Rabu, 19 Juli 2023

raja majapahit 3

pengaruh India, melainkan karena telah timbul 
kembali unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli yang 
dilatari oleh pemujaan terhadap roh nenek moyang. 
Pendapat tentang munculnya kembali unsur-unsur 
asli kemudian dikembangkan oleh Quarith Wales dan van 
Romondt. Wales berpendapat bahwa adanya persamaan 
struktural antara bangunan suci berundak di lereng 
Penanggungan pada masa Majapahit dengan punden 
berundak masa Prasejarah, merupakan petunjuk tentang 
adanya pemujaan terhadap arwah nenek moyang di puncak 
gunung (Quarith Wales, 1951:108-114; Hariani Santiko,1989:311). Dengan nada pendapat yang sama van Romondt 
berpendapat bahwa bangunan-bangunan suci berundak di 
gunung Penanggungan dipergunakan untuk memuja arwah 
nenek moyang setelah membandingkan dengan altar-altar 
di Penanggungan dengan singgasana di Bali (Van Romondt, 
1951:7-9).
Salah satu bangunan berteras yang dapat dijadikan 
contoh lebih jelas adalah bangunan Candi Sukuh yang 
terletak di Jawa Tengah. Candi Sukuh berdasarkan angka 
tahun sengkalan dibangun pada tahun 1359 Saka atau 1347 
Masehi ini merupakan bangunan candi tetapi seperti 
piramida terpancung. Unsur-unsur bangunannya pun 
mencerminkan anasir asli Indonesia. Seperti terlihat pada 
susunan bangunan yang berteras, bentuk arca yang 
sederhana tanpa ada ilustrasi tokoh dewa, tema cerita relief 
Sudhamala yang melambangkan pelepasan jiwa serta tokoh 
punakawan ( PH. Subroto, 1987:1-4).
Dari apa yang telah diuraikan dapat ditarik hipotesa 
bahwa bangunan suci berundak di lereng gunung 
Penanggungan serta candi Sukuh adalah dapat dijadikan 
indikasi (simbol) tentang kondisi kegoncangan politik 
kekuasaan Majapahit pada waktu itu, yaitu utamanya pada 
masa pemerintahan Puteri Suhita (1429-1447 M). Sebab 
ketika perang Paregreg melanda terus menerus selama tiga 
tahun semakin memperlemah kekuasaan politik Majapahit. 
Kondisi inilah yang tidak disia-siakan oleh rakyat jelata 
untuk memunculkan kembali kepercayaan asli mereka 
menembus kepercayaan Hindu yang mulai padam. Inilah 
yang disebut sebagai kontra akulturasi dalam dinamika 
kebudayaan. Nagarkrtagama dan Pararaton merupakan karya 
sastra yang sangat penting digunakan sebagai referensi 
untuk menyusun sejarah Majapahit. Berbagai aspek sosial 
yang digambarkan oleh Prapanca terlihat jelas terutama 
pada masa kejayaan dan keruntuhannya. Namun demikian 
masa-masa kritis atau masa mulai goncangnya kekuasaan 
politik Majapahit hanya disinggung sepintas lalu oleh dua 
kitab susastra tersebut.
Dalam kenyataannya data arkeologi lain yang lebih 
bersifat fisik yaitu arca dan bangunan suci pun dapat 
dijadikan sebagai bukti mengenai kegoncangan politik 
tersebut. Adanya arca ikan yang sangat besar serta 
bangunan suci berundak yang meyimpang dari tradsisi 
arsitektur Hindu merupakan bukti nyata bahwa pada masa 
pemerintahan raja Jayanegara dan ratu Puteri Suhita telah 
mengalami kegoncangan-kegoncangan politik yang 
merisaukan kekuasaan raja dan mempengaruhi 
kepercayaan rakyat jelata.

Pada paruh kedua abad ke-15, keadaan 
pemerintahan Kerajaan Majapahit tidak dalam kondisi 
nyaman. Walaupun kerajaan tersebut masih berdiri, namun 
telah melalui beberapa konflik internal yang tentunya 
menyengsarakan rakyatnya. Sebenarnya konflik internal 
telah dimulai di akhir masa kemegahan Majapahit di bawah 
pemerintahan Rajasanagara (Hayam Wuruk) (1351-1389 
M). Pada waktu Hayam Wuruk meninggal, warisan 
kemegahan Majapahit jatuh kepada anak perempuannya 
yang bernama Kusumawarddhani. Akan tetapi karena 
mungkin sang putri tidak mampu memegang kekuasaan, 
maka pemerintahan Majapahit dipegang oleh suaminya, 
Wikramawarddhana. Salah seorang anak Hayam Wuruk 
dari selir yang berjuluk Bhre Wirabhumi, melakukan 
perlawanan terhadap Wikramawarddhana, perselisihan 
kedua belah pihak itu dikenal dengan Perang Paregreg yang 
berkecamuk antara tahun 1401-1406. Walaupun 
perlawanan pihak Bhre Wirabhumi dapat dipadamkan, dan 
tahta Majapahit tetap diduduki oleh Wikramawarddhana, 
perang yang berkepanjangan itu telah mengurangi 
kekuatan Majapahit, dan berimbas pada merosotnya pamor 
Majapahit dalam pandangan daerah-daerah lain di 
kepulauan Nusantara. 
Majapahit yang pernah menjadi acuan bagi 
kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, lambat laun mengalami penurunan kewibawaannya. Memang 
kemerosotan Majapahit tersebut tidak langsung terjadi 
secara drastis, akan tetapi berdasarkan data yang tersedia 
dan dapat dipelajari proses dekadensi Majapahit. Sampai 
sekarang belum jelas benar uraian tentang masa akhir 
Majapahit, tidak ada prasasti otentik yang dapat dijadikan 
acuan untuk membicarakannya. Para ahli masih 
mengandalkan sumber-sumber tradisi, yaitu sejumlah kitab 
yang agaknya digubah sekitar 1 sampai 2 abad kemudian 
setelah keruntuhannya. Adapun berita asing catatan para 
musafir Portugis hanya sedikit memberikan informasi, 
catatan orang Cina yang biasanya memberikan penjelasan 
yang agak luas, sampai sekarang masih belum dijumpai 
yang berisikan perihal era keruntuhan Majapahit. Atas 
dasar itulah kajian ini berupaya untuk menggunakan 
sumber kitab tradisi yang telah dibahas oleh para ahli, 
sebagai data primer untuk kemudian diinterpretasikan 
sesuai dengan tujuan kajian. Berdasarkan sejumlah sumber 
tradisi yang ada, dicoba untuk ditelusuri dan dicari tahu 
kondisi-kondisi Kerajaan Majapahit dalam masa 
kemerosotan dan kondisi sebelum keruntuhannya. Sebab 
tidak mungkin kerajaan Majapahit yang besar runtuh secara 
tiba-tiba akibat satu serangan dari Demak, sangat mungkin 
keruntuhan tersebut didahului oleh berbagai keadaan yang 
membawa akibat memperlemah dan mendekati masa 
akhirnya. Serangan balatentara Demak hanyalah pemukul 
akhir saja bagi kerajaan yang telah lemah tersebut. Permasalahan 
Risalah ringkas ini membahas perihal keruntuhan 
Majapahit, dan sebab-sebab yang melatarbelakanginya. 
Dibahas juga beberapa proposisi yang dapat dijadikan 
alasan terjadinya dekadensi kekuasaan Majapahit hingga 
akhirnya kerajaan besar tersebut runtuh. Permasalahan 
utama yang penting dijelaskan adalah hal-hal apa saja (baik 
positif atau negatif) yang dapat dipetik dari keruntuhan 
Majapahit pada sekitar awal abad ke-15 M. 
Metode
Kajian ini merupakan ranah telaah sejarah kuno, 
karena itu tahapan kegiatan sejalan dengan bentuk 
penelitian sejarah yang terdiri dari heuristic, critic, dan 
historiography (Gottschalk 1975) . Pada tahap awal adalah 
memilih dan menelisik data yang tepat sesuai dengan 
(heuristic) pemecahan permasalahan. Tahapan selanjutnya 
adalah melakukan tinjauan dan pembahasan atas uraian 
data (critic), dalam hal kajian masa keruntuhan Majapahit 
adalah berupaya mencari data yang empirik dan dapat 
dibandingkan dengan uraian sumber data lainnya, 
menyisihkan narasi yang berbau mitis dan mencari data 
yang dapat dijadikan dasar tafsir dalam tahapan kajian 
berikutnya. 
Tahap terakhir adalah mengkonstruksi beberapa 
tafsir yang didasarkan pada data empirik yang telah dibahas 
sebelumnya. Interpretasi dituangkan dalam bentuk 
historiografi tentang keruntuhan Majapahit dan beberapa 
pelajaran positif yang dapat dipetik dari peristiwa 
keruntuhan tersebut. Lingkup data
Data yang berkenaan dengan telaah ini adalah 
sejumlah sumber tertulis, seperti prasasti, karya sastra, dan 
juga data arkeologis. Karya sastra penting yang digunakan 
adalah kitab Pararaton, Babad Tanah Jawi, Serat 
Darmagandhul, Babad Dalem dari Bali, Carita Lasem, dan 
lainnya lagi. Dalam karya-karya sastra tersebut dibahas 
narasi tentang sejumlah latar belakang yang dapat 
dijadikan alasan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dalam 
pada itu tidak banyak data arkeologis yang dapat dijadikan 
bukti keruntuhan Majapahit, kecuali sisa kota Majapahit 
yang sampai sekarang masih belum dikaji secara baik di 
Trowulan. 
