Senin, 13 Oktober 2025

Ruqyah 1

 


Ruqyah: penyembuhan suatu penyakit dengan 

pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, atau doa-doa 

kepada Allah. 

Syarat dibolehkannya ruqyah sebagaimana perkataan 

Ibnu Hajar rahimahullah: 

  ِماَلَِكب َنوُكَي َْنأ ٍطوُرُش ِةَثاَلَث ِعاَمِتْجأ َدْنِع ىَقُّرلأ ِزأَوَج ىَلَع ُءاَمَلُعْلأ َعَمَْجأ ْدَقَو

  ِِهتاَفِصَو ِِهئاَمَْسِاب َْوأ ىَلاَعَت ِهَّللأ  َْنأَو ِهِرْيَغ ْنِم ُهاَنْعَم ُفَرْعُي اَِمب َْوأ ِِّيبَرَعْلأ ِناَسِّللِابَو

ىَلاَعَت ِهَّللأ ِتأَِذب ْلَب اَِهتأَِذب ُرِّثَُؤت اَل َةَيْق ُّرلأ ََّنأ َدَقَتْعُي 

“Para ulama telah bersepakat bahwa ruqyah itu 

diperbolehkan jika memenuhi 3 persyaratan: 

- Ruqyah dengan firman Allah atau dengan nama-

nama dan sifat-sifatNya,  

- Ruqyah dengan bahasa Arab atau jika selain bahasa 

Arab maka harus dipahami maknanya 


 

- Hendaknya meyakini bahwasanya ruqyah tidaklah 

memberi pengaruh dengan sendirinya akan tetapi 

kembali kepada Allah” (1)  

Sebagian ulama keliru dan berpendapat bahwa ruqyah 

dengan apa saja -selama bermanfaat- adalah 

diperbolehkan. Dan hal ini telah dibantah oleh Ibnu 

Hajar, karena Nabi ﷺ menyatakan “Tidak mengapa 

ruqyah selama tidak ada kesyirikan padanya”. Dan jika 

ruqyah ini  dengan bahasa yang tidak dipahami 

maka dikhawatirkan mengandung atau bisa 

menjerumuskan dalam kesyirikan(2)  

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:  

  اَل يِتَّلأ ىَقُّرلأَو ِمِساَلَّطلأَو ِِمئأَزَعْلأ ْنِم ِساَّنلأ يِدَْيِاب اَم ُة َّماَعَو اَم اَهيِف ِةَِّيبَرَعْلِاب ُهَقْفُت

، ِّنِْجلِاب ٌكْرِش َوُه    ؛اَهاَنْعَم ُهَقْفُي اَل يِتَّلأ ىَقُّرلأ ْنَع َنيِمِلْسُمْلأ ُءاَمَلُع ىََهن أَذَِهلَو

 ٌكْرِش اَهََّنأ يِقأَّرلأ ْفِرْعَي ْمَل ِْن أَو ِكْر ِّشلأ ُةَّنِظَم اَهََّنِال 

“Dan jimat-jimat, rajah-rajah, dan ruqyah-ruqyah yang 

ada di tangan masyarakat yang tidak dipahami 

maknanya, ada padanya kesyirikan kepada jin. 

Karenanya para ulama muslimin telah melarang ruqyah 

yang tidak dipahami maknanya, karena diduga 

mengandung kesyirikan meskipun yang meruqyah tidak 

mengetahui bahwasanya itu adalah kesyirikan” (3)   

 

(1) Fathul Baari 10/195 

(2) Lihat Fathul Baari 10/195 

(3) Majmuu’ al-Fataawaa 19/13 


 

Cara Meruqyah 

 

Adapun cara meruqyah yang syar’i adalah dengan cara-

cara berikut: 

Pertama:  ُثَف َنلا (dengan tiupan disertai sedikit sekali air 

liur, dan ada yang mengatakan tanpa air liur sama 

sekali). Rasulullah ﷺ bersabda: 

أ  ُهُهَرْكَي اًئْيَش ْمُكُدََحأ َىأَر أَذ ِ اَف ،ِناَطْي َّشلأ َنِم ُمْلُحلأَو ،ِهَّللأ َنِم )ُةَِحلا َّصلأ( اَيْؤ ُّرل

ةيأور يفو( ٍتأَّرَم ََثالَث ُظِقْيَتْسَي َنيِح ْثِفْنَيْلَف:   ْنِم ْذ َّوَعَتَيَو ،)ِهِراَسَي ْنَع ْقُصْبَيْلَف

 ُه ُّرُضَت َال اَهَّن ِ اَف ،اَه ِّرَش 

“Mimpi yang baik dari Allah dan mimpi yang buruk dari 

syaitan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang ia 

tidak sukai maka hendaknya ia meniupkan (nafats) tatkala 

terjaga sebanyak tiga kali dan berlindung dari keburukannya 

(Dalam riwayat yang lain: “Hendaknya ia meludah ke arah 

kirinya), karena sesungguhnya hal itu tidak akan 

memudorotkannya” (4)  

Kedua:  ُلْفَّتلأ (dengan meniup disertai air liur namun 

tidak sampai pada derajat meludah) 

