Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 9

 




a. 

Mengenai hasil bumi, baik Chu-fan-chi maupun Tao-i-chih-lio 

(1249) beritanya hampir sama. Tao-i-chih-lio mencatat: terutama 

timah, kamper, mutiara, tulang, penyu, cendana dan gaharu. Chu­ 

fan-chi menambah gading dan tanduk. 

Suatu hal yang penting dan tercatat dalam Chu-fan-chi ialah 

bahwa kerajaan Tan-ma-ling mengumpulkan perak dan emas sebagai 

upeti kepada raja San-fo-ts'i. Pada tahun 1196, Tan-ma-ling masih 

mengirim utusan yang penghabisan kali ke Tiongkok. Tao-i-chi-lio 

menyatakan bahwa Tan-ma-ling yaitu  negeri tetangga dari Sha-Ii 

dan Fo-lai-an. San-tsai-tu-hui memberitakan bahwa Tan-ma-ling 

terletak sejauh sepuluh hari pelayaran dari Kamboja. Tan-ma-ling 

dapat juga dicapai dari Ling-ya-si-kia (Langkasuka), baik melalui 

daratan maupun melalui laut. Jika melalui laut, berlayar enam hari 

enammalam. 

Mengenai pemberitaan Chu-fan-chi, bahwa Tan-ma-ling 

diperintah oleh Siang-kung yang diterjemahkan oleh Hirt dan 

Rockhill: minister (menteri), mungkin sekali kata tersebut yaitu  

transkripsi Tionghoa dari kata Melayu tumenggung atau tiang agung. 

orang besar, pembesar. Kata tiang yaitu  kata Melayu-Polinesia dan 

berarti: yang berdiri. Dalam bahasa J awa diberi arti: orang; dalam 

bahasa Melayu tiang diberi arti lain misalnya: tiang listrik, tiang 

rumah, dan sebagainya; agung berarti besar. Kata tersebut terbukti 

969 Sriwijaya 

dipakai juga zaman sekarang di Malaya dalam sebutan yang dipertoan 

agong. Tiang agung a tau wong agung biasa digunakan untuk menyebut 

seorang pembesar dalam pemerintahan. Persoalan yang timbul ialah: 

Dari siapa Chao-ju-kua memperoleh berita tersebut? 

Tentang pengumpulan emas clan perak sebagai upeti kepada 

raja San-fo-ts'i, dapat dijelaskan bahwa Pahang memang menghasilkan 

emas. Dato F.W. Douglas mencatat bahwa emas Pahang berwarna 

merah. Emas Pahang sering disebut emas tulen. Perdagangan emas 

di Pahang masih berlangsung hingga sekarang. Dari hasil penye­ 

lidikan purbakala, terbukti bahwa di Kelantan terdapat porselen 

seladon dari zaman Sung dan tempayan-tempayan dari zaman Ming. 

Penemuan ini menunjukkan adanya hubungan antara Pahang, 

Kelantan, dengan Tiongkok pada zaman yang lampau. Mengenai 

hasil timah, memang daerah Pahang terkenal sebab  timahnya. Nama 

Pahang itu sendiri yaitu  kata Khmer yang berarti: timah. Adanya 

emas clan timah di daerah Pahang clan Kelantan yang boleh dikatakan 

banyak dibuktikan oleh tulisan Anker Retse, seorang ahli tambang. 

Emas yang terdapat di tepi-tepi sungai menyebabkan adanya per­ 

dagangan emas di tempat tersebut. Rupanya pada zaman yang 

lampau, emas di tepi sungai-sungai ini lebih banyak lagi daripada 

sekarang. Demikianlah, tidak aneh bahwa khusus Tan-ma-ling yang 

menyediakan emas clan perak sebagai upeti kepada raja San-fo-ts'i. 

Dr. Linehan dalam bukunya, History of Pahang, menguraikan 

bahwa sungai-sungai di pantai timur merupakan jalan daratan yang 

menghubungkan tempat yang satu dengan yang lain. Sungai Tanum 

cabang sungai Djelai (Jelai), sungai Sat clan Sepia cabang sungai 

Tembeling, mengalir menu ju Kelantan. Sungai Sepia merupakan jalan 

yang menuju Trengganu. Tanah datar Tembeling dilalui jalan raya di 

sebelah utara. Di tanah datar ini ditemukan barang-barang kuno 

dari emas. Jalan kereta api yang ada sekarang menurutkan jalan yang 

sudah ada sebelumnya. Di samping melalui jalan daratan ini, tempat­ 

tempat di pantai timur dapat dicapai dari tempat yang satu ke tempat 

yang lain melalui jalan pelayaran menyusur pantai. Oleh sebab  itu, 

Kerajaan San-fO-ts'i 963 

berita-beritaTionghoa di atas dapat dipahami. Tan-ma-ling terbukti 

bukan Tamralingga seperti disangka oleh Coed~s dan Nilakanta Sastri, 

melainkan Tembeling di daerah Pahang. 

Dalam sejarah Sung, tercatat utusan dari negeri Tan-mei-liu 

(ejaan Prancis: Tan-mei-lieou) pada tahun 1001. sebab  kedatangan 

utusan itu lebih dahulu daripada utusan negeri Tan-ma-ling dan 

namanya mirip sekali, Coed~s beranggapan bahwa Tan-mei-liu yaitu  

nama lama Tan-ma-ling. Dengan kata lain, Tan-ma-ling dan Tan­ 

mei-lin yaitu  nama satu kerajaan yang sama, dan kerajaan itu ialah 

Tamralingga di Ligor. 

Diuraikan dalam sejarah Sung bahwa utusan itu dikirim oleh 

raja Tou-s~-chi, dan dipimpin oleh Ta-chih-ma. Wakilnya ialah Ta­ 

luh, dan yang menjadi hakim ialah Pi-ni. Utusan itu terdiri dari 

sembilan orang. Mereka membawa kayu cendana 100 kati, seng, 

tembaga, timah masing-masing 100 kati, lithospermum l 00 kati di 

atas dulang merah, em pat po tong pakaian bersongket, serat 10.000 

kati, dan gading 61 batang. Keadaan negaranya digambarkan seperti 

berikut: Rumah-rumahnya dibuat dari kayu; emas dan perak diper­ 

dagangkan. Luas tempat tinggal pembesarnya sampai lima li, tetapi 

tidak dikelilingi tembok. Jika keluar, rajanya naik kereta yang ditarik 

gajah atau naik kuda. Negeri Tan-mei-liu menghasilkan badak, gajah, 

seng, tembaga, lighospermum officinale, serat dan lain-lain. Mengenai 

letaknya, dari Tan-mei-liu ke timur sampai Chen-la 50 pos (hentian); 

ke selatan sampai Lo-yue 15 pos, menyeberangi laut; ke barat sampai 

Si-t'en 35 pos; ke utara sampai Teheng-leang 60 pos, ke tenggara 

sampai Cho-po 45 pos; ke timur laut sampai Kanton 135 pos. 

Demikianlah berita yang mengenai Tan-mei-liu. 

sebab  nama Tan-ma-ling timbulnya lebih-kurang satu abad 

sesudah Tan-mei-liu, dan menurut hasil penyelidikan Tan-ma-ling 

dapat diidentifikasikan dengan Tembeling, maka Roland Braddell 

berpendapat bahwa Tan-mei-liu yaitu  Tamralingga. Pada tahun 

1030, Tamralingga ada di bawah kekuasaan Kedah, yang menjadi 

pusat kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung. Dengan sendirinya 

964 Sriwijaya 

Tamralingga masuk di bawah pemerintahan Sriwijaya. Ketika 

Sriwijaya ditundukkan oleh Jawa, maka Tamralingga memperoleh 

kemerdekaannya kembali clan berhubungan dengan Tiongkok. Tetapi 

pada tahun 1030, kerajaan itu diserang oleh raja Cola seperti 

diberitakan pada piagam Tanyore. 

Dari Tao-i-chih-lio, kita memperoleh berita bahwa negeri Tan­ 

ma-ling yaitu  negeri tetangga Sha-li-fo-lai-an. Prof. Hsil melihat 

Sha-li-fo-lai-an sebagai dua nama, yakni Sha-li dan Fo-lai-an, tetapi 

Roland Braddell menganggap Sha-Ii yaitu  transkripsi dari cri. 

Dengan sendirinya nama sungai Jelai clan Selinsing, sungai Tanum 

sebagai eabang sungai Jelai. 

Sungai Jelai bertemu di Tembeling dengan sungai Tembling; 

kedua-duanya menjadi sungai Pahang. Tidak aneh jika Sha-li itu 

transkripsi dari nama sungai jelai, mengingat bahwa sungai itu 

mengalir dekat Tembeling yang disebut Tan-ma-ling. sebab  Po-lo­ 

an disebut dalam rangkaian negeri-negeri di pantai timur 

Semenanjung, maka Fo-lo-an harus juga terletak di pantai timur. 

Tidak mungkin di pantai barat Selangor seperti yang disarankan oleh 

Rouffaer clan disamakan dengan Beranang. Bahwa Beranang itu 

disebut Fo-long dalam bahasa Tionghoa, sekarang bukan soal. Namun, 

Beranang sebagai desa di muara sungai Langat, tidak menunjukkan 

bahwa tempat itu pernah memegang peranan sejarah pada zaman 

yang lampau. Coed~s menyamakan Fo-lo-an dengan Pa-tha-lung, 

seperti yang pernah dikemukakan oleh C.O. Blagden. 

Berita mengenai Fo-lo-an mengatakan bahwa pembesar Po-lo­ 

an diangkat dari San-fo-ts'i. Di Fo-lo-an, terdapat area Budha yang 

tiap tahun dikunjungi oleh para bangsawan dari San-fo-ts'i. Di Po­ 

lo-an, ada dua area Budha. Yang satu bertangan empat, yang satu 

lagi bertangan enam. Jika ada kapal yang akan mengangkutnya, kapal 

itu akan ditiup kembali ke laut oleh angin ribut akibat kekuatan 

gaib Budha. Candi Budha di Fo-lo-an atapnya dibrons clan dihiasi 

dengan emas. Tanggal 15 bulan 6 dirayakan sebagai hari kelahiran 

Budha. Pada hari itu diadakan pawai yang diikuti oleh musik clan 

Kerajaan San-fO-ts'i 965 

bunyi-bunyian. Pedagang asing ikut serta mengadakan pawai. Negeri 

Fo-lo-an menghasilkan gaharu, cendana, clan gading. Tiap tahun 

mengirim upeti ke negeri San-fo-ts'i. 

