a.
Mengenai hasil bumi, baik Chu-fan-chi maupun Tao-i-chih-lio
(1249) beritanya hampir sama. Tao-i-chih-lio mencatat: terutama
timah, kamper, mutiara, tulang, penyu, cendana dan gaharu. Chu
fan-chi menambah gading dan tanduk.
Suatu hal yang penting dan tercatat dalam Chu-fan-chi ialah
bahwa kerajaan Tan-ma-ling mengumpulkan perak dan emas sebagai
upeti kepada raja San-fo-ts'i. Pada tahun 1196, Tan-ma-ling masih
mengirim utusan yang penghabisan kali ke Tiongkok. Tao-i-chi-lio
menyatakan bahwa Tan-ma-ling yaitu negeri tetangga dari Sha-Ii
dan Fo-lai-an. San-tsai-tu-hui memberitakan bahwa Tan-ma-ling
terletak sejauh sepuluh hari pelayaran dari Kamboja. Tan-ma-ling
dapat juga dicapai dari Ling-ya-si-kia (Langkasuka), baik melalui
daratan maupun melalui laut. Jika melalui laut, berlayar enam hari
enammalam.
Mengenai pemberitaan Chu-fan-chi, bahwa Tan-ma-ling
diperintah oleh Siang-kung yang diterjemahkan oleh Hirt dan
Rockhill: minister (menteri), mungkin sekali kata tersebut yaitu
transkripsi Tionghoa dari kata Melayu tumenggung atau tiang agung.
orang besar, pembesar. Kata tiang yaitu kata Melayu-Polinesia dan
berarti: yang berdiri. Dalam bahasa J awa diberi arti: orang; dalam
bahasa Melayu tiang diberi arti lain misalnya: tiang listrik, tiang
rumah, dan sebagainya; agung berarti besar. Kata tersebut terbukti
969 Sriwijaya
dipakai juga zaman sekarang di Malaya dalam sebutan yang dipertoan
agong. Tiang agung a tau wong agung biasa digunakan untuk menyebut
seorang pembesar dalam pemerintahan. Persoalan yang timbul ialah:
Dari siapa Chao-ju-kua memperoleh berita tersebut?
Tentang pengumpulan emas clan perak sebagai upeti kepada
raja San-fo-ts'i, dapat dijelaskan bahwa Pahang memang menghasilkan
emas. Dato F.W. Douglas mencatat bahwa emas Pahang berwarna
merah. Emas Pahang sering disebut emas tulen. Perdagangan emas
di Pahang masih berlangsung hingga sekarang. Dari hasil penye
lidikan purbakala, terbukti bahwa di Kelantan terdapat porselen
seladon dari zaman Sung dan tempayan-tempayan dari zaman Ming.
Penemuan ini menunjukkan adanya hubungan antara Pahang,
Kelantan, dengan Tiongkok pada zaman yang lampau. Mengenai
hasil timah, memang daerah Pahang terkenal sebab timahnya. Nama
Pahang itu sendiri yaitu kata Khmer yang berarti: timah. Adanya
emas clan timah di daerah Pahang clan Kelantan yang boleh dikatakan
banyak dibuktikan oleh tulisan Anker Retse, seorang ahli tambang.
Emas yang terdapat di tepi-tepi sungai menyebabkan adanya per
dagangan emas di tempat tersebut. Rupanya pada zaman yang
lampau, emas di tepi sungai-sungai ini lebih banyak lagi daripada
sekarang. Demikianlah, tidak aneh bahwa khusus Tan-ma-ling yang
menyediakan emas clan perak sebagai upeti kepada raja San-fo-ts'i.
Dr. Linehan dalam bukunya, History of Pahang, menguraikan
bahwa sungai-sungai di pantai timur merupakan jalan daratan yang
menghubungkan tempat yang satu dengan yang lain. Sungai Tanum
cabang sungai Djelai (Jelai), sungai Sat clan Sepia cabang sungai
Tembeling, mengalir menu ju Kelantan. Sungai Sepia merupakan jalan
yang menuju Trengganu. Tanah datar Tembeling dilalui jalan raya di
sebelah utara. Di tanah datar ini ditemukan barang-barang kuno
dari emas. Jalan kereta api yang ada sekarang menurutkan jalan yang
sudah ada sebelumnya. Di samping melalui jalan daratan ini, tempat
tempat di pantai timur dapat dicapai dari tempat yang satu ke tempat
yang lain melalui jalan pelayaran menyusur pantai. Oleh sebab itu,
Kerajaan San-fO-ts'i 963
berita-beritaTionghoa di atas dapat dipahami. Tan-ma-ling terbukti
bukan Tamralingga seperti disangka oleh Coed~s dan Nilakanta Sastri,
melainkan Tembeling di daerah Pahang.
Dalam sejarah Sung, tercatat utusan dari negeri Tan-mei-liu
(ejaan Prancis: Tan-mei-lieou) pada tahun 1001. sebab kedatangan
utusan itu lebih dahulu daripada utusan negeri Tan-ma-ling dan
namanya mirip sekali, Coed~s beranggapan bahwa Tan-mei-liu yaitu
nama lama Tan-ma-ling. Dengan kata lain, Tan-ma-ling dan Tan
mei-lin yaitu nama satu kerajaan yang sama, dan kerajaan itu ialah
Tamralingga di Ligor.
Diuraikan dalam sejarah Sung bahwa utusan itu dikirim oleh
raja Tou-s~-chi, dan dipimpin oleh Ta-chih-ma. Wakilnya ialah Ta
luh, dan yang menjadi hakim ialah Pi-ni. Utusan itu terdiri dari
sembilan orang. Mereka membawa kayu cendana 100 kati, seng,
tembaga, timah masing-masing 100 kati, lithospermum l 00 kati di
atas dulang merah, em pat po tong pakaian bersongket, serat 10.000
kati, dan gading 61 batang. Keadaan negaranya digambarkan seperti
berikut: Rumah-rumahnya dibuat dari kayu; emas dan perak diper
dagangkan. Luas tempat tinggal pembesarnya sampai lima li, tetapi
tidak dikelilingi tembok. Jika keluar, rajanya naik kereta yang ditarik
gajah atau naik kuda. Negeri Tan-mei-liu menghasilkan badak, gajah,
seng, tembaga, lighospermum officinale, serat dan lain-lain. Mengenai
letaknya, dari Tan-mei-liu ke timur sampai Chen-la 50 pos (hentian);
ke selatan sampai Lo-yue 15 pos, menyeberangi laut; ke barat sampai
Si-t'en 35 pos; ke utara sampai Teheng-leang 60 pos, ke tenggara
sampai Cho-po 45 pos; ke timur laut sampai Kanton 135 pos.
Demikianlah berita yang mengenai Tan-mei-liu.
sebab nama Tan-ma-ling timbulnya lebih-kurang satu abad
sesudah Tan-mei-liu, dan menurut hasil penyelidikan Tan-ma-ling
dapat diidentifikasikan dengan Tembeling, maka Roland Braddell
berpendapat bahwa Tan-mei-liu yaitu Tamralingga. Pada tahun
1030, Tamralingga ada di bawah kekuasaan Kedah, yang menjadi
pusat kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung. Dengan sendirinya
964 Sriwijaya
Tamralingga masuk di bawah pemerintahan Sriwijaya. Ketika
Sriwijaya ditundukkan oleh Jawa, maka Tamralingga memperoleh
kemerdekaannya kembali clan berhubungan dengan Tiongkok. Tetapi
pada tahun 1030, kerajaan itu diserang oleh raja Cola seperti
diberitakan pada piagam Tanyore.
Dari Tao-i-chih-lio, kita memperoleh berita bahwa negeri Tan
ma-ling yaitu negeri tetangga Sha-li-fo-lai-an. Prof. Hsil melihat
Sha-li-fo-lai-an sebagai dua nama, yakni Sha-li dan Fo-lai-an, tetapi
Roland Braddell menganggap Sha-Ii yaitu transkripsi dari cri.
Dengan sendirinya nama sungai Jelai clan Selinsing, sungai Tanum
sebagai eabang sungai Jelai.
Sungai Jelai bertemu di Tembeling dengan sungai Tembling;
kedua-duanya menjadi sungai Pahang. Tidak aneh jika Sha-li itu
transkripsi dari nama sungai jelai, mengingat bahwa sungai itu
mengalir dekat Tembeling yang disebut Tan-ma-ling. sebab Po-lo
an disebut dalam rangkaian negeri-negeri di pantai timur
Semenanjung, maka Fo-lo-an harus juga terletak di pantai timur.
Tidak mungkin di pantai barat Selangor seperti yang disarankan oleh
Rouffaer clan disamakan dengan Beranang. Bahwa Beranang itu
disebut Fo-long dalam bahasa Tionghoa, sekarang bukan soal. Namun,
Beranang sebagai desa di muara sungai Langat, tidak menunjukkan
bahwa tempat itu pernah memegang peranan sejarah pada zaman
yang lampau. Coed~s menyamakan Fo-lo-an dengan Pa-tha-lung,
seperti yang pernah dikemukakan oleh C.O. Blagden.
Berita mengenai Fo-lo-an mengatakan bahwa pembesar Po-lo
an diangkat dari San-fo-ts'i. Di Fo-lo-an, terdapat area Budha yang
tiap tahun dikunjungi oleh para bangsawan dari San-fo-ts'i. Di Po
lo-an, ada dua area Budha. Yang satu bertangan empat, yang satu
lagi bertangan enam. Jika ada kapal yang akan mengangkutnya, kapal
itu akan ditiup kembali ke laut oleh angin ribut akibat kekuatan
gaib Budha. Candi Budha di Fo-lo-an atapnya dibrons clan dihiasi
dengan emas. Tanggal 15 bulan 6 dirayakan sebagai hari kelahiran
Budha. Pada hari itu diadakan pawai yang diikuti oleh musik clan
Kerajaan San-fO-ts'i 965
bunyi-bunyian. Pedagang asing ikut serta mengadakan pawai. Negeri
Fo-lo-an menghasilkan gaharu, cendana, clan gading. Tiap tahun
mengirim upeti ke negeri San-fo-ts'i.
