Jumat, 05 Juni 2026

Sriwijaya 6

 




an nama Kandra Kayet, kemudian disingkat Kayet saja. 

Kayet berhasil membunuh Tandrun Luah, tetapi akhirnya pem­ 

berontak Kayet berhasil dikalahkan juga oleh raja Sriwijaya. Diakui 

oleh Dapunta Hyang bahwa Kandra Kayet yaitu  orang pilihan. 

Buktinya, ia berhasil mengalahkan Tandrum Luah. Namun meskipun 

demikian, ia berhasil ditumpas juga. 

Ditegaskan pada baris 2 bahwa sebab-sebab timbul peperangan 

itu ialah sebab  Kandra Kayet memberontak kekuasaan Sriwijaya; 

tidak mau tunduk kepada Sriwijaya, berkhianat terhadap raja 

Sriwijaya. Penghianatan Kandra Kayet dijadikan cermin bagi semua 

pembesar di pusat kerajaan clan bagi semua penduduk di wilayah 

Sriwijaya. Barang siapa berbuat seperti Kandra Kayet, akan mengalami 

nasib yang sama dengan Kandra Kayet. Peristiwa itu harus dicamkan 

benar-benar dalam ingatan. 

Dua hal yang hams mendapat perhatian sepenuhnya dari semua 

orang di wilayah Sriwijaya, terutama dari mereka yang berangan­ 

angan akan memberontak, selama tentara Sriwijaya bertugas di luar 

untuk menundukkan pulau Jawa. Pertama, bahwa orang kuat seperti 

Kandra Kayet, yang berhasil membunuh Tandrum Luah, akhirnya 

dapat dikalahkan oleh Dapunta H yang. Kedua, barang siapa 

memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya, akan mengalami nasib 

yang sama seperti Kandra Kayet. Kemenangan Dapunta H yang 

terhadap Kandra Kayet itu harus mendapat perhatian sepenuhnya. 

Hams diakui bahwa pada manggala tersebut terdapat kata-kata 

yang sulit, kata-kata yang tidak lagi digunakan dalam bahasa 

negara kita /Melayu, dalam bahasa daerah di Sumatra. N amun, kiranya 

jiwa manggala itu dapat ditangkap. Mengenai keterangan kata-kata 

yang sulit ditafsirkan, telah saya berikan dalam karangan saya yang 

160 Sriwijaya 

berjudul "Perkembangan Penelitian Bahasa Nasional hlm. 134-135 

dalam Research di negara kita  1945-1965IV. Keterangan itu tidak perlu 

diulang lagi di sini. Lagi pula, penjelasan kata-kata itu agak meng­ 

ganggu dalam penulisan sejarah. Literatur mengenai bahasa Sriwijaya 

hampir lengkap termuat dalam artikel tersebut di atas, sehingga 

barang siapa ingin ikut memerhatikan bahasa Sriwijaya memperoleh 

petunjuk seperlunya. 

Piagam persumpahan Kota Kapur jelas menunjukkan hubungan 

antara Sriwijaya dan pulau Jawa. Pada tahun 686, Sriwijaya berusaha 

menundukkan pulau Jawa. Kerajaan mana yang akan ditunjukkan, 

tidak diketahui, sebab  kerajaan itu tidak disebut. Yang dinyatakan 

pada piagam Kota Kapur hanyalah bh~mi Jawa. Tentara Sriwijaya 

berangkat ke Jawa pada hari pertama bulan terang bulan Waisaka 

tahun Saka 608. Piagam persumpahan Sriwijaya yaitu  follow up 

operasi militer Sriwijaya. berdasar  jalan pikiran di atas, maka 

terjemahan piagam Kota Kapur itu lalu seperti berikut: 

Seorang pembesar yang gagah berani, Kandra Kayet, di medan 

pertempuran. la bergumul dengan Tandrun Luah dan berhasil 

membunuh Tandrun Luah. Tandrun Luah mati terbunuh di medan 

pertempuran. Tetapi bagaimana nasib Kayet yang berhasil membunuh 

itu? Juga Kayet berhasil ditumpas. lngatlah akan kemenangan itu! la 

enggan tunduk kepadaku. lngatlah akan kemenangan itu! 

Kamu sekalian dewata yang berkuasa dan sedang berkumpul 

menjaga kerajaan Sriwijaya! Dan kau, Tandrum Luah, dan para dewata 

yang disebut pada pembukaan seluruh persumpahan ini! Jika pada 

saat mana pun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang 

berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat 

atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak 

mau tunduk dan tidak mau berbakti, tidak setia kepadaku dan kepada 

mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian 

itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara 

atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas! 

Dan semuanya yang berbuat jahat, menipu orang, membuat sakit, 

membuat gila, melakukan tenung, menggunakan bisa, racun, tuba, 

serambat, pekasih, pelet dan yang serupa itu, mudah-mudahan tidak 

berhasil. Dosa perbuatan yangjahat untuk merusak batu ini hendaklah 

segera terbunuh oleh sumpah, segera dipukul. Mereka yang 

Pusat Kerajaan Sriwijaya 

membahayakan, yang mendurhaka, yang tidak setia kepadaku dan 

kepada yang kuserahi kekuasaan datu, mereka yang berbuat demikian 

itu, mudah-mudahan dibunuh oleh sumpah ini. 

Tetapi kebalikannya mereka yang berbakti kepadaku dan kepada 

mereka yang kuserahi kekuasaan datu, hendaknya diberkati segala 

perbuatannya dan sanak keluarganya, berbahagia, sehat, sepi 

bencana dan berlimpah-limpah rezeki segenap penduduk dusunnya! 

161 

Tahun Saka 608 hari pertama bulan terang bulan Waisaka, itulah 

waktunya sumpah ini dipahat. Pada waktu itu, tentara Sriwijaya 

berangkat memerangi tanah Jawa sebab  tidak mau tunduk kepada 

Sriwijaya. 


Bab 5 

SRIWIJAYA DAN SEMENANJUNG 

Piagam Ligor 

Di daerah Ligor di Semenanjung, ditemukan sebuah batu 

piagam yang bertulis pada dua belah sisi. Tulisan pada sisi A disebut 

piagam Ligor A. Tulisan pada sisi B disebut piagam Ligor B. Baik 

piagam Ligor A maupun Ligor B ditulis dalam bahasa Sansekerta., 

jadi berbeda dengan piagam-piagam persumpahan Karang Brahi, 

Kota Kapur, Telaga Batu, piagam siddhay~tra Kedukan Bukit, dan 

piagam pranindhana TalangTuwo. Piagam-piagam yang ditemukan 

di pulau Sumatra clan Bangka ini ditulis dalam bahasa Sriwijaya. 

Piagam Ligor A 

Piagam Ligor A yaitu  piagam Sriwijaya yang paling akhir yang 

tidak menyebut wangsa Sailendra. Piagam ini memuat sepuluh pada 

tanpa manggalacarana. Yang dimaksud dengan manggalacarana ialah 

uluk-uluk atau salam pembukaan seperti swasti, siddha, dan 

sebagainya. Telah disinggung di muka bahwa raja Sriwijaya pada 

piagam-piagam yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya menggunakan 

gelar dapunta hyang. Pada piagam Ligor Aini, gelar dapunta hyang 

tidak digunakan, sebab  gelar tersebut tidak kedapatan dalam bahasa 

Sanskerta. Raja Sriwijaya menyebut dirinya: 

164 Sriwijaya 

I. criwijayendrar@ja 

2. criwijayecwarabhpati 

3. criwijayanr~pati 

4. nr~pad 

Pada yang pertama berisi pujian terhadap sifat-sifat baik baginda, 

seperti kecerdasan, keramahan, dan kesaktian. Beliau disamakan 

dengan bulan pada musim rontok, yang cahaya sinarnya 

menyuramkan segala sinar bintang-bintang. Demikian pula 

kewibawaan baginda terhadap semua raja bawahannya. 

Pada yang kedua yaitu  lanjutan sifat-sifat baik baginda. Beliau 

menghimpun segala kebaikan. Sinar beliau menerangi puncak-puncak 

gunung Himalaya, mengalahkan semua orang bijak dan cendekia di 

dunia. Beliau dikiaskan dengan laut luas dan melebur segala kejahatan. 

Pada yang ketiga menguraikan bahwa baginda yaitu  pelindung 

si miskin. Orang-orang miskin memperoleh perlindungan pada beliau 

seperti gajah-gajah yang bernaung di bawah pohon rindang pada 

waktu terik matahari membakar telaga. 

Pada yang keempat menyamakan baginda dengan Manu, 

menyebar segala kebahagiaan seperti musim semi yang memberi 

kecantikan kepada pelbagai tumbuh-tumbuhan. 

Pada yang kelima menyebut raja Sriwijaya yang berkuasa gilang­ 

gemilang. Kekuasaan beliau ditaati oleh semua raja tetangga; beliau 

diciptakan oleh Brahma dengan tujuan untuk menjunjung tinggi 

dharma. 

Pada yang keenam berbunyi: "Itulah raja Sriwijaya, peng­ 

himpun segala kebaikan dan yang paling baik di antara semua raja 

di permukaan bumi. Beliau mendirikan bangunan batu, trisamaya­ 

caitya untuk Padmapani, Sakyamuni, dan Vajrapani." 

Pada yang ketujuh: bangunan trisamaya-caitya dipersembahkan 

kepada semua jina budiman yang menduduki sepuluh tempat di 

Sriwijaya dan Semenanjung 165 

angkasa, juga merupakan tempat bersemayam Amr~ta yang memberi 

kebahagiaan di tiga jagat. 

Pada yang kedelapan: pendeta Jayanta menerima perintah 

baginda untuk membangun stupatrayamasi. Bangunan itu 

dilaksanakan sesuai dengan perintah baginda. 

Pada yang kesembilan: setelah pendeta kerajaan itu meninggal, 

muridnya, Adhimukti, diangkat menjadi pendeta kerajaan sebagai 

penggantinya. Ia mendirikan caitya di dekat bangunan trisamaya­ 

caitya. 

Pada yang kesepuluh: tanggal selesainya bangunan trisamaya­ 

caitya ialah tahun Saka 697 hari 11 bulan terang Waisaka. Waktu 

matahari terbit menyertai Wenu, raja Sriwijaya yang menyerupai 

Indra, mendirikan bangunan caitya dan stupa demikian indahnya 

seakan-akan dibuat dari cintamani yang terpilih di triloka. 

