gunan itu selesai
seluruhnya, kali dipindahkan, tanahnya dijadikan wilayah candi.
ltulah tanah merdeka Pameget Wantil. Berikut nama pejabat dan
jabatannya. Tanah merdeka itu menjadi milik candi. Semua orang
yang diberi tugas untuk menjaga dan melakukan persembahan
diharap tekun lagi tabah, dan juga tidak akan mengalami lahir-mati
yang tidak ada hentinya.
Dengan terbitan itu persoalan asal usul Balaputra menjadi jelas.
Balaputra terbukti berasal dari Jawa Tengah. Penyingkirannya ke
Sriwijaya disebabkan sebab kekalahan perng dengan J atiningrat pada
pertengahan abad ke-9. N ama Balaputra mulai dikenal sejak tahun
1924 berkat penerbitan piagam Nalanda oleh sarjana Hirananda Sastri
di bawah judul "The Nalanda Copperplate of Dewapaladewa" dalam
Epigraphia Indica 17, hlm. 310-327.
F.D.K. Bosch, berdasar terbitan itu, menulis karangannya,
een Oorkonde van het Groote Klooster te Nalanda, dalam T. B. G. 6 5
tahun 1925 hlm. 509--527. R.C. Majumdar juga tertarik kepada
terbitan piagam Nalanda tersebut dan menulis karangannya dalam
monografi Varendra Research Society I pada tahun 1926. Dalam
98 Sriwijaya
terbitannya tentang piagam Kelurak pada tahun 1929 dalam T.B. G.
69, Bosch dengan sendirinya membandingkan epiteton v~ravaira
manthana pada piagam Nalanda dengan vairivarav~ramardana pada
piagam Kelurak. Perbandingan itu sekarang sudah menjadi klasik,
sebab setiap sarjana yang menulis tentang sejarah Sriwijaya tentu
mengulanginya, tetapi siapa di antara raja Medang yang mempunyai
epiteton tersebut hingga sekarang belum dapat dipastikan. Pendapat
tentang hal itu masih bersimpang siur.
Dalam karangannya, Le <;ailendra, tueur edes h~ros ennemis
(1950), yang telah disebut di atas, Coed~s juga menuju ke arah
pemecahan persoalan itu dan merekonstruksi gesasarvv~rimada
vithanag dengan tambahan ma dan bacaan tha diantara vi dan nag.
Mengenai lempengan tembaga Nalanda ini, Krom menulis bahwa
piagam tersebut membuktikan: 1). arti Nalanda bagi pemeluk agama
Budha di Sumatra; 2). hubungan erat antara raja-raja Sailendra di
Jawa dan Sumatra. Katanya: "Hubungan itu tidak didasarkan atas
kesamaan nama semata-mata, tetapi sebab kedua raja itu benar
benar berasal dari satu keturunan'' (Hindoe ]avaansche Geschiedenis,
hlm. 143).
Persoalan Balaputra yang sebelumnya selalu menemui jalan
bun tu, sebab terbitan A Metrical Old Javanese Inscription Dated 856
A.D. ini menjadi agak jelas. Namun, artikel itu juga belum dapat
memecahkan persoalan Balaputra, sebab bagaimana Balaputra dapat
naik takhta kerajaan Sriwijaya masih tetap merupakan teka-teki. Juga,
De Casparis masih beranggapan bahwa Dharmasetu, nenek Balaputra,
yaitu raja Sriwijaya, tetapi tidak ada buktinya. Oleh sebab itu,
persoalan tersebut perlu ditinjau sekali lagi.
Kecuali terbitan piagam Jatiningrat-Balaputra yang disertai
pembahasan panjang lebar dan mendalam, De Casparis masih
mengemukakan piagam baru yang langsung mempunyai hubungan
dengan sejarah Sriwijaya, yakni piagam Telaga Batu. Piagam Telaga
Batu yaitu piagam persumpahan, senapas dengan piagam Kota
Kapur dan Karang Brahi, namun redaksinya berbeda. Mulai baris 3
99
sampai 5, piagam itu menyebut jabatan para pembesar pemerintahan
Sriwijaya mulai dengan rajaputra sampai hulun haji. Penyebutan yang
demikian tidak dilakukan pada piagam Kota Kapur dan Karang Brahi.
Perbedaan redaksi ini memberi kesempatan pentafsiran baru
mengenai pusat kerajaan Sriwijaya. Lain dari itu, Prasasti negara kita
II masih memuat pecahan-pecahan piagam Sriwijaya yang belum
dikenal sebelumnya. Ini semuanya yaitu bahan baru sebagai
penambah bahan yang telah ada untuk penyusunan sejarah Sriwijaya.
Pada tahun 1958, Drs. Sukmono mengemukakan teori baru
tentang lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya berdasar penyelidikan
geomorfologi. Karangannya termuat dalam Laporan Kongres Ilmu
Pengetahuan Nasional I, hlm. 245-258. Hasil penyelidikannya
menyangkal lokalisasi pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang. Ia
melokalisasikannya di Jambi, menyamakan San-fo-ts'i dari berita
Tionghoa dengan Tembesi dan Sabadeibai dari Ptolomeus dengan
pulau Sabak.
Penyelidikan itu dilakukan atas paham bahwa pusat kerajaan
Sriwijaya hams terletak di tempat strategis yang dapat menguasai
pelayaran di Selat Malaka sebagai jalan lalu-lintas pelayaran India
Tiongkok dan kebalikannya, tanpa memperhitungkan faktor-faktor
lainnya. Karangan ini dikutip di belakang untuk dibicarakan. Kita
akan melihat sampai di mana kebenaran teori lokalisasi pusat
Sriwijaya berdasar geomorfologi, setelah dikaji dengan bahan
bahan sejarah lainnya.
Pada waktu dan tempat yang bersamaan, Prof. Mr. Moh. Yamin
menerbitkan karangannya, Penyelidikan Sejarah tentang Negara
Sriwijaya dan Rajakula Sailendra dalam Kerangka Kesatuan
Ketatanegaraan negara kita (idem, hlm. 133-223). Karangan itu dibagi
menjadi bagian: 1). Pidato pembimbing; 2). Perkembangan
penyelidikan sejarah; 3). Susunan tata negara Sriwijaya di bawah
kekuasaan rajakula Sailendra; 4). Negara Sriwijaya dan rajakula
Sailendra dalam kerangka kesatuan ketatanegaraan negara kita ; 5).
Sejarah zaman Sriwijaya dalam em pat dewasa (392--1406). Kemudian
menyusul lampiran beberapa piagam.
30 Sriwijaya
Ditegaskannya bahwa penyelidikan itu dilakukan terdorong oleh
semangat seminar sejarah di Yogyakarta pada tahun 1957 yang
menghendaki "tersusunnya sejarah negara kita sebagai sejarah nasional
negara kita . Peninjauan kembali penulisan sejarah nasional. Ia
menghendaki agar faktor kemerdekaan nasional diperhitungkan
dengan saksama dalam penilaian kembali hasil-hasil penyelidikan
kebudayaan pada zaman yang lampau." Pada penutup Perkembangan
Penyelidikan tertulis, "dan kongres M.I.P.I. di kota Malang mema
sukkan sejarah Sriwijaya ke pintu gerbang pembacaan dan
penyusunan kembali. Demikian Yamin.
Yang terbaca pada prasaran itu ialah uraian tentang hasil
penyelidikan sejarah Sriwijaya sampai tahun 1956. Tidak ada
pandangan baru atau usul baru untuk memecahkan persoalan-per
soalan yang hingga pada waktu itu masih menjadi bahan perdebatan.
Pembacaan kembali bahan-bahan sejarah Sriwijaya mau tidak
mau menghadapkan kita kepada persoalan-persoalan tersebut.
Timbulnya persoalan-persoalan itu disebabkan sebab para sarjana
sejarah yang bersangkutan berpikir kritis, tidak dapat menerima
begitu saja saran-saran yang dianjurkan sebelumnya. Demikianlah,
menurut paham saya perdebatan ilmiah itu bertujuan untuk mencari
penjelasan mengenai kejadian yang dinyatakan pada atau dalam
bentuk piagam dan uraian lainnya. Para sarjana mencari hubungan
antara peristiwa-peristiwa sejarah yang tampaknya masing-masing
berdiri sendiri.
Sebelum hubungan antara fakta-fakta sejarah itu dapat
dijelaskan, rekonstruksi sejarah Sriwijaya belum dapat dilakukan
dengan sempurna. Rekonstruksi yang dipaksakan dalam suatu
kerangka, tanpa pengetahuan yang benar mengenai fakta-fakta yang
bersangkutan, lebih menyerupai lamunan daripada rekonstruksi,
sebab penjelasan fakta-fakta sejarah yang kedapatan di sana-sini
masih merupakan persoalan. Sebagai misal, penyusunan sejarah
Sriwijaya menurut konsep Tyonbee dikemukakan lahirnya kerajaan
Sriwijaya berdasar piagam Kedukan Bukit: "Dewasa timbul dari
31
tahun 392 sampai 683, yaitu tarikh proklamasi pembentukan
kedatuan Sriwijaya menurut dua pertulisan yang sama, yaitu
pertulisan Kedukan Bukit bertarikh 605 Saka."
Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa tarikh tahun
proklamasi itu 683 atau menyebut piagam Kedukan Bukit itu piagam
proklamasi, kalau hingga sekarang persoalan piagam Kedukan Bukit
belum dapat dipecahkan. Yang pasti ialah bahwa piagam Kedukan
Bukit itu bukan piagam proklamasi, seperti dugaan Prof. Krom
(H.J.G. him. 121) yang diikuti oleh Moh. Yamin, atau piagam
siddhiy~tra seperti yang dikemukakan oleh Coed~s, melainkan piagam
perjalanan jaya atau piagam jayasiddhay~tra. Lagi pula pada tahun
671, pendeta I-t'sing dan Wu-hing telah mengunjungi kerajaan
Sriwijaya dan diterima oleh sang raja.
