an nama Kandra Kayet, kemudian disingkat Kayet saja.
Kayet berhasil membunuh Tandrun Luah, tetapi akhirnya pem
berontak Kayet berhasil dikalahkan juga oleh raja Sriwijaya. Diakui
oleh Dapunta Hyang bahwa Kandra Kayet yaitu orang pilihan.
Buktinya, ia berhasil mengalahkan Tandrum Luah. Namun meskipun
demikian, ia berhasil ditumpas juga.
Ditegaskan pada baris 2 bahwa sebab-sebab timbul peperangan
itu ialah sebab Kandra Kayet memberontak kekuasaan Sriwijaya;
tidak mau tunduk kepada Sriwijaya, berkhianat terhadap raja
Sriwijaya. Penghianatan Kandra Kayet dijadikan cermin bagi semua
pembesar di pusat kerajaan clan bagi semua penduduk di wilayah
Sriwijaya. Barang siapa berbuat seperti Kandra Kayet, akan mengalami
nasib yang sama dengan Kandra Kayet. Peristiwa itu harus dicamkan
benar-benar dalam ingatan.
Dua hal yang hams mendapat perhatian sepenuhnya dari semua
orang di wilayah Sriwijaya, terutama dari mereka yang berangan
angan akan memberontak, selama tentara Sriwijaya bertugas di luar
untuk menundukkan pulau Jawa. Pertama, bahwa orang kuat seperti
Kandra Kayet, yang berhasil membunuh Tandrum Luah, akhirnya
dapat dikalahkan oleh Dapunta H yang. Kedua, barang siapa
memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya, akan mengalami nasib
yang sama seperti Kandra Kayet. Kemenangan Dapunta H yang
terhadap Kandra Kayet itu harus mendapat perhatian sepenuhnya.
Hams diakui bahwa pada manggala tersebut terdapat kata-kata
yang sulit, kata-kata yang tidak lagi digunakan dalam bahasa
negara kita /Melayu, dalam bahasa daerah di Sumatra. N amun, kiranya
jiwa manggala itu dapat ditangkap. Mengenai keterangan kata-kata
yang sulit ditafsirkan, telah saya berikan dalam karangan saya yang
160 Sriwijaya
berjudul "Perkembangan Penelitian Bahasa Nasional hlm. 134-135
dalam Research di negara kita 1945-1965IV. Keterangan itu tidak perlu
diulang lagi di sini. Lagi pula, penjelasan kata-kata itu agak meng
ganggu dalam penulisan sejarah. Literatur mengenai bahasa Sriwijaya
hampir lengkap termuat dalam artikel tersebut di atas, sehingga
barang siapa ingin ikut memerhatikan bahasa Sriwijaya memperoleh
petunjuk seperlunya.
Piagam persumpahan Kota Kapur jelas menunjukkan hubungan
antara Sriwijaya dan pulau Jawa. Pada tahun 686, Sriwijaya berusaha
menundukkan pulau Jawa. Kerajaan mana yang akan ditunjukkan,
tidak diketahui, sebab kerajaan itu tidak disebut. Yang dinyatakan
pada piagam Kota Kapur hanyalah bh~mi Jawa. Tentara Sriwijaya
berangkat ke Jawa pada hari pertama bulan terang bulan Waisaka
tahun Saka 608. Piagam persumpahan Sriwijaya yaitu follow up
operasi militer Sriwijaya. berdasar jalan pikiran di atas, maka
terjemahan piagam Kota Kapur itu lalu seperti berikut:
Seorang pembesar yang gagah berani, Kandra Kayet, di medan
pertempuran. la bergumul dengan Tandrun Luah dan berhasil
membunuh Tandrun Luah. Tandrun Luah mati terbunuh di medan
pertempuran. Tetapi bagaimana nasib Kayet yang berhasil membunuh
itu? Juga Kayet berhasil ditumpas. lngatlah akan kemenangan itu! la
enggan tunduk kepadaku. lngatlah akan kemenangan itu!
Kamu sekalian dewata yang berkuasa dan sedang berkumpul
menjaga kerajaan Sriwijaya! Dan kau, Tandrum Luah, dan para dewata
yang disebut pada pembukaan seluruh persumpahan ini! Jika pada
saat mana pun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang
berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat
atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak
mau tunduk dan tidak mau berbakti, tidak setia kepadaku dan kepada
mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian
itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara
atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas!
Dan semuanya yang berbuat jahat, menipu orang, membuat sakit,
membuat gila, melakukan tenung, menggunakan bisa, racun, tuba,
serambat, pekasih, pelet dan yang serupa itu, mudah-mudahan tidak
berhasil. Dosa perbuatan yangjahat untuk merusak batu ini hendaklah
segera terbunuh oleh sumpah, segera dipukul. Mereka yang
Pusat Kerajaan Sriwijaya
membahayakan, yang mendurhaka, yang tidak setia kepadaku dan
kepada yang kuserahi kekuasaan datu, mereka yang berbuat demikian
itu, mudah-mudahan dibunuh oleh sumpah ini.
Tetapi kebalikannya mereka yang berbakti kepadaku dan kepada
mereka yang kuserahi kekuasaan datu, hendaknya diberkati segala
perbuatannya dan sanak keluarganya, berbahagia, sehat, sepi
bencana dan berlimpah-limpah rezeki segenap penduduk dusunnya!
161
Tahun Saka 608 hari pertama bulan terang bulan Waisaka, itulah
waktunya sumpah ini dipahat. Pada waktu itu, tentara Sriwijaya
berangkat memerangi tanah Jawa sebab tidak mau tunduk kepada
Sriwijaya.
Bab 5
SRIWIJAYA DAN SEMENANJUNG
Piagam Ligor
Di daerah Ligor di Semenanjung, ditemukan sebuah batu
piagam yang bertulis pada dua belah sisi. Tulisan pada sisi A disebut
piagam Ligor A. Tulisan pada sisi B disebut piagam Ligor B. Baik
piagam Ligor A maupun Ligor B ditulis dalam bahasa Sansekerta.,
jadi berbeda dengan piagam-piagam persumpahan Karang Brahi,
Kota Kapur, Telaga Batu, piagam siddhay~tra Kedukan Bukit, dan
piagam pranindhana TalangTuwo. Piagam-piagam yang ditemukan
di pulau Sumatra clan Bangka ini ditulis dalam bahasa Sriwijaya.
Piagam Ligor A
Piagam Ligor A yaitu piagam Sriwijaya yang paling akhir yang
tidak menyebut wangsa Sailendra. Piagam ini memuat sepuluh pada
tanpa manggalacarana. Yang dimaksud dengan manggalacarana ialah
uluk-uluk atau salam pembukaan seperti swasti, siddha, dan
sebagainya. Telah disinggung di muka bahwa raja Sriwijaya pada
piagam-piagam yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya menggunakan
gelar dapunta hyang. Pada piagam Ligor Aini, gelar dapunta hyang
tidak digunakan, sebab gelar tersebut tidak kedapatan dalam bahasa
Sanskerta. Raja Sriwijaya menyebut dirinya:
164 Sriwijaya
I. criwijayendrar@ja
2. criwijayecwarabhpati
3. criwijayanr~pati
4. nr~pad
Pada yang pertama berisi pujian terhadap sifat-sifat baik baginda,
seperti kecerdasan, keramahan, dan kesaktian. Beliau disamakan
dengan bulan pada musim rontok, yang cahaya sinarnya
menyuramkan segala sinar bintang-bintang. Demikian pula
kewibawaan baginda terhadap semua raja bawahannya.
Pada yang kedua yaitu lanjutan sifat-sifat baik baginda. Beliau
menghimpun segala kebaikan. Sinar beliau menerangi puncak-puncak
gunung Himalaya, mengalahkan semua orang bijak dan cendekia di
dunia. Beliau dikiaskan dengan laut luas dan melebur segala kejahatan.
Pada yang ketiga menguraikan bahwa baginda yaitu pelindung
si miskin. Orang-orang miskin memperoleh perlindungan pada beliau
seperti gajah-gajah yang bernaung di bawah pohon rindang pada
waktu terik matahari membakar telaga.
Pada yang keempat menyamakan baginda dengan Manu,
menyebar segala kebahagiaan seperti musim semi yang memberi
kecantikan kepada pelbagai tumbuh-tumbuhan.
Pada yang kelima menyebut raja Sriwijaya yang berkuasa gilang
gemilang. Kekuasaan beliau ditaati oleh semua raja tetangga; beliau
diciptakan oleh Brahma dengan tujuan untuk menjunjung tinggi
dharma.
Pada yang keenam berbunyi: "Itulah raja Sriwijaya, peng
himpun segala kebaikan dan yang paling baik di antara semua raja
di permukaan bumi. Beliau mendirikan bangunan batu, trisamaya
caitya untuk Padmapani, Sakyamuni, dan Vajrapani."
Pada yang ketujuh: bangunan trisamaya-caitya dipersembahkan
kepada semua jina budiman yang menduduki sepuluh tempat di
Sriwijaya dan Semenanjung 165
angkasa, juga merupakan tempat bersemayam Amr~ta yang memberi
kebahagiaan di tiga jagat.
Pada yang kedelapan: pendeta Jayanta menerima perintah
baginda untuk membangun stupatrayamasi. Bangunan itu
dilaksanakan sesuai dengan perintah baginda.
Pada yang kesembilan: setelah pendeta kerajaan itu meninggal,
muridnya, Adhimukti, diangkat menjadi pendeta kerajaan sebagai
penggantinya. Ia mendirikan caitya di dekat bangunan trisamaya
caitya.
Pada yang kesepuluh: tanggal selesainya bangunan trisamaya
caitya ialah tahun Saka 697 hari 11 bulan terang Waisaka. Waktu
matahari terbit menyertai Wenu, raja Sriwijaya yang menyerupai
Indra, mendirikan bangunan caitya dan stupa demikian indahnya
seakan-akan dibuat dari cintamani yang terpilih di triloka.
