Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 7




 dak pernah ditemukan. Hal itu agak aneh. Justru sebab  

Bali tung pada prasasti Kedu hanya menyebut gelar rakai yang diikuti 

dengan nama tempat, tidak menyebut nama pribadi atau nama 

abhisekanya, maka agak sulit untuk memperoleh keterangan. Prasasti 

dapat dikeluarkan atas nama pribadi, atau atas nama abhiseka raja 

yang bersangkutan. 

Prasasti Karang Tengah dengan Samaratungga 

Prasasti Karang Tengah dekat Temanggung di Jawa Tengah terdiri 

dari dua bagian ditulis dalam bahan Sanskerta dan bahasa Jawa kuno. 

Bagian yang ditulis dalam bahasa Sanskerta isinya berbeda dengan 

yang ditulis dalam bahasa Jawa kuno. Bagian yang ditulis dalam 

bahasa Jawa Kuno telah dimuat dalam O.J.O. no. IV. Tarikh tahunnya 

yaitu  tahun Saka 769, namun ternyata bacaan Brandes kurang 

tepat. De Casparis dalam Prasasti negara kita  I hlm. 31/40 membacanya 

tahun 746 atau tahun Masehi 824. Tarikh tahun 746 itu cocok 

dengan tarikh tahun yang terdapat pada bagian yang ditulis dalam 

bahasa Sanskerta. Bagian Sanskerta menggunakan candrasangkala rasa, 

s@gara, ksitidhara, yang masing-masing menunjukkan angka 6, 4, 

dan 7.J adi, tarikh tahunnya ialah 7 46 Saka. Demikianlah, kedua 

prasasti itu ditulis pada waktu yang sama. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 195 

Bagian Sanskerta menderita banyak kerusakan sebab  batunya 

pecah. Bagian atas kiri dan tengah hilang. Bagian yang masih ada 

telah ditranskripsikan dengan huruf Latin dan diterjemahkan oleh 

De Casparis. Isinya seperti berikut: 

Raja Samaratungga mempunyai seorang putri bernama 

Pramodawardhani. Putri Pramodawardhani membangun Jinalaya 

yang sangat indah. Pada tahun Saka 746 atau tahun Masehi 824, 

area yang dimuliakan ditempatkan dalam candi yang telah dibangun. 

Arca itu bersinar seperti bulan yang, sebab  ketakutan kepada Rahu, 

jatuh kembali ke bumi. Kemudian dinaikkan di atas kaki candi, yang 

telah dibangun sangat indah oleh orang-orang tua dengan bantuan 

orang-orang muda. 

Mudah-mudahan, beliau, berkat pembangunan candi Jina itu, 

dapat mencapai sepuluh tingkat ke-Budha-an. Saya berharap agar 

saya pun, jika sampai giliran saya, dapat mencapai tingkat yang sangat 

sulit dicapai itu-tingkat yang tertinggi, yang ... Selama gunung Meru 

masih jadi tempat kediaman para dewa, dan selama matahari di angkasa 

masih bersinar demi kehidupan ribuan manusia, mudah-mudahan 

selama itu pula umur bangunan ini penuh dengan keutamaan Budha. 

Bagian Jawa kuno sedikit pun tidak menyinggung soal pem­ 

bangunan candi Jinalaya. Bagian itu menguraikan pembebasan tanah. 

Pada tahun 7 46 atau tahun Masehi 824, rakarayan Patapan mpu 

Palar menghadiahkan ladang padi sebagai tanah perdikan yang terletak 

di Babadan, Lo Pandak, Kisir, Santo i Karung, Petir, Kuling, dan 

Trihaji. Ukuran tanah itu disebut dengan teliti. Untuk keperluan 

tersebut diundang saksi dari pelbagai desa; lengkap dengan nama 

dan tempat tinggalnya; anak dan jabatan para saksi dicatat pada 

piagam itu. Para saksi yang bersangkutan memperoleh hadiah masing­ 

masmg. 

Boleh dipastikan bahwa hadiah tanah perdikan itu bertalian 

dengan pembangunan candi Jinalaya yang disebut pada bagian 

Sanskerta. Hadiah tanah itu diberikan oleh rakarayan Partapan mpu 

Palar. De Casparis berpendapat bahwa tidak ada alasan sama sekali 

untuk mengidentifikasikan rakarayan Patapan mpu Palar itu dengan 

Samaratungga. la beranggapan bahwa rakarayan Patapan yaitu  raja 

196 Sriwijaya 

dengan gelar Jawa: rakai, rakarayan, atau kariyana. Raja-raja Jawa 

itu yaitu  raja bawahan raja Sailendra. De Casparis membandingkan 

prasasti Karang Tengah dengan prasasti Kalasan, yang memuat nama 

rakai Panangkaran. Ia sependapat dengan van Naerssen bahwa raja 

Panangkaran yaitu  raja bawahan Sailendra. Demikian pula halnya 

dengan rakai Patapan dalam hubungannya dengan Samaratungga. 

Bagaimanapun, rakarayan Patapan tidaklah sama dengan 

Samaratungga. Titel rakarayan bukanlah gelar raja semata-mata. Hal 

itu tidak hanya terbukti pada zaman Majapahit saja, tetapi juga pada 

zaman pemerintahan raja Sanjaya. Contoh yang baik kiranya dapat 

diambil dari piagam Gata clan Taji Gunung dari tahun 771 clan 

772. Pada piagam Gata, terdapat nama rakryan Gurun Wangi. Pada 

piagam Taji Gunung jelas disebut rakryan Gurun Wangi. Mahamantri 

juga disebut rakryan. Demikianlah, rakarayan Patapan tidak perlu 

menjabat raja. Yang pasti ialah bahwa rakarayan Patapan yaitu  

bawahan Samaratungga. 

Hampir semua prasasti tentang hadiah tanah yang langsung 

berhubungan dengan rakyat, clan mengundang rakyat desa sebagai 

saksi ditulis dalam bahasa Jawa kuno. Tetapi prasasti-prasasti resmi 

tentang peresmian candi hampir semuanya ditulis dalam bahasa 

Sanskerta. Peresmian candi Kalasan, peresmian arca Manju~ri di 

Kelurak, pembangunan Jinalaya di Karang Tengah, peresmian lingga 

di atas gunung Wukir, ditulis dalam bahasa Sanskerta. Salah satu 

kekecualian ialah peresmian pembangunan candi makam di desa 

Wantil, seperti diuraikan pada prasasti Balaputra-Jatiningrat atau A 

Metrical Old Javanese Inscription Dated 856; termuat dalam Prasasti 

Indonsia II hlm. 280-330. 

Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa kuno, boleh dikatakan 

pada akhir zaman pemerintahan rajakula Sailendra. Kesan yang 

diperoleh ialah bahwa prasasti yang langsung berhubungan dengan 

rakyat clan hams diketahui oleh rakyat ditulis dalam bahasa rakyat, 

yakni bahasa Jawa kuno. Tetapi prasasti yang sifatnya resmi tentang 

kepentingan raja-raja, baik kepentingan rajakula Sanjaya maupun 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 197 

kepentingan rajakula Sailendra, ditulis dalam bahasa Sanskerta. 

Kiranya prasasti Karang Tengah itu harus ditafsirkan demikian juga. 

Bagian J awa kunonya langsung mengenai tanah perdikan candi, yang 

memerlukan kesaksian rakyat, sedangkan bagian Sanskerta-nya 

langsung mengenai peresmian bangunan candi makam, kepentingan 

khas keluarga raja. Peresmian pembangunan lingga di atas gunung 

Wukir oleh raj a Sanjaya ditulis dalam bahasa Sanskerta, tetapi prasasti 

Gata dan Taji Gunung tentang soal tanah untuk pembangunan candi 

Timbangan Wungkal ditulis dalam bahasa Jawa kuno. Kedua prasasti 

itu jelas menggunakan tarikh Sanjayawarsa, ditulis oleh keturunan 

Sanjaya. 

Pembebasan tanah demi pembangunan candi tidak mutlak 

dilakukan oleh raja. Apalagi jika pembangunan candi itu demi 

kepentingan keluarga raja. Dalam hal yang demikian, maka rakyat 

sebenarnya yang memberikan hadiah tanah kepada raja. Oleh sebab  

itu, rakyat hams diberi tahu, dan untuk kerelaannya rakyat sekadar 

mendapat pepulih berupa hadiah uang/barang atau ganti tanah. Jika 

pembebasan tanah demi kepentingan bangunan umum sebagai 

hadiah raja, biasanya raja yang melakukan pembebasan dengan 

kesaksian rakyat. Dalam soal tanah perdikan pada prasasti Karang 

Tengah, keluarga raja yang mendapat keuntungan, sebab  rakyat 

menyerahkan tanahnya demi pembangunan candi Jinalaya. Oleh 

sebab  itu, rakyat diikutsertakan pada prasasti yang bersangkutan, 

dikepalai oleh rakarayan Patapan. 

Pada prasasti Taji Gunung, penyerahan tanah rakyat demi 

kepentingan pembangunan candi Timbangan Wungkal dilakukan 

sri maharaja Tunggawijaya. Perintah pembebasan tanah diberikan 

oleh raja kepada rakaryan mahamantri dan rakryan gurun Wangi. 

Peresmian pawikuan Timbangan Wungkal dilakukan oleh rakryan 

mahamantri dan rakaryan Gumn Wangi. 

J elas sekali di sini bahwa gelar rakaryan a tau rakarayan tidak 

semata-mata digunakan oleh raja bawahan. Pada prasasti Kalasan, 

gelar itu digunakan oleh Pancapana Panangkaran, yang juga bergelar 

198 Sriwijaya 

sri maharaja. Demikianlah, kiranya rakarayan Patapan mpu Palar 

bukan raja bawahan raja Sailendra Samaratungga, tetapi pembesar 

bawahan Samaratungga. Dialah yang diserahkan mengatur urusan 

penyerahan tanah rakyat demi kepentingan pembangunan candi 

makam Jinalaya. Rakai Patapan tidak bisa diidentifikasikan dengan 

Samaratungga atau salah satu raja dalam daftar prasasti Kedu; tidak 

bisa diidentifikasikan dengan rakai Garung. Seperti kita ketahui, 

nama yang mengikuti rakai yaitu  nama tern pat atau jabatan. Garung 

dan Patapan yaitu  dua tempat yang berlain-lainan. Itulah sebabnya, 

maka identifikasi rakai Garung dan rakai Patapan seperti yang 

dilakukan oleh Bosch dalam silsilah <;riwijaya, de (ailendra - en de 

Sanjayawamca tidak dapat diterima. 