Piagam A ini menguraikan serba jelas bahwa raja Sriwijaya 

benar-benar berkuasa di daerah Ligor di Semenanjung. Beliau 

berulang kali disamakan dengan dewa Indera dan diakui sebagai raja 

daripada raja-raja tetangga. Beliau mendirikan bangunan trisamayad­ 

caitya di Ligor pada tahun Masehi 775. Piagam A yaitu  piagam 

pembangunan trisamaya-caitya. 

Mengenai piagam A, agaknya perlu kita sekadar memerhatikan 

berita Tionghoa. Menurut Hsin-tang-hsu, yakni sejarah barn yang 

disusun dalam abad ke-11 pada masa pemerintahan rajakula Sung, 

atas dasar berita-berita Chiu T'ang Shu atau sejarah lama, kerajaan 

Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke Tiongkok dalam pangsa waktu 

670-673 dan 713-741. 

T'ang-hui-yao, susunan Wang-pu, pada tahun 961 mencatat 

bahwa pada hari kelima bulan 9 tahun 695, kaisar memberikan 

maklumat untuk menyelenggarakan persediaan bagi utusan luar 

negeri enam bulan untuk utusan dari India Selatan dan Utara, Per­ 

sia, dan Arab; lima bulan untuk utusan dari Shih-li-fo-shih, Chen­ 

la, Ho-ling, dan negeri-negeri lainnya; tiga bulan untuk utusan dari 

166 Sriwijaya 

Lin-i. Tse-fu-yuan-kuei, susunan Wang-ch'in-jo dan Yang I, pada tahun 

1005-1013 menguraikan bahwa utusan dari Fo-shih datang pada 

tahun 701-702 dan 716. 

Baik Tse-fiu-yuan-kuei maupun Hsin-tang-shu memberitakan 

bahwa raja Shih-li-fo-shih mengirim calon penggantinya sebagai 

utusan ke Tiongkok. Pada tahun 724, datanglah seorang utusan dari 

Sriwijaya di Tiongkok bernama Kiu-mo-lo (Kumara), membawa dua 

orang cebol, seorang gadis janggi, biduan, dan lima burung bayan 

untuk dipersembahkan kepada kaisar. Kaisar kemudian memberikan 

gelar tcho-teh'ong (jenderal) kepadanya, beserta seratus potong kain 

sutera. Lain daripada itu, kaisar juga menghadiahkan gelar kepada 

raja Sriwijaya yang bernama Che-li-to-le-pa-mo (Sri Indrawarman). 

Pada tahun 728, datang lagi utusan dari Sriwijaya yang juga 

membawa hadiah burung bayan berwarna. U tusan yang terakhir 

datang pada tahun 742. 

Dari berita Tionghoa itu, yang menarik perhatian ialah nama 

Sri Indrawarman, yang pada tahun 724 memerintah kerajaan 

Sriwijaya. Jika masa pemerintahannya itu kita hubungkan dengan 

tarikh piagam Ligor A, yakni tahun 775, maka selisihnya 5l tahun. 

Mungkin pada tahun 775, Sri Indrawarman masih memerintah. 

Mungkin juga sudah diganti oleh putranya. Pada penutup tersebut, 

raja Sriwijaya, yang mengeluarkan piagam itu, dikiaskan dengan dewa 

Indera. Kiasan itu tedapat pada baris 2 dari bawah, dinyatakan 

dengan kata dewendrabhena. Mungkin sekali, kiasan dengan dewa 

Indra itu sengaja dimaksud untuk menyebut nama raja yang 

mengeluarkan piagam itu. Jika anggapan itu benar, maka nama yang 

mengeluarkan piagam itu Sri Indrawarman atau putranya, yang juga 

bernama Indra ... 

Piagam Ligor B 

Piagam Ligor B hanya memuat empat baris lebih sedikit. 

Berlainan dengan piagam Ligor A, piagam ini menggunakan 

manggalacarana swasti; tidak menyebut tarikh tahun. Lain daripada 

Sriwijaya dan Semenanjung 167 

itu, piagam ini piagam Sriwijaya yang pertama yang menyebut 

wangsa Sailendra dan gelar gri mah~r~ja. Jadi, berbeda dengan piagam 

LigorA. 

Terjemahannya tidak menimbulkan banyak kesulitan. Namun, 

sejak tahun 1950 muncul terjemahan baru yang diusahakan oleh 

Coed~s. Terjemahan baru itu berbeda dengan terjemahan yang sudah­ 

sudah, di antaranya yang dibuat oleh Dr. Chhabra. Terjemahan 

Coed~s mengakibatkan perbedaan tafsiran. Di bawah ini disajikan 

terjemahan Dr. Chhabra: 

Hail! He wo is the supreme king of kings, (who) through his 

energy (is) alone comparable to the sun for dispelling the darkness 

(int the shape) of the hosts of all his foes, (who) in charming beauty 

(is) the very spotless, autumnal moon (and is) like Cupid in peson, 

(who is) called Wisnu (who) entirely (annihilates) the pride of all (his 

opponents) and (who) with (regard to) his prowess is without a sec­ 

ond-that self name is known by the appellation of Srimaharaja 

(i.e. the illustrious Great King) because of the mention of his origin in 

the (ailendrawam~a. And of him ... of all kings () ... 

Perbedaan pokok antara terjemahan Chhabra dan Coed~s ini 

demikian. Chhabra beranggapan bahwa pada piagam Ligor B, hanya 

terdapat satu raja Sriwijaya. Raja Sriwijaya itu bernama Wisnu dan 

bergelar cri mah~r~ja, sebab  beliau keturunan wangsa Sailendra. 

Sebaliknya, Coed~s bukan saja melihat satu raj a pada piagam tersebut, 

melainkan dua. Yang pertama ialah raja Wisnu, yang kedua ialah 

putranya yang bergelar maharaja. Menurut pendapat Coed~s, raja 

Wisnu itu sama dengan raja yang menyebut dirinya griwijayendrarja, 

criwijayeecwarabhpati, dan criwijayanr~pati pada piagam Ligor A. 

Jadi, beliau memerintah pada tahun 775. 

Raja yang kedua yang bergelar sri maharaja yaitu  putranya. 

Setelah kawin dengan putri dari Fu-nan dari keluarga Somawangsa, 

beliau menjadi raja Sailendra yang pertama, dan menurunkan raja­ 

raja Sailendra di Mataram. Tetapi Coed~s sendiri mengakui bahwa 

anggapannya itu tidak berdiri di atas bukti-bukti yang kuat. 

168 Sriwijaya 

Selanjutnya, ia menyamakan raja-raja Sailendra yang pertama 

itu dengan Dharanindra pada piagam Kelurak, yang memerintah 

Jawa Tengah dan menyuruh raja setempat Pancapana Panangkaran 

membangun kembali candi Kelurak. Panangkaran pada piagam 

Kalasan dianggapnya sebagai pengganti rakai Sanjaya. Kesimpulan 

selanjutnya tidak cocok baik dengan teori Krom tentang adanya 

"pemerintahan Sriwijaya dalam sejarah Jawa" maupun dengan teori 

Stutterheim 'pemerintahan Jawa dalam sejarah Sumatra". Yang ada 

ialah masa pemerintahan rajakula Sailendra keturunan raja Seme­ 

nanjung, dan putri Fu-nan pada penghabisan abad ke-8 dan 

pertengahan pertama abad ke-9. Karangan Coed~s ini termuat dalam 

Bingkisan Budi 1950 di bawah judul Le <;ailendra, tueur des h~ros 

ennemis, hlm. 58-70. 

Kelemahan-Kelemahan Teori Coed~s 

Teori Coed~s mengandung beberapa kelemahan. Salah satu di 

antaranya ialah kelemahan tata bahasa, yang dijadikan dasar 

terjemahan dan kemudian penafsiran. Anggapan tentang adanya dua 

raja pada piagam Ligor B didasarkan atas perlawanan kata ekas dan 

dwitiyas, artinya: "satu" dan "kedua. Coed~s menerjemahkannya yang 

kesatu dan yang kedua. Andaikata kedua kata itu benar-benar 

dimaksud sebagai perlawanan, tentunya akan digunakan kata pra­ 

thamas dan dwitiyas atau kesatu dan kedua, bukan satu dan kedua. 

Meskipun soal tata bahasa ini soal kecil, namun kiranya perlu diper­ 

timbangkan juga, justru sebab  teori Coed~s terutama berdasar  

peristiwa tata bahasa. 

Demikian pula fungsi pemakaian yeasau dan asau yah: beliau, 

ia. Kedua kata tersebut, sebab  susunannya berbeda, dianggap sebagai 

berlawanan. Menurut pendapat saya, tidak ada maksud untuk mem­ 

perlawankan, melainkan sebagai ulangan yang mempunyai daya 

mempertegas. Ulangan yang demikian tidak asing dalam bahasa 

Sansekerta. Dengan kata lain, piagam yang terdiri dari empat baris 

lebih itu jelas menunjukkan bahwa raja yang bersangkutan, yakni 

Sriwijaya dan Semenanjung 169 

raja Wisnu, menegaskan bahwa beliau yaitu  keturunan rajakula 

Sailendra, dan oleh sebab  itu beliau bergelar maharaja. Kebiasaan 

itu berbeda dengan raja-raja Sriwijaya sebelumnya. Beliau-beliau itu 

bukan keturunan rajakula Sailendra; oleh sebab  itu, tidak bergelar 

maharaja. 

Kelemahan yang kedua tentang tarikh pemerintahan. Coed~s 

beranggapan bahwa raj a Sailendra yang pertama yaitu  putra Wisnu, 

yang mengeluarkan piagam Ligor A pada tahun 775. Dengan 

sendirinya, beliau akan memerintah sesudah tahun 775. Pada piagam 

Ligor A, sama sekali tidak ada pernyataan bahwa piagam itu dike­ 

luarkan oleh raja Wisnu. 

Pada tahun 778, pada piagam Kalasan telah tercatat adanya 

keturunan rajakula Sailendra, yakni dyah Pancapana rakai 

Panangkaran. Boleh dipastikan bahwa rakai Panangkaran mulai 

memerintah beberapa tahun sebelum pembangunan candi Tara di 

Kalasan itu selesai. Jadi, sebelum tahun 778. Selisih waktu tiga tahun 

antara pengeluaran piagam Ligor B dan piagam Kalasan untuk 

persebaran keturunan Sailendra dari Semenanjung ke Jawa Tengah 

boleh dianggap terlalu singkat. Lagi pula, tidak dapat dipastikan 

bahwa raja Sriwijaya, yang menyebut dirinya criwjayarja itu, setelah 

mengeluarkan piagam segera turun takhta dan digantikan oleh 

putranya, yakni raja Sailendra yang pertama. Lagi pula, masih 

merupakan tanda tanya: Apakah piagam Ligor A pasti lebih dahulu 

dipahat daripada piagam Ligor B? Apakah piagam Ligor B itu pasti 

dipahat lebih dahulu daripada piagam Kalasan? 