Piagam A ini menguraikan serba jelas bahwa raja Sriwijaya
benar-benar berkuasa di daerah Ligor di Semenanjung. Beliau
berulang kali disamakan dengan dewa Indera dan diakui sebagai raja
daripada raja-raja tetangga. Beliau mendirikan bangunan trisamayad
caitya di Ligor pada tahun Masehi 775. Piagam A yaitu piagam
pembangunan trisamaya-caitya.
Mengenai piagam A, agaknya perlu kita sekadar memerhatikan
berita Tionghoa. Menurut Hsin-tang-hsu, yakni sejarah barn yang
disusun dalam abad ke-11 pada masa pemerintahan rajakula Sung,
atas dasar berita-berita Chiu T'ang Shu atau sejarah lama, kerajaan
Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke Tiongkok dalam pangsa waktu
670-673 dan 713-741.
T'ang-hui-yao, susunan Wang-pu, pada tahun 961 mencatat
bahwa pada hari kelima bulan 9 tahun 695, kaisar memberikan
maklumat untuk menyelenggarakan persediaan bagi utusan luar
negeri enam bulan untuk utusan dari India Selatan dan Utara, Per
sia, dan Arab; lima bulan untuk utusan dari Shih-li-fo-shih, Chen
la, Ho-ling, dan negeri-negeri lainnya; tiga bulan untuk utusan dari
166 Sriwijaya
Lin-i. Tse-fu-yuan-kuei, susunan Wang-ch'in-jo dan Yang I, pada tahun
1005-1013 menguraikan bahwa utusan dari Fo-shih datang pada
tahun 701-702 dan 716.
Baik Tse-fiu-yuan-kuei maupun Hsin-tang-shu memberitakan
bahwa raja Shih-li-fo-shih mengirim calon penggantinya sebagai
utusan ke Tiongkok. Pada tahun 724, datanglah seorang utusan dari
Sriwijaya di Tiongkok bernama Kiu-mo-lo (Kumara), membawa dua
orang cebol, seorang gadis janggi, biduan, dan lima burung bayan
untuk dipersembahkan kepada kaisar. Kaisar kemudian memberikan
gelar tcho-teh'ong (jenderal) kepadanya, beserta seratus potong kain
sutera. Lain daripada itu, kaisar juga menghadiahkan gelar kepada
raja Sriwijaya yang bernama Che-li-to-le-pa-mo (Sri Indrawarman).
Pada tahun 728, datang lagi utusan dari Sriwijaya yang juga
membawa hadiah burung bayan berwarna. U tusan yang terakhir
datang pada tahun 742.
Dari berita Tionghoa itu, yang menarik perhatian ialah nama
Sri Indrawarman, yang pada tahun 724 memerintah kerajaan
Sriwijaya. Jika masa pemerintahannya itu kita hubungkan dengan
tarikh piagam Ligor A, yakni tahun 775, maka selisihnya 5l tahun.
Mungkin pada tahun 775, Sri Indrawarman masih memerintah.
Mungkin juga sudah diganti oleh putranya. Pada penutup tersebut,
raja Sriwijaya, yang mengeluarkan piagam itu, dikiaskan dengan dewa
Indera. Kiasan itu tedapat pada baris 2 dari bawah, dinyatakan
dengan kata dewendrabhena. Mungkin sekali, kiasan dengan dewa
Indra itu sengaja dimaksud untuk menyebut nama raja yang
mengeluarkan piagam itu. Jika anggapan itu benar, maka nama yang
mengeluarkan piagam itu Sri Indrawarman atau putranya, yang juga
bernama Indra ...
Piagam Ligor B
Piagam Ligor B hanya memuat empat baris lebih sedikit.
Berlainan dengan piagam Ligor A, piagam ini menggunakan
manggalacarana swasti; tidak menyebut tarikh tahun. Lain daripada
Sriwijaya dan Semenanjung 167
itu, piagam ini piagam Sriwijaya yang pertama yang menyebut
wangsa Sailendra dan gelar gri mah~r~ja. Jadi, berbeda dengan piagam
LigorA.
Terjemahannya tidak menimbulkan banyak kesulitan. Namun,
sejak tahun 1950 muncul terjemahan baru yang diusahakan oleh
Coed~s. Terjemahan baru itu berbeda dengan terjemahan yang sudah
sudah, di antaranya yang dibuat oleh Dr. Chhabra. Terjemahan
Coed~s mengakibatkan perbedaan tafsiran. Di bawah ini disajikan
terjemahan Dr. Chhabra:
Hail! He wo is the supreme king of kings, (who) through his
energy (is) alone comparable to the sun for dispelling the darkness
(int the shape) of the hosts of all his foes, (who) in charming beauty
(is) the very spotless, autumnal moon (and is) like Cupid in peson,
(who is) called Wisnu (who) entirely (annihilates) the pride of all (his
opponents) and (who) with (regard to) his prowess is without a sec
ond-that self name is known by the appellation of Srimaharaja
(i.e. the illustrious Great King) because of the mention of his origin in
the (ailendrawam~a. And of him ... of all kings () ...
Perbedaan pokok antara terjemahan Chhabra dan Coed~s ini
demikian. Chhabra beranggapan bahwa pada piagam Ligor B, hanya
terdapat satu raja Sriwijaya. Raja Sriwijaya itu bernama Wisnu dan
bergelar cri mah~r~ja, sebab beliau keturunan wangsa Sailendra.
Sebaliknya, Coed~s bukan saja melihat satu raj a pada piagam tersebut,
melainkan dua. Yang pertama ialah raja Wisnu, yang kedua ialah
putranya yang bergelar maharaja. Menurut pendapat Coed~s, raja
Wisnu itu sama dengan raja yang menyebut dirinya griwijayendrarja,
criwijayeecwarabhpati, dan criwijayanr~pati pada piagam Ligor A.
Jadi, beliau memerintah pada tahun 775.
Raja yang kedua yang bergelar sri maharaja yaitu putranya.
Setelah kawin dengan putri dari Fu-nan dari keluarga Somawangsa,
beliau menjadi raja Sailendra yang pertama, dan menurunkan raja
raja Sailendra di Mataram. Tetapi Coed~s sendiri mengakui bahwa
anggapannya itu tidak berdiri di atas bukti-bukti yang kuat.
168 Sriwijaya
Selanjutnya, ia menyamakan raja-raja Sailendra yang pertama
itu dengan Dharanindra pada piagam Kelurak, yang memerintah
Jawa Tengah dan menyuruh raja setempat Pancapana Panangkaran
membangun kembali candi Kelurak. Panangkaran pada piagam
Kalasan dianggapnya sebagai pengganti rakai Sanjaya. Kesimpulan
selanjutnya tidak cocok baik dengan teori Krom tentang adanya
"pemerintahan Sriwijaya dalam sejarah Jawa" maupun dengan teori
Stutterheim 'pemerintahan Jawa dalam sejarah Sumatra". Yang ada
ialah masa pemerintahan rajakula Sailendra keturunan raja Seme
nanjung, dan putri Fu-nan pada penghabisan abad ke-8 dan
pertengahan pertama abad ke-9. Karangan Coed~s ini termuat dalam
Bingkisan Budi 1950 di bawah judul Le <;ailendra, tueur des h~ros
ennemis, hlm. 58-70.
Kelemahan-Kelemahan Teori Coed~s
Teori Coed~s mengandung beberapa kelemahan. Salah satu di
antaranya ialah kelemahan tata bahasa, yang dijadikan dasar
terjemahan dan kemudian penafsiran. Anggapan tentang adanya dua
raja pada piagam Ligor B didasarkan atas perlawanan kata ekas dan
dwitiyas, artinya: "satu" dan "kedua. Coed~s menerjemahkannya yang
kesatu dan yang kedua. Andaikata kedua kata itu benar-benar
dimaksud sebagai perlawanan, tentunya akan digunakan kata pra
thamas dan dwitiyas atau kesatu dan kedua, bukan satu dan kedua.
Meskipun soal tata bahasa ini soal kecil, namun kiranya perlu diper
timbangkan juga, justru sebab teori Coed~s terutama berdasar
peristiwa tata bahasa.
Demikian pula fungsi pemakaian yeasau dan asau yah: beliau,
ia. Kedua kata tersebut, sebab susunannya berbeda, dianggap sebagai
berlawanan. Menurut pendapat saya, tidak ada maksud untuk mem
perlawankan, melainkan sebagai ulangan yang mempunyai daya
mempertegas. Ulangan yang demikian tidak asing dalam bahasa
Sansekerta. Dengan kata lain, piagam yang terdiri dari empat baris
lebih itu jelas menunjukkan bahwa raja yang bersangkutan, yakni
Sriwijaya dan Semenanjung 169
raja Wisnu, menegaskan bahwa beliau yaitu keturunan rajakula
Sailendra, dan oleh sebab itu beliau bergelar maharaja. Kebiasaan
itu berbeda dengan raja-raja Sriwijaya sebelumnya. Beliau-beliau itu
bukan keturunan rajakula Sailendra; oleh sebab itu, tidak bergelar
maharaja.
Kelemahan yang kedua tentang tarikh pemerintahan. Coed~s
beranggapan bahwa raj a Sailendra yang pertama yaitu putra Wisnu,
yang mengeluarkan piagam Ligor A pada tahun 775. Dengan
sendirinya, beliau akan memerintah sesudah tahun 775. Pada piagam
Ligor A, sama sekali tidak ada pernyataan bahwa piagam itu dike
luarkan oleh raja Wisnu.
Pada tahun 778, pada piagam Kalasan telah tercatat adanya
keturunan rajakula Sailendra, yakni dyah Pancapana rakai
Panangkaran. Boleh dipastikan bahwa rakai Panangkaran mulai
memerintah beberapa tahun sebelum pembangunan candi Tara di
Kalasan itu selesai. Jadi, sebelum tahun 778. Selisih waktu tiga tahun
antara pengeluaran piagam Ligor B dan piagam Kalasan untuk
persebaran keturunan Sailendra dari Semenanjung ke Jawa Tengah
boleh dianggap terlalu singkat. Lagi pula, tidak dapat dipastikan
bahwa raja Sriwijaya, yang menyebut dirinya criwjayarja itu, setelah
mengeluarkan piagam segera turun takhta dan digantikan oleh
putranya, yakni raja Sailendra yang pertama. Lagi pula, masih
merupakan tanda tanya: Apakah piagam Ligor A pasti lebih dahulu
dipahat daripada piagam Ligor B? Apakah piagam Ligor B itu pasti
dipahat lebih dahulu daripada piagam Kalasan?
