DAFTAR SINGKATAN
B.E.EE.O. : Bulletin de I'Ecole Francaise d'Ext~eme Orient.
B.K.I. : Bijdragen tot de Taal, Land- en Volkenkunde van
Nederlandsch Indi~, uitgegeven door het Koninklijk
Institut voor Taal-, Land- end Volkenkunde.
M.B.R.A.S. : Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (Journal)
KO. : Kawi-Oorkonden in facsimile met inleiding en
transcriptie van Dr. A.B. Cohen Stuart.
0.J.0. : Oud-Javaansche Oorkonden, nagelaten transcripties
van wijlen Dr. J .L.A. Brandes, uitgegeven door Dr. N .J.
Krom.
Sriwijaya diketahui luas merupakan kerajaan maritim terbesar
di negara kita yang pernah berjaya di masa lampau. Di dalam peta
sejarah Asia Tenggara lama, nama Sriwijaya nyaris menjadi mitos
dari sebuah kebesaran dan keagungan. Selain dikenal dengan potensi
lautnya yang besar, nama Sriwijaya juga terdengar harum sebab
keterbukaannya kepada dunia luar. Reputasi Sriwijaya sebagai
kerajaan yang berbudaya juga dikenal luas, sebab di Sriwijaya-lah
untuk pertama kalinya agama Budha berkembang pesat.
Sayang sekali, meski sangat masyhur pada zaman lampau, belum
banyak penggalian sejarah yang dilakukan terhadap Sriwijaya.
Minimnya riset sejarah terhadap keberadaan Sriwijaya dapat di
maklumi, mengingat dokumentasi sejarah pada masa lampau yang
masih langka dan mengandalkan bahan-bahan yang terbatas. Kendati
demikian, para sejarawan dan arkeolog terus mencoba melakukan
rekonstruksi sejarah secara lebih baik. Upaya ini antara lain dirintis
oleh Prof. Dr. Slamet Muljana lewat buku ini. Slamet Muljana
melanjutkan kerja keras Prof. George Coed~s, yang menghangatkan
kembali perbincangan mengenai Sriwijaya melalui temuannya yang
fenomenal pada tahun 1918.
Seperti dua karyanya yang kami terbitkan, Runtuhnya Kerajaan
Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (2005)
vi Sriwijaya
clan Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit) (2005),
Slamet Muljana juga melakukan pendekatan filologis dalam karya
ini. Berbekal teori-teori yang sudah dikembangkan oleh para peneliti
sebelumnya, Muljana meneliti akurasi berita-berita sejarah tentang
Sriwijaya. Terutama, berita-berita Tionghoa clan prasasti asli dari
zaman Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Sriwijaya, Sanskerta, clan
Tamil.
Di tengah langkanya kajian tentang Sriwijaya, buku ini
menawarkan sesuatu yang menarik. Dengan metode filologi yang
sudah sangat dikuasainya, Slamet Muljana menguji akurasi pene
muan-penemuan sebelumnya yang masih berupa hipotesis clan
belum cukup meyakinkan. Untuk mencari situs Sriwijaya, misalnya,
para sejarawan masih berselisih pendapat. Sebagian sejarawan clan
arkeolog menyebut Sriwijaya terletak di kota Palembang. Tapi
sebagian lainnya menolak, clan malah memosisikan Sriwijaya tepat
di Jambi. Manakah yang benar? Buku ini memberikan jawabannya.
Rasa terima kasih sebesar-besarnya kami haturkan kepada ahli
waris penulis atas izin clan partisipasinya. Khususnya, kepada Ibu
Dani yang waktunya rela diganggu untuk sekadar kontak clan
konfirmasi. Selebihnya kami ucapkan selamat membaca ...
KATA PENGANTAR
Kesadaran nasional bangkit kembali akibat timbulnya kemer
dekaan di pelbagai negara Asia. Dengan sendirinya, pengetahuan
sejarah nasional mendapat perhatian para penduduk negara-negara
yang bersangkutan lebih banyak daripada waktu yang sudah silam.
Sejarah kerajaan Sriwijaya yaitu sejarah salah satu negara Asia
Tenggara yang menguasai Selat Malaka pada zaman yang sudah lama
lampau. Selat Malaka, sebagai satu-satunya jalan lalu-lintas pelayaran
dari India ke Tiongkok dan kebalikannya, memegang peranan penting
dalam sejarah Asia Tenggara. Oleh sebab itu, sejarah kerajaan Sriwijaya
pada hakikatnya yaitu bagian penting dari sejarah lama Asia
Tenggara. Sejarah Sriwijaya menyangkut hubungan antara bangsa
bangsa Asia, terutama yang menggunakan Selat Malaka sebagai jalan
lalu-lintas. Peranan Sriwijaya tidak dapat diabaikan dalam penge
tahuan sejarah Asia Tenggara lama.
Kerajaan Sriwijaya lama terpendam dalam abu sejarah tanpa
diketahui oleh seorang pun. Baru semenjak tahun 1918, kerajaan
Sriwijaya timbul lagi dalam sejarah berkat penemuan Prof. George
Coed~s. Sejak itu, nama Sriwijaya menjadi sangat masyhur. Pe
nyelidikan lebih lanjut masih terus-menerus dilakukan untuk mencari
penjelasan mengenai hal-hal yang masih kabur. Penemuan kerajaan
Sriwijaya ini mendapat sambutan yang hangat sekali dari para sarjana
dalam bidang pengetahuan sejarah.
viii Sriwijaya
Sudah selayaknya bangsa Asia Tenggara umumnya, bangsa
Malaya dan negara kita khususnya, tidak lagi puas dengan hanya
mendengar namanya saja. Mereka ingin tahu bagaimana seluk-beluk
yang sebenarnya. Itulah sebabnya maka hasil penyelidikan para sarjana
dalam bidang sejarah Sriwijaya itu juga dihimpun dan disiarkan
dalam bahasa Melayu/negara kita dalam bentuk seperti berikut.
Di samping menghimpun dan mengutip pendapat para sarjana
yang telah memberikan sumbangan dalam rekonstruksi sejarah
Sriwijaya, penyusun tidak lupa mengemukakan pelbagai persoalan
yang masih menghendaki pemecahan. Justru, persoalan-persoalan
itulah yang terutama mendapat perhatiannya. Usul pemecahannya
ada kalanya sama dengan pendapat lama yang sudah pernah
dikemukakan, ada kalanya berbeda dan merupakan buah pikiran
baru.
Sumber sejarah yang digunakan sama saja dengan sumber sejarah
yang telah ditelaah sebelumnya dalam penelitian sejarah Sriwijaya.
Hasil penelitian yang penting-penting pun secara singkat diuraikan
dalam pasal ikhtisar penulisan sejarah Sriwijaya, yang menyebut
pelbagai karya para sarjana dalam bidang sejarah Sriwijaya. Tanpa
mengurangi jasa para sarjana yang telah menyumbangkan pendapat
dalam penyusunan kembali sejarah Sriwijaya, uraian ini tidak di
perberat dengan banyak kutipan dan catatan. Dengan jalan demikian,
uraian mudah dibaca, dan pikiran dapat dipusatkan pada persoalan
yang ditelaah.
Dalam penulisan sejarah Sriwijaya, kita harus berusaha untuk
hidup dan berpikir dalam alam abad ke-7 sampai abad ke-13, dan
berusaha memahami makna peristiwa sejarah dalam rangka zamannya.
Suasana zaman Sriwijaya yang telah lampau berabad-abad hanya dapat
kita bayangkan saja dan kadang-kadang pembayangan suasana itu
masih bersifat raba-raba. Peristiwa sejarah yang ingin kita pahami
sangat kabur, sebab sumber sejarah memberitakannya tidak jelas.
Sebagian besar dari peristiwa-peristiwa sejarah Sriwijaya yang kita
jumpai diberitakan oleh sumber sejarah asing, terutama sumber berita
Kata Pengantar ix
Tionghoa dan prasasti-prasasti asli dari zaman Sriwijaya yang ditulis
dalam bahasa Sriwijaya, Sanskerta, clan Tamil.
Berita Tionghoa tentang Sriwijaya kadang-kadang terlalu singkat
clan terlalu kabur. Berita-berita itu kadang-kadang disangsikan
kebenarannya, sebab kebanyakan di antara berita-berita itu tidak
berasal dari tangan pertama. Nama-nama tempat clan tokoh sejarah
yang diberitakan ditulis dalam bahasa Tionghoa menurut pen
dengaran penulisnya. Ucapan kata-kata Tionghoa yang digunakan
untuk mencatat nama-nama itu berbeda-beda sehingga susah untuk
ditafsirkan. Bahasa Tionghoa pada abad ke-7 berbeda dengan bahasa
Tionghoa zaman sekarang. Bahasa Tionghoa Kanton berbeda dengan
bahasa Tionghoa Mandarin. Untuk memberikan tafsir terhadap
berita-berita Tionghoa itu, diperlukan bantuan ahli bahasa Tionghoa
klasik, yang mempunyai perhatian kepada persoalan sejarah.
Nama-nama tempat yang ditranskripsikan dengan huruf-huruf
Tionghoa perlu ditafsirkan. Penafsiran nama-nama itu tidaklah
mudah, sebab nama-nama itu biasanya ditulis dalam satu rangkaian
yang bunyinya berbeda sekali dengan nama-nama desa atau kota di
Malaya clan Sumatra. Sering kali tempat yang namanya tercatat dalam
kronik Tionghoa itu sudah berubah namanya, menyesuaikan diri
dengan perkembangan bahasa setempat. Keterangan geografi tentang
tempat-tempat yang disebut kadang-kadang bersifat umum sekali,
diukur dengan jarak pelayaran clan jarak dari pulau atau tempat yang
letaknya sangat jauh.
Pemberitaan tentang batas-batas tempat itu dinyatakan dengan
penyebutan laut clan pulau atau negara yang sangat jauh letaknya.