Prasasti Karang Tengah bagian Sanskerta memberikan bahan 

sejarah yang berharga bagi pengetahuan tentang perkembangan 

rajakula Sailendra khususnya, dan perkembangan sejarah kerajaan 

Jawa Tengah umumnya. 

Pertama-tama, prasasti tersebut menyebut raja Samaratungga. 

Nama Samaratungga tidak kedapatan pada daftar silsilah raja-raja 

Poh Pitu pada prasasti Kedu. Namun, pada piagam Nalanda yang 

dikeluarkan oleh raja Dewapala di Pataliputra atas permintaan raja 

Suwarnadwipa Balaputradewa, terdapat nama yang hampir serupa, 

yakni Samaragrawira. Kedua-duanya mulai dengan Samara. Hanya 

bagian belakangnya yang berbeda. Yang satu berbunyi: grawira, yang 

satu lagi tungga. sebab  pada prasasti Nalanda itu dinyatakan bahwa 

Samaragrawira yaitu  putra raja Jawa dari rajakula Sailendra, pem­ 

bunuh musuh-musuh perwira, maka timbul dugaan bahwa Samara­ 

grawira pada prasasti N alanda sama dengan Samaratungga pada 

prasasti Karang Tengah. Aktivitas raj a Samaratungga diarahkan kepada 

pengmbangan agama Budha. Rajakula Sailendra yaitu  pemeluk 

agama Budha Mahayana. Demikianlah, penyamaan antara Sama­ 

ragrawira dan Samaratungga itu berdasar  alasan yang kuat sekali. 

Tentang penyamaan antara Samaratungga dan Samaragrawira ini, 

kita tangguhkan sampai kepada pembahasan prasasti Nalanda. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 199 

Tokoh kedua ialah Pramodawardhani, yang dinyatakan sebagai 

putri Samaratungga. Aktivitasnya diarahkan kepada pembangunan 

Jinalaya. De Casparis menduga bahwa peresmian candi makam 

Jinalaya itu mempunyai hubungan dengan pencandian raja Sailendra 

Dharanindra yang disebut pada prasasti Kelurak dan dianggap sebagai 

nenek Pramodawardhani. 

De Casparis dalam Prasasti negara kita  I masih menyebut raja 

Sailendra pada prasasti Kelurak itu Indra saja; bukan Dharanindra. 

sebab  ada identifikasi antara Samaragrawira dan Samaratungga, 

sedangkan pada piagam N alanda, Samaragrawira dinyatakan kawin 

dengan putri Tara dari Somawangsa, maka dengan sendirinya 

Pramodawardhani dianggap sebagai putri Samaragrawira yang lahir 

dari perkawinannya dengan Dewi Tara. Pramodawardhani lalu 

menjadi saudara perempuan Balaputradewa. 

Pembicaraan tokoh Pramudawardhani akan kita jumpai dalam 

pembahasan prasasti Nalanda dan prasasti Balaputra-Jatiningrat, serta 

pada prasasti c_;:ri Kahulunan. Nama Pramodawardhani tersangkut 

dalam pembahasan prasasti Jatiningrat, sebab  Pramodawardhani 

kawin dengan Jatiningrat alias rakai Pikatan. Tersangkut dalam 

prasasti c_;:ri Kahulunan, sebab  beliau yaitu  putri yang mengeluarkan 

prasasti tersebut. 

Yang agak menarik perhatian ialah bahwa pada piagam Karang 

Tengah itu, juga disebut sepuluh tingkat ke-Budha-an yang kiranya 

juga mempunyai hubungan dengan pembangunan candi Budha 

Barabudur. Ungkapan-ungkapan yang tercantum pada prasasti Karang 

Tengah sangat menarik perhatian untuk mengetahui perkembangan 

ajaran agama Budha Mahayana di Jawa Tengah. 

Prasasti Sri Kahulunan dan Pramodawardhani 

Prasasti Sri Hahulunan (<;ri Kahulunan) berasal dari Magelang. 

Tidak diketahui asal mulanya ditemukan prasasti tersebut. Prasasti 

Sri Kahulunan telah termuat dalam O.J.O. No. XVII dan ditran­ 

900 Sriwijaya 

skripsikan oleh Brandes. Ternyata bahwa baik pembacaan tarikh 

tahunnya maupun transkripsi teks kurang sempurna. Tarikh tahunnya 

dibaca oleh Brandes tahun Saka 884. Menurut bacaan De Casparis, 

tarikh tahunnya yang benar ialah 764 atau tahun Masehi 842. 

Prasasti Sri Kahulunan yaitu  prasasti persumpahan bertalian 

dengan pembebasan tanah menjadi sima atau tanah perdikan candi. 

Tanah itu disebut Sri Kahulunan, sebab  tanah tersebut menjadi 

milik Sri Kahulunan. Sri Kahulunan yaitu  gelar permaisuri raja. 

Keterangan ini didapat oleh De Casparis dari analogi dengan gelar 

dalam Udyogaparwa sebagai gelar Dewi Kunti. Judistira menyebut 

ibunya "Sri Kahulunan". Demikianlah, kata Kahulunan itu tidak 

berasal dari kata hulun yang berarti "abdi. Dalam bahasa J awa kuno, 

sang hulun (B. Y. XXXVIII) berarti "tuan putri; sinasanghulun: diakui 

sebagai tuan putri. 

Siapa sebenarnya putri yang menyebut dirinya Sri Kahulunan 

itu, De Casparis memberikan keterangan yang sangat menarik 

perhatian. Analisis yang dibuatnya untuk mengidentifikasikan Sri 

Kahulunan itu sangat menakjubkan. De Casparis berhasil mem­ 

bandingkan prasasti Sri Kahulunan itu dengan prasasti-prasasti 

pendek yang ditemukan di candi Plaosan Lor. Pada prasasti-prasasti 

pendek dari Plaosan itu, kedapatan beberapa kali gelar Sri Kahulunan. 

Gelar Sri Kahulunan terpahat pada candi kecil deretan tengah no. 

21 dan deretan dalam no. 22. Di belakang candi no. 21, terdapat 

rumah kecil dalam deretan-luar no. 24; terdapat gelar terpahat yang 

berbunyi dharmma ...r~ja. Sudah pasti bahwa gelar yang lengkap 

ialah dharma cri mah~r~ja. Pada candi-candi kecil di Plaosan itu, 

kedapatan 15 kali. Deretan-dalam berisi 50 candi, deretan-tengah 

berisi 58 candi, dan deretan-luar berisi 66 candi. 

sebab  dari literatur telah diketahui bahwa gelar Sri Kahulunan 

yaitu  gelar permaisuri, maka kesimpulannya ialah bahwa Sri 

Kahulunan yang terpahat pada candi no. 21 deretetan-tengah dan 

no. 22 deretan-dalam yaitu  permaisuri sri maharaja yang terpahat 

15 kali itu. Nama yang terpahat pada candi no. 14 dan 15 deretan- 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 901 

luar lebih panjang daripada yang lain-lainnya. Nama itu bunyinya: 

cri mah~r~ja rakai Pikatan. Nama itu terang terdapat pada daftar 

silsilah raja-raja di Poh Pitu pada prasasti Kedu dan pada prasasti 

candi Perot pada tahun 850. Demikianlah, Sri Kahulunan yaitu  

permaisuri sri maharaja rakai Pikatan. 

Dalam terbitannya, Prasasti II hlm. 280-330, De Casparis 

membahas kakawin Jawa kuno dari tahun 856 di bawah judul A 

Metrical Old Javanese Inscription Dated 856. Pada 7 menguraikan 

bahwa sang raja memeluk agama Siwa; berbeda dengan sang 

permaisuri. Dari analisis itu, ternyata bahwa yang dimaksud dengan 

sang raja yaitu  rakai Pikatan, yang dalam kakawin itu menyebut 

dirinya J atiningrat. Demikianlah, dapat dipastikan bahwa rakai 

Pikatan kawin dengan permaisuri dari wangsa Sailendra yang beragama 

Budha Mahayana. Permaisuri itu yaitu  Pramodawardhani, putri 

raja Samaratungga yang namanya tercatat pada piagam Karang 

Tengah. Sri Kahulunan yang tercata pada piagam Sri Kahulunan 

dan terdapat di Magelang yaitu  putri Pramodawardhani, yang pada 

prasasti Karang Tengah membangun candi Jinalaya. 

Prasasti Sri Kahulunan, seperti telah disinggung di atas, yaitu  

prasasti persumpahan bertalian dengan pembebasan desa-desa di 

Kedu Selatan untuk pembangunan candi dan dijadikan tanah milik 

sang permaisuri alias Sri Kahulunan. 

Isi persumpahan itu termuat pada akhir prasasti dari baris 26­ 

33. Bunyinya seperti berikut: "Seperti halnya dengan telur, jika telah 

dirusak tidak lagi dapat menetas, demikian pula barang siapa merusak 

batu ini. Ia akan musnah. Jika ia masuk hutan, semoga ditelan hari­ 

mau; jika berjalan di ladang, semoga digigit ular . . Jika ke sungai, 

semoga dimakan buaya. Demikianlah, semoga musnah barang siapa 

yang berani merusak tanah Sri Kahulunan." 

Yang sangat penting dari prasasti persumpahan itu ialah 

permulaannya, sebab  permulaan prasasti itu menyebut batas tanah 

Sri Kahulunan yang dijadikan tanah perdikan Kam~lan Bh~mi­ 

sambh~ra. Yang dibebaskan ialah desa Teru di Tepusan, sawah 

909 Sriwijaya 

kanayakan, sawah para petugas (wikenas), ladang para kawula (pen­ 

duduk). Yang diserahi tugas melaksanakan ialah pembesar desa 

Rukap bernama Widya dan istrinya, Mutra. Selanjutnya disebut 

pelbagai nama orang lainnya yang ikut serta melaksanakan perintah 

Sri Kahulunan beserta desa tempat tinggalnya. Kemudian menyusul 

para saksi lengkap dengan nama dan tempat tinggalnya. Mereka 

masing-masing menerima hadiah yang berbeda-beda. 