Kelemahan yang ketiga tentang keturunan Sanjaya. Coed~s
beranggapan bahwa dyah Pancapana Panangkaran yaitu keturunan
rakai Sanjaya, yang menerima perintah dari raja Sailendra Dharanindra
untuk membangun kembali candi Kelurak. Jika rakai Panangkaran
keturunan raja Sanjaya, mengapa piagam Kalasan yang dikeluarkan
oleh rakai Panangkaran tidak menggunakan tahun perhitungan
Sanjaya, seperti piagam Gata dan Taji Gunung? Kedua piagam ini
jelas menggunakan Sanjayawarsa dan bertarikh tahun Saka 693 dan
170 Sriwijaya
694. Enam tahun sebelum rakai Panangkaran mengeluarkan piagam
Kalasan, Jawa Tengah diperintah oleh keturunan Sanjaya. Sekonyong
konyong, dengan timbulnya rakai Panangkaran, pemakaian San
jayawarsa itu hilang, dan yang tampak ialah pernyataan bahwa rakai
Panangkaran yaitu keturunan Sailendra. Justru pernyataan itu,
menurut anggapan saya, jelas menunjukkan bahwa rakai Panangkaran
bukan keturunan raja Sanjaya, berbeda dengan raja-raja sebelumnya.
Coed~s beranggapan bahwa rakai Panangkaran yaitu raja bawahan
yang menerima perintah dari Dharanindra untuk membangun candi
Kelurak. Pada baris 6 piagam Kalasan, jelas tercatat: mah~r~jam dyah
Pancapanam Panangkaranam. Gelar maharaja tidak mungkin
digunakan oleh raja bawahan.
Kelemahan yang keempat. Telah disinggung di muka keberatan
saya tentang anggapan Coed~s bahwa rakai Panangkaran yaitu
keturunan raja Sanjaya. Lain daripada kenyataan bahwa rakai
Panangkaran tidak menggunakan tarikh tahun Sanjaya, perbedaan
agama yang dianut oleh rajakula Sailendra dan rajakula Sanjaya juga
merupakan keberatan. Rajakula Sanjaya beragama Siwa, berkiblat ke
India Selatan, seperti ternyata pada pembangunan candi Siwa di
tempat yang disebut Kunjarakunjadesa, tercatat pada piagam
Canggal. Rakai Panangkaran menganut agama Budha Mahayana,
berkiblat ke Benggala sebagai pusat agama Budha Mahayana.
Kelemahan yang kelima tentang perbedaan dewa persembahan.
Di Fu-nan, raja yang memerintah pada tahun 620 ialah keturunan
rajakula ailar~ja. Rajakula yang memerintah di Jawa Tengah dan
Sriwijaya yaitu cailendra. Meskipun kata r@ja dan indra boleh
dikatakan sinonim, namun sebagai nama berbeda.
Pada piagam-piagam Sailendra, baik yang dikeluarkan oleh raja
raja Sriwijaya maupun oleh raja-raja Jawa Tengah, tidak pernah
terdapat kata cailar~ja, tetapi selalu cailendrawamca. Perbedaan itu
akan lebih nyata lagi jika kita memerhatikan dewa persembahan atau
agamanya. Raja-raja Fu-nan yang menyebut dirinya keturunan
rajakula cailar~ja menyembah dewa Siwa, sedangkan raja-raja
Sriwijaya dan Semenanjung 171
Sailendra di Jawa Tengah dan Sriwijaya memeluk agama Budha
Mahayana. Menurut Coed~s, dalam kronik sejarah Tionghoa, tercatat
bahwa pada abad ke-5, seorang pendeta Nagasena berangkat ke
Tiongkok sebagai utusan raja Fu-nan. Pendeta itu menceritakan bahwa
di Fu-nan, ada gunung suci bernama Mo-tan. Gunung itu tempat
bersemayam dewa Siwa. Semua raja Fu-nan menyebut dirinya
parwatabhp~la, artinya: raja gunung; sama dengan girinatad.
Kemudian Coed~s mengutip piagam Sri Isanawarman, raja Kamboja
dari tahun 620, yang bunyinya: "Raja Isanawarman, yang mem
peroleh kesukaan dalam menerima para pendeta, setelah menjelajah
tempat-tempat, memperoleh kedudukan sebagai raja gunung
(cailarja)."
Kalimat itu ditafsirkan oleh Coed~s, bahwa raja Isanawarman
setelah merebut seluruh kerajaan Fu-nan, kemudian menjadi raja
dan menggunakan sebutan cailar~ja. Coed~s selanjutnya mengutip
piagam Jayawarman II di Sdok Kak Thom dari tahun 802, yang
menyatakan bahwa sekembalinya raja Jayawarman dari Jawa dan
mendirikan ibu kota di atas bukit Mahendra, Kamboja-de~a tidak
lagi menjadi negeri bawahan Jawa. Dalam kerajaan itu, hanya ada
satu raja yang memerintah. Jayawarman menjelaskan bahwa negara
Kamboja memeluk agama dewar~ja (agama Siwa). berdasar
peristiwa tersebut, diambil kesimpulan bahwa setelah penundukan
raja Fu-nan, timbullah hubungan kekeluargaan antara Jawa dan
Kamboja. Raja Jawa kemudian mengambil alih sebutan cailaraj
sebagai sebutan rajakula.
Teori Coed~s di atas telah ditinggalkan sejak tahun 1950 ketika
ia menerbitkan karangannya, Le (ailendra, tueur des h~ros ennemis
dalam Bingkisan Budi. Seperti telah diuraikan di atas, Coed~s ber
anggapan bahwa raja Sailendra yang pertama memerintah di Seme
nanjung, seperti tercantum pada piagam Ligor B. Sebutan cailendra
diperoleh sesudah perkawinan putra raja Wisnu dengan putri Fu
nan. Wisnu yaitu raja Sriwijaya.
Teori Coed~s terbentur pada pelbagai kesulitan. Namun, harus
diakui bahwa anggapannya yaitu salah satu hasil penyelidikan
179 Sriwijaya
sejarah Sriwijaya sesudah Perang Dunia II. Usaha itu harus disambut
dengan baik, meskipun hasilnya belum memuaskan. Justru, hal itu
membuktikan betapa sulitnya persoalan sejarah Sriwijaya. Anggapan
Coed~s itu diterima baik oleh Prof. Dr. F.D.K. Bosch dalam
karangannya, Griwijaya, de Cailendra- en de Sanjayawamca, yang
termuat dalam B.K.I. 108 tahun 1952 hlm. 113-123. Karangan itu
dilengkapi dengan lampiran silsilah raja-raja Sailendra dalam hu
bungannya dengan raja Fu-nan dan rajakula Sanjaya.
Dalam silsilah itu, nyata sekali bahwa Bosch beranggapan bahwa
rakai Panangkaran yaitu keturunan raja Sanjaya. Raja Wisnu (piagam
Ligor) mempunyai hubungan dengan raja Sanjaya. Dharmasetu
yaitu raja Sriwijaya, mempunyai putri yang bernama dewi Tara,
yang kawin dengan Samaragrawira (piagam N alanda). Samaragrawira
disamakan dengan Samaratungga. Seperti kita ketahui, Samaragrawira
yaitu ayah Balaputradewa. Menurut silsilah Bosch, putri raja Fu
nan dari Somawangsa kawin dengan rakai Panangkaran, keturunan
Sanjaya. Dari perkawinan itu, lahir sri maharaja (piagam Ligor) dan
rakai Panunggalan (piagam Kedu). Teori barn Bosch yang didasarkan
atas teori Coed~s ini perlu mendapat sorotan dalam bab "Sriwijaya
di bawah Kekuasaan Sailendra''.
Ini berarti bahwa Bosch telah melepaskan teorinya pada tahun
1941, ketika ia menulis De Inscriptie van Ligor dalam majalah T.B. G.
LXXXI hlm. 26 dst. Dalam tulisan itu, ia mengulangi pendapat Dr.
Chhabra mengenai raja Wisnu yang disamakan dengan Wisnu
warmasya pada cincin perak, dan akhirnya mengambil kesimpulan
bahwa pada tahun 775, seorang raja Sailendra yang bernama Wisnu
memerintah Sriwijaya. Raja Wisnu yang tercatat pada piagam Ligor
B tidak lain daripada rakai Panunggalan, yang tercatat pada piagam
Kedu yang dikeluarkan oleh raj a Bali tung pada tahun 907. Rakai
Panunggalan itu sama dengan Samarottungga pada piagam Karang
Tengah, dan Samarottungga yaitu Samaragrawira pada piagam
Nalanda. Beliau yaitu putra rakai Pancapana Panangkaran, yang
tersebut pada piagam Kalasan dari tahun 778. Pada piagam Kelurak,
raja Pancapana Panangkaran menyebut dirinya pembunuh musuh
Sriwijaya dan Semenanjung 173
perwira, yakni wairiwarawirawimardana, dan pada piagam N alanda
disebut w~rawairimanthana, dengan arti yang sama.
Jalan pikiran Coed~s dalam pembahasan piagam Ligor B sejajar
dengan jalan pikiran van Naerssen dalam pembahasan piagam
Kalasan. Dalam karangannya, The <;ailendra Interregnum, yang
termuat dalam India Antiqua tahun 1947 hlm. 249-253, Van
Naerssen mengutarakan bahwa pada piagam Kalas~n ia melihat
adanya dua raja. Yang satu ialah rajasingha, termasuk dalam wangsa
Sailendra; yang lainnya ialah dyah Pancapana Panangkaran, termasuk
wangsa Sanjaya. Raja Panangkaran ada di bawah kekuasaan raja
Sailendra yang tidak disebut namanya.