Persoalan bagaimana Balaputra dapat menjadi raja di Sriwijaya
sesudah menyingkir dari Mataram, belum mendapat jawaban yang
memuaskan. Kebanyakan para sarjana menduga bahwa nenek Bala
putra Sri Dharmasetu yaitu raja Sriwijaya, tetapi dugaan ini tidak
berdasar bukti. Urutan raja yang memerintah kerajaan Sriwijaya,
seperti yang dipaparkan oleh Moh. Yamin, masih harus diikuti tanda
tanya yang besar. Ini hanya beberapa contoh saja mengenai persoalan
sejarah Sriwijaya. Semangat nasional dalam penulisan sejarah
memang sangat diperlukan, dan semangat itu menjiwai Prof. Yamin.
Namun, semangat nasional di dalam karya ilmiah tidak dapat
mengubah anggapan menjadi fakta sejarah tanpa didahului oleh
pembuktian, atau menganggap sepi persoalan-persoalan yang ada.
Oleh sebab itu, menurut pendapat saya, salah satu jalan yang hams
ditempuh sebelum menyusun kembali sejarah Sriwijaya dalam rangka
nasional ialah berusaha meneliti lagi bahan-bahan sejarah Sriwijaya,
dan berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang masih gelap.
Usaha penyusunan kembali sejarah Sriwijaya, seperti yang dicita
citakan oleh Prof. Mr. Moh. Yamin, terang mempunyai segi-segi
yang baik. Sedikit demi sedikit kelemahannya akan dapat diatasi.
39 Sriwijaya
Pada tahun 1961, Tan Yeok Seong mengumumkan salinan
piagam Kanton yang ditemukan pada tahun 1959. Piagam itu
mengenai pembangunan kembali candi Tien ching yang
diselenggarakan oleh Ti-hua-ka-lo dari San-fo-ts'i pada tahun 1079.
Penemuan piagam ini penting artinya untuk mengetahui keadaan
negara Sriwijaya pada abad ke-11 sesudah serangan raj a Chola, seperti
dinyatakan pada piagam Tanyore yang bertarikh tahun 1030. Jika
transkripsi Ti-hua-ka-lo itu memang benar dan dapat diidentifikasikan
dengan Dewa Kulottungga (Dewa Chola), ada kepastian bahwa
Sriwijaya pada waktu itu ada di bawah kekuasaan raja-raja Khola.
Prof. Brian Harrison dalam bukunya, South East Asia (1957),
membicarakan kerajaan Sriwijaya pada pasal III di bawah judul Early
Indianized States: Funan and Sriwijaya. Brian Harrison menguraikan,
pembentukan kerajaan Funan oleh Kaundinya berasal dari P'an-pa an
(Prampuri diTeluk Siam) di sekitar tahun 400 dan runtuhnya dalam
abad ke-6 oleh bangsa Khmer. Dengan runtuhnya kerajaan Funan
itu, Kamboja memasuki zaman pra-Angkor yang berakhir pada tahun
802, yakni timbulnya pemerintahan Jayawarman II setelah mem
bebaskan diri dari kekuasaan J awa.
berdasar pendapat Coed~s, ia menghubungkan wangsa
Sailaraja di Kamboja dengan wangsa Sailendra di Jawa Tengah dan
Sriwijaya. Menurut pendapatnya, penyebutan wangsa Sailendra oleh
raj a-raj a di Jawa Tengah itu menunjukkan bahwa mereka yaitu ahli
waris dari raja-raja di Funan. Namun, pendapat Coed~s itu hingga
sekarang masih tetap merupakan anggapan yang masih memerlukan
pembuktian. Secara populer sekali, Brian Harrison menguraikan
sejarah Sriwijaya dengan sekadar menyinggung pelbagai peristiwa
sejarah yang masih diragukan dan menghendaki pemecahan. Tetapi,
sebab tulisan itu dimaksud sebagai tafsir peristiwa sejarah yang
populer dalam rangka sejarah Asia Tenggara secara singkat pula,
dengan sendirinya ia tidak berusaha untuk memecahkan persoalan
persoalan itu.
Mengenai hubungan antara wangsa Sailendra di Jawa Tengah
dan di Sriwijaya, dikatakannya bahwa kedatangan wangsa Sailendra
335
di Sriwijaya dalam abad ke-9 disebabkan sebab perkawinan. Bukti
usang yang dikemukakannya ialah pernyataan Balaputradewa pada
piagam Nalanda. Soal perkawinan politik memang mempunyai
peranan penting dalam perluasan wilayah, namun kedatangan
Balaputradewa dari Jawa Tengah ke Sriwijaya kiranya tidak didasarkan
atas perkawinan dengan putri Sriwijaya. Lagi pula, Dharmasetu yang
hingga sekarang dianggap raja Sriwijaya dan menjadi nenek
Balaputradewa, kiranya raja Jawa Tengah. Yang pasti ialah bahwa
nama Sri D harmasetu kedapatan pada piagam Kelurak dengan tarikh
tahun 782. Balaputra sendiri berasal dari Jawa Tengah pula. Ayahnya,
Samaragrawira, juga menjadi raja di Jawa Tengah. Penyingkiran
Balaputradewa ke Sriwijaya tidak didasarkan atas perkawinan dengan
putri Sriwijaya, tetapi kalah perang dengan rakai Pikatan. Mengenai
hal ini akan didapat uraian yang lebih mendalam dalam pasal yang
bersangkutan.
Pada tahun 1961, terbit cetak ulang buku Prof. D.G.E. Hall, A
History ofSouth East Asia, yang telah terbit pada tahun 1955. Tulisan
Hall tidak semata-mata menguraikan sejarah kuno seperti yang
dilakukan oleh Prof. Dr. N.J. Krom dan Prof. George Coed~s, tetapi
juga membicarakan sejarah baru tentang perkembangan negara-negara
di Asia Tenggara. Uraiannya tentang sejarah lama yang bersangkut
paut dengan negara kita dikerjakannya dengan teliti berdasar hasil
penyelidikan dan pandangan para sarjana Prancis, India, dan Belanda,
baik yang telah lama lampau maupun yang masih sangat baru.
Sejarah negara kita kuno mendapat tempat yang wajar. Juga
sejarah Sriwijaya dengan sendirinya mendapat penuh perhatian.
Uraiannya mengenai sejarah Sriwijaya didasarkan atas karangan
Coed~s, Majumdar, Nilakanta Sastri, Krom, dan terutama De
Casparis. Boleh dikatakan, pandangan de Casparis hampir seluruhnya
diterima, diringkas. Nama-nama raja Sriwijaya yang masih merupakan
teka-teki dan yang pernah dikemukakan oleh De Casparis sebagai
anggapan ikut juga terkutip. Di samping itu, ia menolak pendapat
Coed~s tentang asal usul rajakula Sailendra, dengan mengatakan
bahwa pendapat Coed~s masih merupakan teori belaka, yang masih
34 Sriwijaya
memerlukan bukti-bukti. Ia gembira dengan penemuan nama
narawarad yang tercantum pada baris penghabisan piagam Kelurak,
yang mengingatkannya kepada nama ibu kota kerajaan Funan lama.
Kata narawara, artinya "orang pilihan" atau "orang perwira, tidak
ada hubungannya dengan nama kota. Pandangan Hall, sebagai
pandangan sejarah yang didasarkan atas segala hasil penyelidikan
para sarjana yang bersangkutan, merupakan himpunan sari
penyelidikan sejarah Sriwijaya, dan berguna sekali untuk diketahui
namun tidak memberikan fakta baru.
Itulah karangan-karangan yang penting tentang sejarah Sriwijaya
hingga tahun 1961. Karangan-karangan lainnya yang khusus
mengenai Sriwijaya akan disinggung dalam pembahasan, jika
dianggap perlu. Masih ada beberapa karangan ahli sejarah yang juga
menyinggung sejarah Sriwijaya, tetapi pembahasannya hanya
dilakukan sambil lalu, sehingga rasanya tidak perlu ditanggapi secara
khusus.
Bernard H.M. Vlekke menerbitkan Vusantara: A History of In
donesia pada tahun 1959 sebagai cetak ulang dari karangannya pada
tahun 1943. Dari judulnya itu, orang mengharapkan pembahasan
sejarah Sriwijaya secara mendalam atau Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya
dibicarakan pada pasal II: The Kingdom of Java and Sumatra. Dalam
pasal itu, kerajaan Sriwijaya hanya disinggung saja dengan beberapa
kalimat. Yang lebih banyak mendapat perhatian ialah sejarah Mataram
dan Majapahit. Uraiannya boleh dikatakan singkatan pendapat Krom.
Juga H.J. de Graaf dalam bukunya, Geschiedenis van Indonesie (1948),
hanya menyinggung secara sepintas lalu sejarah Sriwijaya.
Bab 9
PENDIDIKAN PENDETA I-TS'ING
Pendidikan
Fa-chien yaitu pendeta Tionghoa yang pertama kali melakukan
ziarah ke tanah suci India sebagai sumber agama Budha. Lama ziarah
itu lebih kurang 15 tahun, yakni dari tahun 399 sampai 414. Ziarah
itu diuraikan dalam bukunya, Fo-hue-ki.
Seratus tahun kemudian, yakni pada tahun 518, Sun-yun dan
Hwui-ning berziarah dari Tiongkok ke India juga, namun uraiannya
terlalu singkat jika dibandingkan dengan uraian pendeta-pendeta
lainnya. Pendeta Hiuen Thsang mengembara selama 17 tahun di
tanah suci India dari tahun 629 sampai 645. Segala pengalamannya
diuraikannya dengan teliti dalam bukunya, Si-yu-ki. Dengan
sendirinya uraian itu berharga sekali untuk pengetahuan sejarah dan
geografi India pada abad ke-7. Uraian yang bernilai tinggi itu ternyata
menarik perhatian para pemeluk agama Budha dan menjadi
pendorong untuk juga melakukan ziarah ke India. Demikianlah,
setelah Hiuen Thsang meninggal, pendeta I-t'sing berangkat ke
Nalanda pada tahun 671.
Secara teliti ia menguraikan ziarahnya dalam bukunya yang
berjudul, Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan dan Ta-tang-si-yu-ku-fa-kao
s~ng-ch'uan. Buku yang pertama diterjemahkan oleh Takakusu pada
tahun 1896 di bawah judulA Record of the Buddhist Religion as Prac-
36 Sriwijaya
tised in India and the Malay Archipelago. Untuk gampangnya, buku
itu disebut Record saja.