Penyebutan desa-desa itu penting untuk mengetahui di mana 

letak tanah perdikan Sri Kahulunan yang dijadikan sima Kam~lan 

Bhmisambh~ra. Bagaimanapun juga, desa-desa itu yaitu  desa 

tetangga kedelapan kiblat dari tempat yang dijadikan pusat bangunan 

yang didirikan di Kam~lan Bh~misambh~ra. 

Kombinasi antara nama-nama desa yang disebut pada prasasti 

Sri Kahulunan dan nama-nama desa yang disebut pada prasasti Kedu 

dapat menghasilkan keterangan yang mendekati kenyataan mengenai 

letak desa-desa tersebut terhadap desa yang dijadikan pusat. Prasasti 

Kedu menyebut 24 desa. Jika 24 desa itu terdapat dalam lingkungan 

yang berkiblat delapan, maka setiap kiblat memuat 3 desa. 

Demikianlah, terdapat tiga lapis desa dari pusat. Yang menjadi pusat 

yaitu  desa Mantyasih. Secara berturut-turut ke arah selatan menuju 

Kedu, Pamandayan, lalu Tepusan. Nama desa Tepusan terdapat pada 

prasasti Sri Kahulunan. 

Prasasti Sri Kahulunan menyebut nama sima Kam~l~n Bh~mi­ 

sambh~ra. Identifikasi dan lokalisasi Kam0l~n Bh~misambh~ra itu 

penting sekali bertalian dengan adanya candi Barabudur di daerah 

Kedu Selatan. Untuk dapat melokalisasikan Kam~l~n Bh~misambh~ra 

di Barabudur, diperlukan banyak keterangan. Dalam hal ini, De 

Casparis memberikan keterangan tentang nama Barabudur dalam 

bukunya, Prasasti negara kita  I hlm. 164-170, dan keterangan tentang 

nama Kam~ln dari hlm. 170-175. Secara ringkas keterangannya 

seperti berikut: 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 903 

a. Kamulan 

Sudah jelas bahwa bangunan yang didirikan di tanah perdikan 

Sri Kahulunan disebut Kamlan (Kamulan). Pokok katanya ialah 

mla, artinya: akar atau asal, permulaan. Bubuhannya ka- dan -an. 

Jadi, kata kaml~n artinya: permulaan. 

Kata kamlan digunakan pada: 1). Prasasti Siman dari Kediri 

(O.JO. XLVIII) dalam hubungan: sang hyang dharmma kaml~n. 

Kata dharma di sini berarti: candi makam. 2) Prasasti dari Singasari 

(O.J.O. XXXVIII) dalam hubungan mla kahyangan: permulaan 

kahyangan. Gunung Wangkedi (Bromo) dianggap sebagai permulaan 

kahyangan. 3) Prasasti dari Malang (0J.0. LI) dalam hubungan 

sawat~ s l~wan kaml2an Walandit. berbatas dengan kamulan Walandit. 

Dewa Brahma dianggap sebagai dewa yang menguasai segala basil 

perdikan di Walandit. Batara Brahma biasa disebut swayambhu: lahir 

dari kekuatannya sendiri; menjadi mla dari segala yang ada. 

Candi makam di Walandit disebut sang hyang dharma kabuyutan: 

candi makam nenek-moyang. Di sini kata buyut (moyang) mempunyai 

arti yang sama dengan m~la. Kata kabuyutan = kaml~n: kenenek­ 

moyangan. 

Demikianlah, pada bangunan suci yang disebut kam~l~n, 

tersembunyi pengertian kenenek-moyangan. Artinya bahwa ba­ 

ngunan yang bersangkutan digunakan sebagai tempat persembahan 

kepada nenek-moyang. Nenek-moyang yaitu  asal manusia yang 

memberikan persembahan. berdasar  pendapat itu, maka Kam~l~n 

Bhmisambh~ra di tanah perdikan Sri Kahulunan yaitu  tempat 

pemujaan atau persembahan nenek-moyang. sebab  Pramodawar­ 

dhani yaitu  seorang putri pemeluk agama Budha dari wangsa 

Sailendra, maka boleh dipastikan bahwa Kam~l~n Bh~misambhara 

yaitu  tempat pemujaan nenek moyang rajakula Sailendra. 

Tingkat untuk mencapai kesempurnaan (ke-Budha-an) dalam 

sistem agama Budha disebut bhumi. Tingkat yang tertinggi yaitu  

tingkat kesepuluh. Jika orang sudah mencapai tingkat itu, ia sudah 

menjadi Budha. Pada piagam Karang Tengah bagian Sanskerta tentang 

904 Sriwijaya 

pembangunan Jinalaya, Pramodawardhani berdoa agar yang di­ 

muliakan mencapai tingkat kesepuluh ke-Budah-an. Demikianlah, 

Kam~l~n Bh~misambh~ra merupakan tempat pemujaan nenek 

moyang rajakula Sailendra, agar nenek moyang yang dipuja di tempat 

itu berhasil mencapai ke-Budha-an. 

b. Bh~misambh~ra 

Telah disinggung di muka, bahwa bhumi di sini berarti tingkat 

atau taraf untuk mencapai ke-Budha-an. Dalam agama Budha, tingkat 

itu ada sepuluh. Tingkat kesepuluh yaitu  tingkat yang sempurna. 

Kata sambhara berarti: timbunan. Demikianlah bh~misambh~rad 

berarti: timbunan tingkat. Bangunan yang didirikan di tanah perdikan 

Sri Kahulunan yang disebut Kam0l~n Bh~misambh~ra harus terdiri 

dari 10 tingkat. 

Di daerah Kedu Selatan, memang ada bangunan candi Budha 

yang bertingkat-tingkat. Bangunan candi Budha itu disebut candi 

Barabudur. Jumlah tingkatnya memang sepuluh. Demikianlah, yang 

dimaksud dengan Kam~ln Bh~mishamb~ra pada prasasti Sri Kahu­ 

lunan itu yaitu  candi Budha yang hingga sekarang disebut candi 

Barabudur. Candi Barabudur yaitu  candi pemujaan nenek moyang 

rajakula Sailendra. 

Timbullah persoalan: Mengapa candi Kam~ln Bh~misambh~ra 

itu disebut Barabudur? N ama Barabudur tidak dikenal pada prasasti 

Sri Kahulunan. Baik prasasti Sri Kahulunan maupun prasasti Kedu 

menyebut nama-nama desa di sekitar tanah perdikan Sri Kahulunan 

dan Kedu Selatan. Namun, di antara nama-nama desa itu tidak 

terdapat desa yang bernama Budur. Bahwa kata bara pada nama 

Barabudur berasal dari kata sambhara pada Bh~misambh~ra, tidak 

menimbulkan kesulitan. De Casparis bertanya: Dari mana asal nama 

buduritu? 

Persoalan nama Barabudur sudah lama mendapat perhatian para 

sarjana, baik di lingkungan sarjana Belanda maupun di lingkungan 

sarjana negara kita , justru sebab  di desa Barabudur itu terdapat 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 905 

bangunan candi megah yang disebut candi Barabudur. Literatur 

tentang persoalan Barabudur telah disusun oleh Dr. W.F. Stutterheim 

dalam bukunya, Tjandi Baraboedoer, naam, vorm en beteekenis, pada 

tahun 1929. Dalam buku itu dibahas persoalan nama, bentuk, dan 

arti candi Barabudur, dilengkapi dengan gambar. Persoalan nama 

terdapat pada hlm. 13-17. 

Pembahasan nama Barabudur terbitan Stutterheim ini dengan 

sendirinya telah mendapat perhatian De Casparis. Tidak ada jeleknya 

pendapat-pendapat itu sekali lagi dikemukakan di sini. Pendapat 

yang pertama dilontarkan oleh Prof. Poerbatjaraka dalam kongres 

Taal Land- end Volkendune van Java tahun 1919 di Surakarta. Ia 

menyamakan kata bara pada nama Barabudur dengan kata wihara. 

Jadi, Barabudur ditafsirkan sebagai tempat bertegak wihara Budur. 

Ia beranggapan bahwa di sekitar bangunan Barabudur dahulu 

terdapat kelompok wihara. Nama bara banyak terdapat di sekitar 

gunung Menoreh. Ada nama Bara Kidul. 

Dilihat dari jurusan perkembangan kata, pendapat Prof. 

Poerbatjaraka itu tidak dapat dipertahankan, sebab  kata Sanskerta 

wihara dalam bahasa Jawa juga terdapat dan dalam bahasa Indone­ 

sia menjadi biara. Bunyi i pada wihara tetap dipertahankan. Satu­ 

satunya kata Sanskerta yang dapat digunakan untuk memperkuat 

pendapatnya ialah kata wyoma: awan; dalam bahasa J awa kuno 

menjadi boma. Dilihat dari segi bangunan, pendapat itu lemah sekali. 

Di sekitar candi Barabudur tidak ada wihara, dan tidak mungkin 

pernah ada wihara. 

Pendapat yang kedua diberikan oleh murid Stutterheim. Kata 

budur disamakan dengan kata Minangkabau budur berarti: uitpuilen, 

opbollen: menonjol. Dalam bahasa Minangkabau, bunyinya budu~. 

Barabudur lalu diartikan wihara yang menjulang atau wihara di atas 

bukit. Tafsiran itu terang tidak kena. Stuterheim menguraikan hu­ 

bungan antara Sriwijaya dan J awa untuk memperkuat pendapat bahwa 

kata budur dari Minangkabau terbawa ke J awa. Dalam bahasa J awa, 

masih ada juga kata bidur. prentul yang gatal; dalam sakit biduren. 

906 Sriwijaya 

Rom menunjukkan bahwa di Jawa Timur juga ada desa yang bernama 

Budur. Pokoknya, keterangan yang diberikan tidak memuaskan. Juga, 

Stutterheim menganggap bahwa kata bara berasal dari kata wihara. 

Wihara itu dibuat dari kayu, lambat-laun rusak, lalu lenyap. 

Pendapat Stutterheim itu dikemukakan berhubung dengan 

keberatan-keberatan Krom terhadap pendapat Poerbatjaraka, yang 

menyamakan kata wih~ra dan bara pada kata Barabudur. Dari 

penelitian prasasti Sri Kahulunan, terbukti bahwa kata bara pada 

nama Barabudur tidak berhubungan dengan wih~ra, tetapi dengan 

sambh~ra: timbunan. Dalam rangka ini De Casparis mencari makna 

kata Budur. 

