeus itu kiranya sama saja dengan Po-lu-shih dari
berita I-ts'ing. Prof. Kern menyamakannya dengan Barus atau Baros
yang terletak di pantai barat Sumatra di daerah Tapanuli, pada garis
2° 98' L.U. Demikianlah, Barus pada abad ke-7 menguasai Sumatra
Utara sampai pantai timurnya. Wilayahnya disebut dengan nama
ibu kotanya. Hal yang demikian biasa dalam sejarah.
(2) Dalam perjalananya pulang dari Nalanda, I-ts'ing meng
uraikan bahwa ia berangkat dari Tan-mo-lo-ti ke arah timur menuju
Kacha. Singgah di sini sampai musim dingin. Dengan menumpang
perahu raja, ia berangkat dari Ka-cha menuju Mo-lo-yeu, yang
sekarang menjadi bagian Fo-shih. Pelayaran itu makan waktu sebulan.
Umumnya perahu tiba di pelabuhan Mo-lo-yeu pada bulan pertama
atau bulan kedua. Tinggal di situ sampai pertengahan musim panas.
Lalu berangkat ke utara menuju Kwang-tung. Lebih kurang sebulan
kemudian, sampai di tempat tujuan.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 67
(3) sebab I-ts'ing juga menceriterakan bahwa pendeta Wu
hing berlayar dengan perahu raja dari Fo-shih ke negeri Mo-lo-yeu
selama 15 hari, maka penyamaan pelabuhan Mo-lo-yeu dengan
pelabuhan Fo-shih tidak mungkin.
(4) Satu hal lagi yang harus mendapat perhatian ialah bahwa di
pelabuhan Melayu ini, perahu berlayar ke utara menuju Tiongkok
tanpa singgah di Fo-shih. Dengan kata lain, pelabuhan Melayu
merupakan tempat berlabuh perahu-perahu dari Selat Malaka yang
akan menuju Tiongkok sambil menunggu datangnya angin barat
daya. Kebalikannya, perahu-perahu dari laut Cina yang akan berlayar
melalui Selat Malaka menuju India clan negeri barat lainnya singgah
di pelabuhan Melayu, sambil menunggu tibanya musim angin timur
laut. Ditinjau dari segi perdagangan clan kesibukan lalu-lintas, letak
pelabuhan Melayu lebih menguntungkan daripada pelabuhan Fo
shih atau Sriwijaya.
(5) Pelayaran I-ts'ing pada tahun 671 dari Kwang-tung ke Fo
shih, mengarungi laut Cina, hanya makan waktu 20 hari. J alan yang
ditempuhnya berbeda dengan pelayarannya yang kedua pada tahun
689, dari Kwang-tung kembali ke Fo-shih. Pada pelayarannya yang
kedua ini, I-ts'ing menyusur pantai. Dalam perjalanan yang pertama,
I-ts'ing langsung menuju Fo-shih, mengarungi lautan besar, kemudian
berangkat ke Mo-lo-yeu, terus ke India. Ini berarti bahwa pelabuhan
Mo-lo-yeu terletak di sebelah barat Fo-shih, atau paling sedikit dalam
perjalanan Fo-shih--India.
(6) berdasar tinjauan geomorfologi, Drs. Sukmono menge
mukakan pendapat, bahwa satu-satunya tem pat yang letaknya sangat
ideal untuk menguasai pelayaran di Selat Malaka clan laut Selatan
ialah Jambi. Ia beranggapan bahwa Jambi yaitu pusat kerajaan
Sriwijaya. Justru sebab letak Jambi yang sangat ideal itulah, maka
kiranya Jambi sesuai benar dengan uraian I-ts'ing mengenai
kedudukan pelabuhan Melayu. Letak pelabuhan Sriwijaya tidak
sebagus pelabuhan Melayu. Demikianlah, pada hakikatnya hasil
penyelidikan Drs. Sukmono malah memperkuat pendapat, bahwa
68 Sriwijaya
J ambi yaitu pelabuhan Melayu, sedangkan ia bermaksud untuk
menetapkan J ambi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya.
(7) Arca Amoghapa~a, hadiah raja Kertanagara pada tahun 1286,
sebelas tahun sesudah keberangkatan tentara Singasari ke negeri
Melayu, ditempatkan di Dharmma~raya. Arca tersebut diangkut dari
Jawa ke Suwarnabhumi untuk dihadiahkan kepada grimat Tribu
wanaraja Mauliwarmmadewa. Arca itu terdapat di Padang Roco dekat
sungai Langsat di distrik Batanghari. Nama Langsat juga tersebut
pada piagam Aditityawarman, di mana juga terdapat nama Mala
yapura.
Demikianlah, pusat kerajaan Melayu letaknya harus di sebelah
selatan kota Jambi, terpisah dari pelabuhannya. Pelabuhan Melayu
terletak pada muara sungai Batanghari, di kota J ambi yang sekarang.
Mengenai lokalisasi pusat kerajaan Melayu ini, akan diberi
pembahasan yang lebih mendalam.
(8) sebab letak pelabuhan Melayu sudah dapat dipastikan di
muara sungai Batanghari, di kota J ambi sekarang, maka identifikasi
Fo-shih dengan muara sungai Musi di Palembang termakan akal,
tidak perlu diragukan. Perjalanan dari Fo-shih ke pelabuhan Melayu,
menurut I-ts'ing, makan waktu 15 hari.
Jika kita memerhatikan perjalanan Dapunta Hyang dari Sriwijaya
ke Minanga Tamwa, yakni Muara Tebo, yang letaknya di sebelah
selatan kota J ambi, maka perjalanan itu makan waktu kurang dari
26 hari. Hal ini diberitakan pad piagam Kedukan Bukit. Berapa hari
lamanya Dapunta Hyang singgah di Minanga Tamwa, tidak
dinyatakan. Demikianlah, berita I-ts'ing mengenai jarak antara Fo
shih clan pelabuhan Melayu sesuai dengan berita pada piagam
Kedukan Bukit tentang pelayaran Dapunta Hyang dari Sriwijaya ke
Minanga Tamwa, alias Muara Tebo.
(9) sebab perjalanan Wu-hing dan I-ts'ing dari Fo-shih ke In
dia melalui pelabuhan Melayu, maka letak Fo-shih harus di sebelah
tenggara pelabuhan Melayu; tidak mungkin ada di sebelah baratnya.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 69
Satu-satunya pelabuhan di sebelah tenggara J ambi yaitu muara
sungai Musi. Demikianlah, Fo-shih harus terletak di muara sungai
Musi. Nama Palembang pada zaman I-ts'ing belum dikenal.
(1 O) Sriwijaya terletak di tepi sungai. Menurut berita Record,
Sriwijaya terletak di tepi sungai. Nama sungainya sama dengan nama
kerajaannya. Dalam bahasa Tionghoa, baik nama kerajaannya maupun
nama sungainya ialah Fo-shih, singkatan dari Shih-li-fo-shih.
Beritanya demikian: Pada tanggal 20 dan 7 tahun pertama peme
rintahan Yung-chang (689), ia sampai di Kwang-tung kembali.
Pelayaran-kembali itu tidak direncanakan lebih dahulu. Semula, ia
datang di sungai Fo-shih titip surat rahasia ke Kwang-tung untuk
minta kiriman kue-kue, kertas dan tinta, guna menurun naskah
naskah Sanskerta dan sebagai upah kerja tulis. Namun, pada waktu
itu tiba angin baik. Oleh sebab itu, layar-layar segera dipasang. I
ts'ing ikut terbawa. Ia tidak bermaksud akan pulang.
(11) Letak Sriwijaya. Letak Sriwijaya diberitakan oleh I-ts'ing
dengan panjang bayang-bayang orang yang berdiri di bawah
matahari. Katanya: "Di negeri Shih-li-fo-shih, kita lihat bahwa
bayang-bayang di welacakra tidak menjadi panjang atau menjadi
pendek pada pertengahan bulan delapan. Pada tengah hari, tak tampak
bayang-bayang orang yang berdiri di bawah matahari. Lain halnya
kalau musim semi. Matahari tepat di atas kepala dua kali satu tahun.
Kalau matahari di sebelah selatan, bayang-bayang membujur ke utara;
panjangnya lebih kurang dua atau tiga kaki. Kalau matahari di sebelah
utara, bayang-bayangnya sama, tetapi jatuh ke selatan. Dari berita
itu dapat ditarik kesimpulan bahwa Shih-li-fo-shih terleak di sebelah
garis khatulistiwa.