Fo-lo-an dapat dicapai dari Ling-ya-si-kia dalam waktu empat 

hari pelayaran. Perjalanan dari Lang-ya-si-kia (Langkasuka, Patani) 

ke Tembeling makan waktu enam hari. Pelayaran menyisir pantai 

berhenti di muara Kuan tan, kemudian perahu mudik ke hulu sungai. 

Demikianlah, kira-kira Fo-lo-an itu letaknya sejauh 2/3 jarak Patani­ 

Muara Kuantan. Roland Braddell menegaskan bahwa Fo-lo-an 

terletak di Tanjung Dungun. Pelabuhannya dilindungi oleh pulau 

Tenggol. 

Pa-r'a, seperti telah disinggung di muka, disamakan dengan 

Tanjung Paka di muara sungai Paka, di pantai timur Malaya. Hingga 

sekarang daerah tersebut masih bernama Paka, letaknya di sebelah 

selatan sungai Dungun di daerah Trengganu. 

Di antara negeri-negeri di pantai timur Semenanjung yang 

menurut Chu-fan-chi termasuk negeri bawahan San-fo-ts'i ialah negeri 

Kia-lo-hi. berdasar  kemiripan bunyi clan geografi yang diperoleh 

dari pelbagai berita Tionghoa, Kia-lo-hi disamakan dengan Grahi. 

Dalam sejarah Sung, diuraikan bahwa kerajaan Chen-la 

menyentuh bagian selatan Chan-ch' eng (Annam), di sebelah timur 

menghadap ke laut, di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Kia­ 

lo-hi yang ada di bawah kekuasaan San-fo-ts'i. Dari berita itu, nyata 

bahwa pada masa pemerintahan rajakula Sung, kerajaan Chen-la 

beradu batas dengan San-fo-ts'i. Berita ini penting, sebab  di Grahi 

kedapatan prasasti dalam bahasa Khmer. Padahal, menurut Chu-fan­ 

chi, Kia-lo-hi yaitu  wilayah kerajaan San-fo-ts'i. 

Hubungan Sriwijaya dan India 

Telah diuraikan sekadarnya antara raja Sriwijaya Balaputra clan 

raja Dewapaladewa dari Benggala. Balaputradewa mengambil alih 

kekuasaan raja Sailendra di luar Jawa clan menjadi maharaja di 

966 Sriwijaya 

Sriwijaya setelah menyingkir dari Jawa Tengah. Dengan timbulnya 

Balaputra sebagai raja Suwarnadwipa, kekuasaan Sailendra dibagi 

menjadi dua. Kekuasaan Sailendra di Sumatra dan Semenanjung 

diambil alih oleh Balaputra, kekuasaan di J awa jatuh di tangan 

keturunan rajakula Sanjaya rakai Pikatan alias J atiningrat. Setelah 

Balaputra dinobatkan menjadi raja di Suwarnadwipa, segera 

mengadakan hubungan dengan raja Benggala Dewapaladewa dan 

membangun wihara di Nalanda. Piagam Nalanda jelas menunjukkan 

adanya hubungan agama dan politik antara raja Balaputra dari 

Sriwijaya dan raja Dewapaladewa dari Pataliputra. 

Menurut keterangan R.C. Majumdar, dalam karangannya yang 

berjudul Colonial and Cultural Expansion dalam An Advanced His­ 

tory of India hlm. 219, pada waktu itu Benggala yaitu  pusat agama 

Budha Mahayana di India. Kehidupan keagamaan raja-raja Sailendra, 

baik pada masa pemerintahan rakai Panangkaran di Jawa Tengah dan 

keturunannya maupun pada masa pemerintahan Balaputra di 

Suwarnadwipa, berhubungan erat dengan kehidupan keagamaan di 

Benggala. U pacara peresmian area Manjusri di Kelurak pada tahun 

782 dipimpin oleh pendeta Kumaraghosa, berasal dari Benggala. 

Pada waktu itu, yang memerintah kerajaan Benggala ialah raja 

Dharmapala. Pusatnya di Pataliputra. 

Dharmapala naik takhta kerajaan antara tahun 752 dan 794, 

dan wafat antara tahun 794 dan 839. Tarikh tahun yang pasti tidak 

dapat dipastikan. Beliau yaitu  raja yang terbesar di antara raja-raja 

yang pernah memerintah Benggala. Pengganti beliau yaitu  raja 

Dewapala, yang mempunyai hubungan erat dengan Balaputradewa 

berkenaan dengan pengeluaran piagam Nalanda atas permintaan 

Balaputra. Beliau wafat pada ± 878. Demikianlah, hubungan antara 

raja Sailendra Dharanindra di Jawa Tengah, nenek Balaputra, dan 

raj a Dharmapala di Pataliputra, dilanjutkan oleh Balaputra dan Dewa­ 

pala. Hubungan keagamaan diperluas menjadi hubungan politik, 

sebab  dasar pengeluaran piagam ialah tuntutan politik Balaputra 

mengenai hak atas takhta kerajaan di Jawa Tengah kepada rakai 

Pikatan yang dianggap merampas hak tersebut. 

Kerajaan San-fO-ts'i 967 

Hubungan dengan India tetap dipelihara. Raja Cudamaniwar­ 

man dan Marawijaya dari rajakula Sailendra melanjutkan hubungan 

yang telah dimulai oleh Balaputra untuk menghadapi keturunan 

rakai Pikatan di J awa. Sudah barang tentu, di samping tujuan politik, 

persahabatan dengan India itu juga menyebabkan kelancaran per­ 

dagangan dan kesuburan kehidupan agama Budha Mahayana. 

Ditinjau dari sudut kehidupan politik, ekonomi, dan keagamaan, 

hubungan antara India dan Sriwijaya itu memang menguntungkan 

kedua belah pihak. Raja Kidara Cudamaniwarman membangun 

wihara dan candi pada tahun 1006, pada masa pemerintahan Raja­ 

kesariwarman. Pembangunan candi dan wihara dilanjutkan oleh 

putranya, yakni Marawijayatunggawarman. Kecuali melanjutkan 

pembangunan candi dan wihara tersebut, raja Marawijaya mem­ 

persembahkan desa Anaimangalam sebagai jaminan kepada para 

pendeta yang hidup dalam wihara tersebut. Hal ini telah diuraikan 

di atas. 

Persahabatan antara India Selatan dan Sriwijaya tidak ber­ 

langsung baik terus-menerus. Setelah Rajaraja wafat, dan diganti oleh 

Rajendracola I pada tahun 1012, sikap Rajendracola terhadap raja 

Sriwijaya berubah. Watak imperialis Rajendracola mulai meluap. 

Rajendracola memperluas wilayahnya sampai kira-kira seluas provinsi 

Madras sekarang. Jenderal-jenderal Rajendra bergerak sampai sungai 

Gangga. Para laksamananya menguasai selat Sri Lanka dan pulau­ 

pulau Nikobar. Mereka masih terns bergerak ke arah timur. Maha­ 

raja Mahapala I dari Benggala ditundukkan. Demikian pula raja 

Chalukya di Dekkan. Untuk sementara waktu, kewibawaan raja 

Chalukya runtuh berantakan. Dengan timbulnya Some~wara 

Ahawamalla, kewibawaan itu dapat dipulihkan. N amun, tidak lama 

kemudian digugurkan lagi oleh putra Rajendracola I. Demikianlah, 

pengiriman angkatan laut oleh Rajendracola Ike Semenanjung dan 

Sriwijaya di sekitar tahun 1025 boleh dikatakan dalam rangka politik 

perluasan wilayah rajakula Cola. Tetapi, apa yang menjadi dorongan 

langsung untuk pengiriman angkatan laut ke Sriwijaya tidak 

968 Sriwijaya 

dinyatakan pada piagam Tanyore, yang dikeluarkan pada tahun 1030. 

Sebab, yang pokok ialah politik perluasan wilayah Rajendracola. 

Dua kali Rajendracola menyebut kemenangannya terhadap raj a 

Kadara, yang juga memerintah Sriwijaya. Prasasti yang pertama 

dikeluarkan pada tahun ke-12 masa pemerintahannya, yakni pada 

tahun 1024. Prasasti yang kedua yang terkenal dengan nama prasasti 

Tanyore, dikeluarkan pada tahun 1030 clan memuat daftar negeri­ 

negeri yang ditundukkannya. Kecuali menyebut Sri Lanka, Orissa, 

clan Benggala, yang terletak di sekitar negerinya, prasasti itu juga 

menyebut negeri-negeri di Semenanjung clan Sumatra. 

Bagian prasasti Tanyore yang mempunyai sangkut paut dengan 

kerajaan Sriwijaya seperti berikut: 

(Rajendra) having despatched many ships in the midst of the 

rolling sea and having caught Sanggramawijayotunggawarman, the 

king of Kadaram, together with the elephants in his glorius army (took) 

the large heap of treasures, which (that king) had rightfully accumu­ 

lated; captured with noise the (arch called) Widyadharatorana at the 

war-gate of his extensive capital (nagar). <;riwijaya, with the jewelled 

wicket-gate adorned with the great splendour and the gate of large 

jewels; Panai with water in its bathing ghats; the ancient Malayur with 

the strong mountain for its rampart; Mayirudingam, surrounded by 

the deep sea (as) by a moat; Illangga~oka undaunted (in) fierce battles; 

Mappapalam having abundant (deep) water as defence; Mewilim­ 

banggam guarded by beautiful walls; Walaippanduru possessed of 

Wilaipanduru(?); Talaittakolam praised by great men (versed in) the 

sciences; the great Tamralingga (capable of) strong action in danger­ 

ous battles; llamuri-de~am, whose fierce strength rose in war; the 

great Nakkawaram, in whose extensive gardens, honey was collect­ 

ing; and Kadaram of fierce strength, which was protected by the deep 

sea. 

Demikianlah terjemahan Prof. Nilakanta Sastri. 

Di antara nama-nama tempat yang tercatat pada piagam Tanyore 

di atas, ada yang tidak diketahui letaknya. Yang terang ialah Kadaram, 

yakni Kedah; Sriwijaya = Sriwijaya di Palembang; Panai = Panai di 

muara sungai Barumun; Malayur = Melayu; Mayirudingam = Che- 

Kerajaan San-fO-ts'i 969 

rating (?) di pantai timur Malaya; Ilanggac;ogam = Langkasuka di 

pantai timur Malaya; Mappapalam =?; Mewilimbanggam = ?; 

Walaippanduru = ?; Tallaittakolam = Takola (); Ilamuri-de~am = 

Lamuri, Aceh; Nakkawaram = Nikobar. 

