Rabu, 19 Juli 2023
Home »
raja majapahit 2
» raja majapahit 2
raja majapahit 2
By video bobo Juli 19, 2023
para penguasa politik di Jawa. Seperti yang tampak pada
aksi Raden Trunojoyo. Walaupun telah berhasil
mengalahkan Amangkurat I dan mengusirnya dari
Kratonnya di Plered pada akhir Juni 1677, Trunojoyo
kemudian memilih memindahkan kekuasaannya di bekas
kota raja Majapahit. Selain itu, Trunojoyo juga mengambil
mahkota Majapahit yang memberikan legitimasi para
penguasa Jawa sebagai penerus dari raja–raja Majapahit di
masa lalu. Ketika posisinya terjepit akibat serangan balik
yang dilakukan oleh Amangkurat II dengan bantuan tentara
kompeni, Trunojoyo menyampaikan akan menyerah
kepada Amangkurat II apabila ia bersedia memindahkan
pusat kekuasaannya ke bekas kota Majapahit di Trowulan
dan berhenti bekerjasama dengan kompeni yang kafir.
Trunojoyo menyebutkan bahwa dengan pemindahan
kembali Kraton oleh Amangkurat II ke Majapahit maka
seluruh Jawa akan tunduk kembali kepada kekuasannyaDalam Serat Centhini, dikisahkan salah satu tokoh
utamanya, Raden Jayengresmi, yang merupakan anak dari
penguasa Giri terakhir sempat berkunjung ke Trowulan
pada awal perjalanannya berkelana mengelilingi pulau
Jawa. Di Trowulan disebutkan beberapa peninggalan yang
menjadi jujukan untuk ziarah yakni Gapura Wringin
Lawang, Makam Puteri Campa, Segaran dan Candi Brahu.
Disebutkan bahwa Jayengresmi ditemani oleh pengiringnya
Gathak dan Gathuk bertemu dengan Ki Parwa, juru kunci
dari reruntuhan yang ada di Trowulan. Pertemuan para
tokoh di Trowulan tersebut disebutkan berlangsung pada
saat usai sembahyang Asar di sore hari.
Dari sedikit catatan dari historiografi tradisional
dapat dilihat bahwa pasca keruntuhannya, Majapahit dan
kota rajanya di Trowulan masih menyimpan daya tarik
untuk dikunjungi, khususnya sebagai tempat ziarah. Para
penulis Bujangga Manik maupun Centhini setidaknya masih
melakukan lawatan ke sana dan menyaksikan peziarah
yang datang ke sana. Begitu juga sumber dari Kidung
Pamancangah menyebutkan bahwa Raja Mengwi dari Bali,
Gusti Agung Anom, mengadakan perjalanan ziarah ke kota
raja Trowulan pada tahun 1714. Hampir sama dengan
catatan Bujagga Manik, beberapa tempat disebutkan yakni
Segaran, Alun–Alun, Wanguntur hingga Keraton15. Dapat
dilihat terdapat kesamaan wacana dari catatan yang berasal
dari tiga daerah yang berbeda ini tentang Majapahit dan peninggalannya di Trowulan, khususnya wacana spiritual
atau religi yang mengemuka. Walaupun tentu tidak hanya
wacana tentang spiritualisme saja yang mengemuka,
namun dari sumber–sumber yang ada menunjukkan
dominasi wacana tersebut setidaknya pada masa sebelum
munculnya aktor baru dengan wacana yang lain atas
Majapahit dan kota raja Trowulan.
Berawal dari kondisi politik yang terjadi di belahan
dunia bagian Eropa, terdapat setidaknya perubahan politik
yang signifikan di Jawa pada dekade kedua abad ke–19.
Pada akhir tahun 1794, Belanda tak dapat menahan invasi
pasukan Napoleon Bonaparte dari Perancis hingga
mengakibatkan penguasa kerajaan saat itu, William van
Orange melarikan diri ke Inggris. Setelah mendapatkan
jaminan perlindungan dari kerajaan Inggris, William segera
memutuskan kebijakan untuk menyerahkan wilayah
koloni–koloni kerajaan Belanda kepada raja Inggris. Jawa,
sebagai salah satu koloni kerajaan Belanda di Asia juga
termasuk di dalamnya. Namun kekuasaan Inggris atas Jawa
baru berlaku sejak tahun 181116. Sejak masa tersebut, Jawa
tidak lagi dibawah perintah seorang Gubernur Jenderal
Belanda, melainkan Letnan Gubernur dari Inggris, Thomas
Stamford Raffles.
Kedatangan Thomas Stamford Raffles beserta
armada Inggris di muara Cilincing Batavia pada bulan
Agustus 1811 disambut dengan konflik bersenjata.
Pemicunya terjadi karena Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens beserta tentara Belandanya tidak mau
menyerahkan kuasa mereka begitu saja. Janssens
merupakan pengganti Marshal Herman Willem Daendels,
seorang bangsawan Belanda yang setia kepada Napoleon
Bonaparte dan Louis Bonaparte yang berkuasa atas wilayah
Belanda pasca invasi. Konflik pun terjadi antara tentara
Inggris dan tentara Belanda. Perlawanan tentara Belanda
yang paling sengit terjadi di kawasan Weltevreeden dan
Meester Cornelis. Tentara Belanda yang bertahan di
Meester Cornelis baru dapat ditundukkan pada akhir bulan
Agustus, namun sang Gubernur Jenderal Jannsens masih
belum mau menyerah dan melarikan diri ke pedalaman
Jawa. Sampai bulan September 1811, barulah Jannsens
menyerah di Salatiga17
.
Ibarat mimpi yang terwujud, Raffles telah berkuasa
penuh atas Jawa dan seluruh wilayah koloni kerajaan
Belanda. Karir dari Raffles menanjak ketika ia berada di
Penang. Selama lima tahun pertama karirnya sebagai
asisten sekretaris Gubernur Penang, Raffles menunjukkan
minat yang besar pada keragaman alam maupun budaya
yang ada di Asia. Sekretaris dari East India Company,
William Ramsay terkesan dengan Raffles yang ketika itu
berusia 25 tahun. Ketika mendapatkan tugas awal dari
Gubernur Jenderal Lord Minto untuk melakukan
pemantauan dan penyelidikan atas Jawa, Raffles
mengerjakannya dengan antusias. Lompatan karir yang
cepat dan impian atas Jawa sebagai Tanah yang Dijanjikan dalam diri Raffles tak bisa lepas dari pengaruh John Caspar
Leyden. Leyden sendiri dikenal sebagai profesor ahli
linguistik, oriental dan juga dokter. Dengan penguasaannya
atas bahasa–bahasa di Asia khususnya India, Leyden
memperkenalkan Jawa kepada Raffles dengan romantisme
oriental. Hingga akhirnya pada saat kedatangan Raffles di
Jawa, Leyden pun ikut bersamanya dalam rangka mencari
manuskrip–manuskrip di Batavia18. Namun keinginan
Leyden untuk mendapatkan manuskrip di Jawa tak dapat
terlaksana karena ia meninggal tak berapa lama setelah
sampai di Batavia19
.
Awal karir Raffles sebagai Letnan Gubernur atas
Tanah yang Dijanjikan menunjukkan perangainya sebagai
sosok yang memiliki keingintahuan besar sejalan dengan
keinginannya untuk menguasai. Berdasarkan suratnya
pada saudaranya, Raffles menyebutkan bahwa
pengetahuan selaras dengan kekuasaan sehingga sudah
selayaknya mereka yang memiliki pengetahuan lebih atas
sesuatu menjadi penguasa atas mereka yang belum
mendapatkan pengetahuan yang sama20. Tak heran
kegiatan survey untuk mengetahui sumber daya alam
maupun tentang kondisi sosial masyarakat setempat
digalakkan. Beberapa tokoh yang memiliki perhatian pada keragaman alam maupun budaya direkrut dan ditugaskan
untuk mengumpulkan data. Para tokoh tersebut antara lain
Kolonel Colin Mackenzie, Kolonel Adams, Mayor Johnson,
Dr. Thomas Horsfield, J. C. Lawrence, Hermanus C.
Cornelius, dan J. W. B. Wardenaar. Tokoh–tokoh tersebut
tidak semuanya adalah orang Inggris dan dari lingkungan
militer, mereka berasal dari beragam latar belakang.
Kesamaan mereka adalah perhatian mereka terhadap
keragaman alam maupun budaya Jawa yang sama
antusiasnya dengan sang Letnan Gubernur.
Segera setelah melakukan serangan atas Keraton
Yogyakarta pada tahun 1812, harta benda yang ada di sana
dijarah dan dibagikan diantara para serdadu yang terdiri
dari gabungan beberapa pasukan. Hal tersebut juga telah
menjadi kebiasaan dalam angkatan perang Inggris. Raffles
menyadari bahwa selain harta benda berupa uang dan
perhiasan, terdapat harta benda lain yang menurutnya tak
kalah berharga yakni manuskrip–manuskrip dan berbagai
artefak peninggalan dari masa lalu21. Beberapa dari barang–
barang berharga ini menjadi aset pribadi dan beberapa
yang lain diberikan untuk koleksi institusi lain. Terkait
dengan institusi pengetahuan, Raffles juga memiliki minat
yang besar untuk mengembangkan institusi semacam ini.