Dari segala berita yang telah dikumpulkan di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa Sriwijaya terletak di tepi sungai, di sebelah
tenggara (timur) pelabuhan Melayu (Jambi), di sekitar garis
khatulistiwa. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat-syarat
tersebut ialah muara sungai Musi di daerah Palembang. Tempat itu
terletak pada garis 30° 104 L.S. Pada zaman I-ts'ing, nama Palembang
70 Sriwijaya
belum dikenal sebagai nama tempat di muara sungai Musi. Juga,
nama Musi belum dikenal sebagai nama sungai. Baik nama sungainya
maupun nama kota dan kerajaannya disebut Fo-shih atau Sriwijaya.
5. Mo-ho-sin
Sesudah negeri Mo-lo-yeu, 1-ts'ing menyebut Mo-ho-sin.
Hingga sekarang, lokalisasi Mo-ho-sin masih bersimpang siur. Terang
sekali bahwa negeri-negeri yang disebut oleh I-ts'ing sebagai negara
Budha ialah negara-negara yang terletak di jalan pelayaran lndia
Tiongkok.
Yang agak mencolok ialah bahwa di antara negara-negara di
laut Selatan itu, tidak ada satu pun yang menurut tafsiran para sarjana
terletak di daerah Semenanjung Melayu. Padahal, Semenanjung
Melayu jelas terletak di laut Selatan, berhadapan dengan negeri
Melayu di pantai timur Sumatra, dan jelas terletak di jalan pelayaran
lndia-Tiongkok. Suatu kemustahilan, bahwa pengaruh agama Budha
tidak terdapat di Semenanjung.
Dari hasil penyelidikan prasejarah Malaya, yang disusun oleh
Tweedie, nyata sekali akan adanya agama Budha di Semenjung
Melayu. Bahkan area Budha dari abad ke-5 terdapat juga di Kedah.
I-ts'ing pasti mengetahui tentang adanya agama Budha di jazirah
Melayu. Lagi pula, Semenanjung Melayu termasuk daerah yang besar.
I-ts'ing menambahkan pada uraiannya sebuah keterangan, yang
kelihatannya tidak penting, tetapi berguna untuk tujuan kita, yakni:
masih ada beberapa pulau kecil-kecil lagi yang tidak disebut di sini.
Di antara pulau-pulau itu, pasti Semenanjung tidak termasuk, sebab
Semenanjung yaitu negara yang terhitung besar. Oleh sebab itu,
saya berpendapat bahwa Semenanjung itu juga disebut dalam
rangkaian negara Budha oleh I-ts'ing. Hanya saja namanya bukan
Semenanjung. Catatan ini boleh dianggap penting, sebab hal ini
mengubah tafsiran para sarjana mengenai nama salah satu negara
yang disebut oleh I-ts'ing. Nama yang saya maksudkan ialah Mo
ho-sin.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 71
berdasar keserupaan bunyi, Takakusu menduga bahwa Mo
ho-sin sama dengan Mahasin atau Masin. Nama itu lalu disamakan
dengan Banjarmasin di muara sungai Barito di Kalimantan Selatan.
Tetapi di dalam lampiran peta, ia menyebut dengan sangat hati-hati
pulau Biliton sebagai Mahasin, dan Banjarmasin diikuti tanda tanya.
Dr. Rouffaer menyamakan Mo-ho-sin dengan Hasin, yang
terdapat pada piagam Airlangga dan harus dicari di luar J awa;
mungkin sekali T umasik. Pendapat Rouffaer ini timbul, sebab ia
menerjemahkan nama-nama yang dijumpainya pada piagam
Airlangga. Seperti Wura-wari diterjemahkan dengan "klaar water,
air jernih; sama dengan Ganggayu dalam Sejarah Melayu. Ganggayu
ini terdapat di Semenanjung. Lawaran diterjemahkan dengan "lief
water', air cantik; disamakan dengan Langka atau Langkasuka, yang
dikatakannya Johor Lama; Galuh diterjemahkannya dengan
"manikam; manikam yaitu Johor, sebab Johor berasal dari Jauhar,
manikam. Dengan sendirinya pendapat Rouffaer ini mendapat
sambutan sajana Inggris Winstedt dalam bukunya, History of ]ohore.
Winstedt lebih percaya kepada Krom daripada kepada Rouffaer.
Krom bersikap sangat hati-hati terhadap teori Roffaer yang sangat
berani. Ia mencari Hasin dan Galuh di Jawa Timur. Bagaimanapun,
Mo-ho-sin I-tsing berbeda dengan Hasin pada piagam Airlangga
yang dipersoalkan di atas. Mengenai Mo-ho-sin ini, Krom tidak
mengeluarkan sesuatu pendapat, kecuali mengemukakan pendapat
Rouffaer. Ia membenarkan usaha untuk mencari Mo-ho-sin di
Semenanjung Melayu, sebab Semenanjung tidak disebut oleh I
ts'ing.
Prof. Dr. Poerbatjaraka membicarakan Mo-ho-sin dalam
bukunya, Riwayat negara kita I. Pendapatnya secara lengkap seperti
berikut:
1. Menurut pendapat kami sendiri, dugaan bahwa Mo-ho-sin
terletak di Semenanjung itu kurang benar. Sebab, di atas sudah
dikatakan bahwa kekuatan Sriwijaya telah menduduki tanah Si
Menanjung (Malaka). Jadi, bila di Si Menanjung masih ada
79 Sriwijaya
kerajaan, bagaimanapun juga kerajaan itu sudah tidak berarti,
sebab sudah ada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Oleh sebab itu,
I-ts'ing tidak menyebut salah satu kerajaan di Malaka.
2. Dengan dugaan yang terbelakang ini, maka letak Mo-ho-sin itu
dapat diduga ialah di Pulau J awa, sebab menilik tern pat yang
disebut oleh I-ts'ing di antara Sriwijaya dengan Ho-ling (Jawa).
Jadi, di sebelah barat Ho-ling; barangkali di Pasundan. Adapun
alasan bagi dugaan ini agak panjang dan kami terangkan seperti
di bawah ini.
3. Di dalam tulisan yang dimuat di Bijdragen voor de Taal Landen
Volenkunde, tahun 1921, muka 72 seterusnya, Dr. Rouffaer
menyamakan Mo-ho-sin dengan Hasin, dan lain-lainnya ialah
Singapura. Di sini kami katakan dengan hormat kepada Dr.
Rouffaer, bahwa ceriteranya itu sebagian besar hanya petai-hampa
saja.
4. Di dalam T.B.G. jilid 19 tahun 1870 muka 393, Dr. Van der
Tuuk menulis seperti berikut: "Di dalam piagam dari Banten,
selalu saya dapati perkataan Wong encik buat menamakan orang
Melayu. Perkataan ini sangat menarik perhatian kami, sebab
membuktikan bahwa perkataan Wong Melayu di masa itu ialah
nama nistaan, nama penghinaan. Bangsa lain yang datang
berperahu, di dalam piagam itu, juga dinamakan wong asin. Mula
mula kami kira bahwa kata Melayu asing; akan tetapi sering kali
kami jumpai kata itu selalu ditulis dengan n saja. Oleh sebab
itu, kami berpendapat bahwa kata itu asal dari asin. Di dalam
piagam yang lebih muda ... kami berjumpa dengan perkataan
wong]aketra, dan di dalamnya piagam-piagam lainnya selalu wong
]ayakerta . . ".
5. Sekian tulisan Dr. Van derTuuk yang kami ambil. Biarpun tidak
dikatakan dengan banyak perkataan, akan tetapi menilik tulisan
Van der Tuuk yang sekonyong-konyong mengganti perkataan wong
* Petai-hampa = bualan atau among kosong (ed.)
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 73
asin di dalam piagam yang tua dengan wong Jayakerta di dalam
piagam yang lebih muda, maka boleh diduga bahwa wong asin di
sini maksudnya semata-mata sama dengan wong w~tan, yakni
orang timor. Oleh sebab itu, tanah di daerah atau tempat yang
bernama asin seharusnya dicari di Tanah Jawa, yang letaknya ke
timur daripada Banten.
Di dalam tembaga tulis yang berangka tahun 872 <;aka ,
terdapat di daerah Klaten Surakarta, ada tersebut ramani hasin. Kata
Hasin di sini terang nama suatu tempat.