Raja-raja Cola mempunyai kebiasaan memberikan kekuasaan 

kembali kepada raja-raja yang ditaklukkan. Raja Cola sudah puas 

dengan pengakuan atas kekuasaannya, dan dengan persembahan upeti 

sekadarnya sebagai tanda takluk. Dalam rangka itu, kiranya raja 

Sriwijaya masih dapat langsung berhubungan dengan kaisar 

Tiongkok. Pada tahun 1028, raja Sriwijaya mengirim utusan ke 

Tiongkok. Nama rajanya tercatat Se-li-houa (Sri Tunggawarman). 

Yang memerintah pada waktu itu putra Marawijayatunggawarman 

yang bernama Sanggramawijayatunggawarman. 

Peristiwa pengiriman utusan itu berlangsung antara tahun ke­ 

12 masa pemerintahan Rajendracola dan tahun 1030 masa 

pengeluaran prasasti Tanyore. Oleh sebab  itu, sifatnya masih 

meragukan. Tidak aneh bila raja Rajendracola I juga menganggap 

dirinya sebagai raja negeri-negeri yang ditaklukkan, meskipun tidak 

secara langsung menjalankan pemerintahan di negeri taklukan yang 

bersangkutan. Ini pun kebiasaan yang dijumpai dalam sejarah. 

Sebagai bukti untuk kebenaran peristiwa tersebut, dapat di­ 

kemukakan piagam Kanton yang bertarikh tahun 1079 tentang 

perbaikan candi Tien Ching di dekat Kanton. Perbaikan candi Tien 

Ching dilakukan atas biaya raja San-fo-ts'i yang bernama Ti-hua-ka­ 

lo (Dewa Kulottungga). Pada daftar silsilah raja-raja Chalukya Timur, 

Dewa Kulottunga Cola I ialah cucu Rajendradewa II dan dikenal 

dengan nama Rajendra III. Beliau memerintah dari tahun 1070­ 

1122. Jika penyamaan Ti-hua-ka-lo pada piagam Kanton dengan 

Dewa Kulottunga itu benar, maka Rajendra III inilah yang mengaku 

raja San-fo-ts'i, atau raja Sriwijaya. Ti-hua-ka-lo dari Chu-lien 

merebut kekuasaan San-fo-ts'i dan menetap di situ sampai tahun 

1070, sebab  pada tahun 1070 beliau naik takhta kerajaan di Cola 

dan memerintah sampai tahun 1119. Sesudah Rajendradewa 

970 Sriwijaya 

Kulottunga naik takhta pada tahun I 070, pemerintahan atas San­ 

fo-ts'i diserahkan kepada putrinya, yang dalam pemerintahan dibantu 

oleh raja Jambi. Berita yang ditangkap dari Sung-hui-yao seperti 

berikut: 

Pada tahun ke-5 masa pemerintahan Yuan-fong (tahun 1082) 

bulan 10 tanggal 17, Sun Chiang, wakil kepala urusan pengangkutan 

dan wakil kepala urusan dagang, menyatakan bahwa wakil umum 

pedagang asing di negeri laut Selatan menyampaikan surat kepadanya, 

yang ditulis dalam bahasa Tionghoa. Surat tersebut berasal dari raja 

Chan-pei (Jambi) bagian dari San-fo-ts'I, dan dari putri raja yang diserahi 

kekuasaan mengawasi urusan negara San-fo-ts'i. Mereka mengirimkan 

kepadanya 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian. 

Demikian Tan Yeok Seong. 

Untuk mengaku raja San-fo-ts'i bukanlah syarat mutlak menetap 

di San-fo-ts'i. Ini sesuai dengan kebiasaan raja-raja Cola di India. 

Oleh sebab  itu, yang dimaksud dengan putri raja dalam Sung-hui­ 

yao mungkin sekali keturunan raja Sanggramawijaya yang 

ditundukkan oleh Rajendracoladewa I. Raja-raja asli berbuat atas 

nama raja Cola di India. Demikianlah, dapat dipahami apa sebabnya 

nama Dewa Kulottungga, yang pada tahun I 079 telah memegang 

pemerintahan di India selama sembilan tahun, tercatat sebagai raja 

San-fo-ts'i pada piagam Tien Ching di Kanton. 

Yang perlu mendapat perhatian ialah bahwa pada tahun 1006, 

raja Cudamaniwarman dan kemudian Marawijayatunggawarman 

pada piagam Larger Leyden Plates menyebut dirinya raja Kataha 

dan Sriwijaya. Kalimat itu dapat ditafsirkan bahwa pada waktu itu, 

Kedah sudah dijadikan ibu kota yang kedua dalam wilayah Sriwijaya. 

Sriwijaya menguasai sepenuhnya lalu-lintas kapal di selat Malaka. 

Pengawasan di ujung utara dilakukan di Kedah; di ujung selatan 

dilakukan di Jambi. Kapal-kapal yang berlayar dari laut Jawa ke selat 

Malaka dan sebaliknya diawasi di Palembang. Kedah dijadikan pusat 

penguasaan negeri-negeri bawahan Sriwijaya di Semenanjung. 

Palembang menjadi ibu kota resmi kerajaan Sriwijaya dan pusat 

penguasaan negeri-negeri bawahan Sriwijaya di Sumatra. 

Kerajaan San-fO-ts'i 971 

Hubungan Sriwijaya dan Tiongkok 

Pangsa waktu penghabisan pengiriman utusan ke Tiongkok oleh 

kerajaan Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) pada masa pemerintahan rajakula 

T'ang ialah dari tahun 713 sampai 714. Sejak itu, utusan Shih-li­ 

fo-shih tidak lagi kedengaran. Berhentinya pengiriman utusan ke 

Tiongkok oleh Sriwijaya bertepatan dengan perubahan pemerintahan 

rajakula Sailendra, seperti dinyatakan pada piagam Ligor B. Raja 

Wisnu dari wangsa Sailendra mulai berkuasa di Sriwijaya. 

Pengiriman utusan ke Tiongkok dimulai lagi pada permulaan 

masa pemerintahan rajakula Sung (960-1279). Tepat pada tahun 

960, seorang raja dari San-fo-ts'i yang bernama Se-li-hou-ta-hia-li­ 

tan (Sri Udayadityawarman) mengirim utusan ke Tiongkok. Boleh 

dipastikan bahwa Sri Udayadityawarman yaitu  keturunan Sailendra 

wangsa, keturunan Balaputra, sebab  raja-raja Sriwijaya yang me­ 

nyusul, yakni raja Cudamaniwarman dan Marawijayatunggawarman, 

j uga keturunan rajakula Sailendra. 

Pada tahun 962, datang lagi utusan ke Tiongkok, namun nama 

rajanya agak berbeda, yakni Se-li-wou-a (mungkin singkatan dari Sri 

Udayadityawarman). Ketika kembali, utusan itu membawa kendi, 

porselin putih, benang sutera, dua pasang pelana, dan kendali. Dalam 

perutusan pada tahun 980 dan 983, yang tercatat hanya gelar raja 

Sriwijaya, yakni hia-tche (haji). Perutusan itu tinggal agak lama di 

Tiongkok. 

Pada tahun 992, datang kabar dari Kanton, bahwa negeri 

Sriwijaya sedang diserang oleh tentara Jawa. Kemudian pada musim 

semi tahun 992, utusan itu berangkat dari Kanton menuju Campa. 

Tetapi perjalanan pulang itu dibatalkan, sebab  datang kabar bahwa 

peperangan di negeri San-fo-ts'i masih terns berkobar. Kemudian ia 

berlayar kembali dan mohon kepada kaisar, agar kaisar mengeluarkan 

pengumuman bahwa San-fo-ts'i ada di bawah perlindungan Tiong­ 

kok. 

979 Sriwijaya 

Berita perang itu cocok dengan uraian utusan dari Jawa yang 

pada waktu itu datang ke Tiongkok untuk pertama kali. Utusan Jawa 

itu memberitahukan bahwa negerinya dalam permusuhan dengan 

San-fo-ts'i. Pada waktu itu, yang memerintah di Jawa ialah raja 

Dharmawangsa; di Sriwijaya ialah raja Cudamaniwarman. Itulah 

permusuhan antara Sriwijaya dan Jawa yang tidak tercatat pada 

piagam, tetapi tercatat dalam kronik Tionghoa. 

Pada tahun 1003, raja Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa (Sri 

Cudamaniwarmadewa) mengirim dua orang utusan untuk 

mempersembahkan upeti. Kedua utusan itu menceriterakan bahwa 

di negerinya telah selesai dibangun sebuah candi Budha tempat 

berdoa agar kaisar dikaruniai panjang usia. Kemudian dikeluarkan 

pengumuman oleh kaisar, bahwa candi itu diberi nama Cheng-tien­ 

wan-show. Di samping itu, kaisar menghadiahkan lonceng untuk 

candi tersebut. Pada tahun 1008, raj a Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi, 

yakni Marawijaya) mengirim tiga orang utusan untuk 

mempersembahkan upeti. Mereka diizinkan pergi ke Tai-shan dan 

menghadap kaisar. 

Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa pada permulaan abad ke­ 

11, raja Sriwijaya mengadakan hubungan erat dengan Raja 

Kesariwarman Rajaraja di India dan dengan kaisarTiongkok. Tokoh 

Cudamaniwarman dan Marawijaya mempererat hubungan segitiga 

India-Sriwijaya-Tiongkok untuk menghadapi Jawa. Hubungan 

dengan Tiongkok masih tetap dilanjutkan setelah Sriwijaya diserang 

oleh Rajendracola I dari India Selatan. Pada tahun 1079, Rajendra 

Dewa Kulottunga sebagai raja San-fo-ts'i memperbaiki candi Tien 

Ching di kota Kuang Cho dekat Kanton. Laporan pembangunan 

kembali candi Tien Ching itu dinyatakan dalam bentuk piagam yang 

ditemukan pada tahun 1959 di Kanton. Batu piagam itu terdapat 

di candi yang terletak di kota Kuang Cho, di sebelah utara Kanton. 

Kuang Cho yaitu  tempat suci di Kanton. Pada zaman pemerintahan 

rajakula Sung, candi itu disebut Tien Ching Kuan, dan pada zaman 

Yuan, disebut Yuan Miau Kwan. Di bagian atas batu piagam itu, 

tertulis enam hurufTonghwa yang bunyinya: Chung Siu Tien Ching 

Kerajaan San-fO-ts'i 973 

Kuan Chi, artinya: Laporan pembangunan kembali candi Tien Ching. 

Batu tersebut bertarikh tahun 1079. Terjemahan batu piagam itu 

seperti berikut: 

Agama Tao berasal dari daerah Luo-tan. Timbulnya pada masa 

pemerintahan rajakula T'ang, dan berkembang pada masa 

pemerintahan kaisar Ch'ang dari rajakula Tung. Lao-tgu menulis 

tentang Tao-te-ching. Kata-katanya tinggi lagi mulia. Bukankah itu asal 

mulanya? Kaisar Ming menganjurkan kepada rakyat untuk memuja 

Tao dan membangun candi Kai-yuen. Bukankah ini suatu kemajuan? 