Betapapun kaburnya berita geografi itu, berita geografi itu harus
dijadikan pegangan untuk melokalisasikan tempat-tempat yang di
maksud. Pengetahuan geografi dalam penulisan sejarah kuno, seperti
sejarah Sriwijaya, sangat diperlukan untuk menghindarkan salah tafsir
tentang peristiwa sejarah. Kadang-kadang, untuk melokalisasikan
nama-nama yang disebut, diperlukan pengetahuan tentang keadaan
daerah di pelbagai pulau clan kemungkinan perkembangannya dalam
masa sejarah.
X Sriwijaya
Bagaimanapun, pengetahuan geografi kuno ini merupakan
bagian penting dalam sejarah Sriwijaya untuk dapat memahami
peristiwa sejarah dalam suasana zamannya. Pengetahuan geografi itu
tidak dapat diabaikan begitu saja. Oleh sebab itu,
Times in Malaya, yang khusus merintis pengetahuan geografi sejarah
kuno negara kita bagian barat dan Semenanjung, harus dipandang
sebagai sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan ilmu
sejarah Sriwijaya.
Ini tidak berarti bahwa semua kesimpulan yang diambilnya
boleh kita terima begitu saja. Mereka membuka jalan baru untuk
mendekati kenyataan sejarah yang sudah berulang kali disoroti dari
segi filologi, dan terbukti tidak menjadi lebih jelas. Saya yakin bahwa
lokalisasi pelbagai nama tempat yang disebut oleh pendeta I-ts'ing
dalam karyanya, Memoire dan Record, serta oleh kronik Tionghoa,
yang telah dilakukan oleh pelbagai sarjana berhubung dengan
perkembangan penelitian geografi sesudah perang dunia kedua, perlu
dikoreksi.
Baik geografi maupun filologi serta arkeologi, dalam hal ini,
mengabdi penulisan sejarah. Fungsinya tidak lain daripada mem
berikan bantuan untuk memahami makna peristiwa sejarah dalam
rangka zamannya dan susunan masyarakatnya. Hanya dalam beberapa
hal di mana diperlukan bantuannya, filologi, arkeologi, dan geografi
dibeberkan demi penjelasan peristiwa sejarah. Penulisan sejarah tetap
menjadi tujuan utama.
Tentang Sriwijaya, ditemukan juga pelbagai prasasti dalam
bahasa Sriwijaya, Sanskerta, dan Tamil. Sebagian besar dari prasasti
prasasti itu telah ditranskripkan dengan huruf Latin, diterjemahkan,
dan diterbitkan dalam pelbagai majalah ilmiah oleh pelbagai sarjana.
Namun, tafsir sejarahnya tetap masih gelap. Prasasti-prasasti itu hanya
Kata Pengantar xi
sebagian kecil dari kehidupan kenegaraan Sriwijaya. Namun
meskipun demikian, prasasti-prasasti itu harus dijadikan pegangan
untuk mengetahui perkembangan kerajaan Sriwijaya. Terjemahan
prasasti-prasasti itu sering kali sangat kusut sebab memang tidak
mudah untuk memahaminya.
Untunglah, di samping terjemahan itu, disiarkan juga tran
skripsi dan kadang-kadang fotokopi prasasti-prasasti yang ber
sangkutan sehingga barang siapa menaruh perhatian dapat ikut
membacanya sendiri. Pembacaan fotokopi dan penafsiran transkripsi
prasasti-prasasti itu ada kalanya memberikan gagasan baru untuk
memecahkan persoalan sejarah Sriwijaya yang masih gelap.
Meskipun sejarah Sriwijaya tidak mempunyai sangkut paut
secara langsung dengan zaman negara kita modern, namun sejarah
Sriwijaya itu masih tetap mempunyai tempat dalam kerangka sejarah
nasional. Mungkin pengetahuan sejarah kuno itu dapat memberikan
dorongan ke arah pengagungan negara dan bangsa. Jika tidak, paling
sedikit, sejarah Sriwijaya itu mengingatkan bangsa negara kita kepada
zaman gemilang yang sudah silam.
Maksud penulisan sejarah pada umumnya ialah untuk menafsir
kan peristiwa-peristiwa sejarah dalam rangka kehidupan kenegaraan
suatu negara. Tafsir sejarah itu bertujuan untuk memaparkan
pandangan individual seorang ahli sejarah, sebagai hasil usahanya
untuk memahami sepenuhnya peristiwa sejarah yang diperolehnya
dari sumber sejarah.
Orang lain yang membacanya boleh menyetujui atau menentang
pandangannya. Tentangan atau perbedaan pandangan ahli sejarah
lain boleh memberikan dorongan untuk mengkaji suatu pandangan
sejarah lebih lanjut, sekali-kali tidak bertujuan untuk semata-mata
menggugurkan anggapan sarjana lainnya, tetapi dimaksud sebagai
usaha untuk memperoleh penjelasan yang lebih memuaskan.
Demikianlah, pertentangan tafsir sejarah oleh para sarjana itu
harus diartikan sebagai usaha untuk mendekati kenyataan sejarah.
Pikiran bahwa hanya anggapannya saja yang benar dan boleh
dipercayai, akan menghentikan penyelidikan sejarah. Tiap pandangan
baru, apalagi jika pandangan itu didasarkan atas bahan-bahan baru
yang belum diketahui atau belum dapat dipecahkan sebelumnya,
merupakan sumbangan yang berharga dan perlu dipertimbangkan.
Lagi pula, pengetahuan sejarah bukanlah monopoli seorang ahli
semata-mata.
9 Sriwijaya
Sejarah Sriwijaya sudah mengalami pengolahan pelbagai sarjana
sejarah, baik mengenai keseluruhannya maupun mengenai bagian
bagiannya. Pandangan para sarjana itu tidak semuanya sehaluan.
Apalagi jika mereka menghadapi suatu soal sejarah yang menghendaki
suatu pemecahan. Tafsiran mereka kadang-kadang bukan saja tidak
sehaluan, melainkan sering kali bertentangan, sehingga seolah-olah
menimbulkan polemik ilmu sejarah. Masing-masing pihak berusaha
mempertahankan anggapannya dan mengemukakan bukti-bukti
untuk memperkuatnya. Bukti-bukti itu diambilnya dari pelbagai
sumber sejarah. Usaha mengumpulkan bukti-bukti ini melampaui
penapisan sumber sejarah yang tertulis dalam pelbagai bahasa,
terdapat di pelbagai tempat, berserak dalam pelbagai buku, dan
tertulis dalam pelbagai masa. Pembuktian-pembuktian itu merupakan
pengkajian pandangan terhadap soal sejarah.
Pengetahuan sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad
ke-20. Nama Sriwijaya baru mulai dikenal pada tahun 1918, sejak
George Coed~s menulis karangannya, Le royaume de (rivijayd
(B.E.F.E. 0. 18). Pada tahun 1913, waktu Prof. Kern menerbitkan
piagam Kota Kapur, salah satu piagam Sriwijaya dari tahun 686, ia
masih menganggap bahwa nama Sriwijaya yang tercantum pada
piagam tersebut yaitu nama seorang raja, sebab rri biasanya
digunakan sebagai sebutan atau gelar raja, diikuti nama raja yang
bersangkutan.
Sarjana Jepang Takakusu, yang menerjemahkan karya I-ts'ing,
Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch'uan, ke dalam bahasa Inggris (A Record of
the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago)
pada tahun 1896, belum mengenal nama Sriwijaya. I-ts'ing, baik
dalam bukunya, Nan-hai-chi-kuei-nai fa-ch'uan, maupun dalam
bukunya, Ta-tang-si-yu-ku-fa-kao-seng-ch'uan, yang telah
diterjemahkan lebih dahulu oleh Prof. Chavannes pada tahun 1894
ke dalam bahasa Prancis (Memoire compos~ ~ l'~poque de la grande
dynastie T'ang sur les religieux ~minents qui all~rent chercher la loi dans
les pays d'Occident), menyebut Sriwijaya yang pernah dikunjunginya
Shih-li-fo-shih (atau dengan ejaan Prancis: Che-li-fo-che). Nama itu
3
dikira transkripsi Tionghoa dari nama asli Sribhoja. Dalam kedua
buku itu, nama Shih-li-fo-shih, yang sering kali disingkat Fo-shih
saja, digunakan untuk menyebut negara, ibu kota pusat kerajaan,
dan sungai yang muaranya digunakan sebagai pelabuhan.
Terjemahan piagam Kota Kapur oleh Kern, di mana terdapat
nama Sriwijaya, dan terjemahan karya I-ts'ing, di mana terdapat
transkripsi Tionghoa Shih-li-fo-shih, memungkinkan Coed~s untuk
menetapkan bahwa Sriwijaya yaitu nama negara di Sumatra Selatan,
yang ditranskripkan ke dalam tulisan Tionghoa Shih-li-fo-shih. Tetapi
Coed~s tidak berhenti pada penemuan itu saja. Ia berusaha pula
menetapkan letak ibu kotanya di Palembang berdasar anggapan
Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and
Malacca, Compiled from Chinese Sources, dari tahun 1876 yang
menyatakan bahwa San-fo-ts'i yaitu Palembang.
Beal pada tahun 1886 telah mengemukakan pendapatnya,
bahwa negara Shih-li-fo-shih terletak di tepi sungai Musi dekat kota
Palembang. Namun, pada pertengahan kedua abad ke-19 itu, nama
Sriwijaya belum dikenal. Kerajaan itu masih disebut dengan nama
Tionghoa yang tidak diketahui nama aslinya. Meskipun anggapan
itu boleh dipandang sebagai penemuan ilmiah yang asli, namun
sebab kepincangan tersebut masih kabur sekali.