Telah disinggung pula di muka bahwa kata bhmi yaitu  tingkat 

untuk mencapai ke-Budha-an. Tingkat yang jumlahnya 10 itu 

merupakan bukit. Dalam bahasa Sanskerta, ada kata bhdhara, 

artinya: bukit. Demikianlah, De Casparis menganggap bahwa nama 

aslinya ialah Bh~misambh~rabhdhara, artinya: gunung timbunan 

tingkatan (untuk mencapai ke-Budha-an). Untuk memperkuat 

pendapatnya, dikemukakan bahwa kata bhdhara itu dapat berubah 

menjadi budur. Sebagai analogi, diutarakan kata swara yang dapat 

menjadi suwur melalui tingkat suwara. 

Kata Bhmisambh~rabhdhara dapat mempunyai paling sedikit 

tiga arti: 

a). Sebagai istilah di dalam agama Budha Mahayana berarti: gunung 

untuk mencapai kesempurnaan melalui Bodhisatwa yang terdiri 

dari 10 tingkat. 

b). Ditinjau dari segi arsitektur berarti: gunung yang bertingkat­ 

tingkat. 

c). Arti umum: raja (bhdhara) dari timbunan (sambh~ra) tanah 

(bh~mi). Dalam arti yang terakhir ini, bh~misambh~ra mene­ 

rangkan kata bhdara.J adi, pada hakikatnya pleonasme: sinonim 

dari kata caila dan bhdhara. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 907 

Dalam resensinya tentang Prasasti negara kita  I, termuat dalam 

B.KI. 108, tahun 1952, FD.K. Bosch menyinggung hipotesis De 

Casparis tentang nama Bhmisambh~rabhdhara. Pokoknya, ia 

meragukan hipotesis tersebut dan menyerahkan soal perubahan bunyi 

kata bhdhara menjadi budur kepada orang yang lebih tahu. 

Dalam majalah Bahasa dan Budaya no. 1 tahun 1952, saya 

juga meragukan hipotesis De Casparis itu. Keberatan saya terutama 

mengenai perubahan bunyi kata bhara menjadi budur, dengan 

mengambil analogi perubahan kata swara menjadi suwur melalui 

suwara. Kata Jawa suwur tidak mempunyai hubungan asal dengan 

kata swara; kata suwur mempunyai hubungan asal dengan kata Arab/ 

Melayu mashur. 

Keberatan yang kedua ialah tambahan kata bhdara. Nama yang 

terbaca pada prasasti Sri Kahulunan ialah Kam~l~n Bhmishambh~ra. 

Itulah kiranya nama lengkapnya sejak semula. Nama yang terlalu 

panjang itu dalam pemakaian bahasa biasa disingkat. Yang di­ 

hidupkan ialah kata bara, singkatan dari sambh~ra. Sudah pasti bahwa 

penduduk desa di sekitar Kam~l~n Bh~misambh~ra tahu bahwa 

tempat itu yaitu  tempat pemujaan nenek moyang. Tetapi sebab  

kaml~n dan bh~mi sudah lama hilang dari pemakaian bahasa, tidak 

diingat lagi oleh penduduk desa di sekitarnya kemudian hari. 

Desa yang bernama bara di sekitar gunung Menoreh ada 

beberapa. Misalnya, Bara Kulon, Bara Kidul, Bara Kali Bawang. Untuk 

membedakan desa bara tempat candi itu dari desa-desa baralainnya, 

perlu dijelaskan. Penjelasan itu sesuai dengan sifat atau watak candi 

yang terdapat di situ. Namanya yang asli ialah Kam~lan: pemujaan 

terhadap nenek moyang. Di dalam bahasa J awa tengahan dan J awa 

Baru, kata Kam~l~n dengan arti: tempat pemujaan arwah nenek 

moyang tidak lagi dikenal oleh rakyat umum. Arwah nenek moyang 

tidak lagi dikenal oleh rakyat umum. Arwah nenek moyang dalam 

bahasa Jawa yaitu  leluhur atau leluwur. Jelas bahwa kata leluhur berasal 

dari kata ruhur atau duhur (duwur). Jadi, leluhur yaitu  orang yang 

sudah dimuliakan. Tempatnya ruhur atau duwur. Prasasti Kedu 

908 Sriwijaya 

Balitung menyebut para raj a di Poh Pitu rahyang rumuhun: para orang 

terhormat yang telah mendahului, yang telah marhum. Arwah 

leluhur itu mempunyai tempat yang tinggi, alias duwur, duhur. 

Kiranya nama Barabudur itu terjadi dari kombinasi antara dua 

unsur itu, yakni unsur sambhra dan unsur leluhur. Kata duhur 

mendapat awalan ba(be) menjadi baduhur, baduwur-budur, sebab  

bunyi aatau eterdesak oleh bunyi u. Kata Sunda heula artinya: muka; 

ti heula atau ti pajun: di muka, dahulu, baheula: zaman yang sudah 

mendahului, dahulu, zaman dahulu. 

Di Bali ada nama Badahulu, sekarang menjadi Bedulu. Awalan 

ba (be, bu) dengan pengertian memiliki sifat terdapat pada beberapa 

kata. Misalnya, kata buntut: ekor; memiliki sifat tut. Dalam bahasa 

J awa kuno, artinya: barisan belakang. Banding dengan kata menuntut; 

ider: edar; mider: berkeliling; bunder: bulat; bundar; mingkem: 

menutup; bungkem: tertutup, bungkam; tugel: putus, terpotong; 

nugel: memotong; bugel: sepotong kayu yang sebagian telah dimakan 

api, puntung kayu. Demikianlah, nama Barabudur artinya sama saja 

dengan Kamlan Bhmisambh~ra. 

Bertalian dengan kenyataan bahwa eandi Barabudur pada haki­ 

katnya yaitu  candi kamlan atau tempat pemujaan arwah nenek 

moyang raja-raja Sailendra yang dibangun oleh Pramodawardhani, 

maka De Casparis mengambil kesimpulan bahwa arwah nenek 

moyang raja-raja Sailendra yang menjadi pendiri rajakula Sailendra 

harus ditempatkan di tempat yang paling tinggi. 

Pendiri Rajakula Sailendra yaitu  Indra yang tersebut pada 

prasasti Kelurak (menurut bacaan Coed~s yaitu  Dharanindra). 

Dharanindra sebagai pendiri rajakula Sailendra, yang berarti "Dewa 

gunung', diwujudkan dengan area pada puneak eandi Barabudur. 

Demikianlah, area Budha di puneak Barabudur, yang sangat kasar 

dan sangat jelek pahatannya, yaitu  area Dharanindra pada saat ia 

mencapai ke-Budha-an, yakni pada saat ia melepaskan klega atau 

kotoran yang penghabisan. Pada saat itu ia meneapai tingkat yang 

tertinggi. Hanya dengan wajra, kleca yang terakhir itu dapat berhasil 

dibersihkan. Yang mempunyai wajra ialah Aksobhya. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 909 

Demikianlah, area Budha di puneak eandi Barabudur yaitu  

arca Aksobhaya dalam semedi yang disebut wajropamasam~dhi, yakni 

semedi untuk menghilangkan kleca yang terakhir. Dalam 

wajropamasam~dhi itu, orang sedang dalam mencapai tingkat ke­ 

Budha-an yang tertinggi, namun belum merupakan Budha yang 

sempurna. Tingkatan itu baru tercapai setelah kleca yang terakhir 

berhasil disingkirkan dengan wajra. Itulah sebabnya, maka bentuk 

area Budha pada tingkat yang paling tinggi di eandi Barabudur tidak 

sempurna. 

Pada prasasti Karang Tengah tahun 824, Pramodawardhani 

meresmikan bangunan Jinalaya dan berdoa agar yang dimuliakan 

meneapai tingkat ke-Budha-an yang kesepuluh. Kiranya, pada waktu 

itu juga eandi Barabudur diresmikan. Prasasti Sri Kahulunan dari 

tahun 824 menyatakan bahwa Kam0l~n Bh~misambh~ra, pada waktu 

itu, telah berdiri. Demikianlah, tarikh pembangunan eandi Bara­ 

budur itu kira-kira tahun 824. 

Dengan sendirinya timbul pertanyaan: Di mana jenasah 

Dharaindra atau pendiri Sailendrawangsa itu dimakamkan? Dalam 

hal ini, De Casparis menghubungkan eandi Barabudur dengan eandi 

Pawon, yang terletak 1 ½ km di sebelah timur eandi Barabudur. Sudah 

sejak lama, eandi Pawon dianggap sebagai eandi pendahuluan 

Barabudur; dimaksud supaya para peziarah ke eandi Barabudur 

mempersiapkan diri di eandi Pawon sebelum menginjak Kam~lan 

Bhfrmisambhara. Anggapan itu timbul sebab  orang memandang 

eandi Barabudur yang berupa stupa sebagai "Leuchtturm des 

Bhuddhismus". Pandangan itu harus dikoreksi. Candi Pawon memang 

merupakan eandi pendahuluan, tetapi tidak diperuntukkan bagi para 

peziarah, melainkan untuk raja pendiri rajakula Sailendra Dharaindra 

yang dimakamkan di situ, supaya kemudian hari dapat mendaki 

tingkat ke Bodhisattwa-an. Candi Pawon yaitu  eandi makam atau 

dharmma kaml~n. Namanya itu sendiri sebenarnya sudah menun­ 

jukkan bahwa candi Pawon yaitu  dharmma kamln atau dharmmad 

kabuyutan; pawon berarti: dapur. Arti itu masih cocok dengan artinya 

yang asli. 

910 Sriwijaya 

Dalam kerangka pemujaan terhadap arwah nenek moyang, 

adanya dharmma kaml~n memang cocok sekali. Tetapi tidak dalam 

rangka sepuluh Bodhisattwabh~mi. Untuk mengetahui kedudukan 

candi Pawon dalam sistem Bodhisattwabh~mi, harus diingatkan 

adanya taraf persiapan dalam sistem Bodhisattwabh~mi. Dalam 

sistem Abhisamay~lamk~ra, ada dua taraf persiapan, yakni sambh~­ 

ram~rga dan prayogam~rga, sebelum orang mulai menginjak bodhisat­ 

twabh~mi yang paling rendah. 