Sebagaimana kisah Abu Sa’id al-Khudri, dimana 

disebutkan: 

 

(4) HR Al-Bukhari 3292 dan 5747 

0

 

 ْنِم َطُِشن اَمََّناََكل ىَّتَح َنيِمَلاَعلأ ِّبَر ِهَِّلل ُدْمَحلأ :ُأَرْقَيَو ُلُفْتَي َلَعَجَف ٍلاَقِع 

“Maka sahabat (yang meruqyah) meludah dan membaca 

“Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin” hingga seakan-akan 

orang ini  baru saja lepas dari ikatan” (5) 

Dalam riwayat yang lain: 

 ُهَقأَزُب ُعَمْجَيَو ،ِن أْرُقلأ ُِّمِاب ُأَرْقَي َلَعَجَف َأَرَبَف ،ُلِفْتَيَو 

“Maka sahabatpun membacakan surat al-Fatihah, ia 

mengumpulkan ludahnya lalu meludah. Maka sembuhlah orang 

ini ” (6)  

Ibnu Hajar berkata: 

 ىَلَْواْلأ ِقيِرَِطب ُثْفَّنلأ َزاَج ُلْفَّتلأ َزاَج أَِذ أَو ِلْفَّتلأ َنوُد َثْفَّنلأ ََّنأ 

“Sesungguhnya an-nafats dibawah at-taflu, dan jika at-taflu 

diperbolehkan maka an-nafats tentu lebih utama untuk 

dibolehkan” (7)  

Ketiga: Meruqyah tanpa tiupan sama sekali 

  ِهْيَلَع ُهللأ ىَّلَص ِهَّللأ َلوُسَر ََّنأ :اَهْنَع ُهَّللأ َيِضَر َةَِشئاَع ْنَع  ىََتأ أَِذ أ َناَك ،َمَّلَسَو

  َءاَفِش َال ،يِفا َّشلأ َْتَنأَو ِفْشأ ،ِساَّنلأ َّبَر َساَبلأ ِبِهْذَأ« :َلاَق ،ِِهب َِيُتأ َْوأ اًضيِرَم

 »اًمَقَس ُرِداَغُي َال ًءاَفِش ،َكُؤاَفِش اَِّل أ 

Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Rasulullah  ﷺ 

jika menjenguk orang sakit atau didatangkan orang sakit 

 

(5) HR Al-Bukhari No. 5749 

(6) HR al-Bukhari No. 5736 dan Muslim No. 2201 

(7) Fathul Baari 10/210 


 

kepada beliau maka beliau berkata, “Hilangkanlah 

penyakit ini wahai Penguasa manusia, sembuhkanlah 

sesungguhnya Engkau Maha Menyembuhkan, tidak ada 

kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang 

tidak meninggalkan sakit sedikitpun” (8)  

 اََبأ اَي :ٌِتباَث َلاَقَف ،ٍِكلاَم ِنْب ِسََنأ ىَلَع ٌِتباَثَو َاَنأ ُتْلَخَد :َلاَق ،ِزيِزَعلأ ِدْبَع ْنَع

  ِةَيْقُِرب َكيِقَْرأ َاَلأ :ٌسََنأ َلاَقَف ،ُتْيَكَتْشأ ،َةَزْمَح ؟َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهللأ ىَّلَص ِهَّللأ ِلوُسَر

  َال  ،يِفا َّشلأ  َْتَنأ  ِفْشأ  ،ِساَبلأ  َبِهْذُم  ،ِساَّنلأ  َّبَر  َّمُهَّللأ«  :َلاَق  ،ىَلَب  :َلاَق

 »اًمَقَس ُرِداَغُي َال ًءاَفِش ،َْتَنأ اَِّل أ َيِفاَش 

Dari Abdul Aziz ia berkata, “Aku dan Tsabit menemui 

Anas bin Malik. Maka Tsabit berkata, “Wahai Abu 

Hamzah (kunyah Anas bin Malik -pen) aku sakit. Maka 

Anas berkata, “Maukah aku meruqyahmu dengan 

ruqyahnya Rasulullah ﷺ?”. Tsabit berkata, “Tentu”. 

Anas berkata, “Wahai penguasa manusia, Yang 

menghilangkan penyakit, sembuhkanlah sesungguhnya 

Engkau Maha menyembuhkan, dengan kesembuhan 

yang tidak menyisakan penyakit” (9)  

Keempat: Mencampurkan sedikit tanah dengan air liur  

 َناَك َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهللأ ىَّلَص َّيِبَّنلأ ََّنأ :اَهْنَع ُهَّللأ َيِضَر ،َةَِشئاَع ْنَع   :ِضيِرَمِْلل ُلوُقَي

 »اَنِّبَر ِنْذ ِ ِاب ،اَنُميِقَس ىَفْشُي ،اَنِضْعَب ِةَقيِِرب ،اَنِضَْرأ ُةَبْرُت ،ِهَّللأ ِمِْسب« 

 

(8) HR Al-Bukhari No. 5675 dan Muslim No. 2191 

(9) HR al-Bukhari No. 5742 


Dari Aisyah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi  ﷺ 

berkata kepada orang yang sakit, “Dengan nama Allah, 

tanah bumi kami, dengan liur sebagian kami, 

disembuhkan orang yang sakit diantara kami, dengan 

izin Rabb kami” (10)  