Fo-lo-an dapat dicapai dari Ling-ya-si-kia dalam waktu empat
hari pelayaran. Perjalanan dari Lang-ya-si-kia (Langkasuka, Patani)
ke Tembeling makan waktu enam hari. Pelayaran menyisir pantai
berhenti di muara Kuan tan, kemudian perahu mudik ke hulu sungai.
Demikianlah, kira-kira Fo-lo-an itu letaknya sejauh 2/3 jarak Patani
Muara Kuantan. Roland Braddell menegaskan bahwa Fo-lo-an
terletak di Tanjung Dungun. Pelabuhannya dilindungi oleh pulau
Tenggol.
Pa-r'a, seperti telah disinggung di muka, disamakan dengan
Tanjung Paka di muara sungai Paka, di pantai timur Malaya. Hingga
sekarang daerah tersebut masih bernama Paka, letaknya di sebelah
selatan sungai Dungun di daerah Trengganu.
Di antara negeri-negeri di pantai timur Semenanjung yang
menurut Chu-fan-chi termasuk negeri bawahan San-fo-ts'i ialah negeri
Kia-lo-hi. berdasar kemiripan bunyi clan geografi yang diperoleh
dari pelbagai berita Tionghoa, Kia-lo-hi disamakan dengan Grahi.
Dalam sejarah Sung, diuraikan bahwa kerajaan Chen-la
menyentuh bagian selatan Chan-ch' eng (Annam), di sebelah timur
menghadap ke laut, di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Kia
lo-hi yang ada di bawah kekuasaan San-fo-ts'i. Dari berita itu, nyata
bahwa pada masa pemerintahan rajakula Sung, kerajaan Chen-la
beradu batas dengan San-fo-ts'i. Berita ini penting, sebab di Grahi
kedapatan prasasti dalam bahasa Khmer. Padahal, menurut Chu-fan
chi, Kia-lo-hi yaitu wilayah kerajaan San-fo-ts'i.
Hubungan Sriwijaya dan India
Telah diuraikan sekadarnya antara raja Sriwijaya Balaputra clan
raja Dewapaladewa dari Benggala. Balaputradewa mengambil alih
kekuasaan raja Sailendra di luar Jawa clan menjadi maharaja di
966 Sriwijaya
Sriwijaya setelah menyingkir dari Jawa Tengah. Dengan timbulnya
Balaputra sebagai raja Suwarnadwipa, kekuasaan Sailendra dibagi
menjadi dua. Kekuasaan Sailendra di Sumatra dan Semenanjung
diambil alih oleh Balaputra, kekuasaan di J awa jatuh di tangan
keturunan rajakula Sanjaya rakai Pikatan alias J atiningrat. Setelah
Balaputra dinobatkan menjadi raja di Suwarnadwipa, segera
mengadakan hubungan dengan raja Benggala Dewapaladewa dan
membangun wihara di Nalanda. Piagam Nalanda jelas menunjukkan
adanya hubungan agama dan politik antara raja Balaputra dari
Sriwijaya dan raja Dewapaladewa dari Pataliputra.
Menurut keterangan R.C. Majumdar, dalam karangannya yang
berjudul Colonial and Cultural Expansion dalam An Advanced His
tory of India hlm. 219, pada waktu itu Benggala yaitu pusat agama
Budha Mahayana di India. Kehidupan keagamaan raja-raja Sailendra,
baik pada masa pemerintahan rakai Panangkaran di Jawa Tengah dan
keturunannya maupun pada masa pemerintahan Balaputra di
Suwarnadwipa, berhubungan erat dengan kehidupan keagamaan di
Benggala. U pacara peresmian area Manjusri di Kelurak pada tahun
782 dipimpin oleh pendeta Kumaraghosa, berasal dari Benggala.
Pada waktu itu, yang memerintah kerajaan Benggala ialah raja
Dharmapala. Pusatnya di Pataliputra.
Dharmapala naik takhta kerajaan antara tahun 752 dan 794,
dan wafat antara tahun 794 dan 839. Tarikh tahun yang pasti tidak
dapat dipastikan. Beliau yaitu raja yang terbesar di antara raja-raja
yang pernah memerintah Benggala. Pengganti beliau yaitu raja
Dewapala, yang mempunyai hubungan erat dengan Balaputradewa
berkenaan dengan pengeluaran piagam Nalanda atas permintaan
Balaputra. Beliau wafat pada ± 878. Demikianlah, hubungan antara
raja Sailendra Dharanindra di Jawa Tengah, nenek Balaputra, dan
raj a Dharmapala di Pataliputra, dilanjutkan oleh Balaputra dan Dewa
pala. Hubungan keagamaan diperluas menjadi hubungan politik,
sebab dasar pengeluaran piagam ialah tuntutan politik Balaputra
mengenai hak atas takhta kerajaan di Jawa Tengah kepada rakai
Pikatan yang dianggap merampas hak tersebut.
Kerajaan San-fO-ts'i 967
Hubungan dengan India tetap dipelihara. Raja Cudamaniwar
man dan Marawijaya dari rajakula Sailendra melanjutkan hubungan
yang telah dimulai oleh Balaputra untuk menghadapi keturunan
rakai Pikatan di J awa. Sudah barang tentu, di samping tujuan politik,
persahabatan dengan India itu juga menyebabkan kelancaran per
dagangan dan kesuburan kehidupan agama Budha Mahayana.
Ditinjau dari sudut kehidupan politik, ekonomi, dan keagamaan,
hubungan antara India dan Sriwijaya itu memang menguntungkan
kedua belah pihak. Raja Kidara Cudamaniwarman membangun
wihara dan candi pada tahun 1006, pada masa pemerintahan Raja
kesariwarman. Pembangunan candi dan wihara dilanjutkan oleh
putranya, yakni Marawijayatunggawarman. Kecuali melanjutkan
pembangunan candi dan wihara tersebut, raja Marawijaya mem
persembahkan desa Anaimangalam sebagai jaminan kepada para
pendeta yang hidup dalam wihara tersebut. Hal ini telah diuraikan
di atas.
Persahabatan antara India Selatan dan Sriwijaya tidak ber
langsung baik terus-menerus. Setelah Rajaraja wafat, dan diganti oleh
Rajendracola I pada tahun 1012, sikap Rajendracola terhadap raja
Sriwijaya berubah. Watak imperialis Rajendracola mulai meluap.
Rajendracola memperluas wilayahnya sampai kira-kira seluas provinsi
Madras sekarang. Jenderal-jenderal Rajendra bergerak sampai sungai
Gangga. Para laksamananya menguasai selat Sri Lanka dan pulau
pulau Nikobar. Mereka masih terns bergerak ke arah timur. Maha
raja Mahapala I dari Benggala ditundukkan. Demikian pula raja
Chalukya di Dekkan. Untuk sementara waktu, kewibawaan raja
Chalukya runtuh berantakan. Dengan timbulnya Some~wara
Ahawamalla, kewibawaan itu dapat dipulihkan. N amun, tidak lama
kemudian digugurkan lagi oleh putra Rajendracola I. Demikianlah,
pengiriman angkatan laut oleh Rajendracola Ike Semenanjung dan
Sriwijaya di sekitar tahun 1025 boleh dikatakan dalam rangka politik
perluasan wilayah rajakula Cola. Tetapi, apa yang menjadi dorongan
langsung untuk pengiriman angkatan laut ke Sriwijaya tidak
968 Sriwijaya
dinyatakan pada piagam Tanyore, yang dikeluarkan pada tahun 1030.
Sebab, yang pokok ialah politik perluasan wilayah Rajendracola.
Dua kali Rajendracola menyebut kemenangannya terhadap raj a
Kadara, yang juga memerintah Sriwijaya. Prasasti yang pertama
dikeluarkan pada tahun ke-12 masa pemerintahannya, yakni pada
tahun 1024. Prasasti yang kedua yang terkenal dengan nama prasasti
Tanyore, dikeluarkan pada tahun 1030 clan memuat daftar negeri
negeri yang ditundukkannya. Kecuali menyebut Sri Lanka, Orissa,
clan Benggala, yang terletak di sekitar negerinya, prasasti itu juga
menyebut negeri-negeri di Semenanjung clan Sumatra.
Bagian prasasti Tanyore yang mempunyai sangkut paut dengan
kerajaan Sriwijaya seperti berikut:
(Rajendra) having despatched many ships in the midst of the
rolling sea and having caught Sanggramawijayotunggawarman, the
king of Kadaram, together with the elephants in his glorius army (took)
the large heap of treasures, which (that king) had rightfully accumu
lated; captured with noise the (arch called) Widyadharatorana at the
war-gate of his extensive capital (nagar). <;riwijaya, with the jewelled
wicket-gate adorned with the great splendour and the gate of large
jewels; Panai with water in its bathing ghats; the ancient Malayur with
the strong mountain for its rampart; Mayirudingam, surrounded by
the deep sea (as) by a moat; Illangga~oka undaunted (in) fierce battles;
Mappapalam having abundant (deep) water as defence; Mewilim
banggam guarded by beautiful walls; Walaippanduru possessed of
Wilaipanduru(?); Talaittakolam praised by great men (versed in) the
sciences; the great Tamralingga (capable of) strong action in danger
ous battles; llamuri-de~am, whose fierce strength rose in war; the
great Nakkawaram, in whose extensive gardens, honey was collect
ing; and Kadaram of fierce strength, which was protected by the deep
sea.
Demikianlah terjemahan Prof. Nilakanta Sastri.
Di antara nama-nama tempat yang tercatat pada piagam Tanyore
di atas, ada yang tidak diketahui letaknya. Yang terang ialah Kadaram,
yakni Kedah; Sriwijaya = Sriwijaya di Palembang; Panai = Panai di
muara sungai Barumun; Malayur = Melayu; Mayirudingam = Che-
Kerajaan San-fO-ts'i 969
rating (?) di pantai timur Malaya; Ilanggac;ogam = Langkasuka di
pantai timur Malaya; Mappapalam =?; Mewilimbanggam = ?;
Walaippanduru = ?; Tallaittakolam = Takola (); Ilamuri-de~am =
Lamuri, Aceh; Nakkawaram = Nikobar.