Kedua taraf persiapan itu berwatak keduniaan, disebut laukila, 

sedangkan taraf bodhisatwa disebut lokottara. sebab  eandi Pawon 

terletak tepat di bawah bodhisattwabh~mi atau taraf ke-bodhisattwa­ 

an, maka candi Pawon mempunyai fungsi prayogam@rga, yakni 

persiapan yang terakhir (yang kedua). Dengan sendirinya timbul 

pertanyaan: Manakah yang merupakan persiapan pertama atau 

sambh~ramarga? Jawabnya ialah: Candi Mendut yang terletak di 

sebelah barat dan menghadap ke arah barat daya, berbalikan dengan 

arah eandi Barabudur. 

Pada piagam Karang Tengah, jelas dinyatakan bahwa eandi 

Jinalaya itu disebut wenuwana, artinya: hutan bambu. Nama wenu­ 

wana yaitu  tempat Budha Sakyamuni mengajar untuk pertama 

kalinya. Bagaimanapun, area utama eandi Jinalaya Wenuwana harus 

arca Budha dalam dharmacakramudr~. Candi Wenuwana melukiskan 

dongeng binatang. Lukisan dongeng binatang itu memang terdapat 

pada candi Mendut. Relief balustrade kaki candi menggambarkan 

cakra di antara dua rusa. Demikianlah, eandi Jinalaya Wenuwana 

yang disebut pada prasasti Karang Tengah yaitu  eandi Mendut. 

Candi Mendut terletak di sebelah barat eandi Pawon dan merupakan 

taraf persiapan yang disebut sambh~ram~rga. 

Inti ajaran Budha Sakyamuni yang disebut dharmacakrapad­ 

wartana ialah bodhicittap~da. Adapun yang dimaksud dengan 

bodhicittapada ialah keinginan untuk mencapai ke-Budha-an tidak 

demi kepentingan diri sendiri dahulu, tetapi demi pembebasan or­ 

ang-orang lain dari samsara. Itulah pokok ajaran agama Budha 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 911 

Mahayana. Bodhicittap~da termasuk kerangka sambh~ram~rga. Demi­ 

kianlah, baik nama Wenuwana maupun ajarannya yang disebut 

dharmacakrapawartana sesuai dengan keadaan Candi Mendut. 

Satu hal lagi yang pen ting untuk disebut ialah pengertian gotra 

sebagai unsur sambh~ram~rga. Dalam agama Budha Mahayana, gotrad 

merupakan unsur yang sangat penting. Gotra berarti kekeluargaan 

dalam keagamaan demi kesucian. Juga, pengertian gotra itu dicamkan 

dalam pemujaan nenek moyang, tetapi tidak khusus dalam arti 

keagamaan, melainkan dalam arti kekeluargaan, keturunan. 

Demikianlah, pada rajakula ~ailendra, pengertian pemujaan nenek 

moyang itu dipersatukan dengan pengertian keagamaan Budha 

Mahayana. Tiap raja masuk sebagai anggota @ryasantati. Hal ini 

merupakan hipotesis baru yang bertalian dengan panil Bodhisattwa 

pada dinding luar candi Mendut yang berjumlah sebelas. 

Delapan panil memuat lukisan bodhisattawa, dua panil besar 

memuat lukisan Dewi Tara, dan satu memuat Awalokitec;wara. Jika 

Awalokitec;wara diikutsertakan dalam kerangka Budha Mahayana 

~ailendra, maka jumlahnya sembilan. Jumlah Bodhisattwa sembilan 

yaitu  janggal dalam agama Budha Mahayana. Tambahan dua lukisan 

dewi Tara juga janggal. Jumlah sembilan itu harus ditafsirkan dalam 

kerangka pemujaan nenek moyang rajakula Sailendra. 

Teras tertinggi candi Barabudur diperuntukkan bagi pendiri 

rajakula Sailendra; teras kaki diperuntukkan bagi Dharanindra setelah 

selesai menjalani prayom~rga, menginjak bh~mi yang terendah. 

Sepuluh teras candi Barabudur diperuntukkan bagi sepuluh moyang 

pendiri candi Barabudur, yakni Samaratungga. Jadi, sebelum 

Samaratungga, telah ada sepuluh moyang yang menjadi raja. Sebelum 

Dharanindra (ayah Samaratungga) yang mendirikan candi Mendut, 

hanya ada sembilan moyang. Sembilan moyang itulah yang 

diwujudkan sembilan bodhisattwa. Dua Tara itu kiranya dua orang 

permaisuri raja Sailendra yang berasal dari seberang lautan. Untuk 

pembuktiannya tidak ada cukup bahan. Demikian De Casparis. 

919 Sriwijaya 

Prasasti Gandasuli dan Dang Karayan Partapan 

Prasasti Gandasuli ditemukan di Gandasuli dekat Temanggung, 

dimuat dalam O./.O. CV dan telah dibahas oleh De Casparis dalam 

Prasasti negara kita  I. Prasasti Gandasuli, seperti prasasti-prasasti 

lainnya, mulai dengan manggalacarana namac~iwaya. Ini berarti 

bahwa prasasti Gandasuli bukan dikeluarkan oleh raja dari rajakula 

Sailendra yang memeluk agama Budha Mahayana, melainkan oleh 

pemeluk agama Siwa. Setelah manggalacarana, Prasasti segera mulai 

dengan pujaan kepada Dang Karayan Partapan Ratnamahegwara Sida 

Busu Pelar. Isinya: 

Semua orang dari empat penjuru telah mendengar bahwa Dang 

Karayan Ratnamahe~wara Sida Busu Pelar yaitu  orang utama yang 

telah banyak berjasa. lstrinya bernama Busu juga. Ibu Dang Karayan 

Partapan bernama Jantakabbi. Ibu istrinya bernama Panuahan. Kedua 

orang tua itu masing-masing menjaga putranya. Adik mpu Palar 

bernama Busu Tarba; dua iparnya bernama Busu Bajra dan Busu 

Uttara. Saudara sepupunya bernama Busu Tarai dan Busu Dandai. 

lpar istrinya bernama Busu Huwuriyan. Pamannya yang bernama 

Wisnuwrata diserahi jabatan nayaka untuk mengurus daerah Bunut. 

lparnya yang bernama Busu Pandarangan dijadikan nayaka untuk 

mengurus daerah Kahuluan. Anak-anaknya bernama Sida Busu Putih, 

Tejah Pahit, Swasta, Pagar Wesi, dan Awak lndu. Mereka semuanya 

perempuan. 

Semua anak perempuan itu merupakan kekayaan dan kekuasaan 

Dang Karayan Partapan. la sangat gembira, rezekinya berlimpah. 

Wilayahnya terjaga. Semua penduduk desa dari timur, selatan, barat, 

dan utara memuji kebijaksanaan Dang Karayan Partapan. Di situ ada 

Dang Arcarya Dhawala, seorang sth~paka yang sangat mahir (pembuat 

bangunan); bapuh munda Dang Karayan Siwarjita, nayaka di Prang 

Kapulang. Semua orang bawahannya mahir membangun candi 

makam yang sangat bagus lagi berguna. Mereka membuat area sang 

haji (raja) di sebelah utara prasada Sang hyang Wintang; candi makam 

itu dibuat bagus dan disertai tanah. Tanah bunga tiga barih. Pragaluh 

tiga lattir. Tina Ayun empat lattir. Wunut tiga lattir. Pawijahan dua 

lattir. Kaywara Mandir dua lattir. Wangur Baharu satu lattir. Mundu 

dua lattir. Kakaylan satu lattir. Tarukan satu lattir. Ukuran tanah yang 

dapat ditanami di Tanah Bunga seluruhnya ada 40 lattir. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 

Partakan (saksi?): di Walunuh mpu Posuh; di Pragaluh istri 

Warpatih bernama Manulu; juga nayaka Kyubungan pembantu 

Warpatih, bernama pu Lihasin; nayaka di Mantyasih bernama 

Dapunta Marhy ang Jn~natatwa. 

913 

Demikianlah isi prasasti Gandasuli. Tidak mudah untuk 

menerjemahkan prasasti tersebut. Banyak hal-hal yang masih agak 

gelap. N amun, maksudnya kiranya dapat ditangkap. Prasasti 

Gandasuli ditulis dalam bahasa Jawa kuno bercampur aduk dengan 

bahasa Melayu Sriwijaya. Hal itu mengingatkan bahwa pemahat 

prasasti tersebut mungkin berasal dari seberang lautan, mungkin 

dari wilayah Sriwijaya. Tidak perlu di sini kita membicarakan soal 

bahasa yang bercampur aduk itu secara terperinci. Yang pokok ialah 

mengetahui sekadar isinya agar jangan sampai salah tafsir. Bahasanya 

memang penuh dengan kata-kata Sriwijaya, hampir serupa dengan 

prasasti TalangTuwo. 

Nama mpu Pelar telah dikenal pada prasasti Karang Tengah. 

Dialah yang mengeluarkan prasasti Karang Tengah bagian Jawa kuno 

dengan sebutan Karayan Partapan. Jika bahasa prasasti Gandasuli 

clan prasasti Karang Tengah bagian Jawa Kuno dibanding-bandingkan, 

bedanya sangat besar. Prasasti Karang Tengah yang bersangkutan 

bahasa J awa kunonya lebih rapi. Prasasti itu terang dikeluarkan oleh 

Partapan mpu Pelar. Kiranya prasasti Gandasuli dikeluarkan oleh orang 

lain, yang berasal dari seberang lautan. Pendapat ini berlainan dengan 

apa yang dikemukakan oleh De Casparis. 

Di belakang manggalacarana, terdapat candrasangkala yang 

terjalin dalam kalimat; tidak segera dapat diketahui. Candrasangkala 

itu berhasil diketahui oleh De Casparis. Bunyinya sahingan alas 

partap@n: segenap arah (batas) hutan pertapaan. Kata-kata itu masing­ 

masing mewakili angka 4, 5, dan 7; jadi mewakili tahun 754 atau 

tahun Masehi 732. Dengan kata lain, prasasti Gandasuli dikeluarkan 

delapan tahun sesudah prasasti Karang Tengah. 