An-Nawawi berkata: 

  ِهِسْفَن  ِقِير  ْنِم  ُذُْخ اَي  ُهََّنأ  ِثيِدَْحلأ  ىَنْعَمَو  ىَلَع  اَهُعَضَي  َّمُث  ِةَباَّب َّسلأ  ِهِعُبُْصأ  ىَلَع

 أَذَه ُلوُقَيَو ِليِلَعْلأ َِوأ ِحيِرَْجلأ ِعِضْوَمْلأ ىَلَع ِِهب ُحَسْمَيَف ٌءْيَش ُهْنِم اَِهب ُقَلْعَيَف ِبأَرُّتلأ

 ِحْسَمْلأ ِلاَح يِف َماَلَْكلأ 

“Makna hadits ini adalah Nabi ﷺ mengambil air liurnya 

dengan jari telunjuknya lalu beliau meletakkan 

telunjuknya di tanah, kemudian sebagian tanah 

menempel pada jarinya lalu beliau mengusapkannya 

pada lokasi luka atau daerah sakitnya, dan beliau 

mengucapkan doa ini tatkala sedang mengusap” (11)  

Kelima: Mengusapkan tangan ke tubuh 

 َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهللأ ىَّلَص ِهللأ ِلوُسَر ىَِل أ اَكَش ُهََّنأ ، ِّيِفَقَّثلأ ِصاَعْلأ ِيَبأ ِنْب َناَمْثُع ْنَع

  ِهْيَلَع  ُهللأ  ىَّلَص  ِهللأ  ُلوُسَر  َُهل  َلاَقَف  َمَلْسَأ  ُذْنُم  ِهِدَسَج  يِف  ُهُدِجَي  اًعَجَو  :َمَّلَسَو

  ٍتأَّرَم َعْبَس ْلُقَو ،اًثاَلَث ِهللأ ِمْسِاب ْلُقَو ،َكِدَسَج ْنِم َمََّلاَت يِذَّلأ ىَلَع َكَدَي ْعَض«

 »ُرِذاَُحأَو ُدَِجأ اَم ِّرَش ْنِم ِِهتَرُْدقَو ِهللِاب ُذوُعَأ 

 

(10) HR Al-Bukhari No. 5745 dan Muslim No. 2194 

(11) Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/184 


 

Dari Utsman bin Abil ‘Aash Ats-Tsaqofi bahwasanya ia 

mengeluhkan kepada Nabi ﷺ rasa sakit yang ia rasakan 

di tubuhnya semenjak ia masuk Islam. Maka Nabi  ﷺ 

berkata kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di bagian 

tubuhmu yang kau rasakan sakit, lalu bacalah bismillah 

tiga kali dan ucapkanlah sebanyak tujuh kali, “Aku 

berlindung kepada Allah dengan kekuasaanNya dari 

keburukan yang aku rasakan dan yang aku takutkan” (12)  

Keenam: Ruqyah dengan membaca lalu meniupkannya 

ke air, setelah itu airnya diminumkan kepada yang sakit, 

atau diusapkan kepada bagian tubuhnya yang sakit, atau 

dimandikan dengan air ini . 

Dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya Nabi ﷺ sedang 

sholat lalu beliau disengat kalajengking. Maka beliau 

berkata: 

  ُحَسْمَي َلَعَجَو ٍحْلِمَو ٍءاَِمب اَعَد َّمُث .ُهَرْيَغ َالَو اًيِّلَصُم ُعَدَت َال َبَرْقَعْلأ ُهللأ َنَعَل  اَهْيَلَع

 ُق( ـب ُأَرْقَيَو)ِساَّنلأ ِّبَِرب ُذْوُعَأ ْلُق(و )ِقَلَفْلأ ِّبَِرب ُذْوُعَأ ْلُق(و )َنْوُرِفاَْكلأ اَهَُّيأ اَي ْل 

“Allah melaknat kalajengking, kalajengking tidak 

meninggalkan gangguannya kepada orang yang sedang 

sholat dan tidak juga kepada lainnya”. Lalu Nabi 

meminta air dan garam kemudian Nabi mengusap 

 

(12) HR Muslim No. 2202 


 

dengan air ini  dan membaca surat al-Kafirun, 

surat al-Falaq, dan surat an-Naas” (13)  

  ِءاَمْلأ يِف َذ َّوَعُي َْنأ اًْس اَب ىَرَت اَل َْتناَك اَهََّنأ« َةَِشئاَع ْنَع ،ٍرَشْعَم ِيَبأ ْنَع  َّبَصُي َّمُث

»ِضيِرَمْلأ ىَلَع 

Dari Abu Ma’syar dari Aisyah bahwasanya Aisyah 

memandang tidak mengapa dibacakan di air lalu air 

ini  diguyurkan ke orang yang sakit(14)  

Demikian juga para ulama membolehkan minum 

dengan air yang telah dibacakan ruqyah, diantaranya 

Imam Ahmad(15) dan Ibnul Qoyyim(16)  