Raja-raja Cola mempunyai kebiasaan memberikan kekuasaan
kembali kepada raja-raja yang ditaklukkan. Raja Cola sudah puas
dengan pengakuan atas kekuasaannya, dan dengan persembahan upeti
sekadarnya sebagai tanda takluk. Dalam rangka itu, kiranya raja
Sriwijaya masih dapat langsung berhubungan dengan kaisar
Tiongkok. Pada tahun 1028, raja Sriwijaya mengirim utusan ke
Tiongkok. Nama rajanya tercatat Se-li-houa (Sri Tunggawarman).
Yang memerintah pada waktu itu putra Marawijayatunggawarman
yang bernama Sanggramawijayatunggawarman.
Peristiwa pengiriman utusan itu berlangsung antara tahun ke
12 masa pemerintahan Rajendracola dan tahun 1030 masa
pengeluaran prasasti Tanyore. Oleh sebab itu, sifatnya masih
meragukan. Tidak aneh bila raja Rajendracola I juga menganggap
dirinya sebagai raja negeri-negeri yang ditaklukkan, meskipun tidak
secara langsung menjalankan pemerintahan di negeri taklukan yang
bersangkutan. Ini pun kebiasaan yang dijumpai dalam sejarah.
Sebagai bukti untuk kebenaran peristiwa tersebut, dapat di
kemukakan piagam Kanton yang bertarikh tahun 1079 tentang
perbaikan candi Tien Ching di dekat Kanton. Perbaikan candi Tien
Ching dilakukan atas biaya raja San-fo-ts'i yang bernama Ti-hua-ka
lo (Dewa Kulottungga). Pada daftar silsilah raja-raja Chalukya Timur,
Dewa Kulottunga Cola I ialah cucu Rajendradewa II dan dikenal
dengan nama Rajendra III. Beliau memerintah dari tahun 1070
1122. Jika penyamaan Ti-hua-ka-lo pada piagam Kanton dengan
Dewa Kulottunga itu benar, maka Rajendra III inilah yang mengaku
raja San-fo-ts'i, atau raja Sriwijaya. Ti-hua-ka-lo dari Chu-lien
merebut kekuasaan San-fo-ts'i dan menetap di situ sampai tahun
1070, sebab pada tahun 1070 beliau naik takhta kerajaan di Cola
dan memerintah sampai tahun 1119. Sesudah Rajendradewa
970 Sriwijaya
Kulottunga naik takhta pada tahun I 070, pemerintahan atas San
fo-ts'i diserahkan kepada putrinya, yang dalam pemerintahan dibantu
oleh raja Jambi. Berita yang ditangkap dari Sung-hui-yao seperti
berikut:
Pada tahun ke-5 masa pemerintahan Yuan-fong (tahun 1082)
bulan 10 tanggal 17, Sun Chiang, wakil kepala urusan pengangkutan
dan wakil kepala urusan dagang, menyatakan bahwa wakil umum
pedagang asing di negeri laut Selatan menyampaikan surat kepadanya,
yang ditulis dalam bahasa Tionghoa. Surat tersebut berasal dari raja
Chan-pei (Jambi) bagian dari San-fo-ts'I, dan dari putri raja yang diserahi
kekuasaan mengawasi urusan negara San-fo-ts'i. Mereka mengirimkan
kepadanya 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian.
Demikian Tan Yeok Seong.
Untuk mengaku raja San-fo-ts'i bukanlah syarat mutlak menetap
di San-fo-ts'i. Ini sesuai dengan kebiasaan raja-raja Cola di India.
Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan putri raja dalam Sung-hui
yao mungkin sekali keturunan raja Sanggramawijaya yang
ditundukkan oleh Rajendracoladewa I. Raja-raja asli berbuat atas
nama raja Cola di India. Demikianlah, dapat dipahami apa sebabnya
nama Dewa Kulottungga, yang pada tahun I 079 telah memegang
pemerintahan di India selama sembilan tahun, tercatat sebagai raja
San-fo-ts'i pada piagam Tien Ching di Kanton.
Yang perlu mendapat perhatian ialah bahwa pada tahun 1006,
raja Cudamaniwarman dan kemudian Marawijayatunggawarman
pada piagam Larger Leyden Plates menyebut dirinya raja Kataha
dan Sriwijaya. Kalimat itu dapat ditafsirkan bahwa pada waktu itu,
Kedah sudah dijadikan ibu kota yang kedua dalam wilayah Sriwijaya.
Sriwijaya menguasai sepenuhnya lalu-lintas kapal di selat Malaka.
Pengawasan di ujung utara dilakukan di Kedah; di ujung selatan
dilakukan di Jambi. Kapal-kapal yang berlayar dari laut Jawa ke selat
Malaka dan sebaliknya diawasi di Palembang. Kedah dijadikan pusat
penguasaan negeri-negeri bawahan Sriwijaya di Semenanjung.
Palembang menjadi ibu kota resmi kerajaan Sriwijaya dan pusat
penguasaan negeri-negeri bawahan Sriwijaya di Sumatra.
Kerajaan San-fO-ts'i 971
Hubungan Sriwijaya dan Tiongkok
Pangsa waktu penghabisan pengiriman utusan ke Tiongkok oleh
kerajaan Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) pada masa pemerintahan rajakula
T'ang ialah dari tahun 713 sampai 714. Sejak itu, utusan Shih-li
fo-shih tidak lagi kedengaran. Berhentinya pengiriman utusan ke
Tiongkok oleh Sriwijaya bertepatan dengan perubahan pemerintahan
rajakula Sailendra, seperti dinyatakan pada piagam Ligor B. Raja
Wisnu dari wangsa Sailendra mulai berkuasa di Sriwijaya.
Pengiriman utusan ke Tiongkok dimulai lagi pada permulaan
masa pemerintahan rajakula Sung (960-1279). Tepat pada tahun
960, seorang raja dari San-fo-ts'i yang bernama Se-li-hou-ta-hia-li
tan (Sri Udayadityawarman) mengirim utusan ke Tiongkok. Boleh
dipastikan bahwa Sri Udayadityawarman yaitu keturunan Sailendra
wangsa, keturunan Balaputra, sebab raja-raja Sriwijaya yang me
nyusul, yakni raja Cudamaniwarman dan Marawijayatunggawarman,
j uga keturunan rajakula Sailendra.
Pada tahun 962, datang lagi utusan ke Tiongkok, namun nama
rajanya agak berbeda, yakni Se-li-wou-a (mungkin singkatan dari Sri
Udayadityawarman). Ketika kembali, utusan itu membawa kendi,
porselin putih, benang sutera, dua pasang pelana, dan kendali. Dalam
perutusan pada tahun 980 dan 983, yang tercatat hanya gelar raja
Sriwijaya, yakni hia-tche (haji). Perutusan itu tinggal agak lama di
Tiongkok.
Pada tahun 992, datang kabar dari Kanton, bahwa negeri
Sriwijaya sedang diserang oleh tentara Jawa. Kemudian pada musim
semi tahun 992, utusan itu berangkat dari Kanton menuju Campa.
Tetapi perjalanan pulang itu dibatalkan, sebab datang kabar bahwa
peperangan di negeri San-fo-ts'i masih terns berkobar. Kemudian ia
berlayar kembali dan mohon kepada kaisar, agar kaisar mengeluarkan
pengumuman bahwa San-fo-ts'i ada di bawah perlindungan Tiong
kok.
979 Sriwijaya
Berita perang itu cocok dengan uraian utusan dari Jawa yang
pada waktu itu datang ke Tiongkok untuk pertama kali. Utusan Jawa
itu memberitahukan bahwa negerinya dalam permusuhan dengan
San-fo-ts'i. Pada waktu itu, yang memerintah di Jawa ialah raja
Dharmawangsa; di Sriwijaya ialah raja Cudamaniwarman. Itulah
permusuhan antara Sriwijaya dan Jawa yang tidak tercatat pada
piagam, tetapi tercatat dalam kronik Tionghoa.
Pada tahun 1003, raja Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa (Sri
Cudamaniwarmadewa) mengirim dua orang utusan untuk
mempersembahkan upeti. Kedua utusan itu menceriterakan bahwa
di negerinya telah selesai dibangun sebuah candi Budha tempat
berdoa agar kaisar dikaruniai panjang usia. Kemudian dikeluarkan
pengumuman oleh kaisar, bahwa candi itu diberi nama Cheng-tien
wan-show. Di samping itu, kaisar menghadiahkan lonceng untuk
candi tersebut. Pada tahun 1008, raj a Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi,
yakni Marawijaya) mengirim tiga orang utusan untuk
mempersembahkan upeti. Mereka diizinkan pergi ke Tai-shan dan
menghadap kaisar.
Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa pada permulaan abad ke
11, raja Sriwijaya mengadakan hubungan erat dengan Raja
Kesariwarman Rajaraja di India dan dengan kaisarTiongkok. Tokoh
Cudamaniwarman dan Marawijaya mempererat hubungan segitiga
India-Sriwijaya-Tiongkok untuk menghadapi Jawa. Hubungan
dengan Tiongkok masih tetap dilanjutkan setelah Sriwijaya diserang
oleh Rajendracola I dari India Selatan. Pada tahun 1079, Rajendra
Dewa Kulottunga sebagai raja San-fo-ts'i memperbaiki candi Tien
Ching di kota Kuang Cho dekat Kanton. Laporan pembangunan
kembali candi Tien Ching itu dinyatakan dalam bentuk piagam yang
ditemukan pada tahun 1959 di Kanton. Batu piagam itu terdapat
di candi yang terletak di kota Kuang Cho, di sebelah utara Kanton.
Kuang Cho yaitu tempat suci di Kanton. Pada zaman pemerintahan
rajakula Sung, candi itu disebut Tien Ching Kuan, dan pada zaman
Yuan, disebut Yuan Miau Kwan. Di bagian atas batu piagam itu,
tertulis enam hurufTonghwa yang bunyinya: Chung Siu Tien Ching
Kerajaan San-fO-ts'i 973
Kuan Chi, artinya: Laporan pembangunan kembali candi Tien Ching.
Batu tersebut bertarikh tahun 1079. Terjemahan batu piagam itu
seperti berikut:
Agama Tao berasal dari daerah Luo-tan. Timbulnya pada masa
pemerintahan rajakula T'ang, dan berkembang pada masa
pemerintahan kaisar Ch'ang dari rajakula Tung. Lao-tgu menulis
tentang Tao-te-ching. Kata-katanya tinggi lagi mulia. Bukankah itu asal
mulanya? Kaisar Ming menganjurkan kepada rakyat untuk memuja
Tao dan membangun candi Kai-yuen. Bukankah ini suatu kemajuan?
