Rabu, 12 Juli 2023

pendidikan jaman belanda

Sejak awal abad kesembilan belas, 
pemerintah kolonial Belanda mulai 
berkuasa di Hindia Belanda (Indonesia) 
menggantikan VOC (Vereenigde 
Oostindische Compagnie) yang bubar 
pada tanggal 31 desember 1799 dan 
seluruh aset miliknya dikuasai oleh 
Negara Belanda. Bubarnya VOC 
disebabkan kesalahan urus dan persoalan 
korupsi para pejabatnya.2
 Selanjutnya, 
sebuah komisi Negara yang diketuai 
Sebastian Cornelis Nederburg bergelar 
komisaris jenderal dibebani tugas bidang 
administrasi, hukum, dan pertahanan. 
Barulah kemudian pada tahun 1808, si 
tangan besi, Herman Willem Deandels 
mengawali kekuasaannya sebagai 
gubernur jenderal di Hindia Belanda. Di 
antara kebijakannya adalah memangkas 
kekuasaan penguasa-penguasa lokal. Ia 
hanya tiga tahun berkuasa (1808-1811) 
yang kemudian digantikan oleh Thomas 
Stamford Raffles (1811-1816) yang 
mewakili penguasa Inggris di tanah 
bekas jajahan Belanda. Pada masanya 
terjadi sedikit pembaharuan. 
Kebijakan-kebijakan gebernur 
jenderal berikutnya bukan memperingan 
beban rakyat Hindia Belanda, bahkan 
semakin mempersulit keadaan, misalnya 
dengan penerapan cultuurstelsel.
 Sistem 
ini hanya menguntungkan pemerintah 
kolonial dan sedikit menguntungkan 
penguasa lokal akan tetapi sangat 
memperberat kehidupan rakyat jajahan. 
Berikutnya, pada era liberal hingga era 
politik etis, rakyat tetap saja menderita 
dan tidak banyak mengalami perubahan. 
Kondisi-kondisi inilah yang membuat 
rakyat semakin meningkatkan banyak 
perlawanan bersenjatanya4
 menyerang 
penjajah Belanda.
Sebenarnya, perlawanan 
abad XIX rakyat Banten merupakan 
kelanjutan dari abad-abad sebelumnya. 
Sebagaimana kita ketahui, Sultan 
Ageng Tirtayasa (1651-1683 M) 
gigih mempertahankan Kesultanan 
Banten dari kejahatan adu domba yang 
dilakukan oleh kaum kompeni antara 
dia dan putra mahkota, Sultan Haji, 
yang berujung tergerusnya kekusaan 
kesultanan oleh kompeni. 
Disamping itu, perlawanan 
terhadap Belanda di abad XIX muncul 
juga di berbagai daerah seperti Perang 
Jawa di bawah pimpinan Pangeran 
Diponegoro, Perang Padri di bawah 
pimpinan Imam Bonjol yang bergejolak 
di Sumatera Barat, Perang Batak dan 
Perang Aceh di Sumatera Bagian Utara.5
Bahkan, perang yang tak kalah penting 
adalah perlawanan rakyat Banten yang 
tak henti-hentinya sejak awal abad ini sampai peristiwa Geger Cilegon 18886
yang dikomandoi oleh K.H. Wasyid. 
Peristiwa-peristiwa perlawanan 
rakyat Banten didukung, dipelopori 
dan dipimpin oleh para Ulama, kaum 
bangsawan, dan Jawara bahkan 
para Srikandi7
 Banten, di antaranya 
adalah Nyai Gumpara, Tumenggung 
Muhammad, Demang dari Menes, 
Mas Jakaria, Ratu Bagus Ali, Pangeran 
Radli, Mas Jebeng (putera Mas Jakaria), 
Mas Anom, Mas Serdang, Mas Adong, 
Mas Anjung (Puteri Mas Jakaria), Nyai 
Permata (Ibu Nyai Gumpara), Raden 
Yintan, Pangeran Lamir, Sarinam, Mas 
Derik, H. Wakhia, Tubagus Ishak, Mas 
Diad. Peristiwa perlawanan petani 
Banten pada 1888 diinspirasi, dipimpin, 
dan/atau dipelopori oleh K.H. Abdul 
Karim, K.H. Tubagus Ismail, dan 
K.H. Wasyid. Selain mereka, tokoh 
yang juga berperan dalam perlawanan 
rakyat Banten adalah Haji Singadeli, 
Haji Asnawi, Haji Abu Bakar, dan Haji 
Marjuki.8
Para pejuang dan pahlawan 
Banten di atas memiliki semangat jihad yang kuat yang didasarkan 
pada keyakinan keagamaan bahwa 
kaum penjajah adalah orang kafir 
yang menzhalimi kaum Muslimin 
sehingga rakyat Banten wajib untuk 
memeranginya. Demikian yang dapat 
kita telusuri dari motivasi dan pendorong 
mereka untuk berperang; artinya 
hanya ada dua kata kunci bagi mereka, 
yaitu Jihad dan Perang. Hal demikian 
yang menjadikan K.H. Wasyid rela 
mengorbankan jiwa dan raganya demi 
mempertahankan harkat dan martabat 
rakyat Banten yang memang ia buktikan 
dengan wafatnya beliau di medan perang 
sebagai syahid dan pahlawan.
K.H. Wasyid memiliki semangat 
perjuangan menegakkan kebenaran 
Amar Ma’ruf Nahi Munkar sejak 
usianya masih muda. Darah pejuang 
yang dimiliki K.H. Wasyid diwariskan 
dari ayahnya, Abbas, yang pada tahun 
1850 bersama H. Wakhia melakukan 
perlawanan bersenjata. Dalam 
perjuangannya, ia memiliki keahlian 
dan kemampuan strategis, misalnya 
bagaimana ia melakukan komunikasi￾komunikasi politik dengan para 
ulama, jawara, dan pejuang-pejuang 
lainnya di Banten dan luar Banten 
untuk terlibat dalam perang melawan 
penjajah Belanda. K.H. Wasyid juga 
dikenal sebagai seorang ulama yang 
berdakwah dari satu tempat ke tempat 
lainnya terutama mengajak umat 
menjauhi perbuatan syirik. Akibat dari 
sikap tegas menegakkan ajaran Islam 
di tengah masyarakat ini, K.H. Wasyid 
menghadapi meja pengadilan sebelum 
peristiwa Geger Cilegon 1888.Sejak didirikan oleh Sunan 
Gunung Jati, Banten sebagai sebuah 
kesultanan sudah sangat menarik bagi 
para pedagang untuk merapatkan 
kapalnya di pelabuhan Banten, baik 
yang berasal dari Eropa maupun Asia 
termasuk Nusantara.9
 Kemudian, pada 
era sultan-sultan berikutnya; Sultan 
Maulana Hasanuddin, Sultan Maulana 
Yusuf sampai Sultan Ageng Tirtayasa, 
menurut Claude Guillot, Banten masih 
menarik karena 1) sepenuhnya merdeka; 
2) merupakan periode yang cemerlang, 
khususnya tahun 1670 M; dan 3) 
Sultan Ageng Tirtayasa masih berkuasa 
penuh.
Sekalipun demikian, negara 
satelitnya, Jayakarta sudah lebih dulu 
jatuh ke tangan J.P. Coen pada 1619 dan 
mengganti namanya menjadi Batavia.
Artinya, upaya VOC menggerogoti 
kekuasaan kesultanan Banten sudah 
dimulai, di antaranya dengan berupaya 
mengurangi peran pelabuhan Banten.
Upaya-upaya VOC di Batavia 
yang sudah dikuasainya menggembosi 
peran pelabuhan Banten. Hal ini sangat 
dirasakan oleh Abdul Fath (Sultan 
Ageng Tirtayasa) yang mulai berkuasa 
tahun 1651. VOC dianggap menghalangi 
usaha Banten memajukan perdagangan. 
Namun, beliau tetap dianggap berhasil 
dalam bidang perdagangan dengan 
adanya ekspor-impor antara Banten dan 
Persia, Surat, Koromandel, Benggala, 
dan Siam. Dia juga membangun irigasi 
untuk pertanian dan persawahan. 
Suasana damai dan tenteram berjalan 
hinggga 1676.13 Lantas, Sultan Ageng 
Tirtayasa mengangkat putranya Abdul 
Kohar Nasar (Sultan Haji) menjadi 
sultan muda yang ternyata tidak suka 
keluarga kerajaan memusuhi kompeni. 
Dapat diprediksi bahwa akan terjadi 
pertentangan antara ayah dan anak. 
Sultan Ageng ingin terus mengadakan 
blokade terhadap VOC sementara Sultan 
Haji ingin mengadakan hubungan baik. 
Pasca perang Trunojoyo, tahun 1680 
Belanda melakukan agitasi terhadap 
Banten yang sudah dikuasai oleh 
Sultan Haji. Namun, Sultan Ageng 
Tirtayasa tidak mau kompromi dengan 
kompeni. Pertikaian antara Sulan Ageng dan Sulan Haji membuat Belanda 
mendukung salah satunya untuk dengan 
mudah menguasai. Terjadi perlawanan 
bersenjata Sultan Ageng Tirtayasa 
bersama ulama dan rakyatnya terhadap 
Kompeni, tapi berakibat jatuhnya 
Banten ke tangan mereka di atas nama 
Sultan Haji.
 Pasca bangkrutnya VOC 
(tahun 1799), kondisi sosial rakyat 
Banten bukan bertambah baik, justru 
sebaliknya, pemerintah kolonial 
Belanda bertambah represif sehingga 
menimbulkan perlawanan di berbagai 
daerah di Indonesia, termasuk di Banten. 
Berbagai sistem yang diciptakan 
kaum kolonial tak satupun yang dapat 
mensejahterakan rakyat; bahkan 
dipaksakan penerapannya dengan 
kekerasan. Pada saat Herman Willem 
Deandels berkuasa, sepak terjangnya 
sangat otoriter. Ia menambah serdadu 
dari 200 menjadi 18.000 orang dalam 
waktu singkat. Umumnya, serdadu 
berasal dari anak-anak Manado, Madura 
dan Jawa. Yang tidak mau menjadi 
tentara ia hukum dengan berbagai bentuk 
kekerasan. Untuk pakaian seragam 
serdadu, dia paksa petani memintal 
benang dan menenun kain. Semua 
bidang kehidupan di berbagai daerah 
dijamah Deandels, termasuk pengrajin 
tembaga untuk membuat bedil. Pada 
tahun 1808 Daendels membangun jalan 
raya dari Anyer sampai ke Panarukan 
dengan kerja paksa. Tidak sedikit rakyat 
meregang nyawa dalam pembangunan 
jalan ini karena kekurangan makan, 
penyakit, dan sebagainya. Si tangan besi Daendels juga 
memangkas kekuasaan para penguasa 
lokal; raja-raja lokal diturunkan 
jabatannya menjadi pegawai biasa, 
ia hapus pula tanda kehormatannya. 
Timbul perlawanan dari penguasa￾penguasa lokal khususnya di Banten. 
Daendels marah besar, istana sultan 
dihancurkan, Sultan ditangkap dan 
dibuang ke Ambon.
Pada tahun 1811, Daendels 
digantikan oleh Janssens. Akan tetapi, 
karena Perancis-Belanda dikalahkan 
Inggris maka pada tahun yang 
sama Inggris mengangkat Thomas 
Stamford Raffles berkuasa di daerah 
jajahan Belanda hingga tahun 1816. 
Pemerintahan Raffles disebut-sebut 
sebagai pemerintahan tangan liberal 
yang lebih lunak dibandingkan Daendels 
dan melakukan berbagai pembaharuan. 
Ia menghapus kebijakan-kebijakan 
Deandels, misalnya dalam bidang 
monopoli dagang, kerja rodi, sistem 
hak pemerintah atas hasil bumi, tak ada 
pemaksaan, yang paling terkenal dari 
kebijakan Raffles adalah pelaksanaan 
pajak tanah (land-rent). 
Kemudian, penguasaan tanah 
jajahan diserahkan kembali ke tangan 
pemerintah Belanda, berbagai kebijakan 
para gubernur jenderal di Hindia Belanda 
kembali membuat rakyat menderita, 
semisal penerapan sistem tanam paksa 
(cultuurstelsel) yang digagas Gubernur 
Jenderal Johannes Van den Bosch 
pada tahun1830.17 Empat puluh tahun
lamanya sistem ini diterapkan dengan 
berbagai dampak negatifnya bagi 
rakyat Indonesia umumnya dan rakyat 
Banten khususnya. Banyak penduduk 
yang meninggalkan kampungnya 
menghindari tanam paksa, lain 
halnya dengan rakyat Banten, mereka 
melakukan perlawanan terhadap sistem 
ini,18 dan kebijakan-kebijakan lainnya 
yang tidak pro-rakyat.
Jika dirunut dari sejak sebelum 
penerapan kultuurstelsel, hingga 
penerapannya selama empat puluh 
tahun, telah terjadi berbagai perlawanan 
bersenjata dari rakyat Banten terhadap 
kaum penjajah. Antara 1810 sampai 
1840, terjadi sebelas kali perlawan 
bersenjata rakyat Banten, di antaranya 
perlawanan Nyai Gumpara pada 1818 
untuk mengembalikan kesultanan 
Banten dan penyerangan ke Anyer 
dengan kekuatan 500 orang pada 1822. 
Pada akhir tahun 1825 Tumenggung 
Muhammad Demang dari Menes 
dengan dukungan para kiyai dan tokoh 
agama serta para santrinya memimpin 
perlawanan bersenjata menentang 
pemungutan pajak. Letnan de Quay 
mematahkan perlawanan ini yang 
membuat Tumenggung Muhammad 
mengundurkan diri melintasi puncak 
gunung Pulosari melalui perbatasan 
Pandeglang. Dua tahun kemudian 
muncul lagi perlawaanan bersenjata 
dari Mas Jakaria. Pada 1811, ia pernah 
menduduki Pandeglang yang kala itu 
menjadi kota kraton, tetapi ia tertawan. 
Namun pada tahun 1927, ia berhasil 
melarikan diri. Banyak hadiah disediakan 
bagi yang dapat menangkapnya, 
tetapi tetap gagal bahkan pada tahun
ini ia kembali menyerbu Pandeglang 
dan berhasil menewaskan anggota￾anggota detasemen tentara Belanda. 
Pasukan Belanda secara membabi buta 
membakari rumah penduduk untuk 
memaksa pengakuan penduduk dimana 
keberadaan Mas Jakaria. Barulah 
beberapa bulan kemudian ia berhasil 
ditangkap dan dijatuhi hukuman mati 
dengan memenggal lehernya dan 
membakarnya. 
Pada tahun-tahun 1831, 
1833, 1836, dan 1839 terjadi banyak 
perlawanan bersenjata. Pemimpin￾pemimpin yang lolos dari perlawanan 
tahun 1936 adalah Ratu Bagus Ali 
dikenal sebagai Kiyai Gede, Pangeran 
Radli dan Mas Jebeng, putera Mas 
Jakaria. Rakyat bersemangat lagi 
melawan penjajah ketika ketiga putra 
Mas Jakaria melarikan diri dari penjara 
Banyuwangi; Mas Anom, Mas Serdang, 
dan Mas Andong. Salah seorang wanita 
yang memimpin perlawanan Nyai Mas 
Anjung, puteri Mas Jakaria, ikut pula 
Mas Ubid, kemenakan dan menantu 
Mas Jakaria. Raden Yintan, Pangeran 
Lamir, dan seorang wanita Sarinam 
dapat ditambahkan sebagai pemimpin 
perlawanan bersenjata.
Pada tanggal 13 Desember 1845, 
para pejuang Banten merebut rumah 
tuan tanah di Cikandi Udik dengan 
membunuh tuan tanah Kamphuys, 
istrinya dan lima anaknya. Peristiwa 
ini disebut peritiwa Cikandi, semua 
orang Eropa Cikandi menemui ajalnya. 
Sebuah detasemen bejumlah 60 orang 
berhasil melumpuhkan perlawanan 
di Cikandi. Sebenarnya, peristiwa ini 
dilakukan sebagai isyarat perlawanan 
di seluruh Banten. Mereka bersekutu 
dengan pemimpin kelompok BantenSelatan yang dipimpin oleh Nyai 
Permana, ibu Nyai Gumpara, pemimpin 
perlawan tahun 1836. Pada 24 Pebruari 
1850, Raden Bagus Jayakarta, patih 
Serang, mencetuskan perlawanan dan 
menewaskan Demang Cilegon beserta 
stafnya. Raden Bagus Jayakarta didukung 
oleh pemuda-pemuda antara lain 
Tubagus Iskak, Mas Derik, Haji Wakhia, 
dan Penghulu Dempol. Di Lampung, 
banyak orang Banten yang melarikan 
diri dari Banten untuk menghindar dari 
pengejaran kaum penjajah atau untuk 
mengelak dari penindasan para pejabat. 