Ada lagi nama Hasin, yakni yang tersebut di dalam batu tulis,
O.].O. no. IX (muka 128-129). Jikalau dihilangkan ialah seperti
berikut: Angka tahun 956 <;aka, bulan, hari, dan seterusnya rik~
diwacany@jna cri mah~rja ... (Airlangga) ... Tinadah rakry~n
mah~mantri ... (nama segenap menteri besar) kumonak~n ikanang
karam~n ring baru makabehan padamlakna sang hyang ~jfa haji tamra
pracasti tinanda garudamuka kmitanaya sambandha ri panghin~p
p~duka cri mah~raja i rikanang th~ni ring baru maprayojana i rikang
r~tri ri sdangany@njaya~atwa cri mah~r~ja ring samara kumawacn
musuhira ikana i hasin at~h~r tumunggalakna ikanang prtiw~mandala
an s~m~ p~rnnahanikanang th~ni ring baru dening r~ma ring baru
makabehan.
Artinya: "Angka tahun 956 (aka, bulan, hari dan seterusnya
itulah harinya perintah ~ri maharaja (Airlangga) diterima ( oleh) yang
terhormat (para) menteri besar ... (nama segenap menteri besar)
menyuruh supaya sekalian penduduk di desa Baru dibuatkan surat
kekancingan di atas logam yang, menurut perintah mulia c;ri baginda,
ditandai dengan muka garuda, supaya menjadi pegangan dan dirawat
( oleh sekalian penduduk di desa Baru), lantaran ketika c;ri baginda
menginap di desa Baru, di masa perangnya dan dapat menguasai
musuhnya di masa itu di Hasin, selanjutnya menyatukan sekitar
tanah (Jawa), maka desa Baru dijadikan desa merdeka bagi sekalian
penduduk di desa Baru."
74 Sriwijaya
Inilah pokok isi batu-tulis itu yang penting-penting.
Selanjutnya, tertangkaplah raj a di Hasin, lalu dibunuhnya. Barangkali
sudah sangat terang bahwa kerajaan Hasin itu letaknya di tanah J awa.
Dan oleh sebab itu, tahu bahwa kerajaan maharaja Airlangga itu di
tanah Jawa Timur. Tentu saja, kerajaan Hasin itu letaknya di Tanah
Jawa sebelah barat, baik masih di dalam bagian tanah Jawa Tengah
maupun di tanah Pasundan. Sebab, jikalau Hasin itu dianggap
terletak di luar tanah J awa, perkataan "menyatukan sekitar tanah" yang
kami tambah dengan "Jaw itu agak susah diartikan.
Di atas, telah kami katakan bahwa Rouffaer menyamakan Mo
ho-sin dengan Masin, lalu disamakan dengan yang sekarang menjadi
Singapura. Pertanyaan: Apakah maharaja Airlangga yang hendak
menyerang musuhnya di Singapura bermalam di desa Baru? Apakah
harapan beliau menjadikan merdeka desa Baru itu hanya mendoakan
dari jauh saja untuk kemenangannya di dalam perang di Singapura?
Hal itu suatu hal yang sangat mustahil. Apalagi, kalau kita ingat
kata "menyatukan sekitar tanah (Jawa)', negeri Hasin itu tidak boleh
tidak tentu terletak di pulau J awa.
Masih ada lagi nama Hasin yang terdapat dalam riwayat J awa,
yakni di dalam buku Pararaton (cetakan kedua muka 20, terjemahan
muka 63). Dikatakan bahwa permaisuri raja Dangdang Gendis di
Kediri, yang dikalahkan oleh Ken Angrok, ialah Dewi Amisani, Dewi
Hasin, dan Dewi Paja.
Tentang nama yang kedua itu, Dr. Brandes yang mengerjakan
buku Pararaton dengan teliti sekali, sepatah kata pun tidak memberi
keterangan. Menurut perasaan kami, istri sang Dangdang Gendis
yang tiga orang itu ialah istri lantaran perkawinan politik. Yang
pertama istri asal dari negerinya sendiri; yang kedua dari kerajaan
Hasin; yang ketiga dari kerajaan Paja, yang seharusnya dibaca Pajang.
Biarpun kira-kira di masa itu kerajaan Hasin dan Pajang (dekat Solo)
kecil sekali, akan tetapi masih dianggap kuat juga oleh sang Dangdang
Gendis buat menambah kekuatannya di dalam kerajaannya sendiri
di Kediri. Bahwa sang Dewi Hasin itu seorang putri dari kerajaan
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 75
Hasin, yang dulu telah dikalahkan oleh raja Airlangga, hal ini
barangkali tidak perlu lagi diterangkan lebih panjang. Kami ulangi
lagi, letak negeri atau kerajaan Hasin atau Mo-ho-sin ialah di tanah
Jawa, agaknya ke sebelah barat. (Di daerah Batang [Pekalongan]
kecamatan Warung-asem, sekarang masih ada di desa Masin.)
Penyebutan Mo-ho-sin dilakukan I-ts'ing sesudah Mo-lo-yeu,
yang sekarang menjadi bagian kerajaan Shih-li-fo-shih. Ini dapat
ditafsirkan bahwa wilayah kerajaan Mo-lo-yeu, atau pelabuhan Mo
lo-yeu yang pernah disinggahi oleh I-ts'ing, terletak agak ke barat di
pantai Sumatra Timur dari Mo-ho-sin.
Telah kita ketahui bahwa pantai timur Sumatra termasuk
wilayah kerajaan Sriwijaya. Menurut uraian I-ts'ing sendiri, per
jalanan dari India ke Tiongkok melalui pelabuhan Melayu biasanya
langsung ke utara, tanpa melalui pelabuhan Fo-shih. Perjalanan yang
demikian menerobos Selat Malaka, terus ke Tumasik, yang dalam
transkripsi Tionghoa menjadi Tan-ma-shi, menuju laut Cina. Di
sebelah kiri memanjang pantai barat Malaka-Pontian; di sebelah
kanan pantai timur Sumatra.
Ahli peta Chia-tan menyebut negeri seberang timur itu Lo
yueh dan di seberang barat Fo-shih. Lo-yueh yaitu Lo-cak menurut
catatan Marco Polo. Lo-cak ini bentuk ubahan dari Lo-kok, yang
berarti Negara Lo, dan yang dimaksud dengan Lo yaitu Langkasuka.
Negara ini oleh I-ts'ing disebut Lang-chia-shu. Chia-tan menganggap
kerajaan Langkasuka yang terletak di pantai timur Malaya meliputi
juga wilayah Malaya sebelah barat dan selatan. I-ts'ing, yang tinggal
bertahun-tahun di Fo-shih dan pernah mengadakan perjalanan dari
India ke Tiongkok, pasti lebih tahu tentang keadaan pantai barat
Malaya daripada Chia-tan. la tentu tahu akan adanya beberapa pe
labuhan di pantai barat Malaya. Satu-satunya nama yang agak mirip
dengan Mo-ho-sin ialah bandar Maharani, yang sekarang menjadi
Muar. Bandar Maharani sudah lama dikenal sebagai tempat yang
ramai dan tempat yang baik. Tidak asing bagi para ahli sejarah, bahwa
pembentukan kerajaan Johor dimuai dari Muar. Raja Singapura
76 Sriwijaya
Iskandar Syah, ketika negaranya diserang oleh tentara J awa, lari ke
Muar. Bandar Maharani terletak di muara sungai Maharani, hingga
sekarang masih digunakan.
Tidaklah aneh hahwa handar Maharani sudah herupa pelahuhan
clan menjadi pusat kerajaan pada ahad ke-7, ketika l-ts'ing menetap
di Shih-li-fo-shih. Penyelidikan paling akhir yang dilakukan oleh
H.D. Collings di Tanjung Bunga dekat Muar menunjukkan hahwa
tempat tersehut mempunyai kebudayaan-batu baru, sebab dalam
penggalian ia menemukan alat-alat hatu hersegi empat yang
mempunyai huhungan dengan kebudayaan-batu baru. Kerajaan yang
ada di situ mungkin tidak sehesar kerajaan Kedah.
6.Ho-ling
Dalam abad ke-7, kerajaan Ho-ling memegang peranan penting
dalam soal kehudayaan. Pendeta Tionghoa Hwui-ning pada tahun
644/645 berangkat dari Tiongkok sengaja menuju Ho-ling. Apa yang
dilakukan oleh Hwui-ning selama tinggal di Ho-ling, diuraikan oleh
I-ts'ing dengan teliti. Hwui-ning mengadakan kerja sama dengan
pendeta Ho-ling Yoh-na-po-to-lo untuk menerjemahkan hagian
penutup Nirwanasutra, yang menguraikan pemhakaran jenasah
Budha clan pengumpulan peninggalan-peninggalannya.