Bagaimanapun, harus diakui bahwa ilmu sejarah Sriwijaya
yaitu penemuan Coed~s dan lahir dari kecerdasannya dalam
menggunakan hasil penyelidikan sarjana-sarjana lainnya. Penemuan
Coed~s ini mendapat sambutan yang hebat dalam ilmu pengetahuan
sejarah, terutama dalam sejarah Asia Tenggara. sebab letaknya yang
sangat ideal untuk lalu-lintas pelayaran Jawa, India, Arab, dan
Tiongkok, maka sejarah Sriwijaya menyangkut hubungan inter
nasional. Dengan sendirinya sejarah Sriwijaya itu berhubungan
dengan sejarah negara-negara lain yang menggunakan Selat Malaka
sebagai jalan lalu-lintas, dan namanya teringat pula dalam sejarah
asing. Apalagi, sebab terbukti bahwa Sriwijaya merupakan salah satu
negeri besar di antara negeri-negeri di laut Selatan. Penemuan negeri
4 Sriwijaya
Sriwijaya oleh Coed~s ini mengalihkan minat para sarjana sejarah,
terutama para sarjana Belanda, yang pada waktu itu terlalu banyak
memusatkan perhatiannya kepada sejarah Jawa. Justru, sebab kerajaan
Sriwijaya lebih tua daripada kerajaan Mataram lama, sejarah Sriwijaya
itu sangat menarik perhatian. sebab nya, perkembangan ilmu sejarah
Sriwijaya sangat pesat.
Pada tahun 1919, jadi setahun sesudah terbitnya karangan
Coed~s Le royaume de (rivijaya yang sangat masyhur itu, Krom
mengucapkan pidato pelantikannya sebagai guru besar pada Univer
sitas Leiden yang berjudul De Sumatraansche periode der ]avaansche
Geschiedenis. Krom menyarankan bahwa di dalam sejarah J awa,
menyusup masa pemerintahan raja-raja Sumatra, yakni raja-raja
Sriwijaya. Bukti yang dikemukakannya ialah pemakaian banyak kata
Melayu pada piagam Gandasuli dari tahun 832 yang ditemukan di
J awa Tengah.
Sepuluh tahun kemudian, saran ini mendapat serangan dari
sarjana W.F. Stutterheim, yang mengemukakan teori kebalikannya.
Stutterheim menulis pada tahun 1929 4 Javanese Period in Sumatran
History. Kecuali Krom, Gabriel Ferrand pada tahun 1919 juga me
nyambut tulisan Coed~s tersebut di atas, dan pada tahun 1922 ia
menerbitkan bukunya L'Empire Sumatranais de (rivijaya.
Ferrand mengakui jasa Kern dalam usahanya menerjemahkan
piagam Kota Kapur pada tahun 1913, meskipun sarjana ini tidak
mengenal bahasa Melayu Kuno. J .Ph. Vogel tidak ketinggalan. Ia
membahas karangan Coed~s dalam karangannya yang berjudul Het
koninkrijk (rivijaya. Karangan itu ditulis dalam B.KI. 75, tahun
1919. Demikian pula sarjana Inggris, ahli bahasa, clan sejarah Melayu
C.O Blagden. Sarjana ini pada tahun 1920 menulis karangannya,
The Empire of the Maharadja, King of the Mountains and Lord of the
Isles.
Pada tahun 1926, Krom menerbitkan bukunya, Hindoe Javaan
sche Geschiedenis. Dalam buku itu, ia juga mengemukakan kerajaan
Sriwijaya. Buku ini dicetak lagi pada tahun 1913. Dalam cetakan
5
yang kedua itu, Krom tidak lupa membahas pendapat Dr.
Stutterheim, yang telah dibicarakan oleh Dr. F.D.K. Bosch pada tahun
1929. Baik Krom maupun Bosch menolak pendapatnya. Karangan
Krom ini merupakan buku sejarah negara kita lama yang paling
lengkap dan menjadi buku pegangan sejarah negara kita bagi para
sarjana lain-lainnya. Segala literatur yang mempunyai sangkut paut
dengan sejarah negara kita sampai waktu itu dibahas dan disebut.
Susunan buku Krom ini dipandang dari segi sejarah tidak luput
dari kritik. Bertalian dengan perkembangan penelitian sejarah Indo
nesia kuno, banyak bagian yang perlu dikoreksi. Pada hakikatnya,
tulisan itu lebih banyak menyerupai pandangan arkeologi daripada
pandangan sejarah dalam arti khusus.
Sifat yang demikian mudah dipahami jika kita menempatkan
tulisannya pada zaman dan suasana perkembangan ilmu sejarah di
negara kita . Kita tidak dapat menulis sejarah negara kita lama seperti
yang dilakukan oleh para sarjana Eropa tentang salah satu bagian
benua Eropa, sebab terlalu banyak hal-hal yang masih sangat
meragukan. Tanpa pengetahuan arkeologi, yang pada waktu penulisan
buku itu boleh dikatakan baru mulai berkembang, tidak mungkin
orang menulis tentang sejarah lama. Dengan sendirinya, Krom sebagai
ahli arkeologi terlalu banyak mengutamakan soal-soal arkeologi dalam
penulisan sejarah. Ia beranggapan bahwa dengan menempuh jalan
ini, ia berharap dapat memberikan penjelasan tentang hubungan
peristiwa yang masih gelap atau, paling sedikit, masih samar-samar.
Oleh sebab itu, alih-alih memberikan tafsir peristiwa sejarah yang
mempunyai hubungan dengan pandangan hidup dan cara berpikir,
ia dalam banyak hal memberikan tafsir purbakala. Akibatnya,
tulisannya mengandung sifat sejarah yang bercampur aduk dengan
arkeologi.
Buku Krom berhenti pada uraian tentang kerajaan Majapahit
saja. Suatu hal yang agak aneh jika dipandang dari segi penulisan
sejarah. Pembatasan itu membayangkan wataknya sebagai seorang
ahli arkeologi. Kejadian sesudah runtuhnya kerajaan Majapahit tidak
6 Sriwijaya
mendapat perhatian sama sekali, sebab zaman itu sudah dianggap
zaman Islam dan termasuk pangsa waktu baru. Penyelidikan arkeologi
mengenai zaman ini tidak dilakukan.
Sesudah terbitan Hindoe--Javaansche Geschiedeni s karangan Krom
ini, menyusul pada tahun 1930 Les incriptions Malai ses de (rivijaya,
yang dikumpulkan, diperiksa, dan dibicarakan oleh Coedes. Terbitan
itu memuat piagam-piagam Sriwijaya yang tertulis dalam bahasa
Melayu dan dikenal sampai tahun tersebut. Piagam-piagam itu ialah
piagam Kedukan Bukit dari tahun 683, piagam Talang Tuwo dari
tahun 684, piagam Kota Kapur dan piagam Karang Brahi dari tahun
686.
Terbitan Coed~s menyebut segala literatur yang bersangkutan
dengan piagam-piagam tersebut dan karangan-karangan yang
mempunyai sangkut paut dengan sejarah Sriwijaya. Yang sangat
penting ialah bahwa piagam-piagam itu dikumpulkan dalam satu
terbitan, sehingga setiap sarjana yang ingin menyumbangkan
pikirannya mengenai sejarah Sriwijaya dapat berkenalan secara
langsung dengan piagam-piagam asli tersebut. Terjemahannya pun
dilampirkan pula. Orang bebas menerima atau menolak terjemahan
itu. Namun, yang pasti ialah bahwa sajian yang demikian dapat
dijadikan pegangan untuk bekerja lebih lanjut, tanpa terpengaruh
oleh konsepsi Coed~s sendiri. Kumpulan piagam asli Sriwijaya itu
menjadi lengkap sebab terbitan piagam Telaga Batu dan beberapa
pecahan piagam lainnya oleh Dr. De Casparis dalam bukunya, Pra
sasti negara kita II, dari tahun 1956.
Pada tahun 1932, vor H. N. Ivans menulis tentang sebuah
cincin yang ditemuinya di Tanjung Rawa, Selinsing, Perak, dalam
majalah Federated Malay States Museums Vol. XV part 3 seperti berikut:
"his a small seal of red carnelian of good colour and somewhat transluctant,
chamfered at the edges on the face and there engraved with an inscription
running the length of the seal in the middle. The dimensions of the piece
are 1.45cms x 1cm x 4cm. The back is a flat." Huruf tulisan pada
cincin tersebut ialah huruf Palawa, dan tulisannya terbaca <;ri Visnu
varmasya.
7
Dr. C.O. Blagden clan Dr. L.D. Barnett menduga bahwa cincin
itu berasal dari tahun 400, tetapi Dr. Van Stein Callenfels menduga
dari tahun 600. Van Stein Callenfels berpendapat bahwa nama <;ri
Visnuvarmasya (Sri Wisnuwarman) itu yaitu nama seorang raja atau
seorang pangeran, sebab nama itu menggunakan gelar Gri.
Dalam A Note on an Inscribed Seal from Perk, Prof. Nilakanta
Sastri meragukan pendapat itu. Justru sebab pada nama tersebut
terdapat suatu kesalahan, yakni Visnuvarmasya alih-alih Visnu
varmanah, maka ia cenderung untuk mengatakan bahwa pemilik
cincin tersebut ialah orang biasa atau seorang saudagar. Gelar cri itu
saja belum merupakan jaminan bahwa pemiliknya yaitu seorang
raja, sebab gelar gri itu sudah umum dipakai sebagai gelar peng
hormatan pada nama-nama orang biasa. Dalam hubungan itu, ia
mengemukakan nama <;ri Vati-Kuddasya yang berasal dari Ujjain,
dan tertulis dengan huruf-huruf yang serupa benar dengan huruf
huruf pada cincin dari Perak itu. Oleh sebab itu, ia menduga bahwa
nama Wisnuwarman pada cincin yang bersangkutan itu yaitu nama
seorang pedagang dari India Tengah, atau seorang pendatang dari
India di Kuala Selinsing. Ternyata bahwa cincin dari Selinsing ini
sangat menarik perhatian.
Dr. Ch. Chhabra yang menulis karangannya, Expansion of Indo
Aryan Culture during Pallava Rule, as Evidenced by Inscriptions, dalam
J.A.S. Bengal Letters I 1935, kecuali membicarakan piagam Ligor A
clan B, juga menyinggung nama Sri Wisnuwarman pada cincin dari
perak ini. Ia sampai pada kesimpulan bahwa berdasar bentuk
aksaranya yang persegi, cincin itu harus berasal dari abad ke-8 dan
nama Wisnuwarman pada cincin tersebut sama dengan nama Wisnu
pada piagam Ligor B.