Kondisi Majapahit menjelang keruntuhan
Pada tahun 1389 M (1311 Saka) mangkatlah 
Rajasanagara raja Majapahit terbesar, ketika kerajaan itu 
berada di puncak kejayaannya. Tafsiran yang dapat 
diangkat dari berita kitab Pararaton adalah bahwa raja 
tersebut didharmakan di daerah Tanjung, nama candi 
pendharmaannya adalah Paramasukhapura (Kriswanto, 
2009: 114-115). Sepeninggal Rajasanagara tampil tokoh 
penguasa Majapahit yang baru, yaitu Wikramawarddhana 
yang menikah dengan Kusumawarddhani putri Hayam 
Wuruk. Wikramawarddhana hanya memerintah selama 12 
tahun, sekitar tahun 1400 ia mengundurkan diri menjadi 
seorang pertapa (bhagawan), tahta Majapahit diserahkan 
kepada putrinya yang bernama Suhita. Sebenarnya yang 
layak memerintah adalah putra mahkota kakak Suhita yang 
bernama Bhra Hyang Wekasing Sukha namun ia mangkat pada tahun 1399 sebelum ditahbiskan menjadi raja. 
Naik tahtanya Wikramawarddhana sebagai 
penguasa Majapahit ternyata tidak disukai oleh salah 
seorang putra Hayam Wuruk yang berasal dari selir, ialah 
Bhattara i Wirabhumi (Bhre Wirabhumi), ia telah menjadi 
penguasa di daerah Blambangan (ujung timur Jawa Timur). 
Gejala-gejala kemunduran Majapahit sebenarnya telah 
muncul sejak akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15, 
ketika terjadi pergantian kuasa antara Hayam Wuruk dan 
menantunya. 
Agaknya Wikramawarddhana naik tahta dengan 
tidak mendapat dukungan penuh dari keluarga istana 
Majapahit. Tokoh ini sebenarnya keponakan Hayam Wuruk, 
ia anak dari adik perempuan Hayam Wuruk 
Rajasaduhiteswarī (Bhre Pajang) yang kawin dengan 
Singhawarddhana atau Raden Sumana yang menjadi Bhre 
Paguhan. Wikramawarddhana hanya memerintah 
Majapahit dengan tenang antara 1389-1400, kemudian 
pecahlah perang Paregreg (tahun 1401-1406) antara Bhre 
Wirabhumi yang menuntut tahta Majapahit kepada pihak 
Wikramawarddhana. Mulai tahun itu hingga tahun-tahun 
selanjutnya Majapahit disibukkan oleh peperangan antara 
dua pihak, yaitu raja Wikramawarddhana yang 
bersemayam di Kadaton Kulon melawan Bhre Wirabhumi 
yang tinggal di Kadaton Wetan. 
Setelah Bhre Wirabhumi dapat dikalahkan oleh 
pihak Wikramawarddhana, Majapahit sejenak menjadi 
aman. Wikramawarddhana kembali mundur menjadi 
pendeta dan menyerahkan tahta Majapahit ke Suhita, 
putrinya. Suhita memerintah antara tahun 1406-1447, ia menikah dengan Haji Ratna Pangkaja (Bhra Hyang 
Parameśwara). Diperkirakan selama pemerintahannya 
tidak ada peperangan antara keluarga kerajaan, namun 
kewibawaan Majapahit di Nusantara sudah sangat merosot. 
Ratu itu wafat dalam tahun 1447 dan dibuatkan candi untuk 
mengenangnya, suatu candi pendharmaan di Singhajaya 
bersamaan untuk suaminya yang telah meninggal dalam 
tahun 1446. 
Berhubung Suhita tidak mempunyai anak, maka 
tahta Majapahit diserahkan kepada adiknya, yaitu Bhre 
Tumapel Kertawijaya, bergelar 
Wijayaparakramawarddhana (1447-1451 M). Dalam masa 
pemerintahannya ia mengeluarkan prasasti Waringin Pitu 
yang bertarikh 1369 Saka/1447 S. Dalam prasastinya 
dinyatakan bahwa Majapahit masa itu mempunyai 14 
wilayah daerah di Jawa bagian timur dan tengah, sebagai 
berikut: (1) Daha, (2) Jagaraga, (3) Kahuripan, (4) 
Tanjungpura, (5) Pajang, (6) Kembang Jenar, (7) Wengker, 
(8) Kabalan, (9) Tumapel, (10) Singapura, (11) Matahun, 
(12) Wirabhumi, (13) Keling, (14) Kalinggapura. Berita dari 
prasasti itu menyiratkan bahwa kedudukan penguasa 
Majapahit sebagai raja utama yang mempunyai beberapa 
penguasa daerah dalam wilayah kekuasaannya yang berada 
di kawasan Jawa bagian timur saja (Djafar 2012: 171-183). 
Pengganti Krtawijaya yang meninggal tahun 1451 ialah 
Bhre Pamotan yang bergelar Sri Rajasawarddhana. 
Menurut berita kitab Pararaton, pada masa 
pemerintahannya sangat mungkin ia berkedudukan di 
wilayah Keling-Kahuripan. Hal itu dapat ditafsirkan bahwa 
telah terjadi upaya perebutan kekuasaan atas tahta Majapahit, sehingga raja harus berkedudukan di luar kota 
Majapahit (Djafar, 2012: 73). 
Setelah ganti-berganti beberapa orang raja dengan 
diselilingi dengan peperangan, Majapahit masih tetap 
berdiri setelah tahun 1478, Dyah Ranawijaya sebagai raja 
terakhir masih mengeluarkan prasasti-prasastinya dalam 
tahun 1486 M. Begitupun kegiatan keagamaan yang 
bercorak kehinduan di lereng barat Gunung Penanggungan 
masih terus bertahan hingga paruh pertama abad ke-16. 
Artinya setelah direbutnya kota Majapahit oleh Dyah 
Ranawijaya sampai beberapa tahun lamanya kerajaan itu 
masih bertahan, bahkan para musafir dan pedagang 
Portugis mencatat bahwa Majapahit masih berdiri antara 
tahun 1512-1518 sesuai dengan berita-berita orang Eropa 
pertama yang berkunjung ke kepulauan Nusantara. 
Diperkirakan Majapahit runtuh dalam tahun 1519, artinya 
dalam tahun itu Majapahit telah kehilangan kekuasaannya, 
sedangkan Majapahit sebagai kota masih tetap bertahan 
sampai tahun 1522, dan masih terdapat prasasti yang 
menyebut Majapahit dalam tahun 1541 M (Djafar, 2012: 
130-31). 
Penelitian terakhir yang telah dilakukan ikhwal 
keruntuhan Majapahit menyatakan bahwa kerajaan itu 
runtuh antara tahun 1518-1521. Memang benar akibat 
serangan tentara Demak, namun berdasarkan 
perbandingan data yang terdapat dari berita berita Eropa 
yang layak dipercaya, pemimpin penyerangan di Majapahit 
itu ialah Pati Unus bukannya Raden Patah. Tokoh inilah 
yang berhasil mengalahkan raja Majapahit terakhir Dyah 
Ranawijaya, berarti ia dapat membalaskan kekalahan kakeknya, yaitu Bhre Kertabhumi yang dahulu berhasil 
ditewaskan oleh serangan Dyah Ranawijaya di kedaton 
Majapahit (Djafar, 2012). Sebenarnya banyak detail-detail 
dari sejarah Majapahit yang menarik untuk diungkapkan, 
namun memerlukan kajian yang tersendiri dengan 
menggunakan sumber-sumber yang lebih banyak dan 
memadai. Dalam telaah ringkas ini hanya diungkapkan 
secara sapuan besar saja dari perjalanan sejarah politik 
Majapahit. 
Beberapa argumen kemerosotan Majapahit
Berdasarkan tinjauan terhadap berbagai sumber 
sejarah pada babakan terakhir Majapahit, dapat diketahui 
adanya beberapa kondisi yang dapat dijadikan argumen 
keruntuhan kerajaan tersebut. Kondisi yang paling awal di 
setiap kerajaan menjelang runtuh adalah adanya (1) 
konflik internal perebutan kuasa keluarga raja, konflik 
perebutan tahta menyebabkan pecahnya perang Paregreg 
(tahun 1401-1406) sebagaimana yang telah diuraikan 
terdahulu. Akibat Paregreg banyak penduduk Majapahit 
yang disibukan untuk mendukung perang yang 
berkepanjangan tersebut, tentu saja hal itu telah berakibat 
kepada (2) kemerosotan ekonomi perdagangan. Perang 
yang panjang akan mengganggu kehidupan perekonomian, 
dan itu andil memperlemah Majapahit yang semula 
dipandang kuat secara ekonomi sebagai penghasil beras, 
dan pengumpul barang dagangan (komoditi) dari 
Nusantara bagian timur menjadi tidak maksimal lagi. 
Banyak pedagang dari berbagai daerah Nusantara yang 
enggan untuk singgah di bandar-bandar Majapahit di pantai utara Jawa Timur. Apabila singgah di Jawa Timur, para 
pedagang itu tentunya hanya terhenti di kota-kota bandar 
di daerah Pasisir seperti Lasem, Tuban, Gresik, Surabaya, 
dan kadipaten Demak yang baru berkembang. Mereka 
berpikir risikonya untuk membawa barang dagangannya ke 
pedalaman hingga mencapai kota Majapahit. Pedalaman 
Majapahit tentu dalam keadaan perang dan tidak aman 
untuk orang-orang luar, terbukti dengan terbunuhnya 
orang-orang Cina anak buah Cheng-ho secara tidak sengaja 
dalam pertempuran kalut antara pihak Bhre Wirabhumi 
dan Wikramawarddhana. Orang-orang Cina itu terbunuh 
oleh pihak Wikramawarddhana, oleh karena itu kaisar Cina 
meminta ganti rugi kepada Majapahit atas terbunuhnya 
orang-orang Cina yang sebenarnya tidak terlibat dalam 
konflik internal Majapahit (Sumadio, 1984:441). 
