dak pernah ditemukan. Hal itu agak aneh. Justru sebab
Bali tung pada prasasti Kedu hanya menyebut gelar rakai yang diikuti
dengan nama tempat, tidak menyebut nama pribadi atau nama
abhisekanya, maka agak sulit untuk memperoleh keterangan. Prasasti
dapat dikeluarkan atas nama pribadi, atau atas nama abhiseka raja
yang bersangkutan.
Prasasti Karang Tengah dengan Samaratungga
Prasasti Karang Tengah dekat Temanggung di Jawa Tengah terdiri
dari dua bagian ditulis dalam bahan Sanskerta dan bahasa Jawa kuno.
Bagian yang ditulis dalam bahasa Sanskerta isinya berbeda dengan
yang ditulis dalam bahasa Jawa kuno. Bagian yang ditulis dalam
bahasa Jawa Kuno telah dimuat dalam O.J.O. no. IV. Tarikh tahunnya
yaitu tahun Saka 769, namun ternyata bacaan Brandes kurang
tepat. De Casparis dalam Prasasti negara kita I hlm. 31/40 membacanya
tahun 746 atau tahun Masehi 824. Tarikh tahun 746 itu cocok
dengan tarikh tahun yang terdapat pada bagian yang ditulis dalam
bahasa Sanskerta. Bagian Sanskerta menggunakan candrasangkala rasa,
s@gara, ksitidhara, yang masing-masing menunjukkan angka 6, 4,
dan 7.J adi, tarikh tahunnya ialah 7 46 Saka. Demikianlah, kedua
prasasti itu ditulis pada waktu yang sama.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 195
Bagian Sanskerta menderita banyak kerusakan sebab batunya
pecah. Bagian atas kiri dan tengah hilang. Bagian yang masih ada
telah ditranskripsikan dengan huruf Latin dan diterjemahkan oleh
De Casparis. Isinya seperti berikut:
Raja Samaratungga mempunyai seorang putri bernama
Pramodawardhani. Putri Pramodawardhani membangun Jinalaya
yang sangat indah. Pada tahun Saka 746 atau tahun Masehi 824,
area yang dimuliakan ditempatkan dalam candi yang telah dibangun.
Arca itu bersinar seperti bulan yang, sebab ketakutan kepada Rahu,
jatuh kembali ke bumi. Kemudian dinaikkan di atas kaki candi, yang
telah dibangun sangat indah oleh orang-orang tua dengan bantuan
orang-orang muda.
Mudah-mudahan, beliau, berkat pembangunan candi Jina itu,
dapat mencapai sepuluh tingkat ke-Budha-an. Saya berharap agar
saya pun, jika sampai giliran saya, dapat mencapai tingkat yang sangat
sulit dicapai itu-tingkat yang tertinggi, yang ... Selama gunung Meru
masih jadi tempat kediaman para dewa, dan selama matahari di angkasa
masih bersinar demi kehidupan ribuan manusia, mudah-mudahan
selama itu pula umur bangunan ini penuh dengan keutamaan Budha.
Bagian Jawa kuno sedikit pun tidak menyinggung soal pem
bangunan candi Jinalaya. Bagian itu menguraikan pembebasan tanah.
Pada tahun 7 46 atau tahun Masehi 824, rakarayan Patapan mpu
Palar menghadiahkan ladang padi sebagai tanah perdikan yang terletak
di Babadan, Lo Pandak, Kisir, Santo i Karung, Petir, Kuling, dan
Trihaji. Ukuran tanah itu disebut dengan teliti. Untuk keperluan
tersebut diundang saksi dari pelbagai desa; lengkap dengan nama
dan tempat tinggalnya; anak dan jabatan para saksi dicatat pada
piagam itu. Para saksi yang bersangkutan memperoleh hadiah masing
masmg.
Boleh dipastikan bahwa hadiah tanah perdikan itu bertalian
dengan pembangunan candi Jinalaya yang disebut pada bagian
Sanskerta. Hadiah tanah itu diberikan oleh rakarayan Partapan mpu
Palar. De Casparis berpendapat bahwa tidak ada alasan sama sekali
untuk mengidentifikasikan rakarayan Patapan mpu Palar itu dengan
Samaratungga. la beranggapan bahwa rakarayan Patapan yaitu raja
196 Sriwijaya
dengan gelar Jawa: rakai, rakarayan, atau kariyana. Raja-raja Jawa
itu yaitu raja bawahan raja Sailendra. De Casparis membandingkan
prasasti Karang Tengah dengan prasasti Kalasan, yang memuat nama
rakai Panangkaran. Ia sependapat dengan van Naerssen bahwa raja
Panangkaran yaitu raja bawahan Sailendra. Demikian pula halnya
dengan rakai Patapan dalam hubungannya dengan Samaratungga.
Bagaimanapun, rakarayan Patapan tidaklah sama dengan
Samaratungga. Titel rakarayan bukanlah gelar raja semata-mata. Hal
itu tidak hanya terbukti pada zaman Majapahit saja, tetapi juga pada
zaman pemerintahan raja Sanjaya. Contoh yang baik kiranya dapat
diambil dari piagam Gata clan Taji Gunung dari tahun 771 clan
772. Pada piagam Gata, terdapat nama rakryan Gurun Wangi. Pada
piagam Taji Gunung jelas disebut rakryan Gurun Wangi. Mahamantri
juga disebut rakryan. Demikianlah, rakarayan Patapan tidak perlu
menjabat raja. Yang pasti ialah bahwa rakarayan Patapan yaitu
bawahan Samaratungga.
Hampir semua prasasti tentang hadiah tanah yang langsung
berhubungan dengan rakyat, clan mengundang rakyat desa sebagai
saksi ditulis dalam bahasa Jawa kuno. Tetapi prasasti-prasasti resmi
tentang peresmian candi hampir semuanya ditulis dalam bahasa
Sanskerta. Peresmian candi Kalasan, peresmian arca Manju~ri di
Kelurak, pembangunan Jinalaya di Karang Tengah, peresmian lingga
di atas gunung Wukir, ditulis dalam bahasa Sanskerta. Salah satu
kekecualian ialah peresmian pembangunan candi makam di desa
Wantil, seperti diuraikan pada prasasti Balaputra-Jatiningrat atau A
Metrical Old Javanese Inscription Dated 856; termuat dalam Prasasti
Indonsia II hlm. 280-330.
Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa kuno, boleh dikatakan
pada akhir zaman pemerintahan rajakula Sailendra. Kesan yang
diperoleh ialah bahwa prasasti yang langsung berhubungan dengan
rakyat clan hams diketahui oleh rakyat ditulis dalam bahasa rakyat,
yakni bahasa Jawa kuno. Tetapi prasasti yang sifatnya resmi tentang
kepentingan raja-raja, baik kepentingan rajakula Sanjaya maupun
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 197
kepentingan rajakula Sailendra, ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Kiranya prasasti Karang Tengah itu harus ditafsirkan demikian juga.
Bagian J awa kunonya langsung mengenai tanah perdikan candi, yang
memerlukan kesaksian rakyat, sedangkan bagian Sanskerta-nya
langsung mengenai peresmian bangunan candi makam, kepentingan
khas keluarga raja. Peresmian pembangunan lingga di atas gunung
Wukir oleh raj a Sanjaya ditulis dalam bahasa Sanskerta, tetapi prasasti
Gata dan Taji Gunung tentang soal tanah untuk pembangunan candi
Timbangan Wungkal ditulis dalam bahasa Jawa kuno. Kedua prasasti
itu jelas menggunakan tarikh Sanjayawarsa, ditulis oleh keturunan
Sanjaya.
Pembebasan tanah demi pembangunan candi tidak mutlak
dilakukan oleh raja. Apalagi jika pembangunan candi itu demi
kepentingan keluarga raja. Dalam hal yang demikian, maka rakyat
sebenarnya yang memberikan hadiah tanah kepada raja. Oleh sebab
itu, rakyat hams diberi tahu, dan untuk kerelaannya rakyat sekadar
mendapat pepulih berupa hadiah uang/barang atau ganti tanah. Jika
pembebasan tanah demi kepentingan bangunan umum sebagai
hadiah raja, biasanya raja yang melakukan pembebasan dengan
kesaksian rakyat. Dalam soal tanah perdikan pada prasasti Karang
Tengah, keluarga raja yang mendapat keuntungan, sebab rakyat
menyerahkan tanahnya demi pembangunan candi Jinalaya. Oleh
sebab itu, rakyat diikutsertakan pada prasasti yang bersangkutan,
dikepalai oleh rakarayan Patapan.
Pada prasasti Taji Gunung, penyerahan tanah rakyat demi
kepentingan pembangunan candi Timbangan Wungkal dilakukan
sri maharaja Tunggawijaya. Perintah pembebasan tanah diberikan
oleh raja kepada rakaryan mahamantri dan rakryan gurun Wangi.
Peresmian pawikuan Timbangan Wungkal dilakukan oleh rakryan
mahamantri dan rakaryan Gumn Wangi.
J elas sekali di sini bahwa gelar rakaryan a tau rakarayan tidak
semata-mata digunakan oleh raja bawahan. Pada prasasti Kalasan,
gelar itu digunakan oleh Pancapana Panangkaran, yang juga bergelar
198 Sriwijaya
sri maharaja. Demikianlah, kiranya rakarayan Patapan mpu Palar
bukan raja bawahan raja Sailendra Samaratungga, tetapi pembesar
bawahan Samaratungga. Dialah yang diserahkan mengatur urusan
penyerahan tanah rakyat demi kepentingan pembangunan candi
makam Jinalaya. Rakai Patapan tidak bisa diidentifikasikan dengan
Samaratungga atau salah satu raja dalam daftar prasasti Kedu; tidak
bisa diidentifikasikan dengan rakai Garung. Seperti kita ketahui,
nama yang mengikuti rakai yaitu nama tern pat atau jabatan. Garung
dan Patapan yaitu dua tempat yang berlain-lainan. Itulah sebabnya,
maka identifikasi rakai Garung dan rakai Patapan seperti yang
dilakukan oleh Bosch dalam silsilah <;riwijaya, de (ailendra - en de
Sanjayawamca tidak dapat diterima.