Ketujuh: Menuliskan sebagian ayat al-Qur’an lalu 

menghapusnya dengan air kemudian meminum air 

ini  atau mandi dengan air ini  

Metode seperti ini dibolehkan oleh banyak ulama, 

diantaranya Mujahid, Abu Qilabah, Ahmad bin Hanbal, 

al-Qodhi ‘Iyaadh, Ibnu Taimiyyah(17), dan Ibnul Qoyyim 

(18)  

Namun metode ini dibenci oleh Ibrahim an-Nakho’i (19), 

Ibnu Sirin, dan Ibnul ‘Arobi dimana beliau berkata:   َيِهَو

 

(13) HR At-Thabrani dalam al-Mu’jam as-Shogir No. 830 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam As-

Shahihah No. 548 

(14) Mushonnaf Ibni Abi Syaibah No. 23509 

(15) Lihat al-Aadaab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih  2/456 

(16) Lihat Zaadul Ma’aad 4/178 

(17) Majmu’ al-Fataawa 12/599 

(18) Zaadul Ma’aad 4/170, 356 

(19) lihat Mushonnaf Ibni Abi Syaibah 5/40 No. 23514 

0

 

 ِناَطْي َّشلأ َنِم ٌةَعِْدب “Ini adalah bid’ah dari syaitan” (20) karena 

metode ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ dan 

tidak seorangpun dari sahabat yang melakukannya. 

Adapun nukilan bahwa Ibnu ‘Abbas membolehkannya 

maka sanadnya tidak shahih dari beliau(21)  

  

 

(20) ‘Aaridotul Ahwadzi 8/222 

(21) Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah sebagaimana dimuat dalam Majallah al-Buhuuts al-

Islaamiyah 21/47 


 

Bacaan-Bacaan Ruqyah 

 

Bacaan Ruqyah Dari Al-Quran (22) 

 

Pertama 

Dengan membaca surah Al-Fatihah (23) 

 ِْميِحَّرلا ِٰنْحَّْرلا ِ هللّٰا ِمِْسب  ن َْيِمَلٰع

ْ

لا ِ  بَر ِ هِللّٰ ُدْمَ

ْ

َلْا  نِْميِحَّرلا ِٰنْحَّْرلا   ِْمَوي ِِكلٰم

  ِْنيِ  لا  ن ُْيِعَتَْسن  َكاَِّياَو  ُدُبْعَن  َكاَِّيا   َانِدِْها ن َْميِقَتْسُم

ْ

لا  َطا َ ِ  صّلا   َنْيِ

َّ

لَّا  َطا َِصِ

 َْي ِلۤا َّضلا 

َ

لََو ْمِْهيَلَع ِْبوُضْغَم

ْ

لا ِْيَْغ نە ْمِْهي

َلَع َتْمَْعَنا 

bismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn ar-

raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na'budu wa iyyāka 

 

(22) Pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran adalah obat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa 

ta'ala 

ُِمْؤ مِْللٌُةَْحَْرَوُىًد هَوُِرو دُّصلاُ ُِاَمِلٌُءاَفِشَوُْم ك ِبَرُْنِمٌَُةظِعْوَمُْم كْتَءاَجُْدَقُ  ساَّنلاُاَهُّ َيأَُيََُيِن 

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh 

bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang 

yang beriman.” QS. Yunus: 57 

Al-Imam Malik meriwayatkan tentang Abu Bakar yang menemui ‘Aisyah yang sedang mengeluh 

dan ada wanita Yahudi yang sedang meruqyahnya, maka Abu Bakar berkata kepadanya: 

ُِاللُِباَتِكِبُاَهيِقْرا 

“ruqyahlah dia dengan kitab Allah subhanahu wa ta'ala.” (Muwattho’ Imam Malik no. 3472) 

Al-Imam pernah ditanya tentang ruqyah, lalu beliau menjawab: 

ُُْنَأَُسَْبََُلََُِّللَّاُِرْكِذُْنِمُ  فِرْع َيُاَمَوُ َِّللَّاُِباَتِكِبُ ل جَّرلاَُيِقْر َي 

“tidak mengapa bagi seseorang untuk meruqyah dengan Al-Quran atau dengan apa yang dia 

ketahui dari zikir-zikir.” (Al-Umm 7/241) 

Berkata Ibnul Qoyyim: 

َُّنأُُ ُقلاُْرَُنآُُُِشَُفٌُءاُُُِلَُمُ ُِ اُا ُصل ُدُْوُِرُُُ يُْذُِه ُبُُُِلَُم ُ يُاُْلُُِقْيُِهَُُُّشلاُْيَُط ُناُُُِفُْ يَُهُِمُاُْنُُُْلاَُوَُسُِواُِسَُُُوَُّشلاَُهَُوُِتاَُُُوُِْلاَُرَُداُِتاُُُْلاَُفُِساَُدُِةُ،

َُ ف ُهَُوَُُُدَُوٌُءاُُُِلَُمُِفُهَّرَمأُاُْ يَُهَُّشلاُاُْيَُط ُنا 

“sesungguhnya Al-Quran adalah obat hati yang menghilangkan sesuatu yang dimasukkan oleh 

setan berupa bisikan-bisikan, syahwat-syahwat, dan keinginan-keinginan yang rusak, dan dia 

adalah obat terhadap apa yang dimasukkan oleh setan di dalam dada.” (Ighohatsul Lahafaan 

min Mashooyidis Syaithon 1/92) 