Dalam kondisi politik dan keamanan dalam negeri 
yang kacau, tentu dapat dipahami apabila, (3) pudarnya 
pengakuan dari kerajaan-kerajaan di luar Jawa terhadap 
Majapahit. Kewibawaan Majapahit telah merosot, tidak lagi 
bersinar menjadi acuan kemegahan budaya raja-raja 
Nusantara, tentu saja hal itu membawa akibat pada, (4) 
terhentinya pengiriman upeti atau persembahan dari 
daerah-daerah Nusantara ke istana Majapahit. Dengan 
terhentinya pengiriman upeti, berhenti pula adegan 
paseban megah dalam istana Majapahit, paseban itu semula 
biasa terjadi untuk menyambut para utusan dan duta 
berbagai negeri yang menemui sang Natha Wilwatikta. 
Hari-hari Akhir Majapahit
Sampai sekarang belum dijumpai sumber-sumber prasasti yang memberitakan masa akhir Majapahit, untuk 
membahas perkara tersebut digunakan sumber tertulis 
lainnya yang menguraikan babakan terakhir Majapahit. 
Beberapa sumber tertulis yang berupa kitab-kitab tradisi, 
ada yang memberitakan perihal Majapahit pada hari-hari 
terakhirnya. Sebagai berikut:
Babad Tanah Jawi R.Ng.Yasadipura
Mengenai keruntuhan ajapahit, kitab ini antara lain 
menyatakan: ”Majapahit telah terkepung, banyak prajurit 
berbalik. Adipati Bintara dan adiknya masuk lewat pintu 
utara. Mereka telah memasuki kota. Para prajurit gemetar 
ketakutan melihat mereka. Brawijaya segera berkata, 
”Syukurlah anakku datang, Adipati Bintara. Ayo Patih, 
segera kita naik ke tempat yang tinggi, aku ingin melihat 
anakku. Ya Patih, aku sangat rindu, karena telah lama tidak 
bertemu”. Sang Raja naik ke halaman yang tinggi dan dapat 
melihat putranya. Kemudian Sang Raja Brawijaya gaib. 
Patih pun tidak ketinggalan beserta orang-orang yang setia 
berbakti kepada raja. Puri telah kosong, di luar sangat ribut, 
sangat menakutkan” (Damono & Sonya Sondakh 2004, 
I:113).
Dalam kitab ini jelas dinyatakan bahwa kota 
Majapahit diserang oleh tentara Demak, Raja Brawijaya 
kemudian gaib beserta para pengiringnya, tidak dijelaskan 
tewas atau melarikan diri menghindari serangan. Mengenai 
masalah tersebut akan dibicarakan lebih lanjut dalam 
kajian ini.Babad Tanah Jawi: Galuh-Mataram
Antara lain menyatakan bahwa ketika terjadi 
serangan dari balatentara Demak terhadap kota Majapahit, 
Raja Majapahit terakhir, yaitu Prabhu Brawijaya moksa, dan 
menjelma menjadi Sunan Lawu. Dinyatakan bahwa yang 
hilang tidak hanya diri sang Brawijaya, namun juga seluruh 
istana dan kota Majapahit murca dipindah oleh sang Prabhu 
ke alam gaib. Berdasarkan kitab Babad Tanah Jawi: Galuh￾Mataram kota Majapahit sampai sekarang masih ada dan 
berada dalam alam gaib di lingkungan Gunung Lawu. 
Balatentara Demak yang menyerbu masuk kota Majapahit, 
hanya mendapatkan danau luas di lokasi bekas kedaton 
Majapahit (Soewito-Santoso 1970: 169-170). Agaknya 
berita tentang adanya danau luas tersebut didasarkan pada 
kenyataan adanya kolam Segaran di kawasan arkeologi 
Trowulan yang masih bertahan sampai sekarang. Dalam 
uraian kitab ini kolam Segaran sepertinya dipercaya 
sebagai bekas lokasi bekas istana Majapahit. Uraian kitab 
Babad Tanah Jawi: Galuh-Mataram lebih jelas 
menyebutkan tempat pengungsian Brawijaya setelah 
jatuhnya Majapahit, yaitu ke Gunung Lawu, sedangkan 
uraian Babad Tanah Jawi Yasadipura yang hanya 
menyatakan Brawijaya ghaib. 
Babad Dalem Bali
Adalah kitab yang digubah di Bali, menarasikan 
perihal raja-raja Majapahit hingga zaman terbentuknya 
Kerajaan Klungkung di bawah pemerintahan Raja Dewa 
Agung Jambe (Rai Putra, 1995:3). Dalam uraiannya terdapat 
perihal hari-hari terakhir Majapahit, antara lain dinyatakan bahwa, setelah mangkatnya Hayam Wuruk, para pembesar 
Majapahit saling berebut kekuasaan dan kewibawaan. 
Dinyatakan pula bahwa harta, pusaka, dan barang berharga 
Majapahit hilang, dilarikan oleh para kerabat istana ke 
Pasuruan, Blambangan, Bali dan Madura. Pada suatu waktu 
karena ingin menyerahkan tanda baktinya yang berupa 
upeti, raja Bali Sri Smara Kapakisan--pengganti Sri Kresna 
Kapakisan, raja Bali pertama di bawah pengaruh Majapahit-
-berkunjung ke kota Majapahit, penduduk Majapahit telah 
meninggalkan kota, Majapahit sunyi senyap, sebagian dari 
Kota Majapahit kembali menjadi dusun dan hutan (Rai 
Putra, 1995: 29-31).
Berita itu dapat ditafsirkan bahwa kota Majapahit 
mulai sepi setelah Hayam Wuruk mangkat, penduduknya 
tidak seramai lagi seperti pada zaman Hayam Wuruk 
berkuasa. Masih terdapat raja daerah, antara lain Raja Bali 
tersebut yang berkunjung ke istana Majapahit, betapa 
terkejutnya bahwa Majapahit telah sepi ditinggalkan 
sebagian besar penduduknya. Bahkan harta kekayaan 
kerajaan telah dilarikan ke luar Majapahit, dan wibawa 
Majapahit begitu merosotnya sehingga tatarannya seperti 
dusun saja, suatu kedaaan yang berbeda dengan masa–
masa sebelumnya. Tentu berita yang dicatat oleh Babad 
Dalem tersebut adalah metafora tentang sepinya Majapahit 
setelah masa kejayaannya, walaupun Majapahit masih ada, 
namun kejayaannya telah berlalu.
Serat Darmogandhul 
Tentang keruntuhan Majapahit kitab ini 
menguraikan bahwa tentara Majapahit pernah menyerang Giripura karena sudah 3 tahun lamanya para penguasa Giri 
tidak menghadap ke Majapahit. Pesantren Benang (Bonang) 
juga turut diserang karena santrinya merusak Kertasana 
(desa yang memiliki bangunan suci). Setelah serangan dari 
Majapahit Sunan Giri dan Sunan Bonang mengungsi ke 
Demak, di Demak mereka mendukung Adipati Demak, yaitu 
Raden Patah untuk mengadakan penyerangan ke Majapahit. 
Raden Patah lalu ditahbiskan menjadi pemimpin para 
bupati Pasisir untuk mengadakan penyerangan ke 
Majapahit, dan mendapat sebutan Senapati Jimbuningrat 
(Jambhu ning rat).
Setelah terjadi perang yang memakan banyak 
korban, tentara Demak memasuki istana Majapahit dan 
menjarah habis barang-barang yang ada di dalam istana. 
Adipati Terung memasuki pura (percandian istana) dan 
membakar habis kitab-kitab keagamaan Buda, para prajurit 
yang di pura bubar mengungsi ke gunung dan hutan-hutan 
di pedalaman. Sementara itu Prabhu Brawijaya telang 
menyingkir ke Belambangan kemudian ke Bali (Hendrato & 
Darmosugito, 1999: 20-22). 
Babad Arung Bondan
Naskah ini digubah dalam pertengahan abad ke-19, 
dalam bahasa Jawa, secara ringkas menguraikan peristiwa￾peristiwa dari periode Hindu-Buddha hingga zaman 
perkembangan Islam di Tanah Jawa, setelah runtuhnya 
Majapahit, dan ketika Demak telah menjadi kerajaan Islam 
pertama (Pudjiastuti, 2008: 1). Dalam hal keruntuhan 
Majapahit dinyatakan bahwa setelah Raja Brawijaya 
menaiki panggungan di sudut tembok istana Majapahit, ia menyaksikan prajurit Demak tengah berperang dengan 
bala tentara Majapahit, lalu ujarnya dalam hati: 
“Kapilara yen ingsun miluwa yuda, 
tan ana asilneki, 
anggur lolosa, 
ingsun ing Bali inggal, 
sigra tedhak Sribupati, 
bedhal mengetan, 
nabrang negari Bali.” (Pudjiastuti 2008:601). 