Justru sebab tempat penemuan cincin itu letaknya tidak jauh
dari Ligor. Dr. Ch. Chhabra beranggapan bahwa piagam Ligor A
clan Bitu pada hakikatnya hanya suatu piagam yang terputus sesudah
baris ketujuh. Manggalacarananya svasti terdapat pada permulaan
piagam B, sedangkan piagam Ligor A yang bertarikh tahun 775 tidak
mulai dengan manggalacarana.
8 Sriwijaya
Pada tahun 1933, clalam tulisannya, Les rois <;ailendra de
Suvarnadvipa (B.E.FE. 0. XXXIII), R.C. Majumdar telah
mengemukakan pendapat bahwa piagam Ligor A clan B hams
clipanclang sebagai dua piagam yang ditulis oleh clua orang raja.
Piagam B ditulis kemudian claripacla piagam A.
Persoalan piagam A clan B ini masih tetap hangat. Pada tahun
1941, sebagai karangan yang terakhir tentang Sriwijaya sebelum
pecah Perang Dunia II, terbit tulisan Dr. F.D.K. Bosch dalam T. B. G.
jilid LXXXI yang berjuclul De inscriptie van Ligor.
Dalam tulisan itu Bosch mengulangi pendapat Chhabra, clan
akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pada tahun 775, seorang
raja Sailenclra yang bernama Wisnu memerintah Sriwijaya. Raja
Wisnu yang tercatat pada piagam Ligor B itu tidak lain claripacla
rakai Panunggalan yang tercatat pada piagam Keclu yang clikeluarkan
oleh raja Balitung pacla tahun 907. Rakai Panunggalan ini sama
clengan Samarottungga pada piagam Karang Tengah, clan
Samarottungga aclalah Samaragrawira pada piagam N alancla. Ini
yaitu putra rakai Pancapana Panangkaran yang tersebut pada piagam
Kalasan dari tahun 778. Pada piagam Kelurak, raja Sailendra
Panangkaran itu menyebut clirinya pembunuh musuh perwira
vairivara-viravimarclana, dan pada piagam Nalanda disebut
viravairimathana. Artikel Bosch ini akan clisambut oleh Coed~s pada
tahun 1950 dalam karangannya, Le (ailendra tueur des h~ros ennemis,
dalam Bingkisan Budi, kumpulan karangan para sarjana untuk
menghormat Prof. Ph. S. van Ronkel.
Sementara itu, pada tahun 1937 teori Coed~s tentang kerajaan
Sriwijaya yang ditulis pada tahun 1918 itu dihantam oleh Ir. L.
Moens dalam terbitannya, (rivijaya, Yava en Katha (T.B.G.
LXXVII).
Salinannya ke dalam bahasa Inggris clisiarkan pacla tahun 1940
dalam Journal of the Malayan Branch XVII. Ia merombak teori yang
telah disusun oleh Coed~s. Meons mengemukakan teori baru yang
berclasarkan pengetahuan geografi dari berita Tionghoa clan Arab.
Menurut pendapatnya, Sriwijaya tidak pernah berpusat di
Palembang. Pada mulanya, pusat kerajaan itu terletak di pantai timur
Malaya, kemudian berpindah ke Sumatra Tengah dekat Muara Takus.
Sangat menarik perhatian, bagaimana Moens menggunakan berita
berita geografi untuk menegakkan teorinya.
Dari sejarah Sung, tercatat bahwa empat hari perjalanan dari
Cho-p'o orang sampai di laut; jika berlayar ke arah barat laut sesudah
lima belas hari, orang sampai di P'o-ni, dan lima belas hari lagi sampai
di San-fo-ts'i. Juga diberitakan bahwa San-fo-ts'i terletak di antara
dan Cho-p'o. berdasar dua berita geografi itu, Moens mengambil
kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di Semenanjung Melayu.
Berita Arab yang berasal dari Abu Zaid mengatakan bahwa ibu
kota Yawaga berhadap-hadapan dengan Tiongkok. Menurut
pendapatnya, Zabag (Yawaga) sama dengan San-fo-ts'i. Oleh sebab
itu, diambilnya kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di pantai timur
Semenanjung. Moens menyamakan San-fo-ts'i dengan Kadaram; oleh
sebab itu, terpaksa melokalisasikan Kadaram di pantai timur
Semenanjung. Ia juga beranggapan bahwa San-fo-ts'i bersaingan
dengan Palembang. Setelah mengalahkan pusat kerajaan Palembang
dan mengusir keluarga raja, [San-fo-ts'i] lalu mendirikan pusat
kerajaan ham di wilayah Melayu, yakni dekat Muara Takus.
Penunjukan Muara Takus sebagai pusat kerajaan Sriwijaya
didasarkan:
(1)atas berita I-ts' ing mengenai bayang-wayang diwelacakra yang
tidak menjadi panjang atau pendek pada pertengahan bulan
delapan. Pada tengah hari, orang yang berdiri di matahari tidak
berbayang-bayang sama sekali. Muara Takus terletak pada garis
ekuator 0. 20' N. Jadi, cocok dengan berita I-ts'ing.
(2)atas berita ahli peta Tionghoa Chia Tan, yang menyatakan bahwa
di sebelah utara Ch-Cih (Selat Malaka) terletak kerajaan Lo-yueh,
dan di sebelah selatan terletak kerajaan Shih-li-fo-shih. Berita itu
pun cocok dengan penempatan pusat kerajaan di Muara Takus.
10 Sriwijaya
(3)atas beritaArab yang berasal dari Ibn Said clan Abdul Fida, bahwa
ibu kota Sribusa terletak di muara sungai. Menurut Moens, muara
sungai itu muara sungai Kampar. 1.200 tahun yang lalu muara
sungai itu lebih jauh ke barat daripada sekarang. Muara Kampar
sebagai pelabuhan hingga sekarang masih ramai hubungannya
dengan Singapura. Kemunduran pelabuhan Muara Kampar
disebabkan timbulnya pelabuhan teluk Bayur di pantai barat.
Moens menguraikan adanya nama raja Bicau yang dianggapnya
sebagai ubahan dari nama raja (Sri)wijaya clan dongeng tentang
adanya datu Sriwijaya yang menetap di Kotabaru. berdasar itu
semua, ia mengambil kesimpulan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya
terletak di Muara Takus. Peninggalan-peninggalan pusat kerajaan itu
masih tampak di Muara Takus, dekat tempuran Kampar Kanan
dengan Batang Mahat di Sumatra Tengah.
Beberapa tahun sebelumnya, teori Coed~s ini telah diragukan,
di antaranya oleh Prof. R.C. Majumdar. Ia mengutarakan bahwa
kerajaan Sriwijaya di Sumatra sampai abad ke-8 memperluas keku
asaannya sampai di Ligor. Tetapi kemudian kerajaan itu dihancurkan
oleh kerajaan Jawaka, yang disebut San-fo-ts'i dalam berita Tionghoa
pada masa pemerintahan dinasti Sung. Pusat kerajaan San-fo-ts'i ialah
Ligor. Kerajaan itu dikuasai oleh rajakula Sailendra dari India.
Pendapat Majumdar ini dibantah oleh Prof. K.A. Nilakanta
Sastri dalam T.B.G. 75, tahun 1935. Kemudian, Dr. H.G. Quaritch
Wales menerbitkan karangannya dalam majalah Indian Art and Let
ters vol. IX no. 1. Ia pun pada dasarnya meragukan lokalisasi pusat
kerajaan Sriwijaya di Palembang seperti yang dikemukakan oleh
Coed~s. Dr. Quaritch Wales melokalisasikan pusat kerajaan itu di
Ch' aiya. Pertimbangan yang dikemukakannya untuk memperkuat
pendapat itu:
1). Penemuan-penemuan purbakala di daerah Cha'iya yang terbukti
lebih banyak daripada di wilayah Palembang,
11
2). Kemiripan bunyi antara Sriwijaya dan Sivic'ai sebagai nama bukit
di sebelah selatan kota Ch' aiya. Mengenai kemiripan bunyi itu,
ia menulis: "A difference in the native pronunciation of the word
Srivijava in the region from its pronunciation in Sumatra might well
account for the Chinese form San-fo-ts'i being applied to the empire
from the 10th century onwards, while in the 7th and 8th centuries the
Sumatra State of Srivijaya had been referred to by the Chinese as Po
che - Che-li-fo-che."
Usul lokalisasi dari Dr. Quaritch Wales mendapat jawaban
Coed~s dalam jurnal M.B.R.A.S. Vol. XIV part III. Pada dasarnya,
Coed~s menolak pendapat Wales. Untuk membantah lokalisasi San
fo-ts'i di Ch' aiya, Coed~s mengutip berita Tionghoa dari zaman Sung
yang dengan jelas menguraikan bahwa San-fo-ts'i terletak di
Palembang. Chao Ju Kua mengatakan bahwa negara San-fo-ts' i terletak
di tepi laut besar clan menguasai lalu-lintas pelayaran dari barang ke
Tiongkok clan kebalikannya. Mengenai penemuan-penemuan barang
purbakala, ia mengemukakan piagam Kedukan Bukit, piagam Talang
Tuwo, Karang Brahi, clan Kota Kapur. Isi kedua piagam yang terakhir
ini memberikan kesan bahwa Sriwijaya itu menguasai wilayah tempat
piagam persumpahan itu ditemukan. Lagi pula, piagam Ligor di Vat
Serna Muong dari tahun 775 jelas menyebut nama Sriwijaya. Nama
M~rawijayottunggawarman, putra Cudamaniwarman, keturunan raja
Sailendra, yang disebut pada piagam Leiden sebagai raja Kataha clan
Sriwijaya, disebut dalam berita Tionghoa raja San-fo-ts'i. Jika Sriwijaya
sama dengan San-fo-ts'i, maka Sriwijaya itu tidak mungkin dilokali
sasikan di Ch' aiya.