Kaisar Tsin-tsung sendiri memeluk agama Tao, dan selama
pemerintahannya di Siang-fu, pembangunan candi Tien Ching
diumumkan di seluruh wilayah kaisar. Tidakkah ini berarti bahwa
agama itu mengalami perkembangan sepenuhnya?
Di sudut selatan kota Kanton, di sebuah kota di kaki gunung, di
situ bertegak salah satu candinya. ltu menunjukkan bahwa di tempat
itu Tao dipuja dengan giat.
Pada tahun keempat masa pemerintahan Huan-yiu, penjahat Lang
dari Kwang-yuen sekonyong-konyong berlayar ke hilir sungai dan
diam-diam datang di tepi tembok pusat kota Fan-yu. la menimbulkan
malabencana pada candi tersebut dan membakarnya menjadi abu.
Siapakah yang akan membangun kembali runtuhan-runtuhan
yang berserak di muka pandangan setiap orang itu? Tidak adakah
salah seorang yang mampu, salah seorang pemuja Tao dan pencari
bahagia yang sungguh, yang sanggup menumpahkan perhatian
kepada hal itu?
Kota Lima Kambing (Kanton) terletak di dekat laut besar. Kota itu
berhubungan dengan pelbagai negara asing. Di situlah tempat bertemu
para pedagang. Pada masa pemerintahan Chih-ping, ada seorang
raja dari San-fo-ts'i: sang prabu Ti-hua-ka-lo. Beliau memberi perintah
kepada salah seorang hambanya, Chih-lo-lo, untuk mengirimkan
perahu-perahunya ke kota ini. Chih-lo-lo melihat candi rusak, kakinya
terpendam dalam rungkutan. Kemudian ia kembali, lalu memberikan
laporan kepada maharaja. Pada saat itu, beliau mulai cenderung
kepada agama Tao. Pada tahun keempat, beliau mengirim orang yang
bernama Si-li-sha-wen ke Kanton untuk menemui pembesar mandala,
kemudian mulai menyelenggarakan pembangunan kembali gapura
besar cand i.
Pada tahun pertama masa pemerintahan Hsing-ming, Sha-wen
pulang sebelum pembangunan ruang dilaksanakan seluruhnya. la
974 Sriwijaya
datang lagi pada tahun kedua untuk melanjutkan pekerjaannya. la
mendirikan auditorium sabda kaisar di sebelah barat Mandala.
Sha-when pulang lagi ke negerinya, dan pada tahun ketiga, ma
haraja mengirim utusannya lagi membawa pelbagai barang
kepertapaan. Lo yin-chih, seorang pendeta dari Lu-san, minta agar
Lo-yin-chih suka menjadi pengurus setempat dan Ho-teck-sun suka
menjadi pengawas candi tersebut.
Pada tahun itu juga, ia membentuk suatu panitia pembeli ladang
padi seharga 100.000 uang emas untuk membelanjai pengawasan
candi tersebut. Lo-yin-chih mengundurkan diri dan kembali ke
gunung, tempatnya yang lama. Wakil maharaja lalu mendesak
gubernur untuk mengangkat Ho-teck-sun sebagai penggantinya.
Selanjutnya, wakil maharaja membangun ruang Pao-tsin, ruang utara,
dan ruang vegetaris.
Untuk menyempurnakan pembangunan candi, maka terpahat
dan terlukislah area di tempat persajian Tian-ti bersama-sama dengan
para pegawainya. Ketika Sha-wen ke negerinya dengan maksud untuk
menyempurnakan agama Tao, Ho-teck-sun berpesan kepadanya agar
ia suka membujuk sang raja (terputus sebab rusak) ... Sekarang,
seorang hakim yang bernama Ma-tu-hau-lo, seorang budayawan,
datang membawa upeti ke istana. lzin telah diberikan untuk menerima
upetinya yang dimaksud untuk membangun ruang San-ching dan
perpustakaan kaisar ... (tidak terbaca). Setiap tahun, harus ada satu
orang yang ditebus (dari dosanya). Telah dicetak sebuah lonceng
besar dan telah didirikan pula menara lonceng. Hadiah sejumlah
400.000 uang emas telah disampaikan untuk membeli ladang padi
guna pembinaan candi.
Maksud ini terpuji oleh istana. Kehormatan yang gemilang
diberikan kepada mereka yang bersangkutan. Gelar jenderal besar
yang membantu pembaharuan ibadah dan keutamaan diberikan
kepada maharaja. Ho-teck-sun dijadikan tokoh besar yang
menyembah Tao.
Sampai tahun kedua masa pemerintahan Yuan-fong, dalam
pangsa waktu tujuh atau delapan bulan, rencana terlaksana.
Kebagusan wihara memberikan pemandangan cemerlang. Angin
bertiup, lonceng-lonceng berbunyi, di bawah matahari terik
mencurahkan sinar kemasan, pertama gemerlapan. Hadiah sejumlah
400.000 uang emas digunakan untuk membeli ladang padi di tepi
sungai seluas 190 oddmu, terletak di teluk Naga di sebelah pulau
dekat desa San-kui didistrik Nan-hai. Hasil tanamannya tiap tahun
758 hu. Ladang lain lagi yang menghasilkan 90 hu padi, dan yang
Kerajaan San-fO-ts'i
terletak di desa Lian-tang di distrik Ching yuen, juga dibeli; milik ini
memberi hasil padi sebanyak 700 hu setiap tahun. lni digunakan
untuk pembiayaan para pendeta Tao. 100.000 uang emas sisanya
didermakan kepada candi Ching-hui-si untuk membeli ladang padi
guna menyokong para biksu dan biksuni.
Sesudah mendirikan candi tersebut, sang raja lalu melepaskan
perahunya berlayar ke arah negeri yang dituju tanpa takut akan bahaya,
padahal sebelumnya dalam ketakutan. lni cukup membuktikan bahwa
Yang Mahasuci memberikan restu dan anugerah.
Sebagai saksi yang melihat mukjizat ini dengan mata sendiri,
saya cenderung untuk memanjatkan doa kepada yang dimuliakan
Tsong Tao, dan membuat laporan ini pada tahun kedua masa
pemerintahan Yuan-fong pada hari dua lipat sembilan.
Hakim Ma-tu-hua-lo, jenderal Pao Sun Lang
Ku Lian Chuan Tu
Ka Na Cha
Penderma yang berjasa: Ti-hua-ka-lo, jenderal besar yang
menyokong pembaharuan ibadah dan keutamaan.
975
Pada waktu itu, kota Kanton dirusak oleh penjahat Lang.
Terbukti bahwa piagam tersebut sama dengan uraian sejarah lama
Kuang-chou yang dikutip oleh Ku-yen-wu dalam bukunya, Tien-hsia
chun-kuo-li-pin-shu, yang bunyinya seperti berikut:
Pada masa pemerintahan Chih-ping, Ti-hua-ka-lo mengirim
utusan Chih-lo-lo untuk menyampaikan upeti ke istana. Perahunya
diserang oleh angin ribut dan terguling. Chi-lo-lo menengadah ke
langit. Kemudian tampaklah orang tua di awan. Angin ribut menjadi
reda.
Lukisan Lao-chun diturunkan ke debu. Chih-lo-lo datang
melihatnya. Terbukti itulah gambar orang tua yang dilihatnya beberapa
hari sebelumnya. Ketika ia pulang, ia menceriterakan pengalamannya
itu kepada Ti-hua-ka-lo.
Pada saat itu juga, ia mengirim Si-li-sha-wen ke Kanton untuk
membeli bahan-bahan bangunan dan mencari pekerja untuk
memperbaiki candi. Waktu pekerjaan itu selesai, seorang pendeta
Tao, Lo-yin-chih, diminta untuk menjadi pengurus setempat dan Ho
tek-sun menjadi pengawas. la menghadiahkan sebanyak 100.000
976 Sriwijaya
uang emas untuk membeli ladang pertanian yang terletak di desa
Min-tang, distrik Fan-yu.
Tahun berikutnya, Ti-hua-ka-lo mangkat. Kuku dan rambutnya
dipotong dan dikirimkan kepada pendeta (Ho-tek-sun), kemudian
ditanam di Min-tang. Hingga sekarang masih dilakukan upacara
peringatan peristiwa tersebut. Keuangan candi Tien-ching luas sekali.
Di Yang-chen-kuo-chao candi ini memiliki ladang padi seluas 1478-
32 mu beserta kolam-kolam ikan. Raja besar Ti-hua-ka-lo yaitu
penderma utama yang sangat berjasa.
Tentang piagam Kanton ini, Tan-yeok-seong memberikan
keterangan yang menjelaskan hubungan antara raja-raja Cola di In
dia Selatan dan raja-raja Sriwijaya. Justru sebab nama raja San-fo
ts'i yang tersebut pada piagam Kanton sama dengan nama raja Chu
lien, yakni Ti-hua-ka-lo (Rajendra Dewa Kulottungga). Pada masa
pemerintahan Chih-ping, 1064-1067, Ti-hua-ka-lo dari Chu-lien
mengirim utusan Chi-lo-lo ke istana Tiongkok. Pada piagam Kanton,
Ti-hua-ka-lo menjadi raja San-fo-ts'i. Nama utusannya pun hampir
sama, yakni Chi-lo-lo dan Chih-lo-lo.
Hubungan dengan luar negeri, terutama dengan Tiongkok,
dilakukan oleh raja Sriwijaya atas nama raja Kulottungga Coladewa.
Pemerintahan di dalam negeri tetap ada di tangan raja Sriwijaya,
yang pada waktu itu pusat pemerintahannya di Kedah.
Piagam Smaller Leyden Plates jelas menyebut adanya raja
Kadaram. Piagam itu menyatakan bahwa pada tahun ke-20 masa
pemerintahan Rajakesariwarman alias Sri Kulottungga Coladewa,
yakni pada tahun 1090, raj a Kadaram mengirim dua utusan:
Rajawidyadhara Sri Samanta dan Abhinottungga Sri Samanta. Kedua
utusan itu mohon agar dikeluarkan pengumuman pembebasan cukai
mengenai desa-desa Antarayam, Wirasesai, Panmai-pandai-wetti,
Kundali dan Sungamera.