Disebutkan dalam bagian lain dari naskah ini bahwa 
Prabhu Brawijaya sempat membangun kutha (istana) di 
daerah Sengguruh (selatan Malang) dalam tahun 1399 Saka 
(1478 M) (Pudjiastuti, 2008:595), namun dalam tahun itu 
juga terjadi serangan Demak ke Majapahit. Sama dengan 
beberapa kitab lainnya, Babad Arung Bondan pun 
menyatakan bahwa keruntuhan Majapahit akibat serangan 
bala tentara Islam Demak. Berita lain yang penting dari 
naskah ini adalah dibangunnya kutha baru di Sengguruh 
yang agaknya telah dipersiapkan sebagai tempat 
pengungsian jika Majapahit benar-benar diserang Demak. 
Pada akhirnya Sengguruh pun jatuh ke tangan tentara 
Demak dalam tahun 1545, di Sengguruh terjadi 
pertempuran terakhir antara para pengikut dan keluarga 
Raja Majapahit melawan balatentara Islam Demak, setelah 
itu tidak ada lagi pertempuran antara Demak dan Majapahit 
(De Graaf & Th.G.Th.Pigeaud, 1985:66). Dalam pada itu 
Menurut H.J.de Graaf dan Th.G.Th.Pigeaud. Keruntuhan 
Majapahit terjadi tahun 1527, akibat serangan Demak 
bersama daerah-daerah pesisir lainnya. Terdapat dua alasan untuk meruntuhkan Majapahit, yaitu (a) penyebaran 
agama Islam yang dipelopori oleh golongan menengah yang 
merupakan kaum alim-ulama, dan (b) perluasan kekuasaan 
kerajaan Islam yang baru saja dikembangkan (De Graaf & 
Th.G.Th. Pigeaud, 1985:61-63). 
Carita Lasem 
Terdapat satu kitab tradisi lagi yang dipandang 
penting berkenaan dengan masa keruntuhan Majapahit, 
yaitu Carita (Sejarah) Lasem (CSL). Sesuai judulnya kitab ini 
sebenarnya bertutur tentang sejarah Lasem, salah satu 
Bandar Majapahit di pantai utara Jawa. Sebenarnya CSL 
bersatu dengan kitab lainnya namun mempunyai judul 
berbeda, yaitu Sabda Badrasanti yang berisikan etika 
kehidupan dan pergaulan. Uraian CSL dimulai sejak masa 
kejayaan Majapahit pada pertengahan abad ke-14 hingga 
keruntuhan Majapahit, kemudian disambung kisah Lasem 
pada zaman VOC-Belanda. CSL dan kitab Sabda Badrasanti
dipercaya digubah oleh mPu Santibadra pada tahun 1401 
Saka (1479 M), salah seorang keturunan penguasa Lasem 
pertama di masa Majapahit. Riwayat hidup mPu Santibadra 
diuraikan dalam CSL, jadi memang CSL mendahului kitab 
Sabda Badrasanti. Adapun uraian CSL pada zaman VOC￾Belanda adalah tambahan yang disusun oleh penulis 
kemudian, yaitu R.Panji Kamzah (Karsono, 1920:10; 
Munandar, 2011:386). 
Hal yang menarik dari kitab CSL adalah adanya 
kandungan sejarah, pada bagian awal kitab itu dinyatakan 
bahwa pada tahun Śaka 1273 (1351 M) yang menjadi 
penguasa Lasem adalah Ratu Dewi Indu, adik sepupu Prabu Hayam Wuruk yang sedang berkuasa di Wilwatikta 
(Majapahit). Ia bersuamikan Pangeran Rajasawardana yang 
menjadi dhang puhawang di Lasem, berkuasa atas jung-jung 
perang Wilwatikta di pelabuhan Kaeringan dan pelabuhan 
Regol di Lasem. Tokoh ini juga merangkap menjadi adipati 
di wilayah Matahun, demikian tutur CSL (CSL 1985:10). 
Berita tersebut ternyata sejalan dengan uraian 
kakawin Nāgarakrtāgama yang menyatakan bahwa pada 
zaman pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389 M) Bhre 
(Bhattara i) Lasem ialah Śrī Rājasaduhitendudewī 
(Nag.5:1). Nāgarakṛtāgama selanjutnya menyatakan 
bahwa Śrī Rājasaduhitendudewī (Dewi Indu) bersuamikan 
Bhre Matahun yang bernama Rājasawarddhana (Nag.6:1) 
atau julukan lainnya dalam kitab Pararaton ialah Raden 
Larang (Harjowardojo, 1965:51). Dalam prasasti Waringin 
Pitu (tahun 1369 S/1447 M), negara daerah Lasem tidak 
disebut-sebut lagi, mungkin wilayah Lasem sudah 
digabungkan dalam sistem pemerintahan negara daerah 
Matahun, mengingat suami Śrī Rājasaduhitendudewī, yaitu 
Rajasawardana penguasa wilayah Matahun (Djafar, 
1978:120). 
Sumber-sumber tertulis baik Nāgarakṛtāgama, 
Pararaton, maupun prasasti-prasasti sezaman tidak 
menjelaskan keturunan dari Śrī Rājasaduhitendudewī dan 
Rajasawardana, oleh karena itu mereka berdua dianggap 
tidak berputra. Akan halnya CSL menyebutkan bahwa 
mereka mempunyai anak keturunan yaitu Pangeran 
Badrawardhana, yang kemudian berputra Pangeran 
Wijayabadra, lalu Wijayabadra menurunkan Pangeran 
Badranala. Tokoh itu kemudian kawin dengan Putri asal Campa bernama Bi Nang Ti, dari perkawinan tersebut 
lahirlah dua putra, yaitu Pangeran Wirabajra dan 
Santibadra, sepeninggal Badranala yang menggantikan 
sebagai penguasa daerah Lasem adalah Pengeran Wirabajra 
(CSL, 1985:12). Sementara Pangeran Santibadra pergi ke 
Majapahit, ia menyaksikan jatuhnya kota Majapahit ke 
tangan tentara Kadiri yang dipimpin oleh 
Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. 
Dalam kondisi sosial politik yang gamang di 
Majapahit, patih Majapahit di masa pemerintahan Bhre 
Kertabhumi sudah tidak setia lagi kepada raja. Patih yang 
bernama Kertadinaya telah memeluk agama Rasul (Islam) 
sehingga tidak memperhatikan keadaan kerajaan, pejabat 
tinggi lainnya ialah Tumenggung Warak Jabon menjadi 
pengikut agama Tantrayana yang juga dipeluk dan 
dikembangkan oleh Adipati Kadiri Girindrawarddhana 
Dyah Ranawijaya. Sehingga pada suatu hari di kala fajar 
pagi hari datanglah pasukan pemberontak dari Kadiri 
dipimpin oleh Girindrawarddhana memasuki kota 
Majapahit. Pertempuran pun segera terjadi dan 
dimenangkan oleh pihak Girindrawarddhana yang agaknya 
telah dibantu oleh Tumenggung Warak Jabon dan patih 
Kertadinaya. Keduanya bukan menyongsong musuh dan 
memadamkan kerusuhan tersebut, malah sebaliknya 
menyingkir jauh-jauh sebelum pecahnya pertempuran. 
Tentara Kadiri banyak membunuh penduduk Majapahit 
yang setia kepada raja, mereka yang masih selamat 
mengungsi tidak tentu arah. Banyak yang kemudian menuju 
selatan ke Gunung Brahma (Bromo) di pedalaman, dan ke 
arah timur terus sehingga mencapai laut sempit danmenyeberang ke Pulau Pura Dewa (CSL, 1985:52). 
Menurut Pararaton peristiwa dikalahkannya Bhre 
Kertabhumi terjadi pada tahun Saka “sunya-nora-yuganing￾wong” atau 1400 Śaka (1478 M) (Hardjowardojo, 1965: 59). 
Dalam hal ini CSL menguraikan cukup jelas dan logis 
kemana perginya Bhre Kertabhumi, penguasa Majapahit 
yang berhasil dikalahkan oleh Ranawijaya. Jika Babad 
Tanah Jawi menyatakan bahwa Brawijaya Kertabhumi gaib 
(moksa) dengan badan kasarnya akibat serangan tentara 
Demak, maka CSL menyatakan, “Sang Prabhu Bhre 
Kertabhumi lolos melu aneng pepanthan kono, kanthi 
nylamur dadi sramana Buddha sirahe gundhul plonthos 
ngagem jubah kuning...” (CSL, 1985: 52). Ternyata dapat 
diketahui bahwa Bhre Kertabhumi menyamar menjadi 
pendeta Buddha, berkepala gundul, mengenakan jubah 
kuning mengungsi meninggalkan Majapahit, itu yang logis. 
Jadi tokoh tersebut bukannya “moksa” melenyap ke 
kahyangan sebagaimana yang dipercaya dalam berbagai 
berita tradisi selama ini. 
Walaupun disebutkan dalam CSL Raja Kertabhumi 
mengungsi dengan menyamar sebagai pendeta agama 
Buddha berambut gundul dan berjubah kuning, akan tetapi 
tidak disebutkan ke arah mana sang raja itu mengungsi. 
Mungkin saja Bhre Kertabhumi juga mengungsi ke Pulau 
Bali bersama banyak penduduk Majapahit lainnya, atau juga 
berdiam di suatu lokasi di pedalaman Jawa bagian timur 
hingga akhir hayatnya. Hanya saja terdapat penjelasan 
dalam Babad Tanah Jawi: Galuh-Mataram, Brawijaya lalu 
mengungsi ke Gunung Lawu dan menjadi pertapa di gunung 
tersebut. Masyarakat sekarang lalu percaya Brawijaya itu kemudian dipuja sebagai Sunan Lawu (Soewito-Santoso, 
1970:170). 