Pada tahun 1813, Raffles dianggap berjasa merevitalisasi
suatu lembaga di Batavia yang konsen terhadap
pengetahuan tentang alam dan budaya wilayah koloni.
Lembaga ini, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen didirikan pada tahun 1778. Namun sejak
tahun 1792, tidak pernah lagi diketahui ada kegiatan
ataupun publikasi. Baru kemudian setelah Raffles berkuasa
dan menjadi Direkturnya, institusi ini kembali hidup
bahkan memiliki gedung sendiri yang dikhususkan untuk
menjadi museum dan ruang pertemuan22
.
Ketertarikan Raffles akan berbagai peninggalan dari
kerajaan Hindu Budha semakin tinggi karena berbagai
faktor. Salah satu faktor yang menonjol adalah pada saat
Raffles berkunjung ke Kraton Surakarta dan Jogjakarta,
termasuk pada masa sekitar penyerangan Kraton
Jogjakarta. Raffles banyak tinggal di Semarang khususnya di
rumah Gubernur Pantai Utara Jawa yang sempat dihuni oleh
Nicolaus Engelhard. Gubernur yang berkuasa dari tahun
1801 sampai tahun 1808 ini memiliki ketertarikan yang
sama dengan Raffles. Bahkan Engelhard juga telah
menginstruksikan beberapa anak buahnya untuk
mengumpulkan benda–benda purbakala dari berbagai
tempat di Jawa dan kemudian dijadikan koleksi pribadi di
kediamannya di Semarang. Enam arca besar yang menjadi
koleksinya berasal dari Candi Singasari di Jawa Timur23
.
Menariknya beberapa anak buah Engelhard ini jugakemudian bekerja pada Raffles, diantaranya adalah
Hermanus C. Cornelius dan J. W. B. Wardenaar. Nama
terakhir inilah yang kemudian banyak membantu Raffles
ketika melakukan survey dan pendokumentasian
peninggalan khususnya yang ada di kota suatu kerajaan
yang telah lama Raffles mengetahuinya, bahkan sebelum
menginjakkan kakinya di Pulau Jawa yakni Majapahit.
Pengetahuan Raffles akan sejarah kerajaan
Majapahit dituangkannya dalam bukunya History of Java.
Dalam bukunya ini, Raffles mendedikasikan lebih dari 30
halaman untuk membahas sejak awal kerajaan Majapahit
berdiri hingga keruntuhannya. Dijelaskan bahwa terdapat
dua versi tentang berdirinya kerajaan Majapahit. Raffles
sendiri berkesempatan untuk mengunjungi kota raja
Majapahit yang telah menjadi reruntuhan pada tahun 1815.
Tidak semua candi maupun reruntuhan yang
didokumentasikan dalam History of Java dikunjungi
ataupun dilihat secara langsung oleh Raffles sendiri. Tim
bentukan Raffles yang terdiri atas beberapa tokoh yang
telah disebutkan sebelumnya yang banyak berperan dalam
pengumpulan sumber–sumber bukunya. Seperti misalnya
Kolonel Colin Mackenzie. Ialah yang melakukan survey atas
reruntuhan Candi Prambanan dan mencatat berbagai
keterangan dari masyarakat setempat. Mackenzie selama
empat hari tiga malam menjelajahi dan mencatat apa yang
ada di dalam maupun di sekitar reruntuhan dengan
ditemani tiga orang penduduk lokal. Candi Borobudur,
reruntuhan lain yang dianggap penting dalam buku History
of Java, pertama kali disurvey oleh Hermanus C. Cornelius24
.
Pada saat kunjungannya ke reruntuhan Borobudur,
Cornelius memerintahkan warga di sekitar Borobudur
untuk membersihkan reruntuhan ini dari semak belukar
dan tumpukan abu vulkanik yang menutupinya. Di Jawa
bagian timur, Dr. Thomas Horsfield, yang lebih banyak
berfokus pada pengamatannya tentang keragaman alam,
mencatat bahwa terdapat suatu Candi peninggalan
Majapahit yang terbuat dari batu bata di daerah Jabung
Probolinggo. Dokter ini juga memberikan catatan tentang
satu kompleks candi di Penataran Blitar. Kompleks candi ini
sama dengan yang dikunjungi oleh Bujangga Manik seperti
yang ada dalam catatan perjalanannya.
Sebelum mengunjungi reruntuhan kota raja
Majapahit di Trowulan secara langsung, Raffles telah
mendapatkan informasi tentang daerah ini setidaknya dari
laporan seorang residen, Letnan H. G. Jourdan. Pada tahun
1813, Jourdan melaporkan kepada Kolonel Mackenzie
bahwa kawasan Trowulan yang berada di dekat Wirasaba
itu dipenuhi oleh rerimbunan pohon dan bambu. Terdapat
beberapa jejak yang dapat dipergunakan untuk melacak
keberadaan kota tersebut. Berbagai arca dan artefak yang
memperlihatkan ciri kehinduan dapat ditemukan dan
masih dalam kondisi yang baik. Masyarakat setempat tidak
dapat menjelaskan dengan baik reruntuhan maupun
temuan–temuan tersebut kecuali mereka percaya akan kekuatan gaib di balik barang–barang tersebut25
.
Dua tahun setelah laporan tersebut, Raffles
mengkonfirmasi laporan tersebut. Tanda akan bekas
kejayaan dari kota raja tersebut lebih tampak dibanding
tempat lainnya di Jawa bagian timur. Raffles juga
mengkonfirmasi bahwa kawasan tersebut telah menjadi
hutan yang didominasi oleh pohon jati. Reruntuhan
pertama di Trowulan yang dijelaskannya adalah dinding
dari suatu kolam. Bangunan ini terbuat dari batu bata dan
masih dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai area
sawah unutk menanam padi. Setelah reruntuhan kolam itu,
Raffles menerangkan tentang kuburan Putri Champa.
Lokasi ini berbentuk kompleks pekuburan dan terbagi atas
tiga ruang yang dibatasi oleh tembok. Masing–masing ruang
terdapat pendopo. Semakin ke dalam ruang utama,
pengunjung harus melewati beberapa anak tangga. Di ruang
utama, terdapat makam dari Putri Champa dengan para
pengiringnya. Keseluruhan makam di kompleks ini
menunjukkan ciri Islam. Ditambahkan pula keterangan
bahwa makam ini dijaga oleh beberapa pemuka agama26
.
Di dekat reruntuhan kolam yang terbuat dari batu
bata itu, Raffles juga menemukan beberapa arca Hindu
seperti Ganesha dan dewa lain yang tak dapat
diidentifikasikan karena beberapa bagian tubuhnya telah
terpotong atau rusak. Selain itu dijelaskan bahwa terdapat
candi yang penuh dengan dekorasi dan ornamen yangindah. Terdapat dua figur yang dicatatnya yakni satu
makhluk separuh perempuan separuh burung dan satu lagi
makhluk yang tidak jelas wujudnya karena rusak, yang oleh
masyarakat setempat disebut sebagai Menak Jingga. Raffles
beranggapan bahwa secara umum hampir semua
peninggalan Majapahit yang ada di kota raja Trowulan ini
tidak banyak merepresentasikan dewa–dewa Hindu. Selain
itu Raffles juga melihat reruntuhan dari Keraton dan
beberapa pintu gerbang di kawasan ini. Hampir di seluruh
kawasan yang tertutup hutan jati sejauh beberapa mil ini,
mudah sekali ditemukan reruntuhan maupun bangunan
dari batu bata. Menurut Raffles, hal tersebut menjadi bukti
bagaimana luas dan kebesaran dari ikon kebanggaan Jawa
ini27
.
Tak lama setelah kunjungannya ke kota raja
Majapahit di Trowulan, Raffles menginstruksikan salah satu
tokoh dalam timnya untuk melakukan pemetaan atas
wilayah tersebut. Mengingat Raffles merasa bahwa sulit
untuk melacak seperti apa gambaran dari kota tersebut.
Apalagi hampir keseluruhan wilayah kota raja tersebut
telah tertutupi oleh hutan jati dan tentu saja secara alamiah
akan merusak reruntuhan maupun bangunan yang ada.
Tugas untuk melakukan pemetaan tersebut dibebankan
kepada seorang pensurvei militer, Kapten Johannes Willem
Bartholomeus Wardenaar. Sesuai keahliannya sebagai
seorang ahli survei dari kalangan militer, Wardenaar
melangkah sesuai standar metode yang telah dipelajari dan
dilakukannya selama ini. Wardenaar sendiri merupakan lulusan dari Kampus Angkatan Laut di Semarang28 yang juga
telah melakukan beberapa survei khususnya terkait dengan
peninggalan Hindu Budha sebelum diinstruksikan oleh
Raffles. Langkah awal yang seharusnya dilakukan sebelum
menggambarkan peta kawasan Trowulan ini, tentu saja
Wardenaar harus melakukan observasi. Di titik inilah
Wardenaar memiliki kelebihan dibandingkan Raffles atau
beberapa pensurvei yang lain yakni ia memiliki
kemampuan untuk berbahasa Jawa, bahasa yang digunakan
oleh masyarakat di sekitar reruntuhan Trowulan.