Salah seorang daripadanya adalah orang 
kaya H. Wakhia dari Budang Batu yang 
dikejar-kejar polisi yang bersembunyi 
di Lampung kemudian menuju Mekkah 
untuk menunaikan ibadah haji. Pada 
tahun 1847 ia kembali ke desanya. 
Lagi-lagi ia tidak mau membayar 
pajak. Ia dipanggil residen, tapi tidak 
mengindahkannya. H. Wakhia turut 
serta dalam merencanakan perlawanan 
dan seruan H. Wakhia yang dibantu oleh 
Penghulu Dempol untuk melancarkan 
Perang Sabil disambut dengan semangat 
dan menyala-nyala. H. Wakhia dan 
penghulu Dempol mengambil posisi 
di sebelah barat bukit-bukit Simari 
Kangen, kelompok yang dipimpin Mas 
Derik dan Nasid berada di pegunungan 
sebelah timur Pulau Merak, sedangkan 
Tubagus Ishak dan Mas Diad dan 
pasukannya beroperasi di distrik Banten. 
R.B. Jayakarta, pengambil inisiatif 
berada di belakang layar. Lebih kurang 
tiga bulan lamanya pasukan-pasukan 
rakyat maju mundur diselingi serangan￾serangan sporadik terhadap kota-kota 
kecil dan desa seperti Tanjak dan Anyer. 
Dalam menghadapi pasukan kolonial 
pada tanggal 3 Mei 1850 di Tegalpapak 
mereka mengalami kekalahan dan 
beberapa pemimpin mereka ditawan. 
H. Wakhia dan Tubagus Ishak berhasil 
meloloskan diri ke Lampung dan di 
daerah ini ia kembali ikut perlawanan 
terhadap penjajah Belanda yang 
dilancarkan Raden Intan dan Pangeran 
Singabranta. H. Wakhia akhirnya 
ditangkap dan dihukum mati. Anak dan 
isterinya menetap di desa asal H. Wakhia 
yang kemudian dikenal dengan nama 
Arjawinangun. Di tempat ini mereka 
sangat dihormati. 
Antara tahun 1851 sampai 1871 
masih sering terjadi perlawan bersenjata, 
seperti peristiwa Usup di tahun 1851,
peristiwa Pungut di tahun 1852,
kerusuhan di Kolelet di tahun 1866 dan 
kasus Jayakusuma di tahun 1869. 
Dari rentetan peristiwa 
perlawanan bersenjata rakyat Banten 
terhadap kolonial Belanda sejak awal 
abad XIX, perlawanan bersenjata 
yang sangat besar adalah yang terjadi 
pada 9 Juli tahun 1888 yang dipimpin 
oleh K.H. Wasyid. Tengku Ibrahim 
Alfian merasa perlu menjelaskan ini 
secara komprehensif mengingat begitu 
dahsyatnya keadaan Banten baik 
sebelum, saat terjadinya peristiwa, dan 
sesudahnya
Dikutip dari Tengku Ibrahim 
Alfian. “Semangat Keagamaan Rakyat 
Banten dalam Mempertahankan Ke￾merdekaan” …. Alfian mengakui berhutang budi 
pada Sartono Kartodirdjo yang telah 
membuat kajian secara komprehensif 
tentang keperkasaan Rakyat Banten 
dan perlawanan mereka terhadap kaum 
penjajah Belanda khususnya tentang 
peristiwa Cilegon di tahun 1888 Diser￾tasinya di Den Haag yang berjudul, The 
Peasent’ Revolt of Banten in 1888: Its 
Condition, Course and sequence.
20Tengku Ibrahim Alfian. “Semangat Keag- Tengku Ibrahim Alfian 
menyatakan bahwa peristiwa 
perlawanan bersenjata rakyat Banten 
yang besar adalah yang terjadi 
pada 9 Juli 1888 di Cilegon, suatu 
perlawanan yang telah dipersiapkan 
dan direncanakan serta mempunyai 
ruang lingkup yang melampaui batas￾batas kota Cilegon. Menurut Prof. 
Dr. Sartono Kartodirdjo peristiwa ini 
merupakan kulminasi gerakan-gerakan 
perlawanan selama bertahun-tahun. 
Tarekat telah dijadikan sarana untuk 
menyebarkan informs-informasi rahasia 
dan komunikasi-komunikasi antara 
anggota dan memberikan peranan 
penting meletuskan peristiwa ini.21
Dalam teori sejarah, setiap 
peristiwa sejarah sedikitnya di dalamnya 
terdapat Pionir (pencetus peristiwa), 
Soil (tempat terjadinya peristiwa) 
dan peristiwa itu sendiri. Peristiwa 
perlawanan bersenjata Cilegon188822
pionir atau pencetus utamanya adalah 
K.H. Wasyid.
1. Pendidikan Dan Semangat 
Keagamaan
K.H. Wasyid adalah seorang 
ulama dan pendakwah yang dalam ilmuagamanya, seorang alumnus pesantren 
dan Timur Tengah. Seperti halnya 
rakyat Banten yang memiliki semangat 
keagamaan yang kuat dan mendalam, 
demikian pula K.H. Wasyid, beliau 
memiliki ilmu agama yang dalam berkat 
ketekunan dan kegigihannya menuntut 
ilmu di berbagai pesantren di Jawa 
Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 
Corak pendidikan pesantren masa itu 
masih sangat berorientasi ilmu-ilmu 
agama dan sangat tergantung pada 
ustadz atau Kiyai. Mereka mempelajari 
kitab-kitab yang berkaitan dengan 
hukum Islam seperti Miftàh al-Jannah, 
Shiràt, Sabîl al- Muhtadîn, Bidàyah, 
Kitab Delapan dan Majmu’, Matan 
Taqrib, Fathu al-Qarîb, Fathu al￾Mu’în, Tahrir, Iqna’, Fathu al-Wahhab, 
Mahally, dan sebaginya. Di antara 
ilmu alat yang mereka pelajari, yakni 
Sharaf, Kitab al-Jurmiyah, Mukhtashar, 
Mutammimah, Nahwu. Mereka juga 
mempelajari kitab-kitab Tafsir dan 
Hadis, Balaghah, Tashawwuf, ihya 
ulumuddin, al-Mantiq, Tauhid, Ushul al￾Fiqh.23 Mata pelajaran yang diajarkan di 
pesantren-pesantren pada abad ke XIX 
sangat memengaruhi kepribadian para 
santri. Tidak mengherankan jika pada 
abad ini banyak peristiwa sejarah yang 
dimobilisasi oleh alumnus pesantren 
dan masyarakat pedesaan. Misalnya, 
peristiwa perlawanan bersenjata yang 
sangat terkenal, yakni “Geger Cilegon” 
yang juga terkenal dengan sebutan 
“Perang Wasyid”.24
 Beranjak dewasa, disampingmenimba llmu di pesantren, KH. Wasyid 
berangkat ke Mekkah berguru pada 
Syekh Nawawi al-Bantani,25 sedang di 
Banten dia berguru pada ulama-ulama 
Banten, seperti Kiyai Wakhia. Dengan 
ilmu yang dimilikinya, ia berdakwah 
dari satu tempat ke tempat lainnya. 
Dalam kesempatan dakwah ini K.H. 
Wasyid menyampaikan ayat-ayat dan 
hadis-hadis yang berkaitan dengan jihad.
Dalam al-Qur’an. dua ungkapan 
yang memotivasi setiap Muslim untuk 
berjuang menegakkan kebenaran 
dan keadilan serta menentang setiap 
kezhaliman kaum penindas ialah 
berperang di Jalan Allah dan berjihad 
di jalan Allah. Khusus untuk istilah 
perang dipakai kata qitàl yang terdapat 
dalam surat al-Baqarah 190, 191, dan 
193; surat al-Taubah ayat 111 dan surat 
al-Hajj ayat 39.a. Al-Baqarah 
190. Dan perangilah di jalan 
Allah orang-orang yang memerangi 
kamu, (tetapi) janganlah kamu 
melampaui batas, karena sesungguhnya 
Allah tidak menyukai orang-orang yang 
melampaui batas.
191. Dan bunuhlah mereka di 
mana saja kamu jumpai mereka, dan 
usirlah mereka dari tempat mereka 
telah mengusir kamu (Mekah); dan 
fitnah[117] itu lebih besar bahayanya 
dari pembunuhan, dan janganlah kamu 
memerangi mereka di Masjidil Haram, 
kecuali jika mereka memerangi kamu 
di tempat itu. Jika mereka memerangi 
kamu (di tempat itu), maka bunuhlah 
mereka. Demikanlah balasan bagi 
orang-orang kafir.
192. Kemudian jika mereka 
berhenti (dari memusuhi kamu), maka 
sesungguhnya Allah Maha Pengampun 
lagi Maha Penyayang.
b. At-Taubah
111. Sesungguhnya Allah telah 
membeli dari orang-orang mukmin diri 
dan harta mereka dengan memberikan 
surga untuk mereka. Mereka berperang 
pada jalan Allah; lalu mereka membunuh 
atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji 
yang benar dari Allah di dalam Taurat, 
Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang 
lebih menepati janjinya (selain) daripada 
Allah? Maka bergembiralah dengan jual 
beli yang telah kamu lakukan itu, dan 
itulah kemenangan yang besar.
c. Al-Hajj
39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena 
sesungguhnya mereka telah dianiaya. 
Dan sesungguhnya Allah, benar-benar 
Maha Kuasa menolong mereka itu.
Secara etimologi Jihàd berasal 
dari kata jahada yang berarti bersungguh￾sungguh mencurahkan segenap pikiran, 
kekuatan dan kemampuan untuk 
mencapai suatu tujuan, dapat juga berarti 
perang dan kekuatan. Secara terminologi 
(Ishtilàhan Syar’iyyan) “ jihad berarti 
bersunggguh-sungguh mencurahkan 
segenap pikiran dan kekuatan melawan 
hawa nafsu, setan, kebatilan, dan 
menghancurkan orang-orang yang 
melawan agama Allah serta membangun 
manusia yang berkemajuan.” Ayat-ayat 
lain yang berkaitan dengan ini seperti di 
bawah ini:
d. Al-Ankabût:
6. Dan barangsiapa yang 
berjihad, maka sesungguhnya jihadnya 
itu adalah untuk dirinya sendiri. 
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha 
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari 
semesta alam.
69. Dan orang-orang yang 
berjihad untuk (mencari keridhaan) 
Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan 
kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan 
sesungguhnya Allah benar-benar beserta 
orang-orang yang berbuat baik.
e. Al-Hajj
78. Dan berjihadlah kamu pada 
jalan Allah dengan jihad yang sebenar￾benarnya. Dia telah memilih kamu dan 
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk 
kamu dalam agama suatu kesempitan. 
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. 
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian 
orang-orang muslim dari dahulu[993], 
dan (begitu pula) dalam (Al Quran) 
ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas 
dirimu dan supaya kamu semua menjadi 
saksi atas segenap manusia, maka 
dirikanlah sembahyang, tunaikanlah 
zakat dan berpeganglah kamu pada 
tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, 
maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan 
sebaik- baik Penolong.
 Bak gayung bersambut, seruan￾seruan K.H. Wasyid diamini oleh semua 
elemen masyarakat mulai dari ulama, 
kiyai, petani, santri, anak-anak muda, 
pengikut tarekat, dan bahkan para jawara. 
Pada abad XIX semangat keagamaan 
mereka bertambah kuat. Seperti yang 
disebutkan Sartono Kartodirdjo dalam 
beberapa dasawarsa di akhir abad ke 
XIX, tampak peningkatan kebangkitan 
agama yang sangat luar biasa. Dimulai di 
Timur Tengah dengan Pan-Islamismenya 
yang sangat anti barat. Fanatisme dan 
militanisme keagamaan muncul karena 
benci orang kafir termasuk di Banten. 
Gejala lain kebangkitan agama ini ialah 
ramainya masjid dengan shalat jama’ah 
dan pengajian-pengajian oleh anak-anak 
muda Banten, bermunculan cabang￾cabang tarekat, jumlah orang naik haji 
bertambah dan tinggal disana sambil 
mencari ilmu.26 Tampaknya inilah yang 
memudahkan K.H. Wasyid memobilisir 
kekuatan dan massa untuk memerangi 
penjajah.
bagi orang-orang yang diperangi, karena 
sesungguhnya mereka telah dianiaya. 
Dan sesungguhnya Allah, benar-benar 
Maha Kuasa menolong mereka itu.
Secara etimologi Jihàd berasal 
dari kata jahada yang berarti bersungguh￾sungguh mencurahkan segenap pikiran, 
kekuatan dan kemampuan untuk 
mencapai suatu tujuan, dapat juga berarti 
perang dan kekuatan. Secara terminologi 
(Ishtilàhan Syar’iyyan) “ jihad berarti 
bersunggguh-sungguh mencurahkan 
segenap pikiran dan kekuatan melawan 
hawa nafsu, setan, kebatilan, dan 
menghancurkan orang-orang yang 
melawan agama Allah serta membangun 
manusia yang berkemajuan.” Ayat-ayat 
lain yang berkaitan dengan ini seperti di 
bawah ini:
d. Al-Ankabût:
6. Dan barangsiapa yang 
berjihad, maka sesungguhnya jihadnya 
itu adalah untuk dirinya sendiri. 
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha 
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari 
semesta alam.
69. Dan orang-orang yang 
berjihad untuk (mencari keridhaan) 
Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan 
kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan 
sesungguhnya Allah benar-benar beserta 
orang-orang yang berbuat baik.
e. Al-Hajj
78. Dan berjihadlah kamu pada 
jalan Allah dengan jihad yang sebenar￾benarnya. Dia telah memilih kamu dan 
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk 
kamu dalam agama suatu kesempitan. 
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. 
Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian 
orang-orang muslim dari dahulu[993], 
dan (begitu pula) dalam (Al Quran) 
ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas 
dirimu dan supaya kamu semua menjadi 
saksi atas segenap manusia, maka 
dirikanlah sembahyang, tunaikanlah 
zakat dan berpeganglah kamu pada 
tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, 
maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan 
sebaik- baik Penolong.
 Bak gayung bersambut, seruan￾seruan K.H. Wasyid diamini oleh semua 
elemen masyarakat mulai dari ulama, 
kiyai, petani, santri, anak-anak muda, 
pengikut tarekat, dan bahkan para jawara. 
Pada abad XIX semangat keagamaan 
mereka bertambah kuat. Seperti yang 
disebutkan Sartono Kartodirdjo dalam 
beberapa dasawarsa di akhir abad ke 
XIX, tampak peningkatan kebangkitan 
agama yang sangat luar biasa. Dimulai di 
Timur Tengah dengan Pan-Islamismenya 
yang sangat anti barat. Fanatisme dan 
militanisme keagamaan muncul karena 
benci orang kafir termasuk di Banten. 
Gejala lain kebangkitan agama ini ialah 
ramainya masjid dengan shalat jama’ah 
dan pengajian-pengajian oleh anak-anak 
muda Banten, bermunculan cabang￾cabang tarekat, jumlah orang naik haji 
bertambah dan tinggal disana sambil 
mencari ilmu.26 Tampaknya inilah yang 
memudahkan K.H. Wasyid memobilisir 
kekuatan dan massa untuk memerangi 
penjajah. Pertempuran Cilegon memang 
diakui Snouck Hurgronye bahkan oleh 
pemeintah Belanda sangat serius, dia 
katakan, “Memang kekuasaan kita tidak 
akan mudah dirubuhkan oleh suatu 
gerakan fanatik. Tapi huru-hara setempat 
di Cilegon tahun 1888 memang cukup 
serius.” 27 Dua hal yang bisa kita telaah 
dari peristiwa ini, yakni latar belakang 
dan faktor-faktornya. Latar belakangnya 
tentu jauh dari yang telah diuraikan di 
atas, sedang faktor-faktornya dikatakan 
sendiri oleh K.H. Wasyid yang pernah 
disebut oleh saksi, Achmad; pertama, 
dua pejabat pemerintah kolonial, yaitu 
patih dan jaksa telah melarang umat 
Islam melakukan ibadah di Masjid. 
Kedua dinaikkannya pajak perahu dan 
pajak-pajak usaha yang lain. Ketiga, para 
pejabat sama sekali tidak menghiraukan 
para kiyai, bahkan memusuhi Islam, 
melarang shalat dengan suara keras 
dan melarang membuat menara-menara 
masjid tinggi, dan menyebar terlalu 
banyak mata-mata untuk mencari￾cari kesalahan orang yang melanggar 
peraturan.
Didorong latar belakang 
dan faktor-faktor di atas, K.H. 
Wasyid membuat perencanaan dan 
mengorganisir serta memobilisir seluruh 
elemen rakyat Banten untuk melakukan 
perlawanan. Dari hasil penyelidikanterhadap para tawanan dapat diketahui 
bahwa anggota-anggota perlawan 
bersenjata K.H. Wasyid mengadakan 
pertemuan di berbagai tempat dan 
menggunakan tarekat sebagai tempat 
berkumpul dan bersama-sama 
melakukan sembahyang dan dzikir. K.H. 