Kelemahan yang ketiga tentang keturunan Sanjaya. Coed~s 

beranggapan bahwa dyah Pancapana Panangkaran yaitu  keturunan 

rakai Sanjaya, yang menerima perintah dari raja Sailendra Dharanindra 

untuk membangun kembali candi Kelurak. Jika rakai Panangkaran 

keturunan raja Sanjaya, mengapa piagam Kalasan yang dikeluarkan 

oleh rakai Panangkaran tidak menggunakan tahun perhitungan 

Sanjaya, seperti piagam Gata dan Taji Gunung? Kedua piagam ini 

jelas menggunakan Sanjayawarsa dan bertarikh tahun Saka 693 dan 

170 Sriwijaya 

694. Enam tahun sebelum rakai Panangkaran mengeluarkan piagam 

Kalasan, Jawa Tengah diperintah oleh keturunan Sanjaya. Sekonyong­ 

konyong, dengan timbulnya rakai Panangkaran, pemakaian San­ 

jayawarsa itu hilang, dan yang tampak ialah pernyataan bahwa rakai 

Panangkaran yaitu  keturunan Sailendra. Justru pernyataan itu, 

menurut anggapan saya, jelas menunjukkan bahwa rakai Panangkaran 

bukan keturunan raja Sanjaya, berbeda dengan raja-raja sebelumnya. 

Coed~s beranggapan bahwa rakai Panangkaran yaitu  raja bawahan 

yang menerima perintah dari Dharanindra untuk membangun candi 

Kelurak. Pada baris 6 piagam Kalasan, jelas tercatat: mah~r~jam dyah 

Pancapanam Panangkaranam. Gelar maharaja tidak mungkin 

digunakan oleh raja bawahan. 

Kelemahan yang keempat. Telah disinggung di muka keberatan 

saya tentang anggapan Coed~s bahwa rakai Panangkaran yaitu  

keturunan raja Sanjaya. Lain daripada kenyataan bahwa rakai 

Panangkaran tidak menggunakan tarikh tahun Sanjaya, perbedaan 

agama yang dianut oleh rajakula Sailendra dan rajakula Sanjaya juga 

merupakan keberatan. Rajakula Sanjaya beragama Siwa, berkiblat ke 

India Selatan, seperti ternyata pada pembangunan candi Siwa di 

tempat yang disebut Kunjarakunjadesa, tercatat pada piagam 

Canggal. Rakai Panangkaran menganut agama Budha Mahayana, 

berkiblat ke Benggala sebagai pusat agama Budha Mahayana. 

Kelemahan yang kelima tentang perbedaan dewa persembahan. 

Di Fu-nan, raja yang memerintah pada tahun 620 ialah keturunan 

rajakula ailar~ja. Rajakula yang memerintah di Jawa Tengah dan 

Sriwijaya yaitu  cailendra. Meskipun kata r@ja dan indra boleh 

dikatakan sinonim, namun sebagai nama berbeda. 

Pada piagam-piagam Sailendra, baik yang dikeluarkan oleh raja­ 

raja Sriwijaya maupun oleh raja-raja Jawa Tengah, tidak pernah 

terdapat kata cailar~ja, tetapi selalu cailendrawamca. Perbedaan itu 

akan lebih nyata lagi jika kita memerhatikan dewa persembahan atau 

agamanya. Raja-raja Fu-nan yang menyebut dirinya keturunan 

rajakula cailar~ja menyembah dewa Siwa, sedangkan raja-raja 

Sriwijaya dan Semenanjung 171 

Sailendra di Jawa Tengah dan Sriwijaya memeluk agama Budha 

Mahayana. Menurut Coed~s, dalam kronik sejarah Tionghoa, tercatat 

bahwa pada abad ke-5, seorang pendeta Nagasena berangkat ke 

Tiongkok sebagai utusan raja Fu-nan. Pendeta itu menceritakan bahwa 

di Fu-nan, ada gunung suci bernama Mo-tan. Gunung itu tempat 

bersemayam dewa Siwa. Semua raja Fu-nan menyebut dirinya 

parwatabhp~la, artinya: raja gunung; sama dengan girinatad. 

Kemudian Coed~s mengutip piagam Sri Isanawarman, raja Kamboja 

dari tahun 620, yang bunyinya: "Raja Isanawarman, yang mem­ 

peroleh kesukaan dalam menerima para pendeta, setelah menjelajah 

tempat-tempat, memperoleh kedudukan sebagai raja gunung 

(cailarja)." 

Kalimat itu ditafsirkan oleh Coed~s, bahwa raja Isanawarman 

setelah merebut seluruh kerajaan Fu-nan, kemudian menjadi raja 

dan menggunakan sebutan cailar~ja. Coed~s selanjutnya mengutip 

piagam Jayawarman II di Sdok Kak Thom dari tahun 802, yang 

menyatakan bahwa sekembalinya raja Jayawarman dari Jawa dan 

mendirikan ibu kota di atas bukit Mahendra, Kamboja-de~a tidak 

lagi menjadi negeri bawahan Jawa. Dalam kerajaan itu, hanya ada 

satu raja yang memerintah. Jayawarman menjelaskan bahwa negara 

Kamboja memeluk agama dewar~ja (agama Siwa). berdasar  

peristiwa tersebut, diambil kesimpulan bahwa setelah penundukan 

raja Fu-nan, timbullah hubungan kekeluargaan antara Jawa dan 

Kamboja. Raja Jawa kemudian mengambil alih sebutan cailaraj 

sebagai sebutan rajakula. 

Teori Coed~s di atas telah ditinggalkan sejak tahun 1950 ketika 

ia menerbitkan karangannya, Le (ailendra, tueur des h~ros ennemis 

dalam Bingkisan Budi. Seperti telah diuraikan di atas, Coed~s ber­ 

anggapan bahwa raja Sailendra yang pertama memerintah di Seme­ 

nanjung, seperti tercantum pada piagam Ligor B. Sebutan cailendra 

diperoleh sesudah perkawinan putra raja Wisnu dengan putri Fu­ 

nan. Wisnu yaitu  raja Sriwijaya. 

Teori Coed~s terbentur pada pelbagai kesulitan. Namun, harus 

diakui bahwa anggapannya yaitu  salah satu hasil penyelidikan 

179 Sriwijaya 

sejarah Sriwijaya sesudah Perang Dunia II. Usaha itu harus disambut 

dengan baik, meskipun hasilnya belum memuaskan. Justru, hal itu 

membuktikan betapa sulitnya persoalan sejarah Sriwijaya. Anggapan 

Coed~s itu diterima baik oleh Prof. Dr. F.D.K. Bosch dalam 

karangannya, Griwijaya, de Cailendra- en de Sanjayawamca, yang 

termuat dalam B.K.I. 108 tahun 1952 hlm. 113-123. Karangan itu 

dilengkapi dengan lampiran silsilah raja-raja Sailendra dalam hu­ 

bungannya dengan raja Fu-nan dan rajakula Sanjaya. 

Dalam silsilah itu, nyata sekali bahwa Bosch beranggapan bahwa 

rakai Panangkaran yaitu  keturunan raja Sanjaya. Raja Wisnu (piagam 

Ligor) mempunyai hubungan dengan raja Sanjaya. Dharmasetu 

yaitu  raja Sriwijaya, mempunyai putri yang bernama dewi Tara, 

yang kawin dengan Samaragrawira (piagam N alanda). Samaragrawira 

disamakan dengan Samaratungga. Seperti kita ketahui, Samaragrawira 

yaitu  ayah Balaputradewa. Menurut silsilah Bosch, putri raja Fu­ 

nan dari Somawangsa kawin dengan rakai Panangkaran, keturunan 

Sanjaya. Dari perkawinan itu, lahir sri maharaja (piagam Ligor) dan 

rakai Panunggalan (piagam Kedu). Teori barn Bosch yang didasarkan 

atas teori Coed~s ini perlu mendapat sorotan dalam bab "Sriwijaya 

di bawah Kekuasaan Sailendra''. 

Ini berarti bahwa Bosch telah melepaskan teorinya pada tahun 

1941, ketika ia menulis De Inscriptie van Ligor dalam majalah T.B. G. 

LXXXI hlm. 26 dst. Dalam tulisan itu, ia mengulangi pendapat Dr. 

Chhabra mengenai raja Wisnu yang disamakan dengan Wisnu­ 

warmasya pada cincin perak, dan akhirnya mengambil kesimpulan 

bahwa pada tahun 775, seorang raja Sailendra yang bernama Wisnu 

memerintah Sriwijaya. Raja Wisnu yang tercatat pada piagam Ligor 

B tidak lain daripada rakai Panunggalan, yang tercatat pada piagam 

Kedu yang dikeluarkan oleh raj a Bali tung pada tahun 907. Rakai 

Panunggalan itu sama dengan Samarottungga pada piagam Karang 

Tengah, dan Samarottungga yaitu  Samaragrawira pada piagam 

Nalanda. Beliau yaitu  putra rakai Pancapana Panangkaran, yang 

tersebut pada piagam Kalasan dari tahun 778. Pada piagam Kelurak, 

raja Pancapana Panangkaran menyebut dirinya pembunuh musuh 

Sriwijaya dan Semenanjung 173 

perwira, yakni wairiwarawirawimardana, dan pada piagam N alanda 

disebut w~rawairimanthana, dengan arti yang sama. 

Jalan pikiran Coed~s dalam pembahasan piagam Ligor B sejajar 

dengan jalan pikiran van Naerssen dalam pembahasan piagam 

Kalasan. Dalam karangannya, The <;ailendra Interregnum, yang 

termuat dalam India Antiqua tahun 1947 hlm. 249-253, Van 

Naerssen mengutarakan bahwa pada piagam Kalas~n ia melihat 

adanya dua raja. Yang satu ialah rajasingha, termasuk dalam wangsa 

Sailendra; yang lainnya ialah dyah Pancapana Panangkaran, termasuk 

wangsa Sanjaya. Raja Panangkaran ada di bawah kekuasaan raja 

Sailendra yang tidak disebut namanya. 