Peta yang diminta oleh Raffles ini selesai pada
tanggal 7 Oktober 1815 sesuai dengan tanda tangan
Wardenaar sendiri di atas petanya. Semua reruntuhan dan
bangunan yang dilihat oleh Raffles pada saat kunjungannya
di Trowulan yakni reruntuhan kolam, makam Putri
Champa, reruntuhan dengan arca Menak Jingga, Keraton,
dan Gapura Jatipasar diberi tambahan keterangan lebih
lanjut oleh Wardenaar. Reruntuhan kolam diberi tambahan
nama sesuai keterangan masyarakat lokal yakni Segaran.
Gapura Jatipasar juga diberi tambahan penjelasan sebagai
kompleks rumah Gajah Mada. Selain itu, masih banyak
reruntuhan di sekitar kawasan kota raja Trowulan ini
didokumentasikan dengan rinci oleh Wardenaar. Beberapa
candi dan reruntuhan yang dimasukkan dalam petanya
antara lain Candi Brahu, Candi Muteran, Candi Tengah,
Candi Gentong, Cendi Gedung, Gapura Bajang Ratu, arca
Joko Dolog, reruntuhan rumah di pelataran kraton, dan Alun–alun. Peta yang diselesaikan Wardenaar ini kemudian
diserahkan pada Raffles pada akhir tahun 1815. Namun
oleh Raffles, peta ini tidak dimasukkan ke dalam bukunya.
Raffles dalam beberapa kali kesempatan di bukunya
mengungkapkan bahwa telah terjadi pembiaran bahkan
perusakan atas bangunan, arca–arca, dan peninggalan
kerajaan Hindu Budha seiring dengan datangnya agama
Islam dan mayoritas penduduk Jawa kemudian
memeluknya. Padahal di masa kerajaan Hindu Budha,
bangsa Jawa telah mencapai peradaban yang tinggi. Dengan
ditinggalkannya Hindu Budha, terdapat kemunduran dalam
peradaban Jawa. Menurut Raffles, hal ini terbukti dengan
kondisi kerajaan–kerajaan Jawa yang menganut Islam di
Surakarta dan Yogyakarta. Pada sebuah suratnya kepada
sepupunya, Raffles menyatakan bahwa pada masa Hindu
Budha, bangsa Jawa berada dalam kondisi yang sempurna.
Tidak ada kemiskinan dan kelaparan. Pada masa tersebut,
lanjut Raffles, cendekiawan banyak bermunculan dan karya
sastra Jawa banyak ditulis bak cendawan di musim hujan.
Islam hanya menimbulkan perpecahan diantara kerajaan–
kerajaan ini. Semua degradasi yang dialami bangsa Jawa
dialamatkan kepada Islam29
.
Bangsa Belanda juga tak luput dari kritikan Raffles.
Menurut Raffles, sejak awal menguasai Jawa hingga
kedatangan bangsa Inggris, bangsa Belanda telah salah
urus. Kesalahan Belanda yang paling utama adalah tindakan
melakukan monopoli dalam banyak hal khususnya di
bidang ekonomi ketika berinteraksi dengan bangsa Jawa. Banyak kebijakan yang diterapkan bangsa Belanda kepada
bangsa Jawa justru merusak tatanan yang alami30. Dalam hal
kebudayaan, bangsa Belanda juga telah merusak tradisi
Jawa. Begitu pula dengan penanganan peninggalan masa
Hindu Budha. Berbagai bangunan, candi, dan artefak tidak
mendapatkan perhatian yang layak. Perhatian mereka
hanya kepada urusan perdagangan belaka. Tidak ada
kebijakan khusus untuk melakukan penelitian atas berbagai
peninggalan tersebut. Jika ada perhatian, hal tersebut hanya
berada di tataran personal dan baru–baru saja dilakukan.
Lebih lanjut dalam bahasa Raffles, dengan begitu banyak
dan menariknya peninggalan di seluruh Jawa yang
menggambarkan kejayaan masa lalu, hanya dibiarkan
terkubur dalam timbunan sampah31
.
Keyakinan Raffles bahwa bangsa Inggris-lah yang
akan membawa bangsa Jawa kembali pada kejayaannya
tidak pernah terbukti. Tak beberapa lama sesudah
kunjungannya ke kota raja Majapahit di Trowulan ini,
Raffles harus meninggalkan Jawa, Tanah yang Dijanjikan ini.
Raffles mencantumkan di bukunya bahwa pada saat ia
berkunjung ke Wirasaba telah mendapatkan peringatan
dari masyarakat setempat untuk berhati–hati atas nasib
buruk yang akan menimpanya32. Pada akhirnya memang
sang Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles, dan
kemudian disusul pemerintahan Inggris secara
keseluruhan, harus angkat kaki dari Jawa pada tahun 1816.
Warisan Majapahit dan Hindia Belanda
Pasca angkat kakinya pemerintahan Inggris atas
Jawa, bangsa Belanda kembali berkuasa. Tak lama setelah
kembalinya Belanda ini, terdapat konflik berkepanjangan di
Jawa yang kemudian dikenal dengan nama Perang Jawa.
Perang yang bermula dari perlawanan seorang Pangeran
dari Kesultanan Yogyakarta tersebut menyita banyak
sumber daya pemerintahan Belanda yang baru berkuasa
kembali. Perlawanan Diponegoro, sang pangeran tersebut,
baru dapat diredam pada kisaran tahun 1830. Kemudian di
Sumatera bagian barat terdapat juga perlawanan dari kaum
Paderi pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan
Perang Jawa. Belum lagi di negeri Belanda sendiri dimana
terdapat revolusi bersenjata yang kemudian melahirkan
kerajaan Belgia yang merdeka dan berdaulat. Dalam kondisi
seperti itu, dapat dipahami jika kebijakan pemerintah
termasuk pemerintahan di koloni Hindia berupaya untuk
mencari sumber–sumber pemasukan bagi kas negara yang
defisit. Salah satu kebijakan tersebut adalah cultuur stelsel
yang dikeluarkan pada masa Gubernur Jenderal Johannes
van Den Bosch33
.
Kebijakan cultuurstelsel ini membawa berbagai
perubahan dalam masyarakat Jawa. Terlepas dari
kontroversi para pengamat di kemudian hari tentang
diberlakukannya kebijakan ini, perubahan yang tampak
nyata secara langsung adalah perubahan pemanfaatan lahan. Lahan yang dulunya merupakan hutan, dibabat untuk
kemudian dijadikan lahan bagi kebun atau ladang untuk
ditanami beberapa jenis tanaman tertentu. Terdapat
beberapa tanaman yang pada saat itu merupakan
komoditas unggulan dalam perdagangan internasional
diantaranya adalah kopi, teh, tembakau, nila, dan tebu.
Selain semakin banyaknya lahan yang dimanfaatkan untuk
tanaman tersebut, lahan–lahan baru dan infrastruktur
banyak dibangun pada masa ini. Desa dan pemukiman baru
bermunculan, begitu pula dengan pabrik–pabrik yang
menunjang kepentingan ekonomi pemerintah34
.
Pemukiman dan pabrik–pabrik baru bermunculan
juga di Jawa bagian timur. Kawasan sekitar reruntuhan kota
raja Majapahit di Trowulan tak terlepas dari perkembangan
ini. Jonathan Rigg, seorang anggota dari Bataviaasch
Genootschap van Kunsten en Wetencshappen, mencatat
perjalanannya mengelilingi kawasan timur Jawa mulai dari
Surabaya, Kediri, Blitar, Malang dan Pasuruan. Perjalanan
ini berlangsung pada tahun 1847. Diawali dari Surabaya
menuju Mojokerto, Rigg mengamati telah terdapat
beberapa pabrik gula dan perkebunan tebu. Mulai dari
Waru, Krian, Balung Bendo hingga Mojokerto dicatatnya
telah banyak lahan persawahan dikonversi menjadi ladang
tebu dan pabrik gula. Pintu air dan dam dibangun di aliran
anak sungai Brantas. Arus urbanisasi juga meningkat dimana banyak penduduk memilih untuk menjadi buruh di
Surabaya. Di Mojokerto, Rigg bermalam di pabrik gula
Sentanan. Ia juga menjelaskan tentang keadaan kota
Mojokerto khususnya di kawasan Alun–Alun35. Dalam
perjalanannya menuju Kediri, Rigg meluangkan waktu
untuk berkunjung ke Trowulan.