Kaisar Tsin-tsung sendiri memeluk agama Tao, dan selama 

pemerintahannya di Siang-fu, pembangunan candi Tien Ching 

diumumkan di seluruh wilayah kaisar. Tidakkah ini berarti bahwa 

agama itu mengalami perkembangan sepenuhnya? 

Di sudut selatan kota Kanton, di sebuah kota di kaki gunung, di 

situ bertegak salah satu candinya. ltu menunjukkan bahwa di tempat 

itu Tao dipuja dengan giat. 

Pada tahun keempat masa pemerintahan Huan-yiu, penjahat Lang 

dari Kwang-yuen sekonyong-konyong berlayar ke hilir sungai dan 

diam-diam datang di tepi tembok pusat kota Fan-yu. la menimbulkan 

malabencana pada candi tersebut dan membakarnya menjadi abu. 

Siapakah yang akan membangun kembali runtuhan-runtuhan 

yang berserak di muka pandangan setiap orang itu? Tidak adakah 

salah seorang yang mampu, salah seorang pemuja Tao dan pencari 

bahagia yang sungguh, yang sanggup menumpahkan perhatian 

kepada hal itu? 

Kota Lima Kambing (Kanton) terletak di dekat laut besar. Kota itu 

berhubungan dengan pelbagai negara asing. Di situlah tempat bertemu 

para pedagang. Pada masa pemerintahan Chih-ping, ada seorang 

raja dari San-fo-ts'i: sang prabu Ti-hua-ka-lo. Beliau memberi perintah 

kepada salah seorang hambanya, Chih-lo-lo, untuk mengirimkan 

perahu-perahunya ke kota ini. Chih-lo-lo melihat candi rusak, kakinya 

terpendam dalam rungkutan. Kemudian ia kembali, lalu memberikan 

laporan kepada maharaja. Pada saat itu, beliau mulai cenderung 

kepada agama Tao. Pada tahun keempat, beliau mengirim orang yang 

bernama Si-li-sha-wen ke Kanton untuk menemui pembesar mandala, 

kemudian mulai menyelenggarakan pembangunan kembali gapura 

besar cand i. 

Pada tahun pertama masa pemerintahan Hsing-ming, Sha-wen 

pulang sebelum pembangunan ruang dilaksanakan seluruhnya. la 

974 Sriwijaya 

datang lagi pada tahun kedua untuk melanjutkan pekerjaannya. la 

mendirikan auditorium sabda kaisar di sebelah barat Mandala. 

Sha-when pulang lagi ke negerinya, dan pada tahun ketiga, ma­ 

haraja mengirim utusannya lagi membawa pelbagai barang 

kepertapaan. Lo yin-chih, seorang pendeta dari Lu-san, minta agar 

Lo-yin-chih suka menjadi pengurus setempat dan Ho-teck-sun suka 

menjadi pengawas candi tersebut. 

Pada tahun itu juga, ia membentuk suatu panitia pembeli ladang 

padi seharga 100.000 uang emas untuk membelanjai pengawasan 

candi tersebut. Lo-yin-chih mengundurkan diri dan kembali ke 

gunung, tempatnya yang lama. Wakil maharaja lalu mendesak 

gubernur untuk mengangkat Ho-teck-sun sebagai penggantinya. 

Selanjutnya, wakil maharaja membangun ruang Pao-tsin, ruang utara, 

dan ruang vegetaris. 

Untuk menyempurnakan pembangunan candi, maka terpahat 

dan terlukislah area di tempat persajian Tian-ti bersama-sama dengan 

para pegawainya. Ketika Sha-wen ke negerinya dengan maksud untuk 

menyempurnakan agama Tao, Ho-teck-sun berpesan kepadanya agar 

ia suka membujuk sang raja (terputus sebab  rusak) ... Sekarang, 

seorang hakim yang bernama Ma-tu-hau-lo, seorang budayawan, 

datang membawa upeti ke istana. lzin telah diberikan untuk menerima 

upetinya yang dimaksud untuk membangun ruang San-ching dan 

perpustakaan kaisar ... (tidak terbaca). Setiap tahun, harus ada satu 

orang yang ditebus (dari dosanya). Telah dicetak sebuah lonceng 

besar dan telah didirikan pula menara lonceng. Hadiah sejumlah 

400.000 uang emas telah disampaikan untuk membeli ladang padi 

guna pembinaan candi. 

Maksud ini terpuji oleh istana. Kehormatan yang gemilang 

diberikan kepada mereka yang bersangkutan. Gelar jenderal besar 

yang membantu pembaharuan ibadah dan keutamaan diberikan 

kepada maharaja. Ho-teck-sun dijadikan tokoh besar yang 

menyembah Tao. 

Sampai tahun kedua masa pemerintahan Yuan-fong, dalam 

pangsa waktu tujuh atau delapan bulan, rencana terlaksana. 

Kebagusan wihara memberikan pemandangan cemerlang. Angin 

bertiup, lonceng-lonceng berbunyi, di bawah matahari terik 

mencurahkan sinar kemasan, pertama gemerlapan. Hadiah sejumlah 

400.000 uang emas digunakan untuk membeli ladang padi di tepi 

sungai seluas 190 oddmu, terletak di teluk Naga di sebelah pulau 

dekat desa San-kui didistrik Nan-hai. Hasil tanamannya tiap tahun 

758 hu. Ladang lain lagi yang menghasilkan 90 hu padi, dan yang 

Kerajaan San-fO-ts'i 

terletak di desa Lian-tang di distrik Ching yuen, juga dibeli; milik ini 

memberi hasil padi sebanyak 700 hu setiap tahun. lni digunakan 

untuk pembiayaan para pendeta Tao. 100.000 uang emas sisanya 

didermakan kepada candi Ching-hui-si untuk membeli ladang padi 

guna menyokong para biksu dan biksuni. 

Sesudah mendirikan candi tersebut, sang raja lalu melepaskan 

perahunya berlayar ke arah negeri yang dituju tanpa takut akan bahaya, 

padahal sebelumnya dalam ketakutan. lni cukup membuktikan bahwa 

Yang Mahasuci memberikan restu dan anugerah. 

Sebagai saksi yang melihat mukjizat ini dengan mata sendiri, 

saya cenderung untuk memanjatkan doa kepada yang dimuliakan 

Tsong Tao, dan membuat laporan ini pada tahun kedua masa 

pemerintahan Yuan-fong pada hari dua lipat sembilan. 

Hakim Ma-tu-hua-lo, jenderal Pao Sun Lang 

Ku Lian Chuan Tu 

Ka Na Cha 

Penderma yang berjasa: Ti-hua-ka-lo, jenderal besar yang 

menyokong pembaharuan ibadah dan keutamaan. 

975 

Pada waktu itu, kota Kanton dirusak oleh penjahat Lang. 

Terbukti bahwa piagam tersebut sama dengan uraian sejarah lama 

Kuang-chou yang dikutip oleh Ku-yen-wu dalam bukunya, Tien-hsia­ 

chun-kuo-li-pin-shu, yang bunyinya seperti berikut: 

Pada masa pemerintahan Chih-ping, Ti-hua-ka-lo mengirim 

utusan Chih-lo-lo untuk menyampaikan upeti ke istana. Perahunya 

diserang oleh angin ribut dan terguling. Chi-lo-lo menengadah ke 

langit. Kemudian tampaklah orang tua di awan. Angin ribut menjadi 

reda. 

Lukisan Lao-chun diturunkan ke debu. Chih-lo-lo datang 

melihatnya. Terbukti itulah gambar orang tua yang dilihatnya beberapa 

hari sebelumnya. Ketika ia pulang, ia menceriterakan pengalamannya 

itu kepada Ti-hua-ka-lo. 

Pada saat itu juga, ia mengirim Si-li-sha-wen ke Kanton untuk 

membeli bahan-bahan bangunan dan mencari pekerja untuk 

memperbaiki candi. Waktu pekerjaan itu selesai, seorang pendeta 

Tao, Lo-yin-chih, diminta untuk menjadi pengurus setempat dan Ho­ 

tek-sun menjadi pengawas. la menghadiahkan sebanyak 100.000 

976 Sriwijaya 

uang emas untuk membeli ladang pertanian yang terletak di desa 

Min-tang, distrik Fan-yu. 

Tahun berikutnya, Ti-hua-ka-lo mangkat. Kuku dan rambutnya 

dipotong dan dikirimkan kepada pendeta (Ho-tek-sun), kemudian 

ditanam di Min-tang. Hingga sekarang masih dilakukan upacara 

peringatan peristiwa tersebut. Keuangan candi Tien-ching luas sekali. 

Di Yang-chen-kuo-chao candi ini memiliki ladang padi seluas 1478- 

32 mu beserta kolam-kolam ikan. Raja besar Ti-hua-ka-lo yaitu  

penderma utama yang sangat berjasa. 

Tentang piagam Kanton ini, Tan-yeok-seong memberikan 

keterangan yang menjelaskan hubungan antara raja-raja Cola di In­ 

dia Selatan dan raja-raja Sriwijaya. Justru sebab  nama raja San-fo­ 

ts'i yang tersebut pada piagam Kanton sama dengan nama raja Chu­ 

lien, yakni Ti-hua-ka-lo (Rajendra Dewa Kulottungga). Pada masa 

pemerintahan Chih-ping, 1064-1067, Ti-hua-ka-lo dari Chu-lien 

mengirim utusan Chi-lo-lo ke istana Tiongkok. Pada piagam Kanton, 

Ti-hua-ka-lo menjadi raja San-fo-ts'i. Nama utusannya pun hampir 

sama, yakni Chi-lo-lo dan Chih-lo-lo. 

Hubungan dengan luar negeri, terutama dengan Tiongkok, 

dilakukan oleh raja Sriwijaya atas nama raja Kulottungga Coladewa. 

Pemerintahan di dalam negeri tetap ada di tangan raja Sriwijaya, 

yang pada waktu itu pusat pemerintahannya di Kedah. 

Piagam Smaller Leyden Plates jelas menyebut adanya raja 

Kadaram. Piagam itu menyatakan bahwa pada tahun ke-20 masa 

pemerintahan Rajakesariwarman alias Sri Kulottungga Coladewa, 

yakni pada tahun 1090, raj a Kadaram mengirim dua utusan: 

Rajawidyadhara Sri Samanta dan Abhinottungga Sri Samanta. Kedua 

utusan itu mohon agar dikeluarkan pengumuman pembebasan cukai 

mengenai desa-desa Antarayam, Wirasesai, Panmai-pandai-wetti, 

Kundali dan Sungamera. 