Buku I-ts'ing yang kedua diterjemahkan oleh Prof. Chavannes
pada tahun 1894 di bawah judul Memoire ~ l'~poque de la grande
dynastie Tang sur les religieux ~minents qui allerent chercher la Loi dans
les pays d'Occident. Atas alasan yang sama, buku yang kedua ini disebut
Memoire saja. Kedua karya itu penting sekali untuk mengetahui
sejarah kerajaan Sriwijaya khususnya dan negeri-negeri di lautan
Teduh umumnya, yang dilalui I-ts'ing dalam perjalanannya dari
Tiongkok ke India dan kebalikannya. I-ts' ing menyaksikan keadaan
negara Sriwijaya dan negara-negara lainnya dengan mata kepala
sendiri. Uraiannya yaitu sumber berita dari tangan pertama; oleh
sebab itu, mendapat perhatian sepenuhnya.
Pendeta I-ts'ing lahir pada tahun 635 di Fan-yang dekat Pe
king, dalam masa pemerintahan Fai-tsung. Sejak berumur 7 tahun,
ia belajar sastra Tionghoa um um. Ia merasa berbahagia sekali bertemu
dengan dua orang guru, yakni San-y~ sebagai upadhyaya dan Hui
hsi sebagai karmacarya. Mereka tinggal di asrama Shi-en-t' ung yang
didirikan oleh ahli renung Seng-lang sejak tahun 396, seorang pertapa
dari Chin-ii di Tai Shan. Mereka masing-masing dilahirkan di Teh
dan Pei. Mereka berdua sependapat bahwa kehidupan bertapa banyak
manfaatnya untuk kepentingan dirinya pribadi, namun sedikit
faedahnya untuk kebahagiaan orang lain.
Sekadar untuk memenuhi peraturan agama yang dipeluknya,
San-y~ dan Hui-hsi pernah melakukan tapa di gua (Tu-ku) sambil
memandang air jernih yang mengalir. Hidup bertapa demikian itu
tidak dilanjutkan. Mereka lebih suka bekerja, mengumpulkan bahan
makanan untuk persediaan bagi para murid yang suka mengangsu
ilmu pada mereka di asrama, dan untuk persajian kepada area Budha.
San-y~ dan Hui-shi mendidik I-ts'ing sejak berumur 7 tahun sampai
berumur 37 tahun, waktu ia berangkat ke India melalui kerajaan
Sriwijaya di Sumatra.
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 37
I-ts'ing hanya mendapat kesempatan lima tahun lamanya untuk
belajar kepada San-y~, sebab pada tahun 646 San-y~ meninggal.
Tetapi waktu lima tahun itu sudah cukup baginya untuk mengenal
jiwa San-yil. Gengsi San-y~ sangat berkesan pada I-ts'ing.
I-ts'ing menyebut gurunya dalam Record, yang ditulisnya lebih
kurang 45 tahun kemudian sepeninggal San-y~, dengan kiasan gajah
besar. Pemakaian metafora yang demikian oleh sarjana besar I-ts'ing
hanya dapat ditafsirkan sebagai pernyataan kekagumannya terhadap
keagungan sifat-sifat sang guru San-y~ sebagai guru, sebagai pendeta,
sebagai sarjana, dan sebagai manusia biasa. Dalam bukunya tersebut,
I-ts'ing menguraikan enam sifat yang dimiliki oleh San-y~, yakni
keluasan pengetahuan sebagai guru, keanekaragaman pengetahu
annya, kecerdasan berpikir, kejujuran, kemurahan hati, dan ketekunan
kerja.
I-ts'ing melanjutkan riwayatnya dan berkata bahwa pada waktu
itu ia sedang menginjak usia 12 tahun. Sepeninggal San-y~, dalam
pelajaran ia dipimpin oleh Hui-hsi, yang menurut uraiannya ternyata
sarjana besar pula. Pada umur 14 tahun, ia dilantik dalam pravadya
dan sejak menginjak umur 18 tahun, timbullah angan-angan untuk
melakukan ziarah ke tanah suci India. Tetapi keinginannya itu lama
tidak terkabul sampai ia berumur 37 tahun. Selama itu ia selalu ada
di bawah pimpinan Hui-hsi dan mempelajari kanon suci agama
Budha. Ketika ia berumur 20 tahun, ia dilantik dalam upasampadad.
Menurut I-ts'ing, Hui-hsi yaitu seorang ahli dalam winaya.
Pikirannya terang-tenang, tidak pernah melalaikan latihan, enam kali
selama satu hari satu malam. Tidak pernah merasa lelah mengajar
empat macam kelas, yakni golongan biksu, biksuni, upasaka, dan
upasika. Boleh dikatakan bahwa ia tidak pernah gusar dalam meng
hadapi kesibukan yang bagaimanapun. Sikapnya tetap tenang dan
sabar. Hui-hsi terlalu jujur, tidak suka memihak. Baik pendeta
maupun awam bila benar dibenarkan; bila salah disalahkan.
Saddharmapundarika yaitu buku kegemarannya. Selama 60
tahun ia membacanya setiap hari; jadi ia sudah membacanya 20.000
38 Sriwijaya
kali. Meskipun hidupnya dalam zaman yang serba sulit pada masa
pemerintahan dinasti Sui (509-617), dan berpindah-pindah dari
tempat yang satu ke tempat yang lain menurutkan nasibnya, ia tidak
melalaikan kesanggupannya untuk membaca Saddharmapundarika
setiap hari.
Hui-hsi memiliki sadindera dan empat macam zat yang
diperlukan untuk kesehatan badannya. Oleh sebab itu, selama 60
tahun ia tidak pernah jatuh sakit. Pada waktu senja senyap, biasanya
Hui-hsi mencari I-ts'ing. Dengan ramah mereka bercakap-cakap. Ada
kalanya percakapan itu hanya mengenai daun-daun yang sedang
menguning, tetapi sebab percakapan itu ia dapat menghindarkan
I-ts'ing dari rasa rindu kepada ibunya. Ada kalanya ia menceritakan
adat anak lembu yang disusui dan dibesarkan oleh induknya. Dengan
contoh itu ia mengajar I-ts'ing secara tidak langsung, agar ia selalu
membalas cinta kasih yang pernah dilimpahkan orang kepadanya.
Hui-hsi yaitu pujangga besar. I-ts'ing mengagumi bakat
kepujanggaannya. Puji sanjung I-ts'ing kepada Hui-hsi terlalu muluk.
Pada hlm. 213, I-tsing menyatakan ketakutannya kalau-kalau
sementara orang menyangsikan ucapannya, menduga bahwa
pujiannya kepada Hui-hsi tidak beralasan. Oleh sebab itu, ia
memberikan bukti tentang kebesaran Hui-hsi.
Pada tanggal 12 bulan kedua, yakni pada hari Budha-nirwana,
orang ramai, baik pendeta maupun awam, berkumpul di bukit selatan
tern pat Seng-lang dimakamkan. Mereka datang untuk memperingati
Seng-lang sebagai pemuka agama Budha. Pada waktu itu, semua
pujangga di kerajaan Chi hadir. Masing-masing yaitu pujangga
terkenal yang telah mempunyai bukti kerja berupa karya sastra.
Sebelum hari yang mulia itu tiba, raja telah membuat seruan kepada
para pujangga untuk menulis sebuah kakawin yang akan ditulis pada
kaki arca Seng-lang pada hari Budha-nirwana. Hui-hsi menyambut
seruan itu tanpa ragu-ragu.
Hui-hsi menulis kakawinnya pada tembok tanpa kekeliruan
sedikit pun. Kakawin itu termuat pada hlm. 214. Waktu hadirin
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 39
membaca kakawin tersebut, semuanya kagum. Ada di antara pujangga
yang segera meletakkan pensilnya, ada yang menusukkannya pada
batang pohon sambil berkata: "Si Shih (nama seorang wanita yang
terpuja kecantikannya) telah memperlihatkan diri. Bagaimana Mu
Mo (nama wanita buta) akan menandinginya?" Banyak kaum cen
dekiawan yang hadir pada waktu itu, namun tak ada seorang pun
yang sanggup menandingi Hui-hsi. Karya Hui-hsi yang bertebaran
telah dikumpulkan dalam himpunan karangan.
I-ts'ing dibesarkan dalam lingkungan kesarjanaan. sebab ia pun
memiliki bakat dan jiwa besar, maka bakat dan jiwanya mendapat
pupuk yang akan menyuburkan tumbuhnya. Di dalam uraiannya,
ia menyebut tiga orang guru yang paham akan winaya dan sangat
dihormatinya, yakni San-y~, Hui-his, dan Ming-teh. Itulah latar
belakang pendidikan pendeta I-ts'ing sebelum berangkat ke India.
Hui-hsi sering berkata kepadanya bahwa Budha telah lama mening
gal. Ajarannya sudah mulai disalahtafsirkan. Mereka yang harus
membina aturan-aturan keagamaan malah melanggarnya.
Ajaran Hui-hsi inilah yang menjadi pendorong dan menim
bulkan angan-angan padanya untuk melakukan ziarah ke India, un
tuk mempelajari agama Budha lebih dalam lagi. I-ts'ing menganggap
San-y~ sebagai bapaknya, Hui-hsi sebagai ibunya. Dalam hubungan
mesra antara guru dan murid seperti yang diuraikan dan dialami
oleh I-tsing itu sendiri, jiwa yang memang berbakat akan dapat
berkembang.
Salah satu pendorong I-ts' ing untuk melakukan ziarah ke India
ialah kekagumannya kepada pendeta Fa-hien dan bhadanta Hiuen
Thsang yang telah lebih dahulu mengunjungi India. sebab
kunjungan itu, mereka mendapat pengetahuan yang lebih luas dan
lebih dalam serta semangat yang menyala-nyala untuk menyiarkan
agama Budha di Tiongkok. Dalam Record hlm. 183-184, I-ts'ing
berkata: "Kasiapa-matanga dan Dharmaraksha menyampaikan berita
berita suci di ibu kota provinsi timur Lo (Honan-fu); kemasyhuran
Paramartha sampai di laut Sela tan (Nan Ying), dan yang sedang mulai
40 Sriwijaya
ialah Kumarajiwa. Ia memberikan kehidupan segar kepada negeri
asing (Tiongkok). Kemudian bhadanta Hiuen Thsang memberikan
kuliah di negerinya sendiri. Dengan jalan demikian, baik pada zaman
yang telah silam maupun pada zaman sekarang, para guru menye
barkan ajaran Budha sangat luas dan jauh."