(23) HR. Bukhari no. 2276 dan Muslim no. 2201 

ini  11 

 

nasta'īn ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an'amta 

'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn 

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha 

Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya 

kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada 

Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan 

yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri 

nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan 

bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al-Fatihah: 1-7 

 

Kedua 

Membaca ayat kursiy 

 َو ِتاَواَم َّسلا ِفِ اَم ۥُ

َّ

لَّ ۚ ٌْمَون 

َ

لََو ٌةَنِس ُۥهُذُخ

ْ

َأت 

َ

لَ ۚ ُموُّيَق

ْ

لا َُّحَ

ْ

لا َوُه 

َّ

ِلَإ َهٰـ َِلإ 

َ

لَ ُ َّللّٰا  اَم

   ْۖمُهَف

ْ

لَخ اَمَو ْمِهيِْدي

َ

أ ََْيب اَم ُمَلْعَي ۚ ِۦِهْنِذِإب 

َّ

ِلَإ ٓۥ ُهَدنِع ُعَفَْشي ىِ

َّ

لَّا اَذ نَم ن ِْضر

َ ْ

لْا ِفِ

 

َ

لََو  

َ

لََو  َْۖضر

َ ْ

لْاَو ِتاَواَم َّسلا ُهُّيِْسرُك َعَِسو ۚ َءآَش اَِمب 

َّ

ِلَإ ِٓۦهِم

ْ

لِع ْنِ  م ٍء َِْشَب َنوُطِيُيُ 

 ُميِظَع

ْ

لا ُِّلَِع

ْ

لا َوُهَو ۚ اَمُهُظْفِح ُۥهُدوُئَي﴿٢٥٥﴾ 

allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ 

sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man 

żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim 

wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā 

bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā 

ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm  

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan 

Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-

Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa 

ini  12 

 

yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at 

di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang 

di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak 

mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang 

dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan 

Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah 

Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255 (24) 

 

Ketiga 

Membaca Al-Mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, 

dan An-Naas) 

 ِميِحَّرلا ِنٰـ َْحَّْرلا ِ َّللّٰا ِمِْسب 

  ٌدَح

َ

أ ُ َّللّٰا َوُه ْلُق﴿١﴾   ُ َّللّٰا   ُدَم َّصلا  ﴿٢﴾   َْمل   َِْلي   َْملَو   ْ

َ

لُوي  ﴿٣ ﴾   َْملَو  نَُكي  ۥُ

َّ

لَّ   اًوُفُك  

  ٌدَح

َ

أ ﴿٤ ﴾ 

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah 

Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak 

 

(24) HR. Bukhory no. 2311 

Dan disebutkan dalam kelanjutan hadits ini  bahwa orang yang membacanya ketika akan 

tidur maka Allah subhanahu wa ta'ala akan senantiasa menjaganya hingga waktu pagi. 

Dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa Abu 

Hurairah yang menangkap setan ini  akan menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu 

'alaihi wa sallam maka setan itu berkata kepada Abu Hurairah, 

َُُك تْمَّلَعُِنِْعَدَت ُْنِإَُكَّنَِإفُْلَعْف َت َُلَُُ: هَلَُلَاقُىَث ْن أ َُلََوٌُرََكذٌُيرِبَُك َلََوٌُيرِغَصُ ِنِْلْاَُنِمٌُدَحَأَُكْبَرَق َي َُْلَُاَه َتْل  قَُتَْنأ ُاَذِإٍُتاَمِلَك

 ُكْلاََُةيآَُأَر َقُ} موُّيَقْلاُ ُّيَْلْاَُو هُلَِإَُهَِلإَُلَ  َُّللَّا{ُ:َلَاقُ؟َّن هُاَمُ:َلَاقُ.ْمَع َنُ:َلَاقُ؟َّنَلَعْف ََتلُِ يِسْرُاَهَمَتَخُ َّتََّحُ 

“jangan lakukan (menyerahkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), sesungguhnya jika 

engkau melepaskanku aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat jika engkau 

mengucapkannya maka tidak akan mendekatimu satu jin pun yang kecil maupun yang besar, 

yang lelaki maupun yang wanita. Maka Abu Hurairah bertanya? Apakan kamu benar akan 

melakukannya (mengajarkannya)? Setan itu menjawab: iya, Abu Hurairah bertanya: apa itu? 

Setan menjawab: ُُُُ} موُّيَقْلاُ ُّيَْلْاَُو هُلَِإَُهَِلإَُلَ  َُّللَّا{  membaca ayat kursy hingga menyelesaikannya.” 