Pada tahun 1935 itu pula, Dr. Stutterheim dalam Verslag over
de gevonden inscripties (Oudheidkundige Vondsten in Palembang door
F.M. Schnitgen) melokalisasikan Sriwijaya di muara sungai Indragiri,
tidak di muara sungai Musi di Palembang. Moens beranggapan bahwa
nama Yava, Yavadvipa (Iabadiou), clan Ch'o-po mula-mula dipakai
untuk menyebut Semenanjung Melayu. Nenek moyang rakai Sanjaya
berpindah dari Kunjarakunjadesa di India Selatan ke Kedah. Pada
tahun 724/8, Sanjaya terdesak oleh Sriwijaya; lari ke Jawa Tengah.
19 Sriwijaya
Di Pulau Jawa, Sanjaya mendirikan kerajaan ham. Pada tahun 732,
mendirikan lingga di atas Gunung Wukir, yang piagamnya hingga
sekarang terkenal dengan nama piagam Canggal.
Pada piagam itu, terse hut akan adanya candi Siwa yang didirikan
di tempat yang hernama Kunjarakunjadesa. Menumt Moens, nama
Java (]avakya) pada piagam Canggal yaitu nama pindahan dari
Yavadwipa sehagai nama Semenanjung Melayu, negara nenek
moyangnya.
Orang boleh menerima atau menolak pandangannya. N amun,
tidak dapat disangkal hahwa pandangannya yaitu pandangan ham
yang didasarkan atas berita-berita geografi dan piagam-piagam yang
ditemukan hingga waktu itu. Prof. Nilakanta Sastri dalam hukunya,
History of Griwijaya (1949), menolak pandangan itu dan lebih
cenderung untuk mengikuti pendapat Coed~s.
Dato' Sir Roland Braddell menerbitkan seri karangan dalam
jurnal MB.R.A.S. sejak tahun 1935 di hawah judul An Introduction
to the Study of Ancient Times in the Malay Peninsula and the Straits of
Malacca. Karangannya termuat dalam volume XIII part 2, vol. XIV
part 3, vol. XV part 4, vol. XVII part 5, vol. XIX, part l. Karangan
Roland Braddell ini penting sekali untuk pengetahuan sejarah kuno
Malaya dalam huhungannya dengan negara-negara tetangganya.
Penyelidikan itu terutama mengenai Campa dan Kamhoja atau Funan,
dihagi menjadi Pre-Funan dan Funan. Dalam karangannya yang
termuat dalam vol. XIX part 1, Roland Braddel menguraikan betapa
pentingnya penyelidikan Funan dalam huhungannya dengan
persoalan negara Sriwijaya dan asal usul rajakula Sailendra. Katanya:
" The whole question of the last days of Funan and its passing into the
beginning of the Cambodian Empire is worthy of close argument and a
matter of importance as we shall see when we come to discuss Srivijaya
and the origin of the Sailendras."
Karangan-karangannya yang langsung herhuhungan dengan
sejarah Sriwijaya mulai dengan terhitannya tahun 1941 tersebut di
atas pada hlm. 28; dilanjutkan sesudah perang mulai tahun 1947
13
sampai 1951, ditutup dengan pembahasan tentang Che-li-fo-che, Mo
lo-yu, and Holing. Ia memusatkan perhatiannya kepada lokalisasi
nama-nama tempat yang disebut oleh berita-berita Tionghoa dan
Arab, yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Sriwijaya.
Lokalisasi itu terutama didasarkan atas pandangan geografi, yang
diambilnya dari sumber-sumber berita Tionghoa dan Arab; tidak
semata-mata didasarkan atas kemiripan bunyi seperti yang banyak
dilakukan oleh para sarjana sejarah hingga sekarang. Ini yaitu
revolusi berpikir dalam lapangan penyelidikan sejarah, yang
dipelopori oleh Moens. Ia mengaku jasa-jasa Moens dan menyetujui
pandangannya. Katanya: "We agree with Mr. Moens that it is wrong to
disregard in favour of phonetic reasoning the evidence wich are given. We
agree with him that having ascertained the evidence we must accept it an
reason from it. Indeed, we would insist most urgently that unless the an
cient geography of Malaysia is determined by a scientific application of
the fundamental rules of reasoning it will get nowhere."
Lokalisasi yang berdasar pandangan geografi ini dengan
sendirinya menghendaki penelitian segala bahan sejarah yang banyak
sekali jumlahnya. Justru sebab itu pandangan itu berharga sekali.
Karangan-karangan Roland Braddell dalam lapangan ini terbit
di bawah judul Notes on Ancient Times in Malaya. Dalam vol. XIX
part 1, ia menyelidiki Yavadvipa, labadiou, Tou-po, Tchou-po, Ye-po
ti. Ia sampai kepada kesimpulan bahwa tempat yang disebut dengan
pelbagai nama itu ialah pantai barat Kalimantan, yakni Sabah. Nama
Sabah sekarang hanya dipakai untuk menyebut bagian utara
Kalimantan.
Karangannya yang termuat dalam vol XX part 1 menguraikan
prasejarah zaman kebudayaan batu besar (megalith), batu baru
(neolith), dan zaman kebudayaan perunggu. Part 2 menguraikan
zaman besi yang disebutnya The Ancient Beadtrade, kemudian disusul
dengan Ancient History of South Arabia. Vol. XXII part 1
membicarakan Tako/a and Kataha dan llangasoka and Kadaram. Vol.
XXII part 4 tentang P'o-li di bawah judul A Note on Sambas and
14 Sriwijaya
Borneo. P'o-li ditempatkan di pantai barat Kalimantan. Identifikasi
Po-lo dengan Borneo masih memerlukan penyelidikan yang lebih
mendalam. Vol. XXIII part I tentang Langkasuka and Kedah. Nama
Langkasuka dalam berita-berita Tionghoa berbunyi: Lang-ya-hsiu
(Liang Shu: Chiu Tang Shu), Leng-chiau-shu (Hsii Kao Seng
Chuan), Lang-ya-shu (Sui Shu), Lang-chia-shu (I-ts'ing), Kia-mo
lang-chia (Hstan Chuang), Ling-ya-ssi-kia (Chu Fan Chi), Lang
shi-chia (Wupei-shih). Lokalisasinya di pantai timur Malaya.
Pusatnya di Patani. Kedah disebut Chieh-ch'a (I-ts'ing), Kia-tcha
(Ma-tuan-lin), Ko-lo (Chia-Tan), Ki-t'o (Chu Fan Chi), Chi-ta (Wu
pei-shih).
Ho-lo-tan dilokalisasikan di Patani. Vol. XXIII part 3
menguraikan Tan-ma-ling and Fo-lo-an. Tan-ma-ling disamakan
dengan Tambralingga (piagam Candrabhanu), Madalinggam (piagam
Tanyore), Damalinggam (piagam Tamil), Tan-mei-lieou atau Tan
mi-liu atau Tan-mei-liu (Sung-shih), Tan-ma-ling (Chu Fan Chi).
Lokalisasi Tembeling di pantai timur Malaya di daerah sungai
Kuantan. Fo-lo-an terletak di muara sungai Dungun. Pong-fong.
Tong-ya-nong, dan Ki-Ian-tan tidak banyak menimbulkan kesulitan,
sebab nama-nama itu masih digunakan hingga sekarang, yakni
Pahang, Trengganu, dan Kelantan. Tempat-tempat itu berturut-turut
terletak di muara sungai Pahang, sungai Trengganu, dan sungai
Kelantan. Vol. XXIV part I membicarakan Che-li-fo-che, Mo-lo-yu
dan Ho-ling. Lokalisasi Che-li-fo-che di Palembang, Mo-lo-yu di
Jambi, dan Ho-ling di pantai barat Kalimantan.
Meskipun lokalisasi tempat-tempat tidak merupakan pokok
persoalan peristiwa sejarah, namun lokalisasi itu memberikan
gambaran tentang wilayah negara yang bersangkutan. Justru sebab
nama-nama tempat itu kebanyakan terdapat dalam sumber sejarah
asing, maka ucapan nama-nama itu berbeda dengan nama aslinya.
Sering kali tempat-tempat itu sudah berubah namanya. Nama yang
tidak dihubungkan dengan tempat tidak memberikan gambaran yang
jelas. Apalagi jika lokalisasinya salah, hal itu akan mengakibatkan
penafsiran yang keliru. Justru sebab sejarah kuno tentang Sriwijaya
15
sebagian besar disusun berdasar berita-berita asing, yang terutama
hanya merupakan catatan pengiriman utusan clan penyebutan nama
nama, maka lokalisasi nama-nama tempat itu perlu sekali.
Tulisan Moens clan Roland Braddell ini betul-betul penelitian
kembali sejarah Sriwijaya dari sudut geografi. Lain dari itu, tulisan
itu banyak diketahui sebelumnya. Oleh sebab itu, tulisan Moens
clan Braddell tersebut di atas penting bagi pengetahuan sejarah kuno
Malaya.
Hampir bersamaan waktu dengan karangan Moens di atas, telah
terbit pula dua jilid buku Suvarnadvipa karangan Prof. R.C.
Majumdar pada tahun 1937 dan 1938. Prof. George Coed~s me
nerbitkan Histoire ancienne des Etats Hindoui s~s dExtreme Orient pada
tahun 1944. Terbitan itu diperbaharui pada tahun 1948 di bawah
judul Les Etats Hindouis~ s d'Indo Chine et d'Indon~ sie.