Pada hlm. 207, I-ts'ing menguraikan jasa-jasa Seng-lang sebagai
pendeta terkemuka yang mendirikan candi dan asrama di T' ai Shan.
Meskipun Seng-lang telah lama meninggal, namun pengaruhnya
masih tetap terlampau besar dan kemasyhurannya masih terus
berkumandang. Sepeninggal Seng-lang, San-y~ dan Hui-hsi tampil
ke muka sebagai penggantinya, ditambah seorang lagi Ming-teh:
ketiga-tiganya ahli dalam winaya dan paham akan segala sutera.
Salah satu ajaran yang mereka pertahankan ialah larangan mem
bakar jenasah. Sejak para pendeta dari asrama Kuda Putih di Lo
yang yakni Kasiapa-matanga dan Dharmaraksha-bergerak,
memancarkan sinar kebijaksanaan, seolah-olah mereka menjadi
matahari dan bulan di negara dewata (Tiongkok), gajah hi tam Kang
seng-hui dan Fa-hien siap berpelana, sebab tepa teladan yang sangat
utama menjadi pertahanan dan jembatan untuk mengantarkan
kekayaan spiritual India ke Tiongkok. Tao-an dan Hui-yen bergerak
sebagai harimau di sebelah selatan sungai Yang-tse dan Han. Hui
hsi dan Fa-li beterbangan sebagai burung hantu di sebelah utara
sungai Hwang dan Chi.
I-ts'ing berangan-angan menjadi pendeta yang berguna untuk
penyiaran agamanya seperti para pendeta yang dikaguminya itu. la
berpikir bahwa rantai kedatangan penyiar agama tidak boleh terputus.
Oleh sebab itu, ia ingin bersiap-siap untuk menjadi pendeta besar
di negerinya, yang kiranya kemudian sanggup mengganti gurunya,
Hui-hsi. Oleh sebab itu, ia pun mencurahkan segenap tenaga dan
perhatiannya kepada ajaran sang guru dan kepada segala macam
sutera. Ketika terasa oleh Hui-hsi bahwa ia sudah masak dalam ilmu,
ia mendapat perintah untuk pergi mencari ilmu yang lebih dalam.
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 41
Demikianlah, I-ts'ing minta diri kepada Hui-hsi, berangkat ke
Wei di sebelah selatan. Di sana ia mempelajari Abhidarmasangiti dan
Samparigrahasastra, kemudian berpindah ke ibu kota provinsi barat
Si-an-fu untuk mempelajari Koca dan Vidyamatrasiddhi. Di sini, I
ts'ing menetap sampai tahun 670, beberapa bulan sebelum ia
berangkat ke India.
Setelah persiapan untuk melakukan ziarah ke India dipandang
telah cukup, ia meninggalkan ibu kota Si-an-fu menuju Fan-yang,
tern pat kelahirannya. Sesudah itu barulah ia kembali ke asrama T' ai
Shan untuk minta nasihat kepada Hui-hsi. Katanya: "Sang guru,
saya bermaksud untuk mengadakan perjalanan jauh. Saya yak.in bahwa
di sini saya belum sampai pada ilmu yang saya tuntut. Di tempat
tujuan itu, saya akan memperoleh kemajuan yang pesat. Engkau
sudah lanjut dalam usia. Oleh sebab itu, saya tidak akan berbuat
sesuatu tanpa minta nasihatmu lebih dahulu."
Jawab Hui-hsi: "Ini yaitu kesempatan yang sangat baik
bagimu. Kesempatan itu tidak akan berulang lagi. Alm gembira
mendengar maksudmu. Tak ada gunanya aku melahirkan perasaan
kesedihanku. Bila ada umur panjang, aku akan melihatmu kembali
dan akan menyaksikan usahamu memperluas ajaran Budha. Berang
katlah tan pa ragu-ragu.J angan melihat segala apa yang kau tinggalkan.
Alm setuju benar dengan maksudmu untuk melakukan ziarah ke
tanah suci. Apalagi mengingat bahwa ziarah itu yaitu penunaian
tugas suci untuk kebahagiaan agama. Tidak usah ragu-ragu."
Perjalanan ke India
Sebelum I-ts'ing berangkat, ia masih sempat mengunjungi
kubur San-y~ untuk memberi hormat, minta diri dan restu. Pada
waktu itu daun-daun pohon di sekitarnya terlalu rimbun melingkupi
nisannya, dan rumput-rumput tumbuh sangat rapat pada kaki nisan.
Meskipun San-y~ sudah tidak ada lagi, namun hormat I-ts'ing
besar bukan kepalang, seolah-olah San-y~ masih hidup. I-ts'ing
49 Sriwijaya
merenungkan segala kebaikan sang guru yang pernah dilimpahkan
kepadanya. Kemudian ia berangkat meninggalkan Kwang-chou
(Kanton) pada bulan 11 tahun kedua pada masa pemerintahan Hsien
Heng, atau pada tahun Masehi 671, menuju lautan Selatan dengan
hati tenteram, sebab maksudnya disetujui oleh sang guru, bahkan
mendapat perintah berangkat, yang bagaimanapun tidak akan dapat
diabaikannya.
Demikianlah, ia berlayar dari negeri yang satu ke negeri yang
lain, menuju India untuk berziarah. Pada hari kedelapan bulan dua
tahun keempat masa pemerintahan Hsien Heng (tahun Masehi 673),
I-ts'ing sampai di Tamralipti, sebuah pelabuhan di pantai India Timur.
Pada bulan kelima ia mengadakan perjalanan ke barat, bertemu
dengan kawan di sana-sini. Kemudian ke asrama Nalanda dan ke
takhta manikam; akhirnya mengunjungi semua tempat suci. Setelah
itu kembali ke Shi-li-fo-shih.
Uraian perjalanan I-ts'ing dalam Record terlalu singkat. Uraian
itu hanya sekadar diselipkan saja dalam pasal yang istimewa mem
perbincangkan para gurunya. Uraiannya yang lebih panjang termuat
dalam Memo ire yang telah diterjemahkan oleh Prof. Chavannes.
Semula ada beberapa orang teman yang akan turut berangkat.
Sampai tahun pertama masa pemerintahan Hsien Heng atau tahun
Masehi 670, I-ts'ing tinggal di ibu kota provinsi Chang-an. Pada
waktu itu, Chui (pengajar hukum, anak kelahiran Ping-pu), Hui-gi
(pengajar sastra, berasal dari Lai-chou), dan dua-tiga bhadanta lainnya
telah setuju untuk bersama-sama dengan I-ts'ing mengunjungi
Gridakuta dan melihat Bhodidruma di India. Ch'ui tidak jadi ikut
sebab cintanya kepada tempat kelahirannya dan ingat kepada ibunya
yang sudah tua. Hui-gi berubah pikirannya, berbelok ke Sukawati
waktu bertemu dengan Hiuen-chan di Kianning. Hiuen-kei hanya
sampai Kwang-tung. Akhirnya I-tsing berangkat dengan seorang
teman saja, seorang pendeta muda, muridnya yang bernama Tsin
chou. Pendeta muda ini dalam perjalanannya berhenti di Sumatra,
lalu kembali ke Kwang-tung sebab jatuh sakit. Demikianlah, I-ts'ing
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 43
berziarah ke India hanya seorang diri. Pada musim rontok tahun
671, ia bertemu dengan Feng-hsiao-ch'uan dari Kong-chou.
Atas pertolongan Feng-hsiao-ch'uan, ia dapat berhubungan
dengan pemilik kapal Persi yang akan ditumpanginya. I-ts' ing merasa
banyak berhutang budi kepadanya, sebab Feng-hsiao beserta saudara
saudaranya menyiapkan segala perlengkapan untuk keberangkat
annya. Mereka menjaga benar-benar agar I-ts'ing jangan sampai
menderita kekurangan, mengalami kesulitan di tengah jalan. Mereka
tidak ada ubahnya dengan orang tuanya sendiri. Pada pasal ini
nyatalah bahwa ibu-bapak I-ts'ing pada waktu itu telah meninggal,
sebab ia berkata bahwa segala apa yang diminta oleh si yatim piatu
kepada keluarga Feng diberinya.
Demikianlah, waktu I-ts'ing pada tahun 670 dari ibu kota pro
vinsi barat berangkat ke Fan-yang, tempat kelahirannya, ia mengun
jungi makam orang tuanya untuk minta diri dan restu dalam perjalan
an ke India. Secara jujur ia mengaku bahwa ziarahnya ke India dapat
dilakukan terutama berkat kemurahan hati dan bantuan keluarga
Feng. Tidak enggan-enggan ia menyebut Feng sebagai tempat
bernaung. Para pendeta dan awam yang menaruh perhatian turut
mengantarkannya sampai pelabuhan. Para cerdik-cendekia dari
provinsi utara hadir, terharu pada waktu berpisah. Mereka mengira
tidak akan saling bertemu lagi.
Demikianlah, pada bulan 11 tahun 617, I-ts'ing berangkat me
nurutkan bintang Yi dan Chen, meninggalkan Kwang-tung, me
nyusur pantai ke arah selatan. Dalam pikirannya telah terbayang
taman Mregadawa di Benares dan gunung Kukkutapadagiri dekat
Gaya. Kapal berlayar menuju arah selatan yang kemerah-merahan;
tali-temali yang panjangnya seratus kubit, mengelewer dua-dua dari
atas. Waktu berpisah dengan bintang Yi, dua layar yang masing
masing panjangnya lima helai kain kampas melambai, meninggalkan
sisi utara yang kegelap-gelapan. Kapal laju ke selatan menumpang
aliran ombak; gelombang seperti awan putih melemparkan diri ke
angkasa.
44 Sriwijaya
Sesudah hampir 20 hari berlayar, kapal sampai di Fo-shih
(Sriwijaya). Di sini ia mendarat dan menetap selama enam bulan
untuk belajar Sabdavidya, yakni tata bahasa Sanskerta. Atas bantuan
sri baginda raja, kemudian ia berangkat ke tanah Melayu; sekarang
menjadi bagian Shih-li-fo-shih (Sriwijaya). Di sini ia singgah dua
bulan lamanya. Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Ka-cha
(Kedah). Dari sini ia berlayar lagi dengan kapal raja menuju India.