Wasyid dan para kiyai lainnya dapat 
bertemu dalam kesempatan ini untuk 
mengatur strategi dan taktik-taktik serta 
kordinasi. 
Dari setiap pertemuan, nampak 
kepiawaian dan kemampuan K.H. 
Wasyid mengumpulkan para kiyai, 
ulama, tokoh-tokoh agama lainnya 
bahkan para jawara. Dapat disebutkan 
disini K.H. Abdul Karim, seorang 
ulama besar dan dihormati rakyat 
Banten, pemimpin agama dan guru 
tarekat Qadariyah. K.H. Tubagus Ismail, 
H. Abdul Gani, K.H. Usman, Haji 
Nasiman, H. Sangadeli dari Kaloran, H. 
Abu Bakar dari Pontang, H. Asnawi dari 
Bendung Lempuyang, H. Muhammad 
Asik dari Bandung. Masing-masing 
mereka dan K.H. Wasyid menyampaikan 
propaganda-propaganda yang berkaitan 
dengan jihad dan perang sabil. 
Perjuangan rakyat Banten 
menuju kemerdekaan mendapat 
kekuatan baru dengan pulangnya H. 
Marjuki pada tahun 1887 dari Mekkah. 
Ia mulai mengunjungi daerah-daerah di 
Banten, Tengerang, Betawi, dan Bogor 
untuk menyampaikan gagasan tentang 
jihad. Tidak lama dikunjungi Haji 
Marjuki, entusiasme rakyat bertambah 
bergelora dan semangat keagamaan 
rakyatpun semakin meningkat, sehingga 
K.H. Wasyid menganggapnya sekutu 
paling setia. Kunjungan H. Marjuki 
ke para Kiyai tarekat Qadariyah 
mendapat sambutan dan dari mereka keluar pernyataan mendukung gerakan 
perlawanan yang dicanangkan K.H. 
Wasyid yang sebelumnya sudah 
melakukan apa yang dilakukan oleh 
H. Marjuki. Akan tetapi H. Marjuki 
kembali ke Mekkah sebelum terjadi 
perang. Sekalipun demikian, K.H. 
Wasyid taat asas mengabdikan dirinya 
kepada perjuangan berjihad melawan 
penjajah. 
Disela-sela kesibukannya 
berpropaganda, tiga bulan sebelum 
pertempuran K.H. Wasyid memimpin 
persiapan perang dengan mempergiat 
latihan-latihan pencak silat, 
pengumpulan dan pembuatan senjata￾senjata, dan sembari membakar 
semangat melalui khutbah-khutbahnya 
untuk melaksanakan perang sabil.29 
Berkat kepiawian K.H. Wasyid 
mengorganisir dan memoblisasi rakyat, 
gerakan kolektif ini diakui sangat 
terorganisir dan memiliki perencanaan 
yang matang. Tanda-tanda akan 
dimulainya perang tampak pada tanggal 
8 Juli 1888. Rombongan-rombongan 
prajurit berpakaian putih-putih mulai 
bergerak ke pos komando yang sudah 
disiapkan di desa saneja di rumah 
H. Ishak. Para pimpinan rombongan 
bermusyawarah di pimpinan K.H. 
Wasyid. Selaku pimpinan operasi, 
K.H. Wasyid mulai mengatur strategi 
penyerangan, ia bagi pasukan dalam 
beberapa kelompok yang masing-masing 
bertugas menyerang penjara, yang lain 
membebaskan tahanan, menyerang 
Kepatihan, menyerang rumah Asisten 
Residen. Pada hari Senin, 9 Juli 1888 
perang dimulai dan pada sore harinya 
Cilegon dapat diduduki K.H.Wasyid 
29Tengku Ibrahim Alfian. “Semangat Keag￾amaan Rakyat Banten dalam Mempertahankan 
Kemerdekaan” …. Hlm. 9. 
dan para pasukannya. 
Di bawah komando Kapten 
A.A. Veen huyzen, Belanda melakukan 
operasi mematahkan perlawanan dan 
melakukan pengejaran terhadap K.H. 
Wasyid dan kawan-kawannya. Namun, 
pertempuran terus berlangsung dan pada 
tanggal 30 Juli 1888 K.H. Wasyid, K.H. 
Tubagus Ismail, Haji Usman, dan Haji 
Abdul Gani terbunuh sebagai syahid 
dan pahlawan.30
Singkat cerita, dalam 
pertempuran Cilegon 1888, di pihak 
Belanda tewas 19 orang, yang luka 7 
orang. Di pihak prajurit Banten syahid 
30 orang, termasuk K.H. Wasyid, terluka 
13 orang. 94 orang dari pihak K.H. 
Wasyid dibuang ke berbagai daerah 
di dalamnya 42 orang haji, dua orang 
wanita Nyi Aminah dan Nyi Rainah dari 
Arjawinangun, keduanya puteri K.H. 
Wakhia.31
Dampak dari peristiwa Cilegon 
1888 sangat dirasakan oleh para kiyai, 
ulama, guru agama dan pengikut 
organisasi tarekat. Oleh karena Belanda 
meyakini bahwa peristiwa Cilegon 1888 
penggerak utamanya adalah anggota 
tarekat, maka diusulkan agar mereka 
dibuang. Kenyataan lain dimana-mana 
Belanda memburu guru agama, bahkan 
ada bupati yang melarang pengajaran 
kitab dan penyebaran tarekat. 32 
Tengku Ibrahim Alfian bertanya 
apakah pelajaran yang dapat ditarik dari 
sejarah perjuangan rakyat Banten dalam 
melawan penjajah di abad XIX?Historical Conciousness
(kesadaran sejarah) akan eksistensi 
bangsa kita di masa lalu perlu kita 
bangun. Hal ini sudah dimiliki oleh 
para pemimpin agama dan kiyai oleh 
karena memiliki pengetahuan yang 
dalam tentang al-Qur’an dan hadis Nabi 
hamammad Saw. yang tentunya wajib 
kita ikuti sebagai seorang Muslim, serta 
sanggup menggerakkan rakyat dengan 
semangat yang tinggi melawan penjajah. 
Kesadaran sejarah masa lalu 
bangsa kita perlu dibarengi oleh sense 
of responsibility (rasa tanggung jawab) 
setiap generasi berikutnya untuk terus 
mempertahankan eksistensi mereka 
sebagai sebuah bangsa yang besar yang 
sudah dibangun oleh para pendahulu 
dengan mengorbankan jiwa dan raga 
mereka sampai titik darah penghabisan. 
Disamping tanggungjawab itu, perlu 
pula kita merenungkan apa yang pernah 
disampaikan oleh presiden pertama kita, 
JASMERAH artinya jangan sekali-kali 
melupakan sejarah, sebab sebagaimana 
dikatakan oleh presiden kedua kita 
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang 
mengingat jasa para pahlawannya”. 
Abul ‘Ala Maududi, seorang 
ulama besar dasri India abad XX berkata 
bahwa semua tindakan dilakukan demi 
kehidupan umat manusia yang layak 
secara kolektif dan yang fungsionarisnya 
tidak ditunggangi kepentingan pribadi 
di dunia ini. Kepentingan tunggalnya 
hanyalah ridla Allah dalam Islam yang 
diakui sebagai “amal fi sabilillah”. 
Perjuangan untuk berbuat kebaikan 
dalam masyarakat Islam dan melawan 
kemungkaran adalah sebuah jihad. 
Maududi mengemukakan bahwa 
mengubah pendapat suatu masyarakat 
serta memulai suatu revolusi mental 
adalah salah satu bentuk jihad. Bukankah 
hal ini yang telah dicontohkan oleh para 
pejuang Banten?
Jihad fi sabilillah yang digalakkan 
untuk menggelorakan semangat 
berkorban guna mempertahankan 
tanah air dari penjajah seperti yang 
diperlihatkan oleh K.H. Wasyid dan 
rakyat Banten dapat dijadikan pendorong 
untuk membangun Banten khususnya 
dan Indonesia pada umumnya.





PENDIDIKAN

Politik etis berakar pada orientasi kemanusiaan sekaligus 
keuntungan ekonomi, yang dilatarbelakangi oleh kecaman terhadap 
Pemerintah Belanda melalui kritik dalam novel Max Havelaar (1860). 
Kebijakan politik etis dimulai tahun 1901 melalui pernyataan Ratu 
Wilhelmina untuk meneliti kesejahteraan masyarakat Hindia Belanda. 
Menteri Urusan Daerah Jajahan yang kemudian menjadi Gubernur 
Jenderal yaitu Alexander W. F. Idenburg melaksanakan politik etis 
dimulai tahun 1902 dengan tiga prinsip utama yaitu pendidikan, 
pengairan, dan perpindahan penduduk 
Kajian mengenai politik etis banyak dilakukan oleh para sejarawan 
maupun akademisi karena dianggap sebagai faktor pendorong sekaligus 
pendukung pergerakan nasional Indonesia, khususnya karena aspek 
pendidikan. 
bahwa pendidikan dalam politik etis sebenarnya diberikan secara terbatas 
dengan akses pendidikan yang tidak luas serta berorientasi kepentingan 
ekonomi pemerintah kolonial. Meskipun demikian terbatas, pendidikan 
menjadi faktor penting bagi runtuhnya dominasi kolonial 
Keterbatasan pada penelitian politik etis dalam bidang pendidikan 
adalah belum banyak dilakukan kajian mengenai pembelajaran sejarah
pada pendidikan Kolonial. Sebagai salah satu faktor penting dalam 
kurikulum pendidikan Belanda, patut diduga pelajaran sejarah 
meningkatkan kemampuan berpikir kritis elit bumiputera. Awalnya 
pelajaran sejarah ditujukkan sebagai indoktrinasi serta mengajarkan agar 
siswa bumiputera menerima kolonialisme Belanda, namun tujuan ini gagal. Oleh karena itu, kajian mengenai pelajaran sejarah yang diterapkan 
serta kurikulum yang menyertainya penting untuk diteliti. 
Pelajaran sejarah tidak hanya membicarakan mengenai peristiwa￾peristiwa masa lalu yang tidak berhenti pada hapalan tanggal dan tahun, 
karena memiliki nurturant effect lain yaitu meningkatkan kemampuan 
berpikir kritis-logis dan memberikan stimulus bagi pengembangan nilai￾nilai implementatif untuk dipraktekkan dalam kehidupan kemanusiaan. 
Nurturent effect tersebut tidak disadari oleh Pemerintah Kolonial Hindia 
Belanda yang memandang pelajaran sejarah dari instructional effect sebagai 
ajang untuk menyebarkan narasi mengenai legitimasi kolonialisasi dan 
imperialisasi kepada para murid Hollanders maupun Inlanders.
Pembelajaran sejarah dapat menjadi penggerak bagi politik pemerintahan, 
yang dapat mempengaruhi tujuan, posisi hingga materi pelajaran sejarah 
agar sesuai dengan ideologi serta kepentingan politik penguasa 
Pada awal abad XX, anak-anak bumiputera mulai diizinkan 
menempuh pendidikan ‘modern’ Belanda melalui kebijakan politik etis 
yang diterapkan di Hindia Belanda. Politik etis dilatarbelakangi oleh 
pengaruh politik Mr. Van Deventer yang mengkritik pemerintah kolonial 
untuk menaruh perhatian yang lebih luas terkait pendidikan dan 
pengajaran bagi bumi-putera 
Berdasarkan penelitian Maftuh, disebutkan bahwa kebijakan politik 
pendidikan kolonial, mulai dari pendidikan rendah sampai tertinggi 
tidaklah dimaksudkan untuk mencerdaskan orang-orang Indonesia, 
melainkan tak lebih daripada sekedar memberi kesempatan kepada keluarga golongan tertentu yang dipercaya untuk ikut serta 
mempertahankan kelangsungan kolonialnya 
Adapun faktor-faktor utama yang melatarbelakangi kebijakan￾kebijakan politik pendidikan pemerintah Hindia Belanda 
dilaatarbelakangi oleh faktor politik, ekonomi, Kristenisasi, rasialisme, 
situasi dan kondisi internal Belanda, serta kondisi umat Islam , Faktor politik, yakni suasana perpolitikan baik yang 
terjadi di Parlemen Belanda maupun di Hindia Belanda. Faktor ekonomi, 
yakni pendirian sekolah-sekolah selalu didorong pertimbangan untung￾rugi secara ekonomis. Faktor Kristenisasi, adalah upaya penyebaran 
agama di Hindia Belanda. Faktor rasialisme yang berkaitan dengan 
struktur sosial dalam kolonialisme yang meletakkan bangsa Belanda dan 
kulit putih lainnya, sebagai kelas yang tertinggi. Faktor situasi dan kondisi 
internal di Negeri Belanda yang memaksa Pemerintah Koloni. Faktor 
kondisi umat Islam Indonesia, yaitu fenomena revival umat Islam yang 
memicu pemerintah kolonial Belanda untuk menyainginya dengan 
mendirikan sekolah-sekolah.
Pendidikan kolonial bagi bumi-putera memiliki struktur dan 
tingkatan yang khas, disebut oleh Sri Soetjiatingsih dan Sutrisno Kutoyo 
sebagai “Pendidikan Dualisme di Hindia Belanda” yang berlangsung 
pada tahun 1900 sampai 1942 
Disebut dualisme karena bumiputera dapat memilih diantara dua yaitu 
pertama pendidikan rendah yang khusus untuk bumi-putera, dan kedua 
pendidikan yang menggunakan bahasa pengantar Belanda yang dimulai 
dari pendidikan rendah sampai pendidikan tinggi (universitas). Sebagai upaya menghadapi kritik, Pemerintah Hindia Belanda 
akhirnya membolehkan anak-anak dari kalangan bumi-putera 
diperbolehkan memasuki Sekolah Rendah Belanda, yang dapat 
dilanjutkan ke Sekolah Dokter Jawa dan Sekolah Pamong Praja . Sekolah Kelas II diperbanyak, bahkan pada tahun 
1903 diadakan “Sekolah Desa” yang lamanya tiga tahun dan hanya belajar 
membaca, menulis, berhitung, bahasa daerah, dan menggambar.
Sekolah Desa yang digagas oleh Gubernur Jenderal van Heutz 
dibiayai oleh desa dan pemerintah yang memberikan subsidi sangat 
terbatas karena tujuannya hanya pemberantasan buta huruf yang 
nyatanya berjalan secara lambat. Dirasakan pula bahwa pemerintah tidak 
serius dalam menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat bumi-putera 
karena dalam pendidikan rendah tidak diajarkan bahasa Belanda, ilmu 
pengetahuan modern, dan sejarah 
Pelajaran bahasa Belanda karena berbagai desakan akhirnya 
dimasukkan dalam Sekolah Kelas I mulai dari kelas III sampai kelas VI 
agar anak bumi-putera dapat mengikuti pelajaran yang lebih tinggi yang 
didominasi dan diwajibkan penggunaan bahasa Belanda. Namun tetap 
saja, Sekolah Kelas I yang memberikan pendidikan selama 6 tahun tidak 
diberikan mata pelajaran sejarah Indonesia. Sifat pengajaran pada masa 
Kolonial Hindia Belanda tidak berisi semangat kebangsaan atau tidak 
berisi usaha-usaha untuk perkembangan kebudayaan kebangsaan, 
adapun perubahan kurikulum pada 1914 pun hanya mendekatkan elit 
lapisan atas bumi-putera kepada kebudayaan Belanda dan bukan untuk 
pertumbuhan dan perkembangan bangsa secara bebas dan merdeka
.Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memiliki beberapa pandangan 
mengenai pentingnya memahami dan menguasai kompetensi sejarah, 
khususnya bagi para pendidik di berbagai tingkatan struktur dalam 
sistem pendidikannya. Kewajiban menguasai kompetensi sejarah 
diantaranya ditujukkan kepada guru atau pendidik, guru les serta kepala 
sekolah. Dalam mengkaji bagian ini, peneliti bersumber pada buku
referensi pendidikan di Hindia Belanda karya D. Brakel yang diterbitkan 
tahun 1914 berjudul Vraagbaak voor ouders (voogden) in Nederlandsch Indie , 
die hun kinderen (pupillen) niet naar Holland zenden.