Prof. K.A. Nilakanta Sastri membukukan kuliahnya, History of
Grivijaya, yang dilengkapi dengan piagam-piagam yang mempunyai
hubungan dengan sejarah Sriwijaya, dari piagam Kedukan Bukit
sampai piagam Candrabhanu pada tahun 1949. Mungkin, piagam
piagam itu disertai terjemahannya dalam bahasa lnggris yang disalin
dari pelbagai terbitan, sehingga orang yang tidak mengenal bahasa
piagam-piagam yang bersangkutan dapat sekadar mengikuti
pembicaraannya. Sebagian dari piagam-piagam itu kami lampirkan
pula pada terbitan ini, terutama yang tertulis dalam bahasa Tamil,
Khmer, clan Sanskerta.
Meskipun terbitan-terbitan itu penting sekali artinya, namun
tidak ada yang dapat memecahkan persoalan pokok sejarah Sriwijaya
yang banyak diperdebatkan sebelum pecah Perang Dunia II secara
memuaskan. Persoalan yang dimaksud ialah persoalan piagam
Kedukan Bukit, hubungan antara piagam Ligor A clan piagam Ligor
B, clan hubungan antara rajakula Sailendra dan raja-raja Sriwijaya.
Mengenai persoalan siddhiy~tra yang masih dipegang teguh oleh
Prof. Coed~s dalam terbitannya, Les inscriptions Malaises de (rivijayad.
16 Sriwijaya
Prof. Nilakanta Sastri sudah mulai meragukan pendapat Coed~s dan
lebih cenderung untuk mengikuti pendapat Prof. Krom. Bagaimana
pun, yang terbaca ialah jayasiddhay~tra, bukan siddhiy~tra; dan ini
yaitu kemenangan terhadap kerajaan Melayu. N amun, ia tidak dapat
keluar dari persoalan Minanga Tamwa, dan tidak dapat menjelaskan
dari mana diambilnya kata Malayu yang didasarkan atas bacaan Krom
yang terang salah. Hubungan antara rajakula Sailendra dan raja-raja
Sriwijaya masih tetap merupakan persoalan, meskipun berulang kali
disebutnya nama Balaputradewa pada piagam Nalanda. sebab ,
persoalan bagaimana Balaputra dapat menjadi raja di Sriwijaya tidak
ada penjelasannya kecuali keterangan yang sudah usang, yakni akibat
keturunan raja Dharmasetu yang dianggap raja Sriwijaya oleh para
sarjana sejarah. Apalagi mengenai hubungan antara piagam Ligor A
dan piagam Ligor B.
**
Pada tahun 1947, Dr. F.H.N. van Naerssen menerbitkan sebuah
karangan dalam India Antiqua berjudul "The Cailendra Interreg
num''. Ringkasan pandangannya demikian. Piagam Kalasan memuat
dua wangsa, yakni: 1). wangsa Sailendra, 2). wangsa Sanjaya. Dalam
wangsa Sanjaya termasuk maharaja dyah Pancapana Pangkaran. Ma
haraj a Panangkaran ada di bawah kekuasaan wangsa Sailendra. Dalam
wangsa Sailendra termasuk Rajasinga dan para guru Sailendra.
Pandangan van Naerssen ini kemudian menjadi pola pembahasan
piagam Ligor B oleh Coed~s. Pada piagam Ligor B, Coed~s juga
melihat dua raj a, yakni raj a Wisnu dan seorang raj a lagi yang bergelar
maharaja. Menurut anggapannya, raja yang terakhir ini raj a Sailendra
yang pertama. Rakai Panangkaran dianggap sebagai raja setempat
yang hanya menerima perintah dari raja Sailendra. Demikianlah,
pandangan kedua sarjana itu boleh dikatakan sejajar, meskipun piagam
yang dibahasnya berbeda-beda.
Sebelum kita membicarakan anggapan van Naerssen, kita teliti
dahulu piagam Kalasan yang dibahas. Yang dibahas di sini hanya
pokok-pokoknya saja. Isinya seperti berikut:
17
Pada' 2-3: para guru raja Sailendra mohon kepada ma
haraja dyah Pancapana Panangkaran agar beliau membangun
candi Tara. Permohonan para guru itu ialah agar dibangunlah
area Dewi Tara, candinya dan beberapa rumah untuk para
pendeta yang fasih akan pengetahuan Mahayana Winaya.
Pada 4-6: para pangkur, tawan, dan tirip menerima
perintah untuk membuat candi Tara dan perumahan para
pendeta. Candi Tara didirikan di daerah makmur sang raja
yang menjadi hiasan rajakula Sailendra untuk kepentingan para
guru raja Sailendra. Pada tahun Saka 700, maharaja Panangk
aran selesai membangun candi Tara, tempat para guru me
lakukan persembahan.
Pada 7-10: desa Kalasan dihadiahkan. Para pangkur,
tawan, dan tirip, adyaksa desa, dan para pembesar menjadi
saksi. Tanah yang dihadiahkan oleh sang raja hams dijaga baik
baik oleh para raja keturunan wangsa Sailendra, oleh para
pangkur, para tawan, para tirip, dan para pembesar yang bijak
turun-temurun. Selanjutnya, sang raja berulang kali minta
kepada semua raj a yang akan memerintah kemudian agar candi
itu selama-lamanya dijaga untuk kebahagiaan semua orang.
Pada 11-12: berkat pembangunan wihara itu diharapkan
semoga semua orang memperoleh pengetahuan tentang
kelahiran, memperoleh tibavopapanna dan mengikuti ajaran
Jina. Yang mulia kariyana (rakyan) Panangkaran mengulangi
lagi permintaan beliau kepada semua raja yang akan menyusul
untuk membina wihara itu dalam keadaan yang sempurna
sempurnanya.
Demikian itulah terjemahan piagam Kalasan menurut paham
saya. Kata cailendraraja yang kedapatan dua kali pada piagam tersebut
1 Catatan editor: Pada, menurut Kamus Besar Bahasa negara kita , yaitu satuan pola
tekanan dalam mengukur struktur persajakan. Penggunaan kata pada di sini mengacu
pada pengertian tersebut.
18 Sriwijaya
terang sama dengan maharaja Panangkaran, dan Gailendrar~jaguru
yaitu para guru maharaja Panangkaran. Mereka minta kepada sang
prabu agar beliau mendirikan candi Tara untuk keperluan mereka,
sebab mereka pemeluk agama Budha. Permintaan yang demikian
termakan akal. Apalagi, jika kita mengingat bahwa sebelum rakai
Panangkaran memegang kekuasaan, yang berkuasa di J awa tengah
ialah rakai Sanjaya.
Rakai Sanjaya memeluk agama Siwa. Beliau mendirikan lingga
di atas gunung Wukir pada tahun 732. Jika kita memerhatikan
piagam yang terdapat di Gata dekat Prambanan dan Taji Gunung
dekat Prambanan juga, kedua piagam itu menggunakan perhitungan
tahun Sanjaya (Sanjayawarsa); masing-masing bertarikh tahun 693
dan 694 Saka, atau tahun Masehi 771 dan 772 (Oud Javaanse
Oorkonde XXXV dan XXXVI). Pada piagam Gata, kedapatan nama
maharaja Daksottamab~hubajra. sebab kedua piagam tersebut
menggunakan safijayawarsa, boleh dipastikan bahwa piagam tersebut
dikeluarkan oleh keturunan raja Sanjaya. Demikianlah, keturunan
raja Sanjaya memerintah sampai tahun Masehi 772.
Pembangunan candi Kalasan selesai pada tahun 778. Pemba
ngunan itu makan waktu beberapa tahun, dan dilakukan atas
perintah raja Panangkaran, keturunan Sailendra dan beragama Budha.
Dari perbandingan piagam-piagam tersebut dapat disimpulkan
bahwa Daksottamab~hubajra, keturunan raja Sanjaya, ditundukkan
oleh Dyah Pancapana Panangkaran, keturunan raja Sailendra, antara
tahun Masehi 772 dan 778. Pada waktu itu, Sanjayawangsa diganti
oleh agama Budha Mahayana yang dianut oleh Sailendrawangsa.
Jelaslah sekarang bahwa Dyah Pancapana Panangkaran bukan
keturunan Sanjaya. Beliau yaitu raj a Sailendra yang pertama di J awa
Tengah yang menggantikan Sanjayawangsa. Andaikata beliau
keturunan raja Sanjaya, pasti beliau akan juga menggunakan per
hitungan tahun Sanjaya seperti nyata pada piagam O.J 0. XXXV
dan XXXVI tersebut di atas.
19
Dengan bukti di atas, teori van N aersen yang memasukkan
maharaja Panangkaran dalam Sanjayawangsa tidak dapat diper
tahankan. Kerajaan Siwa yang dikendalikan oleh raja Sanna, kemudian
dilanjutkan oleh raja Sanjaya, berakhir pada tahun-tahun antara 772
dan 778 dengan timbulnya kerajaan Budha yang dikendalikan oleh
wangsa Sailendra maharaja Pancapana Panangkaran. Kerajaan Siwa
itu akan timbul kembali dan dilanjutkan pada masa pemerintahan
maharaja Pikatan alias Jatiningrat. Tidaklah aneh bila pembangunan
candi Tara dimaksud pula sebagai lambang kemenangan wangsa
Sailendra terhadap wangsa Sanjaya.
Pendapat van Naersen yang mengemukakan adanya dua wangsa
pada piagam Kalasan dan memasukkan rakai Panangkaran dalam
wangsa Sanjaya disambut baik oleh Prof. Vogel sebagai pembuka
pintu ke arah penyelesaian persoalan Sriwijaya-Sailendra. Pendapat
itu kiranya timbul akibat salah tafsir mengenai isi piagam Kalasan.
Piagam Canggal Sanjaya menyebut nama tempat Kunjarakunja.
Penyebutan itu menunjukkan adanya hubungan antara wangsa
Sanjaya dan India Selatan dalam soal agama, atau mungkin sekali
juga dalam asal usul nenek moyangnya. Pada masa pemerintahan
rajakula Sailendra, termasuk rakai Panangkaran yang menyebut
dirinya hiasan rajakula Sailendra, hubungan agama itu tidak dengan
India Selatan tetapi dengan Benggala.