Van Naerssen beranggapan bahwa ketika rakai Panangkaran
menggantikan ayahnya, yakni Sanjaya, kerajaan Mataram diserbu
dari luar oleh wangsa Sailendra yang memeluk agama Budha. Serbuan
itu berhasil baik. Oleh sebab itu, rakai Panangkaran menjadi raja
bawahan Sailendra. Agama Siwa, yang selama pemerintahan Sanjaya
menjadi agama resmi dalam kerajaan Mataram, diganti dengan agama
Budha Mahayana. Sejak itu maka kerajaan Mataram dikuasai oleh
raja-raja dari wangsa Sailendra, sedangkan raja-raja keturunan Sanjaya
terdesak.
Keadaan yang demikian itu berlangsung sampai pertengahan
abad ke-9, ketika rakai Panangkaran timbul dan berhasil memegang
tampuk pimpinan pemerintahan. Rakai Pikatan yaitu keturunan
tingkat lima dari raja Sanjaya. Beliau tidak bergelar maharaja, tetapi
ratu saja. Baru setelah rakai Kajuwangi berkuasa, gelar maharaja itu
digunakan. Rakai Kajuwangi yaitu putra rakai Pikatan. Dengan
timbulnya rakai Kajuwangi dengan gelar maharaja itu, maka
kekuasaan rajakula Sailendra berakhir sama sekali.
Anggapan bahwa rakai Panangkaran yaitu putra raja Sanjaya
telah cukup banyak dikemukakan oleh para sarjana. Terhadap
anggapan itu telah saya kemukakan keberatan saya dalam Ikhtisar
Penulisan Sejarah Sriwijaya.
174 Sriwijaya
Dengan jelas piagam Kalasan menyebut bahwa Dyah Pancapana
Panangkaran yaitu hiasan rajakula Sailendra (Piagam Kalasan pada
5). Ungkapan itu berarti bahwa rakai Panangkaran justru salah
seorang raja dari rajakula Sailendra. Bahkan, pada hakikatnya ia
yaitu raja Sailendra yang pertama di Jawa Tengah, sepanjang
pengetahuan kita dari piagam-piagam. Bahwa rakai Panangkaran tidak
menggunakan Sanjayawarsa seperti raja-raja lainnya pada piagam Gata
dan Taji Gunung, tetapi dengan tegas menyatakan bahwa beliau
yaitu hiasan rajakula Sailendra, yaitu pernyataan yang cukup tegas,
bahwa rakai Panangkaran bukan keturunan raja Sanjaya. Oleh sebab
itu, tidak mungkin bahwa rakai Panangkaran yaitu raja bawahan
rajakula Sailendra yang berasal dari luar. Menurut anggapan saya,
justru rakai Panangkaran itulah yang merobohkan atau mengakhiri
kekuasaan rajakula Sanjaya. Dengan timbulnya rajakula Sailendra di
Mataram, yang dimulai oleh rakai Panangkaran, dengan sendirinya
rajakula Sanjaya terdesak. Rajakula Sanjaya timbul kembali dengan
munculnya rakai Pikatan yang berhasil kawin dengan Pramoda
wardhani, putri keturunan wangsa Sailendra, dan kemudian
menghalau Balaputradewa dari bumi Mataram.
sebab baik teori van Naerssen maupun teori Coed~s terbentur
pada pelbagai kesulitan seperti diuraikan di atas, maka kiranya lebih
beralasan untuk mengemukakan bahwa adanya rajakula Sailendra di
Jawa Tengah lebih dahulu daripada di Semenanjung, seperti yang
tercatat pada batu Ligor menurut tafsiran Coed~s.
Rakai Panangkaran yang bergelar maharaja dan menyebut
dirinya hiasan rajakula Sailendra, sebelum mendirikan candi Tara
pada tahun 778, pasti sudah menjadi raja. Ini berarti bahwa ketika
criwijayar@ja mengeluarkan piagam Ligor A pada tahun 775, rakai
Panangkaran telah bertahta dan bergelar maharaja, sebab piagam
Taji Gunung sebagai piagam yang terakhir dari rajakula Sanjaya
bertarikh tahun 772. Antara tahun 772 dan 778 itulah berakhirnya
kekuasaan rajakula Sanjaya dan timbulnya kekuasaan rajakula
Sailendra, yang dimulai oleh dyah Pancapana rakai Panangkaran.
Sriwijaya dan Semenanjung 175
Suatu kenyataan ialah bahwa di Semenanjung, ditemukan batu
piagam dengan pemberitaan tentang adanya rajakula Sailendra; di
Jawa Tengah, kedapatan pula piagam Sailendra dengan tarikh tahun
778. Adakah hubungan antara dua rajakula Sailendra itu? Jika ada,
mana buktinya? Itulah persoalannya. Tidak dapat disangkal bahwa
piagam rajakula Sailendra di Semenanjung itu ditulis pada batu yang
sama dengan piagam Sriwijaya dari tahun 775. Bagaimana hubungan
antara piagam A dan piagam B itu?
Mengenai hubungan Sriwijaya dan rajakula Sailendra, Prof.
Nilakanta Sastri dalam bukunya, History of Griwijaya, menuliskan
kesimpulan penyelidikannya demikian:
The relations between Sriwijaya and the Sailendras would ap
pear to have been on the whole friendly, and together they spread
their power for a time as far as Campa and Kamboja. This outer
empire was short-lived, and at the beginning of the ninth century
Kamboja became independent of the southern power. About the
middle of that century, a <;ailendra prince comes to occupy the
throne of <;riwijaya which then becomes the seat of the maharaja.
Possibly (ailendera rule continued in Java for some time longer, and
if that be so, there were two branches of this celebrated line ruling in
Sumatra and Java for a while.
Yang menimbulkan persoalan ialah: Siapa "ailendra prince
yang dikatakan oleh Prof. Nilakanta Sastri merebut takhta Sriwijaya
itu? Di antara piagam Sailendra dari Jawa Tengah, yang paling
menarik perhatian mengenai hubungan Sriwijaya-Sailendra dalam
abad ke-8 ialah piagam Kelurak. Piagam ini dikeluarkan oleh seorang
raja dari wangsa Sailendra yang menyebut dirinya Dharanindra pada
tahun Saka 704 atau tahun Masehi 782. Beliau membangun area
Manjuc;ri. Penyelenggaraannya diserahkan kepada seorang pendeta
dari Gaudadwipa bernama Kumaragosha. Arca Manjuc;ri merupakan
kesatuan Brahma, Wisnu, dan Maheswara atau Siwa. N amun, piagam
tersebut sudah sangat rusak. Banyak kata-katanya yang tidak dapat
lagi dibaca.
176 Sriwijaya
Jika kita meneliti piagam Kedu, yang menyebut raja-raja Medang
di Poh Pitu, nama Dharanindra tidak tersebut di situ. Piagam Kedu
memang tidak menyebut nama pribadi raja-raja Mataram kecuali
ratu Sanjaya. Yang disebut di situ hanyalah gelar rakai, diikuti nama
tempat, seperti Warak, Garung, Pikatan, Panangkaran, dan
sebagainya. Jelas sekali bahwa nama pribadi rakai Panangkaran ialah
Pancapana, namun nama Pancapana tidak disebut pada piagam Kedu.
Saya kira, nama Dharanindra juga nama pribadi salah satu di
antara delapan raj a yang disebut pada piagam Kedu. Meskipun waktu
pengeluaran piagam itu hanya berselisih empat tahun dengan
pengeluaran piagam Kalasan, namun sebab sang raja menyebut
dirinya Dharanindra, sedangkan pada piagam Kalasan dyah
Pancapana, maka kiranya Dharanindra ini berbeda dengan Pancapana
alias rakai Panangkaran. Selisih waktu yang terlalu pendek itu
menimbulkan dugaan bahwa Dharanindra yaitu putra dan pengganti
Pancapana.
Jika anggapan itu benar, maka Dharanindra harus maharaja rakai
Panunggalan, sebab dalam urutan nama raja-raja Medang, rakai
Panunggalan disebut sesudah rakai Panangkaran. Nama Dharanindra,
artinya "raj a jagat", yaitu nama tambahan Wisnu, sebab wisnu
mempunyai tugas untuk membina dunia. Kesamaan antara raja dan
dewa Wisnu dalam membina kerajaan sudah meresap dalam kesu
sastraan dan kehidupan. Demikianlah, Dharanindra atau Dhara
nidhara: penjaga, pendukung dunia, tidak aneh digunakan sebagai
nama raja. Nama Dharanindhara atau Dharanindra yaitu Dewa
Wisnu.
Yang agak mencolok ialah adanya kesamaan nama dan rajakula
antara raja yang tersebut pada piagam Ligor B dan piagam Kelurak.
Kedua-duanya yaitu keturunan rajakula Sailendra. Yang satu
bernama Wisnu; lainnya bernama Dharanindra. Nama Dharanindra
yaitu sinonim dari nama Wisnu. Piagam Kelurak boleh dikatakan
sezaman dengan piagam Ligor. berdasar pandangan di atas, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa kedua piagam itu dikeluarkan oleh
Sriwijaya dan Semenanjung 177
satu raja, yakni oleh rakai Panunggalan. Demikianlah, rakai Panung
galan mempunyai nama pribadi Dharanindra. Kelanjutan dari kesim
pulan, ialah bahwa daerah Ligor pada akhir abad ke-8 diperintah
oleh raja dari rajakula Sailendra yang berasal dari Jawa Tengah.
Tegasnya, oleh rakai Panunggalan.
lni berarti bahwa raja Sriwijaya yang mengeluarkan piagam Ligor
A merupakan raja yang terakhir dari keluarga raja, yang dalam bahasa
Sriwijaya bergelar dapunta hyang. Kekuasaan Sriwijaya di daerah Ligor
diambil alih oleh raj a dari rajakula Sailendra dari Jawa Tengah, yakni
oleh rakai Panunggalan.