Salah satu kompetensi wajib seorang pendidik atau guru 
(Onderwijzer) adalah memiliki keakraban dengan peristiwa-peristiwa 
sejarah Belanda dan Hindia Belanda . Seorang 
pendidik atau guru pada masa kolonial, memiliki kewajiban untuk 
memahami peristiwa-peristiwa sejarah Belanda dan Hindia Belanda 
sebagai kompetensi dasar bagi setiap guru yang mengajar dan bukan 
hanya guru sejarah. Sebenarnya bukan hanya guru, pengajar les dari 
rumah ke rumah juga dalam sistem pendidikan Belanda, harus memiliki 
kompetensi pengetahuan Sejarah Belanda dan Hindia Belanda , Pemerintah Kolonial Hindia Belanda juga menetapkan kompetensi 
bagi Kepala sekolah (Hoofd-onderwijzer) untuk menguasai sejarah secara 
lebih dalam. Kompetensi yang wajib dikuasai oleh kepala sekolah adalah 
menguasai beberapa pengetahuan tentang tokoh-tokoh sejarah Klasik, 
keakraban dengan fakta-fakta utama dari sejarah Abad Pertengahan dan 
sejarah Baru, terutama dengan peristiwa-peristiwa utama Abad ke-19, 
pengetahuan tentang sejarah Belanda sebagai Tanah Air Belanda serta 
kekuasaan Kolonialisme yang dimilikinya ,
Dari kutipan di atas diketahui fakta bahwa kompetensi seorang 
kepala sekolah (Hoofd-onderwijzer), tidak hanya wajib memahami sejarah 
Belanda dan Hindia Belanda, akan tetapi secara lebih mendalam wajib 
mengetahui berbagai materi lain dalam sejarah yaitu tokoh-tokoh sejarah 
Klasik. Mengetahui dan dapat menjelaskan fakta-fakta utama sejarah 
Abad Pertengahan dan Sejarah Zaman Baru (enlightment), dan terutama 
penguasaan atas peristiwa-peristiwa sejarah penting pada abad ke-19. 
Selain itu kepala sekolah wajib memiliki kompetensi sejarah Belanda 
sebagai tanah air bagi kolonialisme, dan memiliki pengetahuan sejarah 
akan negeri-negeri koloni Belanda, terutama sejarah Hindia Belanda.
Buku Teks Rujukan Pelajaran Sejarah
Buku teks merupakan salah satu bagian penting dalam materi 
pelajaran sejarah. Dengan berbagai keterbatasan, pemerintah Kolonial 
mengeluarkan buku rujukan bagi pelajaran sejarah. Buku teks sejarah 
setebal 97 halaman dengan judul Korte geschiedenis van Nederlandsch-Indie 
diterbitkan tahun 1917 ) merupakan sumber bagi penelitian 
ini. Buku tersebut merupakan rujukan yang digunakan untuk sekolah 
lagere scholen, MULO dan Middelbaar Onderwijs. Buku tersebut berisi sejarah Nusantara dalam perspektif kolonial yang disusun secara 
kronologis dan ringkas tentang pelajaran sejarah. Berikut merupakan 
periodisasi yang disusun peneliti karena dalam teks tidak dilakukan 
pembagian berdasarkan periode namun berisi bab saja.
Titik awal periodisasi dalam buku tersebut dimulai dengan sejarah 
pra-Islam dengan waktu mundur sekitar 2000 tahun lalu sampai masa 
Kerajaan Majapahit. Dimulai dengan materi tentang Jawa 2000 tahun yang 
lalu, dilanjutkan dengan hadirnya penduduk baru, Jawa di antara umat 
Hindu, Kerajaan Hindu, agama penduduk tertua (pra-Hindu), agama 
orang Jawa Hindu, Hindu dan pribumi, Agama Hindia lainnya di Jawa, 
kuil, serangan Cina, Kerajaan Majapahit dan akhir dari sebuah kerajaan 
besar tersebut.
Materi pada periode kedua adalah mengenai latar belakang 
kedatangan Kompeni Belanda yaitu VOC, perusahaan perniagaan multi 
nasional terbesar dunia pada zamannya, hingga runtuhnya VOC. Diantara 
materi teks referensi tersebut adalah Hindia dan Eropa, orang-orang asing 
di Nusantara, Hindia pada abad ke-16, Kunjungan pertama dari Belanda 
dan kunjungan selanjutnya, Kerjasama, Dasar-dasar Hindia Belanda, 
Sultan Ageng dan kompeni, kompeni (VOC) di luar Jawa, Sulawesi, 
Sumatera dan seterusnya, Mataram membutuhkan kompeni, Banten, 
Compagnie, Vorsten, dan Onderdanen, bagian dalam Mataram, perang untuk 
tahta Mataram, Perdagangan dengan Kompeni, pemberontakan orang 
Cina, Perubahan Jawa, berakhirnya Kompeni.
Periode ketiga yaitu kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda di 
Nusantara, yang dimulai awal abad 18 hingga peristiwa-peristiwa aktual 
sebelum tahun 1917. Diantara bab yang terdapat dalam periode ini adalah Nusantara di bawah pemerintahan baru, Bangsa Inggris di Hindia dan 
Jawa, Hindia kembali di bawah otoritas Belanda, Sistem budaya, Hindia 
di luar Jawa, Perang Aceh, Perang di Lombok, Hindia dan Tanah Air, 
Peradaban dan kemakmuran, dan beberapa peristiwa ‘kontemporer’ di 
Hindia.Selain ketiga periode yang ditentukan dan dipengatuhi ideologi 
pemerintah Kolonial, terdapat bab atau materi lain yang menjadi 
suplemen tambahan bagi buku. Yaitu susunan kronologi perisitwa sejarah 
penting sejak 2000 tahun yang lalu, kelahiran Kristus, pelayaran Eropa, 
sampai penaklukan Aceh, yang kesemuanya Barat-sentris , Buku teks ini ditutup dengan lampiran peta Dunia yang 
berisikan rute pelayaran orang Eropa ke Nusantara.
Pelajaran Sejarah di Sekolah Kolonial
Mata pelajaran sejarah menjadi kompetensi murid-murid pada 
pendidikan kolonial di berbagai tingkatan. Mata pelajaran yang diberikan 
pada Europeesche Lagereschool (ELS) seperti yang diberikan pada sekolah di Negeri Belanda, dengan perkecualian pelajaran Sejarah Tanah Air 
(Belanda) diganti dengan Sejarah Negeri Belanda dan Hindia Belanda
. Sedangkan Gewoon Lager Onderwijs merupakan sekolah 
dasar dengan jumlah sekolah 20 di Jawa dan Madura dan diluar itu 15 
sekolah, dengan jumlah siswa dapat mencapai 200 orang , Pada kelas permulaan sekolah dasar tersebut para 
siswa mendapatkan mata pelajaran die der geschiedenis van Nederland en 
Nederlandsch-lndië (Sejarah Belanda dan Sejarah Hindia Belanda) 
Adapun sekolah menengah lanjutan yaitu Meer Uitgebreid Lager 
Onderwijs (MULO) mendapatkan pelajaran die der algemeene geschiedenis
(Sejarah Umum) bagi murid-muridnya , Sedangkan, 
AMS A II yang berorientasi klasik Barat terdapat pelajaran Sejarah 
Kebudayaan Kuno Barat, namun sejarah kebudayaan/kesenian ‘Indonesia’ 
tidak diberikan tempat 
Selain sekolah formal, sekolah keagamaan juga memiliki mata 
pelajaran sejarah. Diantaranya adalah Zusters Ursulinen (Suster Ursulin) 
merupakan lembaga pendidikan untuk suster khususnya wanita muda 
yang bertempat di Weltevreden terdapat pelajaran De Geschiedenis 
(Algemeene en Vaderlandsche)  Adapun sekolah 
Ursulinen-School To Bandoeng yang merupakan sekolah persiapan untuk 
pendidikan lager (dasar) dan uitgebreid lager (lanjutan), mewajibkan 
siswanya untuk menempuh mata pelajaran De geschiedenis van Nederland 
en Nederlandsche Indies (Sejarah Belanda dan Sejarah Hindia Belanda) dan 
bahkan selain sejarah umum belajar juga De Fransche en Engelsche taal 
Algemeene geschiedenis (Sejarah Sastra Perancis dan Inggris) , Sekolah ini juga terhubung dengan Fröbelschool (sekolah Frobel) dan 
industrieschool (Sekolah Industri).
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda juga menetapkan diantara ujian 
untuk Middelbaar Onderwijs, diperlukan kemampuan output pembelajaran 
sejarah yakni kompetensi yang wajib dimiliki setiap siswa yaitu van zijn 
kennis van de voornaamste feiten en jaartallen der vaderlandsclie geschiedenis
(pengetahuan siswa tentang fakta-fakta utama sejarah dan tahun-tahun 
bersejarah) 
Urgensi pembelajaran sejarah juga merupakan salah satu kompetensi 
pada HBS dimana untuk ujian akhir Hoogere Burgerscholen (HBS), terdapat 
mata uji Sejarah . Di sekolah Hoogere Burgerschool 
En Pensionaat Voor Meisjes Te Weltevreden, kandidat yang menginginkan 
masuk sekolah tersebut harus memiliki kemampuan sejarah diantaranya 
Van hare bekendheid met de Vaderlandsche Geschiedenis (Memiliki keakraban 
dengan Sejarah Tanah Air Belanda) 
Selain murid dan pendidik, kompetensi sejarah juga diperlukan 
untuk beberapa persyaratan pekerjaan baik di bidang sipil maupun non￾sipil. Diantaranya adalah ujian akhir pegawai administratif Hindia 
Belanda, dimana kandidat akan mendapatkan tes mengenai de geschiedenis 
van N. I., alsmede de historie en de methoden der zending in den Maleischen 
Archipel sedert 1800 (Sejarah Hindia Belanda serta sejarah dan metode 
zending di Nusantara/Kepulauan Melayu sejak tahun 1800) 
Selain pegawai administratif, pendaftaran ke sekolah militer seperti 
pada Meester-Cornelis, memerlukan kompetensi yaitu mata uji Sejarah 
yang lebih mendalam. Kompetensi untuk masuk dalam sekolah militer, siswa sebagai pelamar harus memiliki pemahaman pengetahuan tentang 
[1] sejarah Klasik dan Abad Pertengahan serta pengantar menuju Sejarah 
Baru; [2] Sejarah Baru: Gambaran umum mengenai sejarah Baru sampai 
dengan 1648, terutama menyangkut tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa 
yang telah memberikan pengaruh dominan pada perkembangan 
masyarakat pada umumnya, atau lebih khusus terkait dengan Belanda. [3] 
[Penguasaan] Sejarah Patriotisme Belanda hingga 1568 dengan sangat 
baik; sejak 1568 hingga 1648 dengan paparan lebih detail dan ikhtisar 
ringkas tentang sejarah Koloni Belanda dan harta-harta benda, sejak 
pembentukan otoritas Belanda - 1648. Sebagai perbandingan, kursus 
perdagangan pun yaitu Prins Hendrikschool Te Batavia-Handelscursus, selain 
mendapatkan penguasaan kemampuan pencatatan (akuntansi) dan 
kemampuan bahasa, juga sampai pemahaman mengenai sejarah yaitu 
Handelsgeschiedenis en staahuishoudkunde (sejarah perdagangan dan 
ekonomi baja), meskipun tidak spesifik berhubungan langsung dengan 
sejarah Belanda dan Sejarah Hindia Belanda 
Tokoh Bumiputera Belajar Sejarah
Tokoh pertama yang menjadi bagian dari penelitian tentang 
pelajaran sejarah pada pendidikan Kolonialisme adalah Soekarno. Dalam 
pembahasan ini artikel pada koran Leeuwarder Courant berjudul “Soekarno, 
Strijder Voor Eenheid En Onafhankelijkheid Van Indonesie” menjadi salah satu 
referensi penting. Perjalanan pendidikan Soekarno dimulai ketika ia 
masuk dalam sekolah Hollandsch-Indische, di mana ayahnya adalah kepala 
sekolah. Ketika dia melalui lima kelas, ayahnya memutuskan bahwa 
waktunya telah tiba bagi Soekarno untuk masuk ke jenis sekolah yang 
lebih tinggi, yang awalnya ditujukan untuk anak-anak Belanda: sekolah dasar Eropa. Pada masa transisi, Soekarno kehilangan satu tahun: ia 
datang di kelas lima ELS. Setelah selesai ELS, ayahnya mewajibkannya 
untuk melanjutkan pendidikannya ke HBS. Sebelum itu, Soekarno pergi 
ke dan menjadi murid seorang teman ayahnya, H.O.S. Tjokroaminoto. 
Bertahun-tahun Soekarno tinggal di sana, mendapat pengaruh yang 
sangat besar pada kehidupan selanjutnya. HBS kemudian dilewati 
Soekarno tanpa banyak kesulitan dimana Soekarno masuk pada usia 15 
tahun dan lulus pada saat usianya 20 tahun. 
Setelah memutuskan untuk meninggalkan sebuah beasiswa studi ke 
luar negeri, keinginan lama Soekarno untuk menjadi seorang seniman 
kembali bergelora. Pada 1921 Soekarno melanjutkan studi yang dapat 
menyalurkan jiwa seni dengan kemampuan hardskill teknik, yaitu 
Technische Hogeschool di Bandung ,. Kemudian di Surabaya, datang 
berita bahwa Tjokroaminoto ditangkap karena sifat anti Kolonialisme 
organisasi politik Sarekat Islam yang dipimpinnya, sehingga Soekarno 
memutuskan untuk bekerja demi mengurus berbagai keperluan keluarga 
Tjokroaminoto. Tjokroaminoto dibebaskan setelah tujuh bulan dan 
Soekarno kembali ke Technische Hogeschool (sekarang ITB). 
Meskipun Soekarno juga menghabiskan cukup banyak waktu untuk 
kegiatan politik, studinya berkembang dengan baik dan sangat cepat 
sehingga pada 25 Mei 1926 ia lulus sebagai insinyur sipil dengan 
spesialisasi arsitektur dan waktu belajarnya telah selesai. Soekarno 
kemudian memilih jalan non-kooperatif sebagai kelanjutan dari ideologi 
yang ditularkan gurunya, Tjokroaminoto sang tokoh Sarekat Islam, 
sehingga Soekarno menolak bergabung dan bekerjasama dengan pemerintah Belanda. Soekarno menerima beberapa tugas pribadi untuk 
pembangunan perumahan, yang kemudian ia bekerjasama dengan Ir. 
Anwari pada sebuah perusahaan arsitektur. Yang menarik adalah 
Soekarno pernah menjadi guru sejarah dan matematika di sekolah swasta 
yang digerakkan oleh Dr. Setia Buddhi Danoedirdjo (nama aslinya adalah 
Dr. E.F.E. Douwes Dekker)  
Dalam sebuah koran Belanda yaitu Leeuwarder courant, disebutkan 
lebih lanjut bahwa seorang inspektur yang menghadiri pelajaran sejarah 
dari Soekarno menyatakan dia tidak cocok untuk pekerjaannya
(“Soekarno, Strijder Voor Eenheid En Onafhankelijkheid Van Indonesie,” 
1970). Patut diduga bahwa seorang inspecteur yang menghadiri kelas 
pelajaran sejarah dari Soekarno keberatan jika Soekarno mengajarkan dan 
mempertajam kemampuan berpikir kritis siswa-siswanya dengan 
pelajaran sejarah. Kemampuan berpikir kritis dikhawatirkan mengganggu 
stabilitas jalannya pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, sehingga 
pengawas tersebut keberatan dan menilai Soekarno tidak cocok 
mengajarkan sejarah. Dalam hal kecil saja misalnya, Soekarno enggan 
menggunakan sebutan “raden” yang menunjukkan sikap kritisnya 
terhadap feodalisme yang saat itu bergandengan tangan dengan 
kolonialisme Hindia Belanda.
Dari pelajaran sejarah, Soekarno memahami pentingnya pergerakan 
rakyat melalui organisasi yang mendorong cita-cita kemerdekaan 
menentang kolonialisme Barat, sehingga ia aktif bekerjasama dan 
mendirikan berbagai organisasi sebagai corong perjuangan. Soekarno 
mendirikan Algemene Studie Club (Klub Studi Umum) di Bandung pada tahun 1925, di mana ia menjadi ketua. Selain studi klub, Soekarno juga 
aktif dalam Jong Java. Soekarno juga mengadakan pidato dimana pada 
setiap kesempatan ia menyampaikan penentangannya terhadap 
pemerintahan kolonial Belanda, yang selanjutnya menunjukkan bahwa 
Soekarno adalah orator handal yang mampu menarik kerumunan massa 
yang banyak. Pada 4 Juli 1927 Soekarno mendirikan Perserikatan Nasional 
Indonesia, yang namanya diubah setahun kemudian di Partai Nasional 
Indonesia dengan para pendiri lainnya yaitu Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo, 
dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr. Budiardjo dan Mr. Soenarjo.
Dalam buku autobiografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams, 
bung Karno menjelaskan bagaimana besarnya pengaruh guru-guru yang 
meskipun berbangsa Belanda, telah mengajarkan bagaimana demokrasi 
Yunani dari pelajaran sejarah. Pada zaman demokrasi Yunani Kuno, para 
wakil rakyat bebas mengeluarkan pendapat dan mengajar rakyat untuk 
menentang penindasan dan penghisapan, sambil membangun 
kemerdekaan dan keadilan 
Materi pelajaran mengenai sejarah Yunani Kuno tersebut ternyata 
membuat Soekarno berpikir bahwa kondisi di Hindia Belanda 
mengkhawatirkan dimana berbanding terbalik dengan realitas sosial 
kondisi dimana penindasan, penghisapan, kemerdekaan dan keadilan. 