Ringkasnya, semua desa yang termasuk wilayah candi Rajen­ 

dracolapperumpalli dan Rajarajaperumpalli yang dibangun oleh raja 

Kadaram di Pattanakura. Lain dari itu, mereka menghendaki 

perubahan pengawasan desa-desa wilayah candi tersebut yang 

Kerajaan San-fO-ts'i 977 

dipegang oleh kanilayar (pengawas). Desa-desa wilayah candi itu 

supaya diserahkan kepada sangattar, yakni sekelompok orang. 

Kemudian Sri Kulottungga Coladewa memberikan perintah kepada 

Rajendrashingha Muwendawelar untuk menulis piagam tersebut. 

Pada piagam Larger Leyden Plates, dinyatakan bahwa desa 

Anaimangalam di Pattanakura sebagai dusun yang termasuk wilayah 

candi (wihara Cudamaniwarman) telah dibebaskan cukai. Terbukti 

bahwa jumlah desa-desa yang disebut dalam Smaller Leyden Plates 

lebih banyak lagi. Desa-desa itu termasuk wilayah Rajendracolap­ 

perumpalli dan Rajarajapperumpalli. Demikianlah, dapat ditafsirkan 

bahwa pada masa pemerintahan Rajendra III, yakni Sri Kulottungga 

Coladewa I, raja Kadaram memperluas bangunan wihara Cudama­ 

niwarman dan menambah jumlah desa-desa yang dimasukkan ke 

dalam wilayah candi. Peninggalan wihara Cudamaniwarman 

ditemukan pada tahun 1867 berupa beberapa area Buda yang dibuat 

dari perunggu. Peninggalan-peninggalan itu hasil penggalian padri 

Yesuit dan sekarang tersimpan di Madras. 



RUNTUHNYA KERAJAAN SRIWIJAYA 

Kekuasaan di Semenanjung 

Kia-lo-hi yaitu  salah satu negara bawahan San-fo-ts'i di pantai 

timur Semenajung. Kia-lo-hi yaitu  transkripsi Tionghoa dari nama 

asli suatu tempat di pantai timur Semenanjung. Berita tentang letak 

Chen-la dalam Sung-shih menyinggung nama Kia-lo-hi. Beritanya 

seperti berikut: Chen-la (Kamboja) bertemu dengan bagian selatan 

Chan-cheng (Annam); di sebelah timur Chen-la yaitu  laut. Di 

sebelah barat, Chen-la berbatasan dengan P'u-kan (Pagan), dan di 

sebelah selatan beradu batas dengan Kia-lo-hi. 

Dari berita itu nyata sekali bahwa Kia-lo-hi terletak di sebelah 

selatan Kamboja. sebab  Chu-fan-chi memberitakan bahwa Kia-lo­ 

hi yaitu  negeri bawahan San-fo-ts'i, maka Kia-lo-hi merupakan batas 

antara Kamboja dan wilayah San-fo-ts'i. Tidak ada orang yang ragu 

bahwa Kia-lo-hi yaitu  transkripsi dari nama tempat Grahi, yang 

tercatat pada piagam Sriwijaya yang ditemukan di Chai-ya. Nama 

Grahi sebagai nama tempat tidak lagi dikenal zaman sekarang. Dengan 

sendirinya, lokalisasi Grahi ialah di tempat penemuan area Budha 

yang memuat piagam tersebut, yakni di Ch'ai-ya. 

Boleh dipastikan bahwa nama Chai-ya itu nama baru. Namanya 

yang lama ialah Grahi, sebab  sumber berita Tionghoa dari tahun 

1225 tidak mengenal nama Chai-ya. Yang dikenal ialah nama Kia- 

980 Sriwijaya 

lo-hi. Nama Chai-ya baru digunakan setelah daerah itu menjadi 

jajahan Siam. 

Menurut kebiasaan, bangsa Siam suka menggunakan kata-kata 

Sanskerta sebagai nama tempat. Sebagai contoh ialah nama Nakon 

Sri Tammarat. Nama ini digunakan untuk menyebut daerah Ligor 

sesudah menjadi jajahan Siam. Nama Sri Tammarat itu sendiri 

diambil dari nama tokoh sejarah, yakni Candrabhanu <;ri Dharmma­ 

raja, tereatat pada piagam Candrabhanu yang juga ditemukan di 

Ch'ai-ya. 

Piagam Grahi menyebut bahwa pada tahun Saka 1105 (tahun 

Masehi 1183), atas perintah KamratenAn Maharadja SrimatTrailokya 

raj a Maulibhusanawarmadewa, hari ketiga bulan naik bulan Jyestha, 

hari Rabu, mahasenapati Galanai yang memerintah Grahi menyuruh 

mraten Sri Nano membuat area Budha. Beratnya 1 bhara 2 tula, 

dan nilai emasnya IO tamlin. Pembuatan arca itu dimaksud untuk 

melegakan semua pemeluk agama yang menyembahnya di tempat 

yang bersangkutan. 

Piagam Grahi ditulis dalam bahasa Khmer. Hal itu dapat 

dipahami, jika mengingat bahwa letaknya berbatasan dengan 

Kamboja dan timbulnya kerajaan Khmer semenjak lepas dari 

kekuasaan Jawa pada tahun 802. Penduduknya menggunakan bahasa 

Khmer, tetapi dalam kehidupan kenegaraan, mereka menjadi warga 

negara kerajaan Sriwijaya. 

Jika pada tahun 1183 kita mengenal nama mahasenapati Galanai 

sebagai raja bawahan Sriwijaya, maka 50 tahun kemudian, yakni 

pada tahun Kaliyuga 4332 (tahun Masehi 1230), di tempat yang 

sama kita mengenal nama Candrabhanu <;ri Dharmmaraja (Candra­ 

banu Sri Dharmaraja). Nama itu tercatat pada piagam Ch'ai-ya yang 

ditulis dalam bahasa Sanskerta. 

Sudah pasti bahwa tahun 1230 nama Grahi masih dikenal, 

sebab  Chu-fan-chi yang disusun pada tahun 1225 masih menyebut 

Kia-lo-hi. Jika kita ingin membedakan kedua piagam tersebut, yang 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 981 

kedua-duanya ditemukan di Chai-ya, maka kita akan menyebutnya 

piagam Trailokya dan piagam Candrabhanu. Tetapi hingga sekarang, 

piagam itu dikenal dengan sebutan piagam Grahi Buda dan piagam 

Chai-ya. 

Yang menjadi persoalan ialah di mana letak Tambralingga, 

sebab  Candrabhanu mengaku Tambralinggecwara. Setelah memban­ 

ding nama Tambralingga pada piagam Candrabhanu, Tambralinggam 

pada piagam Nidessa dari abad ke-2, Madamalingam pada piagam 

Tanjore dari tahun 1030, Coed~s sampai kepada kesimpulan bahwa 

Tambralingga hams terletak antara teluk Bandon dan Ligor. Itulah 

sebabnya ia melokalisasikan Tambralingga dengan Tan-ma-ling dari 

Chu-fan-chi, sebab  nama Kalingga dalam berita Tionghoa, baik 

dalam karya I-ts'ing maupun dalam sejarah T'ang, jelas ditran­ 

skripsikan Ho-ling. Dalam bahasa Mandarin, tulisan Tionghoa itu 

diucapkan Keling. Dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa, orang 

dari Kalingga biasa disebut orang Keling. 

Lokalisasi Tambralingga antara Teluk Bandon dan Ligor oleh 

Coed~s mendapat tentangan Roland Braddell. Roland Braddell 

menyamakannya dengan Tembeling dan melokalisasikannya di daerah 

Pahang. Hingga sekarang, masih ada sungai yang bernama Tembeling. 

sebab  lokalisasi Tan-ma-ling telah diuraikan dalam bah "Negara­ 

Negara Bawahan San-Fo-Ts'i, tidak perlu diuraikan lagi di sini. 

berdasar  analogi kesamaan antara Kalingga (Sanskerta, In­ 

dia), Ho-ling (Tionghoa) dan Keling (Melayu), dan berdasar  berita 

geografi Tan-ma-ling, saya lebih cenderung untuk mengidentifi­ 

kasikan Tambralingga pada piagam Candrabhanu serta Tan-ma-ling 

pada Chu-fan-chi dengan Tembeling dan melokalisasikannya di pantai 

timur Malaya, di daerah Pahang, tempat sungai Tembeling mengalir, 

sesuai dengan pendapat Roland Braddell. Dengan sendirinya timbul 

anggapan bahwa Trambralingga yaitu  nama lama, atau nama 

Sanskerta dari Tembeling yang masih ada hingga sekarang. Oleh sebab  

itu, Candrabhanu Sri Dharmaraja yaitu  raja Tembeling. 

989 Sriwijaya 

Yang menarik perhatian ialah berita Tionghoa mengenai 

pembesar Tan-ma-ling sebelum tahun 1230, jadi sebelum 

Candrabhanu berkuasa. 

1. Chu-fan-chi memberitakan bahwa Tan-ma-ling diperintah oleh 

seorang pembesar yang disebut Siang-kung. Jabatan itu, menurut 

terjemahan Hirt clan Rockhill, ialah "minister of state", yakni 

menteri. Namun, menurut bunyinya, kiranya kata itu transkripsi 

dari temenggung atau tiang agung. Selanjutnya, Chu-fan-chi 

memberitakan bahwa Tan-ma-ling mengumpulkan emas untuk 

dijadikan upeti kepada raja San-fo-ts'i. 

2. To-i-chih-lio dari tahun 1349 mencatat bahwa Tan-ma-ling 

diperintah oleh seorang pembesar setempat. 

3. San-tsai-t'u-hui dari tahun 1607 menguraikan bahwa Tan-ma-ling 

diperintah oleh seorang pembesar yang bukan raja. Pada tahun 

1196, untuk yang terakhir mengirim utusan ke Tiongkok. 

Dari berita-berita tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Tan­ 

ma-ling selama jadi negara bawahan San-fo-ts'i diperintah oleh 

seorang pembesar setempat yang bertanggung jawab kepada raja 

Sriwijaya. 