Ringkasnya, semua desa yang termasuk wilayah candi Rajen
dracolapperumpalli dan Rajarajaperumpalli yang dibangun oleh raja
Kadaram di Pattanakura. Lain dari itu, mereka menghendaki
perubahan pengawasan desa-desa wilayah candi tersebut yang
Kerajaan San-fO-ts'i 977
dipegang oleh kanilayar (pengawas). Desa-desa wilayah candi itu
supaya diserahkan kepada sangattar, yakni sekelompok orang.
Kemudian Sri Kulottungga Coladewa memberikan perintah kepada
Rajendrashingha Muwendawelar untuk menulis piagam tersebut.
Pada piagam Larger Leyden Plates, dinyatakan bahwa desa
Anaimangalam di Pattanakura sebagai dusun yang termasuk wilayah
candi (wihara Cudamaniwarman) telah dibebaskan cukai. Terbukti
bahwa jumlah desa-desa yang disebut dalam Smaller Leyden Plates
lebih banyak lagi. Desa-desa itu termasuk wilayah Rajendracolap
perumpalli dan Rajarajapperumpalli. Demikianlah, dapat ditafsirkan
bahwa pada masa pemerintahan Rajendra III, yakni Sri Kulottungga
Coladewa I, raja Kadaram memperluas bangunan wihara Cudama
niwarman dan menambah jumlah desa-desa yang dimasukkan ke
dalam wilayah candi. Peninggalan wihara Cudamaniwarman
ditemukan pada tahun 1867 berupa beberapa area Buda yang dibuat
dari perunggu. Peninggalan-peninggalan itu hasil penggalian padri
Yesuit dan sekarang tersimpan di Madras.
RUNTUHNYA KERAJAAN SRIWIJAYA
Kekuasaan di Semenanjung
Kia-lo-hi yaitu salah satu negara bawahan San-fo-ts'i di pantai
timur Semenajung. Kia-lo-hi yaitu transkripsi Tionghoa dari nama
asli suatu tempat di pantai timur Semenanjung. Berita tentang letak
Chen-la dalam Sung-shih menyinggung nama Kia-lo-hi. Beritanya
seperti berikut: Chen-la (Kamboja) bertemu dengan bagian selatan
Chan-cheng (Annam); di sebelah timur Chen-la yaitu laut. Di
sebelah barat, Chen-la berbatasan dengan P'u-kan (Pagan), dan di
sebelah selatan beradu batas dengan Kia-lo-hi.
Dari berita itu nyata sekali bahwa Kia-lo-hi terletak di sebelah
selatan Kamboja. sebab Chu-fan-chi memberitakan bahwa Kia-lo
hi yaitu negeri bawahan San-fo-ts'i, maka Kia-lo-hi merupakan batas
antara Kamboja dan wilayah San-fo-ts'i. Tidak ada orang yang ragu
bahwa Kia-lo-hi yaitu transkripsi dari nama tempat Grahi, yang
tercatat pada piagam Sriwijaya yang ditemukan di Chai-ya. Nama
Grahi sebagai nama tempat tidak lagi dikenal zaman sekarang. Dengan
sendirinya, lokalisasi Grahi ialah di tempat penemuan area Budha
yang memuat piagam tersebut, yakni di Ch'ai-ya.
Boleh dipastikan bahwa nama Chai-ya itu nama baru. Namanya
yang lama ialah Grahi, sebab sumber berita Tionghoa dari tahun
1225 tidak mengenal nama Chai-ya. Yang dikenal ialah nama Kia-
980 Sriwijaya
lo-hi. Nama Chai-ya baru digunakan setelah daerah itu menjadi
jajahan Siam.
Menurut kebiasaan, bangsa Siam suka menggunakan kata-kata
Sanskerta sebagai nama tempat. Sebagai contoh ialah nama Nakon
Sri Tammarat. Nama ini digunakan untuk menyebut daerah Ligor
sesudah menjadi jajahan Siam. Nama Sri Tammarat itu sendiri
diambil dari nama tokoh sejarah, yakni Candrabhanu <;ri Dharmma
raja, tereatat pada piagam Candrabhanu yang juga ditemukan di
Ch'ai-ya.
Piagam Grahi menyebut bahwa pada tahun Saka 1105 (tahun
Masehi 1183), atas perintah KamratenAn Maharadja SrimatTrailokya
raj a Maulibhusanawarmadewa, hari ketiga bulan naik bulan Jyestha,
hari Rabu, mahasenapati Galanai yang memerintah Grahi menyuruh
mraten Sri Nano membuat area Budha. Beratnya 1 bhara 2 tula,
dan nilai emasnya IO tamlin. Pembuatan arca itu dimaksud untuk
melegakan semua pemeluk agama yang menyembahnya di tempat
yang bersangkutan.
Piagam Grahi ditulis dalam bahasa Khmer. Hal itu dapat
dipahami, jika mengingat bahwa letaknya berbatasan dengan
Kamboja dan timbulnya kerajaan Khmer semenjak lepas dari
kekuasaan Jawa pada tahun 802. Penduduknya menggunakan bahasa
Khmer, tetapi dalam kehidupan kenegaraan, mereka menjadi warga
negara kerajaan Sriwijaya.
Jika pada tahun 1183 kita mengenal nama mahasenapati Galanai
sebagai raja bawahan Sriwijaya, maka 50 tahun kemudian, yakni
pada tahun Kaliyuga 4332 (tahun Masehi 1230), di tempat yang
sama kita mengenal nama Candrabhanu <;ri Dharmmaraja (Candra
banu Sri Dharmaraja). Nama itu tercatat pada piagam Ch'ai-ya yang
ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Sudah pasti bahwa tahun 1230 nama Grahi masih dikenal,
sebab Chu-fan-chi yang disusun pada tahun 1225 masih menyebut
Kia-lo-hi. Jika kita ingin membedakan kedua piagam tersebut, yang
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 981
kedua-duanya ditemukan di Chai-ya, maka kita akan menyebutnya
piagam Trailokya dan piagam Candrabhanu. Tetapi hingga sekarang,
piagam itu dikenal dengan sebutan piagam Grahi Buda dan piagam
Chai-ya.
Yang menjadi persoalan ialah di mana letak Tambralingga,
sebab Candrabhanu mengaku Tambralinggecwara. Setelah memban
ding nama Tambralingga pada piagam Candrabhanu, Tambralinggam
pada piagam Nidessa dari abad ke-2, Madamalingam pada piagam
Tanjore dari tahun 1030, Coed~s sampai kepada kesimpulan bahwa
Tambralingga hams terletak antara teluk Bandon dan Ligor. Itulah
sebabnya ia melokalisasikan Tambralingga dengan Tan-ma-ling dari
Chu-fan-chi, sebab nama Kalingga dalam berita Tionghoa, baik
dalam karya I-ts'ing maupun dalam sejarah T'ang, jelas ditran
skripsikan Ho-ling. Dalam bahasa Mandarin, tulisan Tionghoa itu
diucapkan Keling. Dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa, orang
dari Kalingga biasa disebut orang Keling.
Lokalisasi Tambralingga antara Teluk Bandon dan Ligor oleh
Coed~s mendapat tentangan Roland Braddell. Roland Braddell
menyamakannya dengan Tembeling dan melokalisasikannya di daerah
Pahang. Hingga sekarang, masih ada sungai yang bernama Tembeling.
sebab lokalisasi Tan-ma-ling telah diuraikan dalam bah "Negara
Negara Bawahan San-Fo-Ts'i, tidak perlu diuraikan lagi di sini.
berdasar analogi kesamaan antara Kalingga (Sanskerta, In
dia), Ho-ling (Tionghoa) dan Keling (Melayu), dan berdasar berita
geografi Tan-ma-ling, saya lebih cenderung untuk mengidentifi
kasikan Tambralingga pada piagam Candrabhanu serta Tan-ma-ling
pada Chu-fan-chi dengan Tembeling dan melokalisasikannya di pantai
timur Malaya, di daerah Pahang, tempat sungai Tembeling mengalir,
sesuai dengan pendapat Roland Braddell. Dengan sendirinya timbul
anggapan bahwa Trambralingga yaitu nama lama, atau nama
Sanskerta dari Tembeling yang masih ada hingga sekarang. Oleh sebab
itu, Candrabhanu Sri Dharmaraja yaitu raja Tembeling.
989 Sriwijaya
Yang menarik perhatian ialah berita Tionghoa mengenai
pembesar Tan-ma-ling sebelum tahun 1230, jadi sebelum
Candrabhanu berkuasa.
1. Chu-fan-chi memberitakan bahwa Tan-ma-ling diperintah oleh
seorang pembesar yang disebut Siang-kung. Jabatan itu, menurut
terjemahan Hirt clan Rockhill, ialah "minister of state", yakni
menteri. Namun, menurut bunyinya, kiranya kata itu transkripsi
dari temenggung atau tiang agung. Selanjutnya, Chu-fan-chi
memberitakan bahwa Tan-ma-ling mengumpulkan emas untuk
dijadikan upeti kepada raja San-fo-ts'i.
2. To-i-chih-lio dari tahun 1349 mencatat bahwa Tan-ma-ling
diperintah oleh seorang pembesar setempat.
3. San-tsai-t'u-hui dari tahun 1607 menguraikan bahwa Tan-ma-ling
diperintah oleh seorang pembesar yang bukan raja. Pada tahun
1196, untuk yang terakhir mengirim utusan ke Tiongkok.
Dari berita-berita tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Tan
ma-ling selama jadi negara bawahan San-fo-ts'i diperintah oleh
seorang pembesar setempat yang bertanggung jawab kepada raja
Sriwijaya.