Prasasti Karang Tengah bagian Sanskerta memberikan bahan
sejarah yang berharga bagi pengetahuan tentang perkembangan
rajakula Sailendra khususnya, dan perkembangan sejarah kerajaan
Jawa Tengah umumnya.
Pertama-tama, prasasti tersebut menyebut raja Samaratungga.
Nama Samaratungga tidak kedapatan pada daftar silsilah raja-raja
Poh Pitu pada prasasti Kedu. Namun, pada piagam Nalanda yang
dikeluarkan oleh raja Dewapala di Pataliputra atas permintaan raja
Suwarnadwipa Balaputradewa, terdapat nama yang hampir serupa,
yakni Samaragrawira. Kedua-duanya mulai dengan Samara. Hanya
bagian belakangnya yang berbeda. Yang satu berbunyi: grawira, yang
satu lagi tungga. sebab pada prasasti Nalanda itu dinyatakan bahwa
Samaragrawira yaitu putra raja Jawa dari rajakula Sailendra, pem
bunuh musuh-musuh perwira, maka timbul dugaan bahwa Samara
grawira pada prasasti N alanda sama dengan Samaratungga pada
prasasti Karang Tengah. Aktivitas raj a Samaratungga diarahkan kepada
pengmbangan agama Budha. Rajakula Sailendra yaitu pemeluk
agama Budha Mahayana. Demikianlah, penyamaan antara Sama
ragrawira dan Samaratungga itu berdasar alasan yang kuat sekali.
Tentang penyamaan antara Samaratungga dan Samaragrawira ini,
kita tangguhkan sampai kepada pembahasan prasasti Nalanda.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 199
Tokoh kedua ialah Pramodawardhani, yang dinyatakan sebagai
putri Samaratungga. Aktivitasnya diarahkan kepada pembangunan
Jinalaya. De Casparis menduga bahwa peresmian candi makam
Jinalaya itu mempunyai hubungan dengan pencandian raja Sailendra
Dharanindra yang disebut pada prasasti Kelurak dan dianggap sebagai
nenek Pramodawardhani.
De Casparis dalam Prasasti negara kita I masih menyebut raja
Sailendra pada prasasti Kelurak itu Indra saja; bukan Dharanindra.
sebab ada identifikasi antara Samaragrawira dan Samaratungga,
sedangkan pada piagam N alanda, Samaragrawira dinyatakan kawin
dengan putri Tara dari Somawangsa, maka dengan sendirinya
Pramodawardhani dianggap sebagai putri Samaragrawira yang lahir
dari perkawinannya dengan Dewi Tara. Pramodawardhani lalu
menjadi saudara perempuan Balaputradewa.
Pembicaraan tokoh Pramudawardhani akan kita jumpai dalam
pembahasan prasasti Nalanda dan prasasti Balaputra-Jatiningrat, serta
pada prasasti c_;:ri Kahulunan. Nama Pramodawardhani tersangkut
dalam pembahasan prasasti Jatiningrat, sebab Pramodawardhani
kawin dengan Jatiningrat alias rakai Pikatan. Tersangkut dalam
prasasti c_;:ri Kahulunan, sebab beliau yaitu putri yang mengeluarkan
prasasti tersebut.
Yang agak menarik perhatian ialah bahwa pada piagam Karang
Tengah itu, juga disebut sepuluh tingkat ke-Budha-an yang kiranya
juga mempunyai hubungan dengan pembangunan candi Budha
Barabudur. Ungkapan-ungkapan yang tercantum pada prasasti Karang
Tengah sangat menarik perhatian untuk mengetahui perkembangan
ajaran agama Budha Mahayana di Jawa Tengah.
Prasasti Sri Kahulunan dan Pramodawardhani
Prasasti Sri Hahulunan (<;ri Kahulunan) berasal dari Magelang.
Tidak diketahui asal mulanya ditemukan prasasti tersebut. Prasasti
Sri Kahulunan telah termuat dalam O.J.O. No. XVII dan ditran
900 Sriwijaya
skripsikan oleh Brandes. Ternyata bahwa baik pembacaan tarikh
tahunnya maupun transkripsi teks kurang sempurna. Tarikh tahunnya
dibaca oleh Brandes tahun Saka 884. Menurut bacaan De Casparis,
tarikh tahunnya yang benar ialah 764 atau tahun Masehi 842.
Prasasti Sri Kahulunan yaitu prasasti persumpahan bertalian
dengan pembebasan tanah menjadi sima atau tanah perdikan candi.
Tanah itu disebut Sri Kahulunan, sebab tanah tersebut menjadi
milik Sri Kahulunan. Sri Kahulunan yaitu gelar permaisuri raja.
Keterangan ini didapat oleh De Casparis dari analogi dengan gelar
dalam Udyogaparwa sebagai gelar Dewi Kunti. Judistira menyebut
ibunya "Sri Kahulunan". Demikianlah, kata Kahulunan itu tidak
berasal dari kata hulun yang berarti "abdi. Dalam bahasa J awa kuno,
sang hulun (B. Y. XXXVIII) berarti "tuan putri; sinasanghulun: diakui
sebagai tuan putri.
Siapa sebenarnya putri yang menyebut dirinya Sri Kahulunan
itu, De Casparis memberikan keterangan yang sangat menarik
perhatian. Analisis yang dibuatnya untuk mengidentifikasikan Sri
Kahulunan itu sangat menakjubkan. De Casparis berhasil mem
bandingkan prasasti Sri Kahulunan itu dengan prasasti-prasasti
pendek yang ditemukan di candi Plaosan Lor. Pada prasasti-prasasti
pendek dari Plaosan itu, kedapatan beberapa kali gelar Sri Kahulunan.
Gelar Sri Kahulunan terpahat pada candi kecil deretan tengah no.
21 dan deretan dalam no. 22. Di belakang candi no. 21, terdapat
rumah kecil dalam deretan-luar no. 24; terdapat gelar terpahat yang
berbunyi dharmma ...r~ja. Sudah pasti bahwa gelar yang lengkap
ialah dharma cri mah~r~ja. Pada candi-candi kecil di Plaosan itu,
kedapatan 15 kali. Deretan-dalam berisi 50 candi, deretan-tengah
berisi 58 candi, dan deretan-luar berisi 66 candi.
sebab dari literatur telah diketahui bahwa gelar Sri Kahulunan
yaitu gelar permaisuri, maka kesimpulannya ialah bahwa Sri
Kahulunan yang terpahat pada candi no. 21 deretetan-tengah dan
no. 22 deretan-dalam yaitu permaisuri sri maharaja yang terpahat
15 kali itu. Nama yang terpahat pada candi no. 14 dan 15 deretan-
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 901
luar lebih panjang daripada yang lain-lainnya. Nama itu bunyinya:
cri mah~r~ja rakai Pikatan. Nama itu terang terdapat pada daftar
silsilah raja-raja di Poh Pitu pada prasasti Kedu dan pada prasasti
candi Perot pada tahun 850. Demikianlah, Sri Kahulunan yaitu
permaisuri sri maharaja rakai Pikatan.
Dalam terbitannya, Prasasti II hlm. 280-330, De Casparis
membahas kakawin Jawa kuno dari tahun 856 di bawah judul A
Metrical Old Javanese Inscription Dated 856. Pada 7 menguraikan
bahwa sang raja memeluk agama Siwa; berbeda dengan sang
permaisuri. Dari analisis itu, ternyata bahwa yang dimaksud dengan
sang raja yaitu rakai Pikatan, yang dalam kakawin itu menyebut
dirinya J atiningrat. Demikianlah, dapat dipastikan bahwa rakai
Pikatan kawin dengan permaisuri dari wangsa Sailendra yang beragama
Budha Mahayana. Permaisuri itu yaitu Pramodawardhani, putri
raja Samaratungga yang namanya tercatat pada piagam Karang
Tengah. Sri Kahulunan yang tercata pada piagam Sri Kahulunan
dan terdapat di Magelang yaitu putri Pramodawardhani, yang pada
prasasti Karang Tengah membangun candi Jinalaya.
Prasasti Sri Kahulunan, seperti telah disinggung di atas, yaitu
prasasti persumpahan bertalian dengan pembebasan desa-desa di
Kedu Selatan untuk pembangunan candi dan dijadikan tanah milik
sang permaisuri alias Sri Kahulunan.
Isi persumpahan itu termuat pada akhir prasasti dari baris 26
33. Bunyinya seperti berikut: "Seperti halnya dengan telur, jika telah
dirusak tidak lagi dapat menetas, demikian pula barang siapa merusak
batu ini. Ia akan musnah. Jika ia masuk hutan, semoga ditelan hari
mau; jika berjalan di ladang, semoga digigit ular . . Jika ke sungai,
semoga dimakan buaya. Demikianlah, semoga musnah barang siapa
yang berani merusak tanah Sri Kahulunan."
Yang sangat penting dari prasasti persumpahan itu ialah
permulaannya, sebab permulaan prasasti itu menyebut batas tanah
Sri Kahulunan yang dijadikan tanah perdikan Kam~lan Bh~mi
sambh~ra. Yang dibebaskan ialah desa Teru di Tepusan, sawah
909 Sriwijaya
kanayakan, sawah para petugas (wikenas), ladang para kawula (pen
duduk). Yang diserahi tugas melaksanakan ialah pembesar desa
Rukap bernama Widya dan istrinya, Mutra. Selanjutnya disebut
pelbagai nama orang lainnya yang ikut serta melaksanakan perintah
Sri Kahulunan beserta desa tempat tinggalnya. Kemudian menyusul
para saksi lengkap dengan nama dan tempat tinggalnya. Mereka
masing-masing menerima hadiah yang berbeda-beda.