(Tafsir Ibnu Katsir 1/675) 

 

 

ini  13 

 

beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang 

pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4) 

 ِميِحَّرلا ِنٰـ َْحَّْرلا ِ َّللّٰا ِمِْسب 

  َِقلَف

ْ

لا ِ  بَِرب ُذوُع

َ

أ ْلُق ﴿١﴾  نِم   ِ َش  اَم   ََقلَخ   ﴿٢﴾  نِمَو   ِ َش   ٍقِسَغَ  اَِذإ   ََبقَو  ﴿٣ ﴾  

نِمَو  ِ َش  ِتَاثا َّفَّلنا  ِفِ  

ْ

لا ِدَقُع﴿٤﴾ نِمَو  ِ َش  ٍدِساَح اَِذإ  َدَسَح ﴿٥ ﴾ 

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai 

Subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan 

malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-

wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan 

dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (QS. Al-

Falaq: 1-5) 

 ِميِحَّرلا ِنٰـ َْحَّْرلا ِ َّللّٰا ِمِْسب 

  ِساَّلنا ِ  بَِرب ُذوُع

َ

أ ْلُق﴿١﴾   ِِكلَم   ِساَّلنا  ﴿٢﴾   ِهٰـ َِلإ   ِساَّلنا  ﴿٣﴾  نِم   ِ َش   ِساَوَْسو

ْ

لا  

 ِساَّنَ

ْ

لْا ﴿٤﴾ ىِ

َّ

لَّا  ُي ِساَّلنا ِروُدُص ِفِ ُِسوَْسو﴿٥﴾  َنِم ِةَّن ِ

ْ

لْا  ِساَّلناَو  ﴿٦ ﴾ 

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja 

manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan 

yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke 

dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (QS: An-Nas: 

1-6) 

Caranya: membaca Al-Mu'awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-

Falaq dan An-Naas), tiupkan ke tangan, lalu usapkan ke 

wajah. (25) 

 

(25) Lihat HR. Bukhari no. 5735, yaitu hadits ‘Aisyah, 

ُِ وَع مْلِبُِِهيِفَُتاَمُيِذَّلاُِضَرَ

لماُ ُِِهِسْف َنُىَلَعُ  ث فْ ن َيَُناَُك َمَّلَسَوُِهْيَلَع  ُاللُىَّلَصَُّ َِّنلاَُّنَأ«ُِتاَذُُِهْيَلَعُ  ثِفَْنأُ  تْن ُك َل ق َثُاَّمَل َفُ،

َُدَيُىَلَعُ  ثِفْن َيَُناَك«ُ:َلَاقُ؟  ثِفْن َيَُفْيَُك :َِّيرْهُّزلاُ  تَْلأَسَفُ»اَهِتََكَبَِلُِهِسْف َنُِدَِيبُ حَسَْمأَوُ،َّن

ِِبِ»ُ هَهْجَوُاَمِِبُِ حَسَْيَ َُّ ثُُ،ِهْي 

“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meniupkan (dengan sedikin luah)  pada tubuhnya 

yang telah dibaca Al-Mu'awwidzaatketika beliau sakit yang mengantarkan kematian. Ketika 

ini  14 

 

Keempat 

Membaca surah Al-Baqarah (26) 

 

Kelima 

Membaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebatilan 

sihir 

 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah sangat parah, aku (A'isyah) yang meniupkan dengan 

bacaan surat ini , dan aku gunakan tangan beliau untuk mengusap badan beliau, karena 

tangan beliau berkah.” 

Dalam hadits yang lain ‘Aisyah berkata: 

َُأ ُ  تْلَعَج ُ،ِهيِف َُتاَم ُيِذَّلا ُ هَضَرَم َُضِرَم ُاَّمَل َف ُ،ِتاَذ ِوَع مْلِبِ ُِهْيَلَع َُثَف َن ُِهِلَْهأ ُْنِم ٌُدَحَأ َُضِرَم ُاَذِإُْيَلَع ُ  ث ف ْنُِه

ُيِدَيُْنِمًُةََكر َبَُمَظَْعأُْتَناَُك َا َّنََِّلُِ،ِهِسْف َنُِدَِيبُ ه حَسَْمأَو 

“jika ada seseorang yang sakit dari keluarganya, beliau meniupkan (dengan sedikit ludah) 

dengan membaca al-mu’awwidzaat. Ketika beliau sakit pada sakit yang menghantarkan pada 

kematiannya akulah yang meniupkan kepadanya lalu aku mengusapnya dengan menggunakan 

tangannya sendiri, karena tangannya lebih banyak keberkahannya dari tanganku.” HR. Muslim 

no. 2192 

 

َُثَف َن secara bahasa menyerupai tiupan dan dia lebih sedikit dari meludah. (lihat: Ghoriibul 

Hadiits 1/298 dan Jamharotul Lughoh 1/429) 

Dan Al-Qodhi ‘Iyadh berkata faidah dari meniup dengan sedikit ludah adalah mengambil 

keberkahan dari sedikit ludah atau angin yang ditiupkan yang keluar bersama zikir yang dibaca. 