Perhatian terhadap peninggalan masa lalu oleh
Pemerintah Kolonial tampak pada pendirian sebuah Komisi
yang kemudian menjadi Dinas Purbakala atau
Oudheidkundige Dienst. Proyek pelestarian monumen
dimulai dengan melakukan inventarisasi kerusakan yang
ada dan mengumpulkan puing–puing bebatuan penyusun
candi yang telah runtuh. Pengumpulan batu–batuan yang
berserakan di sekitar candi kemudian dijadikan satu untuk
diteliti. Setelah terkumpul, hal yang dilakukan oleh Dinas
adalah memberi pagar di sekelilingnya untuk diamankan.
Pengamanan ini ditambahkan dengan mengangkat
pengawas untuk masing–masing candi. Selain menjaga
candi dan kumpulan puingnya, pengawas ini juga
berkewajiban melakukan perawatan sebanyak dua kali
dalam setahun untuk mencegah tumbuhnya vegetasi yang
akan merusaknya.
Di Jawa Timur, hal ini dilakukan oleh Dinas
Purbakala seperti di Candi Singosari sejak tahun 1914.
Untuk peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, upaya
pelestarian reruntuhan monumen dan peninggalan bersejarah dari masa itu lebih banyak dilakukan oleh
institusi di luar Dinas Purbakala, terutama Museum
Mojokerto yang diprakarsai oleh Adipati Kromodjojo
Adinegoro IV. Museum yang oleh masyarakat disebut
Gedung Arca ini rupanya telah memikat khalayak Mojokerto
khususnya dan Jawa Timur pada umumnya. Pada saat Krom
berkunjung ke sana pada tahun 1910, ia melaporkan bahwa
tidak hanya para pejabat bumiputera maupun orang
terdidik saja yang tertarik berkunjung ke museum, namun
juga masyarakat desa di sekitar kota Mojokerto juga tak
kalah antusiasnya melawat ke Gedung Arca. Pada hari biasa,
pengunjung Museum Mojokerto berkisar 300 sedangkan
apabila hari libur angka ini naik tajam hingga mencapai
1200 orang. Bahkan sampai ada idiom bahwa tidak lengkap
jika berada di kota Mojokerto tanpa berkunjung ke Museum
Mojokerto36. Koleksi peninggalan purbakala Museum ini
yang merupakan favorit pengunjung antara lain arca Wisnu
naik Garuda, arca yang dikenal dengan Menak Jinggo, dan
arca pancuran dengan figur laki–laki dan perempuan. Dua
koleksi terakhir ini berasal dari kawasan Trowulan.
Selain Museum yang merupakan inisiatif penguasa
lokal, terdapat sebuah institusi lainnya yang bukan
merupakan milik pemerintah yaitu Oudheidkundige
Vereeniging Majapahit atau Perkumpulan Arkeologi
Majapahit. Perkumpulan yang berdiri pada tahun 1924 ini muncul atas inisiatif seorang arsitek, Henry Maclaine
Pont37. Karya arsitektur dari Maclaine Pont banyak yang
berbeda dengan karya modern di masa itu. Maclaine Pont
memilih untuk mengembangkan gaya arsitektur tradisional
Jawa. Salah satu karyanya yang terkenal adalah gedung de
Indische Technische Hogeschool di Bandung. Gedung barat
dan timur Sekolah Tinggi ini didesain sedemikian rupa
dengan inspirasi arsitektur tradisional yang ada di Jawa.
Atap gedung juga dibuat dari bahan sirap kayu, salah satu
atap khas yang sering ditemukan di relief–relief candi di
Jawa dan masih digunakan pada bangunan masjid. Menurut
Pont, bangunan modern yang dibangun di Hindia Belanda
seharusnya mengikuti gaya arsitektur lokal Jawa yang telah
bertahan selama ratusan tahun. Pengetahuan para seniman
dan ahli bangunan lokal harus dilibatkan dalam
menentukan seperti apa bentuk arsitektur di Hindia
Belanda ke depan.
Ide dari Maclaine Pont tentang perlunya apresiasi
terhadap gaya arsitektur lokal khususnya Jawa menuai
beragam reaksi. Pertama tentu saja yang kontra terhadap
pandangan Maclaine Pont. Misalnya terhadap bangunan
gedung de Indische Technische Hogeschool. Salah satu
arsitek kenamaan Belanda, H. P. Berlage menganggap
bahwa bangunan yang dibangun mulai tahun 1919 dan
diresmikan pada tahun 1920 itu hanyalah gaya arsitektur Eropa yang ada di Jawa38. Kritikan tak kalah keras muncul
justru dari pengajar Sekolah Tinggi itu, C. P. Wolff
Schoemaker. Menurutnya tidak ada bangunan arsitektur
khas Jawa yang dapat dijadikan inspirasi untuk model
arsitektur Hindia Belanda modern. Jika ada bangunan Jawa
yang memukau menurut arsitek dari Villa Isola ini tak lain
hanyalah bangunan pendopo. Namun jika dibandingan
dengan bangunan lokal lainnya yang ada di tempat lain di
wilayah Hindia Belanda seperti Rumah Gadang dari Minang,
Rumah Adat Batak dan Nias, maka pendopo terlihat lebih
sederhana39.
Pendukung ide dari Maclaine Pont datang dari
Thomas Karsten. Menurut Karsten, bangunan arsitektur
lokal harus menjadi pertimbangan dalam menentukan arah
perkembangan arsitektur Hindia Belanda. Hal itu berarti
juga diperlukan orang–orang bumiputera untuk dididik
dalam pendidikan arsitektur hingga dapat memenuhi
kebutuhan terhadap arsitek bumiputera. Bisa jadi
hubungan Maclaine Pont dan Karsten yang merupakan
kawan sekamar sejak menempuh pendidikan arsitektur di
de Polytechnische School Delft, Belanda. Gelar sebagai
insinyur di bidang arsitektur juga didapat mereka berdua
pada saat yang sama yakni pada 9 Februari 1909. Bahkan
karir Karsten di Hindia Belanda berawal dari undangan
Maclaine Pont yang telah membuka studio atau biro arsitek
di Semarang40. Walaupun tak sedikit pihak yang tetap
kontra terhadap idenya, Maclaine Pont tetap berupaya
memperkuat argumennya dengan mempelajari bahan–
bahan sejarah Jawa khususnya pada masa Hindu Budha.
Maclaine Pont juga memiliki kedeketan dengan para sarjana
yang memiliki kepakaran di bidang kepurbakalaan di
Hindia Belanda. Maclaine Pont tercatat menjadi anggota
dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en
Wetenschappen. Kedekatan ide tentang perlunya apresiasi
terhadap arsitektur Jawa ini membawa Maclaine Pont
menjadi salah satu narasumber kunci dalam sebuah
Kongres yang diadakan oleh Java–Instituut pada tahun
192441. Di dalam Kongres itu selain Maclaine Pont,
pembicara kunci lainnya adalah F. D. K. Bosch yang
merupakan Kepala Dinas Purbakala42.
Pada tahun yang sama, Maclaine Pont mendapat
kesempatan untuk mengunjungi Trowulan dan melakukan
penelitian khususnya tentang reruntuhan bangunan dan
monumen dari Kerajaan Majapahit yang pada umumnya
terbuat dari batu bata. Maclaine Pont mendapat
kesempatan ini karena sedang ditugaskan oleh Burgerlijk
Geneeskundige Dienst ke Surabaya selama tiga bulan.
Setelah terjadi perdebatan diantara para arsitek, Maclaine
Pont akhirnya harus berhenti dari de Technische
Hogeschool di Bandung pada tahun 1920. Sejak keluar dari
Sekolah Tinggi Bandung, Maclaine Pont kemudian bekerja
untuk Dinas tersebut43. Dalam beberapa kesempatan
Maclaine Pont mendapat penugasan di Surabaya, selama itu
ia meluangkan waktu pada akhir pekan untuk pergi ke
Trowulan dengan ditemani oleh Adipati Mojokerto yang
saat itu dijabat oleh Arya Kromoadinegoro I. Adipati yang
baru ini menjabat sejak tahun 1916 menggantikan ayahnya
Aryo Kromodjojo Adinegoro IV yang terkenal antusias
dalam melestarikan peninggalan purbakala.
Dari kunjungannya ke Trowulan, Maclaine Pont
mendapat gagasan dan menindaklanjuti dengan
mendirikan Oudheidkundige Vereeniging Majapahit.