Penyebutan desa-desa itu penting untuk mengetahui di mana
letak tanah perdikan Sri Kahulunan yang dijadikan sima Kam~lan
Bhmisambh~ra. Bagaimanapun juga, desa-desa itu yaitu desa
tetangga kedelapan kiblat dari tempat yang dijadikan pusat bangunan
yang didirikan di Kam~lan Bh~misambh~ra.
Kombinasi antara nama-nama desa yang disebut pada prasasti
Sri Kahulunan dan nama-nama desa yang disebut pada prasasti Kedu
dapat menghasilkan keterangan yang mendekati kenyataan mengenai
letak desa-desa tersebut terhadap desa yang dijadikan pusat. Prasasti
Kedu menyebut 24 desa. Jika 24 desa itu terdapat dalam lingkungan
yang berkiblat delapan, maka setiap kiblat memuat 3 desa.
Demikianlah, terdapat tiga lapis desa dari pusat. Yang menjadi pusat
yaitu desa Mantyasih. Secara berturut-turut ke arah selatan menuju
Kedu, Pamandayan, lalu Tepusan. Nama desa Tepusan terdapat pada
prasasti Sri Kahulunan.
Prasasti Sri Kahulunan menyebut nama sima Kam~l~n Bh~mi
sambh~ra. Identifikasi dan lokalisasi Kam0l~n Bh~misambh~ra itu
penting sekali bertalian dengan adanya candi Barabudur di daerah
Kedu Selatan. Untuk dapat melokalisasikan Kam~l~n Bh~misambh~ra
di Barabudur, diperlukan banyak keterangan. Dalam hal ini, De
Casparis memberikan keterangan tentang nama Barabudur dalam
bukunya, Prasasti negara kita I hlm. 164-170, dan keterangan tentang
nama Kam~ln dari hlm. 170-175. Secara ringkas keterangannya
seperti berikut:
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 903
a. Kamulan
Sudah jelas bahwa bangunan yang didirikan di tanah perdikan
Sri Kahulunan disebut Kamlan (Kamulan). Pokok katanya ialah
mla, artinya: akar atau asal, permulaan. Bubuhannya ka- dan -an.
Jadi, kata kaml~n artinya: permulaan.
Kata kamlan digunakan pada: 1). Prasasti Siman dari Kediri
(O.JO. XLVIII) dalam hubungan: sang hyang dharmma kaml~n.
Kata dharma di sini berarti: candi makam. 2) Prasasti dari Singasari
(O.J.O. XXXVIII) dalam hubungan mla kahyangan: permulaan
kahyangan. Gunung Wangkedi (Bromo) dianggap sebagai permulaan
kahyangan. 3) Prasasti dari Malang (0J.0. LI) dalam hubungan
sawat~ s l~wan kaml2an Walandit. berbatas dengan kamulan Walandit.
Dewa Brahma dianggap sebagai dewa yang menguasai segala basil
perdikan di Walandit. Batara Brahma biasa disebut swayambhu: lahir
dari kekuatannya sendiri; menjadi mla dari segala yang ada.
Candi makam di Walandit disebut sang hyang dharma kabuyutan:
candi makam nenek-moyang. Di sini kata buyut (moyang) mempunyai
arti yang sama dengan m~la. Kata kabuyutan = kaml~n: kenenek
moyangan.
Demikianlah, pada bangunan suci yang disebut kam~l~n,
tersembunyi pengertian kenenek-moyangan. Artinya bahwa ba
ngunan yang bersangkutan digunakan sebagai tempat persembahan
kepada nenek-moyang. Nenek-moyang yaitu asal manusia yang
memberikan persembahan. berdasar pendapat itu, maka Kam~l~n
Bhmisambh~ra di tanah perdikan Sri Kahulunan yaitu tempat
pemujaan atau persembahan nenek-moyang. sebab Pramodawar
dhani yaitu seorang putri pemeluk agama Budha dari wangsa
Sailendra, maka boleh dipastikan bahwa Kam~l~n Bh~misambhara
yaitu tempat pemujaan nenek moyang rajakula Sailendra.
Tingkat untuk mencapai kesempurnaan (ke-Budha-an) dalam
sistem agama Budha disebut bhumi. Tingkat yang tertinggi yaitu
tingkat kesepuluh. Jika orang sudah mencapai tingkat itu, ia sudah
menjadi Budha. Pada piagam Karang Tengah bagian Sanskerta tentang
904 Sriwijaya
pembangunan Jinalaya, Pramodawardhani berdoa agar yang di
muliakan mencapai tingkat kesepuluh ke-Budah-an. Demikianlah,
Kam~l~n Bh~misambh~ra merupakan tempat pemujaan nenek
moyang rajakula Sailendra, agar nenek moyang yang dipuja di tempat
itu berhasil mencapai ke-Budha-an.
b. Bh~misambh~ra
Telah disinggung di muka, bahwa bhumi di sini berarti tingkat
atau taraf untuk mencapai ke-Budha-an. Dalam agama Budha, tingkat
itu ada sepuluh. Tingkat kesepuluh yaitu tingkat yang sempurna.
Kata sambhara berarti: timbunan. Demikianlah bh~misambh~rad
berarti: timbunan tingkat. Bangunan yang didirikan di tanah perdikan
Sri Kahulunan yang disebut Kam0l~n Bh~misambh~ra harus terdiri
dari 10 tingkat.
Di daerah Kedu Selatan, memang ada bangunan candi Budha
yang bertingkat-tingkat. Bangunan candi Budha itu disebut candi
Barabudur. Jumlah tingkatnya memang sepuluh. Demikianlah, yang
dimaksud dengan Kam~ln Bh~mishamb~ra pada prasasti Sri Kahu
lunan itu yaitu candi Budha yang hingga sekarang disebut candi
Barabudur. Candi Barabudur yaitu candi pemujaan nenek moyang
rajakula Sailendra.
Timbullah persoalan: Mengapa candi Kam~ln Bh~misambh~ra
itu disebut Barabudur? N ama Barabudur tidak dikenal pada prasasti
Sri Kahulunan. Baik prasasti Sri Kahulunan maupun prasasti Kedu
menyebut nama-nama desa di sekitar tanah perdikan Sri Kahulunan
dan Kedu Selatan. Namun, di antara nama-nama desa itu tidak
terdapat desa yang bernama Budur. Bahwa kata bara pada nama
Barabudur berasal dari kata sambhara pada Bh~misambh~ra, tidak
menimbulkan kesulitan. De Casparis bertanya: Dari mana asal nama
buduritu?
Persoalan nama Barabudur sudah lama mendapat perhatian para
sarjana, baik di lingkungan sarjana Belanda maupun di lingkungan
sarjana negara kita , justru sebab di desa Barabudur itu terdapat
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 905
bangunan candi megah yang disebut candi Barabudur. Literatur
tentang persoalan Barabudur telah disusun oleh Dr. W.F. Stutterheim
dalam bukunya, Tjandi Baraboedoer, naam, vorm en beteekenis, pada
tahun 1929. Dalam buku itu dibahas persoalan nama, bentuk, dan
arti candi Barabudur, dilengkapi dengan gambar. Persoalan nama
terdapat pada hlm. 13-17.
Pembahasan nama Barabudur terbitan Stutterheim ini dengan
sendirinya telah mendapat perhatian De Casparis. Tidak ada jeleknya
pendapat-pendapat itu sekali lagi dikemukakan di sini. Pendapat
yang pertama dilontarkan oleh Prof. Poerbatjaraka dalam kongres
Taal Land- end Volkendune van Java tahun 1919 di Surakarta. Ia
menyamakan kata bara pada nama Barabudur dengan kata wihara.
Jadi, Barabudur ditafsirkan sebagai tempat bertegak wihara Budur.
Ia beranggapan bahwa di sekitar bangunan Barabudur dahulu
terdapat kelompok wihara. Nama bara banyak terdapat di sekitar
gunung Menoreh. Ada nama Bara Kidul.
Dilihat dari jurusan perkembangan kata, pendapat Prof.
Poerbatjaraka itu tidak dapat dipertahankan, sebab kata Sanskerta
wihara dalam bahasa Jawa juga terdapat dan dalam bahasa Indone
sia menjadi biara. Bunyi i pada wihara tetap dipertahankan. Satu
satunya kata Sanskerta yang dapat digunakan untuk memperkuat
pendapatnya ialah kata wyoma: awan; dalam bahasa J awa kuno
menjadi boma. Dilihat dari segi bangunan, pendapat itu lemah sekali.
Di sekitar candi Barabudur tidak ada wihara, dan tidak mungkin
pernah ada wihara.
Pendapat yang kedua diberikan oleh murid Stutterheim. Kata
budur disamakan dengan kata Minangkabau budur berarti: uitpuilen,
opbollen: menonjol. Dalam bahasa Minangkabau, bunyinya budu~.
Barabudur lalu diartikan wihara yang menjulang atau wihara di atas
bukit. Tafsiran itu terang tidak kena. Stuterheim menguraikan hu
bungan antara Sriwijaya dan J awa untuk memperkuat pendapat bahwa
kata budur dari Minangkabau terbawa ke J awa. Dalam bahasa J awa,
masih ada juga kata bidur. prentul yang gatal; dalam sakit biduren.
906 Sriwijaya
Rom menunjukkan bahwa di Jawa Timur juga ada desa yang bernama
Budur. Pokoknya, keterangan yang diberikan tidak memuaskan. Juga,
Stutterheim menganggap bahwa kata bara berasal dari kata wihara.
Wihara itu dibuat dari kayu, lambat-laun rusak, lalu lenyap.
Pendapat Stutterheim itu dikemukakan berhubung dengan
keberatan-keberatan Krom terhadap pendapat Poerbatjaraka, yang
menyamakan kata wih~ra dan bara pada kata Barabudur. Dari
penelitian prasasti Sri Kahulunan, terbukti bahwa kata bara pada
nama Barabudur tidak berhubungan dengan wih~ra, tetapi dengan
sambh~ra: timbunan. Dalam rangka ini De Casparis mencari makna
kata Budur.