Teks ini ternyata herheda dengan Mahaparinirwanasutra. Nama
pendeta Ho-ling, Yoh-na-po-to-lo, sesuai henar dengan nama
Sanskerta, Jnanahhadra. Ketika terjemahan itu selesai, Hwui-ning
memberi perintah kepada pendeta muda Yun-k'i untuk membawanya
pulang ke Tiongkok. Hwui-ning tinggal di Ho-ling. Setelah Yun-k'i
selesai menunaikan tugasnya, ia herlayar kemhali ke Ho-ling untuk
menyampaikan tanda terima kasih kepada sang guru J nanahhadra
clan untuk menggahungkan diri lagi dengan Hwui-ning. Tetapi
sesampainya di Ho-ling, pendeta Hwui-ning telah berangkat ke In
dia.
(1) Yun-k'i, pendeta kelahiran Chiao-chih (Tongkin), tinggal sepuluh
tahun di negeri laut Selatan. Ia menjadi murid Jnanahhadra. Ia
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 77
mempelajari bahasan Kun-lun dan paham akan bahasa Sanskerta.
Ketika I-ts'ing menulis bukunya, Memoire, Yunk'i tinggal di Shih
li-fo-shih dan berumur 30 tahun.
(2) C ang-min menumpang perahu yang panjangnya 200 kali dan
dapat mengangkut penumpang sebanyak 600 sampai 700 orang
menuju negeri Ho-ling. Dari sana ia berlayar ke negeri Mo-lo
yeu untuk meneruskan perjalanannya ke India. Tetapi perahunya
karam tidak jauh dari pangkalan, sebab terlalu berat muatannya.
Chang-min meninggal.
(3) Ming-yuen berangkat dari Chiao-chih; perahunya terdampar
gelombang sampai di negeri Ho-ling.
( 4) Tan-yuen berangkat melalui daratan ke Chiao-chih. Ketika
musim angin baik telah tiba, ia menumpang perahu menuju
selatan dengan harapan akan sampai di India Barat, tetapi waktu
ia sampai di negeri Pu-p'en di sebelah utara Ho-ling, ia
meninggal.
(5) Fa-lang berlayar dari Pan-yong, sampai di Fo-shih pada akhir
bulan. Sesudah beberapa lama tinggal di sana, ia berangkat ke
Ho-ling, di mana ia meninggal.
(6) Tao-lin melakukan perjalanan jauh, berlayar menuju laut Selatan.
Ia sampai di negeri Lang-chia melalui negeri Ho-ling dan Lo
j~ng-kuo. Di tiap negeri yang disinggahinya, ia diterima oleh
raja dengan hormat dan diperlakukan sangat baik. Sesudah
beberapa tahun ia sampai di India Timur di kerajaan Tan-mo-lo
ti. Di sana ia tinggal tiga tahun untuk belajar bahasa Sanskerta.
Itulah beberapa catatan tentang kerajaan Ho-ling yang termuat
dalam Memoire karya pendeta I-ts'ing. Di dalam Record masih ada
berita mengenai kerajaan Ho-ling yang, meskipun samar-samar,
sekadar memberi petunjuk tentang letaknya. I-ts'ing menyebut
negeri-negeri di laut Selatan yang penduduknya memeluk agama
Budha, berturut-turut dari barat. Di antaranya tersebut Ho-ling.
78 Sriwijaya
Pelliot mencatat pengiriman utusan dari Ho-ling ke Tiongkok
pada tahun 640 sampai 648, 666, 767, 768, 813 sampai 815 dan
818.
Bagaimanapun, kerajaan Ho-ling itu pernah ada, namun hingga
sekarang belum dapat dipastikan letaknya. Dari catatan I-ts'ing
mengenai geografi Ho-ling, kita hanya dapat menangkap bahwa Ho
ling disebut sesudah kerajaan Mo-lo-yeu dan Mo-ho-sin dalam urutan
dari barat. Namun, pengertian "dari barai' pada I-ts'ing itu harus
ditafsirkan menurut perjalanan dari India ke Tiongkok; tidak dari
barat berturut-turut ke timur menurut kiblat.
Hingga sekarang, para ahli sejarah menyamakan Ho-ling dengan
Jawa. Jawa terletak di sebelah timur Sumatra, sedangkan Sumatra
sebelah timur dan selatan yaitu wilayah kerajaan Melayu (Sriwijaya).
Menurut Hsin-'ang-Shu buku 222 bagian 11, demikian Takakusu,
disebut bahwa yang dimaksud dengan Kalingga yaitu J awa. Buku
197 menyatakan bahwa Kalingga terletak di sebelah timur Sumatra.
Groeneveldt menyamakannya dengan pantai utara pulau J awa, dan
Prof. Chavannes menyamakannya dengan J awa Barat. Demikianlah,
Ho-ling dikira transkripsi Tionghoa dari nama Kalingga. Dan
Kalingga yaitu J awa.
berdasar panjangnya bayang-bayang dalam welacakra, yang
perhitungannya dilakukan oleh seorang profesor, Takakusu sampai
kepada kesimpulan bahwa Ho-ling harus terletak di Malaya pada
garis 6 8' L.U., sebab Hsin-Tang-Shu memberitakan demikian:
"Di Ho-ling pada musim panas, jika tongkat welacakra panjangnya
8 kaki, bayang-bayangnya pada waktu siang jatuh ke selatan dan
panjangnya 2 kaki empat inci (2 2/5 kaki)."
Takakusu membuat catatan bahwa pemberitaan itu agak kacau,
jika yang dimaksud ialah salah satu tempat di Jawa (yang terletak
pada garis 68' L.S.). Ia akan berusaha mencari bahan perbandingan
dalam kitab-kitab Tionghoa lebih dahulu sebelum memberikan
pemecahannya.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 79
Sudah terang bahwa pada zaman I-ts'ing, nama Jawa itu sudah
dikenal di kerajaan Sriwijaya, sebab pada piagam Kota Kapur yang
dikeluarkan pada tahun 686 telah disebut bahwa "tentara Sriwijaya
berangkat ke bhumi jawa." Tentunya I-ts'ing juga mengenal piagam
terse but, setidak-tidaknya pernah mendengar nama J awa, sebab ia
lama menetap di Sriwijaya. Lagi pula ia yaitu orang yang menga
gumi Fa-hien, padahal Fa-hien yang berangkat dari Tiongkok pada
tahun 414 telah menyebut jawadi, clan pada zaman dinasti Sung
yang pertama (420-578), telah disebut pula nama Yawada; maksud
nya Yawadwipa. Suatu kenyataan ialah bahwa I-ts' ing menyebut Ho
ling. Andaikata yang dimaksud oleh I-ts'ing yaitu Jawa, pasti ia
akan berusaha mendeskripsikan nama J awa itu dengan ucapan
Tionghoa yang mirip. Demikianlah, mungkin sekali bahwa yang
dimaksud dengan Ho-ling itu memang bukan pulau J awa.
Sejarah T'ang lama, yang hanya mengenal nama Ho-ling
(maksudnya, tan pa identifikasi dengan Kalingga atau J awa seperti
yang dikenal dalam sejarah T'ang susunan baru), mencatat bahwa
kota Ho-ling dikelilingi pagar yang dibuat dari kayu. Rajanya tinggal
di rumah di atas tiang, beratap rumbia; ia duduk di atas takhta gading.
Di Ho-ling, orang sudah mengenal tulisan dan telah mengenal ilmu
falak. Orang-orangnya makan tanpa sendok, melainkan makan
dengan jari. Minumannya dibuat dari mayang pinang.
Uraian tentang adat kebiasaan itu penting artinya untuk ilmu
sejarah. Namun, pemberitaan yang demikian sedikit artinya untuk
penetapan geografi. Kemudian menyusul dongeng yang sudah sangat
populer, yakni dongeng tentang maharani Si-mo. Pada tahun 644/
645, rakyat Ho-ling mempunyai raja perempuan yang sangat keras
clan adil dalam pemerintahannya. Raja perempuan itu bernama Si
mo. Tak ada orang yang berani mengambil barang yang jatuh di
tengah jalan kecuali pemiliknya. Kabar itu terdengar oleh raja Ta
che. Raja Ta-che lalu menyuruh meletakkan emas sekampil di tengah
jalan di wilayah Ho-ling. Tiap orang yang lalu di situ menyingkir.
Tidak ada orang yang menyinggungnya. Kampil itu terletak di tengah
jalan tiga tahun lamanya tanpa berubah.