Pada tahun 1001, menurut Sung-shih, raj a yang bernama Su
chi mengirim utusan ke Tiongkok, terdiri dari sembilan orang clan
dikepalai oleh T a-chih-ma. Nama itu berbeda-beda transkripsinya
dalam huruf Latin. Pro. Hs~ menulisnya Tuo Sze-chi, Schlegel Ta
Suki, clan Saint Denys To-siu-ki. Kiranya, kedudukan Candrabhanu
semula juga tumenggung setempat yang bertanggung jawab kepada
raja Sriwijaya.
sebab pada tahun 1183 Grahi jelas masih menjadi negeri
bawahan Sriwijaya, clan pada tahun 1230 Candrabhanu menge
luarkan piagam di Grahi dan menyebut dirinya Tambralinggecwarad,
maka boleh dipastikan bahwa Candrabhanu memberontak kekuasaan
Sriwijaya. Setelah membebaskan Tambralingga dari kekuasaan
Sriwijaya, Candrabhanu mengangkat dirinya sebagai raja
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 983
Tambralingga clan bergelar Candrabhanu Sri Dharmaraja, kemudian
memperluas daerahnya sampai di Grahi. Candrabhanu mengumum
kan bahwa ia menjalankan politik Dharm~coka, yakni politik raja
A~oka di India. Ia akan berusaha mengembangkan agama Budha.
Dengan tegas dinyatakan bahwa namanya yaitu lambang jasanya
kepada segenap manusia (candra = bulan; bhanu = matahari, sinar).
Pengumuman yang demikian di daerah lain hanya dapat ditafsirkan
bahwa Candrabhanu barn saja menduduki daerah Grahi clan ingin
menenteramkan hati para penduduknya yang jelas memeluk agama
Budha. Piagam itu boleh ditafsirkan sebagai proklamasi kemerdekaan
negara-negara di pantai timur Malaya dari kekuasaan Sriwijaya yang
berpusat di Kedah/Palembang. Demikianlah, timbulnya Candra
bhanu berarti patahnya kekuasaan Sriwijaya di Malaya clan juga
berakhirnya pemerintahan rajakula Sailendra di daerah tersebut.
Politik yang dijalankannya megnandung maksud untuk memperoleh
sokongan para penduduk Grahi sepenuhnya, sebab Candrabhanu
masih bermaksud memperluas wilayahnya di luar Malaya.
sebab pengiriman utusan Ta-ma-ling ke Tiongkok hanya
tercatat satu kali saja, yakni pada tahun 1996, maka dapat diduga
bahwa Tan-ma-ling pada tahun 1196 telah berusaha membebaskan
diri dari kekuasaan Sriwijaya. Pengiriman utusan itu boleh dianggap
sebagai permohonan pengakuan kepada kaisar Tiongkok. Chu-fan
chi, yang disusun pada tahun 1225, masih memasukkan Tan-ma
ling sebagai negeri bawahan San-fo-ts'i di bawah pemerintahan
seorang pembesar setempat. Andaikata Tan-ma-ling pada tahun 1196
mengirim utusan sebagai negara merdeka, tentunya tidak akan
dimasukkan dalam golongan negara bawahan San-fo-ts'i.
Demikianlah, kiranya pemberontakan Candrabhanu terhadap
kekuasaan Sriwijaya terjadi antara tahun 1225 clan 1230. Untuk
menghindari balas dendam Sriwijaya, pemberontakan hams segera
diperluas di seluruh Semenanjung, clan menikam pusat kekuasaan
Sriwijaya di Semenanjung yang terletak di Kedah.
984 Sriwijaya
Dari pandangan itu kita dapat memahami apa sebabnya
Candrabhanu memasuki daerah Grahi dan mengeluarkan piagam di
Grahi, suatu tempat di ujung barat Semenanjung yang paling dekat
dengan Kedah. Ekspedisi ke Sri Lanka tidak akan dilakukan sebelum
kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung patah sama sekali.
Pandangan lokalisasi Tambralingga di Tembeling mendapat
dukungan dari sudut ekonomi yang lebih banyak menguntungkan
daripada lokalisasi di Grahi antara teluk Bandon dan Ligor. Daerah
Tembeling kaya akan logam dan hasil bumi, seperti tercatat dalam
sumber-sumber berita Tionghoa. Chu-fan-chi mencatat bahwa Tan
ma-ling menghasilkan lilin lebah, cendana, gaharu, kamfer, setanggi,
kayu arang, gading dan cula badak. Tao-i-chih-lio menambah bahwa
Tan-ma-ling menghasilkan padi lebih banyak daripada konsumsi
penduduknya. Sumber berita itu juga menyebut hasil kamfer,
cendana, dan gaharu di samping penyu.
Yang sangat menarik perhatian ialah bahwa Tan-ma-ling,
menurut Chu-fan-chi, mengumpulkan emas sebagai upeti kepada
San-fo-ts'i, dan menurut Tao-i-chih-lio, Tan-ma-ling ini dengan
singkat menguraikan kemakmuran daerah dan kesejahteraan
rakyatnya. Soal ini penting sekali berhubung dengan berita
peperangan Candrabhanu dengan Sri Lanka, yang terjadi sampai dua
kali. Mengingat letak Sri Lanka yang sangat jauh dari Malaya, maka
biaya perang itu banyak sekali. Ekspedisi Candrabhanu ke Sri Lanka
dipersiapkan dan dilakukan sesudah negeri-negeri di sekitarnya
dibebaskan dari kekuasaan Sriwijaya dan wilayah negerinya terasa
aman dan tenteram. Ketenteraman dalam negeri harus terjamin lebih
dahulu. Candrabhanu menyerang Sri Lanka sampai dua kali.
Ekspedisi yang pertama dilakukan pada tahun 1247; yang kedua
pada tahun 1270/1271. Ekspedisi Candrabhanu ke Sri Lanka tercatat
dalam sejarah Culawangsa. Dalam sejarah itu, Candrabhanu disebut
raja Jawaka, bukan raja Tambralingga seperti pada piagam
Candrabhanu di Grahi.
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 985
Catatan sejarah dalam Culawangsa itu tidak mungkin salah,
sebab baik nama Candrabhanu maupun J awaka dikenal pada piagam
asli. Lagi pula, penempatan masa termakan akal, yakni 17 tahun
sesudah proklamasi kemerdekaan di Grahi. J adi, tidak ada soal anak
ronisme. Mungkin sebutan /awaka itu yang meragukan, sebab pada
piagam Candrabhanu tahun 1230 Candrabhanu memperkenalkan
diri sebagai Tambralinggecwara. Tambralingga terletak di Malaya,
tidak di Jawa. Dalam bahasa Tamil, yang dimaksud]awakam yaitu
Jawa. Namun, kiranya nama Jawa sudah menjadi sebutan umum
bagi Semenanjung, Sumatra, dan Jawa jika penyebutnya orang dari
Barat, terutama para saudagar Arab.
Nama Zabag atau Zabaj terang berhubungan denganJawakam,
tetapi lokalisasinya tidak selalu di J awa. Kepopuleran nama J awa(ka)
disebabkan sebab kekuasaan rajakula Sailendra semenjak abad ke-8
di Sumatra dan Semenanjung. Rajakula Sailendra berasal dari Jawa
Tengah. Sudah pasti bahwa raja Sailendra di Sriwijaya seperti
Balaputra disebut maharaja yang berasal dari J awa.
J uga, tidak mustahil bahwa perkembangan kekuasaan Sailendra
membawa akibat penempatan orang-orang J awa di seberang laut.
Sri Lanka yang terpisah jauh dari Sriwijaya dengan mudah akan
menyebut Semenanjung dan Sumatra negara Jawaka, yakni negara
yang dikuasai oleh maharaja Jawa. Juga, setelah kekuasaan Sriwijaya
di Semenanjung dipatahkan oleh Candrabhanu, sebutan itu masih
tetap sebagai momok. Tentara Candrabhanu, yang pada hakikatnya
memang bekas rakyat jajahan Sriwijaya, telanjur disebut tentara
Yawaka oleh orang-orang Sri Lanka. Berita-berita Arab yang menyebut
Zabag atau Zabaj memang harus ditafsirkan demikian.
Di dalam sejarah kuno dan modern, cukup banyak contoh atau
tokoh yang dihinggapi nafsu perang dan nafsu kebesaran. Apabila
tiba kesempatan, kesempatan itu tidak akan dibiarkan lalu begitu
saja oleh orang yang mempunyai watak demikian. Tiap kemenangan
yang diperolehnya menjadi umpan pembakar yang mengobarkan
nafsunya.
986 Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya yang sudah mulai runtuh semenjak serangan
Rajendracoladewaa pada tahun 1030, memberi kesempatan baik
kepada Candrabhanu untuk tampil ke muka. Wilayah Sriwijaya terlalu
luas. Pengawasannya tidak mudah. Kekuatan Sriwijaya terbagi
menjadi dua. Sebagian ditempatkan di Kedah sebagai pusat Sriwijaya
di Semenanjung; sebagian lagi di Palembang sebagai pusat Sriwijaya
di Sumatra. Semangat nasional setelah berkuasa selama beberapa ratus
tahun mulai lapuk, mulai kendor, tidak mampu menghadapi se
mangat Candrabhanu yang sedang berkobar. Lagi pula, wilayah
Tembeling termasuk daerah makmur, cukup kaya untuk membiayai
nafsunya mengejar kebebasan dan kebesaran. Kemenangan dalam
pemberontakan terhadap kekuasaan Sriwijaya menyebabkan
penobatannya sebagai raja Tembeling. Kemenangan itu
mendorongnya lebih jauh lagi. Pada tahun 1230, Candrabhanu
merebut Grahi.
Dari piagam yang dikeluarkan, kita dapat menangkap
sekadarnya watak Candrabhanu yang sedang mabuk kebesaran. Ia
menyamakan dirinya dengan raja A~oka yang sangat masyhur di In
dia. Sudah pasti bahwa penyamaan dengan raja A~oka itu mengan
dung politik pengembangan agama Budha di daerah yang di
dudukinya juga. Ia menyamakan jasa-jasanya kepada umat manusia
dengan bulan dan matahari yang siang-malam menyinari jagat. Oleh
sebab itu, ia mengambil nama Candrabhanu yang berarti: sinar
bulan, atau bulan dan matahari.
Piagam Candrabhanu bernapaskan kebanggaan yang terbatas
kepada kesombongan. Candrabhanu mempunyai nafsu kuat untuk
mengejar kebesaran. Watak yang demikian suka akan petualangan,
tidak enggan-enggan menjalankan segala apa yang dapat menambah
kebesarannya. Terbukti bahwa 17 tahun sesudah berhasil menguasai
Grahi, pada tahun 1247 ia melakukan ekspedisi ke Sri Lanka, suatu
tempat yang amat jauh letaknya. Serangan itu berhasil baik.