Telah disinggung pula di muka bahwa kata bhmi yaitu tingkat
untuk mencapai ke-Budha-an. Tingkat yang jumlahnya 10 itu
merupakan bukit. Dalam bahasa Sanskerta, ada kata bhdhara,
artinya: bukit. Demikianlah, De Casparis menganggap bahwa nama
aslinya ialah Bh~misambh~rabhdhara, artinya: gunung timbunan
tingkatan (untuk mencapai ke-Budha-an). Untuk memperkuat
pendapatnya, dikemukakan bahwa kata bhdhara itu dapat berubah
menjadi budur. Sebagai analogi, diutarakan kata swara yang dapat
menjadi suwur melalui tingkat suwara.
Kata Bhmisambh~rabhdhara dapat mempunyai paling sedikit
tiga arti:
a). Sebagai istilah di dalam agama Budha Mahayana berarti: gunung
untuk mencapai kesempurnaan melalui Bodhisatwa yang terdiri
dari 10 tingkat.
b). Ditinjau dari segi arsitektur berarti: gunung yang bertingkat
tingkat.
c). Arti umum: raja (bhdhara) dari timbunan (sambh~ra) tanah
(bh~mi). Dalam arti yang terakhir ini, bh~misambh~ra mene
rangkan kata bhdara.J adi, pada hakikatnya pleonasme: sinonim
dari kata caila dan bhdhara.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 907
Dalam resensinya tentang Prasasti negara kita I, termuat dalam
B.KI. 108, tahun 1952, FD.K. Bosch menyinggung hipotesis De
Casparis tentang nama Bhmisambh~rabhdhara. Pokoknya, ia
meragukan hipotesis tersebut dan menyerahkan soal perubahan bunyi
kata bhdhara menjadi budur kepada orang yang lebih tahu.
Dalam majalah Bahasa dan Budaya no. 1 tahun 1952, saya
juga meragukan hipotesis De Casparis itu. Keberatan saya terutama
mengenai perubahan bunyi kata bhara menjadi budur, dengan
mengambil analogi perubahan kata swara menjadi suwur melalui
suwara. Kata Jawa suwur tidak mempunyai hubungan asal dengan
kata swara; kata suwur mempunyai hubungan asal dengan kata Arab/
Melayu mashur.
Keberatan yang kedua ialah tambahan kata bhdara. Nama yang
terbaca pada prasasti Sri Kahulunan ialah Kam~l~n Bhmishambh~ra.
Itulah kiranya nama lengkapnya sejak semula. Nama yang terlalu
panjang itu dalam pemakaian bahasa biasa disingkat. Yang di
hidupkan ialah kata bara, singkatan dari sambh~ra. Sudah pasti bahwa
penduduk desa di sekitar Kam~l~n Bh~misambh~ra tahu bahwa
tempat itu yaitu tempat pemujaan nenek moyang. Tetapi sebab
kaml~n dan bh~mi sudah lama hilang dari pemakaian bahasa, tidak
diingat lagi oleh penduduk desa di sekitarnya kemudian hari.
Desa yang bernama bara di sekitar gunung Menoreh ada
beberapa. Misalnya, Bara Kulon, Bara Kidul, Bara Kali Bawang. Untuk
membedakan desa bara tempat candi itu dari desa-desa baralainnya,
perlu dijelaskan. Penjelasan itu sesuai dengan sifat atau watak candi
yang terdapat di situ. Namanya yang asli ialah Kam~lan: pemujaan
terhadap nenek moyang. Di dalam bahasa J awa tengahan dan J awa
Baru, kata Kam~l~n dengan arti: tempat pemujaan arwah nenek
moyang tidak lagi dikenal oleh rakyat umum. Arwah nenek moyang
tidak lagi dikenal oleh rakyat umum. Arwah nenek moyang dalam
bahasa Jawa yaitu leluhur atau leluwur. Jelas bahwa kata leluhur berasal
dari kata ruhur atau duhur (duwur). Jadi, leluhur yaitu orang yang
sudah dimuliakan. Tempatnya ruhur atau duwur. Prasasti Kedu
908 Sriwijaya
Balitung menyebut para raj a di Poh Pitu rahyang rumuhun: para orang
terhormat yang telah mendahului, yang telah marhum. Arwah
leluhur itu mempunyai tempat yang tinggi, alias duwur, duhur.
Kiranya nama Barabudur itu terjadi dari kombinasi antara dua
unsur itu, yakni unsur sambhra dan unsur leluhur. Kata duhur
mendapat awalan ba(be) menjadi baduhur, baduwur-budur, sebab
bunyi aatau eterdesak oleh bunyi u. Kata Sunda heula artinya: muka;
ti heula atau ti pajun: di muka, dahulu, baheula: zaman yang sudah
mendahului, dahulu, zaman dahulu.
Di Bali ada nama Badahulu, sekarang menjadi Bedulu. Awalan
ba (be, bu) dengan pengertian memiliki sifat terdapat pada beberapa
kata. Misalnya, kata buntut: ekor; memiliki sifat tut. Dalam bahasa
J awa kuno, artinya: barisan belakang. Banding dengan kata menuntut;
ider: edar; mider: berkeliling; bunder: bulat; bundar; mingkem:
menutup; bungkem: tertutup, bungkam; tugel: putus, terpotong;
nugel: memotong; bugel: sepotong kayu yang sebagian telah dimakan
api, puntung kayu. Demikianlah, nama Barabudur artinya sama saja
dengan Kamlan Bhmisambh~ra.
Bertalian dengan kenyataan bahwa eandi Barabudur pada haki
katnya yaitu candi kamlan atau tempat pemujaan arwah nenek
moyang raja-raja Sailendra yang dibangun oleh Pramodawardhani,
maka De Casparis mengambil kesimpulan bahwa arwah nenek
moyang raja-raja Sailendra yang menjadi pendiri rajakula Sailendra
harus ditempatkan di tempat yang paling tinggi.
Pendiri Rajakula Sailendra yaitu Indra yang tersebut pada
prasasti Kelurak (menurut bacaan Coed~s yaitu Dharanindra).
Dharanindra sebagai pendiri rajakula Sailendra, yang berarti "Dewa
gunung', diwujudkan dengan area pada puneak eandi Barabudur.
Demikianlah, area Budha di puneak Barabudur, yang sangat kasar
dan sangat jelek pahatannya, yaitu area Dharanindra pada saat ia
mencapai ke-Budha-an, yakni pada saat ia melepaskan klega atau
kotoran yang penghabisan. Pada saat itu ia meneapai tingkat yang
tertinggi. Hanya dengan wajra, kleca yang terakhir itu dapat berhasil
dibersihkan. Yang mempunyai wajra ialah Aksobhya.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 909
Demikianlah, area Budha di puneak eandi Barabudur yaitu
arca Aksobhaya dalam semedi yang disebut wajropamasam~dhi, yakni
semedi untuk menghilangkan kleca yang terakhir. Dalam
wajropamasam~dhi itu, orang sedang dalam mencapai tingkat ke
Budha-an yang tertinggi, namun belum merupakan Budha yang
sempurna. Tingkatan itu baru tercapai setelah kleca yang terakhir
berhasil disingkirkan dengan wajra. Itulah sebabnya, maka bentuk
area Budha pada tingkat yang paling tinggi di eandi Barabudur tidak
sempurna.
Pada prasasti Karang Tengah tahun 824, Pramodawardhani
meresmikan bangunan Jinalaya dan berdoa agar yang dimuliakan
meneapai tingkat ke-Budha-an yang kesepuluh. Kiranya, pada waktu
itu juga eandi Barabudur diresmikan. Prasasti Sri Kahulunan dari
tahun 824 menyatakan bahwa Kam0l~n Bh~misambh~ra, pada waktu
itu, telah berdiri. Demikianlah, tarikh pembangunan eandi Bara
budur itu kira-kira tahun 824.
Dengan sendirinya timbul pertanyaan: Di mana jenasah
Dharaindra atau pendiri Sailendrawangsa itu dimakamkan? Dalam
hal ini, De Casparis menghubungkan eandi Barabudur dengan eandi
Pawon, yang terletak 1 ½ km di sebelah timur eandi Barabudur. Sudah
sejak lama, eandi Pawon dianggap sebagai eandi pendahuluan
Barabudur; dimaksud supaya para peziarah ke eandi Barabudur
mempersiapkan diri di eandi Pawon sebelum menginjak Kam~lan
Bhfrmisambhara. Anggapan itu timbul sebab orang memandang
eandi Barabudur yang berupa stupa sebagai "Leuchtturm des
Bhuddhismus". Pandangan itu harus dikoreksi. Candi Pawon memang
merupakan eandi pendahuluan, tetapi tidak diperuntukkan bagi para
peziarah, melainkan untuk raja pendiri rajakula Sailendra Dharaindra
yang dimakamkan di situ, supaya kemudian hari dapat mendaki
tingkat ke Bodhisattwa-an. Candi Pawon yaitu eandi makam atau
dharmma kaml~n. Namanya itu sendiri sebenarnya sudah menun
jukkan bahwa candi Pawon yaitu dharmma kamln atau dharmmad
kabuyutan; pawon berarti: dapur. Arti itu masih cocok dengan artinya
yang asli.
910 Sriwijaya
Dalam kerangka pemujaan terhadap arwah nenek moyang,
adanya dharmma kaml~n memang cocok sekali. Tetapi tidak dalam
rangka sepuluh Bodhisattwabh~mi. Untuk mengetahui kedudukan
candi Pawon dalam sistem Bodhisattwabh~mi, harus diingatkan
adanya taraf persiapan dalam sistem Bodhisattwabh~mi. Dalam
sistem Abhisamay~lamk~ra, ada dua taraf persiapan, yakni sambh~
ram~rga dan prayogam~rga, sebelum orang mulai menginjak bodhisat
twabh~mi yang paling rendah.