Pada tahun 1001, menurut Sung-shih, raj a yang bernama Su­ 

chi mengirim utusan ke Tiongkok, terdiri dari sembilan orang clan 

dikepalai oleh T a-chih-ma. Nama itu berbeda-beda transkripsinya 

dalam huruf Latin. Pro. Hs~ menulisnya Tuo Sze-chi, Schlegel Ta­ 

Suki, clan Saint Denys To-siu-ki. Kiranya, kedudukan Candrabhanu 

semula juga tumenggung setempat yang bertanggung jawab kepada 

raja Sriwijaya. 

sebab  pada tahun 1183 Grahi jelas masih menjadi negeri 

bawahan Sriwijaya, clan pada tahun 1230 Candrabhanu menge­ 

luarkan piagam di Grahi dan menyebut dirinya Tambralinggecwarad, 

maka boleh dipastikan bahwa Candrabhanu memberontak kekuasaan 

Sriwijaya. Setelah membebaskan Tambralingga dari kekuasaan 

Sriwijaya, Candrabhanu mengangkat dirinya sebagai raja 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 983 

Tambralingga clan bergelar Candrabhanu Sri Dharmaraja, kemudian 

memperluas daerahnya sampai di Grahi. Candrabhanu mengumum­ 

kan bahwa ia menjalankan politik Dharm~coka, yakni politik raja 

A~oka di India. Ia akan berusaha mengembangkan agama Budha. 

Dengan tegas dinyatakan bahwa namanya yaitu  lambang jasanya 

kepada segenap manusia (candra = bulan; bhanu = matahari, sinar). 

Pengumuman yang demikian di daerah lain hanya dapat ditafsirkan 

bahwa Candrabhanu barn saja menduduki daerah Grahi clan ingin 

menenteramkan hati para penduduknya yang jelas memeluk agama 

Budha. Piagam itu boleh ditafsirkan sebagai proklamasi kemerdekaan 

negara-negara di pantai timur Malaya dari kekuasaan Sriwijaya yang 

berpusat di Kedah/Palembang. Demikianlah, timbulnya Candra­ 

bhanu berarti patahnya kekuasaan Sriwijaya di Malaya clan juga 

berakhirnya pemerintahan rajakula Sailendra di daerah tersebut. 

Politik yang dijalankannya megnandung maksud untuk memperoleh 

sokongan para penduduk Grahi sepenuhnya, sebab  Candrabhanu 

masih bermaksud memperluas wilayahnya di luar Malaya. 

sebab  pengiriman utusan Ta-ma-ling ke Tiongkok hanya 

tercatat satu kali saja, yakni pada tahun 1996, maka dapat diduga 

bahwa Tan-ma-ling pada tahun 1196 telah berusaha membebaskan 

diri dari kekuasaan Sriwijaya. Pengiriman utusan itu boleh dianggap 

sebagai permohonan pengakuan kepada kaisar Tiongkok. Chu-fan­ 

chi, yang disusun pada tahun 1225, masih memasukkan Tan-ma­ 

ling sebagai negeri bawahan San-fo-ts'i di bawah pemerintahan 

seorang pembesar setempat. Andaikata Tan-ma-ling pada tahun 1196 

mengirim utusan sebagai negara merdeka, tentunya tidak akan 

dimasukkan dalam golongan negara bawahan San-fo-ts'i. 

Demikianlah, kiranya pemberontakan Candrabhanu terhadap 

kekuasaan Sriwijaya terjadi antara tahun 1225 clan 1230. Untuk 

menghindari balas dendam Sriwijaya, pemberontakan hams segera 

diperluas di seluruh Semenanjung, clan menikam pusat kekuasaan 

Sriwijaya di Semenanjung yang terletak di Kedah. 

984 Sriwijaya 

Dari pandangan itu kita dapat memahami apa sebabnya 

Candrabhanu memasuki daerah Grahi dan mengeluarkan piagam di 

Grahi, suatu tempat di ujung barat Semenanjung yang paling dekat 

dengan Kedah. Ekspedisi ke Sri Lanka tidak akan dilakukan sebelum 

kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung patah sama sekali. 

Pandangan lokalisasi Tambralingga di Tembeling mendapat 

dukungan dari sudut ekonomi yang lebih banyak menguntungkan 

daripada lokalisasi di Grahi antara teluk Bandon dan Ligor. Daerah 

Tembeling kaya akan logam dan hasil bumi, seperti tercatat dalam 

sumber-sumber berita Tionghoa. Chu-fan-chi mencatat bahwa Tan­ 

ma-ling menghasilkan lilin lebah, cendana, gaharu, kamfer, setanggi, 

kayu arang, gading dan cula badak. Tao-i-chih-lio menambah bahwa 

Tan-ma-ling menghasilkan padi lebih banyak daripada konsumsi 

penduduknya. Sumber berita itu juga menyebut hasil kamfer, 

cendana, dan gaharu di samping penyu. 

Yang sangat menarik perhatian ialah bahwa Tan-ma-ling, 

menurut Chu-fan-chi, mengumpulkan emas sebagai upeti kepada 

San-fo-ts'i, dan menurut Tao-i-chih-lio, Tan-ma-ling ini dengan 

singkat menguraikan kemakmuran daerah dan kesejahteraan 

rakyatnya. Soal ini penting sekali berhubung dengan berita 

peperangan Candrabhanu dengan Sri Lanka, yang terjadi sampai dua 

kali. Mengingat letak Sri Lanka yang sangat jauh dari Malaya, maka 

biaya perang itu banyak sekali. Ekspedisi Candrabhanu ke Sri Lanka 

dipersiapkan dan dilakukan sesudah negeri-negeri di sekitarnya 

dibebaskan dari kekuasaan Sriwijaya dan wilayah negerinya terasa 

aman dan tenteram. Ketenteraman dalam negeri harus terjamin lebih 

dahulu. Candrabhanu menyerang Sri Lanka sampai dua kali. 

Ekspedisi yang pertama dilakukan pada tahun 1247; yang kedua 

pada tahun 1270/1271. Ekspedisi Candrabhanu ke Sri Lanka tercatat 

dalam sejarah Culawangsa. Dalam sejarah itu, Candrabhanu disebut 

raja Jawaka, bukan raja Tambralingga seperti pada piagam 

Candrabhanu di Grahi. 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 985 

Catatan sejarah dalam Culawangsa itu tidak mungkin salah, 

sebab  baik nama Candrabhanu maupun J awaka dikenal pada piagam 

asli. Lagi pula, penempatan masa termakan akal, yakni 17 tahun 

sesudah proklamasi kemerdekaan di Grahi. J adi, tidak ada soal anak­ 

ronisme. Mungkin sebutan /awaka itu yang meragukan, sebab  pada 

piagam Candrabhanu tahun 1230 Candrabhanu memperkenalkan 

diri sebagai Tambralinggecwara. Tambralingga terletak di Malaya, 

tidak di Jawa. Dalam bahasa Tamil, yang dimaksud]awakam yaitu  

Jawa. Namun, kiranya nama Jawa sudah menjadi sebutan umum 

bagi Semenanjung, Sumatra, dan Jawa jika penyebutnya orang dari 

Barat, terutama para saudagar Arab. 

Nama Zabag atau Zabaj terang berhubungan denganJawakam, 

tetapi lokalisasinya tidak selalu di J awa. Kepopuleran nama J awa(ka) 

disebabkan sebab  kekuasaan rajakula Sailendra semenjak abad ke-8 

di Sumatra dan Semenanjung. Rajakula Sailendra berasal dari Jawa 

Tengah. Sudah pasti bahwa raja Sailendra di Sriwijaya seperti 

Balaputra disebut maharaja yang berasal dari J awa. 

J uga, tidak mustahil bahwa perkembangan kekuasaan Sailendra 

membawa akibat penempatan orang-orang J awa di seberang laut. 

Sri Lanka yang terpisah jauh dari Sriwijaya dengan mudah akan 

menyebut Semenanjung dan Sumatra negara Jawaka, yakni negara 

yang dikuasai oleh maharaja Jawa. Juga, setelah kekuasaan Sriwijaya 

di Semenanjung dipatahkan oleh Candrabhanu, sebutan itu masih 

tetap sebagai momok. Tentara Candrabhanu, yang pada hakikatnya 

memang bekas rakyat jajahan Sriwijaya, telanjur disebut tentara 

Yawaka oleh orang-orang Sri Lanka. Berita-berita Arab yang menyebut 

Zabag atau Zabaj memang harus ditafsirkan demikian. 

Di dalam sejarah kuno dan modern, cukup banyak contoh atau 

tokoh yang dihinggapi nafsu perang dan nafsu kebesaran. Apabila 

tiba kesempatan, kesempatan itu tidak akan dibiarkan lalu begitu 

saja oleh orang yang mempunyai watak demikian. Tiap kemenangan 

yang diperolehnya menjadi umpan pembakar yang mengobarkan 

nafsunya. 

986 Sriwijaya 

Kerajaan Sriwijaya yang sudah mulai runtuh semenjak serangan 

Rajendracoladewaa pada tahun 1030, memberi kesempatan baik 

kepada Candrabhanu untuk tampil ke muka. Wilayah Sriwijaya terlalu 

luas. Pengawasannya tidak mudah. Kekuatan Sriwijaya terbagi 

menjadi dua. Sebagian ditempatkan di Kedah sebagai pusat Sriwijaya 

di Semenanjung; sebagian lagi di Palembang sebagai pusat Sriwijaya 

di Sumatra. Semangat nasional setelah berkuasa selama beberapa ratus 

tahun mulai lapuk, mulai kendor, tidak mampu menghadapi se­ 

mangat Candrabhanu yang sedang berkobar. Lagi pula, wilayah 

Tembeling termasuk daerah makmur, cukup kaya untuk membiayai 

nafsunya mengejar kebebasan dan kebesaran. Kemenangan dalam 

pemberontakan terhadap kekuasaan Sriwijaya menyebabkan 

penobatannya sebagai raja Tembeling. Kemenangan itu 

mendorongnya lebih jauh lagi. Pada tahun 1230, Candrabhanu 

merebut Grahi. 

Dari piagam yang dikeluarkan, kita dapat menangkap 

sekadarnya watak Candrabhanu yang sedang mabuk kebesaran. Ia 

menyamakan dirinya dengan raja A~oka yang sangat masyhur di In­ 

dia. Sudah pasti bahwa penyamaan dengan raja A~oka itu mengan­ 

dung politik pengembangan agama Budha di daerah yang di­ 

dudukinya juga. Ia menyamakan jasa-jasanya kepada umat manusia 

dengan bulan dan matahari yang siang-malam menyinari jagat. Oleh 

sebab  itu, ia mengambil nama Candrabhanu yang berarti: sinar 

bulan, atau bulan dan matahari. 

Piagam Candrabhanu bernapaskan kebanggaan yang terbatas 

kepada kesombongan. Candrabhanu mempunyai nafsu kuat untuk 

mengejar kebesaran. Watak yang demikian suka akan petualangan, 

tidak enggan-enggan menjalankan segala apa yang dapat menambah 

kebesarannya. Terbukti bahwa 17 tahun sesudah berhasil menguasai 

Grahi, pada tahun 1247 ia melakukan ekspedisi ke Sri Lanka, suatu 

tempat yang amat jauh letaknya. Serangan itu berhasil baik. 