Kandungan sejarah lainnya yang diungkapkan 
dalam CSL adalah beberapa alasan mengenai banyaknya 
penduduk Jawa yang beralih agama, semula memeluk 
agama Hindu atau Buddha kemudian memeluk agama Rasul 
(Islam). CSL menyatakan: 
“sabab pranatan lan sipate agama sing anyar sing 
lagi sumebar kuwi:
1. Ora kakehan ragad, ora kakehan ngetokake 
dhuwit, ora kakehan mbuwang barang kang tanpa 
tanja. 
2. Ora kakehan sajen-sajen lan upacara-upacara 
sing pating clekunik 
3. Ora kakehan puja mantra sing nglantur dawa 
4. Ora kakehan leladi bekti marang dewa-dewa 
utama makhluk-makhluk maya 
5. Ora ana tatacara sing ngrekasakake raga 
6. Mbrastha kasta lan nyuwak panglengkara 
7. Sayuk rukun, nglungguhi tatakrama (CSL, 1985: 
50) 
Terjemahannya lebih kurang: 
“Sebab pranata dan sifat agama yang baru dan 
sedang menyebar tersebut (agama Islam): 
1. Tidak banyak macam-macam, tidak banyak 
mengeluarkan uang, tidak banyak membuang 
barang secara sia-sia. 
2. Tidak banyak sesajian dan upacara yang 
“njlimet”
3. Tidak banyak membaca mantra pemujaan yang berpanjang-panjang 
4. Tidak banyak macam persembahan kepada 
dewa-dewa utama makhluk maya 
5. Tidak ada kegiatan yang menyusahkan dan 
melelahkan badan 
6. Menghapuskan kasta dan mengabaikan 
peringkat kekayaan 
7. Selalu rukun sesuai aturan...” 
Demikianlah penyebaran Islam di Tanah Jawa selain 
terjadi karena dilakukan secara sadar oleh para ulama, 
mubaligh dan Wali Songo; ternyata menurut CSL penduduk 
pribumi secara tidak langsung mempunyai pertimbangan 
sendiri sehingga mereka berbondong-bondong pindah 
meninggalkan agama Hindu, Buddha, dan Hindu￾Tantrayana ke agama baru, yaitu Islam. 
Walaupun demikian corak agama Islam di Jawa 
mempunyai karakternya tersendiri, proses Islamisasinya 
tentunya sukar karena kebudayaan praIslam yang 
berkembang sebelumnya cukup mendalam (Saksono, 
1995:228-29). Agama Islam di Jawa dikembangkan dengan 
tetap memperhatikan nilai dan tradisi yang telah dikenal 
sebelumnya. Berhubung Islam di Jawa pada awalnya 
dikembangkan dengan damai, maka dalam uraian CSL 
terdapat simpati terhadap perkembangan agama baru 
tersebut, walau semangat agama Buddha di dalamnya 
cukup kentara. Disebutkan pula mengapa Islam cepat sekali 
berkembang setelah kejatuhan Bhre Kertabhumi, bahwa 
penyebabnya adalah perilaku Adipati Girindrawarddhana 
dari Kedhiri (Kadiri) yang memberontak menyerbu dan 
merusak kota Majapahit, banyak penduduk yang dibunuh dan disiksa, oleh karena itu orang-orang Majapahit mencari 
persembunyian dan perlindungan di pusat-pusat 
pendidikan agama Islam, pondok-pondok pesantren 
semakin berkembang pesat (CSL, 1985:52). Mereka takut 
dengan perilaku Girindrawarddhana dan orang-orang 
Kadiri yang menganut Hindu-Tantrayana dengan ritual 
agama yang cukup menyeramkan dalam pandangan 
masyarakat awam. Pemberontakan Girindrawarddhana 
terhadap raja Majapahit tersebut agaknya menarik untuk 
diperbincangkan, karena dalam sejarah Singhasari￾Majapahit perseteruan antara pihak Kadiri dengan dinasti 
Rajasa keturunan Ken Angrok tersebut telah berkembang 
lama. Mengenai hal ini terntu harus diperbincangkan lebih 
lanjut secara khusus dalam kajian tersendiri, jadi bukan 
dalam makalah ini. 
Majapahit pada masa Girindrawarddhana Dyah 
Ranawijaya dalam keadaan yang begitu semrawut, tidak 
ada lagi kekuasaan yang terpusat dan kuat. Para penguasa 
daerah agaknya telah berdiri bebas dengan tidak ada 
pengawasan dari raja Majapahit. CSL menyatakan: 
“Kekuwunge Majapahit malih surem, kuncarane 
praja prebawa lan wibawane Narendra malih suda, 
pamrentahane semrawut ruwed moyag-mayig, 
punggawa praja ora ana sing tentrem atine, padha 
pitnah-pinetnah. Kawula cilik padha prihatin 
nandang cingkrang mangan kurang, kawuwuhan 
kampak maling, begal rajapati ngambra-ambra rina 
wengi nggegirisi. Para penggedhe akeh sing wis ora 
setya maring praja, ora mikir maring susah 
sengsarane kawula cilik. Anane mung tansah padha 
nguja kamurkan kasenengan madad, main, madon, lan mangani, padha jor-joran nggalang omah 
brenggi njenggarang sarta lumbunge magrong￾magrong. Kanthi ngiwut negori wit gedhe-gedhe, ora 
ngelingi rusake alas sumberan padha mbrabas; kang 
wekasan ndadekake banjir bandhang gedhe nganti 
mbobolake tanggul-tanggule bengawan Brantas, 
tegal sawah ratan lan karang padesan padha 
krampak keblebeg banyu, rusak morat-marit ora 
kelar ngramut” (CSL, 1985: 51). 
Terjemahannya kurang lebih: 
”Pelangi Majapahit berubah suram, keterkenalan, 
kharisma pejabat, dan wibawa raja berangsur 
berkurang, pemerintahan semrawut ruwet, 
gonjang-ganjing, pejabat pemerintahan tidak ada 
yang hatinya tentram, saling memfitnah. Rakyat 
kecil semua prihatin, mengalami kekurangan 
pangan, kesusahan karena maling, begal, 
pembunuhan merajalela malam hari sangat 
mengkhawatirkan . Banyak para pejabat yang sudah 
tidak setia kepada pemerintahan, tidak memikirkan 
perihal susah sengsaranya rakyat kecil. Hal yang ada 
hanyalah senantiasa mengumbar kemurkaan, 
kesenangan, madat, main perempuan, dan makan 
enak, saling bebas membangun rumah besar megah, 
serta lumbung yang besar-besar kokoh. Untuk itu 
menebang pohon-pohon besar, tidak ingat akan 
rusaknya hutan sumber air yang langka, pada 
akhirnya menjadikan banjir bandang besar 
sehingga membobolkan tanggul-tanggul bengawan 
Brantas, tegalan, sawah, dataran, dan tanah 
pedesaan semuanya penuh terisi air, rusak 
berantakan tidak cepat kembali pulih.” Bagian lain dari kitab CSL menguraikan kondisi 
Majapahit beberapa waktu sebelum keruntuhannya, 
dinyatakan sebagai berikut: 
“Wong-wong Majapahit ora ngira babar pisan yen 
negarane bakal ana kedadiyan pokal mrusal 
ndhadhal-ndhadhal, akal-akal nggawe pepati lan 
cilakane wong akeh; kawula cilik kang mung manut 
ngatut nurut apa kersane penggedhe-pendhuwuran, 
ora ngerti ora edhung marang ubeng, jantrane 
pusara-praja. Jebulane yen ana owah-owahaning 
pranatan wong gedhe rebutan kamulyan, para 
Bendara rebutan pangwasa, wong pinter padha 
mblinger, sing wis padha mukti mamerke suci; kok 
yan wong cilik sing dijungkir walik ditengkik digawe 
benthik, wong-wong sing bodho kaya kebo dikeleni 
didu kaya jangkrik, pating pendelik nyebar serik 
nyebar pepati tunggal cilik. Para penggede sing 
jenggarang mung angger mbegang ngerang-erang, 
sing salah jare wong cilik wong sudra sing ngangsa 
arep ngrebut pangwasa,… Anane wong cilik mung 
sarwa salah, mung sarwa ketiban dhenggung…” 
(CSL, 1985:52). 
(“Orang-orang Majapahit tidak menduga sama 
sekali apabila negaranya akan mengalami 
kerusuhan yang kacau, membuat kematian dan 
penderitaan banyak orang; abdi orang rendahan 
hanya mengikuti menurut apa keinginan para 
pembesar dan petinggi, tidak mengerti, tidak paham 
dan tidak tahu roda pemerintahan. Akibatnya jika 
ada perubahan pranata orang-orang besar berebut 
kemulyaan, para tuan berebut kekuasaan, orang pintar semua menyeleweng, orang-orang yang 
sudah sejahtera memamerkan kecucian, adapun 
orang kecil dijungkir balik, diringkus, dibuat tidak 
berkutik, orang-orang bodoh seperti kerbau 
dibohongi, diadu seperti jangkrik, semua saling 
melotot menyebar bencana, menyebar kematian 
orang-orang kecil. Para pembesar yang tampil 
megah tetap saja duduk dengan mantap dan 
nyaman, yang salah tetap saja orang kecil, orang 
sudra yang dianggap akan merebut kekuasaan… 
Dinyatakan orang kecil serba salah, hanya 
kejatuhan gong besar”). 
Berdasarkan uraian CSL tersebut dapat diketahui 
bahwa Majapahit sudah demikian kacaunya, bahkan 
bencana alam yang berupa banjir pun kerapkali terjadi. 