Dari Ka-cha terus ke utara.
Sesudah berlayar sepuluh hari lamanya, sampailah pada pulau
pulau Lo-j~ng-kuo; penduduknya masih telanjang bulat. Di sebelah
timur tampak pantai antara jarak satu-dua batu Cina. Yang tampak
hanyalah pohon nyiur dan pohon pinang gembira melambai-lambai.
Ketika tampak kapal datang, para penduduk, kira-kira seratus orang
banyaknya, segera melompat ke dalam sampan-sampan kecil;
semuanya membawa buah nyiur, pisang, barang-barang dari rotan
dan bambu, dengan maksud untuk ditukarkan. Yang mereka
harapkan ialah besi; lempengan besi selebar dua jari ditukarnya
dengan lima atau sepuluh buah nyiur. Yang laki-laki telanjang bulat;
yang perempuan sekadar bertutup daun. Jika ada di antara penum
pang yang secara senda-gurau menawarkan pakaiannya, mereka
melambaikan tangannya sebagai isyarat menolak.
Konon negara ini ada di bawah pengawasan Shu-ch'uan barat
daya. Pulau ini sama sekali tidak menghasilkan besi; emas dan perak
jarang sekali. Penduduknya semata-mata hidup dari buah nyiur, tidak
banyak padinya. Oleh sebab itu, yang mereka anggap paling
bermutu dan paling berharga ialah loha. Itulah nama untuk besi di
tempat itu. Kulitnya tidak hitam, tingginya sedang. Mereka cakap
sekali menganyam bakul-bakul dari rotan; tidak ada tempat lain yang
sanggup menandinginya. Kalau ada yang berani menolak tukar
menukar, mereka segera melepaskan anak panah yang beripuh.
Peluncuran sekali saja sudah cukup untuk membunuh orang.
Kira-kira sebulan berlayar dari situ ke arah barat laut sampai
Tan-mo-lo-ti, yang merupakan tapal batas India Timur, terletak lebih
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 45
kurang 60 yojana dari Mahabodhi clan Nalanda. Menurut berita
Record, I-ts'ing sampai di Tan-mo-lo-ti pada hari kedelapan bulan
kedua tahun keempat pada masa pemerintahan Hsien Heng (tahun
Masehi 673). Tan-mo-lo-ti yaitu pelabuhan di pantai Timur. Nama
yang sebenarnya ialah Tamralipti.
Di Tan-mo-li-ti, I-ts'ing bertemu dengan pendeta Tan-ch'eng
teng. la lalu tinggal bersama-sama dengan Teng beberapa bulan.
Selama itu ia mempelajari bahasa Sanskerta clan mempraktikkan
pengetahuannya tentang tata bahasa. Kemudian bersama-sama
dengan Teng berangkat ke provinsi barat clan menggabungkan diri
dengan sekelompok pedagang yang menuju India Tengah.
Kira-kira sejauh sepuluh hari perjalanan dari wihara Mahabodhi,
jalannya amat sulit lagi berbahaya. Pada waktu itu, ia jatuh sakit dan
tertinggal oleh kawan-kawannya sejalan. Teng bersama 20 pendeta
Nalanda lainnya telah jauh ke muka. Terhuyung-huyung dengan
jatuh bangun ia berusaha menyusulnya, namun tidak berhasil. la
berjalan seorang diri sampai Nalanda. Dalam hatinya telah tumbuh
pikiran bahwa ziarahnya akan gagal di tengah jalan. Lain dari itu,
pada waktu itu di provinsi barat sedang berkobar pergolakan. Tiap
orang yang berkulit putih dibunuh. sebab ketakutan, I-ts'ing masuk
dalam lumpur. Seluruh badannya disaput dengan lumpur hitam.
Jalan membelok ke utara menuju ke sebuah desa. ltulah Nalanda
yang dimimpikannya.
I-ts'ing lalu masuk candi Mulagandhakuti, kemudian mendaki
gunung Gridhakuta. Sesudah itu mengunjungi wihara Mahabodhi,
menyembah kepada area Budha. la menyampaikan pakaian yang
dibawanya dari Shan-tung, pemberian para pendeta clan awam,
kepada area Budha. Segala titipan ahli winaya Hiuen dari daerah Pu
disampaikannya. Demikian pula pesan An-tao dari daerah Ts' ao
untuk menyampaikan hormatnya kepada area Budha telah dilakukan.
I-ts'ing segera melemparkan dirinya di atas lantai, dengan pikiran
bulat memberikan sembah. la memohonkan kebahagiaan untuk
Tiongkok, kemurahan Budha kepada raja, ibu-bapak serta para
46 Sriwijaya
budiman berlimpah-limpah di wilayah Dharmadatu; harapannya
ialah bertemu dengan Budha Maitreja di bawah pohon Naga, beroleh
ajaran sejati dan akhirnya memiliki pengetahuan yang tidak tunduk
kepada hukum kelahiran. Di India, I-ts'ing berziarah berkeliling ke
tempat-tempat suci: wihara Waic_;:ali, Kusinagara, taman Mrigadawa
di Benares, dan gunung Kukkutapadagiri dekat Gaya. Ia tinggal di
wihara N alanda sepuluh tahun lamanya.
Setelah mengumpulkan naskah-naskah sebanyak 500.000 sloka,
ia bersiap-siap akan pulang. Pada tahun pertama masa pemerintahan
Chui-kung (tahun Masehi 685), I-ts'ing minta diri kepada Wu
hing di tempat sejauh 60 yojana di sebelah timur N alanda. Demi
kianlah, 1-ts'ing menetap di Nalanda antara tahun 675 sampai tahun
685. Dari situ ia berangkat ke Tan-mo-lo-ti untuk menumpang kapal
menuju Ka-cha. Dari sini kapal berlayar dua bulan ke arah tenggara
untuk sampai di Ka-cha. Pada waktu itu kapal dari Fo-shih akan
berlabuh di Ka-cha. Kedatangan kapal dari Fo-shih umumnya pada
bulan pertama atau bulan kedua. Mereka akan berangkat ke Singala
(Sri Lanka) berlayar ke arah barat daya. Kata orang, pelayaran itu
sejauh 700 yojana.
I-ts'ing singgah di Ka-cha sampai musim dingin, lalu berlayar
lagi ke arah selatan sebulan lamanya menuju tanah Mo-lo-yeu, yang
pada waktu itu sudah menjadi Fo-shih. Banyak negeri-negeri yang
menjadi bawahannya. Pada umumnya kedatangan perahu di sana
pada bulan pertama atau bulan kedua. Tinggal di sana sampai per
tengahan musim panas, lalu berangkat lagi ke utara; kira-kira sebulan
berlayar sampai di Kwang-fu (Kwang-tung).
Pernyataan I-ts'ing
Sekembalinya dari Nalanda, I-ts'ing menetap di Fo-shih lebih
kurang em pat tahun lamanya. Pada tanggal 20 bulan 7 tahun pertama
masa pemerintahan Yung-ch ang (689), ia sampai di Kwang-tung
kembali. Pelayaran kembali ini tidak direncanakan lebih dahulu.
Semula ia datang di sungai Fo-shih dengan maksud menitipkan surat
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 47
rahasia ke Kwang-tung untuk minta kiriman kue-kue, kertas, dan
tinta, guna menurun naskah-naskah Sanskerta dan sebagai upah kerja
menurun. Namun, pada waktu itu tiba angin baik. Oleh sebab itu,
layar-layar segera dipasang. I-tsing ikut terbawa. Ia tidak bermaksud
akan pulang.
Sekembalinya di Kwang-tung, I-ts ing bertemu dengan kawan
kawannya seagama, baik pendeta maupun awam. Dalam sidang di
candi Chih-chih, I-ts'ing mengemukakan usul pendapatnya: ia
membawa 500.000 sloka Tripitaka dari India. Sloka-sloka tersebut
masih ketinggalan di Fo-shih. Bagaimanapun, ia harus kembali ke
Fo-shih. Tetapi ia sudah merasa tua, sudah berumur 50 tahun lebih.
Oleh sebab itu, ia minta bantuan tenaga, yang kiranya dapat diserahi
pekerjaannya.
Usul itu mendapat sambutan baik dari sidang. Pendeta bernama
Cheng-ku, seorang ahli winaya, yang tempat tinggalnya tidak jauh
dari Kwang-tung, diusulkan oleh sidang sebagai pembantu utama I
ts'ing. Cheng-ku, yang tinggal sebagai pertapa di Shih-men sebelah
barat laut Kwang-tung, setelah membaca surat I-ts'ing segera sanggup
untuk menyertainya. Demikianlah, pada hari pertama bulan sebelas
tahun 689, I-ts'ing dengan pembantunya menumpang kapal dagang
melalui Lin-i menuju Fo-shih. Kecuali Cheng-ku, ada tiga pembantu
lagi yang menyertainya, yakni pendeta Tao-hung dan dua orang
pendeta yang tidak disebut namanya.
Menurut Sung-kao-seng-ch'uan, pengembaraan I-ts'ing di luar
Tiongkok selama 25 tahun. Ia kembali ke Kwang-tung pada perte
ngahan musim panas tahun pertama masa pemerintahan Cheng
seng (tahun Masehi 695) dengan membawa lebih kurang 4.000
naskah yang terdiri dari 500.000 sloka. Dari tahun 700 sampai 712,
ia menerjemahkan 56 buku dalam 230 jilid.
Pada waktu I-ts'ing mengunjungi Fo-shih, agama Budha di Fo
shih sedang berkembang. Di ibu kota Fo-shih yang dikelilingi ben
teng, terdapat lebih dari 1.000 pendeta Budha; semuanya rajin
mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dan mengamalkan ajaran
48 Sriwijaya
Budha. Mereka melakukan penelitian dan mempelajari ilmu yang
ada pada waktu itu; tak ada bedanya dengan Madhyadeca di India.