Candrabhanu berhasil menguasai sebagian dari kerajaan Sri Lanka,
meskipun penguasaan itu tidak bersifat mutlak. Setelah berhasil
menguasai sebagian dari Sri Lanka, Candrabhanu kembali ke Ma-
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 987
laya, meninggalkan putranya di Sri Lanka. Dalam tahun 1258 dan
1263, terjadi serbuan oleh pihak bangsa Pandya. Dalam serbuan
yang terakhir itu, tentara Candrabhanu menderita kekalahan dan
terpaksa mengakui kekuasaan raja Pandya.
Mengenai serbuan tentara Pandya itu ada piagamnya, yang
bertarikh tahun 1264. Piagam Pandya tentang Candrabhanu mulai
dengan rayuan menteri kepada raja Pandya untuk menundukkan
putra Candrabhanu. Isi piagam itu seperti berikut:
Dengarkanlah cara mendirikan pemerintahan, berkat ke
menangan yang sesuai dengan adat-istiadat. Pangeran, berbuatlah
seperti yang berikut. Usahakan musuh tunduk kepada kekuatanmu,
perangi dia dan kirimlah dia ke akhirat! Lalu masukilah kerajaannya
bersama dengan sanak-saudara dan tentaramu. Jika engkau berhasil
masuk, engkau akan memperoleh prajurit berkuda, kereta kencana
yang ditarik oleh banyak emas, takhta, mahkota, gelang tangan, gelang
kaki, kalung, bendera dan payung, kipas yang dibuat dari bulu kijang,
nobat dan sebagainya.
Kemenangan pasti mengejutkan dan menakutkan raja-raja
lainnya. Kemudian, engkau akan menanamkan tongkat kebesaran
raja yang mempunyai lambang ikan di atas gunung Konai dan Tiru
Kuda, dan akan menerima banyak persembahan.
Putra Sri Lanka, alih-alih mengabdi kepadamu, merendahkan
kebesaranmu. Sesudah engkau berhasil menundukkannya, engkau
harus menjalani mandi adat dalam kolam raja, kemudian si kalah
akan membungkuk di hadapanmu. Sesudah itu engkau gilang
cemerlang, mengendarai gajah dan berkirab mengelilingi wilayah yang
kau kalahkan, langsung menuju Annurapuri dan memerintah
kerajaan, yang pernah diperintah datuk moyangmu pada masa yang
lampau!
Pada tahun 1270/1271, Candrabhanu sekali lagi melancarkan
serangan terhadap Sri Lanka, tetapi serangan itu menemui kegagalan.
Bahkan, keadaan dalam negeri sebab nya kocar-kacir. Akhirnya, pada
tahun 1294 kerajaannya diserang dan diduduki oleh tentara Siam.
Nama Sri Dharmaraja diabadikan sebagai nama kota di teluk Siam
yang sekarang disebut Sri Tammarat.
988 Sriwijaya
Kekuasaan di Sumatra
Gelar raj a Sriwijaya yang tereantum pada piagam Grahi ( tahun
1183) ialah qrimat Trailokyar~ja Mauplibhusanawarmadewa. Nama
resminya menggunakan kata mauli. Baik crimat maupun mauli yaitu
kata Tamil; crimat berarti "tuan dan mauli berarti "mahkota. Gelar
crimat dan nama mauli tidak dikenal pada gelar dan nama raja dari
rajakula Sailendra, baik yang memerintah di J awa maupun di
Sriwijaya. Gelar crimat dan nama mauli hanya dikenal pada raja-raja
Melayu.
Pada piagam Amoghapa~a, hadiah raja Kertanagara kepada raja
Melayu pada tahun 1286, terdapat gelar dan nama yang sama bagi
raja Melayu. Diberitakan bahwa pada tahun Saka 1208 atau tahun
Masehi 1286, arca Amoghapa~a dengan 14 pengikutnya, hadiah Sri
Wigwar~pakum~ra, diangkut dari Jawa ke Suwarnabhumi dan
ditempatkan di Dharmma~aya atas perintah Mah~r~j~dhir~ja (ri
Kertanagara Wikrama Dharmotunggadewa. Yang ikut mengantarkan
arca tersebut ialah rakryan mah~mantri dyah Adwayabhrahma,
prakryan sirikan dyah Sugatabhrahma, samget payanan hang
Dipangkarada~a, dan rakryan demung Pu Wira. sebab hadiah itu,
segenap rakyat Melayu gembira-para bhrahmana, para ksatria, para
waisya, para sudra, para arya, dan terutama ~ri mah~r~ja ~rimat
Tribhuwanar~ja Mauliwarmadewa.
Piagam Amoghapa~a ditemukan di tepi sungai Langsat di hulu
Batang Hari. Itulah sebabnya maka timbul anggapan bahwa
Dharmma~raya terletak di hulu Batang Hari. Piagam Amoghapa~a
dikeluarkan 100 tahun sesudah piagam Grahi, namun gelar dan nama
rajanya tetap sama. Oleh sebab itu, timbul anggapan bahwa raja
Trailokya Maulibhusanawarmadewa yaitu raja Melayu. Dengan kata
lain, pada tahun 1183, kerajaan Sriwijaya, yang biasa disebut San
fo-ts'i dalam berita-berita Tionghoa zaman rajakula Sung dan Ming,
telah runtuh dan digantikan oleh kerajaan Melayu. Semenanjung
tidak lagi diperintah Sriwijaya, tetapi diperintah oleh kerajaan
Melayu.
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 989
Jika hal tersebut dihubungkan dengan pengiriman utusan
Sriwijaya ke Tiongkok, nyatalah bahwa pengiriman utusan Sriwijaya
ke Tiongkok yang terakhir berlangsung pada tahun 1178.
Demikianlah, antara tahun 1178 dan 1183, dalam kerajaan Sriwijaya
terjadi perubahan pemeirntahan. Kekuasaan Sriwijaya di Sumatra
diambil alih oleh Melayu. Dengan sendirinya negeri-negeri bawahan
Sriwijaya, baik yang ada di Sumatra maupun yang ada di
Semenanjung, ikut diambil alih oleh kerajaan Melayu. Raja Melayu
yang mengambil alih kekuasaan ialah qrimat Trailokyar~ja
Maulibhusanawarmadewa. sebab kekuasaan raja Trailokya tidak
hanya terbatas pada wilayah kerajaan Melayu lama, maka gelar
maharaja yang biasa dipakai oleh raja-raja Sriwijaya dari rajakula
Sailendra diambil alih pula. Demikianlah, terjadi perangkapan gelar
mah~raja crimat Trailokyar~ja.
Chu-fan-chi, yang disusun oleh Chao-ju-kua pada tahun 1225,
jadi 42 tahun sesudah pengeluaran piagam Grahi, masih menyebut
adanya negara San-fo-ts'i. Nama San-fo-ts'i pada orang-orang
Tionghoa sudah sangat populer, sehingga perubahan pemerintahan
yang pada hakikatnya yaitu di pusat kerajaan Sriwijaya tidak
memengaruhi masyarakat luar. Nama San-fo-ts' i masih tetap
digunakan. Bahkan, Chao-ju-kua malah masih menyebut negara
negara bawahan San-fo-ts'i yang jumlahnya 15. Jika nama-nama
negara bawahan San-fo-ts'i itu diperhatikan, maka di antara 15 negara
bawahan itu tidak disebut negara Melayu, tetapi malah menyebut
Pa-lin-fong (Palembang), sedangkan Palembang yaitu pusat kerajaan
San-fo-ts'i, pusat kerajaan Sriwijaya.
Demikianlah, sebenarnya Chao-ju-kua tahu bahwa ada
perubahan dalam pemerintahan di pusat kerajaan Sriwijaya. Peranan
politik yang dulu dipegang oleh Palembang pada tahun 1225, ketika
ia menyusun Chu-fan-chi, dipegang oleh kerajaan Melayu. Kerajaan
Melayu, yang sejak tahun 683 menjadi negara bawahan Sriwijaya,
pada tahun 1225 sudah merdeka lagi, bahkan menggantikan ke
dudukan Sriwijaya di Palembang. Palembang berganti peranan
990 Sriwijaya
menjadi negara bawahan. Namun, nama San-fo-ts'i masih tetap
digunakan, seolah-olah tidak terjadi perubahan dalam ketatanegaraan.
Demikianlah, nama San-fo-ts'i dalam Chu-fan-chi dan dalam
kronik rajakula Ming harus ditafsirkan bahwa yang dimaksud yaitu
kerajaan Melayu yang berpusat di Dharmma~raya. Pada tahun 1371,
kerajaan Melayu mengirimkan utusan ke Tiongkok. Utusan itu
membawa beruang, merak, burung bayan, dan sepucuk surat yang
ditulis di atas lembaran emas. Pada tahun 1373, datang lagi utusan
dari kerajaan yang disebut San-fo-ts'i (baca: kerajaan Melayu). Rajanya
yang mengutus bergelar maharaja prabu, dan bernama Ta-ma-cha
na-a-ch~. Kiranya beliau yaitu putra maharaja ~rimat Tribuwanaraja.
Tidak mungkin Tribuwanaraja sendiri, mengingat bahwa selisih
waktu antara penerimaan hadiah area dan pemberitaan itu 87 tahun.
Diberitahukan oleh utusan itu bahwa di negerinya ada tiga raja. Ini
berarti bahwa kerajaan San-fo-ts'i telah pecah menjadi tiga kerajaan.
Dari pengiriman utusan-utusan yang berikut, ternyata bahwa
kerajaan telah pecah menjadi: Dharmma~raya (Melayu), Palembang,
dan Minangkabau. Pada tahun 1374, datang utusan Ma-na-ha Po
lin-pang (Maharaja Palembang). Tahun berikutnya, yakni pada tahun
1375, datang utusan Seng-k'ia-lie-yu-lan (Sang Adityawarman, raja
Minangkabau). Pada tahun 1376, raja Melayu Dharmma~raya yang
tersebut di atas wafat dan diganti oleh putranya, Ma-na-ch~ Wu-li
(Maharaj a Mauli). N ama lengkapnya tidak diketahui, tetapi jelas
termasuk rajakula Mauli, yakni raja-raja Dharmma~raya. Tahun
berikutnya, Maharaja Mauli mengirim utusan ke Tiongkok,
membawa pelbagai upeti, di antaranya burung kaswari, burung
bayan, kera putih, dan penyu. Utusan mohon kepada kaisar supaya
memberikan surat pengakuan kepada Maharaj a Mauli. Tetapi dalam
perjalanan pulang, utusan itu tertangkap oleh tentara Jawa. Pada
waktu itu, San-fo-ts'i telah dikuasai oleh Jawa.