Perkumpulan ini adalah instansi partikelir dan bukan
merupakan cabang dari Oudheidkundige Dienst milik
pemerintah. Walaupun dalam perkembangannya kemudian
beberapa kali instansi ini mendapatkan bantuan dari
negara baik untuk subsidi kegiatan sosial maupun kegiatan
yang terkait dengan penelitian kepurbakalaan. Sumber
pendanaan utama dari Perkumpulan Arkeologi Majapahit
datang dari para pengurus dan anggota–anggotanya yang
didominasi dari unsur industri gula dan pegawai
pemerintahan. Susunan kepengurusan awal dari
Perkumpulan ini adalah sebagai berikut44:
- J. M. Acket (Ketua)
- J. Verboom (Sekretaris merangkap Bendahara)
- R. T. Ario Kromo Adinegoro (Wakil Ketua)
- H. A. Dekker (Komisaris)
- J. Kilian (Komisaris)
Dalam Perkumpulan ini, Maclaine Pont tidak
mengambil peran sebagai pengurus. Di dalam susunan
kepengurusan, tiga diantara lima tokohnya merupakan
sosok penting di industri gula di Jawa Timur. J. M. Acket
yang duduk sebagai Ketua Perkumpulan, merupakan
utusan dari taipan Eschauzier pemilik beberapa pabrik gula
di Mojokerto. Selain itu, ayah dari Maclaine Pont, Pieter
Maclaine Pont adalah Ketua Dewan Penasihat dari
perusahaan Eschauzier sehingga tak heran hubungan
antara keluarga Maclaine Pont dan Eschauzier yang dekat
membantunya dalam pendirian OVM45. J. Verboom sehari–
harinya adalah Sekretaris II dari konsorsium pabrik gula,
algemeen Syndicaat van Suikerfabrikante in Nederland
Indië te Soerabaja. Salah satu komisaris, J. Kilian merupakan
seorang administrator di Pabrik Gula Brangkal Mojokerto.
Pengurus lainnya, R. T. Ario Kromo Adinegoro adalah
Bupati Mojokerto, yang telah dekat dengan Maclaine Pont khususnya ketika mengantarnya dalam beberapa kali
kunjungan awal di Trowulan. sedangkan H. A. Dekker
adalah seorang notaris dan anggota dari Dewan Kota
Mojokerto.
Gambar 1. R. T. Ario Kromo Adinegoro
(sumber: Arsip Keluarga Kromojayan Mojokerto)
Dalam sebuah publikasi yang memberikan
penjelasan tentang OVM, Maclaine Pont memberikan
pengantar tentang latar belakang pendirian perkumpulan
ini. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa Maclaine
Pont meyakini bahwa puncak kebudayaan Jawa yang
menghasilkan beragam capaian di segala bidang termasuk
dalam bidang arsitektur. Hal ini dapat dibuktikan dengan
bangunan yang masih ada dan didukung dengan gambar–gambar bangunan yang ada di relief candi–candi Jawa.
Maclaine Pont mengungkapkan bahwa terdapat masalah
serius dalam perumahan kalangan bumiputera seperti
rumah yang dibangun dengan tidak teratur, jarak antara
satu rumah dengan lainnya begitu dekat, kumuh, dan
lainnya. Apalagi jika dibandingkan pemukiman warga
Eropa yang berada di kota–kota besar, maka akan tampak
perbedaan yang mencolok. Masalah ini semakin sulit
ditangani karena tanggung jawab terhadap perumahan
rakyat Jawa berada di bawah penguasa lokal atau Adipati.
Bentuk OVM yang bukan merupakan institusi
pemerintahan menjadi salah satu solusi terhadap masalah
ini46.
Keadaan perumahan rakyat Jawa yang seperti itu
disesalkan oleh Maclaine Pont mengingat bagaimana
monumen–monumen megah, istana yang agung, candi dan
berbagai bangunan lain pernah dibuat oleh leluhur
penduduk Jawa. Apalagi mereka juga masih memiliki bakat
dan keahlian dalam hal pertukangan seperti yang dapat
dilihat dalam bangunan seperti Keraton di Yogyakarta dan
Surakarta. Mereka juga lebih memahami material seperti
apa yang dibutuhkan dan sesuai dengan lingkungan
setempat. Semakin banyaknya hasil penelitian tentang
sejarah dan kebudayan Jawa membawa angin segar bagi
masyarakat Jawa untuk lebih mengetahui tentang hasil
karya leluhurnya untuk dijadikan inspirasi bagi masa kini.
Untuk melengkapi penelitian yang sudah ada itu, maka OVM
tidak akan meneliti lagi tentang candi atau monumen
melainkan terhadap pemukiman dan masjid–masjid yang
merupakan transformasi dari bangunan Hindu Jawa.
Apalagi dengan lokasi dari perkumpulan ini yang berada di
area reruntuhan yang pernah menjadi Ibukota dari
Kerajaan Majapahit, kerajaan yang diyakini Maclaine Pont
dan banyak sarjana lainnya pada masanya sebagai puncak
dari peradaban Jawa47.
Maclaine Pont juga menyebutkan bahwa banyak
keuntungan yang didapatkan dengan adanya OVM. Bagi
Dinas Purbakala, sudah jelas bahwa keberadaan
perkumpulan ini membantu dalam hal melakukan
penelitian dan pelestarian terhadap peninggalan purbakala
yang ada di wilayah bekas pusat Kerajaan Majapahit. Segala
kegiatan OVM yang berhubungan dengan kepurbakalaan
harus melalui koordinasi dengan Dinas Purbakala.
Keuntungan lain akan diperoleh beberapa organisasi
seperti BGKW dan Javaa–Instituut yang memiliki konsen
terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan maupun
institusi pemerintah di bidang pendidikan seperti de
Comissie voor de Volkslectuur. Tentu saja keuntungan
besar juga diperuntukkan bagi para pejabat lokal maupun
warga di desa–desa Jawa. Dengan adanya berbagai
publikasi baik yang dilakukan melalui lembaga BGKW
maupun melalui media massa yang telah banyak
bermunculan ketika itu. Maclaine Pont berharap diseminasi
pengetahuan dan informasi kepada masyarakat Jawa secara
umum dapat semakin optimal dengan semakin banyaknya
publikasi melalui media massa dan terjemahan terhadap
hasil–hasil penelitian yang dilakukan. Dengan pengetahuan
dan informasi yang ada maka wacana tentang kebersihan
dan kondisi perumahan yang higienis akan lebih cepat
tercapai48.
Tujuan OVM yang seperti itu dan kegiatan yang
dilakukan mencakup kegiatan sosial maupun
kepurbakalaan, rupanya selaras dengan keinginan industri
gula untuk melakukan dan menambah kegiatan sosialnya.
Industri gula di sekitar Mojokerto telah mereguk manisnya
bisnis ini sejak masa diterapkannya cultuur stelsel. Salah
satu pengusaha terkaya di Mojokerto bahkan juga di Hindia
Belanda adalah keluarga Eschauzier. Tak heran pengaruh
keluarga ini sangat besar termasuk juga di pemerintahan.
Sejak dimulainya kebijakan Politik Etis, muncul kondisi
yang kurang mengenakkan bagi para pengusaha pabrik
gula. Mereka dianggap telah mengakumulasi kekayaan
sejak lama dan terus mengeksploitasi rakyat Jawa dengan
keserakahannya. Hal ini dapat dilihat bagaimana para
pengusaha ini mencegah dengan berbagai cara agar lahan–
lahan yang ada tidak dijadikan sawah melainkan tetap
dipertahankan sebagai kebun tebu. Bahkan pemerintah
menuding bahwa kekurangan pangan yang terjadi di
berbagai tempat di Jawa merupakan buah dari para
pengusaha pabrik gula yang tetap mempertahankan bahkan
memperluas kebun tebunya. Dalam situasi yang seperti ini,
Konsorsium pabrik gula, de algemene Syndicaat vanSuikerfabrikanten mengirimkan surat kepada Gubernur
Jenderal pada tahun 1919 untuk menjelaskan posisi dari
para pengusaha dan menetralkan situasi yang memanas
antara pengusaha dan pemerintah49.
Keberadaan pabrik gula di wilayah Mojokerto dan
sekitarnya berpengaruh juga terhadap keberadaan
reruntuhan Kota Raja Majapahit di Trowulan. Mayoritas
bangunan dari masa Majapahit yang tersisa di wilayah ini
kebanyakan terbuat dari bahan batu bata. Apalagi setelah
ditinggalkan, kota ini telah berubah menjadi hutan bahkan
sampai ketika Wardenaar dan Raffles mengunjunginya.
Melihat begitu banyaknya reruntuhan batu bata yang tidak
lagi dimanfaatkan oleh penduduk dan berada di belantara
hutan jati, tentu saja mengundang banyak pihak untuk
memanfaatkannya. Selain dipakai sebagai bahan material
untuk infrastruktur, reruntuhan di wilayah Trowulan
banyak digunakan sebagai material pembangunan pabrik
gula yang ada di Mojokerto dan sekitarnya. Bahkan di dekat
desa Trowulan juga dibangun pabrik gula beserta fasilitas
seperti perumahan dan perkebunan.