Pada piagam Kelurak dari tahun 782, terbukti bahwa upacara
pembukaann area Manjusri dipimpin oleh Sailendrarajagur Kuma
ragosha dari Gaudadwipa. Hubungan agama di Jawa dan Sumatra
pada masa pemerintahan rajakula Sailendra terutama dengan Beng
gala sebagai pusat agama Budha Mahayana. Kumaragosha yaitu
seorang pendeta Budha dari Benggala. Raja Dewapala yang
mengeluarkan piagam Nalanda atas permintaan Balaputradewa dari
Sriwijaya juga raja Benggala, yang pusat kerajaannya terletak di Pata
liputra. Beliau memerintah antara tahun 794 dan 839. Pada per
kembangan kerajaan Sailendra, tingkat mula hubungan agama di
lakukan oleh rakai Panangkaran dengan raja Dharmapala yang
memerintah antara tahun 758 dan 794.
90 Sriwijaya
Kumaragosha hid up pada masa pemerintahan raj a D harmapala
ini. N ama Sri Dharmasetu yang tercatat pada piagam Kelurak kiranya
sama dengan Sri Dharmasetu, yang menjadi nenek Balaputra pada
piagam Nalanda. Telah terbukti pula bahwa Balaputradewa semasa
kecil hidup di Jawa Tengah. Dharmasetu harus juga berasal dari Jawa
Tengah pada akhir abad ke-8 dan mempunyai sekadar hubungan
dengan raja Sailendra, yang menyebut dirinya Dharanindra.
Pada tahun 1950, Prof. Coed~s menerbitkan karangannya, Le
Gailendra 'tueur des h~ros ennemis'', yakni Sailendra pembunuh
pahlawan-pahlawan lawannya. Karangan itu termuat dalam Bingki san
Budi, kumpulan karangan-karangan para sarjana bekas murid dan
kawan untuk menghormati Prof. van Ronkel yang mencapai usia 80
tahun.
Karangan Coed~s tersebut yaitu usaha baru untuk memecahkan
persoalan hubungan piagam Ligor Adan B, terdorong oleh karangan
Bosch dari tahun 1941, dalam T.B. G. deel LXXXI hlm. 26 dst.
Dalam karangan itu, Dr. F.D.K. Bosch menyamakan Samaratungga
pada piagam Karang Tengah dengan rakai Panunggalan pada piagam
Kedu, dan kemudian dengan Samaragrawira pada piagam Nalanda,
yakni ayah Balaputra. Penyamaan itu masih lebih lanjut lagi. Ia
menyamakannya dengan Wisnu pada piagam Ligor B.
Teori Bosch ini terang tidak dapat dipertahankan lagi setelah
terbitnya karangan De Casparis tentang piagam Balaputra-Jati
ningrat, A Metrical Old Javanese Inscription Dated 856 A.D. Namun,
penyamaan Samaratungga dan Samaragrawira ini hingga sekarang
masih tetap dipertahankan. Sudah barang tentu, kedua itu mirip
sekali, sebab kedua-duanya mulai dengan Samara. Yang berbeda
hanya akhirannya. Boleh dipastikan bahwa Balaputradewa mengenal
nama Samaratungga pada piagam Karang Tengah dan Smaragrawira
sebagai nama ayah beliau, sebab Balaputra baru pada pertengahan
abad ke-9 meninggalkan Jawa Tengah.
Andaikata Samaratungga itu memang benar sama dengan Sama
ragrawira, timbul pertanyaan: Mengapa piagam N alanda Balaputra
91
tidak menyebut Samaratungga saja? sebab kedua nama itu berbeda,
kiranya memang nama dua orang yang berlain-lainan pula. Sama
ragrawira yaitu nama rakai Warak; Samaratungga yaitu nama rakai
Garung. Dengan kata lain, Samaratungga yaitu putra Samaragrawira
dan kakak Balaputra. Samaratungga yaitu putra sulung yang mem
punyai hak mewaris takhta kerajaan. Balaputra yaitu putra bungsu
sebab namanya memang berarti demikian. (vala: ekor; putera: anak)
Samaratungga terbukti tidak mempunyai putra laki-laki. Beliau
hanya mempunyai seorang putri, yakni Pramodawardani, permaisuri
rakai Pikatan. Balaputra, sebagai putra laki-laki Samaragrawira,
mengira berhak pula menggantikan Samaratungga yang tidak
berputra laki-laki. Timbullah sebab nya sengketa antara Balaputra
dan Jatiningrat yang membela hak permaisurinya. Hal ini lebih
termakan akal daripada anggapan bahwa Balaputra yaitu adik
Pramodawardani.
berdasar anggapan yang terakhir ini, Balaputra mempunyai
hak lebih besar atas takhta kerajaan daripada Pramodawardani. Per
nyataan Balaputra, seperti yang tertera pada piagam Nalanda, me
rupakan pernyataan persahabatan dengan raja Dewapaladewa untuk
sekadar minta bantuan dalam merebut kembali hak menjadi raja di
Mataram. Tafsiran yang demikian dapat dipahami sepenuhnya.
Sengketa antara Balaputra dan J atiningrat kiranya terutama mengenai
perebutan kekuasaan antara Balaputra dan Pramodawardhani, sepe
ninggal rakai Garung alias Samaratungga. Dalam hal ini, J atiningrat
sesungguhnya sebagai menantu ada di luar sengketa, namun sebab
membela kepentingan istri, turut terlibat. Tentang hal ini akan kita
bahas lebih lanjut dalam bab "Piagam Nalanda.
Dalam usaha menyamakan Samaratungga dengan Samarag
rawira, dengan sendirinya tidak dilupakan penyamaan epipeton yang
terdapat pada piagam Keluran vairivarav~ravimardana dan yang
terdapat pada piagam N alanda v~ravairimanthana.
Prof. Coed~s tidak lupa menyebut karangan F.H.N. van Naersen
dalam India Antiqua yang telah disinggung di atas. Juga, Coed~s
99 Sriwijaya
melihat adanya dua raja pada piagam Ligor B seperti van Naerssen
melihatnya pada piagam Kalasan. Coed~s sekali lagi meneliti piagam
Ligor B. Pembetulan vapusmn dan dvitiyas oleh Coed~s telah
dilakukan lebih dahulu oleh Glihabra dan Nilakanta Sastri;
prabha(va) diganti dengan prabhu sesuai dengan pendapat Paul Mus.
Yang penting dalam penelitian kembali ini ialah perbedaan
tafsiran Coed~s dengan sarjana-sarjana lainnya. Coed~s berpendapat
bahwa pada piagam Ligor B, tersebut dua nama raja. Yang pertama
ialah raja Wisnu, yang disamakannya dengan Wisnuwarman pada
cincin Perak. Yang kedua ialah raja yang mempunyai epiteton sarvvad
rimadavi(ma)thana, yakni pembunuh musuh perwira. Aksara tha
terdapat antara vi dan nar;. Tambahan ma disebabkan sebab untuk
keperluan metrik yang kurang satu suku pendek. Paralelisme penye
butan dua raja itu, menurut Coed~s, ditunjukkan dengan pemakaian
kata ganti penunjuk 2 x, yakni yosau dan asau yah, dan lebih-lebih
oleh perlawanan ekas dan dvitiyas. Terjemahan Coed~s itu lalu kita
bandingkan dengan terjemahan Chhabra.
Coed~s: Ce premier, roi des rois, qui par son ~clat personnel est
comparable au soleil dissipant la nuit constitu~ par la troupe de tousses
ennemis, qui ressemble par sa beaut~ charmante a la lune d'automne
sans tache, qui a l'aspect de Kama incarn~, a pour nom Visnu; - et ce
second qui par son ~nergie personnelle d~truit sans exception tous
ses arrogants ennemis, en consequence de la mention de son origine,
le (ailendravam~a, a pour nom (ri Mahar~ja.
Chhabra: He, who is the supreme king of kings, who through his
energy alone comparable to the sun for dispelling the darkness in the
shape of the hosts of all his foes, who in charming beauty is the very,
spotless autumnal moon, and is like Cupid in person, who is called
Visnu who entirely (annihilates) the pride of all his opponents, and
who with regard to his prowess is without a second, that self-name is
known by the appellation of (ailendravam~aprabhu and bears the
title of (ri Mahar~ja.
Terhadap paralelisme penyebutan dua raja yang dikemukakan
oleh G. Coed~s, saya menaruh keberatan gramatikal seperti nyata
dalam pembahasan di belakang. Dengan sendirinya lalu timbul
93
perbedaan tafsiran. Coed~s mempertentangkan kata ekas dan dvitiyas.
Menurut anggapan saya, hal itu tidak mungkin dipertentangkan,
sebab yang tertera di situ yaitu ekas, bukan prathama. Mengenai
pemakaian kata penunjuk (ganti diri) yo'asau dan asau yah dalam
bahasa Sanskerta yaitu soal biasa; tidak mengandung pretensi untuk
menyatakan perbedaan apa-apa.
Coed~s sampai kepada kesimpulan, bahwa raja Wisnu yang
dikatakan raja yang pertama pada piagam Ligor B sama dengan raja
yang menyebut dirinya (rivijayendarja, Crivijayesvarabhupati, dan
(rivijayanr~pati pada piagam Ligor A. Jadi, beliau memerintah pada
tahun 775. Raja yang kedua yang bergelar Sri Maharaja yaitu putra
raja Wisnu. Setelah kawin dengan putri dari Funan, dari keluarga
Somawangsa, [ia] menjadi raja Sailendra yang pertama dan
menurunkan raja-raja Sailendra di Mataram. Tetapi Coed~s sendiri
mengakui bahwa anggapan itu tidak berdiri di atas bukti-bukti yang
kuat. Katanya:
J'ai formul~ plus haut, avec les plus expresses r~serves, une
hypoth~se sur l'origine de ce (ailendra, le premier que nous fasse
cona~tre l'epigraphie. Sil venait ~ ~tre prouv~ qu'il etait fils du roi
Visnu, et que ce dernier est identique au roi de <,;rivijaya de la fase A
de la st~le de Ligor (deux hypotheses aux quelles manque pour le
moment une base solide), ii faudrait admettre, soit que ce (ailendra
r~gnait aussi ~ Sumatra, ce qui n'accorde pas avec le temoignage de
la chartre de Nalanda, soit que le tr~ne de (rivijaya appartenait ~ son
p~re Visnu encore vivant, ou un fr~re. Ce ne serait que son petit fils
Balaputra qui aurait definitivement assis a Sumatra la puissance des
(ailendra.