Van Naerssen beranggapan bahwa ketika rakai Panangkaran 

menggantikan ayahnya, yakni Sanjaya, kerajaan Mataram diserbu 

dari luar oleh wangsa Sailendra yang memeluk agama Budha. Serbuan 

itu berhasil baik. Oleh sebab  itu, rakai Panangkaran menjadi raja 

bawahan Sailendra. Agama Siwa, yang selama pemerintahan Sanjaya 

menjadi agama resmi dalam kerajaan Mataram, diganti dengan agama 

Budha Mahayana. Sejak itu maka kerajaan Mataram dikuasai oleh 

raja-raja dari wangsa Sailendra, sedangkan raja-raja keturunan Sanjaya 

terdesak. 

Keadaan yang demikian itu berlangsung sampai pertengahan 

abad ke-9, ketika rakai Panangkaran timbul dan berhasil memegang 

tampuk pimpinan pemerintahan. Rakai Pikatan yaitu  keturunan 

tingkat lima dari raja Sanjaya. Beliau tidak bergelar maharaja, tetapi 

ratu saja. Baru setelah rakai Kajuwangi berkuasa, gelar maharaja itu 

digunakan. Rakai Kajuwangi yaitu  putra rakai Pikatan. Dengan 

timbulnya rakai Kajuwangi dengan gelar maharaja itu, maka 

kekuasaan rajakula Sailendra berakhir sama sekali. 

Anggapan bahwa rakai Panangkaran yaitu  putra raja Sanjaya 

telah cukup banyak dikemukakan oleh para sarjana. Terhadap 

anggapan itu telah saya kemukakan keberatan saya dalam Ikhtisar 

Penulisan Sejarah Sriwijaya. 

174 Sriwijaya 

Dengan jelas piagam Kalasan menyebut bahwa Dyah Pancapana 

Panangkaran yaitu  hiasan rajakula Sailendra (Piagam Kalasan pada 

5). Ungkapan itu berarti bahwa rakai Panangkaran justru salah 

seorang raja dari rajakula Sailendra. Bahkan, pada hakikatnya ia 

yaitu  raja Sailendra yang pertama di Jawa Tengah, sepanjang 

pengetahuan kita dari piagam-piagam. Bahwa rakai Panangkaran tidak 

menggunakan Sanjayawarsa seperti raja-raja lainnya pada piagam Gata 

dan Taji Gunung, tetapi dengan tegas menyatakan bahwa beliau 

yaitu  hiasan rajakula Sailendra, yaitu  pernyataan yang cukup tegas, 

bahwa rakai Panangkaran bukan keturunan raja Sanjaya. Oleh sebab  

itu, tidak mungkin bahwa rakai Panangkaran yaitu  raja bawahan 

rajakula Sailendra yang berasal dari luar. Menurut anggapan saya, 

justru rakai Panangkaran itulah yang merobohkan atau mengakhiri 

kekuasaan rajakula Sanjaya. Dengan timbulnya rajakula Sailendra di 

Mataram, yang dimulai oleh rakai Panangkaran, dengan sendirinya 

rajakula Sanjaya terdesak. Rajakula Sanjaya timbul kembali dengan 

munculnya rakai Pikatan yang berhasil kawin dengan Pramoda­ 

wardhani, putri keturunan wangsa Sailendra, dan kemudian 

menghalau Balaputradewa dari bumi Mataram. 

sebab  baik teori van Naerssen maupun teori Coed~s terbentur 

pada pelbagai kesulitan seperti diuraikan di atas, maka kiranya lebih 

beralasan untuk mengemukakan bahwa adanya rajakula Sailendra di 

Jawa Tengah lebih dahulu daripada di Semenanjung, seperti yang 

tercatat pada batu Ligor menurut tafsiran Coed~s. 

Rakai Panangkaran yang bergelar maharaja dan menyebut 

dirinya hiasan rajakula Sailendra, sebelum mendirikan candi Tara 

pada tahun 778, pasti sudah menjadi raja. Ini berarti bahwa ketika 

criwijayar@ja mengeluarkan piagam Ligor A pada tahun 775, rakai 

Panangkaran telah bertahta dan bergelar maharaja, sebab  piagam 

Taji Gunung sebagai piagam yang terakhir dari rajakula Sanjaya 

bertarikh tahun 772. Antara tahun 772 dan 778 itulah berakhirnya 

kekuasaan rajakula Sanjaya dan timbulnya kekuasaan rajakula 

Sailendra, yang dimulai oleh dyah Pancapana rakai Panangkaran. 

Sriwijaya dan Semenanjung 175 

Suatu kenyataan ialah bahwa di Semenanjung, ditemukan batu 

piagam dengan pemberitaan tentang adanya rajakula Sailendra; di 

Jawa Tengah, kedapatan pula piagam Sailendra dengan tarikh tahun 

778. Adakah hubungan antara dua rajakula Sailendra itu? Jika ada, 

mana buktinya? Itulah persoalannya. Tidak dapat disangkal bahwa 

piagam rajakula Sailendra di Semenanjung itu ditulis pada batu yang 

sama dengan piagam Sriwijaya dari tahun 775. Bagaimana hubungan 

antara piagam A dan piagam B itu? 

Mengenai hubungan Sriwijaya dan rajakula Sailendra, Prof. 

Nilakanta Sastri dalam bukunya, History of Griwijaya, menuliskan 

kesimpulan penyelidikannya demikian: 

The relations between Sriwijaya and the Sailendras would ap­ 

pear to have been on the whole friendly, and together they spread 

their power for a time as far as Campa and Kamboja. This outer 

empire was short-lived, and at the beginning of the ninth century 

Kamboja became independent of the southern power. About the 

middle of that century, a <;ailendra prince comes to occupy the 

throne of <;riwijaya which then becomes the seat of the maharaja. 

Possibly (ailendera rule continued in Java for some time longer, and 

if that be so, there were two branches of this celebrated line ruling in 

Sumatra and Java for a while. 

Yang menimbulkan persoalan ialah: Siapa "ailendra prince 

yang dikatakan oleh Prof. Nilakanta Sastri merebut takhta Sriwijaya 

itu? Di antara piagam Sailendra dari Jawa Tengah, yang paling 

menarik perhatian mengenai hubungan Sriwijaya-Sailendra dalam 

abad ke-8 ialah piagam Kelurak. Piagam ini dikeluarkan oleh seorang 

raja dari wangsa Sailendra yang menyebut dirinya Dharanindra pada 

tahun Saka 704 atau tahun Masehi 782. Beliau membangun area 

Manjuc;ri. Penyelenggaraannya diserahkan kepada seorang pendeta 

dari Gaudadwipa bernama Kumaragosha. Arca Manjuc;ri merupakan 

kesatuan Brahma, Wisnu, dan Maheswara atau Siwa. N amun, piagam 

tersebut sudah sangat rusak. Banyak kata-katanya yang tidak dapat 

lagi dibaca. 

176 Sriwijaya 

Jika kita meneliti piagam Kedu, yang menyebut raja-raja Medang 

di Poh Pitu, nama Dharanindra tidak tersebut di situ. Piagam Kedu 

memang tidak menyebut nama pribadi raja-raja Mataram kecuali 

ratu Sanjaya. Yang disebut di situ hanyalah gelar rakai, diikuti nama 

tempat, seperti Warak, Garung, Pikatan, Panangkaran, dan 

sebagainya. Jelas sekali bahwa nama pribadi rakai Panangkaran ialah 

Pancapana, namun nama Pancapana tidak disebut pada piagam Kedu. 

Saya kira, nama Dharanindra juga nama pribadi salah satu di 

antara delapan raj a yang disebut pada piagam Kedu. Meskipun waktu 

pengeluaran piagam itu hanya berselisih empat tahun dengan 

pengeluaran piagam Kalasan, namun sebab  sang raja menyebut 

dirinya Dharanindra, sedangkan pada piagam Kalasan dyah 

Pancapana, maka kiranya Dharanindra ini berbeda dengan Pancapana 

alias rakai Panangkaran. Selisih waktu yang terlalu pendek itu 

menimbulkan dugaan bahwa Dharanindra yaitu  putra dan pengganti 

Pancapana. 

Jika anggapan itu benar, maka Dharanindra harus maharaja rakai 

Panunggalan, sebab  dalam urutan nama raja-raja Medang, rakai 

Panunggalan disebut sesudah rakai Panangkaran. Nama Dharanindra, 

artinya "raj a jagat", yaitu  nama tambahan Wisnu, sebab  wisnu 

mempunyai tugas untuk membina dunia. Kesamaan antara raja dan 

dewa Wisnu dalam membina kerajaan sudah meresap dalam kesu­ 

sastraan dan kehidupan. Demikianlah, Dharanindra atau Dhara­ 

nidhara: penjaga, pendukung dunia, tidak aneh digunakan sebagai 

nama raja. Nama Dharanindhara atau Dharanindra yaitu  Dewa 

Wisnu. 

Yang agak mencolok ialah adanya kesamaan nama dan rajakula 

antara raja yang tersebut pada piagam Ligor B dan piagam Kelurak. 

Kedua-duanya yaitu  keturunan rajakula Sailendra. Yang satu 

bernama Wisnu; lainnya bernama Dharanindra. Nama Dharanindra 

yaitu  sinonim dari nama Wisnu. Piagam Kelurak boleh dikatakan 

sezaman dengan piagam Ligor. berdasar  pandangan di atas, maka 

dapat diambil kesimpulan bahwa kedua piagam itu dikeluarkan oleh 

Sriwijaya dan Semenanjung 177 

satu raja, yakni oleh rakai Panunggalan. Demikianlah, rakai Panung­ 

galan mempunyai nama pribadi Dharanindra. Kelanjutan dari kesim­ 

pulan, ialah bahwa daerah Ligor pada akhir abad ke-8 diperintah 

oleh raja dari rajakula Sailendra yang berasal dari Jawa Tengah. 

Tegasnya, oleh rakai Panunggalan. 

lni berarti bahwa raja Sriwijaya yang mengeluarkan piagam Ligor 

A merupakan raja yang terakhir dari keluarga raja, yang dalam bahasa 

Sriwijaya bergelar dapunta hyang. Kekuasaan Sriwijaya di daerah Ligor 

diambil alih oleh raj a dari rajakula Sailendra dari Jawa Tengah, yakni 

oleh rakai Panunggalan. 