Candrabhanu berhasil menguasai sebagian dari kerajaan Sri Lanka, 

meskipun penguasaan itu tidak bersifat mutlak. Setelah berhasil 

menguasai sebagian dari Sri Lanka, Candrabhanu kembali ke Ma- 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 987 

laya, meninggalkan putranya di Sri Lanka. Dalam tahun 1258 dan 

1263, terjadi serbuan oleh pihak bangsa Pandya. Dalam serbuan 

yang terakhir itu, tentara Candrabhanu menderita kekalahan dan 

terpaksa mengakui kekuasaan raja Pandya. 

Mengenai serbuan tentara Pandya itu ada piagamnya, yang 

bertarikh tahun 1264. Piagam Pandya tentang Candrabhanu mulai 

dengan rayuan menteri kepada raja Pandya untuk menundukkan 

putra Candrabhanu. Isi piagam itu seperti berikut: 

Dengarkanlah cara mendirikan pemerintahan, berkat ke­ 

menangan yang sesuai dengan adat-istiadat. Pangeran, berbuatlah 

seperti yang berikut. Usahakan musuh tunduk kepada kekuatanmu, 

perangi dia dan kirimlah dia ke akhirat! Lalu masukilah kerajaannya 

bersama dengan sanak-saudara dan tentaramu. Jika engkau berhasil 

masuk, engkau akan memperoleh prajurit berkuda, kereta kencana 

yang ditarik oleh banyak emas, takhta, mahkota, gelang tangan, gelang 

kaki, kalung, bendera dan payung, kipas yang dibuat dari bulu kijang, 

nobat dan sebagainya. 

Kemenangan pasti mengejutkan dan menakutkan raja-raja 

lainnya. Kemudian, engkau akan menanamkan tongkat kebesaran 

raja yang mempunyai lambang ikan di atas gunung Konai dan Tiru 

Kuda, dan akan menerima banyak persembahan. 

Putra Sri Lanka, alih-alih mengabdi kepadamu, merendahkan 

kebesaranmu. Sesudah engkau berhasil menundukkannya, engkau 

harus menjalani mandi adat dalam kolam raja, kemudian si kalah 

akan membungkuk di hadapanmu. Sesudah itu engkau gilang­ 

cemerlang, mengendarai gajah dan berkirab mengelilingi wilayah yang 

kau kalahkan, langsung menuju Annurapuri dan memerintah 

kerajaan, yang pernah diperintah datuk moyangmu pada masa yang 

lampau! 

Pada tahun 1270/1271, Candrabhanu sekali lagi melancarkan 

serangan terhadap Sri Lanka, tetapi serangan itu menemui kegagalan. 

Bahkan, keadaan dalam negeri sebab nya kocar-kacir. Akhirnya, pada 

tahun 1294 kerajaannya diserang dan diduduki oleh tentara Siam. 

Nama Sri Dharmaraja diabadikan sebagai nama kota di teluk Siam 

yang sekarang disebut Sri Tammarat. 

988 Sriwijaya 

Kekuasaan di Sumatra 

Gelar raj a Sriwijaya yang tereantum pada piagam Grahi ( tahun 

1183) ialah qrimat Trailokyar~ja Mauplibhusanawarmadewa. Nama 

resminya menggunakan kata mauli. Baik crimat maupun mauli yaitu  

kata Tamil; crimat berarti "tuan dan mauli berarti "mahkota. Gelar 

crimat dan nama mauli tidak dikenal pada gelar dan nama raja dari 

rajakula Sailendra, baik yang memerintah di J awa maupun di 

Sriwijaya. Gelar crimat dan nama mauli hanya dikenal pada raja-raja 

Melayu. 

Pada piagam Amoghapa~a, hadiah raja Kertanagara kepada raja 

Melayu pada tahun 1286, terdapat gelar dan nama yang sama bagi 

raja Melayu. Diberitakan bahwa pada tahun Saka 1208 atau tahun 

Masehi 1286, arca Amoghapa~a dengan 14 pengikutnya, hadiah Sri 

Wigwar~pakum~ra, diangkut dari Jawa ke Suwarnabhumi dan 

ditempatkan di Dharmma~aya atas perintah Mah~r~j~dhir~ja (ri 

Kertanagara Wikrama Dharmotunggadewa. Yang ikut mengantarkan 

arca tersebut ialah rakryan mah~mantri dyah Adwayabhrahma, 

prakryan sirikan dyah Sugatabhrahma, samget payanan hang 

Dipangkarada~a, dan rakryan demung Pu Wira. sebab  hadiah itu, 

segenap rakyat Melayu gembira-para bhrahmana, para ksatria, para 

waisya, para sudra, para arya, dan terutama ~ri mah~r~ja ~rimat 

Tribhuwanar~ja Mauliwarmadewa. 

Piagam Amoghapa~a ditemukan di tepi sungai Langsat di hulu 

Batang Hari. Itulah sebabnya maka timbul anggapan bahwa 

Dharmma~raya terletak di hulu Batang Hari. Piagam Amoghapa~a 

dikeluarkan 100 tahun sesudah piagam Grahi, namun gelar dan nama 

rajanya tetap sama. Oleh sebab  itu, timbul anggapan bahwa raja 

Trailokya Maulibhusanawarmadewa yaitu  raja Melayu. Dengan kata 

lain, pada tahun 1183, kerajaan Sriwijaya, yang biasa disebut San­ 

fo-ts'i dalam berita-berita Tionghoa zaman rajakula Sung dan Ming, 

telah runtuh dan digantikan oleh kerajaan Melayu. Semenanjung 

tidak lagi diperintah Sriwijaya, tetapi diperintah oleh kerajaan 

Melayu. 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 989 

Jika hal tersebut dihubungkan dengan pengiriman utusan 

Sriwijaya ke Tiongkok, nyatalah bahwa pengiriman utusan Sriwijaya 

ke Tiongkok yang terakhir berlangsung pada tahun 1178. 

Demikianlah, antara tahun 1178 dan 1183, dalam kerajaan Sriwijaya 

terjadi perubahan pemeirntahan. Kekuasaan Sriwijaya di Sumatra 

diambil alih oleh Melayu. Dengan sendirinya negeri-negeri bawahan 

Sriwijaya, baik yang ada di Sumatra maupun yang ada di 

Semenanjung, ikut diambil alih oleh kerajaan Melayu. Raja Melayu 

yang mengambil alih kekuasaan ialah qrimat Trailokyar~ja 

Maulibhusanawarmadewa. sebab  kekuasaan raja Trailokya tidak 

hanya terbatas pada wilayah kerajaan Melayu lama, maka gelar 

maharaja yang biasa dipakai oleh raja-raja Sriwijaya dari rajakula 

Sailendra diambil alih pula. Demikianlah, terjadi perangkapan gelar 

mah~raja crimat Trailokyar~ja. 

Chu-fan-chi, yang disusun oleh Chao-ju-kua pada tahun 1225, 

jadi 42 tahun sesudah pengeluaran piagam Grahi, masih menyebut 

adanya negara San-fo-ts'i. Nama San-fo-ts'i pada orang-orang 

Tionghoa sudah sangat populer, sehingga perubahan pemerintahan 

yang pada hakikatnya yaitu  di pusat kerajaan Sriwijaya tidak 

memengaruhi masyarakat luar. Nama San-fo-ts' i masih tetap 

digunakan. Bahkan, Chao-ju-kua malah masih menyebut negara­ 

negara bawahan San-fo-ts'i yang jumlahnya 15. Jika nama-nama 

negara bawahan San-fo-ts'i itu diperhatikan, maka di antara 15 negara 

bawahan itu tidak disebut negara Melayu, tetapi malah menyebut 

Pa-lin-fong (Palembang), sedangkan Palembang yaitu  pusat kerajaan 

San-fo-ts'i, pusat kerajaan Sriwijaya. 

Demikianlah, sebenarnya Chao-ju-kua tahu bahwa ada 

perubahan dalam pemerintahan di pusat kerajaan Sriwijaya. Peranan 

politik yang dulu dipegang oleh Palembang pada tahun 1225, ketika 

ia menyusun Chu-fan-chi, dipegang oleh kerajaan Melayu. Kerajaan 

Melayu, yang sejak tahun 683 menjadi negara bawahan Sriwijaya, 

pada tahun 1225 sudah merdeka lagi, bahkan menggantikan ke­ 

dudukan Sriwijaya di Palembang. Palembang berganti peranan 

990 Sriwijaya 

menjadi negara bawahan. Namun, nama San-fo-ts'i masih tetap 

digunakan, seolah-olah tidak terjadi perubahan dalam ketatanegaraan. 

Demikianlah, nama San-fo-ts'i dalam Chu-fan-chi dan dalam 

kronik rajakula Ming harus ditafsirkan bahwa yang dimaksud yaitu  

kerajaan Melayu yang berpusat di Dharmma~raya. Pada tahun 1371, 

kerajaan Melayu mengirimkan utusan ke Tiongkok. Utusan itu 

membawa beruang, merak, burung bayan, dan sepucuk surat yang 

ditulis di atas lembaran emas. Pada tahun 1373, datang lagi utusan 

dari kerajaan yang disebut San-fo-ts'i (baca: kerajaan Melayu). Rajanya 

yang mengutus bergelar maharaja prabu, dan bernama Ta-ma-cha­ 

na-a-ch~. Kiranya beliau yaitu  putra maharaja ~rimat Tribuwanaraja. 

Tidak mungkin Tribuwanaraja sendiri, mengingat bahwa selisih 

waktu antara penerimaan hadiah area dan pemberitaan itu 87 tahun. 

Diberitahukan oleh utusan itu bahwa di negerinya ada tiga raja. Ini 

berarti bahwa kerajaan San-fo-ts'i telah pecah menjadi tiga kerajaan. 

Dari pengiriman utusan-utusan yang berikut, ternyata bahwa 

kerajaan telah pecah menjadi: Dharmma~raya (Melayu), Palembang, 

dan Minangkabau. Pada tahun 1374, datang utusan Ma-na-ha Po­ 

lin-pang (Maharaja Palembang). Tahun berikutnya, yakni pada tahun 

1375, datang utusan Seng-k'ia-lie-yu-lan (Sang Adityawarman, raja 

Minangkabau). Pada tahun 1376, raja Melayu Dharmma~raya yang 

tersebut di atas wafat dan diganti oleh putranya, Ma-na-ch~ Wu-li 

(Maharaj a Mauli). N ama lengkapnya tidak diketahui, tetapi jelas 

termasuk rajakula Mauli, yakni raja-raja Dharmma~raya. Tahun 

berikutnya, Maharaja Mauli mengirim utusan ke Tiongkok, 

membawa pelbagai upeti, di antaranya burung kaswari, burung 

bayan, kera putih, dan penyu. Utusan mohon kepada kaisar supaya 

memberikan surat pengakuan kepada Maharaj a Mauli. Tetapi dalam 

perjalanan pulang, utusan itu tertangkap oleh tentara Jawa. Pada 

waktu itu, San-fo-ts'i telah dikuasai oleh Jawa. 