Coed~s beranggapan bahwa raja Sailendra yang pertama itu sama
dengan Dharanindra pada piagam Kelurak, memerintah Jawa Tengah
dan menyuruh raja setempat Pancapana Panangkaran membangun
kembali candi Kelurak. Panangkaran pada piagam Kalasan diang
gapnya sebagai pengganti rakai Sanjaya.
Kesimpulan selanjutnya tidak cocok, baik dengan teori Krom
tentang "pemerintahan Sriwijaya terselundup dalam sejarah Jawa''
94 Sriwijaya
maupun dengan teori Stutterheim ten tang "pemerintahan Jawa dalam
sejarah Sumatra. Yang ada ialah masa pemerintahan rajakula Sailen
dra keturunan raja Semenanjung dan putri Funan pada penghabisan
abad ke-8 dan permulaan abad ke-9.
Coed~s menganggap maharaja Panangkaran sebagai pengganti
raja Sanjaya, dan sebagai raj a setempat yang menerima perintah dari
Dharanindra, yakni raja Sailendra yang pertama di negara kita . Yang
terang ialah bahwa maharaja Panangkaran, menurut piagam Kalasan,
telah memegang pemerintahan pada tahun 778 dan bergelar maha
raja, menjadi hiasan rajakula Sailendra. lnilah pernyataan tentang
adanya raja Sailendra yang pertama kali dan yang terang mempunyai
tarikh tahun. Jika Wisnu, menurut Coed~s, yaitu ayah raja Sailendra
yang pertama dan sama dengan (rivijayanr~pati pada piagam Ligor
A, maka piagam Ligor B harus dikeluarkan sesudah tahun 775.
Bolehlah diduga bahwa pada tahun 775, seperti telah saya kemukakan
di atas, maharaja Panangkaran telah memegang kekuasaan di Jawa
Tengah. Penobatannya menjadi raja berlangsung lebih dahulu
daripada peresmian pembangunan candi Kalasan pada tahun 778.
Demikianlah anggapan Coedes terbentur kepada kronologi.
Teori Coed~s itu pada pokoknya diterima baik oleh Prof. Dr.
F.D.K. Bosch dalam terbitannya, (rivijaya, de (ailendra en de
Sanjayawam~a, termuat dalam B.KI. 108 tahun 1952. Ini berarti
bahwa Bosch telah melepaskan anggapannya pada tahun 1941. Jika
pandangan Coed~s itu diteliti benar-benar, ternyata bahwa pan
dangannya sangat goyah, terbentur pada pelbagai kesulitan. Namun,
harus diakui bahwa usahanya sangat berharga untuk perkembangan
pengetahuan sejarah Sriwijaya.
Pada tahun 1952 itu juga, terbit karangan Prof. Dr. Poerba
tjaraka, Riwayat negara kita , jilid I. Yang kedua tidak pernah menyusul.
Pro£ Poerbatjaraka dalam bukunya tersebut banyak membicarakan
piagam-piagam Sriwijaya. Pendapatnya yang baru ialah: 1. Lokalisasi
K~njara-kuiijade~a pada piagam Canggal, yang disamakannya dengan
desa Sleman di daerah Yogyakarta; 2. Lokalisasi Mo-ho-sin pada I
ts'ing, yang ditempatkannya di Jawa Barat.
95
Lokalisasi Mo-ho-sin oleh Prof. Poerbatjaraka semata-mata di
dasarkan atas kesamaan bunyi dengan nama-nama yang serupa yang
terdapat pada piagam-piagam tanpa memperhitungkan faktor geografi
pelayaran pendeta 1-ts'ing. Pendeta I-ts'ing tidak pernah belajar sam
pai pulau Jawa. Uraiannya mengenai Sriwjaya lebih lanjut termuat
dalam Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I pada tahun
1958.
Piagam Sriwijaya dibagi menjadi dua, yakni piagam dengan
sebutan punta (yakni dapunta hyang) dan sebutan maharaja. Yang
penting dalam rangkaian ini ialah golongan piagam yang terakhir.
Katanya:
Batu tulis yang belum memuat sebutan maharaja itu dari zaman
sebelum Sriwijaya menyerang pulau Jawa. Kemudian, tanah Jawa
diserang dan dapat dikalahkan; kerajaan diserahkan kepada Sriwijaya.
Sanjaya lari ke daerah pegunungan. Di situ Sanjaya menyiapkan diri
untuk membalas. Sanjaya berhasil mengalahkan Sriwijaya di bawah
anak Melayu tulen. Setelah seorang keturunan Sanjaya dinobatkan di
Sriwijaya, batu tulis Sriwijaya memuat sebutan maharaja dari keturunan
Sailendra.
Adapun maharaja keturunan Sailendra yang tersebut dalam
prasasti Kalasan, menurut keyakinan saya, ialah rakai Panangkaran.
Kalau dikatakan bahwa rakai Panangkaran itu cuma diperintah saja
oleh raja yang tidak disebut namanya, hal itu tidak tepat ...
Setelah Sriwijaya ada di bawah kekuasaan keluarga Sailendra,
rajanya tinggal di tanah Jawa. Rakai Panangkaran disuruh pindah ke
Sriwijaya. sebab rakyatnya beragama Budha, [ia] diminta oleh
ayahnya, raja Sanjaya, untuk memeluk agama Budha. Kemudian [ia]
didesak oleh pendeta-pendeta dari Koja untuk menyerang tanah Jawa,
di mana bertakhta seorang kaumnya sendiri. Peperangan ini tercantum
dalam cerita Aji Saka. Seterusnya, rakai Panangkaran menjadi raja
Sriwijaya, berkedudukan di Jawa, dan saudaranya melarikan diri ke
Dinaya (Malang), yaitu raja Dewashimha.
Uraian Prof. Poerbatjaraka di atas menarik perhatian, namun
hubungan peristiwa belum ada pembuktiannya. Misalnya, adakah
rakai Panangkaran itu memeluk agama Budha sebab disuruh Sanjaya
untuk memerintah Sriwijaya, sebab rakyat Sriwijaya beragama
96 Sriwijaya
Budha? Adakah sudah pasti bahwa rakai Panangkaran itu menjadi
raja Sriwijaya? Adakah hubungan antara ratu Sanjaya dan rakai
Panangkaran betul sebagai ayah dan putra? Semuanya masih me
rupakan tanda tanya, merupakan persoalan yang pemecahannya
menghendaki bukti-bukti.
Terbitan sesudah Perang Dunia II yang benar-benar sekadar
memberikan pemecahan salah satu soal sejarah Sriwijaya ialah terbitan
Dr. J. G. De Casparis Prasasti negara kita I, II. Dalam hubungan ini,
bagian yang terpenting ialah pasal XI tentang piagam Jatiningrat
Balaputra yang terbit di bawah judul "A Metrical Old Javanese Inscrip
tion Dated 856 A.D. Penyelidikannya tentang piagam Jatiningrat
Balaputra ini penting sekali artinya untuk pemecahan soal hubungan
antara rajakula Sailendra dan Sriwijaya pada pertengahan abad ke-9.
Piagam terse but mempunyai tarikh tahun Saka wualung gunung sang
wiku (tahun Saka 778) atau tahun Masehi 856, tertulis dalam bentuk
kawya (kakawin) dalam bahasa J awa kuno. Hingga sekarang, kakawin
tersebut yaitu kakawin J awa kuno yang tertulis. Isinya seperti berikut:
Pada 1--9: seorang raja bernama Jatiningrat memeluk agama
Siwa, berbeda dengan sang permaisuri. Justru dalam bagian itu
tersebut nama Balaputra dalam pada7. Balaputra menimbun ratusan
batu untuk dijadikan benteng pertahanan dan tempat bersembunyi
dalam peperangan dengan J atiningrat. Beliau mengambil nama
Brahmana (yakni Jatiningrat) dan memberikan keraton di medang
di daerah Mamrati. Sesudah itu beliau mengundurkan diri sebagai
raja dan menyerahkan pemerintahan kepada Dyah Lokapala.
Rakyatnya terbagi atas empat asrama, masing-masing dikepalai oleh
seorang brahmana.
Pada 10-13: sang raj a bersiap-siap untuk mengadakan upacara
kematian. Rakai Mamrati menyerahkan tanah Wantil. Beliau merasa
malu bahwa dusun Iwung pernah menjadi medan pertempuran.
Setelah beliau beroleh kekuasaan dan kekayaan, lalu mendirikan candi
makam. Beliau menghimpun pengetahuan dharma dan adharma.
Tidak ada orang yang berani melawan. Sang raja mendirikan halu,
97
yakni lingga. Semua orang turut menyumbang untuk pembangunan
lingga yang sangat indah itu.
Pada 14-17: tentang keadaan lingga yang didirikan. Di pintu
ada area penjaga yang gagah berani untuk menjaga keamanan dan
keselamatan bangunan. Di pintu masuk didirikan dua bangunan
yang berbeda-beda bentuknya. Di dalam daerah lingga itu, ditanam
pohon tanjung dan didirikan rumah-rumah kecil untuk para pertapa.
Pokoknya, bangunan itu indah sekali.
Pada 18-23: ruang bangunan yang terindah dipakai untuk yang
diperdewa. Para pengunjung dan penyembah berderet-deret dengan
hormat dan tenang. Semua orang diminta datang bersembah. Pada
hari peresmiannya, rakyat datang menyaksikannya.
Pada 24-29: peresmiannya dilakukan pada tahun Saka 778 hari
11 dari bulan terang, Selasa Wage. Sesudahnya ban