Aturan-aturan dan upacara sama sekali tidak berbeda. Oleh sebab
itu, bila ada pendeta Tionghoa yang ingin pergi ke India untuk
mengikuti ajaran-ajaran dan membaca teks-teks asli, ada baiknya
mereka tinggal di Fo-shih dua atau tiga tahun dahulu untuk berlatih,
sebelum berangkat ke India.
Di Shih-li-fo-shih, I-ts'ing bertemu dengan seorang pendeta
Wu-hing; seperti telah diketahui, ia bertemu dengan I-ts'ing lagi di
tempat yang letaknya sejauh 60 yojana di sebelah timur Nalanda.
Dalam perjalanannya ke Nalanda, Wu-hing juga singgah di Sriwijaya.
Katanya: "Setelah berlayar satu bulan, Wu-hing sampai di Shih-li
fo-shih. Baginda menerimanya dengan baik dan menghormatinya
sebagai tamu dari negeri putra dewata, T'ang agung. Dengan
menumpang kapal raja ia berlayar ke negeri Mo-lo-yeu; setelah 15
hari berlayar sampai di tempat tujuan. Kemudian setelah berlayar
15 hari lagi, ia sampai di Ka-cha. Pada akhir musim dingin, ia
menumpang kapal lain dan berlayar ke barat. 30 hari kemudian ia
tiba di N agapatana. Dari sini ia berangkat lagi dengan kapal ke pulau
Singhala; lamanya berlayar 20 hari."
Mengenai letak Sriwijaya, I-ts'ing berkata: "Di India, pengukur
waktu terdapat di mana-mana; namanya welacakra, yakni roda waktu.
Caranya mengukur bayang-bayang ialah memerhatikan bayang
bayang tongkat. J ika mencapai tingkat yang terpendek, artinya tepat
tengah hari. Tetapi di Jambudwipa panjang bayang-bayang itu
berbeda; ini bergantung kepada letak tempatnya. Di provinsi Lo,
misalnya, tidak ada bayang-bayang sama sekali. Lagi, misalnya di
negeri Shih-li-fo-shih, kita melihat bayang-bayang diwelacakra tidak
menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan delapan. Pada
tengah hari tak tampak bayang-bayang orang yang berdiri di bawah
matahari. Lain halnya kalau musim semi. Matahari tepat di atas kepala
dua kali satu tahun. Kalau matahari ada di sebelah selatan, bayang
bayang membujur ke utara, panjangnya lebih kurang dua atau tiga
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 49
kaki. Kalau matahari ada di sebelah utara, bayang-bayangnya sama,
tetapi jatuh ke selatan."
Di dalam kata pengantar Record, I-ts'ing menguraikan kehidupan
keagamaan di negara-negara yang dikunjunginya. Yang dikutip di
sini ialah uraiannya ten tang kehidupan keagamaan di Asia Tenggara,
sebab hal ini langsung berhubungan dengan pokok pembicaraan.
Katanya:
Di ujung sebelah timur ada gunung besar hitam (Takakusu
mengira Mahakala), yang kiranya terletak di perbatasan Tu-fan (Ti
bet). Kata orang, gunung itu ada di sebelah barat daya Shu-ch'uan;
dari Shuch'uan hanya sejauh perjalanan sebulan. Di sebelah selatan
gunung itu, dekat pantai, terdapat negeri yang disebut (riksatta
(Sriksetra: Prome); di sebelah tenggaranya Lang-ka-su (Takakusu:
Kamalangka, mestinya Langkasuka); sebelah timur Lang-ka-su ialah
To-ho-lo-po-ti (Dwarawati); di ujung timur Lin-i (Campa).
Penduduk negara-negara tersebut menyembah Ratnatraya
(Budha, dharma, sangha). Banyak di antaranya yang teguh men
jalankan hukum dan melakukan dhutangam (mengemis) yang sudah
menjadi kebiasaan di negeri-negeri ini. Orang-orang seperti itu yang
saya saksikan sendiri terdapat juga di barat (India); mereka memang
berbeda dengan orang-orang biasa. Di Singhala, semua penduduknya
tergolong dalam Aryasthawiranikaya; Aryamahasang-hikanikaya
dilarang.
Di negara-negara laut Selatan-terdiri dari sepuluh negara lebih
pada umumnya penduduknya menganut Mulasarwastiwadanikaya,
meskipun ada kalanya ada yang juga memeluk Sammitinikaya;
sekarang ada juga sementara pengikut kedua aliran lainnya (meskipun
hanya sedikit jumlahnya).
Dihitung dari barat, yang pertama ialah negeri P'o-lu'shi, lalu
negeri Mo-lo-yeu, yang sekarang menjadi negeri Shih-li-fo-shih, Mo
ho-sin, Ho-ling, Tan-tan, Pem-pen, P'o-li, K'u-lun, Fo-shih-pu-lo, O
shan dan Mo-chia-man. Masih ada beberapa pulau kecil-kecil lagi;
tidak dapat disebut semuanya di sini. Agama yang dipeluk di negeri
negeri ini terutama agama Budha aliran Hinayana, kecuali di negeri
Mo-lo-yeu. Di negeri ini sedikit saja aliran Mahayana.
Di antara negeri-negeri ini, ada yang kelilingnya kira-kira seratus
batu Cina; ada yang kira-kira seratus yojana. Meskipun sulit untuk
menghitung jarak di lautan besar, namun mereka yang telah biasa
50 Sriwijaya
berlayar dengan kapal dagang akan pandai mengira-ngira luasnya
pulau. Negeri-negeri itu semuanya dikenal atas satu nama umum,
yakni Kepulauan K'ulun, sebab utusan K'ulun yang pertama kali
datang di Ko-chin dan Kwang-tung.
Di dalam Record, I-ts'ing juga menyebut nama para pendeta
sarjana di India dan di negeri-negeri laut Selatan.
Mereka itu Jnanacandra, ahli hukum, tinggal di wihara Tiladha;
Ratnasinha di wihara Nalanda; Diwakaramitra di India Timur;
Tathagatagarbha di daerah ujung selatan; di Shih-li-fo-shih yang terletak
di laut Selatan menetap Sakyakirti. la berkeliling di lima negeri di India
untuk mencari ilmu; sekarang ia ada di Shih-li-fo-shih.
Di India Timur, ada seorang sarjana besar (mahasattwa), namanya
Candra; sudah seperti Bodhisatwa, dianugerahi bakat besar. Orang
ini masih hidup ketika saya, 1-ts'ing, mengunjungi daerah tersebut.
Pada suatu hari ada orang yang bertanya kepadanya: "Apakah yang
lebih berbahaya, cobaan ataukah bisa?" Dengan serta-merta ia
menjawab: "Memang di antaranya barang dua itu terdapat perbedaan
besar; bisa berbahaya, hanya bila ditelan; sedangkan yang lain merusak
pikiran seseorang, meski hanya terpikir saja sekalipun."
Jika ada wanita masuk wihara, dilarang keras menginjak bilik
pendeta. la hanya boleh berbicara dengan mereka di lorong sebentar
saja lalu pergi. Pada waktu itu ada seorang biksu bernama A-ra-hu-la
mi-ta-ra (Rahulam~tra) diam di wihara; ia baru berumur lebih kurang
30 tahun. Kelakuannya sangat terpuji dan kemasyhurannya amat luas.
Tiap hari ia membaca Ratnakutasutra, yang memuat 700 sloka. Tidak
hanya paham akan tiga kumpulan buku saja, tetapi juga menjelajah
kesusastraan agama dalam empat ilmu, ia dihormati sebagai kepala
pendeta di daerah India Timur.
Sejak pelantikannya sebagai pendeta, tidak pernah bercakap
dengan wanita apalagi bertemu muka, kecuali dengan ibu dan adiknya
perempuan bila mereka datang berkunjung. ltu pun terjadi di luar
biliknya. Pada suatu ketika saya bertanya kepadanya, apa sebabnya
ia berbuat demikian, padahal itu bukan larangan. Maka jawabnya:
"sebab pembawaan saya mudah tertarik kepada kata-kata; jika saya
tidak berbuat demikian, saya tidak akan dapat menyumbat sumbernya.
Meskipun itu bukan larangan Budha, kiranya memang baik berbuat
demikian jika orang bermaksud menghindari keinginan-keinginan
jahat."
Pendidikan Pendeta I-Ts'ing 51
Hui-ning naik perahu menuju Ho-ling. Setelah tiba di sana, ia
menetap tiga tahun lamanya untuk menerjemahkan naskah-naskah
Sanskerta dalam kerja sama dengan pendeta bumiputra J nanabhadra.
Hasil kerja itu kemudian disuruh bawa pulang Yun-k'i ke Chiao
chih. Setelah menyampaikan terjemahan itu, Yun'ki kembali ke Ho
ling, tetapi tidak dapat bertemu dengan Hui-ning sebab Hui-ning
telah berangkat. Yun-k'i menetap selama sepuluh tahun di negeri
laut Selatan clan mempelajari bahasa Kun-lun, di samping bahasa
Sanskerta. Ia menjadi murid J nanabhadra. Ia tinggal di Shih-li-fo
shih. Waktu I-ts'ing ada di sana, ia berumur 30 tahun.
Dua orang pendeta yang tidak disebut namanya dengan
menumpang kapal meninggalkan Tiongkok menu ju P'o-lu-shih, yang
letaknya di sebelah barat Shih-li-fo-shih. Setibanya di tempat yang
dituju, mereka jatuh sakit lalu meninggal. Fa-lang berlayar dari Pan
yong ke Fo-shih selama sebulan. Hoai-ye melalui laut sampai di Fo
shih. Di sana ia belajar Kun-lun dan bahasa Sanskerta. Tao-hong
clan Ch'eng-ku menemani I-ts'ing ke Chin-chou sampai di negeri
Fo-shih.
Itulah berita-berita yang dapat dikumpulkan dari dua karya I
ts'ing, Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-ch'uan (Record) dan Ta-tang-si-yu-kao
seng-ch'uan (Memoire). Kedua-duanya dititipkan oleh I-ts'ing kepada
Ta-tsin untuk dibawa ke Kwang-tung. Peristiwa-peristiwa sejarah
tersebut disajikan tanpa tafsir agar para pembaca dapat menilai
peristiwa-peristiwa tersebut tanpa terpengaruh oleh tafsir. Tempat
tempat yang disebut oleh I-ts'ing memerlukan penjelasan, sebab
nama-nama itu bunyinya berbeda dengan namanya yang asli.