Perlu dicatat bahwa pada tahun 1325 dan 1332, menurut kronik 

rajakula Yuan Seng-k'ia-lie-yu-lan, telah datang sebagai utusan ke 

Tiongkok dengan pangkat menteri dari Jawa. boleh dipastikan bahwa 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 991 

Seng-k'ia-lie-yu-lan yaitu  SangAdityawarman yang semasa kecilnya 

diasuh di pura Majapahit pada masa pemerintahan J ayanegara dan 

Tribuwanatunggadewi. Barn pada tahun 1339, ia kembali ke Sumatra 

dan mendirikan kerajaan Minangkabau. Tentang tokoh Adityawarman 

ini, timbul pelbagai pendapat. Stutterheim dalam T.B. G. 76 

mengemukakan pendapat, pengangkutan arca Amoghapa~a pada 

tahun 1286 dari Jawa ke Sumatra atas perintah raja Kertanagara 

dilakukan demi hadiah perkawinan Wigwar~pakum~ra dengan putri 

Melayu. Wigwar~pakum~ra yaitu  saudara raja Kertanagara. Dari 

perkawinan itu lahir Adityawarman. Demikianlah, hubungan antara 

Gayatri dan Adityawarman dalam kekeluargaan yaitu  saudara 

sepupu. 

Dalam karangannya, "De Sadeng-oorlog en de mythe van groot­ 

Majapahit, secara panjang lebar C.C. Berg membahas asal usul 

Adityawarman dengan mengemukakan pelbagai pendapat yang 

pernah diutarakan. Ringkasnya, Berg beranggapan bahwa Dara Jingga 

yaitu  putri Kertanagara. Putri ini kawin dengan Sanggramawijaya 

alias Kertarajasa Jayawardana, dan dengan raja Melayu Muliawar­ 

mandewa. Dari perkawinan itu lahir Arya Damar/Adityawarman. 

Adityawarman yaitu  putra bungsu raja Majapahit Kertarajasa 

Jayawardana. Oleh sebab  itu, kedudukannya jauh lebih rendah 

daripada Jayanagara. Berg menganggap bahwa raja Melayu yang 

kawin dengan Dara Jingga yaitu  Wigwar~pakum~ra. Jadi, berbalikan 

dengan pendapat Stutterheim. 

Pendapat Berg ini bertentangan dengan pemberitaan Kidung 

Panji Wijayakrama dan Pararaton, bahwa Dara Petak dan Dara Jingga 

yaitu  dua orang putri Melayu yang dibawa oleh tentara Singasari 

di bawah pimpinan Kebo Anabrang ke Majapahit untuk dipersem­ 

bahkan kepada sang prabu. Dara Petak diambil sebagai istri. Tentang 

Dara Jingga dikatakan "sira alaki dewa'', suatu ungkapan yang hingga 

sekarang masih gelap artinya. Oleh sebab  itu, timbul pelbagai tafsir. 

Berg tetap beranggapan bahwa Adityawarman yaitu  putra raja 

Kertarajasa yang lahir dari Dara Jingga. 

999 Sriwijaya 

Baik karangan Berg maupun karangan Stutterheim mengenai 

asal usul Adityawarman itu sangat berbelit-belit dan sangat muluk, 

dihubungkan dengan pelbagai teori. Tidak perlu dipaparkan sekali 

lagi di sini. 

Kita perhatikan sekarang pengakuan Adityawarman sendiri. 

Pengakuan itu terdapat pada prasasti yang dipahat pada kubur raja 

Adityawarman, ditulis dalam bahasa Sanskerta yang sangat ruwet. 

Namun, nyata pada prasasti itu bahwa Adityawarman yaitu  putra 

Adwayawarman raja Kanakamedini, raja Suwarnadwipa, keturunan 

wangsa Kuli~adhara (Indra). Maka, persoalannya ialah siapa 

Adwayawarman itu? Bagaimana hubungan Adwayawarman dengan 

pura Majapahit, sebab  waktu masih muda Adityawarman tinggtal 

di pura Majapahit. Teori Stutterheim dan Berg telah dikemukakan 

seeara singkat sekali. Barang siapa ingin mengetahuinya selengkapnya 

dapat membaeanya sendiri dalam karangan yang telah disebut di 

atas. 

Di antara para pembesar Singasari yang mengantarkan area 

Amoghapa~a dari Singasari ke Suwarnabhumi ialah mahamantri 

Adwayabrahma. Jelas, nama itu terdapat pada piagam Amoghapa~a. 

Pada waktu itu, yang menjadi raja di kerajaan Melayu yang di­ 

tundukkan oleh tentara Singasari ialah ~rimat Tribuwanaraja 

Mauliwarmadewa. Peristiwa pengangkutan arca Amoghapa~a terjadi 

pada tahun 1286. Tentara Singasari pulang ke Majapahit pada tahun 

1293; jadi, enam tahun kemudian. 

Sudah pasti bahwa kedua putri Dara Petak dan Dara Jingga 

yaitu  putri Tribuwanaraja Mauliwarmadewa. Kedua putri itu 

dipersembahkan kepada raja Majapahit sebagai hadiah balasan. 

Hadiah balasan itu tidak diterima oleh raja Keranagara, sebab  pada 

waktu tentara Singasari kembali, prabu Kertanagara telah wafat. 

Hadiah balasan diterima oleh Raden Wijaya yang telah kawin dengan 

putri Kertanagara. Dara Petak, adik Dara Jingga, dikawini oleh raja 

Kertarajasa. Dari perkawinan itu lahir J ayanagara. 

Runtuhnya Keajaan Sriwijaya 993 

Pada piagam Gunung Butak tahun 1294, nama Jayanagara telah 

disebut. Pada waktu itu, Jayanagara pasti masih bayi. Tentang Dara 

Jingga dikatakan "sira alaki dewa. sebab  Adityawarman mengaku 

putra Adwayawarman, maka boleh dipastikan bahwa Dara jingga 

kawin dengan mahamantri Adwaya. Dari perkawinan itu lahir 

Adityawarman Mantrolot. sebab  ia tidak menyebut bahwa ayahnya 

yaitu  raja Kanakamedini (Suwarnadwipa), maka Adwayawarman 

sebagai menantu c;rimat Tribuwanaraja tidak berkesempatan untuk 

menjadi raja di Dharmmac;raya. Diharapkan supaya mahamantri 

Adwaya sebagai menantu raja Dharmmac;raya pada suatu saat, jika 

c;rimat Tribuwanaraja Mauliwarmadewa mangkat, dapat menjadi 

penggantinya. Itulah kiranya keterangan ungkapan 'sira alaki dewa. 

Dari pihak ibu, Jayanagara dan Adityawarman yaitu  saudara 

sepupu. Dari pihak ayah, mungkin sekali juga masih dalam 

hubungan kekeluargaan yang sangat akrab, mengingat bahwa 

mahamantri biasanya yaitu  orang yang masih mempunyai 

hubungan kekeluargaan yang akrab dengan raja. Pada zaman 

pemerintahan raja Kertanagara, Adwaya menjadi mahamantri dan 

raden Wijaya menjadi senapati. Raden Wijaya keturunan Narasinga; 

Kertanagara keturunan Jayawisnuwardana. Mengingat masa 

perkawinan Dara Petak dengan Raden Wijaya (1293), kiranya 

J ayanagara dan Adityawarman yaitu  sebaya. Mengingat hubungan 

kekeluargaan antara J ayanagara dan Adityawarman seperti diuraikan 

di atas, mudah dipahami mengapa Adityawarman diasuh bersama 

dengan Jayanagara di istana Majapahit. Putri Dara Petak yang 

kemudian bernama Indreswari pandai merebut hati raja Kertarajasa. 

Sudah pasti bahwa Adityawarman sebagai kemenakan putri Indreswari 

mendapat perhatian raja Kertarajasa. 

Nama lengkap Adityawarman, seperti yang tercantum pada 

piagam Amoghapa~a, ialah Uday~dityawarman Prat~paparakra­ 

mar~jendra Mauliwarmadewa. la mengambil nama Mauliwar­ 

madewa, sebab  ia keturunan raja Dharmmarata Tribuwanaraja 

Mauliwarmadewa. Adityawarman yaitu  cucunya. Pada tahun 1339, 

994 Sriwijaya 

kira-kira pada waktu itu Adityawarman berumur ± 50 tahun ketika 

kembali ke Sumatra dan mendirikan kerajaan Minangkabau. 

Demikianlah, lalu timbul tiga kerajaan di bekas kerajaan San­ 

fo-ts' I, yakni Dharmma~raya, Palembang, dan Minangkabau. Sebelum 

kedatangan Adityawarman, hanya ada dua kerajaan, yakni 

Dharmma~raya dan Palembang sebagai bekas kerajaan lama: Melayu 

dan Sriwijaya. ltulah kiranya tiga kerajaan yang diuraikan oleh kronik 

rajakula Ming. 

Dengan timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut, maka kerajaan 

Sriwijaya di Sumatra berakhir, meskipun dalam kronik rajakula Ming 

masih disebut nama kerajaan San-fo-ts'i. Pada tahun 1377, raja 

Dharmmagraya, yang namanya tercatat Ma-na-ch~ Wu-li (Maharaj 

Mauli), masih berusaha memperoleh pengakuan kaisar Tiongkok 

sebagai maharaja San-fo-ts'i. Namun, utusan raja Dharmma~raya itu 

dalam perjalanannya pulang ditangkap oleh tentara J awa. 

Kronik rajakula Ming selanjutnya memberitakan bahwa sejak 

itu kerajaan San-fo-ts'i dikuasai oleh tentara Jawa. Beritanya yang 

termuat dalam buku 324 ialah: "Pada tahun 1397, San-fo-ts'i untuk 

penghabisan kalinya dikalahkan oleh J awa; kemudian namanya 

diganti Chiu-chiang, artinya: pelabuhan lama, sungai lama." Dalam 

Yin-yai-sheng-lan, dinyatakan bahwa Chiu-chiang sama saja dengan 

negara yang sebelumnya disebut San-fo-ts'i, juga disebut Po-lin-pang 

(Palembang).