Nama desa Panunggalan disebut beberapa kali dalam prasasti.
Di antaranya dalam prasasti K.O. IX. Desa Panunggalan terletak di
daerah Purwadadi, Jawa Tengah. Politik perluasan daerah di luar Jawa
memang dilakukan oleh tentara Jawa pada pertengahan abad ke-8.
Menurut catatan sejarah Annam pada tahun 677, Tongkin mengalami
serangan musuh dari Ch'o-po dan K'un-lun. Namun, serangan itu
tidak berhasil. Tentara musuh dapat dipukul mundur oleh gubernur
Chang-po-yin di dekat S~n-tay dan diusir kembali ke laut.
Piagam Sanskerta dari Po Ngar menguraikan bahwa pada tahun
77 4, Campa diserang oleh tentara asing yang warna kulitnya hi tam.
Tindakannya sangat kejam dan datang dengan perahu. Mereka
merebut lingga dan membakar candi. Namun, mereka dapat
dikalahkan oleh raja Satyawarman. Pada tahun 787, tentara Jawa
datang lagi dengan perahu dan membakar candi lain. Pada tahun
802, raja Kamboja, Jayawarman, mengatakan bahwa pada tahun itu
Kambojadesa berhenti jadi jajahan Jawa. Peristiwa-peristiwa terse but
membuktikan adanya politik perluasan daerah atau perluasan
kekuasaan oleh rajakula Sailendra di Jawa. Kita berhenti pada per
nyataan bahwa pada tahun 787, tentara J awa datang menyerang
Campa, dan pada tahun 802, Kambojadesa berhenti jadi jajahan
Jawa. lni berarti bahwa sebelum tahun 802 Kamboja jadi jajahan
Jawa.
178 Sriwijaya
Tahun 787 yaitu masa pemerintahan rakai Panunggalan atau
Dharanindra. Tentara Jawa pada waktu itu menyerang Campa.
Kiranya tidak mustahil bahwa Ligor, daerah Sriwijaya yang terletak
di pantai timur Malaya, mendapat serangan lebih dahulu daripada
Campa. Pada tahun 775, raja Sriwijaya masih berkuasa di daerah
Ligor. Demikianlah, pengambilalihan kekuasaan daerah Ligor oleh
rakai Panunggalan harus terjadi antara tahun 775 dan 787. Jika
demikian, maka pemahatan piagam Ligor B harus terjadi pada waktu
waktu itu, yakni antara tahun 775 dan 787. Piagam Ligor B lalu
merupakan proklamasi kekuasaan rajakula Sailendra dari Jawa Tengah
di daerah Ligor. Ligor dijadikan pangkalan untuk menyerang
Kamboja clan Campa. Kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung
dipatahkan oleh tentara Jawa dari Jawa Tengah, di bawah peme
rintahan dyah Dharanindra rakai Panunggalan.
Bab 6
RAJAKULA SAILENDRA DI JAWA TENGAH
Prasasti Kedu
Untuk mengetahui bagaimana hubungan rajakula Sailendra di
Sriwijaya dengan rajakula Sailendra di Jawa, perlu kita mengadakan
sekadar tinjauan tentang perkembangan kerajaan Sailendra di J awa
Tengah. Untuk tujuan tersebut, perlu kita memerhatikan prasasti
prasasti yang pernah dikeluarkan oleh rajakula Sailendra di J awa,
dan prasasti-prasasti lainnya yang dapat memberikan keterangan
tentang kerajaan Sailendra di Jawa Tengah.
Salah satu piagam yang dijadikan pegangan ialah piagam Kedu
yang dikeluarkan oleh raj a Bali tung pada tahun 907. Piagam Kedu
telah diterbitkan oleh Dr. W.F. Stutterheim dalam T.B. G. LVII hlm.
172 dst. pada tahun 1927. Piagam Kedu menyebut nama delapan
raja yang pernah memerintah Medang di wilayah Poh Pitu, dan yang
mendahului raja Balitung. Kedelapan raja itu semuanya bergelar sri
maharaja, kecuali Sanjaya. Sanjaya bergelar sang ratu. Kedelapan raj a
itu semuanya, tan pa kecuali, menggunakan sebutan rakai. Penyebutan
raja-raja itu didahului dengan ucapan Rahyang ta rumuhun ri M~dang
ri Poh Pitu: pembesar-pembesar didahulukan yang memerintah di
Medang di Poh Pitu. Kedelapan raja itu lalu disebut berturut-turut
seperti berikut:
180
1. Sang Ratu Sanjaya, rakai Mataram
2. Sri Maharaj a rakai Panangkaran
3. Sri Maharaja rakai Panunggalan
4. Sri Maharaja rakai Warak
5. Sri Maharaja rakai Garung
6. Sri Maharaja rakai Pikatan
7. Sri Maharaja rakai Kayuwangi
8. Sri Maharaja rakai Watuhumalang.
Sriwijaya
Dari delapan raja itu, yang disebut namanya pribadi hanya raja
Sanjaya. Lainnya hanya disebut dengan gelar rakai yang diikuti nama
tempat. Dengan sendirinya lalu timbul pertanyaan: Siapa nama pri
badi atau nama abhiseka raja-raja yang tujuh itu? Hingga sekarang,
kita belum berhasil sepenuhnya untuk mencari nama-nama pribadi
atau nama-nama abhiseka ketujuh raja tersebut. Nama pribadi rakai
Panunggalan dan rakai Warak hingga saat ini belum lagi ditemukan.
Lima raja lainnya berkat penelitian pelbagai piagam sudah dapat
diketahui.
Sudah jelas bahwa di Jawa Tengah hanya ada delapan raja yang
memerintah sebelum raj a Bali tung, sebelum tahun 907. Pada tahun
927, raja Balitung sudah memerintah. Dari piagam Canggal, kita
ketahui dengan pasti bahwa raja Sanjaya telah memerintah pada
tahun 732. Berapa tahun lamanya beliau sudah memerintah ketika
mendirikan lingga di atas gunung Wukir, tidak dapat diketahui.
Demikianlah delapan raja itu memerintah di Jawa Tengah dalam
pangsa waktu tahun 732-907, lebih kurang 175 tahun. Masa peme
rintahan Sanjaya sebelum tahun 732 dan Balitung sebelum tahun
907 tidak ikut diperhitungkan.
Piagam Kedu yaitu piagam persumpahan yang menyebut
nama-nama raja yang telah dimakamkan. Pangsa waktu 175 tahun
pada hakikatnya bukan pangsa waktu yang panjang. Raja yang
memerintah yaitu tokoh-tokoh yang dikenal oleh masyarakat. Oleh
sebab itu, penyebutan delapan nama raj a itu kiranya dapat dipercaya.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 181
Kiranya tidak ada maksud untuk menyelundupkan nama raja
lain, atau dengan sengaja tidak memberitakan raj a yang tidak disukai
nya, mengingat bahwa pada masa itu kultus persembahan atau
pendewaan nenek moyang sedang berkembang. Bali tung a tau
pemahat piagam pasti mempelajari nama raja-raja yang bersangkutan
lebih dahulu. Tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran pem
beritaan piagam tersebut. Bahwa kemudian ditemukan nama-nama
raja yang tidak termasuk dalam daftar piagam Balitung, dapat ditaf
sirkan bahwa raja-raja yang bersangkutan tidak termasuk raja-raja
yang memerintah di Poh Pitu. Selain kerajaan Mataram, di Jawa
Tengah pada waktu itu pasti masih ada kerajaan-kerajaan lain. Wila
yah kerajaan pada waktu itu tidak bisa digambarkan dengan jelas.
Namun, dapat dipastikan bahwa kebanyakan kerajaan pada waktu
itu merupakan kerajaan kecil-kecil.
Juga, tidak dapat dibuktikan apakah urutan raj a-raj a yang jum
lahnya sembilan dengan Balitung itu termasuk satu dinasti, yang
bisa disebut dinasti atau wangsa Sanjaya; berhubung Sanjaya yaitu
raj a yang pertama. J uga, masih diragukan apakah raj a-raj a yang
disebut itu memerintah beturut-turut dari bapak ke anak, atau di
antaranya terselip pula raja dari wangsa lain. Bagaimana hubungan
antara raja yang satu dengan raja yang lain, tidak diketahui dengan
pasti. Kecuali piagam Kedu di Jawa Tengah, masih banyak lagi dite
mukan prasasti-prasasti yang menyebut nama raja yang tidak
tercantum pada daftar nama raja prasasti Kedu. Bagaimana hubungan
antara raja-raja tersebut dengan raja pada prasasti Kedu, masih perlu
diselidiki. Demikianlah, pada hakikatnya persoalan wangsa Sailendra
di Jawa Tengah itu masih sangat rumit.
Pada prasasti Kedu, jelas dinyatakan bahwa raja-raja yang ter
sebut pada prasasti itu pernah memerintah di Medang di Poh Pitu.
Hingga sekarang, kita tidak mengetahui di mana letaknya Poh Pitu.
Pada piagam lain, akan kita jumpai pula nama Medang, yang tidak
dihubungkan dengan Poh Pitu, tetapi dengan Mataram dan Mamrati.
Di mana letaknya tempat-tempat tersebut dan apa sebab-sebabnya
timbul tiga nama tersebut, masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
189 Sriwijaya
Lokalisasi tempat-tempat itu tidaklah mudah. Sanjaya memeluk
agama Siwa, tetapi rakai Panangkaran jelas memeluk agama Budha
Mahayana. Apakah sebabnya timbul perubahan agama dalam
kehidupan wangsa Sanjaya, jika Panangkaran yaitu benar putra rakai
Mataram, sang ratu Sanjaya? Jelas, bahwa Sanjaya bergelar sang ratu.
Mengapa sekonyong-konyong rakai Panangkaran bergelar sri maha
raja? Hal-hal tersebut merupakan persoalan yang perlu diperhatikan,
jika kita ingin mengetahui perkembangan wangsa Sailendra di Jawa
Tengah.