914 Sriwijaya 

Tokoh Dang Karayan Partapan 

Tokoh Dang Karayan Partapan sangat menarik perhatian De 

Casparis. Pada Prasasti Karang Tengah, hanya disebut Karayan 

Partapan mpu Palar. Pada prasasti Gandasuli, nama lengkapnya 

disebut, yakni Dang Karayan Partapan Ratnamahegwara Sida Busu 

Pelar. 

Nama Palar dan Pelar hanya berbeda ortografinya, namun tokoh­ 

nya sama tepat. Gelar dang ditambahkan pada gelar karayan; sama 

dengan gelar rakarayan pada prasasti Karang Tengah. Gelar itu 

disamakan dengan gelar karyana pada prasasti Kalasan, yang diper­ 

untukkan bagi Pancapana Panangkaran. Pada prasasti Kalasan, 

Pancapana sekali bergelar maharaja, satu kali bergelar kary~na. Oleh 

sebab  itu, gelar maharaja disamakan dengan gelar kary@na, sama 

dengan gelar rakarayan, sama dengan gelar dang karayan. Pada baris 

8 terdapat kata r@jya: kerajaan. Baik istrinya maupun anggota ke­ 

luarganya bergelar busu, dan banyak yang mempunyai kedudukan 

yang tinggi-tinggi seperti nayaka. Kesimpulan yang diambil oleh 

De Casparis ialah bahwa Dang Karayan Partapan mpu Palar yaitu  

raja. Jika delapan tahun sebelumnya ia masih ada di bawah kekuasaan 

raja Sailendra Samaratungga, maka pada tahun 832 ia telah 

membebaskan diri dari kekuasaan Sailendra. 

Terhadp kesimpulan De Casparis itu, ada juga keberatan­ 

keberatannya. Pertama, mengenai sebutan dang karayan atau 

rakarayan. Pada prasasti Gandasuli itu, juga kedapatan orang lain 

yang bergelar dang karayan, yakni Siwarjita, nayaka di Prang 

Kapulang. Pada prasasti Gata dan Taji Gunung dari tahun 771 dan 

772, gelar rakaryan atau rakryan juga digunakan oleh para 

mahamantri dan rakryan Gurun Wangi. Sesudah tahun 850, banyak 

lagi pembesar yang bergelar rakryan atau karayan atau rakarayan, 

namun pembesar itu bukan raja bukan maharaja. Demikianlah, ada 

keberatan untuk menyamakan gelar dang karayan dan rakarayan 

dengan maharaja. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 915 

Kata r@jya yang terdapat pada baris 8 memang berarti: kerajaan. 

Adanya kerajaan pada prasasti Gandasuli tidak dapat dijadikan alasan 

untuk menetapkan bahwa mpu Palar telah melepaskan diri dari 

kekuasaan Sailendra dan mendirikan kerajaan sendiri. Hal ini bertalian 

dengan sifat prasasti. Prasasti Gandasuli dianggap seolah-olah 

proklamasi kemerdekaan dari penjajahan rajakula Sailendra. Menurut 

pendapat saya, tidak demikian. Prasasti Gandasuli yaitu  prasasti 

percandian. Yang dicandikan ialah Dang Karayan Partapan. Oleh 

sebab  itu, segala sifat dan jasa Dang Karayan Partapan disebut paling 

muka. 

Prasasti Gandasuli yaitu  prasasti percandian yang memuja 

kebesaran yang dicandikan. Watak percandian itu jelas dinyatakan 

pada baris 10 dan seterusnya. Pada can di makam i tu disertakan 

perdikan desa atau tanah (sawah) seperti dinyatakan pada baris-baris 

berikutnya. Ternyata bahwa Dang Karayan Partapan tidak menjadi 

raja yang berdiri sendiri, tetapi pembesar bawahan bergelar haji (baris 

11). Di situ disebutkan hyang haji. Dengan sendirinya ia mempunyai 

wilayah kekuasaan dan kekuasan yang besar. Wilayahnya lalu disebut 

r@jya: kerajaan; lebih tepat dikatakan ke-haji-an, namun bentuk kata 

itu tidak ada dalam bahasa J awa kuno. Gelar haji terang lebih rendah 

daripada gelar cri mah~raja . Hajj mempunyai kekuasaan dan wilayah 

yang sangat luas. 

Bertalian dengan watak prasasti itu, maka jelas bahwa prasasti 

Gandasuli tidak dikeluarkan oleh Dang Karayan itu sendiri, tetapi 

oleh orang lain yang berasal dari seberang lautan. Terbukti bahwa 

sanak saudara Dang Karayan Partapan kebanyakan mempunyai gelar 

busu. Gelar busu tidak dikenal di Jawa, tidak dikenal pada prasasti­ 

prasasti Jawa kuno lainnya. Kiranya pembuat prasasti itu juga salah 

seorang anggota keluarganya. Dang Karayan Partapan meninggal 

dalam kedudukan sebagai haji antara tahun 824 (pengeluaran prasasti 

Karang Tengah) dan tahun 832 (pencandian Dang Karayan pada 

prasasti Gandasuli). 

916 Sriwijaya 

Kiranya prasasti Gandasuli ini menyingkapkan hubungan antara 

Sriwijaya dan Jawa Tengah dalam abad ke-8 sebelum penyingkiran 

Balaputra ke Sriwijaya. Terbukti bahwa raj a Sailendra Samaratungga 

mengangkat orang dari seberang laut menjadi haji, suatu kedudukan 

yang sangat tinggi. Peristiwa itu hanya mungkin, kalau Sriwijaya 

dan Jawa Tengah berada dalam hubungan yang baik. 

Kiranya Sriwijaya dan Jawa Tengah pada waktu itu sudah ada 

di bawah kekuasaan yang sama, yakni di bawah kekuasaan rajakula 

Sailendra. Prasasti Ligor B telah jelas menyatakan bahwa Ligor ada 

di bawah kekuasaan raja Sailendra. Jika identifikasi antara raja Wisnu 

dan Dharanindra itu benar, maka Sriwijaya sudah ada di bawah 

kekuasaan raj a Sailendra antara tahun 775 (pengeluaran prasasti Ligor 

A oleh raja Sriwijaya) dan 787 (serangan tentara Jawa terhadap 

Campa). Hipotesis ini memberikan pemecahan persoalan, mengapa 

Balaputra setelah menyingkir dari Jawa segera dapat menjadi raja di 

Sriwijaya. 

Perlu ditambahkan di sini bahwa Dang Karayan Sida Busu Palar 

tidak terdapat pada silsilah raja-raja di Poh Pitu, seperti tercatat pada 

prasasti Kedu. Apa yang kita ketahui dari prasasti Karang Tengah 

ialah bahwa rakarayan mpu Palar yaitu  pembesar bawahan raja 

Samaratungga. 

Dari prasasti Gandasuli, kita ketahui bahwa Dang Karayan 

Partapan mpu Palar yaitu  seorang pembesar yang bergelar haji, 

bukan seorang raja yang bergelar maharaja. Itulah sebabnya namanya 

tidak disebut pada silsilah raja-raja di Poh Pitu. Yang tersebut pada 

silsilah raja-raja di Poh Pitu di antaranya ialah sri maharaja rakai 

Garung. Tentang rakai Garung tidak banyak diketahui dari prasasti. 

Salah satu prasasti yang menyebut rakai Garung ialah prasasti 

Pengging. Di situ disebut rakarayan i Garung. 

Penting untuk diketahui bahwa prasasti Pengging dikeluarkan 

oleh rakarayan i Garung pada tahun 819, lima tahun lebih tua 

daripada prasasti Karang Tengah. Pada prasasti Kedu yang disebut 

"Jayapattra-Dieduksman (TB.G. XXXII tahun 1899 hlm. 98 dst.), 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 917 

disebut bahwa desa Guntur termasuk wilayah wihara Garung. Pada 

prasasti Kedu, disebut pula bahwa desa Kagunturan termasuk 

bawahan Patapan. Atas dasar itu, maka De Casparis mencoba untuk 

mengidentifikasikan rakarayan Patapan dengan rakai Garung. 

sebab  Dang Karayan Partapan wafat sebagai haji, tidaklah 

mungkin untuk mengidentifikasikannya dengan rakai Garung yang 

bergelar sri maharaja. Dengan siapa sri maharaja rakai Garung itu 

lalu akan diidentifikasikan? Jika kita ingin mengidentifikasikannya, 

sudah pasti bahwa sri maharaja rakai Garung harus diidentifikasikan 

dengan raja yang pasti bergelar maharaja. Yang pasti bergelar sri 

maharaja pada zaman permulaan abad ke-9 ialah Samaratungga dari 

rajakula Sailendra, seperti dikenal pada prasasti Karang Tengah bagian 

Sanskerta. 

Jelas bahwa rakai Garung hidup pada zaman itu, sebab  beliau 

mengeluarkan prasasti Pengging pada tahun 819. Lima tahun 

kemudian, Samaratungga mengeluarkan prasasti Karang Tengah 

tentang peresmian candi makam Jinalaya. J adi, rakai Garung hid up 

sezaman dengan Samaratungga. N ama Samaratungga tidak dikenal 

pada piagam Kedu, sebab  piagam Kedu hanya menyebut gelar sri 

maharaja dan gelar rakai yang diikuti oleh nama tempat. Hingga 

sekarang desa Garung itu masih ada, terletak di daerah Wanasaba, 

karesidenan Kedu (0.J.0 VII). Menurut anggapan saya, nama 

Samaratungga yaitu  nama pribadi (mungkin juga nama abhiseka) 

rakai Garung. berdasar  jalan pikiran ini, rakai Garung yaitu  

raja Poh Pitu dari rajakula Sailendra. 

Jalan pikiran di atas bertentangan dengan jalan pikiran De 

Casparis. De Casparis ingin melihat garis batas yang tegas antara 

rajakula Sanjaya dan rajakula Sailendra. Semua raj a yang disebut pada 

silsilah Balitung pada prasasti Kedu dianggap sebagai keturunan ratu 

Sanjaya, rakai Mataram. 

Silsilah itu mulai dengan rakai Mataram, sang ratu Sanjaya. 