Nama desa Panunggalan disebut beberapa kali dalam prasasti. 

Di antaranya dalam prasasti K.O. IX. Desa Panunggalan terletak di 

daerah Purwadadi, Jawa Tengah. Politik perluasan daerah di luar Jawa 

memang dilakukan oleh tentara Jawa pada pertengahan abad ke-8. 

Menurut catatan sejarah Annam pada tahun 677, Tongkin mengalami 

serangan musuh dari Ch'o-po dan K'un-lun. Namun, serangan itu 

tidak berhasil. Tentara musuh dapat dipukul mundur oleh gubernur 

Chang-po-yin di dekat S~n-tay dan diusir kembali ke laut. 

Piagam Sanskerta dari Po Ngar menguraikan bahwa pada tahun 

77 4, Campa diserang oleh tentara asing yang warna kulitnya hi tam. 

Tindakannya sangat kejam dan datang dengan perahu. Mereka 

merebut lingga dan membakar candi. Namun, mereka dapat 

dikalahkan oleh raja Satyawarman. Pada tahun 787, tentara Jawa 

datang lagi dengan perahu dan membakar candi lain. Pada tahun 

802, raja Kamboja, Jayawarman, mengatakan bahwa pada tahun itu 

Kambojadesa berhenti jadi jajahan Jawa. Peristiwa-peristiwa terse but 

membuktikan adanya politik perluasan daerah atau perluasan 

kekuasaan oleh rajakula Sailendra di Jawa. Kita berhenti pada per­ 

nyataan bahwa pada tahun 787, tentara J awa datang menyerang 

Campa, dan pada tahun 802, Kambojadesa berhenti jadi jajahan 

Jawa. lni berarti bahwa sebelum tahun 802 Kamboja jadi jajahan 

Jawa. 

178 Sriwijaya 

Tahun 787 yaitu  masa pemerintahan rakai Panunggalan atau 

Dharanindra. Tentara Jawa pada waktu itu menyerang Campa. 

Kiranya tidak mustahil bahwa Ligor, daerah Sriwijaya yang terletak 

di pantai timur Malaya, mendapat serangan lebih dahulu daripada 

Campa. Pada tahun 775, raja Sriwijaya masih berkuasa di daerah 

Ligor. Demikianlah, pengambilalihan kekuasaan daerah Ligor oleh 

rakai Panunggalan harus terjadi antara tahun 775 dan 787. Jika 

demikian, maka pemahatan piagam Ligor B harus terjadi pada waktu­ 

waktu itu, yakni antara tahun 775 dan 787. Piagam Ligor B lalu 

merupakan proklamasi kekuasaan rajakula Sailendra dari Jawa Tengah 

di daerah Ligor. Ligor dijadikan pangkalan untuk menyerang 

Kamboja clan Campa. Kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung 

dipatahkan oleh tentara Jawa dari Jawa Tengah, di bawah peme­ 

rintahan dyah Dharanindra rakai Panunggalan. 

Bab 6 

RAJAKULA SAILENDRA DI JAWA TENGAH 

Prasasti Kedu 

Untuk mengetahui bagaimana hubungan rajakula Sailendra di 

Sriwijaya dengan rajakula Sailendra di Jawa, perlu kita mengadakan 

sekadar tinjauan tentang perkembangan kerajaan Sailendra di J awa 

Tengah. Untuk tujuan tersebut, perlu kita memerhatikan prasasti­ 

prasasti yang pernah dikeluarkan oleh rajakula Sailendra di J awa, 

dan prasasti-prasasti lainnya yang dapat memberikan keterangan 

tentang kerajaan Sailendra di Jawa Tengah. 

Salah satu piagam yang dijadikan pegangan ialah piagam Kedu 

yang dikeluarkan oleh raj a Bali tung pada tahun 907. Piagam Kedu 

telah diterbitkan oleh Dr. W.F. Stutterheim dalam T.B. G. LVII hlm. 

172 dst. pada tahun 1927. Piagam Kedu menyebut nama delapan 

raja yang pernah memerintah Medang di wilayah Poh Pitu, dan yang 

mendahului raja Balitung. Kedelapan raja itu semuanya bergelar sri 

maharaja, kecuali Sanjaya. Sanjaya bergelar sang ratu. Kedelapan raj a 

itu semuanya, tan pa kecuali, menggunakan sebutan rakai. Penyebutan 

raja-raja itu didahului dengan ucapan Rahyang ta rumuhun ri M~dang 

ri Poh Pitu: pembesar-pembesar didahulukan yang memerintah di 

Medang di Poh Pitu. Kedelapan raja itu lalu disebut berturut-turut 

seperti berikut: 

180 

1. Sang Ratu Sanjaya, rakai Mataram 

2. Sri Maharaj a rakai Panangkaran 

3. Sri Maharaja rakai Panunggalan 

4. Sri Maharaja rakai Warak 

5. Sri Maharaja rakai Garung 

6. Sri Maharaja rakai Pikatan 

7. Sri Maharaja rakai Kayuwangi 

8. Sri Maharaja rakai Watuhumalang. 

Sriwijaya 

Dari delapan raja itu, yang disebut namanya pribadi hanya raja 

Sanjaya. Lainnya hanya disebut dengan gelar rakai yang diikuti nama 

tempat. Dengan sendirinya lalu timbul pertanyaan: Siapa nama pri­ 

badi atau nama abhiseka raja-raja yang tujuh itu? Hingga sekarang, 

kita belum berhasil sepenuhnya untuk mencari nama-nama pribadi 

atau nama-nama abhiseka ketujuh raja tersebut. Nama pribadi rakai 

Panunggalan dan rakai Warak hingga saat ini belum lagi ditemukan. 

Lima raja lainnya berkat penelitian pelbagai piagam sudah dapat 

diketahui. 

Sudah jelas bahwa di Jawa Tengah hanya ada delapan raja yang 

memerintah sebelum raj a Bali tung, sebelum tahun 907. Pada tahun 

927, raja Balitung sudah memerintah. Dari piagam Canggal, kita 

ketahui dengan pasti bahwa raja Sanjaya telah memerintah pada 

tahun 732. Berapa tahun lamanya beliau sudah memerintah ketika 

mendirikan lingga di atas gunung Wukir, tidak dapat diketahui. 

Demikianlah delapan raja itu memerintah di Jawa Tengah dalam 

pangsa waktu tahun 732-907, lebih kurang 175 tahun. Masa peme­ 

rintahan Sanjaya sebelum tahun 732 dan Balitung sebelum tahun 

907 tidak ikut diperhitungkan. 

Piagam Kedu yaitu  piagam persumpahan yang menyebut 

nama-nama raja yang telah dimakamkan. Pangsa waktu 175 tahun 

pada hakikatnya bukan pangsa waktu yang panjang. Raja yang 

memerintah yaitu  tokoh-tokoh yang dikenal oleh masyarakat. Oleh 

sebab  itu, penyebutan delapan nama raj a itu kiranya dapat dipercaya. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 181 

Kiranya tidak ada maksud untuk menyelundupkan nama raja 

lain, atau dengan sengaja tidak memberitakan raj a yang tidak disukai­ 

nya, mengingat bahwa pada masa itu kultus persembahan atau 

pendewaan nenek moyang sedang berkembang. Bali tung a tau 

pemahat piagam pasti mempelajari nama raja-raja yang bersangkutan 

lebih dahulu. Tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran pem­ 

beritaan piagam tersebut. Bahwa kemudian ditemukan nama-nama 

raja yang tidak termasuk dalam daftar piagam Balitung, dapat ditaf­ 

sirkan bahwa raja-raja yang bersangkutan tidak termasuk raja-raja 

yang memerintah di Poh Pitu. Selain kerajaan Mataram, di Jawa 

Tengah pada waktu itu pasti masih ada kerajaan-kerajaan lain. Wila­ 

yah kerajaan pada waktu itu tidak bisa digambarkan dengan jelas. 

Namun, dapat dipastikan bahwa kebanyakan kerajaan pada waktu 

itu merupakan kerajaan kecil-kecil. 

Juga, tidak dapat dibuktikan apakah urutan raj a-raj a yang jum­ 

lahnya sembilan dengan Balitung itu termasuk satu dinasti, yang 

bisa disebut dinasti atau wangsa Sanjaya; berhubung Sanjaya yaitu  

raj a yang pertama. J uga, masih diragukan apakah raj a-raj a yang 

disebut itu memerintah beturut-turut dari bapak ke anak, atau di 

antaranya terselip pula raja dari wangsa lain. Bagaimana hubungan 

antara raja yang satu dengan raja yang lain, tidak diketahui dengan 

pasti. Kecuali piagam Kedu di Jawa Tengah, masih banyak lagi dite­ 

mukan prasasti-prasasti yang menyebut nama raja yang tidak 

tercantum pada daftar nama raja prasasti Kedu. Bagaimana hubungan 

antara raja-raja tersebut dengan raja pada prasasti Kedu, masih perlu 

diselidiki. Demikianlah, pada hakikatnya persoalan wangsa Sailendra 

di Jawa Tengah itu masih sangat rumit. 

Pada prasasti Kedu, jelas dinyatakan bahwa raja-raja yang ter­ 

sebut pada prasasti itu pernah memerintah di Medang di Poh Pitu. 

Hingga sekarang, kita tidak mengetahui di mana letaknya Poh Pitu. 

Pada piagam lain, akan kita jumpai pula nama Medang, yang tidak 

dihubungkan dengan Poh Pitu, tetapi dengan Mataram dan Mamrati. 

Di mana letaknya tempat-tempat tersebut dan apa sebab-sebabnya 

timbul tiga nama tersebut, masih memerlukan penelitian lebih lanjut. 

189 Sriwijaya 

Lokalisasi tempat-tempat itu tidaklah mudah. Sanjaya memeluk 

agama Siwa, tetapi rakai Panangkaran jelas memeluk agama Budha 

Mahayana. Apakah sebabnya timbul perubahan agama dalam 

kehidupan wangsa Sanjaya, jika Panangkaran yaitu  benar putra rakai 

Mataram, sang ratu Sanjaya? Jelas, bahwa Sanjaya bergelar sang ratu. 

Mengapa sekonyong-konyong rakai Panangkaran bergelar sri maha­ 

raja? Hal-hal tersebut merupakan persoalan yang perlu diperhatikan, 

jika kita ingin mengetahui perkembangan wangsa Sailendra di Jawa 

Tengah. 