Tidak semua soal itu dapat dipecahkan secara memuaskan,
sebab bahan sejarah yang diperlukan tidak mencukupi. Bahwa kita
menyadari adanya persoalan-persoalan itu, yaitu suatu tanda bahwa
kesadaran sejarah itu telah timbul; telah mulai tumbuh di kalangan
masyarakat negara kita . Kesadaran sejarah itu, dengan sendirinya, akan
mendorong kita untuk mencari penjelasan tentang soal-soal yang
belum kita ketahui.
Untuk memperoleh sekadar gambaran tentang perkembangan
kerajaan Sailendra di Jawa Tengah, perlu kita meninjau prasasti
prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Sailendra sendiri, dan prasasti
prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja yang disebut pada prasasti
Kedu, meskipun tinjauan tentang prasasti-prasasti itu tidak akan
sangat mendalam. Kita mulai dengan peninjauan prasasti Canggal,
yang dikeluarkan oleh sang ratu Sanjaya.
Prasasti Canggal dan Sanjaya
Prasasti Canggal ditulis dalam bahasa Sanskerta, bertarikh tahun
Saka 654 atau tahun Masehi 732. Prasasti tersebut ditemukan di
atas gunung Wukir di Canggal, desa Kadiluwih, distrik Salam di
Kedu Selatan, diterbitkan oleh Ken pada tahun 1885 dalam B.K.I.
jilid X, dimuat kembali dalam V. G. VII hlm. 115 dst. Prasasti Canggal
dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada waktu mendirikan lingga di atas
gunung Wukir, ditemukan di dekat puing-puing candi.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 183
Isinya. Prasasti Canggal terdiri dari 12 pada. Pada 1 menguraikan
pembangunan lingga oleh raja Sanjaya di atas gunung. Pada 2-4
memuat pujaan kepada dewa Siwa. Pada 5 memuat pujaan terhadap
dewa Brahma. Pada 6 yaitu pujaan kepada dewa Wisnu. Pada 7
menguraikan pulau Jawa yang sangat subur, kaya akan tambang emas,
dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa
demi kebahagiaan penduduk, berasal dari Kunjarakunjadesa (di In
dia Selatan). Pada 8-9 menguraikan bahwa pulau Jawa diperintah
oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya,
perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada bawahannya
(rakyat). Ketika raja Sanna wafat, negara berkabung, sedih sebab
kehilangan pelindung. Pada 10--11 menguraikan pengganti raja
Sanna, yakni putranya, raja Sanjaya. Sanjaya dikiaskan dengan
matahari. Beliau menerima kekuasaan tidak langsung dari raj a Sanna,
tetapi dari kakak perempuannya. Pada l 2 menguraikan kesejahteraan,
keamanan, dan ketenteraman negara. Rakyat dapat tidur di tengah
jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau kejahatan
lainnya. Rakyat hidup serba senang.
Dari piagam Canggal, nyatalah bahwa raja Sanjaya memeluk
agama Siwa dan berkiblat ke India Selatan. N ama Kunjara a tau
Kunjaradari terdapat di India Selatan, terkenal sebagai tempat
pertapaan Agastya. Kunjaradari yaitu pusat agama Siwa. Boleh
dipastikan bahwa nenek moyang raja Sanjaya berasal dari India
Selatan. Tegasnya, dari tempat yang namanya Kunjaradari. Penyebutan
nama Sanjaya pada prasasti Bali tung terbukti cocok dengan kenyataan.
Nama Sanjaya memang kedapatan pada prasasti Canggal. Sanjaya
dianggap sebagai raja pertama di Mataram dan disebut rakai
Mataram. Sedangkan prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh raja
Sanjaya sendiri menyatakan bahwa sebelum raj a Sanjaya, J awa telah
diperintah oleh ayah beliau yang bernama raja Sanna.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan ialah pernyataan bahwa
pulau J awa kaya akan tam bang emas. Moens, dalam karangannya,
(riwijaya, Yava en Katha (TB.G. LXXVII hIm. 386-387), segera
menghubungkan Yawa pada prasasti Canggal itu dengan Ye-po-ti,
184 Sriwijaya
sebagai transkripsi Tionghoa dari Yawadwipa, yang diidentifikasikan
dengan Semenanjung Melayu, kaerna pulau Jawa tidak pernah
dikenal sebagai pulau emas atau pulau yang menghasilkan emas.
Baik Yawadwipa dalam kakawin Sanskerta R~may~na maupun
pemberitaan Ptolomeus tentang Chryso Chersonesos bertalian dengan
Semenanjung, tidakdengan pulauJawa. Menurut pendapatnya, raja
Sanjaya diusir dari Kat~ha dan lari ke J awa. Di J awa, beliau mendirikan
kerajaan di Jawa Tengah. Apa yang diceritakan pada prasasti Canggal
tentang J awa yaitu ingatan kepada tern pat tinggalnya yang lama,
yakni Semenanjung. Candi Siwa yang diuraikan pada pada 7 tidak
pernah terdapat di Jawa, tetapi di Semenanjung.
Juga, raja Sannaha tidak memerintah Jawa. Raja Sanna hidup
dan wafat di Semenanjung. Kesejahteraan rakyat yang diuraikan
dalam prasasti Canggal yaitu kesejahteraan rakyat di Semenanjung.
Pusat kerajaan Yawadwipa yaitu Kedah. Moens berusaha untuk
mengidentifikasikan Cho-po dengan Jawa (Yawadwipa), yang
dilokalisasikan di Semenanjung. sebab timbulnya kerajaan Sriwijaya
yang segera menguasai Selat Malaka dan menyerang Semenanjung,
maka raja Sanjaya berhasil diusir dari Kedah dan melarikan diri ke
J awa. Demikianlah pendapat Moens.
Piagam-piagam yang menggunakan perhitungan tarikh tahun
Sanjaya ada dua, yakni piagam Gata dekat Prambanan dengan tarikh
Sanjayawarsa 693 (0.J.O XXXV) dan piagam Taji Gunung, juga
dekat Prambanan, dengan tarikh Sanjayawarsa 694 atau tahun Masehi
772 (0.J.O XXXVI); jadi, 40 tahun sesudah prasasti Canggal. Nama
rajanya tidak jelas, tetapi rajanya terang bergelar sri maharaja, dan
nama abhisekanya berakhir dengan tunggawijaya. N ama itu terdapat
pada baris 4 dan 5:
~ri mah~raja daksottamabahubajrapratipaksaksaya ~ri ...
nggawijaya, tumurun i rakry~n mapatih halu, sirikan, muang.
sebab kedua piagam tersebut menggunakan tarikh Sanjaya
warsa, boleh dipastikan bahwa raja yang namanya tersebut pada
piagam Gata yaitu keturunan raja Sanjaya.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 185
Prasasti Taji Gunung tidak menyebut nama raja, hanya
menyebut mahamantri rakryan Gurunwangi. Benar, pada prasasti
itu disebut Sri Sanjaya naranata, tetapi didahului dengan kata nguni:
"dahulu". Pada waktu itu, raja Sanjaya sudah wafat. sebab selisih
waktu hanya satu tahun saja dengan prasasti Gata, maka boleh
dipastikan raja yang memerintah sama dengan raja yang mengeluarkan
prasasti Gata. Lagi pula, baik prasasti Gata maupun prasasti Taji
Gunung menggunakan Sanjayawarsa.
Peristiwa tersebut saya anggap penting, sebab pada prasasti
itu jelas bahwa keturunan Sanjaya juga bergelar sri maharaja dan
mengambil nama abhiseka dengan tungga. Lagi pula, masa peme
rintahannya jelas dinyatakan dengan tarikh tahun, yakni tahun 771
dan 772. De Casparis, dalam perhitungan bahwa setiap raja me
merintah 20 tahun untuk mengisi pangsa waktu 175 tahun, sampai
kepada perhitungan bahwa rakai Panangkaran memerintah mulai 760
780 dan seterusnya. Prasasti Gata dan Taji Gunung tidak ditulis
dalam bahasa Sanskerta, seperti prasasti Canggal, Kalasan, Karang
Tengah, dan lain-lain, tetapi dalam bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini
segera kita hubungkan dengan prasasti Kalasan yang bertarikh 778
dan ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Prasasti Kalasan dan Rakai Panangkaran
Prasasti Kalasan ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan huruf
Pra-Nagari, bertarikh tahun Saka 700 atau tahun Masehi 778. Untuk
pertama kalinya prasasti tersebut diterbitkan oleh Dr. Brandes pada
tahun 1886 dalam T.B.G. 31 hlm. 240-260. Pada tahun 1928,
diterbitkan lagi oleh Bosch dalam T.B.G. 68 hlm. 57-62.
Kalasan letaknya berdekatan sekali dengan Prambanan; boleh
dikatakan hanya terpisah oleh sungai. Pada tahun 771 dan 772,
Prambanan masih ada di bawah kekuasaan sri maharaja Daksotta
mabahubajra Tunggadewa, keturunan raja Sanjaya. Pada tahun 778,
Kalasan menjadi wilayah maharaja Pancapana Panangkaran. Sudah
pasti bahwa Prambanan juga termasuk wilayah raja Pancapana
Panangkaran.
186 Sriwijaya
lsi prasasti: Pada I: doa dan salam kepada Arya Tara, mudah
mudahan para pemujanya dapat mencapai tujuannya.
Pada 2-3: para guru raja Sailendra mohon kepada maharaja dyah
Pancapana Panangkaran agar beliau membangun candi Tara.
Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah area dewi Tara,
candinya, dan beberapa rumah untuk para pendeta yang fasih akan
pengetahuan Mahayana Winaya.
Pada 4-6: para pangkur, tawan, dan tirip menerima perintah
untuk membuat candi Tara dan perumahan para pendeta. Candi
Tara didirikan di daerah makmur sang raja, yang menjadi hiasan
rajakula Sailendra untuk kepentingan para guru raja Sailendra. Pada
tahun Saka 700, maharaja Panangkaran selesai membangun candi
Tara, tempat para guru melakukan persembahan.