Pabrik tersebut terletak di Sumengko berdiri sejak
tahun 1824 dimiliki oleh seorang Tionghoa. Selain
memanfaatkan bahan batu bata yang berasal dari
reruntuhan, beberapa pemilik pabrik baja juga kerap
mengumpulkan benda–benda peninggalan purbakala
seperti arca dan artefak lainnya yang ditemukan pada saat
pendirian pabrik maupun yang berada di lahan perkebunan
tebu di sekitarnya. Seperti yang dilaporkan oleh Knebel
ketika melakukan pendokumentasian di wilayah Trowulan
bahwa setidaknya terdapat beberapa arca dan artefak telah
menjadi koleksi dari pemilik pabrik. Saat itu Knebel dengan
didampingi oleh Adipati Aryo Kromodjojo Adinegoro IV
menemui pemilik pabrik gula, Tan Boen Liang. Koleksi arca
dan artefak yang dipamerkan di taman rumahnya antara
lain arca Siwa Mahakala, Siwa Mahadewa, Makara dan
beberapa pancuran air berbentuk Makara. Terdapat satu
buah arca yang menjadi perhatian Knebel yakni Arca Siwa
Mahakala dengan tinggi 2,35 meter. Arca ini istimewa selain
karena ukurannya, juga karena ukiran penghias yang penuh
ragam. Hiasan tersebut terdapat mulai dari kepala sampai
kain sarung yang dipakai oleh Mahakala50. Figur arca ini
juga khas karena kepalan tangannya menggenggam dan
membentuk lambang lingga yoni seperti gambaran kuku
pancanaka yang dimiliki oleh Bima, salah satu tokoh dalam
Mahabharata dan banyak dipuja sebagai sesembahan di
masa akhir Majapahit.
Dukungan dari para pengusaha pemilik pabrik gula
merupakan sumber utama pendanaan bagi kegiatan–
kegiatan OVM. Proyek yang terkenal pada masa awal
berdirinya perkumpulan adalah penelitian tentang Kota
Raja Majapahit di Trowulan. Metode yang dilakukan oleh
Maclaine Pont pada penelitian ini adalah memadukan hasil
penerjemahan Kakawin Nagarakretagama oleh H. Kern
dengan pengamatan langsung di lapangan dimana masih
terdapat peninggalan purbakala. Maclaine Pont melakukan
penggalian atau ekskavasi arkeologis di lahan dekat
rumahnya. Ekskavasi tersebut dilakukan dengan koordinasi
kepada Kepala Dinas Purbakala. Seperti pengakuan
anaknya, Maclaine Pont setiap siang berkeliling ke rumah
penduduk, sawah, dan ladang tebu di sekitar Trowulan
untuk mendapatkan informasi dari warga setempat tentang
peninggalan purbakala yang pernah ditemukan. Dalam
kesempatan ini, Maclaine Pont juga mengumpulkan
berbagai artefak khususnya terakota dari masyarakat.
Kedatangan Maclaine Pont di desa–desa selalu ditunggu
warga karena ia selalu mengganti temuan tersebut dengan
imbalan berupa uang. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar
kawasan Trowulan menjuluki Maclaine Pont sebagai Mister
Kereweng51.
Melalui penelitiannya, Maclaine Pont mengklaim
mendapatkan berbagai penemuan penting diantaranya
adalah tembok kota Majapahit, Istana atau Kraton tempat
Raja Majapahit bertahta, jalur–jalur kanal dan waduk dari
masa Majapahit serta menentukan orientasi arah kota
Majapahit di masa lalu dengan kondisi yang eksis pada masa
penelitian dilakukan. Menurut Maclaine Pont besaran Kota
Raja Majapahit mencapai 12 x 12 km2 dengan Kraton Raja
Majapahit berada di sumbu tengahnya. Kraton tersebut
menurutnya kini tinggal reruntuhan yang terdapat arca Menak Jinggo. Temuan lainnya adalah tentang jalur kanal
dan waduk dimana menurut Maclaine Pont terdapat kanal–
kanal yang beririsan membelah kota Majapahit. Selain
Segaran, Maclaine Pont juga menemukan sebuah waduk
kuna yang menurutnya mampu memuat 1,1 juta meter
kubik dan dapat mengairi sekitar 50 hektar lahan
persawahan52. Hasil penelitian ini selain dipublikasikan
dalam jurnal rutin seperti Djawa dan Oudheidkundig
Verslag, Maclaine Pont juga kerap menggunakan media
massa untuk menyebar luaskan informasi tentang temuan
maupun ide–idenya. Bahkan melalui media massa
khususnya media cetak, Maclaine Pont mengemukakan
pemikirannya dan kegiatannya selama di Trowulan.
Malaise yang terjadi pada tahun 1930–an, membuat
industri gula Hindia Belanda terpukul. Hal tersebut
berimplikasi dengan berhentinya bantuan dari para
pengusaha gula kepada OVM. Krisis keuangan ini
diperparah lagi dengan berhentinya subsidi untuk kegiatan
arkeologi dari Dinas Purbakala pada tahun 1929. Hubungan
Maclaine Pont dengan Kepala Dinas Purbakala juga semakin
memburuk dengan ketidaksepakatan mengenai beberapa
hal tentang penelitian di Trowulan. Bosch yang dulunya
banyak mendukung Maclaine Pont, menyebut bahwa
hipotesis Maclaine Pont tentang Kota Raja Majapahit di
Trowulan tidak terbukti dan berbeda dengan penelitian
termutakhir yang dilakukan oleh Dinas Purbakala selama tahun 1929. Kepala Dinas Purbakala yang menggantikan
Bosch, W. F. Stutterheim bahkan menunjukkan kelemahan
dari Maclaine Pont dengan membuktikan bahwa Kota Raja
Majapahit tidak memiliki tembok keliling. Kelemahan
utama Maclaine Pont adalah tidak menguasai bahasa
sumber dari Kakawin Nagarakretagama maupun prasasti
dari masa Majapahit yakni Jawa Kuna. Hubungan dengan
Dinas Purbakala semakin buruk terkait isu tentang metode
Maclaine Pont dalam memperlakukan peninggalan
purbakala yang masih terkubur dalam tanah. Seperti yang
dijelaskan sebelumnya bahwa Maclaine Pont setiap hari
selalu berkeliling kawasan Trowulan untuk mengumpulkan
benda purbakala. Hal tersebut menjadikan penggalian
untuk mencari artefak semakin banyak dilakukan dan tidak
terkendali. Padahal sesuai kaidah ilmu arkeologi,
penggalian atau ekskavasi tidak bisa dilakukan
sembarangan dan ketika terdapat temuan yang terbuat dari
bahan material yang rawan seperti batu bata harus segera
ditutup dengan tanah kembali. Maclaine Pont bersikeras
bahwa jika tetap dibiarkan terkubur maka lambat laun
peninggalan purbakala ini tetap rusak karena lahan akan
dipakai sebagai sawah atau ladang tebu53.
Walaupun tidak mendapat simpati dari Dinas
Purbakala, Maclaine Pont tetap melanjutkan pekerjaan
OVM. Kritikan tentang metode penggalian yang dilancarkan
oleh Stutterheim, dijawab oleh Maclaine Pont dengan
mendirikan suatu museum terbuka. Museum terbuka ini
dirancang untuk memayungi lahan dimana Maclaine Pont melakukan kegiatan ekskavasi. Rancangan Maclaine Pont
untuk museum terbuka ini menunjukkan kecondongannya
tentang arsitektur yang terinspirasi dari bangunan yang ada
di Jawa. Atap museum menggunakan sirap kayu seperti
yang tergambar dalam relief–relief dari masa Majapahit
yang ada di Trowulan. Rupanya rancang desain museum
terbuka ini mendapat penerimaan yang baik di masyarakat
termasuk warga Belanda.
Selain Maclaine Pont dan Stutterheim, terdapat
seorang Eropa lainnya yang melakukan publikasi tentang
Majapahit pada kurun waktu tersebut yakni F. M. Schnitger.
Dalam majalah bulanan Nederlandsch Indië oud en nieuw,
Schnitger menuliskan riwayat Gajah Mada. Artikel
Schnitger ini ditulis bertepatan dengan 600 tahun
diangkatnya Gajah Mada sebagai Rakryan Mapatih Kerajaan
Majapahit. Menurutnya, Gajah Mada tak ubahnya seperti
Otto van Bismarck di Eropa yang berhasil menaklukkan
wilayah yang luas dalam satu panji kerajaan. Dalam tradisi
Jawa disebutkan jika berbicara tentang kejayaan Majapahit,
maka tak akan lepas dari Gajah Mada sebagai aktor utama.
Walaupun karir cemerlangnya ternodai akibat kebijakan
tangan besi seperti yang diperlihatkan pada momen
bentrokan dengan Sunda. Schnitger mengamini gagasan
bahwa Gajah Mada berjasa dalam menyatukan wilayah Asia
Selatan mulai dari Jawa hingga Filipina, New Guinea hingga
Malaka. Dalam artikelnya, Schnitger juga menyertakan
beberapa gambar yakni Gapura Bajang Ratu dan fragmen
artefak. Salah satunya adalah potongan terakota yang
menjadi koleksi OVM dan diduga sebagai gambaran potret
diri dari Gajah Mada. Dijelaskan pula bagaimana karakter wajah arca ini yang penuh kuasa,
Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa
keruntuhan kerajaan Majapahit pada abad XVI tidak
menghilangkan pamornya. Kejayaan yang pernah dicapai
Kerajaan Majapahit terekam dari berbagai peninggalannya
mulai dari karya sastra hingga peninggalan bendawi.
Masyarakat nusantara khususnya Jawa, Bali, dan Sunda
masih memanfaatkan Majapahit beserta peninggalannya di
Trowulan. Kondisi tersebut dapat disimak dari
perkembangan kehidupan sosial politik maupun budaya
dimana Kerajaan Majapahit memegang peranan penting
sebagai tolok ukur suatu entitas negara yang ideal.