Disebutkan pula bahwa bobolnya tanggul Sungai Brantas 
pernah terjadi dengan dahsyatnya, sehingga banjir yang 
melanda sangat besar melebihi yang biasanya terjadi. 
Penderitaan dialami rakyat kecil, banyak yang tewas 
sedangkan orang kaya dan para pembesar enak-enak 
menaiki perahu hilir mudik, ke barat dan ke timur. CSL 
mengutarakan: “…menawa besuk kali bengawan Brantas 
bakal banjir bandhang luwih dening gedhe, kawula cilik sing 
luwih cilaka keblebeg banyu ketenggor-tenggor watu, wong 
kendel padha kepuntel, wong-wong gedhe ngenak-enak 
nunggang prau milir mudhik ngetan ngulon…” (CSL, 1985: 
51). 
Apa yang dapat disimpulkan dari uraian CLS 
tentang kondisi Majapahit menjelang “ajalnya” adalah: 1) 
Pemerintahan yang tidak ajeg, banyaknya jabatan yang 
tidak jelas tugasnya (pemerintahane semrawud ruwed,moyag-mayig), 2) Banyak pejabat mementingkan diri 
sendiri, 3) Orang-orang berada mengambil kayu-kayu 
dengan merusak hutan, menebangi pohon untuk membuat 
perumahan besar, 4) Para pejabat saling fitnah (menebar 
hoax ?), 5)Orang-orang kecil menjadi korban, dan selalu 
disalahkan, 6) Sering terjadinya banjir besar, sebab tanggul 
Sungai Berantas tidak ada yang mengurus (Karsono 1985: 
51). Dalam keadaan yang serba tidak menentu itulah, 
masyarakat kecil Majapahit mencari perlindungan ke para 
penguasa Pasisir yang pemerintahannya lebih ajeg. Maka 
tinggal menunggu waktu saja Majapahit runtuh, 
keruntuhan itu tiba akibat penyerangan balatentara Demak 
ke Majapahit. 
Epilog
Keruntuhan Majapahit terjadi melalui proses yang 
panjang, tidak serta merta kerajaan tersebut diserang 
balatentara Demak lalu runtuh. Terdapat latar belakang 
yang mendahului terjadinya kemerosotan wibawa 
Majapahit. Latar belakang yang paling penting adalah 
perang perebutan kekuasaan yang dinamakan Paregreg 
(1401-1406). Akibat perang berkepanjangan, maka segala 
aspek kejayaan yang semula berhasil dicapai oleh Majapahit 
di masa kejayaannya, perlahan tetapi pasti merosot, pudar 
dan hilang. Peperangan tentu akan menjadikan 
kemerosotan ekonomi-perdagangan Majapahit, para 
pedagang enggan untuk berlabuh di Bandar-bandar 
Majapahit di wilayah Pasisiran Jawa bagian timur. 
Dengan jarangnya para niagawan luar yang datang 
ke Majapahit, dengan sendirinya pudarnya pengakuan negeri-negeri lain di Nusantara terhadap kejayaan dan 
kemegahan Majapahit, dengan sendirinya para utusan yang 
biasanya ramai berdatangan dan diterima oleh sang Natha 
Majapahit di istananya, tidak berlanjut lagi. Pengakuan 
telah pudar, utusan-utusan mengalihkan pengakuannya 
kepada kerajaan lain yang lebih berwibawa dan kuat. 
Suasana pun semakin memburuk perebutan 
kekuasaan masih terjadi di akhir sejarah Majapahit, 
Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya kemudian 
mengenyahkan Bhre Kertabhumi dari kedaton Majapahit, 
dalam serangan yang banyak disebut dalam sumber tradisi 
terjadi tahun 1400 Saka (1478 M). Hanya saja putra Bhre 
Kertabhumi, yaitu Raden Patah telah menjadi Adipati di 
Demak. Dyah Ranawijaya kemudian menyerang pesantren 
Giripura dan Bonang dengan alasan kedua pesantren itu 
tidak lagi berbakti kepada Majapahit. Para ulama dari Giri 
dan Bonang mencari perlindungan ke Demak, mereka 
kemudian menyokong penguasa Demak untuk menyerang 
Majapahit. Serangan terhadap Majapahit terjadi di awal 
abad ke-16, para sarjana masih belum sepakat perihal tahun 
kejadiannya, ada yang menafsirkan penyerangan itu terjadi 
dalam tahun 1519, 1525, atau 1527 M, pastinya akibat 
serangan balatentara Demak itu, Majapahit lenyap dari 
sejarah selamanya. 
Sebenarnya terdapat thesa utama yang dapat 
dijadikan pelajaran tentang keruntuhan Majapahit. Bahwa 
setiap kerajaan atau negara dapat bertahan apabila ada 
dukungan rakyatnya sebagai penduduk yang hidup dalam 
naungan sistem negara tersebut. Apabila rakyatnya tidak 
perduli pada negaranya, niscaya sistem kerajaan atau negara itu akan hancur. Mengenai timbulnya 
ketidakperdulian rakyat terhadap nasib negaranya 
biasanya terjadi akibat kekecewaan mereka kepada para 
penguasanya, pejabatnya dan sistem pemerintahan yang 
tidak mampu membahagiakan kehidupan rakyat. Jika 
kekecewaan itu dibiarkan tumbuh di kalangan rakyat, 
malah ditambahi dengan kekecewaan-kekecewaan lainnya, 
dapat dipastikan akan terjadi perubahan besar dalam 
sejarah suatu negara atau kerajaan.
Tidak ada kerajaan di Nusantara yang dianggap 
begitu berpengaruh dalam dunia maritim Asia Tenggara 
kecuali Majapahit. Kerajaan ini dinilai berhasil 
menggabungkan dua sistem ekonomi, yaitu agraris dan 
maritim. Banyak penulis yang menjadikan Majapahit 
sebagai epitome atau model peradaban Maritim Nusantara 
sekaligus sebagai embrio unitary state (negara kesatuan) 
dengan sistem pemerintahan dan ketatanegaraannya yang 
khas.57 Eksistensi kerajaan ini berlangsung kurang lebih tiga 
abad (abad XIII–XVI) dan di masa puncak kejayaannya 
digambarkan telah menguasa wilayah yang sangat luas dari 
Papua di perbatasan Samudera Pasific hingga Madagaskar 
di Samudera Hindia.58 Majapahit juga telah menginspirasi 
beberapa pemikiran tentang identitas budaya dan kebangsaan dari bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Kerajaan￾kerajaan di Semenanjung Melayu hingga Kamboja memiliki 
asosiasi yang kuat dengan kerajaan Majapahit.59
Cerita tentang kebesaran kerajaan Majapahit 
barangkali telah menjadi tradisi historiografi terpanjang di 
Indonesia. Sejak Prapanca menuliskan Negarakertagama di 
sekitar pertengahan abad ke-14, para penulis sejarah Jawa 
dari abad ke-18 dari istana Mataram juga mereproduksi 
kembali kebesarannya. Bahkan, Majapahit dijadikan 
sebagai legitimasi dengan cara menghubungkan secara 
genealogis anatara raja-raja Majapahit dengan raja-raja 
Islam Mataram.60 Tentu saja menarik kemudian untuk 
mengetahui bagaimana Mataram sebagai kerajaan Islam 
melalui para para pujangganya, menggambarkan 
tranformasi politik dari kerajaan Majapahit (Hindu) ke 
Demak (Islam)?
Glorifikasi tentang Majapahit tidak berhenti sampai 
di situ, karena historiografi kolonial yang dirintis oleh para 
sejarawan Belanda juga melakukan hal yang sama. Muncul 
kemudian mengapa sejarawan kolonial memiliki minat 
yang besar terhadap sejarah Majapahit? Adakah idiologi 
atau kepentingan tertentu di balik glorifikasi ini? 
Pertanyaan yang sama seperti yang ditujukan pada 
sejarawan Jawa itu juga dapat diajukan pada para 
sejarawan kolonial ini, yaitu bagaimana mereka memaknai 
runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit dan berdirinya keraja￾kerajaan Islam di Jawa? 
Untuk memahami juga sejauhmana kajian-kajian 
dan kesimpulan-kesimpulan mereka berpengaruh terhadap 
historiografi Indonesia maka perlu pula diajukan 
pertanyaan apakah legacy (warisan) yang telah 
ditinggalkan dari dua tradisi historiografi tradisional dan 
kolonial itu bagi historiografi nasional Indonesia. Artikel 
singkat ini membahas tiga persoalan utama di atas yang 
akan didasarkan pada beberapa versi karya-karya 
historiografi tradisional khususnya babad dan juga 
historiografi kolonial, khususnya tulisan para sejarawan 
dan orientalis Belanda, seperti N.J. Krom, C.C. Berg, G.P. 
Rouffaer, W.F. Stutteherim, dan J.S.G. Gramberg. 