Pada 7-9: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur, tawan, dan
tirip, adyaksa desa dan para pembesar menjadi saksi. Tanah yang
dihadiahkan oleh sang raja supaya dijaga baik-baik oleh para raja
keturunan wangsa Sailendra, oleh para pangkur, para tawan dan tirip,
serta para pembesar yang bijak turun-temurun. Selanjutnya, sang
raja berulang kali minta kepada semua raja yang akan memerintah
kemudian agar candi itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagiaan
semua orang.
Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu, diharapkan
semoga semua orang memperoleh pengetahuan tentang kelahiran,
memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran Cina. Yang mulia
kariyana (rakyan) Panangkaran mengulangi lagi permintaan beliau
kepada semua raja, yang akan menyusul untuk membina wihara itu
dalam keadaan yang sesempurna-sempurnanya.
Prasasti Kalasan tidak menggunakan perhitungan tarikh tahun
Sanjaya seperti Gata dan Taji Gunung. Nama raja yang disebut ialah
rakai Panangkaran dengan nama pribadinya, dyah Pancapana. Gelar
yang digunakan ialah maharaja. Untuk pertama kalinya diberitakan
adanya rajakula Sailendra. Pada 2 menguraikan bahwa para guru
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 187
raja Sailendra mohon kepada maharaja dyah Pancapana, rakai
Panangkaran, untuk membangun candi Tara dan perumahan untuk
para pendeta.
Sudah sejak tahun 1919 Prof. Ph. Vogel dalam artikelnya, Het
Koninkrijk Griwijaya (B.KI. 75 hlm. 614), telah menyarankan untuk
memisahkan raja Sailendra (~ailendrar~ya) dengan rakai Panangkaran.
Pada tahun 1928, dalam terbitan prasasti Kalasan-nya, Prof. Bosch
mengira bahwa ~ailendrar~ja dan rakai Panangkaran yaitu raja
Sriwijaya dan termasuk rajakula Sailendra.
Pada tahun 1947, Dr. van Naerssen mencurahkan perhatiannya
lagi kepada prasasti Kalasan dan melihat adanya dua raja pada prasasti
tersebut. Yang satu yaitu raja Sailendra yang tidak disebut namanya
(dalam kata majemuk cailendrar~jaguru); yang satu lagi ialah maha
raja Dyah Pancapana Panangkaran. Artikel van Naerssen termuat
dalam IndiaAntiqua hlm. 249-253. Van Naerssen beranggapan bahwa
maharaja Pancapana Panangkaran yaitu raj a bawahan raj a Sailendra
yang tidak disebut namanya itu. Raja Sailendra yang tidak disebut
namanya itu datang dari seberang lautan dan menguasai kerajaan
rakai Panangkaran. Beliau yaitu pemeluk agama Budha.
Pandangan F.H.N. van Naerssen ini kemudian diambil alih oleh
De Casparis dalam Prasasti negara kita I dan Bosch dalam karangannya
yang berjudul Griwijaya, de Gailendra- en de Sanjayawamga yang
akan dibicarakan segera. Mereka semuanya berpendapat bahwa raja
dyah Pancapana Panangkaran yaitu raja bawahan raja Sailendra.
Segera timbul pertanyaan: Jika rakai Panangkaran yaitu raja
bawahan raja Sailendra, mengapa para guru Sailendra minta kepada
rakai Panangkaran untuk membangun candi Tara beserta wiharanya,
tidak langsung minta kepada raja Sailendra yang lebih berkuasa?
Permintaan guru-guru raja Sailendra itu membuktikan bahwa rakai
Panangkaran berkuasa atas daerahnya. Beliau berkuasa membebaskan
tanah dan desa demi kepentingan pembangunan candi dan wihara.
Permintaan itu yaitu manifestasi pengakuan guru raja Sailendra
terhadap kekuasaan rakai Panangkaran.
188 Sriwijaya
Pembebasan demi kepentingan pembangunan candi dan wihara
dilakukan oleh raj a yang berkuasa di daerahnya. Pada prasasti Kalasan,
pemberian desa Kalasan sebagai hadiah demi pembangunan candi
Tara dan wiharanya dilakukan oleh rakai Panangkaran atas permintaan
para guru.
Peristiwa itu sama dengan peristiwa pembebasan tanah di desa
Timbangan Wungkal demi pembangunan dharmma kawikuan. Tanah
itu dijadikan tanah perdikan atau swatantra, bebas dari pajak.
Pembebasan desa Timbangan Wungkal dilakukan oleh sri maharaja
Daksottama Bahubajra Tunggawijaya pada tahun Saka 693 atau tahun
Masehi 771 sebab sri maharaja yang berkuasa. Perintah pembebasan
itu diberikan oleh sang prabu kepada rakryan mahamantri dan rakryan
Gurun Wangi. Dari peristiwa pembangunan candi Tara beserta
wiharanya, dan penghadiahan desa Kalasan, nyatalah bahwa rakai
Panangkaran berkuasa penuh di daerahnya. Tidak ada raja lain yang
ada di atasnya.
Mengapa para guru Sailendra mohon agar sang prabu suka
membangun candi Tara dan wihara untuk para pendeta? Pancapana
Panangkaran yaitu raja dari para guru tersebut. Pancapana sebagai
raja Sailendra yang beragama Budha mempunyai kewajiban untuk
mengembangkan agama Budha, justru setelah berhasil mendirikan
kerajaan.
Kita ketahui bahwa menurut piagam Taji Gunung dan piagam
Gata, yang jelas menggunakan tarikh Sanjayawarsa, sri maharaja
Daksottama Bahubajra Tunggawijaya yang berkuasa. Sebagai
keturunan Sanjaya, beliau yaitu pemeluk agama Siwa. sebab
sekarang yang berkuasa yaitu raja yang beragama Budha, sudah
selayaknya bahwa agama Budha mendapat perhatian. Mungkin juga
pembangunan candi Tara dan wihara itu bertalian dengan penebusan
janji sang raja kepada para guru, di samping persembahan kepada
nenek moyang, seperti dikenal dalam agama Budha Mahayana di
masyarakat Jawa Tengah. Pembangunan candi dan wihara di Kalasan
yaitu manifestasi rasa terima kasih bahwa Pancapana berhasil
menduduki takhta kerajaan.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 189
Di antara raja-raja yang namanya tercantum pada daftar silsilah
prasasti Kedu, pada hakikatnya hanya rakai Panangkaran yang kita
ketahui namanya pribadi dengan jelas, sebab nama pribadi itu
dicantumkan pada piagam Kalasan juga, berdampingan dengan gelar
rakai. Lain-lainnya tidak diketahui. Atau jika diketahui, maka
diketahui secara tidak langsung. Artinya, pengetahuan itu diperoleh
sebab perbandingan dengan piagam-piagam lain. Kecuali gelar rakai
yang diikuti nama tempat seperti dikenal pada prasasti Balitung
(Kedu), raj a biasanya mempunyai nama pribadi clan nama abhiseksa.
Baik nama pribadi maupun nama abhiseka ini perlu mendapat
perhatian. Mungkin sekali, nama-nama dengan tungga yang terdapat
pada beberapa piagam, clan disangka khusus sebagai nama raja
Sailendra oleh De Casparis, yaitu nama abhiseka rakai yang disebut
pada prasasti Kedu.
Satu-satunya rakai pada prasasti Kedu yang disertai nama
pribadi hanya rakai Mataram, yakni sang ratu Sanjaya, yang juga
dikenal pada piagam Canggal. Berkat prasasti Bali tung (Kedu), kita
mengetahui bahwa raja Sanjaya disebut rakai Mataram. Dari piagam
Canggal saja, kita hanya mengetahui bahwa ada raja yang bernama
Sanjaya. Nama Mataram sama sekali tidak disebut pada prasasti
Canggal. Demikian pula dengan nama-nama lainnya.
Dari prasasti Balaputra J atiningrat, kita hanya mengetahui nama
J atiningrat. N ama rakai Pikatan tidak disebut pada prasasti itu.
Pengetahuan bahwa Jatiningrat yaitu rakai Pikatan diperoleh akibat
pembandingan prasasti Kedu dengan prasasti Balaputra-Jatiningrat.
Demikianlah, kiranya dengan perbandingan itu kita mungkin
berhasil mengidentifikasikan beberapa nama dengan nama-nama raj a
pada prasasti Kedu. Lagi pula, prasasti Kedu sama sekali tidak
menyatakan secara mutlak, bahwa nama-nama yang tercantum pada
prasasti itu semata-mata keturunan raja Sanjaya. Bahkan, nama sri
maharaja Daksottama Tunggawijaya pada prasasti Gata, yang jelas
menggunakan tarikh Sanjayawarsa, malah tidak disebut di situ. Apa
yang dinyatakan pada prasasti Kedu tidak lain daripada menyebut
nama raj a-raj a yang pernah memerintah di Poh Pitu dengan ungkapan
190 Sriwijaya
rahyang ta rumuhun ri M~dang ri Poh Pitu. Mungkin, ada juga raja
Sailendra yang pernah memerintah di Poh Pitu. Kiranya Medang ri
Poh Pitu bukan monopoli raja-raja keturunan raja Sanjaya saja. Siapa
yang kuat dan berhasil merebut kekuasaan, dialah akan menduduki
takhta kerajaan.
Pada tahun 1950, seperti telah disinggung di muka, Coed~s
menganalisis piagam Ligor B. Jalan pikiran Coed~s sejajar dengan
jalan pikiran van Naerssen. Juga, Coed~s melihat adanya dua raja
pada piagam Ligor B. Yang pertama yaitu raja Wisnu yang
dianggapnya sama dengan raja Sriwijaya yang disebut pada piagam
Ligor A dan tidak masuk wangsa Sailendra; yang kedua ialah raja
yang bergelar sri maharaja dan termasuk rajakula Sailendra, tetapi
namanya tidak disebut.