Kedua taraf persiapan itu berwatak keduniaan, disebut laukila,
sedangkan taraf bodhisatwa disebut lokottara. sebab eandi Pawon
terletak tepat di bawah bodhisattwabh~mi atau taraf ke-bodhisattwa
an, maka candi Pawon mempunyai fungsi prayogam@rga, yakni
persiapan yang terakhir (yang kedua). Dengan sendirinya timbul
pertanyaan: Manakah yang merupakan persiapan pertama atau
sambh~ramarga? Jawabnya ialah: Candi Mendut yang terletak di
sebelah barat dan menghadap ke arah barat daya, berbalikan dengan
arah eandi Barabudur.
Pada piagam Karang Tengah, jelas dinyatakan bahwa eandi
Jinalaya itu disebut wenuwana, artinya: hutan bambu. Nama wenu
wana yaitu tempat Budha Sakyamuni mengajar untuk pertama
kalinya. Bagaimanapun, area utama eandi Jinalaya Wenuwana harus
arca Budha dalam dharmacakramudr~. Candi Wenuwana melukiskan
dongeng binatang. Lukisan dongeng binatang itu memang terdapat
pada candi Mendut. Relief balustrade kaki candi menggambarkan
cakra di antara dua rusa. Demikianlah, eandi Jinalaya Wenuwana
yang disebut pada prasasti Karang Tengah yaitu eandi Mendut.
Candi Mendut terletak di sebelah barat eandi Pawon dan merupakan
taraf persiapan yang disebut sambh~ram~rga.
Inti ajaran Budha Sakyamuni yang disebut dharmacakrapad
wartana ialah bodhicittap~da. Adapun yang dimaksud dengan
bodhicittapada ialah keinginan untuk mencapai ke-Budha-an tidak
demi kepentingan diri sendiri dahulu, tetapi demi pembebasan or
ang-orang lain dari samsara. Itulah pokok ajaran agama Budha
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 911
Mahayana. Bodhicittap~da termasuk kerangka sambh~ram~rga. Demi
kianlah, baik nama Wenuwana maupun ajarannya yang disebut
dharmacakrapawartana sesuai dengan keadaan Candi Mendut.
Satu hal lagi yang pen ting untuk disebut ialah pengertian gotra
sebagai unsur sambh~ram~rga. Dalam agama Budha Mahayana, gotrad
merupakan unsur yang sangat penting. Gotra berarti kekeluargaan
dalam keagamaan demi kesucian. Juga, pengertian gotra itu dicamkan
dalam pemujaan nenek moyang, tetapi tidak khusus dalam arti
keagamaan, melainkan dalam arti kekeluargaan, keturunan.
Demikianlah, pada rajakula ~ailendra, pengertian pemujaan nenek
moyang itu dipersatukan dengan pengertian keagamaan Budha
Mahayana. Tiap raja masuk sebagai anggota @ryasantati. Hal ini
merupakan hipotesis baru yang bertalian dengan panil Bodhisattwa
pada dinding luar candi Mendut yang berjumlah sebelas.
Delapan panil memuat lukisan bodhisattawa, dua panil besar
memuat lukisan Dewi Tara, dan satu memuat Awalokitec;wara. Jika
Awalokitec;wara diikutsertakan dalam kerangka Budha Mahayana
~ailendra, maka jumlahnya sembilan. Jumlah Bodhisattwa sembilan
yaitu janggal dalam agama Budha Mahayana. Tambahan dua lukisan
dewi Tara juga janggal. Jumlah sembilan itu harus ditafsirkan dalam
kerangka pemujaan nenek moyang rajakula Sailendra.
Teras tertinggi candi Barabudur diperuntukkan bagi pendiri
rajakula Sailendra; teras kaki diperuntukkan bagi Dharanindra setelah
selesai menjalani prayom~rga, menginjak bh~mi yang terendah.
Sepuluh teras candi Barabudur diperuntukkan bagi sepuluh moyang
pendiri candi Barabudur, yakni Samaratungga. Jadi, sebelum
Samaratungga, telah ada sepuluh moyang yang menjadi raja. Sebelum
Dharanindra (ayah Samaratungga) yang mendirikan candi Mendut,
hanya ada sembilan moyang. Sembilan moyang itulah yang
diwujudkan sembilan bodhisattwa. Dua Tara itu kiranya dua orang
permaisuri raja Sailendra yang berasal dari seberang lautan. Untuk
pembuktiannya tidak ada cukup bahan. Demikian De Casparis.
919 Sriwijaya
Prasasti Gandasuli dan Dang Karayan Partapan
Prasasti Gandasuli ditemukan di Gandasuli dekat Temanggung,
dimuat dalam O./.O. CV dan telah dibahas oleh De Casparis dalam
Prasasti negara kita I. Prasasti Gandasuli, seperti prasasti-prasasti
lainnya, mulai dengan manggalacarana namac~iwaya. Ini berarti
bahwa prasasti Gandasuli bukan dikeluarkan oleh raja dari rajakula
Sailendra yang memeluk agama Budha Mahayana, melainkan oleh
pemeluk agama Siwa. Setelah manggalacarana, Prasasti segera mulai
dengan pujaan kepada Dang Karayan Partapan Ratnamahegwara Sida
Busu Pelar. Isinya:
Semua orang dari empat penjuru telah mendengar bahwa Dang
Karayan Ratnamahe~wara Sida Busu Pelar yaitu orang utama yang
telah banyak berjasa. lstrinya bernama Busu juga. Ibu Dang Karayan
Partapan bernama Jantakabbi. Ibu istrinya bernama Panuahan. Kedua
orang tua itu masing-masing menjaga putranya. Adik mpu Palar
bernama Busu Tarba; dua iparnya bernama Busu Bajra dan Busu
Uttara. Saudara sepupunya bernama Busu Tarai dan Busu Dandai.
lpar istrinya bernama Busu Huwuriyan. Pamannya yang bernama
Wisnuwrata diserahi jabatan nayaka untuk mengurus daerah Bunut.
lparnya yang bernama Busu Pandarangan dijadikan nayaka untuk
mengurus daerah Kahuluan. Anak-anaknya bernama Sida Busu Putih,
Tejah Pahit, Swasta, Pagar Wesi, dan Awak lndu. Mereka semuanya
perempuan.
Semua anak perempuan itu merupakan kekayaan dan kekuasaan
Dang Karayan Partapan. la sangat gembira, rezekinya berlimpah.
Wilayahnya terjaga. Semua penduduk desa dari timur, selatan, barat,
dan utara memuji kebijaksanaan Dang Karayan Partapan. Di situ ada
Dang Arcarya Dhawala, seorang sth~paka yang sangat mahir (pembuat
bangunan); bapuh munda Dang Karayan Siwarjita, nayaka di Prang
Kapulang. Semua orang bawahannya mahir membangun candi
makam yang sangat bagus lagi berguna. Mereka membuat area sang
haji (raja) di sebelah utara prasada Sang hyang Wintang; candi makam
itu dibuat bagus dan disertai tanah. Tanah bunga tiga barih. Pragaluh
tiga lattir. Tina Ayun empat lattir. Wunut tiga lattir. Pawijahan dua
lattir. Kaywara Mandir dua lattir. Wangur Baharu satu lattir. Mundu
dua lattir. Kakaylan satu lattir. Tarukan satu lattir. Ukuran tanah yang
dapat ditanami di Tanah Bunga seluruhnya ada 40 lattir.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah
Partakan (saksi?): di Walunuh mpu Posuh; di Pragaluh istri
Warpatih bernama Manulu; juga nayaka Kyubungan pembantu
Warpatih, bernama pu Lihasin; nayaka di Mantyasih bernama
Dapunta Marhy ang Jn~natatwa.
913
Demikianlah isi prasasti Gandasuli. Tidak mudah untuk
menerjemahkan prasasti tersebut. Banyak hal-hal yang masih agak
gelap. N amun, maksudnya kiranya dapat ditangkap. Prasasti
Gandasuli ditulis dalam bahasa Jawa kuno bercampur aduk dengan
bahasa Melayu Sriwijaya. Hal itu mengingatkan bahwa pemahat
prasasti tersebut mungkin berasal dari seberang lautan, mungkin
dari wilayah Sriwijaya. Tidak perlu di sini kita membicarakan soal
bahasa yang bercampur aduk itu secara terperinci. Yang pokok ialah
mengetahui sekadar isinya agar jangan sampai salah tafsir. Bahasanya
memang penuh dengan kata-kata Sriwijaya, hampir serupa dengan
prasasti TalangTuwo.
Nama mpu Pelar telah dikenal pada prasasti Karang Tengah.
Dialah yang mengeluarkan prasasti Karang Tengah bagian Jawa kuno
dengan sebutan Karayan Partapan. Jika bahasa prasasti Gandasuli
clan prasasti Karang Tengah bagian Jawa Kuno dibanding-bandingkan,
bedanya sangat besar. Prasasti Karang Tengah yang bersangkutan
bahasa J awa kunonya lebih rapi. Prasasti itu terang dikeluarkan oleh
Partapan mpu Pelar. Kiranya prasasti Gandasuli dikeluarkan oleh orang
lain, yang berasal dari seberang lautan. Pendapat ini berlainan dengan
apa yang dikemukakan oleh De Casparis.
Di belakang manggalacarana, terdapat candrasangkala yang
terjalin dalam kalimat; tidak segera dapat diketahui. Candrasangkala
itu berhasil diketahui oleh De Casparis. Bunyinya sahingan alas
partap@n: segenap arah (batas) hutan pertapaan. Kata-kata itu masing
masing mewakili angka 4, 5, dan 7; jadi mewakili tahun 754 atau
tahun Masehi 732. Dengan kata lain, prasasti Gandasuli dikeluarkan
delapan tahun sesudah prasasti Karang Tengah.