Semua raja yang disebut di situ menggunakan sebutan rakai yang 

diikuti oleh nama tempat. Sebutan rakai dengan segala bentuk 

918 Sriwijaya 

perubahannya, seperti karayan, rakarayan, dang karayan, rakryan, 

karyana yaitu  monopoli keturunan Sanjaya. Keturunan rajakula 

Sailendra tidak menggunakan gelar rakai. Mereka menggunakan 

unsur nama tungga atau uttungga yang berarti: puncak atau gunung. 

Nama itu cocok dengan arti ailendra alias "raj a gunung". Samara­ 

tungga menggunakan unsur nama tunggas jadi, menurut De Casparis, 

tidak mungkin bergelar rakai: keturunan Sailendra. Panangkaran clan 

Garung bergelar rakai, jadi mereka yaitu  keturunan Sanjaya, tidak 

mungkin termasuk dalam rajakula Sailendra. 

Timbulnya pendapat yang demikian disebabkan sebab  adanya 

nama Dharmatungga pada prasasti Ratu Baka yang seumur dengan 

prasasti Kalasan/Kelurak. Prasasti Karang Tengah dikeluarkan oleh 

raja yang menggunakan unsur nama tungga, yakni Samaratungga. 

Apa yang dikemukakan oleh De Casparis sebenarnya logis, 

namun alasan-alasan yang dipakai sebagai dasar hipotesis itu 

menghendaki penelitian lebih cermat lagi. Dari nama-nama raja 

Sailendra, hanya terdapat beberapa saja yang memuat unsur tungga, 

yakni Dharmatungga (dari prasasti Ratu Baka), Samaratungga (dari 

prasasti Karang Tengah), clan Marawijatunggawarman (dari Larger 

Leyden Plates). Lainnya tidak menggunakan unsur nama tungga, 

seperti Dharanindra Sanggramadhananjaya (dari prasasti Kelurak), 

Balaputradewa (dari prasasti Nalanda), Cudamaniwarman (dari 

prasasti Larger Leyden Plates). Kita tidak menyebut Pancapana 

Panangkaran, sebab  tokoh ini masih diragukan. 

Sebaliknya, banyak lagi nama abhiseka raja-raja yang meng­ 

gunakan unsur tungga tanpa ada hubungannya dengan rajakula 

Sailendra. Mereka bahkan keturunan rakai Pikatan, yang jelas meng­ 

anut agama Siwa clan rupanya juga keturunan Sanjaya. Misalnya, Sri 

Sajanotsawatungga (rakai Kajuwang), Sri Iswarakeswarasamarot­ 

tungga (Balitung), Sri Sajanasnamatanuragatungga (Tulodong), 

Sriwjayaloka Namottunga (dyah Wawa), clan sebagainya. Raja-raja 

ini hidupnya kemudian daripada Samaratungga. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 919 

Sekarang, kita mencari contoh lain yang lebih tua daripada 

prasasti Karang tengah clan prasasti Kelurak. Prasasti Gata terang 

lebih tua daripada prasasti Kelurak clan Karang Tengah, clan jelas 

menggunakan Sanjayawarsa, bertarikh tahun 771. Raja yang me­ 

ngeluarkan prasasti Gata jelas keturunan rajakula Sanjaya, sebab  

prasasti tersebut menggunakan tarikh Sanjaya. Raja itu bergelar sri 

maharaja clan bernama Daksottamabahubajra ... sri ... (tung)ga­ 

wijaya. N ama menggunakan unsur tungga. Dari kutipan itu jelas 

sekali bahwa unsur Sailendra. Juga, keturunan Sanjaya menggunakan 

unsur nama tungga. 

Seperti telah saya singgung di muka, kiranya ungkapan rahyang 

rumuhun ri Poh Pitu pada piagam Kedu, yang diikuti oleh delapan 

raja dengan sebutan rakai dan bergelar sri maharaja kecuali Sanjaya, 

tidak mutlak harus ditafsirkan keturunan raja Sanjaya saja, tetapi 

tiap raj a yang pernah memerintah medang ri poh pitu, baik keturunan 

Sanjaya maupun keturunan Sailendra. Kekuasaan bertalian erat 

dengan kekuatan. Keturunan rajakula mana yang lebih kuat, ia akan 

berusaha merebut kekuasaan. Jika ungkapan prasasti Kedu itu di­ 

tafsirkan demikian, maka kotak rajakula Sanjaya clan kotak rajakula 

Sailendra tidak terpisah-pisah. Ada kalanya rajakula Sanjaya yang 

berkuasa, ada kalanya rajakula Sailendra yang memegang pimpinan. 

Yang kalah menjadi bawahan. 

Prasasti yang segera dibahas ialah Nalanda clan prasasti Bala­ 

putra-Jatiningrat, lanjutan kekuasaan rajakula SailendraJawa Tengah 

di Sriwijaya. 


Bab 7 

SRIWIJAYA DI BAWAH KEKUASAAN 

RAJAKULA SAILENDRA 

Prasasti Nalanda dan Balaputra 

Prasasti N alanda dikeluarkan oleh raj a Benggala Dewapaladewa 

di Nalanda, ditulis dalam bahasa Sanskerta tanpa tarikh tahun. Kita 

hanya mengetahui bahwa raja Dewapala yaitu  pengganti raja Dhar­ 

mapala dan wafat pada tahun ± 878. Prasasti tersebut telah diter­ 

bitkan oleh sarjana India, Hirananda Sastri, dalam Epigraphia Indicad 

no. 17 hlm. 310-327. Hirananda Sastri menduga bahwa prasasti itu 

dikeluarkan ± tahun 949. Isinya tentang permintaan maharaja Bala­ 

putra dari Suwarnadwipa kepada raja Dewapala untuk mendirikan 

wihara di N alanda. Balaputra mengaku cucu raj a Sailendra dari J awa 

dan putra Samaragrawira, lahir dari Tara, putri raja Dharmasetu. 

Dalam terjemahannya, Hirananda Sastri lupa menyebut nama 

Samaragrawira yang tercatat pada prasasti Nalanda. Oleh sebab  itu, 

nama Samaragrawira saya tambahkan pada terjemahan yang ber­ 

sangkutan di antara kurung. sebab  kebanyakan di antara pembaca 

tidak akan sempat memeriksa teks Sanskerta atau terjemahan dalam 

Epigraphia Indica itu, maka terjemahan dalam bahasa lnggris yang 

dibuat oleh Hirananda Sastri dikutip seluruhnya seperti di bawah: 

We being requested by the illustrious Mahar~ja B~laputradewa, 

the king of Suwarnadwipa through a messenger I have caused to be 

built a monastery at Naland~ granted by this edict toward the income 

for the blessed Lord Buddha, the abode of all the leading virtues like 

999 Sriwijaya 

the prajn~p~ramit~, for the offerings, oblations, shelter, garments, alms, 

beds, the requisites of the sick like mendicines, etc., of the assembly of 

the venerable bhiksus of the four quarters (comprising) the Bodhi­ 

sattwas well versed in the tantras, and the eight great holy personages 

(i.e. the aryapuggalas) for writing the dharma-ratnas of Buddhist texts 

and for the up-keep and repair of the monastery (when) damaged. 

There was a king of Yawabhumi (or Yawa), who was the orna­ 

ment of the ~ailendra dynasty, whose lotus feet bloomed by lustre of 

the jewels in the row of trembling diadems on the heads of all the 

princes, and whose name was comformable to the illustrious tormen­ 

tor of brave foes (wira-wairi-mathana). His fame, incarnate as it were, 

by setting its foot on the regions of (white) palaces, in white water lilies, 

in logus plants, conches, moon, jasmine and snow and being inces­ 

santly sung in all the quarters, pervaded the whole universe. At the 

ti me when that king frowned in anger, the fortunes of the enemies al so 

broke down simultaniously with their hearts. 

Indeed the crooked ones in the world have got ways of moving 

which are very ingenious in striking others. He had a son (named 

Samaragrawira), who possesses prudence, prowess, and good con­ 

duct, whose two feet fordled too much with hundreds of diadems of 

mighty kings (bowing down). He was the foremost warrior in the battle­ 

fields and his fame was equal to that earned by Yudhistira, Para~ara, 

Bhtmasena, Karna and Arjuna. The multitude of the dust of the earth, 

raised by the feet of his army, moving in the field of battle, was first 

blown up to the sky by the wind, produced by the moving on the 

earth (again) by the inchor, poured forth from the cheeks of the el­ 

ephants. 

By the continuous existence of whose fame the world was alto­ 

gether without the dark fortnight, just like the family of the lord of the 

daityas (demons) was without the partisanship of Khrisna. As Paulomi 

was known to be (the wife of) the lord of the Suras (i.e. Indra), Rati the 

wife of the mind-born (Cupid), the daughter of the mountain (Prwat~) 

of the enemy of Cupid (i.e. (iwa), and Laksmi of the enemy of Mura 

(i.e. Wisnu), so Tar~ was the queen consort of that king, and was the 

daughter of the great ruler dharmasetu of the I unar race and resembled 

Tara (thi Buddhist goddess of this name) herself. As the son of 

(uddhodana (i.e. the Budha) the conqueror of Kamadewa, was born 

of May~, and Skanda, who delighted the heart of the host of gods, 

was born or Um~ by (iwa, so was born of her by that king the illustri­ 

ous Balaputra, who was expert in crusing the pride of all the rulers of 

the world, and before whose footstool (the seat where his lotus feet 

rested) the group of princes bowed. 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 

With the mind attracted by the manifold excellences of Nalanda 

and through devotion to the sun of (uddhodana (the Budha) and 

having realized that riches was fickle like the waves of a mountain 

stream, he whose fame was like that of Sangharthamitra. 

This might possibly mean that his wealth befriended the cause of 

the Sangha. Built there (at Nalanda) a monastery wich was the abode 

of the assembly of monks of various good qualities and was white 

with the series of stuccoed and lofty dwellings. Having requested, 

King Dewap~ladewa who was the preceptor for initiating into widow­ 

hood the wives of all the enemies, through envoys, very respectfully 

and out of devotion and issuing a charter, (he) granted these five 

villages whose purpose had been motived above for the welfare of 

himself, his parents and the world. As long as there is the continuance 

of the ocean, or the Ganges has her limbs (the currents of water) 

agitated by the extensive plaited hair of Hara ( iwa), as log as the 

immovable king of snakes ( esa) lighlty bears the heavy and exten­ 

sive earth every day, and as long, as the (Udaya) Eastern and, (Asta) 

Western mountains have their crest jewels scratched by the hoofs of 

the horses of the Sun, so long may this meritorious act, setting up 

virtues over the world, endure. 