80 Sriwijaya
Pada suatu ketika rajaputra lalu, kakinya tersandung pada
kampil tersebut. Maharani Si-mo marah sekali mendengar laporan
bahwa kaki rajaputra menyentuh kampil tersebut. sebab perbuatan
itu bertentangan dengan adat yang berlaku di Ho-ling, maka
diputuskan oleh maharani Si-mo bahwa rajaputera akan dijatuhi
hukuman penggal kepala. Tetapi keputusan itu ditentang oleh para
menteri. Akhirnya, diputuskan hukuman potong kaki, sebab yang
berbuat salah yaitu kakinya. Protes para menteri tidak dihirau
kannya. Hukuman harus dilaksanakan, supaya umum mengetahui
adanya hukum dan keadilan di negeri Ho-ling. Ketika raja Ta-che
mendengar berita itu, ia takut dan tidak berani melakukan serangan
terhadap kerajaan Ho-ling.
Yang dimaksud dengan raja Ta-che yaitu raja Arab. Krom
membuat tafsiran, bahwa mungkin sekali yang dimaksud ialah or
ang Arab perantau yang menetap di pantai Sumatra. Adakah dongeng
itu peristiwa sejarah yang sungguh terjadi, masih disangsikan. Yang
terang ialah bahwa dongeng itu menggambarkan adanya ke
makmuran, keadilan, dan pembinaan hukum di negeri Ho-ling, salah
satu negara di laut Selatan.
Dalam urutan negara-negara di laut Selatan yang memeluk
agama Budha dan terdapat di jalan pelayaran India-Tiongkok, Ho
ling disebut sesudah negeri Mo-lo-yeu dan Mo-ho-sin, sebelum Tan
tan. Jika urutan itu ditafsirkan menumt kiblat dari barat ke timur,
maka Tan-tan hams dicari di sebelah timur Ho-ling. Sedangkan Ho
ling oleh para ahli sejarah disamakan dengan J awa. Menurut pikiran
itu, Tan-tan hams terletak di sebelah timur pulau Jawa. Hal yang
demikian tidaklah mungkin.
Kemudian menyusul Pem-pen (Peng-pen), lalu P'oli. Demikian
selanjutnya. Namun, Pem-pen disingkirkan atau didiamkan saja;
mereka menempatkan Poli di sebelah timur Ho-ling sebab bunyinya
serupa dengan Bali, yang dalam berita Tionghoa disebut Pangli atau
Son-dor (Yule: mungkin dari kata sundara, "cantik).
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 81
Identifikasi P'o-li dengan Bali didasarkan pula atas uraian
Friedrich mengenai kesusasteraan Kawi di pulau Bali, yang agak mirip
dengan isi berita tentang kebudayaan Ho-ling. sebab I-ts'ing dalam
uraiannya tentang T' an Yuen, yang men um pang perahu dari Chiao
chih (Tongkin) menuju selatan dan sesampainya di Pu-pen (Pem
pen) meninggal, mengatakan bahwa P'u-pen terletak di sebelah utara
Ho-ling, maka segera Takakusu menyamakan Pu-pen itu dengan
Pabuan, yang terletak di muara sungai Pabuan di pantai selatan
Kalimantan.
Uraian I-ts'ing mengenai P'u-p'en yang terletak di sebelah utara
Ho-ling sesungguhnya sudah merupakan pemberitahuan, bahwa
urutan penyebutan negeri-negeri itu tidak boleh ditafsirkan dari barat
ke timur seperti yang dilakukan hingga sekarang. Krom patuh kepada
pendapat bahwa Ho-ling yaitu Kalingga, maka ia membicarakan
Ho-ling dalam rangka Jawa Tengah dan menyebut pendeta Jnana
bhadara berasal dari J awa. Timbulnya anggapan yang demikian itu,
pada hakikatnya, sebab mereka bersandar pada anggapan bahwa
Ho-ling yaitu Kalingga, dan Kalingga yaitu Jawa, terletak di
sebelah timur Shih-li-fo-shih. Shih-li-fo-shih yaitu Palembang.
Untuk keluar dari jaringan pendapat tersebut sukar sekali.
Takakusu sendiri, berdasar perhitungan welacakra seperti yang
dilakukannya menurut berita dari sejarah baru, sesungguhnya sudah
ragu-ragu untuk menerima penyamaan Ho-ling dengan Jawa, sebab
perhitungan welacakra jelas menunjukkan (bila berita itu benar)
bahwa Ho-ling harus terletak di sebelah utara garis khatulistiwa.
Jika Ho-ling disamakan dengan pulauJawa, bagaimana mungkin I
ts'ing menceriterakan tentang Chang-min yang naik perahu
berangkat ke Ho-ling, terus ke Mo-lo-yeu, dengan harapan akan
sampai di India? Bagaimana mungkin Ming-yuen yang berlayar dari
Chiao-chih (Tong-kin), sebab perahunya terdampar gelombang, bisa
sampai di Ho-ling, jika yang dimaksud dengan Ho-ling ialah pulau
Jawa? Pulau Jawa dengan pelabuhan-pelabuhannya di pantai utara,
seperti Japara, Tegal, Cirebon, terletak jauh dari perjalanan Tiongkok
India. Singgah di Jawa dalam perjalanan dari Tiongkok ke India
89 Sriwijaya
tidaklah mungkin, sebab pelabuhan-pelabuhan di pantai utara J awa
tidak terdapat di jalan pelayaran India-Tiongkok, atau orang hams
sengaja datang ke pulau J awa. Demikianlah, terdapat ban yak kesulitan
jika kita berpikir agak praktis, untuk menyamakan Ho-ling dengan
Jawa.
Mengingat banyaknya pendeta yang kebanyakan naik perahu
dagang dan singgah di Ho-ling dalam perjalanannya dari Tiongkok
ke India, maka Ho-ling harus merupakan pelabuhan yang penting.
Oleh sebab itu, mau tidak mau, letaknya hams baik sebagai
pelabuhan. Atas dasar berita-berita itu, semata-mata kita belum dapat
mengira-ngira di mana letak Ho-ling, kecuali hanya mendengar
bahwa Ho-ling itu harus terletak di jalan pelayaran Tiongkok-Melayu.
Jika kita mempelajari uraian Chia-tan, seorang ahli peta
Tionghoa yang masyhur dan hidup antara tahun 730 dan 805,
tentang perjalanan dari Tiongkok ke laut Selatan, maka letak kerajaan
Ho-ling menjadi lebih terang. Uraiannya demikian:
Perjalanan itu melalui pulau Hai-nan menuju pantai lndo-Cina,
terus menyusur pantai sampai di tempat yang bernama Kun-t'u-nung.
Dari situ berlayar lima hari lagi, maka sampailah pada selat yang
namanya Chi h. Lebarnya dari utara ke selatan 100 Ii. Di pantai sebelah
utara terdapat kerajaan Lo-yueh; di pantai selatan terdapat kerajaan
Fo-shih.
Sebelah timur kerajaan Fo-shih, kira-kira sejauh lima hari
pelayaran, orang mencapai kerajaan Ho-ling. lni merupakan pulau
yang terbesar di selatan. Kemudian, tiga hari berlayar dari selat itu,
orang mencapai kerajaan Ko-ko-chih, terletak di sebuah pulau di sudut
barat laut Fo-shih. Penduduknya banyak yang jadi perompak;
penumpang perahu banyak menjadi mangsanya. Di pantai utara
terletak kerajaan Ko-lo. Sebelah barat Ko-lo ialah kerajaan Ko-ku-lo.
Chia-tan menyatakan bahwa Ho-ling terletak sejauh em pat atau
lima hari pelayaran dari Fo-shih ke arah timur. Fo-shih terletak di
pantai sebelah selatan Chih (yang disebut Chih sama dengan apa
yang disebut Sahalat oleh berita Arab, yang berasal dari Ya'kubi),
dan di sebelah utara ialah kerajaan Lo-yueh. Kerajaan Lo-yueh ini
sama dengan kerajaan Lo-cak seperti yang tercatat oleh Marco Polo,
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 83
yakni kerajaan Langkasuka di pantai timur Malaya. Tepatnya, Patani
sekarang. Yang terpenting ialah pernyataan Chia-tan, bahwa Ho
ling terletak di pulau yang paling besar di laut Selatan. Bagaimanapun,
pulau yang paling besar di laut Selatan ialah pulau Borneo atau
Kalimantan, bukan pulau J awa. Demikianlah, sudah terang bahwa
pelabuhan Ho-ling terdapat di pantai barat Kalimantan, sebab Ho
ling terdapat di j alan pelayaran dari Tiongkok ke India.