914 Sriwijaya
Tokoh Dang Karayan Partapan
Tokoh Dang Karayan Partapan sangat menarik perhatian De
Casparis. Pada Prasasti Karang Tengah, hanya disebut Karayan
Partapan mpu Palar. Pada prasasti Gandasuli, nama lengkapnya
disebut, yakni Dang Karayan Partapan Ratnamahegwara Sida Busu
Pelar.
Nama Palar dan Pelar hanya berbeda ortografinya, namun tokoh
nya sama tepat. Gelar dang ditambahkan pada gelar karayan; sama
dengan gelar rakarayan pada prasasti Karang Tengah. Gelar itu
disamakan dengan gelar karyana pada prasasti Kalasan, yang diper
untukkan bagi Pancapana Panangkaran. Pada prasasti Kalasan,
Pancapana sekali bergelar maharaja, satu kali bergelar kary~na. Oleh
sebab itu, gelar maharaja disamakan dengan gelar kary@na, sama
dengan gelar rakarayan, sama dengan gelar dang karayan. Pada baris
8 terdapat kata r@jya: kerajaan. Baik istrinya maupun anggota ke
luarganya bergelar busu, dan banyak yang mempunyai kedudukan
yang tinggi-tinggi seperti nayaka. Kesimpulan yang diambil oleh
De Casparis ialah bahwa Dang Karayan Partapan mpu Palar yaitu
raja. Jika delapan tahun sebelumnya ia masih ada di bawah kekuasaan
raja Sailendra Samaratungga, maka pada tahun 832 ia telah
membebaskan diri dari kekuasaan Sailendra.
Terhadp kesimpulan De Casparis itu, ada juga keberatan
keberatannya. Pertama, mengenai sebutan dang karayan atau
rakarayan. Pada prasasti Gandasuli itu, juga kedapatan orang lain
yang bergelar dang karayan, yakni Siwarjita, nayaka di Prang
Kapulang. Pada prasasti Gata dan Taji Gunung dari tahun 771 dan
772, gelar rakaryan atau rakryan juga digunakan oleh para
mahamantri dan rakryan Gurun Wangi. Sesudah tahun 850, banyak
lagi pembesar yang bergelar rakryan atau karayan atau rakarayan,
namun pembesar itu bukan raja bukan maharaja. Demikianlah, ada
keberatan untuk menyamakan gelar dang karayan dan rakarayan
dengan maharaja.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 915
Kata r@jya yang terdapat pada baris 8 memang berarti: kerajaan.
Adanya kerajaan pada prasasti Gandasuli tidak dapat dijadikan alasan
untuk menetapkan bahwa mpu Palar telah melepaskan diri dari
kekuasaan Sailendra dan mendirikan kerajaan sendiri. Hal ini bertalian
dengan sifat prasasti. Prasasti Gandasuli dianggap seolah-olah
proklamasi kemerdekaan dari penjajahan rajakula Sailendra. Menurut
pendapat saya, tidak demikian. Prasasti Gandasuli yaitu prasasti
percandian. Yang dicandikan ialah Dang Karayan Partapan. Oleh
sebab itu, segala sifat dan jasa Dang Karayan Partapan disebut paling
muka.
Prasasti Gandasuli yaitu prasasti percandian yang memuja
kebesaran yang dicandikan. Watak percandian itu jelas dinyatakan
pada baris 10 dan seterusnya. Pada can di makam i tu disertakan
perdikan desa atau tanah (sawah) seperti dinyatakan pada baris-baris
berikutnya. Ternyata bahwa Dang Karayan Partapan tidak menjadi
raja yang berdiri sendiri, tetapi pembesar bawahan bergelar haji (baris
11). Di situ disebutkan hyang haji. Dengan sendirinya ia mempunyai
wilayah kekuasaan dan kekuasan yang besar. Wilayahnya lalu disebut
r@jya: kerajaan; lebih tepat dikatakan ke-haji-an, namun bentuk kata
itu tidak ada dalam bahasa J awa kuno. Gelar haji terang lebih rendah
daripada gelar cri mah~raja . Hajj mempunyai kekuasaan dan wilayah
yang sangat luas.
Bertalian dengan watak prasasti itu, maka jelas bahwa prasasti
Gandasuli tidak dikeluarkan oleh Dang Karayan itu sendiri, tetapi
oleh orang lain yang berasal dari seberang lautan. Terbukti bahwa
sanak saudara Dang Karayan Partapan kebanyakan mempunyai gelar
busu. Gelar busu tidak dikenal di Jawa, tidak dikenal pada prasasti
prasasti Jawa kuno lainnya. Kiranya pembuat prasasti itu juga salah
seorang anggota keluarganya. Dang Karayan Partapan meninggal
dalam kedudukan sebagai haji antara tahun 824 (pengeluaran prasasti
Karang Tengah) dan tahun 832 (pencandian Dang Karayan pada
prasasti Gandasuli).
916 Sriwijaya
Kiranya prasasti Gandasuli ini menyingkapkan hubungan antara
Sriwijaya dan Jawa Tengah dalam abad ke-8 sebelum penyingkiran
Balaputra ke Sriwijaya. Terbukti bahwa raj a Sailendra Samaratungga
mengangkat orang dari seberang laut menjadi haji, suatu kedudukan
yang sangat tinggi. Peristiwa itu hanya mungkin, kalau Sriwijaya
dan Jawa Tengah berada dalam hubungan yang baik.
Kiranya Sriwijaya dan Jawa Tengah pada waktu itu sudah ada
di bawah kekuasaan yang sama, yakni di bawah kekuasaan rajakula
Sailendra. Prasasti Ligor B telah jelas menyatakan bahwa Ligor ada
di bawah kekuasaan raja Sailendra. Jika identifikasi antara raja Wisnu
dan Dharanindra itu benar, maka Sriwijaya sudah ada di bawah
kekuasaan raj a Sailendra antara tahun 775 (pengeluaran prasasti Ligor
A oleh raja Sriwijaya) dan 787 (serangan tentara Jawa terhadap
Campa). Hipotesis ini memberikan pemecahan persoalan, mengapa
Balaputra setelah menyingkir dari Jawa segera dapat menjadi raja di
Sriwijaya.
Perlu ditambahkan di sini bahwa Dang Karayan Sida Busu Palar
tidak terdapat pada silsilah raja-raja di Poh Pitu, seperti tercatat pada
prasasti Kedu. Apa yang kita ketahui dari prasasti Karang Tengah
ialah bahwa rakarayan mpu Palar yaitu pembesar bawahan raja
Samaratungga.
Dari prasasti Gandasuli, kita ketahui bahwa Dang Karayan
Partapan mpu Palar yaitu seorang pembesar yang bergelar haji,
bukan seorang raja yang bergelar maharaja. Itulah sebabnya namanya
tidak disebut pada silsilah raja-raja di Poh Pitu. Yang tersebut pada
silsilah raja-raja di Poh Pitu di antaranya ialah sri maharaja rakai
Garung. Tentang rakai Garung tidak banyak diketahui dari prasasti.
Salah satu prasasti yang menyebut rakai Garung ialah prasasti
Pengging. Di situ disebut rakarayan i Garung.
Penting untuk diketahui bahwa prasasti Pengging dikeluarkan
oleh rakarayan i Garung pada tahun 819, lima tahun lebih tua
daripada prasasti Karang Tengah. Pada prasasti Kedu yang disebut
"Jayapattra-Dieduksman (TB.G. XXXII tahun 1899 hlm. 98 dst.),
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 917
disebut bahwa desa Guntur termasuk wilayah wihara Garung. Pada
prasasti Kedu, disebut pula bahwa desa Kagunturan termasuk
bawahan Patapan. Atas dasar itu, maka De Casparis mencoba untuk
mengidentifikasikan rakarayan Patapan dengan rakai Garung.
sebab Dang Karayan Partapan wafat sebagai haji, tidaklah
mungkin untuk mengidentifikasikannya dengan rakai Garung yang
bergelar sri maharaja. Dengan siapa sri maharaja rakai Garung itu
lalu akan diidentifikasikan? Jika kita ingin mengidentifikasikannya,
sudah pasti bahwa sri maharaja rakai Garung harus diidentifikasikan
dengan raja yang pasti bergelar maharaja. Yang pasti bergelar sri
maharaja pada zaman permulaan abad ke-9 ialah Samaratungga dari
rajakula Sailendra, seperti dikenal pada prasasti Karang Tengah bagian
Sanskerta.
Jelas bahwa rakai Garung hidup pada zaman itu, sebab beliau
mengeluarkan prasasti Pengging pada tahun 819. Lima tahun
kemudian, Samaratungga mengeluarkan prasasti Karang Tengah
tentang peresmian candi makam Jinalaya. J adi, rakai Garung hid up
sezaman dengan Samaratungga. N ama Samaratungga tidak dikenal
pada piagam Kedu, sebab piagam Kedu hanya menyebut gelar sri
maharaja dan gelar rakai yang diikuti oleh nama tempat. Hingga
sekarang desa Garung itu masih ada, terletak di daerah Wanasaba,
karesidenan Kedu (0.J.0 VII). Menurut anggapan saya, nama
Samaratungga yaitu nama pribadi (mungkin juga nama abhiseka)
rakai Garung. berdasar jalan pikiran ini, rakai Garung yaitu
raja Poh Pitu dari rajakula Sailendra.
Jalan pikiran di atas bertentangan dengan jalan pikiran De
Casparis. De Casparis ingin melihat garis batas yang tegas antara
rajakula Sanjaya dan rajakula Sailendra. Semua raj a yang disebut pada
silsilah Balitung pada prasasti Kedu dianggap sebagai keturunan ratu
Sanjaya, rakai Mataram.
Silsilah itu mulai dengan rakai Mataram, sang ratu Sanjaya.