Perlu dicatat bahwa pada tahun 1325 dan 1332, menurut kronik
rajakula Yuan Seng-k'ia-lie-yu-lan, telah datang sebagai utusan ke
Tiongkok dengan pangkat menteri dari Jawa. boleh dipastikan bahwa
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 991
Seng-k'ia-lie-yu-lan yaitu SangAdityawarman yang semasa kecilnya
diasuh di pura Majapahit pada masa pemerintahan J ayanegara dan
Tribuwanatunggadewi. Barn pada tahun 1339, ia kembali ke Sumatra
dan mendirikan kerajaan Minangkabau. Tentang tokoh Adityawarman
ini, timbul pelbagai pendapat. Stutterheim dalam T.B. G. 76
mengemukakan pendapat, pengangkutan arca Amoghapa~a pada
tahun 1286 dari Jawa ke Sumatra atas perintah raja Kertanagara
dilakukan demi hadiah perkawinan Wigwar~pakum~ra dengan putri
Melayu. Wigwar~pakum~ra yaitu saudara raja Kertanagara. Dari
perkawinan itu lahir Adityawarman. Demikianlah, hubungan antara
Gayatri dan Adityawarman dalam kekeluargaan yaitu saudara
sepupu.
Dalam karangannya, "De Sadeng-oorlog en de mythe van groot
Majapahit, secara panjang lebar C.C. Berg membahas asal usul
Adityawarman dengan mengemukakan pelbagai pendapat yang
pernah diutarakan. Ringkasnya, Berg beranggapan bahwa Dara Jingga
yaitu putri Kertanagara. Putri ini kawin dengan Sanggramawijaya
alias Kertarajasa Jayawardana, dan dengan raja Melayu Muliawar
mandewa. Dari perkawinan itu lahir Arya Damar/Adityawarman.
Adityawarman yaitu putra bungsu raja Majapahit Kertarajasa
Jayawardana. Oleh sebab itu, kedudukannya jauh lebih rendah
daripada Jayanagara. Berg menganggap bahwa raja Melayu yang
kawin dengan Dara Jingga yaitu Wigwar~pakum~ra. Jadi, berbalikan
dengan pendapat Stutterheim.
Pendapat Berg ini bertentangan dengan pemberitaan Kidung
Panji Wijayakrama dan Pararaton, bahwa Dara Petak dan Dara Jingga
yaitu dua orang putri Melayu yang dibawa oleh tentara Singasari
di bawah pimpinan Kebo Anabrang ke Majapahit untuk dipersem
bahkan kepada sang prabu. Dara Petak diambil sebagai istri. Tentang
Dara Jingga dikatakan "sira alaki dewa'', suatu ungkapan yang hingga
sekarang masih gelap artinya. Oleh sebab itu, timbul pelbagai tafsir.
Berg tetap beranggapan bahwa Adityawarman yaitu putra raja
Kertarajasa yang lahir dari Dara Jingga.
999 Sriwijaya
Baik karangan Berg maupun karangan Stutterheim mengenai
asal usul Adityawarman itu sangat berbelit-belit dan sangat muluk,
dihubungkan dengan pelbagai teori. Tidak perlu dipaparkan sekali
lagi di sini.
Kita perhatikan sekarang pengakuan Adityawarman sendiri.
Pengakuan itu terdapat pada prasasti yang dipahat pada kubur raja
Adityawarman, ditulis dalam bahasa Sanskerta yang sangat ruwet.
Namun, nyata pada prasasti itu bahwa Adityawarman yaitu putra
Adwayawarman raja Kanakamedini, raja Suwarnadwipa, keturunan
wangsa Kuli~adhara (Indra). Maka, persoalannya ialah siapa
Adwayawarman itu? Bagaimana hubungan Adwayawarman dengan
pura Majapahit, sebab waktu masih muda Adityawarman tinggtal
di pura Majapahit. Teori Stutterheim dan Berg telah dikemukakan
seeara singkat sekali. Barang siapa ingin mengetahuinya selengkapnya
dapat membaeanya sendiri dalam karangan yang telah disebut di
atas.
Di antara para pembesar Singasari yang mengantarkan area
Amoghapa~a dari Singasari ke Suwarnabhumi ialah mahamantri
Adwayabrahma. Jelas, nama itu terdapat pada piagam Amoghapa~a.
Pada waktu itu, yang menjadi raja di kerajaan Melayu yang di
tundukkan oleh tentara Singasari ialah ~rimat Tribuwanaraja
Mauliwarmadewa. Peristiwa pengangkutan arca Amoghapa~a terjadi
pada tahun 1286. Tentara Singasari pulang ke Majapahit pada tahun
1293; jadi, enam tahun kemudian.
Sudah pasti bahwa kedua putri Dara Petak dan Dara Jingga
yaitu putri Tribuwanaraja Mauliwarmadewa. Kedua putri itu
dipersembahkan kepada raja Majapahit sebagai hadiah balasan.
Hadiah balasan itu tidak diterima oleh raja Keranagara, sebab pada
waktu tentara Singasari kembali, prabu Kertanagara telah wafat.
Hadiah balasan diterima oleh Raden Wijaya yang telah kawin dengan
putri Kertanagara. Dara Petak, adik Dara Jingga, dikawini oleh raja
Kertarajasa. Dari perkawinan itu lahir J ayanagara.
Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 993
Pada piagam Gunung Butak tahun 1294, nama Jayanagara telah
disebut. Pada waktu itu, Jayanagara pasti masih bayi. Tentang Dara
Jingga dikatakan "sira alaki dewa. sebab Adityawarman mengaku
putra Adwayawarman, maka boleh dipastikan bahwa Dara jingga
kawin dengan mahamantri Adwaya. Dari perkawinan itu lahir
Adityawarman Mantrolot. sebab ia tidak menyebut bahwa ayahnya
yaitu raja Kanakamedini (Suwarnadwipa), maka Adwayawarman
sebagai menantu c;rimat Tribuwanaraja tidak berkesempatan untuk
menjadi raja di Dharmmac;raya. Diharapkan supaya mahamantri
Adwaya sebagai menantu raja Dharmmac;raya pada suatu saat, jika
c;rimat Tribuwanaraja Mauliwarmadewa mangkat, dapat menjadi
penggantinya. Itulah kiranya keterangan ungkapan 'sira alaki dewa.
Dari pihak ibu, Jayanagara dan Adityawarman yaitu saudara
sepupu. Dari pihak ayah, mungkin sekali juga masih dalam
hubungan kekeluargaan yang sangat akrab, mengingat bahwa
mahamantri biasanya yaitu orang yang masih mempunyai
hubungan kekeluargaan yang akrab dengan raja. Pada zaman
pemerintahan raja Kertanagara, Adwaya menjadi mahamantri dan
raden Wijaya menjadi senapati. Raden Wijaya keturunan Narasinga;
Kertanagara keturunan Jayawisnuwardana. Mengingat masa
perkawinan Dara Petak dengan Raden Wijaya (1293), kiranya
J ayanagara dan Adityawarman yaitu sebaya. Mengingat hubungan
kekeluargaan antara J ayanagara dan Adityawarman seperti diuraikan
di atas, mudah dipahami mengapa Adityawarman diasuh bersama
dengan Jayanagara di istana Majapahit. Putri Dara Petak yang
kemudian bernama Indreswari pandai merebut hati raja Kertarajasa.
Sudah pasti bahwa Adityawarman sebagai kemenakan putri Indreswari
mendapat perhatian raja Kertarajasa.
Nama lengkap Adityawarman, seperti yang tercantum pada
piagam Amoghapa~a, ialah Uday~dityawarman Prat~paparakra
mar~jendra Mauliwarmadewa. la mengambil nama Mauliwar
madewa, sebab ia keturunan raja Dharmmarata Tribuwanaraja
Mauliwarmadewa. Adityawarman yaitu cucunya. Pada tahun 1339,
994 Sriwijaya
kira-kira pada waktu itu Adityawarman berumur ± 50 tahun ketika
kembali ke Sumatra dan mendirikan kerajaan Minangkabau.
Demikianlah, lalu timbul tiga kerajaan di bekas kerajaan San
fo-ts' I, yakni Dharmma~raya, Palembang, dan Minangkabau. Sebelum
kedatangan Adityawarman, hanya ada dua kerajaan, yakni
Dharmma~raya dan Palembang sebagai bekas kerajaan lama: Melayu
dan Sriwijaya. ltulah kiranya tiga kerajaan yang diuraikan oleh kronik
rajakula Ming.
Dengan timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut, maka kerajaan
Sriwijaya di Sumatra berakhir, meskipun dalam kronik rajakula Ming
masih disebut nama kerajaan San-fo-ts'i. Pada tahun 1377, raja
Dharmmagraya, yang namanya tercatat Ma-na-ch~ Wu-li (Maharaj
Mauli), masih berusaha memperoleh pengakuan kaisar Tiongkok
sebagai maharaja San-fo-ts'i. Namun, utusan raja Dharmma~raya itu
dalam perjalanannya pulang ditangkap oleh tentara J awa.
Kronik rajakula Ming selanjutnya memberitakan bahwa sejak
itu kerajaan San-fo-ts'i dikuasai oleh tentara Jawa. Beritanya yang
termuat dalam buku 324 ialah: "Pada tahun 1397, San-fo-ts'i untuk
penghabisan kalinya dikalahkan oleh J awa; kemudian namanya
diganti Chiu-chiang, artinya: pelabuhan lama, sungai lama." Dalam
Yin-yai-sheng-lan, dinyatakan bahwa Chiu-chiang sama saja dengan
negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga disebut Po-lin-pang
(Palembang).