Hubungan antara raja Wisnu dan raja Sailendra itu ialah hu
bungan bapak dan putra. Akibat perkawinannya dengan putri Fu
nan, raja Wisnu dari Sriwijaya memperoleh putra, yang bergelar
maharaja dan termasuk rajakula Sailendra. Menurut anggapan
Coed~s, itulah raja Sailendra yang pertama. Namanya tercantum pada
piagam Kelurak, yakni Dharanindra. Epiteton raja Sailendra yang
pertama, yakni 'pembunuh musuh-musuh perwira' wairiwaraw~ra
mardana pada piagam Kelurak, kedapatan kembali pada piagam Ligor
dalam bentuk sarww~rimadawi(ma)thana, dan pada piagam Nalanda
wirawairimathana. Epiteton itu yaitu epiteton raja Sailendra
Dharanindra. Seperti telah diberitahukan di muka, karangan Coed~s
tersebut dimuat dalam Bingkisan Budi tahun 1950.
Pada tahun 1952, Boch menerbitkan karangannya yang berjudul
(riwijaya, de Gailendra- en de Sanjaywamsa dalam B.KI. 108 hlm.
113-123, dengan lampiran silsilah raja-raja Sailendra, raja keturunan
Sanjaya, dan raja-raja Sailendra di Sriwijaya. Baik karangan van
Naerssen maupun Coed~s serta disertasi De Casparis, Prasasti Indo
nesia, dibahas seperlunya dalam artikel Bosch tersebut. Ia mengakui
kegagalannya dalam usaha membahas persoalan piagam Ligor pada
tahun 1941 yang berjudul De inscriptie van Ligor dalam T.B. G.
LXXXI hlm. 26-38.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 191
Dalam terbitannya yang baru itu, Bosch mencoba memberikan
ikhtisar tentang perkembangan dan hubungan rajakula Sailendra di
Sriwijaya dan rajakula Sailendra di Jawa. Bosch masih tetap
beranggapan bahwa raja Dharmasetu yang tercatat pada piagam
Nalanda sebagai ayah Tara dan mertua Samaragrawira yaitu raja
Sriwijaya. Nama Samaragrawira pada piagam Nalanda tetap masih
disamakan dengan nama Samaratungga pada Piagam Karang Tengah.
Raja Wisnu pada piagam Ligor disamakan dengan rakai Panangkaran,
dan dianggap putra Sanjaya. Menurut anggapan Bosch, rakai
Panangkaran yang diidentifikasikan dengan raj a Wisnu kawin dengan
putri dari Fu-nan, dan dari perkawinan itu lahir rakai Panunggalan
dan D haranindra.
Pada umumnya, Bosch menerima teori Coed~s. Oleh sebab
itu, timbul ikhtisar yang demikian. Menurut pendapat Bosch,
ketidakpuasan hasil penelitian mengenai piagam Ligor B ditimbulkan
akibat pandangan yang diarahkan kepada politik perluasan wilayah
dan politik mengejar kekuasaan yang dilakukan oleh raj a-raj a J awa
dan Sriwijaya sebagai saingan dalam abad ke-8. Pandangan itu
ditinggalkan dan beralih kepada pandangan perdamaian, yang
dimanifestasikan dalam perkawinan antarwangsa yang memerintah
Sriwijaya dan wangsa yang memerintah J awa. Katanya:
Sebaliknya, kami berpandangan bahwa dalam abad ke-8 dan
ke-9, sudah pasti perkawinan itu di Jawa memegang peranan yang
sangat penting. Hubungan antara wangsa Sailendra di Jawa dan
wangsa di Sriwijaya berlangsung dalam suasana aman dan damai.
Penerimaan pandangan itu membawa konsekuensi penerimaan teori
Coed~s tentang perkawinan Wisnu/Panangkaran dengan putri
Sailendra. Dari perkawinan itu lahir dua putra. Yang sulung
melanjutkan kekuasaan Sanjaya dan bergelar maharaja. Putra sulung
itu ialah rakai Panunggalan. Keturunan rakai Panunggalan tercatat
pada daftar silsilah raja Balitung. Putra yang bungsu juga menerima
gelar maharaja, tetapi tidak digunakan, seperti ternyata pada piagam
Kelurak, Kalasan, dan Nalanda. Putra bungsu itu ialah Dharanindra.
sebab Bosch menerima pendapat bahwa raja Dharmasetu
yaitu raja Sriwijaya, maka ia mengambil perkawinan antara
199 Sriwijaya
Samaragrawira dan dewi Tara sebagai contoh betapa baik hubungan
antara raj a Sriwijaya dan raj a Jawa. Tidak ada soal permusuhan. Teori
Bosch ini bertentangan dengan makna epiteton raja Dharanindra
pembunuh musuh-musuh perwira.
Prasasti Ratu Baka dan Dharmatungga
Prasasti Ratu Baka ditulis dalam bahasa Sanskerta. sebab banyak
bagian yang telah rusak, tidak mungkin diterjemahkan. Tarikh tahun
pemahatannya telah hilang.
berdasar kesamaan bentuk huruf yang digunakan dengan
bentuk huruf prasasti Kalasan, De Casparis yang menerbitkan prasasti
tersebut dalam Prasasti negara kita I(1950) menduga bahwa prasasti
Ratu Baka dipahat pada waktu yang sama dengan prasasti Kalasan.
Juga, pada prasasti Ratu Baka terdapat kata cailendra ... di belakang
nama Dharmmatunggadewasya. Nama itulah yang penting untuk
diketahui. Dengan sendirinya ia mengambil kesimpulan bahwa
prasasti Kalasan dikeluarkan oleh raja Sailendra Dharmmatungga
tersebut. Rakai Panangkaran dianggap sebagai raja keturunan Sanjaya,
yang ada di bawah kekuasaan raja Sailendra.
Prasasti Kelurak dan Dharanindra
Prasasti Kelurak ditulis dalam bahasa Sanskerta, bertarikh tahun
Saka 704 atau tahun Masehi 782, diterbitkan oleh Bosch dalam
T.B.G. LXVIII hlm. 1-64 tahun 1928. Piagam Kelurak terdiri dari
20 pada. Isinya yaitu peresmian arca Manjuqri. Pada akhir pada 5,
terdapat ungkapan r~jna dhr~t~ dhr~timat~ dharan~ndran~mn:
"kerajaan Dharanindra yang sangat teguh hatinya. Bosch semula
mengira bahwa nama raja itu Indra. sebab itu terlalu pendek, lalu
dirangkap dengan dharani dan ditambah dengan warman.
Terbentuklah nama Dharanindrawarman. Namun, raja Sailendra yang
terakhir warman tidak ada. Pada tahun 1950, dalam karangannya,
Le (ailendra, tueur des-h~ros ennemis, Coed~s membacanya
D haranindra saj a.
Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 193
Pada tahun 1950, dalam bukunya, Prasasti negara kita I, De
Casparis tetap menggunakan nama Indra. Saya beranggapan bahwa
nama itu ialah Dharanindra sebagai sinonim nama Dharanindhara.
Dharanindra berarti raja bumi; Dharanindhara berarti pendukung
atau pelindung dunia. Nama itu yaitu nama Wisnu. Nama itu
saya identifikasikan dengan nama raja Wisnu di Ligor B, dan
menurut pendapat saya yaitu nama pribadi rakai Panunggalan.
Demikianlah raja Wisnu pada piagam Ligor B itu saya identifikasikan
dengan rakai Panunggalan pada prasasti Balitung (Kedu). Dengan
sendirinya saya tidak melihat adanya dua raja pada piagam Ligor B.
Raja Sailendra yang bergelar maharaja yaitu raja Wisnu. Pendapat
itu terdapat dalam terbitan saya, Kerajaan Sriwijaya, pada tahun
1963 di Singapura.
Baik epiteton 'pembunuh musuh perwira'' yang terdapat pada
piagam Kelurak, piagam Ligor B, maupun pada piagam N alanda
yaitu epiteton rakai Panunggalan. Pada yang terakhir, yakni pada
20, memuat nama Sri Sanggrama Dhananjaya. Baris yang memuat
nama tersebut diterjemahkan oleh De Casparis: Dit bouwwerk van
hem, die bij de wijding tot de voortrejfelijkste der mannen de koningsnaam
~ri Sanggramadhananjaya aanneemt. Artinya: "Bangunan itu yaitu
bangunan sang raja yang menjadi pahlawan di antara para perwira
dan mengambil nama abhiseka Sri Sanggrama Dhananjaya." Demi
kianlah, saya berpendapat bahwa Dharanindra yaitu nama pribadi,
Sanggrama Dhananjaya yaitu nama abhiseka, rakai Panunggalan
yaitu gelar sebutannya.
Juga, pada prasasti Kelurak ini saya jumpai nama Sri Dharmasetu
pada pertengahan pada 19 didahului dengan kata pratip~laniyah:
penjaga. Jadi, ungkapan pratip@laniyah cri Dharmmasetur ayam ...
artinya: Sri Dharmasetu diserahi untuk menjaga (bangunan).
Terjemahan yang demikian cocok dengan kalimat berikutnya yang
menyatakan bahwa bangunan itu dibuat oleh raja Sri Sanggrama
Dhananjaya. sebab nama Sri Dharmasetu itu kedapatan pada prasasti
Kelurak dan bersama-sama dengan nama Dharanindra, maka saya
194 Sriwijaya
menolak anggapan bahwa raja Dharmasetu yaitu raja Sriwijaya,
seperti yang dikemukakan oleh Krom, Bosch, dan De Casparis.
Menurut prasasti Nalanda, Dharmasetu yaitu ayah dewi Tara
dan mertua Samaragrawira, sedangkan Samaragrawira yaitu ayah
Balaputra. Demikianlah, Dharmasetu itu berbesan dengan Dhara
nindra alias rakai Panunggalan. sebab hal-hal tersebut, maka saya
anggap prasasti Kelurak yaitu prasasti penting yang dapat
memberikan petunjuk untuk penyelesaian persoalan hubungan antara
piagam Nalanda dan piagam Ligor B, atau persoalan hubungan
Sriwijaya dan J awa.
Saya menduga bahwa justru pada prasasti Kelurak itu, kita
mendapatkan keterangan tentang rakai Panunggalan yang hingga
sekarang ti