Tidak semua soal itu dapat dipecahkan secara memuaskan, 

sebab  bahan sejarah yang diperlukan tidak mencukupi. Bahwa kita 

menyadari adanya persoalan-persoalan itu, yaitu  suatu tanda bahwa 

kesadaran sejarah itu telah timbul; telah mulai tumbuh di kalangan 

masyarakat negara kita . Kesadaran sejarah itu, dengan sendirinya, akan 

mendorong kita untuk mencari penjelasan tentang soal-soal yang 

belum kita ketahui. 

Untuk memperoleh sekadar gambaran tentang perkembangan 

kerajaan Sailendra di Jawa Tengah, perlu kita meninjau prasasti­ 

prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Sailendra sendiri, dan prasasti­ 

prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja yang disebut pada prasasti 

Kedu, meskipun tinjauan tentang prasasti-prasasti itu tidak akan 

sangat mendalam. Kita mulai dengan peninjauan prasasti Canggal, 

yang dikeluarkan oleh sang ratu Sanjaya. 

Prasasti Canggal dan Sanjaya 

Prasasti Canggal ditulis dalam bahasa Sanskerta, bertarikh tahun 

Saka 654 atau tahun Masehi 732. Prasasti tersebut ditemukan di 

atas gunung Wukir di Canggal, desa Kadiluwih, distrik Salam di 

Kedu Selatan, diterbitkan oleh Ken pada tahun 1885 dalam B.K.I. 

jilid X, dimuat kembali dalam V. G. VII hlm. 115 dst. Prasasti Canggal 

dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada waktu mendirikan lingga di atas 

gunung Wukir, ditemukan di dekat puing-puing candi. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 183 

Isinya. Prasasti Canggal terdiri dari 12 pada. Pada 1 menguraikan 

pembangunan lingga oleh raja Sanjaya di atas gunung. Pada 2-4 

memuat pujaan kepada dewa Siwa. Pada 5 memuat pujaan terhadap 

dewa Brahma. Pada 6 yaitu  pujaan kepada dewa Wisnu. Pada 7 

menguraikan pulau Jawa yang sangat subur, kaya akan tambang emas, 

dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa 

demi kebahagiaan penduduk, berasal dari Kunjarakunjadesa (di In­ 

dia Selatan). Pada 8-9 menguraikan bahwa pulau Jawa diperintah 

oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, 

perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada bawahannya 

(rakyat). Ketika raja Sanna wafat, negara berkabung, sedih sebab  

kehilangan pelindung. Pada 10--11 menguraikan pengganti raja 

Sanna, yakni putranya, raja Sanjaya. Sanjaya dikiaskan dengan 

matahari. Beliau menerima kekuasaan tidak langsung dari raj a Sanna, 

tetapi dari kakak perempuannya. Pada l 2 menguraikan kesejahteraan, 

keamanan, dan ketenteraman negara. Rakyat dapat tidur di tengah 

jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau kejahatan 

lainnya. Rakyat hidup serba senang. 

Dari piagam Canggal, nyatalah bahwa raja Sanjaya memeluk 

agama Siwa dan berkiblat ke India Selatan. N ama Kunjara a tau 

Kunjaradari terdapat di India Selatan, terkenal sebagai tempat 

pertapaan Agastya. Kunjaradari yaitu  pusat agama Siwa. Boleh 

dipastikan bahwa nenek moyang raja Sanjaya berasal dari India 

Selatan. Tegasnya, dari tempat yang namanya Kunjaradari. Penyebutan 

nama Sanjaya pada prasasti Bali tung terbukti cocok dengan kenyataan. 

Nama Sanjaya memang kedapatan pada prasasti Canggal. Sanjaya 

dianggap sebagai raja pertama di Mataram dan disebut rakai 

Mataram. Sedangkan prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh raja 

Sanjaya sendiri menyatakan bahwa sebelum raj a Sanjaya, J awa telah 

diperintah oleh ayah beliau yang bernama raja Sanna. 

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan ialah pernyataan bahwa 

pulau J awa kaya akan tam bang emas. Moens, dalam karangannya, 

(riwijaya, Yava en Katha (TB.G. LXXVII hIm. 386-387), segera 

menghubungkan Yawa pada prasasti Canggal itu dengan Ye-po-ti, 

184 Sriwijaya 

sebagai transkripsi Tionghoa dari Yawadwipa, yang diidentifikasikan 

dengan Semenanjung Melayu, kaerna pulau Jawa tidak pernah 

dikenal sebagai pulau emas atau pulau yang menghasilkan emas. 

Baik Yawadwipa dalam kakawin Sanskerta R~may~na maupun 

pemberitaan Ptolomeus tentang Chryso Chersonesos bertalian dengan 

Semenanjung, tidakdengan pulauJawa. Menurut pendapatnya, raja 

Sanjaya diusir dari Kat~ha dan lari ke J awa. Di J awa, beliau mendirikan 

kerajaan di Jawa Tengah. Apa yang diceritakan pada prasasti Canggal 

tentang J awa yaitu  ingatan kepada tern pat tinggalnya yang lama, 

yakni Semenanjung. Candi Siwa yang diuraikan pada pada 7 tidak 

pernah terdapat di Jawa, tetapi di Semenanjung. 

Juga, raja Sannaha tidak memerintah Jawa. Raja Sanna hidup 

dan wafat di Semenanjung. Kesejahteraan rakyat yang diuraikan 

dalam prasasti Canggal yaitu  kesejahteraan rakyat di Semenanjung. 

Pusat kerajaan Yawadwipa yaitu  Kedah. Moens berusaha untuk 

mengidentifikasikan Cho-po dengan Jawa (Yawadwipa), yang 

dilokalisasikan di Semenanjung. sebab  timbulnya kerajaan Sriwijaya 

yang segera menguasai Selat Malaka dan menyerang Semenanjung, 

maka raja Sanjaya berhasil diusir dari Kedah dan melarikan diri ke 

J awa. Demikianlah pendapat Moens. 

Piagam-piagam yang menggunakan perhitungan tarikh tahun 

Sanjaya ada dua, yakni piagam Gata dekat Prambanan dengan tarikh 

Sanjayawarsa 693 (0.J.O XXXV) dan piagam Taji Gunung, juga 

dekat Prambanan, dengan tarikh Sanjayawarsa 694 atau tahun Masehi 

772 (0.J.O XXXVI); jadi, 40 tahun sesudah prasasti Canggal. Nama 

rajanya tidak jelas, tetapi rajanya terang bergelar sri maharaja, dan 

nama abhisekanya berakhir dengan tunggawijaya. N ama itu terdapat 

pada baris 4 dan 5: 

~ri mah~raja daksottamabahubajrapratipaksaksaya ~ri ... 

nggawijaya, tumurun i rakry~n mapatih halu, sirikan, muang. 

sebab  kedua piagam tersebut menggunakan tarikh Sanjaya­ 

warsa, boleh dipastikan bahwa raja yang namanya tersebut pada 

piagam Gata yaitu  keturunan raja Sanjaya. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 185 

Prasasti Taji Gunung tidak menyebut nama raja, hanya 

menyebut mahamantri rakryan Gurunwangi. Benar, pada prasasti 

itu disebut Sri Sanjaya naranata, tetapi didahului dengan kata nguni: 

"dahulu". Pada waktu itu, raja Sanjaya sudah wafat. sebab  selisih 

waktu hanya satu tahun saja dengan prasasti Gata, maka boleh 

dipastikan raja yang memerintah sama dengan raja yang mengeluarkan 

prasasti Gata. Lagi pula, baik prasasti Gata maupun prasasti Taji 

Gunung menggunakan Sanjayawarsa. 

Peristiwa tersebut saya anggap penting, sebab  pada prasasti 

itu jelas bahwa keturunan Sanjaya juga bergelar sri maharaja dan 

mengambil nama abhiseka dengan tungga. Lagi pula, masa peme­ 

rintahannya jelas dinyatakan dengan tarikh tahun, yakni tahun 771 

dan 772. De Casparis, dalam perhitungan bahwa setiap raja me­ 

merintah 20 tahun untuk mengisi pangsa waktu 175 tahun, sampai 

kepada perhitungan bahwa rakai Panangkaran memerintah mulai 760­ 

780 dan seterusnya. Prasasti Gata dan Taji Gunung tidak ditulis 

dalam bahasa Sanskerta, seperti prasasti Canggal, Kalasan, Karang 

Tengah, dan lain-lain, tetapi dalam bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini 

segera kita hubungkan dengan prasasti Kalasan yang bertarikh 778 

dan ditulis dalam bahasa Sanskerta. 

Prasasti Kalasan dan Rakai Panangkaran 

Prasasti Kalasan ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan huruf 

Pra-Nagari, bertarikh tahun Saka 700 atau tahun Masehi 778. Untuk 

pertama kalinya prasasti tersebut diterbitkan oleh Dr. Brandes pada 

tahun 1886 dalam T.B.G. 31 hlm. 240-260. Pada tahun 1928, 

diterbitkan lagi oleh Bosch dalam T.B.G. 68 hlm. 57-62. 

Kalasan letaknya berdekatan sekali dengan Prambanan; boleh 

dikatakan hanya terpisah oleh sungai. Pada tahun 771 dan 772, 

Prambanan masih ada di bawah kekuasaan sri maharaja Daksotta­ 

mabahubajra Tunggadewa, keturunan raja Sanjaya. Pada tahun 778, 

Kalasan menjadi wilayah maharaja Pancapana Panangkaran. Sudah 

pasti bahwa Prambanan juga termasuk wilayah raja Pancapana 

Panangkaran. 

186 Sriwijaya 

lsi prasasti: Pada I: doa dan salam kepada Arya Tara, mudah­ 

mudahan para pemujanya dapat mencapai tujuannya. 

Pada 2-3: para guru raja Sailendra mohon kepada maharaja dyah 

Pancapana Panangkaran agar beliau membangun candi Tara. 

Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah area dewi Tara, 

candinya, dan beberapa rumah untuk para pendeta yang fasih akan 

pengetahuan Mahayana Winaya. 

Pada 4-6: para pangkur, tawan, dan tirip menerima perintah 

untuk membuat candi Tara dan perumahan para pendeta. Candi 

Tara didirikan di daerah makmur sang raja, yang menjadi hiasan 

rajakula Sailendra untuk kepentingan para guru raja Sailendra. Pada 

tahun Saka 700, maharaja Panangkaran selesai membangun candi 

Tara, tempat para guru melakukan persembahan. 