Pandangan seperti ini bahkan terus melekat hingga
beberapa abad setelah keruntuhan Majapahit.
Pasca keruntuhan Majapahit, berbagai kerajaan
baru yang bermunculan di Jawa dan Bali mendapatkan
legitimasi dengan menyatakan para pendirinya merupakan
keturunan langsung dengan para raja Majapahit. Selain
secara genealogis, kepenguasaan atas berbagai pusaka
Majapahit merupakan hal penting bagi para raja Jawa
setelah Majapahit. Bagi kalangan bangsawan, Majapahit dan
peninggalannya di Trowulan dimanfaatkan untuk
kepentingan politiknya terutama dalam memberikan
legitimasi sebagai keturunan dari raja Majapahit yang
mampu membawa masyarakatnya menuju kesejahteraan.
Tak heran peninggalan dari masa Majapahit merupakan hal
yang penting bagi para penguasa setelah Majapahit.
Keberadaan bangsa Eropa yang semakin meluas
pengaruh kekuasaannya atas Jawa ternyata tak jua
menghilangkan pengaruh Kerajaan Majapahit. Imaji atas
kebesaran dan kejayaan masa lalu Majapahit justru
mendapat tempat penting di mata orang Eropa khususnya
sejak masa Raffles. Majapahit dan peninggalannya di
Trowulan ditempatkan sebagai objek berharga yang harus
dilestarikan. Bagi Raffles, puncak peradaban bangsa Jawa
pernah dicapai pada masa lalu khususnya di masa Hindu
Budha. Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan terbesar pada
masa Hindu Budha merupakan salah satu buktinya. Setelah
kedatangan Islam, kejayaan bangsa Jawa justru merosot.
Beberapa sarjana lain seperti Jonathan Rigg melakukan
perjalanan ke Trowulan seperti yang pernah dilakukan
Raffles sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh mereka
menghasilkan rintisan dokumentasi yang dianggap penting
dalam ilmu pengetahuan modern. Hasil karya mereka
menjadi warisan bagi para sarjana generasi berikutnya
yang melakukan penelitian atas Majapahit dan
peninggalannya di Trowulan.
Bahwasanya Majapahit mencapai kebesarannya
pada abad ke XIV sudah diketahui umum, terutama
berdasarkan keterangan-keterangan di dalam
Negarakrtagama, yang menunjukkan wilayah pengaruhnya
meliputi wilayah lebih luas dari pada kepulauan Nusantara
dewasa ini. Di dalam karyanya itu Prapanca juga
mengungkapkan banyak keterangan tentang masyarakat
Majapahit dengan tenunan sosial, tidak hanya struktur
sosial beserta stratifikasinya, tetapi juga struktur
kekuasaan beserta hirarki dan pelbagai elite kekuasaannya
(Sartono Kartodirdjo, 1992:33).
Berkat wawasan Prapanca pelbagai segi tekstur
masyarakat Majapahit terungkapkan, sehingga
terbentanglah kanvas sosial secara jelas sebagai latar
belakang sistem politik beserta tata pemerintahannya. Ahli
purbakala dan sejarawan amat beruntung mewarisi jenis
historiografi yang lain dari pada yang lain, yaitu
Negarakrtagama yang tidak lagi ditulis berdasarkan
pandangan dunia kosmis-magis serta mitologis, tetapi
terutama memuat deskripsi empiris tentang realitas sosial,
politik dan kultural kerajaan Majapahit (ibid).
Namun apakah Negarakrtagama juga menyebut
kondisi yang sebaliknya, artinya apakah peristiwaperistiwa kegoncangan politik yang disebabkan oleh adanya pemberontakan terhadap kekuasaan juga
disinggung oleh Prapanca. Nagarakrtagama pupuh XLVIII/2
menyebutkan bahwa Majapahit pada masa pemerintahan
Jayanegara (1309–1328 AD) terjadi pemberontakanpemberontakan oleh Nambi dan Kuti. Adapun Pararaton di
samping Nambi dan Kuti, menyebut lebih lengkap
pemberontakan yang terjadi pada saat itu antara lain
peristiwa Juru Demung (1235 C), Gajah Biru (1236 C),
Mandana, Wagal, Lasem. Nambi, pemberontak yang sangat
terkenal itu sebenarnya adalah sahabat setia Raden Wijaya.
Prasasti Kudadu (1216 C) menyebut demikian :...”kari ta
rwawlas siki wadwa Cri Maharaja rumaksa i sira rabina
sakamantyan ri prabbatakala....”. namun nama kedua belas
orang tersebut tidak disebut dalam prasasti itu. Adapun
Pararaton menyebut tentang nama-nama sahabat setia
Raden Wijaya yang terus mengikutinya antara lain: Sora,
Ranggalawe, Pedang, Dangdi, Gajah Panggon, Nambi, Kuti
dan Semi (Riboet Darmosoetopo, 1992:49).
Kegoncangan politik terus berlanjut terutama
setelah meninggalnya patih Gajah Mada membuat lebih
suramnya kekuasaan Majapahit. Negarakrtagama
memberitkan bahwa setelah Gajah Mada meninggal dunia
kemudian diadakan perundingan untuk memilih seorang
tokoh yang pantas menggantikan jabatannya sebagai patih
Majapahit. Di dalam perundingan itu tidak satupun yang
berani mengganti kedudukkan patih Gajah Mada. Akhirnya
untuk mengisi kekosongan jabatan patih dibentuklah
dewan yang terdiri atas tiga orang yakni pu Tanding, pu
Nala dan pu Dami. Hal ini menggambarkan akan mulai
melemahnya kerajaan Majapahit apalagi sepeninggal raja Hayam Wuruk.
Hayam wuruk diganti oleh Wikramawardhana yang
mengawini Kusumawrdhani puteri Hayam Wuruk. Setelah
11 tahun ia memerintah kemudian diganti oleh puterinya
bernama Suhita yang memerintah pada tahun 1429–1447
AD. Nampaknya penobatan Suhita menjadi raja
menimbulkan pertentangan antara keluarga
Wikramawardhana dengan keluarga Bhre Wirabhumi anak
Hayam Wuruk dari selir. Bhre Wirabhumi tidak setuju bila
Suhita naik tahta. Persengketaan ini akhirnya menjadi
perang selama tiga tahun terkenal dengan nama perang
Paregreg.
Gambaran sejarah kegoncangan politik kerajaan
Majapahit tersebut disusun oleh para ahli berdasarkan
keterangan yang diambil dari kitab kesusteraan
Negakrtagama dan Pararaton. Kajian terhadap tinggalan
arkeologi yang bersifat tangible lainnya seperti arca dan
bangunan candi misalnya yang bisa dijadikan bukti tentang
goncangnya kekuasaan politik Majapahit belum pernah
secara khusus di bahas. Karena itulah tulisan ini akan
membahas artefak yang berhubungan dengan kegoncangan
politik tersebut.
Arca Ikan
Berdasarkan laporan Belanda dalam Raportten
Oudheidkundige Diens (ROD) 1907 dicatat bahwa di dukuh
Bata-Paloeng, Trowulan, distrik Mojokerto terdapat arca
ikan yang oleh penduduk setempat disebut Bata-Paloeng
atau Ikan Paloeng . Kondisi arca pada saat ini hanya tersisa
bagian kepalanya dan berukuran relatif besar tingginya lebih satu meter dengan kelilingnya 2,4 meter. Sudah
barang tentu pembuatan arca ikan yang berukuran besar
mengundang penafsiran makna sebagai tinggalan
arkeologi.
Dalam masa-masa yang sangat tua pemujaan
terhadap binatang merupakan gejala budaya yang bersifat
universal, terdapat di Mesopotamia, India, Cina, Mesir, dan
Jepang. Kebudayaan Mesopotamia misalnya sangat banyak
mengadopsi binatang sebagai simbol. Beberapa dewa
mempunyai atribut binatang, yang kadang-kadang
digambarkan di samping dewa atau dewa berdiri di atas
atau di belakangnya. Bahkan secara khusus unsur binatang
digambarkan secara mandiri seperti di Kassite Kudurus. Di
dalam kertas kerjanya yang dipublikasikan pada tahun
1939, seorang arkeolog terpandang, Douglas van Buren,
mengumpulkan catatan mengenai seluruh spesies binatang
yang terdapat pada monumen-monumen di Mesopotamia.
Di antara binatang-binatang tersebut terdapat jenis singa,
panther, kuciang liar, serigala, anjing, beruang, lumbalumba, dan ikan (J.M.Aynard , 1972:43).
Di Indonesia, khususnya di Jawa figur ikan
menduduki tempat yang religius dan masih kuat
dipengaruhi oleh keyakinan-keyakinan dari India.
Manifestasinya masih dapat dijumpai di dalam kitab-kitab
kesusteraan, relief-relief candi, arca-arca, serta prasati.
Di dalam Adiparwa disebutkan bahwa ada seorang
raja yang bernama Basuparicara yang memuja dewa Indra.