Semua raja yang disebut di situ menggunakan sebutan rakai yang
diikuti oleh nama tempat. Sebutan rakai dengan segala bentuk
918 Sriwijaya
perubahannya, seperti karayan, rakarayan, dang karayan, rakryan,
karyana yaitu monopoli keturunan Sanjaya. Keturunan rajakula
Sailendra tidak menggunakan gelar rakai. Mereka menggunakan
unsur nama tungga atau uttungga yang berarti: puncak atau gunung.
Nama itu cocok dengan arti ailendra alias "raj a gunung". Samara
tungga menggunakan unsur nama tunggas jadi, menurut De Casparis,
tidak mungkin bergelar rakai: keturunan Sailendra. Panangkaran clan
Garung bergelar rakai, jadi mereka yaitu keturunan Sanjaya, tidak
mungkin termasuk dalam rajakula Sailendra.
Timbulnya pendapat yang demikian disebabkan sebab adanya
nama Dharmatungga pada prasasti Ratu Baka yang seumur dengan
prasasti Kalasan/Kelurak. Prasasti Karang Tengah dikeluarkan oleh
raja yang menggunakan unsur nama tungga, yakni Samaratungga.
Apa yang dikemukakan oleh De Casparis sebenarnya logis,
namun alasan-alasan yang dipakai sebagai dasar hipotesis itu
menghendaki penelitian lebih cermat lagi. Dari nama-nama raja
Sailendra, hanya terdapat beberapa saja yang memuat unsur tungga,
yakni Dharmatungga (dari prasasti Ratu Baka), Samaratungga (dari
prasasti Karang Tengah), clan Marawijatunggawarman (dari Larger
Leyden Plates). Lainnya tidak menggunakan unsur nama tungga,
seperti Dharanindra Sanggramadhananjaya (dari prasasti Kelurak),
Balaputradewa (dari prasasti Nalanda), Cudamaniwarman (dari
prasasti Larger Leyden Plates). Kita tidak menyebut Pancapana
Panangkaran, sebab tokoh ini masih diragukan.
Sebaliknya, banyak lagi nama abhiseka raja-raja yang meng
gunakan unsur tungga tanpa ada hubungannya dengan rajakula
Sailendra. Mereka bahkan keturunan rakai Pikatan, yang jelas meng
anut agama Siwa clan rupanya juga keturunan Sanjaya. Misalnya, Sri
Sajanotsawatungga (rakai Kajuwang), Sri Iswarakeswarasamarot
tungga (Balitung), Sri Sajanasnamatanuragatungga (Tulodong),
Sriwjayaloka Namottunga (dyah Wawa), clan sebagainya. Raja-raja
ini hidupnya kemudian daripada Samaratungga.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 919
Sekarang, kita mencari contoh lain yang lebih tua daripada
prasasti Karang tengah clan prasasti Kelurak. Prasasti Gata terang
lebih tua daripada prasasti Kelurak clan Karang Tengah, clan jelas
menggunakan Sanjayawarsa, bertarikh tahun 771. Raja yang me
ngeluarkan prasasti Gata jelas keturunan rajakula Sanjaya, sebab
prasasti tersebut menggunakan tarikh Sanjaya. Raja itu bergelar sri
maharaja clan bernama Daksottamabahubajra ... sri ... (tung)ga
wijaya. N ama menggunakan unsur tungga. Dari kutipan itu jelas
sekali bahwa unsur Sailendra. Juga, keturunan Sanjaya menggunakan
unsur nama tungga.
Seperti telah saya singgung di muka, kiranya ungkapan rahyang
rumuhun ri Poh Pitu pada piagam Kedu, yang diikuti oleh delapan
raja dengan sebutan rakai dan bergelar sri maharaja kecuali Sanjaya,
tidak mutlak harus ditafsirkan keturunan raja Sanjaya saja, tetapi
tiap raj a yang pernah memerintah medang ri poh pitu, baik keturunan
Sanjaya maupun keturunan Sailendra. Kekuasaan bertalian erat
dengan kekuatan. Keturunan rajakula mana yang lebih kuat, ia akan
berusaha merebut kekuasaan. Jika ungkapan prasasti Kedu itu di
tafsirkan demikian, maka kotak rajakula Sanjaya clan kotak rajakula
Sailendra tidak terpisah-pisah. Ada kalanya rajakula Sanjaya yang
berkuasa, ada kalanya rajakula Sailendra yang memegang pimpinan.
Yang kalah menjadi bawahan.
Prasasti yang segera dibahas ialah Nalanda clan prasasti Bala
putra-Jatiningrat, lanjutan kekuasaan rajakula SailendraJawa Tengah
di Sriwijaya.
Bab 7
SRIWIJAYA DI BAWAH KEKUASAAN
RAJAKULA SAILENDRA
Prasasti Nalanda dan Balaputra
Prasasti N alanda dikeluarkan oleh raj a Benggala Dewapaladewa
di Nalanda, ditulis dalam bahasa Sanskerta tanpa tarikh tahun. Kita
hanya mengetahui bahwa raja Dewapala yaitu pengganti raja Dhar
mapala dan wafat pada tahun ± 878. Prasasti tersebut telah diter
bitkan oleh sarjana India, Hirananda Sastri, dalam Epigraphia Indicad
no. 17 hlm. 310-327. Hirananda Sastri menduga bahwa prasasti itu
dikeluarkan ± tahun 949. Isinya tentang permintaan maharaja Bala
putra dari Suwarnadwipa kepada raja Dewapala untuk mendirikan
wihara di N alanda. Balaputra mengaku cucu raj a Sailendra dari J awa
dan putra Samaragrawira, lahir dari Tara, putri raja Dharmasetu.
Dalam terjemahannya, Hirananda Sastri lupa menyebut nama
Samaragrawira yang tercatat pada prasasti Nalanda. Oleh sebab itu,
nama Samaragrawira saya tambahkan pada terjemahan yang ber
sangkutan di antara kurung. sebab kebanyakan di antara pembaca
tidak akan sempat memeriksa teks Sanskerta atau terjemahan dalam
Epigraphia Indica itu, maka terjemahan dalam bahasa lnggris yang
dibuat oleh Hirananda Sastri dikutip seluruhnya seperti di bawah:
We being requested by the illustrious Mahar~ja B~laputradewa,
the king of Suwarnadwipa through a messenger I have caused to be
built a monastery at Naland~ granted by this edict toward the income
for the blessed Lord Buddha, the abode of all the leading virtues like
999 Sriwijaya
the prajn~p~ramit~, for the offerings, oblations, shelter, garments, alms,
beds, the requisites of the sick like mendicines, etc., of the assembly of
the venerable bhiksus of the four quarters (comprising) the Bodhi
sattwas well versed in the tantras, and the eight great holy personages
(i.e. the aryapuggalas) for writing the dharma-ratnas of Buddhist texts
and for the up-keep and repair of the monastery (when) damaged.
There was a king of Yawabhumi (or Yawa), who was the orna
ment of the ~ailendra dynasty, whose lotus feet bloomed by lustre of
the jewels in the row of trembling diadems on the heads of all the
princes, and whose name was comformable to the illustrious tormen
tor of brave foes (wira-wairi-mathana). His fame, incarnate as it were,
by setting its foot on the regions of (white) palaces, in white water lilies,
in logus plants, conches, moon, jasmine and snow and being inces
santly sung in all the quarters, pervaded the whole universe. At the
ti me when that king frowned in anger, the fortunes of the enemies al so
broke down simultaniously with their hearts.
Indeed the crooked ones in the world have got ways of moving
which are very ingenious in striking others. He had a son (named
Samaragrawira), who possesses prudence, prowess, and good con
duct, whose two feet fordled too much with hundreds of diadems of
mighty kings (bowing down). He was the foremost warrior in the battle
fields and his fame was equal to that earned by Yudhistira, Para~ara,
Bhtmasena, Karna and Arjuna. The multitude of the dust of the earth,
raised by the feet of his army, moving in the field of battle, was first
blown up to the sky by the wind, produced by the moving on the
earth (again) by the inchor, poured forth from the cheeks of the el
ephants.
By the continuous existence of whose fame the world was alto
gether without the dark fortnight, just like the family of the lord of the
daityas (demons) was without the partisanship of Khrisna. As Paulomi
was known to be (the wife of) the lord of the Suras (i.e. Indra), Rati the
wife of the mind-born (Cupid), the daughter of the mountain (Prwat~)
of the enemy of Cupid (i.e. (iwa), and Laksmi of the enemy of Mura
(i.e. Wisnu), so Tar~ was the queen consort of that king, and was the
daughter of the great ruler dharmasetu of the I unar race and resembled
Tara (thi Buddhist goddess of this name) herself. As the son of
(uddhodana (i.e. the Budha) the conqueror of Kamadewa, was born
of May~, and Skanda, who delighted the heart of the host of gods,
was born or Um~ by (iwa, so was born of her by that king the illustri
ous Balaputra, who was expert in crusing the pride of all the rulers of
the world, and before whose footstool (the seat where his lotus feet
rested) the group of princes bowed.
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra
With the mind attracted by the manifold excellences of Nalanda
and through devotion to the sun of (uddhodana (the Budha) and
having realized that riches was fickle like the waves of a mountain
stream, he whose fame was like that of Sangharthamitra.
This might possibly mean that his wealth befriended the cause of
the Sangha. Built there (at Nalanda) a monastery wich was the abode
of the assembly of monks of various good qualities and was white
with the series of stuccoed and lofty dwellings. Having requested,
King Dewap~ladewa who was the preceptor for initiating into widow
hood the wives of all the enemies, through envoys, very respectfully
and out of devotion and issuing a charter, (he) granted these five
villages whose purpose had been motived above for the welfare of
himself, his parents and the world. As long as there is the continuance
of the ocean, or the Ganges has her limbs (the currents of water)
agitated by the extensive plaited hair of Hara ( iwa), as log as the
immovable king of snakes ( esa) lighlty bears the heavy and exten
sive earth every day, and as long, as the (Udaya) Eastern and, (Asta)
Western mountains have their crest jewels scratched by the hoofs of
the horses of the Sun, so long may this meritorious act, setting up
virtues over the world, endure.