Mengenai wilayah kerajaan Ho-ling, diberitakan dalam sejarah
T'ang, yang juga terkutip dalam sejarah baru, demikian: "Kerajaan
Ho-ling terletak di laut Selatan. Di sebelah timur berbatasan dengan
P'oli, di sebelah barat denganTo-po-teng: di sebelah selatan dengan
laut, di sebelah utara dengan Chen-la." Yang dimaksud dengan Chen
la ialah Kamboja dan Vietnam sekarang. Demikianlah, di sebelah
utara Ho-ling terletak Chen-la. Chen-la dan Ho-ling terpisah oleh
lautan. Di sebelah timur Ho-ling terletak P'o-li. Di sebelah selatan
Ho-ling yaitu laut.
sebab sekarang sudah kita ketahui bahwa Ho-ling terletak di
pantai barat Kalimantan, kita coba untuk melokalisasikannya. Jika
I-ts'ing menyebut Ho-ling dalam berita-beritanya, yang dimaksud
terutama ialah pelabuhan Ho-ling, bukan wilayah kerajaannya.
Berhubung dengan urutan penyebutan negeri-negeri di laut Selatan
Ho-ling disebut lebih dahulu daripada Tan-tan, yang disamakan
dengan Ten-dong di pantai timur Malaya, maka letak pelabuhan
Ho-ling dari Fo-shih lebih dekat daripadan Tan-tan.
Menurut perhitungan bayang-bayang di welacakra, Ho-ling
terletak pada garis 6 108' L.U. Tempat ini yaitu laut. Jadi, tidak
mungkin. Sudah pasti kita tidak boleh percaya seratus persen kepada
berita tentang bayang-bayang di welacakra itu. Berita itu dianggap
sebagai pegangan. Ucapan nama Ho-ling dalam bahasa Mandarin
yaitu Ke-ling. Bagaimanapun, nama kerajaan di pantai barat
Kalimantan itu ialah Kalingga. Tentunya, zaman sekarang tempat
tersebut tidak terletak di pantai laut, tetapi di daratan beberapa puluh
kilometer dari pantai laut, seperti halnya kota J ambi zaman sekarang.
84 Sriwijaya
Pada umumnya, pelabuhan pada waktu itu terletak di muara
sungai besar, sebab sungai memegang peranan penting sebagai
penghubung antara pantai dan daerah pedalaman. Salah satu sungai
di pantai barat Kalimantan yang muaranya kiranya dipakai sebagai
pelabuhan kerajaan Kalingga ialah Batang Lupar. Di tepi Batang
Lupar itu, sekarang masih ada kota yang namanya Lingga. Mung
kinlah nama ini sisa dari nama lama Kalingga, yang disebut Ho
ling. Tempat tersebut terletak di daerah Serawak pada garis 2° 111
L.U. Jadi, mendekati berita welacakra. Pantai barat Serawak pada
zaman yang lampau terang mendapat banyak pengaruh kebudayaan
India.
Di sekitar Serawak ditemukan barang-barang purbakala, kiranya
mempunyai hubungan dengan peranan Serawak pada zaman yang
sudah silam. Di Santubong, di muara sungai Serawak, ditemukan
area batu, tempayan, manik-manik. Menurut pendapat I.H.N. Ivans,
barang-barang tersebut serupa dengan penemuan-penemuan di Kuala
Selinsing di pantai timur Malaya. Dari bukit Berhala di tepi sungai
Samarahan, ditemukan lingga, yoni, dan area Ganesa, sedangkan di
dekat Samp'so sebuah area lembu dari bata. Penemuan barang emas
lainnya yang berasal dari Limbang berupa einein, rantai, kaneing
baju, dan subang. Di antara barang-barang emas ini, yang terpenting
ialah einein yang memuat tulisan dan sebuah lukisan singa sebesar 1
1/2 inci x 1 1/2inci. Namun, tulisan pada einein tersebut tidak lagi
terbaea.
7. Poli
Ten tang P'oli yang disebut oleh I-ts'ing, ada beberapa pendapat.
Pelliot melokalisasikannya di Bali, berdasar keserupaan bunyi dan
berita dari Hsin-Tang-Shu, bahwa Poli juga disebut Mali.
Bretsehneider melokalisasikannya di Kalimantan. Dalam hal ini, G.
Coed~s bersikap sangat hati-hati. Berita mengenai Poli seperti
berikut:
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 85
(I) Liang-Shu yang disusun oleh Yao Chien (623) memberitakan
bahwa Po-li mengirim utusan ke Tiongkok dua kali. Yang
pertama kali pada tahun 518; yang kedua kalinya pada tahun
523. Rajanya bernama Kaundinya. Mengenai letaknya,
diberitakan bahwa P'o-li terletak di chou, yakni pulau. Lebarnya
dari timur ke barat 50 hari perjalanan, dari utara ke selatan ± 20
hari perjalanan. P'o-li mempunyai 136 desa.
(2) Sui-Shu memberitakan pengiriman utusan dari P'o-li pada tahun
616. Mengenai luas daerahnya: dari timur ke barat ± 4 bulan
perjalanan, dari utara ke selatan 45 hari perjalanan. Mengenai
letaknya, dikatakan: dari Chiao-chih orang berlayar ke selatan
melalui Chih-tu dan Tan-tan, kemudian sampai Po-li.
(3) Chiu-T'ang Shu menguraikan bahwa kerajaan P'o-li terletak di
sebelah tenggara Lin-i (Campa) di pantai laut, di sebuah pulau.
Lehar dan panjangnya beberapa ribu li. Untuk sampai di situ,
kita harus berlayar mengarungi laut dari Chiao-chih (Tongkin)
menuju selatan, melalui negeri Lin-i, Fu-nan, dan Tan-tan.
Bagaimanapun, jelas bahwa P'o-li yaitu tempat sesudah Tan
tan dalam pelayaran dari Tiongkok ke Selat Malaka. Dalam
penyelidikannya tentang lokalisasi Tan-tan dalam jurnal MB.R.A.S.
vol. XX part 1 tahun 1947, Prof. Hsu Y~n-ts'iao sampai kepada
kesimpulan bahwa Tan-tan terletak di muara sungai Kelantan dekat
Kota Bharu. Nama aslinya ialah Tendong. Roland Braddell sampai
kepada kesimpulan yang hampir serupa. Bagaimanapun, menurut
pendapatnya, Tan-tan yaitu salah satu bagian dari Kelantan.
Penyelidikan ini yaitu peninjauan kembali saran Bretschneider,
yang menyamakannya dengan pulau Na tuna. Keterangan geografi
di atas memberikan kesan bahwa penyamaan P'o-li dengan Bali tidak
mungkin benar. P'o-li harus terletak di pantai barat Kalimantan.
Negeri yang terletak di pantai barat Kalimantan dan di sebelah utara/
timur Ho-ling yaitu Brunei. Brunei merupakan daerah pendudukan
kaum pendatang dari India Selatan. N amanya pun berasal dari India
86 Sriwijaya
Selatan, yakni nama sungai di Travancore. Sungai itu bernama Porunai,
namun namanya sekarang ialah Tamiraparani.
Pendapat mengenai nama Brunei ini berbeda dengan pendapat
G.T.M.Mc. Bryan. Menurut pendapatnya, nama Brunei itu berasal
dari kata Sanskerta burni: activity, kesibukan. Oleh Bryan, kata itu
diberi arti khusus, yakni: perdagangan. Saya kurang dapat menyetujui
pendapat Bryan itu. Oleh sebab itu, berusaha mencari sumber lain.
Nama Porunai itu kemudian berubah menjadi Brunei. Hingga
sekarang, nama itu masih digunakan untuk menyebut negeri di pantai
barat Kalimantan.
Pengambilan nama dari India seperti itu banyak dilakukan di
negara kita . Lihat saja pulau Madura. Namanya berasal dari India
Mathura. Di dalam East India Gazetteer, Hamilton menguraikan
bahwa wilayah Brunei di pantai barat sepanjang 700 mil dari Sambas
sampai Tanjung Datu. Di sebelah timur sampai sungai Sandakan. T.
Posewitz, dalam Borneo: Its Geology and Mineral Resources (1892),
mencatat bahwa sampai ± 50 tahun sebelumnya, wilayah Brunei
meliputi daerah antara Tanjung Datu dan sungai Siboco. Sampai
pada tahun 1812, dinyatakan dalam laporannya kepada Raffles,
bahwa pulau Borneo hanya terbagi atas tiga kerajaan, yakni kerajaan
Brunei, Sukadana, dan Banjarmasin.