Pada 7-9: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur, tawan, dan 

tirip, adyaksa desa dan para pembesar menjadi saksi. Tanah yang 

dihadiahkan oleh sang raja supaya dijaga baik-baik oleh para raja 

keturunan wangsa Sailendra, oleh para pangkur, para tawan dan tirip, 

serta para pembesar yang bijak turun-temurun. Selanjutnya, sang 

raja berulang kali minta kepada semua raja yang akan memerintah 

kemudian agar candi itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagiaan 

semua orang. 

Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu, diharapkan 

semoga semua orang memperoleh pengetahuan tentang kelahiran, 

memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran Cina. Yang mulia 

kariyana (rakyan) Panangkaran mengulangi lagi permintaan beliau 

kepada semua raja, yang akan menyusul untuk membina wihara itu 

dalam keadaan yang sesempurna-sempurnanya. 

Prasasti Kalasan tidak menggunakan perhitungan tarikh tahun 

Sanjaya seperti Gata dan Taji Gunung. Nama raja yang disebut ialah 

rakai Panangkaran dengan nama pribadinya, dyah Pancapana. Gelar 

yang digunakan ialah maharaja. Untuk pertama kalinya diberitakan 

adanya rajakula Sailendra. Pada 2 menguraikan bahwa para guru 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 187 

raja Sailendra mohon kepada maharaja dyah Pancapana, rakai 

Panangkaran, untuk membangun candi Tara dan perumahan untuk 

para pendeta. 

Sudah sejak tahun 1919 Prof. Ph. Vogel dalam artikelnya, Het 

Koninkrijk Griwijaya (B.KI. 75 hlm. 614), telah menyarankan untuk 

memisahkan raja Sailendra (~ailendrar~ya) dengan rakai Panangkaran. 

Pada tahun 1928, dalam terbitan prasasti Kalasan-nya, Prof. Bosch 

mengira bahwa ~ailendrar~ja dan rakai Panangkaran yaitu  raja 

Sriwijaya dan termasuk rajakula Sailendra. 

Pada tahun 1947, Dr. van Naerssen mencurahkan perhatiannya 

lagi kepada prasasti Kalasan dan melihat adanya dua raja pada prasasti 

tersebut. Yang satu yaitu  raja Sailendra yang tidak disebut namanya 

(dalam kata majemuk cailendrar~jaguru); yang satu lagi ialah maha­ 

raja Dyah Pancapana Panangkaran. Artikel van Naerssen termuat 

dalam IndiaAntiqua hlm. 249-253. Van Naerssen beranggapan bahwa 

maharaja Pancapana Panangkaran yaitu  raj a bawahan raj a Sailendra 

yang tidak disebut namanya itu. Raja Sailendra yang tidak disebut 

namanya itu datang dari seberang lautan dan menguasai kerajaan 

rakai Panangkaran. Beliau yaitu  pemeluk agama Budha. 

Pandangan F.H.N. van Naerssen ini kemudian diambil alih oleh 

De Casparis dalam Prasasti negara kita  I dan Bosch dalam karangannya 

yang berjudul Griwijaya, de Gailendra- en de Sanjayawamga yang 

akan dibicarakan segera. Mereka semuanya berpendapat bahwa raja 

dyah Pancapana Panangkaran yaitu  raja bawahan raja Sailendra. 

Segera timbul pertanyaan: Jika rakai Panangkaran yaitu  raja 

bawahan raja Sailendra, mengapa para guru Sailendra minta kepada 

rakai Panangkaran untuk membangun candi Tara beserta wiharanya, 

tidak langsung minta kepada raja Sailendra yang lebih berkuasa? 

Permintaan guru-guru raja Sailendra itu membuktikan bahwa rakai 

Panangkaran berkuasa atas daerahnya. Beliau berkuasa membebaskan 

tanah dan desa demi kepentingan pembangunan candi dan wihara. 

Permintaan itu yaitu  manifestasi pengakuan guru raja Sailendra 

terhadap kekuasaan rakai Panangkaran. 

188 Sriwijaya 

Pembebasan demi kepentingan pembangunan candi dan wihara 

dilakukan oleh raj a yang berkuasa di daerahnya. Pada prasasti Kalasan, 

pemberian desa Kalasan sebagai hadiah demi pembangunan candi 

Tara dan wiharanya dilakukan oleh rakai Panangkaran atas permintaan 

para guru. 

Peristiwa itu sama dengan peristiwa pembebasan tanah di desa 

Timbangan Wungkal demi pembangunan dharmma kawikuan. Tanah 

itu dijadikan tanah perdikan atau swatantra, bebas dari pajak. 

Pembebasan desa Timbangan Wungkal dilakukan oleh sri maharaja 

Daksottama Bahubajra Tunggawijaya pada tahun Saka 693 atau tahun 

Masehi 771 sebab  sri maharaja yang berkuasa. Perintah pembebasan 

itu diberikan oleh sang prabu kepada rakryan mahamantri dan rakryan 

Gurun Wangi. Dari peristiwa pembangunan candi Tara beserta 

wiharanya, dan penghadiahan desa Kalasan, nyatalah bahwa rakai 

Panangkaran berkuasa penuh di daerahnya. Tidak ada raja lain yang 

ada di atasnya. 

Mengapa para guru Sailendra mohon agar sang prabu suka 

membangun candi Tara dan wihara untuk para pendeta? Pancapana 

Panangkaran yaitu  raja dari para guru tersebut. Pancapana sebagai 

raja Sailendra yang beragama Budha mempunyai kewajiban untuk 

mengembangkan agama Budha, justru setelah berhasil mendirikan 

kerajaan. 

Kita ketahui bahwa menurut piagam Taji Gunung dan piagam 

Gata, yang jelas menggunakan tarikh Sanjayawarsa, sri maharaja 

Daksottama Bahubajra Tunggawijaya yang berkuasa. Sebagai 

keturunan Sanjaya, beliau yaitu  pemeluk agama Siwa. sebab  

sekarang yang berkuasa yaitu  raja yang beragama Budha, sudah 

selayaknya bahwa agama Budha mendapat perhatian. Mungkin juga 

pembangunan candi Tara dan wihara itu bertalian dengan penebusan 

janji sang raja kepada para guru, di samping persembahan kepada 

nenek moyang, seperti dikenal dalam agama Budha Mahayana di 

masyarakat Jawa Tengah. Pembangunan candi dan wihara di Kalasan 

yaitu  manifestasi rasa terima kasih bahwa Pancapana berhasil 

menduduki takhta kerajaan. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 189 

Di antara raja-raja yang namanya tercantum pada daftar silsilah 

prasasti Kedu, pada hakikatnya hanya rakai Panangkaran yang kita 

ketahui namanya pribadi dengan jelas, sebab  nama pribadi itu 

dicantumkan pada piagam Kalasan juga, berdampingan dengan gelar 

rakai. Lain-lainnya tidak diketahui. Atau jika diketahui, maka 

diketahui secara tidak langsung. Artinya, pengetahuan itu diperoleh 

sebab  perbandingan dengan piagam-piagam lain. Kecuali gelar rakai 

yang diikuti nama tempat seperti dikenal pada prasasti Balitung 

(Kedu), raj a biasanya mempunyai nama pribadi clan nama abhiseksa. 

Baik nama pribadi maupun nama abhiseka ini perlu mendapat 

perhatian. Mungkin sekali, nama-nama dengan tungga yang terdapat 

pada beberapa piagam, clan disangka khusus sebagai nama raja 

Sailendra oleh De Casparis, yaitu  nama abhiseka rakai yang disebut 

pada prasasti Kedu. 

Satu-satunya rakai pada prasasti Kedu yang disertai nama 

pribadi hanya rakai Mataram, yakni sang ratu Sanjaya, yang juga 

dikenal pada piagam Canggal. Berkat prasasti Bali tung (Kedu), kita 

mengetahui bahwa raja Sanjaya disebut rakai Mataram. Dari piagam 

Canggal saja, kita hanya mengetahui bahwa ada raja yang bernama 

Sanjaya. Nama Mataram sama sekali tidak disebut pada prasasti 

Canggal. Demikian pula dengan nama-nama lainnya. 

Dari prasasti Balaputra J atiningrat, kita hanya mengetahui nama 

J atiningrat. N ama rakai Pikatan tidak disebut pada prasasti itu. 

Pengetahuan bahwa Jatiningrat yaitu  rakai Pikatan diperoleh akibat 

pembandingan prasasti Kedu dengan prasasti Balaputra-Jatiningrat. 

Demikianlah, kiranya dengan perbandingan itu kita mungkin 

berhasil mengidentifikasikan beberapa nama dengan nama-nama raj a 

pada prasasti Kedu. Lagi pula, prasasti Kedu sama sekali tidak 

menyatakan secara mutlak, bahwa nama-nama yang tercantum pada 

prasasti itu semata-mata keturunan raja Sanjaya. Bahkan, nama sri 

maharaja Daksottama Tunggawijaya pada prasasti Gata, yang jelas 

menggunakan tarikh Sanjayawarsa, malah tidak disebut di situ. Apa 

yang dinyatakan pada prasasti Kedu tidak lain daripada menyebut 

nama raj a-raj a yang pernah memerintah di Poh Pitu dengan ungkapan 

190 Sriwijaya 

rahyang ta rumuhun ri M~dang ri Poh Pitu. Mungkin, ada juga raja 

Sailendra yang pernah memerintah di Poh Pitu. Kiranya Medang ri 

Poh Pitu bukan monopoli raja-raja keturunan raja Sanjaya saja. Siapa 

yang kuat dan berhasil merebut kekuasaan, dialah akan menduduki 

takhta kerajaan. 

Pada tahun 1950, seperti telah disinggung di muka, Coed~s 

menganalisis piagam Ligor B. Jalan pikiran Coed~s sejajar dengan 

jalan pikiran van Naerssen. Juga, Coed~s melihat adanya dua raja 

pada piagam Ligor B. Yang pertama yaitu  raja Wisnu yang 

dianggapnya sama dengan raja Sriwijaya yang disebut pada piagam 

Ligor A dan tidak masuk wangsa Sailendra; yang kedua ialah raja 

yang bergelar sri maharaja dan termasuk rajakula Sailendra, tetapi 

namanya tidak disebut. 