993 

Prasasti Nalanda menimbulkan pelbagai persoalan. Persoalan 

yang pertama ialah pengakuan Balaputra sebagai keturunan Sailendra 

di Jawa yang menjadi raja Suwarnadwipa. Dalam hal ini, Suwar­ 

nadwipa yaitu  Sriwijaya. Bagaimana Balaputra dari keturunan 

Sailendra mungkin menjadi raja Suwarnadwipa? 

Persoalan yang kedua ialah siapa yang dimaksud dengan raja 

Sailendra J awa, yang menjadi nenek Balaputra dan mempunyai 

epiteton w~rawairimathana itu? Apakah beliau termasuk salah satu 

di antara raja-raja di Poh Pitu yang disebut pada prasasti Kedu? Jika 

termasuk, siapa beliau itu? Bagaimana hubungan antara rajakula 

Sailendra di Semenanjung seperti terpahat pada batu Ligor B? 

Raja Sailendra Jawa, yang menjadi nenek Balaputra, dikatakan 

mempunyai putra yang bernama Samaragrawira, yakni ayah Bala­ 

putra. Adakah nama Samaragrawira pada piagam N alanda ini sama 

dengan Samaratungga pada piagam Karang Tengah? Perkawinan antara 

Samaragrawira dan Tara juga menimbulkan persoalan, sebab  prasasti 

Nalanda memberitakan bahwa Tara yaitu  putri raja Dharmasetu, 

994 Sriwijaya 

dari Somawangsa. Siapa sebetulnya raja Dharmasetu itu? Adakah 

betul beliau itu raja Sriwijaya, sehingga akibat perkawinan itu 

Balaputra memperoleh hak untuk menjadi raja Sriwijaya? Mengapa 

Balaputra yang mengaku cucu raj a Sailendra J awa melarikan diri ke 

Sriwijaya? Itulah beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian 

akibat perkenalan dengan prasasti Nalanda. 

Terbitan The Nalanda Copperplate of Dewapaladewa segera 

menarik perhatian sarjana purbakala F.D.K. Bosch. Pacla tahun 1925, 

Bosch menyambut terbitan tersebut untuk menulis karangannya yang 

berjudul Een oorkonde van het groote klooster te Nalanda dalam T.B. G. 

LXV hlm. 509-527. Genealogi Balaputra berclasarkan prasasti Nalan­ 

da pada hakikatnya sangat sederhana: Raja J awa yang mempunyai 

epiteton w~rawairimathana berasal dari rajakula Sailenclra, mempunyai 

seorang putra, Samaragrawira. Samaragrawira kawin dengan putri 

Tara dari Somawangsa. Dari perkawinan itu lahir Balaputra, raja 

Suwarnadwipa. 

Genealogi yang sangat sederhana itu menghendaki penjelasan. 

sebab  epiteton raja Sailenclra Jawa yang tercatat pada prasasti Na­ 

landa itu hampir sama dengan epiteton raja yang mengeluarkan 

piagam Kelurak, Bosch menyamakannya dengan Dharanindra. R.C. 

Majumdar juga tertarik kepada terbitan tersebut, clan menulis 

karangan dalam monografi Varendraresearch Society I pada tahun 1926. 

Krom dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis hlm. 156 menyamakan 

Samaragrawira clengan Samaratungga pada piagam Karang Tengah. 

Identifikasi Yawabh~mip~lah dengan Dharanindra dan Sama­ 

ratungga clengan Samaragrawira diterima sepenuhnya oleh De 

Casparis clalam Prasasti negara kita  I. Ia menganggap hubungan antara 

Dharanindra dan Samaratungga sebagai hubungan antara bapak clan 

putra. Dari gaya bahasa yang digunakan oleh prasasti Nalanda, terasa 

bahwa pada waktu prasasti itu dikeluarkan, Samaragrawira telah 

wafat. sebab  Samaragrawira disamakan dengan Samaratungga, maka 

dapat diraba berkat analisis prasasti Karang Tengah dan Gandasuli, 

bahwa wafat Samaragrawira itu antara tahun 824 dan 832. Pada 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 995 

waktu itu, menurut De Casparis, agaknya putranya, Balaputradewa, 

telah beberapa lama menetap di Sumatra clan memerintah sebagai 

raja. sebab  pada prasasti Nalanda disebutkan bahwa Samaragrawira 

kawin dengan Tara, putri Sri Dharmasetu, dengan sendirinya Tara 

dianggap permaisuri Samaratungga. sebab  pada prasasti Karang 

Tengah Pramodawardhani yaitu  putri Samaratungga, maka dengan 

sendirinya Pramodawardhani yaitu  putri Samaragrawira juga. Akibat 

analisis prasasti Nalanda itu, timbul nama Balaputra, putra 

Samaragrawira. sebab  Samaragrawira yaitu  Samaratungga, maka 

Balaputra yaitu  putra Samaratungga. Pendapat ini dipertahankan 

juga dalam Prasasti negara kita  II di bawah judulA Metrical Old-Javanese 

Inscription Dated 856 A.D. 

Dengan sendirinya De Casparis terbentur pada prasasti Karang 

Tengah, yang menyatakan bahwa Samaratungga hanya mempunyai 

seorang putri yang bernama Pramodawardhani. Seperti telah kita 

ketahui, pada tahun 824 Pramodhawardani meresmikan bangunan 

candi makam Jinalaya. Andaikata Samaratungga mempunyai putra, 

sudah pasti bahwa peresmian candi itu dilakukan oleh putranya. 

Untuk menghindarkan kontradiksi itu, De Casparis memberikan 

keterangan: 

Akibat perkawinan dengan salah seorang putri dari Sriwijaya, 

maka Balaputra menjadi raja di Sriwijaya. Setelah Balaputra me­ 

ninggalkan Jawa, di Jawa tidak ada lagi rajaputra yang mewarisi takhta 

kerajaan. Putri Samaratungga telah dikawinkan dengan rakai Pikatan. 

Dengan jalan demikian, rakai Pikatan memperoleh sekadar 

kekuasaan untuk memerintah sebagian dari Jawa Tengah. Kemung­ 

kinan lain ialah bahwa Balaputra belum dewasa ketika ayahnya 

meninggal, sehingga ia belum diizinkan memerintah. Berhubung 

dengan timbulnya perubahan suasana yang sebab-sebabnya tidak 

dapat diketahui dengan pasti, Balaputra kemudian menjadi raja di 

Sriwijaya. 

Kita merasa bahwa keterangan di atas agak dicari-cari, untuk 

menghindari kontradiksi. Pada prasasti Karang Tengah, jelas bahwa 

Samaratungga hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawar- 

996 Sriwijaya 

dhani. Tetapi, akibat penyamaan antara Samaratungga pada prasasti 

Karang Tengah clan Samaragrawira pada prasasti Nalancla, terpaksa 

Samaratungga mempunyai dua orang anak: yang satu laki-laki, yakni 

Balaputra, yang lain seorang putri, yakni Pramoclawarclhani. 

Untuk menghindarkan kesulitan ten tang kedudukan Balaputra, 

dicarikan jalan perkawinan clengan putri dari Sriwijaya. Hubungan 

antara Balaputra dan Pramodawardhani lalu seperti hubungan kakak 

clan aclik atau dua saudara sekandung. Seo rang rajaputra tidak mudah 

meninggalkan haknya atas takhta dan pergi ke tempat lain untuk 

menjadi raja akibat perkawinan. 

Pokoknya, keterangan yang diberikan tidak memberikan 

keyakinan. Kontradiksi yang timbul kiranya akibat salah identifikasi. 

Terbukti bahwa iclentifikasi Samaragrawira dengan Samaratungga 

menimbulkan kontradiksi. Suatu tancla bahwa ada sesuatu yang tidak 

cocok. Identifikasi antara Samaragrawira clan Samaratungga yang 

menimbulkan kontradiksi itu juga diterima oleh Bosch dalam karang­ 

annya yang berjudul (riwijaya, de Gailendra en de Sanjayawam¢ad 

dalam B.I.I. 108, hlm. 113-123. Kita clapat melihatnya secara jelas 

pada silsilah yang disusunnya pada hlm. 123. 

Meskipun nama Samaragrawira pada piagam Nalanda itu mirip 

sekali dengan nama Samaratungga pada piagam Karang Tengah, 

namun saya berpendapat bahwa Samaragrawira clan Samaratungga 

itu nama dua tokoh sejarah yang berbeda-beda. Kedua-duanya me­ 

mang termasuk rajakula Sailendra dan berasal dari Jawa Tengah. 

Dalam pembahasan prasasti Gandasuli, telah saya kemukakan 

bahwa identifikasi antara Dang Karayan partapan mpu Palar pada 

prasasti Gandasuli dan sri maharaja rakai Garung pada prasasti Keclu 

tidak cocok, sebab  sampai ajalnya Dang Karayan Partapan mpu Palar 

hanya menclucluki jabatan haji. Kedudukan itu lebih rendah daripada 

kecluclukan raja. Pada waktu itu, yang menjacli raja ialah 

Samaratungga. N ama Samaratungga, rakai Garung, clan Dang 

Karayan Partapan terdapat pada prasasti yang dikeluarkan sezaman. 

Nama Samaratungga pada prasasti Karang Tengah (tahun 824); nama 

Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 997 

rakai Garung pada prasasti Pengging (tahun 819); dan nama Dang 

Karayan Partapan mpu Palar pada prasasti Karang Tengah dan 

Gandasuli (tahun 824 dan 832). 

Dari prasasti Karang Tengah, dapat kita ketahui bahwa Dang 

Karayan Partapan yaitu  pembesar bawahan Samaratungga, dan dari 

prasasti Gandasuli, kita ketahui bahwa Dang Karayan mempunyai 

kedudukan haji, bukan raja. Jadi, tidak mungkin disebut sri maha­ 

raja. Demikianlah, identifikasi antara rakai Garung dan Dang Karayan 

Partapan tidak mungkin. Pada awal abad ke-9, yang bergelar maha­ 

raja hanya Samaratungga. Pada prasasti Kedu, rakai Garung bergelar 

sri maharaja. Demikianlah, pada p