Berita di atas dimaksud untuk menunjukkan betapa luas wilayah
Brunei pada permulaan abad ke-19. Menurut Hamilton, kerajaan
Brunei di antara kerajaan-kerajaan lainnya di Kalimantan yaitu
kerajaan yang pertama kali dikunjungi oleh bangsa kulit putih dari
Eropa. sebab nama Brunei dikenal paling dahulu oleh bangsa kulit
putih di antara nama-nama lainnya, maka nama Brunei itu lalu
digunakan untuk menyebut seluruh pulau, padahal para penduduk
aslinya menyebutnya Pulo Klemantan. Tetapi nama Brunei itu,
menurut pendengaran orang Portugis, menjadi Borneo. Oleh sebab
itu, nama Borneo lalu menjadi nama seluruh pulau yang ber
sangkutan hingga sekarang. Namun semenjak proklamasi negara
negara kita dan perasaan antikolonial meluap-luap, timbullah usaha
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 87
untuk menggunakan kembali nama-nama asli. Demikianlah, nama
Kalimantan timbul kembali sebagai nama pulau yang bersangkutan.
Selama toponimi di N usantara belum mendapat perhatian
sepenuhnya dalam dunia kesarjanaan, penjelasan tentang asal usul
nama tempat masih tetap merupakan rabaan belaka. Demikian pula
halnya dengan nama Kalimantan, yang diucapkan oleh para penduduk
aslinya Klemantan. Beberapa pendapat mengenai Kalimantan:
(I) Crowfurd, di dalam Descriptive Dictionary of the Indian Islands
(1856), menulis bahwa pulau Borneo dinamakan oleh para
penduduk aslinya Kalimantan. Kata itu yaitu nama sejenis
mangga. J adi, pulau Kalimantan berarti pulau mangga. Crawfurd
menambahkan keterangan bahwa nama itu berbau dongeng dan
tidak populer.
(2) Dalam karangannya yang termuat dalam jurnal MB.R.A.S. vol.
XV part 3 hlm. 79, Dr. B.Ch. Chhabra menunjukkan bahwa
sudah menjadi kebiasaan bangsa India kuno untuk memberikan
nama sebuah tempat sesuai dengan hasil bunyinya, seperti nama
pulau Jawa. sebab hasil bumi pulau tersebut terutama jewawut
(Sanskerta: yawa), maka pulau tersebut diberi nama pulau /awa.
berdasar analogi itu, maka mungkin sekali nama Sanskerta
nya Amra-dwipa, yakni Pulau Mangga.
(3) C. Hose dan Mac Dougall menguraikan bahwa suku Pagan di
Kalimantan terbagi atas enam golongan, yakni: I). Dayak Laut
atau Iban; 2). Orang Kayan; 3). Dayak Kenya; 4). Klemantan;
5). Murut; 6). Punan. Di sini, Klemantan yaitu nama suku.
Dalam karangannya, Natural Man, ad Recordftom Borneo (1926),
C. Hose menjelaskan bahwa Klemantan yaitu nama baru. Nama
itu digunakan oleh bangsa Melayu untuk menyebut seluruh pulau.
(4) Anehnya bahwa menurut W.H. Treacher dalam British Borneo
dalam jurnal M.B.R.A.S. (1889), mangga liar tidak dikenal di
Kalimantan Utara. Lagi pula, Borneo tidak pernah dikenal sebagai
pulau yang menghasilkan mangga. Ia menambahkan catatan,
88 Sriwijaya
bahwa Kalimantan itu mungkin sekali berarti Sago Island (Pulau
Sagu), sebab lamantah yaitu nama dalam bahasa asli untuk
sago mentah, yang dijual kepada pabrik. Dengan kata lain,
karangan itu membantah nama Kalimantan yang, menurut
pendapat Crawford, diambil dari nama buah mangga.
Barangkali kata Kalimantan itu juga bukan kata Melayu asli.
Mungkin sekali kata tersebut yaitu kata pinjaman seperti kata Ma
laya dan Melayu sebagai nama di daerah yang bersangkutan. Kata
kata tersebut terang berasal dari India. Mungkin sekali Kalimantan
juga demikian. Saya kira, nama Klemantan berasal dari Sanskerta
Kalamanthana, yakni pulau yang udaranya sangat panas, seakan
akan membakar; (kalfa]: musim, waktu; manthan[a}: membakar;
producing fire). sebab vokal a pada kala, dan manthana menurut
kebiasaan tidak diucapkan, maka kata Kalamanthana menjadi
Kalmantan. Oleh penduduk asli, kata itu diucapkan Klemantan atau
Quallamontan. Dari bentuk itu diturunkan kata Kalimantan.
8. Tan-tan
Di dalam bukunya, The Knowledge Possessed by the Ancient Chi
nese of the Arabs, Bretschneider menyamakan Tan-tan dari berita
Tionghoa dengan pulau Natuna. Demikian pulaJulien dalam Hiuen
Thsang. Pendapat itu diterima oleh Takakusu. Hirt dan Rockhill dalam
Chao-ju-kua juga melokalisasikannya di pulau Natuna. Gerini sangat
ragu-ragu untuk melokalisasikannya. Tan-tan disamakannya dengan
pulau Terketau dalam kumpulan Langkawi, atau dengan Tanjung
Datu, atau dengan Panei di pantai timur Sumatra. Prof. Hs~-ts'iao
meninjau sekali lagi persoalan Tan-tan dari pemberitaan I-ts'ing dalam
karangannya yang berjudul Notes on Tan-tan dalam jurnal MB.R.A.S
vol. XX part I hlm. 47 sampai 63. Segala berita Tionghoa mengenai
Tan-tan dikumpulkannya, dan kebanyakan berita itu juga
memberitakan Po-li. Beritanya seperti berikut:
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 89
(1)Berita dari Liang Shu:
Pada tahun kedua masa pemerintahan Chung Ta Tung (tahun
530), raja Tan-tan mengirimkan utusan yang mempersembahkan
ucapan muluk-muluk kepada kaisar. Kaisar disamakan dengan
yang mahamurah, memerintah rakyatnya dengan ramah,
kepercayaannya kepada Ratnatraya sangat tabah. Ajaran Budha
benar-benar meresap dalam tingkah-lakunya. Itulah sebabnya
maka pendeta Budha mengerumuni beliau; pelantikan pendeta
Budha makin bertambah, semuanya hormat kepada beliau, yang
kasih sayangnya meliputi segala umat, sehingga makhluk dari
delapan jurusan dunia berkumpul. Betapa besar kekuasaan beliau
untuk menaklukkan semua negeri-negeri tetangga hampir-hampir
tidak terkatakan.
Saya berharap mudah-mudahan beliau berkenan memandang saya
dan memberi kesempatan kepada utusan saya untuk bertemu
muka dengan beliau. Saya mohon agar beliau suka menerima
hadiah saya yang serba remeh, berupa dua area gading, dua pa
goda, sejumlah agnimani, kapas, dan minyak wangi.
Pada tahun pertama masa pemerintahan Ya-tung (tahun 535),
raja Tan-tan mengirim utusan lagi dengan membawa emas, perak,
kaca, minyak wangi, rempah-rempah, dan pelbagai benda lainnya.
(2)Berita dari Sui Shu, susunan Wei Cheng:
Negeri P'o-li dapat dicapai dari Chiao-chih melalui Chih-tu dan
Tan-tan. Dari timur ke barat jauhnya sepanjang empat bulan
perjalanan, dari selatan ke utara 45 hari perjalanan. Adat-istiadat
negeri Po-li sama dengan adat-istiadat negeri Kamboja. Hasil
buminya sama dengan negeri Campa. Pada tahun kedua belas
masa pemerintahan Ta-yih (tahun 616), negeri itu mengirim
utusan ke Tiongkok untuk mempersembahkan upeti, namun
pemberian itu tidak dilanjutkan. Di sebelah selatan P'o-li terletak
negeri Tan-tan dan P'an-p'an. Dua negeri ini memberikan hasilnya
sebagai upeti. Baik adat-istiadatnya maupun hasil buminya sama.
90 Sriwijaya
(3) Berita Hsin T'ang Shu:
P'o-li terletak di sebelah tenggara Huang-wang (Campa), dapat
dicapai dari Kocin-Cina melalui Chi-tu dan Tan-tan. Lehar dan
panjangnya beberapa ribu li. Di situ banyak kudanya. Negeri itu
juga disebut Mali. Di sebelah timurnya terletak negeri Lo-tha.