Hubungan antara raja Wisnu dan raja Sailendra itu ialah hu­ 

bungan bapak dan putra. Akibat perkawinannya dengan putri Fu­ 

nan, raja Wisnu dari Sriwijaya memperoleh putra, yang bergelar 

maharaja dan termasuk rajakula Sailendra. Menurut anggapan 

Coed~s, itulah raja Sailendra yang pertama. Namanya tercantum pada 

piagam Kelurak, yakni Dharanindra. Epiteton raja Sailendra yang 

pertama, yakni 'pembunuh musuh-musuh perwira' wairiwaraw~ra­ 

mardana pada piagam Kelurak, kedapatan kembali pada piagam Ligor 

dalam bentuk sarww~rimadawi(ma)thana, dan pada piagam Nalanda 

wirawairimathana. Epiteton itu yaitu  epiteton raja Sailendra 

Dharanindra. Seperti telah diberitahukan di muka, karangan Coed~s 

tersebut dimuat dalam Bingkisan Budi tahun 1950. 

Pada tahun 1952, Boch menerbitkan karangannya yang berjudul 

(riwijaya, de Gailendra- en de Sanjaywamsa dalam B.KI. 108 hlm. 

113-123, dengan lampiran silsilah raja-raja Sailendra, raja keturunan 

Sanjaya, dan raja-raja Sailendra di Sriwijaya. Baik karangan van 

Naerssen maupun Coed~s serta disertasi De Casparis, Prasasti Indo­ 

nesia, dibahas seperlunya dalam artikel Bosch tersebut. Ia mengakui 

kegagalannya dalam usaha membahas persoalan piagam Ligor pada 

tahun 1941 yang berjudul De inscriptie van Ligor dalam T.B. G. 

LXXXI hlm. 26-38. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 191 

Dalam terbitannya yang baru itu, Bosch mencoba memberikan 

ikhtisar tentang perkembangan dan hubungan rajakula Sailendra di 

Sriwijaya dan rajakula Sailendra di Jawa. Bosch masih tetap 

beranggapan bahwa raja Dharmasetu yang tercatat pada piagam 

Nalanda sebagai ayah Tara dan mertua Samaragrawira yaitu  raja 

Sriwijaya. Nama Samaragrawira pada piagam Nalanda tetap masih 

disamakan dengan nama Samaratungga pada Piagam Karang Tengah. 

Raja Wisnu pada piagam Ligor disamakan dengan rakai Panangkaran, 

dan dianggap putra Sanjaya. Menurut anggapan Bosch, rakai 

Panangkaran yang diidentifikasikan dengan raj a Wisnu kawin dengan 

putri dari Fu-nan, dan dari perkawinan itu lahir rakai Panunggalan 

dan D haranindra. 

Pada umumnya, Bosch menerima teori Coed~s. Oleh sebab  

itu, timbul ikhtisar yang demikian. Menurut pendapat Bosch, 

ketidakpuasan hasil penelitian mengenai piagam Ligor B ditimbulkan 

akibat pandangan yang diarahkan kepada politik perluasan wilayah 

dan politik mengejar kekuasaan yang dilakukan oleh raj a-raj a J awa 

dan Sriwijaya sebagai saingan dalam abad ke-8. Pandangan itu 

ditinggalkan dan beralih kepada pandangan perdamaian, yang 

dimanifestasikan dalam perkawinan antarwangsa yang memerintah 

Sriwijaya dan wangsa yang memerintah J awa. Katanya: 

Sebaliknya, kami berpandangan bahwa dalam abad ke-8 dan 

ke-9, sudah pasti perkawinan itu di Jawa memegang peranan yang 

sangat penting. Hubungan antara wangsa Sailendra di Jawa dan 

wangsa di Sriwijaya berlangsung dalam suasana aman dan damai. 

Penerimaan pandangan itu membawa konsekuensi penerimaan teori 

Coed~s tentang perkawinan Wisnu/Panangkaran dengan putri 

Sailendra. Dari perkawinan itu lahir dua putra. Yang sulung 

melanjutkan kekuasaan Sanjaya dan bergelar maharaja. Putra sulung 

itu ialah rakai Panunggalan. Keturunan rakai Panunggalan tercatat 

pada daftar silsilah raja Balitung. Putra yang bungsu juga menerima 

gelar maharaja, tetapi tidak digunakan, seperti ternyata pada piagam 

Kelurak, Kalasan, dan Nalanda. Putra bungsu itu ialah Dharanindra. 

sebab  Bosch menerima pendapat bahwa raja Dharmasetu 

yaitu  raja Sriwijaya, maka ia mengambil perkawinan antara 

199 Sriwijaya 

Samaragrawira dan dewi Tara sebagai contoh betapa baik hubungan 

antara raj a Sriwijaya dan raj a Jawa. Tidak ada soal permusuhan. Teori 

Bosch ini bertentangan dengan makna epiteton raja Dharanindra 

pembunuh musuh-musuh perwira. 

Prasasti Ratu Baka dan Dharmatungga 

Prasasti Ratu Baka ditulis dalam bahasa Sanskerta. sebab  banyak 

bagian yang telah rusak, tidak mungkin diterjemahkan. Tarikh tahun 

pemahatannya telah hilang. 

berdasar  kesamaan bentuk huruf yang digunakan dengan 

bentuk huruf prasasti Kalasan, De Casparis yang menerbitkan prasasti 

tersebut dalam Prasasti negara kita  I(1950) menduga bahwa prasasti 

Ratu Baka dipahat pada waktu yang sama dengan prasasti Kalasan. 

Juga, pada prasasti Ratu Baka terdapat kata cailendra ... di belakang 

nama Dharmmatunggadewasya. Nama itulah yang penting untuk 

diketahui. Dengan sendirinya ia mengambil kesimpulan bahwa 

prasasti Kalasan dikeluarkan oleh raja Sailendra Dharmmatungga 

tersebut. Rakai Panangkaran dianggap sebagai raja keturunan Sanjaya, 

yang ada di bawah kekuasaan raja Sailendra. 

Prasasti Kelurak dan Dharanindra 

Prasasti Kelurak ditulis dalam bahasa Sanskerta, bertarikh tahun 

Saka 704 atau tahun Masehi 782, diterbitkan oleh Bosch dalam 

T.B.G. LXVIII hlm. 1-64 tahun 1928. Piagam Kelurak terdiri dari 

20 pada. Isinya yaitu  peresmian arca Manjuqri. Pada akhir pada 5, 

terdapat ungkapan r~jna dhr~t~ dhr~timat~ dharan~ndran~mn: 

"kerajaan Dharanindra yang sangat teguh hatinya. Bosch semula 

mengira bahwa nama raja itu Indra. sebab  itu terlalu pendek, lalu 

dirangkap dengan dharani dan ditambah dengan warman. 

Terbentuklah nama Dharanindrawarman. Namun, raja Sailendra yang 

terakhir warman tidak ada. Pada tahun 1950, dalam karangannya, 

Le (ailendra, tueur des-h~ros ennemis, Coed~s membacanya 

D haranindra saj a. 

Rajakula Sailendra di Jawa Tengah 193 

Pada tahun 1950, dalam bukunya, Prasasti negara kita  I, De 

Casparis tetap menggunakan nama Indra. Saya beranggapan bahwa 

nama itu ialah Dharanindra sebagai sinonim nama Dharanindhara. 

Dharanindra berarti raja bumi; Dharanindhara berarti pendukung 

atau pelindung dunia. Nama itu yaitu  nama Wisnu. Nama itu 

saya identifikasikan dengan nama raja Wisnu di Ligor B, dan 

menurut pendapat saya yaitu  nama pribadi rakai Panunggalan. 

Demikianlah raja Wisnu pada piagam Ligor B itu saya identifikasikan 

dengan rakai Panunggalan pada prasasti Balitung (Kedu). Dengan 

sendirinya saya tidak melihat adanya dua raja pada piagam Ligor B. 

Raja Sailendra yang bergelar maharaja yaitu  raja Wisnu. Pendapat 

itu terdapat dalam terbitan saya, Kerajaan Sriwijaya, pada tahun 

1963 di Singapura. 

Baik epiteton 'pembunuh musuh perwira'' yang terdapat pada 

piagam Kelurak, piagam Ligor B, maupun pada piagam N alanda 

yaitu  epiteton rakai Panunggalan. Pada yang terakhir, yakni pada 

20, memuat nama Sri Sanggrama Dhananjaya. Baris yang memuat 

nama tersebut diterjemahkan oleh De Casparis: Dit bouwwerk van 

hem, die bij de wijding tot de voortrejfelijkste der mannen de koningsnaam 

~ri Sanggramadhananjaya aanneemt. Artinya: "Bangunan itu yaitu  

bangunan sang raja yang menjadi pahlawan di antara para perwira 

dan mengambil nama abhiseka Sri Sanggrama Dhananjaya." Demi­ 

kianlah, saya berpendapat bahwa Dharanindra yaitu  nama pribadi, 

Sanggrama Dhananjaya yaitu  nama abhiseka, rakai Panunggalan 

yaitu  gelar sebutannya. 

Juga, pada prasasti Kelurak ini saya jumpai nama Sri Dharmasetu 

pada pertengahan pada 19 didahului dengan kata pratip~laniyah: 

penjaga. Jadi, ungkapan pratip@laniyah cri Dharmmasetur ayam ... 

artinya: Sri Dharmasetu diserahi untuk menjaga (bangunan). 

Terjemahan yang demikian cocok dengan kalimat berikutnya yang 

menyatakan bahwa bangunan itu dibuat oleh raja Sri Sanggrama 

Dhananjaya. sebab  nama Sri Dharmasetu itu kedapatan pada prasasti 

Kelurak dan bersama-sama dengan nama Dharanindra, maka saya 

194 Sriwijaya 

menolak anggapan bahwa raja Dharmasetu yaitu  raja Sriwijaya, 

seperti yang dikemukakan oleh Krom, Bosch, dan De Casparis. 

Menurut prasasti Nalanda, Dharmasetu yaitu  ayah dewi Tara 

dan mertua Samaragrawira, sedangkan Samaragrawira yaitu  ayah 

Balaputra. Demikianlah, Dharmasetu itu berbesan dengan Dhara­ 

nindra alias rakai Panunggalan. sebab  hal-hal tersebut, maka saya 

anggap prasasti Kelurak yaitu  prasasti penting yang dapat 

memberikan petunjuk untuk penyelesaian persoalan hubungan antara 

piagam Nalanda dan piagam Ligor B, atau persoalan hubungan 

Sriwijaya dan J awa. 

Saya menduga bahwa justru pada prasasti Kelurak itu, kita 

mendapatkan keterangan tentang rakai Panunggalan yang hingga 

sekarang ti