Hal tersebut, tidak hanya berhenti pada pemikiran personal saja, akan 
tetapi juga diungkapkan dan mengadu argumentasi-argumentasinya 
dalam debating club bersama siswa-siswa Belanda di HBS Surabaya 
mengenai kolonialisme 
Dalam perspektif ilmu pendidikan, saat Soekarno mempresentasikan 
hasil penelitian atau pemikirannya di depan kelas atau dalam debating club, menurut Maor sebenarnya melalui kegiatan tersebuts kemampuan 
berpikir kritis tingkat tinggi akan terbukti 
Pemikiran Soekarno juga dipengaruhi oleh diskusi tokoh-tokoh dari 
berbagai aliran yang berdiskusi di rumah Tjokroaminoto, tempat 
Soekarno tinggal, sehingga dalam menelurkan pemikirannya dalam 
media massa penentangan kolonialisme yaitu Oetoesan Hindia. Pemikiran 
kritis Soekarno membuatnya dijuluki “Karel” oleh seorang guru wanita 
Belanda. HBS bagi Soekarno, telah menjadi suatu forum pertemuan 
kebudayaan Barat dengan pemuda Indonesia yang minoritas, dan menjadi 
tempat “transformasi” jiwa kemerdekaan bangsa Belanda kepada kita
.
Tokoh selanjutnya yang mengalami pendidikan masa Kolonialisme 
adalah Roeslan Abdulgani yang kelak menjadi Menteri setelah Indonesia 
merdeka . HBS Surabaya selain oleh Soekarno juga pernah 
menjadi tempat belajar bagi Roeslan Abdulgani (masuk tahun 1932), dan 
lulus pada tahun 1934 dengan mengikuti kelas 4 dan kelas 5 dari de 
wiskundige afdeeling. Di samping itu juga ada de literaire afdeeling yang 
banyak mempelajari sastra dan kebudayaan, termasuk bahasa Yunani dan 
bahasa Latin. Roeslan Abdulgani dalam pemaparan pengalamannya 
mengenai sistem pendidikan belanda menyebutkan bahwa:
“Suatu kenyataan yang tak dapat diungkiri ialah bahwa jiwa 
pendidikan dan sistem pelajaran dalam lingkungan HBS Surabaya 
adalah jiwa kemerdekaan dan kebebasan yang kuantitatif dan 
kualitatif sangat bernilai sekali. Sesuai dan sama seperti yang 
dipraktekkan di Negeri Belanda sendiri. Inilah konsekuensi dari 
concordantie-beginsel. Dengan begitu anak pribumi yang dapat masuk 
ke lingkungan HBS itu ikut menghirup udara segar kemerdekaan. 
Padahal di luar itu adalah masyarakat kolonial. Dengan adanya 
situasi kontradiktif dan antagonistis ini jiwa anak-anak pribumi selalu memberontak. Udara segarnya HBS memberi dorongan dan 
inspirasi untuk menentang sistem kolonialisme Belanda. Dengan 
demikian HBS Surabaya merupakan suatu ”enclave dan oase” di 
tengah-tengah masyarakat kolonial.”
Pemikiran-pemikiran kritis murid-murid HBS, selain melalui 
pengajaran dari guru-guru, juga melalui budaya literasi yang tinggi di 
tengah berbagai keterbatasan sumber bacaan. Misalnya, di kelas 4 pada 
mata pelajaran bahasa, murid-murid diwajibkan membaca karya sastra 
yang harus dibaca dan akan diuji melalui ujian lisan yaitu 30 buku Sastra 
Belanda, 10 buku Sastra Inggris, 10 buku Sastra Jerman, dan 10 buku 
Sastra Perancis dengan berjumlah 60 buku ,Hal tersebut menjadi bahan renungan dan evaluasi bagi pengajar 
sejarah khususnya bahwa untuk meningkatkan kemampuan berpikir 
kritis bagi siswa harus juga didampingi dengan budaya literasi yang baik. 
Selain melalui pelajaran sastra, menurut Roeslan Abdulgani, mata 
pelajaran sejarah sangat mempertebal patriotisme dan nasionalisme.
Roeslan Abdulgani diajari seorang guru sejarah berkebangsaan 
Belanda bernama Postma mengajarkan berbagai pelajaran yang berharga 
dan berpengaruh bagi nasionalisme Indonesia. Pelajaran sejarah yang 
diberikan dianggap sebagai ajaran sejarah yang progresif dan tak 
disebutkan sedikitpun bahwa sejarah merupakan hafalan tanpa makna 
yang membosankan:
“Dari Postma beliau [Roeslan Abdulgani] mendapat pelajaran 
tentang Revolusi Perancis, yaitu revolusi yang berpengaruh 
terhadap revolusi-revolusi antara tahun 1830- 1850 di Jerman, dan 
disusul dengan adanya kontra revolusi dan seterusnya. Juga adanya 
gerakan pemuda dan mahasiswa Jerman pada awal abad ke-19, 
tumbuhnya gerakan buruh di Jerman dan Inggris, lahirnya 
Manifesto Komunis oleh Karl Marx, meningkatnya sistem 
kapitalisme dan kolonialisme Eropa menjadi imperialisme modern sekitar tahun 1870, akibat-akibat imperialisme modern terhadap Asia 
Afrika, perjuangan Garibaldi dan Mazzini untuk persatuan Italia, 
dan aktivitas Bismarck untuk menyatukan seluruh Jerman. 
Semuanya itu mendebarkan hati murid-murid pribumi HBS 
Surabaya.”
Pelajaran sejarah progresif diberikan di HBS, menurut Dr. H. 
Roeslan Abdulgani bertentangan dengan pelajaran sejarah di MULO 
Ketabang Surabaya yang mengutamakan hafalan dan berbau rasialisme, 
mengagungkan sejarah bangsa kulit putih dan meremehkan sejarah 
bangsa sawo matang 
HBS memfasilitasi perkembangan peserta didiknya melalui berbagai 
aktifitas pendidikan diantaranya terdapat discussion group yang diatur 
oleh kepala sekolah dan juga terdapat debating club dimana pada akhirnya 
terdapat anak-anak pribumi dengan teman Cina dan tiga murid Belanda 
yang simpati terhadap nasionalisme dan patriotisme Indonesia
. Debating-club telah berhasil 
menghadirkan diskusi-diskusi dengan sumber-sumber primer seperti 
pidato pembelaan Bung Hatta di muka pengadilan Belanda di Den Haag 
tahun 1928 berjudul De on uitgesproken pleifrede van Mon. Hatta voor de 
Arrondissements rech tbank te 's-Gravenhage, yang sebelumnya dilarang 
beredar, juga dibahas pidato pembelaan Bung Karno di pengadilan 
kolonial di Bandung pada 2 Desember yaitu Indonesie klaagt aan! Para 
murid berhasil mentrasformasikan pemikiran Soekarno dan Hatta, 
dimana terdapat persamaan bahwa keduanya mencerminkan jiwa ingin 
merdeka. 
Sekolah HBS menjadi tempat yang terbuka bagi pengembangan 
intelektualitas bahkan jika harus menentang kolonialisme Belanda. Hal 
tersebut dapat dilihat dengan kewajiban membaca buku karya sastra yangdibaca bersama di muka kelas pada pelajaran bahasa Belanda, yaitu buku 
Max Havelaar of de koffie-veilingen de Nederlansche Handelsmaatschappij oleh 
Multatuli yang terkenal itu. Menurut Roeslan Abdulgani, bahwa dengan 
dijadikannya bacaan wajib buku tersebut mengakibatkan timbulnya 
kesadaran merasa bersalah atau Schuldbewustheid hingga “ingin menebus 
dosa” di kalangan Pemerintah Belanda juga dirasakan khususnya guru￾guru Belanda di HBS . Menarik 
untuk dicermati bahwa buku anti kolonial yang telah membakar 
semangat itu ditetapkan sebagai buku wajib termasuk bagi mayoritas 
murid-muridnya adalah anak-anak Belanda di HBS.
 
Aspek-aspek pembelajaran sejarah yang terdapat dalam penelitian 
ini adalah kompetensi pendidik mengenai sejarah, buku teks rujukan 
pelajaran sejarah, penerapan pelajaran sejarah, serta objek pendidikan 
yaitu murid yang mengikuti proses pembelajaran dalam sistem 
pendidikan Belanda. Berbagai aspek tersebut akan dibahas dan dianalis 
pada bagian pembahasan ini. 
Pemahaman sejarah merupakan kompetensi yang wajib dikuasai 
bagi pendidik mulai dari guru kelas, guru les, sampai kepala sekolah. 
Bahkan kepala sekolah harus menguasai materi sejarah secara lebih 
dalam. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memiliki pandangan bahwa 
pelajaran sejarah penting untuk dipahami dan dikuasai karena menjadi 
basis dan legitimasi bagi ideologi pemerintah kolonial yaitu Kolonialisme 
yang ditujukkan kepada peserta didik. Sebelum peserta didik diajarkan 
sejarah versi kolonial, maka peran pengajar menjadi penting sebagai 
perantara indoktrinasi serta salah satu sumber belajar. Kompetensi pelajaraan sejarah juga digunakan pada berbagai ujian 
dalam tingkatan jenis sekolah. Diantara sekolah formal yang mewajibkan 
sejarah adalah Europeesche Lagereschool (ELS), Gewoon Lager Onderwijs, Meer 
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Algemeenee Middelbare School (AMS), 
serta Hoogere Burgerschool (HBS). Sekolah keagamaan juga memiliki mata 
pelajaran sejarah diantaranya Zusters Ursulinen, Ursulinen-School, 
Fröbelschool (sekolah Frobel) serta industrieschool (Sekolah Industri). Selain 
sekolah, kompetensi sejarah juga diperlukan untuk pekerjaan di bidang 
sipil maupun non-sipil seperti ujian akhir pegawai administratif Hindia 
Belanda, pendaftaran sekolah militer Meester-Cornelis, sampai kursus 
perdagangan (ekonomi).
Dalam sistem pendidikan Belanda, pelajaran sejarah dijadikan alat 
untuk mendukung tujuan, program serta kebijakan pemerintah Kolonial. 
Oleh karena itu, materi pelajaran sejarah selain Sejarah Hindia Belanda, 
juga mewajibkan Sejarah Belanda yang disebut ‘tanah air’ menjadi bagian 
penting dari materi yang diberikan kepada siswa Belanda maupun 
bumiputera . Materi sejarah juga beriorentasi sejarah 
Eropa-sentris yang mengagungkan superioritas Barat sehingga materi 
berikut menjadi penting diantaranya tentang tokoh sejarah klasik Eropa, 
peristiwa Abad Pertengahan dan Pencerahan di Eropa sampai peristiwa 
abad 18-19 di Eropa. Materi pelajaran sejarah tidak mementingkan 
kebesaran bangsa Indonesia di masa lalu. Hal tersebut dapat terlihat dari 
susunan kronologis serta materi sejarah yang diajarkan pada sekolah￾sekolah Belanda. Selain itu diajarkan sejarah penguasaan akan negeri￾negeri koloni Belanda, seperti Hindia Belanda juga Hindia Barat.Buku teks yang dijadikan rujukan bagi pelajaran sejarah juga 
didesain sedemikian rupa sehingga sejalan dengan agenda penyebaran 
ideologi Kolonialisme. Peneliti menganalisis bahwa perspektif kolonial 
sangat berpengaruh pada buku teks dengan berdasarkan pada beberapa 
temuan yang sarat akan hubungan dengan kepentingan kolonialisme 
Belanda. Temuan-temuan tersebut akan disebut sebagai propaganda pada 
buku teks. Propaganda pertama, Bangsa Kulit Putih merupakan bangsa 
yang lebih beradab dibandingkan bumiputera dan hal ini merupakan 
rasialisme dan mengungkapkan superioritas Barat. Hal inilah yang 
disebut disaksikan oleh Roeslan Abdulgani yang menyatakan bahwa 
pelajaran sejarah pada masa kolonial mengutamakan hapalan dan berbau 
rasialisme, mengagungkan sejarah bangsa kulit putih dan meremehkan 
sejarah bangsa sawo matang 
Propaganda kedua, Nusantara dan Jawa berakar dan berasal dari 
Hindu, sehingga terlihat kesan untuk menjauhkan Islam dari penduduk 
Nusantara dan termasuk tidak banyak membahas mengenai sejarah Islam 
di Nusantara. Hal ini merupakan bentuk antisipasi pemerintah Kolonial 
menghadapi umat Islam Indonesia karena fenomena revival umat Islam
dengan memperbanyak pendirian lembaga pendidikan kolonial ,
Propaganda ketiga, VOC dan Belanda datang ke Nusantara adalah 
untuk berbisnis dan bukan menjajah, adapun pada akhirnya berkuasa itu 
karena kesalahan raja-raja Nusantara yang saling bertikai. Dengan narasi 
ini, Belanda membangun legitimasi kekuasaannya atas penjajahan di 
Nusantara dengan menyebut diri sebagai penyelamat karena berperan menengahi konflik antar kerajaan sehingga seyogyanya bumiputera 
menerima Kolonialisme Belanda.
Propaganda keempat, melalui simbol pengagungan tokoh-tokoh 
yang dianggap sebagai penjajah namun dalam perspektif kolonial adalah 
pahlawan. Diantara tokoh Barat yang ditampilkan melalui lukisan yaitu 
potret J. P. Koen, Daendels, Raffles, van Heutz, tanpa ada satupun tokoh 
Nusantara. Sebaliknya disebutkan bahwa Sultan Agung adalah “raja yang 
kejam yang tidak menyelamatkan nyawa manusia [dimana] seluruh 
wilayah hancur, desa dan kota dibakar, penduduk dibunuh atau diambil 
sebagai budak” ,
Propaganda kelima, Belanda memberikan stigma dan label jahat bagi 
siapapun pihak yang menentang Kolonialisme Belanda. Misalnya Belanda 
menyebut dirinya pahlawan dan sebaliknya disebutkan bahwa rakyat 
Aceh yang melawan Belanda adalah bajak laut, pencuri, licik, dan 
sebagainya. Sedangkan ketika Aceh ditaklukan disebutkan bahwa 
“Belanda [akhirnya] melakukan yang terbaik dengan memberi orang￾orang Aceh kemakmuran yang seharusnya sudah begitu lama [mereka 
dapatkan]” ,
Bagi murid-murid bangsa Belanda, pelajaran sejarah telah 
menanamkan rasa superioritas mereka sebagai bangsa penjajah dan 
sebaliknya bagi bumi-putera pelajaran sejarah menanamkan identitas 
sebagai bangsa terjajah. Narasi kebesaran kaum Eropa ke Nusantara 
menjadi salah satu bagian yang berimplikasi pada produk pendidikan 
yang menghasilkan siswa-siswa bumiputera yang menghasilkan 
kemampuan berpikir kritis, mengembangkan nilai-nilai positif untuk 
diimplementasikan. Hal tersebut memberikan landasan bagi siswa bumiputera untuk melawan Kolonialisme dan Imperialisme Belanda dan 
membangkitkan kesadaran kolektif kebersamaan sejarah bumiputera 
sebagai proses pengenalan diri. 
Proses pengenalan diri, menurut Wiraatmadja, merupakan titik awal 
dari timbulnya harga diri, kebersamaan, dan keterikatan (sense of 
solidarity), rasa keterpautan dan rasa memiliki (sense of belonging), 
kemudian rasa bangga (sense of pride) terhadap bangsa dan tanah air 
sendiri . Pelajaran sejarah secara tidak langsung telah 
menanamkan rasa bangga (sense of pride) terhadap bangsa dan tanah air 
Indonesia, meskipun pendidikan Belanda untuk bumi-putera baru 
dimulai sejak awal abad XX melalui politik etis (etische politiek) dan hanya 
terbatas pada anak-anak dari kalangan elit.
Fenomena yang tidak direncanakan Belanda tersebut menunjukkan 
bahwa mata pelajaran sejarah, telah membuka cakrawala dan pemikiran 
para tokoh untuk mengambil pelajaran, dan tidak hanya berhenti pada 
intelektualitas, pengajaran sejarah dapat menggerakkan para siswa untuk 
bertindak dengan tujuan kemerdekaan Indonesia. Tindakan-tindakan 
(Acts) yang meningkatkan keterampilan berpikir yang didasari atas 
pengaruh dari aktifitas-aktifitas pedagogis di ruang kelas, jika ditinjau 
dari taksonomi Bloom, maka dapat dikategorisasi bahwa murid-murid 
HBS dengan pelajaran sejarah tak berhenti pada tingkatan keterampilan 
berpikir tingkat rendah (LOTS/Low Order Thinking Skills) akan tetapi 
hingga keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS/High Order Thinking 
Skills) . Para murid tidak hanya 
mengingat (Cl) dan memahami (C2), akan tetapi juga sampai pada 
tahapan analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6), karena setelah mendapatkan pelajaran sejarah, mereka juga mengambil sintesis dan 
mengevaluasi kondisi lingkungan sosial politik dan ekonomi yang terjadi. 