( 4) Berita dari Nan Shih, susunan Li-yen-shu:
Berita mengenai Tan-tan dikutip dari Liang Shu (lihat berita no. 1).
(5) Berita dari Tung Tien, susunan Tu You:
Berita tentang negeri Tan-tan kita kenal pada masa pemerintahan
rajakula Sui. Letaknya di sebelah barat laut To-lo-mo dan di sebelah
tenggara Chen-chow. Nama wangsa rajanya Sha-li. Namanya
sendiri Shih-ling-chia. Ibu kotanya didiami oleh kurang lebih
20.000 keluarga.
Negeri itu dibagi dalam distrik dan provinsi untuk memudahkan
jalannya administrasi dan pimpinan. Setiap hari, rajanya pagi dua
jam dan petang dua jam di istana. Jumlah menterinya delapan,
semuanya pendeta. Beliau bersaput bedak wangi, mengenakan
mahkota terbuka bersabuk pita, pakaiannya berwarna awan pagi,
sandalnya dibuat dari kulit; jika keluar tidak jauh, duduk di atas
tandu; jika keluar jauh naik gajah. Dalam peperangan terompet
dibunyikan, genderang dipukul, bendera dikibarkan. Hukum
pidananya tidak pandang bulu. Barang siapa mencuri dikenakan
hukuman mati. Hasilnya: emas, perak, kayu cendana, kayu sapan,
dan pinang. J uga menghasilkan padi. Bina tang ternaknya:
kambing, babi, ayam, angsa, itik, kijang, dan rusa. Di situ ada
burung kocin dan merak. Buah-buahan dan rumput air: anggur,
delima, labu, lugenaria vulgaris, ganggang, dan teratai. Sayur
mayurnya: brambang, bawang, dan akar.
( 6) Berita dari Hsin T'ang Shu, susunan Au Yang-hsiu:
Tan-tan terletak di sebelah tenggara Ch~n-chow dan di sebelah
barat To-lo-mo, terbagi atas distrik dan provinsi. Di negeri itu
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 91
terdapat banyak kayu cendana. Nama wangsa rajanya Sha-li dan
namanya sendiri Shih-ling-chia. Beliau menjalankan tugasnya
setiap hari clan mempunyai delapan menteri. Beliau memakai
minyak wangi, mengenakan mahkota dengan pelbagai bulu-bulu
yang mahal-mahal. Dalam perjalanan dekat, beliau naik kereta,
tetapi dalam perjalanan jauh, naik gajah. Dalam peperangan
terompet dibunyikan clan genderang dipukul. Pencuri besar-kecil
dihukum berat.
Pada masa pemerintahan Chien-f~ng (666-667) dan Tsu-cheng
(668-669), negeri itu mempersembahkan upeti hasilnya setem
pat. Negeri Lo-yueh letaknya 5.000 li dari laut di sebelah utaranya
Di sebelah barat daya berbatasan dengan Ko-ku-lo, menjadi pusat
pertemuan para pedagang clan pusat lalu-lintas. Adat-istiadatnya
sama dengan negara To-ho-po-ti (Dwarawati). Tiap tahun ada
perahu dari negeri itu datang di Kanton, nakhodanya memberi
laporan ke istana.
(7)Berita dari Nan-hai-chi-kuei-nei-fa-chuan, karangan I-ts'ing:
Tan-tan termasuk salah satu negeri laut Selatan yang memeluk
agama Budha, clan disebut sesudah Ho-ling.
(8)Berita dari Tung Chih, susunan Ch~ng-ts'iao:
Beritanya dikutip dari T'ung Tien (lihat berita no. 5).
(9) Berita dari masa pemerintahan dinasti Ch'ing:
Tan-tan terletak di pantai laut sejauh 130 hentian di sebelah barat
daya Amoy. Adat-istiadat, pakaian clan hasil buminya sama dengan
Johar. Pelayaran dari Amoy ke Johar sejauh 180 hentian, ke
Sangora clan Patani sejauh 150 hentian. Satu hentian kira-kira 60
li.
(10) Berita dari Ming Shih:
Tan-tan dalam berita Ming Shih, menurut Pro£ Hsti, jelas sama
dengan Kelantan. N ama Kelantan tidak disebut.
99 Sriwijaya
Prof. Hs~ menduga bahwa Tan-tan dari berita Ming Shih, yang
jelas sama dengan Kelantan itu, disebabkan sebab kecerobohan
menulis. Kata "lan-tan" dijadikan "Tan-tan; Ke pada Kelantan, sebab
tidak mendapat tekanan, diabaikan.
berdasar berita dari Liang-Shu, Tan-tan terletak di sebelah
barat laut To-lo-mo. To-lo-mo yaitu nama sungai di Trengganu;
namanya sekarang ialah Telemong. Di sebelah barat laut Trengganu
ialah Kelantan. Demikianlah, mungkin sekali Tan-tan itu nama dusun
yang sekarang terletak sepuluh mil dari muara sungai Kelantan, antara
lima atau enam mil dari kota Bharu. Nama dusun itu sekarang
Tendong. Itulah kesimpulannya.
9 P' ' P' ' . en-pen atau an-pan
Jalan pelayaran India-Tiongkok ada dua macam, yakni
mengarungi lautan Cina dan menyusur pantai. Negeri-negeri di laut
Selatan yang disebut oleh I-ts'ing tentu banyak yang terletak di jalan
pelayaran menyusur pantai. J alan pelayaran menyusur pantai melalui
Teluk Siam dan pantai timur Malaya. Kita kumpulkan dahulu berita
berita mengenai P'en-p'en:
(1) 1-ts'ing menyebut P'en-p'en dalam rangkaian negeri-negeri di laut
Selatan yang memeluk agama Budha, sesudah Tan-tan.
(2) Di tempat lain, I-ts'ing menguraikan bahwaTan-yuen berangkat
dari Chiao-chih (Tongkin), tetapi meninggal di P'an-pan, di
sebelah utara Ho-ling.
(3) Chiu T'ang Shu menguraikan bahwa P'an-P'an terletak di sebelah
barat daya Lin-i (Campa), di sudut laut. Di sebelah utara terpisah
oleh laut sempit dengan Lin-i. Dari Chiao-chou letaknya sejauh
40 hari pelayaran. Negeri ini berbatasan dengan Langya-hsiu.
(4)Negeri Tou-ho-lo (Dwarawati) di sebelah selatan berbatasan
dengan Pan-p'an, di sebelah utara dengan Kia-lo-sheh-fu, di
sebelah timur dengan Chen-la, dan di sebelah barat dengan laut
besar. Dari Kanton letaknya sejauh lima bulan perjalanan.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 93
(5)Hsin T'ang Shu menyatakan bahwa di sebelah selatan P'an-p'an
terletak Ko-lo, atau Ko-lo-fu-sha-lo.
(6)T'ung Tien mengatakan bahwa Ko-lo atau Ko-lo-fu-shao-lo,
menurut uraian dinasti Han, terletak di tenggara P'an-pan.
Prof. G. Coed~s berpendapat bahwa Pan-p'an terletak di
Semenanjung, di pantai Teluk Siam. Lokalisasinya tidak dinyatakan
dengan tegas. Dr. Quaritch Wales mengira bahwa Wieng Sra yaitu
pusat pertama negeri P'an-pan. Prof Hs~ sampai kepada kesimpulan
bahwa P'an-p'an sama dengan Pran-puri (Pranpun), sebab menurut
beria Shui Shu, Tu-ho-lo di sebelah selatan berbatasan dengan P'an
p'an. Pernyataan bahwa Ko-lo terletak di sebelah selatan P'an-pan,
sebab nya, hams ditafsirkan "di tenggara''. Demikianlah, pendapat
para sarjana sejarah tentang P'an-p'an. Kiranya di antara pendapat
pendapat itu pendapat Prof. Hs~ yang paling konkret dan mendekati
kebenaran.
10. Fo-shih-pu-lo
Sesudah Ku-lun, pendeta I-ts'ing menyebut Fo-shih-pu-lo. Ku
lun yaitu pulau Kondor, terletak di laut Cina, di muka Vietnam.
Demikianlah, Fo-shih-pu-lo harus dicari di pantai timur Vietnam.
Takakusu mencarinya di pulau Jawa dan menyamakannya
dengan Bojonegoro di sebelah barat kota Surabaya, sebab Fo-shih
pu-lo dikira transkripsi Tionghoa dari Bhojapura. Sejalan dengan
Shih-li-fo-shih sebagai transkripsi dari Sribhoya menurut va