(lihat: Irsyaadus Saary Syarhu Shohiih Al-Bukhory 8/388) 

Dan para ulama memasukkannya ke dalam bab Ruqyah dengan Al-Quran dan Al-Mu’awwidzat, 

dan disebutkan alasan ruqyah dengan Al-Mu’awwidzaat karena di dalamnya terdapat 

permintaan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dari keburukan-keburukan yang 

disebutkan dalam surah Al-Falaq dan An-Nas. (lihat: Syarhu Sunan Abi Dawud Libni Ruslan 

15/249) 

 

(26) hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahily, bahwasanya dia 

mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

" ُةََلطَبْلاُاَه عيِطَتْسَتَُلََوُ،ٌةَرْسَحُاَهَْكر َتَوُ،ٌةََكر َبُاَهَذْخَأَُّنَِإفُ،ِةَرَق َبْلاََُةرو سُاو ءَر ْقاُ". ُةَرَحَّسلاُ:َةََلطَبْلاَُّنَأُِنَِغَل َبُ: َةيِواَع مَُلَاق 

“Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh barokah, dan dengan 

tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai 

(dikalahkan) oleh tukang-tukang sihir." Mu'awiyah berkata; "Telah sampai (khabar) kepadaku 

bahwa, Al Bathalah adalah tukang-tukang sihir." HR. Muslim no. 804 

Dijelaskan oleh para ulama alasan pengkhususan surah Al-Baqarah dari selainnya ada 2 sisi: 

Pertama: karena kebanyakan perkara ibadah dan apa yang berkaitan dengan haji disebutkan 

dalam surah ini. 

Kedua: karena panjang dan agungnya kandungan surah ini, dan dikarenakan banyaknya hukum-

hukum dalam surah ini. (lihat: Kasyful Musykil min Hadiits Ash-Shohihain 1/277) 

Dan para penyihir disebut sebagai batholah dikarenakan apa yang mereka bawa adalah sesuatu 

yang batil. (lihat: Mirqoothul  Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 4/1461) 

ini  15 

 

 

Al-A’raf 117-119 

  َنوُِكف

ْ

َأي اَم ُفَق

ْ

َلت َِهِ اَِذَإف َكاَصَع ِق

ْ

ل

َ

أ ْن

َ

أ َسَوُم 

َ

ِلَإ اَْنيَْحو

َ

أَو*   َلَطَبَو ُّقَ

ْ

لْا َعََقَوف

 َنُولَمْعَي اُونَكَ اَم*  َنِيرِغاَص اوُبَلَقْناَو َِكلاَنُه اوُِبلُغَف 

“Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah 

tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan 

apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan 

batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di 

tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.”  

 

Yunus 79-82 

  ُنْوَْعِرف َلَاقَو  ٍمِيلَع ٍرِحاَس ِ

 لُِكب ِنِوُتْئا*    اوُق

ْ

ل

َ

أ َسَوُم ْمَُهل َلَاق ُةَرَح َّسلا َءاَج ا َّمَلَف

  َنوُق

ْ

لُم ْمُتْن

َ

أ اَم*   َ َّللّٰا َِّنإ ُهُلِْطبُيَس َ َّللّٰا َِّنإ ُرْح ِ  سلا ِِهب ْمُْتئِج اَم َسَوُم َلَاق اْوَق

ْ

ل

َ

أ ا َّمَلَف

 َنيِدِسْفُم

ْ

لا َلَمَع ُِحلُْصي لَ*  َو َنوُِمرْجُم

ْ

لا َِهرَك َْولَو ِِهتاَِملَِكب َّقَ

ْ

لْا ُ َّللّٰا ُّقِحُي 

“Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya): "Datangkanlah 

kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!" Maka tatkala 

ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: 

"Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan". Maka 

setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu 

lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan 

menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allah 

tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-

yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang 

benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang 

berbuat dosa tidak menyukai(nya).” 

 

ini  16 

 

Surah Thaha 65-69 

 َب َلَاق َٰقِ

ْ

ل

َ

أ ْنَم َل َّو

َ

أ َنوَُكن ْن

َ

أ ا َّموَإِ َِقِ

ْ

ُلت ْن

َ

أ ا َِّمإ َٰسَوُم َاي اُولَاق  ْمُُهلاَبِح اَِذَإف  ۖاوُق

ْ

ل

َ

أ ْل

 

َ

لَ اَن

ْ

لُق َٰسَوُم ًةَفيِخ ِهِسْفَن ِفِ َسَْجو

َ

َأف َٰعََْست اَهَّن

َ

أ ِْمِهرْحِس ْنِم ِْه

َ

ِلَإ ُلَّيَُيُ ْمُهُّيِصَِعو

  اوُعَنَص اَمَِّنإ  ۖاوُعَنَص اَم ْفَق

ْ

َلت َِكنيَِمي ِفِ اَم ِق

ْ

ل

َ

أَو ٰ

َ

ْعْل

َ ْ

لْا َْتن

َ

أ َكَِّنإ َْف

َ

تَ  ٍۖرِحاَس ُْديَك

 َٰت

َ

أ ُْثيَح ُرِحا َّسلا ُِحلْفُي 

َ

لََو 

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Hai Musa 

(pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau 

kamikah orang yang mula-mula melemparkan?" Berkata 

Musa: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-

tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada 

Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. 

Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: 

"janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling 

unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan 

kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. 

"Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya 

tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, 

dari mana saja ia datang".” (27) 

 

 

 

 

 

 

 

 

(27) ini adalah fatwa Syaikh ‘Abdullah bin Baz (lihat: Majmu’ Fatawa bin Baz 5/311 

ini  17 

 

Bacaan Ruqyah Dari Hadits 

 

Pertama 

  ُهللأ ،ٍدِساَح ِنْيَع َْوأ ٍسْفَن ِّلُك ِّرَش ْنِم ،َكيِذْؤُي ٍءْيَش ِّلُك ْنِم ،َكيِقَْرأ ِهللأ ِمْسِاب

 َكيِقَْرأ ِهللأ ِمْسِاب َكيِفْشَي  

Bismillaahi arqiika, min kulli syai-in yu'dziika, min syarri 

kulli nafsin au 'ainin haasidin, allaahu yasyfiika, bismillaahi 

arqiika. 

“Dengan nama Allah aku meruqyah-mu, dari semua yang 

menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata hasad, 

semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku 

meruqyah-mu.” (28) 

 

Kedua 

  ًءاَفِش ،َكُؤاَفِش اَِّل أ َءاَفِش َال ،يِفا َّشلأ َْتَنأَو ِهِفْشأ ،َساَبلأ ِبِهْذَأ ِساَّنلأ َّبَر َّمُهَّللأ

اًمَقَس ُرِداَغُي َال  

Allaahumma robban-naas, adz-hibil ba’s(29), isyfihii wa antasy-

syaafii(30), laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughoodiru 

saqoman. 

 

(28) HR. Muslim no. 2186 

An-Nawawi menjelaskan faedah dari doa ini bahwa rukyah itu dengan nama-nama Allah. Dan 

yang dimaksud dengan ٍُسْف َن ada 2 makna, pertama: jiwa seseorang, dan yang kedua: ‘ain, karena 

an-nafs dalam bahasa arab terkadang dibawa kepada makna ‘ain, sehingga ada istilah ٌُسو ف َُن ٌل جَر 

yaitu penyebutan untuk orang yang bisa menimpakan ‘ain kepada orang lain. (Lihat: Al-Minhaaj 

Syarhu Shohih Muslim bin Al-Hajjaaj 14/170) 

(29) َُساَبلا ُِبِهَْذأ maksudnya meminta untuk dihilangkan rasa sakit yang amat sangat, meminta 

diangkatnya azab dari dirinya, dan juga meminta untuk dihilangkan kesedihannya. (lihat: 

‘Umdatul Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228) 

(30) Disebutkan Allah subhanahu wa ta'ala yang menyembuhkan, bukan obat-obatan, hal ini 

dokarenakan obat-obatan tidak akan bisa memberikan manfaat jika Allah subhanahu wa ta'ala 

ini  18 

 

“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, 

sembuhkanlah dia dan Engkaulah As-Syafi (Sang 

Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-

Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (31) 

 

Ketiga  

 ِمِْسب( ِهَّللأ3 ُرِذاَُحأَو ُدَِجأ اَم ِّرَش ْنِم ِِهتَرُْدقَو ِهَّللِاب ُذوُعَأ )× (7×) 

Bismillaah (3x). A'uudzu billaahi wa qudrotihi min 

syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x). 

“Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada 

Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang 

aku jumpai dan aku khawatirkan(32) (7x).” (33) 

 

Keempat 

 ٍة ََّمال ٍنْيَع ِّلُك ْنِمَو ،ٍة َّماَهَو ٍناَطْيَش ِّلُك ْنِم ،ِة َّماَّتلأ ِهَّللأ ِتاَمِلَِكب ُذوُعَأ 

A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min kulli 

syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin 

laammatin 

 

tidak menciptakan dalam obat ini  sesuatu yang dapat menyembuhkan. ((lihat: ‘Umdatul 

Qoory Syarhu Shohiih Al-Bukhory 21/228) 

(31) HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191. 

(32) maksudnya berlindung dari rasa sakit dan sesuatu yang dibenci yang sedang dialaminya 

sekarang dan juga berlindung dari sesuatu yang diperkirakan akan menimpanya pada kemudian 

hari berupa rasa sedih dan rasa takut. (lihat: Syarhu Sunan Ibni Majah Lis Suyuthi 1/252) 

(33) HR. Muslim no. 2202 

Hadits ini adalah riwayat ‘Utsman bin Abu Al-‘Ash ketika dia mengadu kepada Nabi shallallahu 

'alaihi wa sallam tentang sakit yang ia dapati pada badannya, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa 

sallam mengajarkan cara penyembuhannya yaitu dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh 

yang sakit kemudian mengucapkan doa ini. 

ini  19 

 

“aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang 

sempurna(34) dari semua gangguan setan, binatang yang 

mengganggu(35), dan pandangan mata yang jahat(36).” (37) 

 

Kelima 

 ِةَقيِِرب ،اَنِضَْرأ ُةَبْرُت ،ِهَّللأ ِمِْسب اَنِّبَر ِنْذ ِ ِاب ،اَنُميِقَس ىَفْشُي ،اَنِضْعَب 

Bismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba'dhinaa, yusyfaa 

bihi saqiimunaa, bi-idzni robbinaa. 

“Dengan nama Allah, debu tanah kami(38), dengan 

sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit 

kami, dengan izin Rabb kami.” (39)