Perlu diketahui pula bahwa situasi politik pada lembaga pendidikan 
Belanda turut mempengaruhi dan meningkatkan rasa kritis para murid 
bumiputera. Misalnya angkatan Soekarno yang berada pada situasi tahun 
1916-1921 diliputi progresivitas aktivitas gerakan Serikat Islam, 
berakhirnya Perang Dunia I, naiknya ekspor gula, serta janji ‘merdeka’
dari Pemerintah Belanda tahun 1918 yang tidak dipenuhi telah
mendorong pergerakan nasional Indonesia termasuk para murid 
bumiputera menuju ke arah radikalisme. Situasi tersebut telah mencetak 
banyak generasi yang kritis terhadap Kolonialisme bahkan cenderung 
radikal.
Periode selanjutnya diantaranya zaman Mukarto dan Roeslan 
Abdulgani, situasi politik diliputi pengaruh krisis malaise 1930, 
pemberontakan kapal perang Zeven Provincien, serta tangan-besi 
pemerintah kolonial terhadap pemimpin-pemimpin pergerakan nasional 
Indonesia. Panasnya situasi politik umum dan itu ternyata masuk juga ke 
dalam gedung sekolah HBS 
Pemikiran kritis para murid, yang telah sampai pada tingkatan 
mengevaluasi situasi politik di ruang-ruang kelas, jika dihubungkan 
dengan pendapat Stasz et al. dan Thomas mengenai HOTS dimana kondisi 
keterampilan berpikir tinggi tersebut menandai adanya proses 
pembelajaran yang ditandai adanya: (a) kolaborasi antara guru, siswa, dan 
lintas ilmu (b) mendorong keingintahuan, eksplorasi, dan penyelidikan (c) 
pembelajaran berpusat pada siswa (d) kegagalan dipandang sebagai 
kesempatan belajar (e) pengakuan terhadap usaha, tidak hanya pada prestasi (f) belajar secara kontekstual dalam kehidupan nyata
,Meskipun taksonomi Bloom muncul jauh 
setelah Indonesia merdeka, akan tetapi pandangan Bloom dan ahli 
pendidikan cukup memberikan gambaran bahwa pendidikan sejarah 
yang diajarkan pada masa kolonialisme Belanda berhasil melahirkan 
tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang bertindak dan 
beraksi pada kehidupan nyata siswanya di masa depan sebagai bentuk 
tertinggi dalam taksonomi kognitif.
Eksplanasi serta interpretasi yang disajikan di atas menunjukkan 
penelitian sejarah melalui metode sejarah dapat dibantu dengan bidang 
keilmuan lain diantaranya konsep atau teori pendidikan dalam membahas 
tema-tema sejarah pendidikan. Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu
sumber-sumber primer sezaman dengan jumlah yang terbatas mengenai 
sistem pendidikan kolonial khususnya yang berkenaan dengan 
pembelajaran sejarah. Namun, kajian terhadap kompetensi pendidik, 
materi pelajaran, buku teks rujukan pelajaran, serta kesaksian murid, yang 
berhubungan dengan pelajaran sejarah dapat membuka ruang bagi 
penelitian selanjutnya dengan kualitas maupun kuantitas data yang lebih 
beragam. Penelitian ini cukup memberikan informasi mengenai situasi, 
kondisi, serta implikasi dari pembelajaran sejarah pada masa 
Kolonialisme Belanda yang diharapkan dapat berkontribusi bagi kajian 
Sejarah Pendidikan di Indonesia.Pendidikan merupakan proses yang berkaitan
dengan upaya untuk mengembangkan tiga aspek dalam
diri seseorang dalam kehidupanya, yaitu pandangan
hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup. Bangsa
Indonesia telah mengalami berbagai bentuk praktek
pendidikan, pertama dimulai dari praktek pendidikan
Hindu, pendidikan Budha, pendidikan Islam, pendidikan
zaman Vereenigde Oest Indische Compagnie (VOC),
pendidikan kolonial Belanda, pendidikan zaman
pendudukan Jepang dan zaman setelah merdeka hingga
sekarang, akan tetapi pendidikan Belanda yang sangat
melekat di Indonesia, antara lain dari bentuk sekolah,
kelas dan susunan tempat duduk, sangat persis dengan
pendidikan Belanda dulu.
Pendidikan yang dilaksanakan oleh Belanda
pada awalnya hanya diterapkan untuk memenuhi
kebutuhan para pegawai Belanda beserta keluarganya
yang memerlukan pendidikan dan latihan, baik mengenai
pengetahuan umum maupun mengenai pengetahuan
khusus tentang Indonesia (Sumarsono 1996: 11). Ini
berarti pendidikan Barat hanya tersedia bagi pihak
Belanda sendiri, yang kemudian memberikan kebijakan
bagi golongan yang dipersamakan dengan orang-orang
Eropa dan Barat serta anak-anak priyayi. Perkembangan
pendidikan di Indonesia semakin mendapati tahapan
barunya menjadi lebih progresif ketika memasuki tahun
1900. Ketika Van Deventer menjabat sebagai Gubernur
Jendral Hindia Belanda dan menerapkan sebuah
kebijakan baru yang dikenal sebagai Politik Etis (Politik
Balas Budi). Dengan motto “de Eereschuld” (hutang
Kehormatan) dan slogan “Educatie, Irrigate, Emigrate”
(Pendidikan, Irigasi, Emigrasi). Akan tetapi program
politik etis ini ternyata menjadi program yang merugikan
rakyat, karena pendidikan yang diberikan diharapkan
dapat mengurangi dasar pendidikan nasional bangsa
Indonesia seperti patriotisme, gotong royong, berdikari
dan sebagainya (Ary Gunawan, 2006:19).
Sistem pendidikan Belanda diatur dengan
sistem prosedural yang ketat dalam pelaksanaannya.
Pendidikan yang diberikan dibedakan berdasarkan tiap￾tiap golongan stratifikasi sosial. Pendidikan yang
diberikan pemerintah Hindia Belanda lebih diutamakan
bagi para golongan bangsawan dan yang dipersamakan
dengan orang-orang Eropa. Untuk menentukan status
seseorang dalam masyarakat kolonial, pemerintah
Belanda berpegangan pada penghasilan. Dengan
perhitungan tertentu maka yang berpenghasilan di atas f1
1.200 setahun dianggap sebagai golongan yang
mempunyai status yang cukup tinggi. Dalam dunia
kepegawaian, ini berlaku bagi pangkat asisten wedana ke
atas (Niel, 1997:34).
Sekolah-sekolah yang disediakan oleh
pemerintah Hindia Belanda bagi kaum bangsawan di
Indonesia salah satunya adalah Europese Lagere School
(ELS) yang merupakan sekolah dasar Eropa yang pada
dasarnya diperuntukan bagi keturunan Belanda yang
kemudian memberikan kebijakan pada para ketutunan
raja untuk memasukinya, Hollandse Inlandse School
(HIS) merupakan sekolah dasar yang diperuntukkan bagi
para bangsawan pribumi yang pada kenyataannya
golongan rakyat biasa juga dapat memasuki sekolah ini,
Hogere Burger School (HBS) merupakan sekolah
menengah dan sekolah lanjutan bagi lulusan ELS dan
Opleiding School Voor Inlandshe Ambteneran (OSVIA)
merupakan sekolah dasar yang disebut juga Sekolah
Raja (Sumarsono 1996: 14)
Berbagai kebijakan pendidikan telah diterapkan
oleh pemerintah Hindia Belanda berupa pendirian
lembaga-lembaga pendidikan. Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secaraefektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kaum bangsawan
adalah orang-orang keturunan raja-raja dan aristroktat
dalam sistim feodal. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui implementasi kebijakan pemerintah
Hindia Belanda mengenai pendidikan bagi kaum
bangsawan di Indonesia pada masa kolonial Belanda di
Indonesia tahun 1900-1920.Sejak kedatangan Belanda sebagai penguasa
politik di kepulauan Nusantara, berbagai kebijakan
sebagai wujud bentuk imperialisme modern
menampakkan dirinya sebagai kesatupaduan dalam
seluruh aktivitas kolonial yang selalu berupaya
menguasai seluruh wilayah kolonialnya secara sungguh- sungguh. Hasrat pemerintah kolonial Hindia Belanda
untuk mengekspolitasi daerah jajahan membutuhkan
sumber daya manusia yang terdidik. Oleh karena itu,
timbul kebijakan dan usaha pemerintah kolonial untuk
memperluas pendidikan dalam rangka menciptakan
tenaga-tenaga kerja murah yang terdidik. Dengan
semakin pesatnya perkembangan perekonomian Barat
yang ada di Hindia Belanda, maka pemerintah Belanda
terpaksa menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat
Bumiputera yang bertujuan untuk mendidik tenaga
terampil yang dapat dipekerjakan pada perusahaan dan
berbagai bidang lainnya.
Pada akhir abad ke-19 terjadi perubahan politik
di negeri Belanda yang sangat berpengaruh pada politik
pemerintahan Belanda di Indonesia. Perubahan politik ini
memberi angin segar bagi peningkatan kesejahteraan
orang pribumi sebagai tanggung jawab moral dari
pemerintah kolonial Belanda terhadap orang-orang
pribumi. Pada tahun 1899 terbit sebuah artikel oleh
seorang berkebangsaan Belanda, Van Deventer berjudul
“Hutang Kehormatan” (Een Eereschuld) dalam majalah
De Gids, yang berisi kerisauan kaum intelektual Belanda
terhadap humanisasi Hindia Belanda yang telah
terpengaruh kapitalisme. Munculnya artikel tersebut
memicu perubahan yang sangat drastis pada kebijakan- kebijakan pemerintah Belanda terhadap penduduk
jajahan di Hindia Belanda, yaitu dengan dicanangkannya
politik etis atau politik balas budi secara resmi pada
tahun 1901 oleh Ratu Belanda (Niel, 1997:48).
Seiring dengan kebijakan politik etis, dalam
kurun waktu 1900-1940 menunjukkan secara jelas bahwa
sejak abad ke-20 telah terjadi arus balik dari pendidikan
yang elitis menuju pendidikan yang lebih populis.
Kebijakan pendidikan diarahkan pada pemberian
kesempatan untuk bersekolah bagi rakyat jajahan,
sehingga perluasan besar-besaran jumlah sekolah
dilakukan oleh pemerintah Belanda. Pembukaan sekolah
tersebut kemudian juga membuka peluang untuk
pembukaan sekolah-sekolah guru untuk penyediaan guru
(Sumarsono, 1996: 60).
Pemerintah kolonial Belanda memiliki landasan
prinsip pendidikan dimana pemerintah berusaha untuk
tidak memihak salah satu agama tertentu, tidak
diusahakan untuk hidup selaras dengan lingkungannya
tetapi lebih ditekankan agar anak didik dikemudian hari
dapat mencari pekerjaan demi kepentingan kolonial.
Sistem persekolahan disusun menurut adanya perbedaan
lapisan sosial yang ada dalam masyarakat pribumi. Pada
umumnya pendidikan diukur dan diarahkan untuk
membentuk golongan elit sosial agar dapat dipakai
sebagai alat bagi kepentingan atau keperluan supremasi
politik dan ekonomi Belanda di Indonesia. Pembukaan
sekolah pribumi dilakukan hanya sebatas kebutuhan
praktis pemerintah Belanda. Sistem pendidikan yang
dijalankan pun bersifat dualistis, dimana terdapat garis
pemisah yang tajam antara dua subsistem, sistem sekolah
Eropa dan sistem sekolah pribumi (Sumarsono 1996:93).
Secara teoritis tujuan pendirian persekolahan
sangat baik, namun dalam prakteknya meskipun tidak
secara langsung terdapat kecenderungan diskriminatifdan materialistis. Kecenderungan ini nampak dalam hal
cara penyaringan anak sekolah. Caranya adalah dengan
memberlakukannya biaya sekolah yang cukup mahal dan
sering juga diutamakan bagi keluarga yang memiliki
darah priyayi (pangreh praja atau pegawai dalam kantor
pemerintahan Belanda). Pihak Belanda sangat berhati- hati dalam memberikan pendidikan agar dapat
memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka
yaitu untuk menghasilkan tenaga pekerja yang sangat
dibutuhkan, namun di sisi lain tidak membahayakan bagi
kedudukan pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam
memberikan kesempatan untuk bersekolah bagi rakyat
jajahannya tidak disia-siakan oleh bangsa pribumi,
walaupun Belanda hanya sebatas mendirikan sekolah
rendah atau sekolah dasar membuat seluruh lapisan
masyarakat pribumi ingin memperoleh kesempatan
belajar, yang kemudian memaksa pemerintah Hindia
Belanda untuk memperbanyak pendirian sekolah dasar
tersebut. Lulusan dari pendidikan Belanda diharapkan
untuk menjadi tenaga administrasi pertanian dan industri
sebagai tenaga pekerja kelas dua dengan upah rendah.
Tidak ada diantara rakyat Bumiputera yang menduduki
posisi jabatan tinggi, mereka hanya menduduki jabatan
rendahan yang tidak mempunyai wewenang dan
pengaruh pada jabatannya.dan materialistis. Kecenderungan ini nampak dalam hal
cara penyaringan anak sekolah. Caranya adalah dengan
memberlakukannya biaya sekolah yang cukup mahal dan
sering juga diutamakan bagi keluarga yang memiliki
darah priyayi (pangreh praja atau pegawai dalam kantor
pemerintahan Belanda). Pihak Belanda sangat berhati- hati dalam memberikan pendidikan agar dapat
memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka
yaitu untuk menghasilkan tenaga pekerja yang sangat
dibutuhkan, namun di sisi lain tidak membahayakan bagi
kedudukan pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam
memberikan kesempatan untuk bersekolah bagi rakyat
jajahannya tidak disia-siakan oleh bangsa pribumi,
walaupun Belanda hanya sebatas mendirikan sekolah
rendah atau sekolah dasar membuat seluruh lapisan
masyarakat pribumi ingin memperoleh kesempatan
belajar, yang kemudian memaksa pemerintah Hindia
Belanda untuk memperbanyak pendirian sekolah dasar
tersebut. Lulusan dari pendidikan Belanda diharapkan
untuk menjadi tenaga administrasi pertanian dan industri
sebagai tenaga pekerja kelas dua dengan upah rendah.
Tidak ada diantara rakyat Bumiputera yang menduduki
posisi jabatan tinggi, mereka hanya menduduki jabatan
rendahan yang tidak mempunyai wewenang dan
pengaruh pada jabatannya.dan materialistis. Kecenderungan ini nampak dalam hal
cara penyaringan anak sekolah. Caranya adalah dengan
memberlakukannya biaya sekolah yang cukup mahal dan
sering juga diutamakan bagi keluarga yang memiliki
darah priyayi (pangreh praja atau pegawai dalam kantor
pemerintahan Belanda). Pihak Belanda sangat berhati- hati dalam memberikan pendidikan agar dapat
memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka
yaitu untuk menghasilkan tenaga pekerja yang sangat
dibutuhkan, namun di sisi lain tidak membahayakan bagi
kedudukan pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam
memberikan kesempatan untuk bersekolah bagi rakyat
jajahannya tidak disia-siakan oleh bangsa pribumi,
walaupun Belanda hanya sebatas mendirikan sekolah
rendah atau sekolah dasar membuat seluruh lapisan
masyarakat pribumi ingin memperoleh kesempatan
belajar, yang kemudian memaksa pemerintah Hindia
Belanda untuk memperbanyak pendirian sekolah dasar
tersebut. Lulusan dari pendidikan Belanda diharapkan
untuk menjadi tenaga administrasi pertanian dan industri
sebagai tenaga pekerja kelas dua dengan upah rendah.
Tidak ada diantara rakyat Bumiputera yang menduduki
posisi jabatan tinggi, mereka hanya menduduki jabatan
rendahan yang tidak mempunyai wewenang dan
pengaruh pada jabatannya.Politik etis dalam bidang pendidikan yang
bertujuan menyejahterakan dan meningkatkan
kecerdasan dan perbaikan hidup rakyat jajahan hanyalah
kebohongan belaka. Diskriminasi yang dilakukan oleh
pemerintah Belanda adalah diskriminasi sosial.
Diskriminasi sosial ini terlihat dari didirikannya sekolah
yang membedakan antara sekolah yang dikhususkan bagi
kaum bangsawan dan sekolah untuk rakyat biasa.