Lokalisasi tempat-tempat tersebut tidaklah mudah. Lokalisasi tempat
tempat itu akan dicoba dalam pasal berikut.
Bab 3
LOKALISASI TEMPAT-TEMPAT DALAM
PERJALANAN I-TS'ING
Perjalanan I-ts'ing dari Kwang-Tung ke Tan-mo-lo-ti dan
kebalikannya melalui pelbagai tempat. Ia menyebut nama-nama
tempat itu dengan ucapan Tionghoa, tetapi tidak menegaskan di
mana letaknya. Demikianlah, pelayaran I-ts'ing itu masih perlu
ditafsirkan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai jalan
pelayaran yang ditempuhnya.
Keberangkatannya pada bulan 11 tahun 671 dari Kwang-tung
ke Tan-mo-lo-ti telah disajikan di muka. Dari uraiannya nyatalah
bahwa I-ts'ing tidak menyusur pantai, melainkan menyeberangi lautan
besar, langsung ke Fo-shih dengan men um pang kapal Possu (Persi).
Sesudah hampir 20 hari berlayar, ia mencapai Fo-shih lalu singgah
di situ selama enam bulan. Kemudian, atas bantuan raja Fo-shih, ia
berangkat ke Mo-lo-yeu dan singgah di situ dua bulan. Sesudah itu
Ka-cha. Pada bulan 12, ia berlayar dengan menumpang perahu raja,
meninggalkan Ka-cha ke arah utara. Sesudah berlayar lebih dari
sepuluh hari, ia sampai di Lo-j~ng-kuo. Pelayaran dilanjutkan ke
arah barat laut; satu setengah bulan kemudian, ia sampai di Tan
mo-lo-ti, pada hari kedelapan bulan kedua masa pemerintahan Hsi
en-heng (tahun 673).
Perjalanan pulang pada tahun 685 diuraikan secara singkat
demikian. Ia berangkat dari Tan-mo-lo-ti ke arah tenggara menuju
54 Sriwijaya
Ka-cha. Singgah di sini sampai musim dingin. Dengan menumpang
perahu raja, berangkat dari Ka-cha ke selatan menuju Mo-lo-yeu,
yang sekarang menjadi Fo-shih. Pelayaran itu makan waktu selama
sebulan. Umumnya pada bulan pertama atau kedua, perahu datang
di negeri Mo-lo-yeu. Tinggal di sini sampai pertengahan musim panas,
lalu berangkat ke utara menuju Kwang-tung. Lebih kurang sebulan
berlayar, kemudian sampai di tempat yang dituju.
Dua tempat yang telah jelas letaknya, yakni tempat pangkal
berangkat Kwang-tung dan tempat tujuan Tan-mo-lo-ti. Kwang-tung
yaitu Kanton, clan Tan-mo-lo-ti yaitu Tamralipti, yang sekarang
disebut Tamluk, terletak di sebelah barat daya Kalkuta, di tempi
sungai Hooghly, di sebelah barat delta Hooghly di provinsi Benggala.
I-tsing menjelaskan bahwa Tan-mo-lo-ti terletak 40 yojana dari tapal
batas India sebelah timur. Di sana ada lima asrama; penduduknya
kaya. Termasuk India Timur, kira-kira sejauh 60 yojana dari
Mahabodhi clan Nalanda. Itu yaitu pelabuhan tempat orang
menumpang perahu jika akan kembali ke Tiongkok.
Kita sekarang akan meninjau letak beberapa tempat yang disebut
oleh pendeta I-ts'ing dalam Record clan Memoire, teruama yang
disinggahi selama perjalanannya dari Fo-shih ke Tan-mo-lo-ti clan
kebalikannya, kemudian baru tempat-tempat lainnya. Kita mulai
dengan nama tempat yang boleh dikatakan telah pasti letaknya, yakni:
1. Lo-j~ng-kuo
Lo-j~ng-kuo artinya 'pulau orang telanjang. Dengan panjang
lebar, I-ts'ing menguraikan keadaan penduduknya seperti telah
disajikan terjemahannya di muka. Nama pulau ini telah dikenal dalam
piagam Tanyore yang dikeluarkan oleh Rajendracoladewa pada tahun
1030 dalam bahasa Tamil.
Pada piagam Tanyore, Rajendracoladewa menyebut nama-nama
kerajaan yang ditundukkannya. Di antaranya ialah Manakkawaram,
artinya: pulau besar yang didiami oleh orang-orang telanjang. Pulau
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 55
ini juga dikenal oleh Marco Polo dengan nama Necuveram. Dari nama
ini maka terbentuklah namanya sekarang, yakni kepulauan Nikobar.
I-ts'ing menyatakan bahwa penduduk pulau Lo-j~ng-kuo meng
gunakan kata loha untuk pengertian besi. Kata terse but tidak dikenal
dalam bahasa Melayu-Polinesia. sebab pulau tersebut tidak
menghasilkan besi, boleh dipastikan bahwa kata loha dalam bahasa
Nikobar yaitu kata pinjaman. Mungkin sekali, kata itu dipinjam
dari bahasa yang digunakan oleh para penduduk pantai kontinen
Asia. Bahasa-bahasa Ahom, Khamti, Nora di Assam, clan dalam
bahasa-bahasa dari rumpun bahasa Shan, yang merupakan cabang
bahasa yang berasal dari Tiongkok Selatan, menggunakan kata lik
untuk pengertian besi. Mungkin sekali, kata loha dalam bahasa
Nikobar ini bentuk turunan dari kata lik, yang kemudian dtran
skripsikan ke dalam bahasa Tionghoa menjadi loha. Kita tidak tahu
bagaimana penduduk Nikobar mengucapkannya.
Dalam kata pengantar Recordhlm. 12, I-ts'ing menyatakan bah
wa penduduk negara-negara Sriks~tra (Prome), Langkasu (Lang
kasuka) clan To-ho-lo-po-ti (Dwarawati) serta negara-negara di laut
Selatan, semuanya mirip dengan bangsa Tionghoa kecuali penduduk
pulau Kun-lun (pulau Kondor). Penduduk pulau Kondor berkulit
hi tam clan berambut keriting. Tetapi penduduk negara-negara lainnya
tidak demikian. Mereka biasanya memakai kain kan-man (sarong),
tetapi kakinya terbuka sampai paha.
Dalam keterangan mengenai Lo-j~ng-kuo ini, I-ts'ing me
nambahkan bahwa menurut pendengarannya, kepulauan Lo-j~ng
kuo ada di bawah pengawasan Shu-ch'uan barat daya. Shu-ch'uan
terletak di Tiongkok Selatan. Pulau itu sama sekali tidak menghasilkan
besi; emas clan perak jarang sekali. Tidaklah aneh bila kata loha itu
pun berasal dari bahasa Shu-ch' uan yang serum pun dengan bahasa
bahasa Miau-tse di Tiongkok Selatan. Bahasa-bahasa Shan, Ahom,
Khamti, Thai, clan Nora memang serumpun dengan bahasa Miau
tse clan menggunakan kata lik untuk pengertian besi.
56 Sriwijaya
2. Kha-cha
Sebelum I-ts'ing sampai di Lo-j~ng-kuo, ia singgah di Ka-cha
dalam perjalanannya ke Tan-mo-lo-ti. Dalam perjalanan kembali dari
Tan-mo-lo-ti, ia berlayar ke arah tenggara menuju Ka-cha, kemudian
ke arah selatan menuju Mo-lo-yeu. Takakusu menyamakan Ka-cha
dengan Kotaraja yang terletak di ujung Sumatra Utara (Aceh).
I-ts'ing menguraikan bahwa pulau Lo-j~ng-kuo itu terletak di
sebelah utara Ka-cha dan dapat dicapai dari Ka-cha sesudah berlayar
sepuluh hari lebih. Dari Kotaraja, pulau Nikobar terletak di sebelah
barat laut, tidak di sebelah utara. Dalam perjalanan kembali dari
Tan-mo-lo-ti ia tidak singgah di Lo-j~ng-kuo, tetapi langsung ke
Ka-cha. Dengan sendirinya maka Lo-j~ng-kuo tidak merupakan
pelabuhan yang penting dalam perjalanan dari Fo-shih ke Tan-mo
lo-ti atau kebalikannya.
Yang merupakan pelabuhan penting ialah Ka-cha. Pelabuhan
penting dalam perjalanan antara Fo-shih dan Tan-mo-lo-ti atau dari
Tiongkok ke India, dan yang namanya hampir sebunyi dengan Ka
cha, ialah Kedah. Pada waktu itu namanya bukan Kedah, tetapi
Kat~ha. Mungkin sekali kata Ka-cha itu transkripsi Tionghoa dari
kata Sanskerta Kat~ha. I-ts'ing sebagai sarjana Budha yang mengenal
bahasa Sanskerta akan berusaha untuk membuat transkripsi nama
tersebut sedekat dan setepat mungkin. Nama tersebut juga dikenal
dalam piagam Tanyore dalam bahasa Tamil, dan ditulis Kadar(m).
Baik Kadaram maupun Kat~ha, terang Kedah zaman sekarang. Berita
mengenai Kedah sebagai tempat penting datang dari pelbagai sudut.
Ma-tuan-lin memberitakan bahwa pada tahun 638, kerajaan Kia
tcha mengirim utusan ke Tiongkok. Menurut G. Ferrand, meskipun
tulisannya agak berbeda dengan Chieh-cha (ejaan Pelliot), kedua nama
tersebut menunjukkan tempat yang sama, yakni Kedah di
Semenanjung Melayu.
Seorang ahli peta Tionghoa yang masyhur dan hidup antara
tahun 730 dan 805 ialah Chia-tan. Karangannya disusun antara tahun
785 dan 805 atas perintah dinasti Tang. Memang, ia diberi tugas
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 57
untuk membuat perjalanan dari Tiongkok ke negeri-negeri di laut
Selatan dan ke India melalui laut dan melalui daratan. Tetapi karya
aslinya telah hilang. Yang masih tinggal hanya kutipan-kutipannya,
termuat dalam Hsin T'ang Shu dan T'ai-ping-huan-yu-chi. Pelliot
mengadakan penyelidikan mengenai dua macam perjalanan ini.