993
Prasasti Nalanda menimbulkan pelbagai persoalan. Persoalan
yang pertama ialah pengakuan Balaputra sebagai keturunan Sailendra
di Jawa yang menjadi raja Suwarnadwipa. Dalam hal ini, Suwar
nadwipa yaitu Sriwijaya. Bagaimana Balaputra dari keturunan
Sailendra mungkin menjadi raja Suwarnadwipa?
Persoalan yang kedua ialah siapa yang dimaksud dengan raja
Sailendra J awa, yang menjadi nenek Balaputra dan mempunyai
epiteton w~rawairimathana itu? Apakah beliau termasuk salah satu
di antara raja-raja di Poh Pitu yang disebut pada prasasti Kedu? Jika
termasuk, siapa beliau itu? Bagaimana hubungan antara rajakula
Sailendra di Semenanjung seperti terpahat pada batu Ligor B?
Raja Sailendra Jawa, yang menjadi nenek Balaputra, dikatakan
mempunyai putra yang bernama Samaragrawira, yakni ayah Bala
putra. Adakah nama Samaragrawira pada piagam N alanda ini sama
dengan Samaratungga pada piagam Karang Tengah? Perkawinan antara
Samaragrawira dan Tara juga menimbulkan persoalan, sebab prasasti
Nalanda memberitakan bahwa Tara yaitu putri raja Dharmasetu,
994 Sriwijaya
dari Somawangsa. Siapa sebetulnya raja Dharmasetu itu? Adakah
betul beliau itu raja Sriwijaya, sehingga akibat perkawinan itu
Balaputra memperoleh hak untuk menjadi raja Sriwijaya? Mengapa
Balaputra yang mengaku cucu raj a Sailendra J awa melarikan diri ke
Sriwijaya? Itulah beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian
akibat perkenalan dengan prasasti Nalanda.
Terbitan The Nalanda Copperplate of Dewapaladewa segera
menarik perhatian sarjana purbakala F.D.K. Bosch. Pacla tahun 1925,
Bosch menyambut terbitan tersebut untuk menulis karangannya yang
berjudul Een oorkonde van het groote klooster te Nalanda dalam T.B. G.
LXV hlm. 509-527. Genealogi Balaputra berclasarkan prasasti Nalan
da pada hakikatnya sangat sederhana: Raja J awa yang mempunyai
epiteton w~rawairimathana berasal dari rajakula Sailenclra, mempunyai
seorang putra, Samaragrawira. Samaragrawira kawin dengan putri
Tara dari Somawangsa. Dari perkawinan itu lahir Balaputra, raja
Suwarnadwipa.
Genealogi yang sangat sederhana itu menghendaki penjelasan.
sebab epiteton raja Sailenclra Jawa yang tercatat pada prasasti Na
landa itu hampir sama dengan epiteton raja yang mengeluarkan
piagam Kelurak, Bosch menyamakannya dengan Dharanindra. R.C.
Majumdar juga tertarik kepada terbitan tersebut, clan menulis
karangan dalam monografi Varendraresearch Society I pada tahun 1926.
Krom dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis hlm. 156 menyamakan
Samaragrawira clengan Samaratungga pada piagam Karang Tengah.
Identifikasi Yawabh~mip~lah dengan Dharanindra dan Sama
ratungga clengan Samaragrawira diterima sepenuhnya oleh De
Casparis clalam Prasasti negara kita I. Ia menganggap hubungan antara
Dharanindra dan Samaratungga sebagai hubungan antara bapak clan
putra. Dari gaya bahasa yang digunakan oleh prasasti Nalanda, terasa
bahwa pada waktu prasasti itu dikeluarkan, Samaragrawira telah
wafat. sebab Samaragrawira disamakan dengan Samaratungga, maka
dapat diraba berkat analisis prasasti Karang Tengah dan Gandasuli,
bahwa wafat Samaragrawira itu antara tahun 824 dan 832. Pada
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 995
waktu itu, menurut De Casparis, agaknya putranya, Balaputradewa,
telah beberapa lama menetap di Sumatra clan memerintah sebagai
raja. sebab pada prasasti Nalanda disebutkan bahwa Samaragrawira
kawin dengan Tara, putri Sri Dharmasetu, dengan sendirinya Tara
dianggap permaisuri Samaratungga. sebab pada prasasti Karang
Tengah Pramodawardhani yaitu putri Samaratungga, maka dengan
sendirinya Pramodawardhani yaitu putri Samaragrawira juga. Akibat
analisis prasasti Nalanda itu, timbul nama Balaputra, putra
Samaragrawira. sebab Samaragrawira yaitu Samaratungga, maka
Balaputra yaitu putra Samaratungga. Pendapat ini dipertahankan
juga dalam Prasasti negara kita II di bawah judulA Metrical Old-Javanese
Inscription Dated 856 A.D.
Dengan sendirinya De Casparis terbentur pada prasasti Karang
Tengah, yang menyatakan bahwa Samaratungga hanya mempunyai
seorang putri yang bernama Pramodawardhani. Seperti telah kita
ketahui, pada tahun 824 Pramodhawardani meresmikan bangunan
candi makam Jinalaya. Andaikata Samaratungga mempunyai putra,
sudah pasti bahwa peresmian candi itu dilakukan oleh putranya.
Untuk menghindarkan kontradiksi itu, De Casparis memberikan
keterangan:
Akibat perkawinan dengan salah seorang putri dari Sriwijaya,
maka Balaputra menjadi raja di Sriwijaya. Setelah Balaputra me
ninggalkan Jawa, di Jawa tidak ada lagi rajaputra yang mewarisi takhta
kerajaan. Putri Samaratungga telah dikawinkan dengan rakai Pikatan.
Dengan jalan demikian, rakai Pikatan memperoleh sekadar
kekuasaan untuk memerintah sebagian dari Jawa Tengah. Kemung
kinan lain ialah bahwa Balaputra belum dewasa ketika ayahnya
meninggal, sehingga ia belum diizinkan memerintah. Berhubung
dengan timbulnya perubahan suasana yang sebab-sebabnya tidak
dapat diketahui dengan pasti, Balaputra kemudian menjadi raja di
Sriwijaya.
Kita merasa bahwa keterangan di atas agak dicari-cari, untuk
menghindari kontradiksi. Pada prasasti Karang Tengah, jelas bahwa
Samaratungga hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawar-
996 Sriwijaya
dhani. Tetapi, akibat penyamaan antara Samaratungga pada prasasti
Karang Tengah clan Samaragrawira pada prasasti Nalancla, terpaksa
Samaratungga mempunyai dua orang anak: yang satu laki-laki, yakni
Balaputra, yang lain seorang putri, yakni Pramoclawarclhani.
Untuk menghindarkan kesulitan ten tang kedudukan Balaputra,
dicarikan jalan perkawinan clengan putri dari Sriwijaya. Hubungan
antara Balaputra dan Pramodawardhani lalu seperti hubungan kakak
clan aclik atau dua saudara sekandung. Seo rang rajaputra tidak mudah
meninggalkan haknya atas takhta dan pergi ke tempat lain untuk
menjadi raja akibat perkawinan.
Pokoknya, keterangan yang diberikan tidak memberikan
keyakinan. Kontradiksi yang timbul kiranya akibat salah identifikasi.
Terbukti bahwa iclentifikasi Samaragrawira dengan Samaratungga
menimbulkan kontradiksi. Suatu tancla bahwa ada sesuatu yang tidak
cocok. Identifikasi antara Samaragrawira clan Samaratungga yang
menimbulkan kontradiksi itu juga diterima oleh Bosch dalam karang
annya yang berjudul (riwijaya, de Gailendra en de Sanjayawam¢ad
dalam B.I.I. 108, hlm. 113-123. Kita clapat melihatnya secara jelas
pada silsilah yang disusunnya pada hlm. 123.
Meskipun nama Samaragrawira pada piagam Nalanda itu mirip
sekali dengan nama Samaratungga pada piagam Karang Tengah,
namun saya berpendapat bahwa Samaragrawira clan Samaratungga
itu nama dua tokoh sejarah yang berbeda-beda. Kedua-duanya me
mang termasuk rajakula Sailendra dan berasal dari Jawa Tengah.
Dalam pembahasan prasasti Gandasuli, telah saya kemukakan
bahwa identifikasi antara Dang Karayan partapan mpu Palar pada
prasasti Gandasuli dan sri maharaja rakai Garung pada prasasti Keclu
tidak cocok, sebab sampai ajalnya Dang Karayan Partapan mpu Palar
hanya menclucluki jabatan haji. Kedudukan itu lebih rendah daripada
kecluclukan raja. Pada waktu itu, yang menjacli raja ialah
Samaratungga. N ama Samaratungga, rakai Garung, clan Dang
Karayan Partapan terdapat pada prasasti yang dikeluarkan sezaman.
Nama Samaratungga pada prasasti Karang Tengah (tahun 824); nama
Sriwijaya di Bawah Kekuasaan Rajakula Sailendra 997
rakai Garung pada prasasti Pengging (tahun 819); dan nama Dang
Karayan Partapan mpu Palar pada prasasti Karang Tengah dan
Gandasuli (tahun 824 dan 832).
Dari prasasti Karang Tengah, dapat kita ketahui bahwa Dang
Karayan Partapan yaitu pembesar bawahan Samaratungga, dan dari
prasasti Gandasuli, kita ketahui bahwa Dang Karayan mempunyai
kedudukan haji, bukan raja. Jadi, tidak mungkin disebut sri maha
raja. Demikianlah, identifikasi antara rakai Garung dan Dang Karayan
Partapan tidak mungkin. Pada awal abad ke-9, yang bergelar maha
raja hanya Samaratungga. Pada prasasti Kedu, rakai Garung bergelar
sri maharaja. Demikianlah, pada p