Ketika sedang berburu, maharaja Basuparicara melihat
bunga-bunga yang sedang mekar, sehingga teringatlah dia
akan kemolekan permaisurinya Dewi Girika. Oleh karena itu keluarlah air kamanya yang kemudian ditampung
dengan sehelai daun. Kemudian dipanggilah burung elang
yang membawa bidadari yang dikutuk menjadi ikan dan di
taruh di daun. Ikan tersebut lalu bunting dan lahirlah dua
bayi, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki bernama
Matsyapati yang kemudian menjadi raja Wirata, sedang
yang perempuan bernama Durghandini karena baunya
seperti ikan. Durgahandini kemudian kawin dengan
Begawan Paracara dan dari keduanya inilah akhirnya
secara turun temurun lahir keluarga Pandawa (Adiparwa,
1958:85-87). Dalam kitab yang lebih muda yaitu Tantri
Kamandaka, terdapat pula tentang dongeng ikan tiga
bersaudara. Inti ajaran moral dari dongeng tersebut adalah
bahwa barang siapa berdaya upaya lebih dahulu, dan
bijaksana dalam hal keduniawiaan, pasti akan
mendapatkan kesenangan. Dan yang meremehkan kasih
sayang saudaranya, itu namanya tanpa pikiran, bermainmain untuk menemukan ajalnya (L. Mardiwarsito,
1983:101-103).
Dari ke dua kitab susastra tersebut dapat dipahami
bahwa mitos tentang ikan mempunyai makna yang
berbeda. Di satu sisi di dalam Adiparwa ikan merupakan
bagian yang sangat penting dari isi cerita secara
keseluruhan, sebab di situ disebutkan bahwa ikanlah yang
pada dasarnya menjadi cikal bakal dari keluarga Pandawa.
Meskipun tidak dijelaskan secara gamblang siapa
sebenarnya si ikan itu sendiri karena hanya dikatakan
sebagai perwujudan dari bidadari yang kena kutukan.
Sedangkan di dalam Tantri Kamandaka, figur ikan tidak
berkaitan dengan tokoh-tokoh sentral ceritera yang meresap di sanubari masyarakat. Dengan demikian dalam
Tantri Kamandaka ini ikan semata-mata dipakai sebagai
media untuk menyampaikan pesan-pesan moral (Edi
Triharyantoro, 1994:57).
Secara lebih luas, ikan sebagai binatang mitos
sangat dikenal baik dalam agama Buddha maupun Hindhu.
Sebagai contoh ialah simbol dua ekor ikan (Matsya-Yugma),
mempunyai makna sendiri-sendiri dalam agama Buddha
dan Hindhu. Dalam agama Buddha, Matsya-Yugma berarti
lambang kebahagiaan dan persatuan atau salah satu bentuk
dari astamanggala. Sedang dalam agama Hindhu, Matsya
Yugma adalah lambang dua sungai suci yaitu Gangga dan
Yamuna. Ikan dalam agama Hindhu juga dikenal sebagai
kendaraan Dewa Waruna dan Dewi Gangga. Di samping itu
juga dipakai sebagai atribut oleh Gauri, Sivaduti, Varahi
serta merupakan salah satu avatara yang sangat terkenal
Dewa Wisnu sebagai Matsya-Avatara.
Sebagai Avatara Wisnu yang pertama, Matsya
digambarkan sebagai ikan yang sangat besar. Disebutkan di
dalam mitologi bahwa ketika dunia dilanda banjir bandang
dan tenggelam, ketika itu para setan merampas kitab suci
Veda dari tangan Sang Pencipta dan kemudian
menceburkannya ke lautan. Matsya kemudian menolong
Manu mansia pertama di dunia untuk mendapatkan Veda
kembali. Versi cerita lain menerangkan bahwa ketika dunia
diserang banjir, Manu simanusia pertama ditolong oleh
seekor ikan sangat besar (Jhasa) yang hakekatnya
merupakan pengejawantahan Dewa Wisnu di dunia. Ketika
kapal sudah akan tenggelam, Manu kemudian
menggunakan Naga Vasuki untuk talinya yang diikatkan pada tanduk Jhasa . Oleh Jhasa perahu tersebut ditariknya
ke sebuah gunung, sehingga selamatlah Manu dan
selamatlah mansusia di dunia (Margareth Stutley, 1985:91).
Idealisme konsep Matsya ini nampaknya yang
dipakai oleh Jayanegara untuk legitimasi politik maupun
spiritual di dalam mengelola kegoncangan-kegoncangan
kekuasaan selama pemerintahannya. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya prasasti yang berlencanakan
sepasang ikan yang dikeluarkannya yaitu prasasti Sidoteka
yang berangka tahun 1323 Masehi. Penggalan prasasti itu
berbunyi :”...sesuai dengan perintah Sri Baginda Maharaja
kepada desa Tuhanyaru dan Kusambian, maka perintah raja
yang mulia itu supaya dilaksanakan dan diberi lencana
sepasang ikan...”(Muhammad Yamin, 1962:51).
Bahkan di dalam prasasti Jayanegara I berangka
tahun 1316 Masehi jelas-jelas disebutkan adanya
keterkaitan tentang pemberontakan yang terjadi di
Walambangan dan pemujaan kepada Hyang Iwak. Prasasti
itu artinya sebagai berikut “...itu menimbulkan rasa terima
kasih yang tiada tara dalam sanubari Sang Baginda
Maharaja yang menyebabkan Baginda Raja menurunkan
anugerah ke pada rakyat Belambangan pemuja ikan dan
mengangkat daerahnya menjadi sima...” Konsep ini dapat
dihubungkan dengan kondisi politik pada saat itu. Seperti
telah disinggung sebelumnya bahwa pada masa
pemerintahan Jayanegara banyak pemberontakanpemberontakan yang sempat menggoncangkan politik
kekuasaannya. Sebagai upaya menyelamatkan kerajaannya
sebagai pusat magis, maka sudah sepantasnya bila
Jayanegara kemudian menggunakan ikan besar sebagai Matsya-Avatara untuk menyelamatkan negara dan
rakyatnya.
Bangunan Suci Berundak
Menurut Negarakrtagama Majapahit memiliki
beberapa macam bangunan suci. Bangunan suci pertama
adalah (su)dharma haji, yang jumlahnya 27 dan menjadi
tanggung jawab seorang dharmadhyaksa. Jenis kedua
adalah dharmalepas prathista Siwa yang terdiri dari 9 kuti
balay, 5 parhyang, 4 prasadha haji dan 20 spathikeyang
yang kesemuanya menjadi tanggung jawab seorang
saiwadhyaksa atau dharmadhaksya ring kasaiwan. Jenis
ketiga adalah dharma kasogatan yang terdiri atas 43
kawinayan dan 50 kabajradaran, penanggungjawabnya
adalah bodhadhyaksa atau dharmadhyaksa ring kasogatan.
Jenis keempat adalah karesyan yang jumlahnya hanya 7 dan
diawasi oleh seorang mantri her-haji (Soekmono dan
Inayati Adrisianti, 1992 : 67-69).
Sebagaimana kita ketahui bahwa bangunan candi
itu melambangkan alam semesta dengan trilokanya. Kata
candi melambangkan bhurloka, atau dunia tempat manusia
berpijak, tubuh candi melambangkan bhuwarloka atau
dunia tempat menusia telah mencapai tempat kesucian dan
kesempurnaan dan karena dapat berhadapan dengan dewa
atau nenek moyang yang dia puja. Adapun atap candi
melambangkan swarloka atau dunia para dewa dan roh
nenek moyang. Kalau penggambaran alam semesta yang
tegak lurus itu kita rebahkan, maka akan diperoleh susunan
bagian mendatar menjadi bagian depan, tengah, dan
belakang. Dalam hal ini bagian belakang lebih tinggi dari bagian tengah, dan bagian tengah lebih tinggi dari bagian
depan. Bilamana diterapkan pada sebuah bukit, maka
hasilnya akan menjadi apa yang disebut sebagai punden
berundak (Ibid:78).
Struktur bangunan suci yang berundak-undak
tersebut dalam kenyataannya dijumpai pada zaman
Majapahit Akhir. Di gunung Penanggungan yang menurut
catatan van Romondt banyak bangunan suci berundakundak bertebaran di lereng dan atas yang jumlahnya sekitar
82 bangunan.
Adanya perubahan yang sangat mendasar dari
aspek seni bangun di Jawa Timur, khususnya pada masa
Majapahit akhir, telah menimbulkan pendapat yang
mengatakan bahwa perubahan gaya seni bangunan di Jawa
Timur dari berubah total dari Jawa Tengah karena adanya
penurunan mutu. Pendapat ini ditentang oleh N.J. Krom dan
W.F. Stutterheim yang mengatakan bahwa perubahan gaya
seni arca dan bangunan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
bukanlah karena lunturnya mutu yang berkaitan dengan
surutnya pengaruh
Related Posts:
raja majapahit 2 bagi para penguasa politik di Jawa. Seperti yang tampak pada aksi Ra… Read More