Beberapa Teori tentag Kejatuhan Majapahit 
Sirna ilang kertaning bumi dan Sirna ilang rasaning 
rat, adalah dua sengkalan61 yang begitu popular dalamhistoriografi Jawa khususnya, dan Historiografi Indonesia 
pada umumnya. Keduanya menunjuk pada angka tahun 
yang sama yaitu, 1400 Saka. Sengkalan ini berasal dari 
Babad Tanah Jawi (Surakarta) dan Babad Kraton
(Yogyakarta), yang disebut sebagai tahun keruntuhan 
kerajaan Majapahit setelah serangan Demak di bawah 
pimpinan Raden Patah. Sejarawan yang mendukung 
pendapat ini adalah Thomas Stamford Raffles, yang 
memang dalam bukunya History of Java62 banyak 
menggunakan sumber-sumber babad dan naskah jawa, 
khususnya naskah-naskah yang dijarah dari Kraton 
Yogyakarta pada tahun 1813. Sejarawan lain yang 
sependapat dengan Raffles adalah Slamet Muljana yang juga 
menggunakan sumber-sumber kronik dari Klenteng Sam Po 
Kong di Semarang, yang dibawa ke Belanda oleh Resident 
Poortman yang kemudian versi terjemahannya dilampirkan 
dalam buku M.O. Parlindungan.63 Naskah yang sama juga 
dimuat dalam buku H.J. de Graaf dan Th. H. Th. Pigeaud 
tentang orang-orang Cina Muslim di Jawa pada abad ke-15 
dan 16.64 Sejarawan lain yang mendukung tentang runtuhnya Majapahit tahun 1400 Saka adalah 
Atmodarminto, yang dikenal dengan kajian dan tafsirnya 
terhadap Babad Demak. Atmodarminto mengatakan bahwa 
Majapahit hancur karena serangan musuh tahun 1400 Saka 
namun bukan oleh pasukan Islam dari Demak, tetapi oleh 
Adipati Siung laut dari Blambangan yang berkoaliasi 
denganPatih Gadjah Permada yang membelot. 
Atmodarminto mengatakan: 
“Temenan, bareng golongan feodal kolot golongane 
Patih Gadjah Permada sing ditjritakake mau, saking 
panasing atine bandjur gelem mbantu Blambangan. 
Mesti wae bareng entuk pambijantune kaum feodal 
Madjapait golongan kolot, Adipati Sing Laut tumuli 
ngangkatake prajurite nggepuk Majapait. Wusana 
ana ing taun Saka 1400 sinengkalan “sirna ilang 
kertaning bumi” utawa taun Masehi 1478, kradjan 
Siwa/Budha Madjapait kelakon bedhah.”65
Sejarawan Belanda, N.J. Krom memiliki pendapat 
yang serupa dengan Atmodarminto, bahwa pada tahun 
1400 Saka itu memang terdapat data sejarah yang 
menyebutkan bahwa Majapahit mendapatkan serangan 
militer, namun ia membantah bahwa serangan itu datang 
dari Demak. Ia mengatakan bahwa serangan itu berasal dari 
raja Kediri yaitu Girindrawardhana yang kemudian 
meneruskan pemerintahan Majapahit hingga beberapa saat 
lamanya. Ia percaya bahwa Majapahit masih berdiri hingga 
tahun 1521 Masehi dan jika prasasti Pabanolan di Malang 
dipertimbangkan pula, maka Majapahit masih berdiri 
hingga tahun 1541 (Saka 1463).66
 
Beberapa peneliti memiliki pendapat yang berbeda 
tentang tahun kejatuhan Majapahit. Misalnya G. P. Rouffaer 
berpendapat bahwa jatuhnya Majapahit terjadi tahun 1518 
Masehi.67 Sementara itu W.F. Stutterheim memperkirakan 
runtuhnya Majapahit antara tahun 1514-1528 Masehi.68 P.J. 
Veth yang mengaji prasasti Girindrawardhana (berangka 
tahun 1408 Saka), memperkirakan keruntuhan Majapahit 
setelah tahun 1488 Masehi.69 Pandangan lain dikemukakan 
oleh B.J.O Schrieke, yang mengatakan bahwa Majapahit 
runtuh pada tahun 1468 Masehi karena serangan dari 
Bhattara ring Dahanapura (nama lain dari 
Girindrawardhana) dengan bantuan dari raja-raja di pesisir
utara Jawa.70
 
Dari beberapa teori yang disampaikan itu 
menunjukkan bahwa pada umumnya serangan 
Girindrawardhana dianggap menjadi penyebab keruntuhan 
Majapahit. Seperti juga yang dikemukakan peneliti 
Indonesia Hasan Djafar yang menyatakan bahwa 
keruntuhan Majapahit terjadi karena sebab yang sama, 
namun ia lebih menunjuk angka 1519 Masehi sebagai tahun 
keruntuhannya. Angka ini ia ambil dari catatan Pigaffeta 
tahun 1511 yang menyatakan bahwa Pati Unus telah 
menguasai Majapahit.71 Pendapat paling mutakhir tentang 
kejatuhan Majapahit dikemukakan oleh Paul Michel Munoz, 
yang mengatakan bahwa ujung akhir eksistensi Majapahir 
berakhir tahun 1527 Masehi ketika Sultan Trenggana dari 
Demak Bintara berhasil menghabisi Girindrawardhana.72
Kejatuhan Majapahit dalam Babad Jawa 
Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa ada 
dua babad yang menjadi sumber rujukan pokok para 
peneliti awal tentang kejatuhan Majapahit, yaitu yaitu 
Babad Tanah Jawi versi istana Surakarta dan sadurannya dalam bentuk prosa oleh Meinsma.
73 Ada satu sumber 
babad Jawa lain yang menurut Ricklefs yang lebih tua dari 
versi Surakarta, yaitu Babad Kraton yang tersimpan di 
British Museum (sekarang ada di British Library) London. 
Naskah ini ditulis pada paruh ke dua abad ke-18, yang pada 
tahun 1813 jatuh ke tangan Johan Crafwurd, Residen 
Yogyakarta dan pada tahun 1841 dihibahkan di Bristih 
Museum London. Naskah ini diambil oleh tentara Sepoy 
ketika penyerangan terhadap Kraton Kesultanan 
Yogyakarta pada tahun 1812. Menurut Ricklefs naskah ini 
lebih reliable sebagai sumber sejarah dari dua naskah 
sebelumnya mengingat usianya yang lebih tua. Bahkan ia 
menduka versi Surakarta kemungkinan berasal dari versi 
Yogyakarta ini.74
Sejauh yang berkaitan dengan jatuhnya kekuasaan 
Majapahit dari ketiga sumber utama babad yang telah ada 
ini memiliki narassi yang sama dalam hal latar belakang 
peristiwa, yaitu tentang munculnya dua tokoh penting 
Raden Patah dan Raden Husen/Kusen yang menjadi penutur utama tentang alasan-alasan penyerangan orang￾orang Islam terhadap kerajaan Majapahit. Dalam babad
diceritakan bahwa Raja Brawijaya memiliki banyak istri 
dan salah satunya adalah Putri Cina (Campa), Dwarawati. 
Namun karena kecemburuan para istri yang lain 
terhadapnya Dwarawati diberikan kepada Arya Damar 
dalam keadaan sudah mengandung. Dwarawati dibawa ke 
Palembang oleh Arya Damar dan melahirkan seorang putra 
diberi nama Patah. Dengan Arya Damar, Dwarawati juga 
melahirkan seorang putra yang dibesi nama Husen. Setelah 
dewasa keduanya menuju Jawa dan berguru kepada Sunan 
Ampel di Surabaya dan memeluk Islam. Setelah dinyatakan 
selesai mempelajari Islam mereka ingin melanjutkan karir. 
Husen memutuskan untuk mengabdi kepada raja Majapahit 
dan akhirnya ditunjuk sebagai Adipati Terung, namun Patah 
menolak mengabdi kepada Brawijaya yang dianggap 
sebagai raja kafir. Ia memutuskan untuk pergi ke Bintara 
dan merintis kekuasaannya sendiri di sana. Setelah 
mengetahui bahwa Patah sebenarnya adalah putranya, 
Brawijaya tidak keberatan jika anaknya itu meneruskan 
karirnya di Bintara namun harus tetap menghadap secara 
rutin kepada raja setiap tahunnya. Namun setelah tiga 
tahun tidak menghadap Brawijaya mengutus saudara tiri 
Patah, Adipati Terung untuk mempertanyakan alasan Patah 
tidak menghadap ke Majapahit. Mulai dari sinilah terjadi 
variasi narasi dalam ketika babad itu yang tentu saja 
menimbulkan pemaknaan yang berbeda tentang jatuhnya 
Majapahit. 
Menurut Babad Tanah DJawi (Babad Kraton) versi
Yogyakarta,75 Suatu ketika Adipati Terung diutus raja 
Majapahit untuk mencari tahu mengapa Raden Patah, 
Adipati Demak Bintara sudah tiga tahun tidak menghadap 
kepada raja Majapahit. Dijawab oleh Raden Patah bahwa ia 
hanya akan menghadap jika Raja Majapahit itu sudah 
memeluk Islam. Akhirnya Adipati Bintara mengerahkan 
pasukan menyerang istana Majapahit. Brawijaya dikatakan 
sebagai Raja yang Agung Binathara dan dapat mengetahui 
sesuatu sebelum terjadi, sehingga ia membiarkan Adipati 
Demak dan pasukannya masuk istana, setelah puas melihat 
anaknya itu, Brawijaya tiba-tiba lenyap melanjutkan 
takdirnya bersama dengan permaisuri. Demikian juga 
dengan Patih Gajah Mada dan kudanyapun ikut lenyap. 
Dalam Pupuh 13 Pangkur tertulis sebagai berikut: 
“Adipati Bintara alon amuwus Rama djenenga ning 
Buda, patine makripat djati, sirna ilang rasaning rat 
sengkalane duk bedah (ing) Madjapahit”. Ayah 
adalah seorang Buda, meninggal dalam makrifat 
sejati, sirna hilang rasa raja (1400) angka tahun 
jatuhnya Majapahit”.76
 
Setelah itu harta benda kerajaan majapahit dijarah 
dibawa ke Bintara, antara lain Gong Sekar Dalima, Si Gatayu, 
dan Ki Macan Guguh. Adipati Bintara kemudian ditetapkan 
sebagai Raja Islam pertama di Majapahit bertahta di Demak. 