Sekolah yang diperuntukkan bagi anak Bumiputera tidak
direncanakan secara sistematis, segalanya berjalan
berdasarkan keadaan zaman, kebutuhan dan kehendak
kolonial. Tidak adanya persekolahan yang tetap dan
selalu dengan ketidak stabilan dengan berbagai
perubahan di dalamnya sehingga terkesan bahwa
pemerintah Belanda tidak memiliki keseriusan dalam
menangani masalah pendidikan bagi bangsa Bumiputera,
segalanya hanya sebagai percobaan dalam pemenuhan
kebutuhan kepentingan Belanda.
Dalam suatu proses pendidikan pemerintah
kolonial menggunakan kriteria tertentu agar memberikan
hasil dan pencapaian yang baik dan sesuai dengan
harapan dari pihak Belanda, sehingga menimbulkan
berbagai kebijakan dalam pendidikan. Salah satunya
kebijakan gradualisme dima untuk penyediaan
pendidikan bagi anak-anak Indonesia, Belanda
membiarkan penduduk Indonesia dalam keadaan yang
hampir sama sewaktu mereka menginjakkan kaki,
pendidikan tidak terlalu diperhatikan. Kebijakan lain
adalah Dualisme yang diartikan berlaku dua sistem bagi
golongan penduduk dan pendidikan dibuat terpisah.
Pendidikan dikontrol secara sentral, guru dan orang tua
tidak mempunyai pengaruh langsung pada politik
pendidikan. Pendidikan didirikan dengan tujuan untuk
merekrut pegawai sebagai tenaga kerja yang murah.
Selain itu, adanya prinsip konkordasi menyebabkan anak
Indonesia tidak berhak bersekolah di pendidikan Belanda
(Nasution. 1997:20).
Dalam pelaksanaan implementasi pendidikan,
kebijakan pemerintah kolonial Belanda selalu
berorientasi kepada menggolongkan stratifikasi
masyarakat sesuai keturunan atau status sosial, anak
didik diciptakan untuk dapat mencari pekerjaan demi
kepentingan kolonial, sistem persekolahan disusun
menurut adanya perbedaan sosial yang ada dalam
masyarakat Indonesia, pembukaan sekolah-sekolah
didasarkan akan kebutuhan pemerintah kolonial atau
pengusaha bukannya kebutuhan rakyat pribumi
(Sumarsono 1996:87).
Sekolah-sekolah yang dapat ditempuh oleh
anak-anak keturunan bangsawan di Indonesia pada masa
politik etis adalah ELS, HBS, HIS dan OSVIA. ELS
(Europese Lagere School) merupakan Sekolah Dasar
pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS
menggunakan bahasa pengantar Bahasa Belanda yang
dapat dimasuki oleh anak-anak keturunan Belanda dan
anak-anak golongan bangsawan (anak raja) dengan lama
belajar 7 tahun. ELS mulai berdiri pada tahun 1817 di
Batavia (Jakarta). Nama Europese Lagere School sendiri
baru dipakai pada tahun 1902 sebagai pengganti nama
Onderwijs een Lagere School voor Europeanen.Sebelum masuk ELS terdapat sekolah Taman
Kanak-Kanak (Frobel). Selain itu juga ada sekolah
untuk persiapan memasuki ELS (Europese Lagere
School) bagi anak-anak bukan keturunan Eropa, agar
anak-anak tersebut mendapat pelatihan berbicara Bahasa
Belanda, sehingga pada saat masuk ELS mereka sudah
mampu mengikuti kelas satu ELS yang menggunakan
pengatar Bahasa Belanda. Batas usia masuk ELS anatara
6 sampai 16 tahun, tetapi khusus untuk anak Eropa dan
anak-anak dari perkawinan campuran wanita Eropa
dengan laki-laki Bumiputera dapat memasuki ELS
sebelum usia 6 tahun, sedangkan anak-anak Bumiputera
yang akan menjadi murid di ELS harus cukup usianya
dan masih akan diseleksi. ELS sedianya diperuntukkan
bagi orang Eropa dan mereka yang disamakan statusnya
kemudian dirumuskan sebagai sekolah untuk pendidikan
Eropa yang membuka jalan bagi anak bumiputera untuk
memasukinya. Anak-anak Indonesia tidak ditolak,
selama jumlah anak bumiputera dalam jumlah yang
kecil. Bahkan dianggap penting menerima anak-anak
aristokrasi memasuki ELS untuk mempererat hubungan
antar kedua bangsa. Akan tetapi penambahan anak
bumiputera yang di luar batas dirasakan sebagai ancaman
dan banyak alasan yang dikemukakan untuk membatasi
penambahan penerimaan anak bumiputera selanjutnya.
Berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda
dalam membatasi jumlah anak Bumiputera yang semakin
meningkat dalam memasuki sekolah ELS adalah seperti
anak Indonesia tidak boleh melebihi usia 7 tahun agar
dapat diterima (ini tidak berlaku bagi anak Belanda),
penerimaan anak bukan keturunan Belanda jangan
menyebabkan ditolaknya penerimaan anak keturunan
Belanda karena kekurangan tempat, untuk bumiputera
dikenakan pembayaran uang sekolah yang lebih mahal,
anak bumiputera tidak boleh tinggal di kelas yang sama
lebih dari dua tahun (Nasution, 1997:100).Proses penerimaan murid di ELS
mempertimbangkan kedudukan orang tuanya, murid
yang diperbolehkan memasuki ELS merupakan anak- anak dari keturunan bangsawan (priyayi). Maka dari data
tersebut di atas merupakan jumlah keseluruhan anak
bangsawan yang masuk ke ELS. Kurikulum yang
diberlakukan untuk ELS sebenarnya telah ditentukan
pada peraturan tahun 1893 yang terdiri atas mata
pelajaran membaca dan menulis dalam bahasa daerah,
huruf daerah dan latin, membaca dan menulis dalam
Bahasa Melayu, berhitung, ilmu bumi Indonesia, ilmu
alam, sejarah pulau tempat tinggal, mengukur tanah,
menggambar dan semua pelajaran yang diajarkan di
Sekolah Guru kecuali ilmu mendidik boleh diajarkan
setelah mendapat persetujuan dari inspektur atau
pemimpin sekolah tersebut. Namun setelah memasuki
abad ke-20 pemerintah mulai mengembangkan sistem
pendidikan di ELS dengan menyetujui penyebaran
Bahasa Belanda dikalangan penduduk bumiputera
terutama penyebaran dalam sistem pengajaran di sekolah
ELS, dengan memberlakukan Bahasa Belanda sebagai
mata pelajaran pokok. Dalam penyediaan tenaga
pengajar dipilih guru-guru yang langsung didatangkan
dari negeri Belanda. Pada tahun 1912 ELS mendapatkan
kesulitan dalam penyediaan guru yang dapat berbahasa
Belanda, untuk itu pemerintah Belanda mengambil
keputusan untuk melatih calon-calon guru dari penduduk
Bumiputera yang nantinya akan dipekerjakan sebagai
guru bantu di ELS.
Selama beberapa dekade ELS merupakan satu- satunya sekolah yang memberi persiapan untuk ujian
pegawai rendah (Klein Ambtenaar) dan untuk melajutkan
pelajaran ke HBS (Hogere Burger School) dan
seterusnya ke Sekolah Dokter Djawa dan OSVIA
(sekolah pamong praja). ELS memberi jalan yang lebih
terjamin dan pendek untuk kelanjutan pelajaran. Secara
kualitas ELS selalu lebih tinggi daripada HIS dalam
kenyataan pendidikan dan juga dalam mata para majikan.
Standar akademis ELS sama dengan yang ada di
Nederland, penguasaan bahasa Belanda jauh lebih tinggi
karena banyak kesempatan menggunakannya dalam
pergaulan antar murid. ELS adalah sekolah elit yang
memberi prestis tinggi kepada anak dan orang tua. Demi
itu orang tua anak Indonesia rela memberi pengorbanan
finansial yang sebenarnya beban yang telampau berat
untuk dipikul (Nasution. 1997:102-103).
Selain ELS (Europese Lagere School), terdapat
juga HBS (Hogere Burger School) yang merupakan
sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia
Belanda bagi orang Eropa dan bagi golongan elit
Bumiputera. Pada awalnya HBS bernama sekolah
Gymnasium dengan masa belajar 3 tahun kemudian pada
tahun 1867 nama Gymnasium diubah menjadi HBS
(Hogere Burger School) dengan lama belajar 5 tahun.
Pada tahun 1864 didirikan HBS pertama di Batavia, 1875
di Surabaya, 1877 di Semarang. HBS sedianya
diperuntukkan bagi murid-murid Belanda dan golongan
yang sanggup menyekolahkan anaknya ke ELS yang
mengajarkan Bahasa Perancis sebagai syarat masuk
HBS. Selama hampir seperempat abad HBS tidak
menerima murid wanita. Faktor-faktor yang
menyebabkan kecilnya jumlah murid Bumiputera antaralain sulitnya bagi anak Indonesia memasuki ELS “Kelas
Satu” untuk memperlajari Bahasa Perancis dan
ketidaksanggupan membayar tingginya uang sekolah
sebesar f-15.
HBS (Hogere Burger School) adalah satu- satunya sekolah yang dapat melanjutkan ke perguruan
negeri Belanda. Kurikulum yang diberikan tidak berbeda
dengan kurikulum yang ada di negeri Belanda tanpa ada
perubahan dan dapat bertahan dari berbagai kritik, mata
pelajaran yang diajarkan pun bersifat universal.
Kurikulum yang diberikan di sekolah HBS sifatnya
sangat seragam bagi semua. Kurikulumnya semata-mata
mengikuti yang ada di Nederland dengan tidak
menghiraukan keadaaan di Indonesia. Untuk periode
lebih dari setengah abad sekolah inilah satu-satunya yang
memberikan jalan menuju ke perguruan tinggi di
Belanda. Memasuki HBS dengan hasil yang baik
merupakan kebanggaan tersendiri dimata masyarakat.HIS (Hollands Inlandse School) merupakan
Sekolah Dasar yang diperuntukkan bagi kalangan atas
anak-anak pribumi asli. Alasan didirikannya HIS adalah
keinginan yang kuat dari kalangan orang Indonesia untuk
memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan Barat.
Pada awalnya pendirian sekolah ini menimbulkan
keberatan dikalangan pemerintah Belanda, dikarenakan
bahwa sekolah ini akan menimbulkan masalah
pengangguran pada kalangan kaum intelektual yang
tidak terserap oleh pemerintah dan perusahaan swasta.
Ada pula yang merasa keberatan karena adanya
pandangan biaya yang besar yang diperlukan untuk
menyelenggarakan sekolah ini sehingga menguranggi
anggaran biaya untuk memberantas buta huruf. Ada pula
yang merasa takut jika kelompok nasionalis yang
terdidik akan menyamai dan menyaingi orang Belanda.
Pada awalnya HIS bernama Sekolah Kelas Satu
dan pada tahun 1914 telah resmi bernama Hollands
Inlandse School. Dalam Statuta 1914 No. 764, kurikulum
HIS merupakan semua mata pelajaran ELS bukan kelas
satu dengan perbedaan diajarkan membaca dan menulis
bahasa daerah dalam aksara latin dan Melayu dalam
tulisan Arab dan Latin. Kemudian pada tahun 1915 tidak
meliputi bernyanyi dan pendidikan jasmani. Sejarah
dianggap sensitif dari segi politik sedangkan bernyanyi
dan pendidikan jasmani belum ada guru-guru yang
kompeten dibidangnya. Membaca di kelas satu bertujuan
untuk menguasai keterampilan membaca yang pada
umumnya diberikan dalam tiga bahasa yaitu bahasa
daerah, Melayu dan Bahasa Belanda. Mata pelajaran
yang paling penting adalah Bahasa Belanda. Pelajaran ini
meliputi 43,9% dari seluruh waktu pelajaran. Mata
pelajaran lain juga digunakan untuk mempelajari bahasa
ini. Lulusan HIS relatif banyak yang lulus dalam ujian
pegawai rendah (Klein Ambtenaar Examen), ini
merupakan sebuah bukti dari keberhasilan HIS. Namun
kurikulum yang diterapkan tidak disesuaikan dengan
kebutuhan anak dan masyarakat Indonesia tetapi
disesuaikan dengan Belanda. Buku-buku yang dipelajari
merupakan buku yang ditulis oleh pengarang Belanda
yang memandang Indonesia dari segi pandangnya
sendiri.
Oleh karena itu pendidikan HIS sangat kental
dengan unsur-unsur ke-Belandaan. HIS merupakan
lembaga utama untuk memperoleh pendidikan Barat,
khususnya mempelajari Bahasa Belanda karena Bahasa
Belanda sangat penting sebagai kunci untuk menempuh
pendidikan lanjutan, sebagai sarana untuk masuk
kebudayaan Barat dan syarat untuk mendapatkan
pekerjaan. Dengan menguasai Bahasa Belanda juga bisa
membuat seseorang masuk ke dalam golongan elit
intelektual. Untuk mengajarkan Bahasa Belanda
dibutuhkan guru-guru Belanda, akan tetapi karena
sulitnya memenuhi kebutuhan guru di HIS yang
senantiasa bertambah, maka digunakan guru-guru
Indonesia lulusan dari HKS (Hogere Kweek School).
Kepala yang ditunjuk adalah orang Belanda yang
mempunyai Hoofdacte atau ijazah Kepala Sekolah, akan
tetapi orang Indonesia juga bisa menjadi Kepala Sekolah
apabila memiliki H.A (Hoofdacte).
Sama halnya dengan Sekolah Kelas Satu, HIS
dimaksudkan sebagai sekolah untuk golongan elit dan
pada prinsipnya sekolah ini diperuntukkan bagi golongan
sosial atas. Namun sulit untuk menentukan siapa yang
termasuk golongan atas tersebut karena dalam
pelaksanaannya anak-anak golongan atas tidak
mencukupi dan lebih menyukai masuk ELS, walaupun
secara resmi diploma HIS sama dengan diploma ELS,
akan tetapi di mata masyarakat ELS lebih dihargai.
Karena kekurangan murid golongan atas tersebut maka
golongan rendah mendapat kesempatan belajar dan
banyak diantara mereka yang berbakat intelektual
kemudian mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari
pada anak golongan aristokrasi. Berdasarkan peraturan
pemerintah, anak-anak yang dapat menempuh
pendidikan di HIS ditentukan oleh empat kategori, yakni
keturunan, jabatan, kekayaan, dan pendidikan. Dengan
demikian anak-anak wedana, demang dan anak-anak
yang orang tuanya berpendidikan minimal MULO, atau
anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan minimal f. 100 sebulan dapat menempuh pendidikan di HIS. Akan
tetapi, pada kenyataannya HIS ternyata juga membuka
kesempatan bagi golongan swasta dan yang
berpenghasilan rendah.HIS (Hollands Inlandse School) merupakan
Sekolah Dasar yang diperuntukkan bagi kalangan atas
anak-anak pribumi asli. Alasan didirikannya HIS adalah
keinginan yang kuat dari kalangan orang Indonesia untuk
memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan Barat.
Pada awalnya pendirian sekolah ini menimbulkan
keberatan dikalangan pemerintah Belanda, dikarenakan
bahwa sekolah ini akan menimbulkan masalah
pengangguran pada kalangan kaum intelektual yang
tidak terserap oleh pemerintah dan perusahaan swasta.
Ada pula yang merasa keberatan karena adanya
pandangan biaya yang besar yang diperlukan untuk
menyelenggarakan sekolah ini sehingga menguranggi
anggaran biaya untuk memberantas buta huruf. Ada pula
yang merasa takut jika kelompok nasionalis yang
terdidik akan menyamai dan menyaingi orang Belanda.
Pada awalnya HIS bernama Sekolah Kelas Satu
dan pada tahun 1914 telah resmi bernama Hollands
Inlandse School. Dalam Statuta 1914 No. 764, kurikulum
HIS merupakan semua mata pelajaran ELS bukan kelas
satu dengan perbedaan diajarkan membaca dan menulis
bahasa daerah dalam aksara latin dan Melayu dalam
tulisan Arab dan Latin. Kemudian pada tahun 1915 tidak
meliputi bernyanyi dan pendidikan jasmani. Sejarah
dianggap sensitif dari segi politik sedangkan bernyanyi
dan pendidikan jasmani belum ada guru-guru yang
kompeten dibidangnya. Membaca di kelas satu bertujuan
untuk menguasai keterampilan membaca yang pada
umumnya diberikan dalam tiga bahasa yaitu bahasa
daerah, Melayu dan Bahasa Belanda. Mata pelajaran
yang paling penting adalah Bahasa Belanda. Pelajaran ini
meliputi 43,9% dari seluruh waktu pelajaran. Mata
pelajaran lain juga digunakan untuk mempelajari bahasa
ini. Lulusan HIS relatif banyak yang lulus dalam ujian
pegawai rendah (Klein Ambtenaar Examen), ini
merupakan sebuah bukti dari keberhasilan HIS. Namun
kurikulum yang diterapkan tidak disesuaikan dengan
kebutuhan anak dan masyarakat Indonesia tetapi
disesuaikan dengan Belanda. Buku-buku yang dipelajari
merupakan buku yang ditulis oleh pengarang Belanda
yang memandang Indonesia dari segi pandangnya
sendiri.