Perjalanan melalui laut diuraikannya demikian. Perjalanan itu
melalui pulau Hainan menuju pantai Indo-Cina; terus menyusur
pantai sampai di tempat yang bernama Kun-t'u-nung. Dari situ
berlayar lima hari lagi, maka sampailah pada selat yang namanya
Chih; lebarnya dari utara ke selatan 100 li. Di pantai sebelah utara
terdapat kerajaan Lo-yueh, di pantai selatan kerajaan Fo-shih. Sebelah
timur kerajaan Fo-shih, kira-kira sejauh pelayaran lima hari orang
mencapai kerajaan Ho-ling; ini meliputi pulau yang terbesar di
selatan. Kemudian, tiga hari belayar dari selat itu orang mencapai
kerajaan Ko-koseng-chin, terletak di sebuah pulau di sudut barat
laut Fo-shih. Penduduknya ban yak yang jadi perompak; pen um pang
perahu yang menjadi mangsanya. Di pantai utara terletak kerajaan
Ko-lo. Sebelah barat Ko-lo ialah Ko-ku-lo.
Pada tahun 1904, Pelliot mempersoalkan kerajaan Ko-lo yang
diberitakan oleh Chia-tan itu. Kesimpulannya ialah bahwa Ko-lo
sama dengan Ka-cha Chieh-ch'a) yang diberitakan oleh I-ts'ing. Ko
lo terletak di pantai barat Semenanjung Melayu, sama dengan Kedah.
lni pun cocok dengan nama Ka-lah yang disebut nama berita Arab.
Berita-berita Arab itu dapat disingkat demikian:
Sulayman (tahun 851). Sulayman berkata bahwa dari Muscat,
pelayaran menuju Kulam Malaya untuk mengisi air sebelum
pelayaran dilanjutkan ke laut Harkand; terus ke Langabalus, dan
dari sini ke laut Kalah-bar. Diterangkannya bahwa bar berarti baik
kerajaan maupun pantai. Kalah-bar ada di bawah pemerintahan
Jawaga. Di Kalah-bar perahu diisi dengan air sumber.
Jarak antara Kulam dan Kalah-bar kira-kira sejauh sebulan
pelayaran. Kemudian perahu berlayar menujui Tiyuma, kira-kira
selama sepuluh hari untuk mengisi air, jika dipandang perlu. Dari
58 Sriwijaya
sini menuju tempat yang bernama Kundrang. Pelayaran itu makan
waktu sepuluh hari. Kemudian menuju Campa, yang menghasilkan
kamfer. Pelayaran itu makan waktu sebulan. Sepuluh hari lagi
berlayar, sampai di Kundur-fulat. Sepuluh hari kemudian perahu
masuk laut Cankhay melalui gerbang Cina, yang berpagar gunung
kanan-kiri. Jika selamat, perahu terus berlayar ke Tiongkok. Pada
akhir bulan sampai disana. Dari waktu satu bulan itu, tujuh hari
perahu menerobos selat yang terbentuk dari gunung-gunung.
Yang dimaksud dengan Kulam Malaya ialah Quillon yang ter
letak di pantai barat Travancore, di bawah pegunungan Malai (Malaya).
Langabalus ialah kepulauan Nikobar, Jawaga ialah Jawa (Sumatra);
Kundrang ialah Kundurangga; Kundur-fulat ialah pulau Kondor.
Abu Dulaf Misar (± 940). Abu Dulaf Misar menguraikan
perjalanannya dari Tiongkok ke Kalah. Ia menyebut Kalah sebagai
pangkal bertolak ke India dan ujung perjalanan dari Tiongkok.
Perjalanan dari Tiongkok, bila telah sampai di Kalah, tidak dapat
dilanjutkan tanpa mengalami kekandasan.
Ini dapat diartikan bahwa perahu yang berlayar dari Tiongkok
sampai di Kalah pada akhir musim angin timur laut, dan pada awal
musim angin barat daya. Perjalanan menuju Sri Lanka dan India
terhenti sebab nya. Kalah dikelilingi tembok tebal dan mempunyai
banyak taman. Airnya berlimpah-limpah. Di tempat itu terdapat
tambang timah yang disebut kal'i (pedang dari kal'a).
Di sekitar Kalah ada banyak kota dan kelompok rumah-rumah.
Rajanya ada di bawah pengawasan Tiongkok dan berdoa untuk
keselamatan kaisar Tiongkok. Sanggar pemujaan raj a dimaksud untuk
kaisar, dan kiblatnya ke arah Tiongkok pula. Abu Dulaf Misar me
nyebutnya kota India yang terletak di tengah-tengah antara Oman
dan Tiongkok. Berita yang sangat penting mengenai letaknya ialah
bahwa pada tengah hari, orang tidak berbayang sama sekali. Ini dapat
ditafsirkan bahwa Kalah terletak dekat garis khatulistiwa.
Berita-berita lainnya yang berasal dari para pedagang Arab
menyebut tempat itu Kaah atau Kala. Isinya hampir sama saja. Boleh
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 59
dikatakan bahwa hampir semuanya menyatakan Kalah terletak antara
Arab dan Tiongkok, menghasilkan kamfer, timah dan bambu, ada di
bawah pemerintahan J awa.
Ibn Khordazbeh (844). Kilah terletak sejauh enam hari pelayaran
dari Langabus. Negara tersebut ada di bawah pemerintahan Jaba
dan memiliki tambang timah kal'i yang sangat terkenal.
Ibn al-Fakih (902). Kala-bar merupakan bagian dari kerajaan
Jawaga. Hanya seorang raja saja yang memerintah.
Abu Zaid(± 916). Salah satu jajahan Jawaga ialah Kalah, terletak
antara negara Tiongkok dan Arab. Kapal-kapal dari Oman datang ke
situ dan dari situ kembali ke negara Arab.
Mas'udi (943). Di sekitar Kalah dan Sribusa terdapat tambang
tambang emas dan perak; negara Kalah terletak di tengah perjalanan
ke Tiongkok. Sekarang, tempat itu menjadi tempat pertemuan
perahu-perahu dari Oman dan Siraf di satu pihak, dan perahu-perahu
dari Tiongkok di pihak lain.
Kalah masih dikenal oleh para pedagang Arab sesudah abad ke
11 sampai abad ke-16. Tetapi tidak semua berita itu penting bagi
tujuan kita. Yang penting di antaranya ialah:
Dimaski (1325). Laut Kalah disebut demikian menurut nama
negara Kalah, yang ibu kotanya juga disebut Kalah. Kalah yaitu
kota yang paling besar di antara kota-kota yang terdapat di situ.
Negara Kalah panjangnya 800 mil, lebarnya 350 mil, dan sangat
berbahaya untuk mendarat di situ. Di negara tersebut terdapat kota
Fansur, Jawa, Malayur, Lawri, dan Kalah; di situ ada gajah yang
ditangkap dari tanah daratan dan sengaja dilatih untuk keperluan
rajanya.
Pemberitaan Dimaski sama dengan pemberitaan Nuwayri dari
tahun 1332, yang juga menyatakan di kerajaan Kalah terdapat kota
kota Fansur, Malayur, Lawri, dan Kalah.
Abu Fida' (1273-1331). Kalah yaitu pelabuhan umum dari
negara-negara antara Oman dan Tiongkok. Negara tersebut
60 Sriwijaya
mengekspor timah; di situ ada kota yang sangat makmur, didiami
oleh orang-orang muslim, Hindu, dan Persi. Dikatakan bahwa di
tempat tersebut terdapat tambang timah, kebun bambu, dan pohon
kamfer. Negara itu terpisah sejauh 20 hari pelayaran dari negara
Maharaj a.
Sedikit banyak berita-berita Arab itu pasti mengandung ke
benaran. Yang nyata ialah bahwa Kedah sebelum dan sesudah abad
ke-10 merupakan pelabuhan pen ting di tengah-tengah jalan pelayaran
antaraArab, India, dan Tiongkok. Sudah barang tentu juga merupakan
tempat penting pada zaman Sriwijaya, ketika I-ts'ing melakukan ziarah
ke India. Roland Braddell menyebut muara sungai Merbok di
kerajaan Kedah sekarang sebagai pelabuhan Kedah, yang disebut
dengan pelbagai nama dalam pelbagai berita: I-ts'ing: Ka-cha (Chieh
cha); Ma-tuan-lin: Kia-tcha; Chia-tan: Ko-lo; Chu-fan-chi: Ki-t'o;
Wu-pei-chih: Chi-ta; Arab: Kalah, Kala; Sanskerta; Kat~ha; Tamil:
Kadara(m).
3. Mo-lo-yeu
Dalam perjalanan pulang dari Tan-mo-lo-ti, I-ts'ing menceritakan
bahwa ia naik kapal raja dari Ka-cha ke arah selatan selama sebulan,
menuju negara Mo-lo-yeu. Di sini biasanya orang singgah sampai
pertengahan musim panas untuk menunggu tibanya musim angin
barat daya; kemudian baru berlayar ke utara menuju Kwang-fu
(Kwang-tung).
Yang dimaksud oleh I-ts'ing dengan negara Mo-lo-yeu di sini
ialah pelabuhan di negara Mo-lo-yeu, yang pada waktu itu sudah
berada di bawah kekuasaan Shih-li-fo-shih; sama dengan pelabuhan
tempatnya singgah dalam perjalanannya dari Fo-shih menuju India.
I-ts'ing juga menceriterakan bahwa pendeta Wu-hing berlayar dengan
perahu raja dari Fo-shih ke negero Mo-lo-yeu selama 15 hari. Yang
terang ialah bahwa dari pelabuhan Mo-lo-yeu, orang biasanya terus
berlayar ke utara menuju Tiongkok tanpa singgah di Fo-shih.
Lokalisasi Tempat-Tempat dalam Perjalanan I-Ts'ing 61
Dalam uraiannya, I-ts'ing jelas sekali menunjukkan adanya
pelabuhan Mo-lo-yeu, tempat masuk perahu raja Fo-shih untuk
berangkat ke Tan-mo-lo-ti, dan adanya kerajaan Mo-lo-yeu yang telah
menjadi bagian kerajaan Fo-shih sekembali I-ts'ing dari Nalanda pa