Babad Tanah Djawi versi Surakarta (yang oleh Ricklefs di sebut “major” babad atau babad utama/babon) 
menceritakan bahwa Adipati Terung diutus Brawijaya 
untuk mendatangi kakaknya, Adipati Bintara, yang sudah 
lama tidak menghadap kepada raja. Ia mengatakan bahwa 
raja sangat menyayanginya dan sangat merindukannya, 
mengapa tidak mau lagi menghadap. Adipati Bintara 
mengatakan bahwa semua terserah pada Raja, ia percaya 
bahwa Raja memiliki kelebihan mengetahui segala 
sesuatunya. Ia mengakui bahwa ia membangun Bintara dari 
pedukuhan kecil menjadi kadipaten yang besar semua 
karena atas restu dari ayahandanya raja Majapahit. Adipati 
Bintara juga mengatakan bahwa ia hanya menjalani takdir 
bahwa di Bintara akan ada Ratu Islam pertama di tanah 
Jawa. Raja Majapahit sangat adil, pemaaf, asih terhadap 
umat Islam, namua ia adalah raja kafir dan ia tidak ingin 
melanggar ajaran agama (syara’), menyembah raja kafir, 
lebih baik mati sabil dan masuk surga. Adipati Terung 
menjawab, kalau begitu sebaiknya jangan tanggung￾tanggung jika ingin melawan Majapahit sekalian saja, ia 
bersedia membantu. Kemudian kaingin untuk 
menakhlukkan Majapahit menjadi bulat dengan dukungan 
para wali di Jawa seperti Sunan Ampel, Sunan Giri dan juga 
raja-raja Islam lain seperti Arya Teja dari Tuban, Arya 
Baripin dari Madura, raja Surabaya dan juga Raja Pandita di 
Gresik. Mereka semua bersatu membantu Adipati Bintara 
menyerang Majapahit. Para prajurit Majapahit banyak yang 
melarikan diri, sehingga pasukan Bintara dapat masuk 
istana. Mendengar Adipati Bintara sudah masuk istana, 
Brawijaya mengajak patihnya segera naik di atas panggung 
sekedar untuk melihat putranya yang sudah lama tidak menghadap. Tiba-tiba dari puri istana yang sudah 
ditinggalkan itu muncul cahaya kilat yang sangat terang, 
kemudian cahaya berpindah dan jatuh jatuh di Bintara 
diiringi suara yang menggelegar dan setelah itu gelap, 
seperti kiamat. Adipati Bintara kemudian masuk di puri 
kraton dan tidak menemui seorangpun di sana. Ia merasa 
menangis dalam hati. Dan kemudian bersama pasukannya 
kembali ke Bintara.77
 
Versi ketiga adalah dari Babad Meinsma memiliki 
kesamaan dengan versi Surakarta, dan tampak jelas bahwa 
ia merupakan ringkasan dalam bentuk prosa dari isi babad 
versi Surakarta, sehingga tidak perlu dibahas secara 
khusus. Namun masih ada satu babad lagi yang penting 
untuk dipertimbangkan yaitu Babad Demak. Naskah ini 
telah disunting oleh Atmodarminto dan telah dimaknai 
lebih lanjut dengan masalah-masalah kemasyrakatan dan 
idiologi negara. Babad Demak memiliki versi sendiri 
tentang runtuhnya Majapahit. 
Dalam Babad Demak diceritakan bahwa keruntuhan 
Majapahit akibat serangan dari Demak, dipimpin oleh 
Raden Patah dan Sunan Kudus. Setelah Majapahit hancur 
Brawijaya, murca atau hilang meninggalkan istana 
kemudian menjadi seorang Ratu Kajiman (raja bangsa Jin) 
di Gunung Lawu, yang kemudian dikenal dengan Sunan 
Lawu. Itu sebabnya hingga sekarang Keraton Surakarta dan 
Yogyakarta masih melakukan ritual sesajen ke tempat 
tersebut. Sementara itu orang-orang Demak tidak hanya 
menjarah harta benda dari istana Majapahit tetapi juga baju keprabon, pakaian raja, bangsal pengapit yang kemudian 
dijadikan bangsal Masjid Gede dan pengrawit yang 
kemudian dijadikan sebagai bangsal pengrawit di pagelaran 
untuk paseban agung sekaligus simbol pergantian raja. 
Sementara itu permaisuri Brawijaya Dyah Ayu Dwarawati, 
karena sudah beragama Islam tidak ikut murca dan 
diboyong ke Demak dan dinikahi oleh Sunan Kudus.78
Seperti dikutip oleh Atmodarminto; 
“Djebeng Kudus sira nuli 
Lumebuwa djroning pura, 
Andjaraha djroning kedaton, 
Bojongen garwaning nata, 
Dyah Ratu Dwarawatya, 
Wanodya Islam pinundjul 
Alapen kinarja garwa. 
Lan brana sadjroning puri, 
Tetilarane sri narendra, 
Miwah kapraboning radjeng, 
Sun pundut karya betuwah, 
Salering panjenengan, 
Pada gawanen sedarum 
Marang negara Bintara 
Lawan kang bangsal pengapit, 
Kan wetan sira gawa-a, 
Sun karja srambi mesjide,
Bangsal pengrawit prajoga 
Ginawa mring Bintara, 
Kinarja paseban agung, 
Oratanda gumanti nata.79
Keruntuhan Majapahit dalam pandangan Historiografi 
Kolonial. 
Sebelumnya telah dibahas bagaimana para sejarawan 
kolonial Belanda telah mengajukan beberapa pendapat 
tentang tahun runtuhnya kerajaan Majapahit. Kemudian 
bagaimana mereka memaknai tentang keruntuhan kerajaan 
Hindu itu? Dalam historiografi kolonial jatuhnya kekuasaan 
Majapahit dianggap sebagai akhir sejarah kebudayaan 
Hindu di Jawa dan dimulainya kebudayaan Islam. 
Sejarawan yang secara eksplisit mengatakan hal ini adalah 
N.J. Krom (1931), Hindoe-Javaansche Geschiedenis. Ia 
menulis: 
“For Java, the flight (of Hindu Javanese dignitaries to 
Bali) if it took place fairly in a large scale, undoubtedly 
meant an impoverishment in cultural matters, for after 
all it was precisely the traditional proponents of 
Javanese culture who were most likely to flee. At the 
moment when the leadership of Java is no longer in 
Hindu-Javanese hands, but rather taken over my 
Islamic rulers, Hindu-Javanese history ends.”80
Sejarawan lain seperti J.G. de Casparis (1963) dan C.C.
Berg (1955)81 juga memberi kesan serupa bahwa para 
sejarawan kolonial Belanda memiliki kecenderungan untuk 
menilai bahwa periode pra-Islam dalam sejarah Jawa 
adalah periode “keemasan” atau kebesaran yang berakhir 
dengan jatuhnya Majapahit. Dan sebaliknya periode Islam 
adalah periode kemunduran besar dalam peradaban Jawa. 
Kesimpulan ini tentu mengundang pertanyaan, mengapa 
para sejarawan kolonial cenderung melakukan glorifikasi 
terhadap periode Hindu Jawa? Bagaimana sebenarnya 
minat mereka muncul terhadap sejarah Jawa dan mengapa 
minat itu dikembangkan? 
Kepopuleran babad Jawa di kalangan para intelektual 
Belanda harus dirunut dari berakhirnya Perang Jawa 
(1825-1830). Diponegoro sang pemimpin Perang Jawa 
menjadi pertanyaan penting bagi mereka yang ingin 
memahami idiologi yang menggerakan perlawanan 
terhadap kolonialisme Belanda ini. Bagaimana seorang 
Jawa yang dimata orang-orang Belanda hidupnya lekat 
dengan mitologi dapat mengaplikasikan idiologi jihat Islam 
seperti yang dihadapai orang-orang Kristen dalam Perang 
Salib di Eropa. Keheranan inipun mendapat kritikan dari 
seorang penginjil Eropa, Gericke, yang aktif di Jawa pasca 
Perang Jawa dan sempat belajar di Pesantren Tegalsari. 
“Bagaimana kalian (para pemimpin Negara Kolonial Hindia 
Belanda) dapat mempertahankan wilayah koloni, jika tidak 
dilandasi pengetahuan yang baik tentang masyarakat 
jajahannya.” Belanda telah eksis di Jawa sejak abad ke-17 
dan mulai mengontrol kekuasaan raja-raja Jawa secara efektif sejak paruh ke dua abad ke-18, namun belum 
menunjukkan adanya minat akademis untuk memahami 
masyarakat jajahannya.82
Sebagai perbandingan, Inggris yang hanya lima 
tahun menguasai Jawa (1811-1816) telah menghasilkan 
banyak kajian akademis yang ditulis oleh para 
pemimpinnya. Thomas Stamford Raffles menulis dua jilid 
History of Java,
83 dan John Crawfurd (Resident Yogyakarta 
pada saat itu) telah menerbitkan beberapa jilid History of 
Indonesian Archipelago.84 Semuanya kini menjadi buku 
klasik yang masih dijadikan rujukan penting dalam 
historiografi modern Indonesia. 
Kritik ini direspon oleh pemerintah kolonial dengan 
mendirikan Instituut voor Javaansche Taal di Surakarta 
yang dipimpin oleh C.F. Winter. Para pegawai muda kolonial 
yang akan ditempatkan

Related Posts:

  • raja majapahit 3 pengaruh India, melainkan karena telah timbul kembali unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli yang&… Read More