Oleh karena itu pendidikan HIS sangat kental
dengan unsur-unsur ke-Belandaan. HIS merupakan
lembaga utama untuk memperoleh pendidikan Barat,
khususnya mempelajari Bahasa Belanda karena Bahasa
Belanda sangat penting sebagai kunci untuk menempuh
pendidikan lanjutan, sebagai sarana untuk masuk
kebudayaan Barat dan syarat untuk mendapatkan
pekerjaan. Dengan menguasai Bahasa Belanda juga bisa
membuat seseorang masuk ke dalam golongan elit
intelektual. Untuk mengajarkan Bahasa Belanda
dibutuhkan guru-guru Belanda, akan tetapi karena
sulitnya memenuhi kebutuhan guru di HIS yang
senantiasa bertambah, maka digunakan guru-guru
Indonesia lulusan dari HKS (Hogere Kweek School).
Kepala yang ditunjuk adalah orang Belanda yang
mempunyai Hoofdacte atau ijazah Kepala Sekolah, akan
tetapi orang Indonesia juga bisa menjadi Kepala Sekolah
apabila memiliki H.A (Hoofdacte).
Sama halnya dengan Sekolah Kelas Satu, HIS
dimaksudkan sebagai sekolah untuk golongan elit dan
pada prinsipnya sekolah ini diperuntukkan bagi golongan
sosial atas. Namun sulit untuk menentukan siapa yang
termasuk golongan atas tersebut karena dalam
pelaksanaannya anak-anak golongan atas tidak
mencukupi dan lebih menyukai masuk ELS, walaupun
secara resmi diploma HIS sama dengan diploma ELS,
akan tetapi di mata masyarakat ELS lebih dihargai.
Karena kekurangan murid golongan atas tersebut maka
golongan rendah mendapat kesempatan belajar dan
banyak diantara mereka yang berbakat intelektual
kemudian mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari
pada anak golongan aristokrasi. Berdasarkan peraturan
pemerintah, anak-anak yang dapat menempuh
pendidikan di HIS ditentukan oleh empat kategori, yakni
keturunan, jabatan, kekayaan, dan pendidikan. Dengan
demikian anak-anak wedana, demang dan anak-anak
yang orang tuanya berpendidikan minimal MULO, atau
anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan minimal f. 100 sebulan dapat menempuh pendidikan di HIS. Akan
tetapi, pada kenyataannya HIS ternyata juga membuka
kesempatan bagi golongan swasta dan yang
berpenghasilan rendah.HIS (Hollands Inlandse School) merupakan
Sekolah Dasar yang diperuntukkan bagi kalangan atas
anak-anak pribumi asli. Alasan didirikannya HIS adalah
keinginan yang kuat dari kalangan orang Indonesia untuk
memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan Barat.
Pada awalnya pendirian sekolah ini menimbulkan
keberatan dikalangan pemerintah Belanda, dikarenakan
bahwa sekolah ini akan menimbulkan masalah
pengangguran pada kalangan kaum intelektual yang
tidak terserap oleh pemerintah dan perusahaan swasta.
Ada pula yang merasa keberatan karena adanya
pandangan biaya yang besar yang diperlukan untuk
menyelenggarakan sekolah ini sehingga menguranggi
anggaran biaya untuk memberantas buta huruf. Ada pula
yang merasa takut jika kelompok nasionalis yang
terdidik akan menyamai dan menyaingi orang Belanda.
Pada awalnya HIS bernama Sekolah Kelas Satu
dan pada tahun 1914 telah resmi bernama Hollands
Inlandse School. Dalam Statuta 1914 No. 764, kurikulum
HIS merupakan semua mata pelajaran ELS bukan kelas
satu dengan perbedaan diajarkan membaca dan menulis
bahasa daerah dalam aksara latin dan Melayu dalam
tulisan Arab dan Latin. Kemudian pada tahun 1915 tidak
meliputi bernyanyi dan pendidikan jasmani. Sejarah
dianggap sensitif dari segi politik sedangkan bernyanyi
dan pendidikan jasmani belum ada guru-guru yang
kompeten dibidangnya. Membaca di kelas satu bertujuan
untuk menguasai keterampilan membaca yang pada
umumnya diberikan dalam tiga bahasa yaitu bahasa
daerah, Melayu dan Bahasa Belanda. Mata pelajaran
yang paling penting adalah Bahasa Belanda. Pelajaran ini
meliputi 43,9% dari seluruh waktu pelajaran. Mata
pelajaran lain juga digunakan untuk mempelajari bahasa
ini. Lulusan HIS relatif banyak yang lulus dalam ujian
pegawai rendah (Klein Ambtenaar Examen), ini
merupakan sebuah bukti dari keberhasilan HIS. Namun
kurikulum yang diterapkan tidak disesuaikan dengan
kebutuhan anak dan masyarakat Indonesia tetapi
disesuaikan dengan Belanda. Buku-buku yang dipelajari
merupakan buku yang ditulis oleh pengarang Belanda
yang memandang Indonesia dari segi pandangnya
sendiri.
Oleh karena itu pendidikan HIS sangat kental
dengan unsur-unsur ke-Belandaan. HIS merupakan
lembaga utama untuk memperoleh pendidikan Barat,
khususnya mempelajari Bahasa Belanda karena Bahasa
Belanda sangat penting sebagai kunci untuk menempuh
pendidikan lanjutan, sebagai sarana untuk masuk
kebudayaan Barat dan syarat untuk mendapatkan
pekerjaan. Dengan menguasai Bahasa Belanda juga bisa
membuat seseorang masuk ke dalam golongan elit
intelektual. Untuk mengajarkan Bahasa Belanda
dibutuhkan guru-guru Belanda, akan tetapi karena
sulitnya memenuhi kebutuhan guru di HIS yang
senantiasa bertambah, maka digunakan guru-guru
Indonesia lulusan dari HKS (Hogere Kweek School).
Kepala yang ditunjuk adalah orang Belanda yang
mempunyai Hoofdacte atau ijazah Kepala Sekolah, akan
tetapi orang Indonesia juga bisa menjadi Kepala Sekolah
apabila memiliki H.A (Hoofdacte).
Sama halnya dengan Sekolah Kelas Satu, HIS
dimaksudkan sebagai sekolah untuk golongan elit dan
pada prinsipnya sekolah ini diperuntukkan bagi golongan
sosial atas. Namun sulit untuk menentukan siapa yang
termasuk golongan atas tersebut karena dalam
pelaksanaannya anak-anak golongan atas tidak
mencukupi dan lebih menyukai masuk ELS, walaupun
secara resmi diploma HIS sama dengan diploma ELS,
akan tetapi di mata masyarakat ELS lebih dihargai.
Karena kekurangan murid golongan atas tersebut maka
golongan rendah mendapat kesempatan belajar dan
banyak diantara mereka yang berbakat intelektual
kemudian mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari
pada anak golongan aristokrasi. Berdasarkan peraturan
pemerintah, anak-anak yang dapat menempuh
pendidikan di HIS ditentukan oleh empat kategori, yakni
keturunan, jabatan, kekayaan, dan pendidikan. Dengan
demikian anak-anak wedana, demang dan anak-anak
yang orang tuanya berpendidikan minimal MULO, atau
anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan minimal f. 100 sebulan dapat menempuh pendidikan di HIS. Akan
tetapi, pada kenyataannya HIS ternyata juga membuka
kesempatan bagi golongan swasta dan yang
berpenghasilan rendah.HIS (Hollands Inlandse School) merupakan
Sekolah Dasar yang diperuntukkan bagi kalangan atas
anak-anak pribumi asli. Alasan didirikannya HIS adalah
keinginan yang kuat dari kalangan orang Indonesia untuk
memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan Barat.
Pada awalnya pendirian sekolah ini menimbulkan
keberatan dikalangan pemerintah Belanda, dikarenakan
bahwa sekolah ini akan menimbulkan masalah
pengangguran pada kalangan kaum intelektual yang
tidak terserap oleh pemerintah dan perusahaan swasta.
Ada pula yang merasa keberatan karena adanya
pandangan biaya yang besar yang diperlukan untuk
menyelenggarakan sekolah ini sehingga menguranggi
anggaran biaya untuk memberantas buta huruf. Ada pula
yang merasa takut jika kelompok nasionalis yang
terdidik akan menyamai dan menyaingi orang Belanda.
Pada awalnya HIS bernama Sekolah Kelas Satu
dan pada tahun 1914 telah resmi bernama Hollands
Inlandse School. Dalam Statuta 1914 No. 764, kurikulum
HIS merupakan semua mata pelajaran ELS bukan kelas
satu dengan perbedaan diajarkan membaca dan menulis
bahasa daerah dalam aksara latin dan Melayu dalam
tulisan Arab dan Latin. Kemudian pada tahun 1915 tidak
meliputi bernyanyi dan pendidikan jasmani. Sejarah
dianggap sensitif dari segi politik sedangkan bernyanyi
dan pendidikan jasmani belum ada guru-guru yang
kompeten dibidangnya. Membaca di kelas satu bertujuan
untuk menguasai keterampilan membaca yang pada
umumnya diberikan dalam tiga bahasa yaitu bahasa
daerah, Melayu dan Bahasa Belanda. Mata pelajaran
yang paling penting adalah Bahasa Belanda. Pelajaran ini
meliputi 43,9% dari seluruh waktu pelajaran. Mata
pelajaran lain juga digunakan untuk mempelajari bahasa
ini. Lulusan HIS relatif banyak yang lulus dalam ujian
pegawai rendah (Klein Ambtenaar Examen), ini
merupakan sebuah bukti dari keberhasilan HIS. Namun
kurikulum yang diterapkan tidak disesuaikan dengan
kebutuhan anak dan masyarakat Indonesia tetapi
disesuaikan dengan Belanda. Buku-buku yang dipelajari
merupakan buku yang ditulis oleh pengarang Belanda
yang memandang Indonesia dari segi pandangnya
sendiri.
Oleh karena itu pendidikan HIS sangat kental
dengan unsur-unsur ke-Belandaan. HIS merupakan
lembaga utama untuk memperoleh pendidikan Barat,
khususnya mempelajari Bahasa Belanda karena Bahasa
Belanda sangat penting sebagai kunci untuk menempuh
pendidikan lanjutan, sebagai sarana untuk masuk
kebudayaan Barat dan syarat untuk mendapatkan
pekerjaan. Dengan menguasai Bahasa Belanda juga bisa
membuat seseorang masuk ke dalam golongan elit
intelektual. Untuk mengajarkan Bahasa Belanda
dibutuhkan guru-guru Belanda, akan tetapi karena
sulitnya memenuhi kebutuhan guru di HIS yang
senantiasa bertambah, maka digunakan guru-guru
Indonesia lulusan dari HKS (Hogere Kweek School).
Kepala yang ditunjuk adalah orang Belanda yang
mempunyai Hoofdacte atau ijazah Kepala Sekolah, akan
tetapi orang Indonesia juga bisa menjadi Kepala Sekolah
apabila memiliki H.A (Hoofdacte).
Sama halnya dengan Sekolah Kelas Satu, HIS
dimaksudkan sebagai sekolah untuk golongan elit dan
pada prinsipnya sekolah ini diperuntukkan bagi golongan
sosial atas. Namun sulit untuk menentukan siapa yang
termasuk golongan atas tersebut karena dalam
pelaksanaannya anak-anak golongan atas tidak
mencukupi dan lebih menyukai masuk ELS, walaupun
secara resmi diploma HIS sama dengan diploma ELS,
akan tetapi di mata masyarakat ELS lebih dihargai.
Karena kekurangan murid golongan atas tersebut maka
golongan rendah mendapat kesempatan belajar dan
banyak diantara mereka yang berbakat intelektual
kemudian mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari
pada anak golongan aristokrasi. Berdasarkan peraturan
pemerintah, anak-anak yang dapat menempuh
pendidikan di HIS ditentukan oleh empat kategori, yakni
keturunan, jabatan, kekayaan, dan pendidikan. Dengan
demikian anak-anak wedana, demang dan anak-anak
yang orang tuanya berpendidikan minimal MULO, atau
anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan minimal f. 100 sebulan dapat menempuh pendidikan di HIS. Akan
tetapi, pada kenyataannya HIS ternyata juga membuka
kesempatan bagi golongan swasta dan yang
berpenghasilan rendah.Pada tahun 1916 populasi HIS seluruhnya
berjumlah 20.737 diantaranya 3.338 atau 16% anak
wanita dan kebanyakan dari golongan atas. Di Jawa
maupun di pulau-pulau lain, kebanyakan gadis adalah
anak pegawai. Di Jawa 77,7% anak wanita berasal dari
golongan bangsawan dan di luar Jawa 59,1%. Pegawai
pemerintah yang telah menerima pendidikan Barat,
rupanya progresif dalam sikapnya untuk menyekolahkan
anak-anak gadisnya.
OSVIA merupakan Sekolah Dasar yang
disediakan bagi anak-anak golongan bangsawan. Sekolah
ini pada mulanya didirikan di Tondano (1865-1872
sebagai percobaan) dan di Bandung, Magelang, dan
Probolinggo (1878) yang dalam bahasa sehari-hari
disebut Sekolah Raja (Hoofdenschool) dengan bahasa
pengantar Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda, dan
dimaksudkan untuk kepentingan administrasi
pemerintahan Hindia Belanda bagi anak-anak tokoh
terkemuka Bumiputera. Tetapi sekolah raja tersebut
kemudian diintegrasikan ke ELS atau HIS. Pada tahun
1900 Sekolah Raja tersebut mengalami reorganisasi dan
diberi nama OSVIA. Masalah keturunan merupakan
faktor yang sangat penting dalam penerimaan murid di
OSVIA. Meskipun uang pembayaran sekolah
disesuaikan dengan penghasilan orang tua, bagi keluarga
berpenghasilan rendah yang meyekolahkan anaknya di
OSVIA biaya tersebut dirasakan sangat mahal.
Penerimaan siswa sering harus disertai surat
rekomendasi pribadi pejabat Binenlandsch Bestuur (BB)
dan para bupati. Sedangkan bupati-bupati tersebut
menggunakan haknya untuk mengajukan sanak
saudaranya dan orang-orang yang disukainya. Tingkat
lanjutan dari sekolah OSVIA adalah MOSVIA atau
Middelbare Opleiding voor Indische Ambtenaren
(setingkat SMTA).
Pada dasarnya lembaga-lembaga pendidikan
yang disediakan oleh pemerintah Hindia Belanda selalu
mengalami perkembangan jumlah setiap tahunnya begitu
pula dengan jumlah murid yang memasuki sekolah- sekolah tersebut. kebijakan pendidikan yang dijalankan
oleh pemerintah Hindia Belanda terhadap keturunan
Bumiputera sangatlah tidak efisien. Keadaan seperti ini
memang sengaja diciptakan dikarenakan pemerintah
Hindia Belanda berkeinginan agar orang-orang
Bumiputera tidak menduduki jabatan penting dalam
pemerintahan. Jadi kebijakan pendidikan bagi rakyat
Bumiputera diselenggarakan secara sederhana dan
kurang efisien karena pendidikan yang diberikan kepeda
rakyat jajahan hanya sebagai pemenuh kebutuhan
kepentingan kolonial bukanlah untuk mencerdaskan dan
meningkatkan harkat dan martabat masyarakat pribumi.
KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan tentang Kebijakan
Pemerintah Hindia Belanda Mengenai Pendidikan Bagi
Kaum Bangsawan Di Indonesia Tahun 1900-1920, dapat
diperoleh kesimpulan bahwa pemerintah Hindia Belanda
dalam melaksanakan kebijakan dalam bidang pendidikan
bagi kaum bangsawan di Indonesia dalam bentuk
mendirikan lembaga-lembaga sekolah, yaitu: Europese
Lagere School (ELS), Hogere Burger School (HBS), Hollands Inlandse School (HIS), Opleiding School voor
Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Kebijakan pemerintah
Hindia Belanda khususnya mengenai pendidikan lebih
diutamakan bagi para kaum bangsawan Bumiputera
dengan tujuan Pemerintah Hindia Belanda ingin
menciptakan kelompok elite yang terpisah dengan
masyarakatnya sendiri. Para kaum bangsawan ini
diharapkan oleh pemerintah Hindia Belanda agar
menjadi pemimpin yang berjiwa kebarat-baratan yang
akan digunakan sebagai alat oleh Pemerintah Hindia
Belanda untuk melangsungkan penjajahannya di
Indonesia.

Related Posts: